Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Istilah Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA dikenal juga dengan istilah sains.
Kata sains ini berasal dari bahasa Latin yaitu scientia yang berarti ”saya tahu”.
Dalam bahasa Inggris, kata sains berasal dari kata science yang berarti
pengetahuan. Science kemudian berkembang menjadi social science yang dalam
Bahasa Indonesia dikenal dengan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan natural
science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan alam
(IPA).

Dalam kamus Fowler (1951), natural science didefinisikan sebagai


systematic and formulated knowledge dealing with material phenomena and
based mainly on observation and induction yang diartikan bahwa “ilmu
pengetahuan alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang sistematis dengan
menghubungkan gejala-gejala alam yang bersifat kebendaan dan
didasarkan pada hasil pengamatan dan induksi”. Sumber lain menyatakan bahwa
natural science didefinisikan sebagai a pieces of theoritical knowledge atau sejenis
pengetahuan teoritis.

IPA merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena alam. IPA
didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan fenomena
alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang
dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode
ilmiah. Definisi ini memberi pengertian bahwa IPA merupakan cabang
pengetahuan yang dibangun berdasarkan pengamatan dan klasifikasi data, dan
biasanya disusun dan diverifikasi dalam hukum-hukum yang bersifat kuantitatif,
yang melibatkan aplikasi penalaran matematis dan analisis data terhadap gejala gejala
alam. Dengan demikian, pada hakikatnya IPA merupakan ilmu
pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip
dan hukum yang teruji kebenarannya dan melalui suatu rangkaian kegiatan dalam
metode ilmiah.

Dalam perkembangan selanjutnya, metode ilmiah tidak hanya berlaku bagi


IPA tetapi juga berlaku untuk bidang ilmu lainnya. Hal yang membedakan metode

1
ilmiah dalam IPA dengan ilmu lainnya adalah cakupan dan proses perolehannya.
IPA meliputi dua cakupan yaitu IPA sebagai produk dan IPA sebagai proses.
Science is both of knowledge and a process (Trowbridge and Sund, 1973:2).
Secara umum, kegiatan dalam IPA berhubungan dengan eksperimen.
Namun dalam hal-hal tertentu, konsep IPA adalah hasil tanggapan pikiran
manusia atas gejala yang terjadi di alam Seorang ahli IPA (ilmuwan) dapat
memberikan sumbangan besar kepada IPA tanpa harus melakukan sendiri suatu
percobaan, tanpa membuat suatu alat atau tanpa melakukan observasi.
Pembuktian teori Einstein secara ekperimental tidak dilakukan oleh Einstein.
Planet Neptunus pada awalnya tidak ditemukan berdasarkan hasil observasi tetapi
melalui perhitungan-perhitungan. Dengan demikian, IPA juga merupakan
pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan metode khusus (Nokes, 1941).
Metode khusus yang dimaksud merupakan langkah-langkah seorang
ilmuwan dalam memperoleh pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh
berdasarkan gejala-gejala alam. Pengetahuan berupa teori yang diperoleh melalui
hasil perhitungan atau pemikiran tidak akan bertahan kalau tidak sesuai dengan
hasil observasi, sehingga suatu teori tidak dapat berdiri sendiri. Teori selalu
didasari oleh hasil pengamatan. Planet Neptunus tidak akan dapat ditemukan
secara teoritis jika sebelumnya tidak ada pengamatan yang menyaksikan suatu
keanehan dalam lintasan planet lainya. Jika IPA merupakan suatu jenis
pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan cara yang khusus, maka cara tersebut
dapat berupa observasi, eksperimentasi, pengambilan kesimpulan, pembentukan
teori, eksperimentasi, observasi dan seterusnya. Cara yang demikian ini dikenal
dengan metode ilmiah (scientific method).

Ilmu Pengetahuan Alam sebagai disiplin ilmu memiliki ciri-ciri


sebagaimana disiplin ilmu lainnya. Setiap disiplin ilmu selain mempunyai ciri
umum, juga mempunyai ciri khusus/karakteristik. Adapun ciri umum dari suatu
ilmu pengetahuan adalah merupakan himpunan fakta serta aturan yang yang
menyatakan hubungan antara satu dengan lainnya. Fakta-fakta tersebut disusun
secara sistematis serta dinyatakan dengan bahasa yang tepat dan pasti sehingga
mudah dicari kembali dan dimengerti untuk komunikasi (Prawirohartono, 1989:
93).

2
1.2 Rumusan Masalah

1) Apa yang dimaksud dengan hakikat MIPA?

2) Bagaimana Kedudukan MIPA sebagai suatu Proses?

3) Bagaimana kedudukan MIPA sebagai suatu Produk dan Disiplin ilmu ?

1.3 Tujuan Penulisan

1) Untuk mengetahui pengertian dari hakikat MIPA

2) Untuk mengetahui kedudukan MIPA sebagai suatu Proses

3) Untuk mengetahui kedudukan MIPA sebagai suatu Produk dan Disiplin ilmu.

