Anda di halaman 1dari 108

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN.M DENGAN HIPERTENSI PADA NY.A DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ASINUA KABUPATEN KONAWE

PADA NY.A DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ASINUA KABUPATEN KONAWE KARYA TULIS ILMIAH Disusun sebagai salah satu

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan diploma III politeknik kesehatan kemenkes kendari jurusan keperawatan

OLEH :

HAMID 14401 2017 00029 5

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLI TEKNIK KESEHATAN KENDARI JURUSAN KEPERAWATAN

2018

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DAFTAR RIWAYAT HIDUP A. Identitas 1. Nama : Hamid 2. Tempat tanggal lahir : Anggaberi, 05

A. Identitas

1. Nama

: Hamid

2. Tempat tanggal lahir

: Anggaberi, 05 juli 1979

3. Suku/bangsa

: Tolaki/Indonesia

4. Jenis kelamin

: Laki-laki

5. Agama

: Islam

B. Pendidikan

1. SD Negeri 1 Anggaberi Tamat Tahun 1991

2. SMP Negeri 3 Unaaha Tamat Tahun 1997

3. SPK PPNI Kendari Tamat Tahun 2000

4. Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan Keperawatan Sejak Tahun 20172018

Motto

Ku olah kata, kubaca makna, kuikat dalam alinea, kubingkai dalam bab sejumlah lima, jadilah mahakarya, semoga gelar sarjana kuterima, keluargapun ikut senang.

Hidup ini bagai skripsi, banyak bab dan revisi yang harus dilewati. Tapi akan selalu berakhir indah bagi mereka yang pantang menyerah.

Saya datang, saya bimbingan, saya ujian, saya revisi dan saya menang.

Pendidikan mengembangkan kemampuan tetapi tidak menciptakannya.

Pengetahuan adalah kekuatan.

Berangkat dengan penuh keyakinan. berjalan dengan penuh keikhlasan. Istiqomah dalam menghadapi cobaan. YAKIN, IKHLAS, ISTIQOMAH.

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Orang yang menginginkan impiannya harus menjaga diri agar tidak tertidur

Manusia tidak merancang untuk gagal, mereka gagal untuk merancang.

Karya tulis ini kupersembahkan untuk Keluargaku dan almamaterku tercinta

ABSTRAK

Hamid (14401 2017 00029 5) Asuhan Keperawatan Keluarga Tn.M Dengan Hipertensi Pada Ny.A Di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Tahun 2018. Dibimbing oleh Ibu Rusna Tahir.,S.Kep.,Ns.,M.Kep (xii + 83 halaman + 12 tabel + 7 lampiran). Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri yang mengangkut darah dari jantung dan memompa keseluruh jaringan dan organorgan tubuh secara terusmenerus lebih dari suatu periode. Studi kasus ini bertujuan untuk menerapkan asuhan keperawatan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang komprehensif pada keluarga Tn.M dengan Hipertensi pada Ny.A di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Tahun 2018. Studi kasus ini dilakukan pada tanggal 28 mei s/d 31 mei 2018. Hasil studi kasus didapatkan dua diagnosa keperawatan keluarga yaitu nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga sakit dan defisiensi pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah. Dari hasil evaluasi keperawatan yang dilaksanakan didapatkan hasil analisis masalah nyeri akut teratasi dan defisiensi pengetahuan teratasi. Saran dalam studi kasus ini bagi Puskesmas diharapkan dapat memberikan motivasi dan bimbingan kesehatan khususnya penyakit hipertensi kepada keluarga dan dapat memberikan asuhan keperawatan keluarga secara optimal serta lebih meningkatkan mutu pelayanan di komunitas atau di lapangan.

Kata kunci : Hipertensi - Nyeri Akut - Defisiensi Pengetahuan Daftar Pustaka : 31 (2007-2018)

KATA PENGANTAR

Tiada kata paling indah dan paling mulia yang patut penulis panjatkan kepada Allah SWT kecuali rasa syukur atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi kasus yang berjudul “Asuhan Keperawatan Keluarga Tn.M Dengan Hipertensi Pada Ny.A Di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Tahun 2018”. Dalam menyelesaikan studi kasus ini penulis sadari sepenuhnya sangat banyak kesulitan yang dialami, namun berkat Allah SWT yang senantiasa memberikan petunjuk-Nya dan keyakinan pada kemampuan diri sendiri sehingga segala hambatan

yang penulis hadapi dapat teratasi. Terimakasih yang tak ternilai penulis ucapkan Kepada istri dan anak-anak penulis yang sangat penulis sayangi atas segala doa dan kasih sayang yang tak henti-hentinya tercurahkan demi keberhasilan penulis serta semua pengorbanan materil yang telah dilimpahkan, tanpa bantuan istri penulis tidak ada apa-apanya. Selanjutnya penulis ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada pembimbing ibu Rusna Tahir.,S.Kep.,Ns.,M.Kep yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan membimbing penulis sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan. Pada kesempatan ini penulis tidak lupa juga mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada yang terhormat:

1. Ibu Askrening.,SKM.,M.Kes Selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Kendari

2. Bapak Kamrin.,SKM Selaku Kepala Puskesmas Asinua yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk melaksanakan studi kasus.

3. Bapak Indriono Hadi.,S.Kep.,Ns.,M.Kep Selaku Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kendari.

4. Bapak Abdul Syukur.,S.Kep.,Ns.,MM Selaku Penguji I, ibu Dewi Sartiya Rini.,M.Kep.,Sp.KMB Selaku Penguji II, dan bapak Sahmad.,S.Kep.,Ns.,M.Kep Selaku Penguji III yang telah membantuh dan mengarahkan penulis dalam ujian hasil studi kasus sehingga hasil studi kasus ini dapat lebih terarah.

6.

Terakhir, teruntuk sahabat-sahabatku mahasiswa RPL angkatan 2017 khususnya

jurusan keperawatan yang telah memberikan motivasi dan dukungan selama penulis menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Akhir kata, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peneliti selanjutnya di Poltekkes Kemenkes Kendari serta kiranya Allah SWT selalu memberi rahmat kepada kita semua. Amin.

Kendari, Juli 2018

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENRSETUJUAN

ii

HALAMAN PENGESAHAN

iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

v

MOTTO

vi

ABSTRAK

vii

KATA PENGANTAR

viii

DAFTAR ISI

x

DAFTAR TABEL

xi

DAFTAR LAMPIRAN

xii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

1

B. Tujuan

4

C. Manfaat Penulisan

4

D. Metode dan Teknik Penelitian

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Keluarga

7

B. Konsep

Hipertensi

18

BAB III LAPORAN KASUS

A. Pengkajian Keperawatan

47

B. Data Fokus

54

C. Diagnosa Keperawatan Keluarga

55

D. Intervensi Keperawatan keluarga

59

E. Implementasi dan Evaluasi keperawatan

61

BAB IV PEMBAHASAN

A. Pengkajian Keperawatan

73

B. Diagnosa Keperawatan

74

C. Intervensi Keperawatan

76

D. Implementasi Keperatan

77

E. Evaluasi Keperawatan

78

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

82

B. Saran

83

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Table 2.1

Klasifikasi Hipertensi Berdasarakan Sistolik Dan Siastolik

23

Table 2.2

Klasifikasi Hipertensi Pada Orang Dewasa

23

Tabel 2.3

Skala Prioritas Masalah Keluarga

37

Tabel 2.4

Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga Berdasarkan Nanda Nic-Noc 2013

39

Tabel 3.1

Komposisi Anggota Keluarga

47

Tabel 3.2

Pemeriksaan Fisik Keluarga

53

Tabel 3.3

Data Fokus Hasil Pengkajian Keperawatan Keluarga

54

Tabel 3.4

Analisa Data Diagnosa Keperawatan Keluarga

55

Tabel 3.5

Skoring Diagnosa Keperawatan Nyeri Akut

56

Tabel 3.6

Skoring Diagnosa Keperawatan Defisiensi Pengetahuan

57

Tabel 3.7

Intervensi Keperawatan Keluarga

59

Tabel 3.8

Implemetasi Dan Evaluasi Keperawatan Keluarga

61

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Satuan Acara Penyuluhan Hipertensi. Lampiran 2. Leaflet/Lembar Balik Hipertensi. Lampiran 3. Surat Permohonan Menjadi Responden. Lampiran 4. Surat Persetujuan Menjadi Responden. Lampiran 5. Surat Izin Dari Poltekkes Depkes Kendari. Lampiran 6. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian. Lampiran 7. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Keluarga.

A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal

tekanan darah dalam pembuluh darah arteri yang mengangkut darah dari jantung

dan memompa keseluruh jaringan dan organorgan tubuh secara terusmenerus

lebih dari suatu periode (Irianto, 2014). Hipertensi merupakan peningkatan

tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari

90 mmHg pada dua kali pengukuran selang waktu lima menit dalam keadaan

cukup tenang/istirahat (Kemenkes RI, 2013). Hipertensi sering kali disebut silent

killer karena termasuk yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya

terlebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya. Gejala-gejala hipertensi yaitu

adalah sakit kepala atau rasa berat di tengkuk, vertigo, jantung berdebar, mudah

lelah, penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus), dan mimisan (Kemenkes

RI, 2013).

Hipertensi menjadi momok bagi sebagian besar penduduk dunia termasuk

Indonesia. Hal ini karena secara statistik jumlah penderita yang terus meningkat

dari waktu ke waktu. Berbagai faktor yang berperan dalam hal ini salah satunya

adalah gaya hidup modern. Pemilihan makanan yang berlemak, kebiasaan aktifitas

yang tidak sehat, merokok, minum kopi serta gaya hidup sedetarian adalah

beberapa hal yang disinyalir sebagai faktor yang berperan terhadap hipertensi ini.

Penyakit ini dapat menjadi akibat dari gaya hidup modern serta dapat juga sebagai

penyebab berbagai penyakit non infeksi (Anindya,2009).

Tingginya angka kejadian hipertensi yang terus meningkat dan akan

menyebabkan komplikasi. Penatalaksanaan hipertensi yang tidak dilakukan

dengan baik dapat menyebabkan komplikasi (Riskesdas,2013). Apabila hipertensi

tidak ditangani dengan tepat maka akan menimbulkan komplikasi yaitu stroke,

infark miokard, gagal jantung, gagal ginjal kronik dan retinopati (Nuraini, 2015).

Data Worlh Health Organization (WHO), di seluruh dunia sekitar 972 juta

orang atau 26,4% orang di seluruh dunia mengidap hipertensi, angka ini

kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta

pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di

negara berkembang, termasuk Indonesia (Yonata, 2016). Hipertensi juga menempati peringkat ke 2 dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan dirumah sakit di Indonesia. Penderitanya lebih banyak wanita (30%) dan pria (29% ) sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terjadi terutama dinegara berkembang (Triyanto, 2014). Prevalensi hipertensi di Indonesia menurut Riskesdas tahun 2013 yang didapat melalui pengukuran pada umur ≥ 18 tahun sebesar 25,8 %. Prevelensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4 %, yang didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9.5 %, jadi ada 0,1 % yang minum obat sendiri. Penyakit terbanyak pada usia lanjut berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 adalah hipertensi dengan prevalensi 45,9% pada usia 55-64 tahun, 57,6% pada usia 65,74% dan 63,8% pada usia ≥ 75 tahun. Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara tahun 2016 tercatat masih tingginya angka kejadian hipertensi. Berdasarkan data dan informasi pengukuran tekanan darah yang terdiagnosis hipertensi/darah tinggi tertinggi terjadi pada perempuan yaitu sebanyak 21.006 jiwa (34,47%) dan terendah pada laki-laki sebanyak 10.811 jiwa (50,32%), total laki-laki dan perempuan sebanyak 31.817 kasus hipertensi (38.60%). Hal ini menunjukan masih tingginya kasus hipertensi yang terjadi di Sulawesi Tenggara. Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan dan adopsi dalam suatu rumah tangga yang berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam peran serta menciptakan dan mempertahankan suatu budaya. (Ali, 2010). Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga yang sehat sangat berperan penting untuk kelangsungan hidup yang sejahtera. Dengan memiliki keluarga yang sehat tanpa memiliki penyakit akan menjamin kesejahteraan keluarga yang harmonis dan bahagia. Beberapa ahli berpendapat bahwa bertambah umur, merupakan faktor terjadinya Hipertensi. Oleh sebab itu pengawasan dan pengelolaan keluarga terhadap faktor pencetus dari peningkatan tekanan darah sangat disarankan agar terhindar dari keadaan yang lebih parah (Harmoko, 2012).

Keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu di pahami dan dilakukan, ada 5 tugas keluarga dalam bidang kesehatan menurut Friedman (1998) dalam Dion & Betan, (2013) yaitu :mengenal masalah dalam kesehatan keluarga, membuat keputusan tindakanyang tepat, memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit,mempertahankan atau mengusahakan suasana rumah yang sehat,menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat. Tugaskeluarga tersebut harus selalu dijalankan. Apabila salah satu atau beberapa diantara tugas tersebut tidak dijalankan justru akan menimbulkan masalah kesehatan dalam keluarga. Kasus Hipertensi di Puskesmas Asinua dalam 3 tahun terakhir terus meningkat dan menurut jenis kelamin tertinggi selalu terjadi pada perempuan, berdasarkan kelompok usia tertinggi selalu terjadi pada kelompok usia di atas 45 tahun. Tahun 2015 kasus Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Asinua mencapai 178 kasus Hipertensi dimana perempuan sebanyak 97 kasus dan laki-laki sebanyak 81 kasus, pada tahun 2016 kasus hipertensi sebanyak 193 kasus dimana perempuan sebanyak 101 kasus dan laki-laki sebanyak 92 kasus. Pada tahun 2017 kasus hipertensi di Puskesmas Asinua semakin meningkat yaitu sebesar 212 dengan kasus tertinggi pada perempuan sebanyak 117 kasus dan terendah laki-laki sebanyak 95 kasus. Dari wawancara yang dilakukan pada petugas Puskesmas Asinua didapatkan bahwa penderita hipertensi banyak yang tidak rutin mengontrol tekanan darah, memiliki kebiasaan merokok, pola hidup yang tidak sehat, jika kebiasaan tersebut tidak diatasi maka akan memicu terjadi hipertensi dan berlanjut ke komplikasi seperti gagal jantung, stroke, kerusakan pada ginjal dan kebutaan. Keluarga pada umumnya mengatasi hipertensi dengan beristrahat serta sedikitnya langsung memeriksakan kondisi kesehatannya di Puskesmas (Profil Puskesmas Asinua Tahun 2018). Berdasarkan latar belakang dan fenomena diatas penulis tertarik melakukan studi kasus Hipertensi pada keluarga dalam judul “Asuhan Keperawatan Keluarga Tn.M dengan Hipertensi pada Ny.A di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Tahun 2018”.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum Mampu menerapkan asuhan keperawatan keluarga dengan menggunakan

pendekatan proses keperawatan yang komprehensif pada keluarga Tn.M dengan Hipertensi pada Ny.A di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Tahun 2018.

