Anda di halaman 1dari 43

KAJIAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI

BUDAYA SEKOLAH DI SDIT ULUL ALBAB 2 PURWOREJO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan


Metodologi Penelitian
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Slamet Subiyantoro, M.Si

Disusun Oleh:

Dewi Astuti (S031808012)/A

PROGRAM STUDI S2 PGSD

PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah AWT karena atas rahmat dan
hidayahNya, peneliti dapat menyelesaikan tugas proposal penelitian eksperimen
dengan judul “KAJIAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
MELALUI BUDAYA SEKOLAH DI SDIT ULUL ALBAB 2
PURWOREJO.”
Peneliti menyadari bahwa terselesaikannya proposal ini tidak lepas dari
bantuan bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti
menyampaikan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Slamet Subiyantoro, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah
Metodologi Penelitian.
2. Teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan
proposal ini.
3. Semua pihak yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan
penulisan proposal makalah ini.
Peneliti menyadari bahwa proposal ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun sangat peneliti harapkan. Akhirnya peneliti
berharap semoga proposal ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi
pembaca.

Surakarta, 12 Desember 2018

Peneliti

ii
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL ...................................................................................................... I
KATA PENGANTAR ................................................................................. Ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ Iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .................................................................. 1
B. Fokus Penelitian ............................................................................ 6
C. Rumusan Masalah ..................................................................... 6
D. Tujuan .............................................................................................. 6
BAB II KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori ..................................................................................
1. Konsep Pendidikan Karakter ..................................................... 8
a. Pengertian Pendidikan Karakter .......................................... 8
b. Tujuan Pendidikan Karakter ................................................ 10
c. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter .................................... 11
2. Konsep Dasar Budaya ................................................................ 12
a. Pengertian Budaya Sekolah ................................................. 13
b. Karakteristik Budaya Sekolah ............................................. 14
c. Unsur-unsur Budaya Sekolah.............................................. 15
3. Konsep Implementasi Pendidikan Karakter Melaui Budaya
Sekolah ..................................................................................... 16
a. Pengertian Implementasi Pendidikan Karakter Melaui
Budaya Sekolah................................................................... 16
b. Metode dan Pendekatan dalam Implementasi Pendidikan
Karakter Melaui Budaya Sekolah......................................... 18
c. Standar Kompetensi Lulusan yang Dikembangkan Melalui
Budaya Sekolah ................................................................... 22
B. Penelitian yang Relevan .................................................................. 24
C. Kerangka Berpikir ............................................................................ 25

iii
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................... 27
B. Bentuk dan Strategi Penelitian ......................................................... 27
C. Data dan Sumber Data Penelitian..................................................... 28
D. Teknik Pengumpulan Data .................................................... ......... 29
E. Keabsahan Data ................................................................................ 33
F. Teknik Analisis Data ............................................................. ......... 34
G. Prosedur Penelitian ........................................................................... 35

iv
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada kualitas dari Sumber
Daya Manusia (SDM) bangsa tersebut. SDM yang berkualitas menjadi salah
satu modal utama dalam kemajuan bangsa baik dalam bidang pendidikan,
ekonomi, politik, IPTEK, maupun budaya dan karakter bangsa. Dewasa ini
banyak disinggung mengenai degradasi moral yang semakin memprihatinkan.
Banyak kalangan yang sudah kehilangan budi pekertinya terutama generasi
muda. Penyebab terjadinya krisis karakter tersebut antara lain: 1) berubahnya
pemikiran masyarakat Indonesia yang menempatkan materi atau unsur
duniawi di atas segalanya; 2) pendidikan karakter di sekolah tidak menjadi
kebutuhan penting; 3) menguatnya sikap dan cara hidup hedonisme dan
individualistis; 4) munculnya sifat ingin mendapat sesuatu dengan mudah dan
cepat; dan 5) masuknya nilai dan cara pandang asing yang tidak cepat
diantisipasi.
Permasalahan-permasalahan tersebut, menuntut sekolah untuk
mengembangkan budaya sekolah, seperti budaya tanggung jawab, kejujuran,
keikhlasan, dan sebagainya. Budaya yang dikembangkan di sekolah akan
menumbuhkan perilaku yang positif seperti toleransi, kebersamaan, etos
belajar yang baik, disiplin, dan sebagainya. Agar menumbuhkan perilaku
yang positif, maka penanaman pendidikan karakter sangatlah penting.
Apabila sejak dini, seorang anak tidak ditananamkan mengenai pendidikan
karakter dan budaya, maka yang terjadi adalah menurunnya moral
masyarakat.
Beberapa hasil penelitian tentang implementasi pendidikan karakter di
sekolah seperti yang dilakukan oleh Muzaky (2011), Matrasi (2012), dan
Muhaimin (2011). Ketiga penelitian tersebut menyatakan bahwa pendidikan
karakter telah dilaksanakan berdasarkan ketentuan dan prinsip-prinsip
implementasi meskipun masih terdapat beberapa kekurangan, seperti

1
2

pelaksanaan yang hanya sekedar tuntutan administratif, kurangnya


dukungan sarana dan prasarana, serta minimnya kesadaran guru dalam
mengintegrasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran. Berdasarkan hal
tersebut, peneliti ingin mengkaji tentang implementasi pendidikan karakter
dalam pembelajaran di sekolah dasar dengan harapan pendidikan karakter
telah diimplementasikan berdasarkan prinsip-prinsip dan ketentuan yang telah
ditetapkan.
Melalui penerapan kurikulum 2013 menjadi salah satu jembatan bagi
tenaga pendidik untuk mengajarkan dan menanamkan pendidikan karakter
pada siswa. Pendidikan karakter akan berjalan dengan lancar apabila
dilakukan berdasarkan budaya sekolah tersebut. Sejalan dengan hal tersebut,
maka fungsi dari pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa, untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kretaif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokrtis serta bertanggung jawab. Untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, pengembangan kurikulum di
sekolah mengacu kepada standar nasional pendidikan yang terdiri dari standar
isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana prasarana,
pengelolaan, pembiyaan, dan penilaian pendidikan yang dapat ditingkatkan
secara berencana dan berkala.
Makna pendidikan yaitu sebagai upaya sadar dan terencana dalam proses
pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang
menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat,
dan berakhlak (berkarakter) mulia (UU No. 20 Tahun 2003). Pendidikan yang
diterapkan harus berkarakter agar memiliki ciri khas. Karakter memiliki
makna yang sangat luas dan bersifat multi dumensional. Nilai karakter
merupakan salah satu upaya dalam membentuk manusia secara utuh holistik
yang berkarakter, yaitu mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial,
kreatifitas, dan intelektual secara optimal (Sri & Ali, 2015: 193).
3

Secara akademik pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai,


pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang tujuannya
mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan
baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu
dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Adapun muatan karakter
secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan
moral behaviour atau dalam arti utuh sebagai morality yang mencakup moral
judgment dan moral behaviour baik yang bersifat prohibition-oriented
morality maupun pro social morality (Mulyasa, 2014: 4). Secara pedagogis,
pendidikan karakter seyogyanya dikembangkan dengan menerapkan holistic
approach dengan pengertian bahwa pendidikan karakter yang efektif tidak
dimasukkan ke dalam program atau set dari program. Pendidikan menjadi
kebutuhan mendesak mengingat demoralisasi dan degenarisasi pengetahuan
sudah sedemikian akut menjangkiti bangsa ini di semua lapisan masyarakat.
Menurut kemendikbud (2011: 4), proses pendidikan karakter didasari pada
totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia
(kognitif, afektif, dan psikomotorik) dan fungsi totalitas sosiokultural dalam
konteks interaksi dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat (Jamal,
2011: 32). Tujuan pendidikan karakter secara umum adalah membentuk
karakter peserta didik. Karakter (akhlak) yang mulia dapat mewujudkan
peradaban bangsa yang bermartabat.
Pendidikan karakter yang efektif ditemukan dalam lingkungan sekolah
yang memungkinkan semua peserta didik menunjukkan potensi mereka untuk
mencapai tujuan yang sangat penting. Untuk itu, penekanan pendidikan
karakter tidak terbatas pada transfer pengetahuan mengenai nilai-nilai yang
baik, namun lebih dari itu menjangkau pada bagaimana menjadikan nilai-nilai
dan menyatu dalam totalitas pikiran dan tindakan. Pendidikan karakter
dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam berpikir, penghayatan
dalam bentuk sikap, dan pengalaman dalam bentuk perilaku yang sesuai
dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi
dengan Tuhannya, diri sendiri, antar sesama, dan lingkungannya.
4

