Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH MANORAGIA

Mata Kuliah : Keperawatan Maternitas

Dosen Pengampu : Eny Pujiati, S.KM,M.Kes

Disusun Oleh :

1. Vivin Yuliana (2017’1354)


2. Wahcid Kurniawan (2017’1355)
3. Wahyu Iksansi (2017’1356)
4. Yasinta Feby A (2017’1357)
Kelas : 2B

AKPER KRIDA HUSADA KUDUS

TAHUN AJARAN 2018/2019

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................

DAFTAR ISI .............................................................................

KATA PENGANTAR ................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Perumusan Masalah

1.3 Tujuan Makalah

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian

B. Etiologi

C. Tanda dan Gejala

D. Pathofisiologi

E. Pemeriksaan Penunjang

F. Penatalaksanaan Medis

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

limpahan rahmatnya dan karunianya sehingga kami dari kelompok IV (empat)

dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan

dengan judul makalah ‘’MAKALAH MANORAGIA”

Disamping itu kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari

kesempurnaan,oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari

pembaca dan kita semuanya untuk kesempurnaan makalah ini dimasa akan

datang

Akhir kata kami ucapkan banyak terima kasih dari semua pihak,semoga

makalah ini dapat berguna bagi kita semua.

Kudus, 21 oktober 2018

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menorrhagia didefinisikan sebagai menstruasi pada interval siklus teratur

tetapi dengan aliran berlebihan dan durasi dan merupakan salah satu

keluhan ginekologis yang paling umum di ginekologi kontemporer. Klinis,

menorrhagia didefinisikan sebagai kehilangan darah total melebihi 80 ml per

siklus atau mens berlangsung lebih lama dari 7 hari. Kesehatan Dunia

melaporkan Organisasi bahwa 18 juta wanita usia 30-55 tahun melihat

perdarahan haid mereka untuk menjadi selangit.


Laporan menunjukkan bahwa hanya 10% dari perempuan mengalami

kehilangan darah yang cukup parah menyebabkan anemia atau secara klinis

didefinisikan sebagai menorrhagia. Dalam prakteknya, pengukuran

kehilangan darah menstruasi sulit. Dengan demikian, diagnosis biasanya

berdasarkan riwayat pasien. Siklus haid normal adalah 21-35 hari dalam

durasi, dengan perdarahan yang berlangsung rata-rata 7 hari dan ukur arus

25-80 mL

1.2 Perumusan Masalah


1. Apakah pengertian menoragia?
2. Apakah tanda dan gejala dari menoragia?
3. Apakah etiologi dari menoragia?
4. Apa Pathofisiologi manoragia?
5. Bagaimana penatalaksanaan menoragia?

1.3 Tujuan Makalah


a. Untuk mengetahui pengertian dari Menoragia.
b. Untuk mengetahui tanda dan gejala Menoragia
c. Untuk mengetahui etiologi Menorrhagia
d. Untuk mengetahui patofisiologi pada Menorrhagia
e. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada manoragia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian

Menoragi (hiperamenore) adalah menstruasi yang berlarut – larut

atau aliran menstruasi yang hebat yang lebih jauh dapat dipersulit oleh

gumpalan darah. (Benson, Ralph C.2008:624)

Menoragi adalah interval menstruasi yang normal dengan banyak

atau lamanya berlebihan. Persepsi yang umum mengenai perdarahan yang

beerlebihan adalah apabila 3-4 pembalut atau tampon sudah penuh

selama 4 jam. Dalam setiap perdarahan yang lebih dari 80 cc dinyatakan

perdarahan abnormal. (Varney,Helen. 2007 :342-345)

Menoragia adalah perdarahan dengan jumlah yang bervariasi di

antara periode menstruasi, dengan interval yang tidak teratur tetapi sering

terjadi. (Errol R. Norwitz, John O. Schorge,At a Glance OBSTETRI DAN

GINEKOLOGI :2006 hal 15)

Menoragia adalah saat dimana menstruasi terjadi dengan interval

tidak teratur, atau jika terdapat insiden bercak darah atau perdarahan di
antara menstruasi. (Helen Varney, Jan M. Kriebs, Carolyn L. Gegor ,Buku

Ajar ASUHAN KEBIDANAN Edisi4 Volume1:2007 hal 346)

B. Etiologi

Menoragi dapat disebabkan oleh leimioma (seringkali submukosa),

komplikasi kehamilan, hiperplasia endometrium, adenomiosis, keganasan

atau koagulopati. (Benson, Ralph C.2008:624)

1. Penyebab Medis
 Servisitis
Servisitis dapat menyebabkan perdarahan spontan, bercak

darah, atau perdarahan pascatrauma.


