Anda di halaman 1dari 316

Mia Arsjad

HONEYMOON
EXPRESS

pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014
tentang Hak Cipta

1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf i untuk penggunaan secara
komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan atau
pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan atau tanpa izin pencipta atau pemegang
hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud
dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan atau huruf h, untuk penggunaan
secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan
atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

3. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan atau tanpa izin pencipta atau pemegang
hak melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam
pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan atau huruf g, untuk penggunaan
secara komesial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan
atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000.00 (satu miliar rupiah).

4. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang
dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama
10 (sepuluh) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000.00
(empat miliar rupiah).

pustaka-indo.blogspot.com
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta

pustaka-indo.blogspot.com
HoNeymooN exPreSS
oleh Mia Arsjad

617171012

© Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama


Gedung Kompas Gramedia Blok 1, Lt.5
Jl. Palmerah Barat 29–37, Jakarta 10270

Editor: Asty Aemilia


Desain sampul: Ella Elviana

Diterbitkan pertama kali oleh


Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
anggota IKAPI, Jakarta, 2017

www.gpu.id

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.


Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

ISBN: 978 - 602 - 03 - 4613 - 7

312 hlm.; 20 cm

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta


Isi di luar tanggung jawab Percetakan

pustaka-indo.blogspot.com
Beberapa Tahun Yang Lalu...


J adi ketika terumbu karang itu dijaga di habitat asli-
nya—blablabla—maka ikan-ikan dan organisme lain—”
”Kalau aku putri duyung, pasti cocok ya jadi pacar ka-
mu.”
”Ha?” Alva yang sedang serius menjelaskan soal pen-
tingnya terumbu karang melongo kaget karena celetukan
Shera. Teman sekampusnya itu tadi menanyakan kenapa
klub Pencinta Alam mau bikin kegiatan penggalangan
dana untuk kampanye penyelamatan terumbu karang,
dan Alva mencoba menjelaskan, tapi...
Shera releks nyengir. Lebih tepatnya meringis. ”Eh,
sori, sori... maksudnya, kamu itu kan Pencinta Alam ba-
nget ya, kalau kamu ketemu putri duyung mungkin kamu

pustaka-indo.blogspot.com
bakal tertarik jadi pacarnya. Kan putri duyung hidup di
laut, bisa sekalian bantu kamu ngawasin terumbu karang
di sana.”
Alva makin melongo.
Duh! Shera pengin menepuk jidat sendiri. Kenapa di
waktu serius begini dia malah ngajak bercanda Alva—
cowok yang jelas-jelas jiwa humorisnya cuma nol koma
sekian dibanding jiwa pencinta alamnya. Habis gimana
dong? Shera grogi!
”E-eh, bercanda, bercanda, Al. Itu karena aku takjub
lihat keseriusan kamu memperhatikan lingkungan. Nggak
usah putri duyung, aku juga bisa jadi pacar kamu—”
”Uhuk!” Alva terbatuk kaget.
”Aduh! Bukan, bukan, maksudku, nggak harus putri
duyung yang jadi pacar kamu, manusia juga bisa. Tadi
kan aku ngomong seolah yang bisa pacaran sama kamu
cuma makhluk yang dekat sama alam. Itu perumpamaan
ajaaa... Aku bercandaaa....” PLAK! Shera nggak tahan dan
akhirnya menepak jidatnya sendiri. ”Duh, ngaco nih aku!
Aku balik ke base camp Budaya yah. Proposalnya aku
bawa. Nanti aku kasih lihat ke anak-anak Budaya. Mereka
pasti mau ikut nyumbang pertunjukan amal. Sudah ya....
Dah, Alva!” Shera melambaikan tangan dan berlari keluar
base camp Pencinta Alam dengan jantung nyaris pecah.
Bego! Bego! Bego! Alva bakal mikir apa ya soal aku? Genit?
Bisa dibilang barusan Shera nyaris menyatakan cinta.
Ya ampun! Kenapa sih Alva nggak kelihatan reaksinya?
Alva selalu bersikap ramah ke Shera. Dan sebagai

pustaka-indo.blogspot.com
anggota klub yang base camp-nya bersebelahan, mereka
lumayan dekat.
Shera sangat menyukai Alva. Cowok kalem itu selalu
tenang dan suka menggambar. Tapi... Alva suka nggak
sih sama Shera?
Alva masih tertegun menatap pintu base camp. Shera
sudah menghilang dari pandangan.
Bodoh! Bodoh! Bodoooh! Padahal tadi itu kesempatan bagus!
Tapi, kenapa waktu Shera tergagap menjelaskan soal pa-
caran dengan putri duyung, Alva malah diam saja? Ha-
rusnya dia tangkap tangan Shera, lalu bilang bahwa dia
mau Shera jadi pacarnya, meskipun dia bukan putri du-
yung.
Alva lupa sejak kapan, tapi dia jatuh cinta pada cewek
ceria dan supel yang menggilai hal-hal romantis serta
segala hal tentang bulan madu itu. Cewek itu bahkan
punya album kliping khusus yang dia beri nama Honey-
moon Dreams—album scrapbook berisi berbagai macam hal
romantis dan bulan madu. Mulai dari foto-foto semua
tempat indah dan romantis di dunia, cuplikan-cuplikan
ilm romantis, kutipan-kutipan romantis... semua ada di
album itu.
Alva menyukai aura ceria dan santai yang mengelilingi-
nya setiap kali ada Shera. Nggak heran dia punya banyak
teman.
Alva menutup proposal yang tadi dia bacakan untuk
Shera.
Kenapa sampai hari ini nyali dan rasa percaya dirinya

pustaka-indo.blogspot.com
masih aja melempem? Dia sama sekali nggak berani
menyatakan cinta.
Apakah cewek ceria dan gaul seperti Shera bisa pacaran
dengan cowok pencinta hutan kayak Alva? Shera memang
salah satu dari segelintir cewek yang bisa akrab dengan
Alva. Tapi Alva nggak boleh ge-er. Itu pasti karena sifat
Shera yang mudah akrab dengan semua orang. Nggak
ada yang istimewa.

pustaka-indo.blogspot.com
Honeymoon Express

M asalah kutu beras? BERES!


Setelah menutup telepon, Shera menatap Mita, salah
satu pegawainya yang berdiri sambil meringis ngeri. Pe-
rasaan Mita sekarang kalau diumpamakan, seperti me-
nunggu disembur api naga.
”Kamu pantau kepindahan Pak Darno dan Sutinah ke
hotel baru. Kamu harus bersyukur, Mita, saya masih
bisa mengontak dan mendapat kamar di hotel lain yang
sesuai sebelum bulan madu mereka kacau gara-gara kutu
beras—”
”Iya, Bu,” cicit Mita.
”—dan itu gara-gara kamu!” lanjut Shera, ternyata be-
lum tuntas ngomel.

pustaka-indo.blogspot.com
”I-iya, Bu,” suara Mita makin kelelep.
Shera terus menatap Mita tajam. ”Makanya, Mita, lain
kali kalau mau ngatur paket untuk klien dan sesuai per-
mintaan klien, dipikirin dulu. Jangan sampai terjadi ma-
lapetaka kayak gini. Gimana kalau sampe mereka ribut,
dan kedengeran calon klien kita? Gimana kalau kita dicap
jelek? Kamu mau kita kehilangan klien? Kehilangan job?
Kehilangan reputasi?” Shera merepet bagai senapan yang
pelatuknya jebol.
Shera memang termasuk orang yang mudah cemas.
Terutama kalau sudah berkaitan dengan bisnis kesayang-
annya ini. Honeymoon Express. Biro perjalanan khusus
bulan madu. Istilahnya, honeymoon organizer.
”T-tapi, Bu, kan Pak Darno sendiri yang minta supaya
vilanya menghadap sawah, terus… lantainya ditaburi
beras. Katanya supaya… supaya mengingatkan pada awal
kisah cinta mereka. Pak Darno itu bandar beras, terus…
Sutinah itu gadis desa yang kerja di sawahnya. I-itu lho,
Bu, kamar tematik.”
DOENG! Shera mendelik. ”Iya, ngerti, tematik! Saya
juga ngerti permintaan klien yang satu ini agak aneh, tapi
kamu jangan ikutan aneh! Paling nggak, berasnya kamu
cuci dulu sebelum ditabur ke lantai! Lagian, kamu yang
bener aja, Mita, masa pakai beras yang ada kutunya?
Terus mereka malam pertama sambil digigitin kutu, gitu?!
Ya sudah lah, Mita, pokoknya sekarang kamu pantau
keadaan Pak Darno dan istrinya di Bali. Jangan sampai
kacau lagi dan mengganggu saya di tempat pameran

10

pustaka-indo.blogspot.com
kayak gini. Kalau masih pusing juga, minta bantuan
Ferdi.” Shera menyebut nama salah satu staf andalan-
nya.
Mita mengangguk cepat, antara mengerti dan pengin
buru-buru kabur dari stan pameran kantor mereka. Honey-
moon Express itu jasa perjalanan khusus bulan madu milik
Shera. Bosnya yang cantik, feminin, dan lemah lembut,
tapi bisa berubah jadi monster kalau lagi marah.
”Haaahhh.…” Shera merentangkan tangan, melepas
ketegangan gara-gara kekonyolan Mita yang membawa
pasukan kutu beras ke kamar bulan madu Pak Darno. Si
bandar beras memang pantas dapat predikat klien terajaib
tahun ini, atau mungkin abad ini? Apa yang lebih ajaib
dari menaburkan beras di lantai kamar seharga dua
setengah juta semalam? Ada juga tabur bunga kaleee…!
Sejak dirintis nyaris tiga tahun lalu, sambutan untuk
Honeymoon Express cukup baik. Makanya, sampai seka-
rang perusahaan Shera bisa terus berkembang. Kliennya
makin banyak, dan namanya makin terkenal.
Cita-cita masa remajanya untuk memiliki biro perja-
lanan bulan madu benar-benar kesampaian. Yang tadinya
cuma meng-handle paket bulan madu di dalam negeri,
sekarang Honeymoon Express bisa melayani perjalanan
bulan madu ke seluruh dunia. Shera pun sukses masuk
ke halaman proil majalah wanita kelas A sebagai wanita
pengusaha muda yang kariernya terbilang sukses di usia
menjelang 27 tahun.
Buat Shera, mengurus segala detail bulan madu itu

11

pustaka-indo.blogspot.com
menyenangkan. Apalagi sebagai pemilik Honeymoon
Express sekaligus direktur pelaksana, Shera bisa mengun-
jungi tempat-tempat yang dulu cuma bisa dia lihat di
majalah, TV, Internet, atau di album Honeymoon Dreams-
nya—album itu isinya khusus segala macam hal romantis
dan bulan madu yang dia buat sejak SMP kelas 1 dan
masih dia simpan sampai sekarang—meski bukan dalam
rangka bulan madunya sendiri.
Yah, tentu saja waktu SMP bayangan perjalanan bulan
madu untuk Shera adalah trip romantis berdua pasangan
yang pastinya bikin deg-degan dan malu-malu kucing.
Kala itu sih nggak kepikiran kalau perjalanan honeymoon
termasuk aksi hot malam pertama, mencoba berbagai
macam gaya bercinta di segala sudut ruangan, dan tidur
telanjang sampai pagi.
Shera ingat waktu pertama kali menginjakkan kaki di
Venice dalam rangka survei, dia sempat nyaris menjedot-
kan jidat ke dinding dermaga gondola untuk membuktikan
dirinya tidak sedang bermimpi. Waktu itu dia juga lang-
sung bertekad dalam hati bahwa dia pasti akan kembali
untuk menjalani bulan madunya sendiri.
Lamunan Shera buyar begitu ponselnya menjerit-
jerit.
Pak Darno.
”Halooo... ya, Pak, gimana? Oh ya, syukurlah, Pak. Iya,
memang nggak sempat dicek ada kutunya atau tidak. Oh
gitu? Syukurlah... Oke, Pak. Sama-sama. Selamat siang.”
Shera memutus sambungan telepon dengan lega.

12

pustaka-indo.blogspot.com
Untung Pak Darno puas dengan kamar penggantinya.
Untung juga Pak Darno yakin dengan ucapan Shera
bahwa bulan madu nostalgianya akan jauh lebih indah
dengan kamar yang menghadap bentangan sawah dari-
pada taburan beras di lantai. Pak Darno memang bandar
beras, tapi kan beras awalnya dari padi. Padi tumbuhnya
di sawah—sungguh, bagai pelajaran anak SD.
”DOR! Ngelamun nih yeee... Pasti ngelamun jorok.
Siang-siang pikiran udah kotor aja lo, Sher.” Entah dari
mana datangnya, tahu-tahu Yulia nongol di hadapan-
nya.
”Sialan lo, Yul! Otak gue kan nggak mesum kayak otak
lo! Gue lagi—”
”Ngelamun kerja bakti membongkar selokan mampet,
menguras bak sampah, bersihin kandang sapi. Itu kan
jorok semua. Kayaknya gue nggak ngomongin yang me-
sum-mesum deh. Otak lo yang porno! Sukanya ngeba-
yangin cowok-cowok bertelanjang dada sama bulu udel-
nya Adam Levine. Ya kaaan?” sambung Yulia menyebal-
kan.
”Gila!” Shera melempar gumpalan kertas brosur robek
ke arah Yulia. Sobatnya sejak zaman kuliah ini memang
sudah janji bakal mengunjungi stan pameran Shera dan
mengajaknya makan siang bareng. Kebetulan pameran
wisata tahun ini diadakan di hotel Maximum, salah satu
hotel bintang 5 di Jakarta, tempat Yulia bekerja sebagai
staf marketing.
Yulia cengengesan. ”Kan, ngelamun jorok,” katanya

13

pustaka-indo.blogspot.com
sambil nyengir. ”Jadi lunch nggak? Naga-naga di perut
gue udah akrobatik nih. Laparrr!”
Kadang Shera bertanya-tanya, hotel ini kok bisa-bisa-
nya menerima staf marketing senyablak dan sengasal
Yulia. Atau, jangan-jangan berkat sifat nyablaknya, Yulia
bisa meyakinkan—lebih tepatnya: memaksa—klien-klien-
nya untuk bilang ”oke”?
Shera membereskan isi tasnya yang berserakan di meja.
”Ya jadi dong. Gue juga lapar. Mau makan apa?”
”Apa ajalah, asal jangan beling atau sandal jepit! Yuk!
Evan mau ikut. Dia udah nungguin kabar dari kita mau
lunch di mana.” Yulia menyeret Shera supaya cepat-cepat
berdiri.

”Nih....” Yulia menyodorkan undangan beramplop pink


dengan aksen pita putih raksasa yang menurut Shera agak
lebay.
Alis Shera mengernyit. ”Undangan siapa nih?”
”Ya baca dong. Be-u-bu de-i-di... Budi... Bisa baca,
kan?” jawab Yulia rese sambil menyeruput Thai tea-
nya.
Karena perut laparnya nyaris bikin pingsan, Shera dan
Yulia akhirnya langsung masuk ke salah satu kafe di
Maxi Mal di seberang hotel. Kelihatannya di sana masih
ada meja kosong di tengah jam makan siang Jakarta yang
cro­ded ini.

14

pustaka-indo.blogspot.com
Shera hampir menggetok Yulia pakai sendok sup kalau
saja matanya nggak keburu melotot membaca nama di
undangan lebay yang dia pegang.
”Hah? Raymen? Raymen yang itu? Raymen gue?”
”Raymen lo? Bukan punya lo lagi kaleee...,” jawab
Yulia rese.
”Iyeee... maksudnya mantan gue? Dia mau kawin?”
lanjut Shera takjub.
”Nikah, Sher.”
Yulia betul-betul minta dijitak pakai tenaga dalam.
”Iya, ­hatever, Yul, nikah. Ini Raymen yang itu kan?”
Yulia mengangguk. ”Yoi. Raymen yang itu. Undangan
ini dikirim ke Shisha, admin grup Blackberry kampus.
Satu undangan untuk rame-rame, buat anak kampus. Lo
sih nggak join grup.”
”Males ah,” jawab Shera singkat.
”Kita datang ya?” ajak Yulia semangat. ”Kali aja si
Raymen nyesel kawin pas lihat lo.”
Shera melotot. Nih anak otaknya memang rada korslet.
”Amit-amit lo, Yul. Makanya sekrup otak tuh dikencengin
biar nggak ngaco melulu.”
Yulia ngakak. ”Eh, Sher, tapi pasti sekarang lo nyesel
deh. Si Raymen ternyata cowok sejati, pacaran untuk
menuju pernikahan. Coba kalau lo nggak putus, pasti
nama lo yang tercetak di undangan pink ini. Terus lo dan
dia bakal bermalam pertama romantis, bertema pink, terus
lo... pakai lingerie Hello Kitty.”
”Yulia, iih... amit-amit banget sih lo! Jangan belajar

15

pustaka-indo.blogspot.com
gila deh. Lo nggak amnesia kan? Gue dulu putus sama
Raymen karena nggak tahan sama romantisnya yang
kelewat batas normal, tau?! Kalau undangan pernikahan
gue kayak gini, sekalian aja yang diundang anak-anak TK
se-Jabodetabek!”
Yulia cekikikan geli. ”Daripada Darren, mendingan
Raymen, kan?”
Wajah Shera langsung keruh mendengar Yulia menye-
but nama Darren. Pria brengsek yang tega menghancurkan
kebahagiaan Shera setahun yang lalu. Perempuan mana
yang nggak hancur waktu dijanjikan akan dilamar setelah
dua tahun pacaran serius, tapi yang Shera dapat malah
SMS Darren yang bilang bahwa mereka sebaiknya putus
karena Darren jatuh cinta pada perempuan lain.
Darren nggak bohong. Dia memang meninggalkan
Shera demi Monna—cewek montok ekstramodern yang
bekerja sebagai marketing bank dan mau melayani Darren
lahir batin tanpa harus dinikahi.
”Sori, Sher, kelepasan,” kata Yulia, merasa bersalah.
”Kelepasan lo itu kayak rem truk yang udah butut di
jalur Pantura. Blong, nek!” Terdengar suara cempreng
pria nyeletuk menyebalkan. Evan, si calon desainer muda
Indonesia, menoyor jidat Yulia lalu mengempaskan badan
gempalnya yang berkaus ketat di samping Yulia.
”Eh, Van, kali ini lo yang traktir kan? Ini kan perayaan
lo mau berangkat ke Italia selama dua bulan. Minggu
depan lo udah cabut. Jadi ini kesempatan lo traktir kita-
kita,” todong Yulia sambil menowel bahu Evan.

1

pustaka-indo.blogspot.com
Jadi, setelah menabung mati-matian, akhirnya impian
Evan untuk menonton langsung pagelaran fashion kelas
dunia bakal segera terwujud. Dia akan terbang ke Italia.
Selain itu, Evan punya niat sampingan: cari jodoh. Kali-
kali aja ada cowok bule keren yang nyangkut buat dibawa
pulang ke Indonesia. Catat ya, yang keren, yang ganteng,
yang body-nya ramping tapi six pack, yang bokongnya
bulat dan kencang, yang… yang... yang mustahil dida-
pat.
Evan cuma manyun. ”Iyeee... tapi jangan kalap ya.
Nanti uang jajan gue berkurang. Emangnya di sana gue
nggak makan? Kalau pas pulang gue malah kurus kurang
gizi, gimana? Kalian juga kan yang sedih.”
”Emang dasar pelit mendarah daging! Lo kira gue sama
Shera gajah Lampung yang sekali makan ngabisin duit
jajan lo sebulan? Lagian, bukannya lo ke sana sekalian
cari jodoh? Jangan banyak-banyak makan lah! Perut lo
bisa melaaar. Bule-bule nggak bakalan nafsu lihat lo.”
Sementara duo Tom and Jerry itu berdebat, Shera meng-
amati undangan pernikahan Raymen yang lebih mirip
undangan ulang tahun anak-anak bertema Hello Kitty
atau Princess Aurora daripada undangan pernikahan. Ray-
men ini teman kuliah Shera dan Yulia. Dulu, setelah
Alva—cinta terpendam Shera—tiba-tiba pindah, Shera
sempat pacaran sama Raymen. Cowok cakep yang luma-
yan populer di kampus. Raymen juga manis dan romantis,
tapi romantisnya itu yang justru bikin Shera nggak sang-
gup lagi jadi pacarnya. Sekarang, akhirnya Raymen

1

pustaka-indo.blogspot.com
ketemu juga dengan perempuan yang tepat dan cocok
dengan ekspresi romantisnya yang ultra megalodon, alias
ekstrem.
Shera memang menyukai hal-hal romantis, tapi yang
wajar, natural, bisa bikin deg-degan dan merinding tanpa
perlu usaha berlebihan. Bukan romantis menggebu-gebu
ala Raymen yang malah cenderung bikin malu.
Shera jadi ingat puncak kejadian yang bikin dia nggak
tahan lagi. Waktu itu mereka berantem dan tiba-tiba
Raymen meminta maaf dengan puisi romantis, rangkaian
bunga-bunga, dan bernyanyi syahdu sambil berderai air
mata di depan kompleks rumah Shera. Amat sangat malu-
maluin! Soalnya, ditambah adegan Raymen nggak bisa
menahan tangis sesenggukkan. Lebaynya akut!
Shera suka pria romantis, tapi bukan yang menye-me-
nye cengeng. Apalagi yang drama dan cenderung memper-
malukan diri sendiri dan orang lain.
Shera pengin ngerasain deg-degan yang bikin lutut
gemetar dan pipi panas, seperti waktu dia diam-diam me-
naruh hati pada Alva dulu.
Pipi Shera memanas. Ya ampun, setelah bertahun-ta-
hun nggak pernah bertemu Alva sesudah cowok itu pergi
ke Australia, ternyata mengingat pertemuan-pertemuan
mereka di base camp kampus masih bikin Shera tersipu.
Tujuh tahun. Sepertinya sudah selama itu mereka putus
kontak sama sekali.
Shera tercenung. Ingatannya melayang kembali ke ma-
sa itu.

1

pustaka-indo.blogspot.com
*

”Al...”
Alva yang sedang asyik mengamati foto di layar laptop base
camp mendongak ke arah pintu. ”Eh, Sher. Masuk aja. Sori,
tadi nggak ngeuh kamu ada di situ. Sudah lama ya?” Mata
teduh Alva menatap Shera lurus-lurus.
Jantung Shera deg-degan nggak beraturan. Selalu begitu
setiap berhadapan sama Alva, dia mendadak lemas. Kalau Alva
superhero, kekuatannya ada pada matanya.
”E-eh, uhm… nggak sih. Baru kok,” ja­ab Shera kikuk
sambil melangkah masuk dan duduk di kursi kosong di hadapan
Alva.
”Ada apa, Sher?” suara Alva lembut dan tenang seperti
biasa. Dia bukan co­ok berpenampilan modis ala metroseksual
dengan potongan rambut up to date yang banyak berkeliaran
di Bandung raya. Rambut Alva bergelombang dan sedikit gon-
drong. Kacamata bingkai hitam bertengger di hidung bangirnya
yang tegas, tapi sorot mata tajam dan teduh itu nggak bisa
disembunyikan kacamatanya. Suaranya juga dalam dan lembut.
Alva itu... one of a kind.
Shera buru-buru menekan tombol pause lamunannya. ”Mm…
ini, Al... aku ba­a materi dari anak-anak Budaya untuk acara
peduli anak, kolaborasi Pencinta Alam dan Budaya. Di sini
ada detail lengkap acara yang bisa kami sumbang, barang-
barang yang mau kami lelang, plus tenaga yang bisa membantu.
Ada detail-detail lain juga sih. Nih...” Shera menyodorkan
sebundel kertas pada Alva.

19

pustaka-indo.blogspot.com
Alva tersenyum sangat manis sambil menerima proposal dari
tangan Shera. ”Aku lihat-lihat sekilas ya.” Lalu, ”Sher...?”
”Ya, Al?” Ja­aban Shera terlalu cepat dan agak panik, takut
ke-gep lagi bengong,
”Overall sih kayaknya oke. Tapi aku obrolin dulu sama
anak-anak Pencinta Alam yang lain ya? Biar ix. Siapa tahu
ada yang punya usulan lain. Habis itu kita meeting bareng
anak PA dan anak Budaya, gimana?”
Shera mengangguk setuju. ”Sure. Kalau gitu, aku jalan dulu
ya. Kalau ada apa-apa, just call me, Al.” Rasanya Shera pe-
ngin menggetok jidat sendiri pakai pentungan satpam.
Apa-apaan tuh tadi? Just call me?! Flirty banget sih!
Harusnya bisa pakai kalimat lain yang lebih ”aman”. Misalnya:
kontak, telepon, SMS, atau apa kek!
”Eh, sebentar, Sher!” Alva membuka laci, lalu mengeluarkan
sesuatu. ”Nih... buat melengkapi Venice.”
Shera tertegun menatap apa yang disodorkan Alva. Kertas
putih dengan sketsa gondola khas Venesia. Shera nggak nyang-
ka Alva bakal ingat. Shera memang pernah nggak sengaja bi-
lang bah­a dia pengin mencari gambar gondola ala Venesia
tapi yang dibuat dari sketsa pensil untuk ditempel di halaman
Venice dalam album Honeymoon Dreams-nya.
Ini pasti buatan Alva. Co­ok ini jago gambar—dalam
artian, benar-benar jago. Alva bercita-cita jadi animator kelas
dunia yang terlibat dalam pembuatan ilm-ilm animasi ter-
kenal.
Dada Shera berdesir. Alva membuatkan ini untuknya.
”Eh... jelek ya, Sher? Sini, biar aku benerin. Apa yang
kurang dari gambarnya?”

20

pustaka-indo.blogspot.com
”Nggak, nggak. Ini bagus. Bagus banget! Sesuai bayanganku.
Makasih ya, Al. Makasih banget. Mm, ya sudah… gue jalan
dulu ya? Nanti kalau sudah ditempel di album, aku kasih lihat
kamu.”
Alva mengangguk sambil tersenyum, menatap punggung
Shera yang menjauh dari pintu base camp, lalu membuang
napas berat. Satu lagi kesempatan lepas. Alva membuang napas
lagi.
Bego banget dia terjebak pikiran buruknya sendiri karena
takut ditolak. Dia jadi kalah sebelum berperang. Kalau saja
dia berani mencoba, pasti dia nggak menyesal seperti sekarang.
Kalaupun ditolak, paling nggak dia sudah mencoba, kan?

Dua bulan kemudian...

Shera bengong nggak percaya. Serius?! Alva bakal pindah dari


kampus ini? Bukan ke Jakarta atau Surabaya atau Jogja atau
kota-kota di Indonesia yang lain, tapi ke Australia!
Setelah mengajukan lamaran beberapa ­aktu lalu dan mengi-
rimkan beberapa contoh desainnya untuk program beasis­a,
akhirnya Alva dipanggil untuk menerima beasis­a dan me-
lanjutkan sekolah khusus calon animator di sana.
Hari ini hari terakhir Alva di kampus. Dia mentraktir semua
anak PA dan anak Budaya di Bakso Mas Miun sampai gerobak
baksonya kosong. Semua makan bakso dengan kalap karena
gratisan, kecuali Shera.

21

pustaka-indo.blogspot.com
Dia terlalu bingung untuk makan. Dadanya mendadak sesak
karena diam-diam nggak rela Alva pergi. Tapi, mana mungkin
Shera menyatakan cinta duluan? Sampai sekarang, semua
sinyal yang Shera kasih sepertinya nggak pernah Alva balas.
Mungkin co­ok itu memang nggak suka sama Shera. Mung-
kin Shera bukan tipenya.
Alva tertegun di pojokan base camp. Sekarang semuanya
sudah terlambat. Dia sudah mau pergi. Percuma menyatakan
cinta sekarang. Alva harus menutup buku soal cintanya yang
nggak kesampaian pada Shera.
Sekarang ­aktunya dia mengejar mimpi.

”Eh, Yul, si Alva apa kabar ya? Dateng nggak ya dia?”


Dan serta-merta pipi Yulia menggembung bagai ikan
buntal karena berusaha mencegah Thai tea-nya menyembur
bebas. ”Gile lo, Sher! Lo masih mikirin si kutu kertas raja
hutan?!”
”Siapa yang mikirin? Gue cuma kepikiran. Menda-
dak.”
Mata Yulia menyipit jahil. ”Hmm... itu berarti, di dasar
hati lo yang paling dasar, lo masih mikirin dia. Hasrat
terpendam yang—mmm, bukan, bukan hasrat... tapi naf-
su—nafsu terpendam yang penasaran karena dia pergi
sebelum lo pernah mencicipi bagaimana rasanya melumat
bibirnya yang—”
”Ssst! Diem deh, Yul. Jangan sampe gue bilangin

22

pustaka-indo.blogspot.com
Dennis bahwa menurut lo Fero lebih hot dari dia,” ancam
Shera sadis. Dennis pacar Yulia itu cemburuan banget.
Kalau sampai Shera beneran ngadu, Yulia jelas terancam
berantem sampai tiga kali bulan purnama.
Hhh... pakai baju apa ya ke resepsi Raymen? Shera berpikir
dalam hati. Kayaknya dia harus bikin kebaya baru deh.
Sudah lama juga dia nggak ke resepsi pernikahan. Apalagi
ini resepsi mantan pacar, yakin deh, pasti ada yang usil
menilai Shera. Dia harus tampil maksimal.
Lagian, siapa tahu aja Alva datang.
Shera terenyak. Tersipu sendiri karena lamunannya.
Betul juga sih omongan Yulia tadi. Dulu memang Shera
pernah diam-diam membayangkan gimana rasanya
berciuman sama Alva. Hah, tapi jangankan ciuman, gan-
dengan tangan aja belum pernah, kecuali salaman dan toss
bisa dihitung sebagai gandengan.
”Eh, Sher, lo jadi jual paket yang itu?”
Shera tertegun. Tanpa harus menjelaskan paket apa,
dengan menyebut kata itu Shera paham paket apa yang
dimaksud Yulia. Paket perjalanan bulan madunya ber-
sama Darren.
Setelah sekitar setahun Darren meninggalkan Shera
begitu saja, konsep dan rute perjalanan yang khusus Shera
buat untuk bulan madu mereka masih tersimpan rapi di
ile folder komputernya. Waktu Darren bilang mau mela-
mar Shera dan kemungkinan mau menikahinya dalam
waktu dekat, dengan semangat Shera merangkai rencana
bulan madu impiannya. Begitu istimewa, begitu romantis,

23

pustaka-indo.blogspot.com
khusus untuk dia dan Darren. Itu paket perjalanan spesial
yang dirancang langsung oleh sang Ahli Bulan Madu.
Shera mengerjakannya sepenuh hati karena itu untuk
dirinya sendiri. Dan setelah semua gagal, Shera masih
menyimpan semua detail paket itu. Dia nggak tega me-
musnahkannya, mengingat betapa bahagia dirinya waktu
menyusunnya. Tapi dia juga nggak rela menjualnya,
mengingat itu adalah impiannya. Hanya saja... setelah
sekian lama akhirnya Shera sadar, kenangan apa pun ten-
tang Darren nggak pantas disimpan.
”Iya, jadi, Yul. Gue akan jual paket itu. Daripada di-
simpan sia-sia gara-gara Darren, lebih baik gue jual. Me-
nyimpan paket itu cuma bikin gue nggak bisa ngelupain
kekecewaan gue. Kalau gue jual, kan bisa bikin bahagia
orang lain… dan jadi duit tentunya.”
”Cocok!” Evan mengangkat dua jempol gempalnya.
”Lo harus bisa memusnahkan Darren dari hidup lo sampe
ke debu-debunya, Sher. Masa lihat pantat montoknya si
Monna itu aja langsung belok! Nanti juga si Monna bakal
ditendang sama Darren kalau dia ketemu perempuan
montok kayak Beyonce.”
Shera tertawa pelan. ”Paham, Bos Evan. Lagian, untuk
bulan madu gue sama pasangan masa depan gue nanti,
gue akan bikin semuanya baru. Khusus gue bikin buat
dia, si calon masa depan gue itu.”
”Eldi ya?” Yulia nyengir. Eldi itu staf marketimg biro
tour and travel besar rekanan Honeymoon Express.
Shera dan Eldi memang nggak jadian, tapi beberapa

24

pustaka-indo.blogspot.com
bulan terakhir kedekatan mereka cukup intens. Urusan
bisnis selalu ditambah dengan acara ngopi atau makan
bareng. Shera cukup nyaman dekat cowok itu, yang sopan
tapi penuh ambisi. Mereka memang belum lama kenal,
tapi kayaknya Shera nggak keberatan kalau jadian sama
Eldi.
Bahasa tubuh Eldi yang akrab cukup bikin Shera ge-er
bahwa kedekatan mereka memang di atas level ”saha-
bat”.
Yah... itu juga kalau Eldi ada niat nembak dia.