Pembentukan karakter siswa dapat dilakukan salah satunya melalui


pendekatan budaya sekolah sebagaimana yang menjadi grand design
pendidikan karakter karena karakter sebagai suatu “moral excellence” atau
akhlak dibangun di atas berbagai kebijakan (virtues) yang pada gilirannya
hanya memiliki makna ketika dilandasi nilai-nilai yang berlaku dalam budaya
(Kemendiknas, 2011: iii). Karakter yang dimiliki siswa berdasarkan nilai-
nilai, keyakinan, kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di masyarakat dan bangsa
Indonesia maka pendidikan karakter melalui budaya sekolah diarahkan pada
upaya membentuk kepribadian siswa yang baik.
Budaya menurut Ki Hajar Dewantara, manusia membudaya yaitu untuk
keselamatan dan kebahagiaan manusia dalam hidup perjuangannya.
Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “keseluruhan sistem
gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan
masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”. Lebih
lanjut koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tiga wujud, yaitu:(1)
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan,
nilainilai, norma-norma, peraturan, dan lainlain. (2) Wujud kebudayaan
sebagai suatu kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam
masyarakat dan (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya
manusia.
Budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi,
kebiasaan keseharian, dan simbol- simbol yang dipraktekkan oleh kepala
sekolah, guru, petugas administrasi, siswa dan masyarakat sekitar sekolah.
Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah
tersebut di masyarakat luas. Sekolah sebagai sistem memiliki tiga aspek
pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar
mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta budaya sekolah.
Budaya merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu
kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai
yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Budaya dapat dilihat
sebagai perilaku, nilai-nilai, sikap hidup dan cara hidup untuk melakukan
5

penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus untuk memandang persoalan


dan memecahkannya (Supardi, 2015: 32).
Keberadaan budaya sekolah memiliki peran yang sangat vital dan strategis
bagi keberhasilan pendidikan karakter karena karakter bukan dibentuk seperti
ilmu pengetahuan, tetapi dibangun melalui contoh dan teladan yang dilakukan
oleh semua warga sekolah yang melibatkan dimensi emosional dan sosial.
Implementasi pendidikan karakter tidak sekedar dalam bentuk “menitipkan”
muatan-muatan karakter ke dalam keseluruhan atau sebagai mata pelajaran
tetapi pendidikan karakter akan efektif bilamana dikembangkan melalui
kegiatan praktik dalam kurikulum tersembunyi. Pendidikan karakter di
sekolah dasar sangat dibutuhkan sebagai fondasi karakter siswa di masa yang
akan datang nanti.
Nilai-nilai karakter yang ada di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo telah
tertuang dalam visi misi sekolah yang mengutamakan pendidikan karakter
menjadi cermin dari upaya sekolah dalam menanamkan pendidikan karakter
sejak dini. Berdasarkan hasil observasi di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo
pengembangan pendidikan karakter terlihat melalui aktivitas pembiasaan
untuk siswa di lingkungan sekolah. Salah satu pembiasaan yang dilakukan
siswa SDIT Ulul Albab 2 Purworejo adalah melakukan Sholat Dhuha.
Pembiasaan yang dilakukan tercantum kedalam nilai-nilai karakter dan
budaya bangsa yaitu nilai religius.
Berdasarakan paparan di atas, sangat menarik untuk dilakukan penelitian
yang menelaah tentang pendidikan karakter dalam budaya sekolah dasar,
khususnya di SD IT Ulul Albab 2 Purworejo. Melalui penelitian ini
diharapkan dapat memperoleh gambaran komprehensif mengenai
implementasi pendidikan karakter dalam budaya sekolah di SD IT SD IT Ulul
Albab 2 Purworejo.
6

B. Fokus Penelitiam
Melihat luasnya permasalahan tentang implementasi pendidikan karakter
melalui budaya sekolah, maka peneliti memberikan fokus penelitian sebagai
ruang lingkup dari penelitian ini yaitu tentang perencanaan, pelaksanaan,
penilaian dan kendala dalam mengkaji implementasi pendidikan karakter
melalui budaya sekolah di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan
permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana persepsi guru SD terhadap kajian implementasi pendidikan
karakter melalui budaya sekolah di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo?
2. Bagaimana perilaku siswa SDIT Ulul Albab 2 Purworejo dalam
mengimplementasikan pendidikan karakter melalui budaya sekolah?
3. Apa faktor pendukung dan penghambat implementasi pendidikan karakter
melalui budaya sekolah di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo?

D. Tujuan
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan
yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Memdeskripsikan presepsi guru SD terhadap implementasi pendidikan
karakter melalui budaya sekolah di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo.
2. Mendeskripsikan perilaku siswa SDIT Ulul Albab 2 Purworejo dalam
mengimplementasikan pendidikan karakter melalui budaya sekolah.
3. Mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat implementasi
pendidikan karakter melalui budaya sekolah di SDIT Ulul Albab 2
Purworejo.
7

E. Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Secara teoretis:
Hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi
terhadap pengembangan ilmu pendidikan karakter khususnya perilaku
siswa.
2. Secara Praktis:
a. Bagi Sekolah
1) Memberi gambaran sejauh mana implementasi pendidikan
karakter di sekolah tersebut.
2) Meningkatkan kesadaran bagi sekolah untuk mengintegrasikan
nilai-nilai karakter dalam merumuskan program kegiatan sekolah.
b. Bagi Guru
1) Memberi gambaran sejauh mana implementasi pendidikan
karakater dalam proses pembelajaran di sekolah tersebut.
2) Meningkatkan motivasi bagi guru untuk mengintegrasikan nilai-
nilai karakter dalam proses pembelajaran.
c. Bagi Siswa
1) Memberi informasi tentang nilai-nilai karakter yang
dikembangkan oleh sekolah.
2) Meningkatkan pembisaan bertindak, bersikap, dan berucap sesuai
dengan nilai-nilai karakter yang baik.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori
1. Konsep Pendidikan Karakter
a. Pengertian Pendidikan Karakter
Menurut Kementerian Pendidikan Nasional (2010: 4), pendidikan
karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan karakter
bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan
karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam
kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang
religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Sedangkan menurut Koesoema
(Jamal, 2011: 28), mengemukakan bahwa pendidikan karakter
merupakan nilai-nilai dasar yang harus dihayati jika sebuah masyarakat
mau hidup dan bekerjasama secara damai. Nilai-nilai seperti
kebijaksanaan, penghormatan terhadap yang lain, tanggungjawab pribadi,
perasaan senasib, sependeritaan, pemecahan konflik secara damai,
merupakan nilai-nilai yang semestinya diutamakan dalam pendidikan
karakter. Dalam pengertian sederhana, pendidikan karakter adalah hal
positif yang dilakukan guru dan berpengaruh kepada peserta didik yang
diajarnya.
Winton (Samani & Hariyanto, 2012: 43) mendefinisikan,
“Pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari
seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya”. Istilah
pendidikan karakter masih mengalami kerancuan pengertian di dalam
masyarakat. Ketidaktepatan pemaknaan terhadap pendidikan karakter
antara lain: (a) pendidikan karakter sama dengan mata pelajaran budi
pekerti, (b) pendidikan karakter merupakan tanggungjawab guru agama
dan PKn, dan (c) pembelajaran pendidikan karakter akan menjadi mata
pelajaran baru di kurikulum. Menurut Freye (Suyadi, 2013: 6),
pendidikan karakter dimaknai sebagai, “A national movement creating

