Anda di halaman 1dari 8

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

CLOSED SUCTION

Dosen Pembimbing :
Hepta Nur Anugrahini, S.Kep.Ns.,M.Kep

Disusun oleh :
Kelompok 4
1. Agung Setiyawan (P27820117032)
2. Nailil Izza (P27820117033)
3. Meilda Ika Sari (P27820117034)
4. Dewi Novita Sari (P27820117036)
5. Amar’atus Laura (P27820117037)
6. Savira Fiawwalin Nuha (P27820117038)
7. Nisaaul Mufidah (P27820117039)
8. Anisah Febra A (P27820117040)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATANSURABAYA
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN SOETOMO
SURABAYA
2018
A. Pengertian

Suction adalah suatu tindakan untuk membersihkan jalan nafas dengan


memakai kateter penghisap melalui nasotrakeal tube (NTT), orotracheal tube
(OTT), traceostomy tube (TT) pada saluran pernafasan bagian atas. Bertujuan
untuk membebaskan jalan nafas, mengurangi retensi sputum, merangsang batuk,
mencegah terjadinya infeksi paru. Prosedur ini di kontraindikasikan pada klien
yang mengalami kelainan yang dapat menimbulkan spasme laring terutama
sebagai akibat penghisapan melalui trakea gangguan perdarahan, edema laring,
varises esophagus, perdarahan gaster, infark miokard (Elly, 2000).

Closed suction adalah kanul dengan sistem tertutup yang selalu terhubung
dengan sirkuit ventilator dan penggunaannya tidak perlu membuka konektor
sehingga aliran udara yang masuk tidak terinterupsi.

Suction endotrakeal merupakan komponen dari terapi kebersihan bronkial


dan ventilasi mekanis dan melibatkan aspirasi mekanis sekresi paru dari pasien
dengan saluran udara buatan ditempat. Sebagai pasien mempunyai permasalahan
di pernafasan yang memerlukan bantuan ventilator mekanik dan pemasangan
ETT (Endo Trakeal Tube) masuk sampai percabangan bronkus pada saluran
nafas. Pasien yang terpasang ETT (Endo Trakeal Tube) dan ventilator maka
respon tubuh pasien untuk mengeluarkan benda asing adalah mengeluarkan
secret dimana perlu ada tindakan suction.

B. Indikasi
1. Menjaga jalan napas tetap bersih (airway maintenance)
a. Pasien tidak mampu batuk efektif
b. Di duga terjadi aspirasi
2. Membersihkan jalan napas (bronchial toilet) bila ditemukan :
a. Pada asukultasi terdapat suara napas yang kasar, atau terdapat suara napas
tambahan.
b. Di duga terdapat sekresi mucus di dalam sel napas.
c. Klinis menunjukkan adanya peningkatan beban kerja sistem pernapasan.
3. Pengambilan specimen untuk pemeriksaan laboratorium.
4. Sebelum dilakukan tindakan radiologis ulang untuk evaluasi.
5. Mengetahui kepatenan dari pipa indotrakeal.

D. Kontraindikasi

1. Hipoksia
2. Trauma jaringan
3. Meningkatkan risiko infeksi
4. Stimuli vagal (menurunkan heart rate) dan bronkospasme

E. Standar Alat

1. Set penghisap sekresi atau suction portable lengkap dan siap pakai.
2. Kateter penghisap steril dengan ukuran 20 untuk dewasa.
3. Pinset steril atau sarung tangan steril.
4. Cuff inflator atau spuit 10 cc.
5. Jelly pelumas.
6. Pengalas atau handuk.
7. Kom berisi cairan untuk membilas kateter.
8. Ambubag atau air viva dan selang oksigen.
9. Aquadest.
10. Spuit 5 cc.

