Anda di halaman 1dari 22

PEMERIKSAAN REFRAKSI PADA ANAK

Oleh :

Hifzil Husni 1840312314

Putri Wahyuni 1840312413

Sulastri 1840312268

Yeni Novi Yanti 1840312277

Norma Sartika Yulinar 1840312416

Preseptor :
dr. M. Hidayat, Sp.M(K)

BAGIAN ILMU MATA

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. M. DJAMIL PADANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tajam penglihatan merupakan indikator penilaian kesehatan mata dan sistem
visual. Tajam penglihatan adalah jarak kemampuan melihat seseorang, yang dinilai
sebelum dan sesudah koreksi dengan cara menilai kemampuan melihat optotyp atau
menghitung jari atau gerakan tangan. Pemeriksaan tajam penglihatan pada orang
dewasa normal dapat dinilai dengan mudah baik pemeriksaan subjektif dan objektif
dan nyaman untuk dilakukan, tetapi pemeriksaan tajam penglihatan pada anak-anak
memerlukan teknik, metode, dan cara untuk memperoleh kerja sama tergantung pada
kondisi pasien.
Anak-anak bukanlah orang dewasa kecil dan memiliki banyak permasalahan
salah satunya anatomi mata dan tajam penglihatan yang masih berkembang sehingga
diperlukan deteksi dini. Setiap tahap perkembangan anak-anak membutuhkan
perbedaan pemeriksaan oftalmologi untuk mengetahui perkembangan visual.
Persiapan yang tepat dan sikap dokter yang baik dapat menyebabkan pemeriksaan
oftalmologi pada anak-anak menjadi nyaman.
Pemeriksaan refraksi subjektif pada anak-anak tidak efektif dilakukan
sehingga pemeriksaan yang dilakukan yaitu pemeriksaan refraksi objektif. Selain itu
pemeriksaan refraksi gold standard yang dilakukan pada anak-anak yaitu dengan
siklopegik sehingga dapat mencegah akomodasi

1.2 Batasan Masalah


Clinical science session (CSS) ini membahas mengenai teknik pemeriksaan
refraksi pada anak.

1.3 Tujuan Penulisan


CSS ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai
teknik pemeriksaan refraksi pada anak.

2
1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan dari CSS ini berupa tinjauan kepustakaan yang mengacu pada
berbagai literatur termasuk buku teks dan artikel ilmiah.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemeriksaan Mata


2.1.2 Neonatus
Semua bayi harus dilakukan pemeriksaan mata sebagai bagian dari
pemeriksaan fisik bayi baru lahir, pemeriksaan nya terdiri dari refleks merah normai
pada kedua mata, anatomi mata luar yang normal, dan simetri antara kedua mata.
Pemeriksaan mata yang cermat segera setelah lahir dapat memperlihatkan kelainan
kongenital yang mengisyaratkari adanya kelainan di bagian lain tubuh dan perlunya
pemeriksaan lebih lanjut.
Instrumen yang diperlukan untuk memeriksa mata neonatus adalah senter
yang bermutu baik, oftalmoskop langsung dan tidak langsung, kaca pembesar, dan
kadang-kadang portable slit lamp. Pemeriksaan mata pada bayi di gunakan siklopegik
untuk mendilatasi pupil diantaranya Phenylephrine 2,5% dan cyclopentolate 1,% atau
tropicamide 1% umumnya aman untuk menimbulkan dilatasi pupil pada neonatus
cukup bulan;konsentrasi-konsentrasi tersebut dapat menimbulkan efekyang tak
diinginkan pada tekanan darah dan fungsi salurancerna bayi prematur sehingga
sebaiknya digunakankombinasi cyclopentolate 0,2% dan phenylephrine
1%(Cyclomydril) untuk mendilatasi pupil.
Pemeriksaan respons subjektif hanya terbatas pada pengamatan respons-
mengikuti suatu target visual. Pada kebanyakan bayi baru lahir dapat diiihat adanya
fiksasi penglihatan dan gerak-mengikuti; namun, sebagian bayi tidak menunjukkan
fiksasi yang menetap hingga menginjak usia 2 bulan. Gerak mengikuti pada
kelompok usia ini biasanya kasar dan menyentak.
1. lnspeksi Eksternal
Dilakukan pemeriksaan kelopak mata untuk melihat adanya tumor,
deformitas, takik kelopak (lid notch), dan gerakan simetrik sewaktu membuka dan
menutup mata. Dicatat ukuran bola mata absolut dan relatif, juga posisi dan
alignmenf (penjajararmya). Dicatat ukuran dan kilauan kornea, serta dilakukan
pemeriksaan kejernihan dan konfigurasi iris di bilik mata depan. Ukuran, posisi,