8
9

schools that foster ethical, responsible, and caring young people by


modeling and teaching good character through an emphasis on universal
values that we are share”. Suyadi (2013: 456) mengungkapkan bahwa
“pendidikan karakter adalah upaya sadar dan terencana dalam mengetahui
kebenaran atau kebaikan, mencintainya dan melakukannya dalam
kehidupan sehari-hari”. Sedangkan Fakry Gaffar (Kesuma, 2012: 5)
menyatakan, “Pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi
nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuh kembangkan dalam kepribadian
seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu.”
Mengacu dari berbagai pengertian dan definisi mengenai
pendidikan karakter tersebut, maka pendidikan karakter dapat dimaknai
sebagai proses pengarahan dan pembimbingan terhadap peserta didik agar
memiliki nilai dan perilaku yang baik, untuk menjadi manusia yang
seutuhnya. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus
dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu
isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau
pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas
atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan,
dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan.
Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks
pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-
nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam
rangka membina kepribadian generasi muda. Pendidikan karakter
merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara
sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai- nilai perilaku
manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-
norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Pendidikan
karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang
membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga,
10

masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat


keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain,
pendidikan karakter mengajarkan anak didik untuk berpikir cerdas serta
mengaktivasi otak tengah secara alami.
Jadi, pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada
peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya, yang berkarakter dalam
dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat
dimaknai dengan pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti pendidikan
moral, pendidikan watak yang bertujuan untuk memberikan keputusan
baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan dalam
kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
b. Tujuan Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter yang dibangun dalam pendidikan mengacu
pada Pasal 3 UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003,
bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.”
Menurut Mulyasa (2014: 9), mengemukakan bahwa pendidikan
karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan
yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta
didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar
kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui pendidikan
karakter peserta didik diharapkan mampu secara mendiri mrningkatkan
dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan
serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga
terwujud dalam perilaku sehari-hari.
11

Selain itu menurut Jamal, (2011: 42), bahwa tujuan pendidikan


karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaharuan tata
kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan
jangka panjangnya tidak lain adalah mendasarkan diri pada tanggapan
aktif kontekstual individu atas impuls naturak sosial yang diterimanya,
yang pada gilirannya semakin mempertajam visi hidup yang akan diraih
lewat proses pembentukan diri secara terus menerus (on going formation).
Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan karakter adalah
untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di
sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan
akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai
dengan standar kompetensi lulusan.
c. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter
Menurut Jamal (2011: 56-57), bahwa prinsip-prinsip pendidikan
karakter:
1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter.
2) Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup
pemikiran, perasaan, dan perilaku.
3) Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif, dan efektif untuk
membangun karakter.
4) Menciptakan komunitas sekokah yang memiliki kepedulian.
5) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan
perilaku yang bauk.
6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang
yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka,
dan membantu mereka untuk sukses.
7) Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada peserta didik.
8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang
berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada
nilai dasar yang sama.
12

9) Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam


membangun inisiatif pendidikan karakter.
10) Memfingsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam
usaha membangun karakter.
11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru
karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta
didik.
d. Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter
Menurut Jamal (2011: 54-55) dan Mulyasa (2014: 11-12),
mengemukakan bahwa keberhasilan program pendidikan karakter dapat
diketahui melalui pencapaian beberapa indikator berikut:
1) Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap
perkembangan remaja.
2) Memahani kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
3) Menunjukkan sikap percaya diri.
4) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang
lebih luas.
5) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, golongan sosial
ekonomi dalam lingkungan nasional.
6) Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan
sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif.
7) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
8) Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan
potensi yang dimilikinya.
9) Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah
dalam kehidupan sehari-hari.
10) Mendeskripsikan gejala alam dan sosial.
11) Memanfaatkan lingkungan secara bertanggungjawab.
12) Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara
kesatuan Republik Indonesia.
13

13) Mengahrgai karya seni dan budaya nasional.


14) Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk
berkarya.
15) Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan
waktu luang dengan baik.
16) Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun
17) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di
masyarakat; mengahragai adanya perbedaan pendapat.
18) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek
sederhana.
19) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana.
20) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan
menengah.
21) Memiliki jiwa kewirausahaan.

2. Konsep Dasar Budaya Sekolah


a. Pengertian Budaya Sekolah
Menurut Wiyani, (2013: 138) bahwa secara harfiah, pengertian
kultur atau budaya mendekati arti latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat
keadaan, iklim. Menurut Daryanto, (2015:6) bahwa budaya sekolah
adalah sekumpulan norma, nilai dan tradisi ynag telah dibangun dalam
waktu yang lama oleh semua warga sekolah dan mengarah ke seluruh
aktivitas personel sekolah. Sedangkan menurut Yusuf, (2008: 17) bahwa
budaya sekolah adalah kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan
berkembang berdasarkan spirit dan nilai nilai tertentu yang dianut
sekolah.
Pembentukan budaya sekolah berbasis pendidikan karakter dapat
dilakukan melaui keteladanan, kegiatan spontan saat guru mengetahui
perilaku siswa yang kurang baik, cerita/kisah teladan, pengkondisian dan
kegiatan rutin (Wiyani, 2013: 139). Proses yang efektif untuk
14

membangun budaya sekolah adalah dengan melibatkan dan mengajak


semua pihak atau pemangku kepentingan untuk bersama-sama
memberikan komitmennya. Keyakinan utama dari pihak sekolah harus
difokuskan pada usaha menyemaikan dan menanamkan keyakinan, nilai,
norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang merupakan harapan setiap
pemangku kepentingan tersebut.
Jadi dapat disimpulkan bahwa budaya sekolah adalah suatu
kebiasaan pada lembaga sekolah yang didalamnya terdapat nilai nilai
karakter sebagai tradisi dalam berperilaku dan budaya yang diikuti oleh
semua warga sekolah.
b. Karakteristik Budaya Sekolah
Karakteristik budaya sekolah menjadi dua macam, yaitu kultur
sekolah positif, dan kultur sekolah negatif. Kultur sekolah positif
merupakan suatu budaya yang mendukung mutu sekolah dan mutu
kehidupan warga sekolah yang sehat, aktif, dinamis, dan profesional. Hal
tersebut sesuai dengan Mardapi (Srinatun, 2011: 64) yang menyatakan
“kultur sekolah positif merupakan kegiatan-kegiatan yang mendukung
peningkatan kualitas pendidikan, misalnya kerjasama dalam mencapai
prestasi, pengahargaan terhadap prestasi dan komitmen terhadap belajar”.
Kultur positif ini harus terus dikembangkan karena akan memberi peluang
sekolah dan warganya berfungsi secara optimal, efisien, penuh dengan
semangat tinggi.
Kultur sekolah negatif merupakan budaya sekolah yang memiliki
sifat anarkis, negatif, serta dominatif. Mardapi (Srinatun, 2011: 64)
menyatakan “kultur sekolah negatif merupakan kultur yang tidak
mendukung peningkatan mutu pendidikan”. Sebagai contoh kurangnya
kerjasama dalam menyelesaikan permasalahan, peserta didik takut
bertanya, dan tidak ditegakkan kedisiplinan. Sekolah yang membiarkan
kultur negatif tetap ada dan takut melakukan perubahan, akan berakibat
kualitas atau mutu sekolah tersebut mneurun.
15

