Anda di halaman 1dari 13

BAB I

GAS

1.1 Beberapa Satuan


Dalam beberapa kasus satuan-satuan sebaiknya digunakan satuan SI secara sistematik
Gaya Newton = massa x percepatan, N= kg.m.s2
Tekanan Pascal = gaya/luas, Pa = N.m2
Juga digunakan: 1 atm = 760 mmHg = 101,325 Pa
Kerja Joule = gaya x jarak J = N.m
Bandingkan dengan satuan konvensional:1 kalori = 4,184J (empiris)
Temperatur Kelvin K = C +273,15
Potensial Volt
Muatan Coulomb
Arus Ampere (I)= muatan tiap detik I= C.s1
Kerja listrik kerja=potensial x muatan J= V.C

1.2 Hukum Gas Ideal


Perbedaan yang besar antara dan fasa terkondensasi adalah bahwa di dalam gas
energi traktif rata-rata antara molekul relatif kecil terhadap energi kinetiknya. Sebagai
hasil, molekul-molekul didalam gas perpindahan relatif tidak saling bergantungan. Suatu
gas ideal ditunjukan oleh persamaan keadaan:
pV=nRT 1.1.a
Bentuk umum persamaan keadaan gas dinyatakan sebagai f(p, V, T, n) = 0, dimana p, V, T,
dan n adalah besaran-besaran yang dapat berubah-ubah nilainya (peubah zat). Secara
eksplisit dapat dituliskan persamaan keadaan gas sebagai berikut :
V = f(p, T, n) p = f(V, T, n) T = f(p, V, n) n = f(p, V, T)
Persamaan keadaan gas ideal di atas dapat diturunkan. Sebagai contoh kita ambil
besaran volume sebagai fungsi dari suhu, tekanan, dan jumlah mol :
 V   V   V 
dV =   dp    dT    dn 1.1b
 p  T ,n  T  p,n  n  p , V

1
Hukum Boyle menyatakan bahwa pada suhu dan jumlah mol yang tetap, volume
sejumlah tertentu gas berbanding terbalik dengan tekanan (pV=konstan). Jika pernyataan
ini didiferensiasi maka:
pdV + Vdp = 0, sehingga (V/p) =  V/p.
Hukum Charles dan Gay Lussac menyatakan bahwa pada p dan n tetap, volume
gas berbanding lurus dengan suhu mutlak T. Dengan cara yang sama diperoleh:
(V/T) = V/T.
Sedangkan menurut hukum Avogadro bahwa pada p dan T tetap, volume gas
berbanding lurus dengan jumlah molnya, maka diperoleh (V/n) = V/n. Jika pernyataan-
pernyataan ini disubstitusikan ke dalam persamaan 1.1.b, maka diperoleh :
dV = (-V/p) dp + (V/T) dT + (V/n) dn
Jika persamaan ini diintegrasi, maka akan diperoleh :
ln (V) + ln (p) = ln (n) + ln (T) + C 1.1.c
Dengan mengambil C = ln R, dimana R adalah suatu konstanta gas ideal. Dengan demikian
persamaan 1.1.c dapat dituliskan sebagai berikut :
ln pV = ln nRT
Antilog terhadap persamaan terakhir ini adalah pV = nRT

Kita mendefinisikan volume molar suatu gas sebagai Vm= V/n, dimana Vm adalah volume
1 mol gas pada p, T, selanjutnya kita menyederhanakan persamaan 1.1.a sebagai:
pVm = RT 1.1.d
R konstanta gas universal, 8.134 J.mol1K–1 atau 0.08206 L.atm. mol1K1. Juga:
R = k.Navo 1.2
Dimana k adalah konstanta Bolzmann (satuan J.K1) dan Navo bilangan Avogardo.
Persamaan keadaan digunakan untuk menghitung parameter-parameter (p, V, T, dan n) jika
tiga parameter lain diketahui.