25

pustaka-indo.blogspot.com
Something Called
Destiny—Maybe

S emoga nggak telat!


Alva melirik jam tangan lalu melambai pada taksi yang
lewat di depan Rumah Sakit. Untung urusan kerjaan di
salah satu rumah sakit besar di Jakarta itu cepat selesai,
jadi dia bisa buru-buru mengejar waktu. Nggak nyangka
si Raymen masih menyimpan alamat e-mailnya dan me-
ngirim undangan pernikahan via e-mail. Padahal sejak
pindah kuliah ke Australia, Alva nggak pernah lagi ada
kontak dengan teman-teman dari kampus lama. Waktu
Alva iseng tanya Raymen soal undangannya, baru Alva
tahu Raymen memang mengirim undangan ke daftar
kontaknya di e-mail, Facebook, Twitter, dan semua media
sosial yang dia punya. Pesta pernikahan besar-besaran
rupanya.

2

pustaka-indo.blogspot.com
”Hotel Flora ya, Pak....”
Sopir taksi berseragam biru muda itu mengangguk
sopan lalu langsung menjalankan taksinya begitu Alva
menutup pintu.
Alva merapikan lipatan lengan kemeja biru mudanya.
Kalau betul Raymen menyebar undangan ke semua media
sosial, pasti pestanya bakal rame banget. Raymen sempat
bercanda waktu bilang pesta pernikahannya bisa jadi
reuni dadakan.
Alva tersenyum tipis. Siapa aja ya yang bakal datang?
Seru juga kalau dia bisa ketemu lagi dengan anggota PA
atau mungkin anggota klub Budaya yang base camp-nya
bertetangga dengan base camp PA.
Alva terenyak. Klub Budaya. Dia jadi ingat Shera. Ce-
wek cantik yang dulu selalu bikin dia deg-degan. Cewek
yang selalu bikin Alva harus menahan diri setengah mati
untuk nggak nekat mengecup bibirnya yang mungil dan
menggemaskan. Apa kabar ya dia sekarang?
Waktu Alva bikin acara traktiran makan bakso dalam
rangka fare­ell kecil-kecilan dulu, rasanya dia nggak
melihat Shera di antara teman-temannya yang menyerbu
gerobak bakso. Dia cuma lihat cewek itu sekilas di pintu
base camp. Setelah itu Shera menghilang. Mungkin dia
ada acara lain, karena Alva ingat betul waktu itu hari
Sabtu.
”Hotel Flora, Mas.” Suara sopir taksi membuyarkan
lamunan Alva. Ternyata taksi sudah berhenti di depan
lobi hotel yang malam ini tampak uhm... norak, dengan
dekorasi serba pink.

2

pustaka-indo.blogspot.com
*

Raymen terpana. Kalau rahangnya disetel bisa lepas,


mungkin sekarang Raymen menganga selebar mulut kuda
nil.
Shera cantik banget. Cantik dan seksi. Tube dress hitam
berlapis brokat emas kelihatan pas dan anggun menempel
di badan langsing Shera. Belum lagi rambutnya yang
dikepang prancis dengan ujungnya yang dijatuhkan ke
satu sisi bahu, plus make up minimalis yang bikin Shera...
lebih cantik dibandingkan Diana, calon istri Raymen se-
dang semringah dengan kebaya pink dan hiasan rambut
bunga-bunga—yang juga pink. Mengerikan, Raymen me-
nelan ludah.
Raymen masih nggak ngerti—lebih tepatnya, nggak
terima—kenapa dulu Shera bilang mereka nggak cocok
dan lebih baik putus.
DUG!
”Aduduh!” pekik Raymen tertahan begitu pinggangnya
disikut sadis oleh Diana di pelaminan. Mata Diana yang
tampak bekerja keras menahan beban bulu mata setebal
karpet yang menempel di atas-bawah kelopak matanya.
”Eh, makasih ya, Sher, kamu sudah dateng. Yulia ju-
ga...” Buru-buru Raymen melepas jabatan tangannya dari
Shera yang sudah kelamaan sampai-sampai harus disikut
istrinya dengan penuh dendam.
Shera tersenyum manis. ”Iya, sama-sama. Semoga ka-
lian happily ever after ya....”

2

pustaka-indo.blogspot.com
Raymen gelagapan. Senyum Shera yang manis itu per-
nah jadi miliknya. Bibir itu… Raymen pernah mengecup-
nya—ups! Raymen buru-buru merangkul Diana mesra
sebelum kena sikut yang kedua kali. ”Aku yakin Diana
soulmate-ku yang akhirnya dipertemukan oleh alam se-
mesta. Kami pasti bahagia.” Lalu Raymen menatap Diana
dengan tatapan lebay romantis andalannya.
Raymen harus menunjukkan pada Shera bahwa perni-
kahan ini adalah impiannya, dan bahwa Diana adalah
perempuan paling beruntung. Siapa tahu aja Shera cem-
buru dan menyesal sudah melepaskan dia begitu aja. ”Se-
telah ini kami bakal bulan madu. Eh, Sher, aku bisa kan
pakai jasa Honeymoon Express-mu. Biro perjalananmu
itu paling top untuk urusan honeymoon. Aku pengin men-
jalani bulan madu paling indah sama Diana. Bisa?”
Shera releks melongo. Serius nih?
”Oh, bisa banget dong, Ray. Kamu datang aja ke kantor,
atau telepon dulu juga bisa. Nanti bisa diatur paketnya
sesuai keinginan kalian berdua. Aku punya beberapa staf
khusus untuk itu.” Biarpun tatapan Diana kelihatan cem-
buru dan sebal karena Raymen meminta mantannya yang
cantik dan outstanding buat mengurus bulan madu mereka,
Shera tetap lempeng dan santai. Bussiness is bussiness. Re-
zeki bisa menghampiri di mana pun—termasuk di pela-
minan mantan.
Raymen tersenyum lebar. ”Nah, Sayang... aman, kan?
Di tangan Shera pasti beres semua. Siapa sih yang nggak
tahu Honeymoon Express. Yakin deh, Sayang, perjalanan

29

pustaka-indo.blogspot.com
bulan madu kita pasti mengesankan banget. Kita bisa
mesra-mesraan berdua, di kamar, di ruang tamu, di kamar
man—”
”Oke, Raymen. Gue... turun dulu ya? Tuh, masih pan-
jang antrean tamu yang mau salaman sama kalian,” po-
tong Shera cepat sebelum Raymen semakin vulgar meng-
absen tempat-tempat yang mau dia pakai mesra-mesraan.
Terserah amat dia mau mesra-mesraan di kolong meja,
di atas mesin cuci, di teras rumah tetangga—Hiii... Shera
bergidik ngeri sambil mengajak Yulia turun dari panggung
pelaminan. ”Ayo, Yul...”
Yulia cekikikan mengikuti langkah Shera. ”Kode tuh,
Sher. Kode...”
Shera melotot. ”Kode apa?”
”Ya kode lah! Kalau aja lo yang jadi pengantin wanita
hari ini, lo yang bakal diajak mesra-mesraan di semua
tempat yang memungkinkan. Di sumur, di atap rumah,
di kandang macan—”
”Sialan!” Shera mendelik keki sambil melenggang me-
nuju meja prasmanan. Cuma satu cara yang bisa bikin
Yulia bungkam. Jejelin makanan.

Alva melangkah masuk ke ballroom hotel. Ternyata dia


masih tepat waktu. Undangan pernikahan Raymen jam
sebelas sampai jam dua siang. Sekarang baru jam dua
belas. Di dalam ballroom juga masih ramai. Alva melempar

30

pustaka-indo.blogspot.com
pandangan ke seisi ruangan. Mencari-cari siapa tahu ada
yang dia kenal.
Di meja khusus dessert Alva melihat beberapa orang
yang dia kenal. Ada Icha teman satu jurusannya dulu,
lalu Vino dan Akbar temannya di PA. Biarpun Akbar
tampak gemukan dan perutnya agak buncit, Alva tetap
bisa mengenali cowok yang hobinya panjat tebing itu.
Sebelum menyapa mereka, mendingan Alva salaman
dulu sama mempelai.
”Congrats, Ray.” Alva menjabat tangan Raymen erat.
”Thanks, Al. Lo lagi liburan di Indonesia? Masih tinggal
di Australia, kan?”
”Nggak, Ray. Gue sudah balik ke sini beberapa tahun
lalu. Begitu tamat sekolah, gue cuma sempat kerja setahun
di sana. Habis itu ya di Jakarta terus, tapi gue lost contact
sama semua anak-anak kampus. Untung dapet undangan
lo.” Alva menepuk-nepuk bahu Raymen.
Sebetulnya dulu dia dan Raymen juga bukan teman
satu pergaulan. Yang Alva tahu Raymen itu cowok po-
puler di kampus yang aktif di senat mahasiswa. Alva jadi
sedikit lebih dekat dengan Raymen sejak kegiatan PA
sering disponsori senat dan membuat mereka harus
meeting bareng, tapi ya gitu-gitu aja. Setelah itu, dia masih
sempat dengar berita soal Raymen jadian sama Shera,
entah dari siapa.
”Untung e-mail lo nggak ganti, Al.”
Alva mengangguk setuju. Kalau e-mailnya ganti, pasti
undangan Raymen nggak bakalan sampai ke tangannya.

31

pustaka-indo.blogspot.com
”Thanks again ya, Al.” Tahu-tahu Raymen menarik
badan Alva mendekat. ”Tadi ada si Shera. Gila... cantik
banget dia! Untung gue sudah resmi...,” bisik Raymen
bercanda, sambil menepuk-nepuk punggung Alva.
Alva terenyak.
Ada Shera? Kayak apa cewek itu sekarang? Di mana
dia? Apa sudah pulang?
Dari meja makanan, Shera mematung menatap lurus
ke arah tangga podium. Itu dia. Betul-betul Alva!
Dari podium, Alva menatap perempuan yang kelihatan
cantik seperti biasanya itu. Selalu menggemaskan. Alva
bisa melihat Shera juga sedang menatap ke arahnya dari
samping meja prasmanan. Mungkin perempuan itu
sedang berusaha mengingat-ingat dia.
Shera menelan ludah. Cowok itu… bukan, sekarang dia
adalah pria dewasa… bukan cowok kuliahan lagi. Rambut
Alva memang nggak gondrong lagi seperti dulu. Rambut-
nya tercukur rapi dengan model masa kini. Kacamatanya
pun model baru. Shera tak mungkin salah mengenali
Alva. Dengan kemeja yang lengannya digulung dan di-
padu dasi serta jins, Alva terlihat dewasa dan... gan-
teng.
Nggak nyangka Alva benar-benar datang. Shera me-
ngira pria itu masih di Australia.
Tapi... Apa-apaan sih dia bengong begini?! Masa-masa
kuliah itu sudah bertahun-tahun lalu. Sekarang mereka
dua orang dewasa, teman sekampus yang sudah lama
nggak bertemu.

32

pustaka-indo.blogspot.com
”Alva!” Shera melambai yakin, berjalan mantap meng-
hampiri Alva setelah membuang semua kekikukkannya
tadi.
Menghadapi klien yang resenya setengah mati aja
Shera bisa, masa menghadapi teman lama dia grogi?
Jantung Alva berdegup kencang. Ternyata Shera ingat.
Dia menghela napas lega. Tadi dia pikir, kalau Shera
nggak ingat berarti Alva yang harus memberanikan diri
menyapa Shera lebih dulu dengan risiko malu kalau Shera
sama sekali tidak mengingatnya.
”Apa kabar, Sher?”
”Baik... Kamu?”
Alva menegang sewaktu Shera menarik tangannya lalu
menempelkan pipinya ke pipi Alva. Dia berusaha meng-
ingat-ingat, apakah memang dulu mereka seakrab ini?
Rasanya nggak. Jangankan cipika-cipiki, rasanya dulu
kontak isik mereka betul-betul tahap paling dasar: sa-
laman, toss, atau—apalagi ya? Kayaknya nggak ada lagi.
Mereka lebih sering ngobrol soal kegiatan klub, atau
sesekali basa-basi soal yang lain, tapi itu pun sangat ja-
rang. Alva bukan tipe orang yang bisa berbasa-basi de-
ngan banyak topik obrolan, apalagi waktu itu dia memen-
dam perasaan buat Shera. Setiap ketemu Shera, dia sudah
cukup sibuk mengendalikan perasaannya sendiri. Tapi
itu dulu.
Alva akhirnya bisa rileks. ”Aku baik, Sher. Kamu sama
siapa?”
Shera celingukan mencari-cari Yulia di kerumunan

33

pustaka-indo.blogspot.com
tamu. ”Sama Yulia, tapi... mana ya dia? Cari es krim
kayaknya. Kamu sama siapa?” Shera diam-diam waswas
mencari-cari orang yang kemungkinan menemani Alva
ke sini. Jangan-jangan ada pacarnya, tunangannya, atau
malah istri dan anak-anaknya.
”Sendirian.”
”Ha?” Jawaban Alva langsung bikin Shera salting.
Karena dia memang berharap Alva datang sendirian, jadi
rasanya kayak tertangkap basah.
”Sendirian,” ulang Alva, menyangka Shera tadi nggak
dengar karena ada keluarga Raymen yang lagi asyik
dangdutan di panggung band.
”Aku kira kamu masih di Australia, Al. Kamu tuh ya,
pergi tiba-tiba, datang tiba-tiba. Metode jelangkung
banget. Datang tak diundang pulang tak diantar.” Mudah-
mudahan bercandaan garing Shera bisa sedikit menyamar-
kan kekepoannya yang membabi buta ini.
Ternyata cinta yang dipendam itu akibatnya dahsyat
juga. Bertahun-tahun Shera nggak pernah tahu kabarnya
Alva, tapi begitu ketemu lagi, ternyata dia betul-betul
masih deg-degan. And thanks to omongan Yulia waktu itu
soal rasa penasarannya mencium bibir Alva, sekarang
Shera malah nggak bisa fokus bicara sambil menatap mata
Alva karena matanya bolak-balik releks menatap bibir
pria itu.
Alva tertawa pelan. ”Wah... asal mukaku nggak keli-
hatan kayak setan aja.”
”Eh... nggak... aku kan nggak bilang gitu, Al.”

34

pustaka-indo.blogspot.com
Buat aku, muka kamu itu ya tetep aja ganteng. Malah makin
ganteng, sambung Shera dalam hati. Kalau setan-setan
jelangkung modelnya kayak Alva begini, mungkin per-
mainan jelangkung bakal jadi permainan favorit cewek-
cewek jomblo sedunia.
”So...?” tanya Shera lagi karena jawaban Alva belum
menjelaskan apa-apa.
Sumpah, Shera betul-betul penasaran ke mana aja Alva
selama ini dan apa aja yang terjadi dalam hidupnya?
”Aku sudah sepenuhnya kembali ke Indonesia, sudah
lama. Beres kuliah, coba kerja di sana setahun, terus
langsung balik ke sini, sampe sekarang. Lebih cinta negeri
sendiri, Sher. Lagian, belum seluruh Indonesia aku
jelajahi.”
”Masih anak pencinta alam yang hobi keluar-masuk
hutan toh?”
”Itu sih cinta mati. Cinta selamanya.” Alva tertawa
renyah.
Sebetulnya sih Shera juga nggak tahu persis seperti apa
tepatnya tertawa renyah itu. Yang pasti, suara tawa Alva
terdengar hangat dan menyenangkan.
Aduuhh... masih aja pipi Shera rasanya panas kalau lihat
Alva tertawa kayak gini. Matanya yang menyipit di balik
kacamata itu saat dia tertawa masih nggak berubah.
”Sudah jadi animator sukses dong ya sekarang? Kamu
waktu itu sekolah khusus animasi, kan?”
”Wah amiiin... Makasih lho doanya, Sher. Aku
sekarang punya kantor sendiri sih, bikin bareng teman

35

pustaka-indo.blogspot.com
waktu sekolah di Australia itu. Kami ngerjain animasi-
animasi untuk TV atau ­ebsite. Kebanyakan untuk iklan.
Ngerjain proyek kecil-kecilan dari perusahaan luar juga.
Kamu?”
”Aku pernah cerita soal cita-cita nggak sama kamu?”
Setelah bertanya, Shera kaget sendiri. Ya ampun, kenapa
dia jadi nggak bisa menahan diri gini sih? Pede banget
dia menanyakan pertanyaan tadi pada Alva. Dulu kan
mereka nggak seakrab itu. Kalaupun Shera pernah cerita
pada Alva, belum tentu juga Alva ingat. Dia kan dulu
bukan siapa-siapanya Alva.
”Cita-cita yang... pengin punya biro perjalanan bulan
madu? Kamu masih suka sama yang romantis-roman-
tis?”
Rasanya jantung Shera barusan berhenti berdetak se-
persekian detik saking kagetnya. Dia juga nyaris nggak
bisa menahan diri untuk nggak joget Poco-Poco saking
terkejutnya. Alva ingat! Memang sih Shera pernah me-
nyebut soal hobi dan cita-citanya waktu ngobrol santai
sama Alva, tapi dia sama sekali nggak nyangka Alva ma-
sih ingat sampai sekarang.
Tiba-tiba pikiran itu melintas begitu aja di kepala
Shera. Mungkin ini memang kehendak Tuhan. Mereka
memang dipertemukan di sini oleh takdir. Seperti pepatah
yang mengatakan kalau jodoh takkan ke mana, mungkin
ini yang terjadi sekarang.
Mereka dulu memang nggak sampai pacaran, tapi bisa
jadi sekaranglah mereka baru berjodoh. Shera langsung

3

pustaka-indo.blogspot.com
merinding karena efek deg-degan yang sekarang kekuat-
annya bertambah berkali-kali lipat. ”Ternyata kamu
inget....”
Alva tersenyum kalem. ”Ya inget dong, Sher. So...
gimana kamu sekarang? Kok nanya soal cita-cita dulu?”
Shera sangat bersyukur kalau Alva memang dikirim
Tuhan untuk berjodoh sama dia di masa sekarang. Semua
yang dia kenal tentang Alva nggak berubah. Dia masih
kalem, tenang, dan manis. Bedanya, sekarang dia lebih
dewasa dan lebih... keren.
Kali ini Shera nggak boleh sampai menyesal kayak
dulu. Dengan senyum selebar dan semanis mungkin, She-
ra mengeluarkan selembar kartu nama dari tas tangannya.
”Ini, kartu namaku.” Well, dia memang sedang dekat
dengan Eldi, tapi... mereka kan nggak pacaran. Prospek
ke depan juga belum terbaca. Intinya, status Shera
sekarang ini single. Titik.
Alva membaca kartu nama Shera. ”Honeymoon Ex-
press, your honeymoon specialist,” Alva bergumam membaca
tulisan di kartu nama Shera, lalu menatap wanita itu. ”Ini
punya kamu?”
Shera mengangguk mantap. ”Biro perjalanan bulan
madu. Sesuai cita-cita.”
Alva masih menatap kartu nama Shera. ”Aku sudah
sering dengar soal Honeymoon Express. Sempat kepikiran
kalau ini mungkin punya kamu, tapi aku nggak nyangka
ini betul-betul punya kamu.”
Hati Shera makin berbunga-bunga. Wah, ternyata Alva

3

pustaka-indo.blogspot.com
sempat kepikiran soal dia. Yaaa... biarpun pria itu teringat
Shera karena Honeymoon Express, tapi kan tetap aja,
Alva teringat pada Shera, bukan pada jutaan hal lain di
dunia ini. Rasanya Shera semakin yakin pertemuannya
dengan Alva hari ini adalah takdir—takdir untuk melan-
jutkan perasaan Shera yang dulu. ”Iya, Al, ini mimpi
yang jadi kenyataan. Awalnya kecil-kecilan, lama-lama
bisa berkembang kayak sekarang. Dulu Honeymoon
Express cuma meng-handle perjalanan domestik, tapi
sekarang...”
”Aku boleh mampir ke kantor, Sher?” tanya Alva tiba-
tiba, dan otomatis bikin Shera terdiam kaget.
Wah, Alva langsung mau main mampir aja. Mungkin
dia juga merasakan apa yang Shera rasakan, bahwa per-
temuan ini adalah takdir. ”Boleh dong, Al, mampir aja.
Alamat kantornya ada di kartu namaku. Di daerah Gan-
daria. Telepon dulu ya, biar memastikan aku ada di
kantor.” Mendadak Shera jadi terlalu bersemangat.
Kalau diingat-ingat, sampai Alva pergi ke Australia
dulu, Shera nggak pernah tahu apakah Alva juga punya
perasaan yang sama untuk Shera. Tapi, bagaimanapun
perasaan Alva zaman kuliah dulu, sepertinya nggak pen-
ting lagi. Melihat gelagat Alva yang bersemangat pengin
mampir ke kantor Shera, bisa jadi itu pertanda bahwa
sekarang Alva menaruh perhatian buat Shera, kan? Bukti-
nya, tanpa basa-basi Alva langsung mau melanjutkan
pertemuan mereka hari ini ke pertemuan berikutnya. Ini
yang namanya gayung bersambut, biarpun sudah tujuh
tahun berlalu.

3

pustaka-indo.blogspot.com
”Kamu nanganin klien-klien kamu sendiri?” tanya Alva
serius, nggak menanggapi kalimat Shera.
”Hampir semuanya iya. Tapi, kalau aku lagi full, aku
yang ngerjain konsepnya, sementara eksekusinya aku
serahkan ke beberapa staf.” Dahi Shera mulai mengernyit.
Kenapa jadi ngomongin kerjaan sih?
”Sekarang lagi full?” tanya Alva lagi, seperti nggak
ngeuh dengan kebingungan Shera.
Shera menggeleng pelan. ”Hmm... nggak sih. Ada
beberapa klien, tapi sudah nggak dalam tahap ribet.
Kenapa sih, Al?”
Alva menatap kartu nama Shera, lalu berganti menatap
Shera lekat-lekat. Dalam hati Alva menimbang-nimbang
untuk mengatakan situasi yang sebenarnya pada Shera,
tapi... setelah sekian lama mereka nggak bertemu, rasanya
aneh dan nggak nyaman kalau menceritakan masalah
pribadi begitu aja. Alva nggak mau dianggap berlebihan
atau sentimentil. Alva cuma perlu bulan madu yang
sempurna. Sebagai biro perjalanan profesional, Alva yakin
Shera nggak perlu tahu masalah pribadi kliennya. ”Sher,
aku... mau pakai jasa Honeymoon Express kamu untuk...
bukan maduku. Bisa kamu yang nanganin langsung kan,
Sher? Kayaknya... aku lebih nyaman kalau diskusi sama
orang yang aku kenal.”
Jedeeerrr! Ctaaarrr! Ctaaarrr!
Shera mendadak pusing dan seperti bisa mendengar
gledek menyambar-nyambar tepat di depan jidatnya.
ALVA MAU MEMAKAI JASA HONEYMOON
EXPRESS UNTUK BULAN MADUNYA?!

39

pustaka-indo.blogspot.com
Itu... itu artinya Alva sudah punya calon istri?! Terus,
tadi... getaran-getaran itu?! Fakta bahwa Alva ingat segala
sesuatu soal Shera?! Soal mereka dipertemukan oleh
takdir… itu juga khayalan Shera belaka?
Bodoh! Betul-betul bodoh! Shera sudah kebablasan
membiarkan diri terpesona dan terlena kenangan masa
lalu, membiarkan dirinya ge-er plus pede habis-habisan.
Please deh, Shera, orang datang ke kondangan sendiri bukan
berarti dia single. Bisa jadi pacarnya sibuk, sakit, atau ada
jad­al senam yang nggak bisa dibatalkan.
”Sher...?” panggil Alva karena Shera mendadak be-
ngong.
”O-oh, b-bisa, Al. Bisa. Ya bisa dong! Ke... ke kantor
aja ya?” Shera gelagapan karena masih ada sisa efek
kesamber geledek shock tadi.
”Eh, Alva?!” Tahu-tahu Yulia nongol. Sepertinya dia
sudah kenyang mencicipi semua makanan yang ada di
ballroom. ”Alva, kan?”
Alva menjabat tangan Yulia. ”Hai, Yul…. Apa ka-
bar?”
Shera sudah nggak mendengar lagi obrolan Yulia dan
Alva. Dia terlalu kecewa dan malu pada diri sendiri ka-
rena sempat kege-eran. Untung dia belum sempat ngo-
mong macam-macam atau nekat usaha bergenit-genit ria
sama Alva. Kalau nggak, dia pasti malu setengah mati.
Sekarang dia harus fokus mengatur sikap supaya nanti
bisa profesional waktu Alva datang ke kantor sebagai
klien. Shera juga harus mengembalikan kesadarannya
bahwa mereka ini cuma teman lama.

40

pustaka-indo.blogspot.com
Alva punya calon istri, dan Shera lagi dekat sama El-
di.
Gila, bisa-bisanya Shera mengalami dua kali patah hati
dengan orang yang sama. Konyol. Betul-betul konyol!
Bisa-bisanya Shera lupa diri begitu.

41

pustaka-indo.blogspot.com
Why , oh Why , oh Why...


A PA?! Jadi lo dulu serius suka sama Alva? Lo beneran
jatuh cinta sama dia?!” pekik Yulia, bagai tukang ayam
mengobral dagangan di pasar.
”Ssst! Nyebelin lo, Yul!” desis Shera keki.
Gini nih kalau punya sahabat yang terlalu dekat. Pada-
hal setelah resepsi Raymen, Shera mati-matian menyem-
bunyikan soal Alva. Toh semuanya sudah lewat. Tapi
bukan Yulia namanya kalau nggak kepo. Nenek bawel
yang satu itu berhasil mengorek semuanya, hanya dengan
memulai lewat pertanyaan basa-basi saat mereka mem-
baca-baca menu di Satelicious tadi.
Shera nyaris membekap mulut Yulia pakai serbet. Enak
banget dia menjerit di restoran yang penuh minta ampun
pas jam makan siang kayak begini.

42

pustaka-indo.blogspot.com
Shera berhenti menggigit sate dan menatap aneh ke
arah tisu yang disodorkan Yulia. ”Buat apa?”
Yulia menjawab sambil pasang muka serius, yang
nggak bisa dideteksi itu ekspresi serius apa ngeledek.
”Buat menghapus air mata lo, Sher. Kalau lo pengin
nangis meraung-raung dengan segenap perasaan, nggak
apa-apa, darling. I’m here. Kalau lo perlu lagu India buat
backsound, gue bisa cariin.” Yulia mengangguk meyakinkan,
dan menyebalkan.
Hampir aja Shera tersedak sate kalau nggak buru-buru
minum. Dengan penuh dendam, Shera menggumpal-
gumpalkan tisu yang disodorkan Yulia, lalu menimpuk
Yulia sambil melotot—yang dia bayangkan berkekuatan
super untuk mengubah Yulia jadi kentang. ”Ngasal ya
lo! Ngapain gue nangis meraung-raung segala?!”
”Lo memendam perasaan buat Alva selama bertahun-
tahun. Dan pas ketemu lagi, lo mengira ada kesempatan,
tapi tahu-tahu… dia malah udah mo kawin, dan mau pakai
jasa Honyemoon Express. Itu kan pasti...,” Yulia menun-
juk-nunjuk dadanya dengan muka penuh drama, ”menu-
suk-nusuk hati banget. Sakit. Perih. Hidup memang
keras, Jenderal!” katanya cekikikan.
Dasar norak!
Betul-betul sahabat yang perlu dijitak pakai ulekan
batu. Hidup Yulia itu kayaknya nggak bisa tenang kalau
nggak bercanda atau ngeledek orang. ”Sembarangan!
Ngapain pakai sakit segala?”
”Pasti sakit lah. Yang sudah jadian terus putus aja sakit

43

pustaka-indo.blogspot.com
kalau patah hati. Apalagi kayak lo gini, cinta yang nggak
kesampean, pasti lebih sakit.”
Shera cuma bisa geleng-geleng mendengar analisis sok
tahu Yulia. ”Ngarang bebas lo, Yul. Siapa juga yang patah
hati?! Waktu mikir, siapa tahu ketemu Alva itu takdir,
itu cuma lucu-lucuan aja, nggak seserius itu juga sampe
patah hati segala.”
”Bohong!” tukas Yulia, sangat menyebalkan.
”Serius! Kan gue juga lagi deket sama Eldi. Gimana sih
lo?” balas Shera, nggak mau kalah.
Alis Yulia mengernyit dan matanya menyipit menatap
Shera. ”Jadi... lo beneran bakalan ngambil job dari
Alva?”
”Ya iyalah! Kenapa harus ditolak? Profesional ajalah
sekarang. Dia nanti jadi klien gue. Beres, kan? Lagian,
belum tentu jadi. Kan belum ada deal apa-apa. Siapa tahu
dia berubah pikiran atau kemarin itu cuma basa-basi.”
Tahu-tahu Yulia menatap Shera serius. ”Sher, kenapa
sih dulu lo nggak jujur sama gue kalau perasaan lo itu
sebenarnya buat Alva? Kalau kayak gitu kan gue nggak
bakalan nyuruh lo jadian sama Raymen. Gue pasti bakal
mendukung pilihan lo.”
Pih! Shera langsung mencibir. ”Mendukung? Yulia
Anita Citrasari, bukannya lo yang rajin banget nyebut
dia kutu kertas raja hutan? Yang kata lo nggak bisa me-
menuhi harapan-harapan romantis gue. Lo kan tim
Raymen sejati.”
Yulia cekikikan. ”Yaaa, itu kan karena gue nggak tahu

44

pustaka-indo.blogspot.com
kalau perasaan lo sedalem itu buat Alva. Ah, tapi lo jadian
sama Raymen juga nggak rugi, kan? Dia romantis banget.
Cinta banget pula sama lo. Sampe setahun lalu kan dia
masih ngejar-ngejar lo. Ya, kan?”
Shera berlagak kecekik dan sesak napas. ”Romantisnya
sampe bikin mual-mual. Lo sudah menghancurkan masa
kuliah gue dengan menjebloskan gue ke dalam kisah
romantika terajaib yang pernah ada di era perdagangan
bebas ini,” cerocos Shera asal.
Dddrrt! Dddrrt! Ponsel Shera bergetar di meja. Nama
Alva berkelap-kelip di layar.
Yulia menyeringai garing. ”Ingeeet... profesionaaal....”
Shera mendelik, buru-buru menekan tombol Ans­er.
”Halo. Ya, hai, Al. Gimana? Oh... bisa sih, tapi sekarang
aku lagi di luar. Kalau stafku sih ada di kantor…. Apa?
Oh, gitu. Iya, kita obrolin aja dulu. Hmm, kantor aja
gimana? Boleh.... Satu jam lagi lah…. Oke, bye.”
Yulia menatap penasaran.
”Alva mau ke kantor. Ngobrolin soal honeymoon-
nya.”
Bibir Yulia membulat. ”Ooo....”
Shera tahu ”O”-nya Yulia tadi itu mewakili banyak
makna. Jelas si nenek mulut ember itu masih pengin ber-
komentar ini-itu, tapi berhubung Shera sudah melempar
tatapan penuh ancaman untuk nggak membahas yang
aneh-aneh lagi, Yulia langsung membatalkan niatnya—
daripada benjol kena timpuk sendok makan.

