Anda di halaman 1dari 23

Nama Penyakit

Kanker Kerongkongan
Definisi
Tumor non-kanker yang paling sering terjadi di kerongkongan adalah leiomioma, suatu tumor dari otot polos.
Ramalan penyakitnya (prognosis) baik sekali.

Kanker kerongkongan yang paling sering ditemukan adalah karsinoma, baik karsinoma sel skuamosa
(karsinoma epidermoid) maupun adenokarsinoma.
Kanker kerongkongan lainnya adalah limfoma (kanker limfosit), leiomiosarkoma (kanker otot polos
kerongkongan) dan kanker yang berasal dari bagian tubuh lainnya.

Kanker bisa terjadi di bagian manapun dari kerongkongan.


Bisa muncul sebagai suatu penyempitan dari kerongkongan, suatu benjolan atau suatu daerah datar yang
abnormal (plak).

Penyebab
Kanker kerongkongan lebih sering terjadi pada orang yang :
- kerongkongannya telah menyempit karena mereka pernah menelan larutan basa kuat, misalnya cairan untuk
pembersih
- menderita akalasia (keadaan dimana katup kerongkongan bagian bawah gagal membuka)
- memiliki sumbatan di kerongkongan, misalnya selaput kerongkongan
- menderita kanker kepala dan leher.

Merokok dan penggunaan alkohol juga meningkatkan resiko terjadinya kanker kerongkongan, terutama
karsinoma sel skuamosa.
Pada beberapa penderita, perubahan lapisan kerongkongan merupakan tanda pertama dari kanker. Perubahan ini
terjadi setelah irirtasi kerongkongan menahun oleh asam atau empedu.

Gejala
Karena kanker kerongkongan cenderung menyumbat jalannya makanan, maka gejala awalnya biasanya berupa
kesulitan menelan makanan padat.
Setelah beberapa minggu, keadaan ini berkembang dan penderita mengalami kesulitan dalam menelan makanan
lunak dan kemudian cairan. Akibatnya berat badannya menurun.

Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan foto rontgen yang disebut barium meal. Penderita menelan
larutan barium radioopak sehingga akan tampak pada foto rontgen kerongkongan, yang menandai daerah
penyumbatan.

Daerah abnormalnya juga sebaiknya diperiksa dengan endoskopi.


Selama endoskopi diambil contoh jaringan kerongkongan untuk pemeriksaan mikroskopis (biopsi) dan untuk
pemeriksaan sitologi (brush cytology).

Pengobatan
Kurang dari 5% penderita kanker kerongkongan bertahan hidup lebih dari 5 tahun. Banyak yang meninggal
dalam waktu 1 tahun setelah gejala pertama timbul.

Kemoterapi tidak menyembuhkan kanker kerongkongan, tapi bila digunakan baiksendiri maupun bersamaan
dengan terapi penyinaran, dapat menurunkan gejala dan memperpanjang harapan hidup.
Pembedahan untuk mengangkat tumor, bila masih memungkinkan, bisa mengurangi gejala untuk sementara, tapi
jarang menyembuhkan.

Pengobatan lain yang bisa meringankan gejala adalah:


- melebarkan daerah yang menyempit
- memasukan tabung untuk menjaga supaya kerongkongan tetap terbuka
- bypass tumor dengan menggunakan sepotong usus - terapi laser untuk menghancurkan jaringan kanker yang
menyumbat kerongkongan.

Pencegahan
Nama Penyakit
Kanker Kolorektal
Definisi
Di negara barat, kanker usus besar (kolon) dan rektum (kanker kolorektal) adalah jenis kanker no 2 yang paling
sering terjadi dan kanker penyebab kematian no 2.
Angka kejadian kanker kolorektal mulai meningkat pada umur 40 tahun dan puncaknya pada umur 60-75 tahun.

Kanker usus besar (kanker kolon) lebih sering terjadi pada wanita, kanker rektum lebih sering ditemukan pada
pria.
Sekitar 5% penderita kanker kolon atau kanker rektum memiliki lebih dari satu kanker kolorektum pada saat
yang bersamaan.

Kanker kolon biasanya dimulai dengan pembengkakan seperti kancing pada permukaan lapisan usus atau pada
polip. Kemudian kanker akan mulai memasuki dinding usus. Kelenjar getah bening di dekatnya juga bisa
terkena.
Karena darah dari dinding usus dibawa ke hati, kanker kolon biasanya menyebar (metastase) ke hati segera
setelah menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya.

Penyebab
Seseorang dengan riwayat keluarga menderita kanker kolon, memiliki resiko tinggi mengidap kanker.
Riwayat poliposis keturunan atau penyakit yang serupa juga meningkatkan resiko kanker kolon.
Penderita kolitis ulserativa atau penyakit Crohn memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker.
Resikonya berhubungan dengan usia penderita pada saat kelainan ini timbul dan lamanya penderita mengalami
kelainan ini.

Makanan memegang perananan penting dalam resiko kanker kolon, tetapi bagaimana caranya, tidak diketahui.
Di seluruh dunia, orang dengan resiko tertinggi adalah yang tinggal di perkotaan dan mengkonsumsi makanan
khas orang-orang barat yang kaya. Makanan tersebut rendah serat dan tinggi protein hewan, lemak dan
karbohidrat.
Resiko agaknya menurun dengan diet tinggi kalsium, vitamin D dan sayuran seperti toge Brusel, kubis dan
brokoli.

Gejala
Kanker kolorektal tumbuh perlahan dan memakan waktu yang lama sebelum menyebabkan gejala.
Gejalanya tergantung kepada jenis, lokasi dan penyebaran kanker.

Usus besar sebelah kanan (kolon asendens) memiliki diameter yang besar dan dinding yang tipis. Karena isinya
berupa cairan, kolon asendens tidak akan tersumbat sampai terjadinya stadium akhir kanker.
Tumor pada kolon asendens bisa begitu membesar sehingga dapat dirasakan melalui dinding perut.
Lemah karena anemia yang berat mungkin merupakan satu-satunya gejala.

Usus besar sebelah kiri (kolon desendens) memiliki diameter yang lebih kecil dan dinding yang lebih tebal dan
tinjanya agak padat.
Kanker cenderung mengelilingi bagian kolon ini, menyebabkan sembelit dan buang air besar yang sering, secara
bergantian.
Karena kolon desendens lebih sempit dan dindingnya lebih tebal, penyumbatan terjadi lebih awal. Penderita
mengalami nyeri kram perut atau nyeri perut yang hebat dan sembelit. Tinja bisa berdarah, tetapi lebih sering
darahnya tersembunyi, dan hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium.

Kebanyakan kanker menyebabkan perdarahan, tapi biasanya perlahan.


