Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang.

Dalam pandangan kaum sufi, manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Manusia
dikendalikan untuk oleh dorongan-dorongan nafsu pribadi karena untuk mengetahui bahwa
manusia harus bertobat dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Swt. Menurut orang sufi
ada tiga cara mendekatkan diri kepada Allah yaitu takhalli, tahalli dan tajalli.

Rumusan Masalah.

1. Apa yang dimaksud dengan Takhalli?

2. Apa yang dimaksud dengan Tahalli?

3. Apa yang dimaksud dengan Tajalli?

Tujuan.

1. Untuk mengetahui takhalli.

2. Untuk mengetahui tahalli.

3. Untuk mengetahui tajalli.


BAB II

PEMBAHASAN

a. Pengertian Takhalli

Takhalli (purgatifa) merupakan segi filosofis terberat, karena terdiri dari mawas diri,
pengekangan segala hawa nafsu dan mengosongkan hati dari segala-galanya, kecuali dari diri
yang dikasihi yaitu Tuhan.[1]

Sebagai langkah pertama yang dilakukan oleh orang sufi dengan cara mengosongkan
diri dari akhlak tercela serta memerdekakan jiwa dari hawa nafsu duniawi yang akan
menjerumuskan manusia kedalam kerakusan dan bertingkah layaknya binatang.[2]

Takhalli berarti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan juga dari
kotoran/penyakit hati yang merusak. Takhalli juga berarti mengosongkan diri dari sikap
ketergantungan kepada kelezatan duniawi. Hal ini akan dapat dicapai dengan jalan
menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala bentuknya dan berusaha melepasakan
dorongan hawa nafsu jahat.

Menurut kelompok sufi, maksiat dibagi menjadi dua, yaitu maksiat batin dan maksiat
lahir.[3]

Maksiat batin adalah maksiat yang dilakukan oleh manusia yang bersumber dari hati.
Maksiat ini sangat berbahaya dan tidak bisa dilihat seperti maksiat lahir, karena seseorang
ketika melakukannya tanpa disadari. Maksiat lahir adalah maksiat yang dilakukan oleh
anggota tubuh manusia. Maksiat ini dapat dihilangkan akan tetapi perlu diketahui bahwa
maksiat batin adalah penggerak utama maksiat lahir. Maksiat batin akan sulit untuk
dihilangkan apabila maksiat lahir tidak dihilangkan terlebih dahulu.

Setelah kita sadari bahwa kotoran hati/penyakit hati sangatlah buruk dan berbahaya
maka kita harus berusaha untuk membersihkan hati, sehingga kita mudah untuk menerima
cahaya ilahi, dan terbukalah tabir/hijab yang menjadi pembatas antara dirinya dengan tuhan,
yaitu dengan cara:

1. Menghayati segala bentuk ibadah, sehingga pelaksanaannya tidak sekedar apa yang
terlihat secara luarnya saja, namun lebih dari itu, memahami makna hakikinya.
2. Riyadhah dan mujahadah, yakni berlatih dan berjuang untuk membebaskan diri dari
dorongan hawa nafsu, dan mengendalikannya serta tidak memperturutkan keinginan hawa
nafsunya tersebut. Menurut al-Ghazali, riyadhah dan mujahadah adalah latihan dan
bersungguh-sungguh dalam menyingkirkan keinginan hawa nafsu yang negatif dengan
mengganti sifat lawannya yang positif.

3. Mencari waktu yang tepat untuk mengubah sifat yang buruk dan mempunyai daya
tangkal terhadap kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan yang baik.

4. Muhasabah (koreksi) terhadap diri sendiri dan selanjutnya meninggalkan sifat-sifat


yang jelek itu, dan memohon pertolongan Allah dari dorongan hawa nafsu setan.

Sementara itu, kelompok kaum sufi yang berpandangan ekstrim berkeyakinan bahwa
kehidupan duniawi merupakan “racun pembunuh” serta penghalang perjalanan mereka
menuju Tuhannya. Karena itu, nafsu yang bertendensi duniawi harus “dimatikan” agar
manusia bebas berjalan menuju tujuan, yaitu memperoleh kebahagiaan spiritual yang hakiki.
Bagi mereka cara memperolah keridaan tidak sama dengan memperoleh kenikmatan material.