4
dan reaksi cahaya pupil juga dicatat. Normalnya, pupil relative berdilatasi sampai
usia 29 minggu; setelah itu respons pupil terhadap cahaya mulai muncul.
Anisokoria 0,5 mm dapat dijumpai pada hampir 20% neonatus. Setiap bayi yang
mengalami ptosis harus diperiksa dengan teliti untuk mencari adanya anisokoria,
seperti pada sindrom Horner kongenital; walaupun umumnya jinak, sindrom ini
dapat dijumpai pada neuroblastoma dan dokter mata memegang peranan yag
sangat penting untuk menegakkan diagnosis tepat pada waktunya.
2. Pemeriksaan Oftalmoskopi
Pada pupil yang tidak didilatasi, dapat diperoleh sedikit informasi dengan
menggunakan oftalmoskop dalam ruangan yang agak digelapkan. Namun, semua
bayi baru lahir idealnya diperiksa dengan oftalmoskop melalui pupil yang
didilatasi. Pemeriksaan oftalmoskopi akan memperlihatkan kekeruhan pada
kornea, lensa, atau vitreus serta kelainan di fundus.
Pada bayi prematur, sisa-sisa tunika vaskulosa lentis sering kali tampak,
bisa di depan lensa di belakang lensa, atau di kedua tempat tersebut. Sisa-sisa
tersebut biasanya mengalami regresi saat bayi mencapai usia cukup bulan, tetapi
kadang-kadang sisa-sisa tersebut menetap permanen dan tampak sebagai" jaring
labalaba (cob-web)" total atau parsial di pupil. Kadangkala sisa-sisa sistem hialoid
primitif tidak dapat diserap secara sempurna sehingga terbentuk suatu kerucut di
diskus optikus yang mengarah ke dalam vitreus-papila Bergmeister - atau suatu
lempeng gliotik pada kapsul lensa posterior yang disebut bintik Mittendorf.
Cupping fisiologik diskus biasanya tidak dijumpai pada bayi prematur dan
jarang ditemukan pada usia cukup bulan; sekalipun ditemukan, biasanya sangat
ringan. Pada kasus-kasus yang demikian diskus optikus akan tampak keabu-
abuan, mirip atrofi nervus opticus. Namun, warna pucat relatif tersebut secara
bertahap berubah menjadi merah muda seperti pada dewasa normal pada usia
sekitar 2 tahun. Perdarahan praretina dan intraretina pernah dilaporkan terjadi
pada 30-45% bayi baru lahir, dan biasanya menghilang total dalam beberapa
minggu serta tidak meninggalkan disfungsi penglihatan yang permanen.

5
2.1.2 BAYI & ANAK
1. Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan
Pada tahun-tahun pertama, ketajaman penglihatan harus dinilai
sebagai bagian dari pemeriksaan umum "anak sehat". Sebaiknya jangan
menunggu sampai anak cukup usia untuk dapat merespons kartu
penglihatan (aisual charts) karena pemeriksaan ini tidak bisa memberi
informasi yang tepat hingga anak mencapai usia sekolah. Dalam 3-4 tahun
pertama, penilaian penglihatan sangat tergantung pada pengamatan dan
laporan mengenai perilaku anak sewaktu bermain atau berinteraksi dengan
orangtua atau anak lain. pada usia ini, anak yang menunjukkan kinerja
penglihatan yang tampak normal mungkin saja memiliki visus yang relatif
buruk, kinerja yang sudah jelas tampak abnormal kemungkinan besar
mencerminkan ketajaman penglihatan yang sangat buruk.
Respons pupil terhadap cahaya adalah pemeriksaan kasar untuk
menilai fungsi penglihatan dan hanya dapat diandalkan untuk
rnenyingkirkan disfungsi total jaras penglihatan anterior atau jaras pupil
eferen. Kemampuan melakukan fiksasi dan mengikuti suatu sasaran dinilai
jauh lebih informatif. Sasaran harus sesuai dengan usia anak. Sebaiknya
pertama-tama diperiksa refleks konvergensi dan refleks mengikuti
binokular untuk membangun kerja sama anak. Kemudian masing-masing
mata diperiksa secara terpisah, sebaiknya dengan penutupan mata yang
lain dengan plester.
Perbandingan kinerja kedua mata akan memberikan keterangan
yang bermanfaat mengenai ketajaman penglihatan kedua mata tersebut.
Penolakan terhadap penutupan salah satu mata sangat mengisyaratkan
bahwa mata itulah yang lebih sering dipakai sehingga mata yang satunya
secara komparatif memiliki penglihatan yang kurang. Pada kasus
nistagmus laten-nistagmus yang meningkat dengan penutupan satu mata-
anak biasanya menolak penutupan masing-masing mata karena efek
nistagmus tersebut pada ketajaman penglihatan. Nistagmus yang
bermanifestasi mengindikasikan adanya gangguan jaras penglihatan

