Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu Ushul Fiqih sebenarnya merupakan suatu ilmu yang tidak bisa
diabaikan oleh seorang mujtahid dalam upayanya memberi penjelasan
mengenai nash-nash syariat islam, dan dalam menggali hokum yang tidak
memiliki nash. Juga merupakan suatu ilmuyang diperlukan bagi seorang
hakim dalam usaha memahami materi undang-undang secara sempurna, dan
dalam menerapkan undang-undang itu dengan praktik yang dapat menyatakan
keadilan serta sesuai dengan makna materi yang dimaksud oleh pembuat
hokum (syari’). Ia juga suatu ilmu yang juga diperlukan ulama Fiqih dalam
melakukan pembahasan,pengkajian, penganalisaan dan pembandingan antara
beberapa mazhab dan pendapat. Disamping itu, Al-Amidi dalam bukunya Al-
Ihkam mengatakan: “Tidak ada cara untuk mengetahui hukum Allah swt
kecuali dengan ilmu ushul ini.
Pengertian Ushul Fiqh dapat dilihat sebagai rangkaian dari dua buah kata,
yaitu : kata Ushul dan kata Fiqh; dan dapat dilihat pula sebagai nama satu
bidang ilmu dari ilmu-ilmu Syari'ah. Dilihat dari tata bahasa (Arab), rangkaian
kata Ushul dan kata Fiqh tersebut dinamakan dengan tarkib idlafah, sehingga
dari rangkaian dua buah kata itu memberi pengertian ushul bagi fiqh. Kata
Ushul adalah bentuk jamak dari kata ashl yang menurut bahasa, berarti
sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain. Berdasarkan pengertian Ushul
menurut bahasa tersebut, maka Ushul Fiqh berarti sesuatu yang dijadikan
dasar bagi fiqh. 1
Sedangkan menurut istilah, ashl dapat berarti dalil, seperti dalam
ungkapan yang dicontohkan oleh Abu Hamid Hakim "Ashl bagi diwajibkan
zakat, yaitu Al-Kitab; Allah Ta'ala berfirman: "...dan tunaikanlah zakat!." Dan
dapat pula berarti kaidah kulliyah yaitu aturan/ketentuan umum, seperti dalam
ungkapan sebagai berikut "Kebolehan makan bangkai karena terpaksa adalah
1
Bakkry, nazar, 1996, “Fiqh dan Ushul Fiqh” Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hal 91

1
penyimpangan dari ashl, yakni dari ketentuan/aturan umum, yaitu setiap
bangkai adalah haram; Allah Ta'ala berfirman : "Diharamkan bagimu
(memakan) bangkai.. " Dengan melihat pengertian ashl menurut istilah di atas,
dapat diketahui bahwa Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua kata, berarti
dalil-dalil bagi fiqh dan aturan-aturan/ketentuan-ketentuan umum bagi fiqh.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian ushul fiqih?
2. Apa saja objek kajian ushul fiqih dan fiqih?
3. Apa manfaat mempelajari ushul fiqih?
4. Bagaimana sejarah perkembangan ushul fiqih?

C. Tujuan
Adapun tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini antara lain:
1. Untuk memahami pengertian ushul fiqih.
2. Untuk memahami objek kajian ushul fiqih dan fiqih.
3. Untuk memahami manfaat mempelajari ushul fiqih.
4. Untuk memahami bagaimana sejarah perkembangan ushul fiqih.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ushul Fiqih


1. Pengertian ushul
Ushul fiqh terdiri atas dua kata: ushul dan fiqh. Ushul adalah kata
jamak dari ashl (‫ )أصل‬artinya landasan untuk membangun (pondasi). Ashl
bisa juga diartikan dengan pokok, seperti pokok atau batang pohon. Kata
ushul biasanya dilawankan dengan kata furu’, yaitu kata jamak dari far‘ (
‫ )فرع‬yang berarti sesuatu yang dibangun di atas yang lain. Kata furu’ juga
bisa dipahami sebagai cabang pohon yang menempel dan bergantung
kepada batangnya. Kalau digambarkan, hubungan antara ushul dan furu’
adalah seperti cabang dengan batang pohon atau seperti pondasi dengan
bangunannya. Jadi, furu’ hanya akan ada atau berdiri apabila ada ushul.
Pengertian ushul di atas bersifat kongkrit, artinya masih dikaitkan
dengan benda-benda kongkrit atau kasat mata. Sementara itu, ushul fiqh
adalah obyek yang bersifat abstrak, atau tidak kasat mata. Ushul fiqh
merupakan obyek kajian yang hanya bisa ditangkap oleh akal, bukan oleh
indera. Jadi, pengertian ushul di atas harus diubah menjadi pengertian
yang abstrak. Untuk mengubah pengertian kongkrit menjadi abstrak
tersebut diperlukan proses metaforis, yaitu menggunakan yang kongkrit
untuk memahamkan yang abstrak. Proses tersebut dapat terjadi
sebagaimana berikut ini:
- Menurut bahasa kongkrit ushul : pondasi atau batang
- Menurut bahasa abstrak ushul : kaidah atau dalil
Jadi, kata ushul dalam pengertian ushul fiqh yang abstrak berarti
kaidah atau dalil umum, yang fungsinya sama dengan pondasi atau batang
ketika dihubungkan dengan fiqh.2

