Anda di halaman 1dari 39

1

CONTOH LAPORAN AKHIR TANOTO STUDENT RESEARCH AWARD


(TSRA)
JUDUL PROGRAM

LEDCUBA : Inovasi Lampu Light Emitting Diode Bawah Air Sebagai Alat
Pemikat Ikan Ramah Lingkungan Pada Perikanan Bubu

FOKUS RISET:
TEKNOLOGI BIDANG
KELAUTAN DAN PERIKANAN

Diusulkan oleh:
Fachruqi Waris L23114511 Angkatan 2014
Muh. Hanif Muzakir D41114504 Angkatan 2014
Muhammad Akbar Bahmi A31115324 Angkatan 2015

Pembimbing :
Muhammad Kurnia, S.Pi., M.Sc., PhD

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2

2017
1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ekosistem terumbu karang merupakan daerah perairan yang memiliki
potensi sumberdaya laut yang melimpah dengan produktivitas yang tinggi dan
merupakan habitat hidup berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi.
Potensi sumberdaya ikan karang perlu diketahui untuk dapat dikembangkan
sebagai salah satu komoditas perikanan yang memiliki peluang pengembangan
yang cukup menjanjikan. Jenis-jenis ikan karang yang ekonomis penting dan
memiliki harga jual tinggi antara lain ikan kakap (Lutjanus sp), kerapu
(Epinephelus sp), baronang (Siganus sp) dan lain-lain.
Usaha pemanfaatan sumberdaya ikan karang, umumnya menggunakan
alat tangkap bubu dasar dengan tetap memperhatikan faktor kelestarian
sumberdaya ikan dan nilai jual ikan hasil tangkapan. Penggunaan alat tangkap ini
cukup baik, karena ikan yang tertangkap umumnya masih hidup dan segar. Hal
ini penting, mengingat permintaan cukup tinggi untuk jenis ikan karang konsumsi
dalam keadaan hidup. Kualitas ikan merupakan syarat utama dalam bisnis ikan
karang, dimana memiliki peluang ekspor yang sangat baik di pasaran nasional
dan internasional (Rumajar, 2011). Namun saat ini kegiatan penangkapan yang
menggunakan bubu dasar di daerah terumbu karang banyak menyebabkan
kerusakan terumbu karang. Hal ini mengakibatkan kondisi karang yang masih
baik 6,48 %, kondisi baik 22,53 %, rusak 28,39 % dan rusak berat 42,59 %
(Supriharyono, 2000).
Metode eksploitasi cenderung dengan cara penangkapan yang sering
menimbulkan kerusakan karang. Diantaranya cara pengoperasian yang dilakukan
dengan menggunakan bongkahan karang untuk menimbun bubu sebagai upaya
kamuflase dan penyamaran. Padahal pemasangan bubu yang demikian dapat
menyebabkan terumbu karang terbongkar, patah dan mengalami kematian
(Sukmara et.al 2001). Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu upaya yang
dilakukan dengan menggunakan teknologi alat bantu penangkapan ikan yang
ramah lingkungan.
Penggunaan lampu Light Emitting Diode (LED) pada lampu bawah air
(underwater lamp) merupakan salah satu inovasi alat bantu cahaya pada
perikanan bubu dasar atau bubu karang untuk mengatasi masalah tersebut.
Penggunaan cahaya sebagai atraktor atau pemikat ikan pengganti umpan yang
banyak digunakan pada perikanan bubu. Penggunaan cahaya pada perikanan
bubu juga merupakan suatu upaya inovatif teknologi alat bantu penangkapan ikan
pada perikanan demersal. Sebagaimana diketahui, pemanfaatan cahaya umumnya
digunakan pada perikanan pelagis. Telah diketahui bahwa beberapa jenis ikan
memiliki sifat fototaksis positif dimana ikan akan bereaksi terhadap cahaya
dengan mendatangi dan berkumpul di sekitar sumber cahaya pada jarak dan
rentang waktu tertentu. Berkumpulnya ikan di sekitar cahaya merupakan tingkah
laku ikan untuk mencari makan (Subani, 1972).
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa penggunaan lampu LED
dapat memikat ikan pada perikanan bagan (Sofijanto, 2015); pengembangan
lampu celup LED pada perikanan bagan apung (Taufiq, 2015); perikanan Purse
Seine (Sulaiman, 2015); dan perikanan bubu (Yudha, 2005). Perlu dilakukan
kajian lebih mendalam tentang penggunaan cahaya untuk penangkapan jenis-
jenis ikan karang yang memiliki harga jual tinggi, seperti kerapu lodi, kerapu
macan, kerapu lumpur,kerapu bebek, dan lain-lain, sehingga hasil tangkapan
bubu lebih menguntungkan dan pengoperasiannya (setting) tidak perlu merusak
terumbu karang (Yudha, 2005).
Hal ini yang menjadi dasar ketertarikan untuk melakukan penelitian
tentang inovasi teknologi lampu Light Emitting Diode bawah air pada perikanan
bubu dasar terhadap jumlah hasil tangkapan. Sehubungan dengan isu kerusakan
terumbu karang akibat penggunaan bubu, maka hasil penelitian ini juga
diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah tersebut dan
lebih lanjut dapat meningkatkan efektifitas alat tangkap bubu dasar sehingga hasil
tangkapan meningkat dan kesejahteraan nelayan menjadi lebih baik.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana rancangan konstruksi lampu LED Bawah Air?
2. Bagaimana pengaruh penggunaan lampu LED Bawah Air terhadap jumlah
hasil tangkapan nelayan bubu dasar ?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian


Tujuan
1. Membuat dan mengembangkan rancangan konstruksi lampu LED Bawah
Air sebagai inovasi alat bantu penangkapan ikan pada perikanan bubu
2. Mengetahui pengaruh penggunaan lampu LED Bawah Air terhadap
jumlah hasil tangkapan nelayan bubu dasar
3. Mengurangi dampak kerusakan terumbu karang akibat pengoperasian
bubu dasar yang tidak ramah lingkungan
Kegunaan
1. Memperkenalkan lampu LED Bawah Air sebagai inovasi alat bantu
penangkapan ikan dengan bubu dasar yang ramah lingkungan
2. Meningkatkan jumlah hasil tangkapan nelayan perikanan bubu dasar.
3. Mengurangi dampak kerusakan terumbu karang akibat pengoperasian
bubu dasar dengan cara menggunakan karang sebagai kamuflase habitat
karang.
D. Alur Pikir Penelitian
Inovasi Teknologi LED Bawah Air pada Perikanan
Bubu

ALAT TANGKAP
BUBU

Metode Operasi
Alat Tangkap

Menggunakan karang Inovasi Teknologi


Menggunakan berbagai
menutup bubu sebagai LED Bawah Air
jenis Umpan sebagai
Kamuflase Habitat ikan sebagai Pemikat Ikan
pemikat ikan

Kelemahan Metode Kelebihan Metode

- Umpan Cepat Rusak - Tidak Ramah


Lingkungan dan - Tanpa umpan,
- Harus Selalu Diganti
- Mengeluarkan biaya - Merusak karang - Alat Tahan lama dan
pembelian umpan tidak mudah rusak,
- Ramah Lingkungan
- Tidak merusak karang
- memanfaatkan sifat biologis
ikan

Upaya Pengembangan OUTPUT:


dan Keberlanjutan Teknologi Lampu LED
Perikanan Tangkap dari Bawah Air
Aspek Teknologi Alat
Bantu

Gambar 1. Alur pikir penelitian inovasi Lampu Light Emitting Diode Bawah Air
sebagai alat pemikat ikan ramah lingkungan pada perikanan bubu
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Bubu Secara Umum


