Anda di halaman 1dari 15

Arya SriSaddharma Pundarika Nama Dharmaparyaya

Mahayana Suttram

Yang Suci Sutra Bunga Teratai Putih Dari Pintu Gerbang Dharma Mahayana
tentang pembabaran dua belas nidana dari hukum kesunyataan mulia

Bhaisajyaraja Purvayoga Parivartah Dharmaparyaya


Suttram
BAB XXII
Bhaisajyarajapurvayogaparivartah

1
Pada saat itu Sang Bodhisattva Nakshatrarajasamkusumitabhijna menyapa
Sang Bhagavan Buddha seraya berkata:

"Yang Maha Agung ! Mengapa Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja berkelana didalam


dunia Saha ini? Yang Maha Agung ! Alangkah banyaknya penderitaan yang harus
ditanggung oleh Sang Bhaisajyaraja ! Akan menjadi sempurnalah kiranya, duhai
Yang Maha Agung ! Seandainya Engkau menjelaskannya meskipun hanya
sekelumit saja sehingga para dewa, naga, yaksa, gandharva, asura, garuda, kinnara,
mahoraga, manusia, dan yang bukan manusia serta Para Bodhisattva yang telah
datang dari negeri-negeri lain, akan bergembira semuanya setelah mendengarnya."

Kemudian Sang Buddha menyapa Sang Bodhisattva


Nakshatrarajasamkusumitabhijna :

" Dahulu kala, pada ribuan kalpa yang tak terhitung, yang jumlahnya sebanyak pasir-
pasir dari Sungai Gangga yang telah berlalu, adalah Seorang Buddha yang bernama
Candrasuryavimalaprabhasasri, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah
Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna,
Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin
Tiada Tandingan, Guru Dewa dan manusia, Yang Telah Bangun, Yang Maha
Agung.

2
Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri memiliki 80 koti Bodhisattva
Mahasattva Agung dan sekelompok besar Para Sravaka yang jumlahnya seperti
pasir-pasir dari 72 sungai gangga. Masa hidup Buddha
Candrasuryavimalaprabhasasri adalah 42 ribu kalpa dan masa hidup dari Para
Bodhisattva-Nya juga selama itu. Didalam kawasanNya tidak terdapat seorang
wanitapun, neraka, iblis-iblis lapar, hewan, asura, dan kesengsaraan. TanahNya
datar seperti telapak tangan manusia dan terbuat dari lapis lazuli, terhiasi dengan
pepohonan permata, terselimuti oleh tirai-tirai manikam, digantungi dengan
bendera-bendera bebungaan permata, pot-pot kembang dan anglo-anglo bertatah
permata terlihat di seluruh pelosok negeri itu. Terdapat juga teras-teras yang terbuat
dari 7 benda berharga dengan pepohonan disetiap terasnya dimana pohon itu
berjarak satu jangkauan anak panah penuh dari teras tadi. Dibawah pepohonan
permata ini duduklah para Bodhisattva dan Sravaka. Diatas masing-masing mimbar
ini terdapat seratus koti para dewa yang sedang mengalunkan dendang dan lagu
pujian kasurgan untuk memuliakan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri.
Kemudian Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri mengkhotbahkan Hukum
Kesunyataan Bunga Teratai kepada Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana dan
seluruh para Bodhisattva serta kelompok para Sravaka.

Sang Bodhisattva Kecantikan ini telah menikmati khotbah tentang penderitaan dan
didalam Hukum dari Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri, Ia telah membuat
kemajuan dengan penuh semangat dan dengan sepenuh hatinya Ia mengembara
kesana kemari untuk mencari Sang Buddha selama 12 ribu tahun penuh, dimana
sesudah itu Ia mencapai Tingkat Samadhi Sarvarupasamdarsanah. Setelah mencapai
Perenungan ini, hati-Nya menjadi sangat bergembira dan membayangkan demikian

