Anda di halaman 1dari 112

zzzzzzzzzzzzzz

BUKU PANDUAN
_____________________________________________________
PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS-1
PROGRAM STUDI ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP. DR. MOHAMMAD HOESIN

Edisi ke-2, tahun 2017

Penyusun:
Zulkifli, dr, SpAn. KIC, M.Kes, MARS
Rizal Zainal, dr, SpAn. KMN
Yusni Puspita, dr, SpAn. KAKV. KIC, M.Kes
Fredi Heru Irwanto, dr, SpAn
Mayang Indah Lestari, dr, SpAn

Diterbitkan oleh:
Departemen / Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

i
BUKU PANDUAN
_____________________________________________________
PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS-1
PROGRAM STUDI ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP. DR. MOHAMMAD HOESIN

Edisi ke-2, tahun 2017

Penyusun:
Zulkifli, dr, SpAn. KIC, M.Kes, MARS
Rizal Zainal, dr, SpAn. KMN
Yusni Puspita, dr, SpAn. KAKV. KIC, M.Kes
Fredi Heru Irwanto, dr, SpAn
Mayang Indah Lestari, dr, SpAn

Diterbitkan oleh:
Departemen / Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
2017

ii
Hak Cipta 2011 pada Penulis
Buku Panduan Pendidikan Dokter Spesialis-1
Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif

Cetakan Pertama Desember 2011


Cetakan Kedua November 2017
Hak Cipta Dilindungi Undang – Undang

Zulkifli, dr, SpAn. KIC, M.Kes, MARS


Rizal Zainal, dr, SpAn. KMN
Yusni Puspita, dr, SpAn. KAKV. KIC, M.Kes
Fredi Heru Irwanto, dr, SpAn
Mayang Indah Lestari, dr, SpAn

Dicetak oleh: Penerbit Unsri Press


Jalan Srijaya Negara Bukit Besar Palembang 30139
Telepon 0711-360969-373422, fax 0711-360969

Email: unsri.press@yahoo.com
Website: www.unsripress.unsri.ac.id

Palembang: Unsri Press 2017


Setting & Layout: Bernhard A. Purba, Afriza Rizki Z.
Cetakan Pertama : Desember 2011
Cetakan Kedua: November 2017
xii+98 halaman : 21.59x26.94 cm
ISBN:979-587-716-X

Hak cipta dilindungi undang undang. Dilarang memperbanyak


sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun,baik secara
elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau
dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin
tertulis dari Penerbit Hak Terbit Pada Unsri Press

iii
iv
KATA PENGANTAR DEKAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Visi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya adalah mencerdaskan kehidupan


bangsa dan menjadi lembaga pendidikan kedokteran terkemuka di tanah air. Sejalan
dengan itu dalam kurun 5 dasawarsa usianya saat ini Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya secara terus menerus mengupayakan berbagai usaha untuk
mengembangkan sarana dan fasilitas, pengembangan mutu dan jumlah SDM,
pembukaan program studi baru dan pembinaan kerjasama lintas sektoral.

Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya


berdiri sebagai jawaban dari tantangan kebutuhan tenaga ahli anestesiologi di
Indonesia yang sudah sangat mendesak terutama di lingkungan regional sumatera
bagian selatan disamping pemenuhan upaya mengemban salah satu misi fakultas
yaitu pengembangan diri dengan membuka program studi baru.

Untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar dan sebagai pedoman peserta
didik dan penyelenggara pendidikan, maka bagian Anestesiologi Dan Terapi Intensif,
dalam usianya yang relatif muda, dengan mengacu pada Standar Nasional
Pendidikan dan Standar Kompetensi Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi
Intensif tahun 2016 yang diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia yang telah
berhasil menyusun buku panduan institusi Pendidikan Dokter Spesialis-1
Anestesiologi dan Terapi Intensif. Kami berharap buku ini akan dipedomani dengan
baik dan dievaluasi secara terus menerus sehingga selalu up to date sesuai dengan
kebutuhan.

Untuk semua upaya yang telah berhasil dilaksanakan, kami selaku pimpinan
Fakultas menucapkan selaat dan sekaligus ucapan terimakasih kepada Bagian
Anestesi dan Terapi Intensif. Semoga apa yag kita cita-citakan bersama dapat
tercapai dengan pertolongan Tuhan YME.

Dekan Fakultas Kedokteran


Universitas Sriwijaya

dr. Syarif Husin, MS

v
KATA PENGANTAR KEPALA DEPARTEMEN/BAGIAN
ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF FK UNSRI – RSMH

Assalamualaikum Wr.Wb,
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahNya sehingga revisi Buku Panduan Pendidikan Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Palembang ini dapat diselesaikan. Buku panduan ini diharapkan menjadi acuan bagi
pelaksanaan proses pendidikan dokter spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
yang telah disesuaikan dengan kurikulum yang telah ditetapkan oleh Kolegium
Anestesi dan Terapi Intensif Indonesia (KATI) dan disahkan oleh Konsil Kedokteran
Indonesia.

Pendidikan kedokteran pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan mutu


kesehatan bagi seluruh masyarakat. Pendidikan dokter adalah pendidikan akademik
dan profesi yang menghasilkan dokter umum, sedangkan pendidikan dokter spesialis
adalah suatu program pendidikan untuk mencapai kompetensi tertentu dan
merupakan jenjang pendidikan lanjut pendidikan dokter.

Buku panduan ini disusun berdasarkan acuan normatif yang berlaku di lingkungan
Universitas Sriwijaya (UNSRI), acuan normatif yang berlaku di lingkungan organisasi
profesi (PERDATIN) khususnya, Kolegium Anestesi dan Terapi Intensif (KATI), dan
acuan normatif yang berlaku di lingkungan RSUP Dr.Moh.Hoesin Palembang.

Buku panduan ini sangat jauh dari kesempurnaan dan memuaskan berbagai pihak,
masukan dan saran sangat diharapkan untuk lebih menyempurnakan pengelolaan
dan pelaksanaan proses belajar mengajar peserta program di Program Studi
Anestesiologi dan Terapi Intensif.

Ketua Bagian/Departemen Anestesi dan Terapi Intensif


Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang

dr.Zulkifli, Sp.An, KIC, MKes. MARS

vi
KATA PENGANTAR KETUA PROGRAM STUDI
ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF FK UNSRI – RSMH

Buku panduan ini disusun berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Dokter


Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif yang telah disepakati dan
berlaku di seluruh pusat Pendidikan Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif
berdasarkan Perkonsil No.37 tahun 2016 dan No.38 tahun 2016.

Sesuai dengan judulnya, buku ini berisi rincian proses belajar mengajar di
Program Pendidikan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif FK
Unsri agar peserta didik dapat mencapai kompetensi yang memiliki
integritas keilmuan yang tinggi dan profesional.

Proses belajar mengajar dapat berlangsung baik tentunya memerlukan


perangkat pendidikan mulai dari sistem pendidikan, kurikulum yang terpadu
dan selaras, perangkat pendukung seperti staf pengajar, serta kelengkapan
sarana pendidikan.

Semoga Allah SWT dapat mewujudkan apa yang kita cita-citakan bersama.
Amin.

Ketua Program Studi Anestesi dan Terapi Intensif


Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang

Dr. Rizal Zainal, Sp.An, KMN,FIPM

vii
DAFTAR SINGKATAN

Dirjen Direktorat jenderal


IPDS Institusi Pendidikan Dokter Spesialis
KKNI Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
KATI Kolegium Anestesi dan Terapi Intensif Indonesia
KPS Ketua Program Studi
UNSRI Universitas Sriwijaya
PERDATIN Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi
Intensif
PERKONSIL Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia
PPDS Program Pendidikan Dokter Spesialis
RSMH Rumah Sakit Moh.Husein
RSUP Rumah Sakit Umum Pusat
WHO World Health Organization
EKG Elektrokardiografi
USG Ultrasonografi
THT Telinga Hidung Tenggorokan
MKB Mata Kuliah Keahlian Berkarya
MKK Mata Kuliah Keahlian
MPK Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
SKS Satuan Kredit Semester
MPB Mata Kuliah Perilaku Berkarya
MBB Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat
ICU Intensive Care Unit
PACU Post Anesthesia Care Unit
RJPO Resusitasi Jantung Paru Otak
RR Recovery Room
HCU High Care Unit
CRRT Continuous Renal Replacement Therapy
NICU Neonatus Intensive Care Unit
viii
PICU Pediatric Intensive Care Unit
IPSG International Patient Safety Goals
COPD Chronic Obstructive Pulmonary Disease
DM Diabetes Mellitus
MKDU Mata Kuliah Dasar Umum
MKDK Mata Kuliah Dasar Keahlian
KKSD Keterampilan Klinis Spesialis Dasar
PTC Primary Trauma Care
ALS Advanced Life Support
ACLS Advanced Cardiac Life Support
CVC Central Venous Catheter
KKSL Keterampilan Klinis Spesialis Lanjut
KPS Ketua Program Studi
SPS Sekretaris Program Studi
KBB Kedokteran Berbasis Bukti
Mini-PAT Mini-Peer Assessment Tool
DOPS Direct Observation Procedural Skill
CbD Case-based Discussion
KUN Komisi Ujian Nasional
OSCE Objective Structured Clinical Examination
MPL Minimum Passing Level
BLS Basic Life Support
PS Program Studi
PUN Penguji Ujian Nasional
IPK Indeks Prestasi Kumulatif
GELS General Emergency Life Support
IDI Ikatan Dokter Indonesia
PTT Pegawai Tidak Tetap
SKKB Surat Keterangan Berkelakuan Baik
PDPT Pangkalan Data Perguruan Tinggi
SULIET Sriwijaya University Language Institute English Test
ix
UKDI Uji Kompetensi Dokter Indonesia
UKMPPO Ujian Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter
FCCS Fundamental Critical Care Support
TOEFL Test of English as a Foreign Language
MMPI Minnesota Multiphasic Personality Inventory
BAAK Biro Administrasi dan Akademik dan Kemahasiswaan

x
DAFTAR ISI

SK DEKAN TENTANG BUKU PANDUAN PENDIDIKAN DOKTER


SPESIALIS - 1 PROGRAM STUDI ANESTESIOLOGI DAN TERAPI
INTENSIF ........................................................................................................ iv

KATA PENGANTAR DEKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


SRIWIJAYA ...................................................................................................... v

KATA PENGANTAR KEPALA DEPARTEMEN / BAGIAN


ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF FK UNSRI – RSMH ................... vi

KATA PENGANTAR KETUA PROGRAM STUDI ANESTESIOLOGI DAN


TERAPI INTENSIF FK UNSRI – RSMH ........................................................... vii

DAFTAR SINGKATAN ..................................................................................... viii

DAFTAR ISI ..................................................................................................... xi

BAB I VISI , MISI, DAN TUJUAN ................................................................... 1

BAB II STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN PROFESI ANESTESIOLOGI


DAN TERAPI INTENSIF...................................................................... 2

BAB III STANDAR PENDIDIKAN .................................................................... 23

BAB IV ORGANISASI MATERI ...................................................................... 34

BAB V MONITORING DAN EVALUASI .......................................................... 39

BAB VI EVALUASI HASIL BELAJAR ............................................................. 40

BAB VII PESERTA DIDIK ............................................................................... 57


xi
BAB VIII DOSEN / STAF PENGAJAR ............................................................. 73

BAB IX SUMBER DAYA PENDIDIKAN .......................................................... 79

BAB X PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT ........................................... 81

BAB XI PENYELENGGARA PROGRAM DAN ADMINISTRASI


PENDIDIKAN ..................................................................................... 83

BAB XII EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN .............................................. 90

BAB XIII PROGRAM ADAPTASI ................................................................... 92

BAB XIV PEMBARUAN BERKESINAMBUNGAN .......................................... 96

BAB XV PENUTUP ......................................................................................... 97

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xii
BAB I
VISI, MISI, DAN TUJUAN

VISI
Menjadi pusat pendidikan dan rujukan nasional dalam bidang
Anestesiologi dan Terapi Intensif berstandar internasional pada
Tahun 2025.

MISI
1. Menyelenggarakan pendidikan Anestesiologi dan Terapi Intensif
yang berstandar internasional.
2. Melaksanakan penelitian yang menunjang pengembangan ilmu
dan teknologi dalam bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif.
3. Menyelenggarakan pelayanan dan pengabdian kepada
masyarakat dalam bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif yang
prima, aman, informatif, efektif, dan manusiawi.
4. Menjalin kemitraan dan melaksanakan sistem rujukan dengan
rumah sakit jejaring.

TUJUAN
1. Menghasilkan lulusan yang profesional menjunjung etika profesi
dan mampu bersaing dalam tingkat nasional maupun
internasional.
2. Menghasilkan produk penelitian yang bermanfaat bagi institusi
dan masyarakat serta terpublikasi.
3. Menghasilkan lulusan yang mampu memberikan pelayanan
Anestesiologi dan Terapi Intensif sesuai dengan perkembangan
ilmu terkini dan sesuai dengan standar keselamatan pasien
dengan efektif, aman dan manusiawi.

1
4. Memberikan pelayanan kedokteran yang berbasis akademik,
unggul, menjadi sumber rujukan nasional dan berstandar
internasional.

2
BAB II
STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
PROFESI ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

2.1 Profil Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif


Dokter spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif lulusan
Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri bekerja di
Indonesia harus mempunyai kualitas bintang lima (WHO five star
doctor) dengan peran dan ciri sebagai berikut:
1. Care Provider
Lulusan mampu memberikan layanan anestesi paripurna (baik
secara fisik, psikologis, sosial, kultural, spiritual) dan aman
berstandar nasional dan internasional.
2. Communicator
Lulusan mampu menjalin komunikasi medis persuasif antar
individual baik dengan pasien, keluarga pasien, komunitas/
masyarakat, paramedis dan sejawat intra/ multidisiplin/
institusional dalam rangka mengutamakan kesehatan penderita.
3. Decision maker
Lulusan mampu menjadi pengambil keputusan yang terbaik untuk
keselamatan dan keamanan penderita dengan tetap
mempertimbangkan aspek sosial, spiritual dan kultural saat
dihadapkan dengan suatu pilihan yang sulit dan keterbatasan
sarana dan prasarana.
4. Manager
Lulusan memiliki kemampuan manajerial sehingga mampu
mengelola suatu sistim kerjasama multidisiplin yang konstruktif
dalam penentuan keputusan medis yang terbaik bagi individual,
komunitas dan institusi.

2
5. Community Leader
Lulusan mempunyai kemampuan sebagai pemimpin layanan
Anestesiologi dan Terapi Intensif yang baik terutama dalam hal
pencegahan, terapi, rehabilitasi, dan pengembalian fungsi
sebagai individu seutuhnya, sehingga mampu mendorong
membuat suatu sistem pelayanan lebih baik.
6. Researcher
Lulusan mampu menghasilkan penelitian yang berkualitas,
bermanfaat dan manusiawi dalam rangka pengembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan pelayanan anestesi

2.2 Standar Kompetensi


Standar kompetensi program studi Anestesiologi dan Terapi
Intensif terdiri atas 7 (tujuh) area kompetensi yang diturunkan dari
gambaran tugas, peran dan fungsi seorang dokter spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif. Setiap area kompetensi dijabarkan
lebih lanjut menjadi kemampuan yang kemudian disebut sebagai
kompetensi inti:
1. Area Etika Profesionalisme dan Patient safety
Kompetensi untuk selalu berperilaku profesional dalam praktik
kedokteran mendukung kebijakan kesehatan, bermoral dan
beretika serta memahami isu-isu etik maupun aspek medikolegal
dalam praktik kedoktran dan menerapkan program patient safety.
2. Area Mawas diri, Pengembangan Diri dan Penelitian
Kompetensi dalam melakukan praktik kedokteran dengan penuh
kesadaran atas kemampuan dan keterbatasan terutama dalam
bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif, mengatasi masalah
emosional, personal, kesehatan, dan kesejahteraan yang dapat
mempengaruhi kemampuan profesinya, belajar sepanjang hayat,
merencanakan, menerapkan dan memantau perkembangan
profesi secara berkesinambungan.
3
3. Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran khususnya Anestesiologi
dan Terapi Intensif
Kompetensi untuk mengidentifikasi, menjelaskan dan merancang
penyelesaian masalah kesehatan secara ilmiah dan profesional
menurut ilmu kedokteran / kesehatan mutakhir untuk memberikan
hasil yang optimal.
4. Area Keterampilan Klinis
Kompetensi dalam melakukan prosedur dengan tepat dan efektif
sesuai dengan fasilitas dan kondisi pasien, untuk mengatasi
masalah kesehatan dan promosi kesehatan di bidang
Anestesiologi dan Terapi Intensif.
5. Area Pengelolaan Masalah Kesehatan
Kompetensi untuk mengelola masalah kesehatan pada induvidu,
keluarga, ataupun masyarakat secara komprehensif, holistic,
berkesinambungan, koordinatif, dan kolaboratif serta
menggunakan bukti ilmiah dalam konteks pelayanan kesehatan
terutama di bidang Anetsesiologi dan Terapi Intensif
6. Area Komunikasi Efektif dan Kemampuan Kerjasama
Kompetensi dalam melakukan komunikasu dan hubungan antar
manusia yang menghasilkan pertukaran informasi secara efektif
dan kerjasama yang baik dengan pasien dan keluarganya,
sejawat dan masyarakat serta profesi lain.
7. Area Pengelolaan Informasi
Kompetensi dalam mengakses, mengelola, menilai secara kritis
kesahihan dan kemampu-terapan informasi untuk menjelaskan
dan menyelesaikan masalah, atau mengambil keputusan,
berkaitan dengan pelayanan kesehatan terhadap pasien
khususnya bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif.

4
Standar kompetensi lulusan merupakan kriteria minimal
tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan
capaian pembelajaran lulusan. Standar kompetensi lulusan yang
dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran (learning outcome)
lulusan digunakan sebagai acuan utama pengembangan kurikulum
pendidikan.
Capaian pembelajaran (Learning outcome) mengacu pada
profil, area kompetensi dan memiliki kesetaraan dengan jenjang
kualifikasi pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) level
8. Jenjang KKNI level 8 dideskripsikan sebagai berikut :
1. Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan atau seni
di dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui
riset, hingga menghasilkan karya inovatif dan teruji
2. Mampu memecahkan permasalahan sains, teknologi, dan atau
seni di bidang keilmuannya melalui pendekatan inter atau
multidisipliner
3. Mampu mengelola riset dan pengembangan yang bermanfaat
bagi masyarakat dan keilmuan
4. Mampu mendapat pengakuan nasional maupun internasional

2.3 Kurikulum Inti Pendidikan Spesialis Anestesiologi dan Terapi


Intensif
Kurikulum inti adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai isi maupun bahan kajian dan pembelajaran serta cara
penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan belajar – mengajar untuk mencapai
Kompetensi Utama yang ditetapkan KATI. Kurikulum inti berkisar
antara 40% - 80% dari jumlah SKS kurikulum program sarjana.

