Anda di halaman 1dari 17

BAGIAN ILMU PENYAKIT PENYAKIT ANAK REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN Oktober, 2018


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

RUBELLA

Oleh :

NURUL AMALIYAH
10542 0571 14

Pembimbing :
dr. Marlenny WT Martoyo, Sp. A

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU PENYAKIT ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:


Nama : Nurul Amaliyah
NIM : 10542 0571 14
Judul Referat : Rubella

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu
Penyakit Anak Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Oktober 2018

Pembimbing

(dr. Marlenny WT Martoyo, Sp. A)


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulisan Referat ini dapat
diselesaikan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Baginda Besar
Nabi Muhammad SAW.
Referat berjudul “Rubella” ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada
waktunya sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di
Bagian Ilmu Penyakit Anak. Secara khusus penulis sampaikan rasa hormat dan terima
kasih yang mendalam kepada dr. Marlenny WT Martoyo, Sp. A, selaku pembimbing
yang telah banyak meluangkan waktu dengan tekun dan sabar dalam membimbing,
memberikan arahan dan koreksi selama proses penyusunan tugas ini hingga selesai.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Referat ini belum sempurna adanya dan
memiliki keterbatasan tetapi berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, baik
moral maupun material sehingga dapat berjalan dengan baik. Akhir kata, penulis
berharap agar Referat ini dapat memberi manfaat kepada semua orang.

Makassar, Oktober 2018

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1

LEMBAR PENGESAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2

KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .3

DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4

BAB I PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6

2.1. Definisi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6

2.2. Epidemiologi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6

2.3. Etiologi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7

2.4.Patogenesis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8

2.5. Manifestasi Klinis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9

2.6. Diagnosis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12

2.7.Diagnosis Banding . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ... 13

2.8. Penatalaksanaan .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14

2.9.Pencegahan .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ..15

BAB III KESIMPULAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .’16

DAFTAR PUSTAKA. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ..17


BAB I

PENDAHULUAN

Campak dan Rubella merupakan penyakit infeksi menular melalui saluran


nafas yang disebabkan oleh virus Campak dan Rubella. Batuk dan bersin dapat
menjadi jalur masuknya virus campak maupun rubella. Gejala campak muncul sekitar
10 hari setelah infeksi, dan ruam coklat kemerahan muncul sekitar 14 hari setelah
infeksi. Gejala penyakit campak diantaranya demam tinggi, bercak kemerahan pada
kulit (rash) dapat disertai batuk dan atau pilek maupun konjungtivitis serta dapat
mengakibatkan kematian apabila terdapat komplikasi penyerta seperti pneumonia,
diare, dan meningitis. Rubella termasuk dalam penyakit ringan pada anak, tetapi
dapat memberikan dampak buruk apabila terjadi pada ibu hamil trimester pertama
yaitu keguguran ataupun kecacatan pada bayi sering disebut Congenital Rubella
Syndrom (CRS) seperti kelainan jantung dan mata, ketulian dan keterlambatan
perkembangan.
Penyakit campak dan rubella dapat memberikan dampak buruk terhadap
kesehatan anak di Indonesia, sehingga pemerintah melaksanakan kampanye vaksinasi
MR. Vaksin MR (Measles Rubella) memberikan manfaat seperti dapat melindungi
anak dari kecacatan dan kematian akibat komplikasi pneumonia, diare, kerusakan
otak, ketulian, kebutaan dan penyakit jantung bawaan. Terdapat 83 kasus pasti CRS
pada tahun 2015-2016 diantaranya 77% menderita kelainan jantung, 67,5% menderita
katarak dan 47% menderita ketulian.1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Rubella atau Campak Jerman merupakan penyakit anak menular yang
lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa
dengan campak (rubeola) ringan atau demam scarlet, dan pembesaran serta
nyeri limfonodi pascaoksipital, retroaurikuler, dan servikalis posterior. Pada
anak yang lebih tua dan dewasa, terutama wanita dewasa, infeksi kadang-
kadang dapat berat, dengan manifestasi keterlibatan sendi dan purpura.2

