Anda di halaman 1dari 20

DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN NOVEMBER 2018

UNIVERSITAS HASANUDDIN

CHORIONIC VILLUS SAMPLING

DISUSUN OLEH:
Ardi Rahmansyah
C111 13 324

PEMBIMBING:
dr. Eva Kurnianti

SUPERVISOR PEMBIMBING:
dr. Monika Fitria Farid, Sp.OG., M.Kes.

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2018
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa :

Nama : Ardi Rahmansyah

NIM : C11113324

Judul Referat : Chorionic Villus Sampling

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian


Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, November 2018

Supervisor Pembimbing Residen Pembimbing

dr. Monika Fitria Farid, Sp.OG., M.Kes dr. Eva Kurnianti

Mengetahui,

Koordinator Pendidikan Mahasiswa

Bagian Obstetri dan Ginekologi

Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Dr. dr. Elizabeth C. Jusuf, Sp.OG.(K)

ii
SURAT KETERANGAN PEMBACAAN REFERAT

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:

Nama : Ardi Rahmansyah

NIM : C111 13 324

Benar telah membacakan referat dengan judul “Chorionic Villus Sampling” pada

Hari/tanggal : Senin/ 5 November 2018

Tempat :

Konsulen : dr. Monika Fitria Farid, Sp.OG., M.Kes.

Minggu dibacakan : 5

Nilai :

Dengan ini dibuat untuk digunakan sebaik-baiknya dan digunakan sebagaimana


mestinya.

Makassar, November 2018

Supervisor Pembimbing Residen Pembimbing

dr. Monika Fitria Farid, Sp.OG., M.Kes. dr. Eva Kurnianti

Mengetahui,

Koordinator Pendidikan Mahasiswa

Bagian Obstetri dan Ginekologi

Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Dr. dr. Elizabeth C. Jusuf, Sp.OG.(K)

iii
DAFTAR HADIR PEMBACAAN REFARAT

Nama : Ardi Rahmansyah

NIM : C111 13 324

Hari/Tanggal : Senin/ 5 November 2018

Judul Refarat : Chorionic Villus Sampling

Tempat :

No. Nama Minggu Tanda Tangan


1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Aneuploidi adalah adanya suatu keadaan dimana jumlah kromosom tidak


normal, bisa berupa trisomi (tiga salinan kromosom) atau monosomi (hanya satu
kromosom). Data dari penelitian berbasis populasi yang mencakup kelahiran,
kematian janin, dan terminasi kehamilan menunjukkan prevalensi keseluruhan dari
kondisi tersebut ialah 4 per 1000 kelahiran. Aneuploidi menyumbang lebih dari 50
persen kasus aborsi pada trimester pertama, sekitar 20 persen dari kematian janin
pada trimester kedua, dan 6 hingga 8 persen bayi lahir mati dan kematian dini pada
bayi.1 Sindroma Down merupakan kasus kelainan kromosom yang paling banyak
terjadi dengan angka morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Sindroma yang lain
adalah trisomi 13, 18, Turner, Cri du Chat, dan lain-lain.2

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan kedokteran, maka dikenal lah


berbagai metode untuk mendeteksi kelainan kromosomal janin atau yang disebut
dengan diagnosis prenatal. Diagnosis prenatal adalah ilmu mengidentifikasi
kelainan kongenital, aneuploidi, dan sindrom genetik lainnya pada janin. Tujuan
diagnosis prenatal adalah untuk memberikan informasi yang akurat mengenai
prognosis jangka pendek dan panjang, risiko rekurensi, dan terapi potensial,
sehingga meningkatkan konseling pasien dan mengoptimalkan hasil.1

Tes skrining pada trimester I (nuchal translucency, free ß-hCG dan


pregnancy associated plasma protein A [PAPP-A]) dan triple test pada trimester II
(-fetoprotein, Unconjugated Estradiol 3 dan ß-hCG) merupakan metode yang
sering dipakai untuk skrining kelainan kromosom. Prosedur standar (gold standard)
untuk diagnosis prenatal adalah dengan fetal karyotyping pada wanita hamil.
Diagnosis definitif ini membutuhkan pemeriksaan invasif yaitu Chorion Villus
Sampling (CVS) atau amniosentesis.2