45

pustaka-indo.blogspot.com
*

Shera menatap aneh Alva yang duduk di hadapannya.


Barusan Mita mengantar Alva masuk ke ruangan Shera.
”Sendirian?”
Alva mengangguk.
Shera makin bingung, lalu menatap Alva nggak ngerti.
”Calon istri kamu mana? Planning honeymoon kan harus
berdua pasangan.”
Dahi Alva mengernyit. ”Harus ya?”
Telunjuk Shera mengetuk-ngetuk sampul kulit iPad-
nya. ”Nggak sih, tapi umumnya begitu. Kan supaya tahu
apa maunya si pria dan si perempuan. Biar lebih gampang
nentuin tujuan dan kegiatan yang mau dijalanin. Bulan
madu kan buat berdua. Jadi dua-duanya harus cocok,
harus happy, biar puas. Soalnya, konsep Honeymoon Ex-
press bukan cuma menyediakan jasa perjalanan, tapi lebih
ke organizer. Kami akan bikin konsep yang sesuai untuk
masing-masing klien.”
”Iya, aku ngerti kok konsep Honeymoon Express,
tapi... nggak boleh ya bulan madu sendirian?” cetus Alva
serius.
”Ha?”
Tahu-tahu Alva tertawa pelan. ”Muka kamu lucu ba-
nget kalau kaget. Aku bercanda, Sher. Masa bulan madu
sendirian?”
Shera memutar mata sebal sambil agak-agak salting
dan malu-malu kucing karena candaan Alva.

4

pustaka-indo.blogspot.com
Hhh… Shera mengutuki diri sendiri kenapa harus malu-
malu kucing kayak tadi.
”Jail banget sih! Jadi, mana calon istrimu? Harusnya kan
dia juga ada di sini buat diskusi. Jadi aku bisa bikinin paket
yang pas buat kalian berdua, sesuai budget yang kalian mau.
Bulan madu harus jadi the best month ever, Al.”
Alva tersenyum. ”Nggak salah aku pilih ke sini. Kamu
profesional banget.”
Lagi-lagi, tanpa bisa dicegah, pipi Shera memanas. Dari
tadi ditanya di mana calon mempelainya, Alva malah
bolak-balik bikin Shera salting. ”Belum apa-apa udah
dipuji. Bisa pusing nih kepalaku karena keberatan pujian.
Jadi?” Shera mengingatkan Alva supaya kembali lagi ke
topik.
Jangan sampe Alva kebablasan melempar pujian, terus
nanti tahu-tahu bilang Shera perempuan paling keren
se-Jakarta Selatan, kan gawat juga! Shera bisa pingsan
kena serangan ge-er.
”Calonku ya?”
Shera ngangguk.
Alva menggosok-gosok tangannya lalu menatap Shera.
”Gini, Sher... Sebenarnya, ini rahasia. Makanya dia nggak
aku ajak ke sini.”
”Rahasia? Maksudnya kejutan?” tanya Shera takjub.
Memang nggak semua klien datang berdua pasangannya
sih. Ada juga yang datang sendirian karena mau menja-
dikan bulan madu mereka sebagai kejutan buat pa-
sangannya.

4

pustaka-indo.blogspot.com
Bukannya mau underestimate, tapi Shera sama sekali
nggak menyangka Alva tipe pria romantis dan bisa punya
ide untuk ngasih kejutan bulan madu buat istrinya nanti.
Well, mengingat Alva yang Shera kenal itu pendiam,
kalem, dan lebih banyak menghabiskan hari-harinya di
depan kertas atau di hutan, mmm... ya... nggak disangka
aja.
Dalam bayangan Shera, Alva lebih mungkin belajar
bahasa beruang daripada merencanakan kejutan bulan
madu romantis.
Perasaan kaget Shera cukup wajar.
Biarpun dulu Shera suka sama Alva, tapi sebetulnya
dia nggak begitu mengenal pria itu. ”Kalau kejutan ya
bisa juga, Al. Biar sukses, kamu harus mencari tahu de-
ngan detail maunya dia apa. Misalnya, dia pengin ke
mana, pengin ngapain aja, suka tempat yang kayak apa,
pokoknya hal yang semacam itu, Al. Kalau ada data, itu
semua gampang diatur. Aku bisa mengatur honeymoon
terbaik untuk kalian berdua, yang nggak akan terlupa-
kan.”
Mata Shera yang berbinar-binar semangat waktu men-
jelaskan soal bulan madu, membuat Alva nggak bisa
menahan senyum. ”Semangat kamu masih sama kayak
dulu. Inget nggak, waktu kamu kepergok bro­sing tempat-
tempat romantis di dunia? Habis itu kamu nyerocos pan-
jang lebar soal alasanmu suka tempat-tempat itu, terus
kamu cerita kalau kamu bakal buka biro perjalanan khusus
bulan madu. Cara kamu ngomong, persis kayak barusan.”

4

pustaka-indo.blogspot.com
Shera terenyak, nggak tahu harus bereaksi seperti apa.
Darahnya berdesir pelan karena Alva ingat hal remeh
sedetail itu tentang Shera, padahal mereka cuma ngobrol
sesekali. Mungkin Alva saat ini cuma basa-basi sebagai
teman lama, tapi kenapa dia harus membahas itu?
”Gila, ingatan kamu tajam juga, Al. Inget aja yang
kayak begitu. Aku jadi malu, tauk!” Setengah mati Shera
berusaha terihat santai dan nggak gelagapan.
”Kenapa malah malu? Harusnya bangga dong. Apa
yang kamu omongin dulu, berhasil kamu wujudkan seka-
rang. Aku saksi hidup lho. Dijamin, aku terkenal jujur.
Kalau aku jadi saksi, orang-orang pasti percaya.”
”Apaan sih? Dasar....” Shera tertawa kikuk.
Dari dulu sampai sekarang, ternyata pesona tatapan
dan suara Alva nggak berubah, malah bertambah kuat.
Karena sekarang Alva bukan lagi cowok mahasiswa kutu
buku pencinta alam yang hobi pakai kaus oblong atau
kemeja lanel kotak-kotak ala pendaki gunung. ”Serius
dong, Al.... Kamu malah melenceng ke mana-mana.
Emangnya kamu nggak tahu kamu itu lagi berhadapan
sama orang sibuk. Waktuku tuh sedikit banget. Kamu
beruntung lho bisa ketemu langsung sama aku, soalnya
ya, habis ini aku harus dinner di Paris, terus ngukur baju
di Tokyo, belum lagi nge-blo­ rambut di Hongkong, sama
beli anak kucing di Rusia.”
Akhirnya Shera nggak tahan untuk nggak ngelantur
dan menjebol imej profesional yang berusaha dia per-
tahankan sejak tadi.

49

pustaka-indo.blogspot.com
Alva tertawa. Ahhh… tawa renyah itu lagi. Hangat dan
menyenangkan.
”Hahaha... Gitu dong, Sher, santai sedikit. Biarpun
urusan kerjaan, aku kan temen kamu. Aku percaya kok
kamu profesional tanpa harus serius.” Alva tersenyum
lagi, teringat dulu dia selalu menyukai aura ceria Shera.
Shera menaikkan sebelah alis. ”Bukannya kamu yang
biasanya serius? Waktu di kampus, kamu kan jarang
bercanda, ngomong seperlunya, nggak suka basa-basi, ya
kan? Sekalinya ngomong panjang, topiknya tentang
terumbu karang sama hutan bakau.”
”Kamu merhatiin aku juga ya ternyata.”
Darah Shera langsung kompak naik ke wajah. Rasanya
seperti maling tertangkap basah. Kalau diibaratkan maling
jemuran, Shera kepergok persis saat tangannya menyam-
bar kolor atau kutang dari tali jemuran. Malu berat!
Biarpun Alva mengucapkan kalimat itu dengan santai,
tapi dia tepat sasaran dan sukses membuat Shera malu.
”Bukannya merhatiin, Al, tapi berdasarkan pengalaman
pribadi. Kan aku salah satu dari sekian banyak teman
yang kena ceramah kamu soal terumbu karang,” jawab
Shera. ”Lagian, emang bener begitu, kan?”
”Bisa ya, bisa nggak. Jelas aja kamu nggak pernah
bercanda sama aku, kita kalau ketemu kan selaluuu karena
urusan klub. Kita jarang ngobrolin topik lain. Di luar
urusan klub, pergaulan kita juga beda, ya kan?”
Seketika Alva merasa disedot ke dalam mesin waktu.
Dulu Shera cewek ceria yang bikin dia betah berlama-

50

pustaka-indo.blogspot.com
lama di kampus dan nggak bisa tidur sesampainya di
rumah. Cewek yang selalu membuat dia deg-degan hanya
dengan memikirkan niat menyatakan cinta. Dan sekarang,
Shera masih cewek yang sama. Dia lebih dewasa, lebih
cantik dan elegan, tapi reaksi jantung Alva tetap sama.
Berdegup dengan irama berantakan. Alva harus mengon-
trol diri sendiri. Dia harus tetap mengingat tujuannya,
mengingat Keisha. Fokus pada Keisha.
Shera tertegun karena pertanyaan Alva tadi. Dia mena-
tap Alva sambil mengangkat bahu. ”Iya sih...”
Ya iyalah! Setiap ketemu kamu, aku mendadak bingung
harus ngomong apa. Justru kegiatan-kegiatan klub itu yang
bikin aku punya alasan ngobrol sama kamu, Alvaaa! jerit
Shera dalam hati.
”Eh, udah dong bahas masa kuliah. Back to your honey-
moon. Jadi, gimana sih maksudnya, Al? Kamu mau kasih
kejutan?”
Ekspresi Alva kembali serius. ”Semacam itu sih, tapi...
mungkin akan lebih ribet daripada itu, Sher. Aku sangat
berharap kamu punya waktu untuk mengerjakannya.
Kalau memang ada biaya tambahan, aku nggak masalah
kok.”
”Lho, kok jadi kamu yang kaku gitu? Belum juga selesai
diskusi, kamu sudah ngomongin biaya tambahan. Kita
kan teman, jadi santai aja, Al. Coba jelasin dulu maksud-
nya. Kalau cuma surprise sih nggak perlu biaya tambahan.
Kan sama kayak paket biasa, cuma pelaksanaannya yang
agak beda. Aku bisa sesuaikan konsepnya.”

51

pustaka-indo.blogspot.com
Alva berdeham pelan sebelum mulai bicara. ”Jadi begi-
ni, Sher, kalau soal detail yang kamu bilang tadi, kayak
masalah tempat yang dia suka, kegiatan yang dia pengin
lakukan dan lain-lain, aku udah tahu semuanya. Aku
punya semua informasi yang kamu perlukan.”
”Bagus dong. Itu sudah cukup banget. Terus, apa yang
kamu maksud lebih ribet?”
”Yaaa... bakal ribet, soalnya... soalnya aku mau jalanin
bulan madu itu sendiri, sebelum sama dia.”
Nah, sekarang Shera mulai bingung. ”Jalanin semuanya
dulu gimana maksudnya?”
Alva meneguk teh manis yang tadi dibuatkan Yadi,
OB Honeymoon Express. ”Bulan madu ini impian dia,
Sher. Aku pengin... uhm... menjalani semuanya dulu,
semacam perjalanan survei. Untuk memastikan semuanya
benar dan sesuai keinginan dia. Bisa, kan?”
”Ohhh... oke. Biasanya sih aku nurunin tim survei
untuk berangkat, kalau ada hal-hal yang perlu disurvei.
Tapi kalau kamu mau turun langsung untuk survei, ya
nggak apa-apa juga, Al. Kamu bisa ditemenin anggota
tim surveiku. Soal tambahan biaya itu, nanti ada tam-
bahan biaya survei, tapi untuk kamu… aku kasih harga
temen aja.”
Alva kelihatan agak gelisah. ”Hmm... sebetulnya bukan
cuma survei, Sher.”
”Maksudnya kamu mau ngecek semua tempatnya dulu,
kan?”
”Aku pengin mmm… bukan survei seperti itu, Sher.

52

pustaka-indo.blogspot.com
Kayak yang kubilang tadi, aku akan jalanin semuanya full
dengan semua konsep dan kegiatannya. Tapi sendirian.
Lebih tepatnya disebut perjalanan... mmm... test?”
Shera mulai paham maksud Alva, dan terheran-heran.
”Jadi sama aja kamu bakal melakukan perjalanan itu dua
kali dong nanti?”
Alva mengangguk. ”Ya, kira-kira begitu.”
Shera melongo. ”Bisa aja sih, Al, tapi... ya berarti
harganya ya harga full yang harus kamu bayar dua
kali.”
Alva mengangguk paham. ”Iya, aku paham kok. Nggak
masalah kalau soal itu, Sher. Yang penting aku bisa
pastiin semuanya oke. Dan aku sudah punya semua detail
yang dia mau, tapi aku minta tolong kamu untuk arrange
semuanya ya? Supaya semuanya jadi istimewa. Aku
pengin kamu yang nanganin langsung, karena aku yakin
di tanganmu semuanya bakalan beres. Aku pengin yang
terbaik buat dia.” Alva jelas bisa menangkap kebingungan
di raut wajah Shera.
Biarlah, Alva tetap nggak berniat memberitahu cerita
di balik permintaan bulan madunya ini. Dia nggak mau
Shera mengerjakan semuanya dengan kasihan. Alva mau
Shera menyiapkan bulan madu yang romantis dan
bahagia untuk dia dan Keisha.
Shera tertegun. Rasanya dia nyaris menitikkan air mata
karena terharu. Berkali-kali dia menangani klien yang
merencanakan bulan madu kejutan untuk pasangan, baru
sekali ada yang seperti ini. Semua kliennya hanya ber-

53

pustaka-indo.blogspot.com
konsultasi pada Shera, lalu pilih-pilih paket, bayar, dan
terima beres. Tapi Alva nggak. Kalau Raymen yang mela-
kukan ini, pasti semuanya bakal dilakukan dengan penuh
kelebayan dan cenderung norak. Tapi Alva... dia menga-
takan semuanya dengan segenap perasaan. Shera bisa
langsung merasakan pria itu melakukan semuanya pakai
hati.
Shera menghela napas diam-diam. Sungguh beruntung
calon istri Alva. Wanita itu pasti sangat istimewa di hati
Alva, sampai dia mau melakukan semua ini.
Tanpa bisa ditahan. Shera terpesona pada kecengan
masa lalunya itu—yang sekarang sudah jadi calon suami
orang.
”Bisa, Sher?”
”Bisa, bisa.... Tapi nanti kamu kasih tahu ya, list-nya
mau apa aja. Habis itu aku kasih tahu kamu konsep pa-
ketnya. Kalau kamu setuju, baru kita kerjakan semua-
nya.”
Alva tersenyum hangat. ”Oke. Nanti aku kasih kamu
detailnya. Thanks ya, Sher. Untung aku memutuskan
datang ke kawinan Raymen, jadi kita bisa ketemu lagi.”
Shera meringis.
Aku juga seneng banget bisa ketemu kamu lagi, Al. Andai
kamu tahu apa yang ada dalam pikiranku di resepsi Raymen
kemarin.
Fokus, Shera! Fokus! Profesional! Shera diam-diam men-
cubit pahanya sendiri di balik meja. Shera paling anti
sama wanita-wanita pengganggu hubungan orang lain.

54

pustaka-indo.blogspot.com
Apalagi sejak hubungannya dan Darren berantakan gara-
gara Monna. Betapa jahat perempuan yang tega meng-
hancurkan kebahagiaan perempuan lain dengan merebut
pasangannya. Shera tahu bagaimana sakitnya, dan dia
nggak akan pernah mau jadi perempuan seperti itu.

55

pustaka-indo.blogspot.com
Your Honeymoon Specialist!

R asanya Shera pengin mengetuk palu ala Hakim Agung


karena frustrasi. Sudah nyaris setengah jam sepasang
klien di depannya ini berdebat masalah kamar menghadap
kolam renang atau menghadap pantai.
Shera memang sangat memuja bulan madu. Tapi nggak
gini-gini amat juga. Bisa-bisa, kalau mereka terus ribut
gara-gara hal semacam ini, bulan madu mereka malah
kacau dan berganti jadi pertengkaran rumah tangga.
”Babe, kita kan pengin langsung punya baby. Jadi, kita
butuh suasana rileks. Suara ombak pantai tuh menenang-
kan. Daripada suara berisik orang di kolam berenang…
Bisa-bisa kita nggak tenang karena takut diintip,” rengek
si perempuan dengan ekspresi yang sebentar lagi me-
wek.

5

pustaka-indo.blogspot.com
Shera nyaris terbatuk-batuk kaget mendengar kalimat
”takut diintip”. Memangnya mereka bakalan pasang
poster ”Lagi bulan madu nih!” di luar kamar?
Si suami tampak mengernyit nggak sepakat. ”Ya am-
pun, babe. Siapa yang mau ngintip sih? Kamar yang meng-
hadap pantai kan cuma jendelanya aja yang peman-
dangannya ke pantai, nggak ada pintu langsung keluar.
Kalau yang menghadap kolam renang, kan ada pintu buat
langsung ke kolam renang. Tinggal buka pintu, kita bisa
langsung nyebur. Lebih asyik, kan? Harga kamarnya juga
sama.” Pria berotot itu ngotot.
Bibir si istri mulai manyun. Tanda-tanda buruk. Shera
harus bertindak sebelum mereka betul-betul menggelar
pertengkaran rumah tangga di sini. ”Eh, Mas Bimo dan
Mbak Shinta, gini aja deh. Soal kamar nggak perlu dipu-
tuskan hari ini. Kalian diskusi lagi aja di rumah. Nanti
kalau sudah ada keputusan, bisa hubungi saya lagi. Gi-
mana?”
Alis Shinta mengernyit menatap Shera. ”Memangnya,
kamarnya nggak bakal diambil orang lain, Mbak She-
ra?”
Shera menggeleng. ”Nggak. Tenang aja. Bisa di-keep
dulu kok. Honeymoon Express sudah lumayan lama kerja
sama dengan hotel itu, jadi bisa diatur. Butuh berapa
lama? Dua hari? Tiga hari?”
”Secepatnya deh. Maksimal besok sudah ada keputusan,”
jawab Bimo cepat.
Shera tersenyum lebar, profesional. Dalam hati ber-

5

pustaka-indo.blogspot.com
syukur mereka nggak ngotot menyelesaikan diskusi
dengan aroma peperangan itu sekarang. Setelah bersalam-
salaman, Bimo dan Shinta pamit. Shera bisa duduk lega
sambil menghela napas. Ada-ada aja.
”Bu, ada telepon di line dua,” suara Mita terdengar di
Intercom.
Baru juga bernapas lega sebentar.
Shera menekan tombol line 2. ”Ya, halo...?”
”Hei, Sher. Sibuk?”
Shera langsung duduk tegak. Alva. Kayaknya Shera
butuh terapi khusus nih soal Alva. Setiap kali berinteraksi
dengan pria ini, Shera masih aja deg-degan. Padahal
sekarang sudah jelas banget Alva calon suami orang dan
terbukti sangat mencintai calon istrinya.
Gilanya, melihat Alva melakukan semua itu buat ca-
lonnya, malah bikin Shera makin terpesona dan terkagum-
kagum. Bahaya nih.
”Eh, nggak kok. Tadi ada klien, tapi barusan mereka
pulang. Kenapa telepon ke nomor kantor, nggak ke HP
aja? Nomerku nggak di-save yaaa?” canda Shera sekaligus
menyelidik.
Alva tertawa pelan. ”Hahaha... Nggak mungkin lah.
Masa nggak di-save. Saat ini kan kamu orang penting
dalam hidupku.”
Shera nyaris kena serangan jantung.
”Kamu yang menentukan sukses atau nggaknya acara
honeymoon-ku,” sambung Alva, bikin Shera batal kena
serangan jantung. ”Aku sengaja telepon ke kantor, takut-
nya kamu lagi sibuk meeting atau apa lah. Kalau ke kantor
kan ada sekretaris kamu yang jawab teleponku.”

5

pustaka-indo.blogspot.com
Shera terkekeh pelan. ”Ohhh... Kirain nggak di-save.
Bisa-bisa aku kecewa terus merenung di gua hantu.”
Alva tertawa lepas. ”Kamu jago bercanda ya sekarang.
Kemajuan. Nggak kayak dulu. Ngasih proposal ke base
camp PA aja ngomongnya gelagapan. Aku sampe kepikiran
nyiapin tim medis sama ambulans tiap kamu datang.”
Shera meringis garing. Alva dodol! Emang kamu pikir
kenapa aku dulu gelagapan?! ”Kamu sendiri kayak orang
gagu. Ngomong aja jarang. Makanya aku gelagapan,
bingung mau ngomong apa. Jadi, ada apa kamu telepon
aku?”
”Bisa kita ketemuan, Sher?” tanya Alva langsung.
Kalau nggak mikirin gengsi, etika, dan tata krama di
depan calon suami orang, Shera bakal bilang ”Mau!” tiga
kali, ditambah efek mengangguk-angguk semangat sampai
kepalanya mau copot.
Tahan, Shera.... Tahaaan.… Ingat, profesional! Dan jadi
pengganggu hubungan orang adalah BIG NO NO! Lebih
baik pingsan diseruduk sapi daripada jadi cewek kegatelan.
”Kamu mau ke kantorku?” jawab Shera tenang, penuh
wibawa.
”Hm... kamu makan siang di kantor?” Alva balik ber-
tanya.
”Nggak sih, Al. Aku makan siang di luar, tapi bisa
cepet kok sampe kantor lagi. Jam satu, gimana?”
Alva terdiam sejenak. ”Kalau diobrolin sambil makan
siang, gimana? Biar kamu nggak buru-buru makan, aku
samperin ke tempat kamu makan siang. Eh, tapi kalau

59

pustaka-indo.blogspot.com
kamu nggak bisa sambil ngobrolin kerjaan, nggak apa-apa
sih kalau aku ke kantor.”
Tawaran yang bagus.
Shera terdiam memikirkan usul Alva. Ketemu saat
makan siang sambil ngobrolin kerjaan kayaknya nggak
masalah, kan? Selama ini juga Shera sering melakukan
itu dengan klien yang lain. Apa bedanya dengan Alva?
”Mmm... Boleh aja. Malah kebetulan, Yulia nggak bisa
lunch bareng. Kamu sekalian makan siang bareng aku,
kan?”
”Hahaha... iya, beres. Kalau gitu, aku samperin kamu
di mana nih?”
”Padang Jaya gimana?”
”Sip! I’ll see you there.”
Shera cengar-cengir sendiri setelah menutup telepon.
Asyiiik... lunch sama Alva. Shera toh bukannya mau mere-
but pasangan orang. Kalau cuma buat lucu-lucuan untuk
dikagumi, boleh dong? Toh tujuan Shera juga baik, demi
mewujudkan honeymoon yang dahsyat buat calon istrinya.
Anggap aja ini meeting, dengan bonus.

Padang Jaya saat jam makan siang itu sama kayak Mid-
night Sale. Desak-desakan, rebutan, dan penuh teriakan
histeris. Segala bagian tubuh sapi dan ayam diteriakkan
dengan penuh semangat.
”Otak dong, Bang!”

0

pustaka-indo.blogspot.com
”Paru! Satu lageee!”
”Saya kan minta dada, kok dikasihnya paha?! Dadanya
yang gemuk ya!”
”Kikil duaaa!”
Dan teriakan-teriakan lain sejenis itu.
Untungnya Shera dan Alva datang lumayan lebih awal,
persis lima menit sebelum gerombolan manusia kelaparan
mulai memasuki restoran Padang paling hits di kawasan
Blok M itu.
Karena datang cepat, Shera berhasil duduk di tempat
paling strategis. Lantai dua, di samping jendela dan di
bawah AC. Beberapa orang yang belum kebagian kursi
berkali-kali melirik ke arah Shera dan Alva dengan
tatapan yang seolah mengatakan, ”Makannya cepetan
dong! Gue juga lapar!”
”Sher, emang nggak apa-apa kita lama-lama nih?
Ngobrolnya nggak mau sambil ngopi aja?” bisik Alva
mulai nggak tenang. Rupanya Alva pelanggan Padang
Jaya tipe makan siang ngebut, langsung pergi, lalu mem-
berikan kursinya ke orang lain yang sedang antre. Ter-
utama yang berdiri gelisah sambil menatap orang-orang
yang duduk.
Shera malah mengangkat tangan ke arah pelayan yang
tampak sibuk membawa pesanan sekalian latihan akrobat
dengan begitu banyak tumpukan piring di tangannya.
”Bang! Es kelapa jeruk satu ya! Kamu mau dessert apa?”
”Eh? Mm... sama aja deh.”
”Dua, Bang!” ralat Shera. ”Tenang aja, Al, selama kita

1

pustaka-indo.blogspot.com
masih punya sesuatu buat dimakan di meja kita, nggak
bakal ada yang ngusir. Kuncinya itu… pesen aja terus.
Lagian, sebentar lagi gelombang arus makan siang bakalan
selesai. Restonya langsung sepi lagi. Bisa santai deh,” kata
Shera santai, tak peduli tatapan murka pengunjung lain
yang mengarah ke mereka.
Alis Alva terangkat lalu dia terkekeh pelan. ”Ya am-
pun, udah pegang jurusnya ternyata.”
Shera ikut cekikikan. ”Siapa bilang di sini nggak ada
dessert? Pesanlah es kelapa belakangan. Waktu makan,
kita minum teh aja,” kata Shera berlagak iklan.
Alva langsung tertawa pelan. ”Ada-ada aja,” komen-
tarnya kalem.
Alva oh Alva, bahkan terta­a pun kamu bisa kalem dan
bikin hati adem.
”Oke, back to bussiness. Gue baca ya list-nya.”
Alva menganggguk. Shera membuka selembar kertas
bertulisan tangan Alva berisi list tempat dan kegiatan
bulan madu sesuai keinginan sang calon istri. Shera me-
ngernyit membaca tulisan di kertas itu.
Serius nih list-nya?!

1. Bali: kemping di pantai, main water sport


2. Bandung: berkuda di kebun teh dan hutan cemara
+ romantic picnic
3. Singapore: romantic dinner, Universal Studio,
Singapore Flyer

2

pustaka-indo.blogspot.com
Shera menatap Alva. ”Ini aja list-nya?”
Alva mengangguk. ”Iya... Intinya sih itu. Masih kurang
detail ya, Sher? Sebenarnya sih detailnya lumayan ba-
nyak, tapi... mmm... cuma hal-hal kecil di seputaran
Jakarta atau Bandung, dan kayaknya nggak perlu terlalu
di-arrange. Bisa aku kerjain sendiri,” katanya tenang.
Shera menggeleng cepat. ”Nggak, bukan. Bukan kurang
detail. Malah ini detail banget, dan... mmm... ix. Biasanya
klien cuma bilang mau beberapa hari di Bali, terus ke
beberapa tempat, terus pindah ke Lombok atau ke tempat
lain. Habis itu aku bisa kasih saran. Jadi, di Bali dan
Singapura kalian cuma mau ke tempat-tempat ini aja?”
Alva mengangguk. ”Mm... iya, Sher. Menurut dia—
Keisha, namanya Keisha,” Alva menyebut nama tunang-
annya dengan syahdu. ”Menurut Keisha begitu. Di Bali,
dia mau melakukan itu aja. Memang tujuannya standar,
tapi justru itu alasanku minta bantuan kamu. Kamu bisa
kan bikin yang standar jadi istimewa? Semuanya nggak
harus langsung dalam satu trip kok. Kalau misalnya ke
Bali dulu, terus ke Jakarta lagi untuk istirahat dulu, terus
pergi lagi, nggak masalah.Yang penting aku minta tolong
kamu supaya semua yang simple ini kamu bikin berkesan
untuk dijadikan bulan madu.”
”Oh gitu? Tapi itu ide bagus sih. Soalnya, tempat-
tempat ini kalau dijalanin sekaligus capek juga,” komentar
Shera, masih bingung dengan list yang dipegangnya.
Semua tempat tujuannya sih bagus, biarpun agak stan-
dar. Hanya saja rutenya agak nggak lazim. Shera pikir,

3

pustaka-indo.blogspot.com
untuk seorang animator sukses kayak Alva, dia bakal
ambil paket Eropa, atau paling nggak Hongkong deh.
”Nggak mau ngambil paket Eropa atau Hongkong, Al?
Singapura kan deket banget. Ke Bali atau Bandung kan
bisa kapan aja. Itu saranku sih.”
Alva tersenyum. ”Sebenernya Keisha sudah sering ke
Singapura, tapi...”
Mata Shera membulat. ”Nah, ya sudah, Eropa aja. Aku
punya offer murah banget, Al,” potong Shera.
Alva menghela napas. ”Tapi Keisha nggak bisa pergi
jauh-jauh dan lama...,” sambungnya.
Bibir Shera membulat. ”Oooh… kasus kayak gini
emang sering sih. Klienku pengin tur yang lama, tapi
dua-duanya atau salah satunya sibuk dan nggak ada
waktu.” Shera teringat salah satu kliennya yang memutus-
kan untuk mencari waktu lain untuk honeymoon mereka
ke Eropa karena istrinya cuma dapat cuti menikah empat
hari.
Alva tersenyum. ”Tapi semua yang ada di list ini bakal
bikin Keisha seneng kok. Aku yakin. Karena list ini dia
sendiri yang buat,” tukas Alva cepat. ”Tapi ya itu tadi,
Sher, tolong dikemas seindah mungkin ya. Supaya bagus
kalau difoto detail-detailnya.” Suara Alva terdengar serius
dan penuh cinta—cinta untuk Keisha yang membuat Alva
melakukan hal seromantis ini. Romantis banget lebih
tepatnya. Karena seingat Shera, di antara klien-kliannya
selama ini, cuma Alva yang menyiapkan kejutan bulan
madu sekaligus mau menyurvei sendiri.