Terkait karakteristik di atas Srinatun (2011: 64) menambahkan


“Budaya sekolah netral merupakan kultur yang tidak fokus pada
penurunan atau peningkatan mutu pendidikan, tetapi berdampak positif
pada pendidikan”. Sebagai contoh berupa pertemuan rutin guru-guru
dalam arisan keluarga sekolah, seragam guru, dan seragam peserta didik.
Sekolah perlu memahami keberadaan aneka kultur sekolah seperti
perhatian pada pengembangan kultur sekolah positif dan netrak dengan
memberikan informasi kepada seluruh warga sekolah, serta pertimbangan
dalam perbaikan kultur sekolah negatif, karena dinamika kultur sekolah
dapat dijadikan tolak ukur untuk pengemabangan mutu pendidikan suatu
sekolah.
c. Unsur-unsur Budaya Sekolah
Budaya sekolah menjadi fenomena yang menarik, karena
keyakinan dan kepercayaan yang mendalam berkembang di sekolah
tercermin pada pandangan, sikap, dan perilaku khas dari warga sekolah,
yang dapat menumbuhkan semangat membangun karakter peserta didik.
Ada tiga unsur budaya yang perlu dikembangkan di sekolah, yaitu
kultur akademik, kultur sosial budaya, dan kultur demokratis. Ketiga
kultur ini harus menjadi prioritas yang dimiliki oleh seluruh warga
sekolah. Kultur akademik ditandai dengan adanya dasar akademik yang
kuat pada tindakan, keputusan, kebijakan, dan pendapat. Artinya setiap
kegiatan tersebut harus memilliki dasar empirik yang kuat dan teori yang
teruji. Jadi warga sekolah dalam kesehariannya sellau berpegang pada
teori-teori dalam berpikir, berpendapat, bersikap, dan bertindak. Aspek
budaya akademik menurut Moerdiyanto (2012: 45) meliputi kemauan
belajar, rajin membaca, bimbingan belajar, menyampaikan pertanyaan,
keberanian menyampaikan pendapat, persaingan meraih prestasi,
pemilihan buku pelajaran, konsultasi pembimbing, penguasaan materi
dari guru, umpan balik dari guru, dan strategi belajar mengajar. Kultur
akademik akan memotivasi peserta didik untuk meningkatkan prestasinya
sehingga tujuan pembelajaran di sekolah akan tercapai.
16

Kultur sosial budaya merupakan suatu budaya sekolah yang akan


membentengi budaya-budaya asing yang tidak relevan dengan budaya
lokal seperti hedonisme, individualisme, dan materialisme. Sekolah akan
menanamkan nilai-nilai budaya pada peserta didik dan mengembangkan
seni tradisi yang berakar pada budaya lokal yang dikreasikan dengan
modernitas dengan tetap mempertahankan keasliannya.
Kultur demokrasi merupakan corak berkehidupan yang
memberikan perbedaan untuk secara bersama membangun kemajuan.
Kultur ini jauh dari pola tindakan diskriminatif dan otoritarisme serta
sikap mengabdi atasan secara membabi buta. Warga sekolah selalu
bertindak objektif, bertanggungjawab, dan transparan pada tindakan atau
keputusan. Kultur demokratis dapat digambarkan dengan pengambilan
keputusan dan menghargai perbedaan keputusan, mengetahui secara
penuh hak dan kewajiban diri sendiri, orang lain bangsa dan negara.
Kultur demokratis akan menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada peserta
didik.

3. Konsep Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah


a. Pengertian Implementasi Pendidikan Karakter melalui Budaya
Sekolah
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) implementasi
diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan, yang berarti bahwa hal-hal
yang telah terencana sebelumnya dalam tataran ide, akan diusahakan
untuk dijalankan sepenuhnya, agar hal yang dimaksudkan dapat
tersampaikan. Sedangkan dalam teori organisasi dan implementasi,
Browne dan Wildavsky (Nurdin dan Usman, 2014: 32) mengemukakan
bahwa implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling
menyesuaikan. Pengertian tersebut diadaptasi dari hal yang dikemukakan
oleh Mc Laughin mengenai hal yang sama. Dari sumber yang sama,
implementasi adalah sistem rekayasa. Seorang ahli pendidikan bernama
Mulyasa juga turut mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan
17

implementasi adalah proses penyerapan ide, konsep, kebijakan, atau


inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik
berupa perubahan, pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan sikap
terhadap aktor-aktor pada objek yang dikenai proses implementasi itu
sendiri. Implementasi merupakan sebuah sistem, bukan sekedar aktivitas
tanpa kematangan konsep.
Kematangan konsep yang dimaksud adalah bahwa sebelum
diterapkan pada aspek-aspek tertentu, implementasi dipastikan menjadi
sebuah sistem yang dibentuk dari himpunan kegiatan-kegiatan yang telah
terencana dan tentunya telah disesuaikan dan didasarkan pada nilai atau
norma yang berlaku pada aspek-aspek yang akan dikenainya. Dalam
perkembangannya, pengertian implementasi adalah sebuah perangkat
aktivitas baru yang di dalamnya terdapat pengharapan mengenai
perubahan terhadap objek-objek yang bersangkutan. Dalam
pelaksanaannya tersebut, ada pula harapan agar apa yang telah tersusun
dalam rencana yang sedemikian matang dapat diterima oleh seluruh pihak
dari aspek yang dikenainya.
Sehingga perubahan yang terjadi akan bersifat menyeluruh.
Esensinya, implementasi adalah proses yang dihimpun dari sekumpulan
aktivitas yang dapat digunakan sebagai alat transfer ide tau gagasan dari
individu yang satu ke individu lainnya, maupun dari satu kelompok
masyarakat ke kelompok masyarakat lainnya. Adapun mengenai harapan-
harapan yang terkandung di dalam implementasi ini, haruslah bersifat
adaptif. Dalam pengertian bahwa implementasi yang diterapkan harus
sesuai dengan keinginan perubahan yang dimiliki masyarakat yang ada di
dalam objek yang bersangkutan.
Dalam pengertian secara sederhana, yang dimaksud dengan
implementasi adalah sebuah penerapan atau pelaksanaan, namun
implementasi adalah juga suatu proses yang dilakukan dalam rangka
evaluasi atas aspek- aspek yang dikenainya. Oleh karenanya, dapat
disimpulkan bahwa implementasi pendidikan karakter melalui budaya
18

sekolah adalah sebuah rangkaian proses mengenai aktualisasi ide-ide yang


dilakukan oleh manusia atas kepentingan-kepentingan yang berhubungan
dengan pendidikan karakter sebagai tradisi dalam berperilaku dan
berbudaya yang diikuti oleh semua warga sekolah.
b. Metode dan Pendekatan dalam Implementasi Pendidikan Karakter
melalui Budaya Sekolah
Secara filosofis, dari sebuah landasan akan memunculkan konsep
tentang pendekatan. Selanjutnya, melalui pendekatan konsep tentang
metode muncul. Secara etimologi, pendekatan berarti proses, cara, dan
perbuatan mendekati. Sementara dari segi istilah, pendekatan bersifat
aksiomatis yang menyatakan pendirian, filsafat, keyakinan, paradigma
terhadap subject matter yang harus diajarkan dalam proses pendidikan
karakter dan selanjutnya melahirkan metode pendidikan karakter. Kata
metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta dan hodos. Meta berarti
melalui dan hodos berarti jalan atau cara. Dalam bahasa Arab, kata
metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah yang
diambil seorang penddik guna membantu peserta didik merealisasikan
tujuan tertentu. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa metode
pendidikan karakter melalui budaya sekolah berarti cara yang digunakan
untuk melaksanakan pendidikan karakter sebagai tradisi dalam
berperilaku dan berbudaya agar tercapai sesuai dengan tujuan yang
dikehendaki. Aunillah (2011: 24-46) menyarankan 6 pendekatan yang
dapat digunakan dalam penerapan pendidikan karakter yaitu, pendekatan
perkembangan moral kognitif, analisis nilai, perilaku sosial, kognitif,
afektif, dan perilaku. Penjelasan dari 6 pendekatan tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Pendekatan perkembangan moral kognitif
Pendekatan perkembangan moral kognitif merupakan pendekatan
yang telah banyak diuji, terutama oleh para pakar psikologi
perkembangan seperti Piaget dan Kohlberg. Ditinjau dari tujuan
diterapkannya pendekatan ini, maka pendekatan perkembangan moral
19