3
: "Hasil Perenungan Ku sampai Tingkat Samadhi Sarvarupasamdarsanah ini semata-
mata hanyalah berkat kekuatan yang timbul dari mendengarkan Sutta Bunga Teratai
dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan. Oleh karenaNya, biarlah Aku sekarang
memuliakan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri; dan Sutta Bunga Teratai
dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan ini."Tidak lama setelah Ia memasuki
Perenungan itu, kemudian dari langit hujan bertaburan Bunga-Bunga Mandarawa,
Bunga-Bunga Maha Mandarawa dan 5 macam serbuk kayu cendana yang keras dan
hitam yang semuanya ini memenuhi angkasa dan turun seperti segumpal awan. Juga
ditaburkan dedupaan dari kayu cendana Urugasara yang 6 karsha dari dedupaan ini
berharga satu dunia saha. Semuanya ini Ia lakukan demi untuk memuliakan Sang
Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri.

"Sesudah membuat persembahan ini, kemudian Ia bangkit dari Perenungan itu dan
berpikir dalam hati-Nya:"Meskipun dengan kekuatan ghaib-Ku
Aku telah memuliakan Sang Buddha, tetapi hal itu tidaklah sebaik membuat
persembahan dengan tubuh-Ku sendiri."Kemudian Ia dahar beberapa macam
dedupaan, yaitu dedupaan dari kayu cendana, kunduruka, turushka, prikka, kayu
gaharu dan damar, serta meminum pula sari minyak Bunga Campaka dan Bunga-
Bunga lainnya. Sesudah 1200 tahun penuh, kemudian Ia melumasi Tubuh-Nya
dengan salep-salep harum, dan dihadapan Sang Buddha
Candrasuryavimalaprabhasasri Ia mengenakan pakaian kasurgan yang indah serta
mandi didalam minyak wangi dan dengan seluruh daya ghaib-Nya, Ia membakar
sekujur Tubuh-Nya sendiri. Kilau sinar-Nya menerangi seluruh alam semesta yang
jumlahnya seperti pasir-pasir dari 80 koti sungai-sungai Gangga, dan Para Buddha-
Nya secara serempak memujiNya seraya berkata:"Bagus,bagus! Putera yang baik!
Inilah semangat yang nyata yang disebut Penghormatan Hukum Yang Benar Bagi

4
Sang Tathagata. Segala persembahan yang berupa bebungaan, wewangian, kalung-
kalung, dedupaan, serbuk-cendana, salep-salep obat, bendera dan tirai-tirai sutera
surga serta kayu cendana Uragasara, semuanya tidak dapat mengimbangi-Nya.
Begitu pula persembahan-persembahan yang berupa derma, negeri, kota, istri, dan
anak, semua persembahan-persembahan ini tidak dapat menyamai-Nya. Wahai
Putera-Ku yang baik! Inilah yang disebut persembahan yang paling agung,
persembahan yang Maha luhur dan mulia, karena inilah persembahan Hukum bagi
Para Tathagata." Sesudah mengucapkan Pernyataan ini, Semuanya diam kembali.

"Tubuh-Nya menyala terus selama 1200 tahun dan sesudah itu mokshalah Tubuh-
Nya."

"Setelah Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana selesai membuat persembahan


Hukum yang semacam itu, maka disaat Kemokshaan-Nya, Ia terlahir didalam
Kawasan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri; yang secara tiba-tiba Ia
terjelma dalam keadaan duduk bersila di kediaman Sang Raja Vimaladatta yang
menjadi Ayah-Nya dimana Ia segera berkata dalam Syair:

"Ketahuilah Wahai Raja Agung! Pada saat berada di tempat kediaman lain, dengan
segera Aku mencapai tingkat Samadhi Sarvarupasamdarsanah, dan dengan tulus
ikhlas melaksanakan Dharma dari semangat yang agung, dengan cara mengorbankan
Tubuh yang Aku cintai."

