Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persalinan merupakan suatu proses fisiologis yang dialami oleh wanita.
Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi pada ibu untuk
dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir (Decherney et al, 2007). Tujuan
dari pengelolaan proses persalinan adalah mendorong kelahiran yang aman
bagi ibu dan bayi sehingga dibutuhkan peran dari petugas kesehatan untuk
mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan
bayi, sebab kematian ibu dan bayi sering terjadi terutama saat proses persalinan
(Koblinsky et al, 2006).
Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012
Angka Kematian Ibu (AKI) akibat persalinan di Indonesia masih tinggi yaitu
208/100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 26/1.000
kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2013). Penyebab tingginya angka kematian ibu
antara lain, terlalu muda atau terlalu tua saat melahirkan, tidak melakukan
pemeriksaan kehamilan secara teratur, dan banyaknya persalinan yang ditolong
oleh tenaga non profesional (Koblinsky et al, 2006). Hal ini sejalan dengan
penelitian Misar (2012) yang menyatakan bahwa kejadian komplikasi
persalinan ibu melahirkan dengan kualitas pelayanan kesehatan yang tidak baik
beresiko lebih besar untuk mengalami komplikasi dibanding ibu yang
mendapatkan kualitas pelayanan yang baik.
Tata laksanan ideal persalinan memerlukan dua sudut pandang yang berbeda.
Pertama, persalinan harus dikenali sebagai proses fisiologis normal yang sebagian
besar perempuan mengalaminya tanpa komplikasi. Kedua, komplikasi intrapartum
yang muncul secara cepat dan tiba-tiba harus diantisipasi. Petugas kesehatan harus
bisa membuat setiap perempuan yang melahirkan dan keluarga merasa nyaman
dan memastikan keselamatan ibu serta neonatus jika sewaktu-waktu terjadi
komplikasi (Cunningham et al, 2006).

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penjahitan Luka Episiotomi / Laserasi


1. Anestesi lokal, prinsip penjahitan perineum
Terjadinya robekan atau laserasi pada perineum perlu segera di
tangani secara hati-hati dan benar, kalau tidak segera di tangani akan
sangat membahayakan kondisi ibu karena kemungkinan terjadi infeksi
pada luka robekan sangat besar, karena pada saat jarum masuk jaringan
tubuh juga akan terjadi luka. Pada proses proses penjahitan robekan perlu
di perhatikan bahwa saat menjahit laserasi atau episiotomy harus di
gunakan benang yang panjang dan di usahakan sesedikit mungkin jahitan
untuk mencapai tujuan pendekatan dan hemostasis.
Anestasi local, prinsip penjahitan perineum Episiotomi adalah suatu
tindakan operatif berupa sayatan pada perineum meliputi selaput lendir
vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot
dan fascia perineum dan kulit depan perineum. Episiotomi adalah
pengguntingan jaringan yang terletak di antara lubang kemaluan (vagina)
dan lubang pelepasan (anus). Tujuannya untuk memperlebar jalan lahir
sehingga memudahkan proses lahirnya bayi. Episiotomi adalah insisi
perineum yang dimulai dari cincin vulva ke bawah, menghindari anus dan
muskulus spingter serta memotong fasia pervis, muskulus konstrikter
vagina, muskulus transversus perinei dan terkadang ikut terpotong serat
dari muskulus levator ani
Karena pada saat menjahit mungkin timbul rasa sakit yang berlebihan
maka perlu di gunakan anstesi local untuk mengurangi hal tersebut.
Setelah di berikan anastesi local perlu di uji apakah bahan anastesi sudah
bekerja atau belum dengan cara menyentuh luka dengan jarum yang tajam
atau dengan mencubit menggunakan pinset. Jika ibu merasa tidak nyaman
ulangi pemberian anastesi local. Anastesi local standar yang di gunakan
adalah lidokain 1% tanpa epinefrin (silokain), jika tidak tersedia gunakan

