Anda di halaman 1dari 31

MATERI B3

PENGELOLAAN PENILAIAN
OLEH PENDIDIK SATUAN PENDIDIKAN
DAN PEMERINTAH YANG MENERAPKAN HOTS
PADA SD SMP SMA DAN SMK

Bimbingan Teknis Peningkatan Kinerja Pengawas Sekolah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan
Pendidikan Dasar dan Menengah
2018
A. LATAR BELAKANG

Kurikulum 2013 dirancang bagi peserta didik untuk didik menjadi insan yang memiliki
keterampilan sesuai tuntutan perkembangan abad 21. Tuntutan keterampilan yang 21 ini
meliputi ceatvity and innoaton, critical thinking and problem solving, communication, dan
collaboration. Creativity and Innovation dimaknai bahwa manusia yang akan sukses di
abad 21 adalah orang-orang yang kreatif dan memiliki keberagaman ide. Sehingga, dalam
dimensi kreatif ini, gurunya pun harus kreatif. Tidak lagi hanya mengharapkan
kemampuan siswa pada level mendeskripsikan sesuatu, namun bagaimana siswa mampu
mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada
yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda. Critical
Thinking and Problem Solving dimaknai bahwa manusia abad 21 dituntut mampu
menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan
yang dihadapinya dengan mandiri, siswa juga memiliki kemampuan untuk menyusun dan
mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah. Communication dimaknai
bahwa manusia pada abad 21 mampu bertahan apabila mampu berkomunikasi dengan
berbagai cara, baik tertulis maupun verbal, sehingga peserta didik dituntut untuk
memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk
dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Peserta didik diberikan kesempatan
menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat
berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah dari gurunya.
Peserta didik diharapkan tidak lagi anti ICT, mereka harus biasa dengan komunikasi yang
bertekhnologi. Collaboration dimaknai bahwa hidup di abad 21 tidak tergantung lagi pada
persaingan melainkan kesusksean di abad ini adalah orang-orang yang bisa bekerja sama
atau berkolaborasi dengan berbagai kepentingan. Untuk itu, peserta didik harus mampu
kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam
berbagai peran dan tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain;
menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda. Siswa juga
menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja,
dan hubungan masyarakat; menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi
untuk diri sendiri dan orang lain; memaklumi kerancuan.
Untuk membangun manusia dengan memiliki keterampilan sesuai tuntutan perkembangan
abad 21 ini, maka perlu ada pengembangan/penyempurnaan kurikulum dan
implementasinya baik melalui pembelajaran maupun penilaian. Penyempurnaan tersebut
meliputi penyempurnaan standar Kompetensi Lulusan, standar isi, standar proses, dan
standar penilaian. Standar penilaian hasil penyempurnaan tersebut tertuang dalam
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar
Penilaian Pendidikan. Pada standar penilaian tersebut mengamanahkan untuk melakukan
pengukuran hasil belajar mendorong peserta didik untuk meningkatkan kemampuan
berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) seiring dengan tuntutan
kompetensi dasar dan proses pembelajaran yang diarahkan untuk mencapai keterampilan
abad 21 tersebut.

Berdasarkan hasil studi internasional Programme for International Student Assessment


(PISA) menunjukkan prestasi literasi membaca (reading literacy), literasi matematika
(mathematical literacy), dan literasi sains (scientific literacy) yang dicapai peserta didik
Indonesia sangat rendah. Pada umumnya kemampuan peserta didik Indonesia sangat
rendah dalam: (1) memahami informasi yang kompleks; (2) teori, analisis, dan pemecahan
masalah; (3) pemakaian alat, prosedur dan pemecahan masalah; dan (4) melakukan
investigasi.

Pengawas sekolah memiliki tugas pokok membina, menilai, memantau, dan memberikan
bimbingan dan pelatihan profesional kepada guru dan kepala sekolah perihal semua
kometensi yang harus dimiliki oleh guru maupun kepala sekolah termasuk penguasaan
kurikulum dan implementasinya.

Dalam rangka memenuhi ketentuan dan kebutuhan pengawas sekolah tersebut maka
salah satu materi Bimbingan Teknis Peningkatan Kinerja Pengawas Sekolah yang
dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan melalui Direktorat
Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah adalah Pengelolaan
Penilaian oleh Pendidik, Satuan Pendidikan, dan Pemerintah yang yang
menerapkan HOTS pada SD, SMP, SMA, dan SMK.

B. KOMPETENSI
Kompetensi yang hendak dicapai pada materi Pengelolaan Penilaian oleh Pendidik, Satuan
Pendidikan, dan Pemerintah yang menerapkan HOTS pada SD, SMP, SMA, dan SMK yaitu
agar peserta bimtek memiliki pemahaman dan penguasaan yang komprehensif tentang
perencanaan, pelaksanaaan, pengolahan nilai, dan pelaporan penilaian oleh pendidik
yang menerapkan HOts pada SD, SMP, SMA, dan SMK.

2
C. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
Indikator pencapaian kompetensi Pengelolaan Penilaian oleh Pendidik, Satuan Pendidikan,
dan Pemerintah yang menerapkan HOTS pada SD, SMP, SMA, dan SMK agar peserta
bimtek:
1. mendeskripsikan standar penilaian pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah
2. terampil merencanakan penilaian yang menerapkan HOTs
3. terampil mengolah dan membuat laporan hasil penilaian
4. terampil membuat rencana tindak hasil penilaian

D. RUANG LINGKUP MATERI DAN ALOKASI WAKTU


No. Materi Alokasi (menit)
1. Pendahuluan 15
2. Stándar Penilaian Pendidikan (Permendikbud No. 23 Tahun 2016) 45
3. Penerapan Hots dalam Penilaian oleh Pendidik 90
4. Pengolahan Nilai dan Pelaporan Hasil Penilaian 30
5. Refleksi, Pengayaan, Penguatan, dan Evaluasi 45
270 (6 JP)

E. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Materi Pengelolaan Penilaian oleh Pendidik, Satuan Pendidikan, dan Pemerintah yang
menerapkan HOTs pada SD, SMP, SMA, dan SMP ini dirancang dengan langkah-langkah
pembelajaran sebagaimana tertera pada gambar berikut.