Contoh: Jawab:
Hitunglah volume gas CO2 yang terbentuk Persamaan reaksinya adalah Na2CO3  Na2O + CO2. Jadi
jika 0,53 g natrium karbonat dipanaskan 0,53 g Na2CO3 akan menghasilkan 0.005 mol CO2. Dari
dan gas dikumpul pada 30 oC dan 740 mm persamaan 1, gunakan satuan SI dengan p = (740/760) x
Hg. 101,325 Pa, T = 303K, R=8.314 J.mol1.K1, dan n = 0,005
mol kita memperoleh V = 1.28x104m3 = 0,128 L (1m3 =
1000L)

2
Pada skala mikroskopis melokul-molekul dalam gas akan memiliki distribusi kecepatan.
Temperatur gas ditentukan oleh energi kinetik rata-rata molekul:
RT =1/2 Navo m<C2> 1.3
Di mana m adalah massa satu molekul, c adalah kecepatan molekul, dan < > menunjukkan
suatu rata-rata. Persamaan 1.3. menunjukkan bahwa kecepatan akar kuadrat rata-rata,
(<c2>1/2) molekul di dalam gas bervariasi terhadap (T/m)1/2. Kebanyakan gas pada
temperatur kamar dan tekanan atmosfir hanya sebagian kecil yang menunjukkan
penyimpangan (persen kecil) dari hukum gas ideal. Bagaimana pun juga, hal ini tidak
berarti bahwa molekul berpindah secara bebas. Misalnya, oksigen pada 298 K dan 1 atm,
mempunyai kecepatan rata-rata kira-kira 400ms1 dan molekul mengalami tumbukan 109
tiap detik? Kita mendefinisikan sistem berikut :
Sistem terbuka : Energi (panas) dan materi keduanya mengalir masuk dan keluar (n
adalah variabel)
Sistem tertutup : energi (panas) dapat berubah, tetapi materi tidak dapat (n kosntan)
Sistem terisolasi : energi (panas) dan materi keduanya tidak dapat mengalir masuk
keluar.
Untuk sistem tertutup (n konstan) persamaan 1.1 dapat ditulis dalam bentuk :
PV = konstan (jika T konstan), (H. Boyle) 1.4
V = kosntan x T (jika p konstan), (H. Charles) 1.5
PV/T = kosntan (jika p, V dan T semua variabel) (H. Avogadro) 1.6
Persamaan 1.5 didefinisikan sebagai T = 0 (temperatur absolut nol) sebagai temperatur
hipotesis di mana V gas ideal menjadi nol. Termometer gas penggunaanya berdasarkan
persamaan 1.5. Pengunaan persamaan 1.1 dalam perhitungan, kita harus hati-hati dan
kosisten dengan satuan-satuan. Jika p dalam satuan Pa, V harus dalam satuan m 3 dan R =
8.314 J.mol1.K1 catatan bahwa T selalu dalam satuan K.
Persamaan, 1.1. dapat digunakan untuk menghitung kerapatan gas ‘d’ :
p = (n/V)RT 1.7
substitusi n = mass/Mw (Mw = massa molekul) dan d = massa/V diperoleh :
d = (pMw)/RT 1.8

3
Sekali lagi kita harus hati-hati dengan satuan. Gunakan SI (misalnya p dalam satuan Pa), d
akan bersatuan kg.m3 dan M harus dalam satuan kg.mol1. Jika kita menggunakan Mw
dalam g.mol1 d akan bersatuan g.m3. Satuan umum yang lain untuk kerapatan gas adalah
g.L1 dihasilkan jika kita menggunakan p dalam atm., V dalam L, Mw dalam g.mol -1 dan R
=0,08206 L.atm.mol1.K1.

1.3 Campuran Gas


Untuk campuran gas ideal, hukum Dalton menyatakan bahwa tekanan setiap gas
tidak tergantung pada tekanan gas yang lain :
ni
pi  RT 1.9
V
n not
p tot   p i  RT 1.10
i V
dimana kita dapat menuliskan sebagai
pi/ptot = ni/ntot = Xi 1.11

Contoh: Jawab:
Hitunglah kerapatan gas CO2 pada 300K, Dalam satuan SI 1 atm = 101,325 Pa, Mw = 0,0044 kg.mol1,
p = 1 atm. Dengan asumsi bahwa gas dari persamaan 1.8: d = 101,325 x 0.044/(8.314x300)= 1.79
berlaku seperti gas ideal.
kg.m3 = (1.79kg/m3) x (1000g/kg)(0,001m3/L) = 1.79g/L.
Catat bahwa 1kg/m3 =1g/L! juga kita dapat menggunakan
persamaan 1.1. secara langsung :
Pertama hitung n untuk 1m3:
n =pV/RT = 101,325 x 0,001/ (8.314 x 300) = 40,6 mol,
kemudian massa CO2= n (mol) x 0.44 (kg/mol) = 1.79kg,
sehingga d = m/V = 1.79kg.m3

