Anda di halaman 1dari 37

Laporan Walkthrough Survey

(Peternakan Sapi Perah Camp 91)

Disusun oleh:
Kelompok Tutorial 9
Arinda Stefani (1518011037)
Charisatus Sidqotie (1518011189)
Nindya Augesti (1518011191)
Nadia Gustria Dini (1518011049)
Nadhia Khairunnisa (1518011074)
Rachmatia Ramadanti (1518011128)
Zihan Zetira (1518011151)
Nikom Sonia Purohita (1518011107)
Danang Hafizfadillah (1518011144)
M. Azzibaginda Ganie (1518011137)
Ni Putu Sari Widyani (1518011150)

Pembimbing:
dr. Merry Indah Sari, S.Ked., M.Med.Ed

Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung
Bandar Lampung
2018
ii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulilah, puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun laporan walkthrough survey peternakan

sapi perah dengan tepat waktu.

Selanjutnya, laporan walkthrough survey ini disusun dalam rangka memenuhi tugas dalam Blok

Agromedicine. Kepada dr. Merry Indah Sari, S.Ked., M.Med.Ed sebagai dosen pembimbing,

kami ucapkan terima kasih atas bimbingan dan arahannya sehingga laporan ini dapat

diselesaikan dengan baik.

Kami menyadari banyak kekurangan dalam penulisan laopran ini, baik dari segi isi, bahasa,

analisis dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kami ingin meminta maaf atas segala kekurangan

tersebut, karena keterbatasan kami dalam pengetahuan, wawasan dan keterampilan. Selain itu

kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan, guna untuk kesempurnaan laporan

selanjutnya dan perbaikan untuk kita semua. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan dapat

memberikan wawasan berupa ilmu pengetahuan untuk kita semua.

Wassalammua’alaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, 17 Oktober 2018

Kelompok Tutorial 9
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara agrikultur yang sebagian besar masyarakatnya bermata

pencaharian di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Usaha peternakan

merupakan salah satu yang diminati oleh masyarakat sebagai sumber pemasukan utama

maupun sebagai penghasilan tambahan. Peternakan dapat dikategorikan menjadi dua

yaitu peternakan pemeliharaan dan pembiakan. Peternakan pemeliharaan adalah menjaga

dan merawat ternak yang bertujuan meningkatkan kualitas ternak untuk dijual kembali

atau dikonsumsi. Sedangkan pembiakan adalah usaha memperbanyak hewan ternak untuk

dijual atau dikonsumsi hasilnya (Pranamyaditia, 2016).

Berdasarkan jenis hewan yang diternakan, peternakan dapat dibedakan menjadi tiga jenis,

yakni peternakan hewan besar, peternakan hewan kecil, dan peternakan hewan unggas.

Peternakan hewan besar membudidayakan hewan-hewan bertubuh besar, seperti sapi,

kuda, dan kerbau. Ternak hewan-hewan bertubuh besar diambil manfaatnya dalam bentuk

susu, daging, kulit, dan tenaganya sebagai alat transportasi. Peternakan hewan kecil

membudidayakan hewan-hewan bertubuh kecil, seperti babi, kambing, domba, kelinci,

dan lainnya. Manfaat berternak hewan-hewan kecil adalah untuk diambil susu, daging,

dan kulitnya. Ayam, bebek, angsa, itik, dan puyuh merupakan beberapa contoh hewan
2

unggas yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Manfaat berternak hewan-hewan

unggas adalah untuk diambil daging, telur, bulu, atau sebagai penghibur untuk dinikmati

suara atau keindahannya (Pranamyaditia, 2016).

Provinsi Lampung memiliki banyak usaha peternakan. Mulai dari usaha peternakan

berskala kecil hingga besar. Sebagian besar usaha peternakan di Indonesia (termasuk

Lampung) masih bersifat subsisten, dengan cirri skala usahanya yang kecil, dikelola

perorangan, tidak ekonomis, dilakukan dengan cara tradisional dan teknologi sederhana.

Contohnya adalah peternakan sapi perah Camp 91, Kemiling, Bandar Lampung.

Sedangkan usaha peternakan yang besar biasanya dikelola oleh badan usaha yang bersifat

milik negara atau swasta. Salah satu contohnya adalah perusahaan Dairy Farm PT Great

Giant Livestock di Terbanggi Besar, Lampung Tengah.

Potensi bahaya (hazard) menjadi problematika bagi perindustrian, termasuk industri

peternakan sebab merupakan sumber risiko yang potensial mengakibatkan kerugian

material, lingkungan, dan manusia. Salah satu bentuk risiko bahaya yang dapat muncul

adalah penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh berbagai potensi bahaya di lingkungan

kerja. Jika dikelompokkan, beberapa bahaya kerja yang dominan dapat dibagi menjadi

bahaya fisik, bahaya biologi, bahaya ergonomi dan bahaya psikososial. Keempat jenis

bahaya tersebut muncul karena adanya pengaruh dari lingkungan kerja dan/atau dari

faktor pekerja itu sendiri (Kurniawidjaja, 2010)

Penyakit akibat kerja dapat dicegah dengan tiga cara, yaitu primer, sekunder, dan tersier.

Pencegahan primer adalah usaha atau tindakan para pekerja agar tidak terpajan zat-zat

berbahaya, contohnya dengan menggunakan alat pelindung diri. Sedangkan pencegahan


3

sekunder diperlukan untuk mendeteksi dini penyakit akibat kerja, salah satunya adalah

dengan penyuluhan. Dan yang terakhir adalah pencegahan tersier yaitu mencegah terjadi

kecacatan pada pekerja yang sudah terkena penyakit akibat kerja. Hal tersebut bisa

dilakukan dengan pemeriksaan kesehatan berkala untuk evaluasi penyakit (Organisasi

Perburuhan Internasional, 2008).

