Anda di halaman 1dari 34

CASE REPORT SESSION (CRS)

*Kepaniteraan Klinik Senior/G1A217106

**Pembimbing

Carcinoma Prostat

Tommy Akasia Laksana Putra, S.Ked* dr.H. Ali Imran Lubis, Sp. Rad**

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR

BAGIAN ILMU RADIOLOGI RSUD RADEN MATTAHER JAMBI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JAMBI

2018
2

HALAMAN PENGESAHAN

Case Report Session (CRS)

Carcinoma Prostat

DISUSUN OLEH

Tommy Akasia Laksana Putra, S.Ked

G1A217106

Telah diterima dan dipresentasikan sebagai salah satu tugas

Bagian Ilmu Kedokteran Radiologi RSUD Raden Mattaher Jambi Program Studi

Pendidikan Kedokteran Universitas Jambi

Laporan ini telah diterima dan dipresentasikan

Jambi, April 2018

PEMBIMBING

dr. H. Ali Imran Lubis, Sp. Rad


3

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan kasih dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan Case Report Session ini
dengan judul “Carcinoma Prostat”. Laporan ini merupakan bagian dari tugas Kepaniteraan
Klinik Senior di Bagian Ilmu Radiologi RSUD Raden Mattaher Jambi.
Terwujudnya laporan ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai
pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada dr. Ali Imran Lubis,
Sp. Radselaku pembimbing yang telah memberikan arahan sehingga laporan Case Report Session
ini dapat terselesaikan dengan baik dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian laporan Case Report Session ini.
Penulis menyadari laporan ini masih banyak kekurangannya, untuk itu saran dan kritik
yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis.Sebagai penutup semoga kiranya
laporan Case Report Session ini dapat bermanfaat bagi kita khususnya dan bagi dunia kesehatan
pada umumnya.

Jambi, April 2018

Penulis
4

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ 3

DAFTAR ISI.................................................................................................... ………….. 4

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................5

BAB II LAPORAN KASUS……………………………………………………………….6

BAB III TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................... 15

3.1 Anatomi Kelenjar Prostat..................................................................................15


3.2 Fisiologi Kelenjar Prostat………………………………………………………16
3.3 Histologi Kelenjar Prostat………………………………………………………17
3.4 Carcinoma Prostat.......................................................................... ………….. 18
3.4.1 Epidemiologi………………………………………………………..18
3.4.2 Etiologi dan Faktor Resiko .......................................... ……………19
3.4.3 Patofisiologi…………………………………………………………20
3.4.4 Gejala Klinis………………………………………………………...21
3.4.5 Diognosis……………………………………………………………21
3.4.6 Grading dan Staging .................................................... …………….24
3.4.7 Penatalaksanaan……………………………………………………..26
3.4.8 Prognosis…………………………………………………………….30

BAB IV ANALISIS KASUS .......................................................................... ……………31

BAB V KESIMPULAN ................................................................................. …………....32

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................33
5

BAB I
PENDAHULUAN

Kanker prostat merupakan keganasan tersering pada laki-laki di negara-negara barat,


sedangkan di Asia baru dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan peningkatan insiden. Data
dari dua rumah sakit besar di Jakarta juga menunjukkan kenaikan hampir tiga kali lipat dalam
sepuluh tahun terakhir.1,2
Hal ini disebabkan oleh bertambahnya kemudahan mendatangi fasilitas kesehatan,
adanya kebijakan melakukan pemeriksaan colok dubur serta kadar prostate specific antigen
(PSA) sebagai penanda tumor pada penderita dengan keluhan lower urinary tract symptoms
(LUTS), serta pemeriksaan volume prostat dan biopsi prostat dengan tuntunan trans-rectal
ultrasonography (TRUS).3,4,5
Karsinoma prostat adalah suatu kanker ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat,
tumbuh secara abnormal tak terkendali sehingga mendesak dan merusak jaringan sekitarnya dan
merupakan yang terbanyak diantara keganasan sistem urogenitalia pada pria.
Insiden karsinoma prostat akhir – akhir ini mengalami peningkatan karena : (1)
meningkatnya umur harapan hidup, (2) penegakkan diagnosis yang menjadi lebih baik, dan (3)
kewaspadaan (awarness) tiap-tiap individu mengenai adanya keganasan prostat makin
meningkat karena informasi dari majalah, media elektronika, atau internet.1
Kanker prostat merupakan tumor yang paling sering terjadi pada pria di Amerika Serikat.
Sekitar 200.000 kasus baru di diagnosis setiap tahunnya. Kanker prostat menunjukkan
morbiditas dan mortalitas yang sangat tinggi pada populasi pria di Amerika. Secara khusus
kanker prostat ternyata lebih banyak diderita oleh bangsa Afro-Amerika yang berkulit hitam
daripada bangsa kulit putih. 1
6

BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITASPASIEN
Nama : Tn. A
Umur : 75 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Jln. Sunan Giri
MRS : 18 Maret 2018

II. DATA SUBYEKTIF


 Keluhan utama:
Sulit buang air kecil

 Riwayat Penyakit Sekarang:


Keluhan dialami sejak 1 bulan yang lalu, pasien kadang harus menunggu lama dan
mengejan saat ingin kencing. Saat buang air kecil, pancaran urin melemah dan terputus –
putus serta menetes saat akhir buang air kecil dan rasa tidak puas saat selesai kencing.
Pasien juga mengeluh sering kencing setiap dua sampai empat kali dalam dua jam.
Pasien kadang sulit menahan kencing, pasien juga mengaku sering terbangun saat tengah
malam hanya untuk buang air kecil sebanyak tiga kali. Pasien merasa terganggu untuk
melakukan aktivitas sehari- hari karena keluhan sulit buang air kecil ini. Penurunan berat
badan sekitar 5 kg dalam 2 bulan.

 Riwayat penyakit dahulu:


Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat keluhan serupa sebelumnya disangkal
Riwayat stroke disangkal
Riwayat operasi disangkal
7

 Riwayat penyakit keluarga:


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien.

