Anda di halaman 1dari 14

PENETAPAN TARIF BERDASARKAN ANALISIS BIAYA SATUAN

PADA PELAYANAN KESEHATAN RAWAT JALAN TINGKAT


PERTAMA PUSKESMAS DI KABUPATEN BANYUMAS

DETERMINATION OF RATES BASED ON ANALYSIS OF UNIT COST


OF FIRST LEVEL HEALTH SERVICES OUTPATIENT PUBLIC
HEALTH CENTRE IN DISTRICT BANYUMAS

Arih Diyaning Intiasari dan Arif Kurniawan


Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman
ABSTRACT
Research to assess the amount of real costs for the provision of RJTP health care
of Puskesmas in Banyumas as the basis for determination of tariff policy. The
results show the unit cost of health care which considering total cost without
investation is greater than tariff set by the The goverment of Banyumas regency.
Average unit costs for health care in BP was Rp. 5846, unit-cost of MCH / family
planning is Rp. 6775, - but the average unit cost in the BPG reached a high
nominal, it is Rp. 23 724. Determination of tariff that was being applied in RJTP
Banyumas is Rp. 5.000, - for the BP service and MCH / family planning, and for
BPG service is Rp.8.000. The current tariff is lower than the unit cost of service.
This research suggests that it is necessary to have unity of perceptions toward
stakeholders in government of Banyumas regency about the benefits of unit cost
analysis in determining the tariff policy in the future, and it suggests to do research
about Ability and Willingness to Pay in order to obtain more rational and
competitive tariff determination and calculation in regency of Banyumas.
Kata Kunci: Unit cost, tarif pelayanan, puskesmas

PENDAHULUAN kesehatan yang tidak hanya dapat


Pemerataan pelayanan kesehatan diakses keberadaannya setiap
bagi masyarakat merupakan dibutuhkan, tetapi juga pelayanan
kewajiban pemerintah sebagai bentuk kesehatan yang bermutu dan
pemenuhan hak rakyatnya untuk terjangkau secara finansial oleh
mencapai derajat kesehatan yang masyarakat. Sebagai salah satu
optimal. Sebagai bentuk nyata adalah indikator pelayanan yang memadai
adanya puskesmas – puskesmas adalah memberikan pelayanan
sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dengan tarif yang memadai
kesehatan masyarakat di seluruh yang sesuai kemampuan masyarakat.
wilayah nusantara. Pelayanan Dalam memutuskan besarnya tarif
kesehatan yang diharapkan oleh yang diberikan atau untuk menyusun
masyarakat adalah pelayanan besarnya anggaran suatu program