Berdasarkan uraian di atas kami bermaksud untuk melakukan survey dan intervensi pada

peternakan yang berada di kota Bandar lampung yaitu peternakan sapi perah Camp 91.

1.2 Tujuan

Walkthrough Survey ini bertujuan untuk mengetahui proses produksi susu sapi pada

peternakan sapi perah Camp 91, mengidentifikasi bahaya potensial yang ada dari aspek

fisik, biologis, kimia, ergonomi, psikologi dan pengaruhnya terhadap masalah kesehatan,

serta menentukan usaha yang dapat dilakukan untuk menghindari masalah kesehatan

yang berpotensi timbul dari bahaya potensial yang ada.

1.3 Manfaat

1.3.1 Bagi Mahasiswa

Mampu mengidentifikasi bahaya potensial yang meliputi aspek fisik, biologis,

kimia, ergonomi, psikologi pada peternakan sapi perah Camp 91, mengidentifikasi

masalah kesehatan yang berpotensi timbul serta menentukan usaha yang mungkin

dilakukan untuk mencegah potensi timbulnya masalah kesehatan akibat bahaya

potensial yang ada.


4

1.3.2 Bagi Industri

1. Mengetahui bahaya potensial yang terdapat pada lingkungan kerja.

2. Mengetahi masalah kesehatan yang mungkin timbul bagi para pekerja pada

industri pemerahan susu.

3. Memperoleh informasi mengenai masalah kesehatan yang mungkin timbul

akibat bahaya potensial yang teridentifikasi serta mengetahui usaha yang dapat

diterapkan pada industri untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan

pekerja maupun kualitas produk susu.


BAB II
HASIL KEGIATAN

2.1 Profil Perusahaan

Industri pemerahan susu sapi yang terletak di Jl. Moh. Ali No. 68, Kedaung, Kemiling,

Bandar Lampung terletak cukup jauh dari pemukiman warga agar kontaminasi bakteri

dari kotoran sapi dapat dihindari. Pemerahan susu sapi yang didirikan oleh Bapak Apri

Irwansyah sejak tahun 2014 ini memiliki empat orang pekerja yang sudah bekerja sejak

awal berdirinya industri ini. Usia rata-rata pekerja berkisar pada 20 tahun, yang

merupakan usia produktif untuk bekerja. Para pekerja dibagi menjadi dua kelompok,

yaitu dua pekerja yang bertugas memerah susu sapi sampai memprosesnya hingga

matang untuk dijual dan dua orang pekerja lainnya bekerja untuk memberi makan sapi-

sapi yang dipelihara.

Sapi yang terdapat di peternakan ini berjumlah 26 ekor. Sembilan diantaranya merupakan

sapi perah dan tujuh belas sapi sisanya adalah sapi penggemukan dan peranakan. Hasil

produksi yang didapatkan pada industri ini adalah susu sapi murni. Dalam satu hari dapat

menghasilkan kurang lebih 100 liter susu murni. Masing-masing sapi setiap harinya

mampu menghasilkan kira-kira 11 liter susu. Susu sapi murni ini selanjutnya

didistribusikan ke konsumen yaitu kafe-kafe yang menjual susu aneka rasa untuk

kemudian diolah kembali. Selain itu, susu juga dapat dibeli langsung pada lokasi
6

pemerahan susu dengan harga per-liternya adalah 11 ribu rupiah, sehingga dalam sebulan

hasil kotor yang didapat dari industri ini sekitar Rp 33.000.000,00.

Terdapat 3 tahapan utama untuk memproduksi susu sapi murni yaitu proses pemerahan,

pemasakan, dan pengemasan. Pemerahan dilakukan di kandang yang berukuran sekitar 7

m x 20 m. Tipe kandang merupakan kandang terbuka dengan dinding semi terbuka yang

tingginya hanya 1,5 m dari tinggi total antara atap dengan lantai sekitar 3,6 m. Bahan

bangunan terbuat dari bahan yang tahan lama, mudah didapat, dan ekonomis. Lantainya

terbuat dari semen cor yang dialasi oleh karpet karet. Atapnya terbuat dari bahan asbes

dengan design monitor seperti pada gambar 1.

Terdapat dua deret sapi yang berhadapan antar kepalanya, di tempatkan dengan metode

freestall. Diantara dua deret sapi yang ada, terdapat lorong panjang dengan lebar 1,5 m

untuk mempermudah pekerja dalam memberikian makanan dan minuman pada sapi,

namun kondisi lantai cukup licin.

Gambar 1. Model Atap Monitor

Selokan untuk sistem pembuangan memiliki lebar 30 cm dan kedalaman 15 cm dari awal

hingga akhir. Limbah kotoran yang tidak dapat mengalir dengan sendirinya menyebabkan
7

pekerja harus membersihkan dan membuang limbah tersebut ketempat akhir pembuangan

untuk dijadikan biogas, namun hal tersebut dilakukan diakhir pekerjaan sehingga selama

proses pemerahan kotoran masih terdapat di selokan yang terhambat.

Rumah penjaga berjarak 2 meter dari kandang sapi. Rumah penjaga merupakan bangunan

semi permaren yang berukuran 5 x 10 m. Dindingnya terbuat dari bata merah dan geribik.

Atapnya terbuat dari genting tanpa plafon. Lantainya terbuat dari semen cor. Terdapat 1

jendela besar di bagian depan rumah dan 2 jendela yang terletak di bagian samping

rumah.

Proses pemerahan dilakukan dua kali dalam satu hari, yaitu pada pagi hari pukul 06.00

yang menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam dan pada sore hari dimulai pada

pukul 17.00 yang memakan waktu 1 jam. Jumlah sapi yang diperah pada pagi hari dan

sore hari sama yaitu 9 sapi, namun pagi hari berlangsung lebih lama karena sapi

menghasilkan lebih banyak susu setelah istirahat yang lama pada malam hari. Pagi hari

menghasilkan 60 liter susu dan sore hari menghasilkan 40 liter susu sapi. Selama proses

pemerahan pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri berupa sepatu boots, pakaian

khusus untuk memerah, sarung tangan, masker, dan penutup rambut. Pekerja hanya

menggunakan sandal jepit dan baju berlengan pendek yang biasa digunakan sehari-hari.