2
lidokain 2% dengan cara melarutkan 1 bagian lidokain 2% di tambah 1
bagian cairan garam fisiologis atau air destilasi steril. Ukuran dan panjang
jarum yang di gunakan tergantung pada laserasi nya. Sebuah jarum ukuran
22 dengan panjang 3-4 cm cukup untuk menginjeksikan anastesi
2. Penjahitan episiotomi / laserasi
Tindakan Episiotomi
a. Pegang gunting yang tajam dengan satu tangan.
b. Letakkan jari telunjuk dan tengah diantara kepala bayi dan perineum,
searah dengan rencana sayatan.
c. Tunggu fase acme (puncak his) kemudian selipkan gunting dalam
keadaan terbuka di antara jari telunjuk dan tengah.
d. Gunting perineum, dimulai dari fourchet (komisura posterior) 45˚ ke
lateral (kiri atau kanan).
Indikasi episiotomy :
a. Gawat janin
b. Persalinan pervaginam dengan penyulit (sungsang, tindakan vakum
ataupun vorsep)
c. Jaringan parut (perineum dan vagina) yang menghalangi kemajuan
persalinan
Hal yang perlu di perhatikan
Dalam melakukan penjahitan, perlu di perhatikan tentang :
a. Laserasi derajat I , yang tidak mengalami perdarahan tidak perlu di
lakukan penjahitan rupture hanya terjadi pada mukosa vagina,
komisura posterior, dan kulit perineum.
b. Laserasi derajat II, perlu menggunakan sedikit jahitan (rupture terjadi
pada mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum dan otot
perineum Penjahitan secara jelujur atau angka delapan)
c. Laserasi daerajat III, (rupture mengenai pada mukosa vagina,
komisura posterior, kulit perineum, otot perineum dan spingter ani.
rujuk)

3
d. Laserasi daerajat IV, menggunakan anastesi local, untuk memberikan
kenyamanan pada ibu (rupture mengenai pada mukosa vagina,
komisura posterior, kulit perineum, otot perineum otot spingter ani
dan rectum. rujuk).

B. Pendokumentasian Asuhan Persalinan Dan Bayi Baru Lahir


1. Pendokumentasian hasil asuhan kala I
Hal-hal yang perlu di dokumentasikan
Pendokumentasian dapat dilakukan dengan menggunakan hasil temuan
dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
A. Anamnesis
1. Nama, umur dan alamat
2. Gravida dan para
3. HPHT
4. Tapsiran persalinan
5. Alergi obat-obatan
6. Riwayat kehamilan, sekarang dan sebelumnya
7. Riwayat medis lainnya.
8. Masalah medis saat ini, dll.
B. Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan abdomen
- Menentukan TFU
- Memantau kontraksi uterus
- Memantau DJJ
- Memantau presentasi
- Memantau penurunan bagian terbawah janin
2. Pemeriksaan dalam
- Menilai cairan vagina
- Memeriksa genetalia externa
- Menilai penurunan janin
- Menilai penyusupan tulang kepala

4
- Menilai kepala janin apakah sesuai dengan diameter jalan
lahir
- Jangan melakukan pemeriksaan dalam jika ada perdarahan
pervaginam.
Format pendokumentasian kala I
Digunakan SOAP untuk mendokumentasikannya.
S : Subjektif
Menggambarkan hasil pendokumentasian anamnesis.
O : Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil
dari pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostic lain yang dirumuskan
dalam data focus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I varney.
A : Assesment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data
objektif dalam identifikasi yang meliputi :
1. Diagnosa atau masalah
2. Antisipasi diagnosa atau masalah potensial
3. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi,
kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah II, III dan IV varney.
P : Planning
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan pelaksanaan
tindakan dan evaluasi berdasarkan assessment sebagai langkah V, VI dan
VII varney.
2. Pendokumentasian hasil asuhan kala II
3. Anestesi lokal dan penjahitan luka peisiotomi / Laserasi
Jika perlukaan hanya mengenai bagian luar (superfisial) saja atau jika
perlukaan-perlukaan tersebut tidak mengeluarkan darah, biasanya tidak
perlu dijahit. Hanya perlukaan yang lebih dalam di mana jaringannya tidak
bisa didekatkan dengan baik atau perlukanaan yang aktif mengerluarkan
darah memerlukan suatu penjahitan. Perlu diingat prinsip-prinsip dasar
dari penyembuhan luka. Perlukaan bisa sembuh karena pembentukkan

