Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG MASALAH

Ilmu kedokteran terus berkembang, salah satu perkembangan yang terjadi adalah

terbentuknya percabangan ilmu kedokteran. Jika ilmu kedokteran sebelumnya merupakan

seni menyembuhkan penyakit (the art of healing) yang dilaksanakan oleh dokter yang mampu

melayani pasien yang menderita berbagai penyakit, maka kemudian sesuai dengan

kebutuhan. Kesehatan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan derajat hidup

masyarakat, maka semua negara berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang

sebaik- baiknya.

Dalam kesempatan ini, tim penyusun membahas mengenai kelainan kelnjar minyak

dan kelenjar keringat di kulit. Dikarenakan kasus kelainan kelenjar pada kulit sangat banyak

pada masa kini, ditambah polusi udara yang makin meningkat sehingga infeksi kulit sangat

mudah menyebabkan kelainan- kelainan tersebut.

Disamping itu didalam perkembangan ilmu kedokteran yang sangat dinamis sehingga

menuntut mahasiswa/i untuk terus belajar dan menggali ilmu tanpa mengenal waktu, hal itu

sangat diperlukan terhadap mahasiswa/i yang menjadi calon dokter masa depan di negara

Indonesia. Jadi dengan konsep keilmuan yang baik maka lahirlah seorang dokter yang

kompeten dan dipercaya oleh masyarakat, inilah yang merupakan salah satu latar belakang

kami dalam penyusunan makalah.


1. 2 TUJUAN PEMBAHASAN

Dalam penyusunan makalah ini tentunya memiliki tujuan yang diharapkan berguna

bagi para pembaca dan khususnya kepada penyusun sendiri. Dimana tujuannya dibagi

menjadi dua macam yang pertama secara umum makalah ini bertujuan menambah wawasan

mahasiswa/i Fakultas Kedokteran, dimana pemikiran ilmiah sangat dibutuhkan bagi seorang

dokter agar mampu menganalisis suatu masalah secara tepat dan cepat. Sedangkan secara

khusus tujuan penyusunan makalah ini ialah sebagai berikut :

1. Mengetahui definisi kelainan kelenjar keringat dan minyak

2. Mengetahui etiologi kelainan kelenjar keringat dan minyak

3. Mengetahui patogenesis kelainan kelenjar keringat dan minyak

4. Mengetahui gejala klinis kelainan kelenjar keringat dan minyak

5. Mengetahui diagnosis kelainan kelenjar keringat dan minyak

6. Mengetahui penatalaksanaan kelainan kelenjar keringat dan minyak

7. Mengetahui jenis- jenis kelainan kuku serta pengobatannya

8. Mengetahui jenis- jenis kelainan rambut serta pengobatannya


1. 3 METODE DAN TEKNIK

Dalam penyusunan makalah ini kami mengembangkan suatu metode yang sering

digunakan dalam pembahasan- pembahsan makalah sederhana, dimana kami menggunakan

metode dan teknik secara deskriptif dimana tim penyusun mencari sumber data dan sumber

informasi yang akurat lainnya setelah itu dianalisis sehingga memperoleh informasi tentang

masalah yang akan dibahas, setelah itu berbagai referensi yang didapatkan dari berbagai

sumber tersebut disimpulkan sesuai dengan pembahasan yang akan dilakukan dan sesuai

dengan judul makalah dan dengan tujuan pembuatan makalah ini.

Itulah sekilas tentang metode dan teknik yang digunakan dalam penyusunan makalah

ini.
BAB II

PEMBAHASAN

2. 2 2. 2. 1 KELAINAN KELENJAR KERINGAT

A. MILIARIA

Definisi dari miliaria merupakan suatu keadaan tertutupnya pori- pori keringat

sehingga menimbulkan retensi keringat di dalam kulit. Berdasarkan lokasi

tersumbatnya, miliaria terbagi dalam beberapa tipe :

a) Miliaria kristalina, sumbatan berada di dalam stratum korneum

b) Miliaria rubra, sumbatan terletak di dalam epidermis

c) Miliaria profunda, sumbatan ada di dalam dermo-epidermal junction

Patogenesis, miliaria terjadi karena ada sumbatan keratin pada saluran

keringat. Pada permulaan musim hujan udara mula lembab. Udara lembab ini

mempengaruhi keratin di sekeliling lubang keringat yang mula- mula kering

kemudian menjadi lembab dan membengkak, sehingga lubang keringat tertutup.