di mana Xi adalah fraksi mol kompenen i dalam campuran. Persamaan 1.11 melukiskan
pengertian bahwa untuk sistem tertutup “mol sama = tekanan sama” atau “mol sama =
volume sama” tergantung pada apakah volume atau tekanan tetap konstan. Misalnya, jika
campuran gas adalah 50% mol O2 tekanan parsial oksigen akan menempati 50% volume
campuran. Hukum Avogadro, menyatakan bahwa pada p dan T “ekivalen mol akan
menempati ekivalen volume” atau “volume yang sama mengandung mol yang sama”
melukiskan ide yang sama (misalnya, udara mengandung 80% mol N 2, 19% mol O2 dan
1% mol Ar). Hal ini berarti bahwa pada tekanan udara1 atm, tekanan parsial N 2, O2 dan Ar
masing–masing adalah 0.80, 0.19 dan 0.01 atm. Dalam hal yang khusus kumpulan gas “ di

4
atas permukaan air” merupakan prosedur eksperimen yang umum. Jika gas collected wet
(udara dalam air) ini berarti bahwa meskipun tekanan total mungkin 760 mm Hg yang
terukur dengan manometer atau alat pengukur yang lain, tekanan gas yang terkumpul
sama dengan 760pw, dimana pw adalah tekanan uap udara yaitu tekanan yang dimiliki oleh
uap air jenuh. Sebagai contoh, tekanan uap air pada 25C adalah 23 mm Hg. Jadi, jika O2
terkumpul di atas air pada 25C, ptot = 760 mm Hg, tekanan persial O2 adalah 737 mm, dan
jumlah mol O2 harus dihitung menggunakan tekanan ini volume total gas yang terkumpul
dalam persamaan 1.1.

Contoh: Jawab:
Hitunglah tekanan parsial hidrogen Pertama kita harus menghitung perbandingan mol dari
dalam campuran hidrogen-nitrogen, perbandingan berat. Misalnya 100g campuran mengandung
dimana 50% berat campuran itu adalah 50 g hidrogen dan 50 g nitrogen, or 50/2 =25 mol hidrogen
hidrogen dan dengan ptot = 1 atm. dan 50/28 =1.79 mol nitrogen.
Jadi dalam 100 g campuran n tot = 26.79 dan XH2=25/26.79 =
0.933.
Sehingga pH2 = 0.933x1 = 0.93 atm (dan pN2 = 1 – 0.093 =
0.07 atm). Catatan jangan lupa menuliskan satuan pada hasil.

1.4 Gas Nyata


Kita telah mengetahaui bahwa hukum gas ideal menunjukkan gas hipotesis untuk
persamaan 1.1 benar. Dalam banyak perhitungan yang melibatkan gas pada tekanan
atmosfer atau lebih rendah, dan temperatur ruangan atau lebih tinggi, penyimpangan dari
perhitungan nilai p, V, atau n mengggunakan persamaan 1.1. adalah kecil, sehingga kita
menggunakan hukum gas ideal sebagai pendekatan pertama dalam banyak aplikasi praktis.
Bagaimanapun, gas yang dikompres, seperti gas dalam silinder tekanan tinggi, atau dalam
proses industri, mungkin menunjukkan penyimpangan. Untuk masing-masing kasus ini,
kita mendefinisikan faktor compresi :
Z = pVm/RT 1.12
Untuk gas ideal Z = 1. Nilai Z bisa lebih besar atau lebih kecil dari 1, tergantung pada gas
murni, temperatur, dan tekanan. Beberapa contoh ditunjukkan dalam Gambar 1.1 dan 1.2
(catat perbedaan skala tekanan dalam kedua grafik).
Gas seperti H2 dan He hanya mempunyai Z > 1, sedangkan molekul yang lebih
besar dan molekul dengan gaya intermolekul yang kuat nilai Z < 1 pada tekanan
intermediet. Beberapa gas akan memiliki Z > 1 pada temperatur yang sangat tinggi

5
(volume molar rendah). Penyimpangan positif dari Z = 1 menggambarkan gaya repulsif
antara molekul, dengan kata lain sesuai dengan kenyataan bahwa molekul tidak dapat
menempati volume yang ada. Penyimpangan negatif disebabkan oleh gaya atraktif. Hal ini
dilukiskan dalam persamaan dalam persamaan keadaan van der Waals.
a
(p  )(Vm  b)  RT 1.13
Vm2

