Anda di halaman 1dari 14

PERHITUNGAN GEDUNG 10 LANTAI DENGAN PERENCANAAN

SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS (SRPMK)


DI JALAN SEPAKAT II KOTA PONTIANAK

Budianto1), Andry Alim Lingga2), Gatot Setya Budi2)

Abstrak
Sebagai perencana suatu struktur bangunan haruslah berdasarkan peraturan yang berlaku,
seperti SNI-03-2847-2013 yang membahas tentang Tata Cara Perhitungan Beton Struktural
untuk Gedung dan SNI-1726-2012 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk
Bangunan Gedung dan Non Gedung. Dalam penulisan ini, bangunan yang akan
direncanakan adalah bangunan fiktif 10 lantai dengan fungsi sebagai kantor dan apartemen.
Perencanaan dan perhitungan struktur gedung ini akan ditinjau terhadap beban mati, beban
hidup, dan beban gempa. Untuk analisa struktur bangunan digunakan aplikasi SAP2000.
Perencanaan tugas akhir ini merupakan KDS A sehingga pengaruh gempah dapat tidak
diperhitungkan ataupun tidak dibatasi untuk diperhitungkan dengan Sistem Rangka Pemikul
Momen Khusus (SRPMK). Digunakan pelat lantai dasar setebal 200 mm dengan
tulangan wiremesh M10 – 150 mm dan pelat lantai 1 – 10 serta lantai atap setebal
150 mm dengan tulangan wiremesh M8 – 150 mm. Dimensi komponen struktur
gedung sebagai berikut balok 30 x 60 cm 2 (bentang 5 m), balok 50 x 100 cm2
(bentang 10 m), kolom 850 x 850 cm 2 (lantai dasar – 4), dan kolom 750 x 750 cm2
(lantai 5 – atap).

Kata kunci: Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK)

1. PENDAHULUAN sebagai kantor dan apartemen.


1.1 Latar Belakang Perencanaan gedung ini bersifat fiktif
Pembangunan di Indonesia dan direncanakan berlokasi di kota
semakin pesat dan tersebar di seluruh Pontianak dengan struktur beton
daerah. Saat ini kota Pontianak bertulang.
termasuk salah satu kota yang sedang Sistem Rangka Pemikul
berkembang dengan pesat. Semakin Momen Khusus (SRPMK) adalah
pesatnya pembangunan dan semakin komponen struktur yang mampu
terbatasnya ketersediaan lahan yang memikul gaya akibat beban gempa
ada, maka pembangunan struktur dan direncanakan untuk memikul
bangunan bertingkat tinggi menjadi lentur untuk daerah kategori desain
salah satu altenatif dalam mengatasi seismik (KDS) B, C, D, E, dan F.
permasalahan lahan yang semakin Menurut SNI 1726-2012 kota
sempit. Pontianak sudah termasuk zona
Bangunan bertingkat tinggi gempa ringan (KDS A atau B) dan
yang direncanakan pada penyusunan mengharuskan setiap bangunan di
tugas akhir ini merupakan gedung kota Pontianak memperhitungakan
sepuluh lantai yang dimanfaatkan parameter gaya gempa. Berdasarkan

1) Alumni Prodi Teknik Sipil FT UNTAN


2) Dosen Prodi Teknik Sipil FT UNTAN
1
peraturan SNI 1726-2012 dan SNI 1.3 Pembatasan Masalah
2847-2013 kota Pontianak tidak wajib Pembatasan masalah dalam
menggunakan SRPMK, akan tetapi penulisan tugas akhir ini adalah
untuk tujuan pembelajaran penulis sebagai berikut:
menggunakan SRPMK dalam  Struktur yang ditinjau bersifat
penulisan ini. fiktif.
Gedung yang direncanakan  Perencanaan mencakup struktur
mempunyai karakteristik sebagai utama dengan Sistem Rangka
berkut : Pemikul Momen Khusus
1 Komponen Struktur Gedung (SRPMK) tanpa shear wall.
a. Komponen struktural beton  Mendesain elemen-elemen
bertulang seperti pelat, balok, struktur seperti pelat, balok,
kolom, dan pondasi. kolom, dan pondasi.
 Mutu beton (𝑓 ′ 𝑐 ) : 30 MPa  Struktur pendukung yang
 Mutu baja (𝑓𝑦 ) tulangan dihitung hanya berupa tangga
longitudinal : 420 MPa (pengaruh lift diabaikan).
 Mutu baja (𝑓𝑦 ) tulangan
transversal : 240 MPa 1.4 Sistem Pembebanan
 Mutu wiremesh : 500 MPa Sistem pembebanan dalam
b. Komponen non struktural perhitungan meliputi sistem
seperti dinding. pembebanan vertikal dan sitem
pembebanan horizontal.
2 Parameter Bangunan Sistem pembebanan vertikal terdiri
a. Jumlah lantai : 10 lantai dari:
b. Panjang bangunan : 30 meter  Beban mati, berupa berat sendiri
c. Lebar bangunan : 30 meter struktur ditambah dengan
d. Tinggi bangunan :40,8 meter komponen-komponen lain yang
e. Tinggi lantai dasar : 3,4 meter berhubungan dengannya.
f. Tinggi lantai 1 – 10: 3,4 meter  Beban hidup, berupa beban
bergerak yang berasal dari berat
1.2 Tujuan Penulisan orang-orang maupun berat beban
Tujuan dari penulisan tugas bergerak lainnya.
akhir ini adalah merencanakan Sistem pembebanan horizontal berupa
struktur bangunan tingkat tinggi di beban gempa.
kota Pontianak dengan Sistem Rangka
Pemikul Momen Khusus (SRPMK) 1.5 Persyaratan yang Digunakan
yang memenuhi syarat kekuatan. Persyatan yang digunakan
adalah sebagai berikut:
 Tata Cara Perhitungan Struktur
Beton untuk Gedung SNI 2847-
2013.