5
Kurikulum inti bersifat nasional dan merupakan pembeda dengan
program pendidikan spesialis lain.
Kurikulum inti terdiri dari 5 (lima) kelompok mata kuliah yang
diberikan ke dalam 3 (tiga) tahapan pendidikan. Berdasarkan
kepmendiknas no. 232/U/2000 dan kepmendiknas 045/U/2002,
kompetensi pendidikan tinggi juga harus memuat 5 (lima) elemen
kompetensi. Elemen-elemen kompetensi merupakan bahan substansi
kajian kompetensi dalam proses pembelajaran. Elemen-elemen
kompetensi itu terdiri atas:
1. Landasan kepribadian
Elemen kompetensi ini diimplementasikan menjadi Kelompok
mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK). MPK adalah
kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan
manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan
Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian
mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.
2. Penguasaan ilmu dan keterampilan
Elemen kompetensi ini diimplementasikan menjadi Kelompok
mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK). MKK adalah
kelompok bahan kajian dan pelajaran yang ditujukan terutama
untuk memberikan landasan penguasaan ilmu dan ketrampilan
tertentu.
3. Kemampuan berkarya
Elemen kompetensi ini diimplementasikan menjadi Kelompok
mata kuliah keahlian berkarya (MKB). MKB adalah kelompok
bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan menghasilkan tenaga
ahli dengan kekaryaan berdasarkan dasar ilmu dan ketrampilan
yang dikuasai.
4. Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian
berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai Elemen
6
kompetensi ini diimplementasikan menjadi Kelompok mata kuliah
perilaku berkarya (MPB). MPB adalah kelompok bahan kajian dan
pelajaran yang bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku
yang diperlukan seseorang dalam berkarya menurut tingkat
keahlian berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan yang dikuasai.
5. Pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan
pilihan keahlian dalam berkarya.
Elemen kompetensi ini diimplementasikan menjadi Kelompok
mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB). MBB adalah
kelompok bahan kajian dan pelajaran yang diperlukan seseorang
untuk dapat memahami kaidah berkehidupan bermasyarakat
sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.

2.4 Rumusan Capaian Pembelajaran (Learning Outcome)


Berdasarkan Kepmendikbud nomor 49 tahun 2014, rumusan
sikap, pengetahuan dan keterampilan umum yang harus dicapai
dalam capaian pembelajaran pendidikan spesialis-1 merupakan satu
kesatuan rumusan capaian pembelajaran. Rumusan capaian
pembelajaran pendidikan profesi dokter spesialis Anestesiologi dan
Terapi Intensif adalah sebagai berikut:
1. Rumusan Sikap
a. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu
menunjukkan sikap religius;
b. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan
tugas berdasarkan agama, moral, dan etika;
c. Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan kemajuan
peradaban berdasarkan Pancasila;
d. Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah
air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggungjawab pada
negara dan bangsa;
7
e. Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama,
dan kepercayaan, serta pendapat atau temuan orisinal orang
lain;
f. Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian
terhadap masyarakat dan lingkungan;
g. Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara;
h. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
i. Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di
bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif secara mandiri;
j. Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan
kewirausahaan.
k. Etika profesionalisme dokter Spesialis Anestesiologi dan
Terapi Intensif yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat
yang mempunyai kemampuan yang baik dalam sikap
terhadap penderita, sikap terhadap staf pendidik dan kolega,
sikap terhadap paramedis dan non paramedis, disiplin dan
tanggung jawab, ketaatan pengisian dokumen medik,
ketaatan tugas yang diberikan, dan ketaatan melaksanakan
pedoman penggunaan obat dan alat.
l. Komunikasi terhadap kolega, pasien/ keluarga, paramedis
dan staf pengajar dilakukan dengan jujur, terbuka, dan
bersikap baik.
m. Kerjasama yang baik antara kolega, dokter, perawat,
karyawan kesehatan, pasien dan keluarga pasien dan bisa
bekerjasama dalam bentuk tim secara harmonis untuk
pelayanan secara optimal.
n. Mengikuti kaidah-kaidah patient safety antara lain : IPSG 1-6
(Identifikasi, Cuci tangan, Time Out, Komunikasi efektif,
Pencegahan Infeksi, dan Pemberian Obat).

8
2. Rumusan Pengetahuan
a. Ilmu Kedokteran Dasar
1. Memahami fisiologi fungsi tubuh dalam keadaan normal,
hubungan antara fungsi tersebut dengan perubahan
fungsi yang dapat timbul dalam praktek anestesi.
Utamanya adalah fisiologi nyeri, respirasi, sirkulasi,
susunan saraf pusat dan perifer, pertemuan
neuromuscular (neuromuscular junction), ginjal, metabolik,
dan endokrin.
2. Memahami farmakologi, meliputi prinsip-prinsip
farmakologi umum, farmakokinetika dan farmakodinamika
obat-obat anestesi/analgesi, obat-obat emergensi dan
obat-obat pendukung yang lain.
3. Memahami prinsip sifat-sifat fisika dan kimia dalam
aplikasi Anestesiologi dan Terapi Intensif.
4. Memahami teori dasar-dasar keseimbangan cairan, asam-
basa dan elektrolit.
5. Memahami aplikasi ilmu dasar Anestesiologi dan Terapi
Intensif pada praktek anestesi dan terapi intensif.

b. Ilmu Kedokteran Klinis Spesialis Dasar (Basic Specialist)

Kognitif
1. Memahami prinsip-kerja alat atau mesin anestesia,
demikian pula alat-alat monitor invasif, non-invasif, EKG,
oksimeter pulsa, kapnograf, stimulator saraf, USG
(ultrasonografi), fluroskopi / C-Arm.
2. Memahami / menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium,
foto thorax, scan kepala, EKG, dan lain-lain.
3. Memahami cara mengatur posisi pasien yang aman
selama operasi dan mengetahui akibat buruknya.

9
4. Memahami kelaikan mesin anestesi dan ventilator serta
mesin dan peralatan pendukung lainnya.
5. Menguasai pengetahuan tentang patofisiologi penyakit
yang menyertai kondisi pasien, dihubungkan dengan
tindakan anestesi.
6. Memahami fisiologi dan patofisiologi penyakit pasien
pediatri dan neonatus.
7. Memahami teori anestesi pada bedah pediatri.
8. Memahami teori anestesi regional yang meliputi saraf-
saraf tepi, subarakhnoid dan epidural.
9. Memahami teori premedikasi, induksi, pemeliharaan
anestesia dan pengelolaan pascaanestesia/pascabedah .
10. Memahami problema kekhususan anestesia pada bedah
umum, bedah kepala leher THT, bedah mata, bedah
obstetri.
11. Memahami tanda-tanda abnormal atau komplikasi-
komplikasi yang timbul akibat teknik dan pemberian
anestesia yang dilakukan tidak benar, serta mampu
dengan cepat mengenal dan mengatasi problem tersebut.
12. Memahami secara dini keadaan darurat yang mengancam
nyawa, baik pada waktu induksi, selama maupun pasca-
anestesia, serta mengetahui cara cara mengatasinya.
13. Memahami teori tindakan resusitasi jantung paru otak.
14. Memahami pengelolaan pasien trauma dalam kegawatan
yang mengancam nyawa dan atau cacat.
15. Memahami teori nyeri akut dan nyeri kronis.

Psikomotor
1. Mampu melakukan penilaian kondisi pasien pre-operatif.
2. Mampu mengoptimalkan kondisi pasien sebelum operasi.

10
3. Mampu melakukan teknik dan interpretasi pemantauan
fungsi fungsi vital, EKG, oksimetri pulsa, kapnografi,
monitor neuro-muskular.
4. Mampu mengoperasikan meja operasi.
5. Mampu mengoperasikan berbagai mesin anestesi.
6. Mampu melakukan beberapa teknik induksi anestesia
inhalasi, intravena, per-rektal.
7. Mampu menggunakan sungkup muka, sungkup laring,
intubasi trakeal serta melakukan pemeliharaan anestesia
dengan aman.
8. Mampu mengelola jalan napas dengan cara cara seperti
yang tertera pada butir-7.
9. Mampu memberikan ventilasi bantu dan ventilasi kendali
manual.
10. Mampu melakukan ekstubasi dan pengawasan problema-
problema dan komplikasi pasca-ekstubasi dan pasca-
anestesi.
11. Mampu melakukan teknik anestesi/analgesi spinal,
epidural dan blok saraf tepi serta mampu mengatasi
komplikasi akut yang mungkin terjadi.
12. Mampu melakukan resusitasi jantung paru otak (RJPO),
bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut.
13. Mampu mengelola pasien dalam keadaan kedaruratan
yang mengancam nyawa dan atau cacat.
14. Mampu mengelola pasien pasca-anestesia, baik di ruang
pulih (PACU/Post Anesthesia Care Unit) maupun di ICU.
15. Mampu memberikan anestesi pada bedah digestif.
16. Mampu memberikan anestesi pada bedah ortopedi.
17. Mampu memberikan anestesi pada bedah plastik.
18. Mampu memberikan anestesi pada bedah onkologi.
19. Mampu memberikan anestesi pada bedah mata.
11
20. Mampu memberikan anestesi pada bedah THT dan bedah
mulut.
21. Mampu memberikan anestesi pada bedah urologi.
22. Mampu melakukan anestesia rawat jalan.
23. Mampu melakukan anestesia pada lingkungan di luar
kamar bedah.
c. Ilmu Kedokteran Klinis Spesialis Lanjut (Advanced Specialist)

Kognitif
1. Memahami problema dan teknik anestesia bedah
kraniotomi, bedah jantung dan bedah paru.
2. Memahami teori critical care pada kasus kasus di
Intensive Care Unit.
3. Memahami cara melakukan prosedur klinik serta
penggunaannya, tindakan invasif, seperti pemasangan
kateter vena sentral, kateter intra arterial, kateter Swan
Ganz, krikotirotomi, pungsi pleura pada pneumothorak,
dan lain lain.
4. Menguasai prinsip-prinsip penting pengelolaan pasien
kritis.
5. Memahami cara mengelola unit ICU.
6. Memahami sistem penanganan bencana.

Psikomotor
1. Mampu menilai pasien ICU, baik pascabedah dan bukan
pascabedah, dan melakukan tindakan awal terhadap
keadaan yang mengancam nyawa pasien.
2. Mampu memberikan anestesia pada bedah saraf.
3. Mampu melakukan asistensi pada anestesi bedah jantung
terbuka.
4. Mampu memberikan anestesi bedah paru, vaskular,
jantung tertutup.
12
5. Mampu memberikan anestesi pada penyakit khusus.
6. Mampu melakukan intubasi sulit.
7. Mampu mengelola pasien PACU/RR, High Care Unit
(HCU) dan ICU.
8. Mampu melakukan tindakan invasif: pemasangan kateter
vena sentral, intra-arterial, krikotirotomi, punksi
intrapleural.
9. Mampu menjawab konsultasi, baik dalam hubungan
bidang anestesia maupun kasus ICU dan manajemen
nyeri.
10. Mampu melakukan dan mengkoordinasikan penanganan
bencana

d. Pengelolaan ICU atau Terapi Intensif

Kognitif
1. Memahami prinsip-prinsip umum kedokteran gawat
darurat dan terapi intensif (Emergency and Critical Care
Medicine). Resusitasi Jantung Paru Otak, meliputi
Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support), Bantuan Hidup
Lanjut (Advanced Life Support) dan Bantuan Hidup
Jangka Panjang (Prolonged Life Support).
2. Mampu menjelaskan indikasi masuk dan keluar ICU.
3. Mampu menjelaskan indikasi dan pengelolaan prosedur
invasif seperti pemasangan kateter vena central, kateter
Swan-Ganz, kateter intra-arterial, CRRT (continuous renal
replacement therapy), perikardiosentesis, trakeostomi.
4. Mampu menjelaskan pengelolaan jalan napas dan
bantuan napas dengan / tanpa ventilasi mekanik.
5. Mengenal tanda dan gejala yang mengancam nyawa
pasien akibat gangguan pernapasan, kardiovaskular,
susunan saraf pusat, gangguan keseimbangan cairan,
13
asam basa dan elektrolit, infeksi berat, gangguan
hemostasis, krisis metabolik dan endokrin, gangguan
fungsi ginjal dan hepar.
6. Mampu menjelasankan pengelolaan nutrisi, sedasi,
analgesia dan termoregulasi pasien kritis.
7. Mampu menentukan mati klasis dan mati batang otak.
8. Mampu menjelaskan penanganan akhir kehidupan:
mengakhiri dan menunda bantuan hidup (with-drawing
dan with-holding life support).

Psikomotor
Menguasai keterampilan dalam posedur klinik, baik untuk
pemantauan, diagnosis, maupun untuk terapi:
1. Pemasangan kateter vena sentral, intra arterial.
2. Pemasangan drain intrapleura, pungsi pleura untuk
pneumothoraks ventil, dan krikotirotomi.
3. Menanggulangi keadaan yang mengancam nyawa pasien
akibat gangguan pernapasan, kardiovaskular, susunan
saraf pusat, gangguan keseimbangan cairan, asam basa
dan elektrolit, infeksi berat, gangguan hemostasis, krisis
metabolik dan endokrin, gangguan fungsi ginjal dan hepar.
4. Mampu mengelola nutrisi, sedasi, analgesi dan
termoregulasi pasien kritis.
5. Melakukan konsultasi pada disiplin ilmu kedokteran lain
pada saat yang tepat.
6. Melakukan jawaban atas konsultasi pasien-pasien dari
ruang perawatan atau rumah sakit lain yang akan dirawat
di ICU.
7. Melakukan komunikasi dengan sejawat dari beberapa
disiplin terkait sebagai anggota tim.

14
8. Melakukan bimbingan kepada peserta program atau
residen lain, mahasiswa kedokteran maupun perawat.
9. Mampu menanggulangi dan mengelola pasien bayi di ICU
/ NICU
10. Mampu menanggulangi dan mengelola pasien anak di ICU
/ PICU.
11. Mampu menanggulangi dan mengelola pasien tua
(Geriatri) di ICU.

3. Rumusan Keterampilan Umum


Lulusan Program Spesialis Satu wajib memiliki keterampilan
umum sebagai berikut:
a. Mampu bekerja di bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif
serta memiliki kompetensi kerja yang minimal setara dengan
standar kompetensi profesi yang berlaku secara
nasional/internasional;
b. Mampu membuat keputusan yang independen dalam
menjalankan pekerjaan profesinya berdasarkan pemikiran
logis, kritis, sistematis, kreatif, dan komprehensif;
c. Mampu menyusun laporan hasil studi setara tesis yang
hasilnya disusun dalam bentuk publikasi pada jurnal ilmiah
profesi yang terakreditasi nasional dan internasional, atau
menghasilkan karya desain yang spesifik beserta deskripsinya
berdasarkan metoda atau kaidah desain dan kode etik profesi
yang diakui oleh masyarakat profesi pada tingkat nasional dan
internasional;
d. Mampu mengomunikasikan hasil kajian, kritik, apresiasi,
argumen, atau karya inovasi yang bermanfaat bagi
pengembangan profesi, kewirausahaan, dan kemaslahatan
manusia, yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah

15
dan etika profesi, kepada masyarakat umum melalui berbagai
bentuk media;
e. Mampu melakukan evaluasi secara kritis terhadap hasil kerja
dan keputusan yang dibuat dalam melaksanakan pekerjaan
profesinya baik oleh dirinya sendiri, sejawat, atau sistem
institusinya;
f. Mampu meningkatkan keahlian keprofesiannya pada bidang
anestesiologi dan terapi intensif yang khusus melalui
pelatihan dan pengalaman kerja dengan mempertimbangkan
kemutakhiran bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif di
tingkat nasional, regional, dan internasional;
g. Mampu meningkatkan mutu sumber daya untuk
pengembangan program strategis organisasi;
h. Mampu memimpin suatu tim kerja untuk memecahkan
masalah baik pada bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif,
maupun masalah yang lebih luas dari bidangnya;
i. Mampu bekerja sama dengan profesi lain yang sebidang
maupun yang tidak sebidang dalam menyelesaikan masalah
pekerjaan yang kompleks yang terkait dengan bidang
Anestesiologi dan Terapi Intensif.
j. Mampu mengembangkan dan memelihara jaringan kerja
dengan masyarakat profesi kedokteran dan kliennya;
k. Mampu bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang profesi
Anestesiologi dan Terapi Intesif sesuai dengan kode etik
kedokteran Indonesia;
l. Mampu meningkatkan kapasitas pembelajaran secara mandiri
dan tim yang berada di bawah tanggungjawabnya;
m. Mampu berkontribusi dalam evaluasi atau pengembangan
kebijakan nasional dalam rangka peningkatan mutu
pendidikan Anestesiologi dan Terapi Intensif atau
pengembangan kebijakan nasional pada bidang kesehatan;
16
n. Mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengaudit,
mengamankan, dan menemukan kembali data serta informasi
untuk keperluan pengembangan hasil kerja profesinya.

4. Rumusan Keterampilan Anestesiologi Dan Terapi Intensif


a. Memberikan pelayanan anestesi paripurna sesuai standar
operasional prosedur, etik dan hukum kedokteran

1 Mampu menjelaskan prinsip anestesi elektif tingkat awal dengan


benar
2 Mampu melakukan keterampilan anestesi elektif tingkat awal dengan
benar
3 Mampu menjelaskan prinsip anestesi elektif tingkat lanjut dengan
benar
4 Mampu melakukan keterampilan anestesi elektif tingkat lanjut
dengan benar
5 Mampu menjelaskan prinsip anestesi elektif kasus khusus dengan
benar
6 Mampu melakukan keterampilan anestesi kasus khusus dengan
benar
7 Mampu menjelaskan prinsip anestesi pada bedah emergency tingkat
awal dengan benar
8 Mampu melakukan keterampilan anestesi pada bedah emergency
tingkat awal dengan benar
9 Mampu menjelaskan prinsip anestesi pada bedah emergency tingkat
lanjut dengan benar
10 Mampu melakukan ketrampilan anestesi pada bedah emergency
tingkat lanjut dengan benar
11 Mampu melakukan komunikasi medis dan profesional dengan benar
12 Mampu melakukan manajemen paripurna anestesi elektif

b. Mampu memberikan pelayanan bantuan hidup paripurna atau


lanjutan dalam kegawatdaruratan sesuai standar operasional
prosedur, etik dan hukum kedokteran

1 Mampu menjelaskan prinsip bantuan hidup dasar dan lanjutan tingkat

17
awal dengan benar
2 Mampu melakukan penatalaksanaan bantuan hidup dasar dan
lanjutan tingkat awal dengan benar
3 Mampu menjelaskan prinsip bantuan hidup dasar dan lanjutan tingkat
lanjutdengan benar
4 Mampu melakukan penatalaksanaan bantuan hidup dasar dan
lanjutan tingkat lanjut dengan benar
5 Mampu menjelaskan dasar-dasar manajemen bencana dengan
benar
6 Mampumelakukan manajemen paripurna anestesi emergency dan
kegawatdaruratan dengan benar

c. Memberikan pelayanan terapi intensif sesuai standar


operasional prosedur, etik dan hukum kedokteran

1 Mampu menjelaskan dasar-dasar terapi intensif dengan benar


2 Mampu melakukan perawatan intensif dasar dengan benar
3 Mampu menjelaskan dasar perawatan paska henti jantung dengan
benar
4 Mampu melakukan perawatan pasca henti jantung dengan benar
5 Mampu menjelaskan perawatan intensif pada kasus khusus dengan
benar
6 Mampu melakukan perawatan intensif pada kasus khusus dengan
benar

d. Memberikan pelayanan nyeri paripurna sesuai standar


operasional prosedur, etik dan hukum kedokteran

1 Mampu melakukan penatalaksanaan nyeri akut dan nyeri kronik


perioperatif dan analgesia preemptif secara farmakologik, blok
neuroaksial atau kombinasi
2 Mampu melakukan penatalaksanaan nyeri pada pediatri dan geriatri
3 Mampu melakukan nyeri pada paliatif
4 Mampu melakukan manajemen paripurna nyeri perioperatif
5 Mampu melakukan manajemen paripurna nyeri perioperatif

18
e. Menghasilkan karya ilmiah yang sesuai dengan kaidah ilmiah
nasional dan internasional

1 Mampu menjelaskan proses pembelajaran klinis multidisiplin dengan


benar
2 Mampu menjelaskan filsafat ilmu dengan benar
3 Mampu menjelaskan metodologi riset dan statistik dengan benar
4 Mampu menjelaskan epidemiologi klinik dengan benar
5 Mampu menjelaskan biologi molekuler dengan benar
6 Mampu menjelaskan imunologi dengan benar
7 Mampu membuat karya ilmiah dengan benar
8 Mampu menghasilkan karya ilmiah dengan benar

19
5. Rumusan Capaian Kompetensi Dokter Spesialis Anestesiologi
Dan Terapi Intensif
a. Capaian Kompetensi Umum

Capaian dan Tingkat


Kompetensi
Kompetensi

Kompetensi Umum
Etika Profesionalisme
Etika profesionalisme Peserta didik Anestesiologi dan
Terapi Intensif adalah untuk menjadi dokter Spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif yang baik dan bermanfaat
bagi masyarakat yang mempunyai kemampuan yang baik:
1. Sikap terhadap penderita
60- 70-
2. Sikap terhadap staf pendidik dan kolega < 60 > 80
70 80
3. Sikap terhadap paramedis dan non paramedis
4. Disiplin dan tanggung jawab
5. Ketaatan pengisian dokumen medik
6. Ketaatan tugas yang diberikan
7. Ketaatan melaksanakan pedoman penggunaan obat
dan alat
Komunikasi Efektif
Komunikasi terhadap kolega, pasien/ keluarga, paramedis
dan staf pengajar dilakukan dengan : 60- 70-
< 60 > 80
1. Jujur 70 80
2. Terbuka
3. Bersikap baik
Kemampuan Kerjasama
1. Kerjasama yang baik antara kolega, dokter,
perawat, karyawan kesehatan, pasien dan keluarga 60- 70-
< 60 > 80
pasien 70 80
2. Bisa bekerjasama dalam bentuk tim secara
harmonis untuk pelayanan secara optimal
Patient Safety
Mengikuti kaidah-kaidah Patient Safety 60- 70-
< 60 > 80
IPSG 1-6: Identifikasi, Cuci tangan, Time Out, Komunikasi 70 80
efektif, Pencegahan Infeksi, Pemberian Obat.