F. KEGIATAN PEMBELAJARAN (KP)


Kegiatan pembelajaran Pengelolaan Penilaian oleh Pendidik, Satuan Pendidikan, dan
Pemerintah yang menerapkan HOTs pada SD, SMP, SMA, dan SMP, meliputi:
1. KP-1 Paparan dan Diskusi Standar Penilaian Pendidikan berdasarkan Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2016

3
2. KP-2 Paparan, Diskusi dan Praktik Perancanaan dan Pelaksanaan Penilaian HOTs
pada SD, SMP, SMA, dan SMK
3. KP-3 Diskusi Pengolahan Nilai dan Pelaporan Hasil Penilaian oleh Pendidik

4
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
STÁNDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

1. Pengantar
Kurikulum 2013 diundangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan. Turunan PP 32 Tahun 2013 tersebut satu diantaranya Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 yang telah dicabut dengaran peraturan
yang yang diundangkan tahun 2016 yaitu Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Ruang lingkup yang diatur
dalam peraturan tersebut adalah ketentuan umum, lingkup, , tujuan, prinsip, bentuk,
mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian. Dalam kegiatan pembelajaran ini, peserta
diharapkan memahami standar penilaian yang telah ditetapkan dalam peraturan tersebut.

2. Uraian Materi
a. Pengertian
Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat,
prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang
digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan
dasar dan pendidikan menengah. Penilaian adalah proses pengumpulan dan
pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.
b. Lingkup Penilaian
Penilaian pendidikan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah terdiri atas
penilaian hasil belajar oleh pendidik, satuan pendidikan, dan Pemerintah.
Penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah
meliputi aspek sikap, pengetahuan; dan keterampilan.
1) Penilaian sikap merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk
memperoleh informasi deskriptif mengenai perilaku peserta didik.
2) Penilaian pengetahuan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur
penguasaan pengetahuan peserta didik.
3) Penilaian keterampilan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur
kemampuan peserta didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas
tertentu.
Penilaian pengetahuan dan keterampilan dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan,
dan/atau Pemerintah.
c. Tujuan Penilaian
1) Penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi
proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara
berkesinambungan.
2) Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan bertujuan untuk menilai pencapaian
Standar Kompetensi Lulusan untuk semua mata pelajaran.
3) Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian
kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu.

d. Prinsip Penilaian
1) sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan
yang diukur;
2) objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak
dipengaruhi subjektivitas penilai;
3) adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena
berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat
istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4) terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan
dari kegiatan pembelajaran;
5) terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan
keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan;
6) menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek
kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk
memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta didik;
7) sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan
mengikuti langkah-langkah baku;
8) beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi
yang ditetapkan; dan
9) akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari
segimekanisme, prosedur, teknik, maupun hasilnya.

e. Bentuk dan Instrumen Penilaian


1) Bentuk dan Instrumen Penilaian oleh Pendidik
Penilaian oleh pendidik dalam bentuk ulangan, pengamatan, penugasan, dan/atau
bentuk lain yang diperlukan. Penilaian hasil belajar oleh pendidik digunakan untuk
mengukur dan mengetahui pencapaian kompetensi Peserta Didik, memperbaiki
proses pembelajaran, dan menyusun laporan kemajuan hasil belajar harian, tengah
semester, akhir semester, akhir tahun dan/atau kenaikan kelas. Sedangkan
instrumen penilaian yang digunakan oleh pendidik dalam bentuk penilaian berupa
tes, pengamatan, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang
sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.
2) Bentuk dan Instrumen Penilaian oleh Satuan Pendidikan
Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan dalam bentuk ujian
sekolah/madrasah yang akan digunakan untuk penentuan kelulusan dari satuan
pendidikan. Satuan pendidikan menggunakan hasil penilaian oleh satuan
pendidikan dan hasil penilaian oleh pendidik untuk melakukan perbaikan dan/atau
penjaminan mutu pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. Dalam rangka
perbaikan dan/atau penjaminan mutu pendidikan satuan pendidikan menetapkan
kriteria ketuntasan minimal serta kriteria dan/atau kenaikan kelas peserta didik.
Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk penilaian
akhir dan/atau ujian sekolah/madrasah memenuhi persyaratan substansi,
konstruksi, dan bahasa, serta memiliki bukti validitas empirik.
3) Bentuk dan Instrumen Penilaian oleh Pemerintah
Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional
dan/atau bentuk lain yang diperlukan. Ujian Nasional digunakan sebagai dasar
untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, pertimbangan seleksi
masuk ke jenjang pendidikan berikutnya; dan pembinaan dan pemberian bantuan
kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Instrumen penilaian yang digunakan oleh pemerintah dalam bentuk UN memenuhi
persyaratan substansi, konstruksi, bahasa, dan memiliki bukti validitas empirik serta
menghasilkan skor yang dapat diperbandingkan antarsekolah, antardaerah, dan
antartahun.

f. Mekanisme Penilaian
1) Mekanisme Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik
a) perancangan strategi penilaian oleh pendidik dilakukan pada saat penyusunan
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan silabus;
b) penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan dan teknik
penilaian lain yang relevan, dan pelaporannya menjadi tanggungjawab wali
kelas atau guru kelas;
c) penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan
penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai;
d) penilaian keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio,
dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai;
e) peserta didik yang belum mencapai KKM satuan pendidikan harus mengikuti
pembelajaran remedi; dan
f) hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik
disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi.
2) Mekanisme Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan
a) penetapan KKM yang harus dicapai oleh peserta didik melalui rapat dewan
pendidik;
b) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan pada semua mata pelajaran
mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
c) penilaian pada akhir jenjang pendidikan dilakukan melalui ujian
sekolah/madrasah;
d) laporan hasil penilaian pendidikan pada akhir semester dan akhir tahun
ditetapkan dalam rapat dewan pendidik berdasar hasil penilaian oleh Satuan
Pendidikan dan hasil penilaian oleh Pendidik; dan
e) kenaikan kelas dan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan
melalui rapat dewan pendidik.
3) Mekanisme Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah
a) penilaian hasil belajar oleh Pemerintah dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional
(UN) dan/atau bentuk lain dalam rangka pengendalian mutu pendidikan;
b) penyelenggaraan UN oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)
bekerjasama dengan instansi terkait untuk mengukur pencapaian kompetensi
lulusan.
c) Hasil UN disampaikan kepada peserta didik dalam bentuk sertifikat hasil UN;
d) Hasil UN disampaikan kepada satuan pendidikan untuk dijadikan masukan
dalam perbaikan proses pembelajaran;
e) Hasil UN disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan sebagai dasar
untuk: pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; pertimbangan
seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; serta pembinaan dan
pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk
meningkatkan mutu pendidikan;
f) bentuk lain penilaian hasil belajar oleh Pemerintah dapat dilakukan dalam
bentuk survei dan/atau sensus.

g. Prosedur Penilaian
1) Prosedur Penilaian oleh Pendidik
a) Penilaian aspek sikap dilakukan melalui tahapan:
- mengamati perilaku peserta didik selama pembelajaran;
- mencatat perilaku peserta didik dengan menggunakan lembar
observasi/pengamatan;
- menindaklanjuti hasil pengamatan; dan
- mendeskripsikan perilaku peserta didik.
b) Penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tahapan:
- menyusun perencanaan penilaian;
- mengembangkan instrumen penilaian;
- melaksanakan penilaian;
- memanfaatkan hasil penilaian; dan
- melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala 0-100 dan
deskripsi.
c) Penilaian aspek keterampilan dilakukan melalui tahapan:
- menyusun perencanaan penilaian;
- mengembangkan instrumen penilaian;
- melaksanakan penilaian;
- memanfaatkan hasil penilaian; dan
- melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala 0-100 dan
deskripsi.

2) Prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar oleh pendidik dilakukan dengan
urutan:
a) menetapkan tujuan penilaian dengan mengacu pada RPP yang telah disusun;
b) menyusun kisi-kisi penilaian;
c) membuat instrumen penilaian berikut pedoman
penilaian;
d) melakukan analisis kualitas instrumen;
e) melakukan penilaian;
f) mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian;
g) melaporkan hasil penilaian; dan
h) memanfaatkan laporan hasil penilaian.

Prosedur penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan dengan


mengkoordinasikan kegiatan dengan urutan:
a) menetapkan KKM;
b) menyusun kisi-kisi penilaian mata pelajaran;
c) menyusun instrumen penilaian dan pedoman penskorannya;
d) melakukan analisis kualitas instrumen;
e) melakukan penilaian;
f) mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian;
g) melaporkan hasil penilaian; dan
h) memanfaatkan laporan hasil penilaian.

3) Prosedur penilaian hasil belajar oleh pemerintah dilakukan dengan urutan:


a) menyusun kisi-kisi penilaian;
b) menyusun instrumen penilaian dan pedoman penskorannya;
c) melakukan analisis kualitas instrumen;
d) melakukan penilaian;
e) mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian;
f) melaporkan hasil penilaian; dan
g) memanfaatkan laporan hasil penilaian.

3. Latihan
Diskusi kelas dengan tema: Lakukan analisis apakah standar penilaian yang dalam
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2016 sudah
mengamanahkan adanya keharusan penilaian/pengukuran keterampilan tingkat
tinggi?

4. Rangkuman
Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat,
prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang
digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan
dasar dan pendidikan menengah. Penilaian adalah proses pengumpulan dan
pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.
Penilaian pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah meliputii penilaian oleh
pendidik, satuan pendidikan, dan Pemerintah. Penilaian hasil belajar peserta didik
meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
KEGIATAN PEMBELAJARAN II
PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PENILAIAN KETERAMPILAN TINGKAT TINGI
(HIGHER ORDER THINGKING SKILL/HOTS)

1 Pengantar
Keterampilan abad 21 yang telah diamanahkan dalam SKL, SI, diimplementasikan
dalam pembelajaran yang menerapkan pendekatan saintifik dengan berbagai model
pembelajaran sesuai kebutuhan kompetensi yang hendak dicapai peserta didik. Seiring
dengan kompetensi yang hendak dicapai dan proses pembelajaran yang diterapkan,
penilaian hasil belajar peserta didikpun harus mengukur keterampilan tingkat tinggi
tersebut. Oleh karena itu, alat ukur dalam proses penilaian diharapkan dapat
mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS).
Dalam kegiatan pembelajaran ini tentang pemahaman yang komprehensif tentang
penilaian HOTs dan langkah-langkah penyusunan Soal Hots.

2 Uraian Materi
a. Konsep Penilaian Kompetensi Keterampilan Tingkat Tinggi
Keterampilan Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTs) adalah
keterampilan berpikir yang melibatkan level kognitif hirarki tingkat tinggi dari
taksonomi berpikir Bloom. Secara hirarkikal taksonomi Bloom terdiri dari enam
level yaitu knowledge (Recall or locate information), comprehension (Understand
learned facts), application (Apply what has been learned to new situations),
analysis (“Take apart” information to examine different parts ), synthesis (Create
or invent something; bring together more than one idea) dan evaluation (Consider
evidence to support conclusions). Anderson, L., and Krathwohl, D. (eds.) (2001)
dalam bukunya yang berjudul Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy yang
dipublikasi oleh Publishing Co, New York, US merevisi level taxonomi ini menjadi
remembering, understanding, applying, analysing, evaluating, creating. Hasil
revisi dari Anderson and Krathwohl ini sangat mudah diterima oleh banyak saintisi
dan praktisi sehingga keberadaannnya selalu menjadi rujukan dari perkembangan
teori pembelajaran. Dalam perkembangannya remembering, understanding,
applying dikategorikan dalam recalling dan processing, sedangkan analysing dan
evaluating dikategorikan dalam critical thinking dan yang terakhir creating
dikategorikan dalam creative thinking. Kemudian bagaimana mewujudkan HOTS
ini dalam pembelajaran? Jawabannya adalah mengintegrasikan level berpikir ini
dalam proses belajar dan evaluasi. Dalam proses pembelajaran paling sedikit
harus melibatkan pendekatan saintifik 5M, sedangkan dalam evaluasi HOTs dapat
dicapai dengan mengembangkan instrumen pengukuran (Soal HOts) yang tidak
hanya terbatas pada level applying namun sampai pada creating. Soal Hots
merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan
berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat
(recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan
pengolahan (recite). Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur
kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan
menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-
beda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5) menelaah
ide dan informasi secara kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS
tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall.

Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi


metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau
prosedural saja. Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan
menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan,
memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah,
menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil
keputusan yang tepat.

Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah


disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan:
mengetahui (knowing-C1), memahami (understanding-C2), menerapkan (aplying-
C3), menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi
(creating-C6). Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah
menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi
(creating-C6). Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan
indikator soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO.
Sebagai contoh kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah
C2 dan C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa
jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan
didahului dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada
stimulus lalu peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan
kata kerja ‘menentukan’ bisa digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan
menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah
kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir apa yang
diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus. Stimulus


merupakan dasar untuk membuat pertanyaan. Dalam konteks HOTS, stimulus
yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik. Stimulus dapat
bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi,
kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

Stimulus juga dapat diangkat dari permasalahan-permasalahan yang ada di


lingkungan sekitar satuan pendidikan seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah,
atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu. Kreativitas seorang
guru sangat mempengaruhi kualitas dan variasi stimulus yang digunakan dalam
penulisan soal HOTS.

