Anda di halaman 1dari 42

Modul 1

Pengertian Filsafat, Objek, dan


Kedudukannya dalam Berbagai
Ilmu Pengetahuan
Prof. Dr. Ismaun, M.Pd.

PEN D A HU L UA N

D alam Modul 1 ini, kita akan membahas materi mengenai pengertian


filsafat, batasan filsafat, objek material filsafat, objek formal filsafat,
dan pemikiran para filsuf. Pembahasan selanjutnya akan difokuskan pada
hakikat filsafat, yaitu apa sesungguhnya yang disebut filsafat. Pengembangan
materi kajian pemikiran filsafat yang bertumpu pada aspek atau dimensi yang
sekarang diterima dan diakui oleh para filsuf dan ilmuwan adalah landasan,
ontologi, epistemologi, dan aksiologi sebagai landasan filosofis ilmu
pengetahuan yang berdiri sendiri.
Melalui proses pembelajaran Modul 1 ini, diharapkan Anda akan
memiliki kompetensi khusus dalam
1. menjelaskan pengertian filsafat,
2. menjelaskan objek dan metode filsafat,
3. menjelaskan karakteristik filsafat,
4. membedakan jenis dan sifat kebenaran ilmu pengetahuan,
5. menganalisis dan menjelaskan kedudukan filsafat serta fungsi dan
perannya,
6. membandingkan perbedaan dan kesamaan ilmu pengetahuan, filsafat,
dan agama,
7. menjelaskan ragam hubungan antara ilmu pengetahuan dan filsafat
dengan agama,
8. menganalisis serta mensintesiskan hakikat filsafat, kedudukan, fungsi,
dan perannya.

Untuk mendukung pemahaman Anda tentang modul ini, penyajiannya


dikemas dalam dua kegiatan belajar. Kegiatan Belajar 1 membahas
1.2 Filsafat Pancasila 

pengertian filsafat, batasan filsafat, objek material filsafat, objek formal


filsafat, dan pemikiran para filsuf. Sementara itu, Kegiatan Belajar 2
membahas kedudukan filsafat serta fungsi dan perannya.
Agar Anda dapat memahami secara benar materi Modul 1-6 ini,
perhatikanlah petunjuk cara mempelajari modul-modul ini sebagai berikut.
1. Bacalah glosarium serta keseluruhan materi dalam modul-modul ini
secara cepat dan dengan tetap berupaya memahami keseluruhan isi
modul-modul ini.
2. Selanjutnya, mulailah Anda membaca setiap kegiatan belajar secara
lebih teliti dan berusaha sungguh-sungguh menganalisis, mencari, dan
menemukan setiap konsep yang diuraikan.
3. Apabila dalam teks disebutkan adanya sumber lain yang relevan, cobalah
Anda mencari dan membaca rujukan yang ditunjuk.
4. Pahami benar pengertian, metode, karakteristik, dan hakikat filsafat.
5. Pahami hubungan antara konsep yang satu dan konsep lainnya.
6. Berikan contoh dari pengalaman belajar Anda yang dapat membantu
memahami hakikat filsafat, fungsi, tujuan, serta perkembangan aliran-
aliran filsafat ataupun hubungannya dengan filsafat Pancasila.
7. Rumuskanlah dan tuliskan dalam catatan Anda kesimpulan dari
keseluruhan materi yang telah Anda pelajari dari modul-modul ini.
8. Kerjakanlah tugas, latihan, dan tes formatif tanpa harus mengecek
jawaban yang tersedia pada bagian akhir setiap modul.
9. Berusahalah sungguh-sungguh jujur pada diri sendiri serta percaya diri
sehingga Anda secara tepat dapat mengukur tingkat pemahaman Modul
1-6 ini secara bertahap dan berkelanjutan.
 PKNI4316/MODUL 1 1.3

Kegiatan Belajar 1

Pengertian, Batasan Filsafat,


Objek Material Filsafat, Objek Formal
Filsafat, dan Pemikiran Para Filsuf

P emahaman mengenai hakikat filsafat itu penting sebagai dasar untuk


lebih memahami aliran filsafat dan filsafat-filsafat khusus, seperti filsafat
ilmu ataupun lebih khusus lagi tentang filsafat politik, filsafat negara, filsafat
agama, filsafat Pancasila, dan sebagainya. Terlebih lagi sarjana pendidikan
yang profesional perlu memiliki dasar-dasar dan wawasan yang
komprehensif tentang kompetensi keilmuan serta profesionalnya dalam
melaksanakan tugasnya. Adapun urutan pembahasan materi Kegiatan Belajar
1 mengacu pada pokok bahasan tentang pengertian filsafat yang mencakup
bahasan objek penelitian dan metode penelitian, karakteristik filsafat, dan
hakikat filsafat serta tujuannya, kedudukan, fungsi, atau perannya dalam ilmu
pengetahuan.

A. PENGERTIAN FILSAFAT

Pernahkah Anda belajar filsafat atau membaca buku tentang filsafat?


Mungkin, Anda baru dengar kata filsafat? Sebagai calon pendidik yang
profesional dan ilmuwan, pemahaman mengenai filsafat itu perlu agar
memiliki wawasan keilmuan yang luas dan utuh. Lebih-lebih seorang guru,
dosen, pendidik, dan pemimpin para peserta didik harus mempunyai pilihan
sebagai pegangan keyakinannya yang bersifat normatif untuk membimbing
dan mengarahkan cita-citanya.

1. Apakah Filsafat Itu?


Usia filsafat dalam sejarah ilmu pengetahuan sudah cukup panjang.
Filsafat lebih tua usianya daripada semua ilmu dan kebanyakan agama.
Walaupun demikian, bagi kebanyakan orang awam, bahkan sebagian
ilmuwan beranggapan bahwa filsafat itu merupakan sesuatu yang kabur atau
sesuatu yang sepertinya tidak ada gunanya karena hasil “lamunan” belaka,
tanpa metode, tanpa kemajuan, dan penuh perbedaan serta perselisihan
pendapat (Hamersma, 2008: 5).
1.4 Filsafat Pancasila 

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda berpendapat yang sama?


Apakah Anda masih ragu-ragu? Kata salah seorang filsuf, Kiergaard, yang
dikutip oleh Hamersma, “Hidup manusia baru dimengerti dari belakang,
tetapi harus dijalani dari depan.”
Kesulitan yang sama berlaku untuk belajar filsafat. Makna filsafat tidak
akan jelas kalau kita baca dalam buku pengantar saja. Arti dan makna filsafat
baru mulai dimengerti setelah studi lebih lanjut. Bagi mereka yang mulai
belajar filsafat serta bagi para mahasiswa Universitas Terbuka yang tertarik
dan mengambil mata kuliah Filsafat Pancasila, filsafat merupakan bidang
diskusi atau dialog tiada habis-habisnya tentang berbagai pertanyaan atau
masalah-masalah pokok yang dibahas dari zaman ke zaman.
Modul ini akan mengantarkan Anda menuju “pintu masuk ke dunia
filsafat”. Selamat datang dan berkenalan dengan “apakah filsafat itu?”
Mudah-mudahan Anda tertarik padanya serta asyik menikmatinya!
Filsafat adalah studi mengenai ilmu pengetahuan tentang kebijaksanaan
untuk mencari dan menemukan kebenaran yang hakiki. Kata philsophia
berarti cinta kepada pengetahuan mengenai kebenaran yang hakiki, yakni
kebijaksanaan (kearifan, wisdom, dan hikmat). Akan tetapi, kecintaan
seorang filsuf kepada pengetahuan kebijaksanaan tidaklah sama seperti
kecintaan seorang pengumpul pengetahuan. Filsuf tidak tertarik untuk
menghimpun pengetahuan yang sudah ditemukan oleh orang lain. Rupanya,
filsuf lebih tertarik minatnya terutama pada proses untuk mencari
pengetahuan yang sudah ataupun yang belum ditemukan oleh orang lain.
Filsuf senantiasa sungguh-sungguh menemukan kebenaran yang hakiki
dalam arti inti kebenaran totalitas utuh menyeluruh, yakni kebenaran sejati
(ultimate truth) yang mungkin dapat diraihnya. Marilah kita renungkan
sejenak apa yang dilukiskan oleh Jujun S. Suriasumantri (1985: 19) dalam
bukunya Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer.

Alkisah, bertanyalah seorang awam kepada ahli filsafat yang arif


bijaksana. “Coba sebutkan kepada saya berapa jenis manusia yang
terdapat dalam kehidupan ini berdasarkan pengetahuannya.”
Filsuf itu menarik napas panjang dan berpantun.
“Ada orang yang tahu ditahunya.
Ada orang yang tahu ditidaktahunya.
Ada orang yang tidak tahu ditahunya.
Ada orang yang tidak tahu ditidaktahunya.”
 PKNI4316/MODUL 1 1.5

“Bagaimanakah caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang


benar?” sambung orang awam itu penuh hasrat dalam
ketidaktahuannya.
“Mudah saja,” jawab filsuf itu. “Ketahuilah apa yang kau tahu dan
ketahuilah apa yang kau tidak tahu.”

Memang pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai


dengan rasa ragu-ragu, dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat
didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita
tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah
kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan-akan tiada batas. Begitu juga
berfilsafat berarti mawas diri dan mengoreksi diri, semacam keberanian
untuk terus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita
jangkau (Suriasumantri, 1985: 19).
Namun, dalam arti sederhana, sesungguhnya setiap orang dapat
berfilsafat, misalnya dalam kehidupan sehari-hari pendapat seseorang (point
of view) untuk menyatakan mana yang benar dan mana yang salah, mana
yang baik dan mana yang buruk, mana yang indah dan mana yang jelek,
mana yang berguna dan mana yang tidak berguna, suka atau tidak suka, serta
cinta atau benci tanpa berpikir dulu yang sulit dan rumit. Akan tetapi, bagi
seorang filsuf, berfilsafat itu ialah berpikir dan merenungkan segala sesuatu
dengan sungguh-sungguh secara mendalam dan mendasar untuk menemukan
jawaban segala pertanyaan sampai ke akar-akarnya untuk dapat memahami
hakikat segala sesuatu. Alhasil, filsafat adalah upaya dan hasil dari pemikiran
serta renungan manusia dengan akal (budi) dan kalbunya (hati nurani)
tentang segala sesuatu secara rasional, kritis, sistematis, spekulatif, dan runtut
serta sungguh-sungguh mendasar dan meluas untuk mencari, mencari, dan
terus mencari sampai menemukan kebenaran yang hakiki.
Filsafat kadang-kadang dinamakan science of sciences (induk dari ilmu
pengetahuan) karena pada masa sebelum tumbuh dan berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi para filsuf telah meletakkan landasan bagi semua
disiplin atau cabang ilmu, baik disiplin ilmu-ilmu kealaman maupun disiplin
ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Dengan perkataan lain, filsafat dapat
digambarkan sebagai “induk dari semua ilmu pengetahuan”. Dapat
diibaratkan filsafat itu bagaikan seorang ibu yang melahirkan dan juga masih
mengasuh anak-anaknya yang dicintainya, yakni disiplin ilmu-ilmu alamiah,
disiplin ilmu-ilmu sosial, dan humaniora (Davis, 1965).
1.6 Filsafat Pancasila 