4

pustaka-indo.blogspot.com
”Sher... bisa, kan?”
Lamunan Shera buyar. ”Oh, bisa, Al. Honeymoon
Express kan your honeymoon specialist,” canda Shera garing,
menyebut moto kantornya.
”Oh ya. Ini, yang berkuda di kebun teh dan hutan
cemara, kamu tahu kan lokasinya?”
Shera mengernyit. ”Hmmm... belum tahu pasti sih, Al.
Tapi tenang, timku bisa nyari infonya. Santai aja.”
”Aku tahu tempatnya kok. Soalnya aku pernah coba.
Gara-gara aku cerita soal itu, Keisha pengin nyobain juga.
Tapi aku belum kesampaian ngajak dia.” Tatapan Alva
menerawang.
”Oh gitu? Di mana, Al? Biar timku bisa langsung cari
infonya.”
”Di daerah Lembang. Ada tempat wisata ala co­boy.
Mereka punya paket untuk trekking berkuda lewat kebun
teh dan hutan cemara. Bagus banget! Kalau ambil paket
full, dapat makan siang di sela-sela perjalanan. Memang
kayak piknik gitu. Gelar tikar dan makan nasi liwet.”
Bahkan saat mengucapkan kalimat sepanjang itu, intonasi
Alva tetap tenang dan terjaga. Kebalikan dari Shera, se-
tiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu penuh se-
mangat meledak-ledak. Shera paling susah mengontrol
emosi. Dia kelewat spontan dan blakblakan, apalagi dia
sering panik kalau ada yang nggak beres atau melenceng
dari rencana.
Shera mengangguk. ”Sip! Kalau gitu, poin yang ini kita
anggap aja beres.” Shera tersenyum lebar. Tangannya

5

pustaka-indo.blogspot.com
dengan cekatan menulis catatan kecil di samping poin
yang dimaksud tadi. ”Poin-poin yang lainnya akan segera
beres. Akan langsung aku kerjain kok. Tenang ajaaa.”
Shera tersenyum ceria.
Jantung Shera nyaris melompat keluar ketika tiba-tiba
Alva meraih tangannya yang sedang melipat kertas, lalu
menggenggamnya pelan. ”Makasih banyak ya, Sher. Aku
yakin aku nggak salah pilih kamu dan Honeymoon
Express.”
Shera setengah mati menahan senyum supaya nggak
terlihat meringis, sekaligus berdoa semoga suara jantung-
nya nggak sampai terdengar Alva. Sikap kalem Alva
memang juara. Sementara Shera kelojotan karena deg-
degan, Alva bisa tetap kalem dan bersahaja, padahal ta-
ngannya menggenggam tangan Shera. Apa memang
karena buat Alva ini biasa aja ya?
”I-iya, sama-sama, Al. Tenang aja. This is my job kok.”
Shera mengerti sih Alva menggenggam tangannya sebagai
tanda persahabatan dan ucapan terima kasih. Karena toh
mereka teman lama. Tapi tetap aja, perasaan Shera yang
ternyata belum selesai sampai sekarang ini, selalu menjadi
liar kalau Alva melakukan sesuatu yang berpotensi bikin
Shera deg-degan.
Shera menghela napas bercampur iri. Alangkah ber-
untungnya wanita bernama Keisha itu.



pustaka-indo.blogspot.com
Wanti-Wanti Yulia


J angan coba-coba.” Suara Yulia terdengar tajam
dengan tatapan yang tak kalah tajam. Persis pembawa
acara infotainment investigasi yang kebanyakan mengorek
skandal perselingkuhan selebriti. Rasanya cocok banget
kalau sehabis kalimat tadi Yulia bilang, ”Apakaaah... She-
raina Marissa akaaan terjebaaak dalaaam perasaan berba-
haya ini?” dengan gaya khas presenter infotainment, bibir
mencong-mencong dan mata mendelik-delik heboh.
Shera mematikan laptop, lalu duduk di samping Yulia
yang sejak tadi asyik membongkar koleksi majalah
traveling di sofa ruangan Shera. ”Jangan coba-coba apaan
sih?”



pustaka-indo.blogspot.com
”Kalau nggak bisa profesional mendingan lo kasih aja
si Alva ke staf lo, Sher.”
Shera mendelik. ”Maksudnya, jangan gue yang na-
nganin? Nyesel deh gue cerita sama lo tadi. Yul, deg-deg-
an gue itu cuma lucu-lucuan. Jangan serius gitu dong.”
Huh, kalau tahu bakalan kena omel, Shera nggak mau
deh cerita jujur ke Yulia. Padahal kan Shera cerita karena
menganggap Yulia sebagai sahabatnya yang paling leng-
ket, jadi Yulia bisa diajak ngobrol seru. Ternyata reaksi
Yulia sama sekali nggak asyik.
Pluk! Yulia menutup majalah di pangkuannya lalu
menatap Shera. ”Anak bandel banget sih lo. Denger ya,
Sher, lucu-lucuan itu kalau lo baru kenal Alva dan tiba-
tiba deg-degan nggak jelas, tapi lo sama Alva itu beda. Lo
beneran punya perasaan buat dia. Kalau sekarang lo masih
deg-degan juga, artinya perasaan lo itu masih ada, padahal
udah bertahun-tahun lo pendam. Perasaan model kayak
gitu yang lebih bahaya. Dia itu klien lo, Sher. Sudah mau
kawin pula. Jangan main-main! Lo inget kan gimana
bencinya lo sama Monna?”
Bibir Shera berubah cemberut. ”Yulia, ih! Lo kenapa
jadi nyeremin gitu sih? Masa deg-degan aja nggak boleh.
Lagian, gue nggak mungkin kayak Monna. Gue nggak
akan pernah merusak hubungan orang.” Shera menjepit
rambut panjangnya ke atas. Mendadak pembahasan ini
bikin gerah. Shera jadi merasa dihakimi.
Yulia menghela napas pelan. ”Gue serius, Sher. Denger
ya, mungkin lo sempet mikir pertemuan lo sama Alva



pustaka-indo.blogspot.com
setelah sekian lama itu karena kalian berjodoh. Tapi
faktanya, dia udah punya calon istri. Sekarang lo harus
berpikir sebaliknya, Sher. Mungkin kalian ketemu justru
karena kalian nggak berjodoh. Jadi, mulai sekarang,
bersikap profesional yang bener deh. PDKT sama Eldi
yang serius.”
Dahi Shera berkerut. ”Filosoi lo aneh amat. Di mana-
mana itu, kalau jodoh, Tuhan pasti mempertemukan lagi.
Bukannya malah kalau NGGAK jodoh yang dipertemukan
lagi.”
”Kuno,” Yulia bersungut-sungut. ”Nggak harus selalu
kayak gitu. Semua hal itu ada dua sisi. Memang umumnya
kalau berjodoh, maka akan ketemu lagi, tapi nggak selalu
kayak gitu. Contohnya, lo sama Alva. Tuhan memper-
temukan kalian justru untuk ngasih tahu lo bahwa dia
bukan jodoh lo. Forget it! Tuhan mempertemukan kalian
supaya lo lihat bahwa Alva udah punya kehidupan lain,
dan sekarang saatnya lo move on dan melupakan dia.
Karena mungkin secara nggak sadar lo masih mengharap-
kan Alva selama bertahun-tahun ini, sampe Tuhan me-
rasa harus turun tangan supaya lo bisa move on. Kasian
banget lo, Sher.” Yulia tertawa resek setelah berpidato
sangat serius.
”Sialan lo!” Shera menepak bahu Yulia, keki. ”Gue
nggak se-desperate itu sampe Tuhan harus turun ta-
ngan.”
Yulia cekikikan. Tapi lima detik kemudian cekikikannya
berhenti dan menatap Shera lagi. ”Pokoknya gue serius,

9

pustaka-indo.blogspot.com
Sher. Lo harus hati-hati. Gue nggak mau lo main-main
sama perasaan. Perasaan itu bukan untuk lucu-lucuan,
Sher. Jangan sampe lo keterusan dan semuanya jadi nggak
lucu lagi. Mending lo tentuin sikap dari sekarang.”
Serius banget sih, si Yulia! Shera jadi merasa habis
selingkuh.
”Yul, please dong. Gue cuma lucu-lucuan. Suwer! Lo
kan tahu gue paling anti sama perempuan pengganggu
hubungan orang lain. Nggak mungkinlah gue jadi cewek
macam itu, Yul. Lagian, kalaupun deg-degan gue jadi
serius, yang penting kan Alva nggak tahu. Memangnya
dia bisa baca pikiran gue? Ibaratnya, kalau gue mikir mau
ciumin dia dua hari dua malam, dia nggak bakalan tahu,
kan?”
Yulia geleng-geleng. ”Yakin?”
”Yakin! Gue kan nggak bakal ngasih tahu Alva soal
perasaan gue. Kecuali kalau speaker di dada gue jebol sam-
pe omongan di dalam hati bisa kedengaran keluar kayak
di sinetron-sinetron.”
Yulia tersenyum ganjil.
”Kenapa senyum lo aneh begitu? Lo senyum apa mules
gara-gara diare?”
”Lo pernah nggak, tiba-tiba menoleh karena merasa ada
yang ngeliatin lo?” tanya Yulia, asal.
”Ya pernah lah! Lo ngapain ngomong begituan? Semua
orang kalau diliatin kan pasti ngerasa.”
Yulia menjetikkan jari. ”Exactly!”
”Exactly apaan?”

0

pustaka-indo.blogspot.com
”Itu namanya getaran sinyal, Sher. Itu karena kita satu
spesies. Kita ada di frekuensi yang sama,” Yulia meracau
makin nggak jelas.
”Ini kita lagi ngomongin apaan sih?”
Yulia memutar bola mata. ”Ngomongin lo sama Alva!
Lo manusia, Alva juga manusia. Bukan kambing, kan?
Kalau cuma gara-gara diliatin aja, manusia bisa ngerasain,
apalagi kalau ada yang deg-degan dan memendam
perasaan buat kita! Tanpa lo bilang, lama-lama Alva juga
bakal ngerasa. Karena sinyal yang paling kuat itu adalah
perasaan. Manusia nggak perlu bisa melihat atau mende-
ngar untuk punya perasaan. Makanya, orang buta atau
tuli pun bisa jatuh cinta. Jangan anggap remeh, Sher. Ka-
lau sampai Alva tahu perasaan lo, dan salah merespons...
semuanya bakal kacau.”
”Maksudnya?” Shera merasa omongan Yulia mulai
berpengaruh.
”Maksud gue, bagus kalau misalnya Alva tahu perasaan
lo dan memutuskan untuk mengabaikannya, tapi gimana
kalau Alva malah membalas perasaan lo? Lo bakal gima-
na?”
Shera tercekat.
Yulia berdeham pelan, lalu lanjut bicara. ”Nggak ada
yang lebih menyenangkan daripada perasaan yang dibalas
setimpal saat kita jatuh cinta, Sher. Lo memang bilang lo
paling anti jadi pengganggu hubungan orang, tapi satu
hal yang lo harus ingat, Sher.... Nggak semua hal di dunia
ini sesuai keinginan kita. Ada banyak hal yang kita laku-

1

pustaka-indo.blogspot.com
kan bukan atas kemauan kita, melainkan karena adanya
kesempatan.” Yulia menatapnya dengan dingin.
Sebagai cewek yang sedang menjalin hubungan serius,
level keantian Yulia pada wanita penganggu hubungan
orang jelas selevel lebih ekstrim daripada Shera.
Lima detik Shera tertegun. Sialan! Omongan Yulia
betul-betul tepat sasaran. Shera bukannya nggak pernah
memikirkan kemungkinan itu, tapi toh dia merasa nggak
perlu berpikir sampai sejauh itu. Alva sebentar lagi meni-
kah, urusannya dan Alva hanya sebatas biro perjalanan
dan klien. Setelah urusan honeymoon beres, Shera nggak
perlu lagi sering-sering bertemu Alva. Apalagi, kalau Alva
sudah jadi suami orang.
Ketakutan Yulia berlebihan ah!
”Bener sih, tapi lo mikir kejauhan, Yul. Sebelum semua
itu terjadi, Alva bakal jadi suami orang, punya rumah
tangga, dan beranak-pinak. Dia pasti langsung sibuk sen-
diri dan nggak bakal sering ketemu gue. Lagian, dia nggak
ada tanda-tanda bakal macem-macem sama gue. Udah
ah, jangan su’udzon! Gue bisa jaga diri.”
Yulia mengangkat tangan. ”Yang penting gue udah
ngingetin yaaa.... Kalau ada apa-apa, lo tanggung jawab
sendiri.”
”Iyaaa, baweeel! Emang bakal ada apaan sih?”
”Ada udang di balik batu. Ada nyamuk di rumahku.
Ada apa kek! Ada... cinta di tempat terlarang?”
Shera mendelik, lalu ngakak. ”Iih, sumpah kayak judul
ilm porno!”

2

pustaka-indo.blogspot.com
Yulia ngakak. ”Udah ah, susah nasehatin lo. Sekarang
gue mau ngajak lo melakukan sesuatu yang pasti bakal
bikin lo nurut aja.”
Shera mencibir. ”Apa?”
”Nyalon!” Yulia nyengir lebar.
Shera langsung menyambar tasnya. ”Berangkaaat!”

Gara2 si @Yuliajuly perut gue kekenyangan. Nyalon ya


nyalon, makan ya makan. Jgn nyalon smbl makan >.<

Shera menyelipkan gadget-nya ke balik selimut setelah


meng-update status di Twitter. Sejak tadi Shera berusaha
tidur, tapi nggak bisa-bisa, padahal sudah nyaris tengah
malam dan besok pagi dia ada janji dengan klien. Rasanya
dia nggak mengubah temperatur AC, tapi apartemennya
terasa lebih dingin malam ini.
Ini semua gara-gara Yulia! Pidato Yulia di kantornya
tadi siang nggak bisa berhenti berdengung di telinga She-
ra. Kenapa saat malam-malam sendirian begini dia jadi
kepikiran sih?
”Nggak ada yang lebih menyenangkan daripada perasaan
yang dibalas setimpal saat kita jatuh cinta, Sher. Lo memang
bilang lo paling anti jadi pengganggu hubungan orang, tapi satu
hal yang lo harus ingat, Sher... Nggak semua hal di dunia ini
sesuai keinginan kita. Ada banyak hal yang kita lakukan bukan
atas kemauan kita, melainkan karena adanya kesempatan.”

3

pustaka-indo.blogspot.com
Kalimat Yulia itu terus terngiang-ngiang di kepala She-
ra. Masa sih bisa berkembang sampai seperti itu? Me-
mangnya perasaan Shera segitunya buat Alva?
Shera menatap ke luar jendela apartemen. Lampu
jalanan dan mobil kelihatan semakin gemerlap karena ada
lampu gedung dan reklame di mana-mana. Menyenangkan
menatap Jakarta dari ketinggian dan tempat tenang kayak
gini. Lampu dan keramaian di bawah jadi kelihatan indah.
Kalau dia berada di dalam salah satu mobil yang berjuang
di tengah lautan kemacetan, lain cerita. Di tengah kema-
cetan, Shera sering iseng berdoa supaya mobilnya menda-
dak berubah jadi tank. Nggak perlu macet, tinggal gilas!
Drrrttt!
Shera tersentak karena ponselnya tiba-tiba bergetar di
balik selimut. Buru-buru Shera menyingkap selimut,
mengecek layar ponsel. Mata Shera melebar dan nyaris
tersedak.
Alva. Malam-malam begini?
Angkat, nggak, angkat, nggak, angkat, nggak... angkat...
nggak. Shera membalikkan ponsel. Sebaiknya nggak
deh.
Dalam hati dia kepingin banget menjawab telepon
Alva, penasaran kenapa Alva mengubunginya malam-ma-
lam. Tapi kalau dia jawab telepon itu, sama aja dia mem-
buktikan bahwa analisis Yulia tadi siang itu benar.
Shera menghela napas.
Ternyata dia baik-baik aja, meski nggak menjawab tele-
pon Alva. Berarti dugaan Yulia salah besar. Kalaupun

4

pustaka-indo.blogspot.com
dalam waktu dekat dia akan pacaran dengan seseorang,
kemungkinan pria itu adalah Eldi.
Drrrt! Drrtt! Ponsel Shera bergetar lagi. Ada pesan
Whatsapp masuk.
Alvaro Radian. Baca Whatsapp nggak apa-apa dong?
Shera membuka pesan Alva.

Hi, Sher, udh tidur ya pasti? Aku telepon nggak diang-


kat.
Btw, klo kamu baca pesanku ini pagi-pagi mudah-
mudahan sempet ya aku bikin janji buat ketemu kamu
besok.
Aku pengin ngobrolin kelanjutan paket bulan madu
yang aku pesan. Soal rute, dll.
Kabarin aku ya klo bsk lunch kamu ada waktu. Aku
bisa ke kantor ato ke mana pun, terserah kamu aja.
Oke deh, have a nice sleep, misalnya kamu baca
pesanku ini pas kebangun mlm2. Or, good morning,
misalnya kamu baca pesan ini pagi2.

Shera mendekap ponselnya di dada, menatap langit-


langit lalu senyum-senyum sendiri.
Alva lucu deh… good nite or morning. Ada-ada aja deh.
Ternyata Alva mengecek Twitter-nya, mungkin itu sebab-
nya Alva menduga Shera masih terjaga selarut itu. Bisa
sihhh cuma nggak sengaja lihat. Tapi kan tetap aja...
berarti dia memperhatikan nama Shera di antara nama-
nama lain yang memposting status malam ini.

5

pustaka-indo.blogspot.com
Ya ampun! Shera spontan terduduk. Yulia benar! Dia
memang separah itu. Kalau nggak, kenapa dia jadi se-
nyum-senyum sendiri dengan hati berbunga-bunga be-
gini?
Glek. Shera menelan ludah.
Tenang, Shera, ini pasti cuma karena terpengaruh omongan
Yulia. Lagian, teori Yulia soal sinyal manusia ke manusia
lain itu kan cuma teori bikinan sendiri.
Shera menarik selimut sampai menutupi kepala. Dia
harus tidur cepat-cepat sebelum pikirannya melantur ke
mana-mana.



pustaka-indo.blogspot.com
More About Me, More About You...
In My Mind

B etul-betul keren! Shera menatap sekeliling ruang


restoran yang bernuansa tradisional modern di lantai
empat sebuah gedung niaga di kawasan Kuningan. Din-
dingnya dilukis karikatur khas Indonesia. ”Dinding itu
beneran tim kamu yang desain?”
Alva tersenyum, mengangguk. ”Iya. Gimana, suka
nggak? Tim-ku nggak cuma terima job animasi, tapi de-
sain mural semacam ini juga bisa. Ada di menu kami.”
Shera mengacungkan jempol. ”Keren, Al!”
”Thank you. Jadi kalau ada yang butuh digambarin,
hubungi saya ya, Bu Shera. Ini kartu nama saya.” Dengan
gaya melawak, tapi tetap kalem dan sok resmi, Alva
menyodorkan kartu nama.



pustaka-indo.blogspot.com
”Iya, pasti beres, Pak Alva. Tapi nanti akan ada komisi
buat saya, kan?”
Alva tertawa pelan. ”Tenang aja, Bu, nanti saya kasih
komisi satu kali makan siang untuk setiap job. Biar makin
sering ketemu Ibu, makin banyak dapet orderan. Ibu
nggak usah khawatir.”
Shera nggak bisa menahan tawa. ”Alva, udah ah. Ber-
canda melulu. Aku nggak bisa lama-lama nih, Al. Masih
ada janji lagi. Kita langsung bahas kerjaan aja ya?”
Alva menepak dahi.
”Kenapa, Al?” Shera mengernyit bingung.
”Aku lupa aku tuh lagi ketemuan sama perempuan
supersibuk. Pasti habis ini kamu mau ketemu klien di
Meksiko, terus nyalon di Tibet, habis itu mau jajan bakso
di Vietnam, kan?”
”Pffftt!” Shera menahan diri supaya minumannya
nggak nyembur. ”Alvaaa! Masih inget aja omongan aku
yang itu. Udah ah. Serius, serius. Terus ya, kamu kalau
bercanda, coba ekspresi dan nada suaranya dilatih. Jangan
kalem terus kayak sandal hanyut di kali!”
Alva mengangkat tangan sambil masih terkekeh pelan.
”Oke, oke. Aku serius.” Alva mengusap-ngusap tangan-
nya. ”So, gimana, Sher? Sudah ada planning untuk aku
dan Keisha? Aku pengin bisa jalan sesegera mungkin.”
Shera tertegun. Alva terdengar buru-buru. Ya wajar
sih, mungkin dia pengin semuanya cepat ix supaya dia
bisa tenang. ”Aku baru mau ngomong sama kamu soal
itu. Yang paling simple dan dekat kan berkuda ke hutan



pustaka-indo.blogspot.com
cemara dan kebun teh itu. Aku udah kontak manajer ranch
tempat wisata yang kamu maksud. Kamu udah bisa
jalanin trip-nya segera. Aku udah siapin sesuatu, sesuai
data yang kamu kasih ke aku soal kamu dan Keisha.
Untuk tempat menginap, kamu tahu kan rumah kayu ala
co­boy di dalam ranch itu?”
Alva mengangguk.
”Rumah itu disewakan untuk vila. Tempatnya bagus
dan tenang banget. Tematik juga. Pas banget buat honey-
moon. Dan pas banget dengan kegiatan keseluruhan kon-
sepnya.”
Mata Alva melebar. ”Jadi bisa nginep di situ?”
Shera mengangguk.
”Keren. Aku setuju banget. Aku malah nggak kepikiran
untuk menginap di situ. Terus, Sher, untuk berangkat ke
sana, aku sendiri ke sana dan semuanya sudah siap atau
gimana?” Alva menggulung lengan kemeja dan mene-
gakkan duduknya karena antusias.
”Biarpun perjalananmu ini full trip, tapi kan tetap
berupa survei, kayaknya aku atau timku harus mengusa-
hakan ikut untuk mengawasi langsung. Kalau ada yang
kurang, kami bisa langsung tahu. Tapi kalau kamu mau
pergi sendiri juga nggak apa-apa, aku bisa atur untuk—”
”Oh, nggak masalah, Sher. Aku malah seneng kalau
kamu dan timmu juga ikut. Jadi aku ada temen. Aku juga
butuh dibantu untuk dokumentasi.”
Shera tersenyum. ”Oke. Jadi, kapan kamu mau ja-
lan?”

9

pustaka-indo.blogspot.com
”Weekend ini, gimana?”
Shera mengernyit serius. Wah, cepat banget. Sekarang
sudah Kamis. ”Sebentar...” Shera membuka kalender di
ponselnya. ”Hmmm... bisa sih, Al. Tapi kamu keberatan
nggak kalau Sabtu-nya kamu berangkat ditemenin stafku
dulu? Aku nyusul Sabtu malam, terus besoknya kita bisa
langsung ke acara utama yang berkuda itu. Soalnya Sabtu
siang aku ada acara. Aku udah arrange acara dinner untuk
kalian, Al. Karena di situ tempat wisata, pas nyampe bisa
makan siang di seputaran Lembang atau di lokasi wisata-
nya aja. Ada food hall-nya, kamu tahu, kan? Gimana?”
Alva menimbang-nimbang, lalu mengangguk setuju.
”Oke, aku setuju. Yang penting pas acara inti dinner dan
berkuda, kamu ada. Kalau Keisha tahu kamu o­ner Honey-
moon Express yang ngerjain langsung semua ini, dia pasti
senang.”
Dada Shera berdesir. Keisha... you’re so lucky! Perempuan
mana yang nggak bahagia kalau pasangannya melakukan
hal semanis ini? Jadi, wajar kan kalau sekarang jantung
Shera berdentam heboh saking terpesonanya? Bukan
cuma karena Alva tampil keren dan dewasa, tapi juga
semua yang ada dalam diri Alva membuatnya terpesona.
Apa yang dia lakukan untuk Keisha sekarang, betul-betul
bikin Shera lumer.
”She’s so lucky,” gumam Shera pelan.
”Kenapa, Sher?”
Shera tersenyum, menggeleng pelan. ”Nggak pa-pa.
Aku cuma bilang Keisha beruntung banget. Kamu itu

0

pustaka-indo.blogspot.com
romantisnya...” Shera membuat lingkaran dengan jempol
dan telunjuk lalu mengecupnya sekilas ala koki mengo-
mentari makanan, ”...perfecto.” Dia tersenyum kocak,
supaya Alva nggak sempat melihat bahwa tadi Shera
betul-betul terpesona.
”Hahaha... oh ya? Bukannya wajar-wajar aja ya?”
”Kamu itu memang pria romantis sejati. Kayak gini
nih romantis yang bikin perempuan meleleh. Bukan yang
lebay dan bikin malu kayak Raymen, sampe aku pengin
operasi plastik biar nggak ada yang ngenalin.” Shera
bergidik teringat kelakuan Raymen yang menggebu-gebu
dan norak. Raymen itu tipe yang sanggup ikutan reality
sho­ ajaib, berdiri di depan kantor orang sambil bawa-
bawa poster Will you marry me? ”Cowok-cowok di Indo-
nesia harus belajar sama kamu. Mungkin kamu bisa buka
kursus, cara menggaet hati wanita.”
Alva tertawa pelan. ”Nggak segitunya, Sher. Tiap
orang kan beda-beda. Mungkin buat kamu apa yang aku
lakuin sekarang ini romantis dan menyenangkan. Tapi
ada lho orang-orang yang nggak suka hal-hal kayak
gini.”
”Nggak. Rata-rata semua cewek tuh instingnya suka
sama hal romantis. Biarpun levelnya nggak seekstrim aku
sih. Jadi, kalau ada cewek yang nggak suka, mereka itu
spesies langka banget. Dan kamu juga langka, Al. Di
antara semua klienku, baru kamu yang melakukan ini.
Aku, sebagai penyuka semua hal romantis, kagum sama
kamu. Beneran.”

1

pustaka-indo.blogspot.com
Sebelah tangan Alva mengusap rambutnya lalu meng-
acak pelan, nyerah berdebat sama Shera. ”Makasih yaaa
pujiannya, Sher, tapi sebetulnya aku nggak berpikiran
sejauh itu pengin jadi cowok romantis atau apa. Aku cuma
berusaha melakukan apa yang bisa aku untuk bikin Keisha
bahagia. Apalagi, aku sudah janji, dan janji harus ditepati.
Betul nggak?” Sekilas mata Alva menerawang lagi.
Selalu ada kilasan itu setiap Alva menyebut nama Kei-
sha.
Shera mengibaskan tangan pelan. ”Tuh, udah romantis,
bisa pegang janji pula. Keisha benar-benar wanita berun-
tung.”
Alva tertawa geli. ”Jadi, Sher, ­eekend ini udah oke ya?”
Shera mengangguk. ”Iya, kalau kamu memang udah
setuju sama semua usulku tadi, berarti semuanya aman.”
”Aku nggak keberatan kok. Aku setuju.”
Shera tersenyum puas. ”Sip deh. Kita berangkat ­eekend
ini, Pak Alva. Senang bekerja sama dengan Anda.” Shera
mengulurkan tangan.
Alva menjabat tangan Shera sambil tersenyum lebar.
”Senang bekerja sama dengan Anda, Bu Shera.” Alva
tertawa sambil menepuk-nepuk punggung tangan Shera,
ringan.
Tiba-tiba Alva dibuat terkejut waktu jantungnya ber-
jengit saat tangannya menyentuh kulit punggung tangan
Shera yang halus. Dia menahan napas. Apa-apaan sih
jantungnya bereaksi seperti itu?
Shera menahan napas. Ya ampun, tepukan akrab di

2

pustaka-indo.blogspot.com
punggung tangan Shera barusan pasti nggak bermaksud
apa-apa. Ini cuma bahasa tubuh yang biasa buat sesama
teman, apalagi teman lama. Tapi tepukan bersahabat itu
langsung bikin penyakit deg-degan Shera kumat. Kali ini
levelnya lebih dahsyat daripada sebelumnya.
Sejak obrolannya dengan Yulia waktu itu, Shera merasa
lebih sensitif menilai reaksi tubuhnya terhadap Alva.
Intinya, semakin lama Alva semakin sering berkeliaran
di pikiran Shera.
Yulia nggak boleh sampai tahu. Bisa-bisa dia berkoar-
koar histeris kayak nenek lampir. Shera cukup memendam
ini sendirian. Cukup menikmati ini diam-diam. Toh Alva
juga nggak tahu apa-apa. Nanti setelah semua urusan
mereka selesai, Alva menikah, berbulan madu, baru deh
dia ceritakan semuanya pada Yulia untuk membuktikan
bahwa teorinya soal Shera dan Alva itu salah total.
Eh, tunggu... omong-omong soal menikah. ”Eh, Al,
memang tanggal pernikahan kamu kapan sih? Sudah
heboh-heboh bulan madu, persiapan pernikahannya sudah
beres belum?”
Mungkin ini cuma perasaan Shera, tapi Alva tadi keli-
hatan kaget dan nggak siap dengan pertanyaan Shera.
Cuma sesaat, karena sedetik kemudian Alva tertawa san-
tai. ”Pokoknya, kalau aku nikah, kamu pasti dapet un-
dangan VIP-nya, Sher. Tenang aja.”
Ini juga mungkin perasaan Shera aja. Biarpun Alva
menjawab dengan sangat santai, tapi Shera merasa Alva
memang nggak mau menjawab jelas kapan pernikahannya.

