Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha

Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

IMPLEMENTASI PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES


UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS
V SEMESTER GENAP SD NO. 3 KALIUNTU

I Putu Anom Sunantha1, H. Syahruddin2, Made Sulastri3

1
Jurusan PGSD, 2Jurusan PGSD, 3Jurusan PGSD, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail:erry_matakeq@yahoo.com 1, pgsd_undiksha@yahoo.co.id2,
pgsd_undiksha@yahoo.co.id3

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V
semester II Sekolah Dasar no. 3 Kaliuntu tahun pelajaran 2013/2014 setelah
diterapkannya pendektan keterampilan proses. Penelitian ini adalah penelitian tindakan
kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus.Tiap siklus terdiri dari dua kali
pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V Sekolah Dasar no. 3 Kaliuntu
tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 21 orang yang terdiri dari 9 siswa laki-laki
dan 12 orang siswa perempuan. Metode Pengumpulan data dalam penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan metode tes. Data yang didapatkan dari metode tes
selanjutnya dianalisis dengan menggunakan rumus persentase tingkat ketuntasan
belajar, selanjutnya dikonversikan ke dalam tingkat hasil belajar IPA berdasarkan PAP
skala 5.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami
peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, hasil belajar siswa mencapai 58,1%
dengan kategori kurang dan pada siklus II hasil belajar siswa mencapai 79,5% dengan
kategori cukup, sehingga terjadi peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II.
Peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 21,4%. Oleh karena
itu, penerapan pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan hasil belajar IPA
siswa kelas V Sekolah Dasar no. 3 Kaliuntu tahun pelajaran 2013/2014.

Kata kunci: pendekatan keterampilan proses danhasil belajar IPA

Abstract
This study aimed to increase the outcome of studying IPA on the fifth grade students in
second semester of elementary school number 3 Kaliuntu in academic year 2013/2014
after skill approaching process was applied. The design of this study was classroom
action research which conducted in two cycles. Each cycles consisted of two
meeting.The subject of this study was 21 students of fifth grade students of elementary
school number 3 Kaliuntu in academic year 2013/2014 which consisted of 9 male
students and 12 female students. This study used test as a method to collect the data.
The data that was found through test was analyzed by using formula of percentage
passed level of the study, furthermore was converted into the outcome level of studying
IPA based on PAP Scale 5.The result of the study showed that the outcome level of
students’ learning was increased from the first cycle to the second cycle. In the first
cycle, the level of students’ learning achieved 58,1 % categorized as low and in the
second cycle the level of students’ learning attained 79,5 % categorized as sufficient.
So that there was raising level of students’ learning from the first cycle to the second
cycle. Hence, the application of skill approaching process can increase the outcome of
studying IPA of fifth grade students of elementary school number 3 kaliuntu in
academic year 2013/2014.