20
b. Capaian Kompetensi Dasar

Pencapaian
Tingkat
Kompetensi Kompetensi
Kompetensi
(jumlah Kasus)
Kompetensi Dasar
Jumlah semua tindakan anestesi untuk bedah
1000
elektif dan darurat
Anestesi Bedah Elektif 850 1 2 3 4
Anestesi Bedah Darurat 150 1 2 3 4
n
Anestesi Umum 835 1 2 3 4
Anestesi / Analgesia Regional 165
Teknik Anestesi / Analgesia
90 1 2 3 4
Subarakhnoid

Teknik Anestesi / Analgesia Epidural


50 1 2 3 4
Lumbal / Thorakal

Teknik Anestesi / Analgesia Blok


5 1 2 3 4
Brakialis
Teknik Anestesi / Analgesia Kaudal 5 1 2 3 4
Teknik Anestesi / Analgesia Blok Saraf
15 1 2 3 4
Tepi Lainnya
Anestesi Bedah Umum 620
Digestif 150 1 2 3 4
THT dan Bedah Mulut 50 1 2 3 4
Mata 20 1 2 3 4
Urologi 25 1 2 3 4
Ortopedi 100 1 2 3 4
Plastik 15 1 2 3 4
Onkologi 25 1 2 3 4
Minimal Invasif 5 1 2 3 4
Manajemen Nyeri 50 1 2 3 4
Anestesi / Analgesia Rawat Jalan 30 1 2 3 4
Anestesi / Analgesia diluar kamar
50 1 2 3 4
operasi
Lain-lain 150 1 2 3 4
Anestesi dan analgesia Obstetri 100

21
Pre-eklamsi dan eklamsi 10 1 2 3 4
Lain-lain 90 1 2 3 4
Anestesi Bedah Pediatri 75
Neonatus 10 1 2 3 4
Bayi 15 1 2 3 4
Anak-anak 50 1 2 3 4
c. Capaian Kompetensi Lanjut
Pencapaian
Tingkat
Kompetensi Kompetensi
Kompetensi
(jumlah Kasus)
Kompetensi Lanjut
Anestesi Bedah Saraf 35
Trauma kepala 15 1 2 3 4
Perdarahan intracranial non-trauma 5 1 2 3 4
Tumor intrakranial 5 1 2 3 4
Pintasan VP 5 1 2 3 4
Medula spinalis 5 1 2 3 4
Anestesi Bedah Thoraks Non Jantung
10 1 2 3 4
Terbuka dan Jantung Terbuka
Anestesi pada Kondisi khusus 35
Kelainan jantung pada operasi non
15 1 2 3 4
jantung
COPD / asma 5 1 2 3 4
DM 5 1 2 3 4
Tiroid 5 1 2 3 4
Geriatri 3 1 2 3 4
Obesitas 2 1 2 3 4
Mengelola pasien ICU (10 variasi kasus) 50 1 2 3 4
Melakukan resusitasi di luar kamar bedah
30 1 2 3 4
dan ICU
Memasang kateter intra-arterial dan pungsi
10 1 2 3 4
intra-arterial
Memasang kateter vena central 20 1 2 3 4
Melakukan intubasi sulit 5 1 2 3 4

22
BAB III
STANDAR PENDIDIKAN

3.1 Model Kurikulum


Pendekatan dalam penyusunan kurikulum pendidikan program
studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya didasarkan atas kompetensi (competency-
based), cara belajar aktif, dan pendekatan keterampilan proses, baik
dalam problema-problema pelayanan, pendidikan, maupun
penelitian, sehingga diharapkan agar para lulusan mampu untuk
belajar mandiri dan belajar berkembang sepanjang hayat (life-long
education)
Model kurikulum berbasis kompetensi terintegrasi baik
horizontal maupun vertikal. Integrasi horizontal adalah integrasi
kelompok materi pendidikan dari satu tahap pendidikan. Integrasi
vertikal adalah integrasi kelompok materi pendidikan dari materi
akademik dan materi profesi.

3.2 Isi dan Outline Struktur Kurikulum


Isi kurikulum program studi Anestesiologi dan Terapi Intensif
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya berorientasi pada
rumusan capaian pembelajaran dengan pendekatan menguasai teori
dan aplikasi bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif yang bersifat
kumulatif dan/atau integratif yang disesuaikan dengan visi dan misi
program studi. Kurikulum dituangkan kedalam bahan kajian yang
distrukturkan dalam bentuk mata kuliah dan modul pembelajaran.
Kurikulum bersifat interaktif, integratif, saintifik, kontekstual, tematik,
efektif, kolaboratif, dan berpusat pada mahasiswa.
Isi kurikulum meliputi perioperative medicine, anesthesia,
critical care, emergency medicine, pain management, dan penelitian.
Isi kurikulum mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Profesi
23
Dokter Spesialis dan Standar Kompetensi Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif (kurikulum inti). Program Studi
Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya-RSUP. Dr. Moh. Hoesin Palembang menambahkan muatan
lokal sebagai kompetensi pendukung dan kompetensi lain ( kurikulum
institusional) berupa penambahan mata kuliah patient safety,
pencegahan dan pengendalian infeksi, dan penjaminan mutu. Selain
itu, dalam referensinya disisipkan materi mengenai standar-standar
yang terdapat dalam JCI V academic medical center. Penambahan
ini tidak menambah lama masa studi yang telah ditetapkan secara
nasional. Perbandingan beban SKS antara kurikulum inti dan
kurikulum institusional adalah 70-80% dan 20-30%.
Struktur kurikulum meliputi tahap I (dasar /pemahaman
/adaptasi), tahap II (pendalaman) dan tahap III (mandiri). Kurikulum
pendidikan dokter spesialis anestesi dan terapi intensif di suatu
Institusi Pendidikan Dokter Spesialis (IPDS) harus terdiri atas muatan
yang disusun berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Profesi
Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif yang dibuat oleh
Kolegium Anestesiologi dan Terapi Intensif (KATI) sebesar 80%
ditambah 20% muatan lokal (institusional). Durasi kurikulum tahap I
dilaksanakan 4 (empat) semester, tahap II dilaksanakan 2 (dua)
semester dan tahap III dilaksanakan 2 (dua) semester. Durasi
kurikulum bersifat tetap dan tidak dapat diubah oleh IPDS. Kurikulum
harus dilaksanakan dengan pendekatan/strategi SPICES (Student-
centred, Problem-based, Integrated, Community-based, Elective,
Systematic/Structured).
Kurikulum yang merupakan pedoman penyelenggaraan
program studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, memuat proses
pembelajaran yang disusun pada setiap mata kuliah dan disajikan
dalam rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran yang
dikembangkan oleh divisi bidang minat berbentuk modul. Mata kuliah
24
inti yang dikembangkan pada setiap semester dan/atau tahap
pendidikan wajib mengampu dari modul yang telah ditetapkan oleh
KATI.
Kurikulum inti menganut sistem semester terbuka (open
semester) sehingga mata kuliah yang diberikan pada tahap
pendidikan dapat dibagi menjadi beberapa semester yang berbeda
dengan tetap mengacu pada capaian pembelajaran yang telah
ditetapkan pada setiap tahapan pendidikan.

Tabel Modul
Nomor Modul Judul Modul
Modul 1 Keterampilan Dasar Anestesiologi I
Modul 2 Keterampilan Dasar Anestesiologi II
Modul 3 Keterampilan Dasar Anestesiologi III
Modul 4 Pengelolaan Nyeri
Modul 5 Kedokteran Perioperatif I
Modul 6 Kedokteran Perioperatif II
Modul 7 Persiapan Obat Dan Alat
Modul 8 Anestesi Umum
Modul 9 Anestesi Regional I
Modul 10 Anestesi Regional II
Modul 11 Traumatologi I
Modul 12 Traumatologi II
Modul 13 Intensive Care I
Modul 14 Intensive Care II
Modul 15 Anestesi Bedah THT I
Modul 16 Anestesi Bedah THT II
Modul 17 Anestesi Bedah Orthopedi I
Modul 18 Anestesi Bedah Orthopedi II
Modul 19 Anestesi Bedah Darurat
Modul 20 Anestesi Bedah Invasive Minimalis
Modul 21 PPGD Kedokteran Emergensi
Modul 22 Anestesi Bedah Rawat Jalan
Modul 23 Anestesi Di-luar Kamar Bedah

25
Modul 24 Anestesi Bedah Mata
Modul 25 Anestesi Bedah Obstetri I
Modul 26 Anestesi Bedah Obstetri II
Modul 27 Anestesi Bedah Urologi
Modul 28 Anestesi Dan Penyakit Khusus
Modul 29 Anestesi And Uncommon Diseases
Modul 30 Anestesi Bedah Onkologi Dan Bedah Plastik
Modul 31 Kemampuan Komunikasi Dan Profesionalisme
Modul 32 Anestesi Pediatri I
Modul 33 Anestesi Pediatri II
Modul 34 Anestesi Geriatri
Modul 35 Anestesi Bedah Syaraf I
Modul 36 Anestesi Bedah Syaraf II
Modul 37 Penelitian
Modul 38 Anestesi Bedah Kardiotorasik I
Modul 39 Anestesi Bedah Kardiotorasik II

3.3 Tahapan Pendidikan


Program Pendidikan dokter spesialis Anestesiologi dan Terapi
Intensif dibagi dalam tiga tahap pendidikan, dengan masing-masing
tahap mempunyai tujuan pendidikan yang utuh, dan dicapai melalui
pengalaman belajar dari pendidikan tertentu.Tahap pendidikan yang
dimaksud bukan merupakan pembagian berdasarkan tahun,
melainkan merupakan tahapan atau pembagian tingkat perilaku yang
dicapai:
1. Tahap I (tahap pemahaman / adaptasi) selama 4 (empat)
semester
2. Tahap II (tahap pendalaman) selama 2 (dua) semester
3. Tahap III (tahap akhir) selama 2 (dua )semester

Jadi jumlah beban seluruhnya adalah 141 SKS, sedangkan jumlah


modul yang harus dipelajari semuanya ada 39 modul.

26
3.3.1 Tahap I (semester 1-4)
Tahap ini merupakan tahap pertama dalam pendidikan
program studi anestesi dan terapi intensif. Dalam tahap ini, peserta
program diharapkan mampu merubah mind set atau pola pikir serta
kemampuan kognitif, psikomotor dan afektif-nya agar dapat menjalani
masa studi pada tahap-tahap pendidikan berikutnya.
Pencapaian pada tahap ini meliputi sebagian dari
kompetensi utama, dan / atau kompetensi pendukung dan khusus /
lain. Mata kuliah dalam tahap ini dapat berupa materi akademik dan /
atau materi profesi. Tahap ini memiliki beban studi total 69 (enam
puluh sembilan) SKS sebagai bagian dari kurikulum inti yang terbagi
menjadi 4 (empat) semester.
Mata kuliah pada tahap I dapat terdiri dari:
a. MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum): yaitu mata kuliah yang
dirancang untuk memberikan dasar pengetahuan agar peserta
program menjadi seorang ilmuwan, peneliti, pemikir yang
berlandaskan etika kedokteran dan mempunyai hubungan antar
manusia yang baik, serta memahami problema yang berkaitan
dengan medikolegal.
b. MKDK (Mata Kuliah Dasar Keahlian): yaitu mata kuliah yang
dirancang untuk memberikan pengetahuan dasar (basic sciences)
yang diperlukan untuk spesialis Anestesiologi dan terapi intensif,
yang melandasi keterampilan yang dipersyaratkan.
c. Mata Kuliah Keahlian (MKK) merupakan pengalaman belajar
yang didapatkan dari teori, pengalaman klinis, dan pengalaman
meneliti.
d. Mata Kuliah Lain: yaitu mata kuliah yang dirancang untuk
mencapai kompetensi pendukung dan kompetensi khusus / lain.
e. Keterampilan klinis Spesialis dasar (KKSD) / Basic Specialist
Training yang berdasarkan etik dan hubungan antar manusia,
berupa keterampilan dalam mempertahankan patensi jalan nafas
27
(dengan/tanpa alat), pemberian ventilasi buatan manual dan
resusitasi jantung paru
Keterampilan klinis spesialis dasar dapat berupa
keterampilan yang setara dengan keterampilan setelah mengikuti
kursus PTC, ALS, ACLS, dan sebagainya. KKSD juga meliputi
pengelolaan anestesi untuk pasien dengan Status Fisik 1-2, untuk
pembedahan superfisial (termasuk ortopedi sedang), yang dimulai
dari masa prabedah, selama pembedahan sampai pascabedah, dan
yang mencangkup terapi cairan, stres, dan nyeri akut sesuai kasus
yang ditangani.
Pada tahap ini juga diajarkan pengetahuan dan
keterampilan memberi anestesi regional, anestesi bedah abdominal
bawah dan atas (pada pasien tanpa kelainan endokrin), bedah
ortopedi besar (tidak termasuk leher dan tulang punggung), bedah
mata, THT, ginekologi, urologi sedang, disertai dengan tatalaksana
prabedah dan pascabedah, penanggulangan nyeri dan penyulit yang
mungkin timbul. Kesemuanya diterapkan baik pada pembedahan
elektif maupun darurat.
Selain itu juga diajarkan pengetahuan dan keterampilan
tentang anestesi pediatrik (kecuali bedah saraf dan jantung), anestesi
pasien dengan penyakit endokrin (diabetes melitus dan tiroid), bedah
kepala-leher (kecuali bedah saraf), bedah obstetri, urologi besar, baik
untuk tindakan elektif ataupun darurat. Kesemuanya disertai dengan
tatalaksana pra dan pascabedah, pemberian nutrisi enteral dan
parenteral (mencangkup pemasangan CVC), dan pengalaman dasar-
dasar terapi intensif (tahap I). Akhir tahap ini akan dilakukan evaluasi
nasional berupa ujian tulis nasional / Ujian Board.
Setelah menyelesaikan pendidikan tahap I, diharapkan
peserta program:
a. Mampu menjelaskan proses pembelajaran klinis multidisiplin
dengan benar, filsafat ilmu dengan benar, metodologi riset dan
28
statistik dengan benar, epidemiologi klinik dengan benar, biologi
molekuler dengan benar dan imunologi dengan benar
b. Mampu melakukan komunikasi medis
c. Mampu menjelaskan prinsip anestesi elektif tingkat awal dengan
benar dan melakukan keterampilan anestesi elektif tingkat awal
d. Mampu menjelaskan prinsip anestesi pada bedah emergency
tingkat awal dengan benar dan melakukan prinsip anestesi pada
bedah emergency tingkat awal dengan benar
e. Mampu menjelaskan prinsip bantuan hidup dasar dan lanjutan
tingkat awal dengan benar, melakukan penatalaksanaan bantuan
hidup dasar dan lanjutan tingkat awal dengan benar
f. Mampu mejelaskan perawatan intensif dasar dengan benar,
melakukan perawatan intensif dasar dengan benar, menjelaskan
dasar perawatan pasca henti jantung denga benar dan
melakukan perawatan pasca henti jantung

3.3.2 Tahap II (semester 5-6)


Tahap ini merupakan tahap pendalaman yang bertujuan
untuk memberi bekal peserta program agar pada akhir tahap
pendalaman mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari profesi spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif. Pengalaman klinis meliputi
tatalaksana anestesi, pengelolaan pasien gawat yang memerlukan
pembedahan, pengelolaan pasien gawat yang memerlukan Anestesi
dan Terapi Intensif, penanggulangan nyeri akut dan nyeri kronis,
antisipasi dan penanganan penyulit yang mungkin timbul.
Pencapaian pada tahap ini meliputi sebagian dari
kompetensi utama, dan / atau kompetensi pendukung dan khusus /
lain. Mata kuliah dalam tahap ini dapat berupa sebagian besar materi
profesi dan / atau sebagian kecil materi akademik.
Mata kuliah pada tahap II dapat terdiri dari:
29
a. Mata Kuliah Keahlian (MKK)
b. Mata Kuliah Lain : yang salah satu materi tentang penyusunan
karya ilmiah
c. Keterampilan Klinis Spesialis Dasar (KKSD) / Basic Specialist
Training
d. Keterampilan Klinis Spesialis Lanjut (KKSL) / Advanced Specialist
Training
Pada tahap ini juga diajarkan pengetahuan dan keterampilan
dalam KKSD dan KKSL adalah: tatalaksana anestesi bedah paru,
bedah saraf perifer, terapi intensif tahap II (pemberian ventilasi
buatan dengan berbagai mesin, nutrisi, terapi gagal ginjal akut,
trauma ganda, sepsi,dll), penelitian survei.
Pada pendidikan tahap II, diharapkan peserta program:
a. Mampu membuat karya ilmiah dengan benar
b. Mampu melakukan komunikasi medis
c. Mampu menjelaskan prinsip anestesia elektif tingkat lanjut
dengan benar dan melakukan keterampilan anestesi elektif
tingkat lanjut dengan benar
d. Mampu menjelaskan prinsip anestesia kasus khusus dengan
benar, dan melakukan keterampilan anestesi kasus khusus
dengan benar
e. Mampu menjelaskan prinsip anestesi pada bedah emergency
tingkat lanjut dengan benar dan melakukan anestesi pada bedah
emergency tingkat lanjut dengan
f. Mampu menjelaskan prinsip bantuan hidup dasar dan lanjutan
tingkat lanjut dengan benar, melakukan penatalaksanaan
bantuan hidup dasar dan lanjutan tingkat lanjut dengan benar dan
menjelaskan dasar-dasar manajemen bencana dengan benar
g. Mampu menjelaskan perawatan intensif pada kasus khusus
dengan benar dan melakukan perawatan intensif pada kasus
khusus dengan benar
30
h. Mampu menjelaskan penatalaksanaan nyeri akut dan nyeri kronik
perioperatif dan analgesia preemptif secara farmakologis, blok
neuroaksial atau kombinasi, melakukan penatalaksanaan nyeri
akut dan nyeri kronik perioperatif dan analgesia preemptif secara
farmakologik dan, blok neuroaksial atau kombinasi
i. Mampu melakukan penatalaksanaan nyeri pada pediatri dan
geriatri dan melakukan nyeri pada paliatif