81
82 Jurnal Kesmas Indonesia. Volume 4, Nomor 1, Januari 2011, hlm. 81-94

pelayanan maka perhitungan unit cost memuaskan sebaliknya pihak


(biaya satuan) akan sangat membantu. perusahaan menghendaki tarif yang
Penentuan unit cost dalam analisis tinggi yang dapat menghasilkan laba
biaya diperlukan untuk mengetahui yang memuaskan. Puskesmas sebagai
besarnya biaya yang benar–benar organisasi kesehatan yang bersifat
dibutuhkan untuk menghasilkan suatu sosial, maka laba merupakan hal yang
produk baik berupa barang ataupun jarang ditemui dalam manajemen
jasa, disamping tujuan lainnya seperti Puskesmas. Jika laba merupakan hal
menilai efisiensi dalam anggaran yang tidak patut maka diperlukan
(Supriyanto, 2000). subsidi pemerintah serta perhitungan
Unit cost adalah penghitungan yang sesuai dalam pengelolaan dana
yang didasarkan pada biaya–biaya yang tersedia (Trisnantoro, 2004).
yang yang dikeluarkan secara nyata Sejak tahun 1995 Kabupaten
dalam rangka pelayanan kepada Banyumas ditunjuk menjadi salah
masyarakat. Struktur tarif yang dapat satu Kabupaten proyek percontohan
dipakai untuk mengatasi keterbatasan otonomi daerah versi undang-undang
subsidi dan harga pasaran yang No 5 th 1974. Pada saat itu Tarif
berlaku adalah dengan pendekatan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP)
unit cost. Biaya satuan (unit cost) Puskesmas di Kabupaten Banyumas
sangat penting artinya karena masih menggunakan peraturan daerah
merupakan salah satu dasar dalam (Perda) No 1 tahun 1988 yang besar
menentukan tarif pelayanan Rp 300,00. Dinas Kesehatan
disamping faktor kemampuan dan Banyumas pada akhirnya mendapat
kemauan membayar dari masyarakat. tugas dari Pemda untuk membuat
(Gani Ascobat, dkk, 2002 ). rancangan peraturan daerah tentang
Masalah penetapan tarif sering tarif Puskesmas pada tahun 1997
menjadi titik konflik antar masyarakat lahirlah Perda No. 5 tahun 1997
dan perusahaan. Di satu pihak tentang tarif pelayanan kesehatan
masyarakat menghendaki tarif pada Puskesmas di Kabupaten Banyumas.
tingkat yang paling rendah sesuai Pada tahun 2008 dikeluarkanlah
kemampuan dengan pelayanan yang sebuah rancangan tariff baru yang
Arih Diyaning Intiasari, Penetapan Tarif Berdasarkan Analisis Biaya Satuan 83

dikemas dalam Peraturan Bupati No. hanya memiliki sedikit peluang untuk
29 Tahun 2008. Kebijakan tersebut mengontrol peristiwa – peristiwa
menetapkan besaran tariff untuk yang akan diteliti. Penelitian ini
pelayanan rawat jalan tingkat pertama menggunakan pendekatan kombinasi
adalah sebesar Rp. 5000,00,- ( lima penelitian kuantitatif dan kualitatif
ribu rupiah). Penetapan tarif tidak secara komplementer. Rancangan
dilakukan berdasarkan perhitungan penelitian utama adalah penelitian
unit cost yang melihat besarnya biaya kuantitatif. Variabel dalam penelitian
riil untuk menyelenggarakan ini adalah analisis unit cost actual,
pelayanan kesehatan RJTP kebijakan penetapan tarif, dan usulan
puskesmas di Kabupaten Banyumas. penetapan tarif.
Penelitian dilaksanakan di
Berdasarkan hal tersebut maka
Puskesmas Kembaran II dan
perlu dilakukan penelitian untuk
Puskesmas Sumbang II Kabupaten
mengkaji besaran biaya riil untuk
Banyumas. Unit analisis penelitian
penyelenggaraan pelayanan kesehatan
adalah Pelayanan Rawat Jalan
RJTP puskesmas di Kabupaten
Tingkat Pertama di Puskesmas
Banyumas sebagai dasar pengambilan
Kembaran II dan Puskesmas
kebijakan penetapan tariff pelayanan
Sumbang II Kabupaten Banyumas.
kesehatan rawat jalan tingkat pertama
Instrumen penelitian analisis unit cost
di puskesmas.
adalah menggunakan checksheet yang
terinci pada dummy table. Informan
METODE PENELITIAN
dalam pengumpulan data kualitatif
Penelitian ini termasuk dalam
penelitian ini adalah 2 (dua) informan
penelitian observasional deskriptif
untuk indepth interview terdiri dari
dengan rancangan studi kasus.
Kepala Puskesmas Kembaran II dan
Menurut Yin (2006) studi kasus
kepala puskesmas Sumbang II.
merupakan strategi yang tepat
Analisis data kuantitatif untuk unit
digunakan pada fokus penelitian yang
cost dilakukan dengan software
merupakan fenomena kontemporer
perhitungan unit cost dengan basic
(masa kini) di dalam konteks
program Microsoft Excel 2003.
kehidupan nyata, dimana peneliti
84 Jurnal Kesmas Indonesia. Volume 4, Nomor 1, Januari 2011, hlm. 81-94

Analisis data menggunakan metode jumlah output layanan yang


double distribution. sesungguhnya pada RJTP
Puskesmas di Kabupaten
HASIL PENELITIAN DAN Banyumas. Analisis biaya satuan
PEMBAHASAN ini akan dilakukan distribusi
A. Hasil Penelitian biaya di unit penunjang dan unit
1. Biaya satuan pelayanan produksi. Unit penunjang di SHC
kesehatan RJTP Puskesmas adalah TU dan loket/RR. Unit
Biaya Satuan Aktual dalam produksinya adalah BP, BPG dan
analisis ini adalah menggunakan KIA/KB.

