Anda di halaman 1dari 24

DISCOVERY LEARNING 3

HIDROKEL DAN OMFALOKEL

KEPERAWATAN ANAK 2

Disusun Oleh:

KELOMPOK 5

Dee sinta (11161040000001)


Zhimhadha (11161040000005)
Annajmi Indillah (11161040000007)
Nadia Ikhwani P (11161040000011)
Annisa Putri Utami (11161040000013)
Mia Nurjanah (11161040000021)
Cholisa Erlani Obey (11161040000027)
Mutiara Eka Rahmanda (11161040000035)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

DESEMBER 2018

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Discovery
Learning 3 tentang HIDROKEL DAN OMFALOKEL.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Serta keterbatasan pengetahuan maupun
pengalaman kami. Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu,
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.Akhir kata kami berharap semoga makalah yang kami buat ini bisa
bermanfaat dan digunakan sebagaimana mestinya.

Ciputat,14 Desember
2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ 2

DAFTAR ISI................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 4


A. Latar Belakang ............................................................................ 4
B. Rumusan Masalah ....................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan ......................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 7


A. Hidrokel ....................................................................................... 7
B. Omfalokel .................................................................................... 12
C. Asuhan Keperawatan ................................................................... 17

BAB III PENUTUP .....................................................................................


A. Simpulan...................................................................................... 25

B. Saran ........................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 26

LAMPIRAN

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekitar 10% bayi baru lahir mengalami hidrokel, dan umumnya akan hilang
sendiri dalam tahun pertama kehidupan. biasanya tidak terasa nyeri dan jarang
membahayakan sehingga tidak membutuhkan pengobatan segera. Pada bayi hidrokel
dapat terjadi mulai dari dalam rahim. Pada usia kehamilan 28 minggu, testis turun dari
rongga perut bayi ke dalam skrotum, setiap testis ada kantong yang mengikutinya
sehingga terisi cairan yang mengelilingi testis tersebut. Pada orang dewasa, hidrokel bisa
berasal dari proses radang atau cedera pada skrotum. Radang yang terjadi bisa berupa
epididimitis (radang epididimis) atau orchitis (radang testis).
Masalah-masalah yang terjadi pada bayi baru lahir yang diakibatkan oleh
tindakan-tindakan yang dilakukan pada saat persalinan sangatlah beragam. Trauma akibat
tindakan, cara persalinan atau gangguan kelainan fisiologik persalinan yang sering kita
sebut sebagai cedera atau trauma lahir. Partus yang lama akan menyebabkan adanya
tekanan tulang pelvis. Kebanyakan cedera lahir ini akan menghilang sendiri dengan
perawatan yang baik dengan adekuat.
Keberhasilan penatalaksanaan kasus kelainan bayi dan anak tergantung dari
pengetahuan dasar dan penentuan diagnosis dini, persiapan praoperasi, tindakan anestesi
dan pembedahan serta perawatan pascaoperasi. Penatalaksanaan perioperatif yang baik
akan meningkatkan keberhasilan penanganan kelainan bayi pada anak.

1.1 Rumusan Masalah


A. Hidrokel
1. Apa definisi Hidrokel ?
2. Apa saja etiologi dari Hidrokel ?
3. Apa saja klasifikasi dari Hidrokel ?
4. Bagaiamana manifestasi klinik Hidrokel ?
5. Bagaimana komplikasi Hidrokel ?

4
6. Bagaimana patofisiologi Hidrokel ?
7. Bagaimana penatalaksanaan Hidrokel ?
8. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien Hidrokel ?

B. Omfalikel
1. Apa definisi Omfalikel ?
2. Apa saja etiologi dari Omfalikel ?
3. Apa saja klasifikasi dari Omfalikel ?
4. Bagaiamana manifestasi klinik Omfalikel ?
5. Bagaimana komplikasi Omfalikel ?
6. Bagaimana patofisiologi Omfalikel ?
7. Bagaimana penatalaksanaan Omfalikel ?
8. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien omflikel ?

2.1 Tujuan
A. Hidrokel
1. Untuk mengetahui dan memahami definisi Hidrokel.
2. Untuk mengetahui dan memahami etiologi dari Hidrokel .
3. Untuk mengetahui dan memahami klasifikasi dari Hidrokel.
4. Untuk mengetahui dan memahami manifestasi klinik manifestasi klinik Hidrokel.
5. Untuk mengetahui dan memahami komplikasi komplikasi Hidrokel.
6. Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi Hidrokel.
7. Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan Hidrokel.
8. Untuk mengetahui dan memahami Asuhan Keperawatan pada pasien Hidrokel.