Pada kanker rektum, gejala pertama yang paling sering adalah perdarahan selama buang air besar. Jika rektum
berdarah, bahkan bila penderita diketahui juga menderita wasir atau penyakit divertikel, juga harus difikirkan
kemungkinan terjadinya kanker.
Pada kanker rektum, penderita bisa merasakan nyeri saat buang air besar dan perasaan bahwa rektumnya belum
sepenuhnya kosong. Duduk bisa terasa sakit. Tetapi biasanya penderita tidak merasakan nyeri karena kankernya,
kecuali kanker sudah menyebar ke jaringan diluar rektum

Diagnosa
Seperti kanker lainnya, pemeriksaan penyaringan rutin, membantu penemuan dini dari kanker kolorektal.
Tinja diperiksa secara mikroskopik untuk menghitung jumlah darah.
Untuk membantu meyakinkan hasil pemeriksaan yang tepat, penderita memakan daging merah tinggi serat
selama 3 hari sebelum pengambilan sampel tinja.
Bila pemeriksaan penyaringan ini menunjukan kemungkinan kanker, dibutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Sebelum dilakukan endoskopi, usus dikosongkan, seringkali dengan menggunakan pencahar dan beberapa
enema.
Sekitar 65% kanker kolorektal dapat dilihat dengan sigmoidoskop.
Bila terlihat polip yang mungkin ganas, seluruh usus besar diperiksa dengan kolonoskopi, yang daya jangkaunya
lebih panjang. Beberapa pertumbuhan yang terlihat ganas diangkat dengan menggunakan alat bedah melalui
kolonoskopi, pertumbuhan lainnya harus diangkat dengan pembedahan biasa.

Pemeriksaan darah dapat membantu dalam menegakkan diagnosis.


Pada 70% orang yang menderita kanker kolorektal, kadar antigen karsinoembriogenik dalam darahnya tinggi.
Bila sebelum kanker diangkat kadar antigen ini tinggi, maka sesudah pembedahan kadarnya bisa turun. Pada
kunjungan berikutnya, kadar antigen ini diukur kembali; jika kadarnya meningkat berarti kanker telah kambuh
kembali.
Bisa juga dilakukan pengukuran 2 antigen lainnya, yaitu CA19-9 dan CA 125, yang mirip dengan antigen
karsinoembbriogenik.

Pengobatan
Pengobatan utama pada kanker kolorektal adalah pengangkatan bagian usus yang terkena dan sistem getah
beningnya.
30% penderita tidak dapat mentoleransi pembedahan karena kesehatan yang buruk, sehingga beberapa tumor
diangkat melalui elektrokoagulasi. Cara ini bisa meringankan gejala dan memperpanjang usia, tapi tidak
menyembuhkan tumornya.
Pada kebanyakan kasus kanker kolon, bagian usus yang ganas diangkat dengan pembedahan dan bagian yang
tersisa disambungkan lagi.

Untuk kanker rektum, jenis operasinya tergantung pada seberapa jauh jarak kanker ini dari anus dan seberapa
dalam dia tumbuh ke dalam dinding rektum.
Pengangkatan seluruh rektum dan anus mengharuskan penderita menjalani kolostomi menetap (pembuatan
hubungan antara dinding perut dengan kolon). Dengan kolostomi, isi usus besar dikosongkan melalui lubang di
dinding perut ke dalam suatu kantung, yang disebut kantung kolostomi.

Bila dimungkinkan, rektum yang diangkat hanya sebagian, dan menyisakan ujung rektum dan anus. Kemudian
ujung rektum disambungkan ke bagian akhir dari kolon.

Terapi penyinaran setelah pengangkatan tumor, bisa membantu mengendalikan pertumbuhan tumor yang tersisa,
memperlambat kekambuhan dan meningkatkan harapan hidup.
Pengangkatan tumor dan terapi penyinaran, efektif untuk penderita kanker rektum yang disertai 1-4 kanker
kelenjar getah bening. Tetapi kurang efektif pada penderita kanker rektum yang memiliki lebih dari 4 kanker
kelenjar kelenjar getah bening.

Jika kanker kolorektal telah menyebar dan tampaknya pembedahan tidak membantu penyembuhan, bisa
dilakukan kemoterapi dengan florourasil dan levamisol, yang bisa meningkatkan harapan hidup.

Bila kanker kolorektal telah begitu menyebar sehingga tidak dapat diangkat seluruhnya, pembedahan untuk
meringankan penyumbatan usus, bisa meringankan gejala. Tetapi harapan hidupnya hanya sekitar 7 bulan.
Jika kanker telah menyebar hanya ke hati, obat kemoterapi dapat disuntikan langsung ke dalam pembuluh darah
yang menuju ke hati. Meskipun mahal, pengobatan ini bisa memberikan lebih banyak keuntungan daripada
kemoterapi yang biasa. Tetapi pengobatan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Bila kanker telah
menyebar di luar hati, pengobatan ini tidak efektif lagi.

Setelah kanker kolorektal diangkat seluruhnya melalui pembedahan, dilakukan kolonoskopi untuk memeriksa
usus yang tersisa, sebanyak 2-5 kali setiap tahunnya.Bila pemeriksaan ini tidak menunjukkan adanya kanker,
pemeriksaan berikutnya dilakukan setiap 2-3 tahun sekali.

Penyebaran kanker & angka harapan hidup penderita kanker kolorektal

Penyebaran kanker Angka harapan hidup 5


Kanker hanya menyebar ke lapisan mukosa usus tahun
90%
Kanker menyusup ke dalam lapisan otot usus 80%
Kanker menyebar ke kelanjar getah bening 30%

Pencegahan
Nama Penyakit
Kanker Lambung
Definisi
Tumor jinak di lambung agaknya tidak menimbulkan gejala atau masalah medis. Tetapi kadang-kadang,
beberapa mengalami perdarahan atau berkembang menjadi kanker.

Sekitar 99% kanker lambung adalah adenokarsinoma.


Kanker lambung lainnya adalah leiomiosarkoma (kanker otot polos) dan limfoma.

Kankler lambung lebih sering terjadi pada usia lanjut.


Kurang dari 25 % kanker tertentu terjadi pada orang di bawah usia 50 tahun.
Di Cina, Jepang, Cili dan Iceland, kanker lambung sering sekali ditemukan.
Di AS, lebih sering terjadi pada orang miskin, orang kulit hitam dan orang yang tinggal di utara. Dan merupakan
penyebab kematian no 7, yang terjadi pada sekitar 8 dari setiap 100.000 orang.

Penyebab
Kanker lambung sering dimulai pada sisi dimana lapisan lambung meradang. Tetapi banyak ahli yakin bahwa
peradangan adalah akibat dari kanker lambung, bukan sebagai penyebab kanker.
Beberapa ahli berpendapat, ulkus gastrikum bisa menyebabkan kanker. Tapi kebanyakan penderita ulkus dan
kanker lambung, kemungkinan sudah mengidap kanker yang tidak terdeteksi sebelum tukaknya terbentuk.

Helicobacter pylori, kuman yang memegang peranan penting dalam ulkus duodenalis, juga bisa berperan dalam
terjadinya kanker lambung.

Polip lambung, suatu pertumbuhan jinak yang berbentuk bundar, yang tumbuh ke dalam rongga lambung,
diduga merupakan pertanda kanker dan oleh karena itu polip selalu diangkat.
Kanker mungkin terjadi bersamaan dengan jenis polip tertentu, yaitu polip yang lebih besar dari 1,8 cm atau
polip yang jumlahnya lebih dari 1.