2. Asal Kata, Arti Kata, dan lstilah Filsafat


Apakah Anda sudah tahu, dari bahasa apa kata filsafat itu? Secara
etimologi, kata filsafat berasal dari kata Yunani philosophia (dari akar kata
philein = mencintai, philos = cinta, dan sophia = kebenaran atau
kebijaksanaan, wisdom, kearifan, atau hikmat) yang melahirkan kata Inggris
philosophy atau kata Arab falsafah. Biasanya, diterjemahkan dengan “cinta
kebijaksanaan”.
Jadi, kata majemuk philosophia berarti = daya upaya pemikiran dan
renungan manusia untuk mencari kebenaran hakiki atau sejati dalam
arti kebijaksanaan atau hikmat. Dari istilah tersebut, jelaslah bahwa orang
berfilsafat ialah orang yang mencari kebenaran atau mencintai kebenaran dan
bukan orang yang merasa memiliki kebenaran.
Apabila kita kaji secara mendasar, ternyata bahwa kebenaran filsafat itu,
meski hakiki, bersifat nisbi karena sumber kebenaran filsafat itu berasal dari
manusia dan kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna. Kebenaran
mutlak hanyalah kebenaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa dan
Mahabenar.
Menurut Muhammad Yamin, perkataan Yunani philosophos itu mula-
mula muncul untuk menandingi kata sophos yang berarti “si tahu” atau “si
pandai” yang merasa dirinya telah memiliki kebenaran dalam genggamannya.
Sementara itu, philosophos dalam segala kerendahan hati mencari dan
mencintai kebenaran dan masih terus bergerak dalam perjalanan, bagai
musafir yang terus setia berjalan terus dan berupaya sungguh-sungguh
menuju arah kebenaran yang sejati.
Mencari kebenaran dan tidak merasa memiliki kebenaran itulah tujuan
semua filsafat dan pada akhirnya, mendekati kebenaran yang diyakininya
sebagai kesungguhan. Akan tetapi, kebenaran yang sesungguhnya, kebenaran
sejati, atau hakiki bersifat mutlak dan abadi hanya ada pada Tuhan Yang
Mahabenar. Kita harus memperhatikan, kalau sebuah kata memiliki makna
etimologis dan terminologi, kita harus menjelaskan terlebih dahulu
maknanya. Terlebih lagi jika kata itu memiliki makna yang beragam. Anda
harus sadar, kita tidak boleh gegabah dalam menyimpulkan filsafat hanya
berdasarkan pada satu istilah yang kita gunakan. Kata filsafat adalah sebuah
kata yang memiliki makna yang berbeda-beda, tergantung pada aliran yang
dianutnya.
 PKNI4316/MODUL 1 1.7

3. Definisi Filsafat
Dalam sejarah filsafat, dijelaskan bahwa lima abad sebelum masehi
terdapat sekelompok intelektual yang dalam bahasa Yunani disebut sophis
yang bermakna hakim atau ilmuwan. Kelompok ini memiliki pengetahuan
yang luas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya serta
berkeyakinan bahwa tidak ada sama sekali hakikat dan pengetahuan yang
tetap. Kerja mereka adalah mengajarkan metode diskusi dan seni berdebat
serta seni menyalahgunakan ilmunya yang menyesatkan.
Akhirnya, kata sophis yang bermakna ilmuwan tidak dipakai lagi karena
kata itu melekat pada orang-orang yang terjebak dalam kesalahan berpikir
dan mengingkari realitas. Socrates adalah tokoh pertama yang menentangnya.
Ia menyebut dirinya philosophos yang bermakna cinta kebijaksanaan
(hikmat). Rintisannya dilanjutkan oleh muridnya, Plato. Kemudian,
dilanjutkan oleh murid Plato yang luar biasa, Aristoteles yang dijuluki gelar
sebagai guru pertama. Sumbangan pemikirannya sangat besar tentang
kritiknya terhadap pemikiran gurunya. Hal inilah yang menyebar luas dan
akhirnya dia menulis buku logika, karya utama bagi kemanusiaan.
Definisi tentang filsafat banyak sekali, berbeda-beda rumusan, dan
penekanan tentang esensinya yang diberikan oleh setiap filsuf. Namun
demikian, terdapat kesamaan yang umum. Ada beberapa definisi tentang
filsafat seperti berikut.
a. Plato (427—348 SM)
Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang berupaya mencapai kebenaran asli.
b. Aristoteles (382—322 SM)
Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di
dalamnya terdapat ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, politika,
dan estetika.
c. AI Farabi (870—950 M)
Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakikat
yang sebenarnya.
d. Immnuel Kant (1724—1804)
Filsafat ialah segala pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal
segala pengetahuan yang mencakup empat persoalan berikut.
1) Apakah yang dapat kita ketahui? (Jawabannya metafisika).
2) Apa yang seharusnya kita kerjakan? (Jawabannya etika).
3) Sampai di manakah harapan kita? (Jawabannya agama).
4) Apakah yang dinamakan manusia? (Jawabannya antropologi).
1.8 Filsafat Pancasila 

Dari bermacam-macam definisi filsafat yang dikemukakan oleh para ahli


filsafat, Hasbullah Bakry berkesimpulan sebagai berikut.

Ilmu filsafat ialah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan


mendalam mengenai Ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga
dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia
setelah mencapai pengetahuan itu.

Sehubungan dengan pendapat tersebut, Muhammad Yamin


mengemukakan bahwa “filsafat ialah pemusatan pikiran sehingga manusia
menemui kepribadiannya seraya di dalam kepribadiannya itu dialaminya
kesungguhan”. Jadi, bagi tiap-tiap manusia yang mendapatkan
kepribadiannya dan dapat mengalami kesungguhan di dalamnya karena
menempuh jalan pemusatan pikiran dalam segala hubungan cabang pikiran
pada hakikatnya sudah membentuk filosofi. Menolak atau tidak menerima
pemusatan pikiran orang lain juga sudah ikut pula membentuk filosofi.
Kedua-duanya adalah cara, jalan, atau pemakaian hikmat yang ada pada
manusia.
Jadi, makna filsafat dapat ditinjau dari dua segi etimologi yang terdiri
atas kata philos yang juga berarti mencari dan mencintai; sedangkan sophia
artinya kebenaran dalam arti kebijaksanaan (hikmat). Filsafat artinya ajaran
atau orang yang mencapai taraf tertinggi pengetahuan dan mencintai
kebenaran dalam arti kebijaksanaan. Makna kedua ialah suatu proses terus-
menerus mengenai aktivitas pikiran murni yang menghasilkan kebenaran
dalam arti kebijaksanaan yang kemudian menjadi pandangan hidup seseorang
atau suatu kelompok manusia tertentu.
Sumber dari filsafat yang ada di dunia ini sesuai dengan istilahnya ialah
manusia. Dalam hal ini, akal dan kalbu manusia berusaha keras dengan
sungguh-sungguh untuk senantiasa mencari kebenaran dan akhirnya
mencapai kebenaran yang hakiki (ultimate truth). Manusia adalah makhluk
Tuhan yang diciptakan secara sempurna. Meski manusia itu tinggi derajatnya
dibandingkan dengan makhluk lain, tidak ada manusia yang sempurna.
Karena itu, kebenaran yang dapat dicapai oleh akal pikiran manusia tak
sempurna adanya. Kebenaran yang dicapai manusia bersifat relatif atau nisbi.
Ini tidak berarti bahwa semua hasil pemikiran manusia itu tak ada yang
benar. Hasil pemikiran manusia itu kebenarannya bertingkat-tingkat dan
berbeda-beda atau tidak mutlak.
 PKNI4316/MODUL 1 1.9

Ajaran agama, yakni agama-agama samawi yang mempunyai kitab suci


yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, yang disampaikan kepada umat
manusia untuk menjadi pedoman hidupnya, dan yang diturunkan melalui
wahyu dengan perantaraan rasul-rasul-Nya (utusan Tuhan), mengandung
kebenaran mutlak, berlaku secara universal, tidak terbatas oleh ruang dan
waktu, serta lengkap isinya, baik kaidah-kaidah pokok, norma-norma
kebenaran, petunjuk-petunjuk pelaksanaannya secara jelas ringkas dan
contoh perinci, maupun konsekuensi dan sanksi-sanksinya yang jelas seperti
pahala, dosa, serta siksa yang tercantum di dalamnya.

4. Modus Filsafat
Jadi, definisi filsafat mana yang benar? Apakah Anda menjadi bingung
dengan adanya banyak definisi yang berbeda-beda atau sebaliknya Anda
semakin tahu khazanah definisi filsafat?
Menurut pendapat George F. Kneller, tidak ada satu pun definisi yang
cukup “benar-benar” memuaskan. Filsafat kita anggap sebagai aktivitas
berpikir manusia dalam tiga modus berikut.
a. Spekulatif
Spekulatif adalah cara berpikir secara sistematis tentang segala sesuatu
yang ada untuk upaya pencarian tentang tatanan dari keseluruhan
pengetahuan dan pengalaman. Filsafat spekulatif adalah upaya untuk
menemukan keutuhan (totalitas) dan koherensi dalam keseluruhan alam
pemikiran dan pengalaman.
b. Preskriptif
Preskriptif berupaya menentukan standar pengujian nilai, tindakan, dan
apresiasi seni. Mengkaji apa yang kita maksud dengan benar dan
salah,baik dan buruk, serta indah dan jelek. Memasalahkan apakah sifat-
sifat itu melekat pada segala sesuatu dengan sendirinya atau apakah
sifat-sifat itu merupakan proyeksi dari pikiran kita dalam menentukan
tindakan-tindakan dan sifat-sifatnya yang berguna serta penjelasannya
mengapa harus demikian.
c. Analitis
Analitis memusatkan perhatian pada kata-kata dan maknanya atau
menyelidiki pengertian-pengertian tertentu. Contohnya, “sebab”,
“pikiran”, “kebebasan akademis”, dan “kesamaan kesempatan” agar
dapat menilai makna yang sesuai dalam konteks yang berbeda-beda.
Ketidakkonsistenan mungkin timbul apabila makna yang sesuai dalam
1.10 Filsafat Pancasila 

konteks tertentu diterapkan dalam konteks lain. Filsafat analitis


cenderung bersikap skeptis, berhati-hati, dan enggan untuk membangun
sistem pemikiran (Kneller, 1971: 1—3).

Jadi, semua pendekatan berkontribusi pada “sehatnya” filsafat. Inti


pertanyaan-pertanyaan filosofis yang penting ialah tentang:
a. Hakikat manusia dan dunianya.
b. Hakikat ilmu pengetahuan.
c. Hakikat nilai.
d. Hakikat hidup yang baik (the good life).