Perangkap (trap) merupakan alat penangkap ikan yang dipasang secara
tetap di dalam air untuk jangka waktu tertentu yang memudahkan ikan masuk dan
mempersulit keluarnya. Alat ini biasanya dibuat dari bahan alami, seperti bambu,
kayu atau bahan buatan lainnya seperti jaring (Sudirman dan Mallawa, 2012).
Selanjutnya menurut Subani dan Barus (1989) Perangkap (trap) adalah semua alat
penangkap yang berupa jebakan. Alat ini bersifat pasif, dibuat dari anyaman
bambu (bamboos netting), anyaman rotan (rottan netting), anyaman kawat (wire
netting), kere bambu (bamboo’s screen), misalnya bubu (fish pot), sero (guilding
barriers), dan lain-lain. Alat tangkap tersebut baik secara temporer, semi
permanen, maupun permanen di pasang (di taman) di dasar laut, diapungkan atau
dihanyutkan. Ikan-ikan atau sumberdaya perikanan laut lainnya tertangkap atau
terperangkap karena terangsang adanya umpan atau tidak.
Secara umum menurut Mallawa (2012), bubu terdiri atas badan atau tubuh
bubu, lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan dan mulut bubu sebagai
berikut :
1. Badan bubu
Badan bubu dapat terbuat dari anyaman bambu, rotan atau kawat dengan
bentuk bubu bermacam-macam, silinder, setengah lingkaran, atau persegi empat
panjang. Umumnya bubu dioperasikan di dasar dan untuk menenggelamkan bubu
ke dasar perairan digunakan pemberat. Untuk menarik ikan atau biota perairan
digunakan pemberat. Untuk menarik ikan atau biota perairan lainnya masuk ke
dalam bubu, digunakan umpan sebagai penarik.
2. Mulut bubu
Pada bagian muka dan belakang bubu terdapat mulut sebagai tempat
masuknya ikan. Mulut terdiri atas seratan bambu halus sehingga apabila tersentuh
oleh ikan akan mudah terbuka. Posisi mulut menjorok ke dalam badan bubu
dimana semakin ke dalam mulut bubu semakin mengecil. Pada ujung dalam mulut
dirancang sedemikian rupa sehingga yang telah masuk ke dalam bubu sulit untuk
keluar.
3. Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan
Pada bagian bawah dan kadang bagian atas terdapat lubang sebagai tempat
untuk mengeluarkan hasil tangkapan. Lubang dilengkapi dengan penutup yang
mudah dibuka.
Berdasarkan tempat pengoperasiannya, bubu dapat dibagi menjadi tiga
golongan (Subani dan barus, 1989), yaitu :
a) Bubu dasar untuk menangkap ikan dasar. Ikan karang, udang dan crustacea
lainnya (grounds fish pots);
b) Bubu apung untuk menangkap ikan pelagis (floating fish pots);
c) Bubu hanyut untuk menangkap ikan terbang (drift fish pots).
B. Deskripsi Alat tangkap
Bentuk bubu sangat beraneka ragam. Bentuk bubu biasanya disesuaikan
dengan ikan menjadi target tangkapan, tetapi meskipun yang dijadikan target
tangkapan sama, terkadang bentuk bubu yang dipakai bisa juga berbeda
tergantung pada kebiasaan atau pengetahuan nelayan yang mengoperasikannya.
Berbeda dengan alat tangkap lain, bentuk bubu tidak ada keseragaman di antara
nelayan di satu daerah dengan di daerah lainnya atau di satu negara dengan negara
lainnya (Martasuganda, 2003).
Jenis bubu yang umum digunakan di perairan Indonesia adalah jenis bubu
dasar. Alat ini dapat dibuat dari anyaman bambu (bamboo netting), anyaman rotan
(rattan netting), dan anyaman kawat (wire netting). Sebagai contoh yang dapat
ditemukan adalah jenis bubu yang banyak dioperasikan di Perairan Kepulauan
Spermonde Sulawesi Selatan untuk menangkap berbagai jenis ikan karang,
khususnya ikan kerapu.
Badan atau tubuh bubu umumnya terbuat dari anyaman bambu yang
berbentuk empat persegi panjang dengan panjang 125 cm, lebar 80 cm dan tinggi
40 cm. Bagian ini dilengkapi dengan pemberat dari batu bata (bisa juga pemberat
lain) yang berfungsi untuk menenggelamkan bubu ke dasar perairan yang terletak
pada ke empat sudut bubu. Lubang tempat mengeluarkan hasil tangkapan terletak
pada sisi bagian bawah bubu. Lubang ini berdiameter 35 cm, posisinya tepat
dibelakang mulut bubu. Lubang ini dilengkapi dengan penutup. Pada bagian
mulut bagian dalam melengkung ke bawah sepanjang 15 cm. lengkungan ini
berfungsi agar ikan yang masuk sulit untuk meloloskan diri keluar (Sudirman dan
Mallawa, 2012).
C. Teknik Operasi Penangkapan
Menurut cara pengoperasiannya bubu dasar dapat dioperasikan dengan dua
acara yaitu dipasang secara terpisah di mana satu bubu dipasang dengan satu
pelampung (single trap) dan beberapa bubu dirangkai menjadi satu dengan
menggunakan satu tali utama (long line traps) (Subani dan Barus, 1989). Sebelum
penurunan bubu, terlebih dahulu dilakukan penentuan daerah penangkapan.
Setelah sampai di daerah penangkapan, langkah pertama yang dilakukan adalah
pemasangan umpan ke dalam bubu, kemudian penurunan pelampung tanda dan
dilanjutkan dengan penurunan bubu beserta pemberatnya (Mallawa, 2012).
Bagi bubu yang tidak menggunakan umpan, setelah tiba di daerah
penangkapan maka langsung dilakukan penurunan pelampung tanda dilanjutkan
dengan penurunan bubu beserta pemberatnya. Setelah sekian lama, bubu diangkat
dan ikan hasil tangkapan dikeluarkan. Pada beberapa waktu kemudian (1-3 hari)
pengangkatan bubu dilakukan (Sudirman dan Mallawa, 2012).
D. Daerah Pengoperasian
Penentuan daerah penangkapan untuk pengoperasian bubu tidak begitu
rumit dan kurang dipengaruhi oleh faktor oseanografi (Martasuganda, 2003). Hal
terpenting dalam menentukan daerah yang diperkirakan banyak terdapat ikan
demersal, yang biasanya ditandai dengan banyaknya terumbu karang atau
pengalaman dari nelayan (Sudirman dan Mallawa, 2012).
E. Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan bubu dasar terdiri dari ikan dasar, ikan karang, udang,
kepiting dan sebagianya. Hasil tangkapan dengan bubu dasar berupa ikan karang
terutama dari family pomacentridae, Chaetodontidae, siganidae, serranidae
scaridae, Acanthuridae, lutjanidae, labridae, dan jenis lainnya (Risamasu, 2008).
Bubu dasar yang dioperasikan di perairan karang, umumnya menangkap
ikan karang seperti ikan baronang, ikan kerapu, ikan kakap dan sebagianya
(Mallawa, 2012).
Menurut Tiyoso (1979) bahwa fluktuasi hasil tangkapan bubu dapat terjadi
karena beberapa alasan seperti :
1. Migrasi dan perubahan harian, musiman maupun tahunan dari kelompok
ikan;
2. Keragaman ukuran ikan dalam populasi;
3. Tepat tidaknya penentuan tempat pemasangan bubu, karena alat tangkap ini
bersifat pasif dan menetap.