5
jaringan-jaringan baru. Yakni, jaringan bekas luka akan tumbuh kembali
diantara kedua sisi luka untuk kemudian menyatu kembali. Penjahitan
akan membawa kedua sisi perlukaan menyatu untuk mempermudah
pertumbuhan jaringan bekas luka. Setiap kali tusukan jahitan dibuat,
jaringan akan terluka dan satu tempat baru masuknya bakteri akan tercipta.
Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menggunakan jumlah jahitan
yang sesedikit mungkin untuk merapatkan jaringan dan untuk
menghentikan pengeluaran darah dari perlukaan.
Tujuan dari penjahitan perlukaan perineum/episiotomi menurut
Pusdiknakes (2003) ialah :
1. Untuk mendekatkan jaringan-jaringan agar proses penyembuhan bisa
terjadi. Proses penyembuhan itu sendiri bukanlah hasil dari penjahitan
tersebut tetapi hasil dari pertumbuhan jaringnnya.
2. Untuk menghentikan perdarahan.
Setelah menetukan jenis laserasi yang terjadi, siapkanlah peralatan
yang diperlukan untuk penjahitan. Menjahit laserasi yang lebih dari satu
atau dua jahitan tanpa anestesi bukanlah tindakan asuhan sayang ibu.
Lidocaine 1% adalah cairan anestesi yang dianjurkan untuk penjahitan
episiotomi dan laserasi setelah kelahiran. Lidocaine 2% tidak dianjurkan
karena terlalu tinggi konsentrasinya dan bisa menimbulkan necrosis
jaringan. Lidocaine dengan epinephrine tidak dianjurkan karena akan
memperlambat penyerapan lidocaine dan akan memperpanjang efek
kerjanya. Tak satupun dari kedua efek tersebut diperlukan bagi penjahitan
episiotomy dan laserasi.
Ukuran dan panjang jarum serta banyaknya obat anestesi yang
diperlukan akan bergantung pada laserasinya. Sebuah jarum berukuran 22,
dengan panjang 3-4 cm sudah cukup untuk menginjeksikan anestesi
kedalam luka episiotomy, perluasan laserasi akibat episiotomy atau
robekan vagina. Akan tetapi, jarum yang berukuran lebih kecil hendaknya
dipakai pula untuk laserasi yang lebih kecil didaerah yang lebih peka.
Sebagai contoh, jarum yang berukuran 25, panjang 2-3 cm akan menjadi

6
pilihan yang lebih baik untuk menganestesi perlukaan klitoris. Bidan
hendaknya menggunakan kebijaksanaan klinis dalam menentukan jarum
mana yang harus dipakai.
4. Menolong peralinan APN
Tujuan APN adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberikan
derajat kesehatan yanga tinggi bagi ibu dan bayinya , melalui upaya yang
terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yantg seminimal
mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada
tingkat yang diinginkan (optimal)
5. Resusitasi BBL
Untuk beberapa bayi kebutuhan akan resusitasi dapat diantisipasi
dengan melihat faktor risiko, a.l.: bayi yang dilahirkan dari ibu yang
pernah mengalami kematian janin atau neonatal, ibu dengan penyakit
kronik, kehamilan multipara, kelainan letak, pre-eklampsia, persalinan
lama, prolaps tali pusat, kelahiran prematur, ketuban pecah dini, cairan
amnion tidak bening.
Walaupun demikian, pada sebagian bayi baru lahir, kebutuhan akan
resusitasi neonatal tidak dapat diantisipasi sebelum dilahirkan, oleh karena
itu penolong harus selalu siap untuk melakukan resusitasi pada setiap
kelahiran. Apabila memungkinkan lakukan penilaian APGAR.
Pada beberapa daerah dengan keterbatasan sumber daya manusia,
tempat dan atau alat, teknik resusitasi yang disampaikan berikut perlu
disesuaikan dengan keadaan setempat
6. Menolong persalinan sesuai APN
Untuk melakukan asuhan persalinan normal dirumuskan 58 langkah
asuhan persalinan normal sebagai berikut :
1. Mendengar & Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.
2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk
mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml
ke dalam wadah partus set.

7
3. Memakai celemek plastik.
4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn
sabun & air mengalir.
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan
digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan
oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan
vulva ke perineum.
8. Melakukan pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah lengkap
dan selaput ketuban sudah pecah.
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan
klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai –
pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik,
meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin
meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk
meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan
pastikan ia merasa nyaman.
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang
kuat untuk meneran.
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi
nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60
menit.
15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika
kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.
16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu

8
17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan
alat dan bahan
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm,
memasang handuk bersih untuk menderingkan janin pada perut ibu.
20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar
secara spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental.
Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut
gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul
dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk
melahirkan bahu belakang.
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk
menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas
untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas.
24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung
kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah
(selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)
25. Melakukan penilaian selintas :
a. Apakah bayi menangi kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?
b. Apakah bayi bergerak aktif ?
26. Mengeringkan tubuh bayi nulai dari muka, kepala dan bagian tubuh
lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk
basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam
uterus.
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus
berkontraksi baik.

9
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM
(intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi
sebelum menyuntikan oksitosin).
30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira
3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit
kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31. Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut
bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi
kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan
simpul kunci pada sisi lainnya.
33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di
kepala bayi.
34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva
35. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis,
untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan
kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah
doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, hentikan
penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya
dan mengulangi prosedur.
37. melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta
terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan
arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir
(tetap lakukan tekanan dorso-kranial).
38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta
dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan
kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran
plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.