2. Tujuan Khusus

a. Penulis mampu melakukan pengkajian keluarga Tn.M dengan Hipertensi pada Ny.A di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Tahun

2018.

b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan keluarga Tn.M dengan

Hipertensi pada Ny.A di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Tahun 2018.

c. Penulis mampu menyusun rencana keperawatan keluarga Tn.M dengan Hipertensi pada Ny.A di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Tahun 2018.

d. Penulis mampu melakukan implementasi keperawatan keluarga Tn.M dengan Hipertensi pada Ny.A di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Tahun 2018.

e. Penulis mampu melakukan evaluasi keperawatan keluarga Tn.M dengan Hipertensi pada Ny.A di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Tahun 2018.

C. Manfaat Penulisan

1. Manfaat Bagi Penulis Dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu dalam menerapkan asuhan keperawatan keluarga sehingga dapat mengembangkan dan menambah wawasan peneliti.

2.

Manfaat Praktis

a. Bagi Masyarakat/Klien Menambah pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam upaya pencegahan, perawatan serta pemanfaatan fasilitas kesehatan dalam merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi.

b. Bagi Institusi Pendidikan Sebagai referensi tambahan guna meningkatkan informasi/pengetahuan sebagai referensi perpustakan Poltekkes Kemenkes Kendari yang bisa digunakan oleh mahasiswa sebagai bahan bacaan dan dasar untuk studi kasus selanjutnya.

c. Bagi Puskesmas Dapat memberikan sumbangan pikiran dalam meningkatkan “Asuhan Keperawatan Keluarga dengan kasus Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe”

D. Metode Dan Teknik Penelitian

1. Tempat Dan Waktu Pelaksanaan Studi Kasus Studi kasus ini dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara pada tanggal 28 s/d 31 Mei 2018.

2. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada studi kasus keluarga Tn.M dengan Hipertensi pada Ny.A di Wilayah Kerja Puskesmas Asinua Kabupaten Konawe

Tahun 2018 dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

a. Studi Kepustakaan Yaitu mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan karya tulis ini.

b. Studi Kasus Menggunakan pendekatan proses keperawatan keluarga yang meliputi pengkajian, analisa data, penerapan diagnosa keperawatan, penysusunan rencana tindakan keperawatan, penerapan rencana tindakan keperawatan dan evaluasi asuhan keperawatan keluarga.

Untuk melengkapi data/informasi dalam pengkajian menggunakan beberapa cara antara lain:

a. Observasi Mengadakan pengamatan langsung pada keluarga dengan cara melakukan pemeriksaan yang berkaitan dengan perkembangan dan keadaan klien.

b. Wawancara Dengan mengadakan pengamatan langsung

c. Pemeriksaan Fisik Melakukan pemeriksaan terhadap anggota keluarga yang sakit melalui; Inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

d. Studi Dokumentasi Penulis memperoleh data dan medical record hasil pemeriksaan di Puskesmas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Keluarga

1. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh

hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu

berinteraksi satu sama lain (Mubarak dkk, 2011 ). BKKBN (1999) dalam

Sudiharto (2012) menyatakan bahwa keluarga adalah dua orang atau lebih yang

dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi

kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa kepada tuhan,

memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan

masyarakat serta lingkungannya. Sedangkan menurut Wall, (1986) dalam

Friedman (2010) menyatakan bahwa keluarga adalah sebuah kelompok yang

mengidentifikasi diri dan terdiri atas dua individu atau lebih yang memiliki

hubungan khusus, yang dapat terkait dengan hubungan darah atau hukum atau

dapat juga tidak, namun berfungsi sebagai sedemikian rupa sehingga mereka

menganggap dirinya sebagai keluarga.

2. Ciri-Ciri Keluarga

Setiadi (2008) memaparkan ciri-ciri keluarga yaitu :

a. Keluarga merupakan hubungan perkawinan

b. Keluarga bentuk suatu kelembagaan yang berkaitan dengan hubungan

perkawinan yang senganja dibentuk atau dipelihara.

c. Keluarga mempunyai suatu system tata nama (Nomen Clatur) termasuk

perhitungan garis keturunan.

d. Keluarga mempunyai fumgsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-

anggotanya berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan

dan membesarkan anak.

e. Keluarga merupakan tempat tingggal bersama, ruamh atau rumah tangga.

3.

Tipe Keluarga Mubarak (2011) membagi tipe keluarga menjadi :

a. Secara Tradisional Secara tradisional keluarga dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

1) Keluarga Inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang hanya terdiri ayah, ibu dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya. 2) Keluarga Besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah ( kakek- nenek, paman-bibi)

b. Secara Modern Berkembangnya peran individu dan meningkatnya rasa

individualisme maka pengelompokkan tipe keluarga selain di atas adalah :

1)

Tradisional Nuclear

2)

Keluarga inti (ayah, ibu dan anak) tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah. Reconstituted Nuclear

3)

Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami/istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak- anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru, satu/keduanya dapat bekerja di luar rumah. Niddle Age/Aging Couple

4)

Suami sebagai pencari uang, istri di rumah/kedua-duanya bekerja di rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/perkawinan/ meniti karier. Dyadic Nuclear

5)

Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak yang keduanya atau salah satu bekerja di luar rumah. Single Parent Satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal di rumah atau di luar rumah.

6)

Dual Carrier

7)

Yaitu suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak. Commuter Married

8)

Suami istri atau keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu. Keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu. Single Adult

9)

Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk kawin. Three Generation

Yaitu tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah. 10) Institusional Yaitu anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti- panti. 11) Comunal Yaitu satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogami dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas. 12) Group Marriage Yaitu satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunannya di dalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak. 13) Unmaried Parent and Child Yaitu ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anaknya diadopsi. 14) Cohibing Couple Yaitu dua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin. 15) Gay and Lesbian Family Yaitu keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama.

4. Struktur Keluarga Struktur keluarga terdiri dari : pola dan proses komunikasi, strukrur peran, struktur kekuatan dan struktur nilai dan norma (Mubarak dkk, 2011) menggambarkan sebagai berikut :

a. Struktur komunikasi Komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila : jujur, terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai dan ada hirarki kekuatan.

b. Struktur peran Yang dimaksud struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai posisi sosial yang diberikan. Jadi pada struktur peran bisa bersifat formal atau informal.

c. Struktur kekuatan Yang dimaksud adalah kemampuan dari individu untuk mengontrol atau mempengaruhi atau merubah perilaku orang lain : legitimate power (hak),

referent power (ditiru), expert power (keahlian), reward power (hadiah), coercive power (paksa) dan affective power.

d. Struktur nilai dan norma Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu, sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan sosil tertentu berarti disini adalah lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar keluarga.

5. Fungsi keluarga Ada lima fungsi keluarga menurut (Friedman, 2010), yaitu :

a. Fungsi afektif Fungsi afektif merupakan dasar utama baik untuk pembentukan maupun untuk berkelanjutan unit keluarga itu sendiri, sehingga fungsi afektif merupakan salah satu fungsi keluarga yang paling penting.Peran utama orang dewasa dalam keluarga adalah fungsi afektif, fungsi ini berhubungan dengan persepsi keluarga dan kepedulian terhadap kebutuhan sosioemosional semua anggota keluarganya.

b. Fungsi sosialisasi dan status sosial Sosialisasi merujuk pada banyaknya pengalaman belajar yang diberikan dalam keluarg yang ditunjuk untuk mendidik anak anak tentang cara menjalankan fungsi dan memikul peran sosial orang dewasa seperti peran yang di pikul suami-ayah dan istri-ibu. Status sosial atau pemberian status adalah aspek lain dari fungsi sosialisasi. Pemberian status kepada anak

berarti mewariskan tradisi, nilai dan hak keluarga, walaupun tradisi saat ini tidak menunjukan pola sebagian besar orang dewasa Amerika.

c. Fungsi reproduksi Untuk menjamin kontiniutas antar generasi kleuarga dan masyarakat yaitu menyediakan angagota baru untuk masyarakat.

d. Fungsi perawatan kesehatan Fungsi fisik keluarga dipenuhi oleh orang tua yang menyediakan makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan terhadap kesehatan dan perlindungan terhadap bahaya. Pelayanan dan praktik kesehatan adalah fungsi keluarga yang paling relafan bagi perawat keluarga.

e. Fungsi ekonomi Fungsi ekonomi melibatkan penyediaan keluarga akan sumber daya yang cukup finansial, ruang dan materi serta alokasinya yang sesuai melalui proses pengambilan keputusan.

6. Tahap perkembangan keluarga Tahap perkembangan keluarga dibagi menjadi (Friedman, 2010) :

a. Tahap I : Keluarga Pasangan Baru (beginning family) Pembentukan pasangan menandakan pemulaan suatu keluarga barudengan pergerakan dari membentuk keluarga asli sampai kehubungan intim yang baru. Tahap ini juga disebut sebagai tahap pernikahan. Tugas perkembangan keluarga tahap I adalah membentuk pernikahan yang memuaskan bagi satu sama lain, berhubungan secara harmonis dengan jaringan kekerabatan dan perencanaan keluarga.

b. Tahap II : Keluarga Kelahiran Anak Pertama (childbearing family) Mulai dengan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai bayi berusia 30 bulan. Transisi ke masa menjadi orang tua adalah salah satu kunci dalam siklus kehidupan keluarga. Tugas perkembangan keluarga disini adalah setelah hadirnya anak pertama, keluarga memiliki beberapa tugas perkembangan penting. Suami, istri, dan anak harus memepelajari peran barunya, sementara unit keluarga inti mengalami pengembangan fungsi dan tanggung jawab.

c. Tahap III : Keluarga dengan Anak Prasekolah (families with preschool) Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2½ tahun dan diakhiri ketika anak berusia 5 tahun. Keluarga saatini dapat terdiri dari tiga sampai lima orang, dengan posisi pasangan suami- ayah, istri-ibu, putra-saudara laki-laki, dan putri-saudara perempuan. Tugas perkembangan keluarga saat ini berkembang baik secara jumlah maupun kompleksitas. Kebutuhan anak prasekolah dan anak kecil lainnya untuk mengekplorasi dunia di sekitar mereka, dan kebutuhan orang tua akan privasi diri, membuat rumah dan jarak yang adekuat menjadi masalah utama. Peralatan dan fasilitas juga harus aman untuk anak-anak.

d. Tahap IV : Keluarga dengan Anak Sekolah (families with schoolchildren) Tahap ini dimulai ketika anak pertama memasuki sekolah dalam waktu penuh, biasanya pada usia 5 tahun, dan diakhiri ketika ia mencapai pubertas, sekitar 13 tahun. Keluarga biasanya mencapai jumlah anggota keluarga yang maksimal dan hubungan akhir tahap ini juga maksimal. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah keluarga dapat mensosialisasikan anak-anak, dapat meningkatkan prestasi sekolah dan mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan.

e. Tahap V : Keluarga dengan Anak Remaja (families with teenagers) Ketika anak pertama berusia 13 tahun, tahap kelima dari siklus atau perjalanan kehidupan keluarga dimulai. Biasanya tahap ini berlangsung selama enam atau tujuh tahun, walaupun dapat lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih awal atau lebih lama, jika anak tetap tinggal dirumah pada usia lebih dari 19 atau 20 tahun. Tujuan utamapada keluarga pada tahap anak remaja adalah melonggarkan ikatankeluarga untuk meberikan tanggung jawab dan kebebasan remaja yanglebih besar dalam mempersiapkan diri menjadi seorang dewasa mudah. Tugas perkembangan keluarga yang pertama pada tahap ini adalah menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab seiring dengan kematangan remaja dan semakin meningkatnya otonomi. Tugas perkembangan keluarga yang kedua adalah bagi orang tua untuk memfokuskan kembali hubungan pernikahan mereka. Sedangkan tugas

perkembangan keluarga yang ketiga adalah untuk anggota keluarga,terutama orang tua dan anak remaja, untuk berkomunikasi secara terbukasatu sama lain.

f. Tahap VI : Keluarga Melepaskan Anak Dewasa Muda (launching centerfamilies) Permulaan fase kehidupan keluarga ini ditandai dengan perginya anak pertama dari rumah orang tua dan berakhir dengan “kosongnya rumah”, ketika anak terakhir juga telah meninggalkan rumah. Tahap ini dapat cukup singkat atau cukup lama, bergantung pada jumlah anak dalam keluarga atau jika anak yang belum menikah tetap tinggal di rumah setelah mereka menyelesaikan SMU atau kuliahnya. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah keluarga membantu anak tertua untuk terjun ke dunia luar, orang tua juga terlibat dengan anak terkecilnya, yaitu membantu mereka menjadi mandiri.

g. Tahap VII : Orang Tua Paruh Baya (middle age families) Tahap ini merupakan tahap masa pertengahan bagi orang tua, dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir dengan pensiun atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini dimulai ketika orang tua berusia sekitar 45 tahun sampai 55 tahun dan berakhir dengan persiunannya pasangan, biasanya 16 sampai 18 tahun kemudian. Tugas keperawatan keluarga pada tahap ini adalah wanita memprogramkan kembali energi mereka dan bersiap-siap untuk hidup dalam kesepian dan sebagai pendorong anak mereka yang sedang berkembang untuk lebih mandiri serta menciptakan lingkungan yang sehat.

h. Tahap VIII : Keluarga Lansia dan Pensiunan Tahap terakhir perkembangan keluarga ini adalah dimulai pada saat pensiunan salah satu atau kedua pasangan, berlanjut sampai kehilangan salah satu pasangan, dan berakhir dengan kematian pasangan yang lain. Tugas perkembangan keluarga pada tahap terakhir ini adalah mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan dan kembali kerumah setelah individu pensiun/berhenti bekerja dapat menjadi problematik.