Pekerja juga tidak mencuci tangan dengan menggunakan sabun sebelum melakukan

pekerjaanya. Sebelum sapi diperah, sapi dan kandang sapi dibersihkan terlebih dahulu

dengan air mengalir.

Selama proses pemerahan, pemerah duduk di atas kursi yang lebih rendah di sebelah

kanan sapi. Bagian puting sapi dibersihkan dengan menggunakan air hangat untuk
8

membunuh kuman kuman. Pemerahan dilakukan dengan teknik whole hand, yang

sebelumnya diberikan vaselin agar mempermudah proses pemerahan. Susu yang pertama

kali keluar dibuang sebanyak 3-4 kali untuk memastikan susu sapi yang ditampung

setelahnya terbebas dari kuman. Pemerahan dilakukan hingga susu pada masing-masing

puting habis untuk mengindari radang pada puting sapi. Hasil pemerahan ditampung

menggunakan ember khusus hasil pemerahan yang terbuat dari stainless steel.

Setelah susu selesai diperah, susu dibawa ke tempat perebusan yang jaraknya sekitar 3 m

dari tempat pemerahan. Proses perebusan dilakukan di bangunan semi permanen yang

berukuran 3 x 3 m dengan lantai semen cor dan dilapisi dengan karpet karet agar tidak

licin. Dindingnya terbuat dari bata merah dan geribik. Atapnya terbuat dari asbes tanpa

plafon dengan jarak antara lantai dan atap sekitar 3,5 m. Tidak terdapat ventilasi pada

ruang ini. Perebusan dilakukan menggunakan kompor yang tersambung dengan biogas

hasil kotoran sapi sebelumnya. Sebelum merebus, susu disaring terlebih dahulu

menggunakan kain penyaring tahu. Susu tidak direbus langsung di atas api agar

kandungan zat gizi dalam susu tetap terjaga. Proses perebusan berlangsung selama kurang

lebih 30 menit hingga mencapai suhu 70-80oC. Selama proses tersebut pekerja duduk di

depan kompor dan terus mengaduk agar susu tidak menggumpal. Selama proses

perebusan stainless steel milk can tidak ditutup dan memungkinkan debu di asbes jatuh

ke dalam susu. Setelah suhu mencapai 70-80oC kompor dimatikan dan susu dibiarkan

dingin terlebih dahulu hingga suhu mencapai 20oC.

Proses yang terakhir adalah proses pengemasan. Pengemasan dilakukan di tempat yang

sama seperti tempat proses pemasakan. Susu yang sudah dingin di stainless steel milk can

selanjutnya dipindahkan ke panci besar lalu dimasukan ke dalam plastik kiloan yang
9

biasa terdapat di pasaran, namun tidak terdapat kode daur ulang yang tercantum pada

kemasannya. Pemindahan dari panci ke dalam kantong plastik dilakukan dengan

menggunakan teko air berbahan plastik.


13

Industri pemerahan sapi yang kami kunjungi pada kegiatan walkthrough survey yang

beralamat di Kedaung, Kemiling ini memiliki 4 orang pekerja yang masing-masing saling

bekerjasama dalam melakukan kegiatan produksi susu mulai dari pemerahan susu,

perebusan susu, hingga pengemasan dan pengantaran ke konsumen. Setelah melakukan

kunjungan dan mengamati alur produksi serta mewawancarai pekerja, kami menemukan

berbagai bahaya potensial baik dari segi fisik, biologi, psikologis, maupun ergonomis

yang mungkin dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan yang berkaitan dengan

pekerjaan.

Bahaya potensial yang ada pada industri ini dari segi fisik yaitu lantai kandang sapi yang

sekaligus sebagai lokasi pemerahan susu cukup licin karena kondisi lantai yang selalu

basah baik karena air, kotoran sapi, maupun urin sapi yang jumlahnya cukup banyak.

Lantai yang licin ini dapat menjadi potensial terjadinya kecelakaan kerja berupa

tergelincir hingga jatuh. Selain itu, ruang perebusan susu juga cukup panas karena sumber

pemanasan yang digunakan adalah biogas dan ruangan perebusan sangat sempit dan

tertutup dengan ventilasi yang sangat minimal. Proses perebusan yang berlangsung cukup

lama dengan kondisi ruangan yang seperti ini menyebabkan pekerja mengeluhkan panas,

sesak, dan cukup gelap.

Bahaya potensial kimia yang ditemukan yaitu debu asbes pada kandang sapi dan ruang

perebusan. Debu asbes ini merupakan salah satu bentuk debu anorganik yang mungkin

terhirup oleh pekerja. Masuknya debu asbes secara kronik ke dalam saluran pernapasan

dapat menyebabkan pneukomoniosis yaitu berupa asbestosis (Roggli et al., 2010).


14

Bahaya potensial biologi yang mungkin terjadi pada kegiatan produksi ini adalah bakteri

dan jamur yang dapat menyebabkan kontaminasi susu maupun infeksi pada pekerja.

Lingkungan kerja industri ini terutama pada bagian pemerahan susu dapat dikatakan

kurang bersih. Kotoran sapi dan urin yang cukup banyak menyebabkan kandang sapi

selalu dalam keadaan basah, kotor, dan bau. Kotoran sapi juga mengenai hingga tubuh

sapi dan puting sapi yang akan diperah sehingga kemungkinan bakteri yang

mengkontaminasi susu mungkin saja ada meskipun sebelum pemerahan telah dilakukan

pembersihan dan pengolesan vaselin pada puting. Pekerja juga tidak menggunakan

sarung tangan pada kegiatan ini sehingga kontaminasi bakteri pada makanan mungkin

saja terjadi. Kondisi sapi yang dipelihara dengan kurang baik juga dapat menjadi

reservoir beberapa bakteri/parasit penyakit tertentu. Pada semua kegiatan produksi,

pekerja hanya menggunakan alas kaki berupa sandal jepit. Kondisi yang sangat lembab

dan kotor pada lantai kandang dapat menimbulkan infeki jamur terutama bagian kaki dan

kuku pekerja (Septianingsih, 2015).