Keywords : Skill Approaching Process and Study Outcome


Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

PENDAHULUAN Keterampilan proses adalah


Seperti diketahui bersama, era keterampilan yang diperoleh dari latihan
globalisasi saat ini menyebabkan kemampuan-kemampuan mental, fisik dan
perkembangan IPTEK semakin sosial yang mendasar sebagai penggerak
pesat.Teknologi yang semakin canggih, kemampuan-kemampuan yang lebih
membuat informasi yang kita butuhkan tinggi. Kemampuan-kemampuan
pun dapat diperoleh dengan cepat.Untuk mendasar yang telah dikembangkan dan
dapat mengikuti arus globalisasi saat ini, telah terlatih lama-kelamaan akan menjadi
sumber daya manusia yang berkualitas suatu keterampilan, sedangkan
adalah menjadi kunci utamanya.Saat ini pendekatan keterampilan proses adalah
telah diluncurkan Kurikulum 2013 atau cara memandang anak didik sebagai
Pendidikan Berbasis Karakter adalah manusia seutuhnya. Cara memandang ini
kurikulum baru yang dicetuskan oleh dijabarkan dalam kegiatan belajar
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengajar memperhatikan pengembangan
RI untuk menggantikan Kurikulum Tingkat pengetahuan, sikap, nilai serta
Satuan Pendidikan.Kurikulum 2013 keterampilan.Ketiga unsur itu menyatu
merupakan sebuah kurikulum yang dalam satu individu dan terampil dalam
mengutamakan pemahaman skill, dan bentuk kreativitas.
pendidikan berkarakter, siswa dituntut Pengertian keterampilan proses
untuk paham atas materi, aktif dalam yaitu keterampilan proses pemerolehan
berdiskusi dan presentasi serta memiliki dalam pembelajaran, seperti berbagai
sopan santun disiplin yang tinggi.Guru keterampilan mendasar yang dipakai
merupakan faktor yang berpengaruh ilmuwan dalam menghasilkan penemuan.
sangat besar dalam proses belajar Pembelajaran yang merupakan
mengajar, bahkan sangat menentukan pembelajaran keterampilan proses
keberhasilan siswa dalam belajar. memberi peluang melatih ke dalam
Seorang guru Sekolah Dasar sudah keterampilan proses sedini mungkin
sewajarnya memahami bahwa komponen secara bertahap tetap berlanjut, pada
anak merupakan komponen terpenting kelas awal terutama untuk keterampilan-
dalam proses pengajaran. Karenanya keterampilan observasi perhitungan,
proses pengajaran itu harus diciptakan pengukuran, klasifikasi dan komunikasi
atas dasar pemahaman siapa dan sedangkan dikelas lanjut disamping
bagaimana anak tumbuh dan melanjutkan latihan yang sudah dimulai di
berkembang. Agar tujuan tersebut dapat kelas awal dilatih pula dalam keterampilan
tercapai seseorang guru harus orangnya (Abimanyu, dkk., 2008:16).
menggunakan pendekatan pembelajaran Pengembangan konsep tidak
yang menekankan kedua dimensi dalam boleh lepas dari pengambangan sikap dan
proses pembelajaran IPA. Dari beberapa nilai-nilai pada diri anak didik. Yang kita
pendekatan yang sudah menekankan tuju adalah menghasilkan insan yang
kedua dimensi tersebut, salah satunya berkepribadian selaras, serasi dan
adalah “pendekatan ketrampilan proses”. seimbang. Pendekatan Keterampilan
Keterampilan adalah kemampuan, Proses mampu mengembangkan sikap
kecakapan seseorang dalam mengerjakan dan nilai-nilai tersebut.
atau melakukan sesuatu. Proses adalah Pendekatan keterampilan proses
urutan pelaksanaan atau kejadian yang dapat diartikan sebagai wawasan atau
terjadi secara alami atau didesain, anutan pengembangan keterampilan-
mungkin menggunakan waktu, ruang, keterampilan intelektual, sosial dan fisik
keahlian atau sumber daya lainnya, yang yang bersumber dari kemampuan-
menghasilkan suatu hasil. Suatu proses kemampuan mendasar yang prinsipnya
mungkin dikenali oleh perubahan yang telah ada dalam diri siswa (DEPDIKBUD
diciptakan terhadap sifat-sifat dari satu dalam Moedjiono, 1992/1993:14)
atau lebih objek di bawah pengaruhnya Menurut Semiawan, dkk (Nasution,
(Wiki, 2009). 2007 : 1.9-1.10) menyatakan bahwa
keterampilan proses adalah keterampilan
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

fisik dan mental terkait dengan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,