2.2. Epidemiologi
Penyakit ini terdistribusi secara luas di dunia. Setiap tahun melalui
kegiatan surveilans dilaporkan lebih dari 11.000 kasus suspek campak, dan
hasil konfirmasi laboratorium menunjukkan 12-39% di antaranya adalah
campak pasti (lab confirmed) sedangkan 16-43% adalah rubella pasti. Dari
tahun 2010 sampai 2015, diperkirakan terdapat 30.463 kasus rubella.3 Di
Indonesia, rubella merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
memerlukan upaya pencegahan efektif. Data surveilans selama lima tahun
terakhir selama lima tahun terakhir menunjukkan 70% kasus rubella terjadi
pada kelompok usia < 15 tahun. Selain itu, berdasarkan studi tentang estumasi
beban penyakit CRS (Congenital Rubella Syndrome) di Indonesia pada tahun
2013 diperkirakan terdapat 2.767 kasus, 82/100.000 terjadi pada usia ibu 15-
19 tahun dan menurun menjadi 47/100.000 pada usia ibu 40-44 tahun.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), pada tahun 2015 di
Indonesia terlapor kasus rubella sebanyak 2156 kasus. Jika dibandingkan
dengan kasus terlapor pada tahun 2016, Indonesia memiliki penurunan jumlah
kasus menjadi 1238 kasus. Kasus Congenital Rubella Syndrome (CRS) yang
terlapor pada tahun 2015 sebanyak 44 kasus dan meningkat pada tahun 2016
sebanyak 174 kasus.4

Gambar 1. Estimasi kasus rubella di Indonesia tahun 2010 - 2015

2.3. Etiologi

Rubella disebabkan oleh suatu RNA virus, genus Rubivirus, famili


Togaviridae. Secara fisiko-kimiawi virus ini sama dengan anggota virus lain
dari famili tersebut, tetapi virus rubela secara serologik berbeda.5 Selama
penyakit klinis virus berada dalam sekresi nasofaring, darah, tinja dan urin.2

Gambar 2. Struktur virus rubella


2.4. Patogenesis
Penularan terjadi melalui oral droplet, dari nasofaring atau rute
pernafasan. Selanjutnya virus rubella memasuki aliran darah. Selanjutnya
virus rubella memsuaki aliran darah. Namun terrjadinya erupsi di kulit belum
diketahui patogenesisnya. Viremia mencapai puncaknya tepat sebelum timbul
erupsi kulit. Di nasofaring, virus tetap ada sampai 6 hari setelah timbulnya
erupsi dan kadang lebih lama. Selain dari darah dan nassofaring, virus rubella
telah diisolasi dari kelenjar getah bening, urin, cairan serebrospinal, ASI,
cairan sinovial dan paru. Penularan dapat terjadi sejak 7 hari sebelumnya atau
hingga 5 hari sesudah timbulnya erupsi. Daya tular tertinggi terjadi pada
akhir masa inkubasi, kemudian menurun dengan cepat, dan berlangsung
hingga menghilangnya erupsi.5

Gambar 3. Perjalanan Rubella


2.5. Manifestasi Klinis
Tanda-tanda dan gejala Infeksi rubella dimulai dengan adanya demam
ringan selama 1 atau 2 hari (99 - 100 Derajat Fajrenheit atau 37.2 - 37.8
derajat celcius) dan kelenjar getah bening yang membengkak dan perih,
biasanya di bagian belakang leher atau di belakang telinga. Pada hari kedua
atau ketiga, bintik-bintik (ruam) muncul di wajah dan menjalar ke arah bawah.
Di saat bintik ini menjalar ke bawah, wajah kembali bersih dari bintik-bintik.
Bintik-bintik ini biasanya menjadi tanda pertama yang dikenali oleh para
orang tua. Ruam rubella dapat terlihat seperti kebanyakan ruam yang
diakibatkan oleh virus lain. Terlihat sebagai titik merah atau merah muda,
yang dapat berbaur menyatu menjadi sehingga terbentuk tambalan berwarna
yang merata. Bintik ini dapat terasa gatal dan terjadi hingga tiga hari. Dengan
berlalunya bintik-bintik ini, kulit yang terkena kadangkala megelupas halus.
Gejala lain dari rubella, yang sering ditemui pada remaja dan orang dewasa,
termasuk: sakit kepala, kurang nafsu makan, conjunctivitis ringan
(pembengkakan pada kelopak mata dan bola mata), hidung yang sesak dan
basah, kelenjar getah bening yang membengkak di bagian lain tubuh, serta
adanya rasa sakit dan bengkak pada persendian (terutama pada wanita muda).
Banyak orang yang terkena rubella tanpa menunjukkan adanya gejala apa-
apa.6 Remaja dan orang dewasa yang diserang rubella bisa menderita malaise,
sakit kepala, demam derajat rendah, sakit tenggorok, dan koriza ringan selama
1 sampai 5 hari periode prodromal yang sering disertai serangan adenopati.7
Berbeda dengan rubeola, tidak ada fotofobia. Angka sel darah putih
normal atau sedikit menurun, trombositopeni jarang, dengan atau tanpa
purpura. Terutama pada wanita yang lebih tua dan wanita dewasa, poliartritis
dapat terjadi dengan artralgia, pembengkakan, nyeri dan efusi tetapi biasanya
tanpa sisa apapun. Setiap sendi dapat terlibat, tetapi sendi-sendi kecil tangan
paling sering terkena. Lamanya biasanya beberapa hari; jarang artritis ini
menetap selama berbulan-bulan. Parestesia juga telah dilaporkan. Pada satu
epidemi orkidalgia dilaporkan pada sekitar 8% orang laki-laki usia perguruan
tinggi yang terinfeksi.8