Bahaya potensial dari sisi ergonomi yang ada pada kegiatan produksi ini yaitu berbagai

posisi tubuh saat melakukan kegiatan yang kurang ergonomis. Saat proses pemerahan

dilakukan, pekerja harus selalu dalam keadaan berjongkok. Posisi jongkok yang cukup

lama dilakukan pagi dan sore setiap hari ini memungkinkan berbagai keluhan terutama

pegal daerah kaki, back pain, maupun low back pain (Natoshba dan Jaji, 2016).

Setelah pemerahan dilakukan, susu sapi diangkut menuju ruangan perebusan yang

berjarak beberapa meter. Posisi pekerja saat membawa ember penampung susu perah

kurang ergonomis. Posisi tubuh pekerja condong ke satu sisi dikarenakan beban susu

hanya ada pada satu sisi, tidak diimbangi di kedua sisi. Pengangkutan ini dilakukan
15

berkali-kali sesuai jumlah sapi yang diperah setiap hari pagi dan sore hari. Pada proses

perebusan, kondisi pekerja dalam keadaan duduk sedikit condong kedepan karena harus

mengaduk susu hingga mendidih. Posisi duduk dan condong ini kurang ergonomis dan

berpotensi menimbulkan berbagai keluhan (Ulfah et al., 2014).

Selain bahaya potensial fisik, kimia, biologi, dan ergonomi yang telah dijelaskan di atas,

bahaya potensial yang ada pada kegiatan produksi ini adalah dari segi psikologi. Pekerja

pada industri ini diharuskan tinggal di tempat pemerahan. Lokasi pemerahan ini cukup

jauh dari pemukiman sekitar yaitu berjarak beberapa ratus meter. Di sekeliling tempat ini

tidak ada penduduk lain ataupun tetangga. Pekerja mengeluhkan merasa sepi dan bosan

karena interaksi yang sangat kurang dengan orang lain setiap hari. Selain itu, kegiatan

produksi ini juga dilakukan setiap hari dari hari senin hingga hari minggu tanpa libur.

Dari segi jam kerja perhari, pekerja merasa tidak terlalu berat namun pekerja

mengeluhkan membutuhkan hari libur. Namun karena pemerahan harus dilakukan setiap

hari, tidak ada hari libur yang tersedia.

2.3 Intervensi

Proses yang kami intervensi adalah proses pemerahan sapi. Diketahui alat yang tersedia

tidak memadai untuk melindungi pekerja. Pada industri tersebut belum ada alat pelindung

diri karena kurangnya pengetahuan akan hal tersebut. Pekerja menyatakan jika

penggunaan sepatu boots tidak nyaman. Maka dari itu kami melakukan intervensi dengan

melakukan promosi kesehatan kepada pekerja dan membuat laporan rekomendasi kepada

pemilik. Metode Promosi Kesehatan ini dipilih agar pekerja dapat merubah dan

meningkatkan kesehatannya sendiri. Promosi kesehatan ini menggunakan media


16

intervensi berupa poster tentang penggunaan APD dan kandang besih dan sehat. Selain

itu juga dilampirkan hasil temuan dan saran yang ditujukan kepada pemilik industri

pemerahan sapi.

Hal yang disampaikan dalam penggunaan APD adalah penggunaan hair net, masker,

handscoen, baju khusus dan sepatu boots. Agar pekerja lebih mudah mengingatnya

disingkat menjadi HAMAS BATU. Pada intervensi kandang, disampaikan bahwa

pembersihan kandang dilakukan rutin menggunakan air yang disemprot. Pembersihan

kandang juga menggunakan desinfektan untuk bakteri.

Komunikasi dilakukan melalui komunikasi dua arah antara pemapar dan pekerja sehingga

terciptanya suasana yang kondusif dan membuka waktu untuk pekerja jika ada yang

kurang dipahami tentang materi. Hasil yang diharapkan agar para pekerja dapat

melakukan pencegahan dimulai dari hal-hal yang penting yaitu pemakaian APD saat

melakukan proses pemerahan dan juga pembersihan kandang yang sehat. Lampiran

laporan hasil observasi dan rekomendasi yang di berikan kepada pemilik pemerahan sapi

diberikan agar pemilik mengetahui apa saja hasil temuan yang kami lakukan dan apa saja

saran-saran yang dapat membantu industri tersebut.

2.4 Evaluasi

Setelah kegiatan intevensi, kegiatan selanjutnya yang dilakukan adalah evaluasi kegiatan.

Tujuan dari evaluasi kegiatan adalah untuk mengetahui dan memastikan bahwa intervensi

yang dilakukan telah berhasil mencapai tujuan. Sebelumnya, intervensi yang dipilih yaitu

pada bagian alur pemerahan susu karena dinilai memiliki bahaya potensial yang paling

besar dibanding alur produksi lainnya. Topik yang diangkat yaitu penggunaan Alat
17

Pelindung Diri (APD) yang benar dan penerapan kandang sapi sehat. Metode intervensi

yang dilakukan berupa penyampaian materi secara lisan dengan tujuan meningkatkan

pengetahuan pekerja mengenai dua hal tersebut. Evaluasi yang dilakukan pada kegiatan

ini berupa post test secara lisan. Metode ini dipilih dengan alasan pekerja yang akan

dievaluasi jumlahnya hanya sedikit yaitu 4 orang pekerja, metode ini juga cukup

sederhana untuk dilakukan serta dapat mengeksplorasi lebih jauh pengetahuan pekerja

mengenai apa yang telah disampaikan secara langsung karena pertanyaan yang digunakan

berupa pertanyaan terbuka.