kemampuan- kemampuan yang mendasar konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja
yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan tetapi juga merupakan suatu proses
dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga penemuan. Pendidikan IPA diharapkan
para ilmuan berhasil menemukan sesuatu dapat menjadi wahana bagi peserta didik
yang baru. untuk mempelajari diri sendiri dan alam
Dimyati dan Mudjiono (Sumantri, sekitar, serta prospek pengembangan
1998/1999:113) mengungkapkan bahwa lebih lanjut dalam menerapkannya di
pendekatan keterampilan proses bukanlah dalam kehidupan sehari-hari. Proses
tindakan instruksional yang berada diluar pembelajarannya menekankan pada
jangkauan kemampuan peserta didik. pemberian pengalaman langsung untuk
Pendekatan ini justru bermaksud mengembangkan kompetensi agar
mengembangkan kemampuan- menjelajahi dan memahami alam sekitar
kemampuan yang dimiliki peserta didik. secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan
Oleh karena adanya perbedaan- untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat
perbedaan perkembangan kognitif pada membantu peserta didik untuk
anak-anak usia SD maka pembelajaran memperoleh pemahaman yang lebih
keterampilan proses IPA di Sekolah Dasar mendalam tentang alam sekitar. IPA
ini akan terbagi menjadi dua bagian. diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
Bagian pertama adalah pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan manusia
keterampilan proses dasar yaitu melalui pemecahan masalah-masalah
mengamati, menginterferensi, mengukur, yang dapat diidentifikasikan.
mengkomunikasi, mengklasifikasi dan Penerapan IPA perlu dilakukan
memprediksi. Bagian ini disusun terutama secara bijaksana agar tidak berdampak
bagi kelas-kelas awal atau kelas TK buruk terhadap lingkungan. Di tingkat
sampai dengan kelas 3. Sedangkan SD/MI diharapkan ada penekanan
bagian yang kedua meliputi keterampilan pembelajaran Salingtemas (Sains,
proses IPA terpadu yaitu kelas 4 sampai lingkungan, teknologi, dan masyarakat)
kelas 6. Keterampilan tersebut adalah yang diarahkan pada pengalaman belajar
mengidentifikasi variabel-variabel, untuk merancang dan membuat suatu
membuat tabel dari data, membuat grafik, karya melalui penerapan konsep IPA dan
menjelaskan hubungan antara kompetensi bekerja ilmiah secara
penyelidikan, merumuskan hipotesis, bijaksana. Pembelajaran IPA sebaiknya
memanipulasi variabel-variabel, dilaksanakan secara inkuiri ilmiah
merancang suatu eksperimen serta (scientificinquiry) untuk menumbuhkan
melaksanakan eksperimen. kemampuan berpikir, bekerja dan
IPA sebagai suatu mata pelajaran di bersikap ilmiah serta
sekolah dasar yang merupakan suatu mengkomunikasikannya sebagai aspek
pelajaran yang mendominasi kegiatan penting kecakapan hidup. Oleh karena itu
pembelajarannya berupa kegiatan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
interaksi inderawi antara siswa dengan menekankan pada pemberian
benda-benda dan fenomena konkrit yang pengalaman belajar secara langsung
ada di lingkungan serta dimaksudkan melalui penggunaan dan pengembangan
untuk menumbuh-kembangkan keterampilan proses dan sikap ilmiah
kemampuan berpikir. Anak usia Sekolah (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,
Dasar yang sedang mengalami 2006 : 1).
pertumbuhan baik pertumbuhan Tujuan diberikannya mata
intelektual, emosional maupun pelajaran IPA di SD bagi siswa antara
pertumbuhan fisik atau badaniah adalah lain: (1) Mengembangkan pengetahuan
suatu kenyataan. dan pemahaman konsep-konsep IPA
IPA(Ilmu Pengetahuan Alam) yang bermanfaat dan dapat diterapkan
berhubungan dengan cara mencari tahu dalam kehidupan sehari-hari. (2)
tentang alam secara sistematis, sehingga Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap
IPA bukan hanya penguasaan kumpulan positif, dan kesadaran tentang adanya
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

hubungan yang saling mempengaruhi melalui cara-cara sistematis (Depdiknas)