2
 Standar Perencanaan desain seismik B dan C (KDS B
Ketahanan Gempa untuk dan C).
Struktur Bangunan Gedung dan  Sistem Rangka Pemikul
Non Gedung SNI 1726-2012. Momen Khusus (SRPMK),
 Pedoman Perencanaan digunakan untuk kategori
Pembebanan untuk Rumah dan desain seismik B, C, D, E, dan
Gedung 1987. F (KDS B, C, D, E, dan F).

2. TINJAUAN PUSTAKA
3. PERENCANAAN
2.1 Beton Bertulang
PENDAHULUAN
Beton bertulang mempunyai
3.1 Dimensi Elemen Struktur
sifat sesuai dengan sifat bahan Direncanakan dimensi elemen-
penyusunnya, yaitu sangat kuat
elemen struktur sebagai berikut:
terhadap beban tarik maupun beban
tekan. Beban tarik pada beton • Balok B1 ( 30/60 𝑐𝑚2 ) untuk
bertulang ditahan oleh baja tulangan, bentang 5 m
sedangkan beban tekan ditahan oleh • Balok B2 ( 50/100 𝑐𝑚2 ) untuk
beton. Berdasarkan Pasal 8.5.2 SNI bentang 10 m
2847-2013 modulus elastisitas baja • Balok B3 ( sloof 30/60 𝑐𝑚2 )
tulangan nonprategang Es dapat untuk bentang 5 m
diambil 200000 Mpa. Sedangkan • Balok B4 ( sloof 50/100 𝑐𝑚2 )
pada Pasal 8.5.1 SNI 2847-2013 untuk bentang 10 m
modulus elastisitas beton normal • Kolom K1 ( 85/85 𝑐𝑚2 ) untuk
ditentukan berdasarkan: lantai dasar dan 1 – 4
𝐸𝑐 = 4700√𝑓𝑐 ′ • Kolom K2 ( 75/75 𝑐𝑚2 ) untuk
lantai 5 – 10 dan atap
2.2 Sistem Rangka Pemikul • Pelat 20 𝑐𝑚 untuk lantai dasar
Momen (SRPM) • Pelat 15 𝑐𝑚 untuk lantai 1 – 10
Sistem Rangka Pemikul dan atap
Momen (SRPM) merupakan
komponen struktur yang mampu 3.2 Perencanaan Tangga
memikul gaya akibat beban gempa Pada bangunan ini struktur
dan direncanakan untuk memikul tangga yang direncanakan adalah
lentur. Terdapat tiga jenis sistem struktur beton bertulang dengan
rangka pemikul momen yaitu: asumsi-asumsi sebagai berikut:
 Sistem Rangka Pemikul a. Tangga merupakan suatu
Momen Biasa (SRPMB), sistem pelat dengan perletakan
digunakan untuk kategori jepit untuk memperoleh reaksi
desain seismik B (KDS B). tumpuan ke struktur utama dan
 Sistem Rangka Pemikul perletakan sendi untuk
Momen Menengah (SRPMM), memperoleh momen
digunakan untuk kategori maksimum penulangan tangga..