1.4 Manfaat Penulisan

1) Memberikan pemahaman kepada pembaca tentang hakikat MIPA

2) Memberikan informasi kepada pembaca tentang MIPA sebagai suatu Proses.

3) Memberikan wawasan kepada pembaca tentang kedudukan MIPA sebagai suatu


Produk dan Disiplin ilmu.

3
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Hakikat MIPA


Matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia berhubungan dengan ide dan
penalaran. Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia itu merupakan sistem-
sistem yang bersifat untuk menggambarkan konsep-konsep abstrak, dimana masing-
masing sistem bersifat deduktif sehingga berlaku umum dalam menyelesaikan masalah.
Dari istilah, IPA adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang alam sekitas beserta isinya.
Hal ini berarti IPA mempelajari semua benda yang ada di alam, peristiwa, dan gejala-
gejala yang muncul di alam. Ilmu dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan yang bersifat
objektif. Jadi dari sisi istilah IPA adalah suatu pengetahuan yang bersifat objektif tentang
alam sekitar beserta isinya. Hakekat MIPA adalah Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran-
pikiran manusia yang bukan hanya bergelutik dalam hitung-menghitung saja tetapi juga
berhubungan dengan ilmu yang mempelajari tentang alam sekitar beserta isinya dan
teknologi.
Berikut ini merupakan ciri MIPA :
a. Pengetahuan yang sangat terstruktur dalam arti antara bagian yang satu dengan
bagian yang lain terjalin hubungan fungsional yang erat.
b. Karena itu konsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam MIPA akan lebih mudah
dikuasai jika disajikan dalam bentuk terkait satu dengan yang lain dengan
simpulan-simpulan yang jelas.
c. Penerapan berbagai pengertian dan prinsip MIPA dalam taraf sederhana terhadap
masalah alamiah seringkali memerlukan: keterpaduan berbagai komponen MIPA,
dengan Matematika sebagai dasar logika penalaran dan penyelesaian kuantitatif
sedangkan fisika, kimia, biologi sebagai deskripsi permasalahan yang ada.
d. Untuk menekuninya diperlukan kecintaan yang dalam terhadap ilmu sebagai suatu
sistem logis yang indah dan ampuh.

2.2 Pengertian IPA sebagai suatu Proses


IPA sebagai proses mengandung pengertian cara berpikir dan bertindak untuk
menghadapi atau merespons masalah-masalah yang ada di lingkungan. Jadi, IPA
sebagai proses menyangkut proses atau cara kerja untuk memperoleh hasil
(produk) inilah yang kemudian dikenal sebagai proses ilmiah. Melalui prosesproses
4
ilmiah akan didapatkan temuan-temuan ilmiah. Perwujudan proses-proses
ilmiah ini berupa kegiatan ilmiah yang disebut sebagai inkuiri/penyelidikan ilmiah.
Secara sederhana Nyoman (1985-1986: 8) mendefinisikan inkuiri ilmiah
sebagai usaha mencari pengetahuan dan kebenaran. Sejumlah proses IPA yang
dikembangkan para ilmuwan dalam mencari pengetahuan dan kebenaran ilmiah
itulah yang kemudian disebut sebagai keterampilan proses IPA.
Iskandar (1997:5) mengartikan keterampilan proses IPA adalah
keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuwan. Ditinjau dari tingkat kerumitan
dalam penggunaannya, keterampilan psroses IPA dibedakan menjadi 2 kelompok
yaitu keterampilan proses dasar (basic skills) dan keterampilan proses terintegrasi
(integrated skills) (Moejiono dan Dimyati, 1992:16). Keterampilan-keterampilan
proses dasar menjadi dasar untuk keterampilan-keterampilan proses terintegrasi
yang lebih kompleks. Contoh: seseorang untuk dapat menabulasikan data (jenis
keterampilan proses terintegrasi) maka lebih orang tersebut harus memiliki
keterampilan mengukur (jenis keterampilan proses dasar).
a. Jenis-jenis Keterampilan Proses (KP) dan Pengertiannya
1. Mengamati
Adalah kegiatan yang melibatkan satu atau lebih alat indera. Pada tahap
pengamatan orang hanya mengatakan kejadian yang mereka lihat,
dengar, raba, rasa, dan cium. Pada tahap ini seseorang belajar mengumpulkan
petunjuk. Kegiatan inilah yang membedakan antara pengamatan dengan penarikan
kesimpulan atau pengajuan pendapat. Contoh kegiatan keterampilan proses IPA
adalah merasakan air gula, meraba permukaan daun, mendengarkan bunyi dari
dawai yang dipetik, mengamati daur air, mencium bau tape. Hasil dari pengamatan
ini disebut fakta. Pengamatan dapat bersifat kualitatif dan kuantitatif. Pengamatan
kualitatif terjadi apabila pelaksanaan pengamatan hanya menggunakan pancaindera
dalam rangka untuk memperoleh informasi. Pengamatan kuantitatif terjadi
manakala dalam pelaksanaannya selain menggunakan pancaindera juga
menggunakan peralatan lain yang memberikan informasi khusus dan tepat.29
1) Menggolongkan/Mengklasifikasi
Menggolongkan adalah memilah berbagai obyek dan/atau peristiwa
berdasarkan persamaan sifat khususnya, sehingga diperoleh kelompok sejenis
dari obyek atau peristiwa yang dimaksud. Dua hal penting yang perlu
dicermati dalam mengembangkan keterampilan mengklasifikasi adalah (1)
kegiatan menghimpun hasil pengamatan dan menyajikan dalam bentuk tabel
5
hasil pengamatan, dan (2) kegiatan memilah hasil pengamatan sesuai sifat
khusus yang dimiliki oleh obyek dan/atau peristiwa serta menyajikannya
dalam tabel klasifikasi atau penggolongan atau pengelompokan.
Untuk mengetahui pemahaman Anda terkait dengan pengembangan
keterampilan proses mengklasifikasi ini, cobalah Anda berlatih
mengembangkan keterampilan ini melalui kegiatan mengumpulkan daun dari
berbagai jenis tumbuhan dengan berbagai bentuk tulang daun yang dimiliki.
Amati bentuk tulang daun dari berbagai jenis tumbuhan amatan, masukkan
hasil pengamatan Anda ke dalam tabel hasil pengamatan bentuk-bentuk tulang
daun. Kelompokkan daun-daun tersebut berdasarkan bentuk tulang daunnya!
Gunakan tabel-tabel untuk mempermudah pencatatan data yang anda peroleh
2) Mengukur
Mengukur adalah kegiatan membandingkan benda yang diukur dengan
satuan ukuran tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk kegiatan
mengukur diperlukan bantuan alat-alat ukur yang sesuai dengan benda yang
diukur. Contoh kegiatan mengukur adalah mengukur panjang, lebar, tinggi
almari dengan menggunakan alat ukur panjang yang sesuai yaitu meteran
gulung (roll meter), bukan menggunakan penggaris plastik. Hal penting yang
perlu diperhatikan ketika akan menggunakan alat ukur adalah cara
menggunakan alat ukur, kapasitas maksimal alat ukur, dan nilai skala alat
ukur. Kesalahan dalam cara menggunakan alat ukur tertentu dapat
menimbulkan kecelakaan kerja.
3) Mengkomunikasikan
Mengkomunikasikan adalah kegiatan menyampaikan perolehan fakta,
konsep dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk audio, visual, dan/ atau
audio visual. Cara-cara komunikasi yang sering digunakan dalam ilmu
pengetahuan selain dengan bahasa tulis maupun lisan adalah melalui sajian
bentuk grafik, tabel, gambar, bagan, simbol/lambang, persamaan matematika.
Contoh kegiatan mengkomunikasikan: mempresentasikan hasil pengamatan,
membuat laporan penyelidikan, membacakan peta dan yang lainnya.