 Perdarahan Disfungsi Rahim
Perdarahan rahim yang abnormal yang tidak disebabkan

oleh kehamilan atau kelainan ginekologi besar lainnya, biasanya

muncul sebagai metroragia, meskipun juga bisa menyebabkan

menoragia.
 Polip endometrial
Pada sebagian besar pasien, polip endrometrial

menyebabkan perdarahan abnormal, biasanya diantara dua siklus

menstruasi atau pascamenstruasi; meskipun demikian, beberapa

pasien tidak mengalami gejala apapun.


 Endometriosis
Metroragia (biasanya pramenstruasi) dapat menjadi

indikator satu-satunya dari endrometriosis atau menyertai

ketidaknyamanan siklis pada panggul, ketidaksuburan, dan

dispareunia. Massa aksenal yang nyeri tekan dan cekat dapat

teraba pada pemeriksaan bimanual.


 Endometritis
Endometritis menyebabkan metroragia, rabas vagina

bernanah, dan pembesaran rahim. Juga menimbulkan demam,

sakit perut bagian bawah, dan kram otot perut.

 Adenosis vagina
Adenosis vagina umumnya menimbulkan metroragia.

Palpasi menunjukkan adanya kekasaran atau nodula di daerah

vagina yang terkena.


2. Penyebab lain
Obat Antikoagulan dan kontrasepsi baik pil, susuk, maupun

suntikan, dapat menyebabkan metroragia.


Operasi dan prosedur Konisasi dan kauterisasi leher rahim

dapat menyebabkan metroragia. (Gianti Wijianto; drg. Anastasia L.

Juwono; Yasmin Scheiber ,Nursing: Menafsirkan Tanda-Tanda dan

Gejala Penyakit:2011 hal 311)

C. Tanda dan Gejala

Menstruasi yang berlangsung berkepanjangan dengan jumlah

darah yang terlalu banyak untuk dikeluarkan setiap harinya dapat

menyebabkan tubuh kehilangan terlalu banyak darah sehingga memicu

terjadinya anemia. Gejala-gejala yang timbul akibat anemia diantaranya

adalah napas menjadi lebih pendek, mudah lelah, jari tangan dan kaki

menjadi kebas, sakit kepala, depresi, konsentrasi menurun, dll.Perdarahan

uterus abnormal dapat disebabkan oleh faktor hormonal, berbagai

komplikasi kehamilan, penyakit sistemik, kelainan endometrium (polip),

masalah – masalah serviks atau uterus (leimioma) atau kanker. Namun

pola perdarahan abnormal seringkali sangat membantu dalam

menegakkan diagnosis secara individual.

(Benson, Ralph C.2008:624)


Penderita menoragia dapat mengalami beberapa gejala seperti:
 Pasien perlu mengganti pembalut hampir setiap jam selama beberapa

hari berturut-turut
 Perlunya mengganti pembalut di malam hari atau pembalut ganda di

malam hari
 menstruasi berlangsung lebih dari 7 hari
 darah menstruasi dapat berupa gumpalan-gumpalan darah
 terdapat tanda-tanda anemia, seperti napas lebih pendek, mudah lelah,

pucat, kurang konsentrasi, dll.


(www.scrib.com diakses tanggal 12 september 2012 jam 10.00)

Metode yang mungkin paling meyakinkan untuk menetukan apakah

aliran menstruasi individu memiliki kemungkinan dapat menimbulkan

bahaya adalah dengan mendapatkan nilai lab Hb dan hematokrit untuk

menyingkirkan anemia.

(Varney,Helen. 2007 :342-345)

D. Pathofisiologi

Gangguan perdarahan yang dinamakan metroragia terjadi karena

persistensi folikel yang tidak pecah sehingga terjadi ovulasi dan

pembentukan korpus luteum. Akibat terjadi hyperplasia endometrium

karena stimulasi estrogen yang berlebihan dan terus menerus. Secara

garis besar kondisi ini dapat terjadi pada siklus ovulasi (pengeluaran sel

telur atau ovum dari indung telur), tanpa ovulasi maupun keadaan

lain,misalnya pada wanita premenopouse (polikel persisten). Sekitar 90%

perdarahan uterus disfungsional (perdarahan rahim) terjadi tanpa ovulasi

(anovolation) dan 10% terjadi dalam siklus ovulasi.