3
b. Bordes tanpa perletakan (ujung 1
bebas) 𝐴𝑠 = ∙ 𝜋 ∙ 102 = 78,500 𝑚𝑚2
4
c. Anak tangga dianggap sebagai Jarak tulangan (s):
beban dan tidak memikul 𝐴𝑠
𝑠= 1000 = 206,851 𝑚𝑚
momen lentur. 𝐴𝑠𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢
Jadi untuk penulangan tangga dan
1. Data Tangga bordes digunakan 𝐷10 − 200 𝑚
 Perbedaan elevasi lantai 340 cm
 Tinggi bordes 170 cm  Tulangan susut
 Lebar tangga 140 cm Berdasarkan SNI 2847-2013 pasal
 Lebar bordes 300 cm 7.12.2.1,
 Tinggi injakan (optrede) 14,17 cm 𝐴𝑠
 Lebar injakan (antrede) 27,50 cm ≥ 0,0018
𝑏ℎ
 Jumlah anak tangga 24 buah 𝐴𝑠𝑚𝑖𝑛 = 0,0018𝑏ℎ = 270 𝑚𝑚2
 Tebal pelat tangga dan bordes, t = Digunakan tulangan susut D10 mm
15 cm 1
𝐴𝑠 = ∙ 𝜋 ∙ 102 = 78,500 𝑚𝑚2
4
2. Perencanaan tulangan tangga dan Jarak tulangan susut (s):
bordes 𝐴𝑠
Mutu beton (𝑓 ′ 𝑐 ) = 30 Mpa 𝑠= 1000 = 290,741 𝑚𝑚
𝐴𝑠𝑚𝑖𝑛
Mutu baja (𝑓𝑦 ) = 420 Mpa Jadi untuk tulangan susut digunakan
Selimut beton (p) = 30 mm D10 – 250 mm
Diameter tulangan (D) = 10 mm
Tinggi efektif, d = t–p–D/2 = 115 mm 4. ANALISIS STRUKTUR
4.1 Desain Struktur
(𝑓𝑐′ − 28) Desain struktur dilakukan
𝛽1 = 0,85 − 0,05 = 0,836
7 dengan program SAP2000 v17.1.1.
𝜌𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,022 Model dengan elemen balok, kolom,
dan pelat yang telah diberi faktor
𝜌𝑚𝑖𝑛 = 0,0033 reduksi inersia berdasarkan SNI 2847-
2013 pasal 10.10.4.1 (0,35 untuk
 Tulangan pokok balok persegi, 0,70 untuk kolom, dan
𝑀 = 14,588 𝑘𝑁 ∙ 𝑚/𝑚 0,25 untuk pelat). Model analisis
𝑀𝑢 gempa yang digunakan adalah analisis
𝑅𝑛 = = 1,226
𝜙𝑏𝑑 2 dinamik yang telah dikalikan faktor
0,85𝑓𝑐′ 2𝑅𝑛 skala guna memenuhi syarat base
𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 = (1 − √1 − ) shear minimum 85% gaya geser 𝑉 =
𝑓𝑦 0,85𝑓𝑐′
𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 = 0,003 𝐶𝑆 𝑊 berdasarkan SNI 1726-2012
𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 < 𝜌𝑚𝑖𝑛 , pasal 7.9.4.1.
Pembebanan yang
maka digunakan 𝜌 = 0,0033
diperhitungkan meliputi:
Luas tulangan yang dibutuhkan:
1. Beban mati, yaitu berat sendiri
𝐴𝑠𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 = 𝜌𝑏𝑑 = 379,500 𝑚𝑚2
bangunan yang secara otomatis

4
dihitung oleh program (berupa d) Beban hidup atap(1,5 𝑘𝑁/𝑚2 )
berat sendiri balok, kolom, dan
pelat). 3. Beban gempa yang dihitung secara
otomatis oleh program dengan
Beban mati tambahan pada pelat memasukkan desain respons
lantai sebagai berikut: spektrum.
a) Berat spesi lantai 2 cm (0,02 ∙
21 𝑘𝑁/𝑚3 = 0,42 𝑘𝑁/𝑚2 ) 4. Beban akibat reaksi tangga.
b) Berat keramik 0,5 cm (0,005 ∙ Reaksi akibat beban mati tangga:
24 𝑘𝑁/𝑚3 = 0,12 𝑘𝑁/𝑚2 ) a) Reaksi gaya lintang
c) Beban plafon dan penggantung = 28,698 𝑘𝑁/𝑚
(0,11 + 0,07 = 0,18 𝑘𝑁/𝑚2 ) b) Reaksi gaya normal
d) Beban mekanikal elektrikal = 34,127 𝑘𝑁/𝑚
(0,25 𝑘𝑁/𝑚2 ) c) Reaksi momen
= 6,876 𝑘𝑁 ∙ 𝑚/𝑚
Maka total beban mati tambahan Reaksi akibat beban hidup tangga:
pada pelat adalah 0,97 𝑘𝑁/𝑚2 . a) Reaksi gaya lintang
Beban mati tambahan pada pelat = 16,601 𝑘𝑁/𝑚
atap sebagai berikut: b) Reaksi gaya normal
a) Beban plafon dan penggantung = 22,437 𝑘𝑁/𝑚
(0,18 𝑘𝑁/𝑚2 ) c) Reaksi momen
b) Beban mekanikal elektrikal = 2,909 𝑘𝑁 ∙ 𝑚/𝑚
(0,25 𝑘𝑁/𝑚2 )
4.2 Analisis Beban Gempa
Maka total beban mati tambahan Berdasarkan data tanah yang
pada pelat atap adalah 0,43 𝑘𝑁/ digunakan, klasifikasi situs pada
𝑚2 . lokasi tersebut termasuk kelas situs
SE (tanah lunak). Untuk menentukan
Beban tambahan dinding 10 cm spektrum respon desain lokasi
(0,12 𝑘𝑁/𝑚2 ) dan plesteran tersebut (Kota Pontianak) data yang
2x1,5 cm (21 𝑘𝑁/𝑚3 ) dengan diperlukan adalah:
tinggi 3,4 meter pada balok =  Percepatan batuan dasar pada
2,55 𝑘𝑁/𝑚 periode pendek, 𝑆𝑆 = 0,017 𝑔
 Percepatan batuan dasar pada
2. Beban hidup yang dimasukkan ke periode 1 detik, 𝑆1 = 0,022 𝑔
dalam program, yaitu sebagai  Faktor amplifikasi getaran
berikut: percepatan pada getaran periode
a) Beban hidup lantai 1 – 4 ruang pendek, 𝐹𝑎 = 2,5
kantor (2,5 𝑘𝑁/𝑚2 )  Faktor amplifikasi getaran
b) Beban hidup lantai 5 ruang olah percepatan pada getaran periode 1
raga (4 𝑘𝑁/𝑚2 ) detik, 𝐹𝑣 = 3,5
c) Beban hidup lantai 6 – 10 ruang  Parameter spektrum respon
apartemen (2 𝑘𝑁/𝑚2 ) percepatan pada periode pendek,