4) Menginterpretasi Data
Menginterpretasi adalah memberi makna pada data yang diperoleh dari
pengamatan karena data tidak berarti apa-apa sebelum diartikan.
Menginterpretasi berarti memberi arti/makna, misal: mengartikan tabel data,

6
mengartikan grafik data. Menginterpretasi juga diartikan menduga dengan
pasti sesuatu yang tersembunyi dibalik fakta yang teramati. Contoh: Berikut
ini tabel data pengukuran suhu pada pemanasan 500 cc (500 ml) air selama 15
menit, dengan frekuensi pengukuran setiap 3 menit.
Tabel Hasil Pengukuran Suhu pada Pemanasan Air
Frekuensi
No Suhu
pengukuran
1 0 menit 28 oC
2 3 menit ke 1 42,50 oC
3 3 menit ke-2 57 oC
4 3 menit ke-3 73 oC
5 3 menit ke-4 85,50 oC
6 3 menit ke-5 97,50 oC mendidih
Tabel di atas dapat diinterpretasi dari sudut pandang tertentu, misal
interpretasi terhadap terjadinya kenaikan suhu selama menit-menit pemanasan.
Dari data tersebut dapat diketahui sampai pada menit ke-6 pemanasan
kenaikan suhu setiap 3 menit masih konstan, yaitu sebesar 14,50 oC. Kenaikan
suhu sesudah 6 menit pemanasan menjadi tidak teratur lagi. Oleh karena
banyaknya kalor dalam suatu zat menentukan suhu zat itu, maka kemungkinan
penyebab kenaikan suhu air menjadi tidak konstan adalah faktor pemanasan
yang tidak konstan juga, sehingga mengakibatkan kalor yang diserap air pada
pemanasan tersebut juga tidak konstan. Karena banyaknya kalor yang diserap
tidak konstan, maka kenaikan suhu juga tidak konstan.
5) Memprediksi
Memprediksi ialah menduga sesuatu yang akan terjadi berdasarkan
polapola peristiwa atau fakta yang sudah terjadi. Prediksi biasanya dibuat
dengan cara mengenal kesamaan dari hasil berdasarkan pada pengetahuan
yang sudah ada, mengenal bagaimana kebiasaan terjadinya suatu peristiwa
berdasarkan pola kecenderungan. Prediksi berkaitan erat dengan observasi,
klasifikasi, dan penarikan kesimpulan. Prediksi didasarkan pada observasi
yang seksama dan penarikan kesimpulan yang sahih mengenai hubungan
antara peristiwa-peristiwa yang diobservasi. Sejumlah kemampuan yang
tercakup dan mendukung keterampilan memprediksi yaitu mengantisipasi
berdasarkan kecenderungan, mengantisipasi berdasarkan pola, dan
mengantisipasi berdasarkan hubungan antara data atau informasi.
6) Menggunakan Alat