6
anterior atau penyakit system saraf pusat lairurya hingga keduanya dapat
disingkirkan.
Setelah usia 3 bulan, adanya strabismus, yang dideteksi dengan
memeriksa posisi relatif refleksi cahaya kornea, juga harus dianggap
sebagai indikasi buruknya penglihatan pada mata yang berdeviasi,
terutama bila mata ini tidak atau lambat melakukan fiksasi terhadap
cahaya. Kurang lebih sejak usia 4 tahun ke atas, telah dapat dilakukan
pemeriksaan respons subjektif dengan menggunakan kartu "E" buta huruf,
gambar-gambar yang dikenali anak-anak, gambar-gambar LEA, atau kartu
HOTV. Biasanya pada sekolah dasar kelas 1 atau 2, dapat digunakan kartu
Snellen yang biasa. Stereoacuity (ketajaman penglihatan tiga dimensi)
terbukti berkembang pada sebagian besar bayi sejak usia 3 bulan, tetapi uji
klinis umumnya tidak mungkin dilakukan hingga usia 3-4 tahun. Tidak
adanya stereopsis, seperti yang dinilai dengan uji 'E" titik acak atau uji
stereo Titmus, mengisyaratkan strabismus atau ambliopia, dan
memerlukan pemeriksaan lanjutan.
2. Refraksi
Refraksi obyektif adalah suatu bagian penting dalam pemeriksaan
mata pediatrik, terutama bila terdapat indikasi gangguan penglihatan atau
strabismus. Pada anak kecil, hal ini harus dilakukan dengan sikloplegia
untuk mengatasi kecenderungan anak melakukan akomodasi. diberikan
tetesan cyclopentolate 1'% yang diberikan dua kali-dengan interval 5
menit-30 menit sebelum pemeriksaan akan menghasilkan cukup
sikloplegia, tetapi bila terdapat strabismus konvergens atau bila matanya
sangat berpigmen, dianjurkan pemberian atropin. Karena tetes atropin
sering menyebabkan efek samping sistemik, regimen yang dianjurkan
adalah salep mata atropin l% yang diberikan sekali sehari mulai 2 atau 3
hari sebelum pemerikshan dilakukan.
Orangtua harus diberikan infomasi mengenai gejala-gejala
toksisitas atropin-demam, wajah memerah, dan peningkatan denyut nadi
dan perlunya penghentian terapi, pendinginan bayi dengan spons mandi,

