Anda di halaman 1dari 34

askep osteoporosis muskuloskletall

Jumat, 25 Oktober 2013


Makalah Askep Osteoporosis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hidup sehat, bugar, dan tetap aktif sekalipun di usia lanjut merupakan dambaan banyak
orang. Namun, seiting bertambahnya usia, fungsi organ tubuh pun berangsur – angsur menurun
dan berakibat timbulnya berbagai macam penyakit. Masalah kesehatan pada usia lanjut yang
sering di temui dan perlu mendapat perhatian adalah penyakit osteoporosis. Osteoporosis atau
pengoroposan tulang memang rawan menyerang orang - orang berusia di atas 40 tahun, terutama
pada kaum perempuan. Dari hasil penelitian di amerika serikat pada orang berusia di atas 50
tahun, 1 dari 4 perempuan dan 1 dari 8 laki – laki terkena osteoporosis. Osteoporosis dapat
dijumpai tersebar di seluruh dunia dan sampai saat ini masih merupakan masalah dalam
kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang. Di Amerika Serikat osteoporosis
menyerang 20-25 juta penduduk, 1 diantara 2-3 wanita post-menopause dan lebih dari 50%
penduduk di atas umur 75-80 tahun. Sekitar 80% persen klien penyakit osteoporosis adalah
wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea).
Hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis.
Penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena
penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga
dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis
datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam
kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5
juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Beberapa fakta seputar penyakit osteoporosis
yang dapat meningkatkan kesadaran akan ancaman osteoporosis di Indonesia adalah Prevalensi
osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36%, sedangkan pria
20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%. Lebih dari 50% keretakan
osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050. Mereka. Satu
dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan
tulang. Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis.
Berdasarkan data Depkes, jumlah klien osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dan
merupakan Negara dengan klien osteoporosis terbesar ke 2 setelah Negara Cina.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimksud dangan osteoporosis?
2. Apa penyebab osteoporosis?
3. Apa gejala yang ditimbulkan osteoporosis?
4. Bagaimana pengobatan osteoporosis?
5. Bagaimanakah pencegahannya?

C. Tujuan Penulisan :
Mahasiswa/i dapat melakukan asuhan keperawatan klien dengan ”Osteoporosis”.
 Tujuan Umum :
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai proses pembelajaran mahasiswa
dalam memahami Osteoporosis, dan mahasiswa mampu memahami defenisi, etiologi,
manifestasi klinis, klassifikasi, penatalaksanaan medis dan keperawatan serta asuhan
keperawatan dari Osteoporosis.
 Tujuan Khusus :

1. Mampu melakukan pengkajian secara menyeluruh pada klien dengan


osteoporosis.
2. Mampu melakukan masalah keperawatan yang muncul pada klien dengan
osteoporosis.
3. Mampu membuat rencana tindakan keperawatan klien dengan osteoporosis.
4. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan osteoporosis.
5. Mampu melakukan evaluasi atas tindakan yang telah di lakukan
6. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus.
7. Mampu mengidentifikasi faktor pendukung,penghambat,serta dapat mencari
solusi.
8. Mampu mengdokumentasikan asuhan keperawatan klien dengan osteoporosis.
BAB II
OSTEOPOROSIS
A. Definisi :
Osteoforosis adalah suatu penyakit dengan tanda utama berupa berkurangnya kepadatan
massa tulang, yang berakibat meningkatnya kerapuhan tulang dan meningkatkan resiko patah
tulang. Massa tulang laki – laki dan perempuan akan berkurang seiring bertambahnya usia. Masa
tulang pada perempuan berkurang lebih cepat di bandingkan dengan laki – laki. Hal ini
disebabkan pada massa menopause, fungsi ovarium menurun drastis yang berdampak pada
berkurangnya produksi hormonestrogen dan progesteron. Saat hormon estrogen turun kadarnya
karena usia yang lanjut ( menopause ), terjadilah penurunanaktivitas osteoblas ( pembentukan
tulang baru ) dan peningkatan kerja sel osteoklas ( penghancur tulang ). Jadi, secara kodrati
oateoporosis lebih banyak menyerang perempuan, yaitu lebih 2,5 kali lebih sering dibandingkan
laki – laki.
Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan masa tulang total. Terdapat
perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resoprsi tulang lebih besar dari
kecepatan pembentukan tulang, mengakibatkan penurunan masa tulang total. Tulang secara
progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah. Tulang menjadi mudah fraktur dengan stress
yang tidak akan menimbulkan pada tulang normal. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur
konversi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah koulum femoris dan daerah tronkanter,
dan patah tulang coles pada pergelangan tangan. fraktur kompresi ganda fertebra mengakibatkan
deformitas skeletal. Osteoporosis merupakan penyakit skeletal sistemik yang ditandai dengan
massa tulang yang rendah dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang, yang mengakibatkan
meningkatnya fragilitas tulang sehingga tulang cenderung untuk mengalami fraktur spontan atau
akibat trauma minimal. (Consensus Development Conference, 1993).

Jenis Osteoporosis
Bila disederhanakan, terdapat dua jenis osteoporosis, yaitu osteoporosis primer dan
sekunder.