10
39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri
dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian
palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)
40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan
untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah
lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.
41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan
penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu
paling sedikit 1 jam.
44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes
mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri
anterolateral.
45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi
Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan
pervaginam.
47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai
kontraksi.
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit
selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam
kedua pasca persalinan.
50. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas
dengan baik.
51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di
dekontaminasi.

11
52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa
cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian
bersih dan kering.
54. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk
membantu apabila ibu ingin minum.
55. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
56. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan
sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan
klorin 0,5%
57. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
58. Melengkapi partograf.

C. Melakukan Pendokumentasian Asuhan Persalinan Dan Bayi Baru Lahir


1. Pendokumentasian asuhan persalinan dan bayi baru lahir
Langkah 1.Pengkajian Data
Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang di
butuhkan untuk mengevaluasi keadaan bayi baru lahir.
a. Pengkajian segera setelah lahir
Pengkajian ini bertujuan untuk mengkaji adaptasi bayi baru lahir dari
kehidupan luar uterus,yaitu dengan penilaian APGAR,meliputi:
 Appearence(warna kulit)
 Pulse(denyut jantung)
 Grimace(reflek/respon terhadaprangsang)
 Activity9tonus otot)
 Respiration effort(usaha bernafas)
b. Pengkajian keadaan fisik
Setelah pengkajian segera setelah lahir,untuk memastikan bayi dalam
keadaan normal atau mengalami penyimpangan.

12
Langkah 2. Interpretasi Data
Melakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosis,masalah dan
kebutuhabnbayi berdasarkan data yang telah dikumpulkan pada langkah 1.
Langkah 3.Identifikasi Diagnosis Atau Masalah Potensial
Mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial yang mungkin akan
terjadi berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah di idendefikasi
Langkah 4. Identifikasi Dan Menetapkan Kebutuhan Yang Memerlukan
Penanganan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau doketr dan atau
ada hal yang perlu di konsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota
tim kesehatan tim lain sesuai kondisi bayi.contohnya adalah bayi tidak lahir
segera bernafas spontan dalam30 detik, segera lakukan resusitasi
Langkah 5. Merencanakan Asuahan Yang Menyeluruh
Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai dengan temuan
pada langkah sebelumnya.
Langkah 6. Melaksakan Perencanan
Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuahn secara efektif dan aman
Langkah 7. Evaluasi
Mengevaluasi keekfektifan asuhan yang sudah di berikan,mengulangi
kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap asuhan yang sudah
dilaksanakan tetapib belum efektif.
2. Pendokumentasian hasil asuhan persalinan kala I
Data Subyektif (S)
- Ibu datang dengan keluhan mules-mules + keluar darah lendir pada
tanggal Jam
- Ibu mengaku hamil cukup bulan
- Ibu hamil yang kedua kalinya dan tidak pernah mengalami keguguran
- Ibu mengatakan haid terakhir
- Anak I L. Spt 3100 gr
- Ibu merasakan pergerakan janin sejak umur kehamilan 20 minggu
sampai sekarang

13
- Tidak ada riwayat penyakit asma, jantung, hipertensi, diabetes melitus
dan alergi terhadap makanan dan obat-obatan
- Ibu mengeluh nyeri perut tembus belakang
DATA OBYEKTIF (O)
- Kesadaran komposmentis
- Kesadaran umum ibu baik
- Tanda-tanda vital : TD : 120/70 mmHg P:
18x/menit
N : 89x/menit S : 36, 50 C
- Tidak tampak oedema pada wajah, ekstermitas atas dan ekstermitas
bawah
- Pemeriksaan leopold :
§ Leopold I : TFU 32 cm (3 jari bawah px)
§ Leopold II : Punggung kanan
§ Leopold III : Persentase kepala
§ Leopold IV : Kepala sudah masuk PAP (q) 3/5
- Tonus otot perut tegang
- Pembesaran abdomen sesuai umur kehamilan
- DJJ (+) : 150x/menit, His (+) 3x dalam 10 menit selama 30 detik
- Tampak pengeluaran lendir bercampur darah
- Vagina toucher pukul 09.00, dengan hasil keadaan vagina elastis, portio
lunak, ketuban (+), pembukaan 5 cm, persentase kepala, ubun-ubun kecil
kanan depan, penurunan kepala HI – HII, kesan panggul normal
Assesment (A)
GII PI A0 hamil 39 minggu + 3 hari fase aktif, janin persentase kepala,
tunggal, hidup.
Planning (P)
§ Memberikan senyuman, salam, sapa pada ibu
- Ibu membalasnya dengan ramah
§ Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan
- Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan

14
§ Mengobservasi tanda-tanda vital, his, DJJ
- TD : 120/70 mmHg, N : 88x/menit, P: 18x/menit, S : 36,50 C
- His (+) 4x dalam 10 menit selama 30 detik, DJJ (+) 150x/menit
§ Menganjurkan ibu untuk mengatur posisi yang dirasa nyaman
- Ibu mengikuti anjuran yang diberikan
§ Mengupayakan tindakan untuk mengurangi respon nyeri karena
kontraksi
- Ibu melakukan masase pada daerah yang sakit
§ Menganjurkan ibu untuk relaksasi/pengaturan napas panjang-panjang
- Ibu mengikuti anjuran yang diberikan
§ Menganjurkan ibu untuk makan dan minum
- Ibu mengikuti anjuran yang diberikan
§ Menilai kembali kemajuan persalinan 4 jam kemudian melalui
pemeriksaan dalam
- Menilai kontraksi uterus, dan DJJ setiap 30 menit
§ Mempersiapkan alat partus, perlengkapan ibu dan bayi, serta obat-
obatan
- Alat partus, perlengkapan ibu dan bayi, serta obat-obatan tersedia
3. Pendokumentasian hasil persalinan kala II
Subyektif (S)
- Ibu mengatakan ingin BAB
- Ibu mengatakan ingin meneran
- Ibu mengatakan sakitnya bertambah
Obyektif (O)
- Keadaan umum ibu baik
- Tanda-tanda vital :
- DJJ 124x/menit
- Pembukaan serviks 10 cm
- Portio melesap
- Penurunan kepala HIII
- Kontraksi uterus 5 kali dalam 10 menit, durasi 45 detik

15
- Vulva dan anus membuka
- Perineum menonjol
ASSESMENT (A)
GII PI A0 hamil 39 minggu + 3 hari, inpartu kala III
PLANNING (P)
1. Memastikan adanya tanda gejala kala II
- Ada tanda gejala kala II yaitu perineum menonjol, vulva membuka,
adanya dorongan untuk meneran
2. Memastikan kelengkapan alat, bahan dan obat-obatan
- Alat, bahan dan obat-obatan telah dipersiapkan
3. Menyiapkan ibu dan diri untuk menolong (memakai celemek)
- Sudah memakai celemek
4. Mencuci tangan di bawah air mengalir
- Sesudah mencuci tangan dibawah air mengalir
5. Memakai sarung tangan DTT
- Telah memakai sarung DTT
6. Menyiapkan oxytocin spoit
- Sudah dimasukkan oxytocin dalam spoit
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan menggunakan kapas DTT
- Sudah membersihkan vulva dan perineum
8. Melakukan pemeriksaan dalam
- Telah dilakukan pemeriksaan dalam
9. Mendekominasi sarung tangan yang sudah dipakai VT
- Sarung tangan sudah didekontaminasi
10. Memeriksa DJJ menggunakan stateskop
- DJJ 124x/menit, irama teratur dan kuat
11. Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
baik
- Sudah memberitahu ibu dan ibu mengerti
12. Menganjurkan pada ibu untuk mengatur posisi ibu setengah duduk pada
saat meneran

16
- Ibu mau mengikuti anjuran bidan
13. Memimpin ibu meneran jika ada his dan anjurkan pada ibu istirahat
diantara kontraksi
- Ibu telah dipimpin pada saat ada his
14. Meletakkan handuk bersih diatas perut ibu
- Handuk telah diletakkan diatas perut ibu
15. Meletakkan kain segitiga dibawah bokong ibu
- Kain telah diletakkan dibawah bokong ibu
16. Memakai sarung tangan DTT untuk menolong persalinan
- Sarung tangan DTT sudah dipakai
17. Melahirkan kepala sambil menyokong perineum dan menahan puncak
kepala agar tidak terjadi defleksi yang terlalu cepat
- Kepala telah dilahirkan sambil perineum disokong
18. Membersihkan muka, mulut dan hidung bayi segera setelah lahir
- Muka, mulut dan hidung bayi telah dibersihkan
19. Memeriksa lilitan tali pusat
- Terdapat lilitan tali pusat yang tidak dapat dilonggarkan
20. Menunggu kepala janin melakukan pustaran paksi luar
- Kepala janin melakukan putaran paksi luar secara sempurna
21. Melahirkan kedua bahu secara biparietal
- Kedua bahu telah dilahirkan
22. Melahirkan badan bayi, dengan tangan kanan menunggu kepala, leher,
dan bahu
- Badan bayi telah dilahirkan
23. Melahirkan seluruh tungkai bayi dengan tangan kiri menyusuri
punggung hingga tungkai
- Seluruh tungkai bayi dilahirkan
24. Menilai bayi dengan cepat; tangis, gerak dan warna kulit
- Apgar score yaitu 9/10
25. Mengeringkan bayi dengan segera setelah lahir
- Bayi tlah dikeringkan dengan handuk bersih