5. Objek Filsafat
Apakah yang menjadi objek atau pokok bahasan filsafat? Apakah Anda
sudah tahu apa yang menjadi objek penelitian atau pengkajian filsafat?
Filsafat sebagai kegiatan pikir murni manusia (reflective thinking)
menyelidiki objek yang tidak terbatas. Ditinjau dari sudut isi atau substansi
dapat dibedakan menjadi berikut ini.
a. Objek material ialah menyelidiki segala sesuatu yang tak terbatas dengan
tujuan memahami hakikat ada (realitas dan wujud). Objek material
filsafat kesemestaan, keuniversalan, dan keumuman bukan partikular
secara mendasar atau sedalam-dalamnya.
b. Objek formal ialah metodologi, sudut, atau cara pandang khas filsafat,
pendekatan dan metode untuk meneliti atau mengkaji hakikat yang ada
dan mungkin ada —baik yang konkret fisik dan bukan fisik; abstrak dan
spiritual; maupun abstrak logis, konsepsional, rohaniah, nilai-nilai
agama, dan metafisika, bahkan mengenai Tuhan pencipta dan penguasa
alam semesta.

Perkembangan selanjutnya adalah filsafat sebagai hasil upaya pemikiran


dan renungan (contemplation) para ahli pikir (filsuf). Ada juga yang
merupakan suatu ajaran atau sistem nilai, baik berupa pandangan hidup
(filsafat hidup) maupun sebagai cita-cita hidup atau ideologi. Misalnya,
paham-paham individualisme, kapitalisme, sosialisme, ideologi komunisme,
ideologi zionisme, ideologi pan-Islamisme, ideologi nasionalisme, dan
sebagainya.
 PKNI4316/MODUL 1 1.11

6. Metode Filsafat
Sebagai syarat penting setiap ilmu pengetahuan, bagaimana cara atau
metode yang digunakan? Metode penelitian atau pengkajian filsafat berbeda
dengan metode ilmu.
a. Metode penilaian atau pengkajian filsafat
Pengkajian filsafat terdiri atas (1) analisis filosofis, (2) analisis logis, dan
(3) inferensi. Selanjutnya, unsur-unsur metodologi penelitian filsafat
meliputi (1) interpretasi, (2) induksi dan deduksi, (3) koherensi-intern,
(4) holistik, (5) kesinambungan historis, (6) idealisasi, (7) komparasi, (8)
heuristik, (9) analogis, serta (10) deskripsi (Anton Baker dan Achmad
Zubair Charris Zubair dalam Sudarto, 1997: 42—48).
b. Ciri- ciri berpikir dalam berfilsafat
Ciri-ciri berpikir filsafat menurut Sunoto ialah
1) deskriptif
2) kritis atau analitis,
3) evaluatif atau normatif,
4) spekulatif,
5) sistematis (1982: 3—4).

B. KARAKTERISTIK ATAU SIFAT-SIFAT FILSAFAT

Apakah Karakteristik Filsafat Itu?


Menurut Jujun S. Suriasumantri, seorang yang berfilsafat dapat
diumpamakan seperti seorang yang berpijak di atas bumi dan menengadah ke
bintang-bintang di angkasa. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam
kesemestaan jagat raya. Seorang yang berdiri di puncak gunung yang tinggi
memandang ke arah lembah dan ngarai di bawahnya. Dia ingin menyimak
kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya.

a. Sifat menyeluruh
Ciri-ciri khas berpikir filsafat ialah pertama adalah sifat menyeluruh.
Seorang ilmuwan (cendekiawan) tidak puas lagi mengenai ilmu hanya dari
segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam
konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan
moral dan kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin, apakah ilmu itu
membawa kebahagiaan kepada dirinya dan orang lain.
1.12 Filsafat Pancasila 

b. Sifat mendasar
Sering kita melihat seorang ilmuwan yang picik. Ahli fisika nuklir
memandang rendah ahli ilmu sosial. Lulusan jurusan IPA merasa lebih tinggi
daripada lulusan jurusan IPS. Lebih sedih lagi, seorang ilmuwan
meremehkan pengetahuan lain. Mereka mengabaikan moral, agama, nilai,
etika, dan estetika. Mereka, para ahli yang berada di bawah tempurung
disiplin keilmuannya masing-masing, sebaiknya menengadah ke bintang-
bintang dan tentu akan tercengang, “Lho, kok, masih ada langit lain di luar
tempurung kita?” Kita pun berang akan kebodohan kita. Tujuan berpikir
secara kefilsafatan memang memancing keberangan tersebut. Bukan berang
kepada orang lain, melainkan berang terhadap diri sendiri dan bertenggang
rasa terhadap orang lain. “Yang saya ketahui,” simpul Socrates, “ialah
bahwa saya tidak tahu apa-apa” (Suriasumantri, 1985: 20).
Kerendahan hati Socrates ini bukanlah sekadar basa-basi. Seorang yang
berpikir dalam berfilsafat, selain menengadah ke bintang-bintang di angkasa,
juga membongkar tempat berpijak secara fundamental. Inilah ciri berpikir
filsafat yang kedua, yakni sifat mendasar. Dia tidak lagi begitu saja
menganggap bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu dapat dinyatakan benar?
Apakah kriterianya? Bagaimana proses penilaiannya dan berdasarkan kriteria
tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu “benar” itu
sendiri apa artinya? What is the truth? Seperti sebuah lingkaran, pertanyaan
itu melingkar. Ketika menyusuri sebuah lingkaran, kita harus mulai dari suatu
titik yang merupakan titik awal sekaligus titik akhir. Lalu, bagaimana
menentukan titik awal yang benar?

c. Sifat spekulatif
Memang terus-menerus tidak yakin akan titik awal yang menjadi jangkar
pemikiran yang mendasar. Dalam hal ini, kita hanya berspekulasi dan inilah
yang merupakan ciri filsafat yang ketiga, yakni sifat spekulatif. Kita mulai
mengernyitkan kening dan timbul kecurigaan terhadap filsafat. Bukankah
spekulasi ini suatu dasar yang tidak bisa diandalkan? Seorang filsuf akan
menjawab, “Memang, tetapi hal ini tidak bisa dihindarkan.” Ketika
menyusuri sebuah lingkaran, kita harus mulai dari sebuah titik,
bagaimanapun spekulatifnya. Yang penting adalah dalam prosesnya, baik
dalam analisis maupun pembuktiannya, kita bisa memisahkan spekulasi mana
yang dapat diandalkan dan spekulasi mana yang tidak. Tugas utama filsafat
adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang
 PKNI4316/MODUL 1 1.13

disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih?
Apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah alam ini ada tujuannya atau tak
jelas? Adakah hukum yang mengatur alam dan segenap kehidupan?
Patut kita sadari bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai
dengan spekulasi. Dari serangkaian spekulasi ini, kita dapat memilih buah
pikiran yang dapat diandalkan dan yang merupakan titik awal dari
penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang
disebut benar, tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar
kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk, tidak
mungkin kita berbicara tentang moral. Demikian juga tanpa apresiasi tentang
apa yang disebut indah atau jelek, tidak mungkin kita berbicara tentang seni.
(Suriasumantri, 1985: 21).
Manusia dengan segenap kemampuan kemanusiaannya, seperti perasaan,
pikiran, pengalaman, pancaindra, dan intuisi, mampu menangkap alam
kehidupan dan mengabstraksikan tangkapan tersebut dalam dirinya dalam
berbagai bentuk “ketahuan”, umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah,
dan filsafat. Terminologi ketahuan ini adalah terminologi artifisial yang
bersifat sementara dan sebagai alat analisis yang pada pokoknya diartikan
sebagai keseluruhan bentuk produk kegiatan manusia dalam usaha untuk
mengetahui segala sesuatu. Apa yang kita peroleh dalam proses mengetahui
tersebut tanpa memperhatikan objek, cara, dan kegunaannya, kita masukkan
dalam kategori yang disebut “ketahuan”. Dalam bahasa Inggris, sinonim dari
istilah ketahuan ini adalah knowledge.
Ketahuan atau knowledge merupakan terminologi generik yang
mencakup segenap bentuk yang kita ketahui, seperti filsafat, politik, hukum,
sejarah, ekonomi, biologi, seni bela diri, cara menyulam, dan seterusnya.
Jadi, biologi termasuk dalam ketahuan (knowledge), seperti juga ekonomi,
matematika, dan seni.

C. JENIS DAN SIFAT KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN

Bertalian dengan sifat kebenaran tersebut, menurut pendapat para ahli


filsafat, terutama dalam epistemologi, salah satu perbedaan terpenting ialah
tipe-tipe pengetahuan yang berbeda-beda. Kita perlu mengkaji apa jenis-jenis
(types) itu, lalu mencari apa yang lebih umum dikemukakan oleh para
epistemolog menurut aliran filsafat yang terkemuka. Adapun jenis (type) dan
sifat kebenaran sebagai berikut.
1.14 Filsafat Pancasila 

1. Pengetahuan Wahyu
Pengetahuan wahyu dapat dideskripsikan sebagai pengetahuan sebagai
wahyu Tuhan yang diturunkan melalui para nabi dan rasul utusan Tuhan
untuk disampaikan (diajarkan) kepada seluruh manusia, selanjutnya oleh para
nabi dan rasul menugaskan orang-orang tertentu yang hafal dan tepercaya
untuk dikodifikasikan dalam kitab-kitab suci masing-masing agama. Bagi
kaum Yahudi, firman-firman Tuhan itu termaktub dalam kitab suci Taurat
dan bagi umat Nasrani termaktub dalam kitab suci Injil. Bagi umat Islam,
firman Tuhan termaktub dalam kitab suci Alquran. Bagi penganut agama
Hindu, hal itu termaktub dalam kitab suci Bhagavad-Gita dan Upanishad;
sedangkan bagi penganut agama Buddha, firman Tuhan termaktub dalam
kitab suci Tripitaka. Oleh karena ayat-ayat suci itu adalah firman Tuhan,
kebenarannya bersifat mutlak, universal, dan abadi. Pengetahuan wahyu
adalah anugerah Tuhan kepada manusia dan pengetahuan di luar pengetahuan
manusia. Meski kebenaran-kebenaran yang “direkam” itu bersifat
supranatural, tetapi baik aksara maupun bahasa yang ditulis dalam kitab suci
bukanlah supranatural. Oleh karena itu, para ahli agama memerlukan banyak
waktu untuk mengkaji dan berargumentasi tentang arti dan makna yang tepat
mengenai kata-kata serta ungkapan-ungkapan tentang kalimat yang
terkandung dalam ayat-ayat suci tersebut. Argumentasi-argumentasi ini
dilakukan bukan untuk mencari-cari kesalahan. Bagi para penganut agama,
kebenaran-kebenaran yang paling penting di dunia ini terletak dalam kata-
kata yang diargumentasikan para teolog. Bagi umat Islam, hal itu menurut
hadis dan sunah Rasul SAW serta para ulama yang dilanjutkan ahli tafsir
(mufasirin). Inti dari tafsiran tekstual (apa yang tersurat) membawa cahaya
terang terhadap kebenaran-kebenaran abadi yang tersembunyi dalam ayat-
ayat suci ini.