b. Pengertian Tahalli

Tahalli artinya berhias, maksudnya adalah menghias diri dengan jalan membiasakan
diri dengan sifat dan sikap serta perbuatan yang baik. Berusaha agar dalam setiap gerak
perilaku selalu berjalan di atas ketentuan agama, baik kewajiban luar maupun kewajiban
dalam. Kewajiban luar adalah kewajiban yang bersifat formal, seperti salat, puasa, zakat, haji
dan lain sebagainya. Sedangkan kewajiban dalam seperti iman, ihsan dan lain sebagainya.[6]

Tahalli juga dapat diartikan sebagai semadi atau meditasi secara sistematik dan
metodik, meleburkan kesadaran dan pikiran untuk dipusatkan dalam perenungan kepada
Tuhan, dimotivasi bahana kerinduan yang sangat akan keindahan wajah Tuhan. Tahalli
merupakan segi praksional yang dilakukan seorang sufi setelah melalui proses pembersihan
hati yang ternoda oleh nafsu-nafsu duniawi.

Sebagai upaya mengisi jiwa dengan akhlak yang terpuji. Setelah dikosongkan, otak
dicuci, tindakan nafsu detan dibombardir, manusia kembali kepada keasliannya. Saat itulah
jiwa dan otaknya diisi dengan berbagai pesan ilahi dengan mempertahankan tingkah laku
yang terpuji. Hidup penuh dengan tuntunan dan tuntunan ilahi sebagaimana dicontohkan oleh
Rasulullah Saw. Cara terbaik untuk melakukan tahalli adalah tidak berhenti bertobat dari
segala perbuatan nista. Manusia harus menyesali perbuatannya, berjanji dalam jiwanya tidak
akan mengulangi perbuatan nista, dan memperbanyak perbuatan baik yang dikehendaki oleh
Allah Swt.[8]

Setelah manusia bertobat dan menyesali perbuatannya, kehidupannya harus lebih


berhati-hati. Akhlaknya terus dibangun oleh rasa takut dan rasa cemas kalau-kalau ia akan
kembali berbuat dosa. Sebaliknya, ia akan terus menerus berharap dapat meningakatkan
kehidupannya menuju pada kehidupan yang lebih baik. Ada tiga hal yang perlu dikendalikan
dan diatur dengan baik, yaitu (1) harta; (2) tahta; dan (3) wanita.[9]

1. Harta

Harta dapat menjerumuskan manusia pada keserakahan dan lupa kepada Allah Swt. yang
memberikan harta. Manusia akan lupa bahwa semuanya bersifat sementara. Dengan harta,
manusia akan terperosok pada kesombongan dan melupakan kewajiban sebagai hamba Allah
Swt. Jika mausia diberi harta oleh Allah, jadikanlah harta itu sebagi alat untuk lebih
mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan memperbanyak sedekah, banyak berzakat, tidak
lupa membayar pajak, memberdayakan orang fakir dan miskin, memelihara anak yatim, dan
memanfaatkannya harta tersenut di jalan Allah Swt.[10]

2. Tahta.

Tahta berupa gelar atau jabatan adalah seperangkat kekuatan dan kekuasaan yang diberikan
oleh Allah kepada manusia. Dengan tahta, manusia dapat hilang kesadaranya sebagai
manusia yang akan mati ditelan waktu. Jika manusia diberi harta, sebaiknya ia menjadikan
tahta itu sebagai bagian dari dakwah untuk menegakkan kebenaran dan membasmi
kemunkaran di alam jagat raya ini.[11]

3. Wanita.

Wanita adalah karunia Allah Swt., dan sesungguhnya bukan hanya wanita yang dapat
membawa manusia kedalam kerugian. Laki-laki pun dapat menjadi penyebab hancurnya
kehidupan wanita. Oleh sebab itu, laki-laki dan wanita diciptakan untuk berpasang-pasangan
membangun rumah tangga yang penuh dengan ketenteraman.[12]

Tahap tahalli dilakukan oleh kaum sufi setelah mengosongkan jiwa dengan
akhlak jelek. Pada tahap ini, kaum sufi berusaha agar setiap sikap dan perilaku selalu berjalan
sesuai dengan ketentuan Allah, baik kewajiban yang bersifat ritual maupun yang bersifat
sosial.[13]

c. Pengertian Tajalli

Tajalli adalah terungkapnya cahaya kegaiban atau nur gaib. Manusia yang telah
melakukan kesadaran tertinggi dengan cara membiasakan kehidupannya dengan akhlak
terpuji. Kehidupannya tidak ada, kecuali rasa cinta, rindu, dan bahagia karena dekat dengan
Allah Swt. Kebersihan diri dengan tobat, kehati-hatian hidup karena waspada, ketakutan akan
dosa, penuh harapan, dan sabar menghadapi berbagai macam cobaan, akan terus melatih jiwa
manusia untuk lebih stabil dan berani menghadapinya dengan rida dan senantiasa
mengembalikan seluruh urusan kepada Allah Swt.[14]