Beberapa pertanyaan yang kami ajukan ke masing-masing pekerja setelah intervensi

dilakukan yaitu :

1. Alat pelindung diri apa saja yang sebaiknya digunakan saat proses pemerahan?

2. Apa kegunaan penggunaan alat pelindung diri berupa sepatu boots dan sarung tangan

karet?

3. Bagaimana cara membersihkan kotoran sapi yang benar agar kandang senantiasa

bersih?

4. Bagaimana cara memelihara kebersihan tubuh sapi yang baik?

5. Mengapa menjaga kebersihan kandang penting untuk dilakukan?

Pertanyaan ini diajukan kepada pekerja secara terpisah sehingga pekerja tidak dapat

meniru jawaban pekerja lain. Dari lima pertanyaan yang diajukan, 3 pekerja menjawab 4

pertanyaan dengan benar dan 1 pekerja menjawab semua pertanyaan dengan benar sesuai

dengan teori yang telah dijelaskan sebelumnya. Dari hasil tersebut, kami menyimpulkan

bahwa kegiatan intervensi untuk meningkatkan pengetahuan pekerja mengenai


18

penggunaan APD dan kandang sehat ini telah berhasil dilakukan. Evaluasi yang

dilakukan ini hanya sebatas untuk menilai pengetahuan dan bukan untuk menilai adanya

perubahan perilaku atau tidak.


BAB III
PEMBAHASAN

Dari walkthrough survey yang telah kami lakukan, kami mengacu pada hierarki

pengendalian bahaya atau resiko K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) yang disajikan

pada tabel berikut:

Tabel 2. Hierarki pengendalian bahaya atau resiko berdasarkan K3

Hierarki Pengendalian Bahaya/Resiko K3


Eliminasi Eliminasi sumber bahaya Tempat kerja/pekerjaan aman
Substitusi Substitusi alat/mesin/bahan mengurangi bahaya
Perancangan Modifikasi/perancangan
alat/mesin/tempat kerja yang
lebih aman
Administrasi Prosedur, aturan, pelatihan, Tenaga kerja aman
durasi kerja, tanda bahaya, mengurangi paparan
rambu, poster, label
APD Alat perlindungan diri tenaga
kerja
Sumber: Adityanto dan Sony, 2014

Pengendalian resiko atau bahaya dengan cara eliminasi memiliki tingkat keefektifan,

kehandalan dan proteksi tertinggi di antara pengendalian lainnya. Seperti yang kami

lakukan saat pertemuan pertama yaitu identifikasi masalah. Industri sapi perah memiliki 3

proses utama yaitu proses pemerahan, perebusan, dan pengemasan dengan produk akhir

berupa susu sapi murni. Dari tiga proses tersebut yang memiliki bahaya potensial paling

beresiko adalah proses pemerahan. Proses pemerahan adalah proses yang penting karena

proses ini bertujuan untuk mendapatkan jumlah susu maksimal dari ambingnya, apabila
20

proses pemerahan tidak sempurna dapat menimbulkan kerusakan pada ambing dan puting

karena infeksi mastitis yang sangat merugikan hasil susu (Putra, 2009). Sebelum

memerah susu, pemerah hanya melakukan cuci tangan dengan air bersih tanpa

menggunakan sabun atau desinfektan. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa

susu yang dihasilkan dapat tercemar oleh beberapa bakteri. Semua pekerja haruslah selalu

menjaga kebersihan tangannya dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau

desinfektan (Navyanti dan Retno, 2015).

Salah satu bahaya potensial fisik pada proses pemerahan yaitu lantai kandang sapi yang

sekaligus sebagai lokasi pemerahan susu cukup licin karena kondisi lantai yang selalu

basah baik karena air, kotoran sapi, maupun urin sapi yang jumlahnya cukup banyak

sehingga kandang terlihat kotor. Limbah kotoran sapi tidak dapat mengalir dengan

sendirinya sehingga pekerja harus membersihkan dengan menggunakan alat pendorong

dan membuang limbah tersebut ke tempat akhir pembuangan untuk dijadikan biogas.

Namun, hal ini masih belum terlaksana dengan baik. Kotoran sapi terlihat masih

memenuhi aliran selokan dan lantai kandang sapi. Kandang yang kotor sangat merugikan

karena:

a. Berakibat buruk utamanya terhadapkesehatan pemelihara

b. Berakibat buruk terhadap kesehatan ternak. Lantai kandang yang kotor, basah atau

lembab dapat memicu terjadinya bahaya potensial biologi karena kondisi tersebut

merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroba yang dapat mencemari

ambing dan puting sehingga memudahkan terjadinya penyakit radang pada

ambing (mastitis)

c. Menurunkan kualitas susu:


21

 Susu tercemar mikroba sehingga cepat rusak atau cepat pecah

 Susu menjadi bau karena menyerap bau kandang (Putra, 2009).

Lingkungan kandang yang kotor, basah, dan lembab menyebabkan tingginya tingkat

kerentanan pekerja pada infeksi (Setianingsih dkk, 2015). Idealnya saat memerah, pekerja

menggunakan sepatu boots (Ikhwan, 2013). Akan tetapi, pekerja sapi perah yang kami

observasi hanya menggunakan sendal jepit saat melakukan pemerahan.

Penyakit infeksi yang sudah dialami oleh salah satu pekerja industri sapi perah yang kami

observasi ini adalah infeksi jamur pada kuku (Tinea unguium). Gejala yang nampak pada

pekerja ini adalah kerusakan pada kuku, diantaranya kuku menjadi lebih tebal dan tampak

terangkat dari dasar perlekatannya atau onycholysis, pecah-pecah, tidak rata dan tidak

mengkilat lagi, serta perubahan warna lempeng kuku menjadi kuning hingga coklat.