Tabel 1 : Rekapitulasi Total Biaya RJTP Puskesmas di Kabupaten Banyumas


No. Pusat Biaya Total Biaya
I BIAYA INVESTASI 56.274.624
1. Biaya gedung 15.400.000
2. Biaya penyusutan peralatan medis 16.084.845
3. Biaya penyusutan peralatan non medis 2.189.779
4. Biaya penyusutan kendaraan 22.600.000
II BIAYA OPERASIONAL 425.156.669
1. Biaya gaji 292.736.320
2. Biaya obat 107.132.140
3. Biaya bahan medis habis pakai 5.761.378
4. Biaya bahan non medis 2.093.000
5. Biaya ATK 4.443.100
6. Biaya sarana umum 12.990.731
III BIAYA PEMELIHARAAN 15.911.000
1. Biaya pem. alat med. & non med. 4.911.000
2. Biaya pemeliharaan gedung 2.000.000
3. Biaya pemeliharaan kendaraan 9.000.000
Total biaya 497.342.293

Total biaya penyelenggaraan penyelenggaraan RJTP Puskesmas di


RJTP Puskesmas di Kabupaten Kabupaten Banyumas merupakan
Banyumas dapat dilihat dalam tabel 1 komponen biaya terbesar, yaitu
di atas. Total biaya penyelenggaraan sebesar Rp. 425.156.669,-. Biaya gaji
pelayanan kesehatan merupakan dan insentif memberikan kontribusi
penjumlahan dari komponen biaya terbesar pada tingginya biaya
investasi, biaya operasional dan biaya operasional penyelenggaraan RJTP
pemeliharaan. Dari tabel 1 dapat Puskesmas di Kabupaten Banyumas.
diketahui bahwa biaya operasional Pendistribusian biaya unit penunjang
Arih Diyaning Intiasari, Penetapan Tarif Berdasarkan Analisis Biaya Satuan 85

ke unit produksi diperlukan suatu pembobotan untuk distribusi tersebut


dasar pembobotan. Adapun dasar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2 : Dasar Pembobotan Biaya untuk Mendapatkan Biaya Total di Unit Produksi
Nama item Total Biaya Unit Produksi
BP BPG KIA/KB
Biaya gaji dan insentif 292.736.320 102.117.321 62.972.347 90.203.633
Biaya obat 107.132.140 85.215.594 5.854.345 16.062.201
Nama item Total Biaya Unit Produksi
Bahan medis habis pakai 1.348.033 623.883 724.150 770.643
Jumlah 405.629.838 189.038.204 70.988.077 107.036.477
Berdasarkan pendapatan 30.384.000 16.441.000 8.961.000 4.982.000
di unit produksi
Biaya ATK 4.443.000 2.404.000 1.310.381 728.526
Biaya sarana umum 12.990.731 7.029.378 3.831.291 2.130.063
Biaya penyusutan 16.084.845 6.013.352 17.749.352 5.502.539
peralatan medis
Biaya penyusutan 2.189.779 1.184.905 645.820 359.053
peralatan non medis
Biaya bahan non medis 2.093.000 1.132.537 617.278 343.185
Biaya pemeliharaan alat 4.911.000 2.657.377 1.448.376 805.246
medis & non medis
Jumlah 42.712.455 20.421.742 25.602.499 9.868.612