Gambar 1.1 Faktor Kompresi Z untuk beberapa gas Gambar 1.2 Z pada tekanan yang tinggi
Dari K.J. Laidler, J.H. Meiser, “Physical Chemistry”, dari J.P. Bromberg, Physical “Chemistry
Benjamin, New York, 1982 2nd ed., Allyn dan Bacon, Boston, 1980

Dalam persamaan 1.13, a dan b adalah konstanta empiris. b adalah berhubungan


dengan volume yang ditempati oleh molekul. Hal ini dapat ditunjukkan bahwa b
diperkirakan sama dengan 4 kali volume dari 6x1023 molekul, b harus dilukiskan dalam
satuan volume (m3mol-1). Jadi, faktor V-b melukiskan bahwa volume molekul yang
mungkin adalah lebih kecil dari jumlah volume yang ditempai 1 mol, V m. Gaya atraktif
akan mendorong molekul pada permukaan dalam gas, membuat tekanan dalam gas lebih
tinggi dari tekanan yang teramati. Akibat ini akan berbanding lurus dengan frekuensi
tumbukan, yang mana juga berbanding lurus dengan n/V atau 1/V m untuk 1 mol, n =1.
Satuan harus Pa. m6mol-2. Beberapa nilai a dan b (ditentukan secara eksperimen dengan
mengukur p,V,T) diberikan pada Tabel 1.1.
Persamaan van der Waals melukiskan p sebagai fungsi pangkat tiga dari dari V.
Tergantung pada nilai parameter yang tiga, T, persamaan pangkat tiga ini mempunyai tiga
akar atau satu akar. Pada tabel di atas beberapa nilai T, ditunjukkan senagi T c, temperature
6
kritis, hanya ada satu akar, dan p akan meningkat secara kontinu, jika V menurun. Jika
T<Tc, dan V besar, p bertambah dengan menurunnya V, kemudian penurunan yang cepat
diikuti oleh kenaikan yang cepat pula. Pada titik kritis (dp/dV) Tc dan (d2p/dV2)Tc adalah nol
(0), ini merupakan titik impleksi khusus pada isotermal dengan paramater kritis Tc, pc, dan
Vc parameter kritis yang lain adalah sama untuk setiap zat (Table 1.1). Jika titik kritis ini
diselesaikan secara matematis maka diperoleh: Vc = 3b, pc = a/27b2, dan Tc = 8a/27bR.
Harga R dapat dihitung dari percobaan lain, dengan mengeliminasi Vc, maka diperoleh:
27 R 2 Tc2 RT c
a= , b=
64 p c 8pc

persamaan keadaan gas nyata dalam bentuk konstanta kritisnya dapat ditulis sebagai:
a a 3
pc . Vc = 3b . 27 b 2  9 b = R Tc 1.13a
8

Contoh: Jawab:
Hitung konstanta kritis untuk C2H2
Vc = 3b = 3 (0,0514 L3/mol) = 0,1541 L3/mol.
dengan menggunakan konstanta vander
Waals a=4,39 L6.atm.mol–2, b=0,0514 pc = a/(27b2) = 61,638 atm
L3/mol.
Tc = 8a/(27bR) = 308,48 K

Perhitungan pV isotermal menggunakan nilai a dan b untuk gas CO2 ditunjukkan


dalam gambar 1.3. Gambar 1.4 menunjukkan penentuan secara eksperimen untuk CO 2
perbandingan kedua grafik, kita mengetahui bahwa dalam isotermal “nyata”

Table 1.1 Nilai parameter a dan b van der Waals dan parameter kritis beberapa gas.
bx103 Pcx10-3 Vm,cx103
Zat a (Pa.m6mol-2) Tc (K) Zc
(m3mol-1) (Pa) (m3mol-1)
H2 0,0247 0,0266 33,2 1,317 0,0650 0,306
He 0,0034 0,0237 5,2 230 0,0573 0,301
N2 0,1408 0,0391 126,2 3,445 0,0895 0,290
CH4 0,2280 0,0428 190,6 4,661 0,099 0,287
NH3 0,4225 0,0371 405,6 11,450 0,0725 0,252
H2O 0,5608 0,0304 647,1 22,342 0,056 0,230
CO2 0,3637 0,0427 304,2 7,478 0,094 0,274
SO2 0,6799 0,0564 430,5 7,960 0,125 0,231