Pada siklus ovulasi perdarahan rahim yang bias terjadi pada

pertengahan menstruasi maupun bersamaan dengan waktu

menstruasi.perdarahan ini terjadi karena rendahnya kadar hormone

estrogen sementara hormone progesterone tetap terbentuk.


Pada siklus tanpa ovulasi (anovalation) perdarahan rahim yang

sering terjadi pada masa pre-menopouse dan masa reproduksi. Hal ini

karena tidak terjadi ovulasi,sehingga kadar hormone estrogen berlebihan

sedangkan hormone progesterone rendah. Akibatnya dinding rahim

(endometrium). Mengalami penebalan berlebihan (hiperplasi) tanpa diikuti

penyangga (kava pembeluh darah dan kelenjar) yang memadai.kondisi

inilah yang menyebabkan terjadinya perdarahan rahim karena dinding

rahim yang rapuh. Di lain pihak perdarahantidak terjadi bersamaan

permukaan dinding rahim di satu bagian baru sembuh lantas diikuti

perdarahan. Di permukaan lainnya jadilah perdarahan rahim

berkepanjangan

(baradero mary, SPC,MM dkk,Klien gangguan system reproduksi dan

seksualitas,2005).

E. Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi thiroid, dan kadar HCG,

FSH, LH, Proglatin dan androgen serum jika ada indikasi atau skrining

gangguan perdarahan jika ada tampilan yang mengarah kesana.

b. Deteksi patologi endometrium melalui :

a) Dilatasi dan kuretase dan


b) histeroskopi.
c) Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaan pada wanita yang tidak

berhasil dalam uji coba terapeutik.


d) Uji kehamilan : untuk melihat ada tanda-tanda kehamilan.
e) Pemeriksaan koagulasi :untuk memantau faktor pembekuan darah.
(Prof dr. Hanifa wiknjosastro, DSOG. Ilmu kebidanan:1999)

F. Penatalaksanaan Medis
a. Bila perdarahan sangat banyak, istirahan baring dan transfusi darah
b. Bila pemeriksaan gynecologik menunjukkan perdarahan berasal dari

uterus dan tidak ada abortus inkompletus, perdarahan untuk sementara

waktu dapat dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat diberikan:


1. Estrogen dalam dosis tinggi
Supaya kadarnya dalam darah meningkat dan perdarahan

berhenti. Dapat diberikan secara IM di propionasestradiol 2,5 mg,

atau benzoas estradi 1,5 mg, atau valeras estradiol 20 mg. Tetapi

apabila suntikan dihentikan perdarahan dapat terjadi lagi.


2. Progesteron
Pemberian progesteron mengimbangi pengaruh estrogen

terhadapendometrium, dapat diberikan kaproas hidroksi

progesteron 125 mg, secara IM, atau dapat diberikan pes os

seharinirethindrone 15 mg atau asetas medroksi progesteron

(provera) 10 m, yang dapat diulangi berguna dalam masa pubertas.

Setelah perdarahan teratasi berikan :


 Conjugated oestrogen 2,5 mg per oral setiap hari selama

25 hari
 Tambahkan 10 mg medroxyprogesteron acetat untuk 10

hari
terakhir
 Tunggu perdarahan lucut 5-7 hari pasca penghentian

terapi

3. Androgen
Propionas testosteron 50 mg IM. Hormon ini memiliki umpan

balik positif dari perdarahan uterus akibat hiperplasia endometrium.

Pada pubertas, pengobatan bisa dilakukan dengan terapi hormonal.

Pemberian estrogen dan progesteron dalam kombinasi dapat di

anjurkan. Terapi dapat dilaksanakan pada hari ke-5 perdarahan

uterus untuk 21 hari. Dapat pula diberikan progesteron untuk 7 hari,

mulai hari ke-21 siklus haid. (Astarto, 2011). Kecuali pada pubertas,

terapi yang baik dilakukan adalah dilatasi dan kerokan.


(wiknjosastro,2010).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

MANOREGIA

2.1 Pengkajian

Pengkajian dilakukan pada tanggal 28 Mei 2018 pukul 10.30 WIB

diruang Cempaka RSUD RA KARTINI JEPARA.

