Anda di halaman 1dari 3

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengetian Marbot

Marbot adalah istilah yang diberikan kepada seorang yang bertanggung


jawab mengurus keperluan langgar/surau atau masjid, terutama yang berhubungan
dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut. Adakalanya, seorang
marbot juga mengurusi hal-hal yang berurusan dengan ibadah, seperti azan,
menjadi imam cadangan. Sebagai suatu profesi, jasa seorang marbot juga
dihargai. Mereka digaji dari dana celengan yang dikumpulkan baik harian,
ataupun mingguan (hari Jumat). Pada saat-saat tertentu, marbot juga mendapat
santunan, seperti saat masyarakat mengadakan walimah (khitanan atau
perkawinan), atau saat menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, mereka pun
mendapatkan bagian.1

Tidak ada aturan khusus mengenai deskripsi kerja seorang marbot.


Umumnya pekerjaan ini telah umum diketahui oleh masyarakat, sehingga
siapapun bisa menjadi seorang marbot. Namun secara garis besar, ada ketentuan
khusus bagi seorang marbot:

1. Laki-laki dewasa
2. Menetap

Untuk tempat tinggal, adakalanya marbot menetap di salah satu bagian


yang khusus diperuntukkan baginya (biasanya masjid). Adapun marbot surau dan
langgar, biasanya marbot bertempat di sekitar tempat itu untuk memudahkannya
melakukan aktivitas rutin.

B. Hukum Memberi Upah Pada Marbot

Untuk semua ibadah murni, tidak ada sisi manfaat langsung bagi orang
lain, tidak bleh meminta upah di sana.

1
Dalam hadis dari Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berpesan,

‫أَج ًرا أَذَا ِن ِه َعلَى َيأ ُخذ ُ َل ُم َؤ ِذنًا َوات َّ ِخذ‬

Ambilah muadzin yang tidak meminta upah untuk adznnya. (HR. Ahmad 16270,
Nasai 680 dan dishahihkan al-Arnauth)

Hadis ini menunjukkan, salah satu diantara muadzin yang baik adalah muadzin
yang tidak mengambil upah. (Subulus Salam, 1/128). Hanya saja, aturan berlaku,
jika upah itu hanya untuk adzannya. Berbeda jika di sana ada bentuk aktivitas
yang dia lakukan. As-Shan’ani menyatakan,

“ Hadis Utsman bin Abil ‘Ash tidaklah menunjukkan haramnya menerima upah
untuk muadzin. Ada yang mengatakan, “Boleh mengambil upah untuk adzan
dalam kondisi tertentu. Karena upahnya bukan sebatas untuk adzannya tapi untuk
perjuangan dia yang selalu siaga, seperti upah untuk orang yang mengintai.”
(Subulus Salam, 1/128).”

Ketika di sana ada tugas tambahan, yang sifatnya bukan semata


mengumandangkan adzan, para ulama membolehkan muadzin digaji. Merek
digaji karena telah memberikan layanan bagi kaum muslimin. Ibnu Qudamah
mengatakan :

“ Karena kaum muslimin membutuhkan orang semacam ini. Sementara bisa jadi
tidak ada orang yang mau secara suka rela melakukannya. Jika dia tidak digaji,
bisa menelantarkan hidupnya. (al-Mughni, 1/460) ”

Selama di tengah kaum muslimin tidak ada orang yang secara suka rela
melayani kebutuhan mereka dalam menjaga aktivitas ibadah, maka boleh
memperkerjakan orang untuk menjalani tugas itu dan dia digaji. Sehingga kami
mengambil kesimpulan bahwasanya diperbolehkan memberikan upah kepada
marbot, karena pekerjaan yang dilakukan oleh marbot bukan hanya sebagai
mu’adzin saja akan tetapi terdapat pekerjaan tambahan seperti, menjaga
keamanan, dan kebersihan masjid yang menjadi kebutuhan bagi kaum muslimin.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Marbot adalah istilah yang diberikan kepada seorang yang bertanggung
jawab mengurus keperluan langgar/surau atau masjid, terutama yang berhubungan
dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut. Adakalanya, seorang
marbot juga mengurusi hal-hal yang berurusan dengan ibadah, seperti azan,
menjadi imam cadangan.
Hukum memberikan upah kepada marbot yaitu, boleh. Menurut As-
Shan’ani hanya untuk semua ibadah murni saja yang tidak ada sisi manfaat
langsung bagi orang lain, tidak bleh meminta upah. Sedangkan pekerjaan yang
dilakukan marbot bukan hanya sebagai mu’adzin, atau hanya sebagai imam sholat
saja melainkan ada tugas tambahan yang menjadi pekerjaannya yaitu seperti
menjaga keamanan, dan kebersihan masjid.