Berdasarkan luas lantai


Biaya gedung 15.400.000 3.960.000 2.640.000 5.280.000
Biaya pemeliharaan 2.000.000 511.429 374.286 648.571
gedung
Jumlah 17.000.000 4.471.429 3.014.286 5.928.571
Bersadarkan pemakaian
kendaraan
Biaya Penyusutan 22.600.000 9.271.795 2.897.436 8.692.308
kendaraan
Biaya pemeliharaan 9.000.000 3.692.308 1.153.846 3.461.538
kendaraan
Jumlah 31.600.000 12.964.103 4.051.282 12.153.846
Total 497.342.293 226.895.477 103.656.144 134.987.507

Dasar pembobotan biaya Total biaya di tiap unit


dilakukan berdasarkan pendapatan di produksi adalah jumlah dari biaya
unit produksi dan berdasarkan luas investasi, biaya operasional dan biaya
lantai. Biaya total terdistribusi paling pemeliharaan yang telah terdistribusi
besar di unit produksi BP, yaitu sesuai dasar pembobotan. Total biaya
sebesar Rp. 71.995.688 hampir tersebut dapat dilihat pada tabel
mencapai 65% dari total biaya. berikut :
86 Jurnal Kesmas Indonesia. Volume 4, Nomor 1, Januari 2011, hlm. 81-94

Tabel 3 : Total Biaya di Unit Produksi RJTP Puskesmas

Unit Produksi (Rp) Biaya Total


Nama item
BP BPG KIA/KB (Rp)
Biaya Investasi
1.Biaya gedung 3.960.000 2.640.000 5.280.000 11.880.000
2.Biaya penyusutan peralatan 6.013.352 17.749.352 5.502.539 29.265.243
medis
3. Biaya penyusutan peralatan 1.184.905 645.820 359.053 2.189.779
non medis
4. Biaya penyusutan kendaraan 9.271.795 2.897.436 8.692.308 20.861.538
Biaya Operasional
1. Biaya gaji dan insentif 102.117.321 62.972.347 90.203.633 292.736.320
Biaya Total
Nama item Unit Produksi (Rp)
(Rp)
2. Biaya obat 85.215.594 5.854.345 16.062.201 107.132.140
3. Biaya Bahan Medis 1.705.289 2.161.384 770.643 4.911.000
4. Biaya bahan non medis 1.132.537 617.278 343.185 2.093.000
5. Biaya ATK 2.404.193 1.310.381 728.526 4.443.100
6. Biaya Sarana Umum 7.029.378 3.831.291 2.130.063 12.990.731
Biaya Pemeliharaan
1. Biaya pemeliharaan Alat medis 2.657.377 1.448.376 805.246 4.911.000
dan non medis
2. Biaya pemeliharaan gedung 511.429 374.286 648.571 1.534.286
3. Biaya pemeliharaan kendaraan 3.692.308 1.153.846 3.461.538 8.307.692
Total biaya dengan investasi dan 226.895.477 103.656.144 134.897.507 465.539.128
gaji
Total biaya dengan gaji tanpa 206.465.425 79.723.536 115.153.607 401.342.576
investasi
Total biaya tanpa gaji dan 109.008.569 19.625.141 29.066.717 157.700.428
investasi

Total biaya dengan Perhitungan unit cost


mempertimbangkan biaya investasi dilakukan berdasarkan total biaya
dan gaji mencapai Rp. 465.539.128,-. dengan dengan gaji tanpa investasi
Biaya gaji merupakan komponen dengan asumsi bahwa biaya investasi
yang memberikan kontribusi terbesar dan gaji sudah diperhitungkan dalam
terhadap total biaya yaitu sebesar APBN dan APBD Kabupaten
Rp.292.736.320,- Banyumas.