1
Chorionic villus sampling telah dilakukan di United States sejak awal tahun
1980an dan dapat membantu penegakkan beberapa diagnosis prenatal maupun
kelainan genetik. Hasil karyotype yang didapatkan 99% akurat. Sebelum CVS
populer digunakan, diagnosis prenatal ditegakkan dengan pemeriksaan
amniosentesis. Namun, prosedur amniosentesis memiliki kekurangan karena hanya
dapat dilakukan saat usia kehamilan 15-18 minggu dan butuh waktu 7-10 hari untuk
kultur sel cairan amnion. Jika ditemukan abnormalitas fetus, pasien dihadapkan
pada pilihan yang sulit untuk melanjutkan atau mengakhiri kehamilan. Menunda
pilihan ini sampai pertengahan trimester akan lebih sulit lagi karena gerak janin
mulai muncul dan telah terbangun bonding antara ibu dan janin. Jika terminasi yang
dipilih, resiko kematian ibu 5 kali lebih tinggi dibandingkan terminasi pada
trimester pertama.3

Oleh karena hal tersebut, pusat-pusat studi mulai mencari prosedur baru
untuk diagnosis prenatal yang dapat dilakukan pada trimester pertama. Salah
satunya adalah CVS. Chorionic villus sampling dapat dilakukan pada usia
kehamilan 10-12 minggu, hasil sitogenetik dapat diketahui dalam 48 jam dan hasil
kultur akhir dalam 7 hari. Tidak boleh dilakukan sebelum usia kehamilan 10
minggu karena beresiko mengalami defek ekstremitas. Suatu studi kontemporer
telah membuktikan akurasi dari hasil laboratorium, reabilititas sampel dan
keamanan prosedur jika dilakukan setelah usia kehamilan 10 minggu dan oleh
operator yang berpengalaman. Ditambah lagi, pada dekade terakhir, jumlah
komplikasi dari prosedur CVS telah berkurang. Oleh karena itu, akhir-akhir ini
antusiasme terhadap CVS semakin meningkat.3

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Chorionic villus sampling (CVS) merupakan suatu prosedur prenatal invasif
yang dilakukan untuk mengetahui kelainan kromosom dan masalah genetik
tertentu pada trimester pertama. CVS biasanya dilakukan pada hari ke 70-91
setelah HPHT atau usia kehamilan antara 10-12 minggu. Dalam prosedur ini,
jaringan diambil dari vili (vascular fingers) korion, bagian plasenta, dan
diperiksa. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi anomali kromosom, defek gen
spesifik, dan aktivitas enzim yang abnormal dalam kehamilan terutama pada
penyakit keturunan.3

Gambar 2.1 Prosedur Chorionic Villus Sampling (CVS)

2.2 Anatomi Janin dalam Rahim


Saat usia kehamilan antara 9 sampai 12 minggu, gestasi belum memenuhi
kavum uterus. Kantung gestasi dikelilingi oleh membran korion tebal dan kasar
yang didalamnya terdapat kavum amniotik dan coelem ekstraembrionik.
Kavum amniotik berisi embrio dan ditutupi oleh membran amnion yang tipis
dan mobile. Coelom ekstraembrionik terletak antara membran korion dan
membran amnion, berisi cairan seperti mukus dan menghilang seiring

3
berkembangnya kantung amnion menuju korion dan kedua membran
mendekat.4

Gambar 2.2 Anatomi Janin dalam Rahim

Sebelum 9 minggu, vili korion menutupi seluruh permukaan luar kantung


gestasional. Seiring berlanjutnya pertumbuhan, kantung mulai mengisi kavum
uterus, dan sebagian besar vili mengalami regresi kecuali di bagian yang
menempel (implantasi), berhubungan dengan desidua basalis (Lihat gambar
2.3). Vili di daerah ini berproliferasi secara cepat membentuk korion
frondosum, atau komponen fetus dari plasenta. Antara usia gestasi 9-12
minggu, vili mengapung secara bebas di darah dalam ronga intervilus.4