F. Perkembangan Alat Tangkap Bubu


Bentuk bubu sangat beraneka ragam, ada yang berbentuk segi empat,
trapesium, silinder, lonjong, bulat setengah lingkaran, persegi panjang dan bentuk
lainnya (Martasuganda, 2003). Dahulu untuk memikat ikan memasuki alat
tangkap bubu, biasanya para nelayan memasang umpan. Cara memberikan
rangsangan bau-bauan melalui pemasangan umpan kedalam bubu membuat ikan-
ikan akan terangsang untuk mendekati dan memasuki alat tangkap bubu. Selain
itu nelayan juga menggunakan teknik kamuflase pada terumbu karang sehingga
seolah-olah terlihat seperti habitat asli ikan karang.
Seiring dengan perkembangan zaman, perangkap (trap) beberapa tipe dari
alat tangkap mengalami modifikasi sesuai dengan perkembangan teknologi dan
pemahaman terkait tingkah laku ikan (Mallawa,2012). Begitu pula dengan
penerapan teknologi alat bantu pada bubu. Berdasarkan penelitian Risamasu
(2008), Salah satu alternatif yang digunakan untuk merangsang ikan agar tertarik
terhadap alat tangkap adalah dengan menggunakan rumpon. Penggunaan bubu
bersama rumpon akan mempengaruhi pola tingkah laku ikan memasuki zone of
influence/ field of influence dari alat bubu. Ikan-ikan tersebut akan tertarik atau
terespon untuk mendekati rumpon, sehingga terjadi aggregasi populasi ikan.
Sehingga memudahkan ikan-ikan untuk mendekati dan memasuki alat tangkap
bubu dan akhirnya tertangkap.
Selain itu dapat pula memanfaatkan pola tingkah laku ikan yang lain
dengan cara merangsang indera penglihatan ikan sehingga ikan tertarik terhadap
alat tangkap (Risamasu, 2008). Sebagaimana ikan tertarik pada cahaya melalui
penglihatan (mata) dan rangsangan melalui otak (pineal region pada otak).
Peristiwa tertariknya ikan pada cahaya disebut fototaksis. Dengan demikian ikan
yang tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fototaxis, yang umumnya adalah
ikan-ikan pelagis dan sebagian kecil ikan demersal (Sudirman dan Mallawa,
2012).
G. Habitat Ikan Karang
Terumbu karang adalah ekosistem di laut yang terbentuk oleh biota luat
penghasil kapur khususnya jenis-jenis karang batu dan alaga berkapur, bersama
dengan biota lain yang hidup di dasar lautan. Terumbu karang merupakan
ekosistem dinamis dengan kekayaan biodiversitanya serta produktivitas tinggi,
karena itu terumbu karang mempunyai peran yang signifikan. Secara ekologis,
terumbu karang merupakan tempat organisme hewan maupun tumbuhan mencari
makan dan berlindung. Secara fisik menjadi pelindung pantai dan kehidupan
ekosistem perairan dangkal dari abrasi laut (Suryanti dkk., 2011).
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai
lebih dari 95.000 km dan memiliki lebih fari 17.000 pulau. Estimasi luas terumbu
karang Indonesia sekitar 51.000 km2. Luas terumbu karang tersebut belum
mencakup terumbu karang di wilayah terpencil yang belum dipetakan atau berada
di perairan agak dalam. Sebanyak 51% terumbu karang di Asia Tenggara dan 18%
terumbu karang di dunia berada di perairan Indonesia (Burke, 2002).
Ketertarikan ikan terhadap terumbu karang karena bentuk pertumbuhan
terumbu menyediakan tempat yang baik dan sebagai sumber makanan dengan
keragaman jenis hewan atau tumbuhan (Wijoyo, 2002). Terumbu karang menjadi
tempat tinggal ikan-ikan karang yang harganya mahal, sehingga nelayan
menangkap ikan di kawasan terumbu karang. Jumlah panenan ikan, kerang dan
kepiting dari terumbu karang secara lestari di seluruh dunia mencapai 9 juta ton
atau sedikitnya 12% dari jumlah tangkapan perikanan dunia (Amin, 2009).
Tingginya harga ikan karang memicu masyarakat untuk melakukan
penangkapan terhadap ikan-ikan karang. Aktivitas penangkapan ikan pada daerah
terumbu karang sangat besar pengaruhnya terhadap kerusakan terumbu karang.
Saat ini masyarakat banyak menggunakan cara-cara penangkapan yang sangat
merusak ekosistem terumbu karang seperti pengeboman dan penggunaan racun
sianida (Sunarto, 2006).
kegiatan penangkapan yang menggunakan bubu dasar di daerah terumbu
karang menjadi salah satu penyebab kerusakan terumbu karang. Hal ini
mengakibatkan kondisi karang yang masih baik hanya 30 % dan sisanya 70 %
dalam kondisi rusak dan rusak berat (Supriharyono, 2000).
Metode eksploitasi cenderung dengan cara penangkapan yang sering
menimbulkan kerusakan karang. Diantaranya cara pengoperasian yang dilakukan
dengan menggunakan bongkahan karang untuk menimbun bubu sebagai upaya
kamuflase dan penyamaran. Padahal pemasangan bubu yang demikian dapat
menyebabkan terumbu karang terbongkar, patah dan mengalami kematian
(Sukmara dkk., 2001).
H. Cahaya Sebagai Atraktor
Ikan tertarik pada cahaya melalui penglihatan (mata) disertai rangsangan
melalui otak (principal region). Peristiwa tertariknya ikan oleh cahaya disebut
phototaxis sedang peristiwa ketidaktertarikan ikan atau menjauhi cahaya disebut
photopobi (Mallawa, 2012).
Sudirman dan Mallawa (2004) menjelaskan bahwa ada beberapa alasan
sehingga ikan tertarik akan cahaya, yaitu bahwa ikan melakukan penyesuaian
intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk menerima cahaya sehingga
kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya akan berbeda menurut
jenis ikan, ukuran ikan dan siklus biologinya. Ada ikan yang tertarik pada
intensitas cahaya yang rendah dan ada ikan yang tertarik pada intensitas cahaya
yang tinggi, namun ada ikan tertarik range intensitas cahaya yang luas. Ikan akan
memberikan reaksi pada rangsangan intensitas cahaya berkisar 0,001 – 0,01 lux,
dan sensitifitas mata ikan laut pada umumnya lebih tinggi.
Prinsip cahaya sebagai alat bantu penangkapan ikan adalah menyalurkan
atau memanfaatkan ketertarikan ikan akan cahaya atau keinginan ikan akan
intensitas cahaya tertentu (Fish behavioural manipulation). Ayodhyoa, 1981
diacu oleh Mallawa (2012) menjelaskan bahwa peristiwa berkumpulnya ikan
dibawah cahaya dapat dikelompokkan atas dua kategori yaitu:
1. Peristiwa langsung, yaitu ikan berkumpul/berada di bawah lampu karena
tertarik oleh cahaya (phototaxis). Jenis ikan yang masuk cara ini adalah
hampir semua ikan-ikan pelagis kecil, misalnya: ikan tembang, ikan layang,
ikan teri, ikan japuh dan sebagainya.
2. Peristiwa tidak langsung, yaitu ikan berkumpul/berada sekitar bawah lampu
karena mencari makanan (feeding), misalnya: Ikan tongkol, tenggiri, cendro,
dan lainnya. Keberadaan jenis ikan ini dimulai dengan keberadaan ikan-ikan
mangsa (ikan-ikan ukuran kecil seperti teri, tembang) sehingga waktu
munculnya ikan-ikan kelompok kedua selalu menyusul setelah keberadaan
ikan-ikan kelompok pertama.
Sifat fototaksis positif beberapa jenis ikan telah banyak diteliti oleh para
ahli. Umumnya ikan yang diteliti adalah jenis-jenis ikan pelagis yang tertarik oleh
cahaya; sedangkan untuk jenis-jenis ikan karang atau demersal sangat sedikit
dilakukan (Yudha, 2005). Berdasarkan hasil penelitian Jaya et.al. (2001), ikan
kepe-kepe (Chaetodon sp) yang hidup di perairan karang bersifat fototaksif positif
dan tertarik oleh cahaya pada intensitas 350 lux, dan dapat dikonsentrasikan pada
intensitas cahaya yang lemah (38 lux). Namun dari hasil penelitian tersebut tidak
dijelaskan warna cahaya yang disukai oleh ikan kepe-kepe tersebut.
Selanjutnya berdasarkan penelitian Yudha (2005), ikan baronang (Siganus
canaliculatus), jelek mata (Scolopsis ciliatus), dan kuniran (Nemipterus isacantus)
yang hidup di perairan karang juga bersifat fototaksis positif. Ikan-ikan dari famili
Serranidae memiliki kecenderungan tertarik pada cahaya merah; ikan-ikan dari
famili Nemipteridae tertarik oleh cahaya putih dan kuning;sedangkan ikan
baronang (famili Siganidae) cenderung tertarik pada cahaya kuning.
Kualitas cahaya berhubungan dengan panjang gelombang cahaya dan
kuantitas cahaya berhubungan intensitas cahaya. Semakin tinggi panjang
gelombang suatu cahaya maka semakin kecil daya penetrasi cahaya tersebut ke
dalam perairan, sebaliknya semakin tinggi intensitas cahaya semakin tinggi
kemampuan mengumpulkan ikan. Panjang gelombang berbagai warna cahaya,
perbandingan pencahayaan berbagai sumber cahaya dan intensitas cahaya pada
berbagai alat tangkap disajikan secara berturut-turut masing-masing pada Tabel 1
(Mallawa, 2012).