Gambar 1.4 menujukkan penentuan isoterm secara eksperimen untuk CO 2. Dengan


membandingkan kedua grafik, kita mengetahui bahwa kondensasi (gas-cair) isoterm
“nyata” (Gambar 1.4) terjadi antara titik B dan F. Kurva A-B melukiskan uap isoterm, dan
7
meliputi kurva di atas yang melalui menunjukkan keadaan “non-exisiting”, melalui kurva
ini dapat dilihat sebagai upa lewat jenuh atau cairan yang dinggin. Daerah kondensasi B-F
menjadi lebih kecil karena T meningkat, dan nampak T = Tc. Di atas Tc tidak ada
perbedaan fasa antara uap dan kondensasi (cair). Ingat bahwa persamaan van der Waals
tidak memprediksi trasisi cair ke padat. Karena persamaan van der Waals melukiskan sifat-
sifat gas sistem gas-cair dalam istilah prinsip fisika yang dapat dimengerti, represents of
gas liquid systems in terms of understdanable physical principles, this formulation remains
popular even though more advanced persamaans of state dan teori molekular sekarang
tidak digunakan.
Titik kritis sering digunakan sebagai titik referensi untuk tekanan, volume dan
temperatur suatu zat, kita dapat menurunkan tekanan, volume, dan temperatur masing-
masing sebagai:
Pr =p/pc, Vm.r = Vm/Vm,c, Tr =T/Tc 1.14

Gambar 1.3 Perhitungan isoterm gas CO2 dari pers. Gambar 1.4 Isoterm percobaan CO2
Van der Waals 1.13.
Catatan: perbedaan satuan dapat dibedakan pada tabel 1.1 dari S.M. Binder, “Physical
Chemistry”, MacMillan, New York, 1969.

Persamaan van der Waals memprediksi bahwa Zc = pcVm,c/Tc = 0.375. Tabel 1


menunjukkan bahwa Zc untuk kebanyakan gas adalah of this order of magnitude, namun

8
persamaan ini tidak benar secara numerik. Hukum keadaan tereduksi memprediksi bahwa
pada penurunan keadaan gas yang sama akan memiliki penurunan kompresibilitas yang
sama (Zr = prVr/Tr). Hal ini berlaku untuk zat yang berbeda seperti ditunjukkan dalam
Gambar 1.5.
Diantara sekian banyak persammaan keadaan lain untuk gas, yang paling banyak
digunakan adalah persamaan virial:
Z = 1 + B/Vm + C/Vm2 + … 1.15
B dan C disebut koefisien virial kedua dan ketiga. Masing-masing ekspansi gaya sangat
berguna dalam metoda komputasi modern. Juga hal ini digunakan dalam mekanika
statistik, teori mikroskopis gas sampai jumlah pengamatan mikroskopik. Koefisien Virial
merupakang fungsi temperatur. Temperature pada B = 0 disebut temperatur Boyle. Pada
temperatur Boyle, karena C/Vm2 secara normal <<1, pada daerah tekanan yang
panjang/lebar gas masih berkelakuan sebagai gas ideal meskipun gaya tarik menarik masih
kuat.

Gambar 1.5 Faktor pemampatan empat


gas digambarkan menggu-nakan
variabel tereduksi. Dengan mengguna-
kan variabel tereduksi, data tertata pada
kurva tunggal

Contoh: Jawab:
Hitung harga koefisien virial kedua (B) C = b2 = (0,0638 L3.mol–1)2 = 4,07 x 10–3 L6.mol–2
dan ketiga (C) untuk gas etena pada
27C dimana a=5,489 L6.atm.mol–2, a
B=b–
b=0,0638 L3.mol–1. RT
= – 0,159 L3.mol–1

9
Soal-Soal
1. Hitunglah jumlah mol dan jumlah molekul yang ada dalam 0.25 L gas pada 30C dan p
= 740 mm Hg.
Jawab: Gunakan satuan SI, 740 mm = 740760 atm, = (740/760)x101.325 Pa; 30 C = 303 K;0.25 L=
2.5x10-4m3. Gunakan pV = nRT dengan R = 8.314 menghasilkan n = 0.098 mol. Jumlah molekul
= nx6.02x1023 = 5.89x1021 molekul.