7
dan pada kasus-kasus yang berat, segera mencari pertolongan medis.
Refraksi sikloplegik memberi keuntungan tambahan berupa midriasis
yang baik untuk memfasilitasi pemeriksaan fundus.
Sekitar 80% anak berusia antara2 dan 6 tahun mengidap hiperopia,
5% miopia, dan 15% emetropia. Sekitar 10% mengalami kelainan refraksi
yang memerlukan perbaikan sebelum usia 7 atau 8 tahun. Hiperopia
menetap relatif statis atau berkurang secara bertahap sampai usia 19 atau
20 tahun. Miopia sering berkembang pada usia antata 6 dan 9 tahun dan
meningkat selama masa remaja, dengan kemungkinan terbesar pada masa
pubertas. Astigmatisme relatif sering terjadi pada bayi tetapi prevalensinya
berkurang selama tahun-tahun pertama kehidupan. Setelah itu, prevalensi
dan derajat astigmatisme relative konstan sepanjang hidup.
3. Pemeriksaan Segmen Anterior & Posterior
Pemeriksaan lebih lanjut harus disesuaikan dengan usia dan
kemampuan anak untuk bekerja sama. Pemeriksaan segmen anterior pada
anak kecil terutama tergantung pada penggunaan senter dan kaca
pembesar, tetapi pemeriksaan dengan slitlamp kadang-kadang dapat
dilakukan pada bayi (dengan kerja sama ibunya) dan pada anak kecil yang
dapat dibujuk. Pengukuran tekanan intraokular dan gonioskopi sering
menimbulkan masalah dan sering memerlukan pemeriksaan di bawah
anestesi.
Pemeriksaan fundus tergantung pada midriasis yang memadai.
Pemeriksaan ini umumnya lebih mudah dilakukan pada neonatus dan bayi
daripada anak kecil karena mereka lebih mudah didiamkan dengan
membungkusnya dalam selimuf pemeriksaan sering lebih mudah dengan
membiarkan bayi disusui atau diberi makan selama pemeriksaan, bahkan
sering kali mungkin untuk dilakukan pemeriksaan tekanan intraokular atau
seluruh mata pada waktu itu.
Refleksi cahaya fovea tidak dijumpai pada bayi. Makula tampak
seperti "induk mutiara (mother of pearl)" terang dengan sedikit elevasi.
Hal ini lebih nyata pada bayi berkulit hitam. Pada usia 3-4 bulan,

8
makulanya menjadi sedikit konkaf dan terdapat refleks cahaya fovea.
Fundus perifer pada bayi tampak abu-abu, berbeda dengan fundus dewasa
yang tampak merah-oranye. Pada bayi berkulit putih, pigmentasi lebih
mencolok di dekat kutub posterior dan secara bertahap berkurang ke
perifer sampai hampir putih. Pada bayi berkulit hitam, lebih banyak
pigmen terdapat di fundus, dan di perifer tampak kilau abu-abu biru. Pada
bayi berkulit putih, bagian perifer yang putih adalah normal dan jangan
disangka suatu retinoblastoma. Selama beberapa bulan kemudian,
pengendapan pigmen di retina terus berlanjut, dan biasanya warna dewasa
sudah tampak pada usia sekitar 2 tahun. Pemeriksaan tajam penglihatan
pada anak dapat dibedakan berdasarkan usia yaitu preverbal dan verbal.
Pemeriksaan tajam penglihatan anak pada usia preverbal yaitu usia kurang
dari 2,5 tahun dan verbal pada usia lebih dari 2,5 tahun. Pemeriksaan
tajam penglihatan anak pada usia preverbal yaitu dapat dilakukan dengan
observasi, fiksasi, oftalmoskopi, refleks pupil, optokinetic nystagmus test
(OKN), the prefential looking test, dan visual evoked potential (VEP)

2.2 Pemeriksaan pada anak preverbal

2.2.1 Observasi

Pada metode ini kita dapat mengamati apakah anak tampak melihat atau peduli
terhadap lingkungan sekitarnya? Apakah anak respon terhadap lingkungan sosial
seperti mengenali wajah pemeriksa atau anggota keluarganya.? Apakah anak melihat
jari tangan dan kakinya sendiri? Adanya pengenalan dan perhatian anak
menunjukkan tajam penglihatannya baik. Metode ini sulit dinilai pada anak yang
keterbelakangan mental, karena mungkin anak tersebut melihat, tetapi tidak respon
terhadap sekitar.

2.2.2 Fiksasi dan mengikuti benda

Pada teknik ini kita lihat apakah anak tetap terfiksasi pada objek yang menarik.
Apakah anak mengikuti objek yang menarik tersebut. Respon anak mengikuti objek

9
ini biasanya didapatkan pada 1 atau 2 bulan kehidupan dan ini membuktikan bahwa
visus anak baik. Ada dua jenis pengujian fiksasi: monokular dan binokular. Pada
pemeriksaan monokular, setiap mata harus diperiksa secara bergantian. Hal yang
harus diperhatikan pada fiksasi monokular :

1. Kualitas dan ketepatan (baik, lemah, buruk)

2. Lokasi (sentral/eksentrik)

3. Durasi ( maintained/sporadik)

Untuk melihat fiksasi pada mata anak juga dapat digunakan metode CSM. Metode
ini dapat digunakan pada anak yang belum dapat berbicara.

