Anda di halaman 1dari 7

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Rantai Pasok (Supply Chain) dan Manajemen Rantai


Pasok (Supply Chain Management)
Rantai pengadaan (supply chain) adalah suatu system tempat
organisasi menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para
pelanggan. Rantai ini juga merupakan jaringan atau jejaring dari berbagai
organisasi yang saling berhubungan yang memiliki tujuan yang sama yaitu
sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau penyaluran barang
tersebut (Indrajit dan Djokopranoto, 2014).
Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management) secara umum
dapat dijelaskan sebagai integrasi aktivitas-aktivitas yang berawal dari
pengadaaan barang dan jasa, mengubah bahan baku menjadi barang dalam
proses dan barang jadi, dan mengantarkan barang-barang tersebut kepada
para pelanggannya dengan cara yang efisien. Rantai pasok juga dapat
mengandung makna terjadinya aliran material dari awal sampai ke
konsumen dengan memperhatikan faktor ketepatan waktu, biaya, dan
jumlah produknya (Guritno dan Harsasi, 2010).
Manajemen operasi dan rantai pasokan (operations and supply chain
mangement) didefinisikan sebagai desain, operasi, dan peningkatan sistem
yang digunakan untuk menciptakan dan memperdagangkan produk dan
jasa utama perusahaan. Operasi merupakan proses manufaktur dan
pelayanan yang digunakan untuk mentransformasikan sumber daya yang
digunakan oleh suatu perusahaan menjadi produk yang diinginkan oleh
pelanggan. Rantai pasokan merupakan proses yang menggerakan
informasi dan bahan baku dari dan ke proses manufaktur dan pelayanan
perusahaan (Jacobs dan Chase, 2015).
2.2 Tujuan dan Manfaat Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain
Management)
Tujuan dari manajemen rantai pasokan yaitu mencapai biaya yang
minimum dan tingkat pelayanan yang maksimum. Manajemen rantai
pasok mempertimbangkan semua fasilitas yang berpengaruh terhadap
produk yang dihasilkan dan biaya yang diperlukan dalam memenuhi
kebutuhan konsumen. Aktivitas-aktivitas tersebut, meliputi pembelian dan
outsourcing activities ditambah dengan fungsi-fungsi lain yang akan
meningkatkan hubungan antara pemasok dan distributor (Guritno dan
Harsasi, 2010).
Manfaat dari manajemen rantai pasokan (Supply Chain Managemen)
adalah sebagai berikut (Paoki, dkk, 2016).
a. Kepuasan Pelanggan. Konsumen atau pengguna produk yang
merupakan target utama dari aktivitas proses produksi setiap produk
yang dihasilkan perusahaan. Konsumen atau pengguna yang dimaksud
dalam konteks ini tentunya konsumen yang setia dalam jangka waktu
yang panjang untuk menjadikan konsumen yang setia maka terlebih
dahulu konsumen harus puas dengan pelayanan yang disampaikan oleh
perusahaan.
b. Meningkatkan Pendapatan. Semakin banyak konsumen yang setia dan
menjadi mitra perusahaan berarti akan turut pula meningkatkan
pendapatan perusahaan, sehingga produk-produk yang dihasilkan
perusahaan tidak akan terbuang percuma karena diminati konsumen.
c. Menurunnya Biaya. Pengintegrasian aliran produk dari perusahan
kepada konsumen akhir berarti pula mengurangi biaya-biaya pada jalur
distribusi.
d. Pemanfaatan Aset semakin tinggi. Aset terutama faktor manusia akan
semakin terlatih dan terampil baik dari segi pengetahuan maupun
keterampilan. Tenaga manusia akan mampu memberdayakan
penggunaan teknologi tinggi sebagaimana yang dituntut dalam
pelaksanaan Supply Chain Management.
e. Peningkatan Laba. Dengan semakin meningkatnya jumlah konsumen
yang setia dan menjadi pengguna produk, pada gilirannya akan
meningkatkan laba perusahaan. Perusahaan semakin besar yang
mendapat keuntungan dari segi proses distribusi produknya lambat
laun akan menjadi bertumbuh pesat.