Faktor makanan tertentu diperkirakan berperan dalam pertumbuhan kanker lambung.


Faktor-faktor ini meliputi :
- asupan garam yang tinggi
- asupan karbohidrat yang tinggi
- asupan bahan pengawet (nitrat) yang tinggi
- asupan sayuran hijau dan buah yang kurang.
Tetapi tidak satupun dari faktor-faktor tersebut yang telah terbukti menyebabkan kanker.

Gejala
Pada stadium awal kanker lambung, gejalanya tidak jelas dan sering tidak dihiraukan.
Jika gejalanya berkembang, bisa membantu menentukan dimana lokasi kanker lambung tersebut. Sebagai
contoh, perasaan penuh atau tidak nyaman setelah makan bisa menunjukkan adanya kanker pada bagian bawah
lambung.

Penurunan berat badan atau kelelahan biasanya disebabkan oleh kesulitan makan atau ketidakmampuan
menyerap beberapa vitamin dan mineral.

Anemia bisa diakibatkan oleh perdarahan bertahap yang tidak menyebabkan gejala lainnya.
Kadang penderita juga bisa mengalami muntah darah yang banyak (hematemesis) atau mengeluarkan tinja
kehitaman (melena).

Bila kanker lambung bertambah besar, mungkin akan teraba adanya massa pada dinding perut.
Pada stadium awal, tumor lambung yang kecil bisa menyebar (metastasis) ke tempat yang jauh.
Penyebaran tumor bisa menyebabkan pembesaran hati, sakit kuning (jaundice), pengumpulan cairan di perut
(asites) dan nodul kulit yang bersifat ganas.
Penyebaran kanker juga bisa menyebabkan pengeroposan tulang, sehingga terjadi patah tulang.

Diagnosa
Gejala kanker lambung bisa dikelirukan dengan tukak lambung.
Bila gejala tidak hilang setelah penderita minum obat untuk ulkus atau bila gejalanya meliputi penurunan berat
badan, maka dicurigai suatu kanker lambung.

Pemeriksaan rontgen yang menggunakan barium untuk menandai perubahan di permukaan lambung sering
dilakukan, tetapi jarang bisa menemukan kanker lambung yang kecil dan dalam stadium awal.

Endoskopi adalah prosedur diagnostik yang paling baik karena :


- memungkinkan dokter melihat lambung secara langsung
- bisa mencari adanya Helicobacter pylori, kuman yang berperan dalam kanker lambung
- bisa mengambil contoh jaringan untuk pemeriksaan mikroskopis.

Pengobatan
Polip lambung jinak diangkat dengan menggunakan endoskopi.

Bila karsinoma ditemukan di dalam lambung, pembedahan biasanya dilakukan untuk mencoba
menyembuhkannya.
Sebagian besar atau semua lambung dan kelenjar getah bening di dekatnya ikut diangkat.

Bila karsinoma telah menyebar ke luar dari lambung, tujuan pengobatannya adalah untuk mengurangi gejala dan
memperpanjang harapan hidup.
Kemoterapi dan terapi penyinaran bisa meringankan gejala.
Hasil kemoterapi dan terapi penyinaran pada limfoma lebih baik daripada karsinoma. Mungkin penderita akan
bertahan hidup lebih lama bahkan bisa sembuh total.

Pencegahan
Nama Penyakit
Kanker usus halus
Definisi
Kebanyakan tumor usus halus adalah jinak.
Tumor ganas yang kurang sering ditemukan meliputi karsinoma, limfoma dan tumor karsinoid.

TUMOR JINAK

Tumor jinak pada usus halus meliputi:


- Lipoma (sel-sel lemak)
- Neurofibroma (sel-sel saraf)
- Fibroma (jaringan ikat)
- Leiomioma (sel-sel otot).

Kebanyakan tumor jinak tidak menyebabkan gejala. Tetapi tumor yang berukuran besar bisa menyebabkan
terdapatnya darah salam tinja, penyumbatan usus (sebagian atau total), atau penjeratan usus bila satu bagian usus
masuk ke usus yang berada di depannya (intususepsi).

Bisa dilakukan pemeriksaan endoskopi untuk mengamati tumor dan mengambil contoh untuk pemeriksaan
mikroskopik.
Foto rontgen barium dapat menunjukkan seluruh usus halus dan bisa digunakan untuk menggambarkan keadaan
tumor.

Arteriografi (foto rontgen yang diambil setelah zat warna disuntikkan ke dalam pembuluh darah) bisa dilakukan
pada pembuluh darah usus, terutama bila tumornya berdarah.
Teknetium radioaktif bisa disuntikkan ke dalam pembuluh darah dan dilihat hasilnya pada foto rontgen. Prosedur
ini membantu menentukan lokasi dari tumor yang berdarah.

Perdarahan kemudian dikoreksi dengan pembedahan.


Pertumbuhan kecil bisa dihancurkan melalui endoskopi dengan elektrokauter, panas atau fototerapi laser.

Untuk pertumbuhan yang besar, mungkin perlu dilakukan pembedahan.

TUMOR GANAS

Karsinoma pada usus halus jarang terjadi. Tetapi lebih sering terjadi pada penderita penyakit Crohn di usus
halus.

Limfoma, kanker yang terjadi pada sistem getah bening, bisa tumbuh pada bagian tengah usus halus (jejunum)
atau bagian bawah usus halus (ileum).
Limfoma bisa menyebabkan bagian usus menjadi kaku dan memanjang. Kanker ini lebih sering ditemukan pada
penderita penyakit seliak.

Usus halus, terutama ileum, adalah bagian yang paling sering terkena tumor karsinoid.
Tumor bisa menyebabkan penyumbatan dan perdarahan ke dalam usus, yang bisa menimbulkan gejala berupa
darah dalam tinja, nyeri kram perut, perut menggelembung dan muntah.
Tumor karsinoid bisa mengeluarkan hormon yang menyebabkan diare dan kemerahan di kulit.

Diagnosis kanker usus halus dibuat berdasarkan hasil foto rontgen barium, endoskopi atau pembedahan
eksplorasi.

Pengobatan terbaik adalah pengangkatan tumor.


Sarkoma Kaposi

Sarkoma Kaposi yang sangat ganas, terutama terjadi di Afrika dan pada penerima organ cangkokan serta
penderita AIDS.
Tumor ini bisa dimulai di bagian usus mana saja, tetapi biasanya dimulai dari lambung, usus halus atau di akhir
usus besar.

Walaupun biasanya tidak menimbulkan gejala, penderita bisa mengalami diare dan tinjanya bisa mengandung
protein dan darah.
Bisa terjadi intususepsi (masuknya sebagian usus ke dalam usus di dekatnya), cenderung menyumbat usus dan
menghentikan aliran darah ke usus, sehingga perlu dilakukan pembedahan darurat.

Sarkoma Kaposi juga bisa muncul sebagai bintik merah keunguan di kulit.

Untuk memperkuat diagnosis, perlu dilakukan pembedahan eksplorasi.

Pengobatannya adalah pengangkatan tumor melalui pembedahan.