C : Sentral. Lokasi reflek kornea pada saat pasien berfiksasai dengan cahaya senter
dengan 1 mata ditutup (monokuler). Normal reflek kornea ada pada sentral kornea.
Jika eksentrik disebut dengan uncentral (UC).

S : Steadines. Artinya tetap. Fiksasi pada senter saat digerakan dan diam
(monokuler). Jika tidak tetap disebut unsteady (US).

M : Maintain Aligment. Kemampuan pasien untuk mempertahankan kelurusan mata


dengan cara satu mata ditutup kemudian dibuka. Jika tidak mampu mempertahankan
disebut Unmaintain (UM).

2.2.3. Oftalmoskopi

Oftalmoskopi langsung atau pun tidak langsung dipakai untuk mengetahui


keadaan media mata dan mempelajari karakteristik fisik dari retina dan nervus
optikus. Terdapatnya media yang jernih dan retina yang utuh dengan nervus optikus
yang yang normal dapat menunjukan bahwa tajam penglihatan baik.

2.2.4. Reflek Pupil

Adanya reflek langsung dan tidak langsung pupil terhadap cahaya


menunjukkan bahwa jalur aferen dan eferen reflek pupil baik. Cara sederhana yang
dipakai untuk memeriksa reflek ini dapat digunakan untuk menilai keadaan saraf
penglihatan bagian depan. Tapi respon normal dari pemeriksaan ini belum

10
mengindikasikan bahwa pasien dapat melihat, hanya menunjukan penyampaian
sinyal ke korteks. Jika cahaya senter pada satu mata menyebabkan konstriksi pada
kedua pupil berarti retina, nervus optikus, traktus optikus berfungsi baik.

2.2.5 Optokinetic Nystagmus Test (OKN)

Anak-anak dengan fiksasi buruk pada target apa pun sebagai akibat dari visus
yang buruk atau masalah sistem saraf pusat dapat dievaluasi dengan optokinetic
nystagmus (OKN) selama mereka mampu menghasilkan saccades. Optokinetic
Nystagmus Test merupakan sebuah silinder yang dapat berputar pada sumbunya dan
pada dindingnya terdapat garis-garis tegak yang mempunyai ketebalan tertentu, Tes
ini sangat berguna untuk mengetahui fungsi penglihatan pada anak. Dengan
memutar alat ini di depan mata anak akan terlihat nistagmus pada mata anak tersebut
yang gerakannya berlawanan dengan arah perputaran slinder. Semakin halus garis
yang terdapat pada tabung slinder yang memberikan respon nistagmus maka
semakin baik pula visus bayi yang diperiksa

Gambar 1. Optokinetic Nystagmus Test.4

11
2.2.6. Prefential Looking Test

Preferential looking test menilai ketajaman penglihatan dengan mengamati


respon anak terhadap stimulus visual. Pemeriksaan ini cukup detail untuk menilai
tajam penglihatan pada bayi dan anak yang belum bisa bicara. Preferential looking
test dapat dilakukan dengan menggunakan Teller Acuity Card II dan Cardiff Acuity
Test.

Teller Acuity Card II merupakan serangkaian kartu persegi panjang yang


terdiri dari 17 kartu yang berukuran masing-masing 25,5 cm x 55,5 cm dan terdapat
garis-garis hitam dan putih yang dicetak dengan latar belakang abu-abu. Kartu ini
terbagi menjadi dua sisi dengan lubang di bagian tengah yang mempunyai diameter
4mm dan garis-garis tersebut hanya terdapat pada satu sisi kartu saja. Gerakan mata
ke arah sisi dengan garis menunjukkan bahwa anak mampu melihat garis-garis
tersebut. Lebar garis menurun secara berturut-turut. Semakin tipis garis yang bisa
terlihat maka semakin baik tajam penglihatan anak. Pemeriksaan ini dilakukan
secara monokular dengan menutup salah satu mata dan secara binokular (Gambar 2).

Pada pemeriksaan visus dengan teller acuity test, jarak pemeriksaan


ditentukan berdasarkan usia anak. Pada bayi usia 0-6 bulan pemeriksaan dilakukan
pada jarak 38 cm, pada anak usia 7 bulan hingga 3 tahun pemeriksaan dilakukan
pada jarak 55 cm.

Gambar 2. Prefential looking test.