"Setelah mengucapkan Syair ini, kemudian Ia berkata kepada Ayah-Nya:"Sang


Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri masih tetap ada seperti dahulu kala. Sesudah
membuat penghormatan Utama kepada Sang Buddha, Aku mencapai Dharani dari

5
menafsirkan ucapan-ucapan semua mahluk dan lebih-lebih lagi Aku telah
mendengar Sutta Bunga Hukum Kesunyataan ini sebanyak 800 ribu koti nayuta,
kankara, bimbara, dan Aksobhya Syair. Wahai Raja Agung! Aku harus kembali
sekarang dan memuliakan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri."
Sesudah mengucapkan ini, kemudian Ia mengambil tempat duduk-Nya diatas
menara dari tujuh benda berharga dan membumbung ke angkasa setinggi tujuh
pohon tala. Ketika Ia sampai pada Buddha itu, kemudian Ia bersujud di kaki-Nya
serta mengatupkan sepuluh jari-Nya dan memuja Buddha itu dalam Syair:

"Raut Wajah yang sangat mengagumkan, cemerlangNya menerangi alam semesta,


Dahulu kala Aku memuliakan-Mu, Sekarang Aku kembali lagi untuk memandang-
Mu."

"Setelah Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana selesai mengucapkan Syair ini,


kemudian berkatalah Ia kepada Buddha itu:"Yang Maha Agung! Yang Dihormati
dunia masih tetap berada didalam dunia."

"Kemudian Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri; menyapa Sang


Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana:"Putera-Ku Yang Baik! Saat Nirvana-Ku telah
tiba. Saat kemokshaan-Ku telah datang. Engkau aturlah tempat tidur-Ku. Malam
nanti Aku akan memasuki Parinirvana." Kembali Beliau mengutus Sang Bodhisattva
Sarvasattvapriyadarsana:"Putera-Ku Yang Baik! Aku percayakan Hukum Buddha
kepada-Mu dan Aku serahkan pula kepada-Mu seluruh Bodhisattva-Bodhisattva dan
Pengikut-Pengikut Utama-Ku, Hukum Penerangan Agung-Ku dan jutaan dunia-Ku
yang terbuat dari 7 benda berharga bersama dengan pepohonan permata dan menara
Manikamnya serta seluruh pelayan-pelayan-Ku. Aku percayakan juga kepada-Mu

6
segala peninggalan Relik-Relik apapun yang ada sesudah Kemokshaan-Ku. Biarlah
mereka menyebar dan memuliakan-Nya sampai jauh dan biarlah ribuan Stupa
didirikan pula." Setelah Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri selesai
menitahkan Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana sedemikian itu, kemudian
didalam penghujung malam, masuklah Dia kedalam Nirvana.

"Ketika Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana melihat bahwa Sang Buddha itu


telah moksha, hati-Nya menjadi sangat berkabung, sangat terharu dan berduka-cita
serta menyesalinya. Kemudian Ia menumpuk bahan bakar dari kayu cendana
Uragasara dan setelah menghormati Jasad Buddha itu lalu Ia membakar-Nya.
Sesudah sang api padam, Ia mengumpulkan abu-abu peninggalan-Nya dan membuat
84 ribu mangkok-mangkok indah serta mendirikan 84 ribu Stupa setinggi 3 lipatan
dunia yang dihias dengan menara panji-panji, digantungi dengan bendera dan tirai-
tirai serta genta-genta indah. Kemudian Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana
membayangkan lagi didalam hati-Nya:"Meskipun Aku telah melakukan
Penghormatan seperti ini, namun hatiku belumlah merasa puas. Baiklah Aku tetap
memuliakan Peninggalan-Peninggalan-Nya lebih jauh lagi."Kemudian Ia menyapa
Para Bodhisattva, Pengikut-Pengikut Utama, begitu pula para dewa dan para naga,
para yaksha dan seluruh kelompok seraya berkata:"Kalian perhatikanlah dengan
sepenuh hati, karena sekarang ini Aku akan memuliakan peninggalan Sang Buddha
Candrasuryavimalaprabhasasri."Setelah berkata demikian ini, kemudian didepan 84
ribu stupa, Ia membakar tangan-Nya bersama dengan ratusan tanda-tanda-Nya yang
indah dan selama 72 ribu tahun, Ia memuliakan-Nya dan mengasuh sekelompok Para
Pencahari KeSravakaan yang tak terhitung jumlah-Nya serta meneguhkan iman dari
ribuan asamkhyeya orang agar mereka itu mencapai Penerangan Agung dan
7
membuat semuaNya tinggal didalam Perenungan dari Samadhi
Sarvarupasamdarsanah.