4
Gambar 2.3 Diagram anatomi kehamilan trimester pertama

2.3 Indikasi
Bertahun-tahun, diagnosis prenatal bergantung pada analisis cairan amnion
fibroblas sebagai gambaran tidak langsung genetik fetus. Vilus korion menjadi
sumber jaringan yang tepat dan berguna untuk evaluasi penyakit genetik fetus.
Properti sitogenetik, molekular, dan biokemikalnya menggambar properti yang
terdapat pada fetus. Vilus sebagian terdiri dari sel sitotropoblas, yang menjadi
sumber mitosis spontan yang dapat digunakan pada analisis kromosomal. Vilus
dapat diambil dengan mudah tanpa membutuhkan puncture membran korion
atau amnion. Indikasi CVS pada dasarnya sama dengan amniosentesis, kecuali
analisis α-fetoprotein. Indikasi utama dapat di lihat di tabel 2.1. Usia ibu yang
sudah tua (lebih dari 35 tahun) merupakan indikasi paling umum, 90% dari
prosedur. Orang tua yang sebelumnya memiliki anak dengan abnormalitas
kromosom dan pasangan yang merupakan carrier translokasi kromosom atau
autosomal resesif penyakit biokimia atau molekular juga menjadi indikasi
CVS. Diagnosis prenatal trimester pertama sering diminta oleh perempuan

5
yang membawa penyakit terkait kromosom sex karena resiko 50%
diturunkannya pada keturunan laki-laki. Akhir-akhir ini, screening untuk
trisomi 21 dan 18 pada trimester pertama dapat dilakukan dengan
menggunakan kombinasi analisis biokimia (pregnancy associated plasma
protein A [PAPP-A] dan human chorionic gonadotropin [hCG]) dan
pengukuran translusensi nuchal fetus. Skrining positif dapat menjadi indikasi
utama CVS.5

Indikasi dilakukan CVS adalah :


1) Kehamilan pada wanita dengan usia ≥ 35 tahun.
2) Kehamilan sebelumnya menghasilkan keturunan yang mengalami kelainan
kromosom.
3) Adanya kelainan kromosom pada salah satu orang tua.
4) Adanya Down’s Syndrome atau kelainan kromosom lain pada anggota
keluarga dekat.
5) Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan adanya abnormalitas janin.
6) Pada anak sebelumnya mengalami kelainan bawaan yang berat.
7)
Ibu merupakan carrier untuk penyakit terkait kromosom seks (sex-linked
diseases).4

2.4 Kontraindikasi
Kontraindikasi untuk melakukan CVS adalah :
1) Ibu dengan infeksi aktif (sexual-transmitted disease).
2) Janin kembar, jika hasil CVS abnormal, tidak jelas fetus yang mana yang
terkena.
3) Riwayat perdarahan pervaginam selama kehamilan atau dengan
perdarahan pervaginam aktif.
4) Riwayat fibroid uterine.
5) Uterus anteversi atau retroversi ekstrim dan habitus tubuh pasien yang
menghambat kemudahan akses ke uterus.
6) Usia kehamilan kurang dari 10 minggu.4

6
Kontraindikasi untuk CVS transervikal meliputi :5
1) Polips serviks
2) Jalan pengambilan sampel yang melengkung berlebihan
3) Herpes genital atau infeksi lain yang aktif
4) Memiliki fibroid uterus
5) Memiliki uterus yang miring sehingga menghambat kateter

Kontraindikasi untuk CVS transabdominal :5


1) Terdapat usus diantara dinding abdomen dan plasenta (interceding bowel)
2) Plasenta terlalu jauh dari permukaan abdomen ibu (obesitas)

2.5 Teknik Pengambilan Sampel


Ada dua jenis teknik pengambilan sampel pada CVS yaitu teknik
transervikal dan transabdominal. Sebelum tindakan, dilakukan pemeriksaan
USG untuk mengkonfirmasi denyut jantung janin dan letak plasenta. Tentukan
posisi uterus dan serviks, bila uterus anteversi maka tambahan pengisian
kandung kemih dapat membantu untuk meluruskan posisi uterus, namun
hindari pengisian kandung kemih yang berlebihan karena dapat mendorong
uterus keluar dari rongga pelvis sehingga memperpanjang jarak untuk
mencapai tempat pengambilan sampel yang dapat mengurangi kelenturan yang
diperlukan untuk manipulasi kateter.5