Tabel 4. Unit Cost Aktual Pelayanan kesehaan dan Tarif RJTP Puskesmas berdasarkan Total
Biaya Tanpa Investasi
No. Unit Produksi Quantity Unit Cost (Rp) Tarif (Rp)
1. BP 16.441 5.846 5.000
2. BPG 2.961 23.724 8.000
3. KIA/KB 4.865 6.775 5.000
Arih Diyaning Intiasari, Penetapan Tarif Berdasarkan Analisis Biaya Satuan 87

Biaya satuan (unit cost) 3. Unit Cost KIA/KB = Rp.


pelayanan kesehatan dengan 6.775,-
mempertimbangkan total biaya tanpa Bila dibandingkan dengan
investasi menunjukkan besaran biaya tarif puskesmas yaitu sebesar Rp.
satuan yang lebih besar dbandingkan 5.000,- maka tarif unit cost
tariff pelayanan yang ditetapkan oleh masing-masing unit produksi lebih
Pemkab Banyumas.. Biaya satuan rata besar. Khusus untuk tarif pada
– rata untuk pelayanan kesehatan di BPG ada penambahan sesuai
BP adalah sebesar Rp. 5.846,-,, Biaya dengan jenis tindakan yang
satuan pelayanan KIA/KB adalah diberikan.
sebesar Rp. 6.775,- namun biaya Implikasi kebijakan penetapan tarif
satuan rata – rata di BPG mencapai dan subsidi Puskesmas di
angka yang tinggi yaitu sebesar Rp. Kabupaten Banyumas dapat kita
23.724. lihat dari tiap unit-unit produksi
2. Kebijakan dan usulan penetapan yaitu :
tarif pelayanan kesehatan RJTP a. BP
Puskesmas Biaya untuk tiap unit di
Dari hasil analisis unit cost Balai Pengobatan (BP) adalah Rp.
Puskesmas Sumbang II didapatkan 5.846,- karena kebijakan
hasil untuk tiap-tiap unit produksi puskesmas untuk tarif sebesar Rp.
sebagai berikut: 5.000,- sehingga subsidi yang
1. Unit Cost BP = Rp. 5.846,- diberikan Rp. 846,00
2. Unit Cost BPG = Rp. 23.724,- b. BPG

No Jenis Pelayanan Tarif Subsidi Unit Cost


1. Penambalan gigi tetap Rp 10.000 Rp 16.689 Rp 26.689
2. Penambalan gigi susu Rp 5.000 Rp 8.345 Rp 13.345
3. Pengobatan jaringan pulpa Rp 5.000 Rp 8.345 Rp 13.345
4. Pencabutan gigi tetap Rp 10.000 Rp 16.689 Rp 26.689
5. Pencabutan gigi susu Rp 10.000 Rp 16.689 Rp 26.689
6. Scalling Rp 10.000 Rp 16.689 Rp 26.689
88 Jurnal Kesmas Indonesia. Volume 4, Nomor 1, Januari 2011, hlm. 81-94

No Jenis Pelayanan Tarif Subsidi Unit Cost


7. Pengobatan Period Rp 10.000 Rp 16.689 Rp 26.689
8. Pengobatan Abses Rp 10.000 Rp 16.689 Rp 26.689
9. Lain-lain Rp 10.000 Rp 16.689 Rp 26.689
Rata-rata Rp.8.888 Rp 23.724

Berdasarkan tabel di atas unit dengan Ability To Pay (ATP)


cost untuk BPG sebesar atau kemampuan membayar dan
Rp.23.724. Bila dibandingkan Willingness To Pay (WTP) atau
dengan tarif pelayanan yang kemauan masyarakat dalam
hanya Rp.8.000 memang dapat membayar jasa pelayanan
dikatakan cukup significant, hal kesehatan. Pada pelayanan
ini dikarenakan banyak factor kesehatan pemerintah, apabila
diantaranya harga dari alat masyarakat mampu dalam
kelengkapan BPG dan jumlah membayar tapi tidak mau
kunjungan BPG yang tidak terlalu membeli pelayanan, maka yang
banyak apabila dibandingkan BP. terjadi adalah “Underutilization”.
c. KIA/KB Sebaliknya apabila masyarakat
Biaya untuk tiap unit di mau membayar tapi sebenarnya
KIA/KB adalah Rp. 6.775,- tidak mampu membeli
karena kebijakan puskesmas pelayanan, maka yang terjadi
untuk tarif sebesar Rp. 5.000,- adalah “Overutilization” (Azrul,
sehingga subsidi yang diberikan 1996).
Rp. 1.775,- Pelayanan yang Subsidi pemerintah dalam
diberikan di unit ini adalah unit pelayanan kesehatan milik
pelayanan ibu hamil, pelayanan pemerintah menyebabkan
ibu bersalin, pelayanan ibu nifas “Overutilization” ini dianggap
dan pelayanan bayi bukan masalah, tetapi seiring
B. Pembahasan dengan beratnya beban
Utilisasi jasa pelayanan pemerintah untuk menyediakan
kesehatan dalam memenuhi fasilitas pelayanan sosial yang
kebutuhan hidup sehat berkaitan mendasar seperti pelayanan
Arih Diyaning Intiasari, Penetapan Tarif Berdasarkan Analisis Biaya Satuan 89