7. Tugas keluarga dalam bidang kesehatan Ada 5 pokok tugas keluarga dalam bidang kesehatan menurut Friedman (1998) dalam Dion & Betan (2013) adalah sebagai berikut :

a. Mengenal masalah kesehatan keluarga Keluarga perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian keluarga dan orang tua. Sejauh mana keluarga mengetahui dan mengenal fakta-fakta dari masalah kesehatan yang meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab yang mempengaruhinya, serta persepsi keluarga terhadap masalah.

b. Membuat keputusan tindakan yang tepat Sebelum keluarga dapat membuat keputusan yang tepat mengenai masalah kesehatan yang dialaminya, perawat harus dapat mengkaji keadaan keluarga tersebut agar dapat menfasilitasi keluarga dalam membuat keputusan.

c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit Ketika memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, keluarga harus mengetahui hal-hal sebagai berikut :

1) Keadaan penyakitnya (sifat, penyebaran, komplikasi, prognosis danperawatannya).

2)

Sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan.

3)

Keberadaan fasilitas yang dibutuhkan untuk perawatan.

4) Sumber-sumber yang ada dalam keluarga (anggota keluarga yangbertanggung jawab, sumber keuangan dan financial, fasilitas fisik,psikososial).

5)

d. Mempertahankan atau mengusahakan suasana rumah yang sehat Ketika memodifikasi lingkungan atau menciptakan suasana rumah yang

Sikap keluarga terhadap yang sakit.

sehat, keluarga harus mengetahui hal-hal sebagai berikut :

1)

Sumber-sumber yang dimilki oleh keluarga.

2)

Keuntungan atau manfaat pemeliharaan lingkungan.

3)

Pentingnya hiegine sanitasi.

4)

Upaya pencegahan penyakit.

5)

Sikap atau pandangan keluarga terhadap hiegine sanitasi.

6)

Kekompakan antar anggota kelompok.

e. Menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat Ketika merujuk anggota keluarga ke fasilitas kesehatan, keluarga harus mengetahui hal-hal sebagai berikut :

1)

Keberadaan fasilitas keluarga.

2)

Keuntungan-keuntungan yang diperoleh oleh fasilitas kesehatan.

3)

Pengalaman yang kurang baik terhadap petugas kesehatan.

4)

Fasilitas kesehatan yang ada terjangkau oleh keluarga.

8. Peran Perawat Keluarga Ada tujuh peran perawat keluarga menurut Sudiharto (2012) adalah sebagai berikut :

a. Sebagai pendidik Perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga, terutama untuk memandirikan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang memiliki masalah kesehatan.

b. Sebagai koordinator pelaksan pelayanan kesehatan Perawat bertanggung jawab memberikan pelayanan keperawatan yang komprehensif. Pelayanan keperawatan yang bersinambungan diberikan untuk menghindari kesenjangan antara keluarga dan unit pelayanan kesehatan.

c. Sebagai pelaksana pelayanan perawatan Pelayanan keperawatan dapat diberikan kepada keluarga melalui kontak pertama dengan anggota keluarga yang sakit yang memiliki masalah kesehatan. Dengan demikian, anggota keluarga yang sakit dapat menjadi “entry point” bagi perawatan untuk memberikan asuhan keperawatan keluarga secara komprehensif.

tinggi maupun yang tidak.Kunjungan rumah tersebut dapat direncanakan terlebih dahulu atau secara mendadak, sehingga perawat mengetahui apakah keluarga menerapkan asuhan yang diberikan oleh perawat.

e. Sebagai pembela (advokat) Perawat berperan sebagai advokat keluarga untuk melindungi hakhak keluarga klien.Perawat diharapkan mampu mengetahui harapan serta memodifikasi system pada perawatan yang diberikan untuk memenuhi hak dan kebutuhan keluarga.Pemahaman yang baik oleh keluarga terhadap hak dan kewajiban mereka sebagai klien mempermudah tugas perawat untuk memandirikan keluarga.

f. Sebagai fasilitator Perawat dapat menjadi tempat bertanya individu, keluarga dan masyarakat untuk memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi sehari-hari serta dapat membantu jalan keluar dalam mengatasi

masalah.

g. Sebagai peneliti Perawat keluarga melatih keluarga untuk dapat memahai masalah-masalah kesehatan yang dialami oleh angota keluarga. Masalah kesehatan yang muncul didalam keluarga biasanya terjadi menurut siklus atau budaya yang dipraktikkan keluarga.

9. Prinsip perawatan kesehatan keluarga

Setiadi (2008) mengatakan ada beberapa prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan Asuhan Keperawatan keluarga yaitu :

a. Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan.

b. Dalam memberikan Asuhan Keperawatan Kesehatan keluarga sehat sebagai tujuan utama.

c. Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan kesehatan keluarga.

d. Dalam memberikan Asuhan Keperawatan keluarga, perawat melibatkan peran aktif seluruh keluarga dalam merumuskan masalah dan ebutuhan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya.

e. Lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat proinotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.

f. Dalam memberikan Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga, keluarga memanfaatkan sumber daya keluarga semaksimal mungkin untuk kepentingan kesehatan keluarga.

g. Sasaran Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga adalah keluarga secara keseluruhan.

h. Pendekatan yang dipergunakan dalam memberikan Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan menggunakan proses keperawatan.

i. Kegiatan utama dalam memberikan Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga adalah penyuluhan kesehatan dan Asuhan Keperawatan kesehatan dasar atau perawatan dirumah.

j. Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk resiko tinggi.

Keluarga-keluarga yang tergolong resiko tinggi dalam bidang kesehatan antara lain adalah :

1) Keluarga dengan anggota keluarga dalam masa usia subur dengan masalah :

a) Tingkat sosial ekonomi yang rendah.

b) Keluarga kurang tahu atau tidak mampu mengatasi masalah kesehatan sendiri.

c) Keluarga dengan keturunan yang kurang baik atau keluarga dengan penyakit keturunan.

2)

Keluarga dengan Ibu dengan resiko tinggi kebidanan yaitu :

a) Umur Ibu (16 tahun/lebih dari 35 tahun).

b) Menderita kekurangan gizi (anemia).

c) Menderita hipertensi.

d) Primipara dan Multipara.

e) Riwayat persalinan atau komplikasi

3)

Keluarga dalam anak menjadi resiko tinggi karena :

a) Lahir prematur (BBLR).

b) Berat badan sukar naik.

4)

c) Lahir dengan cacat bawaan.

d) ASI Ibu kurang sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi.

e) bu menderita penyakit menular yang dapat mengancam bayi dan anaknya.

Keluarga mempunyai masalah hubungan antara anggota keluarga

a) Anak yang tidak pernah dikehendaki pernah mencoba untuk digugurkan.

b) Tidak ada kesesuaian pendapat antara anggota keluarga dan sering timbul cekcok dan ketegangan.

c) Ada anggota keluarga yang sering sakit

d) Salah satu anggota (suami atau istri) meninggal, cerai, lari meninggalkan rumah.

B. Konsep Hipertensi

1.

Definisi Menurut Sheps (2005) dalam Masriadi (2016), hipertensi adalah penyakit dengan tanda adanya gangguan tekanan darah sistolik maupun diastolik yang naik diatas tekana darah normal. Tekanan darah sistolik adalah tekanan puncak yang tercapai ketika jantung berkontraksi dan memompakan darah keluar melalui arteri. Tekanan darah diastolik diambil tekanan jatuh ketitik terendah saat jantung rileks dan mengisi darah kembali. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri yang mengangkut darah dari jantung dan memompa keseluruh jaringan dan organorgan tubuh secara terusmenerus lebih dari suatu periode (Irianto, 2014). Hal ini terjadi bila arteriolarteriol konstriksi. Konstriksi arterioli membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah beban kerja jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan kerusakan jantung dan pembuluh darah (Udjianti, 2010). Hipertensi sering juga diartikan sebagai suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg (Muttaqin, 2009).

2. Anatomi Dan Fisiologi a. Anatomi Menurut Tarwoto (2009) Sistem kardiovaskuler terdiri dari jantung, vaskuler (arteri, vena, kapiler) dan limfatik. Fungsi utama sisitem

kardiovaskuler adalah menghantarkan darah yang kaya oksigen keseluruh tubuh dan memompakan darah dari seluruh tubuh (jaringan) ke sirkulasi paru untuk dioksigenasi.

1)

Jantung

2)

Jantung merupakan organ utama system kardiovaskuler , berotot dan berongga, terletak di rongga toraks bagian mediastinum, diantara dua paru-paru. Bentuk jantung seperti kerucut tumpul, pada bagian bawah disebut apeks, letaknya lebih ke kiri dari garis medial, bagian tepinya pada ruang interkosta V kiri atau kira-kira 9 cm dari kiri linea medioclavikularis, sedangkan bagian atasnya disebut basis terletak agak kekanan tepat nya pada kosta ke lll,1 cm dari tepi lateral sternum. Ukuran jantung kira-kira panjangnya 12 cm, lebar 8-9 cm tebalnya 6 cm. beratnya sekitar 200 sampai 425 gram, pada laki-laki sekitar 310 gram, pada perempuan sekitar 225 gram. Pembuluh darah Lubang pusat pada pembuluh darah yang disebut lumen dikelilinggi oleh dinding yang terdiri atas tiga lapisan :

a) Tunika intima adalah lapisan dalam yang berhubungan langsung dengan darah. Terdiri atas lapisan dalam endotelium yang dikelilingi berbagai jaringan ikat.

b) Tunika media adalah lapisan tengah yang terdiri atas otot polos

dengan berbagai serat elastik.

c) Tunika advensia adalah lapisan terluar yang terdiri atas jaringan ikat. Sistem jantung dan pembuluh darah terdiri atas tiga macam

pembuluh darah yang membentuk sistem jalur-jalur tertutup :

a) Arteri mengangkut darah menjauhi jantung.

b.

(1) Arteri elastik adalah arteri terbesar, meliputi aorta dan cabang- cabang terdekatnya. Mengandung banyak jaringan ikat. (2) Arteri muskular bercabang dari arteri elastik dan mendistribusikan darah ke berbagai bagian tubuh. (3) Arteriol adalah pembuluh darah yang sangat kecil. Sebagian besar arteriol mempunyai tiga tunika pada dindingnya, dengan jumlah otot polos yang memadai pada tunika medika.

b) Kapiler adalah pembuluh darah mikroskopik yang mempunyai dinding sangat tipis. Hanya tunika intima yang terdapat pada dinding ini. Sebagian dindingnya hanya mengandung satu lapisan endotelium.

c) Vena mengangkut darah kembali ke jantung. (1) Venula pascapiler adalah vena terkecil, sangat berpori-pori, tetapi mempunyai serat otot polos yang menyebar pada tunika media. (2) Venula terbentuk ketika venula pascapiler bersatu. Dinding venula yang lebih besar berlapis tiga. (3) Vena mempunyai dinding berlapis tiga, namun tunika intima dan tunika medianya jauh lebih tipis daripada arteri yang berukuran serupa.

Fisiologi Menurut Mutaqqin (2014) Sistim kardiovaskuler berfungsi sebagai sistim regulasi melakukan mekanisme yang bervariasi dalam merespon seluruh aktivitas tubuh. Salah satu contoh adalah mekanisme meningkatkan suplai darah agar aktivitas jaringan dapat terpenuhi, pada keadaan tertentu darah akan lebih banyak dialirkan pada organ-organ vital seperti jantung otak untuk memelihara sistim sirkulasi organ tersebut. 1) Darah Komponen darah merupakan alat pembawa (carrier) pada sistim kardiovaskular, secara normal volume darah yang berada dalam sirkulasi pada seseorang laki-laki dengan berat badan 70 kg berkisar 8% dari berat badan atau sekitar 5600 ml. dari jumlah tersebut sekitar

2)

3)

4)

55% merupakan plasma, volume komponen darah harus memiliki jumlah yang sesuai dengan rentang yang normal agar system kardiovaskuler dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Curah jantung Tubuh manusia memiliki berbagai mekanisme control regulasi yang digunakan untuk menigkatkan suplai darah secara aktif ke jaringan yaitu dengan meningkatkan jumlah cairan jantung (cardiac output) pengaturan curah jantung bergantung pada hasil perkalian denyut jantung (heart rate) dengan volume sekuncup (stroke volume). Curah jantung orang dewasa adalah antara 4,5-8 liter permenit, peningkatan curah jantung terjadi karena adanya peningkatan denyut jantung atau volume sekuncup. Denyut jantung Denyut jantung normalnya berkisar 70 kali permenit, denyut jantung ini dikontrol sendiri oleh jantung melalui mekanise regulasi nodus SA dan system purkinje. Dalam keadaan normal, regulasi denyut jantung dipengaruhi oleh saraf simpatis, saraf parasimpatis melalui sistim saraf otonom. Empat reflek utama yang menjadi media system saraf otonom dalam meregulasi denyut jantung adalah refleks baroreseptor, refleks kemoreseptor, refleks Bainbrige, refleks pernapasan. Tekanan vena Kembalinya darah ke jantung disebabkan adanya tekanan gradient, ketika darah dipompa oleh jantung, tekanan arteri berkisar 120 mmHg pada saat sistolik dan 70 mmHg pada saat diastolic. Tekanan ini akan menurun bersamaan dengan pergerakan darah keluar menuju arteri, kapiler, venula. Sistem vena mempunyai daya kapasitasnsi yang sangat besar dan berpengaruh terhadap perubahan tekanan yang kecil. Adanya kapasitansi dan banyaknya system saraf simpatis akan mengubah tekanan vena dalam mengatur aliran balik ke jantung, konstriksi vena yang disebabkan oleh stimulasi saraf simpatis akan mengurangi kapasitani dan meningkatkan tekanan vena, sehingga meningkatkan aliran balik ke jantung.

saraf simpatis akan mengurangi kapasitani dan meningkatkan tekanan vena, sehingga meningkatkan aliran balik ke jantung.
saraf simpatis akan mengurangi kapasitani dan meningkatkan tekanan vena, sehingga meningkatkan aliran balik ke jantung.