7
Menggunakan alat adalah kegiatan merangkai dan menggunakan alat-
alat untuk kegiatan pengujian atau kegiatan percobaan/eksperimen.
7) Melakukan Percobaan
Melakukan Percobaan adalah keterampilan untuk mengadakan
penguian terhadap ide-ide yang bersumber dari fakta, konsep, dan prinsip ilmu
pengetahuan sehingga dapat diperoleh informasi yang menerima atau menolak
ide-ide itu.
8) Menyimpulkan
Menyimpulkan adalah keterampilan memutuskan keadaan suatu objek
berdasarkan fakta, konsep, prinsip yang diketahui. Contoh: Data peranan air
terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah pada tabel di atas memberikan
informasi tanaman kacang tanah pada pot V (tidak diberi air) tidak dapat
tumbuh baik seperti pada empat pot lainnya. Diprediksikan pada hari ke-8
tanaman mati karena tanda-tanda pertumbuhan tidak berlanjut seperti pada
empat tanaman lainnya . Dari fakta tersebut menunjukkan tanaman yang diberi
air terus tumbuh, sementara yang tidak diberi air mati. Jadi dapat disimpulkan
tanaman memerlukan air untuk pertumbuhannya.
b. Jenis-jenis Keterampilan Proses IPA Terintegrasi dan Pengertiannya
1) Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan salah satu tahapan dari suatu kegiatan
penyelidikan ilmiah, setelah masalah yang akan diteliti ditetapkan. Suatu masalah
perlu dirumuskan agar jelas variabel-variabelnya dan jenis data yang perlu
dikumpulkan. Masalah tersebut harus dapat dirumuskan sedemikian rupa sehingga
hanya dapat dijawab dengan pengamatan dan percobaan di dunia ini. Rumusan
tersebut yang kemudian disebut sebagai rumusan masalah (Arif, 1982: 28). Untuk
itu dalam rumusan masalah harus secara tegas menunjukkan jenis variabelnya.
Contoh: Bagaimanakah hubungan antara penerapan pendekatan siklus belajar
dengan kemampuan siswa mengaplikasi konsep dalam pembelajaran IPA di kelas
V, SD Kartika Kota Malang?.
2) Mengidentifikasi Variabel
Mengidentifikasi variabel merupakan suatu kegiatan menentukan jenis
variabel dalam suatu penelitian. Arikunto, (1993: 91) mengartikan variabel adalah
obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
3) Mendeskripsikan Hubungan Antar Variabel
Mendeskripsikan hubungan antar variabel perlu dilakukan karena deskripsi
tersebut dapat memperjelas tentang bagaimana penelitian dilaksanakan, dan data apa
yang harus dikumpulkan. Perhatikan rumusan masalah berikut.

8
Bagaimanakah hubungan antara penerapan pendekatan siklus belajar dengan
kemampuan siswa mengaplikasi konsep dalam pembelajaran IPA di kelas V SD
Kartika Kota Malang? Hubungan antar variabelnya dapat dideskripsikan sebagai
variabel bebas yaitu penerapan pendekatan siklus belajar ini mempengaruhi
kemampuan mengaplikasi konsep. Jadi pendekatan siklus belajar merupakan
deskripsi tersebut dapat memperjelas tentang bagaimana penelitian dilaksanakan,
dan data apa yang harus dikumpulkan. Perhatikan rumusan masalah berikut.
Bagaimanakah hubungan antara penerapan pendekatan siklus belajar dengan
kemampuan siswa mengaplikasi konsep dalam pembelajaran IPA di kelas V SD
Kartika Kota Malang? Hubungan antar variabelnya dapat dideskripsikan sebagai
variabel bebas yaitu penerapan pendekatan siklus belajar ini mempengaruhi
kemampuan mengaplikasi konsep. Jadi pendekatan siklus belajar merupakan
tindakan penyelesaian masalah, sedangkan kemampuan mengaplikasi konsep
merupakan akibat dari penerapan pendekatan siklus belajar.
4) Mengendalikan Variabel
Mengendalikan variabel merupakan kegiatan menentukan atau mengatur
variasi/macam-macam suatu variabel bebas penelitian. Contoh dari suatu rumusan
masalah penelitian yang menyatakan: bagaimanakah peranan jumlah tetes
yodium terhadap perubahan warna pada uji amilum tepung terigu? Dari rumusan
masalah tersebut, dapat diinformasikan bahwa dalam penelitian ini variabel
bebasnya adalah jumlah tetes yodium yang diberikan pada tepung terigu Cakra.
Jumlah tetes jodium tersebut dikendalikan dengan cara mengatur pemberian
jumlah tetes jodium yang berbeda-beda pada tepung untuk diketahui apakah
perubahan warnanya juga berbeda?. Untuk menguatkan kebenaran pengaruh
perubahan warna yang berbeda-beda pada tepung diakibatkan oleh variasi jumlah
tetesan yodium yang diberikan, diperlukan pengontrol. Kontrol yang digunakan
adalah pemberian tetes yodium sama banyak pada tepung terigu yang sama.
5) Mendefinisikan Variabel Secara Operasional
Definisi secara operasional variabel adalah memberikan penjelasan secara
operasional terhadap variabel penyelidikan agar jelas bagaimana kedudukan dan
penggunaan variabel dalam penyelidikan. Contoh judul penyelidikan “Peranan
Ketinggian Benda Terhadap Waktu Jatuh Benda di Permukaan Tanah” (materi
diambil dari KD IPA SD/MI kelas V semester II tentang gerak karena gaya
gravitasi). Definisi operasional variabel dari penyelidikan ini adalah sebagai
berikut ini.