kesehatan dan kebijakan 2) Pusat pemberdayaan keluarga


pemerintah yang masih dan masyarakat
menempatkan sektor kesehatan 3) Pusat pelayanan kesehatan
pada skala prioritas rendah dalam strata pertama (Depkes RI,
memperoleh alokasi dana 2006)
pembangunan maka kajian Penetapan suatu tarif
“Willingness To Pay” menjadi layanan kesehatan mencerminkan
semakin pentig untuk besaran biaya dibutuhkan oleh
ditindaklanjuti (Ascobat, 1996) . suatu lembaga atau sarana
Berdasarkan pada konsep pelayanan kesehatan untuk
break even point yang sering menyelenggaraakan pelayanan
disebut dengan impas atau pulang kesehatan. Sebuah studi di
pokok yaitu merupakan teknik Uganda memperkirakan bahwa
perencanaan laba dalam jangka untuk menyediakan sebuah paket
pendek atau dalam satu periode pelayanan dasar membutuhkan
akuntansi dengan mendasarkan sekitar 56 % dari total
pada variabilitas penghasilan pengeluaran kesehatan negara. Di
penjualan maupun biaya terhadap Zambia sebuah studi juga
volume kegiatan (Supriyono, menyebutkan bahwa pembiayaan
1992), maka tarif yang berlaku terhadap penyelenggaraan paket
perlu ditingkatkan. kesehatan bagi rakyatnya
Jika memperhatikan tariff membebani sumber daya negara
retribusi yang berlaku di atau negara pendonor. Yang
kabupaten lain, maka perubahan diperlukan adalah suatu sistem
tarif retribusi sampai dengan Rp. pembiayaan yang cukup dan
4.150,- masih dapat diberlakukan berkesinambungan dapat
dengan tetap mempertahankan membiayai implementasi
fungsi puskesmas sebagai: penyelenggaraan kesehatan dasar
1) Pusat penggerak pembangun- (Liu,2003). Sistem pembiayaan
an berwawasan kesehatan berbasis analisis unit cost
diharapkan dapat menjembatani
90 Jurnal Kesmas Indonesia. Volume 4, Nomor 1, Januari 2011, hlm. 81-94