2
Khallaf, Abdul Wahad, 1996, Kaidah-Kaidah Hukum Islam” Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada. Hal 87

3
2. Pengertian Fiqh
Fiqh sering masyarakat dipahami hukum Islam. Pemahaman
demikian tidak salah, tetapi penjabaran lebih lanjut karena tidak semua
hukum Islam adalah fiqh. Fiqh hanya menunjuk hukum Islam yang
diperoleh melalui proses ijtihad, sedangkan hukum Islam yang diperoleh
dari petunjuk yang sangat jelas dan pasti (qath‘i) dari Alquran atau hadits
biasa disebut syariat. Untuk memahami lebih lanjut mengenai fiqh, berikut
ini akan dijabarkan pengertian fiqh menurut arti bahasa sampai pada
pengertian istilah.
Kata fiqh secara bahasa memiliki pengertian al-fahm (‫ )الفهم‬atau
faham. Dengan demikian, fiqh menurut pengertian bahasa menyangkut
pemahaman yang diperoleh melalui proses berfikir yang mendalam, bukan
sekedar tahu atau mengerti. Tidak semua proses berpikir adalah
memahami karena memahami adalah tingkatan tertinggi dalam berpikir.
Jadi, fiqh adalah hasil berpikir yang mendalam.
Menurut pengertian yang dipahami umat Islam saat ini, fiqh
adalah:
‫سننةة‬ ‫شارةعييةة الوعوملةيلةة اللةتيِ طوةرايققوهاَ اةلاجتةوهاَةد ةمون االةكوتاَ ة‬
‫ب وو ال ن‬ ‫الةعالقم بةاَ ةالواحوكاَةم ال و‬
“Mengetahhui hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliyah (praktik) yang
sarananya adalah ijtihada dari Alquran dan sunnah”

Atau sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Baidhawi:


‫ب ةمان أوةدللتةوهاَ التتاف ة‬
‫صايلةيلةة‬ ‫الةعالقم بةاَ ةالواحوكاَةم ال و‬
‫شارةعييةة الوعوملةيلةة القماكتو و‬
‫س ة‬
“Mengetahui hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliyah yang diperoleh
dari dalil-dalilnya yang rinci”
Berdasarkan dua pengertian di atas, tampak bahwa fiqh memiliki
beberapa ciri khas:3
a. Pengetahuan mengenai hukum-hukum syar‘i, bukan hukum aqli
(hukum akal) atau hukum ‘addi (hukum adat). Hukum syar‘i adalah

3
Bakkry, nazar, 1996, “Fiqh dan Ushul Fiqh” Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hal 91

4
hukum yang sumbernya Alquran dan sunnah. Sementara itu, hukum
‘aqli bersumber dari akal dan hukum ‘addi bersumber dari adat.
b. Bersifat amaliyah atau menyangkut perbuatan lahiriyah, bukan bersifat
perasaan, hati, atau pikiran. Jadi, yang diatur oleh fiqh adalah amalan
lahiriyah. Sebagai perkecualian, ada satu bahasan dalam fiqh yang
bersifat hati, tentang niat.
c. Diperoleh melalui ijtihad, yaitu dari upaya ahli hukum (mujtahid)
melakukan kerja ilmiah untuk menggali hukum dari ayat-ayat Alquran
dan sunnah. Karena berasal dari ijtihad, fiqh bersifat dzanni
(prasangka yang didukung bukti). Hal itulah yang membedakan antara
fiqh dengan syariat, yaitu hukum-hukum yang diperoleh dari dalil-dalil
qath‘i, seperti wajibnya shalat, zakat, puasa, dan haji. Adapun
ketentuan mengenai iftitah, qunut, dan rincian shalat bersifat dzanni.
d. Berasal dari dalil-dalil rinci dari Alquran dan sunnah. Dalil-dalil rinci
adalah dalil-dalil yang membahas perkasus mengenai suatu persoalan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fiqh adalah
mengetahui hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliyah melalui ijtihad
dari dalil-dalil rinci Alquran dan sunnah. Fiqh bersifat dzanni (prasangka
yang didasari bukti dan argumentasi). Istilah lain yang terkait dengan fiqh
adalah istilah syariah atau syariat. Istilah syariat memiliki beragam
pengertian:
a. Ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammmad SAW (syariah dalam
pengertian luas)
b. Hukum Islam yang diperoleh dari dalil qath‘i atau tegas (syariah dalam
pengertian sempit)
c. Hukum yang bersumber dari Alquran dan sunnah, baik bersifat qath‘i
maupun dzanni.
Dalam pembahasan mengenai hubungan fiqh dan syariah,
pengertian syariah yang kedua yang biasanya dipergunakan.