B. Omfalikel
1. Untuk mengetahui dan memahami definisi Omfaslikel.
2. Untuk mengetahui dan memahami etiologi dari Omfaslikel .
3. Untuk mengetahui dan memahami klasifikasi dari Omfaslikel.
4. Untuk mengetahui dan memahami manifestasi klinik manifestasi klinik Omfaslikel.
5. Untuk mengetahui dan memahami komplikasi komplikasi Omfaslikel.
6. Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi Omfaslikel.
7. Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan Omfaslikel .
5
8. Untuk mengetahui dan memahami Asuhan Keperawatan pada pasien Omfaslikel.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hidrokel
1. Definisi
Istilah hidrokel berasal dari bahasa Yunani, yang berarti pembengkakan yang berisi
air (hidro = air, cele = pembengkakan). Saat ini, definisi hidrokel adalah penumpukan
cairan yang berlebihan di antara lapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Dalam
keadaan normal, cairan yang berada di dalam rongga ini memang ada dan berada dalam
keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh limfatik sekitarnya.(Purnomo,
2009).
2. Etiologi
Hidrokel yang terjadi pada anak bisa disebabkan oleh :
1) Belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran cairan
peritoneum ke prosesus vaginalis (Hernia Komunikan)
2) Belum sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum dalam melakukan
reabsorbsi cairan hidrokel.
3. Manifestasi Klinis
1. Skrotum
a. Skrotum tampak lebih besar dari yang lain
b. Adanya fluktuasi cairan pada skrotum yang berhidrokel
c. Konsistensi skrotum yang kenyal atau lunak, tergantung dari tegangan pada
hidrokel
2. Hidrokel
a. Pada palpasi terasa seperti balon yang terisi air
b. Testis akan lebih mudah teraba jika jumlah cairan minimum dan sebaliknya
3. Pemeriksaan Laboratorium
Adanya penerusan cahaya oleh hidrokel pada pemeriksaan transiluminasi, karena
:

6
a. Hidrokel bersifat diaphan (meneruskan cahaya)
b. Hidrokel berisi cairan jernih , straw-colored.

4. Klasifikasi

1. Berdasarkan kapan terjadinya, yaitu:


a. Hidrokel primer
Hidrokel primer terlihat pada anak akibat kegagalan penutupan
prosesus vaginalis. Prosesus vaginalis adalah suatu divertikulum
peritoneum embrionik yang melintasi kanalis inguinalisdan membentuk
tunika vaginalis. Hidrokel jenis ini tidak diperlukan terapi karena
dengansendirinya rongga ini akan menutup dan cairan dalam tunika akan
diabsorpsi.
b. Hidrokel sekunder
Pada orang dewasa, hidrokel sekunder cenderung berkembang
lambat dalam suatu masa dan dianggap sekunder terhadap obstruksi
aliran keluar limfe. Dapat disebabkan oleh kelainan testis atau
epididimis. Keadaan ini dapat karena radang atau karena suatu proses
neoplastik. Radang lapisan mesotel dan tunika vaginalis menyebabkan
terjadinya produksi cairan berlebihan yang tidak dapat dibuang keluar
dalam jumlah yang cukup oleh saluran limfe dalam lapisan luar tunika.

7
1) Menurut letak kantong hidrokel dari testis, yaitu:
b. Hidrokel testis
Kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak
dapat diraba. Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah
sepanjang hari.
c. Hidrokel funiculus
Kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak disebelah cranial
dari testis, sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada diluar
kantong hidrokel. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap
sepanjang hari.
d. Hidrokel Komunikan
Terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga
peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum.
Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu
bertambah pada saat anak menangis. Pada palpasi kantong hidrokel
terpisah dari testis dan dapat dimasukkan kedalam rongga abdomen.
2) Menurut onset:
a. Hidrokel akut
Biasanya berlangsung dengan cepat dan dapat menyebabkan nyeri.
Cairan berrwarna kemerahan mengandung protein, fibrin, eritrosit dan
sel polimorf.
b. Hidrokel kronis
Hidrokel jenis ini hanya menyebabkan peregangan tunika secara
perlahan dan walaupun akan menjadi besar dan memberikan rasa berat,
jarang menyebabkan nyeri.
3) Patofisiologi
Hidrokel disebabkan oleh kelainan kongenital (bawaan sejak lahir) ataupun
ketidaksempurnaan dari prosesus vaginalis tersebut menyebabkan tidak
menutupnya rongga peritoneum dengan prosessus vaginalis. Sehingga
terbentuklah rongga antara tunika vaginalis dengan cavum peritoneal dan
menyebabkan terakumulasinya cairan yang berasal dari sistem limfatik disekitar.
Cairan yanng seharusnya seimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem
8
limfatik di sekitarnya. Tetapi pada penyakit ini, telah terganggunya sistem sekresi
atau reabsorbsi cairan limfa. Dan terjadilah penimbunan di tunika vaginalis
tersebut. Akibat dari tekanan yang terus-menerus, mengakibatkan Obstruksi aliran
limfe atau vena di dalam funikulus spermatikus. Dan terjadilah atrofi testis
dikarenakan akibat dari tekanan pembuluh darah yang ada di daerah sekitar testis
tersebut.