Pada anak dengan usia lebih dari 3 tahun pemeriksaan pada jarak 84 cm dan
pada anak dengan tajam penglihatan yang lebih buruk pemeriksaan dilakukan pada

12
jarak yang lebih dekat 9.5 cm dan 19 cm. Sebelum memulai pemeriksaan,
pemeriksaan harus memastikan jarak mana yang digunakan dan kemudian tajam
penglihatan dinilai dengan menggunakan tabel konversi visus berdasarkan pada level
kartu yang bisa dilihat (dalam cy/cm) dengan jarak pemeriksaan (Tabel 1).

Tabel 1. Tabel konversi visus dengan Teller Acuity Test.

2.2.7. Visual Evoked Potential (VEP)

Tes Visual Evoked Potential (VEP) merupakan pemeriksaan kualitatif dari


pemeriksaan tajam penglihatan. Tes ini digunakan untuk melihat ada atau tidaknya
kebutaan kortek. Alat ini berupa elektroensefalogram (EEG) yang diambil dari lobus
oksipital. Elektroda primer ditempelkan di atas lobus oksipital. VEP ditentukan
dengan menstimulasi mata dengan cahaya terang, dengan mengunakan suatu alat
perekam aktivitas listrik otak lewat stimulasi cahaya pada retina. Pemeriksaan ini
lebih bermanfaat pada anak dengan retardasi mental.

13
2.3 Pemeriksaan tajam penglihatan pada anak usia verbal

Pemeriksaan tajam penglihatan pada anak usia verbal yaitu dengan


menggunakan optotype seperti Allen card, HOTV card, LEA symbol, E chart, dan
Snellen chart.

2.3.1. Allen Card

Allen Card berupa gambar yang sudah dikenal oleh anak-anak misalnya gambar
mobil, pohon natal, boneka beruang, telepon dan kue ulang tahun. Allen card
digunakan pada usia anak 2,5 tahun. Pemeriksaan dilakukan dengan jarak 3 meter
(Gambar 3).

Gambar 3. Allen card.

2.3.2. The Stycard Test (HOTV card)

Pada pemeriksaan ini digunakan satu set simbol dengan ukuran yang bertingkat,
dan satu set simbol yang masing-masing bertuliskan Huruf H,O,T,V sebagai
interpretasi dengan meminta anak menunjukan huruf yang sama dengan yang

14
ditunjuk oleh pemeriksa. HOTV card digunakan pada usia anak 30-54 bulan.
Pemeriksaan dilakukan dengan jarak 3 meter (Gambar 4).

Gambar 4. HOTV card.5

2.3.3. LEA symbol

Lea symbol terdiri atas 4 buah gambar yaitu apel, rumah, lingkaran, dan persegi
empat. LEA symbol digunakan pada anak usia 3-3,5 tahun. Anak diminta untuk
mengenal masing-masing gambar kemudian anak menunjukkan gambar yang ada.
Nilai berapa visus anak sesuai dengan angka yang berada di samping LEA symbol
(Gambar 5).

Gambar 5. LEA symbol.4

2.3.4. E chart

Pemeriksaan dengan metode ini hampir sama dengan pemeriksaan kartu snellen,
bedanya pemeriksan ini hanya menggunakan satu huruf “E” dengan berbagai ukuran

15
dan posisi. Tanyakan kepada anak kemana arah dari kaki Huruf ‘E’ apakah ke
bawah, ke atas, ke kiri atau ke kanan. E chart dapat digunakan pada usia di atas 4
tahun.

2.4 Refraksi siklopegik

Refraksi siklopegik merupakan gold standard pemeriksaan refraksi pada anak


karena dapat mencegah akomodasi sehingga dapat menghindari terjadinya kesalahan
hasil pemeriksaan refraksi pada anak.

Siklopegik sangat penting untuk menghilangkan akomodasi yang tidak


terkendali dan cukup menilai kesalahan bias pada anak-anak. Beberapa agen tersedia,
tetapi kecukupan cycloplegia, dilatasi pupil yang maksimal, adalah yang paling penting.
Tropicamide bukan siklopegik yang cukup kuat untuk anak-anak kecil; sebagai gantinya,
siklopegik, homatropine, atau atropin harus digunakan.