Soal-soal HOTS sangat direkomendasikan untuk digunakan pada berbagai bentuk


penilaian kelas. Untuk menginspirasi guru menyusun soal-soal HOTS di tingkat
satuan pendidikan, berikut ini dipaparkan karakteristik soal-soal HOTS.
a. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi
b. The Australian Council for Educational Research (ACER) menyatakan bahwa
kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses: menganalisis,
merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi
berbeda, menyusun, menciptakan. Kemampuan berpikir tingkat tinggi
bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang.
Dengan demikian, jawaban soal-soal HOTS tidak tersurat secara eksplisit dalam
stimulus.
c. Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan
masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking),
berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan
kemampuan mengambil keputusan (decision making).Kemampuan berpikir
tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern,
sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik.

Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS, terdiri atas:


1) Kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar;
2) kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan
masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda;
3) menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan cara-cara
sebelumnya.

‘Difficulty’ is NOT same as higher order thinking. Tingkat kesukaran dalam butir
soal tidak sama dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sebagai contoh, untuk
mengetahui arti sebuah kata yang tidak umum (uncommon word) mungkin
memiliki tingkat kesukaran yang sangat tinggi, tetapi kemampuan untuk
menjawab permasalahan tersebut tidak termasuk higher order thinking skills.
Dengan demikian, soal-soal HOTS belum tentu soal-soal yang memiliki tingkat
kesukaran yang tinggi.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di


kelas. Oleh karena itu agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat
tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada peserta
didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam
pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan
berpikir kritis.

Soal-soal HOTS berbasis permasalahan kontekstual


Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan
sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep
pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual
yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup,
kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan
dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam pengertian tersebut
termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan
(relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply) dan
mengintegrasikan (integrate) ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di kelas
untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.

Berikut ini diuraikan lima karakteristik asesmen kontekstual, yang disingkat


REACT.
1) Relating, asesmen terkait langsung dengan konteks pengalaman kehidupan
nyata.
2) Experiencing, asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration),
penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).
3) Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk
menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk
menyelesaikan masalah-masalah nyata.
4) Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk
mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks
masalah.
5) Transfering, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk
mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi
atau konteks baru.

Ciri-ciri asesmen kontekstual yang berbasis pada asesmen autentik, adalah


sebagai berikut.
1) Peserta didik mengonstruksi responnya sendiri, bukan sekadar memilih
jawaban yang tersedia;
2) Tugas-tugas merupakan tantangan yang dihadapkan dalam dunia nyata;
3) Tugas-tugas yang diberikan tidak hanya memiliki satu jawaban tertentu yang
benar, tetapi memungkinkan banyak jawaban benar atau semua jawaban
benar.

b. Langkah-Langkah Penyusunan Soal HOTS


Untuk menulis butir soal HOTS, penulis soal dituntut untuk dapat menentukan
perilaku yang hendak diukur dan merumuskan materi yang akan dijadikan dasar
pertanyaan (stimulus) dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang
diharapkan. Selain itu uraian materi yang akan ditanyakan (yang menuntut penalaran
tinggi) tidak selalu tersedia di dalam buku pelajaran. Oleh karena itu dalam penulisan
soal HOTS, dibutuhkan penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis soal
(kontruksi soal), dan kreativitas guru dalam memilih stimulus soal sesuai dengan
situasi dan kondisi daerah di sekitar satuan pendidikan.Berikut dipaparkan langkah-
langkah penyusunan soal-soal HOTS.
1) Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
Terlebih dahulu guru-guru memilih KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS.
Tidak semua KD dapat dibuatkan model-model soal HOTS. Guru-guru secara
mandiri atau melalui forum MGMP dapat melakukan analisis terhadap KD yang
dapat dibuatkan soal-soal HOTS.
2) Menyusun kisi-kisi soal
Kisi-kisi penulisan soal-soal HOTS bertujuan untuk membantu para guru
dalam menulis butir soal HOTS. Secara umum, kisi-kisi tersebut diperlukan
untuk memandu guru dalam: (a) memilih KD yang dapat dibuat soal-soal
HOTS, (b) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, (c)
merumuskan indikator soal, dan (d) menentukan level kognitif.
3) Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
Stimulus yang digunakan hendaknya menarik, artinya mendorong peserta
didik untuk membaca stimulus. Stimulus yang menarik umumnya baru, belum
pernah dibaca oleh peserta didik. Sedangkan stimulus kontekstual berarti
stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari,
menarik, mendorong peserta didik untuk membaca.Dalam konteks Ujian
Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah
setempat.
4) Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal
Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal
HOTS.Kaidah penulisan butir soal HOTS, agak berbeda dengan kaidah
penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek
materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap
butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.
5) Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban
Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman
penskoran atau kunci jawaban.Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal
uraian.Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda,
pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.