3.3.3 Tahap III (semester 7-8)


Tahap ini merupakan tahap pemantapan dengan rumusan
perilaku yang diinginkan. Selain kemapuan medis, juga dilatih
kemampuan nonmedik dengan melaksanakan tugas-tugas manajerial
sebagai chief resident, melakukan tugas pengaturan ketenagaan
peserta PPDS I (dengan bimbingan KPS/SPS), tugas sebagai
pembimbing (pembimbing residen yang lebih muda, mahasiswa, dan
paramedik), serta konsultasi.
Pencapaian pada tahap ini meliputi seluruh komponen pada
kompetensi utama, dan / atau kompetensi pendukung dan khusus /
lain. Mata kuliah dalam tahap ini dapat berupa sebagian besar materi
profesi dan / atau sebagian kecil materi akademik.
Mata kuliah pada tahap III dapat terdiri dari:
a. Mata Kuliah Keahlian (MKK)
b. Mata Kuliah Lain : yang salah satu materi tentang pembuatan
karya ilmiah / penelitian
c. Keterampilan Klinis Spesialis Lanjut (KKSL) / Advanced Specialist
Training
Pada semester ini dijarkan pengetahuan dan keterampilan
penanganan pasien ICU (tahap III), bedah saraf (trauma kepala),
pengetahuan dan kesempatan asistensi bedah jantung. Pada akhir
tahap ini peserta program PPDS diharuskan menyelesaikan
penelitian yang telah dimulai pada akhir semester 5. Tahap ini diakhiri
31
dengan ujian profesi yang menyertakan penguji dari pusat pendidikan
yang lain. Tahap 3 diakhiri dengan diadakannya ujian lisan yang
dilakukan oleh internal IPDS untuk mengetahui kemampuan kognitif,
psikomotor dan afektif dari peserta program. Ujian ini disebut Ujian
Lisan Lokal.
Pada akhir pendidikan tahap III, diharapkan peserta
program :
a. Mampu menghasilkan karya ilmiah / penelitian dengan benar
(research)
b. Mampu melakukan manajemen paripurna anestesi (anesthesia
and perioperative medicine)
c. Mampu melakukan manajemen paripurna kegawatdaruratan
(emergency medicine)
d. Mampu melakukan manajemen paripurna anestesi terapi intensif
(critical care medicine)
e. Mampu melakukan manajemen paripurna nyeri (pain
management)

3.4 Beban Belajar Mahasiswa / Peserta Program (Satuan Kredit


Semester / SKS)
Beban belajar mahasiswa dinyatakan dalam bentuk Satuan
Kredit Semester (SKS). Berdasarkan Kepmendikbud nomor 49 tahun
2014, satu sks setara dengan 160 menit kegiatan belajar per minggu
per semester. Semester merupakan satuan waktu kegiatan
pembelajaran efektif selama 16 (enam belas) minggu.
Satu sks pada bentuk pembelajaran kuliah, disesuaikan
dengan Kepmendikbud No.49 tahun 2014, responsi dan tutorial
mencangkup tatap muka 13 (tiga belas) jam 20 (dua puluh) menit per
semester, penugasan terstruktur 13 (tiga belas) jam 20 (dua puluh)
menit per semester, dan belajar mandiri 16 jam per semester. Pada
bentuk pembelajaran praktik lapangan, penelitian dan pengabdian
32
kepada masyarakat / pelayanan medis, satu sks setara dengan 42
(empat puluh dua) jam 40 (empat puluh) menit per semester. Beban
normal belajar mahasiswa adalah 18 sks sampai dengan 20 sks
persemester.

33
BAB IV
ORGANISASI MATERI

Tabel Organisasi Materi Pendidikan Tahap 1


Pendidikan Tahap 1 – Semester 1 s/d 4 (Open semester)
Beban Studi Jenis
Nomor Kelompok Mata
No Mata Ajaran (sks) Kompetensi
Modul Kuliah Wajib
Akademik Profesi Utama

1 Filsafat ilmu, Etika


dan Hukum - 1 - Pendukung MPK
Kedokteran
2 Metodologi
- 2 - Pendukung MKK
Penelitian
3 Biostatistika dan
Komputer - 2 - Pendukung MPB
Biostatistik
4 Biologi Molekuler - 2 - Pendukung MKK
5 Genetika
- 1 - Pendukung MKK
Kedokteran
6 Farmakologi Klinik - 1 - Pendukung MKK
7 Epidemiolgi,
Epidemiologi Klinik
dan Kedokteran
- 2 - Pendukung MKK
Berbasis Bukti/KBB
(Evidence Based
Medicine)
8 Administrasi
- 1 - Pendukung MKK
Kesehatan
9 Pengetahuan
Dasar - 1 - Pendukung MKK
Laboratorium Klinik
10 Neuroanatomi/Fisio
8 2 - Dasar MKK
logi Klinik
11 Patient Safety - 2 - Pendukung MKK
12 Pencegahan dan
- 2 - Pendukung MKK
Pengendalian

34
Infeksi
13 Penjaminan Mutu - 2 - Umum MKK
14 Dasar anestesi dan
19 2 2 Dasar MKK
gawat darurat
15 Anestesi I 1,7, 8 2 2 Dasar MKK
16 6,14,17,
Anestesi II 19,21, - 4 Dasar MPB
38
17 Keterampilan klinik
anestesiologi dan 2, 15,
2 2 Dasar MKB
terapi intensif I 18, 25

18 Keterampilan klinik
2,15,18,
anestesiologi dan - 4 Dasar MPB
25
terapi intensif II
19 Emergency 6,11,19,
2 4 Dasar MKB
medicine I 31
20 Emergency
12,21 - 6 Dasar MKB
medicine II
21 13,16,2
Intensive care I 2 2 Lanjut MKB
1
22 Kegawatdaruratan
anestesiologi dan 19 2 4 Dasar MPB
terapi Intensif I
23 Kegawatdaruratan
anestesiologi dan 12,21 - 5 Dasar MPB
terapi intensif II
24 Seminar
Anestesiologi dan 31 1 - Umum MKB
terapi Intensif I
34 35
Beban studi Pendidikan Tahap 1 69 sks
sks sks
Prosentase 49,28% 50,72% 100%

35
Tabel Organisasi Materi Pendidikan Tahap 2
Pendidikan Tahap 2 – Semester 5 s/d 6 (Open semester)
Beban Studi (sks) Jenis Kelompok
Nomor
No Mata Ajaran Kompetensi Matakuliah
Modul Akademik Profesi
Utama Wajib

25 Manajemen
Nyeri dan 4 2 2 Dasar MKK
Paliatif
26 Anestesi III 12,23,25,26 - 3 Dasar MKB
27 Anestesi IV 32,33,34 - 3 Dasar MKK
28 Anestesi V MKK,
27,28,29 - 3 Lanjut
MKB
29 Intensive care
28,29,35,38 - 4 Lanjut MKB
II
30 Pembelajaran
Anestesiologi 8,9,17,22,31 2 - Umum MKB
Klinik
31 Keterampilan
klinik
8,9,17,18,22
anestesiologi - 3 Dasar MPB
,24,26,27
dan terapi
intensif III
32 Keterampilan
klinik
Anestesiologi 18,19,23,27 - 3 Dasar MPB
dan terapi
intensif IV
33 Keterampilan
klinik
28,29,32,33, MKB,
Anestesiologi - 3 Lanjut
34 MPB
dan terapi
intensif V
34 Seminar
anestesiologi MKK,
31 1 - Umum
dan terapi MKB
intensif II
35 Kegawatdarur 12,20,36 - 3 Lanjut MBB

36
atan
anestesiologi
dan terapi
Intensif III
36 Kegawatdarur
atan
MPB,
anestesiologi 12,18 - 5 Lanjut
MBB
dan terapi
Intensif IV
37 Emergency MKK,
12,28 - 3 Lanjut
medicine III MKB
Beban studi pendidikan tahap 2 5 sks 35 sks 40 sks
Prosentase 12,5% 87,5% 100%

Tabel Organisasi Materi Pendidikan Tahap 3


Pendidikan Tahap 3 – Semester 7 s/d 8 (Open semester)
Beban Studi (sks) Jenis Kelompok
Nomor
No Mata Ajaran Kompetensi Matakuliah
Modul Akademik Profesi
Utama Wajib
38 Anestesi VI 35,36 - 3 Lanjut MKB
39 Anestesi VII 38,39 - 3 Lanjut MKB
40 Intensive care III 13 - 4 Lanjut MPB
41 Keterampilan
klinik
Anestesiologi 3,35,36 - 3 Lanjut MPB
dan terapi
intensif VI
42 Keterampilan
klinik
31,37,
Anestesiologi - 3 Lanjut MPB
38
dan terapi
intensif VII
43 Kegawatdarurat
an anestesiologi
12,19 - 4 Dasar MBB
dan terapi
Intensif V
44 Kegawatdarurat 12,19 - 4 Lanjut MBB

37
an anestesiologi
dan terapi
Intensif VI
45 Seminar
anestesiologi
31 1 - Umum MKB
dan terapi
intensif III
46 Manajemen
Klinik
31 2 1 Umum MKB

47 Penelitian 37 4 - Umum MKB


Beban studi pendidikan tahap 3 7 sks 25 sks 32 sks
Prosentase 21,88% 78,12% 100%

38
BAB V
MONITORING DAN EVALUASI

Institusi pendidikan dokter spesialis (IPDS) Anestesiologi dan


Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, melalui
Ketua Program Studi dan berkoordinasi dengan Ketua Departemen,
melaksanakan fungsi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian,
pemantauan, evaluasi hasil belajar dan evaluasi program, serta
pengembangan kurikulum. Program Studi Anestesiologi dan Terapi
Intensif FK Unsri menyusun kurikulum dan rencana pembelajaran
dalam setiap mata kuliah yang menyesuaikan dengan Standar
Nasional Pendidikan Profesi Dokter Spesialis dan muatan lokal yang
ada, dan terangkum dalam kurikulum inti dan kurikulum institusional.
Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri
dalam menyelenggarakan program pembelajaran menyesuaikan
dengan standar isi, standar proses dan standar penilaian yang telah
ditetapkan dalam rangka mencapai capaian pembelajaran lulusan.
Dalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu proses
pembelajaran, Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK
Unsri melakukan kegiatan pemantauan dan evaluasi secara periodik
serta melaporkan hasil program pembelajaran.

39
BAB VI
EVALUASI HASIL BELAJAR

Penilaian hasil belajar memiliki prinsip edukatif, otentik,


objektif, akuntabel, dan transparan yang dilakukan secara integrasi.
Metode penilaian hasil belajar mampu menggambarkan pencapaian
kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif. Metode yang digunakan terdiri atas
observasi atau pengamatan terus menerus, log book, ujian tulis, ujian
keterampilan, dan ujian akhir/lisan.
Penilaian atau evaluasi hasil pembelajaran terdiri dari evaluasi
lokal atau institusional (ujian lokal) dan evaluasi nasional (ujian
nasional). Pada akhir tahapan pendidikan dilakukan ujian yang
bersifat nasional yang meliputi ujian tulis nasional, ujian kompetensi
nasional, dan ujian akhir nasional untuk memperoleh ijazah dokter
spesialis dari Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK
Unsri sekaligus sertifikat kompetensi dari KATI dan/atau PERDATIN.
Secara umum sistem evaluasi kompetensi di program studi
Anestesiologi danTerapi Intensif FK Unsri ditujukan untuk menilai tiga
ranah pendidikan yaitu sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan
keterampilan (psikomotor).
Adapun bentuk penilaian yang dilakukan ialah:
1. Kognitif
 Ujian stase atau rotasi.
 Ujian kompetensi tahap I, II, dan III.
 Ujian tulis nasional.
 Ujian akhir nasional.
2. Keterampilan
 Evaluasi buku catatan (log book).
 Ujian keterampilan dalam bentuk DOPS.
 Ujian kompetensi nasional (OSCE).
40
3. Afektif
 Absensi (kehadiran)
 Penilaian 3600 melalui miniPAT oleh 6 (enam) orang yang
ditentukan oleh KPS secara berkala mengenai:
a. Etika profesionalisme meliputi sikap terhadap penderita, sikap
terhadap staf pendidik dan kolega, sikap terhadap paramedis
dan non-paramedis, rasa disiplin dan tanggung jawab, ketaatan
pengisian dokumen medik, ketaatan tugas yang diberikan, dan
ketaatan melaksanakan pedoman penggunaan obat dan alat.
b. Komunikasi efektif terhadap peserta, staf pendidik dan kolega,
dan terhadap paramedis dan non-paramedis.
c. Kerja sama tim meliputi kerja sama yang baik antara kolega,
dokter, perawat, karyawan kesehatan, pasien, dan keluarga
pasien dan bisa bekerja sama dalam bentuk tim secara harmonis
untuk pelayanan secara optimal.
d. Patient safety berupa mengikuti kaidah-kaidah patient safety dan
IPSG 1-6.

6.1 Log Book


Log book merupakan buku kegiatan harian yang dilakukan
oleh peserta program selama mengikuti pendidikan, yang meliputi :
a. Kegiatan klinis harian sesuai dengan stase / rotasi yang telah
ditentukan oleh KPS dan didasarkan pada kurikulum inti nasional.
b. Kegiatan ilmiah rutin: telaah pustaka (textbook reading), telaah
jurnal (journal reading), laporan kasus, dan referat.
c. Kegiatan bimbingan, pelatihan, penyuluhan, dan sebagainya:
dokter muda (ko-asisten), perawat.
d. Kegiatan presentasi: tingkat lokal, nasional, dan internasional
e. Kegiatan evaluasi yang terjadwal, seperti ujian lokal, ujian
nasional, dan lain-lain

41
6.2 Ujian Lokal
Ujian lokal adalah ujian yang diikuti oleh peserta program
yang bersifat institusional untuk mengevaluasi capaian hasil
pembelajaran berdasarkan standar pendidikan dan kurikulum
institusional. Ujian lokal mengikuti ketentuan yang berlaku di Program
Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri. Ujian lokal yang
dilaksanakan berupa:
1. Ujian Kompetensi Lokal
Ujian kompetensi lokal bertujuan untuk mengevaluasi
pencapaian kompetensi peserta program. Ujian ini mencakup
ujian stase yang dilakukan pada awal sebelum masuk stase dan
setelah akhir rotasi / stase. Ujian Kompetensi ada tiga tahap
yaitu:
a. Tahap I (Akhir semester IV)
Evaluasi tahap I bertujuan untuk mengetahui apakah paket
pendidikan dasar telah dilaksanakan dengan baik dan benar.
Evaluasi ini bertujuan untuk menentukan apakah peserta
program dapat melanjutkan pendidikan tahap berikutnya atau
dianjurkan untuk mengundurkan diri. Pada semester I berupa
ujian RJPO (Resusitasi Jantung Paru Otak), semester II
berupa ujian balans, semester III berupa ujian co-existing dan
regional spinal, semester 4 berupa ujian pediatrik 1 dan spinal
2.
b. Tahap 2 (Akhir semester VI)
Evaluasi tahap pertengahan bertujuan untuk mengetahui
apakah seluruh paket pendidikan telah dilaksanakan dengan
baik dan benar. Evaluasi ini menentukan apakah peserta
program dapat melanjutkan ke pendidikan tahap berikutnya.
Untuk semester 5 berupa epidural, neuro 1, dan pediatrik 2,
untuk semester 6 berupa ujian toraks, ICU, dan neuro 2.

42
c. Tahap III (Akhir semester VIII)
Evaluasi tahap akhir bertujuan untuk mengetahui apakah
seluruh paket pendidikan telah di laksanakan dengan baik dan
benar. Pelaksanaan evaluasi tahap akhir berupa ujian lisan
mengenai semua aspek anestesiologi yang bersifat teknis-
klinis dan membahas secara komprehensif tentang hasil
penelitian yang telah di lakukan sebagai syarat untuk
mengikuti ujian akhir yang bersifat nasional. Persyaratan
untuk mengikuti ujian akhir peserta harussudah lulus ujian
teori tahap awal yang bersifat nasional dan lulus semua paket
pendidikan.Ujian ini berupa Mini-PAT (Mini-peer assessment
tool), DOPS (Direct Observation Procedural Skill), dan atau
CbD (Case-based Discussion).
2. Ujian Karya ilmiah akhir atau penelitian
Ujian ini bertujuan untuk menilai karya ilmiah akhir atau penelitian
berupa tesis yang telah dilakukan oleh peserta program. Hasil
ujian penelitian ini dapat dijadikan bagian dari Integrated degree
bagi IPDS melaksanakan program tersebut pada kurikulum
institusionalnya dengan mematuhi peraturan-peraturan yang
berlaku secara nasional dan institusional.
3. Ujian Lokal Lain
Ujian ini dapat berupa lisan, tulis atau keterampilan yang
mendukung penerapan kurikulum institusional. Ujian lokal ini
bertujuan untuk mengetahui apakah peserta program mempunyai
kemampuan secara komprehensif meliputi pengetahuan,
keterampilan, dan sikap akademik profesional dokter spesialis
anestesiologi dan terapi intensif.

43
6.3 Ujian Nasional
Ujian nasional ialah evaluasi kompetensi keprofesian tahap
nasional yang dikoordinasikan oleh KATI dengan tujuan menjamin
dan menyetarakan mutu dan kompetensi dokter spesialis Anestesi
dan Terapi Intensif. Selain sebagai bagian dari evaluasi hasil
pembelajaran, Ujian nasional ini adalah salah satu prasyarat
pengajuan sertifikat kompetensi kepada Kolegium. Ujian nasional ini
harus dijalani oleh semua dokter spesialis anestesi yang akan
melakukan praktek kedokteran dibidang Anestesiologi dan Terapi
Intensif di Indonesia. Berdasarkan peraturan Konsil Kedokteran
Indonesia no. 7 tahun 2012, no. 14 tahun 2013, dan no.
157/KKI/PER/XII/2009 tentang program adaptasi, Peserta Program
Adaptasi juga diwajibkan mengikuti ujian nasional dan dinyatakan
lulus agar dapat memperoleh sertifikat kompetensi sebagai salah
satu prasyarat untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi. Ujian
Nasional terdiri dari Ujian Tulis Nasional, Ujian Kompetensi Nasional
dan Ujian lisan Akhir Nasional. Ujian nasional dilaksanakan dan
diatur oleh Komisi Ujian Nasional (KUN) yang dibentuk KATI.
Penentuan kelulusan harus menggunakan Penilaian Acuan
Patokan (Criterion-referenced). Kriteria kelulusan merupakan hasil
pencapaian kompetensi dengan mempertimbangkan aspek hard
skills dan soft skills. Penilaian hasil belajar harus memenuhi asas
validitas, reliabilitas, kelayakan dan mendorong proses belajar.

6.3.1 Ujian Tulis Nasional


Ujian tulis nasional adalah ujian pengetahuan klinis spesialis
dasar (Basic Specialist) yang diselenggarakan dua kali/tahun (Januari
dan Juli). Ujian ini ditujukan kepada peserta program yang telah
menyelesaikan pendidikan tahap 1 (semester 4). Tujuan ujian ini
adalah untuk menjamin dan menyetarakan kemampuan dan
pengetahuan klinis spesialis dasar (Basic specialist).
44
Tatalaksana ujian tulis nasional :
1. Bahan ujian mencangkup semua aspek Anestesiologi dan Terapi
Intensif sesuai dengan modul yang berlaku
2. Soal ujian dalam bentuk pilihan ganda 1 (satu) di antara 5 (lima).
3. Ujian merupakan ujian pengetahuan dasar anestesiologi dan
terapi intensif (anatomi, fisiologi dan farmakologi terapan), dan
pengetahuan klinis spesialis dasar (Basic Specialist Training).
4. Ujian diselenggarakan 2 (dua) kali dalam satu tahun (Januari dan
Juli).
5. Ujian tulis :
a. Soal ujian diambil dari setiap IPDS dan dikumpulkan dalam
bank soal.
b. Pemilihan soal yang akan diujikan dalam satu periode ujian
dilakuakn oleh tim reviewer KUN. Jawaban soal harus dapat
ditemukan di buku standar yang telah ditentukan. Tim
reviewer berhak mengubah, melakukan revisi susunan
pertanyaan dan kalimat pilihan pertanyaan.
c. Daftar nama peserta ujian dikirim oleh setiap IPDS paling
lambat 1 (satu) bulan sebelum pelaksanaan ujian tulis
nasional.
d. Ujian tulis dilaksanakan serentak pada hari yang sama di
pusat-pusat pendidikan yang telah ditentukan. Pengawas
ujian berasal dari pusat pendidikan yang berbeda, ditentukan
oleh KUN.
6. Ketentuan lulus adalah 65
7. Pengumuman hasil ujian diumumkan segera setelah penilaian
ujian tulis nasional selesai.
8. Peserta yang dinyatakan tidak lulus diperbolehkan mengulang
pada ujian nasional berikutnya
9. Peserta ujian nasional yang dinyatakan lulus diberi sertifikat yang
ditandatangani oleh ketua KATI.
45
10. Untuk setiap peserta dikenakan biaya ujian yang besarnya sesuai
dengan ketentuan yang disepakati pada setiap periode ujian dan
biaya ujian dikirimkan ke alamat rekening yang sudah ditentukan.
11. Transportasi dan akomodasi pengawas ditanggung oleh IPDS
yang menyelenggarakan ujian dan honorarium pengawas
ditanggung oleh KATI.