Masa inkubasi
Masa inkubasi adalah 14-21 hari. Dalam beberapa laporan lain waktu inkubasi
minimum 12 hari dan maksimum 17 sampai 21 hari. Tanda yang paling khas
adalah adenopati retroaurikuler, servikal posterior, dan di belakang oksipital.
Enantem mungkin muncul tepat sebelum mulainya ruam kulit. Ruam ini
terdiri dari bitnik-bintik merah tersendiri pada palatum molle yang dapat
menyatu menjadi warna kemerahan jelas pada sekitar 24jam sebelum ruam.5

Masa prodromal
Pada anak biasanya erupsi timbul tanpa keluhan sebelumnya; jarang
disertai gejala dan tanda masa prodromal. Namun pada remaja dan dewasa
muda masa prodromal berlangsung 1-5 hari dan terdiri dari demam ringan,
sakit kepala, nyeri tenggorok, kemerahan pada konjungtiva, rinitis, batuk dan
limfadenopati. Gejala ini segera menghilang pada waktu erupsi timbul. Gejala
dan tanda prodromal biasanya mendahului 1-5 hari erupsi di kulit. Pada
beberapa penderita dewasa gejala dan tanda tersebut dapat menetap lebih lama
dan bersifat lebih berat. Pada 20% penderita selama masa prodromal atau hari
pertama erupsi timbul suatu enantema, tanda Forschheimer, yaitu makula atau
petekiia pada palatum molle. Pembesaran kelenjar limfe bisa timbul 5-7 hari
sebelum timbul eksantema, khas mengenai kelenjar suboksipital,
postaurikular dan servikal dan disertai nyeri tekan. 5

Masa eksantema
Seperti pada rubeola, eksantema mulai retro-aurikular atau pada muka
dan dengan cepat meluas secara kraniokaudal ke bagian lain dari tubuh. Mula-
mula berupa makula yang berbatas tegas dan kadang-kadang dengan cepat
meluas dan menyatu, memberikan bentuk morbiliform. Pada hari kedua
eksantem di muka menghilang, diikuti hari ke-3 di tubuh dan hari ke-4 di
anggota gerak. Pada 40% kasus infeksi rubela terjadi tanpa eksantema.
Meskipun sangat jarang, dapat terjadi deskuamasi posteksantematik.
Limfadenopati merupakan suatu gejala klinis yang penting pada rubela.
Biasanya pembengkakan kelenjar getah bening itu berlangsung selama 5-8
hari. Pada penyakit rubela yang tidak mengalami penyulit sebagian besar
penderita sudah dapat bekerja seperti biasa pada hari ke-3. sebagian kecil
penderita masih terganggu dengan nyeri kepala, sakit mata, rasa gatal selama
7-10 hari. 5

Rubella Kongenital
Infeksi rubella pada ibu hamil dapat menimbulkan infeksi pada janin
dengan teratogenesis yang bergantung dari umur kehamilan. Pada waktu
mengalami infeksi rubella. Sebagian ibu hamil (50%) tidak menunjukkan
gejala atau tanda klinis. Meskipun demikian virus dapat menimbulkan infeksi
pada plasenta dan diteruskan ke janin, yang mana virus itu menyerang banyak
organ dan jaringan. Rubella pada ibu dapat menimbulkan berbagai
kemungkinan di janinnya, yaitu : 1. Non-infeksi, 2. Infeksi tanpa kelainan
apapun, 3. Infeksi dengan kelainan kongenital, 4. Resorpsi embrio, 5. Abortus
atau 6. Kelahiran mati.5
Bila infeksi virus terjadi pada kehamilan sekitar 12 minggu (umur
kehamilan 3 bulan) maka pada bayi yang lahir timbul berbagai cacat SRK,
dalam berbagai bentuk sebagai berikut.
- Pertumbuhan janin dalam Rahim terhambat hingga bayi lahir dengan
berat badan kurang. Tetapi bila setelah lahir diberikan perawatan dan
gizi yang cukup, pertumbuhan bayi tersebut seperti bayi lain yang
lahir normal.
- Cacat menetap pada penglihatan dan pendengaran (Buta dan tuli)
- Kelainan jantung, biasanya kelainan sekat bilik jantung (VSD) atau
terdapat lubang pada pembuluh nadi utama ke paru (PDA)
- Kelainan pada mata, biasanya kornea keruh, katarak atau peradangan
selaput jala (retinitis)
- Kelainan pada telinga tengah biasanya kiri kanan (bilateral) pada
organ cochlea dan corti.
- Kelainan pada darah berupa jumlah sel pembekuan darah kurang
(trombositopenia) dan sel limfosit rendah (limfositopenia)
- Kelainan susunan saraf pusat berupa peradangan otak menahun dan
menetap (chronic persisten encephalitis), hingga anak akan mengalami
keterlambatan mental (mental retardation)
- Kelainan pada system kekbalan tubuh berupa cell mediated imuno
disorder atau lipo immunoglobulin complex deficiency yang terlihat
secara serologis IgM Rubella tinggi disertai IgG rubella darah ibu juga
tinggi.
- Kelainan pada system pencernaan berupa peradangan pancreas dan
peradangan hati yang terlihat sebagai diabetes dan berbagai gejala
gangguan penyerapan makanan (malabsorbtion syndrome)
- Kelainan tulang, berupa peradangan pada ujung tulang (metaphise).9