9
Variabel bebas ketinggian benda (h) dari permukaan tanah yang berbedabeda.
Penyelidikan dilakukan dengan menjatuhkan benda yang
massanya sama secara bergantian dan tegak lurus dari bermacammacam ketinggian,
misal: 1m, 2m, 3m dari permukaan tanah, untuk mengetahui apakah waktu jatuh dari
ketinggian yang berbeda sama atau berbeda?
Variabel kontrol: ketinggian benda (h) yang sama. Penyelidikan dilakukan
dengan menjatuhkan benda yang massanya sama dari ketinggian yang sama pula,
untuk mengetahui apakah waktu jatuh kedua benda tersebut juga sama? Variabel
terikat: waktu jatuh benda (dicatat pada tabel pencatat data). Yang dicatat semua
hasil/data penyelidikan baik dari variabel bebas maupun variabel kontrol.
6) Memperoleh dan Menyajikan Data
Data yang diperoleh dari percobaan/penyelidikan dicatat, kemudian
disusun secara sistematis. Selanjutnya data tersebut disajikan dalam bentuk tabel,
grafik, dan atau/ gambar disesuaikan dengan jenis datanya. Contoh tabel data
untuk percobaan yang dicontohkan di atas adalah disajikan di bawah ini.
Tabel 2.5 Data Peranan Ketinggian Benda Terhadap Waktu Jatuh Benda
No Tinggi tempat (h) dalam meter Waktu jatuh (t) dalam detik
1 1 …….
2 2 …….
3 3 …….
4 1 (kontrol) …….

7) Menganalisis Data
Data percobaan yang telah dikumpulkan dan disajikan dalam bentuk
sajian data yang sesuai dengan jenisnya, selanjutnya perlu dianalisis dulu
sebelum ditarik kesimpulannya. Kegiatan menganalisis data diartikan sebagai
menginterpretasi data, selanjutnya hasil interpretasi data dibandingkan dan
diintegrasikan dengan teori yang relevan dengan masalah penyelidikan, dan/atau
dibandingkan dan diintegrasikan dengan temuan penelitian lain yang relevan.
8) Merumuskan Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara dari peneliti
terhadap permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Hipotesis dirumuskan
berdasarkan hasil kajian teori yang relevan. Contoh:, jika masalahnya dirumuskan
sebagai “Apakah ketinggian benda menentukan waktu jatuh benda?”. Maka
hipotesis dari rumusan masalah tersebut adalah “Waktu jatuh benda diduga atau