4) Komplikasi
a. Hematom pada jaringan skrotum yang kendor
b. Kalau tidak ditangani segera, penumpukan cairan ini bisa mengganggu
kesuburan dan fungsi seksualnya.
c. Infeksi testis.
d. Ruptur, namun jarang terjadi.
e. Jika dibiarkan, hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan
hidrokelpermagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis
sehingga menimbulkan atrofi testis.
f. Kompresi pada peredaran darah testis.
g. Perdarahan yang disebabkan karena trauma dan aspirasi

5) Penatalaksanaan
Hidrokel biasanya tidak berbahaya dan pengobatan biasanya baru dilakukan jika
penderita sudah merasa terganggu atau merasa tidak nyaman atau jika hidrokelnya
sedemikian besar sehingga mengancam aliran darah ke testis.
Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun
dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan sembuh sendiri,
tetapi jika
Hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu dipikirkan untuk dilakukan
koreksi.
Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah :
1) Hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah,
2) Indikasi kosmetik
3) Hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan mengganggu pasien
dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari.

9
Pada bayi dan anak-anak, hidrokel seringkali disertai dengan hernia inguinalis,
sehingga penatalaksanaan yang tepat adalah dengan melakukan herniotomi, dengan
melakukan ligasi pada prosesus vaginalis seproksimal mungkin. Dan dapat juga
dilakukan operasi dengan teknik Window dengan melakukan insisi pada skrotum.
1) Aspirasi
Pengobatannya bisa berupa aspirasi (pengisapan cairan) dengan bantuan
sebuah jarum atau pembedahan. Tetapi jika dilakukan aspirasi, kemungkinan
besar hidrokel akan berulang dan bisa terjadi infeksi. Setelah dilakukan aspirasi,
bisa disuntikkan zat sklerotik tetrasiklin, natrium tetra desil sulfat atau urea) untuk
menyumbat/menutup lubang di kantung skrotum sehingga cairan tidak akan
tertimbun kembali. Hidrokel yang berhubungan dengan hernia inguinalis harus
diatasi dengan pembedahan sesegera mungkin.
2) Hidrokelektomi
Pada hidrokel kongenintal dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali
hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat opersai hidrokel,
sekaligus melakukan herniografi. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan
pendekatan scrotal dengan melakukan aneksisi dan marsupialisasi kantong
hidrokel sesuai cara Winkelman atau plokasi kantong hidrokel sesuai cara Lord.
Pada hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi. Pada hidrokel tidak ada terapi
khusus yang diperlukan karena cairan lambat laun akan diserap, biasanya
menghilang sebelum umur 2 tahun. Tindakan pembedahan berupa hidrokelektomi.
Pengangkatan hidrokel bisa dilakukan anastesi umum ataupun regional (spinal).
Tindakan lain adalah dengan aspirasi jarum (disedot pakai jarum). Cara ini tidak
begitu digunakan karena cairan hidrokelnya akan terisis kembali.

B. Omfalokel
1. Definisi
Omfalokel adalah penonjolan dari usus atau isi perut lainnya melalui akar pusatya
ng hanya dilapsi oleh peritoneum (selaput perut) dan tidak dilapisi oleh kulit.Omfalok

10
el terjadi pada 1 dari 500 kehamilanUsus terlihat dari luar melaui selaput peritoneum
yang tipis dan transparan.
(Sudarti, Afroh Fauziah.2012.Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi dan AnakBalita.Yog
yakarta: Nuha Medika)
2. Etiologi

Penyebab pasti terjadinya omphalokel belum jelas sampai sekarang.Beberapa fakt


or resiko atau factor-
faktor yang berperan menimbulkan terjadinyaomphalokel diantaranya adalah infeksip
enggunaan obat dan rokok pada ibuhamil, defisiensi asam folat, hipoksia, penggunaa
n salisilat, kelainan genetik serta polihidramnion.