5
𝑆𝑀𝑆 = 𝐹𝑎 𝑆𝑆 = 0,043 𝑔 𝑆
𝑇0 = 0,2 𝐷1⁄𝑆 = 0,362 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
 Parameter spektrum respon 𝐷𝑆
𝑆𝐷1
percepatan pada periode 1 detik, 𝑇𝑆 = ⁄𝑆 = 1,812 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
𝐷𝑆
𝑆𝑀1 = 𝐹𝑣 𝑆1 = 0,077 𝑔 Jika 𝑇 < 𝑇0 ,
 Parameter percepatan spektral
desain untuk periode pendek, maka 𝑆𝑎 = 𝑆𝐷𝑆 (0,4 + 0,6 𝑇⁄𝑇 )
0
𝑆𝐷𝑆 = 2⁄3 𝑆𝑀𝑆 = 0,028 𝑔 Jika 𝑇0 ≤ 𝑇 ≤ 𝑇𝑆 , maka 𝑆𝑎 = 𝑆𝐷𝑆
𝑆
 Parameter percepatan spektral Jika 𝑇 > 𝑇𝑆 , maka 𝑆𝑎 = 𝐷1⁄𝑇
desain untuk periode 1 detik,
𝑆𝐷1 = 2⁄3 𝑆𝑀1 = 0,051 𝑔

0,030
Spektrum Respons Desain

0,025

0,020
Sa (g)

0,015

0,010

0,005

0,000
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 (detik)
Periode 3,5 4 4,5 5 5,5

Gambar 1. Grafik hubungan periode dengan Sa spektrum respons desain

Kuat perlu yang dihitung 6. 𝑈 = 0,845𝐷 ± 0,3𝐸𝑥 ± 𝐸𝑦


berdasarkan kombinasi beban yang Untuk bangunan penahan
sesuai dengan SNI 1726-2012 dan beban lateral berupa sistem rangka
SNI 2847-2013. pemikul momen khusus maka didapat
nilai:
𝑆𝐷𝑆 = 0,028𝑔
𝜌=1 R=8 0 = 3 𝐶𝑑 = 5,5
(1,2 + 0,2𝑆𝐷𝑆 )𝐷 = 1,255𝐷
(0,9 − 0,2𝑆𝐷𝑆 )𝐷 = 0,845 Bangunan berfungsi untuk apartemen
1. 𝑈 = 1,4𝐷 dan kantor termasuk kedalam kategori
2. 𝑈 = 1,2𝐷 + 1,6𝐿 resiko II, maka faktor keutamaan
3. 𝑈 = 1,255𝐷 + 𝐿 ± 𝐸𝑥 ± 0,3𝐸𝑦 gempa 𝐼𝑒 = 1.
4. 𝑈 = 1,255𝐷 + 𝐿 ± 0,3𝐸𝑥 ± 𝐸𝑦
5. 𝑈 = 0,845𝐷 ± 𝐸𝑥 ± 0,3𝐸𝑦

6
𝑆𝐷𝑆 = 0,028𝑔 < 0,167𝑔 𝑑𝑎𝑛 𝑆𝐷1 = Karena 𝑉𝑡 𝑥 𝑑𝑎𝑛 𝑉𝑡 𝑦 kurang dari
0,051𝑔 < 0,067𝑔 , maka termasuk 0,85𝑉 , maka gaya harus dikalikan
dalam kategori desain seismik A dengan 0,85 𝑉⁄𝑉 .
(KDS A). 𝑡
Arah x: 2698,944⁄224,367 = 12,03
Dengan 𝑆𝐷1 = 0,051𝑔 didapat 𝐶𝑢 = Arah y: 2698,944⁄223,877 = 12,06
1,7 dan rangka beton pemikul momen
khusus 𝐶𝑡 = 0,0466 dan 𝑥 = 0,9.
Tinggi gedung (h) = 40,8 m 5. DESAIN TULANGAN
5.1 Ketentuan Material Sistem
Nilai periode fundamental pendekatan Rangka Pemikul Momen
(Ta): Khusus (SRPMK)
Penggunaan mutu material
𝑇𝑎 = 𝐶𝑡 ℎ𝑛 𝑥 = 1,312 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
beton yang digunakan dalam struktur
𝐶𝑢 𝑇𝑎 = 2,231 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
pemikul beban gempa SRPMK
ditentukan dalam SNI 2847:2013
Dari hasil analisis struktur diperoleh
Pasal 21.1.4 bahwa kuat tekan beton
nilai waktu getar alami fundamental:
𝑓 ′ 𝑐 tidak boleh kurang dari 20 MPa
𝑇𝑐 = 1,380 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 (𝑓 ′ 𝑐 = 30 𝑀𝑃𝑎).
𝑇𝑎 < 𝑇𝑐 < 𝐶𝑢 𝑇𝑎 , 𝑑𝑖𝑔𝑢𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑇𝑐 Persyaratan mutu tulangan
𝑇 = 1,380 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘, 𝑇0 ≤ 𝑇 ≤ 𝑇𝑆 maka untuk SRPMK yang dijelaskan dalam
𝑆𝑎 = 𝑆𝐷𝑆 = 0,028𝑔 Pasal 21.1.5 menyatakan bahwa
𝑆𝑎 tulangan pemikul lentur dan aksial
𝐶𝑠 = = 0,034 atau kombinasi keduanya yang timbul
𝑅⁄
𝐼𝑒 akibat beban gempa bumi harus
berupa tulangan ulir yang memenuhi
Berat bangunan, W = 93389,060 kN ASTM A706M mutu 420 MPa (𝑓𝑦 =
𝑉 = 𝐶𝑠 𝑊 = 3175,228 𝑘𝑁 420 𝑀𝑃𝑎).
0,85𝑉 = 2698,944 𝑘𝑁