c. Manfaat Soal Hots


Soal-soal HOTS bertujuan untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Sehingga dengan menerapkan soal Hots dapat bermanfaat sebagai berikut:
1) Mempersiapkan kompetensi peserta didik yang dibutuhkan dalam ke abad ke-
hidupan pada Abad 21.
Penilaian yang dilaksanakan oleh pendidik maupun satuan pendidikan
diharapkan dapat membekali peserta didik untuk memiliki sejumlah
kompetensi yang dibutuhkan pada abad ke-21. Secara garis besar, terdapat
3 kelompok kompetensi yang dibutuhkan pada abad ke-21 (21st century
skills) yaitu: a) memiliki karakter yang baik (beriman dan taqwa, rasa ingin
tahu, pantang menyerah, kepekaan sosial dan berbudaya, mampu
beradaptasi, serta memiliki daya saing yang tinggi); b) memiliki sejumlah
kompetensi (berpikir kritis dan kreatif, problem solving, kolaborasi, dan
komunikasi); serta c) menguasai literasi mencakup keterampilan berpikir
menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual,
digital, dan auditori. Pengukuran hasi belajar peserta didik dengan soal-soal
HOTS mendorong dan melatih peserta didik untuk mengasah kemampuan
dan keterampilannya sesuai dengan tuntutan kompetensi abad ke-21 di atas.
Melalui penilaian berbasis pada soal-soal HOTS, keterampilan berpikir kritis
(creative thinking and doing), kreativitas (creativity) dan rasa percaya diri
(learning self reliance), akan dibangun melalui kegiatan latihan
menyelesaikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari- hari
(problem-solving).
2) Memupuk rasa cinta dan peduli terhadap kemajuan daerah
Dalam Penilaian guru diharapkan dapat mengembangkan soal-soal HOTS
secara kreatif sesuai dengan situasi dan kondisi di daerahnya masing-masing.
Kreativitas guru dalam hal pemilihan stimulus yang berbasis permasalahan
daerah di lingkungan satuan pendidikan sangat penting. Berbagai
permasalahan yang terjadi di daerah tersebut dapat diangkat sebagai
stimulus kontekstual. Dengan demikian stimulus yang dipilih oleh guru dalam
soal-soal HOTS menjadi sangat menarik karena dapat dilihat dan dirasakan
secara langsung oleh peserta didik. Di samping itu, penyajian soal-soal HOTS
dalam ujian sekolah dapat meningkatkan rasa memiliki dan cinta terhadap
potensi-potensi yang ada di daerahnya. Sehingga peserta didik merasa
terpanggil untuk ikut ambil bagian untuk memecahkan berbagai
permasalahan yang timbul di daerahnya.
3) Meningkatkan motivasi belajar peserta didik
Pendidikan formal di sekolah hendaknya dapat menjawab tantangan di
masyarakat sehari- hari.Ilmu pengetahuan yang dipelajari di dalam kelas,
agar terkait langsung dengan pemecahan masalah di masyarakat.Dengan
demikian peserta didik merasakan bahwa materi pelajaran yang diperoleh di
dalam kelas berguna dan dapat dijadikan bekal untuk terjun di
masyarakat.Tantangan-tantangan yang terjadi di masyarakat dapat dijadikan
stimulus kontekstual dan menarik dalam Penilaian, sehingga munculnya soal-
soal berbasis soal-soal HOTS, yang diharapkan dapat menambah motivasi
belajar peserta didik.
4) Meningkatkan mutu Penilaian
Penilaian yang berkualitas akan dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Dengan membiasakan melatih siswa untuk menjawab soal-soal HOTS, maka
diharapkan siswa dapat berpikir secara kritis dan kreatif. Ditinjau dari hasil
yang dicapai dalam US dan UN, terdapat 3 kategori sekolah yaitu: (a) sekolah
unggul, apabila rerata nilai US lebih kecil daripada rerata UN; (b) sekolah
biasa, apabila rerata nilai US tinggi diikuti dengan rerata nilai UN yang tinggi
dan sebaliknya nilai rerata US rendah diikuti oleh rerata nilai UN juga rendah;
dan (c) sekolah yang perlu dibina bila rerata nilai US lebih besar daripada
rerata nilai UN. Masih banyak satuan pendidikan dalam kategori sekolah yang
perlu dibina.Indikatornya adalah rerata nilai US lebih besar daripada rerata
nilai UN. Ada kemungkinan soal-soal buatan guru level kognitifnya lebih
rendah daripada soal-soal pada UN. Umumnya soal-soal US yang disusun oleh
guru selama ini, kebanyakan hanya mengukur level 1 dan level 2 saja.
Penyebab lainnya adalah belum disisipkannya soal-soal HOTS dalam US yang
menyebabkan peserta didik belum terbiasa mengerjakan soal-soal HOTS. Di
sisi lain, dalam soal-soal UN peserta didik dituntut memiliki kemampuan
mengerjakan soal-soal HOTS. Setiap tahun persentase soal-soal HOTS yang
disisipkan dalam soal UN terus ditingkatkan. Sebagai contoh pada UN tahun
pelajaran 2015/2016 kira-kira terdapat 20% soal-soal HOTS. Oleh karena itu,
agar rerata nilai US tidak berbeda jauh dengan rerata nilai UN, maka dalam
penyusunan soal-soal US agar disisipkan soal- soal HOTS.

3 Latihan
Dengan menggunakan LK.B3.LL-01, dalam kelompok kecil (maksimal 3 orang)
lakukan kegiatan berikut:
1. Siapkan Lampiran Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi
Inti dan Kompetensi Dasar.
2. Identifikasi pasangan KD dari KI Pengetahuan (KI-3) dan KI Ketrampilan (KI-
4) yang dapat dibuat Soal Hots
3. Analisis masing-masing KD tersebut,
a. tetapkan level berfikir
b. rumuskan indikator pencapaian kompetensi
c. rumuskan indikator penilaian
d. tetapkan teknik dan bentuk penilaian
e. buatlah butir soal
f. butlah pedoman penskorannya

4 Rangkuman
Keterampilan tingkat tinggi (higher order thinking skills/Hots) adalah kegiatan berpikir
yang melibatkan level kognitif hirarki tinggi dari taksonomi berpikir Bloom. HOTs ini
dapat dicapai oleh peserta didik apabila: (1) KD yang ditetapkan dalam kurikulum
menunjukkan level berfikir tingkat tinggi; (2) Pembelajaran yang dilaksanakan dengan
pendekatan saintifik dengan model pembelajaran yang bervariasi; dan (3) penilaian
dengan alat ukurt yang dapat mengukur keterampilan tingkat tinggi. Ciri-ciri alat ukur
(soal) yang menerapkan HOTs adalah berbasis permasalahan konstektual. Lima
karakteristik asesmen kontekstual yaitu Relating yaitu asesmen terkait langsung
dengan konteks pengalaman kehidupan nyata; Experiencing, asesmen yang
ditekankan kepada penggalian (exploration), penemuan (discovery), dan penciptaan
(creation); Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk
menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaikan
masalah-masalah nyata; Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan
peserta didik untuk mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan
konteks masalah; Transfering, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik
untuk mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau
konteks baru. Ciri-ciri asesmen kontekstual yang berbasis pada asesmen autentik,
adalah sebagai berikut: (1) Peserta didik mengonstruksi responnya sendiri, bukan
sekadar memilih jawaban yang tersedia; (2) Tugas-tugas merupakan tantangan yang
dihadapkan dalam dunia nyata; (3) Tugas-tugas yang diberikan tidak hanya memiliki
satu jawaban tertentu yang benar, tetapi memungkinkan banyak jawaban benar atau
semua jawaban benar.
KEGIATAN PEMBELAJARAN III
PELAKSANAAN PENGOLAHAN DAN PELAPORAN
PENILAIAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK

1. Pengantar
Perencanaan penilaian yang baik ditindaklanjuti dengan pelaksanaan, pengolahan, dan
pelaporan nilai hasil penialian peserta didik. Baik penilaian kompetensi sikap, pengetahuan,
maupun keterampilan dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai kompetensi dasar, kompetensi inti, bahkan dimenti kompetensi yang tertuang
dalam SKL. Kegaiatn belajar 3 (tiga) ini bertujuan untuk menyamakan persepsitentang
pelaksanaan penilaian, pengolahan, dan pelaporan nilai baik kpmpetensi sikap, kompetensi
engetahuan, maupun kompetensi keterampilan.