5
3. Pengertian ushul fiqh
Setelah jelas bahwa pengertian ushul adalah dalil umum atau
kaidah dan fiqh adalah mengetahui hukum syar.i amaliyah melalui ijtihad
dari dalil-dalil rinci Alquran dan sunnah barulah kita bisa menyusun
pengertian ushul fiqh. Secara singkat pengertian ushul fiqh sebagaimana
diberikan oleh Imam Ibnu Hajib al-Maliki adalah:
‫صايلةيلةة‬ ‫ستة انةوباَةط االواحوكاَةم ال لو‬
‫شارةعييةة الفوارةعيلةة ةمان أوةدللتةوهاَ التتاف ة‬ ‫الةعالقم ةباَالقووواةعةد اللةتيِ يوتووو ل‬
‫صقل بةوهاَ اةولىَ اة ا‬
“Mengetahui kaidah-kadiah yang membawa kepada pengambilan hukum
syar‘’ yang cabang dari dalil-dali rinci.
Berdasarkan kaidah di atas dapat disimpulkan bahwa ushul fiqh
adalah “Pengetahuan mengenai kaidah-kaidah atau dalil umum untuk
melakukan istimbath (penggalian hukum).” Jadi sasarannya adalah
membahas dan membuat kaidah, bukan membahas rincian hukum atau
menyimpulkan hukum dari dalil-dalil Alquran dan hadits. Pembahasan
mengenai rincian hukum dan pemahaman dalil-dalil rinci Alquran hadits
adalah tugas fiqh. Ushul fiqh hanya membahas kaidah-kaidah umumnya
saja sehingga tugas ushuliyyin hanyalah membuat dan meneliti kaidah
ushul.
Contoh:
Ulama ushuliyyin (ahli ushul fiqh) menyatakan sebuah kaidah ushul:
‫صقل فةايِ االوامةر لةالقوقجاو ة‬
‫ب‬ ‫اوالو ا‬
“Perintah pada dasarnya berarti wajib”
Atau:
‫ب‬ ‫صايوغةق االوامةر ااقتو و‬
‫ضات القوقجاو و‬ ‫اةوذا تووجلرود ة‬
“Jika susunan kalimat perintah itu murni (tanpa hal-hal yang
membuatnya memiliki pengertian lain atau melunakkan pengertiannya)
maka perintah itu menuntut kewajiban”.
Ketika para ahli fiqh (fukaha) mengkaji surat al-Isra’ ayat 78:
‫ق الللايةل ووققارآوون االفواجةر إةلن ققسسارآوون االفواجسسةر وكسساَون وم ا‬
‫شسسقهوتدا )السسسراء‬ ‫س إةولىَ وغ و‬
‫س ة‬ ‫أوقةةم ال ل‬
‫صولةو لةقدقلوةك ال ل‬
‫شام ة‬
(78

6
“Dirikanlah shalat ketika matahari tergelincir sampai terbenamnya mega
merah dan (dirikan) shalat saat munculnya fajar. Sesungguhnya fajar itu
dapat terlihat.”
Terlihat bahwa perintah tersebut tidak disertai hal-hal yang
membuatnya berarti lain selain perintah shalat pada waktu-waktu tertentu.
Berdasarkan akidah ushul di atas, perintah tersebut bermakna wajib.
Karena itu, ahli fikih memutuskan bahwa perintah shalat pada waktu
tertentu bermaksa wajib. Itu berarti ahli fiqh menggunakan kaidah-kaidah
yang dikaji dan dirumuskan ahli ushul untuk melakukan penggalian
hukum dari Alquran. Boleh jadi ahli ushul fiqh itu juga sebenarnya juga
merangkap ahli fiqh, seperti Imam al-Ghazali, Imam Abu Ishaq al-Syrazi,
Imam al-Juwayni, Imam Ibnu Qudamah, dan Imam Tajuddin al-Subki.4

B. Objek Kajian Ushul Fiqih Dan Fiqih


Setiap ilmu pasti memiliki kejelasan obyek kajiannya. Ushul fiqh pun
demikian. Obyek kajian ushul fiqh adalah dalil-dalil umum atau kaidah-
kaidah. Apabila dirinci, obyek kajian utama ushul fiqh ada empat:
1. Tentang pengertian dan pembagian hukum, yang meliputi pembuat hukum
(syari‘), beban hukum (mahkum bih), dan penanggung beban hukum
(mahkum ‘alaih).
2. Tentang sumber-sumber hukum atau dalil-dalil hukum
3. Kaidah-kaidah memahami sumber hukum, termasuk ketika terjadi
pertentangan tuntutan sumber hukum.
4. Ketentuan orang yang mampu melakukan penggalian hukum (mujtahid).
Cakupan Ushul Fiqh5
Setiap disiplin ilmu pasti memiliki bahasan tertentu yang
membedakannya dengan disiplin ilmu lain, demikian pula ushul fiqh, ia
memiliki bahasan tertentu yang dapat kita ringkas menjadi 5 (lima) bagian
utama:

4
Bakkry, nazar, 1996, “Fiqh dan Ushul Fiqh” Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hal 91
5
Hanafie, Achmad, 1989. “Ushul Fiqh”. Jakarta: Wijaya, hal 21