"Kemudian seluruh Para Bodhisattva, para dewa, manusia, asura dan lain-lainnya,
demi melihat Dia tanpa tangan lagi, semuanya sangat berduka, bersedih dan
bersusah hati seraya berkata:" Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana ini adalah
benar-benar Guru dan Pembimbing Kita, tetapi sekarang Tangan-Nya telah musnah
terbakar dan Jasmani-Nya pun telah menjadi rusak pula."Kemudian Sang
Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana berprasetya didalam Persidangan Agung
itu:"Setelah mengorbankan kedua belah Tangan-Ku, maka Aku akan benar-benar
memperoleh tubuh emas Seorang Buddha. Jika Keyakinan ini benar adanya dan
tidak meleset, maka baiklah Kedua Belah Lengan-Ku ini kembali sempurna seperti
sediakala." Begitu Ia selesai mengucapkan Prasetya ini, Kedua Belah Lengan-Nya
menjadi sempurna kembali dengan sendirinya, dan hal ini membuat semua orang
menyadari Keistimewaan dari Kebijaksanaan dan Keluhuran Yang Tiada Cela dari
Sang Bodhisattva ini. Pada saat itu juga jutaan dunia bergoncangan dalam 6 cara dan
sang langitpun menghujani aneka ragam bebungaan, para dewa serta para manusia
semuanya memperoleh apa yang belum pernah mereka dapatkan."

Kemudian Sang Buddha menyapa Sang Bodhisattva


Nakshatrarajasamkusumitabhijna : " Pendapat apakah yang ada dalam Pikiran-Mu,
adakah Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana itu Orang lain adanya?
Sesungguhnyalah Dia itu Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja. Persembahan dan
Pengorbanan Diri-Nya sangat begitu tak terbatas sampai ratusan ribu koti nayuta
seperti ini. Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Jika terdapat Seseorang yang
dengan sepenuh hatinya berkehendak dan bertujuan untuk mencapai Penerangan
Agung dan Ia mampu membakar jari-jari tangan-nya atau bahkan ibu jari kakinya
8
untuk memuliakan Stupa Buddha, maka Ia akan melampaui dia yang memuliakan
Stupa dengan negeri-negeri, kota, istri dan anak-anak, serta jutaan dunianya bersama
seluruh gunung-gunung, hutan-hutan, sungai, kolam dan segala sesuatunya yang
sangat berharga".

"Lagi, jika terdapat seseorang yang mempersembahkan jutaan dunia yang penuh
dengan 7 benda-benda berharga untuk memuliakan Para Buddha, Bodhisattva-
Bodhisattva Agung, PratyekaBuddha dan Para Arhat, maka pahala yang diperoleh
orang ini tidaklah mampu mengimbangi kebahagiaan dari mereka yang menerima
dan memelihara meskipun hanya 4 untai dari sebuah bait syair Sutta Bunga Teratai
dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan ini".