1. Identitas Pasien
1) Nama : Nn. Y
2) No.Register : 000632XXX
3) Umur : 13 Tahun
4) Jenis Kelamin : Perempuan
5) Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
6) Agama : Islam
7) Status : Belum Menikah
8) Pekerjaan : Pelajar
9) Pendidikan : SMP
10) Bahasa yang digunakan : Bahasa Indonesia
11) Alamat : Demangan, Jepara 1/1
12) Tanggal MRS : 24 Mei 2018
13) Cara Masuk : JKN-PPU
14) Diagnosa Medis :
15) Alasan Dirawat : Nyeri abdomen

2) Identitas penanggung jawab

1) Nama : Ny. S
2) Umur : 30 Tahun
3) Jenis kelamin : Perempuan
4) Pendidikan : Sekolah Dasar
5) Alamat : Demangan,Jepara 1/1
6) Hubungan Dengan Pasien : Ibu
7) Pekerjaan : Guru

3) Riwayat keperawatan

a. Keluhan Utama
Nyeri Abdomen
b. Riwayat kesehatan sekarang
2 minggu sebelum masuk RS pasien mengeluh mual dan muntah

Pusing. Kelelahan dan Nyeri yang menjalar dari bawah perut sampai

punggung belakang dibawa ke puskesmas, kemudian dirujuk ke RS.

Pasien datang di RS diantar oleh keluarga, langsung dibawa ke

IGD,di IGD dilakukan pemeriksaan TTV dengan hasil,Tekanan darah:

90/80 mmHg, Respiratori: 20x/mnit, Nadi:88x/mnit, Suhu:36 0c Pasien

dipasang Infus ditangan kanan dengan terapi infuse 12 tpm,


c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien mengatakan ketika mentruasi mengalami nyeri pada

abdomen bagian bawah.


d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan didalam keluarga pasien tidak ada yang

mengalami penyakit DM,Gagal Ginjal, maupun penyakit lainnya.


e. Keadaan Kesehatan Lingkungan
Pasien mengatakan rumahnya dekat dengan jalan desa dan dekat

dengan persawahan,terdapat jendela disetiap kamar,saluran

pembuangan air limbah langsung melalui Got.


f. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum : Lemah
2) Kesadaran : Composmentis GCS : E : 4 M : 6 V: 5
3) TTV : TD : 90/80 MmHg N : 88x/menit
S : 360 C RR : 20x/menit
P : Neri disebabkan karena menstruasi
Q : Nyeri seperti tertusuk-tusuk
R : Abdomen bagian bawah
S :4
T : Hilang timbul
4) BB : 30 kg TB :145 cm IMT:29,13

5) Kepala : I : Bentuk Simetris, terdapat uban tidak ada luka, rambut

tampak bersih

Pa: Tidak ada benjolan, rambut bersih, tidak lengket,

rambut tidak mudah berminyak atau rontok

 Mata :I :tidak ada pembengkakan pada kelopak

mata,konjungtiva anemis

Sklera berwarna putih, warna kornea hitam kedua pupil isokor,

berdiameter± 1,5 pupil berkontraksi,jika terkena cahaya,bola

mata
pasien normal dapat mengikuti 8 arah gerakan dengan baik

 Hidung I : hidung simetris lubang hidung kanan sama dengan

lubang hidung kiri, tidak ada pembengkakan, lubang hidung

bersih,

Pa: tidak ada nyeri ketika di tekan , tidak ada pembengkakan


 Mulut I : bibir normal warna coklat , mukosa bibir kering

tidak ada luka


 gigi I:tidak simetris , tidak ada lesi pada gigi ( lidah tampak

kotor)
 Telinga I : bentuk simetris, tidak ada lesi,tidak ada
benjolan,
Pa: Tidak ada benjolan dan nyeri tekan
6) Leher I : Tidak ada lesi, tidak ada benjolan, warna kulit
coklat

Pa: Tidak ada benjolan atau pembesaran kelenjar tiroid dan

vena jugularis
7) Dada I : Mammae pada penderita aminore tidah tumbuh. Bentuk
dada simetris

Pa: tidak ada nyeri tekan,

Paru–Paru I : Bentuk paru simetris, pasien tidak menggunakan

alat bantu nafas ( nasal kanul )