2. Uraian Materi
a. Pelaksanaan Penilaian oleh Pendidik
1) Penilaian Kompetensi Sikap
Penilaian sikap dilakukan oleh guru mata pelajaran/guru kelas (selama proses
pembelajaran pada jam pelajaran) dan/atau di luar jam pembelajaran, guru
bimbingan konseling (BK), dan wali kelas (selama peserta didik di luar jam
pelajaran), serta warga sekolah (peserta didik). Penilaian sikap spiritual dan sosial
dilakukan secara terus-menerus selama satu semester. Guru mata pelajaran/guru
kelas, guru BK, dan wali kelas mengikuti perkembangan sikap spiritual dan sosial,
serta mencatat perilaku peserta didik yang sangat baik atau kurang baik dalam
jurnal segera setelah perilaku tersebut teramati atau menerima laporan tentang
perilaku peserta didik.
Apabila seorang peserta didik pernah memiliki catatan sikap yang kurang baik,
namun pada kesempatan lain peserta didik tersebut telah menunjukkan
perkembangan sikap (menuju atau konsisten) baik, maka di dalam jurnal harus
ditulis bahwa sikap peserta didik tersebut telah baik atau bahkan sangat baik.
Pencatatan pada jurnal tidak hanya sikap yang sangat baik atau kurang baik saja,
tetapi juga perubahan sikap dari kurang baik menjadi baik atau sangat baik.
Sikap dan perilaku peserta didik yang teramati oleh pendidik dan tercacat dalam
jurnal, akan lebih baik jika dikomunikasikan kepada peserta didik yang
bersangkutan dan kepadanya diminta untuk paraf di jurnal, sebagai bentuk
“pengakuan” sekaligus merupakan upaya agar peserta didik yang bersangkutan
segera menyadari sikap dan perilakunya serta berusaha untuk menjadi lebih baik.
2) Penilaian Kompetesi Pengetahuan
Pelaksanaan penilaian pengetahuan dilakukan untuk menilai proses dan hasil
belajar peserta didik. Penilaian oleh pendidik dilakukan dalam bentuk penilaian
harian dan dapat juga dilakukan penilaian tengah semester melalui tes tertulis,
tes lisan, maupun penugasan. Cakupan penilaian harian meliputi seluruh indikator
dari satu kompetensi dasar atau lebih sedangkan cakupan penugasan disesuaikan
dengan karakteristik kompetensi dasar.
3) Penilaian Kompetensi Ketrampilan
Pelaksanaan penilaian keterampilan dilakukan untuk menilai proses dan hasil
belajar peserta didik. Teknik dan bentuk penilaian keterampilan sebagai berikut:
a) Penilaian Kinerja
Pelaksanaan penilaian kinerja ditentukan oleh guru berdasarkan tuntutan KD
dan dapat dilakukan untuk satu atau beberapa KD. Beberapa langkah dalam
melaksanakan penilaian kinerja meliputi:
(1) penjelaskan rubrik penilaian kepada peserta didik sebelum pelaksanaan
penilaian;
(2) memberikan tugas secara rinci kepada peserta didik;
(3) memastikan ketersediaan dan kelengkapan alat serta bahan yang
digunakan;
(4) melaksanakan penilaian selama rentang waktu yang direncanakan;
(5) membandingkan kinerja peserta didik dengan rubrik penilaian;
(6) melakukan penilaian secara individual;
(7) mencatat hasil penilaian; dan
(8) mendokumentasikan hasil penilaian.

b) Penilaian proyek
Penilaian proyek dilakukan untuk satu atau beberapa KD pada satu mata
pelajaran atau lintas mata pelajaran. Beberapa langkah dalam melaksanakan
penilaian proyek:
- menjelaskan rubrik penilaian kepada peserta didik sebelum pelaksanaan
penilaian;
- memberikan tugas kepada peserta didik;
- memberikan pemahaman yang sama kepada peserta didik tentang
tugas yang harus dikerjakan;
- melakukan penilaian selama perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan
proyek;
- memonitor pengerjaan proyek peserta didik dan memberikan umpan
balik pada setiap tahapan pengerjaan proyek;
- membandingkan kinerja peserta didik dengan rubrik penilaian;
- memetakan kemampuan peserta didik terhadap pencapaian
kompetensi minimal;
- memberikan umpan balik terhadap laporan yang disusun peserta didik;
dan
- mendokumentasikan hasil penilaian.

3) Penilaian portofolio
Penilaian portofolio dilakukan untuk melihat perkembangan pencapaian
kompetensi dan capaian akhir serta dapat digunakan untuk mendeskripsikan
capaian keterampilan dalam satu semester. Beberapa langkah dalam
melaksanakan penilaian portofolio:
- melaksanakan proses pembelajaran terkait tugas portofolio dan menilai
pada saat kegiatan tatap muka yang disesuaikan dengan karakteristik mata
pelajaran;
- melakukan penilaian portofolio berdasarkan kriteria penilaian yang telah
ditetapkan atau disepakati bersama dengan peserta didik;
- peserta didik mencatat hasil penilaian portofolionya untuk bahan refleksi
diri;
- mendokumentasikan hasil penilaian portofolio sesuai format yang telah
ditentukan;
- memberi umpan balik terhadap karya peserta didik secara
berkesinambungan dengan cara memberi keterangan kelebihan dan
kekurangan karya tersebut, dan perbaikannya;
- memberi identitas (nama dan waktu penyelesaian tugas), mengumpulkan
dan menyimpan portofolio masing-masing peserta didik dalam satu map
atau folder di rumah atau di loker sekolah;
- memberi kesempatan peserta didik untuk memperbaiki karya yang dinilai
belum memuaskan dan perlu perbaikan;
- membuat “kontrak” atau perjanjian jangka waktu perbaikan dan penyerahan
karya hasil perbaikan kepada guru;
- memamerkan dokumentasi kinerja dan atau hasil karya terbaik portofolio
dengan cara memajangnya di kelas;
- mendokumentasikan dan menyimpan semua portofolio ke dalam map yang
telah diberi identitas masing-masing peserta didik untuk bahan laporan
kepada sekolah dan orang tua peserta didik;
- mencantumkan tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi
perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari
waktu ke waktu sebagai bahan laporan kepada sekolah dan/atau orang tua
peserta didik; dan
- memberikan nilai akhir portofolio masing-masing peserta didik disertai
umpan balik.