Dari hasil analisis struktur diperoleh 5.2 Perencanaan Tulangan Balok


kombinasi respons untuk geser dasar Kuat lentur positif komponen
ragam dinamik (𝑉𝑡 ): struktur lentur pada muka kolom tidak
boleh lebih kecil dari setengah kuat
lentur negarifnya pada muka tersebut.
𝑉𝑡 𝑥 = 224,367 𝑘𝑁 < 0,85𝑉
Baik kuat lentur negatif maupun
𝑉𝑡 𝑦 = 223,877 𝑘𝑁 < 0,85𝑉
positif pada setiap penampang di
sepanjang bentang tidak boleh kurang
Tabel 1. Nilai Geser Dasar Dinamik
dari seperempat kuat lentur terbesar
Output GlobalX GlobalY GlobalZ
Case
yang disediakan pada kedua muka
KN KN KN kolom tersebut.
Ex 224,367 8,794 0,005
1
Ey 7,729 223,877 0,006 𝜙𝑀𝑛 + ≥ 𝜙𝑀𝑛 − (𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛)
2

7
(𝜙𝑀𝑛 + 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝜙𝑀𝑛 − ) Menghitung momen kapasitas:
1
≥ 𝜙𝑀𝑛 𝑚𝑎𝑥 (𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛) T es
4 A s
s

Langkah-langkah desain tulangan h d

lentur antara lain sebagai berikut: c


As' a Cc es'
a. Menentukan spesifikasi setiap d' Cs
0,85fc' ecu=0,003
material b

b. Menentukan dimensi-dimensi
penampang ( b  h ) Gambar 2. Diagram tegangan dan
c. Menentukan ukuran tulangan regangan penampang balok
pokok D dan tulangan geser ∅
d. Menentukan tebal selimut 6. Periksa apakah tulangan
beton 𝑝 tekan sudah luluh dengan
e. Menentukan momen lentur persamaan
𝑑 ′ 𝑓𝑐 ′ 600
ultimit, M u 𝜌 − 𝜌 ′ ≥ 0,85𝛽1 ( ),
𝑑𝑓𝑦 600−𝑓𝑦
f. Menghitung tinggi efektif
balok 𝑑 maka tulangan tekan sudah luluh.
g. Menghitung rasio penulangan 𝑑 ′ 𝑓𝑐 ′ 600
yang diperlukan, 𝜌 − 𝜌 ′ < 0,85𝛽1 ( ),
𝑑𝑓𝑦 600−𝑓𝑦

0,85𝑓𝑐′ 2𝑅𝑛 maka tulangan tekan belum luluh.


𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 = (1 − √1 − )
𝑓𝑦 0,85𝑓𝑐′
𝑀𝑢
𝑅𝑛 = 7. Menghitung kuat tekan beton
𝜙𝑏𝑑 2
(𝐶𝑐 )
𝐶𝑐 = 0,85𝑓𝑐′ 𝑎𝑏
1. Membandingkan dengan nilai
min dan  max , 8. Menghitung kuat tekan baja
0,25√𝑓′ 𝑐 1, 4 tulangan tekan (𝐶𝑠 )
𝜌𝑚𝑖𝑛 =
𝑓𝑦
min  𝐶𝑠 = 𝐴𝑆′ [600 (
𝑐−𝑑 ′
) − 0,85𝑓𝑐′ ]
fy 𝑐

𝜌𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,025
9. Menghitung kuat tarik baja
2. Perhitungan luas tulangan yang tulangan tarik (𝑇)
diperlukan, 𝑇 = 𝐴𝑆 𝑓𝑦
AS perlu   pakai .b.d
10. Menghitung nilai tinggi garis
3. Periksa jarak bersih antar tulangan netral (c) dan tinggi
tidak boleh kurang dari 25 mm penampang tekan (a)
(SNI 2847-2013 pasal 7.6) 𝑇 = 𝐶𝑐 + 𝐶𝑠
4. Kapasitas tulangan yang terpasang 𝑎 = 𝛽𝑐
 M n  M u , dengan nilai