F. Standar Pasien

1. Pasien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan.


2. Posisi pasien diatur sesuai dengan kebutuhan.

G. Prosedur

1. Cuci tangan sebelum tindakan.


2. Pilih tipe tekanan penghisap yang tepat untuk pasien. Misalnya tekanan 110-
150 mmHg untuk dewasa, 95-110 mmHg untuk anak-anak, dan 50-95 untuk
bayi.
3. Sebelum dilakukan tindakan suction :
a. Memutar tombol oksigen menjadi 100%.
b. Menggunakan air viva dengan memompa 4-5 kali dengan konsentrasi
oksigen 15 liter.
c. Melepaskan hubungan ventilator dengan EET.
4. Menghidupkan mesin penghisap.
5. Menyambung selang suction dengan kateter steril kemudian perlahan-lahan
dimasukkan ke dalam selang pernafasan melalui ETT.
6. Membuka lubang pada pangkal kateter penghisap pada saat kateter
dimasukkan ke ETT.
7. Menarik kateter penghisap kira-kira 2 cm pada saat ada rangsangan batuk
untuk mencegah trauma pada carina.
8. Menutup lubang melipat pangkal, kateter penghisap, kemudian suction
kateter ditarik dengan gerakan memutar.
9. Mengobservasi hemodinamik pasien.
10. Memberikan oksigen setelah satu kali penghisapan dengn cara baging.
11. Bila melakukan suction lagi, beri kesempatan pasien bernafas 3-7 kali.
12. Masukkan aquades sebanyak 3-5 cc untuk mengencerkan sekret.
13. Melakukan baging.
14. Mengempiskan cuff pada penghisapan sekresi terkahir saat kateter berada
dalam ETT, sehingga sekret yang lengket disekitar cuff dapat terhisap.
15. Mengisi kembali cuff dengan udara menggunkan cuff inflator setelah
ventilator dipasang kembali.
16. Membilas kateter penghisap sampai bersih.
17. Mengobservasi dan mencatat.
a. Tensi, nadi dan pernapasan
b. Hipoksia
c. Tanda perdarahan, warna, bau, dan konsentrasi.
d. Disritmia.

H. Komplikasi

1. Hipoksia atau hipoksemia


2. Kerusakan mukosa bronkial atau trakeal
3. Cardiac arrest
4. Arithmia
5. Atelectasis
6. Bronkokonstriksi atau bronkospasme
7. Infeksi
8. Perdarahan dari paru
9. Peningkatan tekanan intra kranial
10. Hipotensi
11. Hipertensi

I. Evaluasi

1. Meningkatnya suara napas.


2. Menurunnya Peak Inspiratory Pressure, menurunnya keegangan saluran
pernapasan, meningkatnya dinamik compliance paru, meningkatnya tidal
volume.
3. Adanya peningkatan dari nilai arterial blood gas, atau saturasi oksigen yang
bisa dipantau dengan pulse oxymeter, dan hilangnya sekret pulmonal.

J. Hal-hal yang perlu diperhatikan

1. Lepaskan ventilator pada klien lalu beri oksigen melalui ambubag sebanyak
4-5 kali disesuaikan dengan volume tidal pasien.
2. Lumasi ujung kateter dengan jelly dan masukkan kateter suction ke dalam
jalan napas buatan tanpa melakukan penghisapan.
3. Batasi waktu suction 10-15 detik dan hentikan proses suction apabila denyut
pasien meningkat sampai 40 kali per menit.
4. Ventilasikan pasien dengan ambubag setelah suction tiap periodenya.
5. Jika sekresi sangat pekat, maka dicairkan dengan memasukkan aquades 3-5
cc ke dalam jalan napas buatan.
6. Bilas kateter di antara setiap pelaksanaan suction.
K. Gambar-Gambar Terkait
DAFTAR PUSTAKA

Potter,P.A.dan Perry,A.G.(1997). Fundamental Keperawatan: konsep,


proses, dan praktik. (Edisi IV). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Price,S.A.(2003). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
(Edisi VI). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Anda mungkin juga menyukai