 Riwayat sosial, ekonomi, kebiasaan :


Pasien seorang laki-laki, pekerjaan sebagai pengangguran, memiliki kebiasaan
merokok, dan minum kopi, konsumsi alcohol disangkal serta tidak memiliki riwayat
mengkonsumsi obat-obatan.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Kesadaran : Compos mentis, GCS: 15 E:4 M:6 V: 5
Tekanan darah : 120/70 mmHg.
Nadi : 80x/menit.
Suhu : 36oC.
Respirasi : 22x/menit.

1. Status Lokalis
Kepala : Mata : CA-/-, SI -/-.
Pupil : Isokor, reflex cahaya (+/+).
Leher : Kelenjar thyroid tidak membesar, KGB membesar,
tidak ada deviasi trakhea.
Dada : Simetris, tidakada retraksi.
Jantung :Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi :Ictus cordisteraba
Perkusi
 Batas Atas : Linea parasternal sinistra ICS II
 Batas kiri : Linea axillarisanterior sinistra ICS VI.
 Batas kanan : Linea parasternal dextra ICS V.
Auskultasi: BJ I/II reguler, gallop (-), murmur (+).
Paru : Inspeksi : Simetris, retraksi (-/-), ketinggalan gerak (-/-)
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri, Nyeri tekan (-/-), krepitasi (-/-).
Perkusi : Sonor paru kanan= kiri.
8

Auskultasi :Vesikuler (+/+),wheezing(-/-), rhonki (+/+).


Abdomen :Inspeksi : Datar, luka operasi (-).
Auskultasi : Bising usus (+) Normal.
Palpasi : Distensi (-), sikatrik (-),massa (-), hepar lien tidakteraba.
Perkusi : Timpani, ascites (-)
Ekstremitas : akral hangat, edema (-/-), sianosis (-), CRT 3 detik.
Status Urologi:
Regio Costovertebralis Dextra :

• Inspeksi : tampak alignment tulang vertebra baik, tidak tampak massa


tumor, tidak tampak gibbus.
• Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, ballotement ginjal tidak teraba, massa
tumor tidak teraba.
• Perkusi : Nyeri ketok tidak ada
Regio Costovertebralis Sinistra :

• Inspeksi : tampak alignment tulang vertebra baik, tidak tampak massa


tumor, tidak tampak gibbus.
Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, ballotement ginjal tidak teraba, massa
tumor tidak teraba.
• Perkusi : Nyeri ketok tidak ada
Regio Suprapubik :

• Inspeksi : tampak datar, tidak bulging, warna kulit sama dengan sekitar ,
hematom tidak ada, tidak tampak massa tumor.
• Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak teraba
Regio Genitalia Externa :

Penis

• Inspeksi : tampak telah disirkumsisi, OUE berada di ujung penis, hematom


penis tidak ada,massa tumor tidak tampak.
• Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, tidak teraba massa
9

Scrotum

• Inspeksi : Tampak warna kulit lebih gelap dari sekitarnya,tidak


tampakhematom, tidak tampak massa tumor.
• Palpasi : Teraba 2 buah testis dengan ukuran kesan normal dan konsistensi
kenyal, nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak teraba.
Perineum

 Inspeksi : warna kulit tampak lebih gelap dari sekitarnya, tidak tampak
massa tumor, dan hematom
 Palpasi : tidak teraba massa tumor, nyeri tekan (+)
Colok dubur bimanual
 Sfingter mencekik, mukosa licin, ampulla kosong, teraba pembesaran prostat
ukuran ± 3 cm kearah rektum dengan konsistensi padat keras, simetris kiri dan
kanan, permukaan berbenjol-benjol, pole atas dapat dicapai dengan bimanual
palpasi. Dengan bimanual palpasi tidak teraba massa maupun batu pada buli-buli.
 Handschoen: lendir tidak ada, feses tidak ada, darah tidak ada.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


 Pemeriksaan Laboratorium ( 19 Maret 2018 )
PEMERIKSAAN NILAI NILAI NORMAL
WBC 7,82 4.00 - 10.0x10^3/ul
HGB 11,1 13.0 - 17.0 gr/dl
RBC 3,20 4.00 - 6.00 10^6/uL
PLT 460 150 - 400 x10^3/u
Ureum 34 10-50 mg/dl
Kreatinin 1,0 L(<1.3), P(<1.1) mg/dl
GDS 133 80-180 /dl

PEMERIKSAAN NILAI NILAI NORMAL


ELEKTROLIT
Natrium 141 136 – 145mmol/l
Kalium 4,1 3.5 - 5.1 mmol/l
Klorida 106 97 – 111 mmol/l
10

KIMIA DARAH
SGOT 22 < 35 U/L
SGPT 9 < 45 U/L
PSA >10 0-4,00 ng/mL

 Pemeriksaan Radiologis

Pemeriksaan USG

Hasil Pemeriksaan :
- Hipertrofi Prostat
- Tampak kalsifikasi di dalamnya
Kesan :
Ca Prostat

Usulan pemeriksaan lanjutan: Biopsy Prostat


11

Foto Thorak & Bone Survey


12
13
14

Hasil Pemeriksaan :
Bone Survey :
Kesan : Tampak metastase pada vertebrae lumbal, sacrum ramus inferior pubis kiri,
humerus kiri dan cranium

Foto thorak :
Kesan : Tampak metastase di bilateral costae

Biopsi :
Hasil : Adenocarcinoma prostat, Poorly differentiated (Gleason Score 5+4= 9)

V. DIAGNOSIS KLINIS
Carcinoma Prostat

VI. PENATALAKSANAAN
 Radiasi
 Terapi ADT (Androgen Deprivation Therapy)
15

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Kelenjar Prostat


Prostat adalah organ genital yang hanya ditemukan pada pria. Prostat berbentuk
pyramid, dan merupakan organ kelenjar fibromuskular yang mengelilingi uretra pars
prostatika (Gambar 1). Prostat mempunyai panjang kurang lebih 3 cm.6