kebutuhan lembaga dalam Dengan kata lain bahwa


menyelenggarakan layanan pengeluaran lebih besar
kesehatan sekaligus tetap survive dibandingkan pendapatan yang di
dan sustain dalam penyelenggara- terima.
an pelayanan kesehatannya. Penelitian Isharwati (2004)
Faktor-faktor yang menunjukkan bahwa unit cost
mempengaruhi penetapan jenis akan berbeda untuk setiap unit
layanan kesehatan menurut produksi di puskesmas sehingga
Depkes (2005) adalah : jika jumlah tarif disamakan maka
ketersediaan dana, ketersediaan besaran subsidi perlu dibedakan
infrastruktur, prioritas pelayanan sesuai kebutuhan tiap unit
kesehatan, utilisasi pelayanan produksi. Penetapan tarif RJTP
kesehatan, tarif pelayanan puskesmas bisa dilakukan dengan
kesehatan, pola penyakit di kombinasi analisis biaya satuan
masyarakat dan metode dan metode shadow pricing.
pembayaran pelayanan kesehat- Penetapan tarif menggunakan
an. Perhitungan biaya satuan metode shadow pricing
dengan mempertimbangkan total dibutuhkan untuk mendapatkan
biaya dengan investasi dan gaji besaran tarif yang wajar. Analisis
juga perlu ditelaah karena biaya satuan dibutuhkan untuk
diharapkan kedepan puskesmas Arih Diyaning Intiasari,
mengidentifikasi Penetapan Tarif Berdasarkan
unit produksi
dapat mandiri dalam pengelolaan yang membutuhkan subsidi lebih
keuangannya sehingga lebih besar dalam penyelenggaraannya.
responsif dalam penyelenggaraan Penetapan tarif RJTP di
pelayanan kesehatan kepada Kabupaten Banyumas masih
mahasiswa. mengandalkan pembiayaan APBD
Penetapan Tarif yang lebih dengan mekanisme subsidi, para
kecil dibandingkan biaya satuan pengelola belum menganggap
pelayanan kesehatan dapat analisis biaya satuan perlu dalam
mengakibatkan kerugian pada penetapan tarif karena sistem
institusi layanan kesehatan. keuangan kabupaten yang masih
ditopang penuh melalui anggaran Penelusuran biaya yang
daerahnya. Ketidak tahuanpara telah dilakukan juga membutuh-
pengambil kebijakan terhadap kan kemampuan pengelola di
manfaat analisis unit cost dan puskesmas (brainware) untuk
kekurang pedulian terhadap memahami dengan benar maksud
dampak kedepan dari dari perhitungan unit cost. Bila
keterjangkauan pelayanan dasar data tersebut tidak bisa digunakan
bagi masyarakat. Tidak bisa untuk mendiagnosa ketidak
dipungkiri bahwa isu kesehatan efisienan di rumah sakit
dalam hal ini penetapan tarif (Penyelenggara pelayanan
pelayanan kesehatan merupakan kesehatan) maka kedepan akan
daya tarik yang kuat dalam muncul berbagai biaya yang
panggung politik Pilkada setiap seharusnya tidak prioritas untuk
periodenya. Kampanye kesejah- dikeluarkan namun dikeluarkan
teraan masyarakat dan akses sehingga menimbulkan keputusan
pelayanan kesehatan menjadi yang tidak tepat (Heru. 2006).
senjata utama tanpa Perlu ada kesatuan persepsi
memperhatikan kelangsungan mengenai manfaat analisis biaya
program ini dimasa yang aan satuan dalam kebijakan penetapan
datang. Penelitian Harlina (2003) besaran tarif di masa yang akan
menyebutkan bahwa penetapan datang, terutama untuk
unit cost menunjukkan besaran mendukung kebijakan
tarif yang lebih rendah dibanding penyelenggaraan kesehatan
dengan tarif pesaing. Harapan daerah.
kesepan dengan semakin baiknya Penelitian Abusamah
manajemen SHC dan kualitas (2000) menyebutkan bahwa
pelayanan kesehatan yang makin dengan dilakukan perhitungan
baik akan mendorong SHC analisis biaya maka dapat disusun
menuju penetapan tarif yang lebih suatu perencanaan untuk
rendah dibanding tarif pesaing penetapan tarif yang idela
yang alin. sehingga tidak merugikan Rumah
92 Jurnal Kesmas Indonesia. Volume 4, Nomor 1, Januari 2011, hlm. 81-94

