Anda di halaman 1dari 2

Pasien mengeluhkan sesak napas sejak 2 minggu yang lalu dan meningkat

sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Sesak napas tidak menciut, dan meningkat
dengan aktifitas. Karena sesaknya, pasien berobat ke RSUD Rasidin Padang dan
dilakukan Rontgen thoraks, kemudian pasien dirujuk ke RSUP Dr. M Djamil
Padang untuk tatalaksana selanjutnya. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak
berwarna putih yang hilang timbul sejak 6 bulan yang lalu. Tidak ada riwayat batuk
darah. Tidak ada mual muntah dan nyeri ulu hati. Pasien mengalami penurunan
nafsu makan dan penurunan berat badan, tetapi tidak tahu berapa. Pada pasien di
lakukan cek BTA sputum dengan hasil positif (+) dan pasien pun diberikan OAT
hingga saat ini. Pasien mempunyai riwayat merokok sebanyak 20 batang/hari sejak
usia 15 tahun dan mengaku sudah berhenti merokok sejak 2 tahun yang lalu.
Dari keluhan sesak napas tidak menciut, pasien diduga mengalami
gangguan pada pengembangan paru. Tidak terjadinya pengembangan paru (kolaps)
menyebabkan tidak terjadinya ventilasi pada paru tersebut, sehingga penderita akan
mengeluhkan sesak napas. Terjadinya kolaps pada paru dapat disebabkan oleh dua
hal, yaitu adanya akumulasi cairan atau akumulasi udara di dalam rongga pleura.
Akumulasi jumlah cairan di dalam rongga pleura dapat terjadi jika terdapat
peningkatan tekanan hidrostatik kapiler darah seperti pada gagal jantung, atau jika
terjadi penurunan tekanan osmotik cairan darah seperti pada pasien dengan
hipoalbuminemia. Akumulasi udara di dalam rongga pleura menyebabkan tekanan
di dalam rongga pleura tidak lagi negatif (dalam keadaan normal, tekanannya
adalah -5 cmH2O). Paru menjadi kempis, sehingga penderita akan mengeluhkan
sesak napas karena tidak terjadi ventilasi pada paru yang kolaps.
Untuk menentukan penyebab terganggunya pengembangan paru, maka
perlu dilakukan pemeriksaan fisik paru pada pasien. Hasil pemeriksaan fisik paru
pasien terutama pada perkusi menunjukkan hasil bahwa paru kanan hipersonor dan
paru kiri sonor, sehingga kemungkinan penyebab kolapsnya paru pada pasien
disebabkan oleh adanya akumulasi udara di rongga pleura, atau disebut dengan
Pneumothorak.
Pneumotorak adalah suatu keadaan terdapatnya akumulasi udara di rongga
pleura yang dapat menyebabkan kolaps paru. Biasanya, udara yang masuk ke
rongga pleura berasal dari kebocoran paru yang sudah ada kelainan sebelumnya,
dan jarang yang berasal dari luar akibat trauma dinding dada. Pneumotorak
diklasifikasikan menjadi pneumotorak spontan dan pneumotorak traumatik.4
Pneumotorak spontan dikelompokkan menjadi pneumotorak spontan primer
dan pneumotorak spontan sekunder. Pneumotorak spontan primer terjadi tanpa
adanya faktor pencetus pada pasien yang tidak menunjukkan klinis kelainan pada
paru. Sebagian besar dari pasien ini terdapat kelainan berupa pecahnya alveolus
subpleura yang tampak pada CT scan. Sedangkan pneumotorak spontan sekunder
terjadi akibat komplikasi dari penyakit paru yang mendasari, yang paling sering
adalah PPOK. Pneumotorak traumatik terjadi akibat trauma tumpul atau trauma
tembus yang merusak paru , bronkus, atau esofagus.

Anda mungkin juga menyukai