Tabel 1. Panjang gelombang pada berbagai warna cahaya lampu


Panjang Gelombang
No Warna Cahaya
(Angstrom)
1 Biru (blue) 3.900 – 4.550
2 Hijau (green) 4.550 – 4.920
3 Lembayung (violet) 4.920 – 5.770
4 Kuning (yellow) 5.770 – 5.970
5 Jingga tua (orange) 5.970 – 6.220
6 Merah (red) 6.220 - 7.700

I. Penggunaan Lampu Light Emitting Diode (LED) Pada Alat Tangkap


Penggunaan cahaya adalah cara umum yang sering digunakan dalam
industri perikanan. Ikan berkumpul di sekitar cahaya sehingga membentuk
gerombolan besar dengan menggunakan sumber cahaya buatan di malam hari
dengan mengambil keuntungan dari sifat fototaksis ikan. Oleh karena itu, yang
terpenting dari light fishing adalah alat bantu cahaya yang digunakan, termasuk
lampu filamen, lampu halogen, cahaya merkuri tekanan rendah, cahaya merkuri
tekanan tinggi, light metal halide dan semua sumber daya lampu listrik lainnya
yang memiliki sumber cahaya termal (Hua dan Xing, 2013).
Di bidang penerangan (lighting), lampu penerangan berkembang sejak
ditemukan lampu pijar oleh Thomas Alfa Edison, kemudian lampu jenis TL, SL
dan kini lampu LED dan OLED. Secara ekonomis harga lampu LED saat ini
masih mahal, tetapi mempunyai prospek sangat baik, mengingat lampu jenis LED
mempunyai kelebihan dibanding lampu jenis lain. LED adalah semikonduktor
yang dapat mengubah energi listrik lebih banyak menjadi cahaya, merupakan
perangkat keras dan padat (solid-state component) sehingga lebih unggul dalam
ketahanan (durability). Selama ini LED banyak digunakan pada perangkat
elektronik karena ukuran yang kecil, cara pemasangan praktis, serta konsumsi
listrik yang rendah. Salah satu kelebihan LED adalah usia relatif panjang, yaitu
lebih dari 30.000 jam. Kelemahannya pada harga per lumen (satuan cahaya) lebih
mahal dibandingkan dengan lampu jenis pijar, TL dan SL, mudah rusak jika
dioperasikan pada suhu lingkungan yang terlalu tinggi, misal di industri (Suhardi,
2014).
LED merupakan perangkat sumber cahaya elektrominesens dan
semikonduktor yang dapat mengubah energi listrik menjadi cahaya dan energi
radiasi. Prinsip LED (Light Emitting Diode) menggunakan chip semikonduktor
yang kuat sebagai bahan luminesens. Ketika kedua ujungnya dialiri tegangan
maju. Kelebihan Elektron pada N-Type material akan berpindah ke wilayah yang
kelebihan Hole (lubang) yaitu wilayah yang bermuatan positif (P-Type material).
Saat Elektron berjumpa dengan Hole akan melepaskan photon dan memancarkan
cahaya monokromatik (Satu Warna) (Hua dan Xing, 2013).
Menurut tata letak lampu sebagai alat bantu penangkapan dalam operasi
penangkapan ikan, dapat dibedakan antara lampu yang diletakkan di atas
permukaan air (surface lamp) dan lampu yang diletakkan di dalam air
(underwater lamp). Letak lampu yang berbeda memberikan perbedaan dalam
beberapa hal seperti yang disajikan pada tabel berikut ini.
Tabel 2. Perbedaan antara lampu di atas permukaan dan lampu di bawah
air
No Lampu permukaan Lampu bawah air
1 Memerlukan waktu relatif lama Memerlukan waktu yang relatif
untuk mengajak ikan berkumpul singkat untuk mengumpulkan ikan,
karena sumber cahaya telah berada
dekat dengan ikan
2 Penggunaan cahaya kurang Penyerapan cahaya oleh udara dan air
efisien sebagai akibat dari dalam perjalanan ke kedalaman
sebagian cahaya terserap oleh tertentu, dan pemantulan oleh partikel
udara, terpantul oleh permukaan dalam air sudah tidak terjadi atau
gelombang yang variatif, relative kecil sehingga cahaya lebih
terserap oelh air dan dipantulkan efisisen karena jumlah cahaya yang
oleh partikel yang berada dalam hilang relative sedikit
air
3 Memerlukan waktu lama untuk Ikan-ikan dengan cepat tertarik oleh
membuat ikan dapat naik cahaya, berenang ke sumber cahaya
kepermukaan dan dalam waktu dan kemungkinananya dalam keadaan
berenang besar kemungkinan tenang sampai dilakukan hauling
ikan-ikan akan berpencar
4 Ikan-ikan sulit berada dalam Perubahan intensitas cahaya karena
gerakan tenang oleh pergerakan pengaruh gelombang dan gerakan
lampu sebagai pengaruh gerakan kapal relative kecil sehingga ikan yang
kapal, dan gelombang, intensitas telah berkumpul dekat sumber cahaya
cahaya berubah-ubah jarang yang berpencar kembali.
III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama penelitian
laboratorium dengan merancang, membuat, dan uji coba Lampu LED Bawah Air
pada bulan Oktober di Laboratorium Teknologi Penangkapan Ikan, Program Studi
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Departemen Perikanan, Fakultas Ilmu
Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.
Tahap kedua, penelitian lapangan uji coba alat pada saat operasi
penangkapan dilakukan pada bulan November. Tahap ini dilakukan uji coba
lampu LED Bawah Air yang sudah dirancang dengan menggunakan alat tangkap
bubu dasar di Pulau Bontosua, Pangkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi
Selatan.

Gambar 1. Peta lokasi penelitian


B. Alat dan Bahan
Alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel
dibawah ini.
Tabel 3. Alat Penelitian dan Kegunaannya
Nama alat Kegunaan
LED Super Bright 5 mm Atraktor (pemikat) cahaya
Tabung PVC transparan Wadah pembungkus light atractor
Resin Epoxy Penahan komponen dari tekanan air
Silicon rubber Penguat tutup tabung
Tali PE Mengikat bubu
Alat ukur panjang Mengukur tabung lampu LED Bawah air
Gergaji Besi Memotong bahan lampu LED Bawah air
Solder Memanaskan timah solder saat proses
penyambungan
Bor listrik Membuat lubang pada tabung
Transistor Penambah daya lampu
Kondensor Menstabilkan daya listrik
Resistor 220 ohm Sebagai penghambat arus agar alat tidak
panas
GPS (Global positioning Menentukan titik kordinat lokasi
System) penangkapan
Rol Meter Plastik 100 meter Mengukur jarak pemasangan bubu
Bubu bambu 2 x 1,5 m Alat tangkap ikan karang