2. Pengetahuan Intuitif
Pengetahuan intuitif adalah pengetahuan yang diperoleh seseorang dalam
dirinya pada saat mampu menyelami (memahami secara mendalam atau
insight). Insight atau intuisi muncul mendadak dalam kesadaran mengenai ide
atau kesimpulan yang dihasilkan melalui proses panjang tentang hasil yang
tak disadarinya. Segalanya tiba-tiba ditemukan solusinya suatu masalah yang
tidak disadari yang telah menyandera berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan
bertahun-tahun. Itulah upaya yang tidak disadari sebelumnya yang
memungkinkan saat insight muncul kegembiraan dan dianggap seolah-olah
 PKNI4316/MODUL 1 1.15

pasti benar. Orang yakin akan instuisi itu sehingga berusaha sungguh-
sungguh untuk hal itu, tanpa memedulikannya. Orang terhibur karena daya
psikis, begitu lama tersimpan dalam waktu pencarian solusi. Tiba-tiba
terpecahkan dalam waktu sekejap dan gembira karena ditemukannya solusi.
Juga, orang senang karena tanpa mengeluarkan energi merasa memperoleh
cukup kekuatan-kekuatan mental.
Akan tetapi, kita harus membedakan antara tindakan instuisi dan
pengetahuan intuitif yang sesuai. Sejumlah intuisi formatif atau iluminasi
tampaknya perlu pada semua prestasi intelektual besar. Tesis-tesis filosofis,
teori-teori ilmiah, dan karya-karya seni rupanya dilahirkan dari suatu intuisi
utama yang selanjutnya dijabarkan dan diperhalus. Betapa pun isinya, teori
ilmiah yang utuh bukanlah bentuk pengetahuan intuitif. Teori ilmiah adalah
konsisten secara logis dan teruji melalui observasi, eksperimentasi, ataupun
kedua-duanya. Kalau teori ilmiah dinyatakan sebagai hasil ilmu pengetahuan,
hal itu disampaikan bukan sebagai intuisi pribadi oleh penemunya, melainkan
sebagai hipotesis yang dapat diverifikasi (dapat dibuktikan dan diteliti
kebenarannya) lewat publikasi.
Lalu, apakah pengetahuan intuitif itu? Apakah Anda sudah mengerti
pengetahuan intuitif itu? Dalam bahasa biasa dan kehidupan sehari-hari,
pernahkah Anda punya intuisi? Pengetahuan intuitif adalah pengetahuan yang
muncul dan diterima atas dasar kekuatan visi imajinatif atau pengalaman
pribadi dari orang yang mengemukakannya.
Kebenaran yang terkandung dalam karya-karya seni adalah bentuk
pengetahuan intuitif. Semua pengarang besar, seperti Homerus, Walmiki,
Shakespeare, dan Proust, menceritakan kepada kita kebenaran tentang kata
hati manusia. Kita sebaiknya tidak usah memimpikan pengujian kebenaran-
kebenaran dengan observasi atau kalkulasi ataupun eksperimen karena
kebenaran-kebenaran itu disampaikan sebagai intuisi dan kita sendiri
mengakui hal itu benar secara intuitif. Tulisan-tulisan yang bersifat mistis,
autobiografi, dan esai dalam segala macam bentuk merupakan refleksi dari
pengetahuan intuitif.
Kita sendiri juga memiliki banyak pengetahuan intuitif dalam diri kita
sendiri, terutama tentang manusia. Itulah pengetahuan yang kita petik dari
pengalaman kita tentang orang lain dan pengalaman kita sendiri. Tentu saja,
kita harus merefleksikan hal itu, tetapi kita tidak harus menyajikannya
dengan kecermatan yang rasional dan sistematis atau pengujian melalui
observasi. Kita tidak usah melakukan hal itu karena kita tidak butuh itu. ltu
1.16 Filsafat Pancasila 

adalah pengetahuan atau kesadaran yang harus kita dalami, kita perluas, dan
kita koreksi sepanjang pengalaman hidup kita.

3. Pengetahuan Rasional
Pengetahuan yang kita peroleh dengan kegiatan penalaran belaka tak
disertai dengan observasi terhadap keadaan kejadian-kejadian yang
sebenarnya. Misalnya, prinsip-prinsip logika formal matematika mumi adalah
paradigma pengetahuan rasional. Kebenarannya dapat dibuktikan dengan
penalaran abstrak belaka. Sebagai contoh prinsip logika, dua pernyataan yang
bertentangan tidak bisa kedua-duanya benar sekaligus, misalnya penyataan
“Pleki adalah anjing” dan “Pleki bukan anjing”. Tidak bisa kedua-duanya
sebagai objek yang sama pada saat yang sama. Jika A lebih besar daripada B
dan B lebih besar daripada C, misalnya jika Boeing 747 lebih besar daripada
Foker dan Foker lebih besar daripada Piper Cub, Boeing 747 lebih besar
daripada Piper Cub. Kedua asas ini dapat diilustrasikan dengan contoh aktual,
tetapi kedua-duanya adalah benar secara independen dalam contoh semacam
itu. Asas-asas pengetahuan rasional dapat diterapkan pada pengalaman
pancaindra, tetapi asas-asas itu tidak dapat disimpulkan daripadanya. Tidak
seperti kebenaran pengetahuan intuitif, kebenaran rasional adalah sahih
(valid) tanpa memandang perasaan kita tentang kebenaran itu dan kebenaran
itu adalah sahih secara universal.
Tentu, Anda sudah tahu bahwa kebenaran ilmiah itu bersifat rasional,
empiris, dan faktual. Adakah kebenaran-kebenaran lainnya?
Pengetahuan rasional bukan tanpa batas. Kebenarannya adalah abstrak
dan formal secara fundamental. Kebenarannya sebagian besar berkenaan
dengan hubungan logis dan arti yang bersifat impersonal serta tidak
memandang kebutuhan emosional ataupun keadaan hal-hal yang aktual.
Karena kita mengalami hidup secara emosional di antara peristiwa-peristiwa
tertentu yang terjadi, pengetahuan rasional saja tidaklah cukup. Kita juga
memerlukan pengetahuan intuitif dan empiris, bahkan kita sering
membutuhkan lebih banyak lagi. Hal ini juga terbuka untuk memperdebatkan
seberapa banyak pengetahuan rasional itu sesungguhnya sahih secara
universal dan seberapa banyak hanya begitu. Kita semuanya berada pada
batas tertentu dalam ikatan budaya. Oleh karena itu, mungkin juga asas-asas
logika formal itu sahih hanya bagi orang-orang yang menggunakan bahasa-
bahasa Eropa dan berpikir menurut kategori-kategori mental yang ditopang
oleh bahasa-bahasa tersebut. Hal itu juga dipersoalkan apakah pengetahuan
 PKNI4316/MODUL 1 1.17

rasional pada ujungnya terletak pada pembuktian rasional. Menurut satu


aliran pemikiran, misalnya, asas-asas matematika mumi berlandasan pada
intuisi dasar (basic intuition) tentang keberurutan (successiveness).

4. Pengetahuan Empiris
Pengetahuan empiris dewasa ini sangat penting atau pengetahuan yang
diperkokoh oleh bukti melalui pancaindra. Dengan penglihatan, pendengaran,
penciuman, perasaan, dan perabaan; kita bentuk konsepsi kita tentang dunia
sekitar kita. Oleh karena itu, pengetahuan itu terdiri atas ide-ide yang
terbentuk sesuai dengan fakta-fakta yang diobservasi atau diterima oleh
pancaindra. Sementara itu, kaum rasionalis mengajarkan think things
through, sedangkan kaum empiris menyarankan look and see.
Paradigma pengetahuan empiris adalah sains modern. Hipotesis-
hipotesis ilmiah harus diuji melalui observasi atau eksperimen untuk
menemukan hipotesis yang dapat dipertanggungjawabkan paling memuaskan
bagi seperangkat fenomena tertentu. Walaupun demikian, hipotesis tidak
pernah terbukti atau tidak terbukti secara mutlak. Hipotesis memperlihatkan
kurang lebih “kemungkinan” (probable). Probabilitas empiris mungkin
sampai batas waktu kepastian, tetapi tidak pernah benar-benar meyakinkan
bahwa fenomena yang terjadi menurut cara-cara tertentu hingga sekarang
akan terjadi secara pasti menurut cara-cara yang akan datang.
Harus dijelaskan juga bahwa pancaindra kita kadang-kadang menipu
kita, seperti ketika sebatang tongkat yang sebenarnya lurus, tetapi tampak
bengkok ketika dimasukkan ke dalam air. Hal ini seperti Socrates yang
bertanya secara tepat sebelum ia diharuskan meminum racun, “Apakah
pancaindra kita mengandung kebenaran? Apakah pancaindra itu bukannya
saksi-saksi yang tidak akurat? Pancaindra kita terkondisikan oieh praduga
kita. Kita cenderung memahami menurut kekuatan apa untuk memahami.
Begitulah kita memahami ruang sebagai latar belakang permanen yang di
dalamnya terdapat peristiwa-peristiwa khas yang terjadi berturut-turut dalam
waktu. Pengertian tentang ruang dan waktu hampir pasti merupakan suatu
fenomena budaya kita menurut tingkat perkembangan tertentu.

5. Pengetahuan Otoritatif
Kita menerima sebagian besar pengetahuan itu benar bukan karena kita
telah mengeceknya di luar diri kita, tetapi karena hal itu
dipertanggungjawabkan kebenarannya oleh orang yang berwenang atau
1.18 Filsafat Pancasila 

dipercaya dalam bidangnya (authorities). Misalnya, George F. Kneller


menyatakan berikut.