Penyebab
Gejala
Diagnosa
Pengobatan
Pencegahan
Nama Penyakit
Kantong Kerongkongan
Definisi
Kantong Kerongkongan (Divertikula) merupakan penonjolan kerongkongan abnormal, yang kadang
menyebabkan kesulitan menelan.

Ada tiga jenis kantung esofagus :


1. Kantung Faringeal atau divertikulum Zenker
2. Kantung Midesofageal atau divertikulum traksi
3. Kantung Epifrenik.

Penyebab
Setiap jenis kantong kerongkongan memiliki penyebab yang berbeda, tapi kemungkinan semuanya berhubungan
dengan penelanan dan relaksasi otot yang tidak terkoordinasi, seperti yang terjadi pada kelainan akalasia dan
kejang kerongkongan yang tersebar.

Gejala
Kantong yang besar dapat terisi dengan makanan yang kemudian bisa dimuntahkan pada saat penderita
berbaring atau membungkuk. Hal ini dapat menyebabkan makanan terhirup ke dalam paru-paru ketika tidur dan
terjadilah pneumonia aspirasi.

Kadang kantung kerongkongan ini bisa membesar dan menyebabkan kesulitan menelan.

Diagnosa
Untuk menegakkan diagnosis kantong kerongkongan, biasanya dilakukan pemeriksaan sineradiograf yang
dilakukan selama penderita menelan barium.

Pengobatan
Biasanya tidak diperlukan pengobatan.
Jika terdapat gangguan dalam proses menelan atau terjadi aspirasi ke dalam paru-paru, bisa dilakukan
pembedahan untuk mengangkat kantung kerongkongan.

Pencegahan
Nama Penyakit
Kejang Kerongkongan Yang Tersebar
Definisi
Kejang Kerongkongan Yang Tersebar (Spasme Esofageal Difusa, Rosary Bead, Corckscrew Esophagus) adalah
kelainan gerakan mendorong (gerakan peristaltik) pada kerongkongan, yang disebabkan oleh kegagalan
pemakaian (malfungsi) saraf-sarafnya.

Penyebab
Gerakan mendorong normal yang menggerakkan makanan melewati kerongkongan, bergantian secara berkala
dengan kontraksi tanpa dorongan.
Pada 30% penderita, katup kerongkongan bawah membuka dan menutup secara abnormal.

Gejala
Kejang otot di sepanjang kerongkongan dirasakan sebagai nyeri dada di bawah tulang dada, yang disertai dengan
kesulitan menelan cairan maupun makanan padat.
Nyeri juga timbul pada malam hari dan bisa terasa sangat hebat sehingga membangunkan penderita dari
tidurnya.

Carian yang sangat panas atau dingin dapat memperburuk rasa nyeri.
Setelah beberapa tahun, kelainan ini bisa berkembang menjadi akalasia.

Kejang kerongkongan yang tersebar juga dapat menyebabkan nyeri yang hebat tanpa disertai kesulitan menelan.
Nyeri ini, sering digambarkan sebagai nyeri yang memeras di bawah tulang dada, dapat terjadi sewaktu berolah
raga atau beraktivitas, sehingga sulit untuk membedakannya dengan angina (nyeri dada yang disebabkan
penyakit jantung).

Diagnosa
Pemeriksaan rontgen yang diambil ketika penderita menelan barium, dapat memperlihatkan bahwa makanan
tidak bergerak secara normal di sepanjang kerongkongan dan kontraksi dinding kerongkongan tidak teratur.

Pemeriksaan skintigrafi kerongkongan (pemeriksaan untuk menunjukkan pergerakan makanan yang sudah diberi
label zat radioaktif), digunakan untuk mendeteksi gerakan abnormal dari makanan yang melewati kerongkongan.

Pengukuran tekanan (manometri) merupakan pemeriksaan yang paling sensitif dan paling terperinci untuk
kejang kerongkongan.
Jika pemeriksaan ini tidak meyakinkan, manometri bisa digunakan setelah penderita makan atau menelan
edrofonium untuk merangsang kejang yang disertai nyeri.

Pengobatan
Nitrogliserin (nitrat yang masa kerjanya lama), anti kolinergik (misalnya disiklomin) atau penghambat saluran
kalsium (contohnya nifedipin), dapat meringankan gejala-gejalanya.
Kadang-kadang diperlukan obat pereda nyeri (analgetik) yang kuat.

Menggelembungkan sebuah balon di dalam kerongkongan atau memasukan alat pelebar yang terbuat dari logam
(untuk melebarkan kerongkongan) bisa membantu meringankan gejala.
Jika pengobatan-pengobatan tersebut tidak efektif, mungkin lapisan otot sepanjang kerongkongan harus dipotong
melalui pembedahan.

Pencegahan

Nama Penyakit
Keracunan Bahan Kimia Dalam Makanan
Definisi
Keracunan bahan kimia dalam makanan merupakan akibat dari memakan tanaman atau hewan yang
mengandung racun.

KERACUNAN JAMUR (CENDAWAN)

Keracunan jamur dapat diakibatkan karena makan satu dari beberapa jenis dari jamur yang ada.
Kekuatan racunnya bervariasi tergantung kepada:
- jenis jamur
- musim pertumbuhan jamur
- cara memasak jamur.

Pada keracunan yang disebabkan oleh Inocybe dan Clitocybe, bahan yang berbahaya adalah muskarin.

Gejala yang timbul beberapa menit sampai 2 jam setelah makan, bisa berupa:
- peningkatan produksi air mata dan air liur
- pupil yang mengecil
- berkeringat
- muntah
- kram perut
- diare
- pusing
- linglung
- koma
- kejang (kadang-kadang).

Dengan pengobatan yang tepat, biasanya akan terjadi penyembuhan dalam waktu 24 jam, meskipun bisa terjadi
kematian dalam waktu beberapa jam.

Keracunan faloidin yang disebabkan karena memakan Amanita phalloides, gejalanya timbul dalam 6-24 jam.
Gejala-gejala saluran pencernaan yang timbul mirip dengan keracunan muskarin, dan kerusakan ginjal bisa
menyebabkan berkurangnya produksi air kemih atau tidak ada sama sekali.
Sakit kuning karena kerusakan hati akan muncul dalam 2-3 hari.
Kadang-kadang gejala akan hilang dengan sendirinya, tetapi hampir 50% penderita akan meniggal dalam 5-8
hari.

KERACUNAN TANAMAN DAN SEMAK-SEMAK

Keracunan akibat tanaman dan semak-semak terjadi karena makan daun-daunan dan buah-buahan dari tanaman
dan semak-semak liar.
Akar hijau dan akar yang bertunas mengandung solanin, yang bisa menyebabkan mual ringan, muntah, diare dan
kelemahan.
Fava beans menyebabkan pemecahan sel-sel darah merah (favisme), biasanya merupakan kelainan yang
diturunkan.
Keracunan ergot dapat disebabkan karena makan gandum yang tercemar oleh jamur Claviceps purpures.
Buah dari pohon Koenig menyebabkan muntah Jamaika.
KERACUNAN MAKANAN LAUT

Keracunan makanan laut bisa disebabkan oleh ikan bertulang atau kerang.
Biasanya keracunan ikan merupakan akibat dari 3 jenis racun, yaitu siguatera, tetraodon atau histamin.