6.3.2 Uji Kompetensi Nasional


Ujian kompetensi adalah ujian OSCE (Objective Structured
Clinical Examination) yang diselenggarakan satu kali/tahun oleh
KUN. Ujian diselenggarakan bersamaan dengan kegiatan ilmiah /
konggres / pertemuan yang diselenggarakan oleh KATI / PERDATIN
dan bersifat nasional. Ujian ini ditujukan kepada peserta program
yang akan menyelesaikan pendidikan tahap 2 (semester 6) dan/atau
sedang menjalani awal pendidikan tahap 3 (semester 7). Tujuan ujian
ini adalah untuk mengevaluasi kompetensi dasar dan lanjut peserta
program agar tercapai standar kompetensi nasional.
Tatalaksana ujian kompetensi nasional :
1. Bahan ujian mencangkup semua aspek anestesiologi dan terapi
intensif sesuai dengan modul yang berlaku
2. Soal ujian dalam bentuk OSCE (Objective Structured Clinical
Examination)
3. Ujian merupakan ujian pengetahuan anestesiologi dan terapi
intensif, penatalaksanaan kasus, keterampilan klinis spesialis
dasar (Basic Specialist Skill) dan Keterampilan klinis spesialis
lanjut (Advanced specialist skill).
4. Ujian diselenggarakan satu kali/tahun oleh KUN.
5. Ujian diselenggarakan bersamaan dengan kegiatan ilmiah/
kongres/ pertemuan yang diselenggarakan oleh KATI/ PERDATIN
dan bersifat nasional.

46
6. Ujian Kompetensi merupakan susunan kasus diujikan yang
menggambarkan kemampuan yang diuji secara proporsional.
7. Ujian Kompetensi menentukan keterampilan klinik, keterampilan
komunikasi, dan pengetahuan yang diuji dengan memperhatikan
keterwakilan sistem, lokasi, fokus kompetensi, serta kasus
sehingga peserta diuji secara komprehensif.
8. Kompetensi yang dinilai :
a. Kompetensi Umum
i. Etika
ii. Kemampuan komunikasi
iii. Kerjasama tim
iv. Patient safety
b. Kompetensi Dasar
i. Ilmu kedokteran dasar
ii. Basic Specialist Skill
iii. Perioperative medicine
iv. Penatalaksana nyeri
v. Emergency medicine
c. Kompetensi Lanjut
i. Advanced Specialist Skill
ii. Critical care
9. Ujian Kompetensi Nasional / OSCE :
a. Jenis stasion :
i. Emergency medicine (BLS, ALS, Disaster medicine, dll)
ii. Critical care
iii. Perioperative medicine
iv. Anestesi umum
v. Anestesi regional (neuroaxial)
vi. Anestesi regional (blok saraf tepi)
vii. Penatalaksana nyeri
viii. Anesthesia and uncommon diseases
47
b. Format penulisan soal :
i. Nomor station
ii. Judul stasion
iii. Waktu yang dibutuhkan
iv. Tujuan station
v. Kompetensi
vi. Kategori
vii. Instruksi untuk peserta
viii. Instruksi untuk penguji
ix. Instruksi untuk pasien simulasi
x. Peralatan yang dibutuhkan
xi. Penulis
xii. Referensi
xiii. Lembar Penilaian (Rubrik)
c. Soal OSCE dibuat oleh KUN yang juga merupakan tenaga
kesehatan sesuai profesi dari institusi pendidikan di Indonesia.
Proses pembuatan soal dilakukan bersama-sama dalam suatu
lokakarya. Soal yang dihasilkan dari workshop ini kemudian
ditelaah bersama KUN untuk analisis kemungkinan
pelaksanaan station tersebut.Soal yang telah dianggap layak
selanjutnya ditelaah kembali oleh Divisi terkait (panel
expert).Selanjutnya soal ini diujicobakan pada pelatihan
penguji OSCE dan pelatih Pasien Standarisasi (PS). Soal
yang baik disimpan dalam bank soal KUN dan memiliki
kesempatan untuk diujikan pada Ujian Kompetensi.Setiap soal
OSCE harus dibuat sesuai cetak biru penilaian dan format
penulisan soal yang disepakati dengan menggunakan formulir
yangterstandarisasi serta direview bersama sesuai formulir
yang terstandarisasi.

48
10. Ketentuan lebih lanjut tentang ujian kompetensi akan ditetapkan
oleh KUN KATI
11. Ketentuan lulus adalah 70
12. Pengumuman hasil ujian diumumkan segera setelah penilaian
ujian kompetensi selesai.
13. Peserta yang dinyatakan tidak lulus diperbolehkan mengulang
pada ujian kompetensi berikutnya
14. Peserta ujian kompetensi yang dinyatakan lulus diberi sertifikat
yang ditandatangani oleh ketua KATI.
15. Untuk setiap peserta dikenakan biaya ujian yang besarnya sesuai
dengan ketentuan yang disepakati pada setiap periode ujian dan
biaya ujian dikirimkan ke alamat rekening yang sudah ditentukan.
16. Transportasi dan akomodasi penguji ditanggung oleh Panitia
kegiatan ilmiah / konggres / pertemuan yang diselenggarakan
oleh KATI / PERDATIN.
17. Honorarium Penguji ditanggung oleh KATI.

6.3.3 Ujian Akhir Nasional


Ujian akhir nasional merupakan evaluasi akhir yang bertujuan
untuk mengetahui apakah peserta program mempunyai kemampuan
secara komprehensif meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap
profesional dokter spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif. Ujian
ini dikoordinasi oleh KATI melalui KUN berupa ujian lisan. Untuk
dapat mengikuti ujian akhir nasional, peserta program harus:
1. Memenuhi jumlah kasus yang ditentukan dalam pencapaian
kompetensi dengan dibuktikan oleh log book.
2. Sudah lulus ujian tulis nasional dan ujian kompetensi nasional.
3. Menyelesaikan karya ilmiah akhir / penelitian dengan
melampirkan intisari hasil penelitian.

49
Tatalaksana ujian akhir nasional:
1. Bahan ujian mencangkup semua aspek anestesiologi dan terapi
intensif sesuai dengan modul yang berlaku
2. Ujian dalam bentuk ujian lisan tentang penatalaksanaan kasus
klinis.
3. Ujian diselenggarakan setiap saat bila sudah ada peserta
program yang siap.
4. Ujian akhir nasional :
a. Soal-soal ujian dibuat oleh IPDS yang akan
menyelenggarakan ujian, dengan melibatkan bidang minat
sesuai dengan topik yang akan diujikan. Soal berupa
penatalaksanaan kasus secara komprehensif, baik kasus
darurat, kasus pembedahan elektif, kasus pembedahan
dengan penyakit penyerta, teknik tertentu maupun
pengelolaan pasien ICU.
b. Semua pertanyaan disertai dengan jawabannya, ditulis dan
dibagikan kepada semua anggota tim penguji yang ditunjuk,
dan kepada notulis bukan penguji.
c. Sebelum ujian dilaksanakan, materi yang akan diujikan
dibahas oleh semua anggota tim penguji, untuk mendapatkan
kesamaan persepsi.
d. Disiapkan 5 (lima) kasus untuk masing-masing peserta ujian.
e. Bila peserta ujian telah mencapai minimum passing level
(MPL) dari 3 kasus materi ujian, maka 2 kasus yang lain tidak
perlu diujikan.
f. MPL untuk ujian lisan ditentukan 70 (kumulatif). Setiap kasus
terdiri dari 5 – 10 soal atau soal berantai.
g. Permintaan penguji dari pusat pendidikan yang akan
menyelenggarakan ujian ditujukan kepada KUN dengan
tembusan kepada Ketua KATI, 1 (satu) bulan sebelum tanggal

50
ujian, sedapat mungkin disertai dengan topik yang akan
diujikan
h. Ujian diselenggarakan di pusat pendidikan tempat peserta
ujian. Penyelenggaraan ujian dapat dilakukan setiap saat
apabila sudah ada peserta yang siap untuk diuji.
5. Pelaksanaan ujian :
a. Tatacara ujian dibacakan kepada peserta ujian oleh Ketua tim
penguji
b. Cara penilaian dilakukan dengan menggunakan pedoman
penilaian yang sudah dibakukan
c. Salah seorang penguji mengajukan pertanyaan sesuai
dengan yang telah ditentukan, dan masing-masing penguji
member penilaian terhadap semua jawaban peserta ujian.
d. Semua tanya jawab selama ujian berlangsung dicatat oleh
notulensi bukan penguji, dan direkam. Keduanya akan
digunakan sebagai bahan pertimbangan apabila terdapat
perbedaan nilai yang mencolok antara penguji (lebih dari 20)
e. Hasil ujian diumumkan segera setelah ujian berakhir.
f. Peserta dinyatakan lulus atau tidak lulus dalam suatu berita
acara ujian.
6. Ketentuan lulus adalah 70 (kumulatif).
7. Apabila peserta tidak lulus, ujian ulangan dapat dilakukan sesuai
kesepakatan.
8. Peserta ujian nasional yang dinyatakan lulus diberi sertifikat yang
ditandatangani oleh ketua KATI.
9. Untuk setiap peserta dikenakan biaya ujian yang besarnya sesuai
dengan ketentuan yang disepakati pada setiap periode ujian dan
biaya ujian dikirimkan ke alamat rekening yang sudah ditentukan.
10. Transportasi dan akomodasi penguji ditanggung oleh IPDS yang
menyelenggarakan ujian dan honorarium penguji ditanggung oleh
KATI.
51
Peraturan Pelaksanaan Ujian Akhir Nasional
Hak Anggota :
1. Mengajukan pertanyaan sesuai dengan pertanyaan yang sudah
disiapkan.
2. Memberikan pengarahan bila dipandang perlu
3. Untuk mengajukan satu pertanyaan digunakan waktu tidak lebih
dari 3 menit
4. Bila perlu, dapat meminta anggota tim penguji yang lain untuk
membantu memperjelas pertanyaan

Hak Peserta Program Yang Diuji :


1. Mengajukan pertanyaan penjelas apabila ada pertanyaan dari
penguji yang dianggap kurang jelas.
2. Mengajukan permintaan data penunjang.

Penetapan Angka:
1. Masing-masing anggota tim penguji menggunakan daftar
jawaban yang telah disiapkan sebagai dasar pemberiak nilai
minimum
2. Angka terakhir adalah jumlah angka masing-masing penguji
dibagi jumlah penguju.
3. Jika perbedaan nilai diantara penguji > 20, penetapan angka
dilakukan dengan mendengarkan rekaman jawaban dan catatan
notulis bukan penguji

Penetapan Angka Kelulusan:


1. Minimum passing level (MPL) ditetapkan 7
2. Jika peserta program tidak mencapai nilai MPL, ujian ulangan
ditetapkan oleh penguji dan peserta program dengan syarat yang
harus dipenuhi.

52
Lain-lain
1. Untuk masing-masing peserta program, jumlah penguji minimum
3 orang, terdiri dari minimal 1 (satu) orang penguji yang ditunjuk
oleh KUN KATI.
2. Satu orang notulis bukan penguji berasal dari pusat pendidikan
yang menyelenggarakan ujian.
3. Semua pertanyaan dan jawaban direkam.
Skoring / Pemberian Nilai Ujian Akhir Nasional
 Jawaban lengkap tanpa pengarahan 90
 Jawaban lengkap dengan sedikit pengarahan 80
 Jawaban lengkap dengan cukup pengarahan 70
 Jawaban kurang lengkap (lebih dari 50%) dengan cukup
60
pengarahan
 Jawaban kurang lengkap (kurang dari 50%) dengan
50
cukup pengarahan
 Jawaban salah meskipun dengan cukup pengarahan 0
 Soal beranta
1. Jawaban pertama salah 0
2. Jawaban berikutnya maksimum mendapat nilai 70
Catatan : Bila ada ekstra jawaban yang baik, nilai dapat
diperhitungkan dan jawaban dapat diberi nilai sampai 100
dan Minimum Passing Level : 70

6.3.4 Penilaian
6.3.4.1 Sistem Penilaian
Kisaran angka Huruf mutu Bobot
> 75 – 100 A 4
> 70 – 75 AB / B+ 3,5
> 65 – 70 B 3
> 60 – 65 BC / C+ 2,5
> 55 – 60 C 2
> 50 – 55 CD / D+ 1,5
> 45 – 50 D 1
≤ 45 E 0

53
6.3.4.2 Pedoman Penghitungan Indek Prestasi
Kisaran angka Huruf mutu Bobot

> 3,75 A 4

3,25 – 3,74 AB / B+ 3,5

2,75 – 3,24 B 3

2,25 – 2,74 BC / C+ 2,5

1,75 – 2,24 C 2

1,25 – 1,74 CD / D+ 1,5

0,75 – 1,24 D 1

< 0,75 E 0

6.3.4.3 Pembobotan Nilai


No Penilaian Bobot
1. Kognitif 30%
2. Psikomotor 30%
3. Afektif 40%
Total 100%

6.3.4.4 Predikat Kelulusan


Indek Prestasi Predikat Kelulusan
3,00 – 3,50 Memuaskan
3,51 – 3,75 Sangat memuaskan
3,76 – 4,00 Pujian (Cumlaude)

Berdasarkan permendikbud no.49/2014 pasal 24 ayat 3, peserta


program spesialis dinyatakan lulus bila indeks prestasi kumulatif 3.00
atau lebih.

54
6.3.5 Komisi Ujian Nasional
1. KUN dibentuk oleh KATI dengan masa kerja sesuai
kepengurusan KATI, dan maksimum 2 (dua) kali masa
kepengurusan.
2. Tugas KUN :
a. Mengembangkan panduan sistem ujian nasional
b. Mengkoordinasikan penyelenggaraan ujian nasional
c. Menetapkan penguji nasional
d. Menyusun daftar kelompok penguji nasional
e. Mendokumentasikan penyelenggaraan ujian nasional
f. Mensyahkan lulus atau tidaknya peserta ujian
g. Melaporkan secara tertulis dan mempertanggungjawabkan
kegiatan ujian nasional kepada Ketua KATI

6.3.5.1 Penguji Ujian Nasional


Daftar penguji nasional diperoleh KUN dari IPDS dengan ketentuan:
1. Staf penilai (SpAn yang telah lulus minimal lebih dari 5 tahun, dan
berada di institusi pendidikan selama masa tersebut) dan
memenuhi kriteria sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Dianggap layak oleh IPDS setempat
3. Daftar personalia PUN ditentukan setiap akan dilaksanakan ujian
nasional
4. Anggota PUN diusulkan oleh IPDS setelah mendapat
persetujuan/pengesahan dari Ketua Departemen setempat.
5. Setiap penguji mendapatkan sertifikat keikutsertaannya sebagai
PUN yang ditandatangani oleh ketua KATI
6. Pada ujian akhir nasional harus diikutisertakan minimal 1 (satu)
penguji yang bukan berasal dari IPDS tempat peserta program
belajar
7. Pada setiap ujian nasional diupayakan minimal ada seorang
penguji internasional
55
SPESIALIS ANESTESI

Ujian Akhir Nasional


Ujian Nasional Spesialis Anestesi:Mampu memberikan pelayanan anestesi paripurna sesuai standar operasional prosedur, etik dan
hukum kedokteran; Mampu memberikan pelayanan bantuan hidup baik dasar atau lanjutan dalam kegawatdaruratan sesuai standar
operasional prosedur, etik dan hukum kedokteran; Mampu memberikan pelayanan terapi intensif dasar sesuai standar operasional
prosedur, etik dan hukum kedokteran; Mampu memberikan pelayanan nyeri paripurna sesuai standar operasional prosedur, etik
dan hukum kedokteran; Mampu menghasilkan karya ilmiah yang sesuai dengan kaidah ilmiah nasional dan internasional

Ujian Penelitian
Ujian kompetensi Tahap 3 (Ujian Lokal
SpesialisAnestesi)

8
Mampu melakukan manajemen paripurna Mampu melakukan manajemen

Tahap 3
Semester 7,
anestesi terapi intensif dasar paripurna nyeri perioperatif

Mampu melakukan manajemen Mampu melakukan manajemen


Mampu
paripurna anestesi elektif paripurna kegawatdaruratan
menghasilkan
karya ilmiah
Ujian Kompetensi Nasional dengan benar

Mampu menjelaskan perawatan intensif pada kasus Mampu melakukan penatalaksanaan


khusus dengan benar dan melakukan perawatan nyeri pada pediatri dan geriatri dan
intensif pada kasus khusus dengan benar
melakukan nyeri pada paliatif

Mampu menjelaskan prinsip anestesi pada Mampu menjelaskan prinsip bantuan hidup dasar dan lanjutan tingkat

Semester 5, 6

Tahap 2
bedah emergency tingkat lanjut dengan benar lanjut dengan benar, melakukan penatalaksanaan bantuan hidup dasar

dan melakukan anestesi pada bedah emergency dan lanjutan tingkat lanjut dengan benar dan menjelaskan dasar-dasar

tingkat lanjut dengan benar manajemen bencana dengan benar

Mampu Mampu menjelaskan prinsip anestesia elektif Mampu menjelaskan prinsip anestesia
tingkat lanjut dengan benar dan melakukan kasus khusus dengan benar, dan
melakukan
keterampilan anestesi elektif tingkat lanjut melakukan ketrampilan anestesi kasus
komunikasi
dengan benar khusus dengan benar
medis
Mampu
Ujian Tulis Nasional
membuat
karya ilmiah
Mampu menjelaskan penatalaksanaan nyeri akut dan nyeri kronik perioperatif dan analgesia preemptif secara
farmakologik, blok neuroaksial atau kombinasi, melakukan penatalaksanaan nyeri akut dan nyeri kronik dengan
perioperatif dan analgesia preemptif secara farmakologik dan blok neuroaksial atau kombinasi benar

Mampu menjelaskan prinsip bantuan hidup Mampu mejelaskan perawatan intensif dasar dengan benar,
dasar dan lanjutan tingkat awal dengan benar, melakukan perawatan intensif dasar dengan benar,
melakukan penatalaksanaan bantuan hidup menjelaskan dasar perawatan paska henti jantung dengan
dasar dan lanjutan tingkat awal dengan benar benar dan melakukan perawatan paska henti jantung dengan
benar
Tahap 1

Mampu menjelaskan prinsip Mampu menjelaskan prinsip anestesi pada bedah


Mampu
Semester 1, 2, 3,4

anestesi elektif tingkat awal emergency tingkat awal dengan benar dan
melakukan
dengan benar dan melakukan melakukan prinsip anestesi pada bedah
komunikasi
keterampilan anestesi elektif emergency tingkat awal denganbenar
medis
tingkat awal