antara IPA, lingkungan, teknologidan (2002:1). Dalam pendidikan IPA,
masyarakat.(3)Mengembangkan menekankan pada pemberian
keterampilan proses untuk menyelidiki pengalaman langsung dan kegiatan
alam sekitar, memecahkan masalah dan praktis untuk mengembangkan
membuat keputusan.(4) Meningkatkan kompetensi agar siswa memahami alam
kesadaran untuk berperan sertadalam sekitar secara ilmiah. Idealnya,
memelihara, menjaga dan melestarikan pembelajaran IPA digunakan sebagai
lingkungan sekitar.(5) Meningkatkan wahana bagi siswa untuk menjadi
kesadaran untuk menghargai alam dan ilmuwan, terutama siswa SD.
segala keteraturannya sebagai salah satu Keberhasilan dalam kegiatan
ciptaan tuhan.(6)Memperoleh pembelajaran IPA dipengaruhi oleh
pengetahuan, konsep, dan keterampilan banyak faktor. Salah satu dari faktor
IPA sebagai dasar untuk melanjutkan tersebut adalah menentukan atau memilih
pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. pendekatan pembelajaran. Dan untuk
Berdasarkan tinjauan psikologis memilih pendekatan pembelajaran IPA
di atas maka berdasarkan pembelajaran harus disesuaikan dengan dimensi-
IPA di SD diutamakan cara pembangunan dimensi yang ada. Dimensi yang
pengetahuan siswa atau konstruktivisme dimaksudkan adalah dimensi produk dan
berdasarkan pengamatan, pengalaman, dimensi proses. Kedua dimensi itu tidak
penyusunan gagasan, pengujian melalui dapat dipisahkan dalam pembelajaran
suatu percobaan, atau penyelidikan dan IPA, namun sering terjadi kekeliruan yang
pencarian informasi. Pengajaran IPA dilakukan oleh seorang guru, yaitu
menuntut adanya variasi dalam mengajar mengajarkan IPA dengan cara
agar siswa memahami dan menerima mentransfer begitu saja apa yang
pelajaran yang disampaikan, namun diuraikan dalam buku teks pada anak
kenyataannya guru masih menggunakan didiknya. Hal ini disebabkan apa yang
metode dan strategi mengajar yang tersurat dalam buku teks itu baru
monotun sehingga hasil belajar siswa merupakan satu dimensi saja dari IPA
menjadi di bawah standar ketuntasan yaitu dimensi produk. Buku teks
minimal yaitu rata-rata 50, sedangkan nilai merupakan body of knowledge dari IPA,
kriteria ketuntasan minimal (KKM) nya merupakan akumulasi hasil upaya para
adalah 65. perintis IPA terdahulu dan pada umumnya
Seperti kita ketahui, berdasarkan telah tersusun secara lengkap dan
Kurikulum IPA SD, IPA merupakan cara sistematis. Meskipun buku teks penting
mencari tahu tentang alam sekitar secara tetapi ada sisi lain dari IPA yang tak kalah
sistematis untuk menguasai pengetahuan, pentingnya yaitu dimensi proses,
fakta-fakta, prinsip-prinsip, proses maksudnya proses mendapatkan IPA itu
penemuan, dan memiliki sikap ilmiah. sendiri. IPA diperoleh melalui penelitian
Pendidikan IPA bermanfaat bagi siswa dengan menggunakan langkah-langkah
untuk mempelajari diri sendiri dan alam tertentu yang disebut metode ilmiah.
sekitar. Carin (1993:3) mendefinisikan Dalam pendekatan proses, siswa
science sebagai The activity of dipandang baik sebagai subjek didik
questioningand exploring the universe and maupun objek didik. Tekanannya pada
finding and expressing it’s hidden order, pengembangan intelektual dan emosional
yaitu “suatu kegiatan berupa pertanyaan anak didik, sehingga menjadi manusia
dan penyelidikan alam semesta dan yang utuh. Pendekatan proses
penemuan dan pengungkapan mendambakan aktivitas siswa untuk
serangkaian rahasia alam”. Sedangkan memperoleh informasi dari berbagai
menurut Depdiknas IPA mengandung sumber (misalnya dari observasi,
makna pengajuan pertanyaan, pencarian eksperimen, dan sebagainya) sedangkan
jawaban, pemahaman jawaban, guru bertindak sebagai organisator dan
penyempurnaan jawaban, baik tentang fasilitator.
gejala maupun karakteristik alam sekitar
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