8
11. Mengghitung momen 3. Menghitung gaya geser akibat
kapasitas gempa.
𝑎 𝑀𝑝𝑟 − + 𝑀𝑝𝑟 +
𝑀𝑛 = 𝐶𝑐 (𝑑 − ) + 𝐶𝑠 (𝑑 − 𝑑 ′ )
2 𝑉𝐸 =
𝑙𝑛
Pasal 21.6.2.2 SNI 2847 tahun
2013 menyatakan bahwa momen- 4. Menghitung gaya geser tumpuan.
momen ujung Mpr berdasarkan pada 𝑉𝑒 = 𝑉𝐸 ± 𝑉𝑔
tengah baja tarik sebesar 1,25fy.
Berikut langkah-langkah 5. Menghitung kapasitas tulangan
perhitungan tulangan transversal transversal.
balok: 𝐴𝑉 𝑓𝑦 𝑑
𝑉𝑛 = + 𝑉𝑐
𝑠
1. Menghitung momen kapasitas
𝜙𝑉𝑛 ≥ 𝑉𝑢 , denga 𝜙 = 0,75
positif dan negatif.
𝐴𝑆 (1,25𝑓𝑦 )
𝑎𝑝𝑟− = 0,85𝑏𝑓𝑐 ′
− 𝑎𝑝𝑟− Tulangan transversal harus
𝑀𝑝𝑟 = 𝐴𝑆 ∙ 1,25𝑓𝑦 (𝑑 − ) diproporsikan untuk menahan geser
2
𝐴𝑆 (1,25𝑓𝑦 ) dengan mengasumsikan Vc = 0
𝑎𝑝𝑟+ = 0,85𝑏𝑓𝑐 ′ bilamana:
+ 𝑎𝑝𝑟− 1. Gaya geser yang ditimbulkan
𝑀𝑝𝑟 = 𝐴𝑆 ∙ 1,25𝑓𝑦 (𝑑 − )
2 gempa mewakili setengah atau
2. Menghitung gaya geser akibat lebih dari kekuatan geser perlu
gravitasi (𝑉𝑔). maksimum.
Gaya geser gravitasi ditentukan 2. Gaya tekan aksial terfaktor, Pu,
dengan kombinasi pembebanan termasuk pengaruh gempa kurang
𝑊𝑈 = 1,2𝐷 + 1,0𝐿 dari Agf’c/20.

Tabel 2. Penulangan Balok


Balok Lokasi Tulangan Longitudinal Tulangan
Atas Bawah Pinggang Geser

B1 300 x 600 Tumpuan 5D22 3D22 2D22 ∅10 − 45 𝑚𝑚


Lapangan 2D22 3D22 ∅10 − 100 𝑚𝑚
B2 500 x 1000 Tumpuan 10D22 6D22 4D22 ∅10 − 50 𝑚𝑚
Lapangan 6D22 8D22 ∅10 − 100 𝑚𝑚
B3 Sloof Tumpuan 2D22 3D22 2D22 ∅10 − 45 𝑚𝑚
300 x 600 Lapangan 5D22 3D22 ∅10 − 100 𝑚𝑚
B4 Sloof Tumpuan 6D22 8D22 4D22 ∅10 − 50 𝑚𝑚
500 x 1000 Lapangan 10D22 6D22 ∅10 − 100 𝑚𝑚

9
5.3 Perencanaan Tulangan Kolom Diagram interaksi kolom dihitung
Dengan kelangsingan kolom: pada keadaan sebagai berikut:
𝑘𝑙𝑢  Keadaan Aksial Murni (𝑀𝑛 = 0)
= 10,212 ≤ 22
𝑟  Keadaan Seimbang
 Keadaan Lentur Murni (𝑃 = 0)
Maka kelangsingan kolom dapat
diabaikan dengan menggunakan 65,5
ecu=0,003 0,85fc'
Cs1

a=385,658
perencanaan kolom pendek.

c=461,471
179,75 Cc
Cs2
179,75
850 mm
16D25 Cs3

Berdasarkan diagram interaksi kolom 179,75


T1

persegi untuk 𝑓𝑐′ = 30 𝑀𝑃𝑎 , 𝑓𝑦 =


179,75
T2
65,5 es

420 𝑀𝑃𝑎 , 𝛾 = 0,9 , diperoleh rasio 850 mm

tulangan kolom kurang dari 1%, maka Gambar 3. Diagram regangan dan
digunakan rasio minimal 1%. tegangan penampang kolom

20000 Diagram Interaksi Kolom 850x850

15000

10000
Pn (kN)

5000

0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000
Mn (kN.m)
Tanpa Reduksi Reduksi

Gambar 4. Diagram interaksi kolom 850/850 𝑚𝑚2

Perencanaan tulangan transversal • seperenam panjang bersih kolom


kolom berdasarkan SNI 2847:2013 1
( ℎ𝑛 )
Pasal 21.6.4 dan 21.6.5 adalah sebagai 6

berikut: • 450 𝑚𝑚

a. Menentukan Panjang 𝑙𝑜 b. Menentukan Spasi Sepanjang 𝑙𝑜


Berdasarkan SNI 2847 tahun 2013 Berdasarkan SNI 2847 tahun 2013
pasal 21.6.4.1, panjang 𝑙𝑜 ditentukan pasal 21.6.4.3, spasi tulangan
tidak boleh kurang dari yang terbesar transversal sepanjang 𝑙𝑜 tidak boleh
sebagai berikut: melebihi yang terkecil sebagai berikut:
• tinggi penampang kolom (ℎ𝑘 )