Pa: tidak ada nyeri tekan,getaran terdengar sama antara

paru kanan dan kiri

Pe : sonor

A: suara tambahan ronchi,terdengar dibagian anterior

dan posterior

Jantung I : Iktus cordis tidak tampak

Pa: Iktus kordis teraba di intra consta 4-6 midclavikula

sinistra

Pe: Pengetukan pada bagian batas jantung terdengar

pekak

A: bunyi pekak

8) Abdomen I: perut buncit,tidak ada lesi

A: Bising usus 13x/menit,di seluruh kuadran Abdomen

Pe: suara tympani

Pa: tidak ada nyeri tekan

9) Ekstrimitas:

Atas : Terpasang infuse ,di tangan kanan ,

Bawah : Kedua kaki tidak mengalami pembengkakan

Kekuatan otot:

5 5

5 5
10) Genetalia : di alat kelaminnya tidak terpasang kateter

11) Pengkajian pola fungsional menurut Virginia Henderson

1. Pola Bernafas

Sebelum sakit : Pasien mengatakan bernapas secara normal

Selama sakit : Pasien mengatakan tidak sesak nafas atau

bernafas dengan normal

2. Pola nutrisi dan cairan


Sebelum sakit : Pasien mengatakan minum air putih 1 liter

perhari dan makan 3x sehari


Selama sakit : Pasien mengatakan minum setengah liter

perhari dan makan 3x sehari namun tidak

dihabiskan
3. Pola Eliminasi

Sebelum sakit : Pasien mengatakan BAB 1x sehari berbentuk

lunak berbau khas berwarna kuning dan BAK

tidak lancar

Selama sakit : Pasien mengatakan selama sakit belum bisa

BAB,dan BAK tidak lancar

4. Pola Tidur dan Istirahat

Sebelum sakit : Pasien mengatakan tidur dengan nyenyak

selama 8jam/hari

Selama sakit : Pasien mengatakan sulit tidur dan hanya tidur

3-4 jam /hari

5. Pola aktivitas dan latihan

Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat beraktivitas secara

mandiri

Selama sakit : Pasien mengatakan dapat beraktivitas sendiri

tapi masih di bantu orang tua


6. Berpakaian

Sebelum sakit : Pasien mengatakan bisa memakai baju mandiri

tanpa bantuan orang lain

Selama Sakit : Pasien mengatakan memakai baju dengan

dibantu adik maupun suaminya.

7. Mempertahankan suhu tubuh normal dan modifikasi lingkungan

Sebelum sakit : Pasien mengatakan memakai pakaian tebal

jika merasa kedinginan dan memakai baju

lengan pendek jika merasa gerah

Selama Sakit : Pasien memakai baju lengan pendek karena

merasa gerah.
8. Personal hyegien dan berhias diri
Sebelum sakit : Pasien mengatakan mandi 2xsehari dengan

menggunakan sabun,menggosok gigi setiap

mandi dengan menggunakan sikat gigi dan

pasta gigi.
Selama Sakit : Pasien mengatakan mandi dengan sibin 2x

sehari dibantu dengan keluarganya.


9. Aktivitas mencegah kecelakaan
Sebelum sakit : Pasien mengatakan bisa menghindari aktivitas

yang dapat membahayakan dirinya tanpa

bantuan orang lain


Selama sakit : Pasien dapat menghindari aktivitas yang dapat

membahayakan dirinya dengan bantuan

orang lain
10. Komunikasi
Sebelum sakit : Pasien bisa berkomunikasi dengan baik,

mengobrol dan bercerita dengan keluarga

maupun tetangga.
Selama sakit : Pasien bisa berkomunikasi dengan baik,dengan

keluarga maupun perawat


11. Beribadah
Sebelum sakit : Pasien mengatakan bisa beribadah

menjalankan sholat 5 waktu,mengikuti

puasa jika tidak ada halangan.