Sesuai dengan rumusan 2) pelaksanaan tindakan. Pelaksanaan


masalah, maka tujuan yang ingin dicapai tindakan disusun sesuai dengan tahap-
adalah untuk mengetahui peningkatan tahap pelaksanaan penggunaan
hasil belajar IPA setelah diterapkan pendekatan keterampilan proses dalam
pendekatan keterampilan proses siswa pembelajaran IPA untuk meningkatkan
kelas V semester ganjil SD No. 3 Kaliuntu hasil belajar siswa dengan langkah-
Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng langkah sebagai berikut :a) Memberikan
tahun pelajaran 2013/2014. apersepsi, b) Menjelaskan tujuan
pembelajaran, c) Mengelompokkan siswa
METODE menjadi beberapa kelompok, d) Mengajak
”Rancangan penelitian adalah siswa untuk mengamati media gambar, e)
rencana tentang bagaimana cara Mengkomunikasikan hasil diskusi
mengumpulkan, menyajikan, dan kelompok, f) Menyimpulkan Dan
menganalisa data untuk memberi arti merangkum hasil pembelajaran
terhadap data tersebut secara efektif dan 3) observasi/evaluasi. Selama proses
efisien” (Kanca, 2006:42). Dalam pembelajaran berlangsung dilakukan
penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pengamatan terhadap siswa dengan
sebanyak beberapa siklus. Penelitian ini menggunakan lembar observasi untuk
dirancang dalam dua siklus dengan mengetahui respond an kreativitas belajar
masing-masing siklus terdiri dari empat siswa dan memberikan tes akhir pada
tahapan. Penelitian ini menggunakan akhir pelajaran untuk mengetahui hasil
strategi Kemmis dan Mc Taggart (dalam belajar siswa dengan memberikan tes
Agung, 2005:91) yang terdiri dari empat isian. Metode tes digunakan untuk
komponen yaitu : (1) Perencanaan, (2) mengukur hasil belajar siswa,
Tindakan, (3) Observasi/ Evaluasi, (4) 4) refleksi. Refleksi dilakukan untuk
Refleksi.Adapun rancangan dari penelitian melihat, mengkaji dan mempertimbangkan
tindakan kelas (PTK) ini dapat dampak tindakan yang telah diberikan.
digambarkan sebagai berikut: Berdasarkan hasil refleksi ini, dapat
dilakukan perbaikan mengenai
kekurangan-kekurangan dalam proses
pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan
pada rancangan refleksi ii adalah
mengkaji dan merenungkan hasil
penelitian terhadap pelaksanaan tindakan
tersebut dengan maksud jika terjadi
hambatan, akan dicari pemecahan
masalahnya untuk direncanakan pada
Gambar Model PTK Dua Siklus siklus II.
Untuk mengumpulkan data
Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu tentang hasil belajar dalam penelitian ini
1)perencanaan. Dalam perencanaan ini menggunakan metode tes. Metode tes
disusun rencana yang akan dilakukan adalah cara memperoleh data yang
yang berhubungan dan disesuaikan berbentuk suatu tugas yang harus
dengan penggunaan pendekatan dikerjakan oleh seseorang atau kelompok
keterampilan proses dalam mata orang yang dites. Dari tes dapat
pelajaran IPA. Langkah-langkah penelitian menghasilkan skor yang selanjutnya
sebagai berikut : a) Membuat persiapan dibandingkan dengan kriteria tertentu”
mengajar (RPP), b) Menyiapkan media (Agung, 1997:75). Sedangkan Saifuddin
pembelajaran, c) Menentukan metode Azwar (1987:2) menyatakan bahwa:Dilihat
yang akan digunakan dalam proses dari wujud fisiknya, suatu tes tidak lain
pembelajaran, d) Menyiapkan instrumen dari sekumpulan pertanyaan yang harus
pengumpulan data berupa lembar dijawab dan atau yang harus dikerjakan
observasi untuk mengobservasi proses yang akan memberikan informasi
pembelajaran siswa dan lembar tes. mengenai aspek psikologis tertentu
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

berdasarkan jawaban terhadap lain atau dengan nilai standar yang


pertanyaan-pertanyaan atau cara dan ditetapkan (Nurkancana dan Sunartana,
hasil subjek dalam melakukan tugas-tugas 1992:34).
tersebut. Pendapat di atas, masih agak
Dari dua pendapat di atas, dapat mengkaburkan istilah skor dan nilai.
dinyatakan bahwa metode tes pada Sebenarnya skor itu bersifat kontinum
hakikatnya merupakan cara pengumpulan atau bersambung, sedangkan nilai itu
data dengan memberikan beberapa lebih bersifat diskrit atau pilah. Mengetes
pertanyaan atau tugas yang semuanya pada intinya sama dengan mengukur dan
harus dikerjakan atau dijawab oleh setiap kegiatan mengukur pada umumnya
peserta tes (testee), dan hasil dari tes akan menghasilkan data yang bersifat
berupa skor atau bersifat interval. Pada skor (interval). Tes dalam penelitian ini
bagian lain ada pendapat yang hampir digunakan untuk mengukur hasil belajar
senada mengemukakan tentang IPA siswa kelas V adalah butir-butir tes
pengertian tes, dinyatakan bahwa:Tes sesuai dengan pokok bahasan yang telah
adalah suatu cara mengadakan penilaian diberikan. Agar butir-butir tes dapat
yang berbentuk suatu tugas atau mengukur tujuan pembelajaran yang
serangkaian tugas yang harus dikerjakan diharapkan maka perlu dibuatkan kisi-kisi
oleh anak atau sekelompok anak tes. Untuk memperjelas uraian tentang
sehingga menghasilkan suatu nilai variabel, metode dan alat pengumpulan
tentang tingkah laku atau prestasi anak data serta sumber dan sifat data, dapat
tersebut, yang dapat dibandingkan disajikan seperti matrik sebagai berikut :
dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak

Tabel 1. Variabel, Metode, Alat, Sumber dan Sifat Data


Variabel Metode Alat/Instrumen Sumber Sifat Data
Hasil belajar Tes Perangkat tes Siswa Interval (skor)
M
Analisis data dalam penelitian ini adalah M% 100% (Agung, 2005)
SMi
dengan menggunakan rumus statistik
deskriptif. Statistik deskriptif adalah bagian
Keterangan:
dari statistik yang mempelajari cara
M % = Rata-rata persentase skor hasil
pengumpulan dan penyajian data belajar siswa
sehingga mudah dipahami. Adapun M = Rata-rata skor hasil belajar siswa
rumus-rumus analisis deskriptif kuantitatif SMi = Skor Maksimal ideal
yang digunakan sebagai berikut.
1) Menghitung rata-rata hasil belajar siswa Selanjutnya, tingkat keberhasilan
secara klasikal dapat menggunakan tentang hasil belajar siswa pada pelajaran
rumus sebagai berikut.
IPA, dianalisis dengan membandingkan
x (M%) atau persentase rata-rata hasil
M (Agung, 2005:95)
N belajar siswa ke dalam PAP skala 5
dengan kriteria yang dapat disajikan pada
Keterangan: tabel sebagai berikut.
M = Rata-rata skor hasil belajar siswa
x = Jumlah skor hasil belajar seluruh
siswa
N = Jumlah seluruh siswa

2) Menghitung persentase rata-rata hasil


belajar secara klasikal dapat
menggunakan rumus sebagai berikut.
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

Tabel 2.Pedoman Konversi PAP Skala 5 Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA SD No. 1
Jinengdalem
Rentangan skor (%) Kategori Keterangan
90-100 Sangat Tinggi Tuntas
80-89 Tinggi Tuntas
60-79 Sedang Tuntas
40-59 Rendah Tidak tuntas
0-39 Sangat Rendah Tidak tuntas

Untuk menghitung tingkat Setelah rata-rata (M) skor hasil belajar


ketuntasan belajar secara klasikal dapat siswa pada siklus diketahui, selanjutnya
menggunakan rumus sebagai berikut. analisis data yang dilakukan adalah
n KKM menentukan tingkat persentase hasil
KB 100% (Agung, 2005) belajar siswa dengan cara
N membandingkan persentase rata-rata
(M%) dengan kriteria PAP skala 5,
Keterangan: selanjutnya analisis data yang dilakukan
KB = Ketuntasan Belajar adalah menentukan ketutasan belajar (KB)
n KKM = Jumlah siswa yang secara klasikal dengan cara menentukan
keberhasilan siswa dengan melakukan
nilainya lebih besar sama penskoran dan penentuan standar
dengan dari KKM keberhasilan belajar.
N = Jumlah siswa Melalui penelitian dengan
menerapkan Pendekatan Keterampilan
Untuk menentukan keberhasilan Prosessiswa dari siklus I ke siklus II dapat
siswa, maka dilakukan penskoran dan ditingkatkan.Peningkatan hasil belajar
penentuan standar keberhasilan belajar. yang diperoleh siswa disebabkan oleh
Sistem penilaian dalam penelitian ini penggunaan pendekatan keterampilan
berpedoman pada Kreteria Ketuntasan proses sesuai dengan prosedur. Pada
Minimal (KKM) kelas V di SD No. 3 intinya, pendekatan keterampilan proses
Kaliuntu yaitu dengan KKM minimal 65 melibatkan siswa secara maksimal dalam
dan kreteria ketuntasan secara klasikal belajar, siswa agar saling bekerja sama
minimal 85%. Indikator keberhasilan, dan saling ketergantungan guna mencapai
apabila sudah mencapai ketuntasan tujuan pembelajaran.
minimal yaitu 85% maka penelitian Dari hasil penelitian yang diperoleh,
dihentikan. terjadi peningkatan terhadap hasil belajar
IPA siswa kelas V Sekolah Dasar No. 3
HASIL DAN PEMBAHASAN Kaliuntu tahun pelajaran 2013/2014. Jadi
Berdasarkan penelitian yang telah pendekatan keterampilan prosesjika
dilakukan, terdapat dua tahapan penelitian diterapkan secara sistematis dengan
yang dilaksanan yang meliputi tahapan langkah-langkah dan prosedur yang benar
penelitian siklus I dan tahapan penelitian dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
siklus II. Hasil Penelitian ini berupa data
hasil belajar siswa kelas V Sekolah Dasar
No. 3 Kaliuntu tahun pelajaran 2013/2014
Data hasil belajar siklus yang
terkumpul, selanjutnya dianalisis dengan
menggunakan analisis data deskriptif
kuantitatif. Data yang terlebih dahulu
dianalisis adalah menentukan rata-rata
(M) skor hasil belajar siswa pada siklus
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