Gambar 1. Organ reproduksi pria.7

Dalam hubungannya dengan organ lain, batas prostat atas adalah vesika urinaria, di
dalam prostat terdapat uretra, sedangkan batas bawah, yaitu ujung prostat bermuara ke
sfingter vesika eksterna yang terbentang di antara lapisan peritoneum. Pada bagian depan
terdapat simfisis pubis yang dipisahkan oleh lapisan ektra peritoneal. Lapisan tersebut
dinamakan cave of Retzius atau ruangan retropubik.Bagian belakangnya dekat dengan
rectum, dipisahkan oleh fascia Denonvilliers (Gambar 2).7,8
16

Gambar 2. Batas-batas prostat.7

Prostat diperdarahi oleh cabang arteri vesikalis inferior dan arteri rectalis media.
Pembuluh darah vena membentuk pleksus venosusprostatikus yang menampung darah dari
vena dorsalis profunda penis dan sejumlah vena vesikalis, selanjutnya bermuara ke vena
iliaka interna.Pembuluh limfe prostat mengalirkan cairan limfe ke nodi iliaca interna.
Persyarafan prostat berasal dari pleksus hipogastrikus inferior.8
Prostat secara tidak sempurna terbagi menjadi lima lobus. Lobus anterior terletak di
depan uretra dan tidak mempunyai jaringan kelenjar. Lobus media adalah kelenjar yang
terletak di antara uretra dan ductus ejakulatorius. Permukaan atas lobus media berhubungan
dengan trigonum vesika, bagian ini mengandung banyak kelenjar. Lobus prostate dekstra et
sinistra terletak di samping uretra dan dipisahkan satu dengan yang lain oleh jalur vertical
dangkal yang terdapat pada facies posterior prostat. Lobus lateral mengandung banyak
kelenjar.6

3.2 Fisiologi Kelenjar Prostat


Fungsi prostat adalah menghasilkan cairan seperti susu yang mengandung asam sitrat
dan asam fosfat. Cairan ini keluar saat ejakulasi, karena rangsangan simpatis. Otot polos pada
capsula dan stroma berkontraksi dan mengeluarkan secret dari kelenjar prostat masuk ke
17

urethra pars prostatika. Sekret prostat bersifat alkalis dan membantu menetralkan suasana
asam di dalam vagina.7

3.3 Histologi Kelenjar Prostat


Secara histologi, prostat dibagi menjadi tiga zona. Yang pertama adalah zona sentral,
zona ini meliputi 25% dari volume kelenjar. Tujuh puluh persen kelenjar dibentuk oleh zona
perifer. Pada zona ini, karsinoma, prostatitis kronis, dan atrofi postinflamasi lebih sering
terjadi dibandingkan pada zona yang lain. Zona ketiga adalah zona transisional, mempunyai
arti medis yang penting karena merupakan tempat asal sebagian besar benign prostatic
hyperplasia (BPH), dan sebagian kecil kejadian adenokarsinoma (Gambar 3).6,9

Gambar 3. Pembagian zona pada prostat.10

Gambar 4. Gambaran Histologi prostat.11


Kelenjar tubuloalveolar prostat dibentuk oleh epitel bertingkat silindris atau kuboid.
Stroma fibromuskular mengelilingi kelanjar-kelenjar. Prostat dikelilingi suatu simpai
18

fibroelastis dengan otot polos. Septa dari simpai ini menembus kelenjar dan membaginya
dalam lobus-lobus yang tidak berbatas tegas pada orang dewasa (Gambar 4).6,11

3.4 Carcinoma Prostat


Kanker prostat adalah keganasan prostat yang diderita pria berusia lanjut, dengan
puncak kejadian pada usia 65-75 tahun. Lebih dari 95% kanker prostat bersifat
adenokarsinoma, yang merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel kelenjar, selebihnya
didominasi karsinoma sel transisional. 60-70% kasus kanker prostat terjadi pada zona perifer,
sehingga dapat diraba sebagai nodul-nodul keras irregular pada pemeriksaan colok dubur.
Sebanyak 10-20% kanker prostat terjadi pada zona transisional, dan 5-10% terjadi pada zona
sentral.9,10

3.4.1 Epidemiologi
Adenokarsinoma prostat adalah kanker paling umum pada pria. Kejadiannya di
Amerika Serikat pada tahun 2007 mencapai 27% dari semua kanker, dan menyebabkan 9%
kematian karena kanker di tahun yang sama. Pasien kanker prostat stadium awal biasanya
tidak menunjukkan gejala, walau beberapa kasus bermanifestasi dengan gejala obstuktif
mirip benign prostat hyperthrophy (BPH). Oleh karena itu, pada pria berusia 40 tahun,
sebaiknya sudah melakukan pemeriksaan screening untuk deteksi dini.10
19