Saya menerima kebenaran tanpa mempersoalkan lagi bahwa


Canberra adalah ibu kota Australia. Bahwa kecepatan cahaya adalah
186,281 mil per detik. Perang Waterloo terjadi pada tahun 1815. Saya
rasa tidak perlu untuk memverifikasi fakta-fakta ini, apalagi saya
merasa perlu menyusun daftar logaritma. Saya menganggap kebenaran
itu sudah semestinya karena saya dapat perolehnya dalam encyclopedia
dan karya yang ditulis oleh para pakar. Saya kutip dari para pakar dalam
memusatkan penyataannya karena saya mengharapkan dapat
menyimpan energi psikis saya untuk tujuan pribadi yang menggunakan
atau menyelami jauh di balik fakta-fakta yang kokoh. Dunia begitu luas,
tempat bagi saya untuk memverifikasi secara pribadi segala apa yang
terjadi di dunia ini.
Pengetahuan apa yang saya anggap benar sudah semestinya
bergantung pada kebutuhan dan minat saya. Jika saya ingin tahu, butir-
butir informasi seperti apa itu. Kubisme atau apa itu hukum Newton
tentang gerak, saya mencarinya dalam encyclopedia. Tentu jika
informasi itu semuanya saya cari, informasi itu semuanya akan saya
peroleh. Jika saya ingin memahami kubisme atau mekanika Newton,
saya harus menyusun asas-asas mengenai hukum-hukum ini bagi saya
sendiri. Tak usah saya berkata, “Saya tidak menemukan kembali
kubisme atau mekanika Newton.” Akan tetapi, saya kira melalui asas-
asas tentang hukum-hukum yang mendasarinya, saya bisa mengetahui
“inti” (the point) tentang hukum-hukum tersebut.
Saya mengerti tentang kubisme karena saya tahu tujuan artistik
yang dirancang oleh seniman kubis sendiri serta sarana yang mereka
gunakan untuk mencapainya. Saya memahami hukum gerak Newton
karena saya tahu alasan yang mendasarinya, kesimpulan-kesimpulan
yang diperoleh, serta bukti-bukti yang telah berhasil dikumpulkan.
Bagaimanapun apa yang saya anggap sudah semestinya benar
adalah pengetahuan yang sudah tersedia. Hukum Newton tentang gerak
telah dikukuhkan secara ilmiah. Itu adalah pengetahuan empiris. Jadi,
istilah “pengetahuan otoritatif” (authoritative knowledge) berarti lebih
bersifat psikologis daripada epistemologis. Itu berarti bukanlah hakikat
tentang hal-hal yang saya ketahui, tetapi caranya saya mengetahuinya.
Itu menunjukkan bukan pada produk kultural yang kita namakan
pengetahuan semata, melainkan caranya saya mencocokkan produk ini.
“Pengetahuan otoritatif” (authoritative knowledge) adalah
pengetahuan kokoh yang saya terima berdasarkan otoritas seseorang
(Kneller, 1971: 18—22).
 PKNI4316/MODUL 1 1.19

Demikianlah pengakuan Kneller tentang pengetahuan otoritatif. Apakah


ada pendapat yang lain? Silakan Anda cari dari sumber media cetak atau
elektronik!

LAT IH A N

Untuk menunjukkan pemahaman Anda tentang materi Kegiatan


Belajar 1, kerjakanlah latihan berikut!
1) Jelaskan asal kata dan arti kata (etimologi) serta istilah (terminologi)
“filsafat” yang telah memiliki pengertian umum tertentu!
2) Apakah objek penelitian (kajian) filsafat itu?
3) Sebutkan beberapa metode penelitian filsafat!
4) Karena tidak ada satu-satunya definisi filsafat yang memuaskan,
kemukakanlah tiga modus aktivitas berpikir filosof menurut George F.
Kneller!
5) Apakah jenis dan sifat kebenaran ilmu pengetahuan?

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia (philein, philos =


mencari, meneliti + sophia = kebijaksanaan). Istilah filsafat memiliki
pengertian tertentu yang secara umum sebagai ilmu pengetahuan yang
menyelidiki segala sesuatu yang ada untuk memperoleh kebenaran
hakiki.
2) Objek penelitian (kajian) filsafat ialah segala sesuatu yang ada (yang
umum kesemestaan). Objek material filsafat ialah segala sesuatu yang
ada, baik ada dalam kenyataan (realitas), ada dalam pikiran (rasional),
maupun ada dalam kemungkinan (spiritual, transendental, dan gaib).
Sementara itu, objek formal filsafat ialah metodologi dari sudut pandang
atau cara pandang serta prinsip-prinsip yang digunakan, yaitu hakikat
atau esensinya dari objek material (aspek kesemestaan, keuniversalan,
keumuman, dan totalitas).
3) Metode filsafat ialah (1) analisis filosofis, (2) analisis logis, (3) inferensi
(Anton Baker dan Zubair dalam Sudarto, 1997: 42—48). Menurut
Asmoro Achmadi (1997: 1921), metode filsafat adalah (a) kritis, (b)
intuitif, dan (c) analisis abstraksi.
1.20 Filsafat Pancasila 

4) Tiga modus aktivitas berpikir para filsuf menurut George F. Kneller


(1972: 2) ialah (1) filsafat spekulatif, (2) filsafat preskriptif, dan (3)
filsafat analitis.
5) Jenis (types) dan sifat kebenaran ilmu pengetahuan ada lima, yaitu
pengetahuan (1) wahyu, (2) intuitif, (3) rasional, (4) empiris, dan (5)
otoritatif.

R A NG KU M AN

Pengertian filsafat yang berasal dari bahasa Yunani philosophia


ialah hasrat dan upaya manusia dengan sungguh-sungguh untuk mencari,
memperoleh, dan mencintai kebenaran dalam arti kebijaksanaan. Filsafat
ialah proses dan hasil pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan
hati sanubari (kalbu) secara kritis, spekulatif, sistematis, fundamentalis,
universal, integral, dan radikal untuk mencari dan memperoleh
kebenaran yang hakiki (kebijaksanaan, kearifan, dan hikmat).
Objek penelitian dan kajian filsafat ialah hakikat ada (being, realitas,
dan wujud) dalam arti universalitasnya serta bukan partikularitasnya
segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dalam arti kesemestaan,
baik alam, manusia, maupun Tuhan Yang Maha Esa, pencipta serta
pengatur alam semesta dan seisinya. Metode penelitian atau pengkajian
filsafat terutama ialah (1) analisis filosofis, (2) analisis logis, (3)
inferensi, atau (1) metode teoretis, (2) metode intuitif, dan (3) metode
analisis abstraksi.
Adapun objek material filsafat ialah hakikat ada (being, realitas,
wujud) dalam arti universalitasnya segala sesuatu yang ada dan yang
mungkin ada. Sementara itu, objek formal filsafat ialah cara pandang
atau sudut pandang dan prinsip-prinsip yang digunakan, yaitu
keumuman dan totalitas dari hakikat yang ada dan yang mungkin ada
tentang objek materialnya.
Karakteristik utama filsafat ialah (1) sifat menyeluruh, (2) sifat
mendasar, dan (3) sifat spekulatif. Sementara itu, tipe dan sifat
kebenaran ilmu pengetahuan menurut George F. Kneller ialah (1)
pengetahuan wahyu Tuhan, (2) pengetahuan intuitif, (3) pengetahuan
rasional, (4) pengetahuan empiris, dan (4) pengetahuan otoritatif.
 PKNI4316/MODUL 1 1.21

TES F OR M AT IF 1

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!


1) Secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa ….
A. Arab
B. Inggris
C. Yunani
D. Latin

2) Istilah (terminologi) filsafat dalam pengertian umum ialah ilmu


pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada dan mungkin ada
untuk memperoleh ….
A. kebenaran rasional
B. kebenaran final
C. kebenaran hakiki
D. kebenaran nisbi

3) Objek material filsafat ialah hakikat ada (realitas, being, dan wujud);
sedangkan objek formal filsafat ialah menurut ….
A. cara atau sudut pandang khas tertentu
B. cara pandang yuridis formal
C. cara pandang akademis
D. cara pandang apriori

4) Sifat yang tidak termasuk karakteristik filsafat di antara sifat-sifat berikut


ini adalah ….
A. fundamental
B. universal
C. radikal
D. konservatif

5) Menurut ahli filsafat, Bertrand Russel, antara teologi dan ilmu


pengetahuan terletak suatu daerah tak bertuan, yaitu ….
A. agama
B. filsafat
C. teknologi
D. seni
1.22 Filsafat Pancasila 

6) Salah satu hal penting yang belum dapat dijawab dan dipecahkan oleh
ilmu ataupun filsafat ialah ….
A. jiwa manusia
B. ruang (space)
C. waktu (time)
D. perubahan

7) Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang pesat dan
canggih. Karena itu, filsafat terlibat dalam hal-hal yang bersifat ….
A. teoretis saja
B. teoretis dan praktis
C. spiritual
D. transedental

8) Pernyataan pendapat (point of view) tentang setuju atau tidak setuju dan
suka atau benci bagi seorang awam dalam arti “sederhana” sebenarnya
adalah ….
A. tidak termasuk dalam filsafat
B. termasuk pengetahuan awam
C. termasuk filsafat
D. termasuk sikap yang sudah lumrah

9) Pertanyaan seorang sarjana pendidikan, “Mengapa saya mau bekerja


sebagai guru yang harus disiplin, berangkat pagi pulang petang,
sedangkan pendapatannya pas-pasan?” Pernyataan ini bisa termasuk
persoalan ….
A. ekonomi
B. politik
C. sosial
D. filsafat

10) Pernyataan Robert Einstein mengenai ilmu tanpa agama buta dan agama
tanpa ilmu tak berdaya (lumpuh) banyak dikutip oleh para tokoh agama.
Hal itu dapat disimpulkan bahwa Einstein termasuk salah seorang ….
A. pakar ilmuwan (scientist)
B. pakar ilmuwan dan filsuf
C. cendekiawan (scholar)
D. generalis ilmu pengetahuan
 PKNI4316/MODUL 1 1.23

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan =  100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
1.24 Filsafat Pancasila 

Kegiatan Belajar 2

Kedudukan Filsafat dalam


Berbagai Ilmu Pengetahuan

A. KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN PERAN FILSAFAT

Menurut penjelasan Sunoto, berdasarkan sejarah kelahirannya, filsafat


lahir terlebih dahulu, terutama di Yunani. Filsafat mula-mula sebagai induk
pengetahuan (queen of sciences). Pada waktu itu, belum ada ilmu
pengetahuan lahir sehingga filsafat harus menjawab segala macam hal atau
memecahkan semua masalah. Filsafat membahas alam semesta (kosmologi),
tentang manusia (humanologi), bahkan tentang Tuhan (teologi). Selanjutnya,
masyarakat, kebudayaan, sejarah, pendidikan, ekonomi, dan politik (negara)
juga menjadi kajian filsafat.
Perkembangan keadaan dan masyarakat menjadi semakin banyak
masalah yang tidak dapat semuanya dijawab oleh filsafat. Dengan cara dan
metode ilmiah, lahirlah ilmu pengetahuan yang sanggup memberi jawaban
terhadap masalah-masalah tersebut, misalnya ilmu pengetahuan alam, ilmu
pengetahuan kedokteran, ilmu pengetahuan manusia, ilmu pengetahuan
masyarakat manusia, ilmu pengetahuan ekonomi, politik, negara, bahasa, seni
dan sebagainya. Ilmu-ilmu pengetahuan tersebut berkembang terus lalu
terbagi menjadi lebih khusus. Demikianlah muncul berbagai disiplin ilmu
yang amat banyak dengan kekhususannya (spesialisasinya) masing-masing.
Spesialisasi terjadi sedemikian rupa sehingga hubungan antara cabang
dan ranting ilmu pengetahuan sangatlah kompleks. Hubungan-hubungan
tersebut ada yang masih dekat, tetapi juga ada yang telah jauh. Bahkan,
seakan-akan tidak mempunyai hubungan lagi karena telah berhasil menjadi
disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Namun demikian, jika ilmu-ilmu
pengetahuan tersebut terus berusaha memperdalam penelitian dan kajiannya
sampai pada batas puncaknya, akhirnya sampai juga pada filsafat (misalnya
ilmuwan Einstein dengan teori relativitasnya). Dengan demikian, filsafat
dapat berfungsi sebagai pendekatan disiplin, baik interdisiplin, multidisiplin,
bahkan transdisiplin.
Filsafat dapat berfungsi menghubungkan ilmu-ilmu pengetahuan yang
semakin kompleks dan terpisah-pisah dalam suatu sistem yang mencakup
 PKNI4316/MODUL 1 1.25

keseluruhan secara komprehensif terpadu dalam suatu totalitas.