7
Gambar 2.4 Lokasi plasenta

2.5.1 Prosedur Transervikal


Dalam prosedur ini, menggunakan polietilen kateter melalui
serviks dengan tuntunan USG menuju plasenta yang paling tebal. Jaringan
trofoblas diaspirasi melalui kateter ke dalam syringe. Dilakukan pada usia
kehamilan 10-12 minggu. Pasien dibaringkan dengan posisi litotomi,
antisepsis vulva dan vagina kemudian masukkan spekulum dan lakukan
hal yang sama pada serviks. Ujung distal kateter (3-5 cm) sedikit ditekuk
untuk membentuk lengkungan dan kateter dimasukkan ke dalam uterus
dengan tuntunan USG sampai pemeriksa melihat ujung kateter, kemudian
kateter dimasukkan sejajar dengan selaput korion ke tepi distal plasenta.
Keluarkan stylet dan pasang tabung penghisap 20 ml yang mengandung
medium nutrien. Jaringan vili yang terhisap ke dalam tabung dapat dilihat
dengan mata telanjang sebagai struktur putih yang terapung dalam media.
Kadang diperlukan mikroskop untuk mengkonfirmasi jaringan vili. Sering
jaringan desidua ibu juga ikut terambil, namun mudah dikenali sebagai
struktur yang amorf (tidak berbentuk).6

8
Gambar 2.5 Prosedur transervikal

2.5.2 Prosedur Transabdominal


Dalam prosedur ini, jarum dimasukkan melalui perut dan rahim ke
plasenta untuk mendapatkan sampel jaringan dengan panduan USG.
Prosedur ini dilakukan pada usia kehamilan 10 minggu sampai aterm.
Teknik transabdominal pertama kali diperkenalkan oleh Smid-Jensen dan
Hahnemann dari Denmark. Dengan tuntunan USG masukkan jarum spinal
ukuran 19 atau 20 ke dalam sumbu panjang plasenta. Setelah stylet
dikeluarkan, aspirasi vili ke dalam tabung 20 ml yang berisi media kultur
jaringan. Berhubung karena jarum yang dipakai lebih kecil dari kateter
servikal maka perlu dilakukan 3-4 kali gerakan maju mundur pada ujung
jarum terhadap jaringan plasenta agar jaringan vili dapat terambil.6

9
Gambar 2.6 Prosedur transabdominal

Setelah dilakukan pemeriksaan CVS, ibu dan janin perlu pemantauan tanda
vital dan denyut jantung janin secara berkala selama satu jam atau lebih. Hasil
jaringan CVS akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisa. Di laboratorium
vili-vili tersebut dicuci dan dibersihkan dengan media yang segar dan disortir
untuk membuang bekuan darah dan dilihat dengan mikroskop untuk
membuang semua desidua yang berasal dari ibu kemudian kultur dengan teknik
yang standar dengan memakai medium Chang. Pasien harus beristirahat di
rumah dan menghindari aktivitas berat selama minimal 24 jam setelah
pemeriksaan CVS dilakukan dan tidak boleh melakukan hubungan seksual
selama 2 minggu.5

10
Tabel 2.1 Perbedaan antara Prosedur Transervikal dan Prosedur
Transabdominal pada Chorionic Villus Sampling (CVS)

2.6 Hasil Pemeriksaan CVS


CVS merupakan tes diagnostik yang dapat mendeteksi kelainan dan
gangguan genetik dengan akurasi yang tinggi (98-99%). Walaupun
kemungkinan identifikasinya tinggi, tes ini tidak dapat mengukur beratnya
gangguan tersebut dan tes ini tidak dapat mengidentifikasi defek tabung saraf
(neural tube). Jika hasil CVS normal, artinya tidak terdapat tanda-tanda defek
genetik. Jika abnormal maka abnormalitas kromoson atau gangguan genetik
yang dapat dideteksi dapat berupa sindrom down, fibrosis kistik,
hemoglobinopati (anemia sickle cell), Tay-Sachs disease, sex linked disorders
(distrofi muskular). CVS dapat mendeteksi lebih dari 200 gangguan genetik.
Chorionic villus sampling juga dapat digunakan untuk tes paternitas (paternity
test) sebelum kelahiran. DNA diambil dari ayah potensial dan dibandingkan
dengan DNA bayi yang didapat dari CVS. Hasilnya akurat (99%) untuk
menentukan paternitas. False positif dapat ditemukan karena adanya mosaik
plasenta atau terkontaminasi sel ibu. CVS tidak dapat mendeteksi defek tabung
saraf, inkompatibilitas Rh dan defek kongenital.3