3.4.2 Etiologi dan Faktor Risiko


Dari berbagai penelitian, didapatkan beberapa factor risiko kanker prostat adalah
sebagai berikut :
1. Usia
Kanker prostat biasanya menyerang pria berusia lebih dari 50 tahun. Insidensi
kanker prostat yang ditemukan pada otopsi cukup tinggi, yaitu sekitar 20% pada laki-laki
berusia 50-an, bahkan hingga 70% pada pria berusia 70-80an. Namun penemuan tersebut
juga berhubungan dengan ras dan tempat tinggal.9,10
2. Ras
Penderita prostat tertinggi ditemukan pada pria dengan ras Afrika-Amerika. Pria
berkulit hitam memiliki risiko 1,6 kali lebih besar untuk menderita kanker prostat
dibandingkan dengan pria kulit putih. Ras Asia lebih jarang menderita kanker prostat,
prevalensi penemuan kanker prostat pada otopsi paling kecil ditemukan pada orang
Jepang.10
3. Riwayat Keluarga
Perubahan gen pada kromosom 1, 17 dan kromosom X dijumpai pada pasien-pasien
dengan riwayat keluarga dengan kanker prostat. Gen hereditary prostatse cancer (HPC1)
dan gen predisposing for cancer of the prostate (PCAP) terdapat pada kromosom 1,
sedang gen human prostate cancer pada kromosom X. Dibandingkan laki-laki yang tidak
mempunyai riwayat keluarga kanker prostat, laki-laki dengan satu generasi keluarga
dengan kanker prostat mempunyai risiko dua kali lipat terkena kanker prostat. Sedangkan
jika laki-laki mempunyai dua generasi dengan kanker prostat, maka risikonya meningkat
menjadi lima kali lipat.10
4. Pola Makan
Pola makan diduga memiliki pengaruh dalam perkembangan berbagai jenis kanker
atau keganasan, termasuk kanker prostat. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya
insidensi kanker prostat pada orang Jepang yang berimigrasi ke Amerika, walaupun tidak
ada campuran keturunan dari Amerika. Selain itu, pola kejadian kanker prostat pada
orang Asia juga meningkat, karena pola makan yang berubah seperti kebiasaan orang
barat.10
20

Diet yang banyak mengandung lemak, susu yang berasal dari binatang, daging
merah (red meat), dan hati diduga meningkatkan kejadian kanker prostat. Beberapa
nutrisi diduga dapat menurunkan insiden kanker prostat, di antaranya adalah vitamin A,
beta karoten, isoflavon atau fitoestrogen yang banyak terdapat pada kedelai, likofen
(antioksi dan karotenoid yang banyak terdapat pada tomat), selenium (terdapat pada ikan
laut, daging, biji-bijian), dan vitamin E. Kebiasaan merokok dan paparan bahan kimia
Cadmium (Cd) yang banyak terdapat pada alat listrik dan baterai berhubungan
eratdengan timbulnya kanker prostat.1

3.4.3 Patofisiologi
Hipotesis yang berkembang sekarang ini adalah peranan androgen pada perkembangan
kanker prostat. Prostat mempunyai reseptor androgen yang menerima rangsang dari androgen
dan menginduksi ekspresi pro-pertumbuhan dan gen pro-survival.1
Kemungkinan tahapan pathogenesis kanker adalah: kelenjar prostat normal ( PIN
(Prostat Intraepitelial Neoplasia) (karsinomaprostat (karsinoma prostat stadium lanjut
(karsinoma prostat metastasis ( HRPC (Hormon Refractory Prostat Cancer). Jenis
histopatologis karsinoma prostat sebagian besar adalah adenokarsinoma. Kurang lebih 75%
terdapat pada zona sentral dan zona transisional. Biasanya karsinoma prostat berupa lesi
multisentrik. Derajat keganasan didasarkan pada diferensiasi kelenjar, atipisel, dan kelainan
inti sel. Derajat Gleason 1, yaitu berdiferensiasi baik, derajat Gleason 2 yang berdiferensiasi
sedang, dan derajat Gleason 3 yang berdiferensiasi buruk. Pembagian derajat keganasan ini
merupakan indicator pertumbuhan dan progresifitas tumor.1
Tumor yang berada pada kelenjar prostat tumbuh menembus kapsul prostat dan
mengadakan infiltrasi ke organ sekitarnya. Penyebaran secara limfogen melalui kelenjar
limfe retroperitoneal dan penyebaran secara hematogen melalui vena vertebralis menuju
tulang-tulang pelvis, femur sebelah proksimal, vertebra lumbalis, costae, paru, hepar, dan
otak. Metastasis ketulang pada umumnya merupakan proses osteoblastik, meskipun kadang-
kadang bisa juga terjadi proses osteolitik1
21

3.4.4 Gejala Klinis


Gejala yang ada umumnya sama dengan gejala pembesaran prostat jinak, yaitu buang
air kecil tersendat atau tidak lancar. Keluhan dapat juga berupa nyeri tulang dan gangguan
saraf. Dua keluhan itu muncul bila sudah ada penyebaran ke tulang belakang.1,11
Tahap awal (early stage) yang mengalami kanker prostat umumnya tidak menunjukkan
gejala klinis atau asimptomatik. Pada tahap berikutnya (locally advanced) didapati obstruksi
sebagai gejala yang paling sering ditemukan. Biasanya ditemukan juga hematuria yakni urin
yang mengandung darah, infeksi saluran kemih, serta rasa nyeri saat berkemih. Pada tahap
lanjut (advanced) penderita yang telah mengalami metastase di tulang sering mengeluh sakit
tulang dan sangat jarang menhgalami kelemahan tungkai maupun kelumpuhan tungkai
karena kompresi korda spinalis, penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, nyeri pada
tulang dengan atau tanpa fraktur patologis, nyeri dan bengkak pada tungkai bawah, gejala
uremik dapat muncul akibat obstruksi uretra dan retroperitoneal adenopathy.1,11
Adenokarsinoma prostat muncul pada zona perifer, maka keganasan ini sering bertahan
dengan baik sebelum pasien mengeluh kesulitan miksi akibat obstruksi uretra dan beberapa
di antaranya tetap tersembunyi bahkan sampai sudah metastasis jauh. Adenokarsinoma
prostat dapat dibagi atas tiga kategori berdasarkan sifatnya:
1. Invasive prostatic carcinoma (secara klinis telah dijumpai invasi lokal dan metastasis)
2. Latent prostatic carcinoma (secara insidentil dijumpai pada kelenjar prostat dewasa yang
menetap untuk jangka waktu yang lama)
3. Occult carcinoma (secara klinis tidak dijumpai pada tempat primer, tetapi sudah ada
metastasis).11