1. Osteoporosis primer adalah kehilangan massa tulang yang terjadi sesuai dengan proses
penuaan. Sampai saat ini osteoporosis primer masih menduduki tempat utama karena
lebih banyak ditemukan dibanding dengan osteoporosis sekunder. Proses ketuaan pada
wanita menopause dan usia lanjut merupakan contoh dari osteoporosis primer.
2. Osteoporisis sekunder didefinisikan sebagai kehilangan massa tulang akibat hal hal
tertentu. mungkin berhubungan dengan kelainan patologis tertentu termasuk kelainan
endokrin, epek samping obat obatan, immobilisasi, Pada osteoporosis sekunder, terjadi
penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk menimbulkan fraktur traumatik akibat
faktor ekstrinsik seperti kelebihan steroid, artritis reumatoid, kelainan hati/ginjal kronis,
sindrom malabsorbsi, mastositosis sistemik, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian
status hipogonade, dan lain-lain.

B. Anatomi Fisiologi
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk
melekatnya otot-otot yang menggerakkan rangka tubuh. Ruang di tengah tulang-tulang tertentu
berisi jaringan hematopoietik, yang membentuk berbagai sel darah. Tulang juga merupakan
tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan fosfat. Komponen-komponen
nonselular utama dar jaringan tulang adalah mineral-mineral dan matriks organik (kolagen dan
proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk suatu garam kristal (hidroksiapatit), yang
tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Mineral-mineral ini memampatkan kekuatan
tulang. Matriks organik tulang disebut juga sebagai osteoid. Materi organik lain yang menyusun
tulang berupa proteoglikan seperti asam hialuronat.

Bagian-bagian khas dari sebuah tulang panjang :


 Diafisis atau batang, adalah bagian tengah tulang yang berbentuk silinder. Bagian ini tersusun
dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan yang besar. Sumsum kuning terdapat pada diafisis,
terutama terdiri dari sel-sel lemak.
 Metafisis, adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung akhir batang. Daerah ini terutama
disusun oleh tulang trabekular atau tulang spongiosa yang mengandung sel-sel hematopoietik.
Sumsum merah juga terdapat di bagian epifisis dan diafisis tulang.
 Lempeng epifisis, adalah daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak, dan bagian ini akna
menghilang pada tulang dewasa. Bagian epifisis langsung berbatasan dengan sendi tulang
panjang yang bersatu dengan metafisis sehingga pertumbuhan memanjang tulang berhenti.

Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut perioteum yang mengandung
sel-sel yang dapat berproliferasi yang berperan dalam proses pertumbuhan transversal tulang
panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteria nutrisi khusus. Lokasi dan keutuhan
dari arteri-arteri inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu
tulang yang patah.
Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang terususun dari tiga jenis sel : osteoblas,
osteosit, dan osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan
prteoglikan sebagai metriks tulang atau jaringan oeteoid melalui suatu proses yang disebut
osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jarigan osteoid, osteoblas mensekresikan sejumlah
besar fosfatase alkali yang memegang peranana penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat
ke dalam matriks tulang.
Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks
tulang dapat diabsorpsi. Sel-sel ini menghasilkan enzim-enzim proteolitik yang memecahkan
matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang, sehingga kalsium dan fosfat terlepas
ke dalam aliran darah.

C. Etiologi:
Etiologi Osteoporosis secara garis besarnya dikelompokan ke dalam 3 kategori :
1. Penyebab primer : menopause, usia lanjut, penyebab lain yang tidak diketahui.
2. Penyebab sekunder : pemakaian Obat kortikosteroid, gangguan metabolism, gizi buruk,
penyerapan yang buruk, penyakit tulang sumsum, gangguan fungsi ginjal, penyakit hepar,
penyakit paru kronis, cedera urat saraf belakang, rematik, transplasi organ.
3. Penyebab secara kausal : Osteoporosi juga dapat dikelompokan berdasarkan penyebab
penyakit atau keadaan dasarnya :
 Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kurangnya hormon estrogen (hormon utama pada
perempuan ), yang membantu pengangkutan kalsium ke- dalam tulang pada perempuan.
Biasanya gejala timbul pada peempuan yang berusia antara 51 – 75 tahun, tetapi dapat muncul
lebih cepat atau lebih lambat. Tidak semua perempuan memiliki risiko yang sama untuk
menderita osteoporosis postmenopausal, perempuan kulit putih dan daerah timur lebih rentan
menderita penyakit ini daripada kulit hitam.
 Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang
berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya tulang ( osteoklas
) dan pembentukan tulang baru ( osteoblas ). Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada
usia lanjut yaitu terjadi pada orang – orang berusia di atas 70 tahun dan 2 kali lebih sering pada
perempuan.
 Kurang dari 5 % klien osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan
oleh keadaan medis lain atau obat – obatan. Penyakit ini disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan
kelainan hormonal ( terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal ) serta obat – obatan ( misalnya
kortikosteroid, barbiturate, antikejang, dan hormone tiroid yang berlebihan ). Pemakaian alcohol
yang berlebihan dan merokok dapat memperburuk keadaan ini.