11
2.7 Komplikasi Tindakan
Beberapa komplikasi yang bisa timbul pada CVS adalah :
1) Perdarahan
Perdarahan pervaginam tidak umum terjadi setelah transabdominal (TA)
CVS, namun ditemukan 7%-10% pada pasien dengan prosedur transervikal
(TC). Flek minimal biasa terjadi dan dapat terjadi pada hampir sepertiga
perempuan dengan prosedur transervikal. Pada kebanyakan kasus, perdarahan
bersifat self limited dan outcome kehamilan baik. Hematoma subkorionik dapat
terlihat segera setelah pengambilan sampel pada 4% pasien. Hematoma
biasanya menghilang sebelum kehamilan 16 minggu dan jarang berkaitan
dengan outcome buruk. Kasus perdarahan hebat dan menyebabkan hematoma
terjadi akibat tak sengaja menempatkan kateter TC ke dalam desidua basalis
yang mendasari korion frondosum. Menghindari manipulasi yang tidak penting
dapat mencegah perdarahan dan meminimalisir komplikasi ini.3

2) Infeksi
Sejak perkembangan awal TC CVS, sudah dipahami bahwa memasukkan
instrumen melalui transvaginal akan membuat flora vaginal masuk ke uterus.
Kemungkinan ini telah dikonfirmasi dengan kultur bakteri dari kateter yang
digunakan pada CVS. Infeksi setelah TA CVS juga dapat terjadi pada beberapa
kasus akibat masuknya flora usus ke uterus melalui jarum. Namun, pada
praktek klinis, insiden korioamnionitis post-CVS sangat rendah. Pada
penelitian terbaru di US, infeksi yang mungkin menjadi penyebab abortus,
hanya terjadi pada 0,3% dari 2000 kasus TC CVS.3

3) Ketuban Pecah (Ruptur membrane)


Ketuban pecah akut diketahui baik dari keluarnya cairan banyak secara jelas
atau menurunnya cairan amnion pada evaluasi dengan USG. Ketuban pecah
merupakan komplikasi yang paling jarang. Ruptur dapat disebabkan trauma
mekanik pada korion saat pengambilan sampel atau iritasi dan inflamasi kronis
yang disebabkan hematoma pada infeksi tingkat rendah. Oligohidramnion

12
yang tidak dapat dijelaskan pada mid-trimester merupakan komplikasi yang
jarang pada TC CVS dan mungkin terjadi akibat ruptur korioamnion terlambat
dengan kebocoran cairan amnion yang lambat.3

4) Abortus
Tingkat kejadian abortus mulai dari waktu dilakukannya CVS sampai usia
kehamilan 28 minggu rata-rata adalah 2%-3%. Simpson et al melaporkan
bahwa 3,2% dari 220 perempuan dengan usia rata-rata 30 tahun mengalami
abortus. Karena kebanyakan perempuan yang menjalani CVS berusia lebih dari
35 tahun dan kejadian abortus spontan banyak terjadi di usia ibu yang tua,
variabel ini juga dipertimbangkan.3

5) Cacat anggota tubuh pada bayi


Akhir-akhir ini, CVS diduga berhubungan dengan terjadinya malformasi
fetus. Hal ini pertama kali dilaporkan oleh Firth et al, pada 539 kehamilan yang
menjalani prosedur CVS yang dilakukan saat usia kehamilan 66 hari atau lebih
awal, ditemukan 5 bayi dengan abnormalitas ekstremitas yang parah. Empat
dari bayi tersebut memiliki sindrom hipogenesis limb oromandibular
(oromandibular limb hypogenesis syndromes) dan bayi yang kelima
mengalami defek reduksi limb transversal (limb reduction defect).
Abnormalitas limb ini terjadi pada TA CVS yang dilakukan pada usia
kehamilan antara 55 sampai 66 hari. Sementara itu, Brambati et al melaporkan
pada kelompok yang menjalani CVS setelah usia kehamilan 9 minggu tidak
terjadi peningkatan resiko defek limb dan pada kelompok yang menjalani CVS
pada usia kehamilan 6-7 minggu dilaporkan terdapat peningkatan resiko defek
limb sekitar 1,6%.
Mekanisme bagaimana CVS menyebabkan defek limb masih belum
sepenuhnya dipahami, namun ada beberapa hipotesis yang diduga dapat
menjelaskan. Salah satu hipotesisnya adalah CVS dapat mengakibatkan trauma
atau vasospasm yang menyebabkan penurunan perfusi pada sirkulasi perifer
fetus. Kemudian terjadi ruptur dinding pembuluh darah di sirkulasi embrionik