2.3 Keuntungan Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management)


Keuntungan yang didapatkan dari manajemen rantai pasokan yaitu
laba total untuk dibagikan melalui semua tingkatan rantai, semakin tinggi
keuntungan supply chain semakin sukses supply chain itu sendiri.
Beberapa keuntungan yang diperolreh dari manajemen rantai pasok adalah
sebagai berikut (Indrajit dan Djokopranoto, 2014).
a. Mengurangi inventory dengan berbagai cara. Inventory merupakan
bagian yang paling besar dari asset perusahaan, yang berkisar antara
30%-40%. Sedangkan biaya penyimpanan barang berkisar antara
20%-40% dari nilai barang yang disimpan. Oleh karena itu usaha dan
cara harus dikembangkan untuk menekan penimbunan barang dalam
gudang agar biaya dapat ditekan menjadi sedikit.
b. Menjamin kelancaran penyediaan barang. Kelancaran barang yang
diperlu dijamin adalah mulai dari barang asal, supplier, perusahaan
sendiri, wholesales, retailer sampai final costumer.
c. Menjamin mutu. Mutu barang jadi ditentukan tidak hanya oleh proses
produksinya namun juga oleh mutu bahan mentah dan mutu keamanan
dalam pengiriman. Jaminan mutu juga merupakan serangkaian mata
rantai panjang yang harus dikelola dengan baik.

2.4 Permasalahan dalam Manajemen Operasi dan Rantai Pasokan


Manajemen Operasi dan Rantai Pasokan merupakan suatu bidang
yang dinamis dan permasalahan yang muncul dalam perusahaan global
memberikan tantangan baru yang menarik untuk manajer operasional.
Tantangan utama yang akan dihadapi dalam manajemen operasi dan rantai
pasokan yaitu (Jacobs dan Chase, 2015).
a. Mengkoordinasikan hubungan antar organisasi yang berbeda yang
saling mendukung.
b. Mengoptimalkan jaringan pemasok, produksi dan distribusi global.
c. Mengelola titik sentuh pelanggan.
d. Meningkatkan kesadaran manajemen senior mengenai manajemen
organisasi dan rantai pasojan sebagai satu senjata kompepetitif yang
signifikan.
e. Kesinambungan dan triple bottom line.

2.5 Proses Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management)


Proses dari manajemen rantai pasok (supply chain management)
adalah koordinasi dari material, informasi dan arus keuangan diantara
perusahaan yang berpartisipasi. Berikut ini macam-macam aliran yang
dikelola dalam proses manajemen rantai pasok adalah sebagai berikut
(Pujawan, 2016).
a. Arus material, melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai
konsumen melalui rantai sama baiknya dengan arus balik dari retur
produk, layanan, daur ulang dan pembuangan.
b. Arus informasi, meliputi ramalah permintaan, transmisi pesanan dan
laporan status pesanan.
c. Arus keuangan, meliputi informasi kartu kredit, syarat kredit, jadwal
pembayaran dan penetapan kepemilikan dan pengirim.
Salah satu faktor kunci untuk mengoptimalkan supply chain adalah
dengan menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan
akurat diantara jaringan atau mata rantai tersebut dan pergerakan barang
yang efektif dan efisien yang menghasilkan kepuasan maksimal pada
pelanggan. Dengan tercapainya koordinasi dari rantai supply perusahaan,
maka tiap channel dari supply chain perusahaan tidak akan mengalami
kekurangan barang juga tidak sampai kelebihan barang terlalu banyak.
Dalam supply chain terdapat beberapa pemain utama yang memiliki
kepentingan di dalam arus barang antara lain yaitu suppliers, manufacture,
distributors, retail outlets dan customers. Proses mata rantai yang terjadi
antar pemain utama adalah sebagai berikut (Indrajit dan Djokopranoto,
2014).
a. Chain 1: Suppliers. Ini merupakan rantai mata yang pertama, yang
merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama dimana rantai
penyaluran barang akan dimulai. Bahan pertama ini bisa dalam
bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan,
suku cadang dan lainnya.
b. Chain 1-2: Suppliers – Manufacture. Ini merupakan rantai kedua,
dimana manufacture melakukan pekerjaan membuat, memfabrikasi,
merakit ataupun menyelesaikan barang (finishing). Hubungan dengan
rantai pertama ini sudah memiliki potensi untuk melakukan
penghematan misalnya, inventories bahan baku, bahan setengah jadi
yang merupakan target untuk penghematan.
c. Chain 1-2-3: Suppliers – Manufacture – Distribution. Rantai ketiga
ini dari barang yang sudah jadi dihasilkan oleh manufacture sudah
bisa disalurkan kepada konsumen, walaupun tersedia banyak cara
untuk menyalurkan barang ke konsumen yang umum adalah melalui
distributor dan ini biasanya ditempuh oleh sebagian besar supply
chain.
d. Chain 1-2-3-4: Suppliers – Manufacture – Distribution – Retail
Outlets. Pedagang besar biasanya memiliki gudang sendiri atau
menyewa pihak lain, gudang ini biasanya digunakan untuk menimbun
barang sebelum disalurkan lagi ke pihak pengecer. Rantai ketiga ini
merupakan kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam
bentuk jumlah inventories dan biaya gudang dengan cara melakukan
desain kembali pola pengiriman barang baik dari gudang manufacture
maupun ke toko pengecer (retail outlets).
e. Chain 1-2-3-4-5: Suppliers – Manufacture – Distribution – Retail
Outlets – Customers. Para pengecer biasanya menawarkan langsung
barangnya kepada konsumen, secara fisik dapat dikatakan bahwan
rantai ini merupakan rantai yang terakhir. Sebenarnya masih ada satu
mata rantai lagi yaitu pembeli (yang mendatangi retail outlet) karena
pembeli belum tentu pengguna sesungguhnya. Mata rantai supply baru
benar-benar berhenti setelah barang yang bersangkutan tiba di
pemakai langsung.

