Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang tidak habis untuk kita gali. Mulai
dari ilmu tentang pemerintahan, ilmu kesehatan, ilmu hukum, keimanan, kisah-kisah, ilmu
tentang hal-hal ghaib seperti akhirat dan pembalasan hari akhir dan masih banyak lagi yang
terkandung dalam al-qur’an karena setiap ayatnya adalah ilmu.

Al-qur’an adalah mu’jizat yang sangat besar diturunkan kepada nabi Muhammad SAW
tidak ada satu orang pun yang sanggup menandinginya. Selain karena bahasa arab memiliki
keistimewaan tersendiri juga bahasa dan redaksi yang digunakan dalam al-qur’an bermakna
luas dan penuh dengan ilmu. Kemampuan setiap orang dalam memahami lafadz dan
ungkapan qur’an tidaklah sama, padahal ayatnya sama dengan semua yang tersurat maka
pada makalah ini akan kami terangkan tentang metode dalam memahami al-qur’an.

“Tafsir, ta’wil, dan adalah salah satu pokok bahasan dalam menemukan upaya
penyingkapan tabir akan rahasia-rahasia ayat dan makna maka pentingnya diketahui ilmu
tafsir ataupun ta’wil. Memahami al-Qur’an tidak hanya berdasarkan apa yang tertera pada
terjemahan saja akan tetapi pemahaman yang lebih dalam lagi yaitu dikaji berdasarkan ilmu
tafsir.

Harus diakui, sampai saat ini masih ada usaha gigih dan terus menerus dalam mengkaji
berbagai hal tentang ilmu tafsir. Ada yang dimotivasi karena keinginan utnuk membuktikan
kebenaran al-qur’an ada juga yang beranggapan tentang misteri yang menyelimuti al-Qur’an.

B. Rumusan Makalah

Pemakalah bertujuan untuk memaparkan dan merumuskan materi tentang hakikat dan
majas serta kinayah dan memberikan gambaran tentang hal tersebut yang terdapat dalam Al-
Qur’an.
1. Definisi tafsir dan takwil
2. Perbedaan dan persamaannya
3 keutamaan tafsir al-qur’an
2

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Tafsir

Tafsir berasal dari kata al-fasru yang artinya menjelaskan atau mengetahui maksud
suatu kata yang sulit, kata al-fasru juga bermakna menerangkan dan menyingkap sesuatu
yang tertutup[1]. Kata tafsir berasal dari derivasi (isytiqâq) al-fasru (‫ )الفسر‬yang berarti (‫اإلبانة‬
‫“ )والكشف‬menerangkan dan menyingkap”. Di dalam kamus,. Selain itu dalam bahasa Arab
disebutkan pula bahwa kata tafsir (‫ )التفسير‬berarti (‫“ )والتبيين اإليضاح‬menjelaskan”. Lafal dengan
makna ini disebutkan di dalam Al-Quran,

“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil,
melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik tafsirnya.” (QS
Al-Furqan: 33) Maksud kata “tafsir” disini adalah yang paling baik penjelasan dan
perinciannya.

Dan secara istilah tafsir adalah adalah ilmu yang digunakan untuk memahami kitab
Allah SWT yang diturunkan keada nabi-Nya Muhammad SAW untuk menjelaskan makna-
makna teks kitab-Nya serta mengeluarkan hukum-hukum dan hikmahnya dengan jelas
menggunakan alat bantu berupa ilmu bahasa, nahwu, sharaf, ilmu bayan, ushul fiqh, dan
qiraah dengan didukung pengetahuan mengenai asbab an-nuzul dan nasakh-mansukh.

Tetapi ada juga sebagian ulama berpendapat tentang istilah tafsir sebagai berikut.

1. Abdullah Syahatah berpendapat bahwa tafsir ialah “Ilmu yang membahas tentang
Al-qur’an dari sudut dalalahnya untuk mengetahui maksud Allah SWT dalam firman-
Nya sesuai dengan kemampuan manusia.”