5)

Ruang jantung

6)

a) Atrium kanan memiliki lapisan dinding yang tipis berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah mengalirkan darah dari vena-vena sirkulasi sistemis ke dalam ventrikel kanan dan kemudian ke paru- paru . darah yang berasal dari pembulu vena ini masuk ke dalam atrium kanan melalui vena cava superior, inferior dan sinus koronarius.

b) Ventrikel kanan memiliki bentuk yang unik yaitu bulan sabit yang berguna untuk menghasilkan kontraksi bertekanan rendah, yang cukup untuk mengalirkan darah ke dalam arteri pulmonaris. Sirkulasi pulmunar merupakan sistim aliran darah bertekanan rendah, dengan resitensi yang jauh lebih kecil terhadap aliran darah yang berasal dari ventrikel kanan. Oleh karena itu, beban kerja dari ventrikel kanan jauh lebih ringan dari pada ventrikel kiri.

c) Atrium kiri menerima darah yang sudah dioksigenisasi dari paru- paru melalui vena pulmonaris. Tidak terdapat katup sejati antara vena pulmonalis dan atrium kiri. Oleh karena itu, darah akan mengalir kembali ke pembuluh paru-paru bila terdapat perubahan tekanan dalam atrium kiri (retrograde).

d) Ventrikel kiri harus menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk

mengatasi tahanan sirkulasi sistemis dan mempertahankan aliran darah ke jaringan-jaringan perifer. Katup jantung

a) Katup atrioventrikuler terletak antara atrium dan ventrikel, mempunyai tiga buah daun katup yang disebut katup trikuspidalis. Sedangkan katup yang terletak antara atrium kiri dan ventrikel kiri mempunyai dua buah daun katup yang disebut katup mitral.

b) Katup semilunar terdiri atas dua katup yaitu semilunar pulmonary dan katup semilunar aorta. Katup semilunar pulmonary terletak pada arteri pulmonaris, memisahkan arteri pulmonaris dengan

ventrikel kanan.katup semilunar aorta terletak antara ventrikel kiri

dan aorta.

3. Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi tekanan darah sistolik dan diastolik dibagi menjadi empat

kalasifikasi (Smeltzer, 2012), yaitu :

Tabel 2.1 Kalsifikasi Hipertensi Berdasarkan Tekanan Darah Sistolik Dan Diastolik

Kategori

TD Sistolik (mmHg)

TD diastolik (mmHg)

Normal

< 120 mmHg

< 80 mmHg

Prahipertensi

120

139 mmHg

80

89 mmHg

Stadium I

140

159 mmHg

90

99 mmHg

Stadium II

≥ 160 mmHg

≥ 100 mmHg

Sumber : Smeltzer, et al, 2012

Hipertensi juga dapat diklasifikasi berdasarkan tekanan darah orang

dewasa menurut Triyanto (2014), adapun klasikasi tersebut sebagai berikut:

Tabel 2.2 Klasfikasi Hipertensi Berdasarkan Tekanan Darah Pada Orang Dewasa.

Kategori

TD Sistolik

TD diastolik (mmHg)

 

(mmHg)

Normal Normal Tinggi Stadium 1 (ringan) Stadium 2 (sedang) Stadium 3 (berat) Stadium 4 (maligna)

< 130 mmHg

< 85 mmHg

130

139 mmHg

85

89 mmHg

140

159 mmHg

90

99 mmHg

160

179 mmHg

100

109 mmHg

180

209 mmHg

110

119 mmHg

≥ 210 mmHg

≥ 120 mmHg

Sumber : Triyanto, 2014

4. Etiologi

a. Hipertensi primer atau esensial

Hipertensi primer atau esensial adalah tidak dapat diketahuin penyebabnya.

Hipertensi esensial biasanya dimulai sebagai proses labil (intermiten) pada

individu pada akhir 30-an dan 50-an dan secara bertahap “ menetap “ pada

suatu saat dapat juga terjadi mendadak dan berat, perjalanannya dipercepat

atau “maligna“ yang menyebabkan kondisi pasien memburuk dengan

cepat. Penyebab hipertensi primer atau esensial adalah gangguan emosi,

obesitas, konsumsi alkohol yang berlebihan, kopi, obat obatan, faktor

keturunan (Brunner & Suddart, 2015). Sedangkan menurut Robbins

(2007), beberapa faktor yang berperan dalam hipertensi primer atau esensial mencakup pengaruh genetik dan pengaruh lingkungan seperti :stress, kegemukan, merokok, aktivitas fisik yang kurang, dan konsumsi garam dalam jumlah besar dianggap sebagai faktor eksogen dalam hipertensi.

b. Hipertensi sekunder Hipertensi sekunder adalah kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu seperti penyempitan arteri renalis, penyakit parenkim ginjal, berbagai obat, disfungsi organ, tumor dan kehamilan (Brunner & Suddart, 2015). Sedangkan menurut Wijaya & Putri (2013), penyebab hipertensi

sekunder diantaranya berupa kelainan ginjal seperti tumor, diabetes, kelainan adrenal, kelainan aorta, kelianan endokrin lainnya seperti obesitas, resistensi insulin, hipertiroidisme dan pemakaian obat-obatan seperti kontasepsi oral dan kartikosteroid.

5. Faktor-Faktor Resiko Hipertensi Faktor-faktor resiko hipertensi yang tidak dapat diubah dan yang dapat diubah oleh penderita hipertensi menurut Black & Hawks (2014) adalah sebagai berikut :

a. Faktor-faktor resiko yang tidak dapat diubah

Riwayat keluarga Hipertensi dianggap poligenik dan multifaktorial yaitu, pada seseorang

dengan riwayat keluarga, beberapa gen berinteraksi dengan yang lainnya dan juga lingkungan yang dapat menyebabkan tekanan darah naik dari waktu ke waktu. Klien dengan orang tua yang memiliki hipertensi berada pada risiko hipertensi yang lebih tinggi pada usia muda. 2) Usia Hipertensi primer biasanya muncul antara usia 30-50 tahun. Peristiwa hipertensi meningkat dengan usia 50-60 % klien yang berumur lebih dari 60 tahun memiliki tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Diantara orang dewasa, pembacaan tekanan darah sistolik lebih dari pada tekanan darah diastolic karena merupakan predictor yang lebih

1)

baik untuk kemungkinan kejadian dimasa depan seperti penyakit jantung koroner, stroke, gagal jantung, dan penyakit ginjal. Jenis kelamin Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita sampai

kira-kira usia 55 tahun. Resiko pada pria dan wanita hamper sama antara usia 55 sampai 74 tahun, wanita beresiko lebih besar. 4) Etnis Peningkatan pravelensi hipertensi diantara orang berkulit hitam tidaklah jelas, akan tetapi penigkatannya dikaitkan dengan kadar rennin yang lebih rendah, sensitivitas yang lebih besar terhadap vasopressin, tinginya asupan garam, dan tinggi stress lingkungan.

3)

b. Faktor-faktor resiko yang dapat diubah

Diabetes mellitus Hipertensi telah terbukti terjadi lebih dua kali lipat pada klien diabetes

mellitus karena diabetes mempercepat aterosklerosis dan menyebabkan hipertensi karena kerusakan pada pembuluh darah besar. 2) Stress Stress meningkat resistensi vaskuler perifer dan curah jantung serta menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Stress adalah permasalahan persepsi, interpretasi orang terhadap kejadian yang menciptakan banyak stressor dan respon stress. 3) Obesitas Obesitas terutama pada tubuh bagian atas, dengan meningkatnya jumlah lemak disekitar diafragma, pinggang dan perut, dihubungkan dengan pengembangan hipertensi. Kombinasi obesitas dengan faktor- faktor lain dapat ditandai dengan sindrom metabolis, yang juga meningkatkan resiko hipertensi. 4) Nutrisi Kelebihan mengosumsi garam bias menjadi pencetus hipertensi pada individu. Diet tinggi garam menyebabkan pelepasan hormone natriuretik yang berlebihan, yang mungkin secara tidak langsung menigkatkan tekanan darah. Muatan natrium juga menstimulasi

1)

6.

mekanisme vaseoresor didalam system saraf pusat. Penelitan juga menunjukkan bahwa asupan diet rendah kalsim, kalium, dan magnesium dapat berkontribusi dalam pengembangan hipertensi. Penyalahgunaan obat

Merokok sigaret, mengosumsi banyak alcohol, dan beberapa penggunaan obat terlarang merupakan faktor-faktor resiko hipertensi. pada dosis tertentu nikotin dalam rokok sigaret serta obat seperti kokain dapat menyebabkan naiknya tekanan darah secara langsung. Patofisiologi Menurut Yusuf (2008), Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer. Tubuh mempunyai sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah secara akut. Sistem tersebut ada yang bereaksi ketika terjadi perubahan tekanan darah dan ada juga yang bereaksi ketika terjadi perubahan tekanan darah secara akut. Sistem tersebut ada yang bereaksi ketika terjadi perubahan tekanan darah dan ada yang bereaksi lebih lama. Sistem yang cepat tersebut antara lain reflek kardiovaskular melalui baroreseptor, reflek kemorereptor, respon iskemia susunan saraf pusat, dan reflek yang berasal dari atrium, arteri pulmonalis, dan otot polos. Sistem lain yang kurang cepat merespon perubahan tekanan darah melibatkan respon ginjal dengan perngaturan hormon angiotensin dan vasopresor. Kejadian hipertensi dimulai dengan adanya atherosklerosis yang merupakan bentuk dari arterioklerosis (pengerasan arteri). Antherosklerosis ditandai oleh penimbunan lemak yang progresif pada dinding arteri sehingga mengurangi volume aliran darah ke jantung, karena sel-sel otot arteri tertimbun lemak kemudian membentuk plak, maka terjadi penyempitan pada arteri dan penurunan elastisitas arteri sehingga tidak dapat mengatur tekanan darah kemudian mengakibatkan hipertensi. Kekakuan arteri dan kelambanan aliran darah menyebabkan beban jantung bertambah berat yang dimanisfestasikan dalam bentuk hipertrofo ventrikel kiri (HVK) dan gangguan fungsi diastolik karena gangguan relaksasi ventrikel kiri sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan darah dalam sistem sirkulasi. (Hull, 1996; dalam Bustan 2007).

5)

Berdasarkan uraian patofisiologi hipertensi diatas dapat disimpulkan bahwa hipertensi dimulai adanya pengerasan arteri. Penimbunan lemak terdapat pada dinding arteri yang mengakibatkan berkurangnya volume cairan darah ke jantung. Penimbunan itu membentuk plak yang kemudian terjadi penyempitan dan penurunan elastisitas arteri sehingga tekanan darah tidak dapat diatur yang artinya beban jantung bertambah berat dan terjadi gangguan diastolik yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah.

7. Manifestasi Klinis Pada pemeriksaan fisik, mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat edema pupil (edema pada diskus optikus ) (Brunner & Suddart, 2015). Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai bertahun tahun.Gejala, bila ada, biasanya menunjukkan adanya kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai system organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan.Penyakit arteri koroner dengan angina adalah gejala yang paling menyertai hipertensi.Hipertrofi ventrikel kiri terjadi sebagai respons peningkatan beban kerja ventrikel saat dipaksa berkontraksi melawan tekana sistemik yang menigkat.Apabila jantung tidak mampu lagi menahan peningkatan beban kerja, maka dapat terjadi gagal jantung kiri (Brunner & Suddart, 2015). Crowin (2000) dalam Wijaya & Putri (2013), menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul :

a. Nyeri kepala saat terjaga, kadang kadang disertai mual dan muntah akibat peningkatan tekana intracranial.

b. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi.

c. Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat,

d. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus.

e. Edama dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

8.

Pemeriksaan Penunjang

a. Hemoglobin / hematokrit : mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko seperti hipokoagulabilitas, anemia.

b. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.

c. Glukosa : Hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi).

d. Kalium serum : hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

e. Kalsium serum : peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan hipertensi.

f. Kolesterol dan trigeliserida serum : peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiofaskuler)

g. Pemeriksaan tiroid : hipertiroidisme dapat mengakibatkan vasikonstriksi dan hipertensi.

h. Kadar aldosteron urin dan serum : untuk menguji aldosteronisme primer (penyebab).

i. Urinalisa : darah, protein dan glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes.

j. VMA urin (metabolit katekolamin) : kenaikan dapat mengindikasikan adanya feokomositoma (penyebab); VMA urin 24 jam dapat digunakan untuk pengkajian feokromositoma bila hipertensi hilang timbul.

k. Asam urat: hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor resiko terjadinya hipertensi.

l. Steroid urin : kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme, feokromositoma atau disfungsi ptuitari, sindrom Cushing’s; kadar renin dapat juga meningkat.