2.6.Diagnosis
Terdapatnya infeksi virus rubella ditegakkan berdasarkan tes serologis
akan didapatkan peningkatan antibody IgM yang mencapai puncak pada 7-10
hari setelah onset penyakit (setelah timbulnya ruam), akan menurun selama 4
minggu, dan harus diulang 2-3 minggu kemudian. Peningkatan igG lebih
perlahan-lahan tetapi antibody tersebut akan bertahan seumur hidup.
Pentingnya pemeriksaan serologis disebabkan karena gejala-gejala infeksi
virus rubella sering tidak khas dan sering muncul bersamaan dengan infeksi
virus lainnya. Gejala klinis biasanya timbul 2-3 minggu setelah terpapar. Pada
wanita hamil yang terinfeksi rubella, pemeriksaan titer igG spesifik mutlak
dilakukan. Apabila didapatkan hasil seropositif, maka wanita tersebut kebal
dan janin tidak beresiko terinfeksi.
Berdasarkan pemeriksaan serologi, terdapatnya infeksi virus rubella
ditegakkan bila.
- Peningkatan titer antibodi igG sebanyak empat kali antara spesimen
serum fase akut dan konvalesen
- Tes serologik igM rubella positif
- Kultur virus rubella positif (kultur diambil dari spesimen hidung,
tenggorokan, darah, urin dan cairan serebrospinal antara 1 sampai 2
minggu setelah timbul ruam)

Infeksi virus rubella akut maternal pada 16 minggu pertama


kehamilan mempunyai resiko terjadinya kelainan anatomi yang berat. Metode
untuk mendeteksi infeksi tersebut dengan mengetahui terdapatnya igM dalam
darah janin dan biopsy vili korion. Salah satu metode yang telah berhasil
digunakan yaitu pemeriksaan igM spesifik darah janin dengan menggunakan
percutaneous umbilical blood sampling (PUBS). Pemeriksaan ultrasonografi
(USG) dapat digunakan untuk mendeteksi cacat pada janin, anomaly janin,
pertumbuhan janin terhambat, mikrosefal, gangguan saraf, dan malformasi
jantung.10

2.7. Diagnosis Banding


Penyakit yang memberikan gejala klinis dan eksantema yang menyerupai
rubela adalah :
a. Penyakit virus : campak, roseola infantum, eritema mononukleosis
infeksiosa dan Pityriasis rosea
b. Penyakit bakteri : scarlet fever (Skarlatina).
c. Erupsi obat : ampisilin, penisilin, asam salisilat, barbiturat, INH,
fenotiazin dan diuretik tiazid.
Bercak erupsi rubela yang berkonfluensi sulit dibedakan dari morbili,
kecuali bila ditemukan bercak koplik yang karakteristik untuk morbili. Erupsi
rubela cepat menghilang sedangkan erupsi morbili menetap lebih lama. Bila
terjadi kemerahan difus dan tampak bercak-bercak berwarna lebih gelap
diatasnya, perlu dibedakan dari scarlet fever. Tidak seperti scarlet fever, pada
rubela daerah perioral terkena.
Erupsi pada infeksi mononukleosis dapat menyerupai rubela derajat
berat, namun penyakit itu dimulai dengan difteroid atau Plaut-Vincent-like
tonsilitis, demam lebih tinggi, pembesaran kelenjar getah bening umum serta
pembesaran hepar dan limpa.
Pada sifilis stadium dua ditemukan juga eksantema yang menyerupai
rubela, disertai pembesaran kelenjar getah bening umum, kadang-kadang
perlu pemeriksaan serologik untuk sifilis.
Erupsi obat menyerupai rubela yang dapat disertai pembesaran
kelenjar getah bening disebabkan terutama oleh senyawa hidantoin. Pada
kasus yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan hemogram dan
serologik.5