Mampu menjelaskan proses pembelajaran klinis multidisiplin


56
dengan benar, filsafat ilmu dengan benar, metodologi riset dan
statistik dengan benar, epidemiologi klinik dengan benar, biologi
molekuler dengan benar dan imunologi dengan benar
BAB VII
PESERTA DIDIK

7.1 Sistem Rekrutmen Peserta Didik Baru


7.1.1 Kriteria Penerimaan Peserta Didik Baru
Calon peserta didik baru PPDS-1 dalam Program Studi Anestesiologi
dan Terapi Intensif dapat melihat persyaratan atau kelengkapan
administrasi serta jadwal ujian di Sekretariat Program Pendidikan
Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon peserta didik sebagai
berikut:

1. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rata-rata (IPK S.Ked + IPK


Dokter dibagi dua) minimal 2.75 dengan ketentuan salah satu
IPK (S.Ked + Dokter) tidak dibawah IPK 2,5

2. Calon peserta didik maksimal berusia 35 tahun


3. Calon peserta maksimal telah mengikuti 2 (dua) kali seleksi pada
program studi yang sama di Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya
4. Calon peserta didik membuat surat permohonan dalam bentuk
tulisan tangan ditujukan kepada Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya
5. Calon peserta didik mengisi formulir yang telah ditentukan
dengan melampirkan pas foto ukuran 4x6 berwarna sebanyak 3
lembar yang telah ditanda tangani. Formulir ditandatangani di
atas materai Rp. 6.000,-
6. Calon peserta didik melengkapi persyaratan administrasi lain:
 Fotokopi ijazah dan transkrip nilai Sarjana Kedokteran dan
Dokter (profesi) yang telah dilegalisir oleh Fakultas
Kedokteran asalnya

57
 Fotokopi Akta Kelahiran
 Surat rekomendasi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
setempat yang menyatakan tidak pernah melakukan
malpraktik dan pelanggaran Kode Etik Kedokteran
 Surat Keterangan Berkelakuan Baik (SKKB) dari Kepolisian
yang masih berlaku
 Surat Keterangan Selesai Masa Bakti (PTT) dari Kementerian
Kesehatan atau surat keterangan akan menyelesaikan PTT
bagi yang belum menyelesaikan masa bakti
 Surat Izin mengikuti pendidikan dari Instansi Kementerian
Kesehatan, Kementerian Pertahanan dan Keamanan,
Kepolisian Republik Indonesia atau Kementerian lainnya serta
Instansi yang membiayai, dilengkapi dengan SK
Pengangkatan dari Instansi yang bersangkutan apabila bukan
peserta mandiri
 Daftar riwayat hidup
 Fotokopi Kartu Pegawai (Karpeg)
 Fotokopi KTP yang masih berlaku
 Bukti cetak telah terdaftar di PDPT (Pangkalan Data
Perguruan Tinggi). Bagi calon peserta yang tidak terdaftar
diwajibkan membuat surat pernyataan yang ditandatangani di
atas materai Rp. 6.000,-
 Fotokopi sertifikat telah mengikuti General Emergency Life
Support (GELS)
 Fotokopi sertifikat tes bahasa Inggris dari Universitas
Sriwijaya (SULIET) dengan nilai minimal 450
 Fotokopi tanda lulus Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI)
/ Ujian Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD)

58
7. Setelah melengkapi semua persyaratan administasi, semua
berkas permohonan diserahkan ke Sekretariat PPDS Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya

7.1.2 Praseleksi Penerimaan Peserta Didik Baru


Terdapat beberapa tahapan prosedur yang harus dijalani yaitu:
1. Ketua PPDS melakukan praseleksi untuk menilai kelengkapan
dan keabsahan dokumen lamaran
2. Jika persyaratan administrasi tidak terpenuhi maka akan
dikomunikasikan bahwa calon peserta didik peserta tidak dapat
mengikuti seleksi di bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif
3. Jika persyaratan administrasi terpenuhi maka formulir akan
diserahkan ke bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif untuk
dilakukan penilaian sesuai jadwal yang ditetapkan PPDS
4. Calon peserta didik yang memenuhi persyaratan diharuskan
datang untuk mengikuti uji kesehatan, uji psikologi dan MMPI, tes
tertulis, penelitian berkas dan wawancara dengan panitia guna
mengetahui:
a. Penampilan calon
b. Kemampuan berkomunikasi atau berdiskusi
c. Pandangan, sikap dan motivasi calon terhadap bidang
Anestesiologi
d. Cita-cita hidupnya setelah pendidikan
e. Pengalamannya dalam bidang penelitian, termasuk kursus-
kursus yang telah diikutinya.
f. Kemampuan untuk mengembangkan ilmunya
g. Keadaan sosial-ekonomi keluarganya

7.1.3 Instrumen Penerimaan Peserta Didik Baru


Instrumen yang digunakan saat seleksi peserta didik baru ialah
lembar komponen penilaian calon PPDS-1 Bagian Anestesiologi dan
59
Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya sebagai
berikut:

Gambar Instrumen Penilaian Calon Peserta Didik

7.1.4 Sistem Pengambilan Keputusan Peserta Didik Baru


Diterima atau tidaknya calon peserta Program Studi Anestesiologi
berdasarkan hasil penilaian:
1. Kelengkapan administrasi
2. Lama pendidikan
3. IPK
4. Pengalaman kerja dan karya ilmiah berkaitan dengan Critical
Care/Anestesiologi

60
5. Sertifikat PTC, ATLS, ACLS, GELS, FCCS
6. Hasil ujian tulis
7. Hasil wawancara
8. TOEFL
9. MMPI / psikotes
10. Motivasi asal
11. Tempat tugas
Hasil penilaian akan dirapatkan bersama oleh panitia yang telah
ditunjuk dan dilaporkan oleh KPS kepada Dekan melalui Koordinator
Penyelenggara PPDS untuk kemudian dilaporkan kepada Rektor
Universitas Sriwijaya.

Gambar Sistem Rekrutmen Calon Peserta Didik Baru


61
7.1.5 Penerimaan Peserta Didik Baru
Calon peserta didik yang diterima selanjutnya melakukan pendaftaran
ulang di BAAK Universitas Sriwijaya untuk menyelesaikan
persyaratan administrasi sebagai mahasiswa baru, membayar SPP
dan TPP serta mendapatkan Kartu Mahasiswa. Calon peserta didik
harus menandatangani surat perjanjian yang menerangkan bahwa
yang bersangkutan akan tunduk kepada peraturan dan ketentuan
serta keputusan program studi, PPDS, Fakultas, Universitas dan
RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang sebagai rumah sakit
pendidikan. Setelah persyaratan administrasi telah diselesaikan maka
calon peserta didik tersebut secara resmi sudah menjadi residen dan
dapat memulai pendidikannya.

7.2 Suasana Akademik


7.2.1 Hak Peserta Didik
Secara umum seorang peserta didik mempunyai hak sebagai berikut:
1. Hak atas otonomi keilmuan dan mimbar akademik antara lain hak
untuk menentukan judul laporan ilmiah, laporan kasus, journal
reading, dan judul penelitian
2. Hak atas kebebasan akademik antara lain hak untuk
diikutsertakan dalam perlombaan ilmiah baik tingkat nasional atau
internasional, hak untuk diikutsertakan dalam kegiatan ilmiah
(simposium atau workshop) nasional atau internasional
3. Hak untuk mengutarakan keluhan
4. Hak untuk diikutsertakan dalam kegiatan supervisi dan bimbingan
kepada peserta didik yang lebih muda dan dokter muda
5. Hak untuk diikutsertakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat,
pelatihan maupun kepanitiaan suatu acara
6. Hak untuk memperoleh kompetensi sebagai dokter spesialis
anestesi

62
7. Hak untuk memberikan penilaian dan masukan mengenai staf
pendidik dan sistem pendidikan

7.2.2 Kewajiban
Secara umum seorang peserta didik mempunyai kewajiban sebagai
berikut:
1. Wajib untuk patuh terhadap tata tertib yang berlaku
2. Wajib menjalani semua proses kurikulum yang berlaku
3. Wajib bekerja di bawah supervisi tenaga pengajar
4. Wajib bekerja sesuai dengan tahapan pendidikannya (level
kompetensinya)

7.2.3 Waktu Pendidikan


Adapun waktu pendidikan yang harus diikuti seorang peserta didik
ialah:
1. Pada hari kerja: acara rutin / kegiatan harian mulai pukul 07.00
sampai dengan pukul 16.00 atau sampai ada serah terima
dengan pengganti atau bila ada kegiatan lain untuk hari kerja dan
tugas jaga mulai pukul 16.00 sampai dengan pukul 07.00 esok
harinya.
2. Di luar jam kerja: tugas jaga mulai pukul 07.00 sampai dengan
pukul 07.00 esok harinya.
3. Waktu tersebut di atas dapat berubah apabila ada peraturan
yang lebih baru

7.2.4 Tata Tertib Umum


1. Hadir tepat waktu sesuai dengan ketentuan di atas
2. Berpakaian sesuai dengan peraturan yang ditetapkan
3. Tidak meninggalkan lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya-RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang kecuali untuk stase

63
luar atau tugas resmi dengan izin atau sepengetahuan KPS dan
SPS
4. Segala sesuatu berkenaan dengan tugas jaga di rumah sakit luar
selain jejaring dan afiliasi Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya-RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang merupakan
tanggung jawab pribadi peserta didik tersebut bukan di bawah
Departemen / Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif
5. Tata tertib dan peraturan berlaku di semua rumah sakit jejaring
dan afiliasi

7.2.5 Pemberian Sanksi


Seorang peserta didik akan dikenakan sanksi bila melanggar
peraturan-peraturan sebagai berikut:
1. Peserta didik tidak mematuhi peraturan yang berlaku di
tempatnya berada
2. Peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan selama lebih dari
14 hari berturut-turut dengan atau tanpa izin harus mengulang
atau mengganti stase dimana dia harusnya berada saat itu
3. Peserta didik tidak mengikuti acara rutin atau kegiatan harian
4. Peserta didik tidak mengikuti acara ilmiah (bukan sebagai
pembicara) lebih dari 10 %
5. Peserta didik tidak melakukan konsultasi dalam menangani
pasien gawat darurat
6. Peserta didik terlambat hadir ke acara ilmiah, kamar operasi atau
stase dimana dia harusnya berada saat itu
7. Peserta didik menyebabkan kematian atau kecacatan pasien
akibat anestesi yang disebabkan karena teknik anestesi tidak
sesuai dengan standar pelayananan anestesi di RS dimana ia
bekerja.

64
8. Peserta didik meminta sponsor ke perusahaan Farmasi secara
langsung
9. Peserta didik mengikuti simposium/ kongres/ acara ilmiah lain
tanpa sepengetahuan KPS/ SPS
10. Peserta didik terlambat dalam mengajukan tugas ilmiah (sebagai
pembicara)
11. Peserta didik melakukan penggelapan data sampel penelitian,
data pasien pada status dan pemalsuan laporan
12. Peserta didik merusak nama Bagain Anestesi FK UNSRI - RSMH
Palembang.
13. Peserta didik merokok di lingkungan RSMH atau tempat
pendidikan.

Bila ada pelanggaran ketentuan ini akan dikenakan sanksi dari mulai
berupa teguran lisan lalu teguran tertulis dan paling berat dari mulai
skorsing 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 6 bulan, sampai dikeluarkan
sebagai peserta pendidikan anestesiologi. Pelanggaran afektif dapat
dikenakan hukuman paling berat sekaligus berdasarkan sidang
seluruh staf pengajar. Keputusan skorsing yang melebihi 3 bulan
harus berdasrkan sidang staf pengajar (tidak diputuskan oleh KPS,
SPS, Kabag secara tersendiri). Drop Out diberlakukan bila
melakukan empat kali kesalahan fatal., KPS dengan timnya dapat
menjatuhkan sanksi tanpa sidang seluruh konsulen dengan
pengecualian hukuman skorsing yang melebihi 3 bulan / dikeluarkan
dari pendidikan anestesi. Sanksi dikenakan berdasarkan norma
afektif, psikomotor, dan kognitif.

65
a. Sanksi Atas Pelangggaran Norma Afektif

Jenis Sanksi
No. Jenis Pelanggaran
Pertama Kedua Ketiga
Peringatan
1 Memberi keterangan palsu Dikeluarkan
keras
Mabuk, berjudi, berkelahi di
2 tempat pendidikan dengan Dikeluarkan
siapapun
Menolak perintah konsulen sesuai
dengan aturan pendidikan atau Peringatan Peringatan
3 Dikeluarkan
melalaikan kewajiban tanpa alasan I II
yang kuat
Tidak datang ke tempat Peringatan Peringatan
4 Dikeluarkan
pendidikan tanpa alasan yang kuat I Keras
Mencemarkan nama baik
Peringatan Peringatan
5 konsulen, bagian, institusi Dikeluarkan
Keras I
pendidikan
Meninggalkan tempat kerja tanpa Peringatan Peringatan
6 Dikeluarkan
izin pimpinan atau konsulen I Keras
Datang terlambat / pulang Peringatan Peringatan
7 Dikeluarkan
sebelum waktunya I II
Peringatan Peringatan
8 Membocorkan rahasia jabatan Dikeluarkan
Keras I
Bekerja sama dengan perusahaan Peringatan Peringatan
9 Dikeluarkan
farmasi dan mendapat imbalan Keras Keras
Pencurian, manipulasi alat RS /
10 Dikeluarkan
alat pendidikan.
Melakukan penganiayaan
11 Dikeluarkan
terhadap pimpinan / teman kerja
Melakukan tindakan yang
Peringatan
12 mengakibatkan kerusakan barang- Peringatan Dikeluarkan
Keras
barang RS
Kelalaian dalam memelihara Peringatan Peringatan
13 Dikeluarkan
barang RS / alat pendidikan I II
14 Menghasut teman untuk melawan Dikeluarkan

66
kebijakan bagian / pimpinan /
konsulen
15 Melanggar hukum pidana / perdata Dikeluarkan
Melanggar tata tertib umum Peringatan
16 Dikeluarkan
sebagai peserta didik Keras
Mengambil obat-obatan milik RS /
17 menyalahgunaan obat narkotik / Dikeluarkan
sejenisnya

b. Sanksi Atas Pelanggaran Psikomotor

Jenis Sanksi
No Jenis Pelanggaran
Pertama Kedua Ketiga

Menyebabkan kematian atau


Peringatan
1 kecacatan pasien tanpa konsultasi Dikeluarkan
Keras
dengan Chief Residen / Konsulen
Menyebabkan penderita
menanggung kerugian atas tindakan Peringatan Peringatan
2 Dikeluarkan
yang dilakukan tanpa konfirmasi I II
dengan Chief Residen / Konsulen
Menyebabkan kondisi pasien lebih Peringatan Peringatan
3 Dikeluarkan
buruk dari perkiraan sebelumnya I II
Kelalaian dalam menangani pasien
Peringatan Peringatan
4 sehingga jatuh dalam kondisi yang Dikeluarkan
I II
lebih buruk
Melakukan tindakan tidak sesuai
Peringatan Peringatan
5 dengan kompetensi pada semester Dikeluarkan
I II
yang dijalani
Melakukan tindakan baru / coba-
Peringatan Peringatan
6 coba tanpa konsultasi dengan Chief Dikeluarkan
I II
Residen / Konsulen
Memberikan obat-obat yang tidak
Peringatan Peringatan
7 lazim tanpa izin / konsultasi dengan Dikeluarkan
I II
konsulen

67
c. Sanksi Atas Pelanggaran Kognitif

Jenis Sanksi
No. Jenis Pelanggaran
Pertama Kedua Ketiga
Tidak melakukan kegiatan ilmiah Peringatan Tidak Naik
1 Peringatan
sesuai dengan semesternya Keras Semester
Tidak ujian pada waktu yang Peringatan Tidak Naik
2 Peringatan
telah ditentukan Keras Semester
Tidak mengajukan proposal Peringatan Tidak Naik
3 Peringatan
penelitian pada waktunya Keras Semester

7.3 Penghentian Pendidikan Peserta Didik


1. Penghentian pendidikan peserta didik bertujuan untuk:
a. Menjaga dan mempertahankan mutu pendidikan.
b. Mempertahankan efisiensi pendayagunaan sumber
pendidikan
c. Sebagai manifestasi tanggung jawab professional.
2. Penghentian pendidikan peserta didik merupakan keputusan
akhir setelah dilakukan serangkaian penilaian terhadap kemajuan
pendidikan yang menunjukkan tanda-tanda semakin jauh dari
pencapaian yang telah ditetapkan dalam kurikulum yang harus
diselesaikan. Penilaian meliputi unsur-unsur kognitif, afektif, dan
psikomotor.
3. Keputusan penghentian pendidikan hanya dapat dilakukan oleh
KPS yang selanjutnya dilaporkan ke Komisi Kompetensi KATI
dan ketua KATI.
4. Penghentian pendidikan peserta didik dapat terjadi sebagai
berikut:
a. Peserta didik mengundurkan diri.
b. Peserta didik memperlihatkan sikap tidak terpuji:
 Kurangnya rasa tanggung jawab professional yang dapat
membahayakan pasien ataupun lembaga pendidikan.
68
 Pelanggaran berat Kode Etika Kedokteran Indonesia
 Menolak menyelesaikan tugas yang diberikan.
c. Peserta didik membuat kesalahan-kesalahan yang berulang
setelah diperingatkan secara lisan dan/atau tertulis tanpa
menunjukkan upaya perbaikan yang memadai.
d. Peserta didik tidak menunjukkan kemajuan yang sesuai
dengan tujuan yang ditetapkan, dan program
pembinaan/bimbingan khusus yang diberikan baginya juga
tidak memberikan hasil yang baik.
e. Tahap penghentian: diputuskan atas dasar hasil penilaian
setelah pembahasan tuntas dalam rapat staf pengajar. Pada
pelanggaran kasus berat penghentian pendidikan dapat
dilaksanakan.

7.4 Bimbingan dan Konseling


Dalam pendidikannya, peserta didik dapat mengalami
kendala-kendala baik yang berkaitan dengan akademik, personal
maupun sosial. Untuk mencegah dan mengatasi agar kendala yang
dihadapi tersebut mengganggu atau menghambat pendidikannya
maka diperlukan pemantauan, bimbingan dan bantuan seorang
tenaga pengajar khusus. Untuk tujuan ini maka KPS menunjuk
seorang pembimbing akademik untuk melakukan bimbingan dan
konseling sehingga proses pendidikan seorang peserta didik berjalan
lancar.
Pembimbing Akademik adalah dosen yang ditunjuk oleh KPS
untuk membimbing dan membantu peserta didik memecahkan
masalah yang dihadapinya selama masa pendidikannya. Seorang
pembimbing akademik mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Memonitor perkembangan peserta didik dengan cara melihat
hasil evaluasi belajarnya

69
2. Mengidentifikasi dan mengatasi kendala akademik, personal,
sosial dan psikologi peserta didik bimbingannya yang
diperkirakan mempengaruhi pendidikannya
3. Memberikan bimbingan secara intensif kepada peserta didik
bimbingannya apabila hasil evaluasi belajar tidak berjalan
seharusnya
4. Melaporkan hasil pemantauan dan evaluasinya kepada KPS

Peserta didik dapat melakukan bimbingan dan konseling di


ruangan yang telah ditentukan KPS sebelumnya. Waktu bimbingan
dan konseling minimal sebanyak 2 kali (awal dan akhir semester) dan
setiap kali ada permasalahan.