10
kemungkinan ditentukan oleh ketinggian kedudukan benda yang jatuh”. Jawaban
tersebut masih perlu diuji kebenarannya melalui percobaan/penyelidikan.
9) Merancang Penelitian
Merancang penelitian merupakan keterampilan proses yang terdri dari
urutan berbagai keterampilan proses. Keterampilan proses merancang penelitian
dapat dikembangkan di SD/MI diawali di kelas tinggi (IV, V, dan VI). Secara
berurutan kegiatan merancang penelitian minimal terdiri atas proses-proses IPA:
(1) membuat pertanyaan-pertanyaan (merumuskan masalah) dari sebuah topik
pembelajaran yang sesuai untuk didekati melalui penyelidikan, (2) merumuskan
hipotesis, (3) memilih alat dan bahan dan merancang cara kerja percobaaan untuk
menguji hipotesis yang difasilitasi oleh guru, (4) memperkirakan hasil yang
diharapkan dari masalah yang akan dipecahkan, dan (5) membuat format pencatat
data untuk mengumpulkan data.
10) Melakukan Penyelidikan/Percobaan
Keterampilan proses melakukan percobaan yang dapat dikembangkan di
SD/MI dalam mata pelajaran IPA adalah percobaan-percobaan sederhana yang
dilakukan di SD/MI adalah untuk membangun konsep-konsep, dan/atau
prinsipprinsip dasar IPA, bukan membangun teori baru, atau menerapkan teori.
Contoh:
melakukan percobaan berdasarkan rancangan penyelidikan yang telah dibuat atau
melakukan percobaan atau penyelidikan berdasarkan rancangan cara kerja
percobaan yang telah dirancang guru, untuk membangun konsep dasar IPA yang
dipelajari.
2.3 IPA Sebagai Produk
Produk IPA adalah sekumpulan hasil kegiatan empirik dan kegiatan analitik yang
dilakukan oleh para ilmuwan selama berabad-abad. Pudyo (1991: 2) menyebutkan
bentuk-bentuk produk IPA meliputi istilah, fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.
Produk IPA yang disebut istilah adalah sebutan, simbol atau nama dari
benda-benda dan gejala-gejala alam, orang, tempat. Contoh: malaria (sebutan),
lamda (simbol untuk panjang gelombang), matahari (nama benda), angin puting
beliung (gejala alam), Newton (nama orang), Galapagos (nama tempat).
Iskandar (1997: 3) menyatakan bahwa fakta adalah pernyataan-pernyataan
tentang benda-benda yang benar-benar ada, atau peristiwa-peristiwa yang benarbenar
terjadi dan sudah dikonfirmasi secara objektif. Sementara itu Susanto
11
(1991: 3) mengartikan fakta sebagai ungkapan tentang sifat-sifat suatu benda,
tempat, atau waktu adanya atau terjadinya suatu benda atau kejadian. Sifat yang
dimaksud dapat berupa wujud, bentuk, bangun, ukuran, warna, bau, rasa dan yang
lainnya. Contoh;
1. fakta mengenai sifat: air jeruk rasanya asam.
2. fakta mengenai waktu: Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal
17 Agustus 1945.
3. fakta mengenai tempat: Ujung Kulon (tempat suaka badak bercula satu)
4. fakta mengenai orang: Mukibat (adalah orang Indonesia penemu teknik
menyambung singkong).
Konsep dapat diartikan dari beberapa tinjauan. Susanto (1990/1991: 3)
mengartikan konsep dari berbagai sudut pandang, (1) konsep dapat merupakan
istilah yang sudah diberi makna khusus, (2) konsep dapat merupakan penjelasan
tentang ciri-ciri khusus dari sekelompok benda, gejala, atau kejadian, atau
penjelasan tentang ciri-ciri utama untuk mengklasifikasikan atau mengkategorikan
sekelompok benda atau kejadian. Sedangkan Iskandar (1997: 3) mengartikan
”konsep IPA adalah suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta IPA”. Jadi konsep
merupakan hubungan antara fakta-fakta yang memang berhubungan. Contoh:
1. Konsep merupakan istilah yang diberi makna khusus: gerhana adalah istilah,
tetapi jika gerhana tersebut diberi makna khusus menjadi sebuah konsep
tentang gerhana. Makna khusus yang dimaksud adalah Gerhana adalah
peristiwa alam terhalangnya cahaya sampai ke bumi.
2. Konsep yang merupakan penjelasan ciri-ciri khusus dari sekelompok benda:
Konsep tentang zat cair (kelompok benda-benda seperti air, minyak, alkohol, bensin,
spiritus) adalah zat yang mempunyai ciri-ciri bentuk selalu berubah
sesuai bentuk wadah/tempat yang ditempatinya, volume dan beratnya selalu
tetap, dapat mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih
rendah, tidak dapat dimampatkan.
3. Konsep yang merupakan hubungan antara fakta-fakta, yaitu konsep bunyi.
Fakta-fakta yang berhubungan misalnya (i) gong dipukul bergetar
menghasilkan bunyi, (ii) dawai gitar dipetik bergetar menghasilkan bunyi,
(iii) kaleng dipukul bergetar menghasilkan bunyi, terompet ditiup
membrannya bergetar menghasilkan bunyi dan fakta yang lainnya. Faktafakta tersebut
berhubungan dalam hal benda yang bergetar-menghasilkan
bunyi. Dari fakta-fakta yang berhubungan ini dibuatlah konsep”bunyi”