2. Hitunglah tekanan yang digunakan oleh 0.01mol gas ideal dalam 250 ml pada 25C.
Jawab: 9.91x104 Pa=99.1 kPa

3. Hitung volume oksigen pada 30C, p = 7435 mm,Hg, Jika 1.5 g KClO 3 dipanaskan
dan terjadi dekomposisi sempurna.
Jawab: V =0.00047m3 = 0.47L

4. Kerapatan gas yang tidak diketahui pada 0.90 atm dan 27C adalah 1.68 kg.m3. Hitung
massa melolekul gas tersebut.
Jawab: Juga digunakan satuan dalam SI p = 0.9x101.325 = 91,193 Pa, T = 300 K. Kita dapat meng-
gunakan persamaan 1.8 secara langsung untuk menghitung M. Sebut M adalah massa molekul.
Massa 1 m3 = 1.02 kg, jadi 1 m3 mengandung 1.02/M moles = n. Subtitusi kedalam hukum
persamaan gas ideal : 91,193x1 = (1.68/M) x 8.314x300.M =0.046 kg.mol-1=46 g/mol.

5. Kerapatan gas yang tidak diketahui dengan rumus empiris CH 2 pada 0.98 atm, 25C
adalah 1.68 g/L. Apa rumus molekul gas tersebut ?
Jawab: C3H6., propene

6. Hitung tekanan persial H2 dalam campuran hidrogen-hidrogen yang mengandung 20%


massa hidrogen dan tekanan total adalah 750 mm.Hg.
Jawab: Massa hidrogen 20% dalam campuran. Asumsikan 100 g campuran, ini akan mengandung 20 g
H2 dan 80 g N2, atau 20/2=10 mol H2. Fraksi mol X H2 didalam campuran adalah 10/(10+2.86)
=0.78, Jadi tekanan persial H 2 adalah 0.78x750 =585 mm.Hg. Jawaban boleh dalam satuan
mmHg yang penting jawaban harus memiliki satuan.

7. Hitung tekanan parsial O2 dalam campuran SO2 dan O2 yang mengandung 6.4g SO2 dan
6.4g O2 jika tekanan totalnya adalah 1.0 atm.
Jawab: 0.67 atm

8. Udara merupakan campuran 80% mol N2 dan 20% mol O2. Hitung kerapatan udara
pada 1 atm, 298K.
Jawab: 1 mol udara mengandung 0.8 mol N2 dan 0.2 mol O2 dengan massa total 0.8x28+0.2x32 =28.8
g. Jadi massa molekul rata-rata udara adalah 28.8 g/mol atau 0.0288kg/mol.

10
Dari d = pM/RT kita peroleh d = 1.18kg.m-3. Altternatif lain, hitung jumlah mol dalam 1 m3 dan
kalikan dengan 0.0288 akan memberikan jawaban yang sama.

9. Hitung kerapatan campuran He-O2 yang mengandung 20% mol oksigen pada 15C dan
3 atm.
Jawab: 1.26kg/m3

10. Kerapatan campuran gas NO2/N2O4 pada tekanan total 750 mm.Hg dan 120C adalah
1.90 kg.m-3. Hitung % mol NO2 dan tekanan parsial N2O4.
Jawab: Metoda sistematik dapat dilihat sebagai berikut. Misalkan fraksi mol NO2 dalam campuran =
X. Jadi <Mr> campuran = Xx46 +(1  X) x 92. Subtitusi ke persamaan. 1.5. untuk memperoleh
X = 0.35 atau 35% NO2. pN2O4 = 0.65x750 = 488 mmHg.

11. Gunakan nilai a dan b dalam Tabel 1.1, gunakan persamaan van der Waals untuk
menghitung tekanan yang dibutuhkan oleh 2.2 g CO 2 yang ditempatkan dalam volume
10 mL pada 37C. Bandingkan hasil yang diperoleh dengan tekanan gas ideal pada
kondisi yang sama.
Jawab: Karena 2.2 g CO2 = 0.05 mol menempati 0.01 L, volume molar V m=0.01/0.05 =0.2L/mol atau
2x10-4 m3/mol. Dari tabel 1.1. untuk CO2 a = 0.3637 dan b = 4.27x10-5. Subtitusi ke persamaan 1.13
menghasilak p = 7.29x106 Pa atau 72.0 atm. “Tekanan gas ideal” dihitung menggunakan persamaan
1.1 yaitu pideal = 1.29x107 pa atau 127 atm. Terjadi penyimpangan yang besar dari gas ideal untuk CO 2
pada kondisi ini. Jika kita mengasumsikan perhitungan van der Waals sesuai dengan nilai eskperimen,
kemudian kita prediksi Z = 0.57. bandingkan dengan gambar 1.2, 1.3 dan 1.4.