7
1. Kajian tentang adillah syar’iyyah (sumber-sumber hukum Islam) yang
asasi (Al-Qur’an dan Sunnah) maupun turunan (Ijma’, Qiyas, Maslahat
Mursalah, dan lain-lain).
2. Hukum-hukum syar’i dan jenis-jenisnya, siapa saja yang mendapat beban
kewajiban beribadah kepada Allah dan apa syarat-syaratnya, apa karakter
beban tersebut sehingga ia layak menjadi beban yang membuktikan
keadilan dan rahmat Allah.
3. Kajian bahasa Arab yang membahas bagaimana seorang mujtahid
memahami lafaz kata, teks, makna tersurat, atau makna tersirat dari ayat
Al-Qur’an atau Hadits Rasulullah saw, bahwa sebuah ayat atau hadits
dapat kita pahami maksudnya dengan benar jika kita memahami
hubungannya dengan ayat atau hadits lain.
4. Metode yang benar dalam menyikapi dalil-dalil yang tampak seolah-olah
saling bertentangan, dan bagaimana solusinya.
5. Ijtihad, syarat-syarat dan sifat-sifat mujtahid.
Hubungan ilmu Ushul Fiqih dengan Fiqih adalah seperti hubungan
ilmu Mantiq/logika dengan filsafat, bahwa manthiq merupakan kaedah
berpikir yang memelihara akal, agar tidak terjadi kekacauan dalam berpikir.
Selain itu, fungsi Ushul Fiqih adalah membedakan antara istinbath yang benar
dengan yang salah. Sebagaimana ilmu Nahu berfungsi untuk membedakan
antara susunan bahasa yang benar dengan susunan bahasa yang salah.
Demikian pula dengan ilmu Ushul Fiqih, merupakan kaedah yang memelihara
fuqoha/ahli fiqih agar tidak terjadi kesalahan di dalam menggali dan
menetapkan hukum.
1. Perbedaan Kaidah Ushul (al-qawaid al-ushuliyyah) dan kaidah fiqh
(al-qawa‘id al-fiqhiyyah)
Ada dua bentuk kaidah yang populer di kalangan masyarakat
Islam, yaitu kaidah ushul dan kaidah fiqh. Keduanya diajarkan di
pesantren-pesantren maupun sekolah-sekolah Islam yang mendalami
hukum Islam. Keduanya memiliki fungsi penting dalam memutuskan
persoalan hukum. Karena keduanya sama-sama berisikan kaidah, hal itu

8
membuka pintu kerancuan di kalangsan sebagian pengkaji ushul fiqh
apakah kaidah fiqh sama dengan kaidah ushul.
Tidak diragukan lagi, ada beberapa aspek kaidah fiqh yang hampir
mirip kaidah ushul fiqh. Kaidah َ‫( اوالقحاكقم يوقداوقر وموع االةعللسسةة قوقجسساوتدا وو وعسسودتما‬ada atau
tiadanya hukum berjalan bersama alasan hukumnya). Kaidah tersebut bisa
menjadi kaidah ushul atau kaidah fiqh, namun ciri-ciri kaidah ushulnya
‫( اةاعوماَقل اللدلةايةل أواف و‬mempergunakan dalil lebih
lebih jelas. Kaidah َ‫ضقل ةمان اةاهوماَلةوها‬
baik dari mengabaikannya) adalah kaidah yang sering masuk pembahasan
kaidah fiqh, tetapi secara prinsip dasar mirip kaidah ushul.
Akan tetapi ada beberapa kriteria yang bisa dijadikan pegangan
untuk membedakan antara kaidah ushul dengan kaidah fiqh:
a) Kaidah ushul digunakan untuk melakukan pengambilan hukum
(istimbath) dari sumber-sumber hukum. Sementara itu, kaidah fiqh
digunakan untuk melakukan pemecahan masalah hukum praktis yang
muncul dalam penerapan hasil istimbath deari dalil-dalil Alquran.
Contohnya adalah bahwa menurut kaidah ushul “larangan tanpa ada
petunjuk yang melunakkannya berarti haram.” Larangan daging babi
dalam Alquran berdasarkan penggunaan kaidah ushul tersebut oleh ahli
fiqh disimpulkan bahwa daging babi haram.
b) Kaidah ushul diperoleh secara deduktif, sedangkan kaidah fiqh secara
induktif. Penyusunan kaidah ushul, utamanya di kalangan ushul fiqh
mutakallimin, dilakukan tanpa melihat realitas terlebih dahulu. Kaidah
dibuat dulu, baru kemudian diterapkan. Sementara itu, kaidah fiqh
diperoleh secara induktif, yaitu berasal dari penyelidikan pemecahan
kasus-kasus fiqh, baru kemudian disimpulkan kaidahnya. Karena itu,
kaidah ushul umumnya bersifat kulli (berlaku kepada seluruh persoalan
detail), sementara kaidah fiqh umumnya bersifat aghlabi (berlaku
kepada sebagian besar kasus, dengam berbagai perkecualian).
c) Pembahasan ilmu fiqh berkisar tentang hukum-hukum syar’i yang
langsung berkaitan dengan amaliyah seorang hamba seperti ibadahnya,