C. Metode Pengumpulan Data


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancang bangun alat,
experimental fishing,dan pengumpulan data dilakukan menggunakan metode
deskriptif komparatif dengan mengumpul jenis data yaitu data primer dan data
sekunder.
Data primer dilakukan dengan cara pengukuran langsung dengan
parameter terkait seperti jenis, jumlah dan komposisi hasil tangkapan ikan di
Pulau Bontosua. Sedangkan, data sekunder dikumpulkan dengan cara studi
literatur sesuai dengan penelitiaan ini.
Pada experimental fishing, penelitian ini menggunakan 2 perlakuan yakni
bubu dasar yang dioperasikan dengan memakai umpan dan lampu LED Bawah
Air dan bubu yang hanya memakai umpan sebagai kontrol dioperasikan di dasar
perairan karang dengan masing-masing perlakuan pada waktu yang sama dan
pada jarak yang berbeda. Jarak antar perlakuan sepanjang 10 m. Jumlah bubu
yang digunakan dalam pengamatan ini ada 6 unit terbuat dari bambu berdiameter
8 mm dan dindingnya dari anyaman bambu dengan ukuran bubu 150 cm x 50 x 30
cm. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Setelah itu
dilanjutkan dengan pencatatan jenis, jumlah dan pengukuran bobot ikan yang
tertangkap selama 6 hari. Mulai dari tanggal 8-13 November 2017.
D. Prosedur Penelitian
1. Penelitian di Laboratorium
a) Konstruksi Elektronik Lampu LED Bawah Air
Sistem rangkaian lampu merupakan bagian utama dan komponen
terpenting dari konstruksi lampu LED bawah air, banyak hal yang harus
dipertimbangkan dan diperhatikan, supaya lampu bisa digunakan dan bertahan
di dalam air dengan baik. Hal ini untuk membuat pengoperasian lampu di dalam
laut tahan terhadap kerusakan, korosi maupun tebakar. Selanjutnya pada bagian
rangkaian lampu, material yang digunakan dibuat tahan karat, setiap
sambungan dengan solder dilapisi lem tembak ataupun silicon, sedangkan pada
bagian lampu LED super bright white 5 mm dan resistor dengan
menggunakan rangkaian seri. Di Sulawesi Selatan Umumnya belum ada yang
menggunakan lampu jenis ini sebagai alat bantu pada alat tangkap bubu dasar
(Taufiq dkk, 2015).
Tahap pertama, lampu LED yang digunakan yaitu tipe LED super bright
white 5 mm, 3.0 V - 3.2 V dan 20mA. Lampu LED jenis ini dipilih karena
harganya lebih murah, mudah dikondisikan, efesiensi yang tinggi, tidak mudah
pecah, daya tahan lebih kurang 50.000 jam, bebas merkuri ataupun halogen.
Tahap kedua sejumlah komponen elektronika yang terdiri dari transistor,
resistor, condensator, LED (Light Emitting Diode), yang dirangkai menjadi suatu
wahana pemikat cahaya dan dioperasikan dengan baterai 6 volt. Cahaya yang
dihasilkan oleh light attractor tersebut memiliki intensitas rata-rata sekitar 22 lux
(Yudha, 2005).
b) Mendesain Bentuk Konstruksi Lampu LED Bawah Air
Tahap pertama, bentuk konstruksi lampu LED bawah air dirancang
berbentuk tabung. Bentuk tabung memiliki ruang yang lebih luas dibandingkan
bentuk yang lain. Bentuk tabung adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk
oleh dua buah lingkaran identic yang sejajar dan sebuah persegi. Bentuk tabung
sangat sesuai untuk digunakan pada konstruksi perancangan lampu LED celup,
karena dapat menerangi sekeliling secara merata.Tabung yang akan di desain
memiliki tinggi 15 cm dan lebar 10 cm. Pada bagian sisi tutup tabung dilapisi
silicon rubber.
Gambar 2. Skema desain wadah pemikat cahaya
c) Pembuatan Lampu LED Bawah Air
Tahapan dan proses pembuatan lampu LED Bawah Air adalah dengan di
dokumentasikan secara terstruktur mulai dari awal hingga selesai. Analisis yang
digunakan dalam proses pembuatan lampu adalah analisis deskriptif yaitu
menjabarkan proses dari pembuatan dan pemilihan bahan yang digunakan, selain
itu didukung juga oleh referensi yang ada serta spesifikasi dari bahan material
yang digunakan (Sugioyono, 2007).
d) Sistem Rangkaian Lampu
Rangkaian listrik yang digunakan pada perancangan lampu yaitu rangkaian
seri. Lampu LED yang dipasang pada pipa dengan 1 resistor. Semua rangkaian
lampu disolder supaya lebih aman dan arus yang mengalir tetap stabil.
Selanjutnya diberikan anti korosi pada seluruh rangkaian lampu, sehingga
rangkaian lampu tahan terhadap korosi. Lampu yang sudah selesai dirangkai
dilakukan uji coba hidup atau tidak. Kalau lampu tidak menyala, maka perlu dicek
kembali rangkaian LED. Apabila lampu menyala, maka dianggap selesai dan
berhasil pada tahap pembuatan rangkaian lampu (Taufiq, 2015).

Gambar 3. Rangkaian seri LED


e) Pembuatan tabung pelindung lampu
Pembuatan tabung pelindung lampu dengan mengunakan bahan PVC
Transparan. Tabung yang digunakan dengan ukuran (panjang 15 cm, Ø 5 inchi,
dan ketebalan 5 mm). Setelah ditentukan bagian bawah dilakukan penutupan
secara pemanen pada bagian bawah dengan menggunakan akrilik. Selanjutnya
dirancang penutup bagian atas dibuat bisa buka-tutup. Setelah bagian bawah dan
atas tabung ditutup dilakukan uji kedap air. Apabila tabung kemasukan air maka
tabung diperbaiki kembali sehingga tidak masuk air.
f) Uji Kedap Air
Tabung pelindung diuji cobakan atau dimasukkan kedalam air 1-2 meter
dalam water tank untuk diuji ada kebocoran atau tidak. Lama perendaman sekitar
1-2 jam, kemudian tabung diangkat ke atas dan dipastikan tidak ada air yang
masuk kedalam tabung. Apabila tidak ada air yang masuk maka uji kedap air
selesai. Tabung diuji cobakan dalam keadaan kosong atau tanpa rangkaian lampu.
Lampu yang sudah selesai dirangkai pada paralon, lalu dimasukkan ke dalam
tabung pelindungnya, yang sudah teruji kedap air (Taufiq, 2015).
2. Penelitian di Lapangan
Bubu dasar yang digunakan adalah bubu tradisional terbuat dari bambu.
Jumlah bubu yang digunakan sebanyak 2 buah dengan perincian sebagai berikut:
bubu dasar dengan menggunakan umpan dan lampu LED Bawah Air yang telah di
rancang dan bubu dasar yang hanya menggunakan umpan sebagai kontrol
penelitian.
Seluruh bubu tersebut dioperasikan dengan menempatkannya di bawah
perairan di sekitar karang pada kedalaman antara 8-10 m. Setting bubu dilakukan
dengan bantuan nelayan bubu yang biasa beroperasi di sekitar perairan Pulau
Bontosua. Saat setting alat tangkap, di dasar perairan bubu diikat dengan tali PE
berdiameter 4 mm dan diberi pemberat agar tidak hanyut terbawa arus.
Penempatan bubu di dasar perairan dilakukan dengan memberi jarak
antara bubu yang satu dengan lainnya sehingga tidak mempengaruhi antara satu
perlakuan dengan perlakuan lainnya. Jarak antara bubu diupayakan kurang lebih
10 m. Setelah dioperasikan, bubu diangkat dan dicatat jenis, jumlah, dan diukur
bobot ikan yang tertangkap.
E. Analisis Data
Untuk mengetahui pengaruh penggunaan LED bawah air terhadap hasil
tangkapan, analisis yang dilakukan adalah analisis statistik terhadap data hasil
tangkapan yang meliputi jumlah dan bobot ikan yang tertangkap dengan
menggunakan analisis Uji Anova untuk mengetahui perlakuan yang diberikan
terhadap alat tangkap ikan yang digunakan (Allen, 2002).
𝑌𝑖𝑗 = 𝜇 + 𝜏𝑖 + 𝜀𝑖𝑗
Keterangan:
μ = rata-rata umum (mean populasi)
𝜇𝑖 = mean perlakuan ke-i
τi = (μi- μ) = Pengaruh aditif dari perlakuan ke-i
𝜀𝑖𝑗 = galat percobaan/pengaruh dari perlakuan ke-i ulangan ke-j dengan εij ~N(0,
σ2 )
T = jumlah perlakuan
dengan hipotesis sebagai berikut :
H0 : τj = 0,
H1 : Ada τj ≠ 0; J = 1,2,3
Atau
H0 : Tidak ada pengaruh perlakuan terhadap hasil tangkapan ikan
H1 : minimal ada satu pengaruh perlakuan terhadap hasil tangkapan ikan

a. Faktor Koreksi
𝑌. .2
𝐹𝐾 =
𝑟𝑡

b. Jumlah Kuadrat total


𝑡 𝑟

𝐽𝐾𝑇 = ∑ ∑ 𝑌𝑖𝑗2 − 𝐹𝐾
𝑖=1 𝑗=1
c. Jumlah kuadrat perlakuan
𝐽𝐾𝐺 = 𝐽𝐾𝑇 − 𝐽𝐾𝑃
Tabel 4. Uji Anova
sumber derajat jumlah kuadrat Fhitung
keragaman bebas (db) kuadrat tengah
(SK) (JK) (KT)

Perlakuan t-1 JKP JKP/t-1 KTP/KTG


Galat t(r-1) JKG JKG/t(r-1)
Total tr-t JKT
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan total dari bubu selama pengamatan berjumlah 62 individu,


dimana untuk setiap kali pengambilan data (ulangan) ternyata lebih dari 50 %
adalah hasil tangkapan bubu dengan umpan dan bantuan cahaya dibandingkan
dengan bubu tanpa cahaya berkedip yang berkisar 30-40% (gambar 4).

PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN


9
JUMLAH HASIL TANGKAPAN

8
7
6
5
4 Lampu dan Umpan
3
Umpan
2
1
0
1 2 3 4 5 6
TRIP

Gambar 4. Grafik perbandingan hasil tangkapan

Pada gambar 5. menunjukkan presentase hasil tangkapan masing-masing


perlakuan di setiap ulangan. Pada gambar 5. terlihat presentase hasil tangkapan
pada perlakuan 1 berada disekitar 19-20%. Untuk perlakuan 2 berada disekitar 10-
15%. Dari 2 perlakuan dapat dilihat bahwa presentase hasil tangkapan dengan
menggunakan P1 lebih tinggi dibandingkan P2 dengan rata-rata 5% disetiap
ulangan. Sehingga dapat disebutkan bahwa penggunaan P1 cukup signifikan
meningkatkan hasil tangkapan dibandingkan menggunakan P2.
40.0

35.0

30.0
HASIL TANGKAPAN (%)
25.0

20.0
Tanpa Lampu
15.0 Lampu LEDCUBA

10.0

5.0

0.0
1 2 3
JUMLAH ULANGAN SELAMA PENGAMATAN

Gambar 5. Grafik presentase perbandingan hasil tangkapan

Tingkah laku ikan yang mendatangi sumber cahaya dapat disebabkan karena
tertarik secara langsung oleh cahaya atau untuk mencari makan. Faktor utama
yang mempengaruhi secara langsung tingkah laku ikan terhadap cahaya adalah
intensitas dari cahaya itu sendiri (Yami 1987 dalam Sulaiman et al. 2015).
Kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda.
Ada ikan yang tertarik oleh cahaya dengan intensitas rendah, ada pula yang
tertarik oleh cahaya dengan intensitas tinggi. Namun ada pula ikan yang tertarik
oleh cahaya mulai dari intensitas yang rendah sampai yang tinggi (Sudirman dan
Mallawa 2004).
Namun secara umum menurut Baskoro dan Effendy (2005) pola tingkah
laku ikan saat mendekati bubu terdiri atas beberapa tahapan yakni rangsangan
dimana ikan akan menggunakan organ penciuman terlebih dahulu untuk
mendeteksi umpan, tahap mencari umpan dimana ikan lebih banyak menggunakan
organ penglihatan, kemudian tahap mendekati umpan, masuk dan makan umpan
di dalam bubu.
2. Pengaruh penggunaan lampu LED Bawah Air terhadap jumlah hasil
tangkapan nelayan bubu dasar

Tabel 7. One-way ANOVA: Lampu Umpan; Umpan


Source DF SS MS F P
Factor 1 3,60 3,60 1,55 0,221
Error 38 88,30 2,32
Total 39 91,90

S = 1,524 R-Sq = 3,92% R-Sq (adj) = 1,39%

Hasil analisis uji Anova memberikan p value = 0,221 ternyata lebih besar dari 5%
(nilai tingkat kesalahan), hal ini dapat kita simpulkan bahwa penggunaan
perlakuan 1 yaitu lampu LED bawah air dengan umpan dan hanya umpan (sebagai
kontrol) secara serentak berpengaruh terhadap hasil tangkapan bubu dasar.

Tabel 8. Uji lanjutan menggunakan rata-rata pengaruh tiap perlakuan


Level N Mean StDev
Lampu Umpan 20 1,850 1,814
Umpan 20 1,250 1,164

Selanjutnya, jika dilihat secara parsial atau satu per satu perlakuan yang
digunakan, perlakuan 1 lebih efektif dibandingkan dengan perlakuan 2. Dengan
nilai rata-rata perlakuan 1,85 ternyata lebih besar dari nilai rata-rata perlakuan 2
sebanyak 1,25. Dengan demikian menolak hipotesis H0 (hasil tidak berbeda
nayata) dan menerima hipotesis H1 (hasil berbeda nyata dibandingkan dengan
bubu yang hanya menggunakan umpan). Analisis One-way ANOVA dilakukan
menggunakan aplikasi statistika berupa mintab. Hasil secara lengkap dapat dilihat
pada lampiran.
Respons ikan pada cahaya tergantung pada intensitas cahaya, untuk
pengamatan proses penangkapan ikan dengan cahaya lampu LED dalam air
ternyata ikan target lebih banyak merespons pada intensitas sedang (No-tanubun
dan Patty 2010; Alwi et al. 2014). Hasil tangkapan yang banyak diduga juga
disebab-kan oleh penggunaan lampu LED (Light Emitting Diode) berwarna putih
dalam operasi penangkapan ikan. Hasil penelitian dari Gustaman et al. (2012)
bahwa hasil tangkapan dengan lampu LED warna putih lebih efektif dibandingkan
dengan warna kuning dan biru.
Hasil penelitian ini sesuai juga dengan hasil penelitian dari Yudha (2005),
yang menemukan jumlah hasil tangkapan ikan dengan bubu yang dipasang
pemikat cahaya ternyata lebih banyak dari pada bubu tanpa pemikat cahaya
terutama dengan warna lampu putih, merah dan kuning. Demikian juga dengan
hasil penelitian dari Ammari (2013) yang menggunakan intensitas lampu LED
yang lebih besar akan memberikan hasil tangkapan yang relatif lebih banyak
dibandingkan dengan bubu tanpa pemikat cahaya.
Hasil tangkapan lebih banyak pada bubu yang menggunakan cahaya dan
lampu disebabkan karena memanfaatkan dua indera sekaligus pada ikan, yaitu
indera penciuman dan penglihatan. Sebagaimana pola tingkah laku ikan saat
mendekati bubu dimulai dari ikan mencium bau dari umpan lalu kemudian ketika
mencari umpan yang akan dimakan, beberapa ikan karang yang bersifat
phototaksis akan terperangkap oleh sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu LED
sehingga ikan akan menuju sumber cahaya melalui mulut bubu dengan kombinasi
indera penciuman dan penglihatan. Kemudian bebebrapa Iikan lainnya yang tidak
bersifat fototaksis akan tetap memasuki mulut bubu menggunakan indera
penciuman. Oleh karena itu hasil tangkapan bubu yang menggunakan lampu dan
umpan lebih efektif karena menambah nilai ketertarikan ikan untuk memasuki
bubu tanpa mempengaruhi tingkah laku ikan pada umumnya yaitu mengandalkan
indera penciuman pada saat mendekati umpan pada bubu.
V. PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian adalah :
1. Rancangan konstruksi lampu LED Bawah Air sebagai inovasi alat bantu
penangkapan ikan pada perikanan bubu bisa digunakan pada kedalaman –
kurang lebih 10 meter dengan daya baterai sekitar 2x24 jam.
2. Jumlah hasil tangkapan bubu yang menggunakan cahaya dan umpan
berwarna putih sangat berbeda nyata yakni lebih banyak dibandingkan
dengan jumlah hasil tangkapan pada bubu yang hanya menggunakan
umpan.
B. Saran

1. Bahan-bahan yang digunakan pada konstruksi lampu LED bawah air


selanjutnya bisa menggunakan bahan-bahan yang lebih ringan, sebab
pada penelitian ini lampu yang digunakan cukup berat sehingga tidak
fleksibel untuk diikat dibagian tertentu pada bubu karena dapat merusak
bubu.
2. Musim hujan yang sudah masuk dan cuaca yang buruk mengakibatkan
kurangnya hasil tangkapan dan sedikitnya trip yang dilakukan.
Disarankan untuk melakukan penelitian ini di pertengahan tahun sekitar
bulan Mei hingga Juli dimana diperikirakan sudah masuk musim panas.
DAFTAR PUSTAKA
Allen, G. 2000. Marine Fishes of South-East Asia. Periplus Edition (HK)
ltd.Singapore
Amin. 2009. Terumbu Karang; Aset Yang Terancam. Akar Masalah Dan
Alternatif Solusi Penyelamatan. Edisi ke-1. UNISMA Bekasi. Bekasi

Burke L., S. Elizabeth, & S.Mark. 2002. Terumbu Karang yang terancam di Asia
Tenggara. World Resource Institute. USA

Baskoro MS., Effendy A.2005. Tingkah laku ikan (Hubungannya dengan metode
pengoperasian alat tangkap ikan. Dept. Pemanfaatan Sumberdaya
Perikanan. Bandung. CV Lubuk Agung.