 Osteoporosis juvenile idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak


diketahui. Hal ini terjadi pada anak – anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi
hormone yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari
rapuh yang jelas.
Faktor-faktor etiologi yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut
adalah :

a. Determinan Massa Tulang


1). Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa
orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit
hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia.
Jacii seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun
terhadap fraktur karena osteoporosis.

2). Faktor mekanis


Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetk.
Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan
mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Dengan perkataan lain dapat disebutkan bahwa ada
hubungan langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang. Kedua hal tersebut
menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan
massa otot besar dan juga massa tulang yang besar.
Sebagai contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya
hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya; sebaliknya
atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat
tidur dalam waktu yang lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun
demikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa
lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg faktor genetic.
3). Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan
mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang
bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di atas kebutuhan
maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang
melebihi kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan
genetiknya.

b. Determinan Penurunan Massa Tulang

1). Faktor genetik


Faktor genetik berpengaruh terhadap risiko terjadinya fraktur. Pada seseorang dengan tulang
yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang
besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang
normal. Setiap seseorang mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sifat genetiknya serta
beban mekanis dan besar badannya. Apabila seseorang dengan tulang yang besar, kemudian
terjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka
seseorang tersebut relatif masih mempunyai tulang lebih banyak dari pada seseorang yang
mempunyai tulang kecil pada usia yang sama.
2). Faktor mekanis
Di lain pihak, faktor mekanis mungkin merupakan faktor yang terpenting dalarn proses
penurunan massa tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti
bahwa ada interaksi panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada
umumnya aktivitas fisik akan menurun dengan bertambahnya usia; dan karena massa tulang
merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan
bertambahnya usia.

3). Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa
tulang sehubungan dengan bertambahnya usia, terutama pada wanita post menopause. Kalsium,
merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause, dengan
masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan mengakibatkan keseimbangan
kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya
juga baik, menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada
wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan keseimbangan
kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan
terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi melalui urin yang bertambah.
Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah pergeseran
keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.
4). Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa
tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung
sulfat melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya protein tidak
dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung
fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor
tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang
mengandung protein berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan
kalsium yang negative.

5). Estrogen.
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya
gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi
kalsium dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
6). Rokok, kopi dan Alkohol
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan
massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh
merokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat
memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja. Alkoholisme akhir-akhir ini
merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu dengan alkoholisme mempunyai
kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat.
Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti .
Osteoporosis akibat pemakaian steroid
Harvey Cushing, lebih dari 50 tahun yang lalu telah mengamati bahwa hiperkortisolisme
berhubungan erat dengan penipisan massa tulang. Sindroma Cushing relatif jarang dilaporkan.
Setelah pemakaian steroid semakin meluas untuk pengobatan pelbagai kondisi penyakit, efek
samping yang cukup serius semakin sering diamati. Diperkirakan, antara 30% sampai 50%
pengguna steroid jangka panjang mengalami patah tulang (atraumatic fracture), misalnya di
tulang belakang atau paha. Penelitian mengenai osteoporosis akibat pemakaian steroid
menghadapi kendala karena pasien-pasien yang diobati tersebut mungkin mengalami gangguan
sistemik yang kompleks. Misalnya, klien artritis rheumatoid dapat mengalami penipisan tulang
(bone loss) akibat penyakit tersebut atau karena pemberian steroid. Risiko osteoporosis
dipengaruhi oleh dosis dan lama pengobatan steroid, namun juga terkait dengan jenis kelamin
dan apakah klien sudah menopause atau belum. Penipisan tulang akibat pemberian steroid paling
cepat berlangsung pada 6 bulan pertama pengobatan, dengan rata-rata penurunan 5% pada tahun
pertama, kemudian menurun menjadi 1%-2% pada tahun-tahun berikutnya. Dosis harian
prednison 7,5 mg per hari atau lebih secara jelas meningkatkan pengeroposan tulang dan
kemungkinan fraktur. Bahkan prednison dosis rendah (5 mg per hari) telah terbukti
meningkatkan risiko fraktur vertebra.

D. Patofisiologi
Jenis Kelamin Usia, Lingkungan Etiologi Primer Etiologi Sekunder
Etnik, keturunan Nutrisi
Nyeri

Kepadatan tulang
berkurang

Pengeroposan Masa tulang


E. Manifestasi Klinis
Osteoporosis merupakan silent disease. Klien osteoporosis umumnya tidak mempunyai
keluhan sama sekali sampai orang tersebut mengalami fraktur. Osteoporosis mengenai tulang
seluruh tubuh, tetapi paling sering menimbulkan gejala pada daerah-daerah yang menyanggah
berat badan atau pada daerah yang mendapat tekanan (tulang vertebra dan kolumna femoris).
Korpus vertebra menunjukan adanya perubahan bentuk, pemendekan dan fraktur kompresi. Hal
ini mengakibatkan berat badan pasien menurun dan terdapat lengkung vertebra
abnormal(kiposis). Osteoporosis pada kolumna femoris sering merupakan predisposisi terjadinya
fraktur patologik (yaitu fraktur akibat trauma ringan), yang sering terjadi pada pasien usia lanjut.
Masa total tulang yang terkena, mengalami penurunaan dan menunjukan penipisan
korteks serta trabekula. Pada kasus ringan, diagnosis sulit ditegakkan karena adanya variasi
ketebalan trabekular pada individu ”normal” yang berbeda. Diagnosis mungkin dapat ditegakkan
dengan radiologis maupun histologist jika osteoporosis dalam keadaan berat. Struktur tulang,
seperti yang ditentukan secara analisis kimia dari abu tulang tidak menunjukan adanya kelainan.
Pasien osteoporosis mempunyai kalsium,fosfat, dan alkali fosfatase yang normal dalam serum.
Osteoporosis terjadi karena adanya interaksi yang menahun antara factor genetic dan
factor lingkungan.