9
muamalahnya,…, apakah hukumnya wajib, sunnah, makruh, haram,
ataukah mubah berdasarkan dalil-dalil yang rinci.
d) Sedangkan ushul fiqh berkisar tentang penjelasan metode seorang
mujtahid dalam menyimpulkan hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil
yang bersifat global, apa karakteristik dan konsekuensi dari setiap
dalil, mana dalil yang benar dan kuat dan mana dalil yang lemah, siapa
orang yang mampu berijtihad, dan apa syarat-syaratnya.
e) Perumpamaan ushul fiqh dibandingkan dengan fiqh seperti posisi ilmu
nahwu terhadap kemampuan bicara dan menulis dalam bahasa Arab,
ilmu nahwu adalah kaidah yang menjaga lisan dan tulisan seseorang
dari kesalahan berbahasa, sebagaimana ilmu ushul fiqh menjaga
seorang ulama/mujtahid dari kesalahan dalam menyimpulkan sebuah
hukum fiqh. 6
2. Sumber-sumber Penyusunan Ushul Fiqh
Ushul fiqh bukanlah ilmu yang berdiri sendiri dan muncul tiba-tiba
dari ruang kosong. Ushul fiqh disusun dengan perangkat keilmuan yang
lain. Imam Ibnu Hajib berpendapat bahwa sumber utama penyusunan
ushul fiqh adalah bahasa (Arab), ilmu kalam, dan hukum-hukum (fiqh).
Ilmu kalam menjadi bagian penting dalam ushul fiqh, khususnya ushul
fiqh aliran mutakallimin (Syafi’iyyah). Ilmu kalam menjadi dasar
pengenalan tentang siapa pemilik otoritas hukum, hukum sebelum ada
wahyu, dan kaitan keimanan dengan pembebanan hukum. Ilmu kalam
menjadi landasan untuk membangun sebuah sistem hukum yang
berlandaskan nilai ketuhanan dan keimanan.
Ilmu bahasa merupakan bagian terpenting dalam ushul fiqh. Para
ulama ushul memberikan porsi besar bagi ulasan mengenai teori bahasa
hingga pemaknaan kata dan kalimat. Kitab al-Mahsul karya Imam
Fakhruddin al-Razi, misalnya, memberikan ulasan mengenai persoalan
kebahasaan lebih dari separuh tulisannya. Imam al-Syafi‘i dalam kitabnya

6
Khallaf, Wahhab Abdul.Cet I, Shafar 1421 H/ April 2003 M. Ilmu Ushul Fikih. Jakarta:
Pustaka Amani. Hal 59

10
al-Risalah menegaskan bahwa Alquran dan hadits berbahasa Arab. Karena
itu, ia menyarankan agar Alquran dan hadits dipahami menurut cara orang
Arab memahaminya.
Ilmu fiqh diperlukan karena pembahasan mengenai kaidah-kaidah
memerlukan contoh-contoh untuk membumikan kaidah-kaidah tersebut.
Tanpa contoh praktis, akan sulit untuk melihat pengaruh perbedaan kaidah
terhadap kesimpulan hukum. Tanpa contoh penerapan, kaidah-kaidah akan
sulit dipahami.
Selain tigas sumber di atas ada beberapa sumber lain yang menjadi
bahan penyusunan ushul fiqh, yaitu ilmu Alquran, ilmu hadits, dan logika.
Ilmu Quran digunakan untuk menjabarkan Alquran, sebagai sumber
hukum pertama, dan sekaligus bagaimana memahami ayat-ayatnya. Teori
nasakh (penggantian hukum) adalah contoh ilmu Alquran yang juga
bekerja dalam ushul fiqh.
Ilmu hadits menjadi penting karena hadits adalah sumber kedua
hukum Islam. Agar dapat digunakan sebagai sumber istimbath
(pengambilan hukum) hadits harus jelas dulu kesahihannya karena hadits
dlaif, apalagi yang maudlu (palsu) tidak bisa digunakan sebagai hujjah
(argumentasi). Kriteria kesahihan hadits yang menjadi bidang ilmu hadits
dipergunakan juga dalam ushul fiqh untuk memastikan apakah sebuah
hadits bisa dijadikan pijakan penyimpulan hukum atau tidak. Dalam ushul
fiqh, pembahasan mengenai perbuatan Rasulullah dan persetujuan (taqrir)
Rasulullah terhadap amalan sahabat mendapatkan porsi bahasan.
Logika Yunani (mantiq) pun menjadi bahan dalam penyusunan
ushul fiqh, utamanya di kalangan muta’akhkhirin. Imam al-Ghazali
dipandang sebagai pelopor utama dimasukkannya bahasan logika dalam
ushul fiqh, meskipun sebenarnya Imam Ibnu Hazm, melalui kitab al-
Ihkam fi Ushul al-Ahkam sedikit banyak menggunakan aspek logika
Yunani. Namun di tangan Imam al-Ghazali, dalam kitabnya al-Musthasfa,
pengantar logika dimasukkan secara jelas. Usaha Imam al-Ghazali tersebut
diikuti oleh Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali dalam kitab Raudlah al-