9.

n. Foto dada : dapat menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub; deposit pada dan/ EKG atau takik aorta; perbesaran jantung.

o. CT scan : mengkaji tumor serebral, CSV, ensevalopati, atau feokromositoma.

p. EKG: dapat menunjukkan perbesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi. Catatan : Luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. (Anonim, 2013)

Komplikasi Hipertensi yang tidak ditanggulangi dalam jangka panjang akan

menyebabkan kerusakan arteri didalam tubuh sampai organ yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut. Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ-organ tubuh menurut Wijaya & Putri (2013), sebagai berikut :

a. Jantung Hipertensi dapat menyebab terjadinya gagal jantung dan penyakit jantung koroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, yang disebut dekompensasi. Akibatnya, jantung tidak lagi mampu memompa sehingga banyaknya cairang yang tetahan diparu maupun jaringan tubuh lain yang dapat menyebabkan sesak nafas atau oedema. Kondisi ini disebut gagal jantung.

b. Otak Komplikasi hipertensi pada otak, menimbulkan resiko stroke, apabila tidak diobati resiko terkena stroke 7 kali lebih besar.

c. Ginjal Hipertensi juga menyebabkan kerusakan ginjal, hipertensi dapat menyebabkan kerusakan system penyaringan didalam ginjal akibat lambat laun ginjal tidak mampu membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh yang masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukan di dalam tubuh.

10. Penatalaksanaan Tujuan tiap program penanganan bagi setiap pasien adalah mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mencapai dan mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Efektivitas setiap

program ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi (Brunner & Suddart, 2015).

a. Terapi nonfamakologis Wijaya & Putri (2013), menjelaskan bahwa penatalaksanaan non farmakologis terdiri dari berbagai macam cara modifikasi gaya hidup sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi. Penatalaksanaan hipertensi dengan non farmakologis terdiri dari berbagai macam cara modifikasi gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah yaitu :

1)

Mempertahankan berat badan ideal

2)

Radmarsarry, (2007) dalam Wijaya & Putri (2013), mengatasi obesitas juga dapat dilakukan dengan melakukan diet rendah kolesterol namun kaya dengan serat dan protein, dan jika berhasil menurunkan berat badan 2,5 5 kg maka tekanan darah diastolik dapat diturunkan sebanyak 5 mmHg. Kurangi asupan natrium

3)

Radmarsarry (2007) dalam Wijaya & Putri (2013), penguramgan konsumsi garam menjadi ½ sendok the/hari dapat menurunkan tekanan sistolik sebanyak 5 mmHg dan tekanan diastolic sebanyak 2,5 mmHg. Batasi konsumsi alkohol

4)

Radmarsarry (2007) dalam Wijaya & Putri (2013), konsumsi alkohol harus dibatasi karena konsumsi alcohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah.Para peminum berat mempunyai resiko mengalami hipertensi empat kali lebih besar dari pada mereka yang tidak meminum berakohol. Diet yang mengandung kalium dan kalsium Kaplan, (2006) dalam Wijaya & Putri (2013), Pertahankan asupan diet potassium ( >90 mmol (3500 mg)/hari) dengan cara konsumsi diet tinggi buah dan sayur seperti : pisang, alpukat, papaya, jeruk, apel

5)

6)

7)

kacang-kangan, kentang dan diet rendah lemak dengan cara mengurangi asupan lemak jenuh dan lemat total. Sedangkan menurut Radmarsarry (2007) dalam Wijaya & Putri (2013), kalium dapat menurunkan tekanan darah dengan meningkatkan jumlah natrium yang terbuang bersama urin.Dengan mengonsumsi buah-buahan sebanyak 3- 5 kali dalam sehari, seseorang bisa mencapai asupan potassium yamg cukup. Menghindari merokok Dalimartha (2008) dalam Wijaya & Putri (2013), merokok memang tidak berhubungan secara langsung dengan timbulnya hipertensi, tetapi merokok dapat menimbulkan resiko komplikasi pada pasien hipertensi seperti penyakit jantung dan stroke, maka perlu dihindari rokok karena dapat memperberat hipertensi. Penurunan Stress Sheps (2005) dalam Wijaya & Putri ( 2013), stress memang tidak menyebabkan hipertensi yang menetap namun jika episode stress sering terjadi dapat menyebabkan kenaikan sementara yang sangat tinggi. Terapi pijat Dalimartha (2008) dalam Wijaya & Putri (2013), pada prinsipnya pijat yang dikukan pada penderita hipertensi adalah untuk memperlancar aliran energy dalam tubuh sehingga gangguan hipertensi dan komplikasinya dapat diminalisir, ketika semua jalur energi tidak terhalang oleh ketegangan otot dan hambatan lain maka risiko hipertensi dapat ditekan.

ketika semua jalur energi tidak terhalang oleh ketegangan otot dan hambatan lain maka risiko hipertensi dapat
ketika semua jalur energi tidak terhalang oleh ketegangan otot dan hambatan lain maka risiko hipertensi dapat

b. Terapi farmakologis Penatalaksanaan farmakologis menurut Saferi & Mariza (2013) merupakan penanganan menggunakan obat-obatan, antara lain :

Diuretik (Hidroklorotiazid) Diuretik bekerja dengan cara megeluarkan cairan berlebih dalam tubuh sehingga daya pompa jantung menjadi lebih ringan.

1)

2)

Penghambat simpatetik (Metildopa, Klonidin dan Reserpin)

3)

Obat-obatan jenis penghambat simpatetik berfungsi untuk menghambat aktifitas saraf simpatis. Betabloker (Metoprolol, propanolol dan atenolol)

4)

Fungsi dari obat jenis betabloker adalah untuk menurunkan daya pompa jantung, dengan kontraindikasi pada penderita yang mengalami gangguan pernafasan seperti asma bronkhial. Vasodilator (Prasosin, Hidralisin)

5)

Vasodilator bekerja secara langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos pembuluh darah. Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor (Captopril)

6)

Fungsi utama adalah untuk menghambat pembentukan zat angiotensin II dengan efek samping penderita hipertensi akan mengalami batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas. Penghambat angiotensin II (Valsartan)

7)

Daya pompa jantung akan lebih ringan ketika jenis obat-obat penghambat reseptor angiotensin II diberikan karena akan menghalangi penempelan zat angiotensin II pada resptor. Angiotensin kalsium (Diltiasem dan Verapamil) Kontraksi jantung (kontraktilitas) akan terhambat.

11. Pathway

Hipertensi Perubahan Situasi

Hipertensi

Hipertensi Perubahan Situasi
Hipertensi Perubahan Situasi

Perubahan Situasi

Hipertensi Perubahan Situasi Kerusakan vaskuler pembuluh darah Perubahan Struktur penyumbatan pembuluh darah
Hipertensi Perubahan Situasi Kerusakan vaskuler pembuluh darah Perubahan Struktur penyumbatan pembuluh darah

Kerusakan vaskuler pembuluh darah

Kerusakan vaskuler pembuluh darah Perubahan Struktur

Perubahan Struktur

penyumbatan pembuluh darah Vaskontriksi   Gangguan sirkulasi otak suplai O2 ke otak berkurang  

penyumbatan pembuluh darah

Vaskontriksi

penyumbatan pembuluh darah Vaskontriksi   Gangguan sirkulasi otak suplai O2 ke otak berkurang  
penyumbatan pembuluh darah Vaskontriksi   Gangguan sirkulasi otak suplai O2 ke otak berkurang  
 

Gangguan sirkulasi

  Gangguan sirkulasi otak suplai O2 ke otak berkurang

otak

  Gangguan sirkulasi otak suplai O2 ke otak berkurang

suplai O2 ke otak berkurang

 
 
 

Resistensi pembuluh darah ke otak meningkat

Resistensi pembuluh darah ke otak meningkat
 

Nyeri Kepala

 
darah ke otak meningkat   Nyeri Kepala   Ketidakefektifan perfusi Jaringan otak Retina Ginjal

Ketidakefektifan perfusi Jaringan otak

Kepala   Ketidakefektifan perfusi Jaringan otak Retina Ginjal Pembuluh Darah Vasokontriksi Pembuluh Darah

Retina

  Ketidakefektifan perfusi Jaringan otak Retina Ginjal Pembuluh Darah Vasokontriksi Pembuluh Darah Blood

Ginjal

Pembuluh Darah

perfusi Jaringan otak Retina Ginjal Pembuluh Darah Vasokontriksi Pembuluh Darah Blood Flow Menurun Respon R A

Vasokontriksi Pembuluh Darah

Retina Ginjal Pembuluh Darah Vasokontriksi Pembuluh Darah Blood Flow Menurun Respon R A A Spasme Arteriol

Blood Flow Menurun

Darah Vasokontriksi Pembuluh Darah Blood Flow Menurun Respon R A A Spasme Arteriol Resiko cidera Sistemik

Respon R A A

Spasme Arteriol

Darah Blood Flow Menurun Respon R A A Spasme Arteriol Resiko cidera Sistemik Vasokontriksi Afterload Kelelahan

Resiko cidera

Sistemik

Menurun Respon R A A Spasme Arteriol Resiko cidera Sistemik Vasokontriksi Afterload Kelelahan Merangsang Aldesteron

Vasokontriksi

R A A Spasme Arteriol Resiko cidera Sistemik Vasokontriksi Afterload Kelelahan Merangsang Aldesteron Retensi NA Edema

Afterload

Arteriol Resiko cidera Sistemik Vasokontriksi Afterload Kelelahan Merangsang Aldesteron Retensi NA Edema Kelebihan

Kelelahan

Resiko cidera Sistemik Vasokontriksi Afterload Kelelahan Merangsang Aldesteron Retensi NA Edema Kelebihan Volume

Merangsang Aldesteron

Vasokontriksi Afterload Kelelahan Merangsang Aldesteron Retensi NA Edema Kelebihan Volume Cairan Intoleransi

Retensi NA

Vasokontriksi Afterload Kelelahan Merangsang Aldesteron Retensi NA Edema Kelebihan Volume Cairan Intoleransi Aktivitas

Edema

Vasokontriksi Afterload Kelelahan Merangsang Aldesteron Retensi NA Edema Kelebihan Volume Cairan Intoleransi Aktivitas

Kelebihan Volume Cairan

Intoleransi Aktivitas

Faktor Predidposisi: Usia, Jenis Kelamin, Merokok, Stres, Kurang Olaraga, Faktor Genetik, Alkohol, Konsentrasi Garam, Obesitas

Informasi Yang Minim

Informasi Yang Minim

Defesiensi Pengetahuan Ansietas

Koping

Koroner

Koping Koroner Iskemik Miokard Nyeri

Iskemik Miokard

Koping Koroner Iskemik Miokard Nyeri

Nyeri

Krisis Situasional

Metode Koping Tidak Efektif

Ketidakefektifan

Ansietas Koping Koroner Iskemik Miokard Nyeri Krisis Situasional Metode Koping Tidak Efektif Ketidakefektifan

Sumber : (NANDA NIC-NOC, 2015).

12. Fokus Pengkajian Format pengkajian keluarga model Friedman (2010) yang diaplikasikan ke kasus dengan masalah utama hipertensi meliputi :

a. Data umum Menurut Friedman (2010), data umum yang perlu dikaji adalah :

1) Nama kepala keluarga dan anggota keluarga, alamat, jenis

2)

3)

kelamin,umur, pekerjaan dan pendidikan. Tipe keluarga Menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga beserta kendala atau masalah-masalah yang terjadi dengan jenis/tipe keluarga Status sosial ekonomi Keluarga Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu sosial ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.

ditentukan pula oleh kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.

b. Riwayat Keluarga dan Tahap Perkembangan Keluarga

1)

Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini

2)

Tahap perkembangan keluarga ditentukan oleh anak tertua dari keluarga ini. Tahap Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi

3)

Menjelaskan perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, menjelaskan mengenai tugas perkembangan keluaruarga yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendala-kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi. Riwayat keluarga inti Menjelaskan mengenai riwayat keluarga inti meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga, perhatian keluarga terhadap pencegaha penyakit termasuk status imunisasi, sumber pelayanan kesehatan yang biasa digunakan keluarga dan pengalaman terhadapa pelayanan kesehatan.

4) Riwayat keluarga sebelumnya Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan keluarga dari pihak suami dan istri.

c. Pengkajian lingkungan

Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat tipe rumah,jumlah ruangan, jenis ruang, jumlah jendela, jarak septic tankdengan sumber air, sumber air minum yang digunakan, tanda catyang sudah mengelupas, serta dilengkapi dengan denah rumah (Friedman, 2010).

d. Fungsi keluarga

1)

Fungsi afektif

2)

Hal yang perlu dikaji seberapa jauh keluarga saling asuh dan saling mendukung, hubungan baik dengan orang lain, menunjukkan rasa empati, perhatian terhadap perasaan (Friedman, 2010). Fungsi sosialisasi

3)

Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, penghargaan, hukuman, serta memberi dan menerima cinta (Friedman, 2010). Fungsi keperawatan

a) Keyakinan, nilai, dan prilaku kesehatan : menjelaskan nilai yang dianut keluarga, pencegahan, promosi kesehatan yang dilakukan dan tujuan kesehatan keluarga (Friedman, 2010).

b) Status kesehatan keluarga dan keretanan terhadap sakit yangdirasa : keluarga mengkaji status kesehatan, masalah kesehatan yang membuat kelurga rentan terkena sakit dan jumlah kontrol kesehatan (Friedman, 2010).

c) Praktik diet keluarga : keluarga mengetahui sumber makanan yang dikonsumsi, cara menyiapkan makanan, banyak makanan yang dikonsumsi perhari dan kebiasaan mengkonsumsi makanan kudapan (Friedman, 2010).