3.4.5 Diagnosis
Diagnosa kanker prostat dapat dilakukan atas kecurigaan pada saat pemeriksaan colok
dubur yang abnormal atau peningkatan Prostate Specific Antigen (PSA). Kecurigaan ini
kemudian dikonfirmasi dengan biposi, dibantu oleh trans rectal ultrasound scanning
(TRUSS). Ada 50% lebih lesi yang dicurigai pada saat colok dubur yang terbukti suatu
kanker prostat. Nilai prediksi colok dubur untuk mendeteksi kanker prostat 21,53%.
Sensitifitas colok dubur tidak memadai untuk mendeteksi kanker prostat tapi spesifisitasnya
22

tinggi, namun bila didapatkan tanda ganas pada colok dubur maka hampir semua kasus
memang terbukti kanker prostat karena nilai prediktifnya 80%.13
1. Digital Rectal Examination
Pemeriksaan rutin prostat yang di perlukan adalah pemeriksaan rektum dengan jari atau
digital rectal examination. Pemeriksaan ini menggunakan jari telunjuk yang dimasukkan
ke dalam rektum untuk meraba prostat. Penemuan prostat abnormal pada DRE berupa
nodul atau indurasi hanya 15 – 25 % kasus yang mengarah ke kanker prostat.13
2. Pemeriksaan kadar Prostat Spesifik Antigen
Prostat Spesifik Antigen (PSA) adalah enzim proteolitik yang dihasilkan oleh epitel
prostat dan dikeluarkan bersamaan dengan cairan semen dalam jumlah yang banyak.
Prostat Spesifik Antigen memiliki nilai normal ≤ 4ng/ml. Pemeriksaan PSA sangat baik
digunakan bersamaan dengan pemeriksaan DRE dan TRUSS dengan biopsy. Peningkatan
kadar PSA bisa terjadi pada keadaan Benign Prostate Hyperplasya (BPH), infeksi saluran
kemih dan kanker prostat sehingga dilakukan penyempurnaan dalam interpretasi nilai
PSA yaitu PSA velocity atau perubahan laju nilai PSA, densitas PSA dan nilai rata – rata
PSA, yang nilainya bergantung kepada umur penderita.12

Tabel 1. Rata-rata nilai normal Prostat Spesifik Antigen menurut umur (tahun).12

Umur (tahun) Rata – Rata Nilai Normal PSA (ng/mL)


40 – 49 0.0 – 2.5
50 – 59 0.0 – 3.5
60 – 69 0.0 – 4.5

3. Biopsi Prostat
Biopsi prostat merupakan gold standart untuk menegakkan diagnose kanker prostat.
Pemeriksaan biopsi prostat menggunakan panduan transurectal ultrasound scanning
(TRUSS) sebagai sebuah biopsi standar. Namun seringnya penemuan mikroskopis kanker
prostat ini terjadi secara insidentil dari hasil TURP atau pemotongan prostat pada
penyakit BPH .14
Pemeriksaan biopsi prostat dilakukan apabila ditemukan peningkatan kadar PSA
serum pasien atau ada kelainan pada saat pemeriksaan DRE atau kombinasi keduanya
yaitu ditemukannya peningkatan kadar PSA serum dan kelainan pada DRE. Pada
23

pemeriksaan mikroskopis ini sebagian besar karsinoma prostat adalah jenis


adenokarsinoma dengan derajat diferensiasi berbeda – beda. 70% adenokarsinoma prostat
terletak di zona perifer, 20% di zona transisional dan 10% di zona sentral. Namun
penelitian lain menyatakan bahwa 70% kanker prostat berkembang dari zona perifer,
25% zona sentral dan zona transisional dan beberapa daerah periuretral duct adalah
tempat – tempat yang khusus untuk benign prostate hyperplasia (BPH). Pada hasil biopsi
prostat, sebagian besar kanker prostat adalah adenokarsinoma dengan derajat yang
berbeda – beda. Kelenjar pada kanker prostat invasif sering mengandung fokus atipia sel
atau Neoplasia Interaepitel Prostat (PIN) yang diduga merupakan prekusor kanker
prostat.15,16

4. Pencitraan
Dalam melakukan pencitraan, ada beberapa jenis pencitraan yang biasa di pakai
dalam mendiagnosis kanker prostat diantaranya yaitu :15,16
1) Transrectal Ultrasound Scanning (TRUSS)
Transrectal Ultrasound Scanning (TRUSS) adalah pemeriksaan yang digunakan
untuk menentukan lokasi kanker prostat yang lebih akurat dibandingkan dengan
DRE, juga merupakan panduan klinisi untuk melakukan biopsi prostat sehingga
TRUSS juga sering dikatakan sebagai “a biopsy – guidence”. Selain untuk panduan
biopsi, TRUSS juga digunakan untuk mengukur besarnya volume prostat yang diduga
terkena kanker. Transrectal Ultrasound juga digunakan dalam tindakan cryosurgery
dan brachytherapy. Untuk temuan DRE yang normal namun ada peningkatan kadar
PSA (biasanya lebih dari 4) dapat juga digunakan TRUSS untuk melihat apakah ada
kemungkinan terjadi keganasan pada prostat
2) Endorectal Magnetic Resonance Imaging (MRI)
3) Axial Imaging (CT – MRI)
Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat apakah pasien penderita kanker prostat
menderita metastase ke tulang pelvis atau kelenjar limfe sehingga klinisi bias
menetukan terapi yang tepat bagi pasien. Namun perlu diingat juga bahwa
penncitraan ini cukup memakan biaya dan sensitivitasnya juga terbatas hanya sekitar
30 – 40%.
24

3.4.6 Grading dan Staging


Kanker prostat biasanya mengalami metastase ke kelenjar limfe pelvis kemudian
metastase berlanjut ke tulang – tulang pelvis → vertebra lumbalis → femur → vertebra
torakal → kosta. Lesi yang sering terjadi pada metastase di tulang adalah lesi osteolitik
(destruktif), lebih sering osteoblastik (membentuk tulang). Adanya metastasis osteoblastik
merupakan isyarat yang kuat bahwa kanker prostat berada pada tahap lanjut.
Untuk menentukan grading, yang paling umum di gunakan di Amerika adalah sistem
Gleason. Skor untuk sistem ini adalah 1 – 5 berdasarkan pola secara pemeriksaan spesimen
prostat di laboratorium Patologi Anatomi (Tabel 2). Ada 2 skor yang harus dilihat dalam
sistem Gleason yaitu :
1. Skor primer adalah penilaian yang diberikan berdasarkan gambaran mikroskopik yang
paling dominan pada spesimen yang diperiksa