Berdasarkan hal di atas maka kebersihan kandang harus selalu dijaga. Sanitasi kandang

dan peralatan dilakukan sebelum memulai pemerahan susu. Caranya adalah dengan:

a. Membersihkan tempat makan dan minum

b. Membersihkan lantai kandang

c. Memiliki tempat khusus untuk menyimpan ataumembuang kotoran sapi

d. Lantai kandang, lorong tempat orang berjalan harus tetap bersih dan kering

e. Pembuangan air dalam kandang harus tersalur dengan baik dan diusahakan agar

tidak terjadi genangan air di dalam dan di sekitar kandang. Berdasarkan desain

kandang yang baik, seharusnya ukuran selokan mempunyai lebar 50 cm dan

memiliki kedalaman ± 5 cm dan berakhir dengan kedalaman yang lebih dalam

sekitar 15 cm sehingga air dapat mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang
22

lebih rendah agar mempermudah pengaliran air pembuangan dan memudahkan

untuk membersihkannya (Putra, 2009).

Pembersihan kandang dimulai dengan menggunakan air mengalir, beri desinfektan dan

terakhir lakukan pengapuran pada seluruh lantai dan dinding kandang untuk membunuh

bakteri. Sapi dimandikan setiap sebelum pemerahan agar kotoran tubuh sapi tidak

mengkontaminasi susu saat terjadi proses pemerahan. Kebersihan diri pekerja yang harus

disiapkan sebelum memerah susu antara lain kuku pendek, baju bersih karena susu

mudah menyerap bau lingkungan, dan mencuci tangan. Kami juga memberikan

rekomendasi kepada pekerja di ternak sapi untuk memakai alat pelindung diri seperti

hairnet, masker, sarung tangan karet, baju panjang yang bersih, dan sepatu boots agar

terhindar dari penyakit dan kecelakaan akibat kerja (Syarif dan Bagus, 2011).

Bahaya potensial kimia yang kami temukan yaitu atap kandang sapi terbuat dari asbes.

Asbes merupakan campuran silikat anorganik yang memiliki serat yang kuat dan

berstruktur kristal. Asbes dapat mempengaruhi tubuh pekerja bila serat-seratnya terhirup.

Sekali terhirup, serat tersebut akan bertahan di dalam jaringan paru yang dapat

menyebabkan asbestosis, sesak nafas, dan kanker paru. Penyakit-penyakit tersebut

diperkirakan akan timbul setelah paparan selama 10-30 tahun (Salawati, 2015). Pekerja

dalam industri sapi perah yang kami observasi baru 3-4 tahun terpapar dengan asbes

sehingga tidak ditemukan adanya keluhan sesak nafas pada pekerja. Bahan lain yang

lebih aman untuk sapi dan pekerja yang bisa dimanfaatkan sebagai atap kandang yaitu

genteng, daun kelapa, daun nipah, daun rumbia, rumput kering, atau jerami. Bahan atap

rumput kering atau jerami mampu menahan dengan baik radiasi matahari yang terpancar
23

secara langsung. Namun sebagian besar peternak menggunakan atap genteng (86,18%)

agar kondisi di kandang tidak terlalu panas bagi sapi perah (Septianingrum, 2010).

Bahaya potensial ergonomi pada saat pemerahan susu adalah proses memerah sapi yang

mengharuskan pekerja untuk berjongkok cukup lama setiap hari. Sikap kerja yang tidak

fisiologis diantaranya adalah jongkok, duduk membungkuk, dan sebagainya. Sikap kerja

yang tidak ergonomis pada akhirnya dapat menimbulkan keluhan-keluhan seperti

gangguan pada sistem muskuloskeletal. Sikap kerja tersebut jelas akan menyebabkan

beban postural yang berat. Jika beban postural ini terjadi dalam jangka waktu yang lama,

maka akan menimbulkan postur strain yang merupakan beban mekanik statis bagi otot.

Kondisi ini akan mengurangi aliran darah ke otot sehingga terjadi gangguan

keseimbangan kimia di oto yang bermuara kepada terjadinya kelelahan otot. Salah satu

penyakit akibat kerjanya adalah gangguan tulang belakang atau nyeri punggung bawah

yang dapat mengakibatkan kehilangan jam kerja sehingga mengganggu produktivitas

kerja (Natosba dan Jaji, 2016). Salah satu cara untuk mengurangi resiko terjadinya

gangguan muskuloskeletal adalah dengan menggunakan alat bantu saat memerah seperti

tempat duduk untuk mengurangi kompresi lutut (Maulida dkk, 2017).


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Pemerahan susu sapi di Camp 91 memiliki 3 alur produksi yaitu pemerahan,

perebusan dan pengemasan susu.

2. Bahaya potensial yang ditemukan meliputi aspek fisik, kimia, biologi, ergonomi

dan psikologis.

3. Bahaya potensial paling beresiko ada pada alur produksi pemerahan susu.

4. Penggunaan APD dan kandang sapi sehat dapat diterapkan sebagai usaha untuk

mencegah masalah kesehatan yang mungkin timbul akibat bahaya potensial yang

ada.

4.2 Saran

1. Pemilik industri pemerahan susu sapi Camp 91 diharapkan dapat membuat dan

menerapkan aturan berupa SOP pemerahan susu yang sesuai standar.

2. Pekerja diharapkan dapat menerapkan penggunaan APD terutama berupa sepatu

boots, sarung tangan karet, hair net, dan masker demi kesehatan dan keselamatan

kerja serta demi mendapatkan kualitas produk susu yang lebih baik.
25

3. Pemilik dan pekerja diharapkan mampu menciptakan kandang sapi yang lebih

sehat dengan memperhatikan kebersihan kandang terutama pada bagian

pembersihan kotoran sapi dan pemandian sapi agar lebih sering dilakukan, serta

memperhatian selokan kotoran sapi agar alirannya lebih lancar.