10
• Seperempat tinggi penampang 𝐷𝐹𝑡𝑜𝑝 𝑀𝑝𝑟 𝑡𝑜𝑝 +𝐷𝐹𝑏𝑜𝑡𝑡𝑜𝑚𝑀𝑝𝑟 𝑏𝑜𝑡𝑡𝑜𝑚
𝑉𝑒 =
1 𝑙𝑢
kolom ( ℎ𝑘 ) DF adalah faktor distribusi momen
4
• Enam kali diameter tulangan dibagian atas dan bawah kolom yang
longitudinal (6𝐷) didesain.
350+ℎ𝑥
• 𝑠𝑜 = 100 +
3
Menurut SNI 2847 tahun 2013 pasal
ℎ𝑥 adalah spasi horizontal
maksimum pengikat silang. 21.6.5.2, 𝑉𝑐 diasumsikan sama dengan
nol bilamana:
𝑠𝑜 tidak boleh melebihi 150 mm
dan tidak perlu lebih kecil dari 100 - Gaya geser akibat gempa 𝑉𝑒
mm mewakili setengah atau lebih dari
kekuatan geser perlu maksimum.
c. Spasi Diluar Panjang 𝑙𝑜 - Gaya tekan aksial terfaktor 𝑃𝑢
Menurut SNI 2847 tahun 2013 pasal kurang dari 𝐴𝑔 𝑓𝑐′ /10.
21.6.4.5 diluar panjang 𝑙𝑜 spasi
tulangan transversal tidak melebihi e. Perhitungan Tulangan Geser
terkecil sebagai berikut: Sepanjang 𝑙𝑜

• Enam kali diameter tulangan 𝐴𝑠ℎ1 = 0,3


𝑠𝑏𝑐 𝑓𝑐′ 𝐴𝑔
( − 1)
longitudinal (6𝐷) 𝑓𝑦𝑡 𝐴𝑐ℎ
𝑠𝑏𝑐 𝑓𝑐′
• 150 𝑚𝑚 𝐴𝑠ℎ2 = 0,09
𝑓𝑦𝑡

d. Perhitungan Geser Akibat


𝐴𝑐ℎ = luas penampang inti beton
Gempa
𝑏𝑐 = lebar penampang inti terkekang
𝑉𝑒 tidak perlu lebih besar dari 𝑉𝑒 yang
f. Perhitungan Tulangan Geser di
dihitung berdasarkan 𝑀𝑝𝑟 balok yang
Luar 𝑙𝑜
merangkai kolom diujung atas dan 𝐴𝑉 𝑓𝑦 𝑑
bawah. 𝑉𝑛 = + 𝑉𝑐
𝑠

Tabel 3. Penulangan Kolom


Kolom Tulangan Tulangan Geser Lokasi
Longitudinal

Sepanjang 𝑙𝑜 Diluar 𝑙𝑜
K1 850 x 850 16D25 4 kaki D13 – 100 mm 4 kaki D13 – 150 Lt. dasar – 4
mm
K2 750 x 750 12D25 4 kaki D13 – 100 mm 4 kaki D13 – 150 Lt. 5 – atap
mm

11
5.4 Hubungan Balok Kolom ∑ 𝑀𝑛𝑐 ≥ 1,2 ∑ 𝑀𝑛𝑏
1. Panjang Penyaluran Tulangan
Berdasarkan SNI 2847:2013 Pasal Pu a
Mnc a
Pu a
Mnc a

21.7.5.1 untuk dalam joint digunakan


penyaluran batang tulangan dengan
kait 90o.
Mnb ki Mnb ka Mnb ki
Mnb ka

𝑙𝑑ℎ ≥ 150 𝑚𝑚
𝑙𝑑ℎ ≥ 8𝑑𝑏 = 176 𝑚𝑚
𝑓𝑦 𝑑𝑏 Pu b Pu b

𝑙𝑑ℎ ≥ = 297 𝑚𝑚 Mnc b Mnc b

5,4√𝑓𝑐 ′ Gambar 7. Momen pada joint

Panjang pembengkokan kait 90o 3. Kekuatan Geser Joint


12𝑑𝑏 = 264 𝑚𝑚 ≈ 300 𝑚𝑚
Mu
Vh

ldh800 mm ldh700 mm

T1

x x
Mpr + Mpr -
300 mm 300 mm

T2

850 mm 750 mm
Vh
Mu

Gambar 5. Penyaluran kait 90o Gambar 8. Gaya geser joint

Berdasarkan SNI 2847:2013 Pasal


21.7.5.2 panjang sambungan lewatan 𝑇1 = 1,25𝑓𝑦 𝐴𝑆1 𝑑𝑎𝑛 𝑇2 = 1,25𝑓𝑦 𝐴𝑆2
dalam kondisi tarik (𝑙𝑑 ) adalah: 𝑀
𝑉ℎ = 𝑙𝑢 𝑈
𝑙𝑑 ≥ 3,25𝑙𝑑ℎ = 965,25 𝑚𝑚 ⁄2