4)

penyakit, perawatan keluarga dirumah dan keyakinan keluarga dalam perawatan dirumah (Friedman, 2010). e) Tindakan pencegahan secara medis : status imunisasi anak, kebersihan gigi setelah makan, dan pola keluarga dalam mengkonsumsi makanan (Friedman, 2010). Fungsi reproduksi Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah :

5)

berapa jumlah anak, apa rencana keluarga berkaitan dengan jumlah anggota keluarga, metode yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga (Padila, 2012). Fungsi ekonomi

Data ini menjelaskan mengenai kemampuan keluarga dalam memenuhi sandang, pangan, papan, menabung, kemampuan peningkatan status kesehatan.

e. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga, metode yang

digunakan sama dengan pemeriksaan fisik klinik head to toe. 13. Fokus Diagnosa keperawatan Keluarga

a. Diagnosa keperawatan keluarga Diagnosa keperawatan keluarga merupakan perpanjangan diagnosis ke system keluarga dan subsitemnya serta merupakan hasil pengkajian keperawatan. Diagnosis keperawatan keluarga termasuk masalah kesehatan aktual dan potensial dengan perawat keluarga yang memiliki kemampuan dan mendapatkan lisensi untuk menanganinya berdasarkan pendidikan dan pengalaman ( Friedman, 2010). Tipologi dari diagnosa keperawatan adalah:

1) Diagnosa keperawatan keluarga aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan). 2) Diagnosa keperwatan keluarga resiko (ancaman) dirumuskan apabila sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi gangguan.

3) Diagnosa keperawatan keluarga sejahtera (potensial) merupakan suatu

kedaan dimana keluarga dalam kondisi sejahtera sehingga kesehatan

keluarga dapat ditingkatkan.

Kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul pada keluarga

dengan masalah hipertensi adalah (NANDA NIC-NOC 2013) :

1)

Penurunan curah jantung

2)

Intoleransi aktivitas

3)

Nyeri (sakit kepala)

4)

Kelebihan volume cairan

5)

Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak

6)

Ketidakefektifan koping

7)

Defisiensi pengetahuan

8) Ansietas

9)

Resiko cidera

b. Skala Prioritas Masalah

Table 2.3 Skala Prioritas Masalah Keluarga

 

Kriteria

Skor

Bobot

1)

Sifat masalah :

   

a) Aktual (tidak/kurang sehat)

3

1

b) Ancaman kesehatan

2

c) Keadaan sejahtera

1

2)

Kemungkinan masalah dapat diubah

   

a) Mudah

2

b) Sebagian

1

2

c) Tidak dapat

0

3)

Potensi masalah untuk dicegah :

   

a) Tinggi

3

b) Cukup

2

1

c) Rendah

1

4)

Menonjolnya masalah:

   

a. Masalah dirasakan dan perlu segera ditangani

2

1

b. Masalah dirasakan tapi tidak perlu segera ditangani

c. Masalah tidak dirasakan

1

0

 

Total Skore

   

Sumber : Baylon & Maglaya (1978) dalam Padila (2012)

Keterangan :

Total Skor didapatkan dengan: Skor (total nilai kriteria) x Bobot =Nilai Angka tertinggi dalam skor

Cara melakukan Skoring adalah :

1)

Tentukan skor untuk setiap criteria

2)

Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot

3)

Jumlah skor untuk semua criteria

4) Tentukan skor, nilai tertinggi menentukan urutan nomor diagnosa

keperawatan keluarga.

14. Fokus Intervensi Keperawatan Keluarga

Intervensi keperawatan keluarga dibuat berdasarkan pengkajian, diagnosis

keperawatan, pernyataan keluarga, dan perencanaan keluarga, dengan

merumuskan tujuan, mengidentifikasi strategi intervensi alternative dan

sumber, serta menentukan prioritas, intervensi tidak bersifat rutin, acak, atau

standar, tetapi dirancang bagi keluarga tertentu dengan siapa perawat keluarga

sedang bekerja (Friedman, 2010).

Rencana asuhan keperawatan keluarga (NANDA NIC-NOC 2013) dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 2.4 Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga Berdasarkan NANDA NIC-NOC 2013

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

1

Penurunan curah jantung Definisi : ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh

NOC Cardiac Pump effectiveness Circulation Status Vital Sign Status Kriteria Hasil :

NIC

Cardiac Care

- Evaluasi adanya nyeri dada (intensitas, lokasi, durasi)

- Catat adanya disritmia jantung

- Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput

 

Tanda vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi, Respirasi). Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan Tidak ada edema paru, perifer dan tidak ada asites Tidak ada penurunan kesadaran

- Monitor status kardiovaskuler

- Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung

- Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi

- Monitor balance cairan

- Monitor adanya perubahan tekanan darah

- Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmia

 

- Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan

- Monitor toleransi aktivitas pasien

- Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu

Anjurkan untuk menurunkan stress Vital Sign Monitoring

-

- Monitor TD, nadi, suhu dan RR

- Catat adanya fluktuasi tekanan darah

- Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri

- Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan

- Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas

- Monitor kualitas dari nadi

     

- Monitor adanya pulsus paradoksus

- Monitor adanya pulsus alterans

- Monitor jumlah dan irama jantung

- Monitor bunyi jantung

2

Intoleransi aktivitas Definisi : Ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang harus atau yang ingin dilakukan

NOC Energy conservation Activity tolerance Self Care : ADLs Kriteria Hasil :

Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi, dan RR Mampu melakukan aktivitas sehari-hari (ADLs) secara mandiri Tanda tanda vital normal Energy psikomotor Level kelemahan Mampu berpindah : dengan atau tanpa bantuan alat Status kardio pulmunari adekuat Sirkulasi status baik Status respirasi : pertukaran gas dan ventilasi adekuat

NIC Activity Therapy

- Kolaborasikan dengan tenaga rehabilitasi Medik dalam merencanakan program terapi yang tepat

- Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan

- Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social

 

- Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan

- Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda,krek

- Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai

- Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang

- Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas

- Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas

- Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan

- Monitor respon fisik, emosi, social dan spiritual.

3

Nyeri Akut Definisi : Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan

NOC Pain Level

NIC Pain Management

Pain Control

-

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

Comfort level

Kriteria Hasil :

 

yang aktual atau potensial atau digambarka dalam hal kerusakan sedemikian rupa (internatioal association for the study of pain) : awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung <6 bulan.

Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mnecari bantuan) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri Mampu mengenali nyeri (skala

- Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

- Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien

- Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri

- Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau

- Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau

- Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

- Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan

- Kurangi faktor presipitasi nyeri

 

intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

- Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)

 

- Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

- Ajarkan tentang teknik non farmakologi

- Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

- Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

- Tingkatkan istirahat

- Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

- Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

4

Kelebihan volume cairan Definisi : Peningkatan retensi cairan isotonik

NOC Electrolit and acid base balance Fluid balance Hydration Kriteria Hasil :

NIC Fluid management

- Timbang popok/pembalut jika diperlukan

 

- Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

- Pasang urin kateter jika diperlukan

Terbebas dari edema, efusi, anaskara

- Monitor hasil Hb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN, Hmt, osmolalitas urin)

   

Bunyi nafas bersih, tidak ada dyspneu/ortopneu Terbebas dari distensi vena jugularis, reflek hepatojugular (+) Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, output jantung dan vital sign dalam batas normal Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau kebingungan Menjelaskan indikator kelebihan cairan

- Monitor status hemodinamik termasuk CVP,MAP,PAP, dan PCWP

- Monitor vital sign

- Monitor indikasi retensi/kelebihan cairan (cracles, CVP, edema, distensi vena leher, asites)

- Kaji lokasi dan luas edema

- Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori

- Monitor status nutrisi

- Kolaborasi pemberian diuretik sesuai interuksi

- Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatrermi dilusi dengan serum Na<130 mEq/l

- Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk

5

Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak Definisi : Berisiko mengalami penurunan sirkulasi jaringan otak yang dapat mengganggu kesehatan

NOC Circulation status Tissue Prefusion : celebral Kriteria Hasil :

Mendemonstrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan :

NIC Peripheral Sensation Management (Manajemen sensasi perifer)

- Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul

- Monitor adanya paretese

 

Tekanan systole dandiastole dalam rentang yang diharapkan Tidak ada ortostatikkhipertensi Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (tidak lebih dari 15 mmHg) Mendemonstrasikan kemampuan kognitif yang ditandai dengan:

- Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada isi atau laserasi

- Gunakan sarung tangan untuk proteksi

- Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung

- Monitor kemampuan BAB

- Kolaborasi pemberian analgetik

- Monitor adanya trombo plebitis

- Diskusikan mengenai penyebab perubahan sensasi

Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan Menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi Memproses informasi Membuat keputusan dengan benar Menunjukkan fungsi sensori motori cranial yang utuh :

tingkat kesadaran membaik, tidak ada gerakan gerakan involunter

6

Ketidakefektifan koping Definisi : Ketidak mampuan untuk membentuk penilaian valid tentang stressor, ketidak adekuatan pilihan respon yang dilakukan dan/atau ketidak mampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia

NOC Decison making Role inhasmet Sosial support Kriteria Hasil :

Mengidentifikasi pola koping yang efektif Mengungkapkan secara verbal tentang koping yang efektif Mengatakan penurunan stres Klien mengatakan telah menerima tentang keadaannya Mampu mengidentifikasi strategi tentang koping

NIC Decison making

- Menginformasikan pasien alternatif atau solusi lain penanganan

- Memfasilitasi pasien untuk membuat keputusan

- Bantu pasien mengidentifikasi keuntungan, kerugian dari keadaan

Role inhancement

- Bantu pasien untuk identifikasi bermacam-macam nilai kehidupan

- Bantu pasien identifikasi strategi positif untuk mengatur pola nilai yang dimiliki Coping inhancement

- Anjurkan pasien untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran yang realistis

- Gunakan pendekatan tenang dan meyakinkan

     

- Hindari pengambilan keputusan pada saat pasien berada dalam stress berat

- Berikan informasi actual yang terkait dengan diagnosis, terapi dan prognosis

7

Defisiensi pengetahuan Definisi : Ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu

NOC Knowledge : disease process Knowledge : health behavior Kriteria Hasil :

NIC Teaching : disease Process

- Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik

Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya

- Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat

 

- Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat

- Ganbarkan proses penyakit dengan cara yang tepat

- Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat

- Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat

- Hindari jaminan yang kosong

 

- Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat

- Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperluhkan untuk mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit

8

Ansietas Definisi : Perasaan tidak nyaman atau kekawatiran yang samar disertai respon autonom (sumber sering kali

NOC Anxiety self-control Anxiety level Coping Kriteria Hasil :

NIC Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)

- Gunakan pendekatan menenangkan

- Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien

 

tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan kemampuan individu untuk bertindak menghadapi ancaman

Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan teknik untuk mengontrol cemas Vital sign dalam batas normal Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan

- Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

- Pahami prespektif pasien terhadap situasi stres

- Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut

- Dorong keluarga untuk menemani anak

- Lakukan back/neck rub

- Dengarkan dengan penuh perhatian

- Identifikasi tingkat kecemasan

- Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan

- Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan,, persepsi

   

- Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi

- Berikan obat untuk mengurangi kecemasan

9

Risiko cidera Definisi : Beresiko mengalami cedera sebagai akibat kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan sumber adaptif dan sumber defensif individu

NOC Risk kontrol Kriteria Hasil :

NIC Environment Management (Manajemen Lingkungan)

- Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien

Klien terbebas dari cedera Klien mampu menjelaskan cara/metode untuk mencegah injury/cedera Klien mampu menjelaskan factor resiko dari lingkungan/perilaku personal Mampu memodifikasi gaya hidup untuk mencegah injury Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada

- Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien

- Menghindarkan lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan perabotan)

 

- Memasang side rall tempat tidur

- Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih

- Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau pasien

- Membatasi pengunjung

- Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien

Mampu mengenali perubahan status kesehatan

- Mengontrol lingkungan dari kebisingan

- Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan

 

- Memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perubahan status kesehatan dan penyebab penyakit.

Sumber : NANDA NIC-NOC, 2013

BAB III TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian Keperawatan

1. Data Umum

a. Nama kk

: Tn.M

b. Pekerjaan KK

: Petani

c. Pendidikan KK

: SD

d. Agama

: Islam

e. Alamat

: Ds.Nekudu

f. Tanggal pengkajian

: 28 mei 2018

g. Komposisi Anggota Keluarga

Tabel 3.1 Komposisi Anggota Keluarga

Nama

Jk

Umur

Pdkn

 

Status imunisasi

 

BCG

DPT

Polio

Hts

Cmpk

Tn.M

L

33

th

SD

         

Ny.U

P

29

th

SMP

         

An.M

L

12

th

SD

         

An.M

P

10

th

           

Ny.A

P

54

th

SD

         

h. Riwayat kesehatan sekarang

1)

Keluhan utama keluarga :

Ny.A diantar oleh keluarga ke Puskesmas Asinua pada tanggal 28 mei

2018 sekitar pukul 09.00 dengan keluhan utama sakit kepala.

Saat dilakukan pengkajian Ny.A mengeluh kepala terasa sakit.

Riwayat keluhan :

P: Ny.A mengatakan timbulnya keluhan karena tekanan darahnya yang

kembali naik.