3

pustaka-indo.blogspot.com
Well, nggak masalah juga sih. Mungkin pernikahannya
memang untuk kalangan terbatas atau keluarga dekat
aja.
Apa pun alasannya, Shera sulit mengabaikan begitu aja
rasa kecewanya karena Alva nggak mau terbuka. Dia
releks menggigit bibir diam-diam, mendadak gusar. Ka-
cau nih. Kalau begini caranya dia harus mati-matian
membuktikan bahwa omongan Yulia salah. Kalau cuma
deg-degan, mungkin itu memang cuma lucu-lucuan, tapi
kalau dia sampai kecewa karena Alva merahasiakan
sesuatu—tanpa perlu dikasih tahu Yulia—Shera juga tahu
bahwa tahap lucu-lucuannya harus dikontrol lagi. Jangan
sampai meningkat jadi sesuatu yang berbahaya—dan
nggak lucu lagi.

4

pustaka-indo.blogspot.com
I’m a Professional.
A Deal is a Deal.

S hera berlari-lari kecil di koridor rumah sakit. Tiba-tiba


dia dapat telepon dari Dennis, pacar Yulia, yang panik
meminta tolong Shera agar segera ke rumah sakit.
Katanya, Yulia masuk UGD setelah jatuh dari tangga
loteng di rumahnya. Dennis bilang dia lagi meeting, belum
bisa ke rumah sakit dan Yulia harus segera dioperasi.
Shera berlari makin panik. Apakah sahabatnya itu sam-
pai gegar otak dan nggak sadarkan diri?! Gimana kalau
Yulia koma? Gimana kalau kondisinya semakin gawat,
lalu—?
”Sher! Tunggu!” Shera berbalik. Alva yang sudah se-
lesai memarkir mobil berjalan cepat menghampiri She-
ra.

5

pustaka-indo.blogspot.com
Shera ke sini diantar Alva karena Shera mendapat tele-
pon dari Dennis saat dia sedang meeting dengan Alva.
Mendengar Yulia kecelakaan, Alva langsung mena-
warkan diri untuk mengantar.
”Ayo, Al! Aku takut Yulia kenapa-kenapa!” Shera
mempercepat langkah. Dia harus segera melihat keadaan
Yulia. ”Suster, UGD-nya di sebelah mana ya?” Shera
mencegat seorang suster yang sedang sibuk mendorong
kereta penuh nampan obat.
”Mbak lurus aja, nanti belok ke kanan. UGD-nya ada
di lorong pertama.”
”Makasih, Sus....” Shera berlari lagi.
Duh, dasar bodoh, sebelum ke rumah sakit tadi,
seharusnya dia mengganti sepatunya dengan sandal jepit
atau sepatu teplek! Sekarang dia kerepotan harus lari-lari
pakai high heels. Kalau dia kesandung dan jumpalitan di
koridor rumah sakit, bisa-bisa dia jadi pasien UGD ju-
ga.
Ah, tapi Claire di ilm Jurrasic World juga lari-lari
dikejar dinosaurus pakai heels kok!
Shera melangkah masuk ke ambang pintu UGD dan
langsung disambut salah satu suster yang bertugas. ”Sus,
anu… saya... saya mencari temen saya, namanya Yulia.
Tadi katanya dia di UGD dan harus dioperasi. Dia di
mana, Sus? Dia nggak apa-apa, kan? Apa keadaannya
gawat? Dia bisa diselamatkan kan, Sus?!”
”Oi! Drama deh! Siniii!” Tiba-tiba suara cempreng
Yulia bergema dari salah satu pojok UGD.



pustaka-indo.blogspot.com
Shera menoleh ke arah suara itu. Katanya tadi jatuh
dan mau dioperasi. Kenapa masih ngember gitu?! Shera
melangkah cepat ke arah Yulia yang tampak terbaring di
salah satu kasur di pojokan. ”Kok lo masih teriak-teriak
kayak orang utan sih? Katanya lo mau dioperasi?
Emangnya lo kenapa sih? Oh, gue tahu… lo mau operasi
otak ya? Baru sadar ya kalau otak lo melenceng?”
Yulia mendelik keki. ”Sialan! Gue kecelakaan malah
diledekin! Kejam banget. Eh, kok ada Alva?”
Shera mengamati Yulia. ”Dia lagi meeting sama gue pas
Dennis telepon. Sakit apanya sih?”
”Gue jatoh gara-gara ngambil jemuran. Si Warsih lagi
pulang kampung. Kaki gue retaaakkk!”
Shera mengernyit. ”Kaki retak kok bisa teriak-teriak?
Muka lo juga nggak kayak kesakitan.”
”Gue dikasih pain killer, Saaayyy! Sher, please lo kasih
tahu dokternya bahwa gue nggak mau dioperasi. Gue
takuttt! Si Dennis ngotot banget bahwa gue harus mau
operasi. Dia sih enak ngomong doang!” bisik Yulia
dengan muka panik.
”Lho, gimana sih, Yul? Kalau emang kaki lo harus
dioperasi, ya operasi lah. Lo mau sembuh nggak?”
”Kan banyak metode lain. Lo bawa gue cabut dari sini,
ke tukang reparasi tulang alternatif aja deh. Katanya kan
nggak pakai sakit. Cuma didoain sama dipegang-pegang,
terus sembuh. Ya, ya, ya, please?” rengek Yulia.
Shera melotot. ”Hah? Gila lo, Yul! Jangan aneh-aneh!
Kalo di rumah sakit, udah jelas lo akan dibius. Nggak



pustaka-indo.blogspot.com
bakal terasa apa-apa. Di tempat kayak gitu, kalau meto-
denya nggak beres, lo mau minta tanggung jawab ke
siapa? Terus apa tadi lo bilang, dipegang-pegang? Lo
minta gue bawa ke dukun mesum?!”
Yulia merengut. ”Gue takut dibius, Sheraaa!”
Sebetulnya Shera pengin cekikikan melihat Yulia
merengek-rengek kayak anak kecil begini, tapi dia nggak
tega juga. ”Udah deh, dokter ortopedi di sini yang terbaik
kok. Lo pasrah aja, oke? Gue keluar dulu, mau ngisi
formulir lo.”
”Sheraaa...”
”Udaaah... Nurut aja!”
”SHEEERRR!”
Shera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Yulia
sebelum sahabatnya itu mengeluarkan jurus-jurus yang
bisa bikin Shera menuruti rengekannya. Sekarang Shera
harus mengisi formulir persetujuan operasi di bagian
adimistrasi. Shera baru kali ini ke rumah sakit yang ini.
Setelah tadi pusing mencari UGD, sekarang dia pusing
mencari bagian adimistrasi. ”Al, titip Yulia sebentar ya.
Jangan sampe dia kabur,” pesan Shera sebelum benar-
benar keluar ruangan.
Alva meringis. ”Oke.”

”Nih...” Alva menyodorkan sebotol jus yang dia beli di


minimarket rumah sakit pada Shera.



pustaka-indo.blogspot.com
”Thank you.” Shera beruntung banget ada Alva. Dia
mau menemani Shera menunggu Yulia dioperasi. Yulia
sudah selesai operasi dan sekarang mereka sudah di ruang
perawatan, menunggu Yulia sadar. Biarpun sebelumnya
penuh drama nggak mau operasi dan minta dibawa ke
dukun tulang, plus tangisan Yulia yang takut kalau dibius
nggak bakal bangun lagi alias mati muda, akhirnya dia
dibawa masuk. Itu pun setelah seorang dokter muda nan
ganteng membujuknya dengan kalimat yang mendayu-
dayu.
Padahal, mau dokternya muda dan ganteng atau keriput
dan sadis, yang namanya operasi ya tetap saja sakit.
Kadang-kadang Yulia sering berubah jadi mendadak bego
kalau berhadapan dengan manusia ganteng.
Tok! Tok! Tok! Nggak lama setelah suara ketukan, pintu
terbuka. Eldi masuk ke ruangan. ”Sher?”
Shera buru-buru berdiri menyambut Eldi. ”Kirain
nggak jadi ke sini....”
Eldi tersenyum lebar. ”Tadi aku takut nggak sempat,
soalnya lagi follo­ up klien. Tapi ternyata sempat. Apalagi
tadi pas ngebatalin meeting kita sore ini suara kamu di
telepon kedengaran panik banget. Terus, gimana Yulia?”
Lalu mata Eldi sekilas menatap Alva penuh tanda ta-
nya.
”Oh iya, kenalin El, ini Alva. Dia temen kuliahku dan
Yulia. Sekarang dia jadi klien Honeymoon Express. Tadi
kami lagi meeting, tahu-tahu Dennis telepon. Alva, ini
Eldi... dia…”

9

pustaka-indo.blogspot.com
Eldi dengan cepat menjabat tangan Alva. ”Eldi, kantor
Shera sama kantor gue rekanan. Kebetulan gue yang
handle kantor Shera. Jadi yah... kami akrab juga.”
”Alvaro. Panggil aja Alva.” Alva nggak yakin dia salah
lihat atau nggak, tapi rasanya dia melihat kilat kecewa di
mata Shera waktu Eldi menyebutnya rekanan baru dan
menyebut kata akrab belakangan, seperti hanya tambah-
an.
”Oh ya, ini kartu nama gue. Siapa tahu kapan-kapan
mau tur yang bukan bulan madu.” Eldi tiba-tiba me-
nyodorkan kartu nama.
Alva menerima kartu nama Eldi lalu mengeluarkan
kartu namanya sendiri. ”Ini kartu nama gue, siapa tahu
nanti butuh animator untuk iklan atau apa pun.”
”Aaaduh! Nggak mau operasssiii!” Suara meracau Yulia
membubarkan acara pertukaran kartu nama.
”Eh, Yul.... Udah sadar? ” Shera buru-buru berdiri di
sisi ranjang. Alva dan Eldi ikut-ikutan berdiri di bela-
kangnya.
Mata Yulia terbuka pelan-pelan. Tampangnya kayak
habis pulang dugem dan mabuk berat. Matanya sembap,
mengerjap-ngerjap berusaha mendapatkan pandangan
yang jelas.
”Yul... ini angka berapa? Lo bisa liat gue nggak?” Shera
mengangkat dua jari.
Alva terkekeh.
Shera melotot protes. ”Ngapain ketawa?”
”Sadis kamu. Yulia baru sadar, masih pusing, malah

90

pustaka-indo.blogspot.com
disuruh ngitung jari. Bisa pingsan lagi dia. Apalagi jari
kamu kurus banget gitu, mana kelihatan.”
”Resek kamu ah! Yul... Yulia...”
Mata Yulia terbuka penuh. ”Shera… gue nggak mau
operasi. Pleaseee...,” rengek Yulia, ngaco.
”Lo sudah beres dioperasi, nenek! Lo lihat, kaki lo udah
digips. Dan ternyata bius itu kurang kuat buat bikin lo
tidur dan nggak bangun-bangun lagi.”
Yulia mendelik. Lalu matanya melebar kaget melihat
siapa yang berdiri di belakang Shera. ”Lho... kok ada
Eldi?”
Eldi tersenyum lebar mengangkat sebelah tangannya
menyapa Yulia. ”Hai, Yul. Iya, tadi gue ditelepon Shera
yang ngebatalin meeting dengan panik, gara-gara lo kritis.
Jadi gue ke sini. Hahaha.”
Yulia meringis. ”Thanks. Eh, Alva... thanks juga. Kirain
udah pulang. Dari tadi di sini?”
Alva mengangguk. ”No problem. Eh, Sher, Yulia kan
sudah sadar, dan Dennis sebentar lagi datang, kan? Aku
pamit duluan, nggak apa-apa? Ada meeting nih jam li-
ma.”
Shera releks melirik jam tangan. ”Ya ampun, emang-
nya sempet? Ini udah jam lima kurang lima belas menit,
Al. Duh, aku jadi nggak enak sama kamu. Kamu kenapa
nggak bilang dari tadi sih? Kamu kan nggak perlu
nemenin aku.”
Tangan Alva menepuk punggung Shera pelan. ”Udaaah,
santai aja. Ada tim lain yang bisa mulai meeting kok.
Sudah ya, Yul, aku pamit duluan.”

91

pustaka-indo.blogspot.com
Yulia mengangguk.
”Eh, Sher...” Tahu-tahu langkah Alva berhenti di
ambang pintu. ”Soal ­eekend ini, kamu berangkat ke
Bandung naik apa? Aku kirim sopirku untuk jemput
kamu lagi ke Jakarta ya?”
”Nggak perlu, Al. Tenang aja. Aku bisa pinjam si
Nono, sopir kantor kok. Pulangnya aja aku nebeng kamu.
Oke?”
Alva mengangguk setuju. ”Sip kalau gitu. Bye.”
”Ada apa nih di Bandung? Kayaknya aku pingsan cuma
beberapa jam, tapi rasanya kayak pingsan satu setengah
abad. Kok aku merasa kelewatan banyak banget berita,”
celetuk Yulia, menyindir, setelah Alva benar-benar per-
gi.
Duh! Shera baru ingat dia merahasiakan ini dari Yulia.
Sekarang, mau nggak mau ketahuan deh. Bukannya Shera
ada apa-apa sama Alva, tapi dia memutuskan untuk
merahasiakan konsep perjalanan ini dari Yulia karena
malas mendengar Yulia bawel dan resek. Lihat aja, baru
aja sadar dari bius, Yulia sudah bisa nyeletuk kepo kayak
begitu.
”Nggak, Yul, lo baru pingsan beberapa jam kok. Lo
pikir lo itu semacam vampir yang tidur satu setengah
abad dan tetap awet muda?” Shera berusaha mengalihkan
topik.
”Iya nih, ada apa di Bandung?” Eldi ikut-ikutan nyam-
ber, bikin Shera dan Yulia langsung terdiam.
Shera tertawa garing. ”Ada kerjaan lah, El. Aku ­eekend

92

pustaka-indo.blogspot.com
ini ke Bandung sama Alva. Ngurusin bulan madunya
dia.”
”Ooo… kirain apa.” Bibir Eldi membulat. ”Eh, Sher,
kamu masih lama di sini? Yulia kan udah sadar, kamu
mau pulang sama aku sekarang... atau..?”
”Shera, di sini dulu, please... Gue nggak mau sendirian.
Yaaa?” Tiba-tiba Yulia merengek lebay.
Shera tahu pasti Yulia sedang akting, tapi aktingnya
cukup meyakinkan, sampai-sampai Eldi memutuskan
untuk pulang duluan.
”Kenapa lo yang berangkat ke sana? Kenapa nggak
staf-staf lo yang biasa nanganin ginian?” Efek obat bius
tampaknya sudah hilang sama sekali. Yulia kembali segar,
bawel, dan pemaksa. Begitu Eldi pergi, serangan interogasi
Yulia langsung dimulai.
”Kan gue pegang proyeknya Alva. Gue nanganin
semuanya A to Z, makanya gue harus kerjain langsung
supaya perfect. Biasanya juga gitu, kan? Kalau ada
perjalanan survei, selalu ada orang kantor yang ikut jalan.
Apalagi dalam kasus ini, gue udah menyanggupi buat
menangangi langsung.” Shera mulai risih sama topik
ini.
Dari tatapannya yang menyipit plus hidungnya yang
berkerut-kerut kayak gitu, Shera tahu persis Yulia belum
selesai dan bakal terus menyerang dia.
Yulia mengangkat sebelah tangan. ”Kalau itu gue tahu.
Soal lo menangani konsepnya, itu gue ngerti. Tapi tetep
aja, kenapa harus lo yang berangkat survei ke sana? Kan

93

pustaka-indo.blogspot.com
bisa Ferdi atau Tyas? Biasanya juga mereka yang berang-
kat. Lo kan banyak kerjaan di Jakarta. Lo kayaknya niat
banget ya sama proyeknya Alva ini? Jangan-jangan lo
akan nginep juga?”
Tuh kan, tepat dugaan Shera! Di titik ini Shera sudah
nggak bisa bohong. Dia mengangguk sekilas. ”Tapi kan
beda tempaaat. Gue sekalian nengokin Ivy, sepupu gue
yang baru lahiran,” kata Shera, setengah bergumam—Ivy
melahirkannya juga sudah dari kapan tau; mungkin
bayinya sekarang sudah mahasiswi. Nama Ivy muncul
begitu aja karena mendadak Shera terintimidasi omongan
Yulia dan merasa harus punya alasan lain pergi ke Ban-
dung. ”Gue juga bawa si Ferdi atau salah satu staf yang
bisa nemenin gue kok.”
”Sama aja.”
”Sama aja gimana? Gue kan sering keluar sama klien
untuk urusan beginian. Alva sama kayak klien lain.”
Kalau ini adegan komik atau ilm kartun, mungkin
Yulia tiba-tiba mengeluarkan palu raksasa dan menggetok
kepala Shera. Dia tampak gemas menatap Shera. ”Klien
yang lain ya cuma klien. Tapi Alva kan sejak awal terhi-
tung special case! Gue nggak bakal bawel gini kalau Alva
bukan siapa-siapa. Lo tahu kan, Sher, gue cuma nggak
mau terjadi apa-apa.”
Kalau didebat terus, Yulia nggak bakal mungkin mau
kalah, bisa-bisa Shera makin terpojok. Ini harus segera
dituntaskan. ”Yul, I’m a professional. A deal is a deal. Te-
nang aja, oke? Gue bisa profesional kok. Ini kan kerjaan

94

pustaka-indo.blogspot.com
gue. Lagian, Alva maunya kalau ada yang kurang
langsung dieksekusi di lapangan. Dia sekalian bikin
dokumentasi. Kalau gue nurunin staf, mereka tetep aja
harus nanya gue dulu. Makanya, untuk menghemat biaya
dan waktu, gue sekalian yang turun. Lagian, Alva itu
bayar plus-plus, sekalian untuk perjalanan survei, jadi dia
berhak dapat servis maksimal.”
Yulia menghela napas. Sebetulnya dia masih khawatir
dan belum puas. Tapi alasan yang tadi itu sangat masuk
akal. ”Pokoknya hati-hati lah, Sher. Jangan pernah
meremehkan yang namanya perasaan.”
Cuma satu yang bisa Shera lakukan saat terjebak inte-
rogasi Yulia, dia sok sibuk mengupas apel. Yulia betul-
betul kayak nenek-nenek akhir-akhir ini.

95

pustaka-indo.blogspot.com
DAY I !
Professional? Of Course!

M ungkin jalan tol arah Bandung sebaiknya dibikin dua


tingkat, pasti sangat berguna di setiap ­eekend. Shera
menghela napas putus asa melihat antrean panjang ken-
daraan di depannya yang bergerak superduper lambat.
Padahal ini bukan long ­eekend, masa macetnya kayak
begini sih?
”No, kok macet banget ya? Biasanya kalau bukan long
­eekend nggak gini-gini amat.”
Pak sopir kantor Shera itu mengintip dari kaca spion.
”Iya, nggak tahu nih, Bu. Mungkin ada perbaikan jalan
atau kecelakaan. Di sini sering banget.”
Shera melirik jam tangannya. Pukul 18.45. Pasti telat
nih dia sampai ke lokasi. Shera janji untuk sampai ke

9

pustaka-indo.blogspot.com
Lembang tepat pada waktu dinner supaya bisa mengecek
langsung dinner yang sudah di-setting. Kalau macetnya
kayak gini sih, Shera pasti telat.
”Alva, kamu sudah di lokasi?” Shera mengirim pesan
WhatsApp. Pending.
Shera jadi teringat ungkapan yang mengatakan bahwa
kesialan kadang datang nggak sendirian. Maksudnya,
setelah terkena satu kesialan, akan menyusul kesialan
lainnya. Seperti sekarang. Habis kena macet, jaringan
provider kumat segala. Beberapa kali pesan Shera gagal
terkirim ke Alva. Mendingan langsung ditelepon.
Jurusan yang Anda panggil sedang tidak aktif atau berada
di luar jangkauan.
Kok nggak aktif sih? Shera mengulangi panggilannya
ke nomor Alva.
Jurusan yang Anda panggil sedang tidak aktif atau berada
di luar jangkauan.
Kayaknya HP Alva memang lagi nggak aktif. Coba
Shera telepon Ferdi. Stafnya itu seharusnya bareng-ba-
reng Alva sekarang.
Jurusan yang Anda panggil sedang tidak aktif atau berada
di luar jangkauan.
Nggak aktif juga?! Kenapa semua HP nggak aktif sih?!
Tapi HP Ferdi kan seharusnya selalu aktif!
”Bu, ini macetnya mungkin masih sekitar enam kilo-
meter lagi,” kata Nono.
”Tahu dari mana, No?”
Nono mengecilkan volume radio. ”Itu barusan penyiar

9

pustaka-indo.blogspot.com
di radio bilang ada kecelakaan di depan. Lepas dari situ
kayaknya lancar lagi kok, Bu.”
Saking konsentrasinya berusaha menghubungi Alva
dan Ferdi, Shera sampai nggak ngeuh sama siaran radio.
Gila! Jauh amat! Ini sih dia bakal telat total. Mudah-
mudahan nggak ada masalah soal setting dinner-nya.
Shera menarik napas dalam-dalam. Ferdi salah satu
andalannya, seharusnya semua bisa beres di tangan Ferdi.
Shera berusaha tenang. Nanti dia akan coba menghubungi
mereka lagi.

”Halo, Bu Shera...”
”Ferdi! HP kamu dari tadi kok mati? Saya dari tadi
ngontak kamu, tapi nggak bisa. Kan saya sudah bilang,
HP harus selalu ON!” berondong Shera, setengah histeris
karena lega sekaligus emosi. Akhirnya HP Ferdi menja-
wab panggilannya. Itu pun setelah dia masuk tol Ban-
dung.
”Aduh, Bu. Maaf, tadi itu—”
”Dinner-nya gimana, Fer? Ada masalah? Pak Alva ma-
na?” serbu Shera sama sekali nggak memberi kesempatan
Ferdi untuk melontarkan alasan apa pun.
Ferdi terdiam sesaat. ”Dinner-nya... saya... nggak tahu,
Bu. Bukannya, Bu Shera di sana?”
What?! Nyaris aja Shera releks berdiri di dalam mobil
saking kagetnya. ”Nggak tahu? Kok bisa nggak tahu?!

9

pustaka-indo.blogspot.com
Iya, saya seharusnya di sana, tapi saya kejebak macet dan
sekarang baru masuk Tol Pasteur.”
Ferdi terdiam lagi. ”Waduh...” katanya pelan.
”Waduh? Waduh apa? Kok waduh? Kenapa waduh?!”
Shera langsung terserang panik dan cemas berlebihan. Ini
nggak beres, dan alarmnya otaknya langsung berteriak
sama histerisnya.
”Saya lagi mmm... di Setiabudi, Bu. Di penginapan.
Soalnya, Pak Alva tadi nyuruh saya pulang ke penginapan.
Dia bilang Ibu yang mau ngecek langsung dinner-nya.
Sepanjang jalan dari Lembang ke sini, HP saya habis
baterai, makanya baru aktif sekarang.”
Haduh! Shera menepak jidatnya. Sebetulnya dia kesal,
tapi dia nggak mungkin marah sama Ferdi. Ferdi nggak
salah kalau memang Alva yang meminta dia pulang.
Kejadian kayak gini kok bisa luput dari perhatian dia sih?!
Seharusnya dia mengultimatum Ferdi agar tidak pergi
meninggalkan lokasi sebelum dia datang. Sekarang sudah
telanjur. ”Fer, teleponnya Pak Alva kok nggak aktif
juga?”
”Sinyalnya susah, Bu, di sana...”
Shera melirik jam tangannya. Pukul 21.15. ”Ya sudah,
Fer, nanti saya hubungi kamu lagi.”
”Iya, Bu.”
Shera menekan tombol End.
Kacau. ”No, ngebut dikit ya.”
Nono mengangguk.

99

pustaka-indo.blogspot.com
*

Vila kayu yang disewa Shera ada di dalam lokasi wisata


bergaya ranch itu.
Malam-malam begini, saat lokasi wisata sudah ditutup
untuk pengunjung dan cuma ada suara kuda dan jangkrik,
rasanya Shera betul-betul sedang berada di ­ild ­ild ­est.
Shera buru-buru melangkah ke vila. Mudah-mudahan
Alva nggak marah dan kecewa. Seharusnya jam segini
urusan dinner sudah beres.
Sesuai yang direncanakan Shera, jam enam sore Ferdi
dan beberapa orang yang mereka hire secara harian dari
tempat wisata akan menata vila menjadi tempat dinner
romantis. Pada pelaksanaannya nanti, Shera sudah beren-
cana akan mengadakan acara piknik kecil-kecilan di Lem-
bang, khusus untuk Alva dan Keisha. Jadi, begitu mereka
pulang ke vila, semuanya sudah siap tanpa perlu mereka
lihat proses setting-nya. Kalau tadi sih mungkin Alva tetap
di situ untuk ikut mengawasi semua.
Malam ini, setelah semua tertata, seharusnya Alva
mencicipi semua hidangan plus menilai dekorasinya
apakah sudah cocok atau belum. Tapi... kalau Shera dan
Ferdi nggak ada, masa Alva sendirian?
Shera terenyak di depan vila. Konsep yang dia bikin
untuk keseluruhan acara di Lembang ini adalah roman-
tisme ala co­boy. Acara dinner diadakan di depan api
unggun dengan tenda kecil terbuka untuk makan berdua.
Untuk makanannya, Shera sudah menyiapkan kambing

100

pustaka-indo.blogspot.com
guling terenak di Bandung, tapi setelah diamati lagi,
kayaknya semua hidangan belum tersentuh. Api unggun
di depan tenda tampak nyaris padam, sementara bara
kambing guling sudah dipadamkan. Semua masih tertata
rapi dan utuh.
Aduh, Alva mana ya? Memalukan. Shera sudah bikin
kacau semuanya. Seharusnya dia nggak bikin janji untuk
datang tepat waktu dinner. Lalu lintas zaman sekarang
jelas-jelas unpredictable! Kalau Alva marah dan memba-
talkan semuanya, Shera seratus persen bisa mengerti.
Shera selalu berusaha sportif untuk profesionalisme kerja.
Kalau dia salah, ya salah.
Shera melangkah masuk ke vila yang pintunya nggak
ditutup rapat, ”Al?” dan menemukan Alva ketiduran di
sofa. ”Al... Alva...” Shera menepuk-nepuk kaki Alva.
Alva membuka matanya pelan. Begitu tahu Shera yang
menepuk-nepuk kakinya, Alva spontan bangun dan
duduk tegak. ”Eh, Shera. Kamu... nyampe juga.”
”Aduh, Al… aku bener-bener minta maaf. Seharusnya
aku nggak perlu janji datang untuk dinner segala. Seha-
rusnya aku suruh Ferdi di sini sampe selesai. Aku ngerti
kalau kamu kecewa dan mau batalin kesepakatan kita.
Aku betul-betul nggak enak. Soalnya tadi itu—”
”Sher... Sher…” Alva memberi kode Shera supaya
berhenti ngomong. ”Ngomong apa sih?”
Shera melongo. ”Aku udah bikin semuanya berantakan.
Pasti kamu kecewa banget. Atas nama Honeymoon Ex-
press dan pribadi, aku minta maaf.”

101

pustaka-indo.blogspot.com
”Siapa bilang?”
Shera menatap Alva bingung.
”Aku suka konsepnya, Sher. Aku suka api unggunnya,
tenda kecilnya, buket bunganya. Aku juga suka kamu
pasang lagu kesukaan Keisha, Can’t Smile Without You-
nya Barry Manilow. Ternyata kamu memang memper-
hatikan semua detail soal Keisha yang aku kasih ke kamu.
Aku puas sama hasil kerjamu dan tim di sini. Keisha pasti
happy dengan semua ini. Keren.” Tanpa sedikit pun
terdengar kesal, Alva mengatakan semuanya dengan te-
nang, kalem, dan senyum hangat menghiasi bibir.
Shera makin bingung. Kok malah dipuji? ”Eh... aku
seneng kamu suka konsepnya, tapi itu kan belum beres
semua. Kamu... belum coba makanannya, kan? Aku lihat
makanannya belum kamu sentuh. Dan aku, yang seha-
rusnya ada di sini untuk ngawasin langsung, malah baru
datang. Padahal aku udah janji.”
Alva merapikan rambutnya dengan jemari lalu terse-
nyum maklum. ”Kamu kan nggak bisa ke sini tepat waktu
karena ada kecelakaan di tol.”
”Lho… kok kamu tahu?” Mata Shera membulat. Ja-
ngan-jangan, selain berubah jadi lebih dewasa dan gan-
teng, sekarang Alva juga menguasai ilmu paranormal?
Perasaan Shera belum menyebut soal kecelakaan di jalan
tol sama sekali.
”Tadi aku sempat ikut dengar radio bareng penjaga istal
kuda yang tugas malam. Aku yakin kamu berusaha tele-
pon aku berkali-kali, tapi sejak sampe di sini, sinyal HP-
ku jelek banget,” kata Alva tenang.

102

pustaka-indo.blogspot.com
Shera nggak tahu harus ngomong apa. Biasanya klien
akan komplain kalau Shera sedikit aja bikin kesalahan
yang mereka anggap merugikan. Rata-rata mereka merasa
harus mengomel karena sudah bayar mahal. Tapi Alva…
kelihatan kesal pun nggak. Pria itu seperti orang yang
supersabar atau... nggak punya energi buat marah. ”Al,
tapi kan secara profesional, tetap aja aku nggak tepat
waktu. Sementara kamu udah mengeluarkan uang untuk
ini semua. Kamu jadi dirugikan, kan?” Shera nggak tahu
dia tolol atau bodoh. Alva sama sekali nggak marah atas
keterlambatannya, tapi Shera malah meminta yang seba-
liknya.
Alva menatap Shera teduh. ”Kamu sengaja telat?”
Shera menggeleng.
”Kamu juga nggak mau telat, kan?”
Shera mengangguk. Seperti robot, Shera cuma meng-
geleng dan mengangguk.
”Sher, kalau kamu bisa lihat masa depan dan tahu bakal
ada kecelakaan di jalan, kamu pasti nggak bakal bikin
janji untuk datang tepat waktu. Atau mungkin kamu akan
cari cara lain dengan pergi lebih cepat. Tapi kita kan
nggak bisa lihat masa depan. Jangankan besok, kejadian
sedetik kemudian aja kita nggak tahu. Yang penting aku
tahu kamu itu profesional, jadi kamu pasti datang. Aku
nggak mau meributkan hal yang nggak perlu. Kalau
sedikit-sedikit komplain, bisa-bisa aku ribut sama kamu
dan terpaksa pindah biro jasa, dan itu artinya aku harus
mengulang dari awal. Buang waktu, buang tenaga.”