Menurut Glasser (2003) ada beberapa penyebab omfalokel, yaitu:

a. Faktor kehamilan dengan resiko tinggi, seperti ibu hamil sakit dan terinfeksi, pe
nggunaanobatobatan, merokok dan kelainan genetik. Faktorfaktor tersebut berp
eran pada timbulnya insufisiensi plasenta dan lahir pada umur kehamilankurang
atau bayi prematur, diantaranya bayi dengan gastroschizis dan omfalokel palin
g sering dijumpai.
b. Defisiensi asam folat, hipoksia dan salisilat menimbulkan defek dindingabdome
n pada percobaan dengan tikus tetapi kemaknaannya secara klinis masihsebatas
perkiraan. Secara jelas peningkatan MSAFP (Maternal Serum Alfa FetoProtein)
pada pelacakan dengan ultrasonografi memberikan suatu kepastian telahterjadi
kelainan struktural pada fetus. Bila suatu kelainan didapati bersamaandengan ad
anya omfalokel, layak untuk dilakukan amniosintesis guna melacak kelainan ge
netik.
c. Pohidramnion dapat di duga adanya atresia intestinal fetus dan kemungkinan
tersebut harus di lacak dengan USG

3. Manifestasi Klinis
Omfalokel yaitu hernia umbilikalis inkomplet terdapat waktu, lahir ditutup oleh
peritoneum, selai warton dan selaput amnion. Hernia umbilikalis biasanya
tanpa gejala, jarang yang mengeluh nyeri.

11
Banyaknya usus dan organ perut lainnya yang menonjol pada omfalokel
bervariasi, tergantung kepada besarnya lubang di pusar. Jika lubangnya kecil,
mungkin hanya usus yang menonjol, tetapi jika lubangnya besar hati juga bisa
menonjol melalui lubang tersebut.

4. Klasifikasi
a. Menurut bagian yang keluar:
1. Omfalokel kecil: hanya usus yang terlihat menonjol keluar.
2. Omfalokel besar: hati dan limfa
dapat ikut keluar.
b. Menurut tipenya:
1. Tipe 1: diameter defek < 2,5 cm
2. Tipe 2: diameter defek 2,5-5 cm
3. Tipe 3: diameter defek > 5 cm

5. Komplikasi
a. Komplikasi dini adalah infeksi pada
kantong yang mudah terjadi pada permukaan yang telanjang.
b. Kekurangan nutrisi dapat terjadi sehingga perlu balance cairan dan nutrisi yang
adekuat misalnya dengan nutrisi parenteral.
c. Dapat terjadi sepsis terutama jika nutrisi kurang dan pemasangan ventilator
yang lama.
d. Nekrosis
e. Kelainan kongenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan bawaan lain
yang memperburuk prognosis.

6. Patofisiologis
Menurut Suriadi & Yuliani R, 2001, patofisiologi dari omphalokel adalah :
Selama perkembangan embrio, ada suatu kelemahan yang terjadi dalam dinding
abdomen semasa embrio yang mana menyebabkan herniasi pada isi usus pada salah
satu samping umbilicus (yang biasanya pada samping kanan). Ini menyebabkan

12
organ visera abdomen ke luar dari kapasitas abdomen dan tidak tertutup oleh
kantong.
Terjadi malrotasi dan menurunnya kapasitas abdomen yang dianggap sebagai
anomaly gastroksis terbentuk akibat kegagalan fusi somite dalam pembentukan
dinding abdomen sehingga dinding abdomen sebagian tetap terbuka. Letak defek
umumnya disebelah kanan umbilicus yang terbentuk normal.
Usus sebagian besar berkembang di luar rongga abdomen janin. Akibatnya, usus
menjadi tebal dan kaku karena pengendapan dan iritasi cairan amnion dalam
kehidupan intrauterine. Usus juga tampak pendek. Rongga abdomen janin sempit.
Usus-usus, visera dan seluruh permukaan rongga abdomen berhubungan dengan
dunia luar menyebabkan penguapan dan pancaran panas dari tubuh cepat
berlangsung, sehingga terjadi dehidrasi dan hipotermia, kontaminasi usus dengan
kuman juga dapat terjadi dan menyebabkan sepsis, aerologi menyebabkan usus-
usus distensi sehingga mempersulit koreksi pemasukan ke rongga abdomen pada
waktu pembedahan.
Embriogenesis, pada janin usia 5 sampai 6 minggu isi abdomen terletak di luar
embrio di rongga selom. Pada usis 10 minggu terjadi pengembangan lumen
abdomen sehingga usus dari ekstra peritoneum akan masuk ke rongga perut. Bila
proses ini terhambat maka akan terjadi kantong di pangkal umbilikus yang berisi
usus, lambung kadang hati. Dindingnya tipis terdiri dari lapisan peritoneum dan
lapisan amnion yang keduanya bening sehingga isi kantong tengah tampak dari luar
keadaan ini disebut omfalokel. Bila usus keluar dari titik terlemah di kanan
umbilikus, usus akan berada di luar rongga perut tanpa dibungkus peritoneum dan
amnion, keadaan ini disebut gastroschisis.