12
sebagai ”bunyi adalah sesuatu yang dihasilkan dari getaran suatu benda”.
Prinsip diartikan sebagai generalisasi tentang hubungan antara konsepkonsep
(Iskandar, 1997: 3). Contoh prinsip dalam IPA: Semua benda dipanaskan
mengalami kenaikan suhu. Prinsip tersebut menghubungkan konsep-konsep
benda, pemanasan, suhu. Prinsip ini dibangun melalui berpikir analitik, sebab
merupakan generalisasi induktif yang ditarik dari beberapa fakta. bersifat tentatif
karena prinsip sewaktu-waktu dapat berubah jika observasi baru dilakukan
menghasilkan hal baru. Para ilmuwan mengatakan bahwa prinsip merupakan
deskripsi yang paling tepat tentang obyek atau kejadian/fenomena. Dalam IPA
prinsip dapat berupa hipotesis, teori atau hukum. Contoh: hukum Mendel, hukum
Newton.
Produk dalam IPA dapat berupa prosedur. Prosedur diartikan sebagai
“langkah-langkah dari suatu rangkaian kejadian, suatu proses, atau suatu kerja”
(Susanto,1991:
Contoh prosedur:
1. Prosedur kerja generator pembangkit listrik
2. Prosedur fotositesis
3. Proses terjadinya angin
4. Proses fermentasi alkohol
2.4 IPA Sebagai disiplin Ilmu
Sampai mendekati abad pertengahan, perkembangan ilmu pengetahuan belum begitu
luas dan dalam sehingga seseorang yang mempunyai cara berpikir tajam dan kritis akan
sangat mungkin dapat menguasai beberapa cabang ilmu sekaligus. Sebagai contoh
adalah ahli piker Yunani, Pythagoras (+ 500 SM) dikenal sebagai seorang astronom dan
juga ahli matematika dan transmutasi unsur (dasar dari kimia). Copernicus (1473-1543
M) dikenal sebagai ahli astronomi, matematika dan pengobatan. Setelah itu
perkembangan ilmu yang relatif pesat dan mendalam sehingga tidak memungkinkan lagi
seseorang menguasai berbagai bidang ilmu dengan mendalam. Oleh karena itu perlu
dilakukan klasifikasi ilmu pengetahuan yang ada menjadi berbagai disiplin bidang ilmu
(Tabel 1).
Secara garis besar ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua bidang ilmu utama yaitu :
1. Ilmu Sosial dan Budaya yang mempelajari tentang tingkah laku manusia
2. Ilmu Pengetahuan Alam yang mempelajari tentang makhluk hidup (biologi) dan
benda mati (sains fisik). Sain fisik utama adalah ilmu fisika yang sasaran utama

13
pembelajarannya adalah materi dan energi serta ilmu kimia yang mempelajari
komposisi materi.
Tabel 1. Perkembangan ilmu pengetahuan menjadi berbagai disiplin ilmu
Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Sosial dan Budaya
Sains Fisik Sains Hayati (Biologi)
- Fisika - Botani - Bahasa
- Kimia - Zoologi - Sosiologi
- Astronomi - Mikrobiologi - Pendidikan
- Geologi - Kesehatan - Sejarah
- Mineralogi - Palaentologi - Antropologi
- Geografi - Fisiologi - Etnologi
- Geofisika - Taksonomi - Seni dan Budaya
- Meteorologi - Dll - Psikologi
- Oseanologi - Ekonomi
- Dll - Dll

Didukung oleh Matematika/Statistika dan Informatika

Matematika sebagai salah satu ilmu tidak termasuk dalam kategori pembagian ilmu
pengetahuan tersebut. Kedudukan matematika merupakan penunjang pengembangan
semua disiplin ilmu. Bagi sain fisik, matematika merupakan bahasa yang dapat
menerangkan hokum-hukum alam. Sedangkan statistikadimanfaatkan untuk
pengumpulan, pengorganisasian serta peringkasan data. Kesimpulan ditarik berdasarkan
analisis data yang diamati. Informatika banyak dimanfaatkan dalam permodelan, baik
fisik maupun matematis dan sekaligus untuk menganalisis data yang diperoleh.
Pengembangan ilmu yang terus menerus dan begitu cepatnya, terutama mulai awal
abad ke-20 menyebabkan klasifikasi ilmu berkembang ke arah disiplin ilmu yang lebih
spesifik. Sebagai contoh dalam displin ilmu kimia maka telah terjadi pemfokusan
menjadi berbagai sub-disiplin ilmu kimia antara lain : kimia teoritis, kimia analisis, kimia
anorganik, biokimia, kimia fisik, kimia organik. Selanjutnya contoh adalah dalam sub-
disiplin kimia organik maka terdapat antara lain focus kea rah kimia organik sintesis dan
kimia bahan alam. Kimia bahan alampun dapat terbagi lagi berdasarkan kelompok
senyawa kimianya.
Berdasarkan pengembangan fokus ilmu tersebut menunjukkan bahwa ilmu
pengetahuan berkembang dengan pesatnya sehingga tidak memungkinkan lagi seseorang

14
dapat menguasai ilmu dengan sempurna. Untuk dapat menguasai ilmunya dengan baik,
maka pada akhirnya seorang ahli akan lebih memfokuskan atau menspesialisasikan
dirinya dalam salah satu fokus disiplin ilmu tertentu.
Dalam hal lain, perkembangan ilmu tidak hanya ke arah fokus disiplin ilmu
saja. Tetapi banyak ilmu baru yang tidak bisa dibahas berdasarkan satu disiplin ilmu
saja. Ilmu semacam ini disebut sebagai multidisiplin ilmu. Contoh ilmu
multidisiplin yang paling popular adalah ilmu lingkungan . Pembahasan ilmu
lingkungan dapat dilihat dari disiplin ilmu social maupun IPA. Pendekatan IPA pun
dapat dilihat dari berbagai disiplin ilmu seperti kimia (kimia lingkungan), fisika (fisika
lingkungan), biologi (ekologi, biodiversivitas), hidrologi (pencemaran air), geografi
(pencemaran udara, perubahan iklim), pertanian dan banyak lainnya.
Perkembangan multidisiplin IPA pun cukup banyak dan beberapa ilmu multidisiplin
saat ini berkembang dengan sangat pesat, sebagai contoh adalah bioteknologi, rekayasa
genetika, informatika/computer dan ilmu material. Perkembangan tersebut sangat
mempengaruhi pola pandang dan kehidupan sosial manusia saat ini.

BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
MIPA sebagai suatu kumpulan mata pelajaran, hendaknya jangan hanya dipandang
sebagai :
 Sekumpulan informasi hasil kajian orang terdahulu yang harus diteruskan kepada
peserta didik, tetapi harus pula dipandang.
 Sebagai alat pendidikan yang potensial dapat memberikan uriman (sumbangan)
nyata untuk perwujudan manusia Indonesia yang utuh.
Matematika merupakan alat bantu untuk mengatasi sebagian permasalahan
menghadapi lingkungan hidupnya. Jadi , MIPA disini berarti bahwa Matematika dalam
Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) memiliki peran dan hubungan erat baik dalam hal bahasa
maupun hitungan dan sebagainya. Metoda ilmiah merupakan cara – cara ilmiah untuk
memperoleh pengetahuan dan yang menentukan apakah suatu pengetahuan bersifat
ilmiah.

15
Karena seperti yang telah diketahui bahwa Matematika itu merupakan bahasa alam ,
sehingga terkait dengan ilmu pengatehuan alam itu sendiri maka tanpa matematika IPA
tidak akan berkembang.
Kedudukan IPA pada dimensi proses ditunjukkan oleh sejumlah
keterampilan proses IPA dasar dan terintegrasi. Keterampilan proses IPA
diartikan sebagai keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuwan. Dalam proses
IPA terkandung cara kerja dan cara berpikir untuk kemajuan IPA itu sendiri.
Proses-proses IPA yang termasuk ke dalam keterampilan proses IPA dasar adalah
mengamati, mengukur, mengklasifikasi, menginterpretasi, memprediksi,
mengkomunikasikan hasil, menggunakan alat, menarik kesimpulan. Proses-proses
IPA yang termasuk ke dalam keterampilan proses IPA terintegrasi adalah
merumuskan masalah penelitian/percobaan, mengidentifikasi dan
mendeskripsikan variabel, mendeskripsikan hubungaan antar variabel,
mengendalikan dan kemungkinan mengontrol variabel, mendefinisikan variabel
secara operasional, memperoleh dan menyajikan data, mengolah data, menyusun
hipotesis, merancang penelitian/penyelidikan, melakukan penelitian/penyelidikan.
Pada tataran penerapan, keterampilan proses dasar lebih sederhana
dibanding dengan penerapan keterampilan proses terintegrasi yang lebih
kompleks. Penerapan keterampilan proses terintegrasi lebih rumit karena
memerlukan penggunaan keterampilan proses yang lain. Keterampilan proses
dasar merupakan modal dasar untuk dapat mengembangkan keterampilan proses
terintegrasi.
Kedudukan IPA pada dimensi produk mengkaji produk-produk IPA yang
diperoleh dari kegiatan serangkaian proses-proses IPA. Produk-produk IPA
meliputi istilah, fakta, konsep, prinsip, dan prosedur (urutan proses dari suatu
kejadian/fenomena alam) Kedudukan IPA pada dimensi Disiplin Ilmu merupakan
perkembangan multidisiplin IPA pun cukup banyak dan beberapa ilmu multidisiplin saat
ini berkembang dengan sangat pesat, sebagai contoh adalah bioteknologi, rekayasa
genetika, informatika/computer dan ilmu material. Perkembangan tersebut sangat
mempengaruhi pola pandang dan kehidupan sosial manusia saat ini.

3.2 Saran
1. Janganlah kita yang awam akan ilmu matematika ini beranggapan bahwa matimatika
itu sulit , menakutkan , kurang bermanfaat dan lain sebagainya.

16
2. Jadikanlah matematika itu ilmu yang paling berguna dari semua bidang ilmu yang
ada, Sebagaimana yang telah kita dengar bahwa memang Ilmu Matematika adalah
gudanganya ilmu dari semua bidang ilmu yang ada.

17
DAFTAR PUSTAKA

Darmodjo,Hendro, dan Yeni Kaligis.2002.Modul Ilmu Alamiah Dasar.Universitas


Terbuka:Jakarta.
http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/hakikat-pembelajaran-
ipa.html diakses pada 03 Nopember 2011
http://anwarholil.blogspot.com/2009/01/hakikat-pembelajaran-ipa.html
diakses pada 03 Nopember 2011
Dwi Siswoyo, dkk. (2007). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta. UNY Press
Djohar.(1990).Pendidikan Sains.Yogyakarta:FMIPA UNY
Masnur Muslich. (2007). KTSP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Jakarta:PT Bumi Aksara.
Muhammad Joko Susilo. (2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan:
Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Mulyasa. (2006). Kurikulum yang Disempurnakan: Pengambangan
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Bandung: PT Remaja
Rasdakarya
Sumber : http://ekacaneng.blogspot.com/2013/12/makalah-dasar-dasar-pendidikan-mipa-
dan.html (28/09/2018)

18