13
distal menyebabkan hipoksia, nekrosis dan resorpsi struktur limb. CVS yang
dilakukan pada kehamilan < 9 minggu mempunyai resiko untuk reduksi
anggota gerak 10-20 kali lebih besar dibandingkan dengan CVS yang
dilakukan setelah usia > 11 minggu. Pengambilan sampel sebelum usia
kehamilan 10 minggu sebaiknya terbatas pada kasus tertentu dan pasien
sebaiknya diberitahu adanya resiko defek limb 1% atau lebih besar.7

Gambar 2.7 Oromandibular limb hypogenesis syndrome dan limb reduction


defects yang dapat terjadi setelah CVS sebelum usia gestasi 9 minggu.

Faktor yang dapat mengganggu CVS adalah :


1) Kehamilan lebih awal dari 7 minggu atau lebih dari 13 minggu
2) Posisi bayi, plasenta, jumlah cairan ketuban atau panggul ibu
3) Infeksi
4) Sampel yang tidak memadai untuk pengujian atau yang mengandung
jaringan maternal. Kontaminasi jaringan desidua ibu pada sampel yang
dikultur dapat memberikan hasil negatif palsu, dan hal ini sering terjadi
bila hanya sedikit sampel yang terambil.8

14
BAB III

KESIMPULAN

 Chorionic villus sampling (CVS) merupakan suatu prosedur prenatal invasive


yang dilakukan untuk mengetahui kelainan kromosom dan masalah genetik
tertentu pada trimester pertama. CVS biasanya dilakukan pada hari ke 70-91
setelah HPHT atau usia kehamilan antara 10-12 minggu.
 Indikasi dilakukan CVS adalah kehamilan pada wanita dengan usia ≥ 35 tahun,
kehamilan sebelumnya menghasilkan keturunan yang mengalami kelainan
kromosom, adanya kelainan kromosom pada salah satu orang tua, adanya
Down’s Syndrome atau kelainan kromosom lain pada anggota keluarga dekat,
ditemukan adanya abnormalitas janin pada pemeriksaan USG, riwayat anak
sebelumnya mengalami kelainan bawaan yang berat, ibu merupakan carrier
untuk penyakit terkait kromosom seks (sex-linked diseases).
 Kontraindikasi untuk melakukan CVS adalah ibu dengan infeksi aktif (sexual-
transmitted disease), janin kembar, riwayat perdarahan pervaginam selama
kehamilan, riwayat fibroid uterine, uterus anteversi atau retroversi ekstrim dan
habitus tubuh pasien yang menghambat kemudahan akses ke uterus.
 Ada dua jenis teknik pengambilan sampel pada CVS yaitu teknik transervikal
dan transabdominal.
 Komplikasi CVS meliputi perdarahan, infeksi, abortus, ketuban pecah, dan
cacat pada anggota tubuh janin.

15
REFERENSI

1. Cunningham, F Gary. Williams Obstetrics 25th Edition. New York :


McGraw-Hill, [2018].
2. Sidarta S, et al. Pemeriksaan Karyotyping pada Cairan Amnion Trimester
II-III Kehamilan untuk Deteksi Kelainan Kromosom. Majalah Obstetri &
Ginekologi, Mei – Agustus 2012(20): 77-83.
3. Evans MI, Andriole S. Chorionic villus sampling and amniocentesis in
2008. Curr Opin Obstet Gynecol 2008;20(1):164-8.
4. Jackson LG, Zachary JM, Fowler SE, et al. Randomized comparison of
transcervical and transabdominal chorionic villus sampling. N Engl J Med
1992;327:594-8.
5. Hahnemann N. Early prenatal diagnosis: a study of biopsy techniques and
cell culturing from extraembryonic membranes. Clin Genet 1974;6:294-
306.
6. Brambati B, Oldrini A, Lanzani A. Transabdominal and transcervical
chorionic villus sampling: efficiency and risk evaluation of 2,411 cases. Am
J Med Genet 1990;35: 160-4.
7. Firth HV, Boyd PA, Chamberlain PF, et al. Analysis of limb reduction
defects in babies exposed to chorionic villus sampling. Lancet
1994;343(8905):1069.
8. Simoni G, Brambati B, Danesino C, et al. Efficient direct chromosome
analyses and enzyme determinations from chorionic villi samples in the first
trimester of pregnancy. Hum Genet 1983;63:349.

16