17
26. Menjepit tali pusat dengan klem ± 3 cm dari pangkal tali pusat dan
klem 2 cm dari klem pertama
- Tali pusat telah dijepit dengan klem I dan klem II
27. Memotong tali pusat diantara kedua klem
- Tali pusat telah dipotong, dengan menggunakan gunting
28. Mengganti handuk bayi dengan kain yang bersih dan kering
- Handuk bayi telah diganti dengan kain yang bersih dan kering
29. Memberikan bayi pada ibunya untuk disusui
- Bayi telah diberikan pada ibunya
4. Pendokumentasian hasil persalinan kala III
Subyektif (S)
- Ibu mengatakan masih nyeri abdomen
Obyektif (O)
- Partus spontan LBK, jenis kelamin laki-laki
- Kontraksi uterus baik
- Plasenta belum lahir
Assesment (A)
Kala III persalinan (kala uri)
Planning (P)
1. Melakukan palpasi abdomen untuk meyakinkan janin tunggal
- Janin tunggal, TFU sejajar pusat
2. Memberitahu ibu jika ibu akan disuntik
- Ibu mengerti, dan telah disuntik
3. Memberikan suntikan oxytocin 10 10 1m dalam waktu 2 menit setelah
kelahiran bayi
- Telah diberikan suntikan suntikan oxytocin 10 10 1m
4. Melakukan PTT
- Memindahkan klem pada tali pusat 5 – 10 cm dari vulva
- Meletakkan tangan kiri diatas perut ibu dan tangan kanan memegang klem
pada tali pusat

18
- Pada saat uterus berkontraksi tangan kanan menarik tali pusat dengan hati-
hati ke arah bawah dan tangan kiri menekan korpus uteri ke arah dorso
kranial
Melahirkan plasenta dengan hati-hati
- Setelah plsenta lahir, tali pusat ditarik kebawah dengan hati-hati samapi
sebagian besar plasenta lahir dan tangan kanan kiri tetap menekan uterus
ke arah dorso kranial
Melakukan masase fundus uteri segera setelah plasenta lahir
- Uterus teraba bundar dan keras, TFU sejajar pusat
Memeriksa kelengkapan plasenta dan selaput ketuban
- Plasenta dan selaput ketuban utuh
Mengevaluasi adanya laserasi vagina dan perineum
- Adanya laserasi pada vagina derajat satu
Menilai ulang kontraksi uterus
- Kontraksi uterus baik teraba bundar dan keras
Mengevaluasi perdarahan pervaginam
- Perdarahan pervaginam ± 100 cc
5. Pendokumentasiana asuhan persalinan kala IV
SUBYEKTIF (S)
- Ibu mengatakan masih nyeri abdomen
OBYEKTIF (O)
§ KU ibu baik
§ Tanda-tanda vital
- TD : 110/70 mmHg
- N : 80x / menit
- S : 36,50 C
- P : 20x / menit
§ Kontraksi uterus baik
§ TFU sejajar pusat
Perdarahan ± 50 cc
ASSESMENT (A)

19
PII kala IV (kala pengawasan)
PLANNING (P)
1. Melakukan perawatan payudara
- Tali pusat sudah diikat dan dibungkus khas steril
2. Memberikan bagi pada ibunya untuk disusui
- Bayi telah diberikan pada ibunya untuk disusui
3. Mengobservasi tanda-tanda vital
- TD : 110/70 mmHg
- N : 80x / menit
- S : 36,50 C
- P : 20x / menit
4. Mengobservasi tinggi fundus uteri
- TFU sejajar pusat
5. Mengobservasi kontraksi uterus
- Kontraksi uterus baik teraba bundar dan keras
6. Mengobservasi kandung kemih
- Kandung kemih kosong
7. Mengobservasi perdarahan
- Perdarahan pervaginam ± 50 cc
8. Mengajarkan ibu dan keluarganya bagaimana melakukan masase uterus
dan cara memeriksa kontraksi uterus
- Ibu mengerti atas penjelasan yang diberikan
9. Membersihkan ibu dari darah,lendir dan sisa air ketuban
- Ibu telah dibersihkan dan ibu merasa nyaman
10. Mendekontaminasi tempat persalinan
- Tempat persalinan sudah didekontaminasi
11. Menganjurkan pada keluarga untuk memberi makan dan minum
- Ibu telah diberikan makanan dan minuman
12. Merendam semua perlatan yang sudah dipakai dalam larutan chlorin 0,5
% selama 10 menit