Dapat juga bahan kimia menyebabkan keratin menjadi basah dan menutupi lubang

keringat. Lokasi sumbatan yang menutupi saluran keringat dapat menentukan tipe

miliaria yang timbul :

a) Sumbatan superfisial di dalam stratum korneum akan menghasilkan miliaria

kristalina. Saluran yang berada di bawah sumbatan pecah dan timbul vesikula

kecil putih seperti kristal jernih. Atap vesikula terdiri dari stratum korneum.

b) Kalau sumbatan sedikit lebih dalam yakni di dalam epidermis dan saluran

keringat yang pecah ada di dalam epidermis, vesikula terjadi di dalam


epidermis. Tipe ini dikenal dengan miliaria rubra. Miliaria tipe ini ditandai

dengan eritem dan rasa gatal. Tanda ini adalah akibat dari vasodilatasi dan

rangsangan reseptor gatal oleh enzim yang keluar dari sel epidermis karena

keringat yang masuk ke dalam epidermis.

c) Jika sumbatan terletak lebih dalam lagi, di bagian dermo- epidermal junction,

vesikula terjadi terletak di dalam dermis bagian superficial; ini dikenal dengan

miliaria profunda.

Manifestasi klinis dari miliaria dibedakan atas tipe- tipenya, yaitu : (1)

Miliaria kristalina, jenis ini mempunyai tanda khas, yakni vesikula kecil- kecil jernih

seperti kristal dengan diameter 1- 2 mm, menyerupai titik- titik air pada kulit dan

tanpa eritem. Biasanya tanpa simptom dan diketahui secara kebetulan pada waktu

pemeriksaan fisik. Sering terjadi pada daerah intertriginosa, seperti pada ketiak dan

leher, serta badan. Vesikula mengelompok, mudah pecah pada waktu mandi atau

karena gesekan ringan;(2) Miliaria rubra, ini merupakan bentuk klinik yang sangat

penting dan ditandai dengan rasa gatal dan eritem. Lesinya berupa papula eritematus

dengan puncak dan pusatnya berupa vesikula. Lesinya ekstrafolikuler; ini

membedakan dengan folikulitis. Papulanya steril atau terinfeksi sekunder pada

miliaria yang luas dan kronis;(3) Miliaria pustulosa, selalu didahului oleh penyakit

kulit lain yang menimbulkan kerusakan dan sumbatan saluran kelenjar keringat.

Pustulanya jelas dan nonfolikuler. Rasa gatal sering pada daerah- daerah

intertriginosa. Penyakit dermatitis kontak, liken simpleks kronikus, dan intertrigo

dapat menyebabkan timbulnya miliaria pustulosa setelah beberapa minggu penyakit

tersebut itu sembuh. Disini papula biasanya steril, tetapi dapat pula berisi stafilokok

dan/atau streptokok yang non patogen;(3) Miliaria profunda, penyakit ini mempunyai

tanda berupa papula keputih- putihan dengan diameter 1-3 mm. Biasanya pada
punggung, tetapi juga bagian ekstremitas. Ini merupakan vesikula yang letaknya lebih

dalam (di dalam dermis), sehingga bersifat kronis dan tampak sebagai papula. Tidak

ada eritem dan gatal. Kalau luas, miliaria ini akan mengganggu keluarnya keringat,

sehingga menimbulkan hiperhidrosis kompensasi di wajah. Kalau banyak kelenjar

keringat yang tidak berfungsi, sehingga keringat yang seharusnya keluar tidak terjadi,

dan penderita perlu tempat yang dingin. Penderita ini bisa menjadi lemah, dispnea,

takikardia, bahkan suhu bisa naik, dan penderita dapat pingasan di bawah keadaan

heat stress. Penderita tersebut disebut mengalami astenia anhidrotik topikal.