7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan menurut Suriadi & yuliana R (2001)
a. Perawatan bedah
1. Terpeiharanya suhu tubuh

2. Kehilangan panas dapat berlebihan karena usus yang mengalami prolaps


sangat meningkatkan area permukaan

13
3. Pemasangan NGT pada persiapan yang kontinu untuk mencegah distensi
distensi usus yang mempersulit pembedahan
4. Penggunaan bahan synthetic ( silatik ) dengan lapisan tipis yang tidak
melengket seperti xeroform, kemudian dengan kerelix dan pembungkus.
Saran untuk menutup usus atau dengan kasa steril lembab dengan cairan
NACl steril untuk mencegah kontaminasi
5. Omfalokel danjurkan tidak melakukan traksi yang berlebihan pada
mesentrum.
6. Terapi intravena untuk dehidrasi
7. Antiseptic dengan spectrum luas secara intravena : besarnya kantong,
luasnya cacat dinding perut, dan ada tidaknya hepar dalam kantong, akan
menetukan cara pengelolaan. Bila kantong omfalokel kecil dapat
dilakukanoperasi satu tahap. Dinding kantong di buang, isi kantong di
masukkann ke dalam rongga perut, kemudian lubang di tutup dengan
peritoneum, fasia dan kulit. Tetapi biasanya omfalokel terlalu besar dan
rongga perut terlalu kecil sehingga isi kantong tidak adapat di masukkan
ke dalam perut.
Jika di paksakan, maka karena regangan pada dinding perut diafragma
akan terdorong ke atas sehingga terjadi gangguan pernafasan. Obstruksi
vena cava inferior dapat juga terjadi karena tekanan tersebut.
Tindakan yang dapat dilakukan ialah melindungi kantong omfalokel
dengan cairan antiseptik mis: betadine, dan menutupnya dengan kain
dakron agar tidak tercemar. Dengan demikian, ada kesempatan untuk
terjadinya epitelisasi dari tepi, sehingga seluruh kantong tertutup epitel
dan terbnetuk hernia ventralis yang besar. Epitelisasi ini membutuhkan
waktu 3 – 4 bulan. Kemudian operasi ventralis tersebut dapt di kerjakan
setelah anak berumur 5-6 bulan .
8. Terapi Oksigen di gunakan untuk membantu pernafasan
b. Pembedahan
Pembedahan dilakukan secara bertahap tergantung besar kecilnya
lubang yang ada pada dinding abdomen. Tujuan pembedahan adalah untuk
mengembalikan visera ke dalam kavum abdomen dan menutup dinding
abdomen.

14
Pada omfalokel, jika lubangynya kecil maka akan di sambungkan saja,
namun jika lubangnya besar maka akan di cangkok dengan mengambil kulit
dari bokong atau paha bayi. Operasi koreksi untuk menempatkan usus ke
dalam rongga perut dan menutup lubang. Harus di kerjakan secepat mungkin
sebab tidak ada perlindungan infeksi. Makin di tunda operasi maka makin
sukar karena usus akan udem.
c. Paska Bedah
1. Perawatan paska bedah neonatus rutin
2. Terapi oksigen maupun vntilasi mekanik kemungkinan diperlukan
3. Dilakukan aspirasi setiap jam pada tuba nasogatrik
4. Pemberian antibiotik
5. Terapi intravena diberikan untuk perbaikan cairan.
Pada sekitar 7 – 12 hari pembedahan, anak akan kembali lagi mengalami
pembedahan untuk menjlani perbaikan cacat. Naun ini tergantung dari
kondisi si bayi ( lemah atau tidak )
1. Bayi post bedah omfalokel yang masih dalam perawatan
2. Bayi dengan post omfalokel dengan dinding abdomen yang sudah rapih
seperti orang normal lainnya.