20
- Semua peralatan sudah direndam dalam larutan chlorin 0,5 % selama 10
menit
13. Menimbang BBL dan PBL
- BBL : 2400 gram
- PBL : 48 cm
14. Melengkapi portograf
- Portograf sudah dilengkapi
15. Memasang gurita dan duk setelah 2 jam post partum
- Gurita dan duk sudah terpasang
16. Menganjurkan pada ibu untuk menjaga kebersihan dirinya dan bayinya
17. Makan makanan yang bergizi
18. Minum obat sesuai anjuran dokter
19. Tidak boleh minum jamu
20. Setelah 2 minggu ibu dan bayi kontrol ke poli klinik
6. Pendokumentasian hasil BBL
1. Data Subjektif
a. Identitas
1) Identitas Bayi
Nama Bayi : Bayi Ny. A
Tanggal lahir :
Jenis Kelamin : Perempuan
b. Riwayat Persalinan sekarang
Riwayat persalinan :
1) Jenis persalinan : partus spontan letak belakang
kepala
2) Ditolong oleh : mahasiswi kebidanan (Giani Meilan).
3) Ketuban : warna jernih, tidak berbau
4) Komplikasi ibu dan janin : tidak ada
2. Data Objektif
a. Nilai APGAR
1 menit pertama 8 ; 5 menit kedua 9.

21
b. Antropometri
BB : 3400 gr, PB : 49 cm.
Pemeriksaan Fisik
1) TTV
S : 36,8°C
Nadi : 130 x/menit
R : 48 x/menit.
2) Kepala
Tidak terdapat caput succedenum.
Lingkar kepala :
 Fronto occipitalis : 34 cm.
 Mento occipitalis : 35 cm.
 Sub occipito bregmatika : 32 cm
3) Mata : Simetris, tidak ada perdarahan dan
kotoran. Sklera putih dan
konjungtiva merah muda dan
reflek mengedip positif.
4) Hidung : Tidak ada pernafasan cuping
hidung.
5) Mulut
Tidak ada labio palatoskizis.
Reflek rooting :positif,
Reflek sucking :positif
Refleks swallowing :positif.
6) Telinga : Simetris, sedikit kotor karena
belum dimandikan.
7) Leher
Tidak ada pembengkakan dan reflek tonicneck positif
8) Dada : Simetris tidak ada bunyi mur-mur dan
wheezing.
9) Perut : Normal, bentuknya cembung bising,

22
usus ada, tidak ada pembesaran
hepar.
10) Tali pusat : basah namun tidak ada
perdarahan.
11) Kulit : Kemerahan, turgor baik.
12) Punggung : Tidak ada spinabifida.
13) Ekstremitas atas : Tidak ada polidaktili dan
Sindaktili,refleks grasping positif.
14) Ekstremitas bawah : Simetris, tidak ada kelainan.refleks
plantar positif dan reflek babinski
positif.
15) Genitalia : Labia mayora menutupi labia
minora.
16) Anus : Berlubang, tidak ada kelainan.
Eliminasi : Bayi sudah BAK dan belum BAB.
3. Assesment
Neonatus cukup bulan sesuai masa kahamilan usia 2 jam dengan kondisi
baik.
4. Planning
Tanggal
Jam
Memperhatikan eliminasi dalam 24 jam dan observasi TTV
Evaluasi : Hasil pemeriksaan : TTV : S : 36,8°C BJA : 130 x/menit R : 48
x/menit, Jam 03.20 WIB pengeluaran urine (BAK).
Melakukan pencegahan kehilangan panas dengan cara tidak meletakan bayi
di atas benda yang suhunya lebih rendah dari suhu tubuhnya, menutup pintu
dan jendela rapat-rapat, mengganti pakaian bayi jika basah dan tidak
meletakan bayi di dekat benda yang suhunya lebih rendah dari suhu
tubuhnya.
Evaluasi : Bayi tetap hangat.