DAFTAR PUSTAKA

Adityanto B, Sony I. 2014. Manajemen risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Semarang:Universitas Diponegoro.

Gill FS, Harrington JM. 2005. Buku saku kesehatan kerja edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Ikhwan K. 2013. Evaluasi good milking practice pada peternakan sapi perah rakyat di
KelurahanKebon Pedes Kecamatan Tanah Sareal Bogor. Bogor: IPB.

Kurniawidjaja, L. Meily. 2010. Teori dan aplikasi kesehatan kerja. Jakarta: UI Press.

Maulida I, Retno AW, Nyoman M. 2017. Hubungan nyeri lutut dengan posisi kerja
berjongkokdan faktor resiko lainnya pada peternak sapi perah. eKJI. 6(2): 95.

Natosba J, Jaji. 2016. Pengaruh posisi ergonomis terhadap kejadian low back pain.
Palembang:Universitas Sriwijaya.

Navyanti F, Retno A. 2015. Higiene sanitasi, kualitas fisik dan bakteriologi susu sapi segar
perusahaan susu X di Surabaya. J. Kesling. 8(1): 36-47.

Organisasi Perburuhan Internasional. 2018. Hidup saya pekerjaan saya pekerjaan yang aman,
mengelola risiko di lingkungan pekerjaan. Jakarta: Organisasi Perburuhan Internasional.

Pranamyaditia, Cokorde Dhio. 2016. Risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja peternakan
sapi di PT X cabang Kota Kediri. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health 5
(1):1–10.
Putra A. 2009. Potensi penerapan produksi bersih pada usaha peternakan sapi perah [tesis].
Semarang: Universitas Diponegoro.

Roggli VL, Gibbs AR, Attanoos R, Churg A, Popper H, Cagle P et al. 2010. Pathology of
asbestosis. Archives of Pathology & Laboratory Medicine. 134(4): 462-480.

Salawati L. 2015. Penyakit akibat kerja oleh karena pajanan serat asbes. Aceh: Fakultas
Kedokteran Universitas Syah Kuala.
Septianingrum AP. 2010. Analisis potensi tenaga kerja dalam keluarga untuk pengembangan
usaha ternak sapi perah di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung [skripsi]. Bogor:
IPB.

Septianingsih I, Arianti DC, Fadilly A. 2015. Prevalence and risk factor analysis of tinea
unguium infection on pig farmer in the Tanah Siang Sub-district, Central Kalimantan.
Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang. 5(3): 155-161.

Setianingsih I, Dwi CA, Abdullah F. 2015. Prevalensi, agen penyebab, dan analisis faktor risiko
infeksi Tinea unguium. J. Buski. 5(3): 3.

Syarif EK, Bagus H. 2011. Buku pintar betrnak dan bisnis sapi perah. Jakarta: PT Agromedicine.

Ulfah N, Harwantoi S, Nurcahyo PJ. 2014. Sikap Kerja dan Risiko Musculoskeletal Disorders
pada Pekerja Laundry. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 8(7): 313-8.
LAMPIRAN

7 Langkah Diagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK)

1. Menentukan Diagnosis Klinis

a) Anamnesis

Autoanamnesis dilakukan padasalah satu pemerah susu yang bertepatan

pada 25 Oktober 2018 di Tempat pemerahan susu Bapak Apri Irwansyah.

 Keluhan Utama

Sejak beberapa bulan yang lalu salah satu pekerja mengeluhkan

adanya rasa gatal yang teramat sangat pada jari-jari kaki yang

setelahnya diikuti oleh kuku-kuku kaki yang terlepas

 Riwayat Perjalanan Penyakit

Sejak tahun kedua pekerja ini memerah sapi setiap hari, pekerja

merasakan rasa gatal yang hilang timbul pada saat bekerja, dimana

rasa gatal tersebut diperberat setelah pemakaian sepatu boots yang

lembab. Setelah dirasa menggunakan sepatu boots menjadi salah

satu pemicu gatal, maka pekerja memutuskan untuk tidak lagi

menggunakan sepatu boots dan hanya menggunakan sandal,

namun setelah itu didapati beberapa kali kuku kaki dari pekerja ini

pernah copot dikarenakan menebal oleh keratinisasi dan kemudian

mulai pecah dan terlepas.


 Riwayat Penyakit Dahulu

- Riwayat darah tinggi (-)

- Riwayat penyakit jantung (-)

- Riwayat kencing manis (-)

- Riwayat asma (-)

- Riwayat penyakit kulit sebelum bekerja (-)

 Riwayat Penyakit pada Lingkungan Sekitar

Riwayat keluhan yang sama dialami oleh rekan pekerja yang juga

bertugas memerah susu sapi, namun kuku rekannya tersebut tidak

sampai terlepas

 Riwayat Sosial Ekonomi

- Makan 3 kali sehari atau lebih

- Merokok

- Pekerja mendapatkan tugas sebagai pemerah susu sapi

dengan pendapatan satu juta perbulan.

b) Pemeriksaan Fisik

Pada 25 Oktober 2018 di tempat pemerahan susu Bapak Apri Irwansyah.