2. Imam Az-Zarkasy dalam kitabnya, Al-Burhân fî ‘Ulûm Al-Qurân, mendefinisikan


tafsir yaitu “Ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya
Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, menjelaskan maknanya, serta menguraikan
hukum dan hikmahnya.”[2]

[1]Adz-Dzahabi, Muhammad Husain. Tt. ‘Ilmu At-Tafsir. Kairo: Dâr Al-Ma’ârif. Hal. 5

[2]Ar-Rumy, Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman. 1419 H. Buhûts fî Ushûl At-Tafsîr wa Manâhijuhu. KSA: Maktabah At-Taubah. Hal. 8.
Dinukil dar
3

3. Imam Jalaluddin As-Suyuthy mendefinisikan bahwa tafsir adalah ”Ilmu yang


membahas maksud Allah ta‘ala sesuai dengan kadar kemampuan manusiawi yang
mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan pemahaman dan penjelasan
makna.”[3]

4. oleh Syaikh Muhammad Abdul Azhim Az-Zarqany tafsir adalah “Ilmu yang
membahas perihal Al-Quran Al-Karim dari segi penunjukan dalilnya sesuai dengan
maksud Allah ta‘ala berdasarkan kadar kemampuan manusiawi.”

Dengan demikian, tafsir merupakan pintu masuk untuk mencapai hidayah serta
pemahaman terhadap kandungan kitab suci. Tanpa tafsir, hidayah serta pemahaman yang
dikomunikasikan Allah tidak dapat dipahami oleh manusia. Meskipun demikian, dalam
praktiknya seseorang tidak mungkin mencapai pemahaman selama ia belum merenungkannya
dan oleh sebab itu, manusia dituntut untuk mampu membuka dan mencari penjelasan yang
dimaksud oleh kitab suci dengan ilmu tafsir.

Ilmu tafsir digunakan untuk memahami kitab Allah SWT, menjelaskan makna-
maknanya, serta mengeluarkan hukum dan hikmahnya melalui berbagai ilmu bahasa, ilmu
nahwu, ilmu sharaf, ilmu bayan, ilmu ushul fiqih, ilmu qiraat, ilmu tentang asbab nuzul, dan
ilmu nasakh dan mansukh. Allah mengomunikasikan kitab yang diwahyukan kepada nabi
dengan bahasa yang dapat dipahami oleh kaumnya dan tafsir diperlukan agar kitab tersebut
dapat dipahami dengan semestinya.

B. Definisi Ta’wil

Menurut Dr. Abdullah Syahatah dalam ‘Ulum At-Tafsir, takwil berasal dari kata awala-
ya’ulu-ta’wilan yang bermakna merenungkan, memperkirakan, atau menjelaskan. Akan
tetapi, jika berasal dari kata ala-aulan-ma’alan (ilaihi). Artinya kembali. Sementara itu secara
istilah, takwil ialah menjelaskan makna yang dikmaksud suatu pembicaraan (artinya hampir
sama dengan arti tafsir).

Adapun menurut Adz-Dzahibi, takwil ialah mengeluarkan salah satu kemungkinan


makna dengan menggunakan dalil lalu menarjihnya dengan didukung oleh pengetahuan
mengenai kosakata dan maknanya, konteks, serta gaya bahasa. Dengan kata lain, takwil ialah
memilih makna kata atau kalimat dengan menggunakan ijtihad.