 Factor genetic meliputi:


usia jenis kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh, tidak pernah melahirkan.
 Factor lingkungan meliputi:
merokok, Alcohol, Kopi, Defisiensi vitamin dan gizi, Gaya hidup, Mobilitas, anoreksia nervosa
dan pemakaian obat-obatan.
Kedua factor diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari
darah ke tulang, peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak tercapainya masa tulang
yang maksimal dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat yang selanjutnya menimbulkan
penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang baru sehingga terjadi penurunan
massa tulang total yang disebut osteoporosis.

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun yang dapat
dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang
paling berat. Penipisa korteks dan hilangnya trabekula transfersal merupakan kelainan yang
sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebra menyebabkan penonjolan yang menggelembung
dari nukleus pulposus ke dalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
2. CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyao nilai
penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3 baisanya
tidak menimbulkan fraktur vetebra atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65
mg/cm3 ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.
3. Pemeriksaan Laboratorium

1. Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.


2. Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi ekstrogen
merangsang pembentukkan Ct)
3. Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun.
4. Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.

G. Penatalaksanaan Medis
Adapun penatalaksanaan pada klien dengan osteoporososis meliputi :

1. a. Pengobatan
 perempuan yang menderita osteoporosis, harus mengonsumsi kalsium dan vitamin D dalam
jumlah yang mencukupi dan Bifosonat juga digunakan untuk mengobati osteoporosis.
 Perempuan pascamenopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen (
biasanya bersama dengan progesterone) atau alendronat, yang dapat memperlambat atau
menghentikan penyakitnya. Sebelum terapi sulih estrogen dilakukan,biasanya dilakukan
pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan payudara dengan mammogram, pemeriksaan
kandungan, serta PAP smear untuk mengetahui apakah ada kanker atau tidak. Terapi ini tidak di
anjurkan pada perempuan yang pernah mengalami kanker payudara dan kanker kandungan
(ndometrium).

 Pemberian alendronat, yang berfungsi untuk :


1. Mengurangi kecepatan penghancuran tulang pada perempuan pasca menopause.
2. Meningkatkan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul.
3. Mengurangi angka kejadian patah tulang.
 Pemberian Kalsitonin, untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang
disertai nyeri. Obat ini bisa diberikan melalui suntikan atau melalui semprot hidung.
 Laki – laki yang menderita osteoporosis biasanya menapatkan kalsium dan tambahan vitamin D
 Pemberian Nutrilife-deer Velvet merupakan alternative terkini yang bisa mengatasi osteoporosis.
Nutrilife-deer Velvet yang terbuat dari tanduk Rusa Merah New Zealand, terbukti bermanfaat
untuk mencegah osteoporosis dan telah digunakan selama lebih dari 10.000 tahun oleh China,
Korea, dan Rusia. Obat ini mengandung delapan factor pertumbuhan, prostaglandin, asam lemak,
asam amino, dan komponen dari kartilago, dan dosisnya 1x1/kapsul 1 hari.
 Pengobatan patah Tulang pada Osteoporosis.
Patah tulang panggul biasanya di atasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan
biasanya digips atau di perbaiki dengan pembedahan. Jika terjadi penipisan tulang belakang
disertai nyeri panggung yang hebat, dapat di berikan obat pereda nyeri, di pasang supportive
back brace, dan dilakukan terapi fisik dengan mengompres bagian yang nyeri dengan
menggunakan air hangat atau dingin selama 10 – 20 menit.
 Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yg dapat meningkatkan pembentukan tulan
adalah Na-fluorida dan steroid anabolic
 Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapat mengahambat resorbsi tulang adalah
kalsium, kalsitonin, estrogen dan difosfonat.