Perkembangan dewasa ini setiap disiplin ilmu memiliki filsafat sendiri-
sendiri.
Meskipun secara keseluruhan filsafat tidak memungkinkan memberikan
jawaban-jawaban final terhadap masalah-masalah yang dipertanyakan,
filsafat memberikan serangkaian jawaban-jawaban (yang berbeda-beda)
sehingga kita dapat memperluas cakrawala pemikiran dan mampu membantu
kita untuk melakukan pilihan-pilihannya sendiri. Kata philosophia juga
berarti belajar secara teliti atau inquiry.
Belajar berarti (bermakna) lebih dari menghimpun fakta-fakta yang
disusun secara ilmiah. Belajar juga berarti berkelana atau berspekulasi
(speculating) dengan merintis jalan untuk menjelajah batas-batas temuan
ilmiah tersebut. Lalu, apa macam pengetahuan yang dimaksud oleh filsafat
sebagai saran? Itulah macam pengetahuan yang relevan atau cocok seperti
yang dinyatakan oleh ahli filsafat Bertrand Russell, yaitu hasil-hasil dari
suatu pengujian kritis tentang dasar-dasar keyakinan, dugaan, dan
kepercayaan. Maka dari itu, pertanyaan-pertanyaan dapat dijawab secara
definitif, utamanya oleh ilmu; sedangkan pertanyaan-pertanyaan lain dijawab
secara spekulatif dan analitis oleh filsafat. Sebagai contoh, kajian tentang
filsafat pendidikan mengingatkan pentingnya pertanyaan-pertanyaan tersebut
mengenai teori dan praktik pendidikan yang memungkinkan kita dapat
mengkaji masalah-masalah filosofis untuk “menyoroti” (bagaikan sinar
cahaya berdaya tinggi) dan dapat “menembus” kebingungan tentang masalah-
masalah pendidikan yang dihadapi dalam dunia pendidikan.

B. RAGAM HUBUNGAN ILMU PENGETAHUAN DAN FILSAFAT


DENGAN AGAMA

Dalam hal ini, filsafat berfungsi sebagai tempat bertemunya berbagai


disiplin ilmu pengetahuan yang secara skematis dilukiskan oleh Sunoto
sebagai berikut.
1.26 Filsafat Pancasila 

Sumber: Sunoto (1982).

Gambar 1.1
Fungsi Filsafat

Keterangan
IP EK = ilmu pengetahuan ekonomi
IP SOS = ilmu pengetahuan sosial
IP BUD = ilmu pengetahuan budaya
IP HUK = ilmu pengetahuan hukum
IP KED = ilmu pengetahuan kedokteran
IP PERT = ilmu pengetahuan pertanian
IP TEK = ilmu pengetahuan teknologi

Adapun mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan filsafat dan


agama, Sunoto menjelaskan bahwa yang dicari ilmu pengetahuan dan filsafat
adalah kebenaran. Agama pasti mengajarkan kebenaran. Kebenaran dalam
ilmu pengetahuan dan filsafat adalah kebenaran akal, sedangkan kebenaran
menurut agama adalah kebenaran wahyu. Meskipun filsafat ilmu
pengetahuan mencari kebenaran dengan akal, hasil yang diperoleh, baik oleh
filsafat maupun ilmu pengetahuan, juga bermacam-macam. Hal ini dapat
ditelaah pada aliran yang berbeda-beda, baik dalam filsafat maupun dalam
ilmu pengetahuan. Demikian juga terdapat bermacam-macam agama serta
mazhab atau sekte aliran kepercayaan dalam agama yang masing-masing
mengajarkan kebenaran. Dengan adanya kenyataan tersebut, menurut Sunoto,
 PKNI4316/MODUL 1 1.27

yang terpenting adalah bagaimana agar aliran-aliran dalam filsafat dan ilmu
pengetahuan tidak saling bertabrakan satu sama lain. Alangkah baiknya jika
dapat bekerja sama dan saling membantu. Demikian juga agama yang
bermacam-macam hendaknya dapat saling menghargai dan bekerja sama
dengan baik dalam batas tertentu dan dalam hal-hal yang dimungkinkan.
Antara ilmu pengetahuan dan filsafat ada hubungannya dengan agama
yang disajikan dalam skema berikut.

Sumber: Sunoto (1982: 6)

Gambar 1.2
Hubungan Pengetahuan, Ilmu, Filsafat, dan Agama

Keterangan
P = pengetahuan
IP = ilmu pengetahuan
F = filsafat
A = agama

Setelah Anda simak penjelasan dan pendapat tersebut, bagaimana


pendapat dan sikap Anda?
1.28 Filsafat Pancasila 

1. Perbedaan Pengetahuan, Ilmu, Filsafat, dan Agama


Menurut kajian penulis tentang perbedaan dan hubungan antara
pengetahuan, ilmu, filsafat, serta agama, kiranya perlu diidentifikasi substansi
masing-masing. Selanjutnya, bagaimana sifat dan apa atau siapa sumber
kebenaran yang dijadikan dasar dan acuan? Apa perbedaan antara keempat
substansi itu? Secara ringkas, penulis kemukakan sebagai berikut.
Dalam dua gambar tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan
ilmu memiliki kesamaan tujuan, yakni mencari kebenaran. Demikian pula
sumbernya adalah sama, yakni budaya manusia. Tentu, cara atau metode
yang digunakan berbeda-beda: pengetahuan dengan naluri, intuisi, dan
pengalaman serta akal sehat (common sense); ilmu dengan metode atau
metodologi ilmiah; sedangkan filsafat dengan berpikir dan merenungkan
(contemplation). Sementara itu, agama dengan meyakini dalam hati sanubari,
selanjutnya baru memikirkan apa arti dan maknanya, merenungkan, serta
menyadari untuk mengamalkannya. Perbedaan kebenaran pengetahuan, ilmu,
dan filsafat bersifat nisbi (relatif) karena tidak ada manusia yang sempurna.
Kebenaran agama bersifat mutlak dan abadi karena bersumber dari wahyu
Ilahi, Tuhan Yang Mahabenar.

2. Landasan Filosofis IImu Pengetahuan


Dewasa ini, telah diterima dan diakui oleh para ahli ilmu pengetahuan
dan filsafat bahwa tiap disiplin ilmu pengetahuan berdiri sendiri yang dapat
membedakan antara disiplin ilmu yang satu dan lainnya diperlukan tiga
landasan filosofis berikut.
a. Landasan ontologi (on =being + logos = logic, theory) ialah dimensi
filsafat yang menyelidiki jenis dan hakikat ada, yaitu ada individu, ada
umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, dan ada mutlak,
termasuk kosmologi dan metafisika, serta ada sesudah kematian ataupun
sumber segala yang ada, yaitu Tuhan Yang Maha Esa—pencipta serta
penentu alam semesta. Apakah objek yang ditelaah menghasilkan
ketahuan (knowledge) tersebut? Dimensi ini disebut objek ontologis,
umpamanya ekonomi menelaah hubungan antara manusia dan barang
atau jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Manajemen
menelaah kerja sama manusia dalam mencapai tujuan yang telah
disetujui bersama. Secara ontologis, dapat ditetapkan objek penelaahan
kebudayaan, cara bertukang, dan filsafat. Dengan demikian, dapat
dibedakan bidang kajian ketahuan (knowledge) masing-masing.
 PKNI4316/MODUL 1 1.29

b. Landasan epistemologi (episteme = knowledge + logos= theory) ialah


dimensi filsafat yang menyelidiki hakikat tahu, yakni sumber, syarat,
dan proses terjadinya ilmu pengetahuan. Yang termasuk epistemologi
penelitian adalah sistematika, logika, dan matematika. Epistemologi juga
disebut filsafat pengetahuan atau teori ilmu pengetahuan
(wissenschaftslehre).
Cara apa yang digunakan untuk mendapatkan ketahuan (knowledge)
tersebut? Dengan perkataan lain, bagaimana cara mendapatkan ketahuan
(knowledge) itu?
Kriteria ini disebut landasan epistemologis yang berbeda untuk setiap
bentuk ketahuan manusia. Umpamanya, landasan epistemologis
matematika adalah logika dedukatif dan landasan epistemologis
kebiasaan ialah pengalaman dan akal sehat.
c. Landasan aksiologi (axios = value, worthy + logos = account, reason,
theory) ialah dimensi filsafat yang menyelidiki dimensi nilai, yakni
pengertian, jenis, tingkat, sumber, dan hakikat nilai secara kesemestaan.
Untuk apa ketahuan (knowledge) itu digunakan atau dengan kata lain
nilai digunakan apa yang dipunyainya. Dimensi ini disebut landasan
aksiologis yang juga dapat dibedakan untuk setiap jenis ketahuan
(knowledge). Nilai kegunaan, kiat, seni tata boga, tata busana, serta
pencak silat jelas berbeda dengan nilai kegunaan filsafat dan nuklir.

Jadi, seluruh bentuk dapat digolongkan dalam kategori ketahuan


(knowledge) dan masing-masing bentuk dapat dicirikan oleh objek ontologis,
landasan epistemologis, dan landasan aksiologisnya. Salah satu dari bentuk
ketahuan (knowledge) ditandai dengan berikut ini.
a. Objek ontologis: pengalaman manusia, yakni segenap wujud yang dapat
dijangkau lewat pancaindra atau peranti (device) yang membantu
kemampuan pancaindra.
b. Landasan epistemologis: metode ilmiah yang berupa gabungan logika
deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis atau yang
disebut metode deduktif hypotetico-verifikatif.
c. Landasan aksiologis: kemaslahatan manusia yang artinya segenap wujud
ketahuan itu secara moral ditujukan untuk kemanfaatan dan kebaikan
hidup manusia.
1.30 Filsafat Pancasila 

Bentuk ketahuan (knowledge) seperti ini dalam bahasa Inggris disebut


science. Dengan demikian, masalahnya adalah terdapat perbedaan antara
knowledge dan science, antara ketahuan yang bersifat generik dan bentuk
ketahuan yang mempunyai objek ontologis, serta landasan epistemologis dan
landasan aksiologis yang khas. Lalu, apakah sinonim-sinonim knowledge dan
science dalam bahasa Indonesia? Coba Anda cari jawabannya dalam kamus
atau enclyclopedia.