[3] Adz-Dzahabi. Op.cit. hal. 6


4

Takwil Al-Qur’an ialah membawa makna tekstual ayat kepada makna lain yang tidak
bertentangan. Hal yang termasuk ke dalam pengertian ini adalah mengadaptasikan teks
Al-Qur’an ke dalam situasi kontemporer. Dengan demikian, di samping untuk memenuhi
kebutuhan teoritis, yaitu memahami pesan-pesan Al-Qur’an; takwil juga digunakan untuk
memenuhi kebutuhan praktis, yaitu mengaplikasikan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan
sehari-hari. Selanjutnya dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Ada sebagian ayat Al-Qur’an yang harus disertai penjelasan dari Nabi SAW.
Alasannya sebagai berikut.

a. Ayat-ayat tersebut mengandung perintah, baik wajib maupun sunnah; petunjuk;


serta anjuran Nabi SAW.

b. Ayat-ayat tersebut mengandung larangan, kewajiban, hak, dan hudud. Penjelasan


tentang itu semua hanya didapat dari Nabi SAW.

2. Ada sebagian dari kandungan Al-Qur’an yang takwilnya hanya diketahui oleh
Allah, seperti datangnya ajal dan hari kiamat.

3. Ada sebagian dari ayat Al-Qur’an yang takwilnya dapat diketahui oleh orang
berilmu, seperti ilmu I’rab sehingga dapat memahami ayat berikut.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka
menjawab, “sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan. “ingatlah,
sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (QS. Al-
Baqarah (2): 11-12)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa al-ifsad adalah sesuatu yang sepantasnya tidak
dilakukan karena nilai mudharat, sedangkan ash-shalah adalah sesuatu yang sepantasnya
dilakuakn karena nilai manfaat.

Jika dilihat dari kacamata takwil, ayat yang dapat dijadikan media berijtihad adalah
ayat yang takwilnya diketahui oleh orang-orang yang berilmu. Sementara itu, untuk ayat-ayat
Al-Qur’an yang takwilnya hanya diketahui oleh Allah SWT dan harus menggunakan
penjelasan dari Nabi SAW, mufassir wajib berijtihad.
5

C. Perbedaan Dan Persamaan Tafsir Dan Takwil

Sebagian mufassir ada yang menilai bahwa antara tafsir dan takwil adalah sama. Akan
tetapi sebagian yang lain menyatakan keduanya berbeda. Perbedaan antara tafsir dan takwil
para ulama berbeda pendapat. Jika dilihat dari pengertian tafsir dan takwil maka dapat
dibedakan atas:

1. Takwil adalah menafsirkan perkataan dan menjelaskan maknanya, maka makna


“tafsir dan “takwil” adalah dua kata yang berdekatan atau sama maknanya.

2. Takwil adalah esensi dari suatu perkataan, maka takwil dari talab (tuntutan)
adalah esensi perbuatan yang dituntut itu sendiri dan takwil dari khabar adalah esensi
yang diberitakan.

3. Dikatakan tafsir adalah apa yang telah jelas didalamnya (kitabullah) atau tertentu
pasti dalam sunnah yang sohih karena maknanya telah jelas dan gamblang.

4. Dikatakan pula tafsir lebih banyak digunakan dalam menerangkan lafadz dan
mufrodat (kosa kata), sedang takwil lebih banyak dipakai dalam menjelaskan makna
dan susunan kalimat.

Atas dasar ini maka perbedaan antara keduanya cukup besar, sebab tafsir merupakan
syarah dan penjelasan dalam perkataan. Sedangkan takwil ialah esensi yang berada dalam
realita (bukan dalam pikiran). Takwil memerlukan renungan dan pemikiran dalam membuka
tabir/makna yang terkandung didalamnya. Dengan menggunakan istidlal dapat menyeleksi
makna yang lebih kuat, sifatnya tidak pasti sebab kalau makna tersebut dipastikan maka
berarti manusia telah menguasai al-qur’an sedang ditegaskan dalam kitabullah :

Sesunguhnya tuhanmu benar-benar mengawasi (QS al-fajr:89:14).

Penafsiran ayat di atas adalah bahwa Allah senantiasa mengintai (mengawasi) hamba-
Nya, sedangkan takwilnya adalah bahwa Allah selalu mengingatkan hamba-Nya dari
kemungkinan mengabaikan perintah-perintah-Nya serta melupakan atau melalaikan semua itu
dari kemungkinan mempersiapkan hal-hal yang di anggap perlu.