Keracunan siguatera dapat terjadi setelah makan salah satu dari ebih dari 400 jenis ikan dari pantai tropik di
Florida, India Barat atau Pasifik.
Toksin dihasilkan oleh dinoflagelata, suatu organisme laut yang sangat kecil, yang dimakan oleh ikan dan
terkumpul di dalam dagingnya. Ikan yang lebih besar dan lebih tua lebih berracun daripada ikan yang lebih kecil
dan lebih muda.
Gejala bisa dimulai dalam 2-8 jam setelah makan ikan. Kram perut, mual, muntah, dan diare dapat terjadi selama
6-17 jam. Selanjutnya akan timbul gatal-gatal, perasaan seperti tertusuk jarum, sakit kepala, nyeri otot, perasaan
panas dan dingin yang silih berganti dan nyeri di daerah wajah.

Gejala dari keracunan tetraodon dari ikan puffer, yang paling banyak ditemukan di perairan Jepang, sama dengan
keracunan siguareta.
Kematian dapat terjadi akibat dari kelumpuhan otot-otot pernafasan.

Keracunan histamin dari ikan makerel, tuna dan lumba-lumba biru (mahimahi), terjadi jika jaringan ikan yang
rusak setelah ditangkap, menghasilkan histamin dalam jumlah yang besar.
Jika dimakan, histamin akan segera menyebabkan kemerahan di muka. Juga bisa timbul mual, muntah, nyeri
perut dan kaligata (urtikaria) yang terjadi beberapa menit setelah makan ikan tersebut.
Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung kurang dari 24 jam.

Dari Juni sampai Oktober, terutama di pantai Pasifik dan New England, kerang-kerangan (remis, remis besar,
tiram) dapat memakan dinoflagelata yang mengandung racun. Dinoflagelata ini ditemukan dalam jumlah besar
di lautan pada waktu-waktu tertentu, dimana air tampak berwarna merah, dan disebut pasang merah.
Mereka menghasilkan toksin yang menyerang saraf (neurotoksin) dan menyebabkan keracunan kerang paralitik.
Toksin ini akan tetap ada, bahkan setelah kerang tersebut dimasak.
Gejala awalnya berupa rasa tertusuk-tusuk jarum di sekitar mulut, dimulai dalam 5-30 menit setelah makan.
Selanjutnya timbul mual, muntah dan kram perut. Sekitar 25% penderita mengalami kelemahan otot dalam
beberapa jam berikutnya. Kadang-kadang kelemahan ini berkembang menjadi kelumpuhan pada lengan dan
tungkai.
Kelemahan pada otot-otot pernafasan, kadang sedemikian beratnya sehingga menyebabkan kematian.

KERACUNAN BAHAN-BAHAN PENCEMAR

Keracunan bahan-bahan pencemar bisa menyerang orang-orang yang memakan :


- buah-buahan dan sayur-sayuran yang tidak dicuci, yang disemprot dengan arsen, timah hitam atau insektisida
organik
- larutan asam yang disimpan dalam wadah tembikar yang dilapisi timah hitam
- makanan yang disimpan dalam wadah yang dilapisi kadmium.

SINDROMA RUMAH MAKAN CINA

Sindroma Rumah Makan Cina bukan merupakan suatu keracunan bahan kimia dalam makanan. Hal ini lebih
mengarah kepada reaksi hipersensitivitas terhadap monosodium glutamat (MSG), suatu penyedap rasa yang
sering digunakan dalam masakan Cina.
Pada orang-orang yang sensitif, MSG bisa menyebabkan tekanan pada wajah, nyeri dada dan rasa terbakar di
seluruh tubuh.
Jumlah MSG yang bisa menyebabkan gejala-gejala tersebut, bervariasi pada setiap orang.
Penyebab
Gejala
Diagnosa
Pengobatan
Untuk mengeluarkan racun dari tubuh, biasanya dilakukan pencucian lambung (lavase lambung, bilas lambung).

Obat-obatan seperti sirup ipekak dapat digunakan untuk merangsang muntah dan obat pencahar digunakan untuk
mengosongkan usus.

Jika muntah dan mual berlangsung terus menerus, maka diberikan cairan intravena (melalui pembuluh darah)
yang mengandung gula dan garam untuk memperbaiki dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit.

Pereda nyeri mungkin diperlukan bila kram perut sangat hebat.

Mungkin juga diperlukan alat bantu nafas dan perawatan di ruang intensif.

Siapapun yang menjadi sakit setelah makan jamur yang tidak dikenal, harus mencoba untuk segera muntah dan
memeriksakan muntahannya ke laboratorium, karena jamur yang berbeda memerlukan penanganan yang berbeda
pula.
Atropin diberikan untuk keracunan muskarin.
Pada keracunan faloidin, diberikan makanan yang mengandung banyak karbohidrat dan infus cairan dekstrosa
dan natrium klorida, yang akan membantu memperbaiki kadar gula yang rendah dalam darah (hipoglikemia)
yang disebabkan oleh kerusakan hati.
Manitol, yang diberikan melalui infus, kadang-kadang digunakan untuk mengatasi keracunan siguatera yang
berat.
Anti-histamin (penghalang histamin) diberikan untuk mengurangi gejala-gejala karena keracunan histamin dari
ikan.

Pencegahan
Nama Penyakit
Keracunan Makanan
Karena Clostridium perfringen
Definisi
Gastroenteritis ini disebabkan karena memakan makanan yang tercemar oleh toksin (racun) yang dihasilkan oleh
bakteri Clostridium perfringens.

Beberapa strain klostridium menyebabkan penyakit ringan sampai sedang yang membaik tanpa pengobatan.
Strain yang lainnya menyebabkan gastroenteritis berat, yang sering berakibat fatal.

Beberapa racun tidak dapat dirusak oleh perebusan, yang lainnya dapat.
Daging yang tercemar biasanya merupakan penyebab terjadinya keracunan makanan karena Clostridium
perfringens.

Penyebab
Toksin yang dihasilkan bakteri Clostridium perfringens.

Gejala
Gastroenteritis yang terjadi biasanya ringan meskipun dapat menjadi berat dengan gejala berupa:
- nyeri perut
- perut kembung karena penimbunan gas
- diare berat
- dehidrasi
- syok.

Diagnosa
Diduga suatu keracunan makanan karena Clostridium perfringens, jika terjadi wabah lokal di suatu daerah.
Diagnosis ini diperkuat dengan melakukan pemeriksaan pada makanan yang tercemar.

Pengobatan
Penderita diberi cairan dan dianjurkan untuk istirahat.

Pada kasus yang berat, diberikan penisilin.

Jika penyakit ini sudah merusak bagian dari usus halus, mungkin perlu diangkat melalui pembedahan.

Pencegahan
Nama Penyakit
Keracunan Makanan Yang Mengandung Stafilokokus
Definisi
Keracunan Makanan Yang Mengandung Kuman Stafilokokus adalah keracunan akibat memakan makanan yang
terkontaminasi oleh racun dari beberapa tipe Staphylococcus, yang menyebabkan diare dan muntah.