3. Integrasi IImu Pengetahuan, Filsafat, dan Agama


Bagaimanakah sifat hubungan antara ilmu dan agama? Hubungan antara
ilmu dan agama mengandung keragaman sifat. Menurut lan Barbour, ada
empat tipe:
a. konflik,
b. independensi,
c. dialog, dan
d. integrasi.

Identik dengan pendapat Ian Barbour, John F. Haught menyebutkan


konflik, kontras, kontak, dan konfirmasi.
Mengenai hubungan integrasi antara ilmu dan agama, Arqom
Kuswanjono dalam disertasinya yang telah diedit dalam bukunya yang
berjudul Integrasi Ilmu dan Agama: Perspektif Filsafat Mulla Sadra (2010)
menjelaskan hal berikut.
Mulla Sadra adalah filsuf besar yang telah membangun suatu konstruksi
pemikiran Islam yang begitu mendalam, komprehensif, dan indah. Sadra
telah mengajarkan bagaimana melihat realitas tidak hanya dengan pikiran dan
pancaindra, tetapi juga dengan kejernihan intuisi dan hati sanubari.
Menurutnya, sebagaimana dengan Ibnu Sina, memahami pancaindra tidak
hanya indra yang bersifat lahir, tetapi juga yang bersifat batin. Dengan cara
itulah, selain dapat memahami realitas spiritual, juga dapat dipahami makna
spiritual atas realitas yang material.
Mulla Sadra telah memaknai hikmah (sophia) sebagai pengetahuan dasar
filsafat dalam arti yang sebenarnya. Hikmah (kebijaksanaan) bukan hanya
kemampuan manusia berpikir kritis, sistematis, dan radikal, tetapi juga
didasari oleh kebersihan hati dan disinari oleh nur Ilahi. Konsep al-hikmah
al- muta'aliyah (hikmah tertinggi) telah mengangkat filsafat memiliki posisi
yang tinggi karena dimilikinya dasar pijakan sekaligus tujuan yang jelas,
 PKNI4316/MODUL 1 1.31

yaitu inna lillahi wa inna illaihi raaji’un, berfilsafat atas nama Allah dalam
rangka menggapai kebenaran-Nya. Bahwa integrasi holistik ilmu dan agama,
baik integrasi dalam aspek maupun dimensi ontologis, epistemologis,
ataupun aksiologis yang dijembatani oleh filsafat, didasarkan pada perspektif
Mulla Sadra. Dasar integrasi yang digunakan ada tiga, yakni keyakinan pada
a. wahdah al-wujud (kesatuan) (1) murni, (2) bergantung, (3) mutlak;
b. tasykikal al-wujud (gradasi wujud);
c. asalah al-wujud (kehakikian wujud).

Empat dasar integrasi Mulla Sadra ialah


a. at-tauhid,
b. keyakinan pada realitas adikodrati dan keterbatasan manusia,
c. keyakinan pada alam dengan memiliki tujuan,
d. komitmen pada nilai-nilai moral (Kuswanjono, 2010: 165—168).

Silakan Anda telaah dan pahami lebih mendalam. Selanjutnya,


bagaimana pendapat Anda secara independen (mandiri)?

LAT IH A N

Untuk menunjukkan penguasaan Anda mengenai materi Kegiatan


Belajar 2, kerjakanlah latihan berikut!

1) Jelaskan secara singkat posisi, fungsi, dan peran filsafat dalam berbagai
ilmu pengetahuan!
2) Mengapa filsafat disebut sebagai induk semua ilmu pengetahuan (queen
of sciences)? Sebutkan alasannya!
3) Sebutkan tiga landasan pokok filosofis untuk disiplin ilmu pengetahuan
yang berdiri sendiri! Masing-masing aspek Anda jelaskan secara singkat!
4) Apakah perbedaan dan kesamaan utama antara ilmu pengetahuan,
filsafat, dan agama? Jelaskan!
5) Bagaimana macam ragam hubungan antara ilmu pengetahuan, filsafat,
dan agama?
1.32 Filsafat Pancasila 

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Posisi dan fungsi serta peran filsafat sangat penting karena sistem
pemikirannya bersifat totalitas komprehensif yang dapat
menyumbangkan alternatif solusi secara bijaksana serta menjembatani
perbedaan-perbedaan dalam berbagai ilmu pengetahuan yang sangat
spesifik.
2) Sebelum tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,
filsafatlah yang berperan sebagai sumber untuk menjawab berbagai
persoalan masyarakat.
3) Tiga aspek landasan filosofis bagi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri:
a) ontologi yang menyelidiki atau mengkaji hakikat ada, yakni objek
penelitian ilmu dalam arti material dan formalnya;
b) epistemologi yang meneliti dan mengkaji hakikat tahu kebenaran
ilmu, baik sumber, syarat-syarat, prinsip-prinsip, maupun prosesnya
secara tuntas (radikal);
c) aksiologi yang menyelidiki dan mengkaji hakikat nilai, fungsi, dan
kegunaan secara umum yang berbeda-beda bagi umat manusia.
4) Perbedaan ilmu pengetahuan dan filsafat dengan agama ialah baik ilmu
pengetahuan maupun filsafat bersumber dari hasil cipta, karsa, dan rasa
manusia yang kebenarannya bersifat relatif (nisbi). Sementara itu, agama
bersumber dari wahyu Tuhan yang bersifat mutlak dan abadi.
Kesamaannya ialah semuanya bertujuan mencari dan menemukan
kebenaran.
5) Menurut beberapa ahli, ada empat macam ragam sifat hubungan antara
ilmu pengetahuan dan filsafat dengan agama, yakni (1) konflik, (2)
independensi, (3) dialog, dan (4) integrasi.

R A NG KU M AN

Kedudukan, fungsi, dan peran filsafat sangat penting dalam berbagai


ilmu pengetahuan. Sebelum tumbuh dan berkembang ilmu pengetahuan,
filsafatlah yang menjadi acuan untuk menjawab persoalan-persoalan
masyarakat. Selanjutnya, filsafat menggeser pikiran masyarakat
berdasarkan kepercayaan religius sehingga berubah menjadi cara
berpikir rasional. Filsafat berperan mendorong pertumbuhan dan
 PKNI4316/MODUL 1 1.33

perkembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, filsafat sering dianggap


sebagai induk ilmu pengetahuan (queen of sciences).
Setelah ilmu pengetahuan berkembang pesat dan dapat menjawab
serta memecahkan persoalan-persoalan dalam masyarakat melalui
cabang dan disiplin ilmu yang sangat spesifik, ilmu pengetahuan telah
mampu berdiri sendiri sehingga tidak membutuhkan hubungan dengan
filsafat. Namun demikian, kadang-kadang ilmu pengetahuan menghadapi
permasalahan masyarakat yang semakin kompleks sehingga filsafat
berfungsi menyinari kebingungan ilmu dalam menghadapi jalan buntu.
Di situlah filsafat maju menembus batas pemikiran yang rasional,
faktual, dan empiris dengan pendekatan sistem totalitas komprehensif
serta pemikiran yang bersifat spiritual dan transendental ataupun
kontekstual.
Selanjutnya, perkembangan keanekaragaman ilmu pengetahuan
menurut pendekatan utama monodisiplin, interdisiplin, dan multidisiplin
masih menghadapi kendala batas-batas ranah bidang ilmu masing-
masing untuk saling bertemu sehingga filsafat berperan untuk
menjembataninya dengan pendekatan filsafat sistem ataupun
transdisiplin. Sebaliknya, filsafat yang semula berpikir sistematis,
rasional, fundamental, universal, dan integral berkembang menjadi
filsafat-filsafat khusus yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga
bersifat pragmatis dan praktis. Kalau demikian, perlu dipertanyakan apa
perbedaan ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama? Adakah inti
kesamaannya? Kesamaannya jelas bahwa ketiga-tiganya bertujuan
mencari dan menemukan kebenaran. Perbedaan utama ialah ilmu
pengetahuan dan filsafat bersumber dari manusia wujud kebudayaan
serbaabstrak dan spiritual. Kebenaran ilmu pengetahuan bersifat ilmiah
dan kebenaran bersifat hakiki. Akan tetapi, kedua kebenaran itu bersifat
nisbi (relatif) karena tidak ada manusia yang sempurna, selain
mengalami perubahan-perubahan dan keterbatasan. Sementara itu,
agama bersumber dari wahyu Tuhan yang memiliki segala sifat yang
sempurna, sedangkan kebenaran-Nya bersifat semesta, mutlak, dan
abadi.
Kalau begitu, bagaimana hubungan antara ilmu pengetahuan dan
filsafat? Kini telah diterima dan diakui oleh para ahli ilmu pengetahuan
dan cendekiawan (scholars) ataupun filsuf bahwa suatu ilmu
pengetahuan yang berdiri sendiri perlu memiliki tiga landasan filosofis,
yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Last but not the least,
bagaimana hubungan antara ilmu pengetahuan dan filsafat dengan
agama? Menurut pendapat beberapa hal, ragam hubungan antara ilmu
pengetahuan dan filsafat dengan agama ada empat tipe, yakni yang
bersifat (1) konflik, (2) independensi, (3) dialog, dan (4) integrasi.
1.34 Filsafat Pancasila 

Baru-baru ini Arqom Kuswanjono (2010), dalam disertasinya di


Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, berkesimpulan bahwa integrasi
holistik antara ilmu pengetahuan dan agama, baik dalam aspek ontologis,
epistemologis, ataupun aksiologis, mungkin saja terjadi sehingga perlu
dijembatani oleh filsafat yang didasarkan pada perspektif filsuf
kenamaan Mulla Sadra dari Mesir. Demikianlah kedudukan filsafat,
fungsi, dan perannya dalam berbagai ilmu pengetahuan.

TES F OR M AT IF 2

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!


1) Menurut para ahli filsafat, ada tiga hal yang mendorong manusia untuk
berfilsafat. Dari hal-hal di bawah ini, yang tidak termasuk dorongan
berfilsafat adalah ….
A. keheranan
B. kesangsian
C. kepenasaranan
D. kesadaran

2) Filsafat sering disebut sebagai induk semua ilmu pengetahuan (queen of


sciences) karena semua ilmu pengetahuan merupakan ….
A. bagian dari sistem filsafat
B. cabang dari filsafat
C. dikoordinasikan oleh filsafat
D. pengetahuan yang telah ada sebelum lahirnya ilmu pengetahuan

3) Filsafat dapat dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok yang tidak


termasuk empat kelompok tersebut adalah filsafat tentang ….
A. keseluruhan kenyataan
B. pengetahuan
C. tindakan
D. peramalan

4) Kedudukan filsafat sangat penting dalam ilmu pengetahuan karena


filsafat memberikan ….
A. landasan-landasan yang mutlak
B. landasan-landasan pilihan yang cocok
C. landasan-landasan spekulatif dan imajinatif
D. landasan-landasan filosofis yang sangat penting
 PKNI4316/MODUL 1 1.35

5) Perbedaan utama antara ilmu pengetahuan dan filsafat dengan agama


pada sumber dan kebenarannya yang bersifat ….
A. ilmiah dan hakiki
B. duniawi dan ukhrawi
C. khusus dan universal
D. mutlak dan abadi

6) Secara ideal, hubungan yang terbaik antara ilmu dan filsafat dengan
agama ialah semacam hubungan yang bersifat ….
A. independensi
B. konflik
C. integrasi
D. dialog

7) Tujuan mahasiswa mempelajari filsafat ialah ….