Sehubungan dengan itu, mufassir salaf, Ath-Thabari, menggunakan kata takwil untuk
tafsir ayat serta penjelasan maknanya, baik sesuai dengan zhahir ayat maupun tidak.
6

Sementara itu, menurut Abu zaid, tafsir adalah upaya memahami teks dari sisi zhahir,
sedangkan takwil adalah upaya memahami teks dari sisi batin.

Pada masa-masa kesarjanaan Islam, takwil belum dibahas karena kedudukan keilmuan
kaum muslimin masih sama tinggi sehingga filsafat barat belum memengaruhi mereka. Oleh
sebab itu, tidak ada perbedaan pendapat yang berarti mengenai takwil. Pada masa Imam
Asy-Syafi’i, takwil dipahami sebagai upaya menentukan salah satu makna tertentu yang
mungkin dimiliki oleh ayat Al-Qur’an dengan menggunakan indikator yang ada. Dengan kata
lain, apabila mufassir memilih satu makna dari makna-makna yang dimiliki ayat Al-Qur’an,
ia melakukan penakwilan.

Sementara itu, Ath-Thabari tidak membedakan antara tafsir dan takwil sehingga dalam
setiap permulaan tafsir beliau menuliskan, “Al-qaul fi ta’wil qaulih ta’ala kadza wa kadza
(penjelasan tentang takwil firman Allah adalah seperti ini).” Melihat penerapan Ath-Thabari
tersebut, tampak jelas bahwa tafsir dan takwil masih disejajarkan, sekaligus takwil adalah
tafsir itu sendiri.

Melihat penjelasan tersebut, terlihat bahwa takwil menurut pandangan ulama ushul
fiqih –yang diwakili oleh Asy-Syafi’i- merupakan ijtihad untuk menarjih salah satu makna
yang mungkin muncul dari kosakata yang dipakai Al-Qur’an dengan menggunakan indikator
yang ada. Sementara itu, ulama tafsir yang diwakili oleh Ath-Thabari belum membedakan
antara tafsir dan takwil. Meskipun demikian, penjelasan sebelumnya dapat dikatakan bahwa
tafsir ialah menemukan makna ayat dengan menggunakan riwayat dari Nabi SAW, sahabat,
atau tabi’in. Sementara itu, takwil ialah menemukan makna ayat dengan menggunakan
ijtihad. Berikut ini adalah perbedaan antara tafsir dan takwil menurut ulama tafsir.
7

No. Tafsir Takwil


1 Menjelaskan objek kosakata, baik Menjelaskan dan menginformasikan hakikat
hakiki maupun majas, menjelaskan yang dimaksud; menjaga dan
dan menginformasikan dalil yag menghindarkan dari penghinaan terhadap
dimaksud perintah Allah.
2 Menjelaskan makna yang dihasilkan Menjelaskan makna yang dihasilkan melalui
dari ungkapan. isyarat.
3 Hal-hal yang berhubungan dengan Hal-hal yang berhubungan dengan dirayah
riwayat (kepandaian) yang kemudian dikenal dengan
medan ijtihad.
4 Menerangkan maksud Allah dengan Melihat dan makna kosakata dengan
berpegang pada perkataan Nabi SAW berpegang pada ijtihad
5 Bersifat khusus karena hanya berlaku Bersifat umum karena berlaku untuk semua
untuk kalam Allah kalam
6 Menjelaskan objek dan topik suatu Menjelaskan makna yang dikehendaki
kosakata kosakata

Sementara itu, perbedaan antara tafsir dan takwil menurut ulama ushul fiqih adalah
sebagai berikut.
No. Tafsir Takwil
1 Berdasarkan pada dalil yang qath’i Berdasarkan pada dalil yang zhanni
2 Makna kata jelas dan tidak ada celah Apabila suatu makna didasarkan pada
untuk menakwilkan dalil zhanni, makna yang dimaksud adalah
takwil.[4]

[4] Menurut ulama ushul fiqih, sesuatu yang ditafsirkan merupakan sesuatu yang khusus, yaitu suatu teks yang melekat pada
dirinya tidak membutuhkan penjelas.
8

D. Keutamaan Mempelajari Tafsir Al-Qur`an

Ilmu tafsir Al-Qur`an termasuk ilmu yang paling mulia. Hal ini ditinjau dari beberapa
alasan berikut ini.