"Wahai Raja Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Bayangkanlah saja, seandainya


diantara saluran-saluran air, sungai-sungai kecil, sungai, hulu dan semua air-air yang
lain, maka lautlah yang paling luas. Begitu jugalah dengan Sutta Hukum
Kesunyataan Bunga Teratai ini, diantara segala Sutta yang telah dikhotbahkan oleh
Para Tathagata, Hukum Kesunyataan Bunga Teratai inilah Yang Paling Dalam dan
Yang Paling Agung. Dan demikian juga diantara semua pegunungan-pegunungan
yaitu pegunungan bumi, gunung-gunung hitam, gunung-gunung lingkaran besi
kecil, gunung-gunung lingkaran besi besar, dan 10 pegunungan pusaka indah serta
pegunungan-pegunungan lainnya, maka Gunung Sumerulah yang paling tinggi.
Demikian jugalah dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini, diantara
segala Sutta-Sutta, Hukum Kesunyataan Bunga Teratai inilah Yang Tertinggi.

9
Begitu juga seperti Sang Dewa Bulan yang terang sinarNya melebihi bintang-
bintang, Demikian jugalah dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini.
Diantara ratusan ribu koti dari segala jenis Sutta Hukum Kesunyataan, maka Hukum
Kesunyataan Bunga Teratai inilah Yang Paling Cemerlang. Lebih jauh lagi, seperti
halnya Sang Dewa Matahari yang mampu melenyapkan semua kegelapan, maka
begitu jugalah Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang mampu pula
memusnahkan semua kegelapan yang nista.

Lagi, diantara semua raja-raja kecil, maka Raja Pemutar Roda Sucilah Yang Paling
Agung dan demikian pulalah Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang
diantara segala Sutta merupakan Sutta Yang Termulia. Lagi, seperti halnya Sang
Dewa Sakra Indra, Raja Yang Maha Mulia diantara dewa dari surga tiga puluh tiga
(Tavatimsa), maka demikian jugalah dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga
Teratai ini yang merupakan Raja Dari Semua Sutta. Lagi, seperti halnya Raja Surga
Brahma Sahampati yang merupakan Bapak dari seluruh makhluk hidup, maka
demikianlah Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang merupakan Bapak
dari seluruh Orang Arif dan Bijak, Bapak dari Mereka yang masih berada dibawah
asuhan maupun yang tidak lagi dibawah asuhan dan Bapak dari Mereka yang berjiwa
Bodhisattva. Lagi, seperti halnya Seorang Srotapanna, Sakadagami, Anagami,
Arhan, dan PratyekaBuddha yang lebih unggul dibandingkan manusia biasa, begitu
jugalah dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang diantara segala
Sutta yang telah dikhotbahkan oleh Para Tathagata, Bodhisattva maupun Sravaka
merupakan Sutta Yang Terunggul.

Begitu pulalah halnya dengan Mereka yang dapat menerima dan memelihara Sutta
Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini, maka diantara seluruh mahluk hidup,
Merekalah Yang Paling Mulia. Diantara seluruh Sravaka dan PratyekaBuddha, maka

10
Bodhisattvalah yang paling terkemuka. Begitu jugalah dengan Sutta Hukum
Kesunyataan Bunga Teratai ini yang diantara semua Sutta merupakan Sutta Hukum
Kesunyataan Terunggul.

Seperti Buddha Yang Merajai Segala Hukum, maka demikianlah Sutta Hukum
Kesunyataan Bunga Teratai ini Yang Merajai Seluruh Sutta.

"Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Sutta ini adalah Sutta yang mampu


menyelamatkan semua umat. Sutta ini mampu membebaskan seluruh mahluk dari
duka dan nestapa. Sutta ini mampu menyelamatkan para umat dan mampu
memenuhi segala keinginan mereka. Seperti sebuah kolam yang jernih dan dingin
yang mampu memuaskan mereka yang kehausan, seperti orang kedinginan yang
mendapatkan perapian, seperti orang yang tidak memiliki pakaian mendapatkan
pakaian, seperti karapan rombongan pedagang yang mendapatkan pimpinan, seperti
seorang anak yang mendapatkan ibunya, seperti seorang yang ingin menyeberang
mendapatkan perahu, seperti seorang sakit yang mendapatkan tabib, seperti seorang
miskin yang menemukan permata, seperti orang didalam kegelapan yang
mendapatkan pelita, seperti rakyat yang mendapatkan raja, seperti seorang pedagang
pengadu untung yang mendapatkan kesempatan, seperti obor yang menyirnakan
kegelapan, maka demikian jugalah halnya dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga
Teratai ini yang mampu membebaskan semua umat dari segala kesengsaraan serta
penderitaan dan mampu pula melepaskan ikatan-ikatan dari kehidupan yang tidak
kekal".