Penyebab
Racun dari bakteri Staphylococcus

Resiko untuk terjadinya penyakit ini tinggi bila pengelola makanan yang menderita infeksi mencemari makanan,
yang kemudian dibiarkan dalam suhu ruangan, sehingga memungkinkan bakteri tumbuh dan menghasilkan
racunnya dalam makanan tersebut.
Makanan yang sering tercemar adalah puding, kue-kue kecil yang mengandung krim, susu, daging olahan dan
ikan.

Gejala
Gejala biasanya dimulai secara tiba-tiba dengan mual yang hebat dan muntah-muntah, sekitar 2-8 jam setelah
makan makanan yang tercemar.

Gejala lainnya berupa kram perut, diare dan kadang-kadang sakit kepala dan demam.

Kehilangan cairan dan elektrolit dapat menyebabkan kelemahan dan tekanan darah yang rendah (syok).

Gejala biasanya berlangsung selama kurang dari 12 jam dan penyembuhannya sempurna.
Kadang-kadang keracunan makanan dapat berakibat fatal, terutama bila terjadi pada anak-anak, orang tua dan
orang dengan kondisi lemah karena sakit menahun.

Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.
Biasanya orang yang memakan makanan yang sama akan mengalami hal serupa dan kelainan ini bisa mengarah
kepada satu sumber pencemaran.

Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk menemukan stafilokokus dalam
makanan yang dicurigai.

Pemeriksaan mikroskopik terhadap bahan muntahan juga dapat dilakukan untuk mencari stafilokokus.

Pengobatan
Pengobatan biasanya terdiri dari minum banyak cairan.

Bila gejalanya berat, dapat diberikan suntikan atau supositoria (obat yang dimasukkan melalui lubang dubur)
untuk mengendalikan rasa mual.
Bila infus cairan dan elektrolit diberikan segera, penyembuhan akan cepat terjadi.

Pencegahan
Mempersiapkan makanan dengan baik dapat mencegah terjadinya keracunan ini.
Siapapun yang menderita infeksi di kulitnya karena stafilokokus (misalnya bisul atau impertigo), tidak boleh
memasak sampai infeksinya teratasi.

Nama Penyakit
Kolitis Hemoragika
Definisi
Kolitis Hemoragika adalah salah satu bentuk dari gastroenteritis yang disebabkan oleh strain bakteri Escherichia
coli (E.coli), yang menginfeksi usus besar dan menghasilkan racun (toksin) yang secara tiba-tiba menyebabkan
diare berdarah dan kadang-kadang dengan komplikasi lainnya yang serius.
Kolitis hemoragika bisa menyerang segala usia.

Penyebab
Kolitis hemoragika disebabkan oleh strain bakteri Escherichia coli, yang terdapat di usus sapi yang sehat.
Infeksi ini bisa disebabkan karena memakan daging sapi yang belum matang betul atau karena minum susu yang
belum disucihamakan.
Penyakit ini juga bisa ditularkan dari orang ke orang, terutama pada anak-anak, melalui popoknya.

Racun yang dihasilkan akan merusak lapisan usus besar. Jika racun ini masuk ke dalam aliran darah, bisa juga
mengenai organ lainnya, misalnya ginjal.

Gejala
Kram perut yang hebat dimulai secara tiba-tiba, bersamaan dengan diare cair, yakg kemudian menjadi berdarah
dalam waktu 24 jam.

Suhu tubuh biasanya normal atau sedikit diatas normal, tapi kadang-kadang bisa mencapai 38,8° Celsius.
Diare biasanya berlangsung selama 1-8 hari.

Kira-kira 5% dari orang yang terinfeksi E.coli berkembang menjadi Sindroma Hemolitik-Uremik, yang gejalanya
terdiri dari :
- anemia yang disebabkan karena penghancuran sel darah merah (anemia hemolitik)
- trombosit yang menurun (trombositopenia)
- gagal ginjal akut.
Pada beberapa penderita juga timbul kejang, stroke atau komplikasi lain dari kerusakan saraf atau otak.
Komplikasi ini terjadi pada minggu kedua dan didahului oleh kenaikan suhu tubuh.
Sindroma hemolitik-uremik ini sering terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun dan pada orang tua. Tanpa
komplikasi inipun, pada usia lanjut kolitis hemoragika dapat menyebabkan kematian.

Diagnosa
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejalanya.

Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan contoh tinja terhadap E.coli. Contoh ini diambil dalam
waktu seminggu setelah gejala timbul.
Pemeriksaan lain, seperti kolonoskopi mungkin diperlukan bila dicurigai adanya kelainan lain yang
menyebabkan diare berdarah.

Pengobatan
Yang terpenting dalam pengobatan adalah minum cukup cairan untuk menggantikan cairan yang telah hilang dan
tetap memberikan makanan lunak.
Antibiotik tidak menghilangkan gejala, membunuh bakteri ataupun mencegah komplikasi.
Penderita dengan komplikasi sebaiknya dirawat secara intensif di rumah sakit.
Pencegahan

Nama Penyakit
Kolitis Karena Antibiotik
Definisi
Kolitis Karena Antibiotik adalah peradangan usus besar yang terjadi akibat penggunaan antibiotik.

Penyebab
Banyak antibiotik yang mengubah keseimbangan jenis dan jumlah bakteri di dalam usus, memungkinkan
penyakit tertentu menyebabkan bakteri berkembang biak.
Bakteri yang yang paling sering menimbulkan masalah adalah Clostridium difficile, yang menghasilkan 2 racun
yang bisa merusak lapisan pelindung dari usus besar.

Antibiotik yang sering menyebabkan kelainan ini adalah klindamisin, ampisilin dan golongan sefalosporin
(misalnya sefalotin).
Antibiotik lainnya adalah penisilin, eritromisin, trimetoprim-sufametoksasol, kloramfenikol dan tetrasiklin.
Pertumbuhan berlebih dari Clostridium difficile dapat terjadi bila antibiotik diberikan per-oral (melalui mulut)
maupun lewat suntikan.
Faktor resikonya meningkat sesuai umur, meskipun dewasa muda dan anak-anakpun bisa terkena.

Pada kasus yang ringan, terjadi peradangan ringan pada lapisan usus.
Pada kolitis berat, peradangannya meluas dan lapisannya mengalami ulserasi.

Gejala
Gejala biasanya mulai timbulketika penderita mengkonsumsi antibiotik tersebut.
Pada sepertiga kasus, gejala tidak muncul sampai 1-10 hari setelah pengobatan dihentikan, dan pada beberapa
penderita, gejala tidak muncul dalam 6 minggu berikutnya.

Gejala bervariasi mulai dari diare ringan sampai diare berdarah, nyeri perut dan demam.
Pada kasus berat, dapat terjadi dehidrasi, tekanan darah yang rendah, megakolon toksik dan perforasi usus kecil,
yang bisa berakibat fatal.

Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan sigmoidoskopi, yang bisa mengamati peradangan pada usus
besar.

Kolonoskopi bisa dilakukan bila bagian usus yang mengalami peradangan tidak dapat dijangkau oleh
sigmoidoskopi.

Ditemukannya Clostridium difficile pada biakan contoh tinja akan memperkuat diagnosis.