b. Pengolahan dan Pelaporan Nilai


1) Pengolahan dan Pelaporan Nilai Sikap
Nilai kompetensi sikap dilaporkan pada setiap akhir semester. Nilai kompetensi
sikap ditetapkan berdasarkan pengolahan nilai dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a) Semua guru mata pelajaran, wali kelas, dan guru BK memberi informasi
berdasarkan jurnal yang dibuat mengenai sikap/perilaku yang sangat baik
dan/atau kurang baik dari peserta didik.
b) Wali kelas merangkum dan menyimpulkan memberi predikat dan merumuskan
deskripsi capaian sikap spiritual dan sosial setiap peserta didik berdasarkan
hasil kesepakatan rapat dewan guru. Predikat terdiri atas sangat baik, baik,
cukup, atau kurang, dan deskripsi sikap ditulis dengan kalimat positif.
c) Deskripsi yang ditulis pada sikap spiritual dan sikap sosial adalah perilaku yang
sangat baik, sedangkan sikap spiritual dan sikap sosial yang kurang baik
dideskripsikan sebagai perilaku yang perlu pembimbingan.
d) Dalam hal peserta didik yang tidak ada informasi tambahan dari semua guru,
sikap peserta didik tersebut diasumsikan berperilaku baik.
e) Rekapitulasi hasil penilaian sikap spritual dan sikap sosial yang dibuat oleh wali
kelas berupa predikat dan deskripsi diisikan dalam buku laporan hasil belajar
setiap semester dalam bentuk Buku Rapor.
2) Pengolahan dan Pelaporan Nilai Kompetensi Pengetahuan
Nilai pengetahuan diperoleh dari hasil penilaian harian dan penilaian akhir selama
satu semester untuk mengetahui pencapaian kompetensi pada setiap KD pada KI-
3. Penilaian harian dapat dilakukan melalui tes tertulis dan/atau penugasan, tes
lisan sesuai dengan karakteristik masing-masing KD. Pelaksanaan penilaian harian
dapat dilakukan setelah pembelajaran satu KD atau lebih. Penilaian harian dapat
dilakukan lebih dari satu kali untuk KD dengan cakupan materi luas dan komplek
sehingga penilaian harian tidak perlu menunggu pembelajaran KD tersebut
selesai. Langkah-langkha pengolahan Nilai Kompetensi Pengetahuan sebagai
berikut:
a) Menetapkan nilai akhir setiap KD Pengetahuan dengan menghitung rerata
setiap hasil penilaian harian dan hasil PAS untuk KD tersebut.
b) Menetapkan Nilai Akhir selama satu semester Nilai Akhir Satu Semester/Nila
Rapor (NR) pada rapor ditulis dalam bentuk angka bulat pada skala 0 – 100
c) Menetapkan predikat berdasarkan NR
d) Membuat deskripsi singkat kompetensi yang menonjol berdasarkan
pencapaian KD selama satu semester.
Contoh: Data perolehan nilai harian dan nilai akhir semester dengan KKM 70

Hasil Penilaian Harian Hasil Nilai


Nama KD
Ke-1 Ke-2 Ke-3 Ke-4 PAS Akhir
Ke-n
3.1 75 68 70 71
3.2 60 66 70 65
Adianta 3.3 86 74 90 80 83
3.4 95 88
3.5 80 84
Nilai Rapor 78
Predikat Cukup
Deskripsi: Memiliki kemampuan dalam menentukan penyelesaian sistem
pertidaksamaan dua variabel (linear-kuadrat dan kuadrat-kuadrat) KD
3.4, namun perlu peningkatan pemahaman masalah penyelesaian
pertidaksamaan irasional satu variable (KD 3.2)

Berdasarkan data nilai di atas, langkah-langkah pengolahan dan pelaporan nilai


sebagai berikut:
a) Menetapkan nilai akhir setiap KD Pengetahuan dengan menghitung rerata
setiap hasil penilaian harian dan hasil PAS untuk KD tersebut.
Contoh KD 3.1 dinilai 2 kali penilaian harian dan satu kali PAS dengan nilai
yang diperoleh PH-1: 75, PH-2: 68, dan NIlai PAS untuk KD 3.1: 70, maka
Akhir KD 3.1 adalah:
75 + 68 + 70
Nilai Akhir KD 3.1 = = 71
3
b) Menetapkan Nilai Akhir selama satu semester Nilai Akhir Satu Semester/Nila
Rapor (NR) pada rapor ditulis dalam bentuk angka bulat pada skala 0-100
Contoh: Dalam satu semester pada matapelajaran tersebut terdapat 5 KD,
dengan Nilai Akhir KD yag diperokeh sebagai berikut: KD 3.1= 71, KD 3.2 =
65, KD 3.3+ 83, KD 3.4+ 88, dan KD 3.5= 84, maka NR adalah:
71 + 65 + 83 + 88 + 84
= 𝟕𝟖, 𝟐
5
Maka NR untuk matapelajaran tersebut adalah 78 (hasil pembulatan 78,2)
c) Menetapkan predikat (C,D,B,A) yang ditetapkan satuan pendidikan
berdasarkan NR. Penentuan predikat diawali dengan penentuan interval
100−𝐾𝐾𝑀
dengan formula: 3
= 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙

PREDIKAT NILAI
KKM D C B A
Kurang Baik Cukup Baik Sangat Baik
70 Kurang dari 70 70 - 79 80-89 90-100
d) Membuat deskripsi singkat kompetensi yang menonjol dan perlu peningkatan.
Contoh deskripsi berdasarkan data nilai di atas nilai di atas adalah yang paling
dikuasai Ani adalah KD 3.4 dan yang perlu ditingkatkan pada KD 3.2.,
sehingga deskripsi kompetensi pengetahuan Adianta tersebut adalah
“Memiliki kemampuan dalam menentukan penyelesaian sistem
pertidaksamaan dua variabel (linear-kuadrat dan kuadrat-kuadrat) KD 3.4,
namun perlu peningkatan pemahaman masalah penyelesaian pertidaksamaan
irasional satu variable (KD 3.2)”.

Dengan demikian, pengolahan penilaian pengetahuan sesuai dengan konsep


tujuan penilaian yaitu untuk mengetahui tingkat kompetensi hasil belajar yang
merujuk pada KD, sehingga ketercapaian KD dalam satu semester tergambar
dengan jelas. Catatan penting mengacu pada pengolahan penialian sebagaimana
diuraikan di atas, maka Naskah Soal PAS perlu dipilah untuk setiap KD.