Tabel 3.Ringkasan hasil penelitian pada siklus I dan siklus II


Siklus Rata-rata Ketuntasan Belajar (KB) Kategori Keterangan
I 58,1% 47,6% Kurang Tidak Tuntas
II 79,5% 90,5% Cukup Tuntas

Perbandingan peningkatan kemampuaan pada siklus II yaitu membatasi waktu


pemecahan masalah di atas, disajikan ke dalam mengerjakan tugas sesuai dengan
dalam grafik seperti pada gambar 1 alokasi waktu yang ada pada
berikut. RPP.Pembelajaran pada siklus I juga
masih kurang kondusif, pada saat siswa
bekerja dalam kelompok, siswa masih
Grafik Hasil Belajar sering bermain-main dan membicarakan
masalah di luar materi.Untuk mengatasi
Siswa IPA permaslahan tersebut pada siklus II, perlu
menggunakan media guna menarik
90
perhatian siswa. Setelah pelaksanaan
80
tindakan pada siklus II, siswa dapat
70
menjelaskan struktur bumi dan mengalami
60
peningkatan. Ini terlihat dari peningkatan
50 Grafik
KB dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I
40 Hasil
hasil belajar siswa sebesar 47,6%
30 Belajar
kemudian meningkat pada siklus II
20 Siswa IPA
menjadi 90,5%.
10 Melihat hasil siklus II, penelitian ini
0 sudah mampu mencapai target yang telah
Siklus I Siklus II ditentukan yaitu rata-rata kelas 60,00 dan
ketuntasan belajar (KB) 85%.
Berpedoman pada kriteria keberhasilan,
Gambar 1. Perbandingan rata-rata hasil kegiatan penelitian ini sudah berhasil
belajar IPA meningkatkan hasil belajar IPA siswa
pada pembelajaran alat pernapasan pada
Dari hasil tes akhir pada siklus I manusia dan alat pernapasan pada hewan
masih ditemukan beberapa kendala dan mencapai ketuntasan belajar yang
seperti siswa masih sulit telah ditentukan. Berdasarkan hasil
menjelaskanbagian-bagian dari struktur perbandingan antara hasil yang dicapai
bumi. Kebanyakan siswa masih dengan kriteria keberhasilan yang sudah
memerlukan waktu yang lama dalam ditetapkan dan dijadikan pedoman dalam
menjelaskan bagian-bagian dari struktur pengambilan keputusan bahwa penelitian
bumi.Hal ini disebabkan oleh kurangnya tindakan kelas ini dihentikan sampai siklus
pengetahuan siswa tentang bagaimana II.
menyebutkan bagian-bagian dari struktur Implementasi Pendekatan
bumi.Beranjak dari permasalahan Keterampilan Proses pada mata pelajaran
tersebut, dengan memberikan bimbingan IPA sudah terbukti keberhasilannya.
dan memandu siswa tentang bagaimana Keberhasilan tersebut tentunya tidak
menjelaskan bagian-bagian dari struktur terlepas dari bantuan guru dalam
bumi. Tindakan tersebut akan membantu menerapkan Implementasi Pendekatan
siswa untuk lebih memahamibagian- Keterampilan Prosespada proses
bagian dari struktur bumi. Selain dari pembelajaran.
permasalahan tersebut, ditemukan juga Dari uraian tersebut, secara umum
permasalahan seperti masih kurangnya telah menjawab rumusan masalah.
alokasi waktu yang direncanakan dengan Penelitian ini dikatakan telah berhasil
waktu yang diperlukan oleh siswa pada karena kriteria yang ditetapkan
siklus I.Guna mengatasi permasalahan sebelumnya telah terpenuhi. Jadi, dapat
tersebut dengan merancang tindakan disimpulkan bahwa implementasi
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

pendekatan keterampilan proses dapat DAFTAR PUSTAKA


meningkaatkan hasil belajar IPA pada Agung, A. A. G. 1997. Metodologi
siswa kelas V Sekolah Dasar No.3 Penelitian Pendidikan. Singaraja:
kaliuntu tahun pelajaran 2013/2014. STKIP Singaraja.