7.5 Tata Cara Cuti dan Izin


7.5.1 Tata Cara Pengambilan Cuti
1. Setiap peserta didik berhak mengambil cuti selama 10 (sepuluh)
hari kerja dalam 1 (satu) tahun
2. Peserta didik baru berhak mengambil cuti setelah mengikuti ujian
Board Tulis Nasional, kecuali karena hal-hal yang khusus atas
persetujuan KPS
3. Peserta didik yang mengambil cuti harus membuat surat
permohonan cuti kepada Dewan Chief dan KPS
4. Permohonan cuti disampaikan kepada Dewan Chief dan KPS
minimal 2 (dua) minggu sebelum stase dikeluarkan
5. Setiap pengambilan cuti maksimal 5 (lima) hari kerja dalam satu
periode cuti
6. Jumlah hari cuti tidak dapat diakumulasikan ke tahun berikutnya
7. Cuti melahirkan (minimal 3 bulan) sudah termasuk hak cuti tahun
tersebut

70
8. Apabila peserta didik sakit (dibuktikan dengan surat keterangan
sakit dari poli kepegawaian, atau instansi lain yang diakui), maka
tidak mengurangi jatah cuti
9. Apabila ada hal-hal lain di luar ketentuan tersebut di atas, maka
akan ditetapkan keputusan KPS dan hasil rapat staf

7.5.2 Tata Cara Pengambilan izin


1. Setiap pserta didik berhak mengajukan izin selama 2 (dua) hari
efektif dalam 1 (satu) tahun.
2. Peserta didik yang akan mengambil izin harus membuat surat
permohonan kemudian diajukan kepada Dewan Chief dan KPS
3. Permohonan izin disampaikan kepada Dewan Chief dan KPS
minimal 1 (satu) minggu sebelumnya
4. Permohonan izin disampaikan kepada tenaga pengajar yang
bertanggungjawab dimana peserta didik tersebut menjalani stase
5. Izin untuk mengikuti pertemuan ilmiah (kongres, semnar,
symposium, PIT, bakti sosial, dan sebagainya) merupakan
kebijaksanaan KPS dan tidak boleh digabungkan dengan izin
biasa.
6. Jumlah hari izin tidak dapat diakumulasikan ke tahun berikutnya
7. Bila jumlah hari izin per tahun melebihi kuota, maka akan
dipotongkan ke kuota cuti tahun tersebut atau tahun berikutnya
8. Apabila peserta didik sakit (dibuktikan dengan surat keterangan
sakit dari poli kepegawaian, atau instansi lain yang diakui), maka
tidak mengurangi jatah cuti
9. Apabila ada hal-hal lain di luar ketentuan tersebut di atas, maka
akan ditetapkan keputusan KPS dan hasil rapat staf

71
7.6 Stase Rumah Sakit Luar
Dengan meningkatnya jumlah peserta didik Program
Pendidikan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif serta
menurunnya jumlah dan macam kasus di RS. Moh. Hoesin
Palembang, maka diputuskan untuk menjalin kerjasama dengan RS.
Jejaring Pendidikan dengan tujuan saling menguntungkan.
Secara umum dan khusus tujuan stase luar rumah sakit
antara lain:
1. Meningkatkan jumlah kasus yang ditangani oleh peserta didik
2. Memahami sistem rujukan dan pelayanan kesehatan di RS.
Jejaring sehingga dapat melakukan manajemen pelayanan di RS.
Jejaring
3. Mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di RS. Jejaring,
terutama dalam hal pelayanan dan rujukan, serta mampu
memberikan pemecahannya
4. Merecanakan dan melaksanakan pertolongan kasus sesuai
dengan tingkat kemampuan
5. Mampu mengadakan hubungan kerja yang baik dengan sejawat
dokter setempat, paramedik, dan penderita (bekerja pada satu
tim)
6. Memberikan contoh yang kongkrit berupa tindakan maupun
pemahaman untuk memperbaiki sistem rujukan
7. Mengidentifikasi masalah yang ada pada sistem pelayanan,
rujukan dan dapat memberikan pemecahannya

72
BAB VIII
DOSEN / STAF PENGAJAR

8.1 Definisi
Dosen / staf pengajar adalah mereka yang karena
keahliannya diberi wewenang untuk menilai, mendidik, dan
membimbing pada Program Pendidikan Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif. Dosen wajib memiliki kualifikasi
akademik dan kompetensi pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta
memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan pendidikan.
Berdasarkan Permendikbud no.49 tahun 2014, Kualifikasi akademik
yang dimaksud adalah setiap dosen harus memiliki kualifikasi
minimal spesialis dua dan memiliki pengalaman kerja paling sedikit 2
tahun. Kompetensi pendidik adalah setiap dosen harus memiliki
sertifikat pendidik dan/atau sertifikat profesi.
Dosen dapat berasal dari perguruan tinggi, Rumah Sakit
Pendidikan, dan Wahana Pendidikan Kedokteran. Dosen di Rumah
Sakit Pendidikan dan Wahana Pendidikan Kedokteran memiliki
kesetaraan, pengakuan, dan angka kredit yang memperhitungkan
kegiatan pelayanan kesehatan sesuai dengan peraturan yang
berlaku.

8.2 Penggolongan Dosen


8.2.1 Dosen Pembimbing
yaitu Dosen yang mempunyai tugas melaksanakan
pengawasan dan bimbingan dalam meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan peserta PPDS, tetapi tidak diberi tanggung jawab atas
bimbingan peningkatan bidang ilmiah (kognitif).
Kualifikasi:

73
1. Sarjana ahli dalam bidangnya di Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya yang ditunjuk oleh Ketua Departemen FK Universitas
Sriwijaya.
2. Sarjana ahli dalam bidangnya diluar FK Unsri yang ditunjuk oleh
Ketua Departemen atas rekomendasi dari KPS.

8.2.2 Dosen Pendidik


yaitu dosen yang selain mempunyai tugas sebagai
pembimbing, juga bertanggung jawab atas bimbingan peningkatan
bidang ilmiah.
Kualifikasi:
1. Sarjana ahli dalam bidangnya dengan pengalaman kerja mnimun
3 tahun terus menerus di Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya.
2. Sarjana ahli dalam bidangnya diluar FK Unsri dengan
pengalaman sebagai pembimbing minimun 3 tahun.
3. Staf tamu dengan rekomendasi dan persetujuan dari KPS

8.2.3 Dosen Penilai


1. Dosen di lingkungan FK Unsri selain mempunyai tugas sebagai
pembimbing dan pendidik, diberi wewenang untuk menilai hasil
belajar peserta PPDS.
2. Dosen diluar lingkungan FK Unsri atau dosen tamu yang diberi
wewenang untuk menilai hasil belajar.
Kualifikasi:
1. Sarjana ahli dalam bidangnya dari lingkungan FK Unsri dengan
pengalaman sebagai pendidik sekurang-kurangnya 3 tahun.
2. Sarjana ahli diluar FK Unsri atau staf tamu yang mempunyai
pengalaman sebagai penilai, dengan rekomendasi dan
persetujuan dari KPS
74
8.3 Sistem Rekrutmen, Penempatan, Pengembangan, Retensi
dan Pemberhetian Dosen
8.3.1 Rekutmen Staf Pengajar
Standar prosedur rekrutmen dan seleksi calon staf
Bagian/Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK
UNSRI/RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang disesuaikan
dengan rasio dosen dan mahasiswa serta pengembangan divisi di
lingkungan Bagian/Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK
UNSRI/RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Mekanisme
rekrutmen Staf Pengajar yang diatur oleh Bagian/Departemen
Anestesiologi dan Terapi Intensif :
1. Calon Staf Pengajar wajib membuat surat lamaran yang
ditujukan kepada Kepala Bagian/Departemen Anestesiologi
dan Terapi Intensif FK-UNSRI/RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang disertai ijazah dan STR ditembuskan Direktur
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dan atau Dekan
FK-UNSRI.
2. Calon Staf Pengajar kemudian dipanggil untuk wawancara.
3. Rapat pleno mengambil keputusan calon staf diterima atau
ditolak.
4. Setelah diputuskan diterima, Bagian/Departemen
anestesiologi membuat surat pengantar lamaran ke RSMH
dan memberi rekomendasi untuk diangkat menjadi staf dokter
pada Bagian/Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif.
5. Calon staf Rumah Sakit yang telah diterima akan dilakukan
kredensial sebelum dikeluarkan SK direktur. Sedangkan,
Calon staf Fakultas yang telah diterima akan ditindaklanjuti
oleh Dekan dengan mengeluarkan SK yang ditembuskan ke
Direktur Rumah Sakit.
6. Calon staf pengajar akan mengikuti kredensial di Komite
Medik sesuai dengan tanggal yang telah ditetapkan.
75
7. Calon staf pengajar dapat diterima di Bagian/Departemen.
Syarat umum dan khusus peneriman Calon Staf
Bagian/Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-
UNSRI/RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang :

1. Bersedia dan mampu mendidik Mahasiswa Kedokteran,


Dokter Muda, dan PPDS 1 Anestesiologi dan Terapi Intensif
dan PPDS dari berbagai disiplin ilmu yang bertugas di
Bagian/Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif.
2. Bersedia dan mampu menjalani pendidikan lanjutan untuk
mencapai tingkat konsultan di bidang divisi yang ditekuni atau
yang dibutuhkan sesuai kebutuhan pengembangan
Bagian/Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-
UNSRI/RSUP Dr. Mohammad Hoesin.
3. Bersedia dan mampu menjalani pendidikan tambahan di
pusat pendidikan dalam dan luar negeri.
4. Bersedia dan mampu menjalani pendidikan sampai dengan
jenjang S-3
5. Bersedia dan mampu melakukan penelitian dari tingkat dasar,
klinis dan di masyarakat serta melakukan publikasi ilmiah baik
karya tulis atau penelitian.
6. Bersedia secara aktif mengikuti kegiatan ilmiah untuk
mengembangkan ilmu.
7. Bersedia dan mampu bekerja sama dengan staf dari divisi lain
di lingkungan mampu bekerja sama dengan staf dari divisi lain
di lingkungan maupun diluar lingkungan Bagian/Departemen
Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-UNSRI/ RSUP Dr.
Mohammad Hoesin.
8. Semua biaya untuk kegiatan dibebankan pada staf yang
bersangkutan.

76
8.3.2 Penempatan Staf Pengajar
Sesuai dengan tempat pada Divisi/Bidang minat yang
kebutuhan stafnya belum terpenuhi dan mempunyai kemauan serta
kemampuan dalam mengembangkan bidang minat tersebut secara
akademik dan profesi yang meliputi Tridharma perguruan tinggi yaitu
: Pendidikan, Pengabdian masyarakat dan penelitian.

8.3.3 Pengembangan dan Retensi Staf Pengajar


Sesuai dengan kebijakan Kepala Bagian/Departemen yang
ada didalam program kerja pada rencana strategis prodi antara lain :

1. Meningkatkan kualitas staf pengajar yang ada dengan


mengikutkan staf pada program pendidikan strata yang lebih
tinggi dan pendalaman pendidikan profesi yang diminati, serta
mengikutkan dalam sertifikasi dosen.
2. Memberi kesempatan staf untuk mengikuti seminar,
symposium, Kursus / pendidikan, pengembangan profesi
didalam atau diluar negeri.
3. Mengikuti rapat-rapat antar institusi, organisasi profesi.
4. Menjadi pembicara atau dilibatkan dalam pertemuan pakar
baik didalam dan diluar negeri.
5. Menjadi nara sumber pada diskusi kasus bersama
multidisiplin lainnya.
6. Dilibatkan dalam proses belajar mengajar untuk program S-1,
S-2, Dokter, dan Sp1.

8.3.4 Pemberhentian Staf Pengajar


Pemberhentian staf dapat dilakukan oleh Bagian/Departemen
Anestesiologi dan Tera pi Intensif apabila:

1. Staf pengajar telah masuk dalam masa pensiun.


2. Staf pengajar mengajukan permohonan pengunduran diri.

77
3. Terjadi ketidakmampuan pada ranah afektif (attitude), ranah
knowledge, dan psikomotor serta profesional apapun
penyebabnya. Diketahui mengalami ketidakmampuan dalam
menjalankan tugas secara profesional, yang diputuskan
melalui rapat dengan melibatkan Kepala Bagian/Departemen.
a. Dilakukan pemanggilan dan pemberian surat teguran dan
sanksi oleh Kepala Bagian/Departemen.
b. Dilakukan pembinaan oleh Kepala Bagian/Departemen
dengan pengawasan ketat dalam waktu tertentu.
c. Bila terjadi pelanggaran berulang maka diputuskan dalam
rapat pleno seluruh staf.

Tindak lanjut pemberhetian staf dengan mengirimkan surat kepada


Dekan FK UNSRI dan atau Direktur RSUP Dr. Moh. Hoesin
Palembang.

8.4 Jumlah Dosen


Jumlah minimun Dosen untuk suatu pusat pendidikan
Anestesiologi adalah 5 (lima) orang dengan minimun 3 (tiga) dosen
yang berkualifikasi penilai. Jumlah dosen merupakan salah satu
faktor yang menentukan jumlah peserta PPDS. Jumlah penerimaan
per semester adalah jumlah dosen (termasuk dosen RS Jejaring dan
wahana pendidikan kedokteran) dikalikan 3 dan dibagi lama
pendidikan dalam semester. Untuk pendidikan anestesiologi karena
lama pendidikan 8 semester, maka dibagi 8.

8.5 Pengangkatan dan Penghentian


Pengangkatan dan penghentian dosen oleh pejabat yang
berwenang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

78
BAB IX
SUMBER DAYA PENDIDIKAN

9.1 SARANA DAN PRASARANA


IPDS menjamin tersedianya fasilitas pendidikan profesi dokter
spesialis bagi peserta didik yang menjamin terlaksananya proses
pendidikan dalam mencapai kompetensi sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kedokteran. Fasilitas pendidikan spesialis
terdiri atas rumah sakit pendidikan dan sarana pelayanan kesehatan
lainnya. Rumah sakit pendidikan terdiri atas rumah sakit pendidikan
utama, rumah sakit pendidikan afiliasi, dan rumah sakit pendidikan
satelit. Rumah sakit yang digunakan untuk pendidikan harus
ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan sebagai rumah sakit
pendidikan untuk menjamin tercapainya Standar Kompetensi Dokter
Spesialis Anestesioogi dan Terapi Intensif.
Sarana pelayanan kesehatan lain meliputi rumah sakit /
fasilitas kesehatan di daerah binaannya dan rumah sakit lain yang
memenuhi persyaratan proses pendidikan. Jaminan ketersediaan
fasilitas pendidikan spesialis tersebut di atas harus dinyatakan
dengan adanya perjanjian kerjasama antara pimpinan institusi
pendidikan atau IPDS dengan pimpinan fasilitas pendidikan
sepesialis dan/ atau pemerintah daerah setempat. Perjanjian
kerjasama tersebut harus minimal meliputi hak, tanggung jawab dan
kewenangan masing-masing pihak yang menjamin terlaksananya
proses pendidikan dan pelayanan kesehatan berjalan secara optimal.
Jenis dan jumlah staf pendidik di fasilitas pendidikan spesialis
cukup untuk menjamin tercapainya Standar Kompetensi Dokter
Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia. Jumlah dan
jenis kasus / tindakan harus bervariasi menurut umur, baik untuk
tindakan emergensi dan elektif maupun rawat jalan agar dapat
79
menjamin tercapainya Standar Kompetensi Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif.
IPDS juga menyediakan sarana prasarana yang menjamin
terlaksananya proses pendidikan dalam mencapai kompetensi sesuai
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dibidang
anestesiologi dan terapi intensif. Sarana dan prasarana meliputi
kebutuhan ruang kuliah, ruang tutorial/diskusi kelompok kecil, ruang
skill lab atau ruang keterampilan klinis, ruang perpustakaan, ruang
dosen, ruang pengelola pendidikan, serta penunjang kegiatan
kemahasiswaan. Ruang tutorial untuk 10-15 mahasiswa dengan
dilengkapi sarana untuk berdiskusi. Luas ruangan untuk aktivitas
pembelajaran minimal 0,7 m2/mahasiswa. Luas ruang dosen minimal
4 m2/dosen.

9.2 TEKNOLOGI INFORMASI


IPDS harus menyediakan fasilitas teknologi informasi bagi
dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk menjamin
kelancaran proses pendidikan dan pencapaian kompetensi.
Teknologi informasi digunakan untuk mengembangkan sistem
informasi akademik, pengembangan pangkalan data, dan
telekonferensi. Tersedia jaringan internet dengan bandwidth yang
memadai untuk menunjang proses pembelajaran. Tersedia
kepustakaan elektronik untuk mengakses e-book dan e-journal.

80
BAB X
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

10.1 Pelayanan Kesehatan


Program pendidikan profesi dokter spesialis Anestesiologi dan
Terapi Intensif FK Unsri tidak bisa dilepaskan dari pelayanan
kesehatan di Rumah sakit pendidikan dan wahana pendidikan
kedokteran. Pada perkembangannya, bidang anestesiologi dan terapi
intensif mendukung sistem kesahatan nasional dalam upaya
penurunan kematian ibu dan bayi yang masih merupakan
permasalahan kesehatan nasional saat ini. Pemerataan pelayanan
kesehatan menjadi kunci utama dalam terjaminnya pelaksanaan
sistem kesehatan nasional. Program pendidikan profesi dokter
spesialis anestesiologi dan terapi intensif harus berperan dalam
upaya pemerataan tersebut dengan mendukung dan
mengiktergrasikan program kementerian kesehatan kedalam
kurikulum pendidikannya. Dalam rangka pelayanan kesehatan,
peserta didik berhak mendapatkan jasa atas pelayanan medik yang
diberikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.

10.2 Rumah Sakit Pendidikan


Rumah sakit pendidikan utama program studi Anestesiologi
dan Terapi Intensif FK Unsri terakreditasi A dan memenuhi standar
dan ketentuan Rumah sakit pendidikan yang telah ditetapkan oleh
kementerian dibidang kesehatan. Dalam rangka pencapaian capaian
pembelajaran atau kompetensi, selain rumah sakit pendidikan utama,
IPDS dapat bekerjasama dengan IPDS lain atau rumah sakit
pendidikan satelit dan afiliansi atau wahana pendidikan yang sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
81
10.3 Kerjasama Pendidikan
IPDS memiliki kebijakan untuk bekerjasama dengan rumah
sakit pendidikan, dan institusi pendidikan kedokteran lainnya, baik
bersifat nasional dan internasional, dalam penggunaan sumber daya
bersama. Kebijakan penggunaan sumber daya bersama harus
dituangkan dalam bentuk kerjasama teknis secara transparan,
berkeadilan dan akuntabel. Kerjasama ini ditujukan untuk
peningkatan mutu dan pencapaian standar kompetensi oleh
mahasiswa dan dosen serta bagi pengembangan IPDS tersebut.

10.4 Hubungan Kurikulum dengan Sistem Pelayanan Kesehatan


IPDS menjamin mahasiswa mendapat pengalaman belajar
lapangan dalam sistem pelayanan kesehatan, dan pencapaian
jumlah kasus atau tindakan yang harus termuat secara nyata dalam
kurikulum. Dalam melakukan proses pembelajaran untuk mencapai
capaian pembelajaran, mahasiswa dapat melakukan pelayanan
kesehatan di rumah sakit pendidikan utama, rumah sakit pendidikan
afiliasi, rumah sakit pendidikan satelit dan wahana pendidikan
kedokteran. Dalam melakukan pelayanan kesehatan, mahasiswa
berkewajiban mematuhi peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah
terkait dengan sistem pelayanan kesehatan, baik bersifat Nasional
maupun lokal.

82
BAB XI
PENYELENGGARA PROGRAM DAN ADMINISTRASI
PENDIDIKAN

11.1 Penyelenggara Program


Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri
sebagai penyelenggara program pendidikan profesi dokter spesialis
memiliki izin penyelenggaraan yang sah dari Kementerian Riset,
Teknologi dan Pendidikan Tinggi bekerjasama dengan rumah sakit
pendidikan utama yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Program pendidikan ini dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya dan Rumah Sakit Pendidikan yang telah
terakreditasi. Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK
Unsri dikelola berdasarkan prinsip tata kelola yang baik dan program
kerja yang jelas, termasuk memiliki struktur organisasi, uraian tugas,
dan hubungan dengan fakultas atau program studi lain di dalam
universitas dan rumah sakit pendidikan utama.