A. memenuhi tugas kewajiban kurikuler
B. menambah ilmu pengetahuan
C. membina kepribadian manusia seutuhnya
D. mengembangkan sifat kepribadian yang bijaksana

8) Tujuan khusus mahasiswa UT mempelajari filsafat ialah sebagai ….


A. bekal dasar untuk mempelajari filsafat Pancasila dalam berbagai
perspektif secara komprehensif
B. bekal dasar seorang calon ilmuwan
C. bekal dasar seorang pendidik yang profesional
D. bekal utama bagi seorang filsuf

9) Bagi para ahli dan praktisi pendidikan, pendidikan merupakan unsur


utama budaya manusia karena ….
A. memelihara kelangsungan warisan budaya
B. mempersiapkan sumber daya manusia (SDM)
C. penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi dalam era
globalisasi
D. mengembangkan kualitas kepribadian dan kecerdasan manusia yang
baik

10) Mata kuliah Filsafat Pancasila merupakan mata kuliah wajib dan pilihan
lembaga pendidikan tinggi yang termasuk rumpun mata kuliah ….
A. Pengembangan Keahlian Khusus
B. Pengembangan Keilmuan dan Keterampilan Berkarya
C. Pengembangan Kepribadian Manusia Bangsa Indonesia
D. Pengembangan Kemampuan Berkehidupan Bermasyarakat
1.36 Filsafat Pancasila 

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan =  100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
 PKNI4316/MODUL 1 1.37

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1
1) C. Yunani
2) C. kebenaran hakiki
3) A. cara atau sudut pandang khas tertentu
4) D. konservatif
5) B. filsafat
6) C. waktu (time)
7) B. teoretis dan praktis
8) C. termasuk filsafat
9) D. filsafat
10) B. pakar ilmuwan dan filsuf

Tes Formatif 2
1) C. kepenasaranan
2) D. pengetahuan yang telah ada sebelum lahirnya ilmu pengetahuan
3) D. peramalan
4) D. landasan-landasan filosofis sangat penting
5) A. ilmiah dan hakiki
6) C. integrasi
7) D. mengembangkan sifat kepribadian yang bijaksana
8) A. bekal dasar untuk mempelajari Filsafat Pancasila dalam berbagai
perspektif secara komprehensif
9) D. mengembangkan kualitas kepribadian dan kecerdasan manusia yang
baik
10) B. pakar ilmuwan dan filosof
1.38 Filsafat Pancasila 

Glosarium

Aufklarung (dari bahasa : abad pencerahan; sejarah Eropa setelah


Jerman = melewati zaman kegelapan.
enlightenment)
Aksiologi (dari bahasa : hakikat nilai dalam arti universal, sumber,
Yunani axios = value, jenis, tingkat, fungsi, atau kegunaannya.
worthy + logos =
theory, system)
Antroposentrisme (dari : aliran yang bertitik tolak dan berpusat
bahasa Yunani pemikiran dan pandangannya pada manusia.
antrophos = human
being)
Causa prima (dari : penyebab utama yang tidak disebabkan oleh
bahasa Yunani = the penyebab yang lain, umumnya disebut Tuhan.
only prime cause)
Dialektika (dari bahasa : suatu cara berpikir filosofis tentang hakikat
Yunani dialog, tanya realitas dan proses dinamis idealistis, yaitu
jawab) tesis-antitesis-sintesis terus-menerus.
Dualisme (dari bahasa : keadaan mendua, rangkap; aliran filsafat yang
Yunani dual = dua) berpandangan bahwa hakikat ada, realitas ialah
dua unsur dasar yang abadi.
Eklektisisme (dari : memilih dan menggunakan yang terbaik dari
bahasa Inggris eclectic) unsur-unsur berbagai sumber; aliran filsafat
yang menggunakan seleksi dari berbagai
sumber atau pandangan lain yang dianggap
benar dan terbaik menjadi satu kesatuan.
Epistemologi (dari : hakikat tahu, mengetahui, dan ketahuan; unsur
bahasa Yunani pokok filsafat yang mengkaji asal mula,
episteme = logos, sumber, susunan, asas-asas, dan metode serta
knowing, knowledge) validitas untuk memperoleh kebenaran realitas
segala sesuatu; cabang filsafat; atau teori ilmu
pengetahuan.
Hakikat (dari bahasa : inti, esensi, dan kebenaran tentang segala
Arab haq, truth) sesuatu yang ada; kebenaran hakiki ialah
kebenaran esensial yang sejati dan totalitas,
sophia = kebenaran - kebijaksanaan, wisdom,
kearifan, hikmah.
Hedonisme (hedon = : suatu aliran filsafat yang berpandangan bahwa
 PKNI4316/MODUL 1 1.39

enak, senang, bahagia) tujuan utama hidup manusia ialah mencari


kesenangan dan kebahagiaan semata selama di
dunia.
Hellenisme (hellas = : filsafat hellenisme merupakan perpaduan
Yunani) antara pandangan hidup Yunani (Barat) dan
Arab-Islam (Timur) yang mengisi masa
kekosongan pemikiran filsafat Eropa. Pusat
pemikirannya pada cara mengatur hidup
manusia dengan budinya (akal). Dimulai pada
masa pemerintahan Alexander the Great
(Iskandar Zulkarnaen)—raja Macedonia
(356—23 SM) yang terjadi pergeseran dari
filsafat teoretis menjadi filsafat praktis.
Individualisme (dari : suatu aliran filsafat dan ideologi yang
bahasa Yunani berpandangan serta cita-cita hidup melalui
individuum = pribadi) negara yang didirikan atas dasar hak dan
kehendak kepentingan individu. Dalam
budaya, agama, politik, dan ekonomi
mengutamakan kebebasan (liberalism), sistem
kapitalisme, serta persaingan bebas.
Kosmologi (dari bahasa : pengkajian rasional sistem yang teratur tentang
Yunani cosmos + alam semesta, baik susunan maupun
logos) ketertibannya.
Lebenanschauung (dari : pandangan hidup, filsafat hidup, dan way of
bahasa Jerman leben = life.
hidup + onschuung =
pandangan)
Metafisika (dari bahasa : hal- hal yang ada sesudah fisika; bagian filsafat
Yunani meta = di atas, yang mengkaji pertanyaan serta persoalan
+ phisica) tentang hakikat segala sesuatu yang ada secara
fundamental dan radikal sampai akar-akarnya
(radix).
Monisme (dari bahasa : aliran filsafat yang berpandangan bahwa
Yunani monos = hakikat segala sesuatu adalah hanya satu atau
tunggal) tunggal.
Monodualisme : paham dan pemikiran bahwa hakikat segala
sesuatu yang ada ialah dua dalam satu
kesatuan, tunggal.
Monopluralisme : paham pemikiran bahwa hakikat segala sesuatu
yang ada ialah majemuk dan beraneka ragam,
1.40 Filsafat Pancasila 

tetapi dalam satu kesatuan.


Mitos (dari bahasa : cara pandang berdasarkan kepercayaan pada
Yunani = kepercayaan) sesuatu menurut cerita, legenda, dan yang
misterius menentukan atau memengaruhinya.
Ontologi (dari bahasa : bagian utama filsafat yang mengkaji hakikat
Yunani ta onto = ada dan berada dalam arti kesemestaan, yakni
metaphisica = being + esensi realitas atau substansi.
logos = sistem, teori)
Radikal (dari bahasa : pemikiran filosofis tentang cara untuk
Latin radix = akar) memperoleh hakikat kebenaran segala sesuatu
yang ada secara tuntas menyeluruh sampai
akar-akarnya.
Sekularisme (dari : suatu aliran filsafat yang berpandangan
bahasa Latin seculum = pengutamaan pemisahan realitas kehidupan
duniawi) manusia di dunia semata atau duniawi antara
budaya (profan) dan negara dunia dengan
agama (sakral, suci).
Spekulatif (dari bahasa : cara dan sifat berpikir, menerka, menerawang,
Inggris speculum, dan menafsirkan segala sesuatu, baik ruang,
specula = sifat atau waktu, maupun masa depan dengan renungan
keadaan memantul) spiritual dan transendental.
Transendental (dari : cara berpikir filosofis spiritual yang melampaui
bahasa Inggris dan mengatasi batas-batas alamiah dan
transcend = duniawi.
melampaui, mengatasi)
Weltanschauung (dari : filsafat hidup, pandangan hidup manusia
bahasa Jerman welt = tentang dirinya dan dunianya atau lingkungan
dunia + anschauung = hidupnya di dunia alam semesta raya ini.
pandangan)
 PKNI4316/MODUL 1 1.41

Daftar Pustaka

Achmadi, Asmoro. 1997. Filsafat Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Anshari, Endang Saefudin. 1970. Kuliah Al-Islam. Bandung: Pustaka


Perpustakaan Salman ITB.

Bakry, Hasbullah. 1961. Di Sekitar Filsafat Skolastik Islam. Solo: AB Sitti


Syamsiah.

Bertens. 1975. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius.

______. 1976. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Brouwer, et.al. 1986. Sejarah Filsafat Modern dan Sejamannya.

Fung Yu Lan. 1960. Sejarah Pendek Filsafat Tiongkok, terj. Poedjiutomo.


Yogyakarta.

Hadijuwono, Harum. 1971. Sari Filsafat India. Jakarta: BPK.

Hamersma, Harry. 2008. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Yogyakarta:


Kanisius.

Ishak, Muslim. 1980. Tokoh-tokoh Filsafat Islam dari Barat (Spanyol).


Surabaya: Bina Ilmu.

Ismail, Fuad Farid dan Abdul Hamid Mutawali. 2012. Cara Mudah Belajar
Filsafat (Barat dan Islam). Yogyakarta: IRCiSOD.

Ismaun. 1976. Problematika Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa


Indonesia. Bandung: Karya Remadja.

Knelle, George F. 1971. Introduction to the Philosophy of Education. New


York: John Wiley & Sons, Inc.
1.42 Filsafat Pancasila 

Kuswanjono, Arqom. 2009. Integrasi Ilmu & Agama. Yogyakarta: Badan


Penerbitan Filsafat UGM.

Nasroen, Muhammad. 1968. Falsafah Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang.

Notonagoro. 1968. Pancasila Dasar Falsafah Negara. Jakarta: Pantjuran


Tujuh.

Poedjawijatna. 1966. Pembimbing ke Alam Filsafat. Jakarta: Pembangunan.

Pronggodigdo (ed). 1972. Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius.

Sunoto. 1982. Mengenal Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi


UI.

Suriasumantri, Jujun S. 2000. Filsafat Ilmu. Jakarta: Sinar Harapan.