103

pustaka-indo.blogspot.com
Shera speechless. Takjub. Omongan Alva logis, tapi
Shera malah semakin nggak enak hati dan serbasalah.
Kalau diperhatikan, sepertinya seluruh perasaan dan per-
hatian Alva dicurahkan habis-habisan. Pria itu merasa
nggak perlu memedulikan kelalaian Shera, asalkan per-
mintaannya untuk bulan madu ini terlaksana.
”Sher?”
Shera jadi gelagapan. ”Thanks ya, Al, atas pengertiannya.
Aku... aku bener-bener minta maaf. Terus, itu... makan-
annya berarti belum kamu cicipin?”
”Belum. Tapi kalau lihat cara kerja kamu dan konsep-
nya, juga dekor yang ada di vila ini, aku yakin pilihan
makananmu pasti enak. Jadi aku nunggu kamu nyampe,
biar kita coba makanannya bareng. Oh iya, aku mau min-
ta tolong sekalian sama kamu, untuk dokumentasi. Bi-
sa?”
Apa pun yang Alva minta sekarang, Shera pasti me-
nyanggupi. Setelah Alva begitu baik dan pengertian, ma-
na mungkin Shera menolak, apalagi kalau cuma soal se-
pele kayak dokumentasi. ”Iya, bisa dong. Tapi kayaknya
kambing gulingnya harus kita panasin dulu.”
Alva mengangguk setuju.

”Silakan...” sambil tersenyum Alva menyerahkan sepiring


irisan kambing guling pada Shera yang duduk manis di
bawah tenda.

104

pustaka-indo.blogspot.com
”Makasih. Padahal seharusnya aku aja yang nyiapin.
Sudah datang telat, aku malah dilayanin kayak gini.”
Kalimat ini berasal dari lubuk hati Shera yang paling
dalam. Shera sama sekali belum berhasil mengusir rasa
bersalahnya gara-gara terlambat tadi.
”Santai aja, Sher.” Alva mengeluarkan sesuatu dari
saku. ”Sher, boleh minta tolong untuk dokumentasinya
sekarang?”
Shera mengangguk. ”Boleh. Mau difoto di mana?”
”Bentar.” Alva mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah gelang anyaman terbuat dari benang berwarna
hitam dan emas. Gelang benang sederhana yang sering
Shera lihat di toko aksesori, tapi rasanya Shera jarang
melihat yang hanya dua warna seperti itu. Alva memakai
gelang anyaman itu di tangannya. ”Oke, Sher, aku pegang
piringnya ya. Kamu nggak usah foto aku, cukup tanganku
dan piringnya aja. Gelangnya harus kelihatan ya, Sher.”
Agak sedikit bingung dengan instruksi Alva, Shera
mengangguk gamang sambil mengambil kamera dari
tangan Alva.
”Itu gelang kesayangan Keisha. Di setiap dokumentasi,
gelang ini harus ada, sebagai tanda aja bahwa aku melaku-
kan perjalanan ini sambil memakai barang kesayangannya.
Bagian dari diri dia.” Alva berkata tenang lalu menge-
dipkan sebelah mata. ”Aneh ya?”
Shera buru-buru menggeleng. ”Oh, nggak kok. Nggak
aneh. Lucu kok idenya.” Shera lalu mengarahkan lagi
kamera ke Alva dan mengambil foto sesuai permintaan
Alva.

105

pustaka-indo.blogspot.com
Alva mengamati Shera yang melanjutkan makan.
”Jangan bohong, jujur aja. Yang tadi itu aneh, kan?”
Shera menggeleng cepat. ”Nggak. Sama sekali nggak.
Kan aku udah bilang, aku malah kagum sama kamu.
Kayaknya, perkenalan kita yang dulu itu dangkal banget
ya? Aku nggak tahu kamu tipe pria yang kayak gini. Aku
cuma tahu kalau kamu itu pendiam, pintar, dan pencinta
alam. Kalau kata Yulia, daripada harus bersikap romantis,
kamu pasti lebih memilih nengokin gorila yang lagi
sakit.”
Alva tertawa spontan. ”Gitu ya? Nengokin gorila sakit.
Yaaa… mungkin dulu aku memang begitu.”
Shera menusuk irisan daging di piringnya bersamaan
dengan angin yang berembus pelan tapi dingin menusuk.
Ternyata semakin malam semakin dingin. Begonya
Shera, sudah jelas mau ke Lembang, malah cuma pakai
kardigan tipis.
”Dingin ya?” Alva sadar Shera mulai menggosok-gosok
tangannya yang kedinginan.
”Bego banget deh aku. Udah tahu mau ke sini, tapi aku
nggak bawa jaket yang lebih tebal.”
Alva kelihatan berpikir. ”Eh, aku besarin lagi api ung-
gunnya ya?”
”Ide cemerlang tuh! Dari tadi dong...” Shera cengenges-
an.
Bener juga, kok nggak kepikiran gedein api unggun.
Yah, biarpun kalau mau tubuhnya langsung hangat, Shera
harus melompat masuk ke kobaran api, tapi kalau begitu,
sepertinya dia harus kursus debus dulu.

10

pustaka-indo.blogspot.com
Alva membawa seikat kayu bakar ke dekat api ung-
gun.
Api unggun bukan masalah besar buat Alva, mengingat
dia pencinta alam sejati yang kemungkinan saat kuliah
lebih sering kemping di hutan daripada di kampus. Alva
malah pernah bikin kegiatan survival bersama teman-
teman pencinta alam. Mereka bertujuh menginap di alam
terbuka dengan perbekalan minim. Pulangnya baik-baik
aja tuh. Shera sempat mendengar mereka sempat makan
serangga, minum air hujan, sampai nyaris makan jamur
beracun—itu bikin Shera ngeri setengah mati. Bayangkan!
Makan serangga liar di hutan! Kalau Shera, melihat ke-
coak terbang ke arahnya aja langsung lari terbirit-birit
sambil histeris. Hiii!
Setelah api unggun menyala besar, Alva berdiri, meraih
kamera, dan mengambil foto api unggun beberapa kali.
Tadi Shera sempat melihat-lihat foto di memori kamera
Alva. Ternyata sebelum Shera datang, dia sudah mengam-
bil banyak foto. Mulai dari vila, istal, sampai padang
rumput tempat pelepasan kuda. Dan di setiap foto, sede-
mikian rupa Alva membuat gelang Keisha itu kelihatan.
Sepertinya Alva memang sudah mengonsep semuanya
dengan matang di kepala.
Hawa hangat langsung menyerbu Shera. Dia lega
nggak jadi mati beku. Setelah tubuhnya hangat, perha-
tiannya kembali terfokus. Artinya sekarang Shera sudah
siap untuk bicara serius. Dia nggak mungkin pamit pu-
lang sebelum membahas acara malam ini. Itu kan
tujuannya ikut survei.

10

pustaka-indo.blogspot.com
”Eh...” Tiba-tiba tatapan Alva tertuju ke arah seorang
remaja yang lewat di dekat mereka dan sedang berjalan
ke arah istal kuda. ”Jang! Ujang!”
Remaja yang dipanggil Ujang itu berjalan menghampiri
Alva dengan terburu-buru. ”Iya, Kang? Ada apa?”
”Jang, tadi sore waktu saya jalan-jalan ke istal, kan
kamu lagi main gitar. Boleh pinjem?”
”Oh boleh, Kang. Mangga. Sebentar atuh ya, saya ambil
dulu di istal.” Ujang mengangguk sopan.
Alva mengangguk, lalu Ujang berlari kecil ke arah istal
yang bersebelahan dengan vila.
”Kamu kenal anak tadi?”
Alva duduk lagi di sebelah Shera. ”Iya. Tadi pas aku
jalan-jalan lihat kuda, kebetulan ada dia. Dia itu perawat
kuda. Dia yang merawat salah satu kuda yang akan kita
pakai besok. Dia juga bakal ikut ngawal.”
Bibir Shera membulat. ”Ooo...”
Nggak lama Ujang kembali lagi membawa gitar. ”Ini,
Kang. Mangga gitarnya.”
”Makasih, Jang. Nanti saya balikin ke kandang ya.”
”Santai ­ae, Kang. Pakai aja. Saya permisi dulu atuh.
Mau ngecek kuda,” pamit Ujang sopan.
”Iya, Jang. Nuhun...” Alva langsung memangku gitarnya
dengan posisi siap memetik senar. Tangannya dengan
lincah menyetel senar gitar dan mengecek suara.
Shera tahu sih Alva suka main gitar. Tapi dia sadar,
saat di kampus dulu, saat dia diam-diam jatuh cinta pada
pria ini, Shera belum pernah sekali pun mendengar Alva
bernyanyi. Memangnya dia bisa nyanyi?

10

pustaka-indo.blogspot.com
”Sher, mau lagu apa?”
”Eh, apa, Al?” Shera gelagapan kaget. Sial, ketahuan
bengong. ”Sori, sori... agak ngantuk.”
”Kamu ngantuk? Apa mau ke hotel sekarang? Aku
ditinggal aja, nggak apa-apa kok.”
Aduh. Salah banget alasannya. Kesannya Shera udah
capek ngerjain ini. ”Nggak. Cuma gara-gara anginnya nih
yang bikin ngantuk. Bukan ngantuk beneran sih. Tadi
kan di mobil aku tidur. Kamu bilang apa tadi, Al?”
”Aku nanya, kamu mau lagu apa.”
Shera gelagapan. ”Mm... lagu apa ya? Mm... kan acara-
nya Keisha. Lagunya Keisha aja.”
Alva tersenyum, lalu mengangguk. ”Jangan pingsan ya
kalau suaraku jelek,” kata Alva, begitu lembut dan ha-
ngat.
Alva memetik gitarnya, mulai bernyanyi.

You know I can’t smile without you


Can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m inding it hard to do anything...

Shera menahan napas. Ternyata Alva bisa nyanyi.


Oke... suaranya bukan kualitas vokalis band yang ber-
vibrasi dan melengking keriting di mana-mana. Suara-
nya... mmm... ya setaralah sama Adam Sandler waktu
nyanyiin lagu ini di ilm Fifty First Date. Lucu, menye-
nangkan, tulus, dan... bikin senyum-senyum sendiri.

109

pustaka-indo.blogspot.com
You see I feel sad when you’re sad...
I feel glad when you’re glad...
If you only knew what I’m going through…

Shera menahan napas lagi. Alva terlihat begitu mengha-


yati lagunya. Pikiran Shera menerawang. Gimana rasanya
ya jadi Keisha? Mendapat perlakuan semanis ini, dan
dinyanyikan lagu seindah ini. Shera tiba-tiba saja ingat,
dalam sejarah pacarannya dia belum pernah dapat pacar
yang betul-betul menggetarkan hati—apalagi Darren. Iih,
amit-amit. Seandainya dulu dia memilih untuk nekat
PDKT ke Alva, mungkin....

I just can’t smile without you...

Shera membuang napas pelan. Superpelan sampai nya-


ris tak terdengar, berbarengan dengan Alva menyanyikan
baris terakhir lagunya.
Keisha, di mana pun dirimu berada, you’re so damn
lucky!
Secara profesional, Shera tersanjung bisa membantu
pria seperti Alva, yang begitu mencintai dan menghargai
perempuan.
”Boleh tanya nggak?” suara Alva membubarkan lamun-
an Shera.
Shera mengangguk. ”Tanya apa?”
Senyum Alva terlihat hangat. Telunjuknya mendorong

110

pustaka-indo.blogspot.com
kacamatanya ke atas. ”Emangnya lagu kesukaanmu apa?
Tadi waktu aku suruh pilih lagu, kamu nyuruh aku
nyanyiin lagu kesukaan Keisha. Dream a little dream
ya?”
Shera mengernyit. ”Kok tahu?”
”Soalnya itu ringtone kamu. Hebat kan aku bisa ne-
bak!”
Shera mendelik sok ngambek. ”Curang.”
”Kamu nginep di mana?” tanya Alva sambil meletakkan
gitarnya.
Shera buru-buru menendang jauh-jauh sisa kegugup-
annya yang belum tuntas. ”Mm, aku nginep di rumah
Ivy, sepupuku. Nggak jauh dari sini, di daerah Cipagan-
ti.”
”Aku antar ya?”
Shera menggeleng cepat. ”Nggak usah. Kan ada si
Nono. Paling sekarang Pak Nono lagi tidur di mobil.
Besok pagi aku ke sini lagi. Eh, tapiii... sebelum aku pu-
lang, gimana revie­ kamu soal hari ini?” Mendadak Shera
cemas. Takut ada yang kurang. Insting bisnisnya yang
nyaris melayang ke alam mimpi gara-gara terpesona,
mendadak balik lagi menggetok kepalanya supaya sadar.
”Hari ini perfect. Aku suka semuanya. Keisha juga pasti
sama. Makasih ya, kamu mau bantuin dokumentasinya.”
Fiuhh... Shera membuang napas lega lalu beranjak dari
duduknya. ”Oke, kalau begitu, aku jalan dulu ya? Kalau
kamu ada perlu apa-apa, kasih tahu ke penjaga vila yang
stand by atau hubungin aku aja.”

111

pustaka-indo.blogspot.com
Alva mengangkat jempolnya. ”Makasih banyak, Sher.
You really are a honeymoon specialist.”
Shera tersenyum lagi.
Di sepanjang perjalanan ke rumah sepupunya, Shera
cuma duduk melamun, membayangkan, kalau memang
Alva bukan jodohnya, semoga Tuhan mau mengirimkan
pria yang memperlakukan kekasihnya seperti Alva.
Yaaah… mungkin di dunia yang katanya tidak ada yang
sempurna ini, ada segelintir manusia yang punya kisah
cinta sempurna.
Oh! Dia harus ngabarin Yulia bahwa hari ini semuanya
berjalan lancar dan... profesional! Hahaha!

112

pustaka-indo.blogspot.com
Day II
The Phone Call

O keee... Shera memang setuju akan menangani semua


deal bulan madunya Alva dan Keisha dengan maksimal,
tapi... hari ini, awalnya dia mengira dia cukup duduk
manis di boncengan motor Ujang dan mengekor di
belakang Alva serta seorang penunggang kuda lain yang
bertugas mengawal Alva berkuda. Tapiii... Alva memaksa
Shera naik kuda juga!
Pertama, mereka sudah bayar full package. Kedua, Alva
meminta Shera ikut berkuda supaya dalam perjalanan
mereka bisa sambil mengobrol tentang acara berkuda hari
ini. Ketiga—ini alasan paling berpengaruh yang bikin
Shera akhirnya duduk di atas sadel sekarang—Alva nan-
tangin Shera mencoba hal baru.

113

pustaka-indo.blogspot.com
Alva bilang, ”Jangan cuma berani diboncengan motor!”
Dan, yang paling nyebelin, Alva menunjuk seorang nenek
bercelana jins ketat yang sedang berkuda di lokasi
ranch.
HELOOO!!! Itu nenek kan naik kuda cuma di sepu-
taran dalam area wisata. Nggak bisa dibandingkan dong!
Alva kan berencana berkuda ke hutan pinus segala. Siapa
yang tahu kelakuan kuda kalau ketemu hutan?! Bisa aja
kan, kudanya mendadak liar. Atau... bagaimana kalau
mereka ketemu harimau atau beruang kelaparan? Bisa
jadi si beruang atau si harimau berniat menerkam kuda-
nya, dan karena ada Shera di punggung kuda, dia jadi ikut
diterkam!
Yah, apa pun prosesnya tadi, sekarang Shera telanjur
duduk di punggung kuda hitam sambil menapaki jalan
setapak. Di sebelahnya ada Alva yang menunggangi kuda
cokelat yang lebih tinggi daripada kuda Shera.
Tadi mereka dapat kursus singkat soal dasar-dasar
mengendalikan kuda. Kuda-kuda ini sudah biasa trekking
ke gunung, tapi tetap saja, demi keamanan, Ujang dan
dua orang dari istal mengawal mereka naik sepeda mo-
tor.
Sebagian perlengkapan untuk lunch di gunung sudah
dibawa salah satu kuda yang mengawal mereka, dan
beberapa perlengkapan dititipkan di motor.
”Bagus banget ya, Sher. Nggak kebayang Keisha bakal
seseneng apa kalau bisa ada di sini...,” Alva berkata pelan
dan takjub. Dia menatap kagum hamparan perkebunan

114

pustaka-indo.blogspot.com
teh di daerah Sukawana tempat mereka berada sekarang.
Alva lalu mengeluarkan gelang hitam emas Keisha. ”Sher,
bisa pegangin gelangnya nggak, buat difoto? Kang, punten,
tolong kasihkan ke Bu Shera.” Alva mengoper gelangnya
pada Shera, dibantu salah seorang yang mengawal me-
reka.
Shera mengangguk lalu mengangkat gelang itu tinggi-
tinggi supaya saat difoto gelangnya terlihat melayang
dengan latar belakang perkebunan pinus dan teh.
Shera ikut menatap hamparan kebun teh. Memang
indah. Belum lagi udara pagi yang dingin dan menghangat
karena sinar matahari. Biarpun Shera yang mengatur
acara ini, tapi dia sendiri belum pernah melakukan ini,
jadi dia sama sekali nggak tahu bahwa acara berkudanya
akan seindah dan seromantis ini. Dalam bayangan Shera,
yang bakalan romantis dan cocok dengan tema bulan
madu cuma momen piknik di hutan. Dia mengira acara
berkuda cuma sebagai pelengkap perjalanan.
”Sabar, Al.... Nanti kan Keisha ke sini juga.”
Alva nggak menjawab, cuma menghela napas.
”Teh Shera, Kang Alva, nanti kita berhentinya di atas
sana tuh. Sekitar sepuluh sampai lima belas menit lagi.”
Kang Asep, si pemandu yang menunggang kuda di depan
mereka, menunjukkan jalan sambil menoleh ke bela-
kang.
”Sip, Kang....” Alva mengacungkan jempol.
Nggak lama kemudian, mereka mulai memasuki hutan
pinus. Udara langsung terasa lebih dingin karena cahaya

115

pustaka-indo.blogspot.com
matahari hanya masuk dari sela-sela pepohonan pinus
yang rimbun.
Shera menahan napas. Ini keren banget dan sangat
romantis. Dalam hati, Shera langsung menandai kegiatan
ini untuk dimasukkan ke daftar paket yang akan dita-
warkan Honeymoon Express. Untung juga dia dimintai
Alva ikut survei.
”Sher, lihat deh.” Alva menunjuk ke kanan saat mereka
mulai menanjak.
Sekali lagi Shera menahan napas. Di sebelah kanan
mereka, di bawah sana, tampak hamparan kota Bandung.
Mereka berada di titik tertinggi sekarang. ”Ini keren ba-
nget, Al. Aku udah pasti akan memasukkan acara berkuda
ini ke daftar paket untuk klien-klienku. Makasih banget
ya, kamu ngajak aku.”
”Aku yang makasih karena kamu sudah arrange acara
ini dan mau dampingin aku.”
Shera nyengir.
Lima belas menit kemudian, rombongan mereka
berhenti. Ternyata, di dalam hutan pinus itu ada lapangan
rumput berukuran sedang yang dikelilingi pohon-pohon
pinus. Kata Kang Asep, biasanya orang-orang yang meng-
adakan offroad atau bermotor trail akan parkir dan ber-
kumpul untuk beristirahat di sini.
”Sini, Kang, Teh, kudanya kita kasih minum dulu.”
Ujang dan temannya yang tadi mengawal naik motor
dengan sigap mengambil alih kuda yang dinaiki Shera
dan Alva.

11

pustaka-indo.blogspot.com
Nggak lama kemudian, Ferdi muncul dibonceng meng-
gunakan motor lain, membawa beberapa peralatan pik-
nik.
”Fer, langsung siapin aja ya.”
Ferdi mengangguk.
Kegiatan piknik di tengah hutan ini sebetulnya Shera
buat simple. Konsepnya betul-betul piknik, dan meman-
faatkan suasana tenang sebagai bagian terbaik untuk Alva
dan Keisha nikmati berdua sambil makan dari keranjang
bekal. Piknik romantis.
Mata Alva melebar melihat dekorasi simple yang disiap-
kan Shera dan Ferdi. Kain alas duduk, keranjang, bahkan
kotak-kotak makanan di dalam keranjang, semuanya
dihiasi unsur warna baby blue—warna kesukaan Keisha.
”Kok kamu bisa dapat semuanya warna ini?”
Shera tersenyum lebar. ”Kan your-honeymoon-specialist.
Pokoknya, semua harus disulap supaya jadi suasana bulan
madu.” Shera lalu membuka kotak-kotak bekal dan me-
natanya di atas kain alas.
Mata Alva melebar kagum lagi. ”Ini semua makanan
dan minuman kesukaanku dan Keisha.”
”Jangan lupa kasih ini.” Shera mengeluarkan buket
berisi bunga-bunga kesukaan Keisha. ”Terus, sambil
duduk di sini, jangan lupa sama ini dan ini.” Shera menge-
luarkan papan Monopoly dan kartu.
Dalam data yang Alva berikan disebutkan bahwa
mereka sangat menyukai dua permainan itu. Menurut
Shera, dua kegiatan itu cocok banget untuk menghabiskan

11

pustaka-indo.blogspot.com
waktu di sini. ”Al, untuk kegiatan ini, harus ada yang
kamu putuskan. Jadi, coba kamu pastikan, kamu mau
ambil paket yang berapa jam. Kalau soal perjalanan kan
waktunya sudah cukup pasti karena itu paket dari opera-
tor. Tinggal kamu yang menentukan akan menghabiskan
waktu berapa lama di sini. Jadi, nanti kamu putuskan ya.
Terus, kalau ada yang kurang dari semua yang aku dan
Ferdi siapkan, langsung bilang aja. Ferdi bisa langsung
jalan untuk nyiapin.”
Alva tertegun lalu menatap Shera. ”Hm... semua ini,
aku rasa sudah bagus kok. Sudah cukup.”
”Eh, tunggu… ada yang lupa.” Shera tiba-tiba teringat
sesuatu. Dia buru-buru mengeluarkan MP3 player dari
dalam salah satu tas. ”Jangan lupa ini. Dansa di tengah
hutan pinus, kan? Lagu ini, kan?” Shera menekan tombol
ON. Lalu terdengar lagu What A Wonderful World-nya
Neil Armstrong mengalun lembut.
Alva tercekat. Dia berdiri mematung. Mungkin Shera
salah lihat, tapi... mata Alva tampak berkaca-kaca.
”Al...?” panggil Shera hati-hati. ”Mmm... kamu kena-
pa?”
Alva tampak buru-buru mengembalikan ekspresinya.
”Eh, nggak pa-pa. Lagu ini memang selalu bikin merin-
ding. Kalau kata Keisha, bikin kita bersyukur—bersyukur
bisa hidup dan menikmati semua ciptaan Tuhan.” Alva
tersenyum dengan tatapan menerawang. ”Dia bilang,
meski lagi kena macet parah di Jakarta, kalau di mobil
dengerin lagu ini, macetnya langsung jadi ­onderful.”
Alva terkekeh pelan.

11

pustaka-indo.blogspot.com
Shera ikut tertawa pelan. ”Ada-ada aja sih tunangan
kamu itu. Tapi bener juga sih.”
Alva lalu menepukkan kedua telapak tangannya. ”Any-
­ay, Sher... semua ini cukup bagus. Dengan detail-detail
sederhana yang kamu siapin, piknik ini beneran jadi
romantis. Kamu memang jago, Sher! Beruntung banget
cowok yang nanti bulan madu sama kamu,” Alva meng-
godanya.
Pipi Shera menghangat, antara ge-er dan bangga.
”Yaaah… berarti aku nyiapin honeymoon-ku sendiri dong?
Nggak kayak Keisha, semuanya disiapin sama kamu
begini.”
Alva tertawa pelan. ”Emangnya kamu mau aku yang
siapin? Ntar disangka honeymoon-nya sama aku. Gawat
dong.”
Shera menelan ludah. Iya, dia tahu dari tadi Alva cuma
bercanda, tapi kalimat sesederhana itu, kalau sudah ada
rasa, malah bikin ge-er. Yang lebih parah, kalimat itu
bikin Shera mengkhayal ke mana-mana.
Duh, please deh, Al. Kamu nggak tahu kan, aku nyesel
karena nggak pernah ngerasain jadi pacar kamu! Apalagi, bulan
madu sama kamu. Merasakan dipeluk kamu, dicium kamu,
di—AHHH! Shera ngomel-ngomel sendiri dalam hati.
”Ngarang!”
Alva masih tertawa halus. ”Eh, aku foto dulu deh.” Dia
lalu meletakkan gelang hitam emas itu di alas piknik,
mengambil fotonya bersama satu set piknik yang lain.
Alva juga mengambil foto lain, mulai dari kuda dengan

119

pustaka-indo.blogspot.com
gelang Keisha yang diikatkan ke tali kekang, dan foto
alam sekitar mereka. Pokoknya semua detailnya dia
foto.
Rupanya Alva betul-betul serius soal dokumentasi
itu.
”Al, emangnya nanti foto-foto itu mau diapain? Dice-
tak?”
Alva berhenti mengambil foto. Dia menurunkan
kamera lalu duduk di samping Shera. ”Iya... setelah
dicetak, mau aku jadiin album. Album perjalananku sama
gelang ini, hadiah bulan madu buat dia.” Alva lalu
tersenyum kikuk. ”Aneh ya?”
Shera menggeleng cepat. ”Nggak kok. Yah, memang
unik dan jarang, tapi itu hadiah yang benar-benar manis.
Aku juga bakal senang kalau ada yang ngasih foto perja-
lanan diam-diam seseorang bersama barang yang mewa-
kiliku.”
Alva melempar senyum ultramanis pada Shera. Bibir-
nya bergerak pelan, mengucapkan terima kasih tanpa
suara. Shera mengangguk sambil balas tersenyum. Jan-
tungnya makin menggila. Memang sih, ini semua nanti
memang buat Keisha, tapi saat ini kan bukan Keisha yang
bersama Alva menikmati semua keromantisan ini, melain-
kan Shera—Shera yang ada di sini sambil menahan perasa-
an supaya nggak terbawa suasana, mati-matian berusaha
tetap profesional dan nggak kelihatan terlalu menikmati
semua ini; momen berduaan dengan Alva.
Astaga! Ini sih berarti sampai sekarang masih tetap
cinta terpendam dong.

120

pustaka-indo.blogspot.com
Shera merutuki diri sendiri, kenapa progres hubung-
annya dengan Eldi berjalan sangat lambat. Dan sekarang,
di saat genting kayak gini, dia malah nggak punya
pacar—jomblo ngenes.
Tahu-tahu HP Alva berdering. Dia mengintip layar
HP dan buru-buru mematikan MP3 player. Wajah Alva
mendadak gelisah.
”Halo, Mas Darwin. Baik, Mas. Saya... saya di Ban-
dung. Sekarang hmm... yang di hutan pinus, Mas. Iya.”
Alva melirik Shera sekilas, lalu berjalan menjauh. Tapi
Shera masih bisa mendengar samar-samar suaranya.
Siapa ya Mas Darwin? Kok tahu soal perjalanan ini?
”Nggak apa-apa, Mas, aku ikhlas kok melakukan ini
untuk Keisha. Biarpun mungkin nggak sampai diterima
Keisha... tapi aku sudah niat, Mas. Yang penting dia tahu
aku melakukan semua ini untuk dia.”
Shera menelan ludah, nggak mendengar lagi kalimat
selanjutnya.
Tunggu… apa maksud pembicaraan tadi? Keisha nggak
bisa menerima bulan madu seindah ini? Kok kedengaran
janggal? Kenapa Keisha nggak bisa? Apa mungkin Keisha
nggak mau menyediakan waktu untuk bulan madu?
Memang ada ya wanita yang kayak gitu?
Sebetulnya hubungan Alva dan Keisha ini gimana
sih?
”Sher... sori, tadi ada telepon.” Tahu-tahu Alva mun-
cul.
Shera buru-buru mengatur ekspresi. Jangan sampai
Alva tahu dia tadi ”nggak sengaja” nguping.

121

pustaka-indo.blogspot.com
Dari sikapnya, Alva sepertinya sama sekali nggak sadar
kalau suaranya tadi masih cukup keras sampai terdengar
ke telinga Shera. Biarpun cuma samar-samar.
”Ok. Eh, mau food testing nggak nih?”
Ekspresi gusar dan serius Alva yang tadi sempat Shera
liat, hilang seketika. Alva kembali terlihat tenang dan
hangat. ”Iya dong. Emangnya kamu nggak lapar? Bukan-
nya cewek-cewek suka brunch?”
”Kamu kok tahu soal brunch segala sih? Itu kan urusan
cewek.” Entah dorongan setan genit dari mana, bisa-
bisanya Shera menepuk pelan lengan Alva. Sebenarnya
itu gerakan biasa, tapi luar biasa karena cinta terpendam
Shera. Dia langsung memaki diri sendiri dalam hati.
Alva tertawa pelan, lalu mencomot chicken ­ing dari
dalam kotak makanan.
Shera ikut mencomot chicken ­ing. Sambil mengunyah,
Shera nggak bisa berhenti memikirkan pembicaraan Alva
yang dia dengar tadi. ”Biarpun nggak sampai diterima
Keisha.” Maksudnya, Keisha belum tentu bisa melakukan
perjalanan bulan madu, gitu? Masa sih sama sekali nggak
ada waktu kosong, sampai kapan pun? Kalau benar Keisha
nggak bisa karena terlalu sibuk, kasihan banget Alva.
Padahal Alva sudah menyiapkan ini mati-matian, kalau
Keisha nggak menikmatinya, sia-sia dong? Yang lebih
menyedihkan, masa sih pria sebaik Alva mau menikah
dengan perempuan yang nggak mau meluangkan waktu
sedikit pun untuk menghargai usahanya?
Pria seperti Alva seharusnya mendapatkan perempuan
yang bisa menghargai kebaikannya.