3) Pengolahan dan Pelaporan Nilai Keterampilan


Nilai keterampilan diperoleh dari hasil penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik,
proyek, produk, portofolio, dan bentuk lain sesuai karakteristik KD pada KI-4 untuk
setiap mata pelajaran. Pengolahan Nilai Kompetensi Keterampilan dapat dilakuakn
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Tentukan nilai KD-Keterampilan berdasarkan nilai optimal jika penilaian
dilakukan dengan teknik yang sama pada KD yang sama yang dilakukan
beberapa kali penilaian dan/atau berdasarkan rerata nilai pada penilaian KD
yang sama dilakukan dengan teknik yang berbeda (misalnya proyek dan
produk atau praktik dan produk)
b) Tentukan nilai akhir keterampilan pada setiap mata pelajaran adalah dengan
cara merata-ratakan dari semua nilai KD pada KI-4 dalam satu semester.
c) Berdasarkan nilai rerata tersebut, capaian nilai kompetensi keterampilan pada
rapor dituliskan dalam angka bulat pada skala 0-100, predikat, dan deskripsi
singkat capaian kompetensi.

Contoh:

Mata Pelajaran Pendidikan Seni dan Budaya, yang memiliki 4 KD-KI4 dalam satu
semester dengan KKM 70, memiliki data nilai sebagaimana tertera pada Tabel 2
berikut:
Teknik dan Bentuk Penilaian Nilai Akhir
No. KD
Praktik Produk Projek Portofolio
1. 4.1 87 87
2. 4.2 66
75 75
3. 4.3 92 92
4. 4.4 75 82 79
Nilai Rapor 83
Predikat Baik
Deskripsi: Sangat terampil meragakan ragam gerak tari tradisional sesuai
dengan iringan (KD 4.3)

Berdasarkan contoh data nilai di atas, maka langkah-langkah pengolahan nilai


sebagai berikut:

a) Tentukan Nilai Akhir untuk setiap KD dengan ketentuan sebagai beriku:


- Berdasarkan nilai yang diperoleh hanya dengan satu kali dan satu teknik,
contoh 1 nilai KD 4.1 hanya satu teknik dan satu kali penialian yaitu dengan
Praktik dengan perolehan nilai 87, maka Nilai Akhir KD 4.1 adalah 87. Dan
contoh 2 Nilai KD 4.3 hanya satu teknik penilaian yaitu projek dengan nilai
yang diperoleh 92, maka Nilai Akhir KD 4.3 adalah 92.
- Bedasarkan nilai optimum, apabila KD tersebut dinilai sebanyak dua kali
dengan teknik yang sama. KD 4.2 yaitu praktik dengan peroleh nilai 66
dan 75, maka nilai optimum dari nilai perolehan tersebut adalah 75,
sehingga Nilai Akhir KD 4.2 adalah 75.
- Berdasarkan nilai rerata, apabila KD tersebut dinilai lebih dari satu kali
dengan teknik yang berbeda. Contoh KD 4.4, penilaian untuk KD tersebut
dilakukan dua kali dengan tenik yang berbeda, yaitu dengan penilaian
produk diperoleh nilai 75 dan dengan penilaian projek diperoleh nilai 82,
maka Nilai Akhir KD 4.4 adalah rerata dari 𝑵𝒊𝒍𝒂𝒊 𝑨𝒌𝒉𝒊𝒓 𝑲𝑫 𝟒. 𝟒 =
𝟕𝟓+𝟖𝟐
𝟐
= 𝟕𝟖, 𝟓 = 𝟕𝟗

-
b) Tentukan Nilai Akhir Semester/Nilai Rapor (NR) untuk kompetensi
Ketereampilan dengan cara merata-ratakan NA setiap KD pada KI-4 tersebut
NA KD 4.1 + NA KD 4.2 + NA KD 4.3 + KD 4.4
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑅𝑎𝑝𝑜𝑟 =
4

Berdasarkan contoh data di atas, maka Nilai Keterampilan pada Rapor Semster
1 tersebut adalah sebagai berikut.
87+75+92+79
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑅𝑎𝑝𝑜𝑟 = = 83, 25 = 83
4

c) Tentukan Predikat Nilai Keterampilan (D, C, B, atau A) sesuai dengan interval


predikat yang ditetapkan satuan pendidikan.

PREDIKAT NILAI
KKM
D C B A
Kurang Baik Cukup Baik Sangat Baik
70 Kurang dari 70 70 - 79 80-89 90-100

d) Buatlah deskripsi singkat kompetensi yang sangat baik dan kurang baik
berdasarkan pencapaian KD pada KI-4 selama satu semester. Deskripsi nilai
keterampilan berdasarkan nilai KD yang menonjol. Pada tabel tersebut yang
tertinggi adalah KD 4.3, sehingga deskripsi singkatnya sebagai berikut:
“Sangat terampil meragakan ragam gerak tari tradisional sesuai dengan
iringan”
4) Latihan
Untuk memahami pelaksanaan, pengolahan, dan pelaporan nilai hasil penilaian peserta
didik, peserta bekerja dalam kelompok dengan menggunakan LK.B3.02.

5) Rangkuman

Lingkup pelaksanaan, pengolahan, dan pelaporan nilai hasil penilaian peserta didik oleh
pendidik meliputi penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam
pelaksanaan penilaian ketiga kompetensi tersebut, menggunakan instrumen yang disusun
dan dikembangkan sesuai dengan indikator penilaian yang hendak diukur, sehingga akan
menggambarkan capaian Kompetensi dasar yang teah ditetapkan. Setelah data nilai
diperoleh, maka data nilai tersebut dioleh dengan ketentuan yang berbeda untuk setiap
kompetensi. Dengan demikian, pengolahan penilaian sikap, pengetahuan, dan
keterampilan sesuai dengan konsep tujuan penilaian yaitu untuk mengetahui tingkat
kompetensi hasil belajar yang merujuk pada KD, sehingga ketercapaian KD dalam satu
semester tergambar dengan jelas.
G. REFLEKSI
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran mata Diklat Pengelolaan Penilaian oleh Pendidik,
Satuan Pendidikan, dan Pemerintah pada SD, SMP, SMA, dan SMK, peserta:
1. menuliskan dua atau tiga hal yang paling penting yang Ibu/Bapak pelajari setelah
mengikuti sesi ini.
2. menuliskan dua atau tiga hal yang menurut Ibu/Bapak sangat membantu dalam
pengembangan profesionalisme di tempat Ibu/Bapak bertugas.
3. menuliskan dua atau tiga pertanyaan yang masih Ibu/Bapak pikirkan terkait dengan
materi yang telah Ibu/Bapak pelajari pada sesi ini.
4. menuliskan langkah apa yang akan Anda lakukan sebagai peserta pelatihan (agent of
change) setelah mendapatkan materi pada sesi ini.