Jika terdapat Seseorang yang setelah mendengar Sutta Hukum Kesunyataan Bunga
Teratai ini kemudian menyalin-Nya atau membuat orang lain menyalin-Nya, maka

11
batas jumlah Pahala yang diperolehnya tidak lagi dapat diperkirakan meskipun
dengan kebijaksanaan Buddha sekalipun. Jika seseorang menyalin Sutta Hukum
Kesunyataan Bunga Teratai ini dan memuliakan-Nya dengan bebungaan,
wewangian, kalung-kalung, dedupaan, bedak-bedak cendana, salep-salep obat,
bendera-bendera, tirai-tirai, pakaian, dan bermacam-macam lampu, lampu susu,
lampu minyak, lampu minyak wangi, lampu minyak bunga campaka, lampu minyak
bunga samana, lampu minyak bunga patala, dan lampu minyak bunga varshika serta
lampu minyak bunga navamalika, maka pahala yang diperoleh tiada dapat
dilukiskan.

"Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Jika terdapat Seseorang yang mendengar


Bab dari "Dharma Yang Terdahulu Dari Sang Bhaisajyaraja" itu, iapun akan
memperoleh pahala yang tak terhingga dan tak terbatas. Jika terdapat seorang wanita
yang mendengar hal dari Dharma Yang Terdahulu Dari Sang Bodhisattva
Bhaisajyaraja dan ia mampu menerima dan memelihara-Nya, maka sesudah tubuh
kewanitaannya berakhir ia tidak lagi akan menerima tubuh wanita itu lagi. Jika
sesudah Kemokshaan Sang Buddha nanti terdapat seorang wanita yang didalam 500
tahun yang terakhir mendengar Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini dan
bertindak sesuai dengan Ajaran-Nya maka diujung kehidupan ini ia akan menuju
Dunia Bahagia dimana Sang Buddha Amitayus berdiam dikelilingi oleh Para
Bodhisattva Agung-Nya. Ia akan terlahir disana ditengah-tengah setangkai bunga
teratai yang berada diatas tahta permata. Wanita yang sudah menjelma menjadi laki-
laki itu tidak akan pernah tergoda lagi oleh kemarahan ataupun tergoda oleh
kesombongan, dengki ataupun ketidak sucian, tetapi ia akan memperoleh kekuatan
ghaib dan kepastian untuk tidak terlahir kembali.

12
Setelah memperoleh Penetapan ini, indera matanya akan menjadi sempurna dan
dengan kesempurnaan indera matanya ini ia akan melihat 7 juta dan 2 ribu koti
nayuta dari Para Buddha Tathagata yang jumlah-Nya sama dengan pasir-pasir
Sungai Gangga ketika Para Buddha ini memujinya dengan serempak dari kejahuan
seraya bersabda:"Bagus sekali, bagus sekali! Wahai Putera-Ku yang baik! Engkau
telah mampu menerima dan memelihara, membaca dan menghafalkan serta
merenungkan Sutta ini didalam Hukum Sang Sakyamuni Buddha dan
mengajarkanNya pula kepada orang lain. Karunia yang telah engkau peroleh adalah
sangat tak terhingga dan tak terbatas dimana sang api tidak mampu membakarnya
serta sang airpun tidak mampu menghanyutkannya. Pahalamu tiada dapat lagi
diutarakan oleh Seribu Buddha. Sekarang engkau telah mampu memusnahkan mara-
mara jahat, menyingkirkan kekuatan-kekuatan ikatan ketidak-tahuan dan
menghancurkan musuh-musuh yang lain.