kognitif bertujuan membimbing seseorang dalam mengembangkan


pertimbangan moralnya berdasarkan pada suatu pola yang disebut
peringkat. Artinya, dengan pendekatan ini dapat diketahui bahwa ia
mematuhi peraturan moral yang semula lantaran takut terhadap
hukuman, namun selanjutnya karena ia mematuhi peraturan moral
karena memiliki kesadaran moral yang berasaskan prinsip moral
universal.
Pendekatan ini dilaksanakan dengan merujuk pada suatu keadaan
yang mengandung konflik nilai dan memerlukan seseorang yang
mampu membuat pilihan nilai berdasarkan kesadarannya. Adapun
cara melaksanakan pendekatan perkembangan moral kognitif adalah
sebagai berikut: (1) meminta peserta didik untuk mengemukakan satu
masalah yang berkaitan dengan pelanggaran sekaligus memintanya
untuk berpikir tentang beberapa alternatif yang dapat diambil sebagai
jalan penyelesaiannya, (2) meminta peserta didik untuk memilih satu
di antara dua aktivitas moral sekaligus memintanya untuk
memberikan alasan atas pilihannya tersebut, (3) meminta peserta didik
untuk memberikan informasi tambahan tentang beberapa aktivitas
yang bermoral dan tidak bermoral, sehingga hal itu bisa meningkatkan
pemikirannya mengenai moral itu sendiri.
Dalam menggunakan pendekatan ini, maka guru harus senantiasa
menerima pendapat peserta didik dengan pikiran terbuka dan
membimbingnya untuk meningkatkan tahap ketaatannya terhadap
moral. Oleh karena itu, perlu dirumuskan suatu sistem bersama, bukan
keputusan sepihak. Hal itu dapat membuat peserta didik mentaati
moral bukan karena rasa takut, melainkan lantaran sistem memang
menghendaki demikian.
2) Pendekatan analisis nilai
Fokus utama dalam pendekatan analisis nilai adalah membimbing
agar peserta didik dapat berpikir logis dan sistematis dalam
menyelesaikan suatu masalah yang mengandung nilai-nilai.
20

Pendekatan ini memerlukan seorang guru yang mampu


mengumpulkan fakta persoalan yang relevan. Berbagai cara yang bisa
dilakukan oleh guru dalam melaksanakan pendekatan analisis nilai
adalah sebagai berikut: (1) memperkenalkan dan menjelaskan kepada
peserta didik tentang masalah-masalah nilai, seperti menjelaskan
mengenai korupsi, semakin lengkap guru memberikan penjelasan
tentang isu-isu tersebut, semakin kuat pemahaman peserta didik
terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya, (2) membuat penilaian
atas fakta-fakta itu sendiri, kemudian membuat keputusan bersama
sebagai sebuah penyikapan atas masalah tersebut.
Dalam pendekatan ini lebih menekankan pada asspek kognitif
dibandingkan aspek emosi, maka guru disarankan menggunakan
pendekatan lainnya dalam pengajaran dan pembelajaran pendidikan
moral.
3) Pendekatan perilaku sosial
Pendekatan perilaku sosial merupakan respon atas stimulus. Secara
sederhana, pendekatan ini dapat digambarkan dengan model S-R atau
suatu kaitan stimulus-respon. Hal ini berarti tingkah laku itu seperti
reflex tanpa kerja mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh
J.B. Watson.
Dalam rangka menyelenggarakan pendidikan karakter, sangatlah
penting bagi guru untuk senantiasa melibatkan peserta didik dalam
berbagai kegiatan yang memancing responnya terhadap kegiatan
tersebut, dengan kata lain, guru harus selalu menciptakan suatu
kondisi yang membuat peserta didik bisa tergerak untuk memberikan
bentuk penyikapan atas sesuatu yang ia hadapi. Setiap memberikan
respon positif atas sesuatu kegiatan, maka guru harus memberikan
dorongan dan penjelasan-penjelasan yang dapat membantu respon
tersebut menjadi mengakar kuat di dalam diri peserta didik.
21

4) Pendekatan kognitif
Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku merupakan
proses mental yang menunjukkan bahwa individu aktif dalam
menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus
sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus, lalu
melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus
yang ada. Pendekatan kognitif sebenarnya merupakan aplikasi atau
peleksanaan dari teori perkembangan kognitif. Untuk pertama kalinya,
teori ini dikembangkan oleh Jean Piaget. Menurut Piaget, kemampuan
kognitif adalah kemampuan seseorang dalam merepresentasikan dunia
berdasarkan kenyataan yang dilihat dan dirasakan.
5) Pendekatan afektif
Pendekatan afektif atau pendekatan sikap yang digunakan sebagai
salah satu pendekatan dalam pendidikan karakter, memiliki konsep
yang menjelaskan bahwa belajar dipandang sebagai upaya sadar
seorang individu untuk memperoleh perubahan perilaku secara
keseluruhan, baik perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
Menurut Akhmad Sudrajat (Nurla Isna Aunillah, 2011: 38), secara
konseptual maupun empiris, aspek efektif memegang peranan yang
sangat penting terhadap tingkat kesuksesan seseorang dalam bekerja
maupun menghadapi kehidupan secara keseluruhan. Meskipun
demikian, tampaknya lembaga pendidikan kurang menyadari masalah
ini, sehingga pembelajaran afektif masih kurang mendapatkan
perhatian. Kenyataan yang terjadi, dalam praktik pembelajaran di
sekolah lebih menekankan pada aspek kognitif (intelektual).
Guru yang hendak mengembangkan karakter peserta didik dengan
pendekatan afektif ini dituntut bisa membaca sikap dan kepribadian
peserta didik maupun guru itu sendiri secara tepat. Pendekatan afektif
merupakan jenis pendekatan yang tidak dapat dirumuskan secara
pasti, maka dalam rangka menyelenggarakan pendidikan karakter,
22

diperlukan pembelajaran yang juga menggunakan model


pembelajaran yang sama, yaitu model pembelajaran efektif. 6)
Pendekatan perilaku Pendekatan perilaku merupakan upaya-upaya
yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu
peserta didik dalam memahami nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama
manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran,
sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.
c. Standar Kompetensi Lulusan yang Dikembangkan melalui Budaya
Sekolah
1) Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I, Pasal 1 ayat 4, Peraturan
Pemerintah No.19 tahun 2005 tentang Standar Kompetensi Lulusan
(SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Adanya SKL digunakan sebagai
pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari
satuan pendidikan. Standar Kompetensi Lulusan meliputi kompetensi
untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran.
Kompetensi lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Seperti contohnya SKL pada jenjang pendidikan sekolah dasar yang
meliputi SD/MI/SDLB/Paket A yang bertujuan untuk meletakkan
dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih
lanjut yang akan dijelaskan pada tabel berikut ini.
23

Tabel 4. Substansu Nilai-nilai Karakter dalam Standar Kompetensi


Lulusan SD/MI/SDPLB/Paket A
No. Standar Kompetensi Lulusan Nilai/Karakter
yang
Dikembangkan
1 Menjalankan ajaran agama yang dianut Religius, jujur, dan
sesuai dengan tahap perkembangan tanggungjawab
anak.
2 Mengenal kekurangan dan kelebihan Jujur
diri sendiri.
3 Mematuhi aturan-aturan sosial yang Bertanggungjawab
berlaku dalam lingkungannya.
4 Menghargai keberagaman agama, Peduli
budaya, suku, ras, dan golongan sosial
ekonomi di lingkungan sekitarnya.
5 Menggunakan informasi tentang Cerdas dan kreatif
lingkungan sekitar secara logis, kritis,
dan kreatif.
6 Menunjukkan kemampuan berpikir Cerdas dan kreatif
logis, kritis, dan kreatif, dengan
bimbingan guru/pendidik.
7 Menunjukkan rasa keingintahuan yang Cerdas
tinggi dan menyadari potensinya.
8 Menunjukkan kemampuan Cerdas
memecahkan masalah sederhana dalam
kehidupan sehari-hari.
9 Menunjukkan kemampuan mengenali Cerdas dan peduli
gejala alam dan sosial di lingkungan
sekitar.
24