Q: Ny.A mengatakan keluhan yang dirasakan seperti tertekan benda

berat

R: Ny.A mengatakan keluhan dirasakan pada daerah kepala dan leher

S: Skala nyeri 6 (sedang)

T: Ny.A mengatakan keluhan timbul secara tiba-tiba, sakit kepala yang

dirasakan hilang timbul

2)

Keluhan yang menyertai : Ny.A mengatakan kepala terasa sakit disertai pusing, nyeri pada leher dan terasa berat. Hasil pemeriksaan : Ny.A tampak meringis, Ny.A tampak gelisah.

i. Genogram G.I K G.II G.III
i. Genogram
G.I
K
G.II
G.III

Keterangan :

Keterangan : : Laki-laki

: Laki-laki

: Perempuan

: Meninggal

: Meninggal

Keterangan : : Laki-laki : Perempuan : Meninggal : Garis keturunan : Tinggal serumah : Anggota

: Garis keturunan

: Tinggal serumah

: Anggota keluarga sakit (Ny.A)

j. Tipe keluarga Keluarga besar terdiri dari ayah, ibu, anak dan nenek

k. Suku bangsa Semua anggota keluarga Tn.M bersuku tolaki.

l. Agama Semua anggota keluarga beragama islam

m. Status sosial ekonomi Tn. M bekerja sebagai petani, Ny.U sebagai ibu rumah tangga dan Ny.A berjualan (warung sembako). Penghasilan keluarga dalam sebulan ±

2.000.000.

n. Aktivitas rekreasi keluarga Keluarga Tn.M hanya sekali setahun untuk pergi rekreasi, dan keluarga mendapatkan sarana hiburan dari menonton TV.

2.

Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga

a. Tahap perkembangan keluarga Tahap perkembangan keluarga saat ini adalah anak sekolah (families with shoolchildren)

b. Tugas perkembangan keluarga

1)

Mendorong anak mereka yang sedang berkembang untuk lebih mandiri serta menciptakan lingkungan yang sehat. 2) Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi : Semua tugas perkembangan keluarga sudah terpenuhi

c. Riwayat keluarga inti Keluarga mengatakan tidak anggota keluarga inti yang menderita penyakit keturunan atau mengidap penyakit tertentu.

d. Riwayat keluarga sebelumya

Tn.M mengatakan hanya Ny.A yang menderita penyakit hipertensi, keluarga sebelumnya baik dari pihak suami maupun istri belum pernah ada yang mengalami keluhan/masalah kesehatan yang sama seperti Ny.A

Tugas perkembangan keluarga yang sudah terpenuhi :

3. Lingkungan

a. Karakteristik rumah Jenis rumah yaitu semi permanen, status kepemilikin rumah adalah milik pribadi Tn.M dengan jumlah kamar 4, kamar mandi 1, dapur 1, atap seng lantai ruang tamu dan tengah dari keramik. Rumah mempunyai ventilasi yang cukup dan sirlukasi udara yang bagus serta pencahayaan yang baik. Sumber air keluarga yaitu sumur, dengan kondisi bersih dan tidak berbau. Jarak kamar mandi dengan sumur ± 10 meter.

b. Dena Rumah K.4 R.TAMU DAP UR K.2 K.1 K.3 R.TAMU
b. Dena Rumah
K.4
R.TAMU
DAP
UR
K.2
K.1
K.3
R.TAMU

c. Karakteristik tetangga dan komunitas RT/RW Tidak ada karakteristik khusus tetangga atau komunitas, hubungan bertetangga dan komunitas berjalan rukun, tidak ada aturan khusus yang mengikat individu dalam bermasyarakat selama tidak menimbulkan keresahan bagi masyarakat lainnya.

d. Mobilitas geografis keluarga Mobilitas keluarga menggunakan sepeda motor. Ny.A jika ingin ke Puskesmas di antar oleh anak yaitu Tn.M. Keluarga tidak memiliki kebiasaan berpindah tempat tinggal

e. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Tidak ada perkumpulan yang diikuti keluarga, interaksi keluarga dengan masyarakat terjalin baik, interaksi antar warga banyak dilakukan pada saat selesai sholat bersama di masjid dan sore hari di teras warung.

f. Sistem pendukung keluarga Jika ada masalah maka keluarga akan menyelesaikan dengan musyawarah. Keluarga memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia di Desa yaitu Puskesmas

4. Struktur Keluarga

a. Pola komunikasi keluarga Keluarga Tn.M selalu berkomunikasi dengan baik dan selalu berkomunikasi dengan keluarga yang lainnya, bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa daerah tolaki dan bahasa indonesia. Komunikasi dilakukan dengan cara terbuka, jika ada masalah maka keluarga akan menyelesaikan dengan musyawarah.

b. Struktur kekuatan keluarga Pengambilan keputusan dalam keluarga dilakukan dengan cara musyawarah seluruh anggota keluarga. Tn.M selaku kepala keluarga memiliki kekuatan untuk mengendalikan dan mempengaruhi anggota keluarga untuk merubah prilaku.

Peran informal: Tn.M memiliki tanggungjawab untuk mencari nafkah, Ny.U sebagai ibu rumah tangga dan Ny.A memiliki akdil yang cukup berpengaruh dalam keluarga, dan Anak-anak Tn.M.

d. Nilai dan norma Di dalam keluarga Tn.M tidak ada nilai dan norma khusus yang mengikat anggota keluarga, untuk masalah kesehatan keluarga juga tidak memiliki

praktik yang harus dilakukan. Sistem nilai yang dianut dipengaruhi oleh adat dan agama.

5. Fungsi Keluarga

a. Fungsi afektif Hubungan Tn.M dengan istri, ibu beserta anaknya terjalin dengan baik, angota keluarga saling menghormati, memperhatikan, menyayangi dan menyemangati.

b. Fungsi sosialisasi Interaksi dalam keluarga terjalin dengan akrab dan disiplin, saling mengenal dengan masyarakat lainnya.

c. Fungsi reproduksi Tn.M memiliki 2 anak, keluarga mengendalikan jumlah anak dengan mengikuti program keluarga berencana (KB).

d. Fungsi ekonomi Tn. M bekerja sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Ny.A juga turut serta membantuh ekonomi keluarga dengan berjualan (warung sembako). Keluarga memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada, keluarga menggunakan kartu KIS untuk berobat.

e. Fungsi perawatan kesehatan keluarga 1) Kemampuan keluarga mengenal masalah

a) Keluarga mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit hipertensi

b) Ny.A mengatakan masih sering mengosumsi garam yang berlebih

c) Ny.A mengatakan masih sering mengosumsi yang bersantan, ikan asin.

Hasil pengkajian :

a) Ny.A dan keluarga kurang dapat mengingat

b) Ny.A dan keluarga tampak bingung dan tidak mengerti ketika ditanya mengenai penyakit hipertensi. 2) Kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan yang tepat : Keluarga sudah mampu mengambil keputusan yang tepat.

keluarga mengantarkan Ny.A ke Puskesmas. Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit : Keluarga mengatakan tidak tahu cara merawat anggota keluarga yang sakit dengan hipertensi

4) Kemampuan keluarga memodifikasi lingkungan : Keluarga tidak mampu memodifikasi lingkungan yang baik untuk perawatan

hipertensi. Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada yaitu Puskesmas.

5)

3)

6. Stres Dan Koping Keluarga

a. Stresor jangka pendek dan jangka panjang

1)

Jangka pendek (<6 bulan)

2)

Keluarga mengatakan sementara tidak mempunyai masalah berat, hanya saja Ny.A mengalami keluhan sakit kepala. Jangka panjang (>6 bulan) Keluarga mengatakan stressor jangka panjang yaitu memikirkan masalah biaya untuk hidup dan tetap menyekolahkan anak-anaknya setingi mungkin serta meningkatkan taraf hidup keluarganya.

b. Respon keluarga terhadap stresor dan mekanisme koping yang digunakan

1)

Respon keluarga terhadap stresor

2)

Keluarga menganggap masalah kesehatan yang dialami Ny.A harus mendapatkan penanganan segera agar tidak terjadi kondisi lebih buruk lagi. Strategi koping yang digunakan Keluarga memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada untuk mengatasi keluhan Ny.A

c.

Strategi adaptasi disfungsional

Keluarga Tn.M tidak pernah melakukan perilaku kasar atau kejam terhadap

anggota keluarganya dan tidak pernah melakukan ancaman dalam

menjelaskan masalah.

7. Harapan Keluarga

Keluarga berharap terhadap petugas kesehatan agar memberikan pengobatan

untuk kesembuhan kepada Ny.A

8. Pemeriksaan Fisik Tabel 3.2 Pemeriksaan Fisik Keluarga

Data

Tn.M

Ny.U

An.M

An.M

Ny.A

TTV

TD : 130/90 N : 76 x/m RR : 20 x/m S : 36,5 ̊ C

TD: 110/80 N : 78x/m RR : 20 x/m S : 37 ̊

TD : - N : 84x/m RR : 22 x/m S : 36,7 ̊ C

TD : - N : 94x/m RR : 22 x/m S : 36,5 ̊ C

TD:180/110

N: 96x/m RR: 18x/m S : 37 ̊ C

Kepala

Bentuk

Bentuk

Bentuk

Bentuk

Bentuk

simetris,

simetris,

simetris,

simetris,

simetris,

bersih,

bersih,

bersih,

bersih,

bersih,

rambut

rambut

rambut

rambut

rambut

warna hitam

warna hitam

warna hitam

warna hitam

warna hitam

dengan

sedikit uban

Leher

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

pembesaran

pembesaran

pembesaran

pembesaran

pembesaran

kelenjar

kelenjar

kelenjar

kelenjar

kelenjar

getah

getah

getah

getah

getah

bening

bening

bening

bening

bening

Aksila

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

lesi dan

lesi dan

lesi dan

lesi dan

lesi dan

pembengka-

pembengka-

pembengka-

pembengka-

pembengka-

kan pada

kan pada

kan pada

kan pada

kan pada

axila

axila

axila

axila

axila

Dada

Dada

Dada

Dada

Dada

Dada

tampak

tampak

tampak

tampak

tampak

simetris,

simetris,

simetris,

simetris,

simetris,

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

terdengar

terdengar

terdengar

terdengar

terdengar

suara

suara

suara

suara

suara

nafas

nafas

nafas

nafas

nafas

tambahan,

tambahan,

tambahan,

tambahan,

tambahan,

tidak lesi

tidak lesi

tidak lesi

tidak lesi

tidak lesi

dan

dan

dan

dan

dan

pembengk

pembengk

pembengk

pembengk

pembengk

akan

akan

akan

akan

akan

 

berupa

berupa

berupa

berupa

berupa

benjolan,

benjolan,

benjolan,

benjolan,

benjolan,

tidak ada

tidak ada

tidak ada

tidak ada

tidak ada

retraksi

retraksi

retraksi

retraksi

retraksi

dinding

dinding

dinding

dinding

dinding

dada

dada

dada

dada

dada

Abdom-

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

en

asietes,

asietes,

asietes,

asietes,

asietes,

tidak ada

tidak ada

tidak ada

tidak ada

tidak ada

nyeri

nyeri

nyeri

nyeri

nyeri

tekan dan

tekan dan

tekan dan

tekan dan

tekan dan

nyeri lepas

nyeri lepas

nyeri lepas

nyeri lepas

nyeri lepas

disetiap

disetiap

disetiap

disetiap

disetiap

kuardran

kuardran

kuardran

kuardran

kuardran

Ekstre-

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

mitas

oedema,

oedema,

oedema,

oedema,

oedema,

atas

pergerakan

pergerakan

pergerakan

pergerakan

pergerakan

baik

baik

baik

baik

baik

Ekstre-

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

mitas

oedem,

oedem,

oedem,

oedem,

oedem,

bawah

varises tidak

varises tidak

varises tidak

varises tidak

varises tidak

ada, turgor

ada, turgor

ada, turgor

ada, turgor

ada, turgor

kulit baik.

kulit baik.

kulit baik.

kulit baik.

kulit baik.

B. Data Fokus

Kepala Keluarga

: Tn.M

Anggota Keluarga Sakit

: Ny.A

Table 3.3 Data Fokus Hasil Pengkajian Keperawatan Keluarga

 

Data Subjektif

Data Objektif

1.

Ny.A mengeluh kepala terasa sakit. P: Ny.A mengatakan timbulnya keluhan karena tekanan darahnya yang kembali naik. Q: Ny.A mengatakan keluhan yang dirasakan seperti tertekan benda berat R: Ny.A mengatakan keluhan dirasakan pada daerah kepala dan leher. S: Skala nyeri 6 (sedang) T: Ny.A mengatakan keluhan timbul secara tiba-tiba, sakit kepala yang dirasakan hilang timbul

1. Ny.A tampak meringis

2. Ny.A tampak gelisah

3. Ny.A dan keluarga kurang dapat mengingat.

4. Ny.A dan keluarga tampak bingung dan tidak mengerti ketika ditanya mengenai penyakit hipertensi.

5. TTV: TD:180/110, N: 96x/m, RR: 18x/m, S : 37 ̊ C.

2. Ny.A mengatakan pusing, nyeri pada leher dan terasa berat.

3. Keluarga mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit hipertensi.

4. Ny.A mengatakan masih sering mengosumsi garam yang berlebih

5. Ny.A mengatakan masih sering mengosumsi yang bersantan, ikan asin.

6. Keluarga mengatakan tidak tahu cara merawat anggota keluarga yang sakit dengan hipertensi

C. Diagnosa Keperawatan Keluarga

1. Analisa Data

Tabel 3.4 Analisa Data Diagnosa Keperawatan Keluarga

No

Data

Penyebab

Masalah

1

DS :

 

Nyeri Akut

1. Ny.A mengeluh kepala terasa sakit. P: Ny.A mengatakan timbulnya keluhan karena tekanan darahnya yang kembali naik. Q: Ny.A mengatakan keluhan yang dirasakan seperti tertekan benda berat R: Ny.A mengatakan keluhan dirasakan pada daerah kepala dan leher S: Skala nyeri 6 (sedang) T: Ny.A mengatakan keluhan timbul secara tiba- tiba, sakit kepala yang dirasakan hilang timbul

Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga sakit

2. Ny.A mengatakan pusing, nyeri pada leher dan terasa berat.

DO:

1. Ny.A tampak meringis

2. Ny.A tampak gelisah.

3. Tanda-tanda vital.

TD:180/110

N: 96x/m RR: 18x/m S : 37 ̊ C

2

DS :

Ketidakmampuan

Defisiensi

1.