SIMPULAN DAN SARAN Arikunto, Suharsimi dkk. 2008. Pendidikanhasil penelitian


Berdasarkan
Berdasarkan hasil analisis sebelum Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi
tindakan dan setelah diadakan tindakan, Aksara.
maka dapat disimpulkan Implementasi
Pendekatan Keterampilan Proses dapat Carin, A.A.1993. Teaching Modern
meningkatkan hasil belajar IPA pada Science,Sixh Edition. New York:
siswa kelas V semester II SD Negeri 3 Maxwell Macmilan International.
Kaliuntu tahun pelajaran 2013/2014. Hal
ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil Conny, S. 2002.Belajar dan Pembelajaran
belajar IPA yaitu 58,1% pada siklus I pada Dalam Taraf Usia Dini. Jakarta:
kategori kurang, meningkat menjadi 79,5% Prehallindo.
pada kategori cukup dan nilai Ketuntasan
Belajar (KB) dari 47,6% pada siklus I Conny, S. 1985.Pendekatan Keterampilan
meningkat menjadi 90,5%. Proses Bagaimana Mengaktifkan
Berdasarkan hasil penelitian ini Siswa dalam Belajar. Jakarta:PT
dapat diajukan saran-saran sebagai Gramedia.
berikut.
1) Bagi siswa harus lebih giat dan Darmodjo, Hendro dan Jenny R.E. Kaligis.
rajin belajar agar hasil belajar IPA 1991. Pendidikan IPA II. Jakarta:
terutama pada aspek keterampilan Departemen Pendidikan dan
menulis dapat meningkat dengan Kebudayaan Direktorat Jenderal
menggunakan tahapan-tahapan menulis. Pendidikan Tinggi Proyek
2) Bagi guru dalam merancang, Pembinaan Tenaga Kependidikan.
mengembangkan, melaksanakan dan
mengevaluasi pembelajaran Depdiknas. 1994. Belajar dan
memperhatikan latar belakang Pembelajaran . Jakarta: Depdiknas
pengalaman siswa agar bahan
pembelajaran menjadi lebih bermakna dan Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan
dapat mengembangkan kemampuan Dasar. Jakarta: Depdikbud.
berpikir dan berimajinasi siswa serta
menyajikan catatan perkembangan Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan
perserta didik dari waktu ke waktu Pembelajaran. cetakan 3. Jakarta:
sehingga dapat meningkatkan hasil belajar Rineka Cipta.
siswa.
3) Bagi kepala sekolah penelitian ini Hamalik, Oemar. 2001. Perencanaan
dapat digunakan sebagai bahan Pengajaran Berdasarkan
pertimbangan dalam menentukan Pendekatan Sistem. Bandung:
kebijakan-kebijakan bagi sekolah untuk Bumi Aksara.
meningkatkan mutu pendidikan.
4) Bagi peneliti lain yang berminat Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar
mengadakan penelitian lebih lanjut Mengajar. Jakarta: PT Bumi
mengenaiImplementasi Keterampilan Aksara.
Prosesagar dapat memberikan gambaran
yang lebih jelas mengenai pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
penelitian dengan menggunakan (KTSP) Sekolah Dasar dan
Implementasi Pendekatan Keterampilan Madrasah Ibtidaiyah. 2006.
Proses penelitian ini dapat di jadikan Jakarta: Departemen
pedoman dalam melaksanakan penelitian. Pendidikan Nasional.
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

Munawar, Indra. 2009. Hasil belajar


(Pengertian dan definisi) (online)

Nurkencana, Wayan & Sunartana.1990.


Evaluasi hasil belajar.Surabaya :
Usaha Nasional

Rusyan, Tabrani. 1989. Pendidikan Dalam


Proses Belajar Mengajar. Bandung
: Bina Budaya.

Sudjana, Nana. 1989. Media Mengajar.


Bandung : Sinar Baru.

Suryabrata, Soemadi. 1989. Psikologi


Pendidikan. Bandung: Angkasa.

Team Penyusun Kamus. 1995. Kamus


Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:
Sinar Harapan.

Tjandra, Made. 2009. Kontribusi


Minat,Motivasi Berprestasi dan
Gaya Belajar terhadap Hasil
Belajar (Tesis). Singaraja : Tidak
Diterbitkan

Trianto. 2007. Model Pembelajaran


Terpadu dalam Teori dan Praktek.
Jakarta: Prestasi Pustaka.

www.indramunawar.blogspot.com
Diakses tanggal 20 Mei 2012
2009 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Belajar (online)
www.warnadunia.com Diakses tanggal 20
Mei 2012
id.wikipedia.org/wiki/ Diakses tanggal 20
Mei 2012