b. Pencegahan

Pencegahan sebaiknya dilakukan pada usia pertumbuhan/dewasa muda, hal ini bertujuan:
1. Mencapai massa tulang dewasa Proses konsolidasi) yang optimal
2. Mengatur makanan dan life style yg menjadi seseorang tetap bugar seperti:
a). Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)
b) . Latihan teratur setiap hari
c). Hindari : - Makanan Tinggi protein - Minum kopi
- Minum Antasida yang - Merokok
Mengandung Alumunium - Minum Alkohol
d). pola hidup sehat antara lain cukup tidur, olahraga teratur (seperti jalan kaki, berenang, senam
aerobic).
Pencegahan Dan Pengobatan dengan vitamin dan mineral :
1.Vitamin C 8.Fosfor
2. Zat besi 9.Magnesium
3. Boron 10.Nutrilife-deer Velvet
4.Seng ( zinc ) 11. Jus Timun
5.Vitamin D 12. Jus Brokoli
6.Beras ponni 13.Jus Avokad
7.Kalsium 14.Jus Kale-collard
H. Komplikasi
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan mudah
patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi vertebra
torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah trokhanter, dan fraktur colles
pada pergelangan tangan . Penurunan fungsi, dan Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam menentukan status
kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasikan, kekuatan dan kebutuhan klien yang
dapat diperoleh melalui anamnese, pemeriksaan fisik dan riwayat psikososial.
1. Anamnese:
a) Identitas
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal
masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat, semua data mengenai
identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.
b. Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi penanggung
jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan,
hubungan dengan klien dan alamat.

b) Riwayat Kesehatan
Riwayat Kesehatan. Dalam pengkajian riwayat kesehatan, perawat perlu mengidentifikasi :
a. Rasa nyeri atau sakit tulang punggung (bagian bawah), leher,dan pinggang
b. Berat badan menurun
c. Biasanya diatas 45 tahun
d. Jenis kelamin sering pada wanita
e. Pola latihan dan aktivitas

c) Pola aktivitas sehari-hari


Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olahraga, pengisian waktu luang
dan rekreasi, berpakaian, makan, mandi, dan toilet. Olahraga dapat membentuk pribadi yang baik
dan individu akan merasa lebih baik. Selain itu, olahraga dapat mempertahankan tonus otot dan
gerakan sendi. Lansia memerlukan aktifitas yang adekuat untuk mempertahankan fungsi tubuh.
Aktifitas tubuh memerlukan interaksi yang kompleks antara saraf dan muskuloskeletal. Beberapa
perubahan yang terjadi sehubungan dengan menurunnya gerak persendian adalah agility (
kemampuan gerak cepat dan lancar ) menurun, dan stamina menurun.

d) Aspek Penunjang
a. Radiologi
Gejala radiologi yang khas adalah densitas atau massa tulang yang menurun yang dapat
dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang
paling berat. Penipisan korteks dan hilangnya trabekula transversal merupakan kelainan yang
sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebrae menyebabkan penonjolan yang menggelembung
dari nucleus pulposus kedalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
b. CT-Scan
Dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai penting dalam
diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3 biasanya tidak
menimbulkan fraktur vertebra atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3
ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.
c. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing).
Inspeksi : Ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang belakang.
Palpasi : Taktil fremitus seimbang kanan dan kiri.
Perkusi : Cuaca resonan pada seluruh lapang paru.
Auskultasi : Pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronki.
b. B2 ( Blood).
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik, sering terjadi keringat dingin dan pusing. Adanya pulsus
perifer memberi makna terjadi gangguan pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan
efek obat.
c. B3 ( Brain).
Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih parah, klien dapat mengeluh pusing
dan gelisah.
1. Kepala dan wajah: ada sianosis
2. Mata: Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis.
3. Leher: Biasanya JVP dalam normal
Nyeri punggung yang disertai pembatasan pergerakan spinal yang disadari dan halus merupakan
indikasi adanya satu fraktur atau lebih, fraktur kompresi vertebra
d. B4 (Bladder).
Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada sistem perkemihan.
e. B5 ( Bowel).
Untuk kasus osteoporosis, tidak ada gangguan eliminasi namun perlu di kaji frekuensi,
konsistensi, warna, serta bau feses.
f. B6 ( Bone).
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis. Klien osteoporosis sering menunjukan
kifosis atau gibbus (dowager’s hump) dan penurunan tinggi badan dan berat badan. Ada
perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal. Lokasi fraktur
yang sering terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3.
d. Riwayat Psikososial
Penyakit ini sering terjadi pada wanita. Biasanya sering timbul kecemasan, takut melakukan
aktivitas dan perubahan konsep diri. Perawat perlu mengkaji masalah-masalah psikologis yang
timbul akibat proses ketuaan dan efek penyakit yang menyertainya.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Masalah yang biasa terjadi pada klien osteoporosis adalah sebagai berikut :

1. Nyeri akut yang berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra ditandai dengan
klien mengeluh nyeri tulang belakang, mengeluh bengkak pada pergelangan tangan, terdapat
fraktur traumatic pada vertebra, klien tampak meringis.

2. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan
skeletal (kifosis) , nyeri sekunder, atau fraktur baru ditandai dengan klien mengeluh kemampuan
gerak cepat menurun, klien mengatakan badan terasa lemas, stamina menurun, dan terdapat
penurunan tinggi badan.

3. Risiko cedera yang berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan
ketidakseimbangan tubuh ditandai dengan klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun,
tulang belakang terlihat bungkuk.

4. Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan keletihan atau gangguan gerak ditandai
dengan klien mengeluh nyeri pada tulang belakang, kemampuan gerak cepat menurun, klien
mengatakan badan terasa lemas dan stamina menurun serta terdapat fraktur traumatic pada
vertebra dan menyebabkan kifosis angular.

5. Gangguan citra diri yang berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik serta
psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau terapi ditandai dengan klien mengatakan
membatasi pergaulan dan tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace).