C. Asuhan Keperawatan
1. Hidrokel
A. Pengkajian
1) Identitas klien yang mencakup nama, jenis kelamin, umur, alamat, pekerjaaan.
2) Anamnesa
Anamnesa berkaitan tentang lamanya pembengkakan skrotum dan apakah
ukuran pembengkakan itu bervariasi baik pada waktu istirahat maupun pada
keadaan emosional (menangis,ketakutan).
3) Kaji sistem perkemihan
4) Pemeriksaan Fisik

15
Pada pemeriksaan fisik, hidrokel dirasakan sesuatu yang oval atau bulat,
lembut dan tidak nyeri tekan. Hidrokel dapat dibedakan dengan hernia melalui
beberapa cara :
a. Pada saat pemeriksaan fisik dengan
Transiluminasi/diaponaskopi hidrokel berwarna merah terang, dan
hernia berwarna gelap.
b. Hidrokel pada saat di inspeksi terdapat benjolan yang hanya ada di
scrotum, dan hernia di lipatan paha.
c. Auskultasi pada hidrokel tidak terdapat suara bising usus, tetapi pada
hernia terdapat suara bising usus.
d. Pada saat di palpasi hidrokel terasa seperti kistik, tetapi pada hernia terasa
kenyal.
e. Hidrokel tidak dapat didorong, hernia biasanya dapat didorong.
f. Bila dilakukan transiluminasi pada hidrokel terlihat transulen, pada hernia
tidak.
5) Kaji setelah pembedahan : infeksi, perdarahan, disuria, dan drainase
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b/d Agen pencedera fisiologis
2. Ansietas b/d Kurang terpapar informasi
3. Defisit pengetahuan b/d kondisi anak : prosedur pembedahan, perawatan
postop, program pentalaksanaan.
4. Resiko infeksi f/r Efek prosedur Infasif
C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa NOC NIC
DX I  Kontrol Nyeri  Manajemen Nyeri
1. Lakukan penilaian nyeri
Setelah dilakukan tindakan
secara komprehensif
keperawatan selama 3x24 jam
dimuali dari lokasi,
diharapkan klien dapat mengontrol
karakteristik, durasi,
nyeri, dengan KH:
frekuensi, kualitas,
1. Menilai factor penyebab
intensitas dan penyebab.
2. Pengggunaan mengurangi
2. Kaji ketidaknyamanan
nyeri dengan non analgesic
secara non verbal, teruatam

16
3. Melaporkan gejala atau klien yang tidak bisa
tanda nyeri kepada tenaga mengkomunikasikannya
kesehatan professional dengan aktif
3. Menyediakan analgesic
ynag dibutuhkan dalam
mengatasi nyeri
DX II Setelah dilakukan tindakan 1. Beritahu dan jelaskan
keperawatan selama 3x24 jam tentang prognosa dan
diharapakan orang tua klien dapat diagnose penyakit yang
memahami penyakit yang dialami dialami oleh anaknya
klien, dengan KH: 2. Beritahu dan jelaskan
1. Cemas yng dialami orang tentang prognosa dan
tua berkurang diagnose penyakit yang
dialami oleh anaknya
3. Libatkan orangtua dalam
perawatan terhadap
anaknya.
4. Berikan informasi bahwa
penyakit ini dapat hilang
dengan sendirinya.
DX III Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji ulang pembatasan
keperawatan selama 3x24 jam aktivitas pascaoperasi.
diharapkan pengetahuan klien dan 2. Dorong aktivitas sesuai
keluarga tentang penyakit toleransi dengan periode
meningkat, dengan KH: istirahat periodic
1. Menyatakan pemahaman 3. Diskusikan perawatan
mengenai proses penyakit, insisi, termasuk mengganti
pengobatan, dan potensial balutan, pembatasan mandi,
komplikasi dan kembali ke dokter
untuk mengangkat jahitan /
pengikat.
DX IV  Kontrol Infeksi  Pengendalian Infeksi

17
Setelah dilkukan tidakana 1. Monitor tanda dan gejala
keperawatan selama 3x24 jam sistemik dan lokal dari
diharapkan klien dapat mengontrol infeksi
resiko infeksi, dengan KH: 2. Monitor daerah yang
1. Bebas dari tanda dan gejala mudah terinfeksi
infeksi 3. Tingkatkan intake nutrisi
2. Menunjukkan kemampuan yang cukup
untuk mencegah timbulnya 4. Pertahankan teknik asepsis
infeksi untuk pasien beresiko
5. Ajarkan klien dan keluarga
bagaimana menghindari
infeksi