11
Nadzir wa Jannah al-Munadzir, dan Imam Ibnu Hajib al-Maliki dalam
kitab Muntaha al-Wushul (al-Sul) wa al-Amal fi Ilmay al-Ushul wa al-
Jadal.
Meskipun masuk dalam beberapa kitab ushul, logika Yunani tidak
serta merta memiki pengaruh besar dalam istimbath hukum. Pola
istimbath hukum selama ini tetap mengacu kepada pola kebahasaan dan
pertimbangan kemaslahatan.7

C. Manfaat Mempelajari Ushul Fiqih


Ghayah (tujuan) dan tsamarah (buah) ilmu ushul adalah agar dapat
melakukan istinbath hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil syar’i secara
langsung.
Di samping itu ada manfaat lain dari ilmu ushul, di antaranya:
1. Mengetahui apa dan bagaimana manhaj (metode) yang ditempuh oleh
seorang mujtahid dalam beristinbath.
2. Mengetahui sebab-sebab ikhtilaf di antara para ulama.
3. Menumbuhkan rasa hormat dan adab terhadap para ulama.
4. Membentuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis dan
kemampuan di bidang fiqh secara benar.

D. Hukum Mempelajari Ushul Fiqh


Al-Amidi dalam bukunya Al-Ihkam mengatakan: “Tidak ada cara
untuk mengetahui hukum Allah swt kecuali dengan ilmu ushul ini. Karena
seorang mukallaf adalah awam atau bukan awam (’alim). Jika ia awam maka
wajib baginya untuk bertanya:
Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak
mengetahui. (Al-Anbiya: 7)
Dan pertanyaan itu pasti bermuara kepada ulama, karena tidak boleh
terjadi siklus. Jika mukallaf seorang ‘alim, maka ia tidak bisa mengetahui
hukum Allah kecuali dengan jalan tertentu yang dibenarkan, sebab tidak boleh

7
Hanafie, Achmad, 1989. “Ushul Fiqh”. Jakarta: Wijaya, hal 26

12
memutuskan hukum dengan hawa nafsu, dan jalan itu adalah ushul fiqh.
Tetapi mengetahui dalil setiap hukum tidak diwajibkan atas semua orang,
karena telah dibuka pintu untuk meminta fatwa. Hal ini menunjukkan bahwa
menguasai ilmu ushul bukanlah fardhu ‘ain, tetapi fardhu kifayah, wallahu
a’lam.”8

E. Sejarah Perkembangan Ushulfiqih


Di masa Rasulullah saw, umat Islam tidak memerlukan kaidah-kaidah
tertentu dalam memahami hukum-hukum syar’i, semua permasalahan dapat
langsung merujuk kepada Rasulullah saw lewat penjelasan beliau mengenai
Al-Qur’an, atau melalui sunnah beliau saw.
Para sahabat ra menyaksikan dan berinteraksi langsung dengan
turunnya Al-Qur’an dan mengetahui dengan baik sunnah Rasulullah saw, di
samping itu mereka adalah para ahli bahasa dan pemilik kecerdasan berpikir
serta kebersihan fitrah yang luar biasa, sehingga sepeninggal Rasulullah saw
mereka pun tidak memerlukan perangkat teori (kaidah) untuk dapat berijtihad,
meskipun kaidah-kaidah secara tidak tertulis telah ada dalam dada-dada
mereka yang dapat mereka gunakan di saat memerlukannya.9
Setelah meluasnya futuhat islamiyah, umat Islam Arab banyak
berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain yang berbeda bahasa dan latar
belakang peradabannya, hal ini menyebabkan melemahnya kemampuan
berbahasa Arab di kalangan sebagian umat, terutama di Irak . Di sisi lain
kebutuhan akan ijtihad begitu mendesak, karena banyaknya masalah-masalah
baru yang belum pernah terjadi dan memerlukan kejelasan hukum fiqhnya.
Dalam situasi ini, muncullah dua madrasah besar yang mencerminkan
metode mereka dalam berijtihad:
1. Madrasah ahlir-ra’yi di Irak dengan pusatnya di Bashrah dan Kufah.
2. Madarasah ahlil-hadits di Hijaz dan berpusat di Mekkah dan Madinah.

8
Zein, Muhammad Ma’sum. 2008. Ilmu Ushul Fiqh. Jombang : Darul hikmah, hal 69
9
Zein, Muhammad Ma’sum. 2008. Ilmu Ushul Fiqh. Jombang : Darul hikmah, hal 71