23
Melakukan perawatan tali pusat dengan cara membersihkan ujung tali pusat
menggunakan air yang sudah matang dan keringkan, lalu bungkus tali pusat
menggunakan kassa steril.
Evaluasi : tali pusat bersih dan kering.
Kontak dini dengan ibu
Evaluasi : menunjukkan bayi pada ibunya
e. Memberikan konseling pada ibu tentang :
Menjaga kehangatan bayi dengan cara ibu lebih sering mendekap bayi, tata
ruangan yang hangat untuk mencegah hipotermi
Cara memberikan ASI yang benar, yaitu dengan cara meletakan bayi di
tangan ibu posisi kepala di sikut ibu, posisi perut bayi menempel dengan
perut ibu dan sesering mungkin
Cara merawat tali pusat dengan cara membersihkannya menggunakan air
matang dan membungkusnya dengan kassa steril
Mengawasi tanda-tanda bahaya pada bayi, seperti pernafasan lebih cepat,
suhu yang panas, tali pusat merah atau bernanah, nata bengkak, tidak ada
BAK atau BAB dalam 24 jam
Evaluasi : Ibu mengerti dengan penjelasan tentang perawatan bayi dan
mengerti tentang tanda-tanda bahaya pada bayi.
I. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir 6 Jam
Tanggal :
Subjektif :
Ibu merasa bahagia dengan kehadiran bayinya yang sehat dan sempurna.
Ibu mengatakan bahwa bayinya sudah mau menyusu sejak 1 jam lahir.
Objektif :
TTV : S : 36,6°C BJA : 132 x/menit
R : 43 x/menit
1. Mata : Sklera putih, Conjungtiva merah muda.
2. Pernafasan regular dan bunyi nafas normal tidak ada wheezing.
3. Tali pusat bersih dan tidak mengalami perdarahan.
4. Eliminasi : BAB 1 kali dan BAK 4 kali.

24
3. Assesment :
Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan usia 6 jam dengan
kondisi baik.
Kebutuhan :
1) Nutrisi atau ASI
2) Kebersihan dan kenyamanan
3) Menjaga kehangatan bayi
4. Planning :
a. Mengobservasi TTV
Evaluasi : S : 36,6ºC R : 43 x/ menit
BJA : 132x/ menit
BB bayi : 3400 gram PB bayi : 49 cm
Memandikan bayi dan mengajarkan ibu cara-cara memandikan.
Evaluasi : Bayi telah dimandikan dan ibu memahami cara memandikan.
Memberi konseling pada ibu, yaitu jaga kehangatan, usahakan selalu
bersama ibu dan menjaga kebersihan tali pusat. Penkes tentang perawatan
tali pusat yaitu membersihkan tali pusat dengan air yang sudah matang,
keringkan, tutup dengan kasa steril dan jangan diberikan alcohol ataupun
bethadine.
Evaluasi : Ibu mengatakan mengerti dan akan melakukannya.
Memberitahu ibu untuk menjemur bayinya setiap pagi dari jam 07.30 WIB
– 08.00 WIB, agar bayinya tidak kuning.
Evaluasi : Ibu akan melakukannya.
Menganjurkan pada ibu agar menyusui bayinya sesering mungkin yaitu
setiap 2 jam.
Evaluasi : Ibu akan melakukannya.
Memberitahu ibu untuk immunisasi Hepatitis B 0 dan Polio 1 pada
Evaluasi : Ibu mengatakan akan datang

25
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Persalinan normal adalah pengeluaran hasil konsepsi yang dikandung selama
37 – 42 minggu, presentasi belakang kepala / ubun-ubun kecil di bawah
sympisis melalui jalan lahir biasa, keluar dengan tenaga ibu sendiri, disusul
dengan pengeluaran plasenta dan berlangsung kurang dari 24 jam. Setelah
persalinan ibu maupun bayi dalam kondisi baik.
Kelahiran bayi merupakan pristiwa penting bagi kehidupan seorang pasien dan
keluarganya. Sangat penting untuk diingat bahwa persalinan adalah proses
yang normal dan merupakan kejadian yang sehat. Namun demikian, potensi
terjadinya komplikasi yang mengancam nyawa selalu ada sehingga bidan harus
mengamati dengan ketat pasien dan bayi sepanjang proses melahirkan.
Dukungan yang terus menerus dan penatalaksanaan yang trampil dari bidan
dapat menyumbangkan suatu pengalaman melahirkan yang menyenagkan
dengan hasil persalinan yang sehat dan memuaskan.

B. Saran
1. Diharapkan mahasiswi mampu dalam melakukan asuhan Kebidanan pada
ibu yang bersalin normal sesuai teori dan metode yang telah ditentukan.
2. Diharapkan mahasiswi dapat meningkatkan pengetahuan keterampilan
dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu bersalin.

26