6. Gangguan eleminasi alvi yang berhubungan dengan kompresi saraf pencernaan ileus paralitik
ditandai dengan klien mengatakan buang air besar susah dan keras.

7. Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi yang berhubungan
dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan klien mengatakan kurang ,mengerti
tentang penyakitnya, klien tampak gelisah
C. INTERVENSI
1. Nyeri akut yang berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra ditandai dengan
klien mengeluh nyeri tulang belakang.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang.


Kriteria Hasil : Klien akan mengekspresikan nyerinya, klien dapat tenang dan istirahat yang cukup, klien
dapat mandiri dalam perawatan dan penanganannya secara sederhana.

Intervensi Rasional

1. Pantau tingkat nyeri pada1. Tulang dalam peningkatan jumlah


punggung, nyeri terlokalisasi atau trabekular, pembatasan gerak spinal.
menyebar pada abdomen atau2. Alternatif lain untuk mengatasi nyeri,
pinggang. pengaturan posisi, kompres hangat dan
2. Ajarkan pada klien tentang sebagainya.
alternative lain untuk mengatasi3. Keyakinan klien tidak dapat menoleransi
2.
dan mengurangi rasa nyerinya. obat yang adekuat atau tidak adekuat Ham
3. Kaji obat-obatan untuk mengatasi untuk mengatasi nyerinya. bata
nyeri. 4. Kelelahan dan keletihan dapat n
4. Rencanakan pada klien tentang menurunkan minat untuk aktivitas sehari- mob
periode istirahat adekuat dengan hari. ilitas
berbaring dalam posisi telentang fisik
selama kurang lebih 15 menit berh
ubu
ngan
dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal (kifosis), nyeri sekunder atau fraktur baru.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan klien mampu melakukan mobilitas fisik
Criteria hasil : Klien dapat meningkatan mobilitas fisik ; klien mampu melakukan aktivitas hidup sehari
hari secara mandiri

Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat kemampuan klien yang 1. Dasar untuk memberikan alternative dan
masih ada. latihan gerak yang sesuai dengan
kemapuannya.
2. Rencanakan tentang pemberian program
2. Latihan akan meningkatkan pergerakan
latihan:
otot dan stimulasi sirkulasi darah

 Bantu klien jika diperlukan latihan


 Ajarkan klien tentang aktivitas hidup sehari
hari yang dapat dikerjakan
 Ajarkan pentingnya latihan.

3. Bantu kebutuhan untuk beradaptasi dan


3. Aktifitas hidup sehari-hari secara mandiri
melakukan aktivitas hidup sehari hari,
rencana okupasi .
4. Dengan latihan fisik:
4. Peningkatan latihan fisik secara
adekuat:  Masa otot lebih besar sehingga
memberikan perlindungan pada
osteoporosis
 dorong latihan dan hindari tekanan pada tulang
 Program latihan merangsang
seperti berjalan
pembentukan tulang
 instruksikan klien untuk latihan selama kurang
lebih 30menit dan selingi dengan istirahat
 Gerakan menimbulkan kompresi
dengan berbaring selama 15 menit
vertical dan fraktur vertebra.
 hindari latihan fleksi, membungkuk tiba–
tiba,dan penangkatan beban berat

3. Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan
tubuh.
Tujuan : Cedera tidak terjadi
Kreteria Hasil : Klien tidak jatuh dan fraktur tidak terjadi: Klien dapat menghindari aktivitas yang
mengakibatkan fraktur

Intervensi Rasional
1. Ciptakan lingkungan yang bebas dari 1. Menciptakan lingkungan yang aman dan
bahaya: mengurangi risiko terjadinya kecelakaan.

 Tempatkan klien pada tempat


tidur rendah.
 Amati lantai yang membahayakan
klien.
 Berikan penerangan yang cukup
 Tempatkan klien pada ruangan
yang tertutup dan mudah untuk
diobservasi.
 Ajarkan klien tentang pentingnya
menggunakan alat pengaman di
2. Ambulasi yang dilakukan tergesa-gesa
ruangan.
dapat menyebabkan mudah jatuh.
2. Berikan dukungan ambulasi sesuai
dengan kebutuhan:

 Kaji kebutuhan untuk berjalan.


 Konsultasi dengan ahli therapist. 3. Penarikan yang terlalu keras akan
 Ajarkan klien untuk meminta
menyebabkan terjadinya fraktur.
bantuan bila diperlukan.
 Ajarkan klien untuk berjalan dan
keluar ruangan.
4. Pergerakan yang cepat akan lebih
memudahkan terjadinya fraktur kompresi
3. Bantu klien untuk melakukan aktivitas vertebra pada klien osteoporosis.
hidup sehari-hari secara hati-hati.
5. Diet kalsium dibutuhkan untuk
4. Ajarkan pada klien untuk berhenti secara mempertahankan kalsium serum,
perlahan, tidak naik tanggga, dan
mencegah bertambahnya kehilangan
mengangkat beban berat. tulang. Kelebihan kafein akan
meningkatkan kalsium dalam urine.
5. Ajarkan pentingnya diet untuk
Alcohol akan meningkatkan asidosis yang
mencegah osteoporosis:
meningkatkan resorpsi tulang
 Rujuk klien pada ahli gizi 6. Rokok dapat meningkatkan terjadinya
 Ajarkan diet yang mengandung asidosis.
banyak kalsium 7. Obat-obatan seperti diuretic, fenotiazin
 Ajarkan klien untuk mengurangi dapat menyebabkan pusing, megantuk,
atau berhenti menggunakan rokok dan lemah yang merupakan predisposisi
atau kopi klien untuk jatuh.