2. OMFALOKEL
A. Pemeriksaan fisik :
1. Pengkajian
a. Data demografi
Nama pasien, tanggal lahir, alamat, tanggal masuk RS, jenis
kelamin, agama, pekerjaan, No. Registrasi, dll
2. Fokus pengkjian menurut Ddongoes
1) Mengkaji kondisi abdomen
a. Kaji area sekitar dinding abdomen yang terbuka
b. Kaji letak defek, umumnya berada di sebelah kanan umbilikus
c. Perhatikan adanya tanda – tnda infeksi / iritasi
d. Nyeri abdomen, mungkin terlokalisasi atau menyebar
2) Mengukur temperatur tubuh
a. Demam, manifestsi umum dari penyakit pada anak – anak
dengan gangguan GI, biasanya berhubungan dengan dehidrasi,
infeksi dan inflamasi ,
b. Lakukan pengukuran suhu secara kontinu tiap 2 jam
c. Perhatikan apabila terjadi peningkatan suhu secara mendadak.
3) Kaji sirkulasi
a. Kaji adanya sianosis perifer
4) Kaji distress pernafasan
18
a. Lakukan pengkajian fisik pada dada dan paru, terhadap :
a) Frekuensi : cepat ( takipneu ), normal atau lambat
b) Kadalamann : normal, dangkal ( hipopnea) , terlalu dalam (
hipernea )
c) Suara paru : dispneu, othopneu
d) Irama : variasi dalam frekuensi dan kedalaman pernafasan
e) Observasi adanya tanda – tanda infeksi, batuk , seputum dan
nyeri dada
f) Kaji adanya suara nafas tambahan ( mengi/wheezing)
perhatikan bila pasien tampak pucat / sianosis
3. Pemeriksaan diagnostik menurut A. H Markum

a. Pemeriksan fisik :Pada omfalokel tampak kantong yang berisi


usus dengan atau tanpa hati di garis tengah pada bayi yang lahir.
b. Pemeriksaan laboratorium :Pemeriksaan Maternal Serum Alfa
Fetoprotein ( MSAFP ). Diagnosis prenatal defek pada dinding
abdomen dapat di deteksi dengan peningkatan MSAFP.
c. Prenatal ultrasound
d. Pemeriksaan Radiology :Fetal sonography dapat
menggambarkan kelainan gentik dengan memperlihatkan marker
structural dari kelainan kariotipik. Echocardiography fetus
membantu mengidentifikasi kelainan jantung. Untuk
mendukung diagnosis kelainan genetik diperjelas dengan
amniosentesis. Pada omfalokel tampak kantong yang terisi usus
dengan atau tanpa hepar di garis tengah pada bayi baru lahir.

B. Diagnosa kepperawatan :
1. Resiko infeksi b.d Ketidak Adekuatan Pertahanan Tubuh Primer
2. Hipertermi b.d Dehidrsi , Proses Penyakit
3. Defisit Pengetahuan b.d Keterbatasan Kognitif
4. Nyeri Akut b.d Agen Pencedera fisik
5. Ansietas b.d Kurang terpapar Informasi

C. NIC NOC

19
No Diagnosa keperawatan NOC NIC
1. Resiko Infeksi b.d Ketidak Setelah dlakukan tindakan 1. Perineal Care
Adekuatan Pertahanan Tubuh keperawatan 3 x 24 jam di a. Bantu pasien untuk
primer harapkan klien mampu membersihkan diri
kontrol resiko infeksi dengan b. Jaga perineum agar
KH : tidak kering
1. Self care hygine 2. Proteksi infeksi
2. Infection safety : new a. Monitor tanda
born tanda gejala infeksi
a. Mengetahui faktor sistemik dan lokal
resiko b. Pelihara teknik
b. Bersihkan daerah isolasi
perineal 3. Monitor elektrolit
c. Infeksi pada umilikus a. Monitor cairan
dapat di cegah yang hilang
b. Monitor
adekuatnya
ventilasi.
2. Hipertermi b.d Dehidrasi, Setelah dlakukan tindakan 1. Fevertreatmen
Proses Penyakit keperawatan 3 x 24 jam di a. Monitor warna
harapkan klien mampu kulit dan
menjaga termuregulasi tubuh temperatur
dengan KH : b. Monitor intake dan
1. Thermoregulation : output cairan.
new born 2. Vital sign
2. Vital sign monitoring
a. Tidak ada tanda – a. Monitor ttv
tanda hipertermi 3. Enviromental
b. Tidak ada tanda – management
tanda dehidrasi a. ciptakan
lingkungan
nyaman