Cyclopentolate memiliki onset paling cepat dan durasi terpendek dan dengan
demikian cocok untuk penggunaan klinik. Untuk kebanyakan anak, satu tetes masing-
masing cyclopentolate 1% dan kombinasi dengan phenylephrine 2,5%. Mata berpigmen
lebih ringan mungkin hanya membutuhkan satu atau dua aplikasi, sedangkan mata yang
berpigmen gelap mungkin membutuhkan lebih dari tiga. Untuk anak-anak kurang dari 6
bulan, itu lebih aman untuk menggunakan tetes encer seperti Cyclomidril (cyclopentolate
0,2% dan phenylephrine 1%). Homatropine 5% adalah pilihan lain yang digunakan untuk
dilatasi klinik, terutama pada pasien berpigmen gelap, tetapi penurunan ini berlangsung
hingga 3 hari. Baik cyclopentolate dan homatropine menghasilkan cycloplegia maksimal
dalam 30 menit hingga 1 jam, namun akan pulih dalam waktu 1 hari.

2.5 Peresepan Kacamata pada Anak11

2.5.1 Hypermetropia

16
Anak-anak memiliki akomodasi yang kuat, sehingga dapat mengatasi
hipermetropia minimal dengan mudah. Kekuatan plus lebih dari 5 D menjadi sulit untuk
diatasi, juga jumlah akomodasi yang diperlukan untuk penglihatan dekat akan berada
dalam jangkauan + 8 D, yang dapat dengan mudah menyebabkan asthenopia. Anak-anak
yang lemah akomodasi dapat memiliki asthenopia pada kekuatan yang lebih rendah.
Amblyopia dan esotropia adalah hasil paling umum dari hipermetropia yang tidak
dikoreksi. Amblyopia dapat terjadi jika hipermetropi pada anak tidak dapat di atasi.
Hipermetropia yang perlu dikoreksi tergantung pada usia terutama kekuatan
sekitar 5 D perlu dikoreksi karena risiko amblyopia. Merujuk ke Amerika Asosiasi untuk
Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS), sesuai dengan tabel 1.
Dalam kasus esotropia > 1,5 D harus dikoreksi dengan meresepkan sikloplegik.
Esotropia biasanya terjadi dalam rentang usia dua hingga empat tahun.Seiring
berjalannya waktu, esotropia sering berkembang menjadi strabismus. Pemberian
siklopegik sangat dianjurkan pada anak, terutama dengan atropin yang bertujuan untuk
menurunkan daya akomodasi anak sehingga koreksi lebih akurat.

2.5.2 Miopia

Miopia (kurang dari 3-5 D) tidak menimbulkan risiko tinggi ambliopia, seperti

penglihatan dekat hampir selalu tidak terpengaruh kecuali pada miopia yang tinggi.
Resep kacamata untuk miopia yang rendah paling baik dilakukan pada saat sebelum usia
sekolah tiga hingga empat tahun, karena pada usia ini anak-anak mulai memiliki
signifikan untuk melihat jauh. Resep dari kacamata harus dipertimbangkan lebih awal
jika kekuatan pada kisaran 3 hingga 5 D. Tujuannya adalah untuk mereset daya minus
terendah yang diperlukan untuk ketajaman visual yang terbaik dan koreksi berlebihan
harus dihindari.

2.5.3 Astigmatism

Akomodasi hanya dapat mengubah status refraksi sferis dari mata oleh
perubahan kelengkungan lensa kristal. Astigmatisme tidak dapat diatasi dengan
akomodasi, oleh karena itu setiap kekuatan silinder di atas 1,5 hingga 2 D bisa menjadi
amblyogenic. Kekuatan silinder di luar rentang ini harus diresepkan berdasarkan usia
anak. Berbeda dengan orang dewasa, kekuatan silinder total diresepkan pada anak-anak

17
dengan tujuan mengoreksi kedua meridian sepenuhnya, sehingga mencegah
kemungkinan amblyopia.

Kekuatan silindris yang lebih kecil (<1,5 D) harus diresepkan pada anak-anak
jika ketajaman visual berkurang dan juga pada anak-anak yang terutama memiliki
kekuatan sferis dengan silindris yang kecil. Penyesuaian kacamata sangat penting pada
silinder dengan kekuatan yang lebih tinggi.

2.5.4 Anisometropia

Anisometropia hipermetropik lebih ambliogenik dari pada anisometropia


miopik. Perbedaan> 1,5 D hipermetropia dianggap ambliogenik dan harus diresepkan
sejak dini. Miopia dapat diatasi dengan akomodasi dan anisometropia miopik hingga 3 D
dapat dianggap risiko rendah amblyopia. Jadi, setiap perbedaan di luar 3 D seharusnya
diresepkan lebih awal. Setiap perbedaanl hingga 3 D akan membutuhkan kacamata pada
usia pra sekolah. Mirip dengan hipermetropia, astigmatism > 1,5 D juga bersifat
ambliogenik dan seharusnya diresepkan lebih awal.