122

pustaka-indo.blogspot.com
Mungkin nggak ya, mereka batal menikah karena Alva
kecewa?
Aduh! Mikir apa sih gue?! Jahat banget pikirannya
barusan.
Dia kedengaran seperti perempuan iri yang pengin
merebut calon suami orang! Lagian, semua yang Alva
lakukan menunjukkan cintanya yang besar untuk Keisha.
Dari pembicaraan tadi, Alva tahu betul situasinya, tapi
dia tetap melakukan semua ini. Sepertinya, kecil kemung-
kinan Alva akan kecewa sampai membatalkan pernikah-
an.
Mungkin ini ya yang namanya cinta buta?
Buta sih buta, tapi masa logikanya ikut-ikutan nggak
jalan? Memang nantinya nggak capek mati-matian men-
cintai orang yang nggak terlalu mencintai kita?
”Al... Keisha itu orangnya gimana sih? Kamu kayaknya
cinta banget sama dia. Sudah berapa tahun pacaran?”
Alva berhenti mengunyah. Matanya menatap kosong
sesaat. Beberapa detik kemudian dia menatap Shera sam-
bil tersenyum kalem. ”Keisha itu... baik banget. Dia itu...
perempuan hebat. Penyayang... dan nggak kenal kata me-
nyerah. Aku... mm… pacaran sama dia sudah lebih dari
dua tahun. Dua tahun dua bulan, tepatnya.”
Nggak ada satu kata pun dari deskripsi Alva tentang
Keisha yang menggambarkan kemungkinan bahwa Kei-
sha wanita sok sibuk yang cuek dan nggak bersyukur se-
perti yang ada di pikiran Shera.
Tapi, helooo... tetap saja! Kenapa Alva harus melakukan

123

pustaka-indo.blogspot.com
semua ini lebih dulu, sebelum honeymoon sesungguhnya
bersama Keisha? Toh si Keisha belum tentu bisa berangkat
honeymoon. Atau... justru karena Alva pengin banget Kei-
sha menikmatinya, sampai dia rela menjalani semuanya
sendiri demi bulan madu sempurna yang bisa Keisha
nikmati? Sampai segitunya Alva mikirin Keisha.
Seistimewa apa sih Keisha itu?

124

pustaka-indo.blogspot.com
Boleh Maju Nggak Sih?
Sedikiiit Aja...


D ipelet gue rasa.”
Yulia melotot. ”Sembarangan!”
Shera memasang kacamata hitamnya lalu langsung
rebahan di kursi santai di pinggir kolam lantai empat
apartemennya. ”Habisnya aneh. Sampe segitunya lho,
Yul. Pasti ada sesuatu!”
Yulia ikut rebahan di kursi di samping Shera. ”Ya cinta
mati lah! Lo nggak adil. Kalau lo sendiri fanatik sama
hal-hal romantis, seharusnya lo percaya dong ada cinta
buta kayak gini. Kenapa malah ngatain Alva dipelet? Lo
aja yang nggak rela karena Alva segitu cintanya sama
ceweknya, kan?”
Uh, resek!

125

pustaka-indo.blogspot.com
Shera manyun. ”Emang aneh kok! Iya, gue percaya ada
yang namanya cinta buta, cinta mati, cinta sejati, tapi...
ini tuh aneh. Masa sih sampe segitunya si Alva sama
cewek yang kelihatannya nggak bakal menghargai apa
yang udah dia lakuin?”
Yulia memutar kepalanya ke samping lalu mengangkat
sedikit kacamatanya. Dia mengernyit menatap Shera.
”Emangnya, ceweknya nggak bisa menikmati karena apa?
Lo juga nggak tahu jelas, kan? Mungkin aja Alva mau
ngasih surprise tapi takut salah.”
Ah, Yulia memang menyebalkan. ”Habis apa lagi coba?
Si Mas Darwin itu jelas-jelas tahu soal perjalanan Alva.
Kalau ceweknya nggak aneh, ngapain Mas Darwin itu
sampe komentar dengan khawatir begitu. Pasti ceweknya
ini ­orkaholic sejati yang udah nggak mikirin hal lain,
termasuk pernikahannya sendiri. Lagian ya, Yul, waktu
itu Alva gue tanya soal tanggal pernikahan tapi dia nggak
jawab. Jangan-jangan nikahnya juga belum pasti.”
”Nggak jawab karena emang nggak mau gembar-
gembor kali? Kayak artis-artis itu. Butuh privasi.”
”Soal privasi mungkin juga, tapi bisa juga karena
emang belum pasti, kan?” Shera masih ngeyel.
”Mmm... iyeee... bisaaa. Apa sih yang nggak mungkin
di dunia ini. Biarpun gue tahu, emang lo aja tuh yang
berharap pernikahan Alva belum pasti.” Yulia menenga-
dah, sok-sok menikmati matahari.
”Gue miris aja lihatnya. Orang sebaik Alva masa dapet
cewek yang kayak gitu?” Shera menghela napas. Tetap
nggak habis pikir.

12

pustaka-indo.blogspot.com
Yulia menyeruput jus kiwinya. ”Ah, lo bisa nge-judge
begitu, padahal nggak kenal orangnya. Si Alva sama aja
anehnya, mau-maunya melakukan hal kayak gitu buat
cewek yang nggak cinta sama di—Eh, tunggu!” Yulia
mendadak bangkit, dan dengan cepat pindah ke tepi kursi
Shera. Tangannya mencabut kacamata Shera.
”Aw, silau! Ngapain sih?”
Mata Yulia menyipit menatap tajam mata Shera yang
terpaksa ikut menyipit gara-gara matahari. Daripada kaca-
mata dibuka tiba-tiba dan silau begini, sekalian aja Yulia
colok matanya sampai perih. ”Gue baru ngeuh. Jangan bi-
lang lo berpikir karena Alva belum pasti menikah dan ce-
weknya aneh begitu, lo jadi punya kesempatan buat—?”
”Hah?!” Shera buru-buru memakai kacamatanya lagi.
Kalau Yulia menatap matanya, dia pasti bisa menebak
saat Shera salting atau bohong. ”Lo ngomong apa sih?
Gue kan cuma bilang miris ngeliat hubungan mereka.”
SET! Yulia mengangkat kacamata Shera lagi. ”Miris,
terus lo berpendapat, seharusnya Alva dapet cewek yang
lebih baik. Contohnya lo?”
”Iihh... apaan sih?” Shera sok melirik jam tangan.
Dengan sadis Yulia memegang dagu Shera. ”Tatap
mata gue!”
Kenapa Yulia jadi kayak pesulap? ”Ngapain lo? Mau
ngehipnotis gue? Kayak bisa aja…”
Yulia nggak senyum sama sekali. ”Jangan aneh-aneh
ya, Sher.” Lagak Yulia bagaikan ahli pembaca pikiran
orang. ”Gue tahu pikiran lo. Jangan bertindak ngaco, oke?

12

pustaka-indo.blogspot.com
Inget, dia calon suami orang. Lo fokus aja sama Eldi tuh!
Biar lambat, asal selamat. ”
Yulia memang bisa membaca pikiran orang.
Shera memutar bola mata, bete. ”Iya, Yul... iyaaa...
Tenang aja, kenapa sih? Gue masih inget gimana sakitnya
gara-gara perselingkuhan Darren dan Monna. Gue nggak
akan bikin cewek lain ngerasain hal yang sama, oke?”
”Mana mungkin gue bisa tenang. Kelihatan banget lo
suka beneran sama Alva. Kalau dia benar-benar nggak
jadi nikah dan jomblo lagi, terserah deh, lo mau mepet
dia pakai cara normal atau abnormal. Tapi selama dia
masih berstatus calon suami orang, mendingan lo nggak
usah macem-macem. Urusan lo sama dia ini masih berapa
lama lagi sih? Kalau terus kayak gini, gue curiga lo nggak
bisa tetap profesional. Muka lo itu kayak siap merobek-
robek baju Alva dengan liar, tauk!”
”Sinting lo, Yul. Gue nggak semesum itu!” Shera men-
delik, langsung tertegun. Berapa lama lagi ya? Shera me-
nimang-nimang. ”Mmm... nggak lama lagi kelar kok.
Minggu depan kan ke Bali, terus Singapura, terus udah.”
”Pffftt!” Minuman Yulia menyembur keluar. Matanya
juga nyaris melompat keluar. ”Apa lo bilang? Ke Bali? Lo
ikut ke Bali dan Singapura?”
Reaksi histeris Yulia yang seperti ini sudah Shera per-
kirakan sejak awal. Shera menggoyang-goyangkan tangan,
menyuruh Yulia santai. ”Biasa aja dong, Yul. Gue seka-
lian ada urusan di Bali, jadi sengaja dibarengin.”
Alis Yulia berkerut. ”Urusan di Bali yang pameran
pariwisata itu?”

12

pustaka-indo.blogspot.com
Shera mengangguk dengan senyum masih mengembang.
”Yup. Eh, tapi kok lo tahu sih?”
Ekspresi Yulia berubah datar. ”Tahu dong. Kita kan
ngobrolin soal ini bulan lalu karena hotel gue juga ikutan.
Bukannya Tyas yang lo suruh ke sana? Lo bareng Tyas?”
Shit! Salah lagi nih. Shera meringis, berusaha memaksa-
kannya seperti senyuman. ”Mmm... Tyas nggak jadi.”
”Terus, lo yang gantiin supaya bisa dibarengin acaranya
Alva,” sambung Yulia.
Shera meringis lagi. ”Iya, sekalian.”
”Kenapa lo harus batalin Tyas?” desak Yulia.
”Mmm... yaaa... boros aja, Yul. Kan kalau cuma ke
pameran, gue juga bisa. Toh bukan acara resmi, jadi nggak
buang-buang ongkos. Lagian, lo tahu Alva suka canggung.
Dia lebih nyaman kalau yang dampingin dia itu gue.”
Shera nggak bohong. Dia memang nggak punya niat
terselubung dengan membatalkan keberangkatan Tyas.
Semua demi mengirit ongkos operasional. Lagian, itu
berarti Tyas bisa disuruh stand by karena semua konseptor
di Honeymoon Express sudah pegang klien.
Yulia terdiam. Sahabatnya itu cuma menyeruput jus
kiwinya lagi.
Shera menatap Yulia dengan ganjil. ”Kenapa sih, Yul?
Kok lo diem aja?”
Kali ini Yulia nggak melotot atau merepet bawel. Dia
duduk menghadap Shera. ”Gue khawatir aja, Sher. Gue
pikir, lebih baik kalau ada Tyas, jadi lo nggak berduaan
aja sama Alva di Bali.”

129

pustaka-indo.blogspot.com
Shera ikutan bangkit dan duduk menghadap Yulia.
Biarpun bawel dan suka nyebelin, Shera tahu sahabatnya
itu sayang dan perhatian. ”Gue tahu lo khawatir, tapi
tenang aja. Gue bisa jaga diri. Suwer! Gue masih meme-
gang komitmen kitaaa: Pantang jadi pengganggu hubung-
an orang. Lagian, masa lo menganggap gue bisa ngelakuin
hal kayak gitu sih? Kan gue udah bilang, kalaupun gue
ada rasa sama Alva, gue bakal simpen sendiri—buat lucu-
lucuan.”
”Tapi—”
”Eit... terlepas dari teori lo tentang sinyal antar sesama
manusia itu,” potong Shera cepat, sebelum Yulia mulai
pidato. ”Pokoknya, lo tenang aja.... Gue nggak ada niat
aneh-aneh. Cuma mau menjalani pekerjaan dengan pro-
fesional. Kebetulan aja klien gue kali ini Alva dan dengan
permintaan khusus kayak gini. Oke?”
Yulia masih nggak percaya.
”Yul?”
Yulia mengangkat tangan. ”Iyaaa.... Oke! Lo udah gede.
Lo tau yang terbaik buat lo.”
Shera mencubit pipi Yulia. ”Ya jangan manyun lagi
dong. Muke lo kayak ikan! Senyuuum...”
Yulia tersenyum paksa, lebih tepatnya menyeringai.
Jenis seringai yang bisa banget buat nakut-nakutin anak
TK biar ngompol berjamaah.

130

pustaka-indo.blogspot.com
Disc 50%! Sumpah itu mini dress lucu banget. Shera
melangkah masuk ke butik di lantai dasar apartemennya.
Setelah itness, Yulia langsung pulang karena ada janji
sama Dennis.
Shera mendorong pintu kaca butik kecil yang dinding-
nya didominasi kaca itu. Lantai dasar ini memang dibuat
dengan konsep mini mall. Supermarket, kafe, dan beberapa
butik kecil ada di sana.
”Sore, Mbak Sher,” sapa Via, ramah.
Shera lumayan sering ke sini karena koleksinya bagus-
bagus. Via si penjaga toko sudah familier dengan Shera.
Mata Shera nggak bisa lepas dari mini dress beige pucat
dengan print tribal hitam di bagian dasar rok itu. Bagus
banget. ”Itu... harganya jadi berapa, Vi? Nggak sampe
tujuh puluh persen diskonnya?”
Senyum Via langsung mengembang. Semacam senyum
dengan arti ”gue-udah-tahu-Mbak-Shera-pasti-nanyain-
gaun-itu”.
”Dari 650 jadi 325, Mbak. Bagus ya? Tinggal dua, Mbak.
Ukuran Mbak Shera ada satu. Mau?”
”Nggak bisa tujuh puluh persen aja, Vi?”
”Yah, Mbak… kalo soal diskon yang nentuin si Ibu. Ini
juga didiskon soalnya Ibu besok pulang dari Bangkok
bawa barang baru. Tapi nggak mahal kok, Mbaaak. Ini
yang waktu itu Ibu bawa dari Korea. Cuma ada lima, jadi
nggak pasaran,” Via merayu.
Beruntung banget bos butik ini punya pegawai kayak
Via. Ramah, manis, jago jualan.

131

pustaka-indo.blogspot.com
Shera mendekati mini dress itu, mengamati sambil
sesekali memegang-megang. Duh, bahannya dingin. Enak
nih. Pasti keren banget kalau Shera pakai di Bali sambil
pakai sandal teplek kulit plus topi co­girl-nya. Siapa tahu
Alva ngajak dia jalan-jalan menyusuri pantai dan—Ya
ampun! Shera releks melepas pegangannya pada ujung
rok mini dress itu. Kenapa dia punya pikiran mau beli baju
ini buat jalan-jalan sama Alva?!
Shera menelan ludah. Sejak menduga Alva belum tentu
jadi menikah, perasaan Shera jadi semakin liar. Shera
teringat janjinya pada Yulia—dan sebenarnya bukan
hanya pada Yulia, tapi pada diri sendiri juga.
Shera harus profesional!
”Mbak?” suara Via membuyarkan perdebatan batin
Shera. ”Gimana? Mau ambil? Yang ukuran Mbak Sher
kebetulan yang masih di plastik, bukan yang ini.”
Shera diam, masih mengamati dengan bimbang. Dia
suka banget sih, tapi kenapa tadi kebimbangan itu melin-
tas di pikirannya? Masa iya dia beli dress ini karena Alva?
Pacar bukan, calon pacar juga kayaknya kecil kemungkinan-
nya. Kalau yang muncul di kepalanya alasan lain, mung-
kin Shera nggak perlu bingung dan akan langsung bayar.
Cuma tiga ratus dua puluh lima ribu.
Ini bukan masalah harga!
”Buat garden party atau acara-acara semiformal cakep
banget, Mbak. Tinggal pakai high heels atau lat yang
modis,” kata Via lagi.
Nah itu dia! Shera langsung menatap Via berbinar-

132

pustaka-indo.blogspot.com
binar. ”Pinter kamu, Vi!” Kalau membeli dress ini untuk
garden party atau acara semiformal nggak salah dooong?
Apalagi Shera terhitung sering ada pertemuan dengan
klien dalam suasana semiformal. Dress ini pasti berguna
banget. Sekali lagi, bukan karena Alva. Tapi kalau ada
kesempatan dipakai pas ketemu Alva, yaaa... nggak pa-pa
dong? Shera tersenyum lebar bagai dapat pencerahan.
”Aku mau deh, Vi. Boleh aku coba dulu ya?”
Via tersenyum senang. ”Boleh dong, Mbak. Bentar
ya.”
Nggak sampai lima belas menit, Shera sudah meleng-
gang keluar toko sambil menenteng kantong belanjaan.
Lima detik kemudian ringtone ponsel Shera berbunyi. Dia
buru-buru menekan tombol Ans­er.
”Hei, Al. Aku udah di lantai dasar nih. Jadi ketemu di
Kopi Pojok?”
Waktu Shera selesai berenang sama Yulia tadi, Alva
mengirim BBM dan bilang dia mau mampir sebentar
untuk membicarakan beberapa detail di Bali nanti.
Pria itu sudah duduk manis di salah satu sofa dekat
pantry Kopi Pojok, coffee shop kecil di deretan kafe dan
resto.
”Sudah lama, Al?” Shera duduk di hadapan Alva.
”Lumayan. Mbak-mbak itu kayaknya sudah tiga kali
melahirkan selama aku di sini.”
Shera terbelalak. ”Lebay! Aku nanya serius!”
Gigi Alva yang rapi terlihat jelas waktu pria itu tertawa
hangat. ”Habis belanja?” Mata Alva tertuju pada kantong
kertas di samping Shera.

133

pustaka-indo.blogspot.com
Wajah Shera langsung memanas. Mendadak dia ingat
alasan yang sempat melintas di kepalanya tadi. ”Barang
diskon. Lumayan lima puluh persen.”
Alva mengangguk-angguk. ”Eh, Sher, aku nggak nge-
repotin kan mendadak mampir pas kamu lagi libur gi-
ni?”
”Nggak kok. Emang lagi nyantai. Tadi juga habis
berenang dan itness.” Shera pasang senyum manis.
Dulu waktu masih di kampus, Shera nggak pernah
membayangkan bisa semudah ini ngobrol sama Alva.
Obrolan mereka selalu pendek-pendek dan dia harus
mencari alasan khusus karena grogi setengah mati. Dulu,
segala spontanitas dan sikap blakblakan Shera langsung
padam disergap sikap kalem Alva yang bikin salting.
Sekalinya ngobrol agak panjang, itu pas Alva nggak se-
ngaja mergokin Shera bro­sing tempat-tempat romantis
di Eropa dan baca majalah bulan madu. Sampai sekarang
Shera masih nggak nyangka Alva ingat kejadian itu.
Well, kalau dipikir-pikir, sekarang mereka sering ke-
temu dan ngobrol juga karena ada alasan khusus. Hanya
saja... suasananya terasa berbeda. Biarpun lebih banyak
seputar kerja sama mereka, tapi selalu terasa menyenang-
kan. Mungkin karena topiknya sangat Shera sukai.
”Thanks ya, Sher. Sori aku ribet.”
”Ah, kamu bukan klien yang paling ribet kok. Aku
pernah dapet klien yang minta dibikinin lunch di kantin
SMA di kota tempat tinggal mereka sebelum pindah ke
Jakarta. Di Medan.”

134

pustaka-indo.blogspot.com
Mata Alva melebar. ”Hah? Beneran?”
”Bayangin aja, kan nggak mungkin mereka lunch di
kantin pas jam sekolah. Jadi aku terpaksa ngerayu pihak
sekolah supaya diizinin pakai kantinnya pas ­eekend. Me-
reka juga maunya makanan disediakan oleh para pedagang
kantin. Jadi sambil jajan-jajan nostalgia gitu.”
Alva melongo.
”Kamu juga ribet sih, tapi nggak aneh.” Shera cengenges-
an.
”Kamu ya... terang-terangan ngatain klien ribet.”
”Aku kan cuma berusaha jujur.”
Alva tertawa pelan.
”Semuanya harus perfect banget ya, Al? Pasti pesta
nikahannya juga perfect.”
Alva samar terlihat menegang.
”Emangnya kapan sih? Kasih bocoran tanggalnya
dong.” Shera betul-betul nggak bisa menahan diri untuk
nggak mencari tahu. Shera masih merasa ada yang aneh
waktu Alva kelihatan menghindar saat ditanya soal ini.
Apalagi setelah Shera mendengar obrolan Alva di telepon
saat mereka di hutan pinus itu.
Alva terlihat nggak nyaman. ”Mm... itu masih... tergan-
tung Keisha sih. Sher, kamu masih nari nggak? Kamu
kan jago banget tari tradisional.”
Tuh kan, aneh. Lagi-lagi Alva menghindar soal ini.
”Masih sesekali. Kenapa? Kamu sekarang minat belajar
tari? Kalau mau, ntar aku—” Tiba-tiba ponsel Shera
berbunyi.

135

pustaka-indo.blogspot.com
Yulia.
”Halo, Yul? Apa? Gue... nggak di kamar. Gue lagi di
Kopi Pojok. H-halo, Yul? Yul?”
Diputus. Ngapain sih Yulia telepon nggak jelas gitu?
”Yulia?” tanya Alva penasaran.
”Iya, tapi nggak jelas. Dia nanya aku lagi di mana, habis
itu teleponnya mati. Dia kan emang nggak jelas. Yang
jelas dari Yulia cuma satu: berisik.”
Alva tertawa. Suara tawa Alva itu keren. Shera juga
nggak tahu apakah memang ada ketawa yang keren, tapi
buat Shera, kalau ada suara ketawa yang keren, suara Alva
salah satunya.
”Eh... terus tadi nanya soal tari, kenapa? Sini aku ajarin.
Mau apa? Jaipong? Pendet? Saman? Atau tarian pemanggil
hujan?”
Alva tertawa lagi, lebih lepas daripada sebelumnya.
Shera ikut tertawa.
”Sher.”
Ha? Shera spontan berhenti tertawa. Kok ada Yulia?!
”Lho, Yul... Kok balik lagi?”
”Gue mau ke apartemen lo. HP gue yang satu lagi
ketinggalan sebelum berenang tadi. Pinjem kunci deh,”
cerocos Yulia sambil melirik Alva, lalu melirik Shera
dengan tajam karena sama sekali nggak dikasih tahu
tentang kedatangan Alva. ”Hei, Al...” sapa Yulia, garing.
”Baru dateng? Tadi gue juga habis dari sini berenang. Si
Shera nggak bilang kalau lo mau ke sini.”
Shera mendelik. ”Emang ngapain bilang-bilang sama
lo?”

13

pustaka-indo.blogspot.com
”Kan Alva temen gue juga. Ketemu temen lama, emang-
nya nggak boleh?”
Shera malas menanggapi Yulia. Jelas-jelas si nenek
bawel lagi nyindir.
”Gue cuma sebentar, Yul. Ada yang harus gue obrolin
sama Shera soal paket bulan madu gue. Kebetulan gue
lagi ada kerjaan di deket sini, terus Shera ada waktu, jadi
gue mampir deh,” jawab Alva santai, sama sekali nggak
mencium aura mencurigakan dari omongan Yulia—yang
sudah beberapa kali melemparkan tatapan ala detektif ke
arah Shera.
Bibir Yulia membulat sambil melemparkan tatapan
penuh arti pada Shera.
”Eh, Al, mumpung ketemu. Kantor lo spesialis digital
dan animasi gitu, kan? Hotel gue mau ada event Hari
Anak besar-besaran. Salah satunya parade profesi. Nah,
profesi animator kan unik. Kantor lo mau ikutan nggak?
Boleh bebas promosi lho pas event”
”Oh, boleh tuh.”
”Gue for­ard by e-mail aja ya. E-mail lo apa? Gue kirim
sekarang.”
”Wah, thanks, Yul.” Alva lalu menyebutkan alamat
e-mailnya.
Yulia langsung mengutak-atik iPhone-nya. ”Tuh
sudah. Eh, mana kunci lo, Sher. Gue ditunggu Dennis di
parkiran.”
Shera menyodorkan kuncinya.
Nggak lama setelah Yulia melangkah keluar dari Kopi

13

pustaka-indo.blogspot.com
Pojok, WhatsApp Shera berbunyi: ”Bener dugaan gue!
U’re in love, Sher. Alva bukan sekadar lucu-lucan masa
kuliah. Lo beneran suka sama dia sampe sekarang. Kalau
nggak, kenapa tadi nggak cerita sama gue kalo lo bakal
ketemu Alva? Karena lo ngerasa gue bener, kan? Hati-hati
ya, Sher!”
Jantung Shera berdegup kencang. Kalau dia bicara
dalam hati, nggak bakal ada yang dengar, kan? Shera mau
mengaku bahwa yang dikatakan Yulia di WhatsApp se-
muanya benar. Dia memang jatuh cinta. Perasaannya
untuk Alva bukan lagi lucu-lucuan. Perasaannya masih
sama seperti dulu, bahkan semakin besar. Alva yang seka-
rang, membuat Shera jatuh cinta, bukan sekadar naksir.
Pria itu seperti memenuhi nyaris semua persyaratan pria
idamannya—kecuali satu, Alva sudah punya cinta. Kei-
sha.

13

pustaka-indo.blogspot.com
Touchdown Bali
Just you and I professionally


P agi ini kita ­atersport dulu. Check in-nya nanti siang.
Habis itu terserah kamu kalau mau istirahat dulu atau
mau jalan-jalan ke mana. Tapi, aku mau ke pameran
pariwisata sebentar ya. Oh ya, Al, acara kempingnya
nggak bisa malam ini, soalnya kalau malam minggu,
pantai di depan vila selalu ramai karena ada acara. Jadi
kempingnya dialihin ke besok malam. Gimana?” cerocos
Shera, nyaris tanpa jeda.
Begitu mendarat di Bali, mendadak Shera jadi kelebihan
energi. Padahal waktu di pesawat tadi Shera gagal tidur.
Jantungnya berdegup dengan irama asal-asalan karena
excited duduk bersebelahan dengan Alva. Ini malu-maluin,
macam anak SMA aja!

139

pustaka-indo.blogspot.com
Sial! Semakin lama omongan Yulia terbukti benar.
Shera melirik Alva. Loh, malah tidur.
Pria itu tidur di bangku sebelah Shera. Sandaran bang-
kunya direbahkan ke belakang dan kakinya diselonjorkan
ke ruang kosong yang berbatasan dengan kursi depan.
Shera sengaja menyewa mobil van ini. Biasanya dipakai
untuk orang-orang yang berkeluarga sih. Shera pikir, akan
lebih enak kalau mobilnya luas dan kakinya bisa selonjor.
Dan terbukti kan, Alva sampai ketiduran nyenyak be-
gitu.
”Al! Alva!” Shera menepuk-nepuk dengkul Alva, ge-
mas.
Mata Alva terbuka. Dengan muka masih mengantuk
dan rambut agak acak-acakan Alva menatap Shera.
”Mm... apa, Sher? Sudah sampe?”
”Sampe apaan? Kamu dari tadi tidur, nggak dengerin
aku ngomong panjang lebar soal rundo­n kegiatan di sini.”
Shera merengut manja, berlagak ngambek.
Alva menegakkan duduk. Mukanya masih kelihatan
ngantuk. Rambutnya yang sedikit acak-acakan nggak ber-
usaha dia rapikan—kayaknya sih nggak sadar. Alva meng-
gosok wajahnya dengan tangan lalu menatap Shera lagi.
”Sori, Sher. Ngantuk banget. Flight kita pagi banget.
Semalam aku habis lembur. Kamu ngomong apa tadi?”
Memang tadi penerbangan mereka pagi banget. Shera
sampai menyalakan dua alarm ponsel dan dua weker
karena takut kesiangan. Sekarang masih jam sembilan
pagi waktu Bali—jam delapan waktu Jakarta. Duh, itu...

140

pustaka-indo.blogspot.com
wajah Alva menggemaskan dan... seksi banget. Pengin
dicubit.
Tanpa sadar, Shera menelan ludah. Mungkin begini ya
wajah Alva kalau bangun pagi di rumah. Lucu banget.
Shera nggak keberatan kalau bangun pagi mendapati
wajah itu di sebelahnya.
”Uhuk! Uhuk!” Shera terbatuk-batuk sendiri, tersedak
karena pikiran ngaconya.
”Sher?” panggil Alva lagi.
”Eh, iya, tadi aku jelasin rundo­n di sini. Tetep sama
sih, cuma ada perubahan jadwal kemping aja. Malam ini
nggak bisa, jadinya besok.”
Alva menyisir rambutnya dengan jemari. ”Oh, nggak
pa-pa. Aku setuju aja, Sher. Malah bagus kan, berarti
malam ini kita punya waktu bebas.”
Shera menelan ludah lagi.
Kita? Malam ini? KITA?!
Tahu-tahu ponsel Shera berdering. Eldi. Melihat nama
pria itu berkedap-kedip membuat napas Shera kembali
normal.
”Ya, El? Aku lagi di Bali. Lusa baru pulang. Kenapa?
Oh... pas aku pulang dari Bali aja ya. Sekalian nyoba resto
baru deket kantor kamu. Gimana? Oke... sip. Bye... see
you.” Senyum di bibir Shera masih tersisa waktu dia me-
nekan tombol End.
”Eldi yang waktu di rumah sakit itu?” Alva melirik
Shera penasaran.
”Iya. Dia tadinya mau ngajak ketemuan. Aku lupa
bilang kalau aku mau ke Bali hari ini.”

141

pustaka-indo.blogspot.com
Alva menatap Shera dengan tatapan menyelidik. ”Ka-
mu sama Eldi...?”
”Oh, nggak sih. Emang lagi deket aja. Aku ngerasa
cocok dan nyaman bareng dia. Lagian, aku masih...” Shera
menggantung kalimatnya. Dia nyaris mengungkit
masalah Darren. Alva ngga perlu tahu masalah itu. Nggak
penting. Cukup orang-orang tertentu yang tahu soal
kegagalannya dengan Darren.
”Masih apa?”
Shera tersenyum canggung. ”Yaaa… masih penjajakan
aja,” katanya betul-betul gagal menyembunyikan nada
aneh karena berusaha ngeles.
Alva masih menatap Shera. Entah kenapa dia masih
penasaran soal Eldi, atau soal apa pun yang tadi batal
Shera ceritakan. Gelagat Shera jelas menunjukkan dia
nggak mau membahas apa-apa lagi.
”Aku tidur lagi sebentar ya, Sher. Nanti kasih tahu
kalau sudah sampe. Kamu nggak ngantuk? Tidur dulu
deh....” Alva menepuk-nepuk santai tangan di pangkuan
Shera lalu rebahan lagi.
Dan tepukan itu sukses membuat Shera mematung,
nyaris nggak bisa menggerakkan tangan. Sepertinya dia
juga sempat berhenti bernapas. Parah. Ini pasti gara-gara
suasana Bali. Padahal dia baru aja teleponan sama Eldi.
Semua perasaan dari masa lalu itu memang kembali. Dan
sekarang rasanya dua kali lipat! Biarpun sebetulnya ada
dua tanda tanya besar yang masih belum terjawab dan
membuat Shera penasaran. Apakah Alva... pernah punya

142

pustaka-indo.blogspot.com
perasaan yang sama untuk Shera, walaupun cuma sedikit?
Apakah dulu Alva pernah menyadari perhatian Shera?