Wahai Putera Yang Baik! Ratusan ribu Para Buddha dengan segala kekuatan ghaib-
Nya akan selalu bersama-sama menjaga dan melindungimu sehingga tiada satupun
dari para dewa dan manusia diseluruh dunia ini yang dapat menyamaimu kecuali
Sang Tathagata Sendiri. Kebijaksanaan dan meditasi dari Para Sravaka,
PratyekaBuddha atau bahkan Para Bodhisattva Sendiri, semuanya tidak akan dapat
mengimbangimu."

"Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Sedemikianlah Daya Pahala dan


Kebijaksanaan yang telah diperoleh Sang Bodhisattva ini."

"Jika terdapat seseorang yang ketika mendengar hal dari Dharma Yang Terdahulu

13
Dari Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja ini kemudian ia mampu menerima dan
memuliakan-Nya dengan penuh kegembiraan, maka selama hidupnya yang sekarang
ini, ia akan selalu menebarkan bau nafas yang harumnya seperti Bunga Teratai Biru
dan dari seluruh pori-pori tubuh-Nya akan memancarkan harumnya kayu cendana
kepala lembu serta pahalanya akan menjadi seperti tersebut diatas tadi. Oleh
karenanya, wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna, Aku percayakan kepada-Mu
Bab tentang Dharma Yang Terdahulu Dari Sang Bhaisajyaraja itu. Didalam 500
tahun yang terakhir sesudah Kemokshaan-Ku nanti, maklumkanlah dan siarkanlah
Bab itu didalam Jambudvipa, karena kalau tidak, Bab itu akan hilang sehingga sang
mara, yang maha jahat, beserta manusia-manusia maranya, para dewa, naga, yaksha,
kumbhandas dan lain-lainnya akan memperoleh kesempatannya."

"Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Peliharalah dan Lindungilah Sutta ini


dengan kekuatan-kekuatan ghaib-Mu. Karena Sutta ini merupakan obat yang manjur
bagi penyakit orang-orang Jambudvipa. Jika seseorang jatuh sakit dan ia mendengar
Sutta ini, maka sakitnya akan segera hilang dan iapun tidak akan menjadi tua dan
tidak pula akan mati."

"Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Jika Engkau melihat seseorang menerima


dan memelihara Sutta ini, maka Engkau harus menaburkan Bunga-Bunga Teratai
Biru yang penuh dengan serbuk-serbuk kayu cendana kepadanya, dan sesudah
menaburinya, berpikirlah demikian:"Orang ini akan segera menerima segebung
rerumputan dan akan segera mengambil tempat dudukNya diatas tempat
Kebijaksanaan. Ia akan mencerai-beraikan kelompok mara dan meniup nafiri
Hukum serta menabuh genderang Hukum Agung. Ia akan menyelamatkan seluruh
mahluk hidup dari samudra ketuaan, penyakit dan kematian."
14
"Oleh karena itu, siapapun yang mencari Jalan KeBuddhaan ketika melihat
seseorang yang menerima dan memelihara Sutta ini, maka ia harus menaruh rasa
hormat kepadanya."

Pada saat Bab dari Dharma Yang Terdahulu Dari Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja
ini sedang dikhotbahkan, 84 ribu Bodhisattva memperoleh Dharani dari menafsirkan
ucapan semua mahluk. Sang Tathagata Prabutaratna yang berada didalam Stupa 7
Benda Berharga memuji Sang Bodhisattva Nakshatrarajasamkusumitabhijna:"
Bagus sekali, bagus sekali, wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Engkau telah
memperoleh Pahala-Pahala yang tak dapat dilukiskan lagi karena Engkau telah dapat
menanyakan Hal-Hal yang seperti ini kepada Sang Sakyamuni Buddha dan Engkau
telah benar-benar menyelamatkan semua umat."

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan,


Tentang Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja, Bab 22.

15