1. Materi Ilmu Tafsir adalah Materi Pelajaran yang Paling Mulia

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftah Daris Sa’adah: 1/86 mengatakan,

“Bahwa kemuliaan sebuah ilmu mengikuti kemuliaan materi yang dipelajari dalam

ilmu tersebut.”

Jelaslah bahwa ilmu Tafsir termasuk ilmu yang paling mulia karena materi yang
dipelajari darinya adalah kalamullah. Hal ini karena tidak ada satu pun dari ucapan
yang lebih mulia dari firman Allah Ta’ala, oleh karena itu pantaslah jika termasuk
diantara ilmu yang paling mulia.

2. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Jenis Mempelajari Al-Qur`an yang Paling


Mulia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan

mengajarkannya” (HR. Imam Al-Bukhari).

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah setelah membawakan hadits di atas, lalu


menjelaskan, Mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya mencakup:

(1) mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya, dan

(2) mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya,

“Yang terakhir inilah (no.2) merupakan jenis mempelajari Al-Qur`an dan

mengajarkannya yang paling mulia, karena makna Al-Qur`an itulah yang menjadi
tujuan yang dimaksud, sedangkan lafadz Al-Qur`an adalah sarana untuk mencapai
maknanya.”
9

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

“Adat kebiasaan manusia itu menolak jika ada sekelompok orang yang membaca

suatu buku dalam disiplin ilmu tertentu, seperti kedokteran dan matematika, namun
mereka tidak mau mengetahui makna/maksudnya,(jika demikian
kenyataannya),bagaimana dengan Kalamullah yang menjadi penyebab tercegahnya
seseorang dari kebinasaan, penyebab kesuksesan, kebahagiaan mereka dan penyebab
tegaknya urusan agama serta dunia mereka.”[5]

3. Ancaman bagi Orang yang Tidak Mentadaburi Al-Qur`an adalah Akan Dikunci
Hatinya

Firman Allah Ta’ala

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an bahkan hati mereka

terkunci?” (QS. Muhammad: 24) Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Allah Ta’ala berfirman, memerintahkan (hamba-Nya) untuk mentadaburi dan

memahami Al-Qur`an dan melarangnya berpaling darinya, dengan berfirman, yaitu


bahkan hati mereka terkunci, maka hati tersebut tertutup, tidak ada satu makna Al-
Qur`an pun yang masuk ke dalam hatinya” (Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, jilid.4
hal. 459).

Berkata Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,

“Bahwa Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mentadaburi Al-Qur`an,dan

mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk bentuk dari penguncian hati mereka serta
tidak bisa sampainya kebaikan kepada hati mereka” (Ushulun fit Tafsir, Syaikh
Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, hal.23)

4. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an sebagai Sebab Terhindar dari Kesesatan Di Dunia dan
Tercapai Kebahagiaan di Akhirat
10

[5]Adh-Dhawy,Ahmad Bazawy. Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam


http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=82245 Diakses pada 30 Agustus 2007

Di antara keutamaan mempelajari tafsir Al-Qur`an adalah terhindar dari kesesatan di


dunia dengan meniti jalan lurus yang ditunjukkan Al-Qur`an, serta masuk kedalam Surga dan
selamat dari siksa di akhirat. Imam Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan dalam kitab
Tafsirnya,

“Amr bin Qais Al-Mula`i dari Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata,

“Allah menjamin barangsiapa yang membaca Al-Qur`an dan mengikuti ajaran yang
terkandung didalamnya, maka ia akan tidak sesat di dunia dan tidak sengsara di
akhirat, lalu Ibnu Abbas membaca ayat berikut ini.

“Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan
celaka” (QS. Thaha: 123).

5. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Salah Satu Tujuan Diturunkannya Al-Qur`an

Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan,

“Al-Qur`an itu diturunkan untuk tiga tujuan: beribadah dengan membacanya,

memahami maknanya dan mengamalkannya” [6]

Perhatikanlah, Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang


menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur`an. Tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya,
sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur`an.

Yang pertama dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya,
tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu qira`ah, kedua: memahami makna atau
tafsirnya,

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah


salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur`an.

Jika seseorang sudah bisa membaca Al-Qur`an atau menghafalnya, ia barulah meraih
sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur`an. Janganlah berhenti sampai di situ saja,
teruskan dengan mempelajari tafsirnya, sehingga ia dapat mengamalkan isi Al-Qur`an.
11

6. Kesempurnaan Agama dan Dunia Seseorang Didapatkan dengan Mengetahui Tafsir


Kitabullah dan Mengamalkanny

[6] As-Suyuthy, Jalaluddin. Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qurân. Bab Ma‘rifah Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbihi E-book. Diakses
dari Mauqi‘ Umm Al-Kitâb li Al-Abhâts wa Ad-Dirâsât Al-Ilikturûniyah: www.omelketab.net pada 6 September 2007

Berkata Al-Ashbahani rahimahullah:

“Adapun ditinjau dari kebutuhan (manusia) yang sangat (terhadap Tafsir Al-Qur`an),

maka hal ini karena seluruh kesempurnaan agama atau dunia, baik yang disegerakan
ataupun diakhirkan, membutuhkan kepada ilmu Syar’i dan pengetahuan agama,
sedangkan semua itu terkait erat dengan pengetahuan tentang Kitabullah Ta’ala.” [7]

Sungguh benar ucapan beliau, “bukankah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan
mengamalkannya dijamin keluar dari kegelapan kepada cahaya?”

Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan

manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka,
(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS. Ibrahim: 1).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah Ta’ala


mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menyampaikan manfa’at kepada makhluk, mengeluarkan
manusia dari kegelapan kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam
kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman, dan akhlak yang baik. Firman Allah yang artinya
dengan izin Tuhan mereka, maksudnya: tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai
oleh Allah, melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat
dorongan bagi seorang hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka (semata).
Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam
Alquran, dengan berfirman “menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”
maksudnya: yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya, yang
mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya.
12

[7] Al-‘Ik, Khalid Abdurrahman. 1986. Ushûl At-Tafsîr wa Qawâ‘iduhu. Beirut: Dâr An-Nafâis. Hal. 189.

Dalam penyebutan ‫ الحميد العزيز‬setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-


Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya, bahwa ia adalah orang yang mulia
dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah, dan
terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal.
478).

Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-
dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya menuju kepada kesempurnaan, maka
perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan
hal itu sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia, sehingga lalai dari belajar dan
mengamalkan Al-Qur`an.

7. Mempelajari Tafsir Al-Qur`an adalah Sebab yang Besar Didapatkannya Kelezatan


dalam Membacanya

Berkata Imam Ahli Tafsir di zamannya dan zaman setelahnya, sekaligus penulis kitab
tafsir Jami’ul Bayan, Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah,

“Sesungguhnya saya benar-benar heran kepada orang yang membaca Al-Qur`an,

namun ia tidak mengetahui tafsirnya, maka bagaimana ia bisa merasakan kelezatan


bacaannya?” (Mu’jamul Adibba`: 8/63, dinukil dari Muhadharat fi ‘Ulumil Qur`an).

Dengan demikian, jelaslah urgensi mempelajari tafsir Al-Qur`an Al-Karim. Semoga


Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimudahkan mempelajari tafsir
Kalam-Nya dan mengamalkannya. Amiin.
13