Tajalli merupakan tanda-tanda yang Allah tanamkan didalam diri manusia supaya ia
dapat disaksikan. Setiap tajalli melimpahkan setiap cahaya demi cahaya sehingga seorang
yang menerimanya bakal tenggelam dalam kebaikan. Jika terjadi perbedaan yang dijumpai
dalam berbagai penyingkapan itu tidak unik, Oleh kerena itu masing-masing tajalli juga unik.
Sehingga tidak ada dua orang yang merasakan pengalaman tajalli yang sama. Tajalli
melampaui kata-kata. Tajalli adalah ketakjuban (haryah).[15]

Al-Jili membagi tajalli menjadi empat tingkatan, yaitu:

1. Tajalli Af’al, yaitu tajalli Allah pada perbuatan seseorang, artinya segala aktivitasnya
itu disetai qudrat-Nya, dan ketika itu dia melihat-Nya (dalam arti gerak dan diam itu adalah
atsar/bekas dari qudrat Allah).

2. Tajalli Asma’, yakni lenyapnya seorang dari dirinya dan bebasnya dari genggaman sifat-
sifat kebaruan dan lepasnya dari ikatan tubuh kasarnya. Pada tingkatan ini tiada yang
dilihatnya kecuali zat Al-shirfah (hakikat gerakan), bukan melihat asma’.

3. Tajalli sifat, yakni menerimanya seorang hamba atas sifat-sifat ketuhanan, artinya Tuhan
mengambil tempat padanya tanpa hulul zat-Nya.

4. Tajalli zat, yakni apabila Allah menghendaki adanya tajalli atas hamba-Nya yang mem-
fana’-kan dirinya maka bertempat padanya karunia ketuhanan yang bisa berupa sifat dan bisa
pula berupa zat. Apabila berupa zat, disitulah terjadi ketunggalan yang sempurna. Dengan
fana’-nya hamba maka yang baqa’ hanyalah Allah. Dalam pada itu hamba telah berada dalam
situasi ma siwallah yakni dalam wujud Allah semata.[16]
Ibnu Arabi menyatakan bahwa tajalli Tuhan dalam dua bentuk, yaitu tajalli ghaib dan
tajalli syuhudi.

1. Tajalli ghaib

Tajalli ghaib merupakan penyingkapan diri zat dalam diri-Nya sendiri, tampak yang mutlak
menampakkan diri pada diri-Nya sendiri. Manifestasi diri yang mutlak ini juga disebut
dengan emanasi paling suci (al-faydh al-aqdas). Tajalli ini, secara interinsik, hanya terjadi di
dalam esensi Tuhan sendiri. Oleh karena itu, wujud-Nya tidak berbeda dengan esensi Tuhan
itu sendiri, karena ia lebih dari satu proses ilmu Tuhan didalam esensi-Nya sendiri.[17]

Tajalli ghaib menurut Ibnu Arabi terdiri dari dua martabat:

1. Martabat ahadiyah

Pada martabat ahadiyah, Tuhan merupakan wujud tunggal lagi mutlak yang belum
dihubungkan dengan kausalitas (sifat) apa pun, sehingga Ia belum dikenal oleh siapa pun.
Esensi Tuhan pada peringkat ini, hanya merupakan totalitas dari potensi (quwwah) yang ada
dalam kabut tipis, yakni awan tipis yang membatasi “langit” ahadiyah dan “bumi”
keserbagandaan makhluk yang identik dengan Nafs Ar-Rahman (nafas Tuhan yang maha
Pengasih). Bagi Ibnu Arabi, wujud Tuhan pada martabat ahadiyah ini masih terlepas dari
segala kualitas dan pluralitas apa pun, tidak terkait dengan sifat, nama, rupa, ruang, waktu,
syarat, sebab dan sebagainya.[18]

2. Martabat wahidiyah

Pada martabat wahidiyah Tuhan memanifestasikan diri-Nya secara ilahiyah yang unik, di luar
batas ruang dan waktu, dan di dalam citra sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat tersebut terjelma dalam
asma Tuhan. Sifat-sifat asma itu merupakan satu kesatuan dengan hakikat alam semesta yang
berupa entitas-entitas laten (a’yan tsabitah). Bila sifat-sifat dan nama-nama itu dipandang dari
aspek ketuhanan, ia disebut asma kiyaniyah (nama-nama kealaman).[19]