 Keadaan Umum

Keadaan umum : Tampak sehat

Kesadaran : Compos mentis

Tekanan darah : 110/80 mmHg

Nadi : 88x/menit

Pernapasan : 24 x/menit
Temperatur : 36,6 0C

BB : 51 kg

TB : 158 cm

IMT : 20,92 kg/m2 (normoweight)

 Keadaan Spesifik

Kepala : Normosefali, simetris, ekspresi wajar,

warna rambut hitam-putih, mudah

dicabut (-), alopesia (-), wajah sembab (-)

Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)

Hidung : Bagian luar hidung tak ada kelainan,

septum deviasi (-), tidak keluar cairan,

epistaksis (-)

Mulut : Sariawan (-), pembesaran tonsil (-),

gusi berdarah (-), lidah kotor (-), atrofi

papil (-), bibir tidak pucat, sianosis (-)

Telinga : Kedua meatus akustikus eksternus tak

ada kelainan, tophi (-), nyeri tekan

tragus (-)

Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)

Thorax : Simetris kanan = kiri, retraksi dinding

dada (-/-), sela iga melebar (-/-)

Abdomen : Datar, venektasi kolateral (-), scar (-)

Ekstremitas : Deformitas (-), clubbing finger (-),


Superior pucat (-), akral sianosis (-), akral

hangat (+), CRT <2”, palmar eritema (-)

Ekstremitas : Deformitas (-), pucat (-), akral

Inferior Sianosis(-), kuku tebal dan kuning

kecoklatan, kuku rusak, rapuh dan

warna menggelap yang dimulai dari

distal ke proksimal.

2. Menentukan Pajanan Pekerja

a) Proses Pemerahan:

 Fisik: lantai kandang selalu basah, lantai licin.

 Biologi: kotoran sapi dan urin di kandang dan tubuh sapi.

 Kimia: debu anorganik (atap asbes).

 Ergonomis: posisi jongkok saat memerah.

 Psikologi: beban hari kerja, tempat tinggal jauh dari pemukiman.

b) Perebusan Susu:

 Fisik: ventilasi sangat kurang, asap dari kompor biogas.

 Biologi: kemungkinan bakteri pada kain saring dan perebus susu.

 Ergonomis: posisi duduk cukup lama saat memerah, posisi

pemindahan susu ke tempat perebusan tidak ergonomis.

 Kimia: debu anorganik (atap asbes).

c) Pengemasan:

 Biologi: kemungkinan kontaminasi bakteri.


3. Hubungan Pajanan dengan Keluhan

Kondisi lantai kandang sapi yang basah dengan jumlah kotoran sapi dan urin yang

cukup banyak pada lantai sepanjang waktu memungkinkan infeksi jamur pada

kaki pemerah, karena pemerah tidak menggunakan pelindung kaki berupa sepatu

boots. Pekerja hanya menggunakan alas kaki berupa sandal jepit. Kondisi kaki

pekerja yang selalu basah menyebabkan infeksi jamur sangat mudah terjadi.

Pekerja juga selalu berkontak dengan air pada saat sebelum memerah susu karena

sapi harus selalu dimandikan dan dibersihkan sebelum diperah. Pekerja tidak

mencuci atau mengeringkan kaki sebelum dan sesudah pemerahan sapi sehingga

kondisi lembab pada kaki berlangsung cukup lama.

4. Menentukan Besarnya Pajanan

Proses pemerahan berlangsung kurang lebih 1,5 jam pada pagi hari dan 1 jam

pada sore hari setiap hari. Selama pemerahan kaki pekerja hampir selalu dalam

keadaan basah dan terpajan dengan kotoran atau urin sapi.

5. Menentukan Faktor Individu yang Berperan

Pekerja kurang rajin membersihkan tubuh baik kaki maupun tangan sebelum dan

sesudah pemerahan. Kondisi basah pada kaki dibiarkan hingga mengering dengan

sendirinya tanpa dicuci. Kondisi ini menyebabkan kaki dalam keadaan

basah/lembab dalam waktu yang cukup lama. Pakaian pekerja juga tidak

diganti/dikeringkan sesudah pemerahan.


6. Menentukan Faktor Lain

Tidak ada

7. Menentukan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja

Infeksi jamur yang dialami Tn. Arif pada bagian kuku (Tinea unguium)

merupakan penyakit akibat kerja


Gambar 1. Kondisi Kandang Sapi Perah Gambar 2. Kondisi Kandang Sapi Perah Sebelum
Dilakukan Pembersihan Sisa Kotoran

Gambar 3. Tempat Pemasakan Susu Sapi Gambar 4. Pembersihan Kandang Sapi Sebelum
Dimulai Pemerahan

Gambar 5. Keadaan Tempat Pemasakan Susu Sapi Gambar 6. Kondisi Sekitar Pemerahan Susu Sapi
Gambar 7. Perebusan Air Hangat Untuk Gambar 8. Saat Proses Pemandian Sapi Sebelum
Membersihkan Puting Susu Dilakukan Pemerahan

Gambar 9. Proses Pembersihan Puting Sapi Gambar 10. Proses Pemerahan Susu Sapi
Menggunakan Air Hangat dan Vaselin

Gambar 11. Proses Perebusan Susu Sapi Pada Suhu Gambar 12. Proses Penyaringan Susu Sapi
70 Celcius
Gambar 13. Proses Pengemasan Susu Sapi Perah Gambar 14. Foto Bersama Tutorial 9, Pembimbing
dan Pegawai Susu Sapi Perah

Gambar 15. Foto Bersama Tutorial 9 Saat Intervensi Gambar 16. Saat Penjelasan Media Intervensi Kepada
Pegawai Susu Sapi Perah

Gambar 17. Saat Penjelasan Media Intervensi Kepada Gambar 18. Saat Penempelan Media Intervensi
Pegawai Susu Sapi
Gambar 19. Saat Penempelan Media Intervensi Gambar 20. Saat Penempelan Media Intervensi

Gambar 21. Media Intervensi Penggunaan APD Gambar 22. Media Intervensi Kandang Sehat
Denah Tempat Susu Sapi Perah

3.

1. 5.

5.

2. 4.

6. 5. 7.
8.

9.

Keterangan:
1. Rumah
2. Timbangan Sapi
3. Sumber Air
4. Tempat Makanan Sapi
5. Kandang Sapi
6. Sego
7. Tempat Perebusan Susu Sapi
8. Biogas
9. Kebun