10 Menunjukkan kecintaan dan Peduli dan


kepedulian terhadap lingkungan. bertanggungjawab
11 Menunjukkan kecintaan dan Peduli dan
kebangaan terhadap bangsa, negara, bertanggungjawab
dan tanah air Indonesia.
12 Menunjukkan kemampuan untuk Kreatif dan
melakukan kegiatan seni dan budaya bertanggungjawab
lokal.
13 Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, Sehat, bersih, dan
sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan bertanggungjawab
waktu luang
14 Berkomunikasi secara jelas dan santun Cerdas
15 Bekerjasama dalam kelompok, tolong- Kooperatif, peduli,
menolong, dan menjaga diri sendiri dan
dalam lingkungan keluarga dan teman bertanggungjawab
sebaya
16 Menunjukkan kegemaran membaca Cerdas
dan menulis
17 Menunjukkan keterampilan menyimak, Cerdas
berbicara, membaca, menulis, dan
berhitung
Sumber: Grand Design Pendidikan Karakter, Kemendiknas: 2010

B. Penelitian Relevan
Hasil penelitin yang dilakukan oleh Nihayah (2017) yang berjudul
Implementasi Pendidikan Karakter di SDN 1 Cerme Kidul-Cerme-Gresik.
Persamaannya yaitu mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter dan
faktor pendukung serta penghambat pendidikan karakter sedangkan perbedaanya
yaitu penelitian ini mendeskripsikan presepsi stakeholder tentang pendidikan
karakter dan pendidikan karakter yang ditonjolkan yaitu melalui peduli
lingkungan. Hasil penelitian ini menunjukkan (a) pendidikan karakter yang
25

ditonjolkan yaitu peduli lingkungan, (b) pelaksanaan pendidikan karakter


diimplementasikan dalam pembelajaran, kegiatan ekstrakulikuler dan kegiatan
sehari-hari siswa, (c) ketercapaiana pendidikan karakter yaitu perubahan perilaku
yang dialami siswa-siswa, (d) faktor pendukung pendidikan karakter yaitu adanya
tenaga pendidik yang berkompeten, sarana prasarana yang memadai dan sesuai
kebutuhan serta antusiasme siswa, (e) faktor penghambat pendidikan karakter
yaitu beberapa orang tua yang kurang berpartisipasi maksimal, (f) stakeholder
mendukung program pendidikan karakter.
Penelitian yang dilakukan oleh Hermawan (2017) yang berjudul
Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat Pada Kegiatan Student
Exchange SD Muhammadiyah Paesan Pekalongan. Persamaannya yaitu
mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter sedangkan perbedaannya
kegiatan implementasinya berbasis masyarakat dengan student exchange. Hasil
penelitiannya yaitu nilai-nilai karakter yang muncul dalam kegiatan student
exchange, yakni sholeh dan kreatif, bersahabat dan peduli sosial maupun
lingkungan. Namun dalam sikap kemandirian masih belum tampak dengan baik.
Factor pendukung dalam kegiatan ini adalah hubungan kekeluargaan dan
kesamaan dalam organisasi, sehingga mudah untuk koordinasi. Sedangkan faktor
penghambat adalah mayoritas orang tua kandung menjenguk anak-anaknya di
desa, dan masyarakan desa Kranggan juga kadang merasa malu jika tidak
melayani anak dengan baik. Maka dari itu diperlukan komitmen antara guru, wali
murid, dan masyarakat Kranggan terhadap aturan-aturan yang sudah disepakati.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Uliana (2013) dengan judul
Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kultur Sekolah Pada Siswa Kelas XI
di SMA Negeri 1 Gedangan Sidoarjo. Perasamannya implementasi pendidikan
karakter sesuai dengan visi misi yang ada di sekolah sedangkan perbedaannya
strategi pengembangan pendidikan karakter melalui kultur sekolah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter sesuai dengan
visi dan misi yang ada di sekolah, dan siswa memberi respon baik terhadap
kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh sekolah atau kebiasaan-kebiasaan di
lingkungan sekolah.
26

C. Kerangka Berpikir
Implementasi pendidikan karakter melalui budaya sekolah adalah sebuah
rangkaian proses mengenai aktualisasi ide-ide yang dilakukan oleh manusia atas
kepentingan-kepentingan yang berhubungan dengan pendidikan karakter sebagai
tradisi dalam berperilaku dan berbudaya yang diikuti oleh semua warga sekolah.
Implementasi pendidikan karakter didapatkan melalui presepsi pendidikan
karakter melalui budaya sekolah, implementasi pendidikan karakter melalui
budaya sekolah, dan hasil penerapan pendidikan karakter melalui budaya sekolah.
Ketiga aspek tersebut terdapat faktor pendukung dan penghambat yang mampu
merubah karakter anak menjadi baik atau bisa juga sebaliknya.
Adapun nilai-nilai dasar yang dibina dalam pendidikan karakter yang
diterapkan melalui budaya sekolah yaitu di integrasikan ke dalam kurikulum,
ekstrakulikuler maupun pembiasaan-pembiasaan baik di sekolah, pengintegrasian
pendidikan karakter di dalam kelas dengan cara guru mengupayakan metode yang
relevan sehingga akan tercipta belajar yang aktif, kreatif dan menyenangkan.
Melalui implementasi pendidikan karakter melalui budaya sekolah
diharapkan siswa terbiasa untuk menerapkan pendidkan karakter yang ada di
sekolah dengan hasil yang dapat diterapkan juga di lingkungan masyarakat
setempat.
Berdasarkan uraian di atas, maka kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat
pada skema dibawah ini:
27

Gambar 1. Alur Kerangka Berfikir Penelitian

SDIT ULUL ALBAB 2 PURWOREJO

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN
KARAKTER

Presepsi pendidikan Implementasi Hasil penerapan


karakter melalui pendidikan karakter pendidikan karakter
budaya sekoah melalui budaya melalui budaya
sekoah sekoah

Kendala/pendukung
Baik/Tidak
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian ini bertempat di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo yang
beralamat di Jl. Ir. H Juanda, Tegalsari, Kabupaten Purworejo. Alasan peneliti
melaksanakan penelitian di tempat tersebut karena sekolah tersebut sudah
menerapkan Kurikulum 2013. Selain itu, sekolah dasar tersebut merupakan
sekolah yang mengutamakan pendidikan karakter sesuai dengan visi misi SDIT
Ulul Albab 2 Purworejo.
Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan, yaitu pada bulan
Desember 2018 - Mei 2019. Adapaun rincian dan jenis kegiatan penelitian dapat
dilihat pada tabel penelitian berikut ini.
Table 3.1 Waktu dan Kegiatan Penelitian
No. Jenis Penelitian Bulan
Des Jan Feb Mar Apr Mei
1. Penyusunan proposal
2. Pengajuan dan revisi proposal
3. Penyusunan instrument
penelitian
4. Perizinan penelitian
5. Pengumpulan data
6. Analisis data
7. Penyusunan laporan

B. Bentuk dan Strategi Penelitian


Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan, jenis penelitian ini adalah
penelitian kualitatif deskriptif (qualitative research) yang menghasilkan karya
ilmiah dengan menggunakan data kualitatif deskriptif untuk mengungkapkan dan
memahami sebuah fenomena atau fakta yang terjadi secara alamiah oleh objek
peneliti secara holistik dan natural setting pada suatu konteks yang dikaji dalam

27
28

bentuk kata-kata dan bahasa ilmiah. Penelitian ini mendeskripsikan tentang


implementasi pendidikan karakter melalui budaya sekolah.
Menurut Sukmadinata (2017: 61-66), strategi penelitian merupakan satu
cara untuk mengumpulkan data yang menjadi objek, subjek, variabel, serta
masalah yang diteliti agar data terarah pada tujuan yang ingin dicapai. Strategi
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study).
Studi kasus merupakan salah satu jenis pendekatan kualitatif yang menelaah
sebuah “kasus” tertentu dalam konteks atau setting kehidupan nyata kontemporer
(Creswell: 2014: 12). Penelitian ini menggunakan studi tunggal terpancang
karena dalam konteks penelitian ini sudah terarah pada satu sasaran tertentu yang
telah dirumuskan dalam proposal yaitu implementasi pendidikan karakter melalui
budaya sekolah.