𝑉𝑥−𝑥 = 𝑇1 + 𝑇2 − 𝑉ℎ
Untuk hubungan balok kolom yang
terkekang keempat sisinya berlaku
kuat geser nominal :

𝜙𝑉𝑐 = 𝜙1,7𝐴𝑗 √𝑓𝑐 ′

5.5 Perencanaan Tulangan Pelat


Gambar 6. Persyaratan sambungan
Dengan langkah yang sama dengan
lewatan
perhitungan tulangan lentur balok,
diperoleh tulangan lentur pelat
2. Kekuatan Lentur Minimum Kolom
sebagai berikut:
Menurut SNI 2847 tahun 2013 pasal
21.6.2.2 kuat kolom harus memenuhi:

12
Tabel 4. Penulangan Pelat 6. KESIMPULAN DAN SARAN
Pelat Tulangan Lokasi 6.1 Kesimpulan
(Wiremesh) Dari hasil analisis penulisan ini
Tumpuan Lapangan dapat diambil beberapa kesimpulan
Tipe 1 M10- M10- Lantai seperti berikut ini:
150mm 150mm Dasar a. Lokasi perencanaan gedung
Tipe 2 M8- M8- Lantai termasuk dalam kategori desain
150mm 150mm 1-10
seismik A (KDS A) sehingga
Tipe 3 M8- M8- Lantai
150mm 150mm Atap komponen struktur rangka
gempa tidak dibatasi didesain
sebagai salah satu diantara
tidak ada, sistem rangka
5.6 Perencanaan Pondasi
Direncanakan pondasi tapak pemikul momen biasa
dengan tiang pancang beton bertulang. (SRPMB), momen menengah
Meyerhoff (1956) menganjurkan (SRPMM), atau momen khusus
formula daya dukung untuk tiang (SRPMK). Sedangkan dalam
pancang dengan menggunakan data analaisis penulisan ini
SPT sebagai berikut: digunakan SRPMK.
b. Tangga dengan tinggi 3,4 m
menggunakan tulangan
𝑄𝑈 = 40𝑁𝑏 𝐴𝑝 + 0,2𝑁𝐴𝑠
𝑄𝑈 tumpuan dan lapangan D10 −
𝑄𝑎 = 200 mm serta tulangan susut
𝑆𝐹
(𝑛−1)𝑚+(𝑚−1)𝑛 D10 − 250 mm.
𝐸𝑔 = 1 − 𝜃
90𝑚𝑛 c. Digunakan pelat lantai dasar
setebal 200 mm dengan
tulangan wiremesh M10 – 150
Tabel 5. Dimensi Pondasi dan
mm dan pelat lantai 1 – 10 serta
Jumlah Tiang Pancang
Tipe Dimensi Poer Tiang Pancang
lantai atap setebal 150 mm
Pondasi dengan tulangan wiremesh M8
b h t D m n Jumlah
– 150 mm.
P1 3,5 3,5 0,8 0,3 3 3 9
d. Digunakan dimensi komponen
P2 3 3 0,8 0,25 3 3 9
struktur gedung sebagai
P3 2 3 0,8 0,25 3 2 6 berikut:
P4 1 2 0,8 0,25 2 1 2  Balok 30 x 60 cm2 (bentang
5 m)
Pada keempat jenis pondasi tersebut  Balok 50 x 100 cm2
direncanakan tulangan D22 - 150 mm. (bentang 10 m)
 Kolom 850 x 850 cm2
(lantai dasar – lantai 4)
 Kolom 750 x 750 cm2
(lantai 5 – lantai atap)

13
6.2 Saran Heryanto. 2009. Perhitungan
Beberapa saran yang dapat Struktur Hotel 11 Lantai
diberikan dari hasil penulisan ini dengan Struktur Beton
adalah sebagai berikut: Bertulang di Pontianak.
a. Dalam perencanaan dimensi Pontianak.
awal sebaiknya dilakukan
estimasi terlebih dahulu agar Nawy, Edward G, dkk. 2008. Beton
tidak terjadi perubahan dimensi Bertulang Sebuah Pendekatan
saat dilakukan analisis struktur. Mendasar. Surabaya:
b. Perencanaan struktur gedung ITSPress.
sebaiknya mengikuti peraturan
terbaru seperti SNI 2847-2013 Purwono, Rachmat. 2009.
dan SNI 1726-2012. Perencanaan Struktur Beton
Bertulang Tahan Gempa.
Surabaya: tspress.

DAFTAR PUSTAKA Putra, Go Dermawan. 2015.


Badan Standarisasi Nasional. 2012. Perancangan Gedung
Tata Cara Perencanaan Apartemen di Jalan
Ketahanan Gempa untuk Laksamana Adisucipto
Struktur Bangunan Gedung Yogyakarta. Yogyakarta
dan Non Gedung (SNI
1726:2012). Jakarta. Setiawan, Agus. 2016. Perancangan
Struktur Beton Bertulang
Badan Standarisasi Nasional. 2013. Berdasarkan SNI 2847:2013.
Persyaratan Beton Struktural Jakarta: Erlangga.
untuk Bangunan Gedung (SNI
2847:2013). Jakarta.

Departemen Pekerjaan Umum. 1987.


Pedoman Perencanaan
Pembebanan untuk Rumah
dan Gedung. Jakarta.

14