Tabel 1 : Panduan peresepan kacamata pada anak menurut AAO (American Association

18
for Pediatric Ophthalmology)11

19
BAB III
KESIMPULAN

Anak-anak memiliki anatomi mata dan tajam penglihatan yang masih


berkembang sehingga setiap tahap perkembangan anak-anak membutuhkan perbedaan
pemeriksaan oftalmologi untuk mengetahui perkembangan visual. Pemeriksaan refraksi
subjektif pada anak-anak tidak efektif dilakukan sehingga perlu dilakukan pemeriksaan
refraksi objektif. Pemeriksaan refraksi gold standard yang dilakukan pada anak-anak
yaitu dengan siklopegik sehingga dapat mencegah akomodasi.
Pada neonatus, pemeriksaan refraksi yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan
inspeksi eksternal, dan oftalmoskopi. Pada bayi dan anak, dapat dilakukan pemeriksaan
ketajaman penglihatan, refraksi, segmen anterior dan posterior. Pada anak juga terdapat
pemeriksaan refraksi preverbal dan verbal. Pemeriksaan refraksi preverbal meliputi
observasi, fiksasi dan mengikuti benda, oftalmoskopi, refleks pupil, optokinetic
nystagmus test, prevential looking test, dan visual evoked potential. Pemeriksaan refraksi
verbal berupa allen card, HOTV card, LEA symbol, E chart.
Gold standar pemeriksaan refraksi pada anak adalah refraksi siklopegik yang
berperan untuk menghilangkan akomodasi mata yang tidak terkendali dan menurunkan
kesalahan bias pada koreksi refraksi anak-anak. Pemeriksaan tajam penglihatan pada
anak-anak memerlukan teknik, metode, dan cara untuk memperoleh kerja sama yang
baik. Persiapan yang tepat dan sikap dokter yang baik dapat menyebabkan pemeriksaan
oftalmologi pada anak-anak menjadi nyaman.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Skuta GL, Cantor LB, Weiss JS. Decreased Vision in Infants and Children. Pediatric
Ophthalmology and Strabismus. USA: American Academy of Ophthalmology. 2015.
pp. 189-194.
2. Kniestedt C, Stamper RL. Visual Acuity and Its Measurement.In: Ophthalmology
Clinics of North America. USA; Elsevier. 2003. pp 155-170.
3. Dubois L. Visual Acuity. In Clinical Skills for The Ophthalmic Examination. Ledford
KL, Daniels K, Campbell R, ED. Atlanta; Slack Incorporated. 2006. pp.14-20
4. Wright KW, Hengst TC, Spiegel PH. NeuroOphthalmology. Pediatric Ophthalmology
and Strabismus: Springer New York; 2013. pp. 865-878.
5. Skuta GL, Cantor LB, Weiss JS. The Pediatric Eye Examination. Pediatric
Ophthalmology and Strabismus. USA:American Academy of Ophthalmology; 2015.
pp. 5-14.
6. Rovick L. Testing Visual Acuity in Children and Non-Verbal Adults. Association of
Technical Personnel in Ophthalmology. 2012. pp 85-92.
7. Wilson ME, Saunders RA, Trivedi RH. The Art and Science of Examining a Child.
Pediatric Ophthalmology Current Thought and a Practical Guide. Germany: Springer.
2009. pp 1-6.
8. Sharma P, Bairagi D, Sachdeva MM, Kaur K, Khokhar S, Saxena R. Comparative
Evaluation of Teller and Cardiff Acuity Tests in Normals and Unilateral Amblyopes
in under Two-Year-Olds. Indian Journal of Ophthalmology. 2003; 51(4). pp 341-345.
9. Nelson LB. Harley’s pediatric ophthalmology. 2014

21
10. Vaughan, Asbury. Subjek khusus yang berkaitan dengan Pediatri . Edisi ke-17.
Jakarta: EGC; 2015. p 356-63
11. Sainani, A. Special Consideration for Prescription of Glasses in Children. J Clin
Ophtalmol Res 2013;1: 169-73.

22