Keluarga mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit hipertensi

keluarga

pengetahuan

mengenal

masalah

2.

Keluarga mengatakan tidak tahu cara merawat anggota keluarga yang sakit dengan hipertensi

3.

Ny.A mengatakan masih sering mengosumsi garam yang berlebih

4.

Ny.A mengatakan masih sering mengosumsi yang bersantan, ikan asin.

DO :

1. TD : 180/110 mmHg

2. Ny.A dan keluarga kurang dapat mengingat

3. Ny.A dan keluarga tampak bingung dan tidak mengerti ketika ditanya mengenai penyakit hipertensi.

2. Skoring Diagnosa Keperawatan Keluarga

a. Nyeri Akut b/d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga sakit

Tabel 3.5 Skoring Diagnosa Keperawatan Keluarga Nyeri Akut

No

Kriteria

Perhitungan

Skor

Pembenaran

1

Sifat masalah :

3x1/3

1

Masalah nyeri akut pada Ny.A dirasakan dan perlu tindakan perawatan

Aktual : 3

2

Kemungkinan masalah dapat diubah : Sebagian : 1

1x2/2

1

Pengetahuan sumber daya dan fasilitas kesehatan tersedia dan dapat dijangkau /dimanfaatkan

3

Potensial masalah untuk dicegah cukup : 2

2x1/3

0,6

Nyeri dapat

dicegah bila

keluarga

mengetahui cara

 

perawatan yang

benar

4

Menonjol masalah:

2x1/2

1

Masalah dirasakan oleh Ny.A dan bisa menjadi lebih serius bila tidak segera ditanggani

Masalah dirasakan dan perlu segera ditangani : 2

 

Total Skore

 

3,6

 

b. Defisiensi pengetahuan b/d ketidakmampuan keluarga dalam mengenal

masalah

Tabel 3.6 Skoring Diagnosa Keperawatan Defisiensi Pengetahuan

No

Kriteria

Perhitungan

Skor

Pembenaran

1

Sifat masalah :

3x1/3

1

Keluarga tidak

Aktual : 3

mengetahui

tentang penyakit

hipertensi

2

Kemungkinan masalah dapat diubah Sebagian : 1

1x2/2

1

Dengan informasi yang cukup, akan menambah wawasan dan pengetahuan keluarga mengenai hipertensi

3

Potensial untuk

3x1/3

1

Hipertensi adalah penyakit yang dapat dikendalikan apabila keluarga mengetahui

Dicegah :

Mudah : 3

4

Menonjol masalah Masalah tidak dirasakan : 0

0x1/2

0

Masalah tidak dirasakan oleh Ny.A dan keluarga

 

Total Skore

 

3

 

3. Prioritas Diagnosa Keperawatan Keluarga

a. Nyeri Akut berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat

angggota keluarga sakit yang ditansai dengan :

Data subjektif :

P: Ny.A mengatakan timbulnya keluhan karena tekanan darahnya yang kembali naik. Q: Ny.A mengatakan keluhan yang dirasakan seperti tertekan benda berat

R: Ny.A mengatakan keluhan dirasakan pada daerah kepala dan leher S: Skala nyeri 6 (sedang) T: Ny.A mengatakan keluhan timbul secara tiba-tiba, sakit kepala yang dirasakan hilang timbul 2) Ny.A mengatakan pusing, nyeri pada leher dan terasa berat. Data objektif :

1)

Ny.A tampak meringis

2)

Ny.A tampak gelisah.

3)

Tanda-tanda vital.

TD:180/110

N: 96x/m RR: 18x/m S : 37 ̊ C b. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah yang ditandai dengan :

Data subjektif :

1)

2) Keluarga mengatakan tidak tahu cara merawat anggota keluarga yang sakit dengan hipertensi

Keluarga mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit hipertensi

3)

Ny.A mengatakan masih sering mengosumsi garam yang berlebih

4)

Ny.A mengatakan masih sering mengosumsi yang bersantan, ikan asin.

Data objektif :

1)

TD : 180/110 mmHg

2)

Ny.A dan keluarga kurang dapat mengingat

3) Ny.A dan keluarga tampak bingung dan tidak mengerti ketika ditanya

mengenai penyakit hipertensi.

D. Intervensi Keperawatan Keluarga

Tabel 3.7 Intervensi Keperawatan Keluarga

No

Diagnosa keperawatan

Tujuan dan kriteria hasil (NOC)

Intervensi (NIC)

1

Nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga sakit.

NOC :

NIC

Setelah dilakukan kunjungan rumah sebanyak 3 kali kunjungan rumah diharapkan nyeri teratasi. Kriteria hasil :

1. Klien mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

Manejemen nyeri

1. Kaji nyeri secara komprehensif.

2. Observasi tanda-tanda vital

 

3. Ajarkan/demonstrasikan teknik manajemen nyeri (teknik relaksasi)

4. Ajarkan/demonstrasikan teknik manajemen nyeri (distraksi)

5. Anjurkan/demonstrasikan pada klien dan keluarga kompres hangat pada kepala bagian belakang.

6. Anjurkan klien untuk meningkatkan istrahat.

2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan manajemen nyeri.

7. Beri lingkungan yang nyaman untuk mengurangi nyeri.

8. Beri informasi pada klien dan keluarga tentang nyeri dan perawatan yang diberikan.

3. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

9. Kolabari pemberian terapi farmakologi (analgetik) untuk megurangi nyeri (katopril 25 mg)

2

Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah.

NOC :

NIC

Setelah dilakukan kunjungan rumah sebanyak 3 kali kunjungan rumah diharapkan keluarga mengetahui proses penyakit. Kriteria hasil :

Teaching : disease proses

1. Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipertensi

2. Diskusikan dengan keluarga tentang hipertensi dengan menggunakan leaflet/lembar balik meliputi pengertian hipertensi, penyebab, tanda dan gejalah, proses penyakit,

 

1.

Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit,

komplikasi, perawatan dan pencegahan hipertensi.

3. Diskusikan dengan keluarga tentang keputusan untuk merawat anggota kelaurga sakit.

kondisi, dan program pengobatan.

4. Diskusikan dengan keluarga cara merawat anggota keluarga yang sakit.

2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.

3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat.

5. Jelaskan makanan yang harus dikonsumsi dan dihindari penderita hipertensi.

6. Diskusikan dengan keluarga tentang lingkungan yang menunjang kesehatan.

7. Diskusikan bersama keluarga tentang pemanfaatan fasilitas kesehatan.

4. Klien dan keluarga mengetahui komplikasi hipertensi

E. Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan Keluarga Tabel 3.8 Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan Keluarga

 

Hari

   

Hari

   

Diagnosa

keperawatan

Tanggal

Jam

Implementasi

Paraf

Tanggal

Jam

 

Evaluasi

SOAP

Paraf

Nyeri akut b.d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga sakit.

Senin

1. Mengkaji nyeri secara komprehensif.

 

Selasa

Subjektif :

 

28/5/18

29/5/18

- Klien mengatakan nyeri masih

16.00

Hasil :

15.55

P: Ny.A mengatakan timbulnya keluhan karena tekanan darahnya yang kembali naik. Q: Ny.A mengatakan keluhan yang dirasakan seperti tertekan benda berat R: Ny.A mengatakan keluhan dirasakan pada daerah kepala dan leher S: Skala nyeri 6 (sedang) T: Ny.A mengatakan keluhan timbul secara tiba- tiba, sakit kepala yang dirasakan hilang timbul

2. Mengobservasi tanda-tanda vital. Hasil :

dirasakan namun sudah sedikit berkurang (skala nyeri 4).

- Klien mengatakan mampu mengontrol nyeri dengan teknik relaksasi dan distraksi (klien melakukan teknik distraksi nyeri dengan membaca Al-Quran).

 

- Klien menyebutkan penyebab terjadinya dan nyeri.

- Klien mengatakan nyeri sedikit berkurang setelah melakukan teknik menejeman nyeri yang diajarkan.

Klien mengatakan merasa lebih nyaman dan nyeri berkurang setelah melakukan kompres hangat pada kepala bagian belakang. Objektif :

-

TD:180/110

-

Klien mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi, distraksi dan kompres

N: 96x/m

RR: 18x/m

S : 37 ̊ C 3. Mengajarkan/demonstrasika hangat pada kepala bagian belakang. n teknik manajemen
S : 37 ̊ C
3.
Mengajarkan/demonstrasika
hangat pada kepala bagian
belakang.
n
teknik manajemen nyeri
(teknik relaksasi).
Hasil :
- Klien mampu menyebutkan
penyebab terjadinya nyeri.
DS : Klien mengatakan
bersedia diajarkan
teknik relaksasi
- Ny.A tidak lagi terlihat gelisah
dan meringis.
- Tanda-tanda vital :
DO : Klien mengikuti teknik
relaksasi yang
diajarkan.
4.
Mengajarkan/demonstrasika
teknik manajemen nyeri
(distraksi).
DS : Klien mengatakan
belum tahu apa itu
teknik distraksi.
DO : Tampak klien
menyimak teknik
distraksi yang
diajarkan.
n
TD : 150/100.
N : 90 x/m
RR : 18 x/m
S : 36,8 ̊ C
A : Masalah teratasi sebagian
Planning :
- Kaji skala nyeri
- Observasi TTV
- Anjurkan melakukan teknik
relaksasi.
- Anjurkan melakukan teknik
distraksi.
5.
Menganjurkan/demonstrasik
- Anjurkan memberi kompres
hangat pada kepala bagian
belakang.
an pada klien dan keluarga
kompres hangat pada kepala
bagian belakang.
Hasil : Klien dan keluarga
kooperatif.
- Anjurkan klien meningkatkan
istrahat.
6.
Menganjurkan klien untuk
meningkatkan istrahat.
Hasil : DS : Klien mengatakan paham dengan instruksi yang disampaikan. DO : Klien kooperatif.
Hasil :
DS : Klien mengatakan
paham dengan instruksi
yang disampaikan.
DO : Klien kooperatif.
Tampak menyimak
dengan baik instruksi
yang disampaikan.
7. Menganjurkan keluarga
memberi lingkungan yang
nyaman untuk klien untuk
mengurangi nyeri.
Hasil :
DS : Keluarga mengatakan
paham dengan instruksi
yang disampaikan
DO : Keluarga kooperatif.
8. Memberikan informasi pada
klien dan keluarga tentang
nyeri dan perawatan yang
diberikan.
Hasil :
DS : Klien mengatakan
bersedia mendengarkan
informasi.
DO : Tampak klien dan
keluarga menyimak
informasi yang
disampaikan.

Defisiensi pengetahuan b.d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah.

Senin

1. Mengkaji pengetahuan klien dan keluarga tentang

Selasa

Subjektif :

28/5/18

29/5/18

- Keluarga mengatakan paham

16.25

16.05

tentang penyakit, kondisi, dan program pengobatan yang diberikan pada Ny.A.

- Keluarga mengatakan melaksanakan program pengobatan sesuai dengan yang dijelaskan perawat.

-

hipertensi. Hasil :

DS : Klien mengatakan hipertensi adalah darah tinggi. DO : Klien dan keluarga tampak bingung ketika

 

ditanya tentang hipertensi.

2. Mendiskusikan dengan keluarga tentang hipertensi dengan menggunakan leaflet/lembar balik meliputi pengertian hipertensi, penyebab, tanda dan gejalah, proses penyakit, komplikasi, perawatan dan pencegahan hipertensi. DS : Keluarga mengatakan bersedia mendengarkan

informasi. DO : Keluarga kooperatif.

3. Mendiskusikan dengan keluarga tentang keputusan untuk merawat anggota kelurga sakit. DS : Keluarga mengatakan memanfaatkan

Keluarga menyebutkan pengertian hipertensi, penyebabnya, tanda dan gejalah, komplikasi, perawatan dan pencegahan penyakit hipertensi dengan bahasa sendiri. Objektif :

- Klien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.

- Klien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan namun masih sering lupa dan tidak lancar.

Klien dan keluarga mengetahui komplikasi hipertensi A : Masalah teratasi sebagian. Planning :

-

-

kaji pengetahuan keluarga tentang hipertensi.

Puskesmas untuk mengobati Ny.A DO : Keluarga kooperatif 4. Mendiskusikan dengan keluarga cara merawat (program
Puskesmas untuk
mengobati Ny.A
DO : Keluarga kooperatif
4. Mendiskusikan dengan
keluarga cara merawat
(program pengobatan)
anggota keluarga yang sakit.
DS : Keluarga mengatakan
bersedia diajarkan
tentang cara merawat
- Diskusikan dengan keluarga
tentang hipertensi dengan
menggunakan leaflet/lembar
balik meliputi pengertian
hipertensi, penyebab, tanda dan
gejalah, proses penyakit,
komplikasi, perawatan dan
pencegahan hipertensi.
Ny.A.
DO : Keluarga kooperatif.
- Diskusikan dengan keluarga cara
merawat (program pengobatan)
anggota keluarga sakit.
5. Menjelaskan makanan yang
harus dikonsumsi dan
dihindari penderita
hipertensi.
DS : Klien menyebutkan diet
makanan yang baik
untuk hipertensi.
DO : Klien mampu
mengulang informasi
yang disampaikan.
6. Mendiskusikan dengan
keluarga tentang lingkungan
yang menunjang kesehatan.
DS : Keluarga menyebutkan
lingkungan yang baik
untuk menunjang
kesehatan.
     

DO : Keluarga mampu mengulang informasi yang disampaikan.

   

7.

Mendiskusikan bersama keluarga tentang pemanfaatan fasilitas kesehatan. Hasil :

DS : Keluarga menyebutkan manfaat faskes untuk kesembuhan anggota keluarga sakit. DO : Keluarga mampu mengulang informasi yang disampaikan.

Nyeri akut b.d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga sakit.

Selasa

1. Mengkaji skala nyeri. Hasil : Ny.A mengatakan

Rabu

Subjektif :

29/5/18