Pada tinja bisa dilakukan pemeriksaan untuk menemukan toksin yang dihasilkan oleh bakteri penyebabnya.
Toksin dapat dideteksi pada 20% kasus yang ringan dan pada 90% kasus kolitis yang berat.

Pemeriksaan laboratorium bisa menunjukkan peningkatan yang abnormal dari jumlah sel darah putih selama
serangan yang berat berlangsung.
Pengobatan
Jika terjadi diare yang berat, obat tersebut harus segera dihentikan, kecuali jika obat tersebut sangat diperlukan,
bisa terus diberikan.

Obat yang memperlambat kontraksi usus (misalnya difenoksilate), harus dihindari karena bisa memperpanjang
penyakitnya.

Jika diare terjadi tanpa komplikasi, biasanya akan sembuh dalam dalam 10-12 hari setelah antiobiotik
dihentikan.

Jika gejala yang ringan bersifat menetap, bisa diberikan kolestiramin, yang akan mengaikat toksin yang
dihasilkan.

Untuk kasus-kasus yang berat, metronidazol efektif melawan Clostridium difficile.


Vankomisin diberikan pada kasus-kasus yang sangat berat atau yang resisten.

Pada 20% penderita, gejala-gejala tersebut bisa terjadi lagi dan harus diobati kembali.
Jika diarenya berulang-ulang, mungkin diperlukan pemberian antibiotik jangka panjang.
Beberapa penderita diobati dengan sediaan laktobasilus, yang diberikan per-oral (melalui mulut) atau melalui
dubur, untuk membekali lagi usus dengan bakteri alaminya. Tetapi pengobatan ini tidak dilakukan secara rutin.

Meskipun jarang, penyakit ini bisa terjadi secara akut dan berbahaya, sehingga penderita harus dibawa ke rumah
sakit untuk mendapatkan infus cairan, elektrolit dan transfusi darah.

Pembuatan saluran yang menghubungakan usus halus dengan sebuah lubang di dinding perut yang bersifat
sementara (ileostomi temporer) atau pengangkatan sebagian usus yang terkena, kadang-kadang diperlukan untuk
menyelamatkan penderita.

Pencegahan
Nama Penyakit
Kolitis Ulserativa
Definisi
Kolitis Ulserativa merupakan suatu penyakit menahun, dimana usus besar mengalami peradangan dan luka, yang
menyebabkan diare berdarah, kram perut dan demam.

Kolitis ulserativa bisa dimulai pada umur berapapun, tapi biasanya dimulai antara umur 15-30 tahun.
Tidak seperti penyakit Crohn, kolitis ulserativa tidak selalu memperngaruhi seluruh ketebalan dari usus dan tidak
pernah mengenai usus halus. Penyakit ini biasanya dimulai di rektum atau kolon sigmoid (ujung bawah dari usus
besar) dan akhirnya menyebar ke sebagian atau seluruh usus besar.

Sekitar 10% penderita hanya mendapat satu kali serangan.

Proktitis ulserativa merupakan peradangan dan perlukaan di rektum.


Pada 10-30% penderita, penyakit ini akhirnya menyebar ke usus besar.
Jarang diperlukan pembedahan dan harapan hidupnya baik.

Penyebab
Penyebab penyakit ini tidak diketahui, namun faktor keturunan dan respon sistem kekebalan tubuh yang terlalu
aktif di usus, diduga berperan dalam terjadinya kolitis ulserativa.

Gejala
Suatu serangan bisa mendadak dan berat, menyebabkan diare hebat, demam tinggi, sakit perut dan peritonitis
(radang selaput perut). Selama serangan, penderita tampak sangat sakit.

Yang lebih sering terjadi adalah serangannya dimulai bertahap, dimana penderita memiliki keinginan untuk
buang air besar yang sangat, kram ringan pada perut bawah dan tinja yang berdarah dan berlendir.

Jika penyakit ini terbatas pada rektum dan kolon sigmoid, tinja mungkin normal atau keras dan kering. Tetapi
selama atau diantara waktu buang air besar, dari rektum keluar lendir yang mengandung banyak sel darah merah
dan sel darah putih.
Gejala umum berupa demam, bisa ringan atau malah tidak muncul.

Jika penyakit menyebar ke usus besar, tinja lebih lunak dan penderita buang air besar sebanyak 10-20 kali/hari.
Penderita sering mengalami kram perut yang berat, kejang pada rektum yang terasa nyeri, disertai keinginan
untuk buang air besar yang sangat. Pada malam haripun gejala ini tidak berkurang.
Tinja tampak encer dan mengandung nanah, darah dan lendir. Yang paling sering ditemukan adalah tinja yang
hampir seluruhnya berisi darah dan nanah.
Penderita bisa demam, nafsu makannya menurun dan berat badannya berkurang.

KOMPLIKASI
1. Perdarahan, merupakan komplikasi yang sering menyebabkan anemia karena kekurangan zat besi.
Pada 10% penderita, serangan pertama sering menjadi berat, dengan perdarahan yang hebat, perforasi
atau penyebaran infeksi.
2. Kolitis Toksik, terjadi kerusakan pada seluruh ketebalan dinding usus.
Kerusakan ini menyebabkan terjadinya ileus, dimana pergerakan dinding usus terhenti, sehingga isi
usus tidak terdorong di dalam salurannnya. Perut tampak menggelembung. Usus besar kehilangan
ketegangan ototnya dan akhirnya mengalami pelebaran.
Rontgen perut akan menunjukkan adanya gas di bagian usus yang lumpuh.
Jika usus besar sangat melebar, keadaannya disebut megakolon toksik. Penderita tampak sakit berat
dengan demam yang sangat tinggi. Perut terasa nyeri dan jumlah sel darah putih meningkat.
Dengan pengobatan efektif dan segera, kurang dari 4% penderita yang meninggal. Jika perlukaan ini
menyebabkan timbulnya lubang di usus (perforasi), maka resiko kematian akan meningkat.
3. Kanker Kolon (Kanker Usus Besar).
Resiko kanker usus besar meningkat pada orang yang menderita kolitis ulserativa yang lama dan berat.
Resiko tertinggi adalah bila seluruh usus besar terkena dan penderita telah mengidap penyakit ini
selama lebih dari 10 tahun, tanpa menghiraukan seberapa aktif penyakitnya.
Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) secara teratur,
terutama pada penderita resiko tinggi terkena kanker, selama periode bebas gejala. Selama kolonoskopi,
diambil sampel jaringan untuk diperiksa dibawah mikroskop.
Setiap tahunnya, 1% kasus akan menjadi kanker. Bila diagnosis kanker ditemukan pada stadium awal,
kebanyakan penderita akan bertahan hidup.

Seperti halnya penyakit Crohn, kolitis ulserativa juga dihubungkan dengan kelainan yang mengenai bagian tubuh
lainnya.
Bila kolitis ulserativa menyebabkan kambuhnya gejala usus, penderita juga mengalami :
- peradangan pada sendi (artritis)
- peradangan pada bagian putih mata (episkleritis)
- nodul kulit yang meradang (eritema nodosum) dan
- luka kulit biru-merah yang bernanah (pioderma gangrenosum).