2.8. Penatalaksanaan
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk rubella. Gejala biasanya
akan membaik dan hilang tanpa pengobatan dalam waktu 7-10 hari. Jika tidak
terjadi komplikasi bakteri, pengobatan adalah simtomatis. Adamantanamin
hidrokhlorida (amantadin) telah dilaporkan efektif in vitro dalam menghambat
stadium awal infeksi rubella pada sel yang dibiakkan. Upaya untuk mengobati
anak yang sedang menderita rubela kongenital dengan obat ini tidak berhasil.
Karena amantadin tidak dianjurkan pada wanita hamil, penggunaannya amat
terbatas. Interferon dan isoprinosin telah digunakan dengan hasil yang
terbatas.10

2.9. Pencegahan
Idealnya setiap wanita di usia reproduksi dan sebelum merencanakan
kehamilan dilakukan pemeriksaan system imun terhadap virus rubella. Jika
hasil pemeriksaan menunjukkan kecurigaan terdapat infeksi, maka
sebelumnya harus diberikan vaksinasi.10
BAB III
KESIMPULAN

Rubella atau Campak Jerman merupakan penyakit anak menular yang lazim
biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama yang ringan, ruam serupa dengan
campak ringan atau demam skarlet, dan pembesaran serta nyeri limfonodi
pascaoksipital, retroaurikuler, dan servikalis posterior. Rubella disebabkan oleh virus
yang mengandung-RNA pleomorfik, yang sekarang didaftar pada famili Togaviridae,
genus Rubivirus. Mekanisme penularan melalui droplet dari sekret nasofaring
penderita. Proses infeksi berlangsung selama 11-14 hari, dengan masa penularan
sejak 5 hari sebelum hingga 6 hari sesudah timbulnya ruam. Untuk mendiagnosa pasti
suatu rubella, dapat dilakukan dengan isolasi virus. Tes yang biasa dilakukan adalah
tes ELISA untuk antibodi IgG dan IgM. Antibodi hemaglutinasi-inhibisi (HI)
merupakan metode penentuan imunitas biasa terhadap rubella. Pengobatan rubella
merupakan pengobatan simptomatis.
DAFTAR PUSTAKA

1. Merlinta. Hubungan Pengetahuan Tentang Vaksin Mr (Measles Rubella) Dan


Pendidikan Ibu Terhadap Minat Keikutsertaan Vaksinasi Mr Di Puskesmas
Kartasura. Publikasi Ilmiah. Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2018
2. Behrman RE., Kliegman RM., Arvin AM. Nelson Ilmu Kesehatan Anak:
“Infeksi Virus-Rubella” (Edisi ke-15). Terjemahan Oleh: Maldonado, Y.,
EGC, Jakarta, Indonesia. 2002. hal. 1072.
3. Kementrian KesehatanRepublik Indonesia. Petunjuk Teknis Kampanye
Imunisasi Measles Rubella (MR). 2017. Hal 10-13
4. www.kemenkes.go.id. Imunisasi Massal Campak dan Rubella diberikan pada
anak usia 9 bulan - kurang dari 15 tahun pada bulan Agustus di Sekolah dan
September di Puskesmas, Posyandu dan Fasilitas Kesehatan. 2017-2018
5. Soedarmo SSP, Gama H, Hadinegoro. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis
Edisi Kedua. 2012
6. Behrman RE., Kliegman RM. Nelson Esensi Pediatri. Edisi 4. EGC, Jakarta,
Indonesia. 2002. Hal 490-491
7. Rudolph AM, Hoffman JIE, Rudolph CD. Buku ajar Pediatri Rudolph
Volume 1. Edisi 20. . EGC, Jakarta, Indonesia. 2002. Hal 760-763
8. Komnas & Komda PGPKT. Rubela & Campak Penyebab Penyakit Berat Dan
Kecacatan/ Cacat Janin.
9. Yatim F. Cacat Congenital Akibat Rubella. Media Litbang Kesehatan Volume
X Nomor 1 Tahun 2000
10. Garna H. Infeksi Rubella. Buku Ajar Divisi Infeksi Dan Penyakit Tropis.
Depatemen Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran
RSUP. DR. Hasan Sadikin Bandung.