13
Perbedaan dua madrasah ini terletak pada banyaknya penggunaan
hadits atau qiyas dalam berijtihad. Madrasah ahlir-ra’yi lebih banyak
menggunakan qiyas (analogi) dalam berijtihad, hal ini disebabkan oleh:
1. Sedikitnya jumlah hadits yang sampai ke ulama Irak dan ketatnya
seleksi hadits yang mereka lakukan, hal ini karena banyaknya hadits-
hadits palsu yang beredar di kalangan mereka sehingga mereka tidak
mudah menerima riwayat seseorang kecuali melalui proses seleksi
yang ketat. Di sisi lain masalah baru yang mereka hadapi dan
memerlukan ijtihad begitu banyak, maka mau tidak mau mereka
mengandalkan qiyas (analogi) dalam menetapkan hukum. Masalah-
masalah baru ini muncul akibat peradaban dan kehidupan masyarakat
Irak yang sangat kompleks.
2. Mereka mencontoh guru mereka Abdullah bin Mas’ud ra yang banyak
menggunakan qiyas dalam berijtihad menghadapi berbagai masalah.
Sedangkan madrasah ahli hadits lebih berhati-hati dalam berfatwa
dengan qiyas, karena situasi yang mereka hadapi berbeda, situasi itu adalah:
1. Banyaknya hadits yang berada di tangan mereka dan sedikitnya kasus-
kasus baru yang memerlukan ijtihad.
2. Contoh yang mereka dapati dari guru mereka, seperti Abdullah bin
Umar ra, dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, yang sangat berhati-hati
menggunakan logika dalam berfatwa.
Perbedaan kedua madrasah ini melahirkan perdebatan sengit, sehingga
membuat para ulama merasa perlu untuk membuat kaidah-kaidah tertulis yang
dibukukan sebagai undang-undang bersama dalam menyatukan dua madrasah
ini. Di antara ulama yang mempunyai perhatian terhadap hal ini adalah Al-
Imam Abdur Rahman bin Mahdi rahimahullah (135-198 H). Beliau meminta
kepada Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (150-204 H) untuk menulis sebuah
buku tentang prinsip-prinsip ijtihad yang dapat digunakan sebagai pedoman.
Maka lahirlah kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi’i sebagai kitab pertama
dalam ushul fiqh.

14
Hal ini tidak berarti bahwa sebelum lahirnya kitab Ar-Risalah prinsip
prinsip ushul fiqh tidak ada sama sekali, tetapi ia sudah ada sejak masa
sahabat ra dan ulama-ulama sebelum Syafi’i, akan tetapi kaidah-kaidah itu
belum disusun dalam sebuah buku atau disiplin ilmu tersendiri dan masih
berserakan pada kitab-kitab fiqh para ‘ulama. Imam Syafi’i lah orang pertama
yang menulis buku ushul fiqh, sehingga Ar Risalah menjadi rujukan bagi para
ulama sesudahnya untuk mengembangkan dan menyempurnakan ilmu ini.
Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i ra memang pantas
untuk memperoleh kemuliaan ini, karena beliau memiliki pengetahuan tentang
madrasah ahlil-hadits dan madrasah ahlir-ra’yi. Beliau lahir di Ghaza, pada
usia 2 tahun bersama ibunya pergi ke Mekkah untuk belajar dan menghafal
Al-Qur’an serta ilmu fiqh dari ulama Mekkah. Sejak kecil beliau sudah
mendapat pendidikan bahasa dari perkampungan Huzail, salah satu kabilah
yang terkenal dengan kefasihan berbahasa. Pada usia 15 tahun beliau sudah
diizinkan oleh Muslim bin Khalid Az-Zanjiy - salah seorang ulama Mekkah -
untuk memberi fatwa.
Kemudian beliau pergi ke Madinah dan berguru kepada Imam
penduduk Madinah, Imam Malik bin Anas ra (95-179 H) dalam selang waktu
9 tahun - meskipun tidak berturut-turut - beserta ulama-ulama lainnya,
sehingga beliau memiliki pengetahuan yang cukup dalam ilmu hadits dan fiqh
Madinah. Lalu beliau pergi ke Irak dan belajar metode fiqh Irak kepada
Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani ra (wafat th 187 H), murid Imam Abu
Hanifah An-Nu’man bin Tsabit ra (80-150 H).
Dari latar belakangnya, kita melihat bahwa Imam Syafi’i memiliki
pengetahuan tentang kedua madrasah yang berbeda pendapat, maka beliau
memang orang yang tepat untuk menjadi orang pertama yang menulis buku
dalam ilmu ushul. Selain Ar-Risalah, Imam Syafi’i juga memiliki karya lain
dalam ilmu ushul, seperti: kitab Jima’ul-ilmi, Ibthalul-istihsan, dan Ikhtilaful-
hadits.
Dapat kita simpulkan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan
munculnya penulisan ilmu ushul fiqh:

15
1. Adanya perdebatan sengit antara madrasah Irak dan madrasah Hijaz.
2. Mulai melemahnya kemampuan bahasa Arab di sebagian umat Islam
akibat interaksi dengan bangsa lain terutama Persia.
3. Munculnya banyak persoalan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan
memerlukan kejelasan hukum, sehingga kebutuhan akan ijtihad kian
mendesak.
Setelah Ar-Risalah, muncullah berbagai karya para ulama dalam ilmu
ushul fiqh, di antaranya:
1. Khabar Al-Wahid, Itsbat Al-Qiyas, dan Ijtihad Ar-Ra’y, ketiganya karya
Isa bin Aban bin Shadaqah Al-Hanafi (wafat th 221 H).
2. An-Nasikh Wal-Mansukh karya Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H).
3. Al-Ijma’, Ibthal At-Taqlid, Ibthal Al-Qiyas, dan buku lain karya Dawud
bin Ali Az-Zhahiri (200-270 H).
4. Al-Mu’tamad karya Abul-Husain Muhammad bin Ali Al-Bashri Al-
mu’taziliy Asy-Syafi’i (wafat th 436H).
5. Al-Burhan karya Abul Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah Al-
Juwaini/Imamul-haramain (410-478 H).
6. Al-Mustashfa karya Imam Al-Ghazali Muhammad bin Muhammad (wafat
505 H).
7. Al-Mahshul karya Fakhruddin Muhammad bin Umar Ar-Razy (wafat 606
H).
8. Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam karya Saifuddin Ali bin Abi Ali Al-Amidi
(wafat 631 H).
9. Ushul Al-Karkhi karya Ubaidullah bin Al-Husain Al-Karkhi (wafat 340
H).
10. Ushul Al-jashash karya Abu Bakar Al-Jashash (wafat 370 H).
11. Ushul as-Sarakhsi karya Muhammad bin Ahmad As-Sarakhsi (wafat 490
H).
12. Kanz Al-Wushul Ila ma’rifat Al-Ushul karya Ali bin Muhammad Al-
Bazdawi (wafat 482 H).

16
13. Badi’un-Nizham karya Muzhaffaruddin Ahmad bin Ali As-Sa’ati Al-hanafi
(wafat 694 H).
14. At-Tahrir karya Kamaluddin Muhammad bin Abdul Wahid yang dikenal
dengan Ibnul Hammam (wafat 861 H).
15. Jam’ul-jawami’ karya Abdul Wahab bin Ali As Subki (wafat 771 H).
16. Al-Muwafaqat karya Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Al-gharnathi yang
dikenal dengan nama Asy-Syathibi (wafat 790 H).
17. Irsyadul-fuhul Ila Tahqiq ‘Ilm Al-Ushul karya Muhammad bin Ali bin
Muhammad Asy-Syaukani (wafat 1255 H). 10

10
Khallaf, Wahhab Abdul.Cet I, Shafar 1421 H/ April 2003 M. Ilmu Ushul Fikih. Jakarta:
Pustaka Amani. Hal 96

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dilihat dari tata bahasa (Arab), rangkaian kata Ushul dan kata Fiqh
tersebut dinamakan dengan tarkib idlafah, sehingga dari rangkaian dua buah kata
itu memberi pengertian ushul bagi fiqh. Kata Ushul adalah bentuk jamak dari kata
ashl yang menurut bahasa, berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain.
Berdasarkan pengertian Ushul menurut bahasa tersebut, maka Ushul Fiqh berarti
sesuatu yang dijadikan dasar bagi fiqh. Hubungan Ushul Fiqih dengan Fiqih
Obyek kajian utama ushul fiqh ada empat:
1) Tentang pengertian dan pembagian hukum, yang meliputi pembuat hukum
(syari‘), beban hukum (mahkum bih), dan penanggung beban hukum (mahkum
‘alaih).
2) Tentang sumber-sumber hukum atau dalil-dalil hukum
3) Kaidah-kaidah memahami sumber hukum, termasuk ketika terjadi
pertentangan tuntutan sumber hukum.
4) Ketentuan orang yang mampu melakukan penggalian hukum (mujtahid).
Ghayah (tujuan) dan tsamarah (buah) ilmu ushul adalah agar dapat
melakukan istinbath hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil syar’i secara langsung.
B. Saran
Setelah memahami makalah ini, maka sebaiknya kita mempelajari sumber-
sumber hukum Islam, dalil-dalil yang shahih yang menunjukkan kepada kita
hukum Allah swt, apa syarat-syarat ijtihad, dan bagaimana metode berijtihad yang
benar sesuai batasan-batasan syariat. Kemidian mengapllikasikannya dalam
kehidupan kita sehari-hari.

18
DAFTAR PUSTAKA

Khallaf, Abdul Wahad, 1996, Kaidah-Kaidah Hukum Islam” Jakarta: PT Raja


Grafindo Persada.
Bakkry, nazar, 1996, “Fiqh dan Ushul Fiqh” Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Hanafie, Achmad, 1989. “Ushul Fiqh”. Jakarta: Wijaya
Zein, Muhammad Ma’sum. 2008. Ilmu Ushul Fiqh. Jombang : Darul hikmah

19
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat yang diberikan Allah SWT sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Objek dan Kajian
Ushul Fiqih” tepat pada waktunya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah
membantu penulis dalam membuat makalah ini dan teman-teman yang telah
memberi motivasi dan dorongan serta semua pihak yang berkaitan sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan
saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang.

Bengkulu, Desember 2018

Penyusun

20
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................


KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFATR ISI.....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...............................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................2
C. Tujuan............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Ushul Fiqih...................................................................3
B. Objek Kajian Ushul Fiqih Dan Fiqih..............................................7
C. Manfaat Mempelajari Ushul Fiqih..................................................12
D. Sejarah Perkembangan Ushulfiqih.................................................13

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan...........................................................................................18
B. Kritik dan Saran ...................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................iii

ii
21