Bila kolitis ulserativa tidak menyebabkan gejala usus, penderita masih bisa mengalami :
- peradangan tulang belakang (spondilitis ankilosa)
- peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis) dan
- peradangan di dalam mata (uveitis).

Meskipun penderita kolitis ulserativa sering memiliki kelainan fungsi hati, hanya sekitar 1-3% yang memiliki
gejala penyakit hati ringan sampai berat.
Penyakit hati yang berat bisa berupa :
- peradangan hati (hepatitis menahun yang aktif)
- peradangan saluran empedu (kolangitis sklerosa primer), yang menjadi sempit dan terkadang menutup, dan
- penggantian jaringan hati fungsional dengan jaringan fibrosa (sirosis).

Peradangan pada saluran empedu bisa muncul beberapa tahun sebelum gejala usus dari kolitis ulserativa timbul
dan akan meningkatkan resiko kanker saluran empedu.

Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan tinja.

Pemeriksaan darah menunjukan adanya:


- anemia
- peningkatan jumlah sel darah putih
- peningkatan laju endap darah.

Sigmoidoskopi (pemeriksaan sigmoid) akan memperkuat diagnosis dan memungkinkan dokter untuk secara
langsung mengamati beratnya peradangan. Bahkan selama masa bebas gejalapun, usus jarang terlihat normal.
Contoh jaringan yang diambil untuk pemeriksaan mikroskopik menunjukan suatu peradangan menahun.

Rontgen perut bisa menunjukan berat dan penyebaran penyakit.

Barium enema dan kolonoskopi biasanya tidak dikerjakan sebelum pengobatan dimulai, karena adanya resiko
perforasi (pembentukan lubang) jika dilakukan pada stadium aktif penyakit.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran penyakit dan untuk meyakinkan tidak adanya kanker.
Peradangan usus besar memiliki banyak penyebab selain kolitis ulserativa. Karena itu, dokter menentukan
apakah peradangan disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit.
Contoh tinja yang diperoleh selama pemeriksaan sigmoidoskopi diperiksa dibawah mikroskop dan dibiakkan.
Contoh darah dianalisa untuk menentukan apakah terdapat infeksi parasit.
Contoh jaringan diambil dari lapisan rektum dan diperiksa dibawah mikroskop.
Diperiksa apakah terdapat penyakit menular seksual pada rektum (seperti gonore, virus herpes atau infeksi
klamidia), terutama pada pria homoseksual.
Pada orang tua dengan aterosklerosis, peradangan bisa disebabkan oleh aliran darah yang buruk ke usus besar.

Kanker usus besar jarang menyebabkan demam atau keluarnya nanah dari rektum, namun harus difikirkan
kanker sebagai kemungkinan penyebab diare berdarah.

Pengobatan
Pengobatan ditujukan untuk mengendalikan peradangan, mengurangi gejala dan mengganti cairan dan zat gizi
yang hilang.
Penderita sebaiknya menghindari buah dan sayuran mentah untuk mengurangi cedera fisik pada lapisan yang
usus besar yang meradang.
Diet bebas susu bisa mengurangi gejala. Penambahan zat besi bisa menyembuhkan anemia yang disebabkan oleh
hilangnya darah dalam tinja.

Obat-obatan antikolinergik atau dosis kecil loperamid atau difenoksilat, diberikan pada diare yang relatif ringan.
Untuk diare yang lebih berat, mungkin dibutuhkan dosis yang lebih besar dari difenoksilat atau opium yang
dilarutkan dalam alkohol, loperamid atau kodein.
Pada kasus-kasus yang berat, pemberian obat-obat anti-diare ini harus diawasi secara ketat, untuk menghindari
terjadinya megakolon toksik.

Sulfasalazin, olsalazin atau mesalamin sering digunakan untuk mengurangi peradangan pada kolitis ulserativa
dan untuk mencegah timbulnya gejala.
Obat-obatan ini biasanya diminum namun bisa juga diberikan sebagai enema (cairan yang disuntikkan ke dalam
usus) atau supositoria (obat yang dimasukkan melalui dubur).

Penderita dengan kolitis berat menengah yang tidak menjalani perawatan rumah sakit, biasanya mendapatkan
kortikosteroid per-oral (melalui mulut), seperti prednison.
Prednison dosis tinggi sering memicu proses penyembuhan. Setelah prednison mengendalikan peradangannya,
sering diberikan sulfasalazin, olsalazin atau mesalami.
Secara bertahap dosis prednison diturunkan dan akhirnya dihentikan. Pemberian kortikosteroid jangka panjang
menimbulkan efek samping, meskipun kebanyakan akan menghilang jika pengobatan dihentikan.

Bila kolitis ulserativa yang ringan atau sedang terbatas pada sisi kiri usus besar (kolon desendens) dan di rektum,
bisa diberikan enema dengan kortikosteroid atau mesalamin.

Bila penyakitnya menjadi berat, penderita harus dirawat di rumah sakit dan diberikan kortikosteroid intravena
(melalui pembuluh darah).

Penderita dengan perdarahan rektum yang berat mungkin memerlukan transfusi darah dan cairan intravena.

Untuk mempertahankan fase penyembuhan, diberikan azatioprin dan merkaptopurin.


Siklosporin diberikan kepada penderita yang mendapat serangan berat dan tidak memberikan respon terhadap
kortikosteroid. Tetapi sekitar 50% dari penderita ini, akhirnya memerlukan terapi pembedahan.

Pembedahan

Kolitis toksik merupakan suatu keadaan gawat darurat.


Segera setelah terditeksi atau bila terjadi ancaman megakolon toksik, semua obat anti-diare dihentikan, penderita
dipuasakan, selang dimasukan ke dalam lambung atau usus kecil dan semua cairan, makanan dan obat-obatan
diberikan melalui pembuluh darah.
Pasien diawasi dengan ketat untuk menghindari adanya peritonitis atau perforasi.
Bila tindakan ini tidak berhasil memperbaiki kondisi pasien dalam 24-48 jam, segera dilakukan pembedahan,
dimana semua atau hampir sebagian besar usus besar diangkat.

Jika didiagnosis kanker atau adanya perubahan pre-kanker pada usus besar, maka pembedahan dilakukan bukan
berdasarkan kedaruratan.
Pembedahan non-darurat juga dilakukan karena adanya penyempitan dari usus besar atau adanya gangguan
pertumbuhan pada anak-anak.
Alasan paling umum dari pembedahan adalah penyakit menahun yang tidak sembuh-sembuh, sehingga membuat
penderita tergantung kepada kortikosteroid dosis tinggi.

Pengangkatan seluruh usus besar dan rektum, secara permanen akan menyembuhkan kolitis ulserativa.
Penderita hidup dengan ileostomi (hubungan antara bagian terendah usus kecil dengan lubang di dinding perut)
dan kantong ileostomi.

Prosedur pilihan lainnya adalah anastomosa ileo-anal, dimana usus besar dan sebagian besar rektum diangkat,
dan sebuah reservoir dibuat dari usus kecil dan ditempatkan pada rektum yang tersisa, tepat diatas anus.

Pencegahan