2. Skor sekunder adalah gambaran mikroskopik berikutnya yang paling dominan setelah
yang pertama.

Total skor untuk Gleason adalah jumlah dari skor primer dan skor sekunder dimana
masing – masing rentang nilai untuk skor primer dan sekunder adalah 1 - 5 dan totalnya 2 –
10. Bila total skor Gleason 2 – 4, maka specimen dikelompokkan kedalam kategori well –
differentiated, sedangkan bila skor Gleason 5 – 6 dikategorikan sebagai moderate
differentiated dan skor Gleason 8 – 10 dikelompokkan sebagai poor differentiated. Tidak
jarang skor Gleason bernilai 7 sesekali di masukkan ke dalam kategori moderate
differentiated, namun bisa dimasukkan kedalam kategori poor differentiated. Kerancuan ini
diatasi dengan cara sebagai berikut :
1. Bila skor primer Gleason adalah 3 dan skor sekunder 4, maka di masukkan ke dalam
kategori moderate differentiated.

2. Bila skor primer Gleason 4 dan skor sekunder 3 maka di masukkan ke dalam kategori
poor differentiated, karena memiliki prognosis yang lebih buruk daripada yang memiliki
skor primer Gleason 3.17
25

Tabel 2. Skor Grading menurut Gleason

Skor Gleason Gambaran mikroskopik


1–2 Kelenjar kecil dan uniform, menyatu dekat dengan sedikit stroma
3 Cribiform pattern
4 Incomplete gland formation
5 Tidak ada kelenjar terbentuk atau penampakan lumen

Sedangkan Staging TNM di gunakan untuk melihat hasil dari DRE dan TRUS bukan dari
hasil biopsy.
Tabel 3. Staging TNM

Luas Tumor Primer (T) Temuan anatomi


T1 Lesi tidak teraba
T1a ≤ 5% jaringan yang direseksi untuk BPH memiliki
kanker
dengan DRE normal
T1b > 5% jaringan yang direseksi untuk BPH memiliki
kanker dengan DRE normal
T1c Kanker di temukan pada biopsi jarum
T2 Kanker teraba atau terlihat terbatas di prostat
T2a Keterlibatan ≤50% dari satu lobus
T2b Keterlibatan > 50% dari satu lobus tapi unilateral
T2c Keterlibatan kedua lobus
T3 Perluasan ektraprostat lokal
T3a Unilateral
T3b Bilateral
T3c Invasi ke vesika seminalis
T4 Invasi ke organ dan/atau struktur penunjang di
jaringan sekitar
T4a Invasi ke leher kandung kemih, rectum atau
sfingter eksternal
T4b Invasi ke otot levator anus atau dasar panggul

Status kelenjar getah bening Temuan anatomi


regional (N)
N0 Tidak ada metastase ke kelenjar regional
N1 Satu kelenjar regional garis tengah ≤ 2 cm
N2 Satu kelenjar regional denagn garis tengah 2 – 5
cm atau banyak kelenjar dengan garis tengah < 5
cm
N3 Kelenjar regional dengan garis tengah > 5 cm
26

Metastasis jauh (M) Temuan anatomik


M0 Tidak ada metastasis jauh
M1 Terdapat metastasis jauh
M1a Metastasis ke kelenjar getah bening jauh
M1b Metastasis ke tulang
M1c Metastasis jauh lainnya

3.4.7 Penatalaksanaan
Sebelum dilakukan penanganan terhadap kanker prostat, perlu diperhatikan faktor –
faktor yang berhubungan dengan prognosis kanker prostat yang dibagi kedalam dua
kelompok yaitu faktor – faktor prognostik klinis dan patologis kanker prostat. Faktor
prognostik klinis adalah faktor – faktor yang dapat dinilai melalui pemeriksaan fisik, tes
darah, pemeriksaan radiologi dan biopsi prostat. Faktor klinis ini sangat penting karena akan
menjadi acuan untuk mengidentifikasi karakteristik kanker sebelum dilakukan pengobatan
yang sesuai. Sedangkan faktor patologis adalah faktor – faktor yang yang memerlukan
pemeriksaan, pengangkatan dan evaluasi kesuruhan prostat.18
Faktor – prognostik antara lain :
1. Usia pasien
2. Volume tumor
3. Grading atau Gleason score
4. Ekstrakapsular ekstensi
5. Invasi ke kelenjar vesikula seminalis
6. Zona asal kanker prostat
7. Faktor biologis seperti serum PSA, IGF, p53 gen penekan tumor dan lain – lain.
Penangangan kanker prostat di tentukan berdasarkan penyakitnya apakah kanker prostat
tersebut terlokalisasi, penyakit kekambuhan atau sudah mengalami metastase. Selain itu juga
perlu diperhatikan faktor – faktor prognostik diatas yang sangat penting untuk melakukan
terapi kanker prostat.
Untuk penyakit yang masih terlokalisasi langkah pertama yang dilakukan adalah
melakukan watchfull waiting atau memantau perkembangan penyakit. Watchfull waiting
merupakan pilihan yang tepat untuk pria yang memiliki harapan hidup kurang dari 10 tahun
atau memiliki skor Gleason 3 + 3 dengan volume tumor yang kecil yang memiliki
kemungkinan metastase dalam kurun waktu 10 tahun apabila tidak diobati. Sumber lain
27

menuliskan bahwa watchfull waiting dilakukan bila pasien memiliki skor Gleason 2 – 6
dengan tidak adanya nilai 4 dan 5 pada nilai primer dan sekunder karena memiliki resiko
yang rendah untuk berkembang.17
Sekarang ini, pria yang memiliki resiko sangat rendah (very low risk) terhadap kanker
prostat dan memilih untuk tidak melakukan pengobatan, tetapo tetap dilakukan monitoring.
Menurut Dr. Jonathan Epstein, seorang ahli patologi dari Rumah Sakit Johns Hopkins
mengemukakan beberapa kriteria yang termasuk kedalam golongan resiko rendah terhadap
kanker prostat (very low risk) :
1. Tidak teraba kanker pada pemeriksaan DRE (staging T1c)