sakit itu sendiri. Analisis biaya dilakukan berdasarkan unit cost


dapat memberikan gambaran dengan menggunakan formula
mengenai intervensi – intervensi dengan komponen – komponen
yang harus dilakukan oleh yang disepakati bersama oleh
manajer institusi layanan semua pihakterkait dengan
kesehatan dalam rangka stakeholder kunci. Harapannya
pengendalian biaya. Analisis dengan mekanisme penetapan
biaya satuan harus dilakukan tarif yang benar dapat mewadahi
secara rutin dalam jangka waktu kepentingan banyak pihak yang
tertentu untuk mendapatkan berkepentingan, antara lain :
besaran tarif yang sesuai dengan kepentingan Pemkab banyumas
operasional penyelenggaraan sebagai penyelenggara kesehatan
layanan kesehatan untuk dasar bagi masyarakat dan
mendapatkan biaya satuan yang sebagai supporting policy dalam
terkini (Septijanto,2004) penetapan besaran kapitasi bagi
Usulan penetapan tarif masyarakat dalam skema jaminan
RJTP di Kabupaten Banyumas kesehatan daerah (Jamkesda).
kedepan diharapkan dapat

SIMPULAN DAN SARAN adalah sebesar Rp. 5.846,-Biaya


A. Simpulan satuan pelayanan KIA/KB
1. Biaya satuan (unit cost) adalah sebesar Rp. 6.775,-
pelayanan kesehatan dengan namun biaya satuan rata – rata
mempertimbangkan total biaya di BPG mencapai angka yang
tanpa investasi menunjukkan tinggi yaitu sebesar Rp. 23.724.
besaran biaya satuan yang lebih 2. Penetapan tariff RJTP yang
besar dbandingkan tariff sudah berlaku di Kabupaten
pelayanan yang ditetapkan oleh Banyumas adalah Rp. 5.000,-
Pemkab Banyumas.. Biaya untuk pelayanan BP dan
satuan rata – rata untuk KIA/KB, untuk pelayanan BPG
pelayanan kesehatan di BP adalah Rp.8.000. Tarif yang
Arih Diyaning Intiasari, Penetapan Tarif Berdasarkan Analisis Biaya Satuan 93

berlaku saat ini lebih rendah mendukung kebijakan jamkesda


dibandingkan dengan biaya dengan perhitungan premi yang
satuan pelayanan. akurat.
B. Saran 2. Perlu dilakukan penelitian
1. Perlu ada kesatuan persepsi Ability and Willingness to Pay
stakeholder di pemerintah agar didapatkan penetapan tarif
Kabupaten Banyumas mengenai dan perhitungan premi asuransi
manfaat analisis biaya satuan yang lebih rasional dan
dalam kebijakan penetapan kompetitif di Kabupaten
besaran tarif di masa yang akan Banyumas
datang, terutama untuk

DAFTAR PUSTAKA Liu, X. 2003.Policy Tools For Allocative


Efficiency of Health Service. World Health
Abusamah,A.2000. Analissi Penetapan Tarif Organization.
di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit
Umum Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Septijanto,H.2004.Analisis Tarif Puskesmas
Tesis. Universitas Indonesia. Jakarta. Ditinjau Dari Tingkat Kemampuan
Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas
Depkes, RI .2005. Standar dan Modul Pesisir Kota Cirebon. Tesis. Universitas
Pelatihan Teknis Perhitungan Unit Cost Indonesia. Jakarta.
Pelayanan Kesehatan Pemberi Pelayanan
Kesehatan (PPK) Primer Dalam Yin , R.K.. 2006. Studi Kasus (Desain dan
Penyelenggaraan JPK. Direktorat JPKM. Metode), PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Jakarta.

Harlina, D. 2003. Evaluasi Penentuan Tarif


Sewa kamar pada RSU PKU
Muhammadiyah di Karanganyar. Tesis.
Universitas Diponegoro. Semarang

Heru, A.2006. Unit Cost, Tarif, Mutu


Pelayanan Rumah Sakit dan Subsidi
Pemerintah. Disampaikan pada acara
Short Course dan Benchmarking
Program Unit Cost, Tarif, Sistem
Keuangan dan Billing System di TSUD
Tabanan Bali dan Laboratorium
Komunikasi – Kepemimpinana UGM
Yogyakarta.

Isharwati. 2004. Model Tarif Pelayanan


Kesehatan di Kota Palu. Tesis.
Universitas Hasanudin. Makasar.