Selama sakit : Pasien tidak bisa menjalankan ibadah,pasien

hanya bisa berdoa diatas tempat tidur


12. Bermain dan rekreasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat bermain dan

berekreasi dengan keluarga


Selama sakit : Pasien mengatakan tidak bisa bermain dan

berekreasi dengan keluarga

13. Aktivitas Bekerja


Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat bekerja dengan

baik,mengajar di MI
Selama sakit : Pasien mengatakan tidak dapat mengajar

seperti biasanya.
14. Aktivitas Belajar
Sebelum sakit : Pasien mengatakan menonton TV untuk

menambah pengetahuan dan informasi


Selama sakit : Pasien mengatakan menambah ilmu dengan

menanyakan penyakitnya kepada Dokter

dan perawat.
ANALISA DATA

No Data Fokus Problem Etiologi TTD


1. DS: pasien mengatakan nyeri pada Nyeri akut Nyeri akut

perut bagian bawah b.d agen

DO : pasien tampak meringis cedera

kesakitan biologis :

TD : 90/80 MmHg N : 88x/menit menstruasi

S : 360 C RR:20x/menit
P: Nyeri disebabkan karena
2. Resiko
menstruasi
Q: Nyeri seperti tertusuk-tusuk
R: Abdomen bagian bawah kekurangan
S: 4
T: Hilang timbul volume Resiko

Ds : pasien mengatakan cairan kekurangan

badanmnya terasa lemas dan volume


merasa pusing cairan b.d
Do. Adanya trauma/ perdarahan
perdarahan

INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Tujuan Intervensi

1. Nyeri(akut atau Setelah dilakukan Menejemen nyeri (1400)

kronis) bd kontraksi tindakan 2x24 jam 1. Kaji tingkat nyeri.

uterus selama haid. diharapkan nyeri pasien 2. Jelaskan penyebab

berkurang dengan kreteria nyeri pada klien.


hasil: 3. Sarankan untuk

• Klien mengungkapkan relaksasi dengan

adanya penurunan rasa mengatur posisi dan

nyeri/hilang. mengalihkan perhatian.

• Klien bisa relaksasi 4. Kolaborasi penberian

dengan ekspresi wajah obat anti nyeri.

yang tidak menunjukkan 5. Observasi TTV.

rasa nyeri.

• TTV dalam batas normal.


2.Resiko kurangnya Setelah dilakukan Menejemen cairan

volume cairan bd tindakan 2x24 jam (4120)

perdarahan. diharapkan kebutuhan 1. Kaji status hidrasi

volume cairan pasien pada klien.

membaik dengan kriteria 2. Kaji intek output

hasil: cairan dan banyaknya

• Turgor kulit baik baik. pendarahan.

• Mukosa bibir tidak 3. Jelaskan pada klien

kering. penyebabnya

• Kelopa mata tidak pendarahan.

cekung. 4. Anjurkan klien untuk

• Klien tidak haus. minum secara

adekuat(Minum

2liter/hri).

6. Kolaborasi

pemnberian obat untuk

penderahan.

7. Observasi TTV
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

- Menoragi adalah kelainan menstruasi dimana perdarahan yang

berlebihan, apabila 3-4 pembalut atau tampon sudah penuh selama 4 jam.

-Jumlah darah yang terlalu banyak untuk dikeluarkan setiap harinya dapat

menyebabkan tubuh kehilangan terlalu banyak darah sehingga memicu

terjadinya anemia. Gejala-gejala yang timbul akibat anemia diantaranya

adalah napas menjadi lebih pendek, mudah lelah, jari tangan dan kaki

menjadi kebas, sakit kepala, depresi, konsentrasi menurun, dll

- Menoragi dapat disebabkan oleh leimioma (seringkali submukosa),

komplikasi kehamilan, hiperplasia endometrium, adenomiosis, keganasan

atau koagulopati.
- Pengobatan menorrhagia sangat tergantung kepada penyebabnya. Untuk

memastikan penyebabnya, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan

seperti pemeriksaan darah, tes pap smear, biopsi dinding rahim,

pemeriksaan USG, dan lain sebagainya.

B. Saran
Bagi petugas Kesehatan

Diharapkan petugas kesehatan terutama bidan mampu memahami tanda

dan gejala menoragi sehingga dapat memberikan intervensi yang

tepat serta mampu mendeteksi secara dini bila ada komplikasi yang

mungkin terjadi.

Bagi Masyarakat

Diharapkan perempuan lebih waspada terhadap kondisi kesehatan

reproduksinya terutama untuk hal menstruasi dan jika dirasakan keluhan

diharapkan segera memeriksakan diri ke bidan atau petugas kesehatan

lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Benson, Ralph C.2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi.Jakarta:EGC

Varney,Helen.2007. Buku ajar Asuhan kebidanan. Jakarta:EGC

www.scrib.com diakses tanggal 12 september 2012 jam 10.00