12. Gunakan persamaan van der Waals untuk menghitung tekanan yang ditempati oleh 2.0
mol etilen (=etena) dalam kontaineer 1.40 L pada –20C.
Jawab: 23.2 atm or 2.35 Mpa

13. Nitrous oksida, N2O mempunyai Tc = 36.5C dan pc = 72 atm. Asumsikan bahwa
nitrous oksida sesuai dengan kurva pada gambar 1.5, gunakan gambar ini untuk
memperkirakan massa of nitrous oxide dalam silinder 20 L dengan tekanan 124 atm
pada 100C.
Jawab: Kira-kira 6 kg

14. Hitung massa molar rata-rata dari udara pada laut dan 0C jika densiti udara 1,29 kgm-3
Jawab: Pada laut tekanan mungkin sama denagn 1 atm atau 101.325 Pa
pRT
M
P
M =
-3 2 2 1 1
1,29 kgm x8,314kgm s K mol x 273K
2
M  0,0289kg mol -1  28,9 mol -1
101.325Pa ( Nm
11
15. Hitung temperatur Boyle dalam variabel kosntanta A, b, dan R untuk gas yang

A
mempunyai persamaan keadaa PV = RT+ (b  )p
RT 2 / 3
Jawab: Temperatur Boyle terjadi bila koefisien virial kedua B(T)=0. Kondisi ini terpenuhi bila nilai
A A A A 3/ 2
(b  2/3
)  0 . Dibawah kondisi ini T = T B
b  2/3
2 / 3 TB  TB  ( )
RT RT B bR bR

16. Hitung koefisien virial kedua untuk hidrogen pada 0C dari fakta bahwa volume molar
pada 50, 100, 200 dan 300 atm adalah berturut-turut 0,4634; 0,2386; 0,1271; dan
0,09004 L mol-1
Jawab: 0,0138 L mol-1

17. Koefisien virial kedua B dari metil isobotil keton adalah –1580 cm 3mol-1 pada 120C.
Bandingkan faktor daya mampat pada suhu ini dengan nilai dari gas ideal pada 1 atm.
Jawab: 0,951

18. Hitung konsentrasi dalam mol L-1 dari gas ideal pada 298,15 Konsumtif dan pada
(a) 101,325 kPa (1 atm)
(b) 1,00x10-4Pa(=10-9 atm)
Dalam masing-masing kasus tentukan jumlah molekul dalam 1,00 dm3
Jawab: a. 0,0409 mol/dm-3,2,46 x 1022dm-3 b. 4,03x11-11 mol dm-3,2,43 x 1013dm-3

19. Densiti udara pada 101,325 kPa dan 298,15 K adalah 1,159 g dm -3. Asumsi bahwa
udara bersifat sebagai gas ideal. Hitung massa molarnya
Jawab: 28,36 g mol-1

20. Gas bersifat ideal mempunyai densiti 1,92 dm-3 pada 150 kPa dan 298 K. Berapakah
massa molar sampel.
Jawab: 31,7 g mol-1

21. Dengan menggunakan pendekatan gas ideal, hitung berat jenis udara pada 25C dan
tekanan 750 mmHg. Dengan mengganggap komposisi udara (% mol); 78% N2, 21%
O2 dan 1% Argon.

12
22. Seorang penjual balon Helium dimana setiap balon diisi dengan 10 g He pada tekanan
1,05 atm dan 20C. a) Berapa volume gas He tiap balon, b) Dalam suatu acara TV dari
Mr. Bean, beberapa balon He mengangkat sebuah keranjang bayi (bersama dengan
bayinya. Jika berat bayi 8 kg dan dan keranjang 12 kg, berapa balon yang dibutuhkan ?

23. Berat jenis campuran He(g) dan O 2(g) pada 25C dan tekanan 750 mmHg, adalah
0,5003 kg/m3. Hitung; a) fraksi mol campuran He dan O 2, dan b) tekanan parsial He
dan O2.

24. Berat jenis dari gas dalam kesetimbangan dengan padatan NH 4Cl diperoleh 0,1373 gL-1
pada 597 K dan 25.600 Pa (Rodebush and Michalek, JACS 51(1929)748). Dari data
ini, bagaimana pendapat anda tentang reaksi penguraian dalam gas amonium klorida
pada temperatur ini ?

25.

13