2.6 Kategorisasi Proses-Proses Operasi dan Rantai Pasokan


Perusahaan diposisikan di tempat-tempat yang berbeda dalam ranai
pasokan, dalam konteks posisinya seluruh perusahaan membutuhkan
proses perencanaan, pencarian sumber daya, pembuatan, pendistribusian
dan pengembalian. Penjelasan dari kategori proses-proses operasi dan
rantai pasokan adalah sebagai berikut (Jacobs dan Chase, 2015).
a. Perencanaan yaitu terdiri atas proses-proses yang dibutuhkan untuk
mengoperasikan secara strategis rantai pasokan yang sudah ada.
Perusahaanjuga harus menentukan bagaimana permintaan yang akan
terjadi terpenuhi dengan sumber daya yang tersedia. Aspek utama
perencanaan adalah pengembangan serangkaian metrik untuk
mengawasi rantai pasokan sehingga efisien dan memberikan kualitas
dan nilai yang tinggi terhadap pelanggan.
b. Pencarian sumber daya yaitu melibatkan pemilihan pemasok yang
akan memberikan produk dan jasa yang dibutuhkan untuk membuat
produk perusahaan. Serangkaian proses penetapan harga, penyaluran
dan pembayaran dibutuhkan bersama dengan metrik untuk mengawasi
dan meningkatkan hubungan antarmitra perusahaan. Proses-proses
tersebut antara lain menerima pengiriman, memverifikasinya,
memindahkannya ke fasilitas produksi dan mengotorisasikan
pembayaran pemasok.
c. Pembuatan yaitu ketika produk utama diproduksi atau jasa diberikan.
Tahapan ini membutuhkan proses penjadwalan bagi pekerja dan
koordinasi bahan baku dan sumber daya penting lain seperti peralatan
untuk mendukung pembuatan atau penyediaan jasa. Metrik yang
mengukur kecepatan, kualitas dan produktivitas pekerja digunakan
untuk mengawasi proses-proses ini.
d. Pendistribusian disebut juga proses logistik. Jasa pengangkut dipilih
untuk memindahkan produk ke gudang dan pelanggan,
mengoodinasikan dan menjadwalkan pergerakan barang dan informasi
melalui jaringan pasokan, mengembangkan dan mengoperasikan suatu
jaringan pergudangan, dan menjalankan sistem informasi yang
mengelola penerimaan pesanan dan pelanggan dan sistem penagihan
yang menagih pembayaran dari pelanggan.
e. Pengembalian merupakan proses penerimaan kembali produk-produk
yang using cacat, dan yang jumlahnya berlebih dari pelanggan dan
memberikan bantuan kepada pelanggan yang menyampaikan keluhan
terkait produk yang mereka terima.