C. Data dan Sumber Data Penelitian


Pengolahan data yang dikaji dan dikumpulkan dalam penelitian ini
sebagian besar data kualitatif. Dilihat dari sumber data, maka pengumpulan data
dalam penelitian ini menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Sumber
primer adalah data yang langsung diberikan kepada pengumpul data, dan sumber
sekunder merupakan sumber yang tidak langsung diberikan kepada kepada
pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen (Sugiyono, 2016: 308).
Sumber informasi dalam penelitian ini adalah: informan atau narasumber, tempat
dan peristiwa serta dokumen atau arsip.
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Sumber
data primer yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
a) Informan atau narasumber
Narasumber atau informan merupakan sumber data yang sangat
penting dalam penelitian kualitatif.Dalam penelitian kualitatif informan
yang diwawancarai dapat meberikan informasi. Informan dalam penelitian
ini adalah kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang SDIT Ulul
Albab 2 Purworejo yang mengetahui secara detail tentang implementasi
29

pendidikan karakter melalui budaya sekolah.


b) Tempat dan Peristiwa
Tempat atau lokasi berkaitan dengan permasalahan penelitian dan
merupakan salah satu sumber data yang bisa dimanfaatkan oleh
peneliti.Informasi mengenai kondisi lokasi peristiwa atau tempat aktivitas
itu dilakukan bisa digali melalui sumber lokasi, baik merupakan tempat
maupun lingkungannya.Melihat deskripsi tersebut, maka tempat dan
peristiwa kejadian dalam penelitian ini terdapat di SDIT Ulul Albab 2
Purworejo.
2. Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh
bukan secara langsung dari sumbernya. Penelitian ini sumber data
sekunder yang dipakai adalah sumber tertulis seperti:
a) Dokumentatau Arsip
Dokumen atau arsip merupakan bagian penting dalam penelitian
kualitatif.Arsip meliputi jumlah guru, jumlah siswa, prestasi guru dan
siswa, inventaris sekolah, dan sarana fisik yang ada di SDIT Ulul Albab 2
Purworejo. Dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah visi misi
SDIT 2 Purworejo dan dan daftar kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan
sekolah setiap tahun.

D. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan
teknik kondisi yang alami atau natural setting, sumber data primer, dan lebih
banyak pada teknik observasi berperan serta, wawancara mendalam, dan
dokumentasi (Chony dan Almanshur, 2014:164). Selanjutnya bila dilihat dari segi
cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat
dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview (wawancara), kuisioner
(angket), dokumentasi (Sugiyono, 2016: 255).
30

1. Wawancara
Esterberg (Sugiyono, 2016: 231) mengemukakan bahwa wawancara
merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui
tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik
tertentu. Esterberg (Sugiyono, 2016: 233) mengemukakan beberapa macam
wawancara, yaitu wawancara terstruktur, semiterstruktur, dan tidak
terstruktur.
a) Wawancara terstrukutur (structured interview)
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan
data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti
tentang informasi apa yang akan diperoleh (Sugiyono, 2016: 233). Oleh
karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah
menyiapkan instrumen penelitian pertanyaan-pertanyaan tertulis yang
alternatif jawabannyapun telah disiapkan.
b) Wawancara Semiterstruktur (Semistructure Interview)
Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept
interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingakan
dengan wawancara terstruktur (Sugiyono, 2016: 233). Tujuan dari
wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih
terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan
ide-idenya. Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan
secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan.
c) Wawancara tak berstruktur (unstructured interview)
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas di
mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah
tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya
(Sugiyono, 2016: 233). Pedoman wawancara yang digunakan hanya
berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Teknik penggumpulan data dalam penelitian ini adalah: wawancara
semiterstuktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk
menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang
31

diajak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya. Dalam melakukan


wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa
yang dikemukakan oleh informan.
Pihak-pihak yang diwawancari secara mendalam dalam penelitian
ini yaitu kepala sekolah atau wakil kepala sekolah, guru kelas, dan siswa-
siswi SDIT Ulul Albab 2 Purworejo.Wawancara dilaksanakan berulang
pada informan yang sama dengan tujuan untuk mendapakan informasi
yang lebih dalam.
2. Observasi
Nasution (Sugiyono, 2016: 226) menyatakan bahwa, observasi adalah
dasar semua ilmu pengetahuan. Untuk memperjelas pemahaman tentang
bermacam-macam observasi maka dapat dijelaskan yaitu:
a) Observasi partisipatif
Dalam observasi ini peneliti terlibat dalam kegiatan sehari-hari orang
yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.
Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang
dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan
observasi partisipan ini, maka data yang akan diperoleh akan lebih
lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap
perilaku yang nampak.
Dalam kegiatan observasi ini peneliti turun langsung ke lapangan dan
ikut membaur bersama dengan objek penelitian, hal ini dilakukan karena
peneliti ingin menghayati situasi dan kondisi yang sedang diteliti sehingga
peneliti memperoleh gambaran yang jelas mengenai permasalahan yang
sedang diteliti. Dengan ini peneliti dapat mengamati secara dekat
pelaksanaan budaya sekolah yang religius dalam rangka mengembangkan
karakter siswa di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo.
b) Observasi terus terang atau tersamar
Dalam hal ini, peneliti dalam melakukan pengumpulan data
menyatakan terus terang kepada sumber, bahwa ia sedang melakukan
penelitian. Jadi mereka yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir
32

tentang aktivitas peneliti. Tetapi dalam suatu saat peneliti juga tidak terus
terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau
suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan.
Kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka peneliti tidak
akan diiijinkan untuk melakukan observasi.
c) Observasi tak berstruktur
Observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak
berstruktur, karena fokus penelitian belum jelas. Observasi tidak
terstruktur adalah observasi yang tudak dipersiapkan secara sistematis
tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak
tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan
pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi
hanya berupa rambu-rambu pengamatan.
3. Dokumen
Dokumen tertulis atau arsip merupakan sumber yang sering dan memiliki
posisi penting dalam penelitian kualitatif. Dokumen bisa beragam bentuk,
dari yang tertulis sederhana sampai yang lengkap bahkan bisa berupa benda-
benda lainnya sebagai peninggalan masa lampau (Sugiyono, 2016:
240).Demikian pula halnya arsip yang pada umumnya berupa catatan-catatan
yang lebih formal dibandingkan dengan dokumen.
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa
berbentuk gambar, tulisan, atau karya-karya monumental sesorang. Studi
dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan
wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian dari observasi dan
wawancara akan lebih kredibel/dapat dipercaya kalau didukung oleh sejarah
pribadi kehidupan di msa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat,
dan autobiografi.
Dalam penelitian ini, dokumen visi-misi sekolah, daftar kegiatan
penanaman pendidikan karakter, dan laporan kegiatan yang berkaitan denga
pengembangan karakter, sedangkan arsip berupa daftar guru, jumlah peserta
didik, dan sarana fisik sekolah. Pencatatan dokumen dan arsip bertujuan
33

untuk melengkapi data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan dan
wawancara terhadap guru dan siswa.

E. Keabsahan Data
Keabsahan merupakan derajat ketetapan antara data yang terjadi pada
obyek penelitian dengan daya yang dilaporkan oleh peneliti. Dengan demikian
data yang valid adalah data ”yang tidak berbeda” antara yang dilaporkan oleh
peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian (Sugiyono,
2016: 268). Mengembangkan validasi data yang dikumpulkan di lapangan, maka
teknik validasi yang digunakan adalah triangulasi. Triangulasi dapat diartikan
sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai
waktu. Penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, triangulasi teknik dan
triangulasi waktu.Pada penelitian ini, uji Keabsahan data menggunakan triangulasi
sumber dan triangulasi teknik.
1. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah
diperoleh melalui beberapa sumber. Berkaitan dengan cara tersebut, maka
yang dijadikan sumber data dalam penelitian ini adalah kepala sekolah atau
wakil kepala sekolah, guru kelas dan siswa SDIT Ulul Albab 2 Purworejo
serta untuk menguji kemantapan dan kebenaran data dilakukan uji studi
dokumen melalui penerapan visi-misi sekolah, daftar kegiatan penanaman
pendidikan karakter, dan laporan kegiatan yang berkaitan dengan
pengembangan karakter.
2. Triangulasi teknik
Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada
sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Pada penelitian ini teknik
yang dapat digunakan untuk mengecek data dari satu informan adalah teknik
wawancara, observasi, dan dokumen.
34