2. Tajalli syuhudi

Tajalli syuhudi adalah manifestasi diri di alam nyata. Penampakan diri secara nyata yang
mengambil bentuk penampakan diri dalam citra tertentu. Tajalli syuhudi terjadi ketika
potensi-potensi yang ada di dalam esensi mengambil bentuk actual dalam berbagai fenomena
alam semesta. Istilah ini mengacu pada arketipe-arketipe permanen yang memancar dan
potensialitas menjadi aktualitas dan keluar dialam nyata. Hal ini merupakan aktualisasi
arketipe-arketipe dalam bentuk real. Tajalli syahadah disebut juga dengan emanasi suci (al-
faydh al-muqaddas).[20]

Al-Kalakabzi membagi tajalli menjadi tiga macam:

a. Tajalli Zat, yaitu mukasyafah (terbukanya selubung yang menutupi kerahasiaan-Nya).

b. Tajalli Shifat al-Dzat, yaitu tampaknya sifat-sifat zat Allah sebagai sumber atau tempat
cahaya.

C .Tajalli Hukma al-Dzat, yaitu tampaknya hukum zat-Nya yaitu hal-hal yang berhubungan
dengan akhirat dan apa yang ada didalamnya.[21]

Menurut al-Jili, tajalli ilahi yang berlangsung secara terus-menerus pada alam semesta
ini terdiri dari lima martabat.

1. Martabat uluhiyah.

2. Martabat ahadiyah.

3. Martabat wahidiyah.

4. Martabat rahmaniyah.

5. Martabat rububiyyah.[22
BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan.

1. Takhalli berarti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan juga dari kotoran/penyakit
hati yang merusak. Takhalli juga berarti mengosongkan diri dari sikap ketergantungan kepada
kelezatan duniawi. Hal ini akan dapat dicapai dengan jalan menjauhkan diri dari kemaksiatan
dalam segala bentuknya dan berusaha melepasakan dorongan hawa nafsu jahat.

2. Tahalli artinya berhias, Maksudnya adalah menghias diri dengan jalan membiasakan diri
dengan sifat dan sikap serta perbuatan yang baik. Berusaha agar dalam setiap gerak perilaku
selalu berjalan diatas ketentuan agama, baik kewajiban luar maupun kewajiban dalam.
Kewajiban luar adalah kewajiban yang bersifat formal, seperti salat, puasa, zakat, haji dan
lain sebagainya. Sedangkan kewajiban dalam seperti iman, ihsan dan lain sebagainya.

3. Tajalli adalah terungkapnya cahaya kegaiban atau nur gaib. Manusia yang telagh
melakukan kesadaran tertinggi dengan cara membiasakan kehidupannya dengan akhlak
terpuji. Kehidupannya tidak ada, kecuali rasa cinta, rindu, dan bahagia karena dekat dengan
Allah Sw

b. Saran.

Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Semoga


bisa bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan saran kami butuhkan demi perbaikan
pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Sholichin, M. Muchlis. Ilmu Akhlak Dan Tasawuf. Malang: STAIN Pamekasan Press. 2009.

Saebani, Beni Ahmad. Hamid, K.H. Abdul. Ilmu Akhlak. Bandung: Pusaka Setia, 2010.

Jumantoro, Totok. Agus, Samsul Munir. Kamus Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah, 2005.

[1] Totok jumantoro, Samsul Munir Agus. Kamus Ilmu Tasawuf. (Jakarta: Amzah, 2005).
hlm. 233.

[2] Beni Ahmad Saebani, Abdul Hamid. Ilmu Akhlak. (Bandung: Pusaka Setia, 2010). hlm.
195.

[3] Totok jumantoro, Samsul Munir Agus. Kamus Ilmu Tasawuf. (Jakarta: Amzah, 2005).
hlm. 233.

[4] Ibid, hlm. 233.

[5] M. Muchlis Sholichin. Ilmu Akhlak dan Tasawuf (Malang; STAIN Pamekasan Press.
2009). hlm. 119.

[6] Totok jumantoro, Samsul Munir Agus. Kamus Ilmu Tasawuf (Jakarta: Amzah, 2005).
hlm. 227.

[7] Ibid. hlm. 227.

oleh Blogger.