20
b. batasi
pengunjung

3. Defisit pengetehuan b.d Setelah dlakukan tindakan 1. Teaching : Disease


Keterbatasan Kognitif keperawatan 3 x 24 jam di Proses
harapkan klien mampu a. Nilai tingkat
kowledge : disease process pengetahuan orang
dengan KH : tua berhubungan
a. Orang tua dngan proses
memeahami proses penyakit
penyakit secara b. Jelakan
spesifik patofisiologi dari
b. Orang tua mengenali penyakit
tanda dan geejala c. Gambarkan tanda
penyakit dan gejala yang
c. Orangtua mengetahui berhubungan
komplikasi yang dengan penyakit
berpotensi akibat d. Diskuaikan pilihan
penyakit. terapi /
d. Orang tua mengerti keperawatan
prosedur perawatan 2. Teaching
post operasi. Prosedure :
Treatmen
a. Informasikan orang
tua/ keluarga
tentang kapan dan
di mana prosedur
keperawatan di
lakukan
b. Informasikan orang
tua / keluarga
tentang berapa

21
lama prosedure
keperawatan
dilakukan

4. Nyeri Akut b.d Agen Setelah dlakukan tindakan 1. Pain managment


Pencedera Fisik keperawatan 3 x 24 jam di a. Observasi isyarat
harapkan klien mampu verbal dari
mengontrol nyeri dengan KH ketidaknyamanan
: terutama saat tidak
a. Tingkat nyeri pasien dapat
berkurang berkomunikasi
b. Ekspresi wajah tidak secara efektif
menunjukan nyeri b. Kurangi faktor
pencetus nyeri
5. Ansietas b.d Kurang terpapar Setelah dlakukan tindakan 1. Anxiety Reduction
Informasi keperawatan 3 x 24 jam di a. Instrukikan orang
harapkan klien mampu tua untuk
mengontrol kecemasan menggunakan
dengan KH : teknik relaksasi
a. Orang tua tidak b. Observasi reaksi
mengalami stress verbal dan non
b. Orang tua dapat verbal tentang
mengontrol kecemasan
kecemasan kecemasan
c. Orang tua dapat 2. Coping managment
menggunakan teknik a. Ajarkan orang tua
relaksasi untuk untuk
mengontrol mengungkapkan
kecemasan secara verbal
perasaan, persepsi,
dan ketakutan

22
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Hidrokel adalah penimbunan cairan dalam selaput yang membungkus testis, yang
menyebabkan pembengkakan lunak pada salah satu testis. Penyebabnya karena gangguan
dalam pembentuk alat genitalia eksternal, yaitu kegagalan penutupan saluran tempat
turunnya testis dari rongga perut ke dalam skrotum. Cairan peritoneum mengalir melalui
saluran yang terbuka tersebut dan terperangkap di dalam skrotum sehingga skrotum
membengkak.
Omfalokel adalah penonjolan dari usus atau isi perut lainnya melalui akar pusar yang
hanya dilapisi oleh peritoneum (selaput perut) dan tidak dilapisi oleh kulit. Omfalokel
terjadi pada satu dari lima ribu kelahiran. Usus terlihat dari luar melalui selaput peritoneum
yang tipis dan transparan (tembus pandang).

B. Saran
Penyusun masih memahami bahwa masih terdapat kekurangan dan kesalahan dalam
penulisan makalah ini. Oleh sebab itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat
membangun.

23
Daftar Pustaka

1. Bulechek,dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC). Singapore: Elsevier


2. Mantu, F.N. 2009. Hidrokel Bedah Anak, Jakarta: EGC.

3. Moorhead, Sue.2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Singapore: Elsevier


4. Purnomo, Basuki B. 2009. Dasar – Dasar Urologi. Malang : Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya.
5. Purnomo, Basuki B. 2008. Dasar-Dasar Urologi, Edisi Kedua. Malang: Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya.
6. Smith, Donald R. 2008. General Urology, 7th Edition. Maruten Asian Edition.
7. Sjamsuhidajat R. dan Jong W.D.2009. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 4. Jakarta: EGC.
8. Sudoyo Aru W. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta: EGC
9. Sudarti, Afroh Fauziah.2012.Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi dan
AnakBalita.Yogyakarta: Nuha Medika)
10. Tim Pokja SDKI DPP PPNI . 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia :
Definisi dan Indikator Diagnostik , edisi 1. Jakarta : DPP PPNI

24