6. Ajarkan tentang efek rokok terhadap


pemulihan tulang
7. Observasi efek samping obat-obatan yang
digunakan.

4. Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan keletihan atau gangguan gerak ditandai
dengan klien mengeluh nyeri pada tulang belakang, kemampuan gerak cepat menurun,
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan perawatan diri klien terpenuhi.
criteria hasil : klien mampu mengungkapkan perasaan nyaman dan puas tentang kebersihan diri,
mampu mendemonstrasikan kebersihan optimal dalam perawatan yang diberikan.

Intervensi Rasional
1. Kaji kemampuan untuk berpartisipasi1. Untuk mengetahui sampai sejauh mana
dalam setiap aktifitas perawatan. klien mampu melakukan perawatan diri
2. Beri perlengkapan adaptif jika secara mandiri.
dibutuhkan misalnya kursi dibawah
pancuran, tempat pegangan pada dinding2. Peralatan adaptif ini berfungsi untuk
kamar mandi, alas kaki atau keset yang membantu klien sehingga dapat
tidak licin, alat pencukur, semprotan melakukan perawatan diri secara mandiri
pancuran dengan tangkai pemegang. dan optimal sesuai kemampuannya.
3. Rencanakan individu untuk belajar dan
mendemonstrasikan satu bagian aktivitas3. Bagi klien lansia, satu bagian aktivitas
sebelum beralih ke tingkatan lebih lanjut. bisa sangat melelahkan sehingga perlu
waktu yang cukup untuk
mendemonstrasikan satu bagian dari
perawatan diri.

5. Gangguan citra diri yang berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik serta
psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau terapi ditandai dengan klien mengatakan
membatasi pergaulan dan tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace).

Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat menunjukkan adaptasi dan
menyatakan penerimaan pada situasi diri.
criteria hasil : klien mengenali dan menyatu dengan perubahan dalam konsep diri yang akurat tanpa harga diri
negative, mengungkapkan dan mendemonstrasikan peningkatan perasaan positif.
Intervensi Rasional

1. Dorong klien mengekspresikan1. Ekspresi emosi membantu klien mulai


perasaannya khususnya mengenai meneerima kenyataan.
bagaimana klien merasakan, memikirkan
dan memandang dirinya.
2. Hindari kritik negative. 2. Kritik negative akan membuat klien
3. Kaji derajat dukungan yang ada untuk merasa semakin rendah diri.
klien 3. Dukungan yang cukup dari orang
terdekat dan teman dapat membantu
proses adaptasi

6. Gangguan eleminasi alvi yang berhubungan dengan kompresi saraf pencernaan ileus paralitik
ditandai dengan klien mengatakan buang air besar susah dan keras

Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan eleminasi klien tidak terganggu dengan
criteria hasil: klien mampu menyebutkan teknik eleminasi feses, klien dapat mengeluarkan feses lunak dan
berbentuk setiap hari atau 3 hari.

Intervensi Rasional

1. Auskultasi bising usus 1. Hilangnya bising usus menandakan


adanya paralitik ileus.
2. Observasi adanya distensi abdomen jika
bising usus tidak ada atau berkurang 2. Hilangnya peristaltic (karena gangguan
saraf) melumpuhkan usus, membuat
3. Catat frekuensi, karakteristik dan jumlah distensi ileus dan usus.
feses. 3. Mengidentifikasi derajat gangguan/
disfungsi dan kemungkinan bantuan yang
4. Lakukan latihan defekasi secara teratur diperlukan.
5. Anjurrkan klien untuk mengkonsumsi4. Program ini diperlukan untuk
makanan berserat dan pemasukan cairan mengeluarkan feses secara rutin.
yang lebih banyak termasuk jus/sari buah5. Meningkatkan konsistensi feses untuk
R/meningkatkan konsistensi feses untuk dapat melewati usus dengan mudah.
dapat melewati usus dengan mudah

7. Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi yang berhubungan
dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan klien mengatakan kurang ,mengerti
tentang penyakitnya, klien tampak gelisah.

Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien memahami tentang penyakit
osteoporosis dan program terapi dengan criteria hasil klien mampu menjelaskan tentang
penyakitnya, mampu menyebutkan program terapi yang diberikan, klien tampak tenang
Kriteria hasil : Klien mampu menjelaskan tentang penyakitnya, dan mampu menyebutkan
program terapi yang diberikan, klien tampak tenang

Intervensi Rasional

1. Kaji ulang proses penyakit dan1. Memberikan dasar pengetahuan dimana


harapan yang akan datang klien dapat membuat pilihan berdasarkan
informasi.
2. Ajarkan pada klien tentang faktor-2. Informasi yang diberikan akan membuat
faktor yang mempengaruhi klien lebih memahami tentang
terjadinya osteoporosis penyakitnya
3. Berikan pendidikan kepada klien3. Suplemen kalsium ssering
mengenai efek samping mengakibatkan nyeri lambung dan
penggunaan obat distensi abdomen maka klien sebaiknya
mengkonsumsi kalsium bersama
makanan untuk mengurangi terjadinya
efek samping tersebut dan
memperhatikan asupan cairan yang
memadai untuk menurunkan resiko
pembentukan batu ginjal

D. IMPLEMENTASI
Pada tahap ini perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas yang
telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. Fase implementasi atau pelaksanaan terdiri dari
beberapa kegiatan, yaitu validasi rencana keperawatan, mendokumentasikan rencana
keperawatan, memberikan asuhan keperawatan, dan pengumpulan data.
Pelaksanaan bertujuan untuk mengatasi diagnosa dan masalah keperawatan, kolaborasi
dan membantu dalam pencapaian tujuan yang ditetapkan dan mempasilitas koping, tahapan
tindakan keperawatan ada 3 antara lain :
1. Persiapan : Perawat menyiapkan segala sesuatu yang perlu dalam tindakan keperawatan, yaitu mengulang
tindakan keperawatan yang diidentifikasikan pada tahap intervensi,menganalisa pengetahuan dan
ketermpilan yang diperlukan dalam mengetahui komplikasi dari tindakan yang mungkin muncul,
menentukan kelengkapan dan menentukan lingkungan yang kondusif. Mengidentifikasi aspek
hukum dan kode etik terhadap resiko dari kesalahan tindakan.
2. Intervensi : Pelaksanaan tindakan keperawatan yang bertjuan untuk
memenuhi kebutuhan fisik dan emosional, adapun sifat tindakan keperawatan yaitu independen,
interindependen,dan dependen.
3. Dokumentasi : Mendokumentasikan suatu proses keperawatan secara lengkap dan akurat.
E. EVALUASI
Hasil yang diharapkan meliputi:

1. Nyeri berkurang
2. Terpenuhinya kebutuhan mobilitas fisik
3. Tidak terjadi cedera
4. Terpenuhinya kebutuhan perawatan diri
5. Status psikologis yang seimbang
6. Terpenuhinya kebutuhan, pengetahuan dan informasi

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan :
Osteoporosis adalah kondisi terjadinya penurunan densitas/matriks/massa tulang, peningkatan porositas
tulang, dan penurunan proses mineralisasi disertai dengan kerusakan arsitektur mikro jaringan
tulang yang mengakibatkan penurunan kekokohan tulang sehingga tulang menjadi mudah patah
(buku ajar asuhan keperawatan klien gangguan system musculoskeletal)
Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh
dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang
menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang,
maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.
Saran :
Tidak ada saran yang terlalu mengikat dalam kasus ini, hanya saja Diharapkan makalah
ini bisa memberikan masukan bagi rekan- rekan mahasiswa calon perawat, sebagai bekal untuk
dapat memahami mengenai “ASKEP MUSKULOSKELETAL OSTEOPOROSIS” menjadi
bekal dalam pengaplikasian dan praktik bila menghadapi kasus yang kami bahas ini.
Untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan maka penulis memberikan saran-saran
sebagai berikut :
1. Pada pengkajian perawat perlu melakukan pengkajian dengan teliti melihat kondisi klien
serta senantiasa mengembangkan teknik terapeutik dalam berkomunikasi dengan klien.
2. Agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan serta sikap profesional dalam menetapkan diagnosa keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA :

The power of soul for great health, mei 2006

dr. Iskandar junaiadi

Kumar, Vinay, Abul K. Abbas dan Nelson Fausto. 2005. Robbins and Cotran Pathologic Basis
of Disease. Seventh Edition. Philadelphia : Elsevier Saunders.

Lewis, Sharon L. 2007. Medical Surgical Nursing : Assessment and Management of Clinical
Problems Volume 2. Seventh Edition. St.Louis : Mosby.

Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. Alih bahasa : Brahm U. Pendit. 2005. Patofisiologi :
Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Volume 1.Edisi 6. Jakarta : EGC.

Sherwood, Lauralee. Alih bahasa : Brahm U. Pendit. 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel ke
Sistem. Edisi 2. Jakarta : EGC.

http://ismaelstikesperintis.wordpress.com/2010/12/15/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-
osteoporosis/
http://asuhankeperawatan4u.blogspot.com/2013/02/asuhan-keperawatan-pada-pasien-
dengan.html
http://www.4shared.com/office/4a5VvsYC/asuhan_keperawatan_osteoporosi.htm
http://www.infokeperawatan.com/susu-hanya-efektif-cegah-osteoporosis-sebelum-usia-30-
tahun.html
http://www.slideshare.net/search/slideshow?searchfrom=header&q=patofisiologi+osteoporosis

Diposkan oleh irvan skep di 19.50


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog
 ▼ 2013 (1)
o ▼ Oktober (1)
 Makalah Askep Osteoporosis

Mengenai Saya

irvan skep
Lihat profil lengkapku
Template Travel. Diberdayakan oleh Blogger.