2. Densitas PSA (jumlah serum PSA dibagi dengan volume prostat) kurang dari 0,15

3. Skor Gleason kurang atau sama dengan 6 dengan tidak ditemukannya pola yang bernilai
4 atau 5

4. Pusat kanker tidak lebih dari 2 atau kanker tidak melebihi 50% dari bagian yang di
biopsi.

Tindakan yang dilakukan terhadap pasien kanker prostat tergantung pada stadium,
umur harapan hidup, dan derajat diferen-siasinya.1,19,20,21

Terapi Pilihan Karsinoma Prostat


Stadium Alternatif Terapi
T1 - T2 (A-B) Radikal prostatektomi
Observasi ( pasien tua)
T3 - T4 (C) Radiasi
Prostatektomi
N atau M (D) Radiasi
Hormonal

1. Observasi
Ditujukan untuk pasien dalam stadium T1 dengan umur harapan hidup kurang dari
10 tahun.
28

2. Operatif
- Prostatektomi radikal
Pasien yang berada dalam stadium T1-2 N0 M0 adalah cocok untuk dilakukan
prostatektomi radikal yaitu berupa pengangkatan kelenjar prostat bersama dengan
vesikula seminalis. Hanya saja operasi ini dapat menimbulkan penyulit antara lain
perdarahan, disfungsi ereksi, dan inkontinensia. Tetapi dengan teknik nerve
sparring yang baik terjadinya kerusakan pembuluh darah dan saraf yang
memelihara penis dapat dihindari sehingga timbulnya penyulit berupa disfungsi
ereksi dapat diperkecil.

- Transurethral Resection of the Prostate (TUR-P)


TUR-P merupakan suatu cara pembedahan pada kanker prostate apabila terjadi
sumbatan pada urethra yang disebabkan oleh pembesaran prostate. TUR-P
biasanya dilakukan pada penyakit-penyakit yang tergolong ringan. Sebagian
prostat diangkat menggunakan suatu alat yang dimasukkan kedalam urethra. alat
tersebut atau yang biasa dikenal cystoscope dimasukkan kedalam penis dan
berfungsi untuk menghilangkan sumbatan pada urethra tersebut. Tindakan ini
biasanya dilakukan pada stadium awal untuk mengangkat jaringan yang
menghambat aliran urine. Pada stadium metastasis dimana kanker telah menyebar
seluruh prostat penganmgkatan testis (Orchiectomy) dilakukan untuk menurunkan
kadar testosteron dan mengendalikan pertumbuhan kanker
3. Radiasi
Ditujukan untuk pasien tua atau pasien dengan tumor loko invasif dan tumor yang
telah mengadakan metastasis. Pemberian radiasi eksterna biasanya didahului
dengan limfadenektomi. Diseksi kelenjar imfe saat ini dapat dikerjakan memlaui
bedah laparoskopi di samping operasi terbuka.
4. Terapi hormonal
Pemberian terapi hormonal berdasarkan atas konsep daro Hugins yaitu: “sel epitel
prostat akan mengalami atrofi jika sumber androgen ditiadakan”. Sumber androgen
ditiadakan dengan cara pembedahan atau dengan medikamentosa. Meniadakan
sumber atau pengaruh androgen pada sel target disebut sebagai Androgen
29

Deprivation Therapy (ADT). Menurut Labrie, menghilangkan sumber androgen


yang hanya berasal dari testis belum cukup, karena masih ada sumber androgen dari
kelenjar suprarenal yaitu sebesar ±10% dari seluruh testosteron yang beredar di
dalam tubuh. Untuk itu Labrie menganjurkan untuk melakukan bokade androgen
total.
Tulang adalah tempat yang paling sering terjadinya metastasis kanker prostat;
kejadian metastasis kanker ini pada tulang ±80%. Metastasis tulang menyebabkan
berbagai morbiditas, di antaranya adalah nyeri, kompresi korda spinalis, dan fraktur
patologis. Terapi kanker prostat stadium lanjut (termasuk yang sudah metastasis ke
tulang) adalah ADT. Namun keberhasilan ADT hanya 70-80% dengan median
durasi hingga 12-24 bulan. Salah satu akibat jangka panjang ADT adalah pada
sistem 1.) metabolisme (sensitifitas insulin menurun yang menyebabkan
peningkatan kadar LDL dan kolesterol) dan 2.) skeletal (di antaranya adalah
meningkatnya turn over tulang, densitas tulang atau bone mineral density (BMD)
menurun, dan meningkatnya resiko terjadinya fraktur). Untuk itu pada terapi ADT
dianjurkan untuk selalu memantau BMD.
30

3.4.8 PROGNOSIS.
Harapan hidup untuk penderita kanker prostat berhubungan dengan stadium
penyakit : Stadium A 87 %, Stadium B 81%, Stadium C 64%, stadium D 30%.1
31

BAB IV
ANALISA KASUS

Tn. A datang ke Rumah Sakit Umum Raden Mattaher pada tanggal 18 Maret 2018. Pasien
datang dengan keluhan sulit kencing. Keluhan dialami sejak 1 bulan yang lalu, pasien kadang
harus menunggu lama dan mengejan saat ingin kencing. Saat buang air kecil, pancaran urin
melemah dan terputus – putus serta menetes saat akhir buang air kecil dan rasa tidak puas saat
selesai kencing. Pasien juga mengeluh sering kencing setiap dua sampai empat kali dalam dua
jam. Penurunan berat badan sekitar 5 kg dalam 2 bulan. Pada pemeriksaan colok dubur
didapatkan hipertrofi prostat, pada pemeriksaan kimia darah didapatkan PSA >10, pada
pemeriksaan radiologis USG didapatkan hipertrofi prostat, dan hasil biopsy dengan hasil
adenocarcinoma.
32