11.1.1 Tata Kelola


Tata kelola perguruan tinggi yang baik meliputi prinsip
transparansi, akuntabilitas, berkeadilan, dapat
dipertanggungjawabkan dan obyektif.
Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri
dipimpin oleh Ketua Program Studi (KPS) dengan latar belakang
pendidikan dokter spesialis dua dan / atau doktor. seorang KPS
dapat dibantu oleh seorang Sekretaris Program Studi (SPS).
Keberadaan departemen, fakultas, universitas dan rumah sakit
pendidikan utama yang mewadahi penyelenggaraan proses
pembelajaran di suatu Program Studi Anestesiologi dan Terapi

83
Intensif FK Unsri harus mampu mendukung visi, misi dan tujuan
pendidikan profesi dokter spesialis.
KPS dan SPS bertanggung jawab untuk terselenggaranya
pendidikan sesuai dengan kurikulum dengan melakukan koordinasi
dengan Ketua Departemen. Pemilihan KPS dilakukan melalui
mekanisme internal Departemen yang kemudian diusulkan oleh
Ketua Departemen kepada Dekan, dan diangkat dengan Surat
Keputusan Rektor. SPS dipilih oleh KPS melalui mekanisme internal
Departemen yang kemudian diusulkan oleh Ketua Departemen
kepada Dekan, untuk mendapatkan Surat Keputusan Rektor. Surat
keputusan tersebut berlaku selama periode tertentu. Persyaratan dan
mekanisme pengangkatan KPS dan SPS mengikuti peraturan yang
berlaku dimasing-masing Institusi Pendidikan Dokter Spesialis dan
peraturan dari Dirjen Dikti atau peraturan perundangan yang lebih
tinggi.

11.1.2 Koordinator Penyelenggaraan Program Pendidikan Dokter


Spesialis (PPDS)
1. Koordinator Program Pendidikan Dokter Spesialis membantu
Pimpinan Fakultas Kedokteran dalam penyelenggaraan program-
program pendidikan dokter spesialis, dengan memanfaatkan
semua unsur dalam lingkungan Fakultas Kedokteran.
2. Koordinator Program Pendidikan Dokter Spesialis bertanggung
jawab atas kelancaran koordinasi penyelenggaraan semua
program studi yang dicakup dalam PPDS-1, sejak penerimaan
para calon peserta sampai dengan penyelesaian wisuda peserta
PPDS-1. Termasuk semua upaya pengembangan sistem
pendidikan yang dipergunakan untuk mencapai tingkat efektifitas,
efisiensi, dan relevansi yang sebaik-baiknya sesuai dengan
kebutuhan program pemerintah. Bertugas dalam hal seleksi
calon PPDS-1dan pelaksanaan pendidikan terpadu.
84
11.1.3 Ketua Program Studi (KPS)
1. Setiap program studi dalam PPDS di FK/RS Pendidikan dikelola
oleh seorang KPS dan tidak boleh dirangkap oleh jabatan Kepala
Bagian.
2. a. KPS adalah seorang penilai sebagai hasil pemilihan di antara
kelompok pengajar dalam bidang ilmu yang bersangkutan dan
diusulkan oleh Kepala Bagian.
b. KPS dan SPS bertanggung jawab untuk terselenggaranya
pendidikan sesuai dengan kurikulum dan secara administratif
melaporkan tugasnya kepada Kepala Bagian.
3. Diangkat dengan Surat Keputusan Rektor sehingga dengan
demikian bertanggung jawab pada Rektor.
4. KPS bertanggung jawab atas pengelolaan semua kegiatan
penyelenggaraan program studi bidang ilmu kedokteran tertentu,
dan membantu pimpinan Fakultas Kedokteran dengan:
a. Merencanakan pelaksanaan program studi sesuai dengan
katalog pendidikan.
b. Menyelenggarakan praseleksi calon peserta program studi
dengan melibatkan semua staf pengajar.
c. Mempersiapkan semua komponen penyelenggaraan program
studi termasuk pemanfaatan sarana/tenaga di luar bagian,
bekerja sama dengan Ketua Program Studi dan Kepala Bagian
lain yang ada hubungannya.
d. Menyelenggarakan penilaian kemajuan peserta program studi
sesuai ketentuan kurikulum dengan melibatkan staf penilai
serta melaksanakan teguran/peringatan kepada yang
bermasalah.
e. Membuat laporan berkala tiap semester kepada Koordinator
PPDS tentang:
• Peserta baru (hasil praseleksi).
• Dinamika peserta.
85
• Penyelesaian pendidikan (untuk wisuda).
f. Mengusahakan pengembangan sistem pendidikan dalam
program bersama Koordinator PPDS untuk mencapai efektifitas,
efisiensi, serta relevansi yang sebaik-baiknya.

11.1.4 Hubungan Koordinator PPDS dengan KPS


Sesuai dengan batasan organisasi yang berlaku, maka hubungan
yang ada antara Koordinator PPDS dengan KPS adalah bidang
koordinasi kegiatan dalam tingkat Fakultas Kedokteran /Rumah Sakit
Pendidikan.
Hubungan ini memelihara ketertiban hal berikut :
1. Kemantapan penerimaan calon peserta untuk praseleksi PPDS.
2. Kesesuaian jadwal penerimaan peserta semua program studi.
3. Kelancaran pengamatan keseluruhan program studi yang ada,
dengan pencatatan dinamika peserta setiap semester untuk
kemudahan pemecahan masalah keterlambatan/kemacetan
pendidikan para peserta program studi.
4. Keseragaman penyelenggaraan kegiatan bersama dan
pemanfaatan sumber-sumber FK dan RS yang diperlukan oleh
beberapa program studi sekaligus.
5. Penyelenggaraan upaya pengembangan sistem pendidikan
PPDS.

11.1.5 Hubungan Koordinator PPDS dan KPS dengan Departemen


Dengan memperhatikan batasan organisasi yang berlaku serta
perkembangan tatalaksana hubungan administratif dalam penerapan
ketentuan organisasi tersebut di kalangan Fakultas Kedokteran/
Rumah Sakit pendidikan, dianut suatu batasan tentang hubungan
Koordinator PPDS dan KPS dengan para Ketua Departemen sebagai
berikut:

86
1. Penanggung jawab ketenagaan dan sarana akademik dalam
lingkungan FK/RS untuk setiap bidang ilmu dilimpahkan kepada
Ketua Departemen, dengan demikian akan mencakup segi-segi
pemanfaatan para pengajar dalam kegiatan
pendidikan/penelitian/pengabdian masyarakat yang tercantum
dalam Program Pascasarjana atau Program Pendidikan Dokter
Spesialis.
2. KPS harus selalu melibatkan Ketua Departemen untuk
mendapatkan dukungan ataupun persetujuan pemanfaatan tenaga
pengajar secara keseluruhan ataupun pemanfaatan sarana
akademik yang dibawahinya.
3. Dalam hal program studi memerlukan modul-modul pendidikan
yang berada dalam bagian ilmu lain, KPS harus pula melibatkan
KPS lain yang berada dalam naungan ilmu itu. Selanjutnya
perencanaan pendidikan modul tersebut dibahas bersama Ketua
Departemen tersebut.
4. Setiap semester, KPS membuat laporan lengkap perencanaan
pemanfaatan tenaga, sarana akademik yang tercakup dalam
penyelenggaraan program studi setelah memperoleh kesepakatan
dari KPS lain ataupun Ketua Departemen bidang ilmu yang akan
dimanfaatkan oleh semua pihak yang terlibatkan.
5. Dalam hal kesulitan hubungan yang mungkin dialami pada
persiapan penyelenggaraan program studi, KPS akan dibantu oleh
Koordinator PPDS mencari penyelesaian bersama Pimpinan
FK/RS.
6. Kelancaran penyelenggaraan program pendidikan Prasarjana
akan selalu menjadi perhatian dalam perencanaan program studi,
karena pada hakikatnya hal tersebut menjadi kepentingan
bersama seluruh unsur FK/RS.

87
Adapun struktur organisasi yang dijelaskan tersebut diatas adalah
sebagai berikut:

Gambar Struktur Organisasi Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif


Fakultas Kedokteran Unsri

11.2 Alokasi Sumber Daya dan Anggaran Program Pendidikan


Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri
mempunyai alur yang jelas mengenai tanggung jawab dan otoritas
untuk penyelenggaraan pendidikan dan sumber dayanya, termasuk
alokasi pembiayaan yang transparan dan akuntabel yang menjamin
tercapainya visi, misi, dan tujuan pendidikan dokter spesialis.

11.3 Tenaga Kependidikan dan Manajemen


Tenaga kependidikan di Program Studi Anestesiologi dan
Terapi Intensif FK Unsri mampu mendukung implementasi program
pendidikan dan kegiatan lainnya, serta pengaturan sumber daya
pendidikan. Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri

88
harus memiliki sistem penilaian kinerja tenaga kependidikan dan
manajemen secara berkala, minimal sekali dalam setahun. Hasil
penilaian kinerja digunakan sebagai umpan balik dalam peningkatan
kualitas tenaga kependidikan dan manajemen.

11.4 Sistem Penjaminan Mutu


Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri
mempunyai sistem penjaminan mutu dengan mekanisme kerja yang
efektif serta diterapkan dengan jelas. Mekanisme penjaminan mutu
harus menjamin adanya kesepakatan, pengawasan, dan peninjauan
secara periodik setiap kegiatan dengan standar dan instrumen yang
sahih dan handal. Penjaminan eksternal dilakukan berkaitan
dengan akuntabilitas institusi pendidikan kedokteran terhadap para
pemangku kepentingan, melalui audit eksternal dan akreditasi.

89
BAB XII
EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN

12.1 Mekanisme Evaluasi dan Umpan Balik


Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri
memiliki kebijakan dan metode evaluasi terhadap pelaksanaan
kurikulum, kualitas dosen, proses belajar mengajar, kemajuan
mahasiswa dan fasilitas pendukung yang bertujuan untuk menjamin
mutu program pendidikan. Evaluasi kurikulum dilakukan oleh
Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri secara
berkala, minimal sekali dalam setahun, dengan melibatkan
mahasiswa dan dosen. Evaluasi terhadap proses belajar mengajar
dan evaluasi terhadap kualitas dosen melibatkan mahasiswa dan
dilaksanakan minimal sekali dalam satu semester. Evaluasi terhadap
kemajuan mahasiswa dilakukan dengan melibatkan dosen dan
mahasiswa, minimal sekali dalam satu semester untuk memantau
kemajuan pencapaian kompetensi. Evaluasi terhadap fasilitas yang
mendukung dilakukan oleh institusi pendidikan kedokteran, minimal
sekali dalam setahun.
Hasil-hasil evaluasi dianalisis dan digunakan sebagai umpan
balik bagi Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri,
dosen dan mahasiswa untuk perencanaan, pengembangan, dan
perbaikan kurikulum serta program pendidikan secara keseluruhan.
Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri harus
memiliki sistem pemantauan kemajuan mahasiswa yang dikaitkan
dengan kualifikasi ujian masuk, pencapaian kompetensi, dan latar
belakang mahasiswa serta digunakan sebagai umpan balik terhadap
seleksi penerimaan mahasiswa, dan perencanaan kurikulum.
Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri memiliki
sistem pemantauan pencapaian prestasi program pendidikan yang

90
meliputi drop out rate, proporsi kelulusan tepat waktu, lama masa
studi, dan angka kelulusan ujian nasional.

12.2 Keterlibatan Pemangku Kepentingan


Setiap lima tahun sekali, Program Studi Anestesiologi dan
Terapi Intensif FK Unsri melakukan evaluasi program pendidikan
secara menyeluruh yang melibatkan penyelenggara dan administrasi
pendidikan, dosen, mahasiswa, alumni, otoritas pelayanan
kesehatan, wakil/tokoh masyarakat, serta organisasi profesi dan
kolegium. Evaluasi ini perlu agar program pendidikan dapat
memenuhi dan mengikuti kebutuhan masyarakat terkini dan
perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran terkini, terutama
dibidang anestesiologi dan terapi intensif.

91
BAB XIII
PROGRAM ADAPTASI

13.1 Tujuan
Tujuan penyelengaraan adapatasi spesialis lulusan luar
negeri ialah untuk memberikan kesempatan penyesuaian bagi
mereka yang sah ijazahnya serta dinilai layak untuk memperoleh
kesempatan adapatasi untuk mendapatkan sertifikat kompetensi dari
KATI setelah menjalani ujian Nasional (Ujian Tulis, Ujian Kompetensi
dan Ujian Lisan). Peserta program adaptasi adalah mahasiswa WNI
atau WNA lulusan profesi dokter dan / atau dokter spesialis
Anestesiologi luar negeri yang telah diakui oleh pemerintah melalui
dirjen Dikti dan KKI serta melalui mekanisme yang berlaku
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku di wilayah hukum
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada akhir program adapatasi, peserta program adaptasi
diharapkan:
1. Dapat menerangkan kemampuannya dalam bidang Anestesiologi
dan Terapi Intensif yang sudah dipelajarinya, menurut kaidah
yang lazim dianut dokter spesialis Anestesiologi dan Terapi
Intensif di Indonesia, sesuai dengan problema kesehatan di
Indonesia dan sumber daya yang tersedia.
2. Menguasai pola penatalaksanaan bidang Anestesiologi dan
Terapi Intensif dalam pelayanan kesehatan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku di Indonesia.
3. Memahami dan menghayati tata nilai yang dianut di Indonesia,
Etika Profesi Anestesiologi dan Terapi Intensif serta Kode Etika
Kedokteran Indonesia, sehingga dapat diterima di kalangan
profesi Anestesiologi dan Terapi Intensif serta kalangan profesi
dokter pada umumnya.

92
13.2 Prosedur Penerimaan
1. Membuat surat permohonan adaptasi kepada KPS
2. Melampirkan surat permintaan dari MKKI
3. Melengkapi persyaratan administrasi yang ditetapkan oleh prodi
4. Mulai masuk bersamaan dengan magang PPDS Pradik
5. Mengikuti stase/rotasi per divisi per 1 bulan

14.3 Persyaratan
Calon adaptasi harus mempunyai persyaratan administrasi
(urut nomor) :
1. Ijazah dinilai sah oleh Panitia Penilai Ijazah Sarjana Lulusan Luar
Negeri (PPISLN, Depdikbud).
2. Bersama dengan ijazah, peserta wajib melampirkan :
- Logbook
- Kurikulum pendidikan
- Standar Kompetensi yang telah dicapai
- Transkrip akademik
- Karya tulis akhir
3. Kurikulum pendidikannya telah dikaji oleh KATI, minimal
mencapai 75% kurikulum / modul Anestesiologi dan terapi Intensif
Indonesia
4. Surat permintaan dari Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia
(MKKI)

13.4 Penatalaksanaan
1. Lama adaptasi ditentukan minimal 2 (dua) semester dan
kompetensi ditentukan oleh Kolegium setelah mendapat masukan
dari KPS tempat yang bersangkutan menjalani adaptasi.
2. Daya tampung bagi peserta adaptasi tergantung pada daya
tampung dan ketentuan yang berlaku pada IPDS terkait.

93
3. Harus memahami kebijaksanaan rumah sakit, etika medis, dan
aspek medikolegal dimana dia beradaptasi.

13.5 Penilaian
1. Penilaian dilakukan secara terus menerus dengan pengujian
secara bertahap sesuai dengan tempat stase.
2. Peserta adaptasi diharuskan membuat makalah ilmiah dan
melakukan penyajian dalam konferensi ilmiah.
3. Pelaporan kemajuan hasil program adaptasi yang mencakup
bidang perilaku dilakukan setelah peserta menjalani program
yang ditetapkan dengan kemungkinan sebagai berikut :
a. Perkembangan pencapaian adaptasinya menunjukkan
penyelesaian sesuai jadwal semula.
b. Perkembangannya menunjukkan kekurangan yang akan
mengubah jadwal semula dengan penambahan waktu
adaptasinya
4. Penilaian akhir dengan ujian nasional (Ujian Tulis Nasional, Ujian
Kompetensi Nasional dan Ujian Akhir Nasional) yang akan diatur
oleh KATI melalui KUN.

13.6 Panduan Penghentian Program Adaptasi


1. Penghentian pendidikan peserta program adaptasi bertujuan
untuk:
a. Menjaga dan mempertahankan mutu pendidikan.
b. Mempertahankan efisiensi pendayagunaan sumber
pendidikan
c. Sebagai manifestasi tanggung jawab professional.
2. Penghentian pendidikan peserta program adapatasi
merupakan keputusan akhir setelah dilakukan serangkaian
penilaian terhadap kemajuan pendidikan yang menunjukkan

94
tanda-tanda semakin jauh dari pencapaian yang telah
ditetapkan dalam kurikulum yang harus diselesaikan.
Penilaian meliputi unsur-unsur kognitif, afektif, dan
psikomotor.
3. Keputusan penghentian pendidikan hanya dapat dilakukan
oleh KPS yang selanjutnya dilaporkan ke Komisi Kompetensi
KATI dan ketua KATI.
4. Penghentian pendidikan peserta program adaptasi dapat
terjadi sebagai berikut:
a. Peserta program adaptasi mengundurkan diri.
b. Peserta program adaptasi memperlihatkan sikap tidak
terpuji:
 Kurangnya rasa tanggung jawab professional yang
dapat membahayakan pasien ataupun lembaga
pendidikan.
 Pelanggaran berat Kode Etika Kedokteran Indonesia
 Menolak menyelesaikan tugas yang diberikan.
c. Peserta program adaptasi membuat kesalahan-kesalahan
yang berulang setelah diperingatkan secara lisan
dan/atau tertulis tanpa menunjukkan upaya perbaikan
yang memadai.
d. Peserta program adaptasi tidak menunjukkan kemajuan
yang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, dan program
pembinaan/bimbingan khusus yang diberika baginya juga
tidak memberikan hasil yang baik.
e. Tahap penghentian: diputuskan atas dasar hasil penilaian
setelah pembahasan tuntas dalam rapat staf pengajar.
Pada pelanggaran kasus berat penghentian program
adaptasi dapat dilaksanakan.

95
BAB XIV
PEMBARUAN BERKESINAMBUNGAN

Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unsri


memiliki mekanisme peninjauan ulang atau evaluasi diri secara
berkala untuk memperbarui struktur dan fungsi institusi sesuai
dengan perkembangan dan kebutuhan. Program Studi Anestesiologi
dan Terapi Intensif FK Unsri menyusun rencana strategi jangka
panjang dan rencana operasional jangka pendek sesuai hasil
peninjauan ulang.

96
BAB XV
PENUTUP

Buku Panduan Pendidikan Profesi Dokter Spesialis


Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya bersifat dinamis mengikuti perkembangan pendidikan
teknologi kedokteran, sehingga setiap lima tahun akan dilakukan
pengkajian ulang dan revisi sesuai dengan perkembangan situasi.
Setiap institusi pendidikan kedokteran harus memenuhi minimal
Standar Pendidikan Profesi Dokter Indonesia dalam
menyelenggarakan program pendidikan dokter. Ketentuan mengenai
kesesuaian dengan Standar Pendidikan Profesi Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia dilakukan melalui
mekanisme akreditasi pendidikan dokter Spesialis.

97
DAFTAR PUSTAKA

1. Joint Commission International. Joint Commission


International Accreditation Standards for Hospitals. 5th
Edition. JCI: 2013.
2. Kolegium Anestesiologi dan Terapi Intensif. Modul Pendidikan
Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif. KATI:
2017.
3. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 37 Tahun
2015. Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anestesiologi dan
Terapi Intensif. KKI: 2015.
4. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 38 Tahun
2015. Standar Kompetensi Dokter Spesialis Anestesiologi
Dan Terapi Intensif. KKI: 2015.
5. World Health Organization. Transforming and Scaling Up
Health Professionals’ Education and Training. WHO: 2013.

98
99

Anda mungkin juga menyukai