Hua, LT. dan Xing, J. 2012. Research on LED Fishing Light. Research Journal of
Applied Sciences, Engineering and Technology. 5 (16) : 4138-4141

Mallawa, A. 2012. Dasar-Dasar Penangkapan Ikan. Edisi ke-1. Masagena Press.


Makassar.

Martasuganda, S. 2003. Bubu (Traps). Edisi ke-3. Departemen Pemanfaatan


Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut
Pertanian Bogor. Bogor. Indonesia.

Ramdani D. 2007. Perbandingan Hasil Tangkapan Rajungan pada Bubu Lipat


dengan Menggunakan Umpan yang Berbeda.Skripsi. Fakultas
Perikanan,Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Risamasu FJL. 2008. Inovasi Teknologi Penangkapan Ikan Karang dengan Bubu
Dasar Berumpon. Disertasi. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor. Bogor

Rosyidah, IN., Farid, A. dan Nugrah, WA. 2011. Efektivitas Alat Tangkap Mini
Purse Seine Menggunakan Sumber Cahaya Berbeda Terhadap Hasil
Tangkap Ikan Kembung (Rastralinger sp.). Jurnal Ilmiah Perikanan dan
Kelautan. 3 (1) : 41-45

Rumajar TP. 2001. Pendekatan sistem untuk pengembangan usaha perikanan


ikan karang dengan alat tangkap bubu di perairan Tanjung Manimbaya
Kabupaten Donggala Sulawesi Tenggara. [tesis]. Bogor: Sekolah
Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Hal 28-36.
Subani, W. 1972. Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia, Jilid 1.
Lembaga Penelitian Perikanan Laut, Jakarta.

Subani, W. Dan H.R Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di
Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta : BPPL-
BPPP. Departemen Pertanian.

Sudirman dan Mallawa, A. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Rineka Cipta.


Jakarta.

Suhardi, D. 2014. Prototipe Controller Lampu Penerangan LED (Light Emitting


Diode) Independent Bertenaga Surya. Jurnal Gamma, Issn 2086-3071. 9 :
116-122.

Sukmara, A., A.J. Siahainenia dan C. Rotinsulu. 2001. Panduan Pemantauan


Terumbu Karang Berbasis Masyarakat dengan Metode Manta Tow.
Proyek Pesisir-CRMP Indonesia. Jakarta.

Sulaiman, Baskoro MS, Taurusman AA, Wisudo SH, Yusfiandayani R.


2015.Tingkah laku ikan pada Bagan Petepete yang menggunakan lampu
LED. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 7(1):205-223

Sulaiman, M. 2015. Pengembangan Lampu Light Emitting Diode (LED) Sebagai


Pemikat Ikan Pada Perikanan Bagan Petepete di Sulawesi Selatan. Tesis.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sunarto. 2006. Keanekaragaman Hayati dan Degradasi Ekosistem Terumbu


Karang. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Padjajaran. Bandung.

Suryanti, Supriharyono & Willy Indrawan. 2011. Kondisi Terumbu Karang


dengan Indikator Ikan Chaetodontidae di Pulau Sambangan Kepulauan
Karimun Jawa, Jepara, Jawa Tengah. Buletin Oseanografi Marina. 10 (1)
: 106-119.

Supriharyono. 2000. Pengelolaan ekosistem terumbu karang. Djambatan. Jakarta.

Sofijanto, MA., Rasyidi, I. dan Saputra, M. 2015. Pengembangan Lampu LED


Dengan Teknologi Photovoltaic (LED-PV) sebagai Alat Bantu Pengumpul
Ikan Pada Perikanan Bagan. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 21 (1)
Taufiq., Mawardi, W., Baskoro, MS., dan Zulkarnain. 2015. Rekayasa Lampu
LED Celup Untuk Perikanan Bagan Apung di Perairan Patek Kabupaten
Aceh Jaya Propinsi Aceh. Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. 6 (1)
: 51-67.

Tiyoso SJ. 1979. Alat-alat penangkapan ikan tidak memungkinkan ikan kembali
(non return traps). Karya Ilmiah. Bogor : Fakultas Perikanan, Institut
Pertanian Bogor, Bogor. Hal : 6-9.

Wijoyo, N.S. 2002. Tingkat Perubahan Temporal Tipe Substrat Dasar dan Ikan
Karang, Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Nusa Penida, Bali Tahun
1998-1999. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Yudha, I.G. 2005. Pengaruh Warna Pemikat Cahaya (Light Atractor) Berkedip
terhadap Jenis dan Jumlah Ikan Hasil Tangkapan Bubu Karang (Coral
Trap) Di Perairan Pulau Puhawang, Lampung Selatan. Tesis.Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung, Lampung.
Lampiran 1. Laporan penggunaan anggaran

Laporan Penggunaan Anggaran


Jumlah
Tanggal Jenis Uraian (Rp)
Komponen
19/10/2017 Kabel serabut 1x14 Warna 5 meter @900 4.500
Elektronik
Komponen
19/10/2017 Kabel serabut 1x7 Warna 10 meter @450 4.500
Elektronik
Komponen 1 Rol Timah pancing 0,8 60/40 10 M
19/10/2017 15.500
Elektronik @15.500
Komponen 20 Buah LED 5 MM Bulat putih-putih
19/10/2017 27.500
Elektronik super @850
Komponen
19/10/2017 3 buah PCB TR titik @6000 18.000
Elektronik
Komponen
19/10/2017 20 buah R.1/2W @300 6.000
Elektronik
Honor output
19/10/2017 konsumsi 3 orang @15000 45.000
kegiatan
Bahan Penutup
24/10/2017 1 buah Co 2 20.000
tabung lampu
Bahan Penutup
24/10/2017 1 buah sock 2 m 2.500
tabung lampu
24/10/2017 Bahan kimia Resin Bening 70.000
24/10/2017 Bahan kimia 2 buah catalis @3000 6.000
24/10/2017 Bahan Alat tangkap 6 buah bubu dasar @90.000 540.000
24/10/2017 Bahan Alat tangkap 1 meter pipa 2 D 12.500
Transportasi cek 3 tiket kapal PP Makassar-Pulau Bontosua
24/10/2017 300.000
lokasi @25000
25/10/2017 Perkakas 2 lbr amplas @5000 10.000
25/10/2017 Perkakas 2 lbr amplas @2.000 10.000
25/10/2017 Perkakas 2 lbr amplas @400 5.000
25/10/2017 Perkakas 1 buah lem tembak 35.000
25/10/2017 Perkakas 10 lilin lem tembak @2000 20.000
Honor output
25/10/2017 konsumsi 5 orang @15000 75.000
kegiatan
26/10/2017 1 m pipa PVC 2"/D 12.000
26/10/2017 4 lbr kertas gurinda @1500 6.000
26/10/2017 1 biji mata gergaji Kingston 10.000
26/10/2017 Bahan dan alat 1 buah lem PVC 13.500
pembuatan
26/10/2017 1 buah tempelan kertas gurinda 10.000
pelindung dan anti
26/10/2017 air LEDCUBA 1 buah pilox 31.000
27/10/2017 3 buah CO 2 @17500 52.500
27/10/2017 3 buah sock 2 DU @2500 7.500
27/10/2017 1 buah alat silicon tembak 38.000
27/10/2017 Silikon tabung/lem kaca 300m 42.000
Honor output
27/10/2017 konsumsi 3 orang @15000 45.000
kegiatan
Pengisian air fillet 2 buah tabung selam
28/10/2017 100.000
@50000
3/11/2017 Penelitian di 1 kg resin bening 42.000
3/11/2017 Lapangan 1 btl katalis 10.000
3/11/2017 1 m pipa 2" B 12.000
8/11/2017 oli M suspen 1 L 34.000
10/11/2017 Umpan Ikan Tembang 1 kg 50.000
Pengisian air fillet 2 buah tabung selam
11/11/2017 100.000
@50000
Biaya konsumsi dan penginapan selama 6
11/11/2017 500.000
Penelitian di hari
11/11/2017 Lapangan Biaya penyelaman selama 6 hari 600.000
3 tiket kapal PP Makassar-Pulau Bontosua
11/11/2017 300.000
@50000
11/11/2017 Sewa perahu selama 6 hari 500.000
Perlengkapan
10/12/2017 administrasi laporan Kertas HVS A4 1 rim 60.000
sementara dan akhir
10/12/2017 1 botol tinta print hitam 35.000
10/12/2017 3 botol tinta print warna 65.000
10/12/2017 Jilid 4 rangkap @3000 12.000
Total 3.814.500
Lampiran 3. Tabel hasil tangkapan