F. Teknik Analisis Data


Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul. Sugiyono (2016:
244) mengemukakan, analisis data adalah proses penyusunan data secara runtut
berdasarkan hasil catatan lapangan, wawancara, dan dokumentasi, dengan cara
mengategorikan data, memaparkan ke dalam berbagai unit, melakukan sintesa,
membentuk pola, memprioritaskan pada hal yang akan dipelajari, dan membuat
kesimpulan yang dapat dipahami oleh diri sendiri dan orang lain. Teknik analisis
data yang digunakan yaitu flow atau mengalir. Peneliti mengambil teknik ini
karena pada penelitian ini hanya fokus pada masalah tunggal. Analisis data dalam
penelitian kualitatif dilakukan secara terus menerus hingga mendapatkan data
sampai tuntas. Teknik analisis ini dijelaskan pada gambar berikut:
Bagan 1. Teknik Analisa Data (Flow Model)

Sumber: miles and huberman (Sugiyono, 2013: 246)


Adapun langkah langkah model analisis flow yaitu:
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Mereduksi data berarti merangkum dengan memilih hal-hal yang
pokok guna memberikan mempermudah peneliti untuk pengumpulan data
selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan dan gambaran yang lebih jelas.
Menurut Lexy J Moleong (2012: 288) reduksi data dibagi menjadi 2 yaitu (1)
identifikasi satuan (unit). Pada mulanya diidentifikaikan adanya satuan yaitu
bagian terkecil yang ditemukan dalam data yang memiliki makna bila
35

dikaitkan dengan fokus dan masalah penelitian. (2) sesudah satuan diperoleh,
langkah berikutnya adalah membuat koding. Membuat koding berarti
memberikan kode pada setiap satuan, agar supaya tetap dapat ditelusuri data
satuanya, berasal dari sumber mana. Jadi dapat diartikan bahwa, reduksi data
merujuk pada kepada proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan,
pemisahan, dan pentransformasian data “mentah” yang terlihat dalam catatan
tertulis lapangan. Penelitian ini memilih dan menyeleksi data yang sesuai
dengan aspekaspek terkait implementasi pendidikan karakter melalui budaya
sekolah di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo.
2. Data Display (Penyajian Data)
Menurut Yusuf, (2014: 408) penyajian data adalah kumpulan
informasi yang telah tersusun yang membolehkan penarikan kesimpulan dan
pengambilan tindakan. Penyajian data ini digunakan sebagai bahan untuk
menafsirkan dan mengambil simpulan dalam penelitian kualitatif. Sajian data
harus mengacu pada rumusan masalah yang telah dirumuskan sebagai
pertanyaan peneitian, sehingga narasi yang tersaji merupakan deskripsi
mengenai kondisi yang rinci untuk menceritakan dan menjawab setiap
permasalahan yang ada. Dalam penyajian data penelitu akan menggunakan
teknik yang telah dijelaskan yaitu dala bentuk uraian singkat, bagan, hubungan
antar kategori, flowchart, dan sejenisnya.
3. Conclusion Drawing (Verification)
Tahap akhir dari analisis data yakni memverifikasi dan menyimpulkan
dari tahap reduksi dan penyajian data guna menjawab permasalahan yang ada.
Menurut Yusuf, (2014: 409) bahwa reduksi data, dispay data, penarikan
kesimpulan harus dimulai sejak awal. Ini berarti apabila proses sudah benar
dan data yang dianalisis telah memenuhi standar kelayakan dan konformitas,
maka kesimpulan awal yang diambil akan dapat dipercaya. Disamping itu
perlu diingat antara reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan
merupakan segitiga yang saling berhubungan. Dalam penarikan kesimpulan
didapatkan adanya pembiasaan-pembiasaan secara rutin dan konstan dalam
36

mengimplementasikan pendidikan karakter melalui budaya sekolah di SDIT


Ulul Albab 2 Purworejo.

G. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian adalah rangkaian kegiatan penelitian dari awal hingga
akhir. Berikut adalah penjelasan dari prosedur penelitian yang akan dilakukan.
1. Persiapan Penelitian
Pada tahap ini, peneliti melakukan studi pendahuluan berupa observasi
prapenelitian untuk mendapatkan gambaran tentang objek yang akan diteliti.
Setelah itu, peneliti mengajukan judul penelitian dan mulai menyusun
proposal penelitian sampai pada tahap persetujuan proposal.Bila proposal
sudah disetujui, peneliti mulai menyusun instrument penelitian dan
mempersiapkan diri untuk melaksanakan penelitian.
2. Pelaksanaan Penelitian
Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan data penelitian dari pelaksanaan
penelitian berupa implementasi pendidikan karakter melalui budaya sekolah di
SDIT Ulul Albab 2 Purworejo. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik
dan alat pengumpulan data yang telah disiapkan. Setelah data terkumpul,
peneliti memvalidasi dan menganalisis data hasil penelitian.
3. Penyusunan Laporan Penelitian
Tahap terakhir dalam penelitian ini yaitu penyusunan laporan penelitian.
Peneliti menyusun laporan penelitian sesuai dengan pedoman yang berlaku.
Laporan penelitian diajukan untuk mendapatkan korelasi maupun masukan.
Setelah laporan diajukan dan mendapatkan korelasi maupun masukan, peneliti
merevisi dan kemudian mengajukan ulang laporan tersebut sampai
memperoleh kesepakatan antara peneliti dengan pembimbing.
37

DAFTAR PUSTAKA

Asmani, Jamal Ma`mur. (2011). Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta:


Diva Press.

Aunillah, Nurla Isna. (2011). Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di


Sekolah. Yogyakarta: Laksana.

Choirul Fuad Yusuf. (2008). Budaya Sekolah dan Mutu Pendidikan. Jakarta. PT
Pena Citasatria.

Chony, Djunaidi & Fauzan Almanshur.2014. Metodologi Penelitian Kualitatif.


Jogjakarta: Ar Ruzz Media.

Creswell John.W. (2014). Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Daryanto. (2015). Pengelolaan Budaya dan Iklim Sekolah. Yogyakarta: Gava


Media.

Depdiknas. (2010). Panduan Pendidikan Karakter di SMP. Balitbang Depdiknas.


Jakarta.

Dharma Kesuma. (2012). Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di


Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hermawan. (2017). Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat


Pada Kegiatan Student Exchange SD Muhammadiyah Paesan Pekalongan.
Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim. 15(2).

Kemdikbud. Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat Kurikulum dan


Perbukuan. (2011). Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter.

Moerdiyanto. (2012). Fungsi Kultur Sekolah Menengah Atas Untuk


Mengembangkan Karakter Siswa Menjadi Generasi 2045. Artikel Konaspi
VII.

Mulyasa, E. (2014). Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

A Muri Yusuf. (2014). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif &


Penelitiang Gabungan. Jakarta: Prenadamedia Group.

Muryaningsih, Sri dan Mustadi, Ali. (2015). Pengembangan RPP Tematik-


Integratif Untuk Meningkatkan Karakter Kerja Keras Di Kelas 1 Sd N 2
Sokaraja Tengah. 3(2).
38

Nihayah, Durrotun. (2017). Implementasi Pendidikan Karakter di SDN Cerme


Kidul-Gresik. 5(3).

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional


Pendidikan.

Samani, Muchlas, Hariyanto. (2012). Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Srinatun. (2011). Upaya Meningkatkan Kinerja Guru Melalui Kultur Sekolah.


1(2).

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kulaitatif, dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2017). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.

Supardi. (2015). Penilaian Autentik. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Suyadi. (2013). Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT.


Remaja Rosdakarya.

Syafrudin, Nurdin, dan Basyirudin, Usman. (2014). Guru Profesional dan


Implementasi Kurikulum. Jakarta: Ciputat Press.

Uliana. (2013). Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kultur Sekolah Pada


Siswa Kelas XI di SMA Negeri 1 Gedangan Sidoarjo. 1 (1).

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem


Pendidikan Nasional. Jakarta: Eko Jaya.

Wiyani, Novan Ard. (2013). Membumikan Pendidikan Karakter di SD.


Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.