BAB V
KESIMPULAN

Kanker prostat adalah keganasan prostat yang diderita pria berusia lanjut, dengan puncak
kejadian pada usia 65-75 tahun. Adenokarsinoma prostat adalah kanker paling umum pada pria
dengan angka kejadian yang cukup tinggi di berbagai belahan dunia. Penyebab dari kanker ini
belum diketahui secara jelas namun ada berbagai faktor resiko seperti usia, ras, riwayat keluarga
dan pola makan yang dapat mempengaruhi munculnya kanker prostat.
Gejala awal kanker prostat mirip dengan gejala tumor jinak prostat (BPH) sehingga sering
tidak dapat terdeteksi di stadium awal. Diagnosa kanker prostat dapat dilakukan pada saat
pemeriksaan colok dubur yang abnormal atau peningkatan PSA. Pemeriksaan ini kemudian dapat
dikonfirmasi dengan biopsi dan Trans Rectal Ultrasound Scanning.
Sebelum melakukan terapi pada penderita kanker prostat sebaiknya menentukan prognosis
pasien terlebih dahulu seperti usia pasien, volume tumor, grading atau Gleason score,
ekstrakapsular ekstensi, adanya invasi ke kelenjar vesikula seminalis, zona asal kanker prostat,
dan faktor biologis seperti serum PSA, IGF, p53 gen penekan tumor dan lain – lain.
33

DAFTAR PUSTAKA

1. Purnomo, B. Dasar-dasar urologi; Kanker prostat. Edisi 3., EGC., Jakarta., 2011., Hal
263-275.
2. U. Rainy., Karakteristik dan Penanganan Kanker Prostat di Indonesia ; Pengamatan
Sepuluh Tahun dalam Indonesian Journal of Surgery., Edisi Khusus Urologi., Vol.33.
No.4 2005., IKABI., Jakarta., 2005.,
3. Luhulima. J.W., Prostata; Morfologi dan Lokalisasi dalam Urogenitalia., Anatomi II
Program Pendidikan Dokter., Jilid 3., Bagian Anatomi FK UH., Makassar., 2002.,
4. Di Fiore. Mariano.S.H., Kelenjar Prostat dengan Urethra Pars Prostatika; Kelenjar
Prostatika dalam Sistem Reproduksi Pria., Atlas Histologi Manusia., Editor
Martoprawiro.M., Edisi 5., EGC., Jakarta., 1986.
5. Guyton.C.A., Fungsi Kelenjar Prostat; Spermatogenesis dalam Fungsi Reproduksi dan
Hormonal Pria., Buku Ajar Fisiologi Kedokteran., Editor Setiawan,Irawati., Edisi 9.,
EGC., Jakarta., 1997.
6. Junqueira, L. C. & J. Carneiro. 2007. Prostat. Dalam: Histologi Dasar Teks & Atlas. Edisi
10. Jakarta: EGC.
7. Martini, F. H. 2005. The Reproductive System. In: Fundamentals of Anatomy and
Physiology. 7th Edition. Philadelphia: Pearson.
8. Snell, R. C. 2004. Prostat. Dalam: Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6.
Jakarta: EGC.
9. Hammerich, K. H., G. E. Ayala & T. M. Wheeler. 2009. Anatomy of the prostate gland
and surgical pathology of prostate cancer. Cambridge University Press.
10. Kumar, V., A. K. Abbas, N. Fausto, et al. 2010. Prostate. In: Robbins and Cotran
Pathologic Basic of Disease. 8th Edition. Philadelphia: Saunders Elsevier
11. Kuehnel, W. 2003. Prostate. In: Color Atlas of Cytology, Histology, and Microscopic
Anatomy. New York: Thieme Stuttgart
12. Choen, J. J. and Douglas M. D. 2008. Localized Prostate Cancers. In : Chabner, B.A., et
al . ed. Harrison’s Manual of Oncology. USA : The McGraw – Hill Companies, Inc
13. Umar, M., & A. Agus. 2002. Evaluasi Hasil Pemeriksaan Colok Dubur pada Pasien
Pembesaran Prostat untuk Mendeteksi Kanker Prostat. Palembang : Ilmu Bedah FK
Unsri.
14. Jefferson, K and Natasha J. 2009. Prostate Cancer. In : Probert, J. L., ed. An Atlas of
Investigation and Diagnosis Urology. UK: Clinical Publishing Oxford. 63 –74
15. Moul, J. W, et al. 2005. Chapter 17 Prostate Cancer. In : Cancer Management : A
Multidisciplinary Approach
16. Seitz, M., et al. 2009. Functional Magnetic Resonance Imaging in Prostate Cancer. In :
European Association of Urology. European Urology 55. Elseveier
17. Presti, J. C., et al. 2008. Neoplasm of The Prostate Gland. In : Tanagho, Emil A., Jack W.
McAnich, ed. Smith’s General Urology 17th Ed. USA : The McGraw Hill Companies Inc
18. Buhmeida, A., et al. 2006. Prognostic Factor in Prostate Cancer. In : Diagnostic
Pathology. Finlandia : BioMed Central Ltd. Available from
http://www.diagnosticpathology.org/content/1/1/4
34

19. Boedi-Darmojo R., H. Hadi Martono. Karsinoma Prostat.Dalam: Buku Ajar Geriatri
(Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).Ed Ketiga.Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.2004. p: 411-413.
20. Sjamsuhidajat R., Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.2005. p:782-788.
21. John,simon(Eds.). Urological Neoplasia in: Oxford handbook of urology, 3thEd,united
kingdom.2013. p:250-256