Tabel hasil tangkapan


No Nama famili, Nama Total Hasil Jumlah
Genus dan Jenis Lokal Tangkapan
Ikan Lampu + Umpan
Umpan (Kontrol)
1 Terapon jarbua Kerung- 2 0 2
kerung
2 Siganus baronang 3 0 3
canalicatus
3 Lutjanus Kakap 1 1 2
madras kuning
4 Lutjanus spp Kakap 7 3 10
5 Lutjanus vitta Ikan 4 2 7
kunyit
6 Upeneus Ikan Biji 0 2 2
moluccensis Nangka
7 Pomadasys Ikan 0 3 3
maculatus Gerot-
gerot
8 Pentapodus Ikan 3 0 3
vitta kunyit-
kunyit
9 Lutjanus Ikan 4 1 5
rufolineatus kakap
merah
10 Acanthochromis Betok 2 3 5
polyacanthus ekor
putih
11 Portunus Kepiting 0 3 2
pelagicus Rajungan
biru
12 Scylla serrata Kepiting 0 2 1
bakau
besar
13 Apogon 2 1 3
timorensis
14 Cheilio inermis 1 0 1
15 Scarus ghobban Ikan 0 1 1
kakatua
16 Sargocentron 2 0 2
rubrum
17 Pterocaesio 0 1 1
chrysozona
18 Priacanthus 2 0 2
hamrur
19 Parapercis 1 0 1
clathrate
20 Chaetodon 3 2 5
kleinii
Lampiran 4. Dokumentasi kegiatan

A. Merakit komponen listrik

B. Mendesain Bentuk Konstruksi Lampu LED Bawah Air


C. Pembuatan Lampu LED Bawah Air

D. Sistem Rangkaian Lampu


E. Pembuatan tabung pelindung lampu

F. Uji Kedap Air


G. Penelitian di Lapangan
Lampiran 5. Ikan Hasil Tangkapan`

Terapon jarbua Siganus canalicatus Lutjanus madras

Lutjanus spp Lutjanus vitta Upeneus moluccensis

Pomadasys maculatus Pentapodus vitta Lutjanus rufolineatus

Acanthochromis polyacanthus Portunus pelagicus Scylla serrata


Apogon timorensis Cheilio inermis Scarus ghobban

Sargocentron rubrum Pterocanthus hamrur Parapercis clathrate


Lampiran 6. Buku catatan harian (Log book)
No Tanggal Kegiatan
1. 21/8/2017 Catatan:
Konsultasi dengan dosen pembimbing.

2. 18/10/2017 Catatan:
Diskusi dan mendesain rencana kerja alat lampu
LEDCUBA.

3. 20/10/2017 Catatan:
Pembelian alat-alat dan bahan yang diperlukan
dalam pembuatan lampu LEDCUBA. Setelah itu merakit
satu per satu komponen listrik. Tahap pertama, disiapkan
pipa PVC Ø 2 inch, panjang 7 cm. Pipa dibelah menjadi
2 bagian untuk mempermudah pemasangan lampu,
kedua permukaan paralon dilubangi menggunakan bor
listrik dengan mata bor 4.5 mm, jarak antar lubang 1.5
x 1.5 cm. Selanjutnya pipa dicat menggunakan cat
pilox berwarna perak sehingga dapat memantulkan
cahaya.
Tahap kedua adalah melakukan pemasangan lampu
LED pada pipa paralon. Rangkaian listrik yang
digunakan pada perancangan lampu yaitu rangkaian seri.
Lampu LED yang dipasang pada pipa dengan 1
resistor. Semua rangkaian lampu disolder supaya lebih
aman dan arus yang mengalir tetap stabil. Selanjutnya
diberikan anti korosi pada seluruh rangkaian lampu,
sehingga rangkaian lampu tahan terhadap korosi.
Lampu yang sudah selesai dirangkai dilakukan uji
coba hidup atau tidak. Kalau lampu tidak menyala,
maka perlu dicek kembali rangkaian LED. Apabila
lampu menyala, maka dianggap selesai dan berhasil
pada tahap pembuatan rangkaian lampu

4. 22/10/2017 Catatan:
Hunting alat-alat dan bahan pembuatan tabung pelindung
lampu.
5. 23/10/2017 Catatan:
Membuat tabung pelindung lampu. Pembuatan tabung
pelindung lampu dengan mengunakan pipa pvc dan
bahan akrilik. Tabung yang digunakan dengan ukuran
(panjang 25 cm, Ø 2 inchi, dan ketebalan 5 mm).
Setelah ditentukan bagian bawah dilakukan penutupan
secara pemanen pada bagian bawah dengan
menggunakan akrilik, selanjutnya dirancang penutup
bagian atas dibuat bisa buka-tutup.
5. 25/10/2017 Catatan:
Proses pembuatan lampu LEDCUBA
6. 26/10/2017 Pemasangan komponen listrik kedalam tabung kedap air
7. 27/10/2017 Catatan:
Tabung pelindung diujicobakan atau dimasukkan
kedalam air 1-2 meter dalam water tank untuk diuji
ada kebocoran atau tidak. Lama perendaman sekitar 1-
2 jam, kemudian tabung di angkat ke atas dan
dipastikan tidak ada air yang masuk kedalam tabung.
Apabila tidak ada air yang masuk maka uji kedap air
selasai. Tabung diujicobakan dalam keadaan kosong
atau tanpa rangkaian lampu. Lampu yang sudah
selesai dirangkai pada paralon, lalu dimasukkan ke
dalam tabung pelingdungnya yang sudah teruji kedap
air.

8. 28-29/10/2017 Catatan: finishing lampu LEDCUBA.

9. 01-03/11/2017 Catatan: Konsultasi persiapan turun lapangan uji coba


lampu LEDCUBA ke dosen pembimbing

10. 4-5/11/2017 Catatan:


Mempersiapakan perlengkapan penelitian yang akan
dibawa ke pulau.
11 8/11/2017 Catatan:
Pemasangan bubu dasar dengan masing-masing
perlakuan hari pertama pada pukul 18.00 WITA di
kedalaman 10 m dengan jarak antar penempatan bubu
sepanjang 10 m. ditenggelamkan selama 12 jam.
12 9/11/2017 Catatan:
Pengangkatan bubu pada pukul 05.00 WITA. Pencatatan
hasil tangkapan.
13 10/11/2017 Catatan:
Pemasangan bubu dasar dengan masing-masing
perlakuan hari kedua pada pukul 18.00 WITA di
kedalaman 10 m dengan jarak antar penempatan bubu
sepanjang 10 m. ditenggelamkan selama 12 jam.
14 11/11/2017 Catatan:
Pengangkatan bubu kedua pada pukul 05.00 WITA.
Pencatatan hasil tangkapan. Dilakukan pengisian batterei
lampu.
15 12/11/2017 Catatan:
Pemasangan bubu dasar dengan masing-masing
perlakuan hari ketiga pada pukul 18.00 WITA di
kedalaman 10 m dengan jarak antar penempatan bubu
sepanjang 10 m. ditenggelamkan selama 12 jam
16 13/11/2017 Catatan:
Pengangkatan bubu ketiga pada pukul 05.00 WITA.
Pencatatan hasil tangkapan.
17. 14/11/2017 Catatan:
Perangkuman data-data hasil tangkapan dan
pengulangan di masing-masing perlakuan
18. 20-21/11/2017 Catatan:
Konsultasi data hasil penelitian ke dosen pembimbing
19. 22-30/11/2017 Catatan:
Pengecekan data, olah data dan persiapan laporan
kemajuan.
20. 1/12/2017 Catatan:
Proses analisis data dan persiapan laporan Kemajuan.