Diagnosis dan Diagnosis Banding, (1) miliaria kristalina dapat ditegakkan

dengan cara memecah vesikula dengan jarum kecil;akan keluar cairan jernih;(2)

miliaria rubra dapat dikelirukan dengan penyakit lain, misalnya reaksi iritasi primer,

eritem neonatorum, dan folikulitis. Dengan kaca pembesar akan tampak vesikula yang

khas; puncak lesi yang eritematus adalah folikel rambut;(3)miliaria profunda, ada

persoalan dalam menegakkan diagnosis miliaria profunda, karena papula putih atau

warna cerah dapat dikelirukan dengan papular mucinosis dan amiloidosis.

Pengobatan, kunci pengobatan miliaria adalah dengan menempatkan

penderita di daerah yang dingin, sehingga keringat bisa berkurang. Sumbatan keratin

yang menutupi lubang keringat akan terlepas beberapa hari sampai 2 minggu.

AC/pendingin/ruang yang teduh bisa mencegah terjadi permulaan miliaria. Obat- obat

topikal terkadang tidak efektif dan kadang- kadang bisa menambah banyaknya

miliaria. Beberapa obat lokal bisa diberikan untuk menghilangkan sumbatan,

misalnya lanolin yang anhidrus, salep hidrofilik, talk untuk bayi, tepung kanji, dan

losio yang berisi 1% menthol dan gliserin dan 4% asam salisilat dalam alkohol 95%.

Antibiotika lokal juga dapat diberikan untuk mencegah, tetapi ternyata tidak efektif.
Pemberian vitamin C dosis tinggi dapat diberikan untuk mencegah atau mengurangi

timbulnya miliaria.

BAB III

PENUTUP

3. 1 KESIMPULAN

1. Kelainan kelenjar keringat sangat dipengaruhi oleh faktor endogen sendiri. Banyak

penyebab yang belum diketahui secara pasti akan tetapi faktor yang memperburuk

keadaan dari kelainan kelenjar keringat itu sendiri.

2. Kelaianan rambut yaitu alopesia kasus umumnya disebabkan oleh faktor genetik. Dan

ada jenis alopesia yang bisa sembuh secara spontan.

3. Kelainan kuku pada kasus klinik yang paling banyak dan mengganggu keseharian

adalah paronikia. Dimana kasus ini membuat penderita merasakan sakit akibat kuku

yang membengkak dan mengeluarkan pus.

4. Kelainan kelenjar minyak kasus yang banyak adalah rosasea dan akne vulgaris.

Dimana kedua kasus ini banyak pada wanita karena timbul di wajah dan secara tidak

langsung mengganggu kepercayaan diri dari wanita yang menderita penyakit tersebut.
3. 2 SARAN

Dalam penyelesaian makalah ini kami juga memberikan saran bagi para pembaca dan

mahasiswa yang akan melakukan pembuatan makalah berikutnya :

1. Kombinasikan metode pembuatan makalah berikutnya.

2. Pembahasan secara langsung dengan informasi yang benar- benar up to date.

Beberapa poin di atas merupakan saran dari tim yang dapat diberikan, apabila ada

yang ingin melanjutkan penelitian terhadap makalah ini, dan demikian makalah ini

disusun serta besar harapan nantinya makalah ini dapat berguna bagi para pembaca

khususnya mahasiswa fakultas kedokteran UISU smester VII/2013 dalam menambah

wawasan dan ilmu pengetahuan.


DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Idrus; Simadibrata K, Marcellus; Setiyohadi, Bambang; Setiati, Siti; W.Sudoyo, Aru.

BUKU AJAR ILMU PENYAKIT DALAM. Jilid I. Edisi V. Interna Publishing : Jakarta.

2009

Garna Baratawidjaja, Karnen. Rengganis, Iris. IMUNOLOGI DASAR. Edisi ke-10. Badan

Penerbit FKUI : Jakarta. 2012

Boedina Kresno, Siti. IMUNOLOGI : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Edisi kelima.

Badan penerbit FKUI : Jakarta. 2010

Djuanda, Prof. Dr. Dr. Adhi (Ketua Editor). ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN.

Edisi Keenam. BADAN PENERBIT FKUI : Jakarta. 2013