Oh no! No ­ay! There’s no ­ay she’s going to ride that thing!


Shera menatap ngeri pada perahu berbentuk balon pipih
warna kuning-biru di depannya. Setelah naik banana boat,
parasailing, dan jetski—sesuai rangkaian kegiatan ­ater-
sport yang direncanakan—sebetulnya ini adalah puncaknya.
Shera sudah menyiapkan sesuatu yang sangat istimewa.
Tapi... rencana awalnya Shera nggak perlu ikut naik lying
ish ini juga! Tadi dia juga sudah berhasil menolak ikut
parasailing.
”Ayo dong, Sher. Masa nggak mau coba?” bujuk Alva,
merasa naik lying ish sendirian sungguh nggak seru dan
aneh.
Waktu naik jetski, Shera memang menolak diboncengi
Alva, dia naik sendiri dan dipandu seorang instruktur.
Kalau tadi dia menerima tawaran Alva untuk berbonceng-
an, itu sama aja cari gara-gara. Jadi, dengan alasan demi
mendapat foto yang lebih bagus, Shera lebih memilih
naik jetski lain.
Tuh, terbukti kan, Shera bisa menahan diri dan pro-
fesional. Biarpun Alva mengajaknya berboncengan bukan
dengan maksud aneh-aneh—cuma biar ngirit dan nggak
perlu sewa jetski lain.
”Sher, jangan bengong. Ayooo... ini kan nggak terbang
kayak parasailing,” bujuk Alva lagi.

143

pustaka-indo.blogspot.com
Sejak dulu bolak-balik ke Bali dan ke pantai-pantai lain
di berbagai negara, sedikit pun Shera nggak tertarik de-
ngan parasailing. Menurutnya, terlalu menakutkan mela-
yang-layang di tengah laut dengan mengandalkan seutas
tali yang dikaitkan pada speed boat. ”Sama aja ah nge-
rinya.” Shera bergidik ngeri membayangkan dirinya harus
telentang di atas lying ish dan harus pegangan kuat-kuat.
Bagaimana kalau pegangannya lepas?
”Kan pakai pelampung, Sher. Dicoba dulu. Kalau takut
banget, kamu bisa udahan. Ya kan, Bli?” Alva menatap
salah satu operator, dan operator itu mengangguk so-
pan.
Shera masih ragu. Kalau pegangannya lepas dan dia
terlempar ke laut, pasti sakit. Belum lagi kalau ada hiu.
No, no, no... terima kasih.
”Katanya ini puncak acara. Jadi kamu harus coba
supaya kamu tahu gimana hasilnya.”
Shera tahu kalimat itu bakal bikin dia menyerah. Kalau
sudah soal kerjaan, dia pasti menyerah. Sejujurnya Shera
memang pengin lihat apakah semuanya sebagus yang dia
rencanakan.
Akhirnya Shera mengangguk.
”Oke. Bener ya, Bli, dijamin aman?”
Operator yang Shera tanyai mengangguk sambil terus
sibuk mengikat tali-temali.
Alva menepuk tangan Shera. ”Nah, begitu dong!” Lalu
mengangkat tangan kanan. ”Tos dulu!”
Mau nggak mau Shera tersenyum dan membalas ajakan
tos Alva.

144

pustaka-indo.blogspot.com
Operator yang sejak tadi menunggu Alva ikutan
senyum. ”Lagi bulan madu ya, Mas dan Mbak?” tanyanya
sok tahu.
Alva dan Shera spontan saling tatap. Diam sesaat, lalu
tertawa bareng.
”Yaaa... bulan madu sih, Bli. Tapi yang bulan madu
itu dia.” Shera menunjuk Alva. ”Saya cuma nemenin
karena istrinya belum bisa ikut.”
Dan si Bli melongo dengan ekspresi yang mengagum-
kan.

Shera mencengkeram erat-erat tali pegangan di kanan-


kiri. Kakinya menginjak kuat-kuat ke bawah. Seharusnya
tadi dia nggak usah sok bilang iya! Ini sih namanya
kemakan rayuan Alva. Padahal kalau dipikir-pikir, tanpa
harus naik ke benda ini, dia masih bisa melihat semuanya
dari pantai. Apa gunanya teropong diciptakan?! Sudah
terlambat untuk mundur.
”You’re so brave,” kata Alva sambil menoleh ke arah
Shera.
Huh! Seharusnya pujian tadi bisa dianggap romantis,
tapi… boro-boro gemetar gara-gara ge-er, jantungnya seka-
rang sibuk jedar-jeder ketakutan. Harap maklum kalau
Shera nggak menjawab apa pun. Daripada dia berbasa-
basi, mendingan berdoa.
”Siap ya!” kata si operator yang tampak canggih berdiri

145

pustaka-indo.blogspot.com
di perahu tanpa pengaman apa pun. Dia yang bertugas
menyeimbangkan perahu pada saat melayang nanti.
Alva mengangkat jempol.
”Yok!” kata si Bli, memberi aba-aba pada temannya
yang bertugas mengendarai speed boat.
Awalnya pelan, lalu semakin kencang, dan kencang,
dan Shera mulai melayang naik. Naik semakin tinggi…
sampai badan Shera terasa enteng.
Siapa bilang terbang rendah?! Ini tinggi banget!
Shera memejamkan mata rapat-rapat.
”Sher! Buka mata dong!”
Shera membuka mata pelan-pelan. Si operator tampak
berdiri sambil memegang kamera.
”Smile, Sher!” Alva menginstruksi dari samping.
Shera menatap Alva panik. ”Eh, ngapain motret aku?
Jangan dong! Ini kan buat Keisha. Masa ada fotoku? La-
gian, tampangku pasti nggak enak dilihat banget.”
Alva tersenyum lebar. ”Justru itu! Ini dokumentasi
khusus buat kamu. Bukti bahwa kamu berani naik ini.
Biar kelihatan muka kamu yang nyaris mewek.”
”Hah?! Reseh! Nyebelin kamu, Al! Eh, Al... lihat ke
sana!” Dengan buru-buru Shera menunjuk ke atas. Kejut-
annya sebentar lagi dimulai. ”Siap-siap foto!”
Di atas sana, di depan mereka, tampak sebuah parasailing
dengan seorang petugas operator melayang di udara.
Parasailing itu berputar mencari posisi yang bisa dilihat
jelas oleh Alva dan Shera. Beberapa detik kemudian...
orang itu membuka gulungan yang dia bawa terbang.

14

pustaka-indo.blogspot.com
Seperti gerakan slo­ motion, bunga-bunga kesukaan Keisha
dengan indah bertaburan bagai hujan bunga. Kelopak
bunga berputar-putar dan melayang indah bagai rombong-
an penari yang meluncur pelan ke permukaan laut. Be-
berapa saat kemudian, perahu lying ish mereka berhenti
tepat di bawah bunga-bunga yang berjatuhan. Bunga-
bunga jatuh di sekitar mereka.
Dada Shera berdesir hangat. Bagaimana rasanya jadi
calon istri pria yang membuatkan hujan bunga untuk-
nya?
Semuanya lancar, sempurna, dan romantis. Sesuai ba-
yangan Shera. Dia bahkan merinding. Andai dia yang
dapat hadiah seindah tadi, dia pasti menangis terharu.
Tapi, apakah itu cukup untuk Keisha?
Alva memang nggak spesiik meminta hal-hal seperti
ini, tapi Alva memercayakan semuanya pada Shera. Jadi,
Shera tentu saja punya kewajiban untuk memberikan
yang terbaik.
Shera melirik Alva. ”Gimana, Al? Kamu suka? Kira-
kira Keisha bakal suka nggak?”
Alva nggak menjawab. Pria itu tampak terpana menatap
langit. Matanya tak berkedip. Dia suka, atau nggak?
Apakah yang tadi itu biasa saja? Padahal Shera sudah
setengah mati membujuk operatornya. Masalahnya, me-
reka juga harus menurunkan tim pembersih untuk mem-
bersihkan bunga-bunga itu nantinya.
Shera pasrah sih kalau yang tadi itu kurang oke dan
Alva minta ganti. Toh Alva nggak keberatan mengeluar

14

pustaka-indo.blogspot.com
uang lagi. Hanya saja, itu berarti Shera dan tim harus
memutar otak lagi.
Alva berdehem pelan. ”Bagus banget, Sher. Thanks ya,”
kata Alva pelan, dengan parau.
Shera menoleh cepat. Flying ish mereka menepi pelan-
pelan. ”Jadi kamu setuju sama kejutan yang tadi? Kalau
kamu mau tambahin sesuatu, kasih tahu aja. Nanti kami
yang siapkan.”
”Itu sudah cukup, Sher. Semuanya bagus, tanpa perlu
tambahan apa-apa. Keisha pasti suka. Aku nggak kepi-
kiran untuk bikin kejutan kayak tadi, kalau bukan karena
kamu.”
”Eh, kamu mau nambahin spanduk yang ada tulisan
nama dan tanggal pernika—”
”Nggak, nggak perlu,” potong Alva cepat dan agak
kaku.
Shera terenyak.
Alva tersadar dengan perubahan ekspresi Shera. Dia
buru-buru pasang senyum lagi. ”Kan aku sudah bilang,
Sher, tanpa perlu tambahan apa-apa, semuanya sudah
bagus. Perfect.”
Perahu mereka akhirnya benar-benar berhenti di te-
pian.
Alva melompat turun. Shera pelan-pelan bangkit, men-
coba menyeimbangkan diri sebelum melompat turun.
Perahunya bergoyang-goyang terus.
”Sini... aku bantu.” Tahu-tahu Alva mengulurkan ta-
ngan. Tadinya Shera mau minta tolong salah satu opera-

14

pustaka-indo.blogspot.com
tor sih, tapi dia tetap membalas uluran tangan Alva. Dan
begitu Alva menggenggam telapak tangannya untuk
membantunya lebih seimbang, rasanya semua darah di
badan Shera meluncur ke jantung, membuat jantungnya
nyaris meledak.
Kalau dia nggak bisa menahan diri, mungkin dia sudah
melompat langsung ke pelukan Alva. T-shirt Alva yang
basah agak sedikit menerawang, memamerkan dadanya
yang bidang. Shera menelan ludah berkali-kali. Seandai-
nya ini bulan madu sungguhan, Shera pasti akan minta
digendong manja dengan alasan pasirnya panas.
Alva sendiri terenyak ketika Shera menangkap uluran
tangannya.
Rasanya ada dinding yang mendadak retak di dada.
Tekad yang sudah dia bulatkan untuk melakukan semua
ini demi Keisha, seperti luntur sedikit demi sedikit. Pe-
rasaan yang dipendam bertahun-tahun ternyata menyu-
sahkan. Setengah mati dia berusaha menjaga supaya di-
rinya dan Shera tetap sebagai teman lama dan profesional,
bukan sebagai ”cinta yang terpendam”. Ah! Sial. Cinta
yang nggak kesampaian betul-betul jauh lebih berbahaya
daripada mantan. Alva yakin, jauh lebih mudah meng-
abaikan mantan.
Shera menarik napas. Kalau begini caranya, dia betul-
betul harus setengah mati menahan diri. Shera melompat
kecil dari atas perahu sambil berpegangan pada Alva.
Ini bukan adegan yang biasa terjadi di novel-novel ro-
mantis ketika si tokoh cewek terpeleset dan nggak sengaja

149

pustaka-indo.blogspot.com
jatuh ke pelukan si cowok, dilanjutkan dengan saling tatap
dan berpelukan sesaat.
Shera cuma melompat, dan dia merasa kurang seimbang
kalau kedua tangannya berpegangan pada tangan Alva.
Jadi, waktu mendarat, Shera memutuskan tangan kanan-
nya harus berpegangan ke bahu kiri Alva, sementara
tangan kirinya tetap bertahan di tangan kanan Alva—dan
sukses!
Yang Shera nggak tahu, posisi itu membuat darah Alva
mengalir deras ke segala arah. Alva nggak yakin bisa
menahan diri lebih lama. Entah berapa lama lagi, sebelum
semuanya selesai.
”Thanks, Al.” Shera buru-buru melepas semua pegang-
annya sebelum dia lepas kendali dan memaksa Alva ber-
paling padanya.
Shera terlalu buru-buru melangkah melewati Alva me-
nuju tempat mereka menaruh sandal, sampai-sampai dia
nggak sadar bahwa Alva terdiam kaku karena salah ting-
kah.
”Shera....” gumam Alva pelan—sangat pelan karena
hanya untuk dirinya sendiri.
Shera bukan sekadar cinta terpendam di masa lalu.
Alva yakin dirinya masih jatuh cinta pada wanita itu
sampai sekarang. Selama ini perasaan itu bukannya meng-
hilang, melainkan cuma bersembunyi karena Alva nggak
pernah mengira mereka akan bertemu lagi.
Tenggorokan Alva terasa kering.
Apakah betul dia memakai jasa agen bulan madu Shera

150

pustaka-indo.blogspot.com
hanya karena dia yakin Shera bisa melakukan yang ter-
baik untuk Keisha? Atau... itu karena alam bawah sadar-
nya spontan berbicara... mencari alasan untuk bisa ber-
temu Shera lagi?
Mendadak semuanya menjadi buram. Bertahun-tahun
Alva nggak pernah merasa sebimbang ini. Terakhir dia
bingung begini adalah ketika dia memutuskan untuk
melamar Keisha, satu setengah tahun yang lalu.

151

pustaka-indo.blogspot.com
Api Unggun, Api di Hatiku,
Api di Hatimu.

T enda. Check.
Api unggun. Check.
Perahu rahasia. Check.
Makanan. Check.
Shera mengecek lagi sekeliling tempat kemping, memas-
tikan persiapan untuk kemping bulan madu di pantai
nggak ada yang kurang. Semua harus lengkap karena ini
puncak perjalanan singkat Alva dan Keisha di Bali.
Shera menghela napas, teringat kemungkinan Keisha
belum tentu mau menerima semua ini. Kalau ditolak, lalu
apa artinya Alva susah payah begini? Itu artinya, peker-
jaan Shera juga sia-sia. Kalau secara materi sih mungkin
nggak sia-sia. Tapi kepuasan Shera bukan cuma materi.

152

pustaka-indo.blogspot.com
Salah satu yang membuat Shera bahagia dan dia anggap
sebagai prestasi adalah saat klien puas dengan hasil kerja-
nya.
”Sher....” tahu-tahu Alva berdiri di samping Shera sam-
bil menyodorkan segelas jus.
”Thanks. Gimana, ada yang kurang nggak nih kira-kira
buat nanti malam? Kalau mau tambah sesuatu, bisa lang-
sung aku siapin sekarang. Coba cek deh. Untuk kejutan-
nya, nanti kamu liat langsung aja ya? Kalau diliat seka-
rang, nanti kurang ­ah. Yang penting detail-detailnya ini
lho, Al.”
Alva menahan napas. Setelah kejadian di Tanjung Be-
noa itu, Alva nggak bisa berhenti memikirkan Shera se-
malaman. Dia memikirkan perasaannya sendiri juga.
Kenapa di saat dia sedang melakukan semua ini untuk
Keisha, dia malah gagal menahan perasaannya terhadap
Shera.
Semua ini sebetulnya bisa Alva siapkan sendiri tanpa
perlu bantuan Honeymoon Express. Toh dari awal se-
benarnya Alva berniat mengerjakan perjalanan ini cukup
dengan ide dan kreativitasnya sendiri. Apalagi semua
tempat dalam list Keisha, sudah pernah Alva datangi.
Semua berubah begitu dia bertemu Shera di resepsi
Raymen dan tahu bahwa Shera pemilik Honeymoon
Express. Semua ini seperti releks, terjadi begitu saja. Dia
yakin meminta Shera menangani semua ini merupakan
hal yang tepat.
Mengingat betapa berharganya semua ini untuk Keisha,

153

pustaka-indo.blogspot.com
jelas Alva memilih yang terbaik. Lagi pula, segala sesuatu
yang dikerjakan sang ahli hasilnya pasti akan lebih
baik.
Alva menatap semua yang sudah Shera siapkan. Bah-
kan sambil setengah melamun, Alva yakin semuanya
pasti sudah sempurna.
”Al, gimana?” tanya Shera lagi. Wajahnya mulai agak
cemas karena ekspresi Alva yang sulit dibaca.
”Sudah, Sher. Semua sudah oke.” Alva menjawab ce-
pat.
Shera mengangkat alisnya. ”Yakin?”
”Yakin.”
Shera mengusapkan kedua telapak tangan sambil ter-
senyum lega. ”Oke. Nanti makanannya kita keluarin
kalau udah mau mulai. Eh tapi, Al, kalau nanti tahu-tahu
kamu sadar ada yang kurang, langsung bilang ya? Aku
udah minta orang yang sering bantu aku di sini untuk
stand by. Kalau ada apa-apa aku tinggal kasih tahu dia.”
”Iya, Sher, iyaaa. Tenang aja. Aku percaya sama kamu
kok. Kamu juga percaya deh sama aku, kerjaan kamu dan
tim sudah oke.” Sebelah tangan Alva menepuk dan me-
remas bahu Shera pelan, mencoba meyakinkannya.
Detik itu juga darah Shera langsung mengalir deras,
sebagian ke jantung, sebagian lagi ke muka. Perpaduan
yang sangat kurang pas saat ini—bisa-bisa dia pingsan.
Bahkan dengan intensitas deg-degan yang sangat sering
akhir-akhir ini, Shera bersyukur dirinya masih hidup.
Bisa-bisa dia mati sewaktu-waktu.

154

pustaka-indo.blogspot.com
Kalau sekarang dia pingsan, pasti bakal sangat memalu-
kan.
”Eh....” Alva tiba-tiba menarik tangannya dari bahu
Shera. Kalau memegang bahu Shera lebih lama lagi, bisa-
bisa dia nekat menggandeng tangan wanita itu, menarik-
nya ke pelukan, dan—
Alva menelan ludah.
Perasaannya semakin tak terkendali. Bisa-bisanya dia
membayangkan hal-hal seperti itu! Dia melakukan ini
buat Keisha, seharusnya dia bisa menahan diri.
”Al?”
Alva menelan ludah lagi. Kali ini lebih susah karena
dia harus menghapus ekspresi grogi dari wajahnya, segera.
Kalau nggak, Shera bisa curiga. ”A-aku, aku bilang kerja
tim kamu sudah oke.”
Alis Shera berkerut. ”Iya, aku udah denger kok tadi.”
Shit! Alva betul-betul grogi sampai mengulang kalimat-
nya, padahal Shera nggak nanya.
Bertahun-tahun sekampus dengan Shera, dia selalu
membayangkan bisa seakrab dan sedekat ini. Dan perasa-
an itu sekarang sangat sulit dibendung. Alva sudah ber-
usaha mati-matian, tapi percuma saja. Perasaan itu malah
semakin kuat. ”Cuma meyakinkan kamu aja. Soalnya
muka kamu cemas banget dari tadi bolak-balik ngecek
list.”
Tak lama kemudian ponsel Shera berbunyi lagi.
Ferdi.
”Sebentar ya, Al. Ferdi, ya halo? Iya… Apa? Kok bisa?

155

pustaka-indo.blogspot.com
Kenapa? Kamu nggak bisa bujuk lagi, Fer, biar nggak ba-
tal? Oh, gitu?” Shera menghela napas kecewa. ”Ya sudah,
Fer, nanti begitu saya pulang kita evaluasi. Sekarang
fokus aja sama kerjaan yang lagi jalan. Saya juga selesai-
kan yang di sini dulu. Oke, Fer. Thanks.” Shera lalu ter-
tegun.
”Ada apa, Sher? Ferdi orang kantor kamu itu, kan? Ada
masalah di kantor?”
Shera menatap Alva lalu mengangguk lemas. ”Iya, ada
masalah sedikit. Barusan Ferdi bilang ada dua klien yang
tiba-tiba membatalkan kerja sama dengan Honeymoon
Express.” Shera berusaha terdengar tenang, padahal dia
sebenarnya gelisah. Tapi, sebisa mungkin dia meyakinkan
Alva bahwa masalah apa pun yang terjadi di kantor tidak
akan mengganggu performanya di sini.
Kepala Shera mendadak pening. Baru pertama kali ini
ada kasus klien sampai membatalkan kerja sama seperti
ini—dua sekaligus. Apa yang salah dengan Honeymoon
Express? Kepala Shera semakin berdenyut, mencoba me-
mikirkan penyebabnya.
Rasa-rasanya belum pernah ada data atau laporan soal
masalah serius dengan klien. Pembatalan kerja sama nggak
mungkin hanya karena hal sepele. Pasti ada alasan kuat
atau masalah yang cukup besar. Tapi apa?
Diam-diam Alva mengamati Shera. Dari ekspresi She-
ra, Alva tahu perempuan itu betul-betul mencemaskan
kondisi kantor. ”Sher, kamu yakin nggak apa-apa? Kalau
kamu perlu balik ke Jakarta, aku nggak apa-apa di sini.
Ada staf kamu yang bisa bantu, kan?”

15

pustaka-indo.blogspot.com
Shera mengernyit. Pulang ke Jakarta? Segala pertim-
bangan berkecamuk di benaknya. Memangnya kalau dia
pulang, klien itu pasti kembali?
Buat apa dia pulang kalau meeting evaluasi masih bisa
menunggu sampai urusannya di sini selesai. Lagi pula,
hanya gara-gara kekacauan satu atau dua klien, Shera
nggak bisa mengacaukan proyeknya bersama klien lain—
Alva kan klien juga.
Shera memejamkan mata sejenak, berusaha mengem-
balikan fokusnya, lalu tersenyum setenang mungkin pada
Alva. ”Nggak, Al.... Aku nggak perlu ke Jakarta sekarang,
di sana kan ada Ferdi. Aku mau fokus di sini. Kamu kan
klienku juga.”
Alva tahu Shera hanya berlagak tenang. Biarpun Shera
tersenyum selebar itu, Alva masih bisa melihat perempuan
itu sedang berusaha menyembunyikan kecemasannya.
”Bener kamu nggak pa-pa?”
Senyum Shera tetap mengembang. ”Iyaaa... bener. Udah
ah, kita kan di sini untuk kamu. Lagian, sebagai klien,
apa pun masalah yang terjadi di kantorku, kamu nggak
perlu cemas. Kamu tetap bakal dapat servis terbaik.”
Shera mengacungkan jempol.
Keceriaan yang berlebihan. Jurus paling standar yang
digunakan untuk menyembunyikan perasaan.
Langit meredup. Tanda-tanda bakal segera sunset. Se-
perti tersadar akan sesuatu, mata Shera membulat antu-
sias. Secepat kilat dia menyambar pergelangan tangan
Alva dan menarik pria itu sambil berlari kecil.

15

pustaka-indo.blogspot.com
”Sher... eh... kenapa? Mau ke mana?” Alva bingung
tangannya ditarik tiba-tiba.
”Udah ikut aja!” Shera terus berlari kecil menyusuri
pantai sambil tetap menggenggam pergelangan tangan
Alva.
Sesampainya mereka di depan sebuah tumpukan karang
yang lumayan tinggi, langkah Shera melambat. Dengan
sigap dia melepas lat shoes merah mudanya dan mulai
memanjat karang itu sambil menenteng sepatu.
Alva melotot panik. ”Sher!”
”Buruan ikut naik! Aku hampir lupa, seharusnya sambil
nunggu sunset, kita naik ke sini.” Sambil berdiri di karang,
Shera mengulurkan tangan memberi kode pada Alva
supaya ikut naik.
Dengan kebingungan, Alva menyusul Shera naik.
”Sher?”
Melihat perempuan itu duduk bersila di pinggir karang,
Alva ikutan bersila di sampingnya.
Lima detik kemudian langit berubah oranye, matahari
turun perlahan. ”Bocoran dari pegawai resort, ini spot pa-
ling bagus untuk liat sunset di pantai ini.” Shera bergumam
pelan sambil menatap lurus ke depan. Napasnya seolah
tersekat. Pegawai resort itu benar. Pemandangan matahari
terbenam di depan mereka menakjubkan.
Di samping Shera, Alva menatap ke arah yang sama
dengan napas tertahan.
Hening.
”Aduh...” Alva bergumam tiba-tiba.

15

pustaka-indo.blogspot.com
”Kenapa, Al?”
”Nggak difoto. Bagus banget padahal. Keisha pasti
suka. Sunset dari jendela gedung bertingkat aja bisa dia
bilang bagus kok.” Alva tersenyum tipis.
Shera meringis canggung. ”Yah, sori ya, Al. Tadi
bener-bener kelupaan, tapi nanti kan kamu akan ke sini
lagi sama dia. Kalau cerah, sunset-nya pasti sebagus tadi.
Lebih bagus liat langsung juga, kan?”
Shera melihat Alva tersenyum aneh, lalu mengangguk
kikuk. Mungkin karena Alva nggak tahu apakah dia bakal
ke sini lagi bareng Keisha atau nggak. Sepertinya dia
masih harus menunggu keputusan tunangannya.
Tanpa sadar Shera mendengus pelan.
Pakai susuk apaan sih si Keisha itu sampai bisa bikin
cowok kayak Alva bertekuk lutut habis-habisan begini?
Bahkan, bisa dibilang ini sudah bukan sekadar bertekuk
lutut, tapi tiarap!
”Jadi... habis sunset apalagi, Sher?” tanya Alva mem-
buyarkan lamunan Shera.
”Oh... kita ke tenda aja yuk?” Shera meluruskan
kakinya, siap-siap berdiri.
”Sini.” Alva releks mengulurkan tangan membantu
Shera berdiri. Tiga detik tangannya mengambang di
udara karena Shera tak langsung menyambutnya. Cewek
itu malah terdiam menatap tangan Alva dengan ekspresi
tak terbaca. Alva nyaris berpikir dirinya kelewat lancang
dan berniat menarik kembali tangannya, tapi tiba-tiba
ekspresi Shera berubah normal dan menyambut uluran
tangannya.

159

pustaka-indo.blogspot.com
”Thanks, Al.” Shera tersenyum lebar setelah berhasil
berdiri dengan bantuan Alva. Seandainya cowok itu tahu
jantungnya nyaris meledak menahan perasaan waktu
tangannya digenggam dan dibantu berdiri tadi. ”Turun
yuk?”
Alva mengangguk mengikuti Shera turun dari ka-
rang.

”Sudah dapet tempat bikin undangan atau suvenir?”


Alva terbatuk pelan mendengar pertanyaan Shera.
Tangan Alva berhenti membolak-balik ikan yang sedang
dia bakar lalu menatap Shera yang duduk di sebelahnya
asyik membakar cumi-cumi.
Karena di pantai, tema barbeque-nya juga berganti
menjadi seafood, bukan kambing guling lagi. ”Kok nanya
kayak gitu?”
Shera mengangkat bahu pelan. ”Hmm... ya nggak pa-
pa. Siapa tahu aja kamu lagi cari-cari, aku tahu yang mu-
rah tapi bagus.” Rasanya Shera pengin mengeplak mulut-
nya sendiri karena nggak bisa menahan diri. Sepertinya
kalimat itu otomatis meluncur dari mulutnya tanpa lewat
saringan otak. Shera betul-betul penasaran tentang Alva
dan Keisha, biarpun dalam hati dia masih yakin kesim-
pulannya soal telepon Alva dan Darwin itu benar. ”Bener-
an murah lho, Al. Hasilnya juga bagus. Mau model kayak
apa aja bisa, kamu tinggal—”

10

pustaka-indo.blogspot.com
”Kayaknya belum sekarang,” potong Alva
”Ha?”
”Kayaknya belum sekarang,” ulang Alva dengan nada
yang persis sama.
”Ooo....” Bibir Shera membulat, mendadak bingung
mau ngomong apa lagi.
Alva mau nggak mau tersenyum melihat tampang me-
longo Shera. ”Tenang aja, kalau pas mau pesan aku pasti
nanya kamu. Makasih infonya. Nanti... aku sampein ke
Keisha juga,” Alva berdeham pelan, mengusir gugup.
Ini gila, benar-benar gila. Seharusnya waktu ketemu di
resepsi Raymen, Alva nggak perlu meminta Shera dan
Honeymoon Express mengurus bulan madunya. Seharus-
nya dia tahu, itu sama aja menggali lagi perasaan yang
sudah lama dia pendam, dan akhirnya menjadi rumit
begini.

Langit semakin gelap. Api unggun di depan tenda sudah


menyala hangat. Puncak kejutan yang Shera dan tim
siapkan akan Alva saksikan sebentar lagi.
”Kita nunggu apa nih, Sher?” Alva menoleh ke arah
Shera yang duduk di sebelahnya.
Shera nggak langsung menjawab. Matanya menatap
lurus ke laut lepas. Tak lama kemudian senyum mengem-
bang di bibirnya. ”Itu. Mudah-mudahan kamu suka. Eh,
maksudnya, mudah-mudahan Keisha suka—kalian suka.”
Telunjuk Shera menunjuk ke depan.

11

pustaka-indo.blogspot.com
Perlahan pandangan Alva mengikuti arah telunjuk
Shera. Alva tercekat.
”Ini, ini... gitar, mana gitarnya? Lagunya, Al, lagunya!
Itu... I can’t smile ­ithout you! Buruan!” Shera buru-buru
menyodorkan gitar ke arah Alva dengan tangan kanan,
sementara tangan kanan kirinya sibuk memegang kame-
ra.
”Ha?” Alva melongo.
Shera melotot sambil menekan tombol ON di kamera.
”Nyanyi... nyanyiii! Jangan foto melulu, sekali-sekali
video. Ini bagus banget soalnya.” Sebelah tangan Shera
bergerak-gerak memberi kode supaya Alva segera ber-
nyanyi.
Sedetik kemudian kebingungan Alva hilang. Tangannya
memetik gitar dan mulai bernyanyi:

”You know I can’t smile without you…


Can’t smile without you...”

Alva tak bisa berhenti menatap takjub pada peman-


dangan di depannya yang mengiringi dia bernyanyi.
Perahu-perahu kecil tak bermotor yang tadi sepertinya
hanya mengapung-ngapung di air tanpa tujuan, sekarang
berubah menyala gemerlap dengan warna-warni lampu
hias yang terangkai indah di sekeliling badan perahu. Laut
yang gelap mendadak bersinar romantis. Cuma ada suara
angin, debur ombak dan suara gitar yang mengiringi Alva
menyanyi. Jemari Alva masih memetik gitar, sambil

12

pustaka-indo.blogspot.com
membayangkan seandainya Keisha bisa ada di tempat
ini.
Ini betul-betul indah. Cahaya lampu warna-warni yang
berpendar dari badan perahu membuat mereka seperti
berada di negeri dongeng, bukannya di salah satu pantai
di Bali. Mereka seperti sedang berada di negeri antah
berantah bersama para peri.
Shera berdiri persis di belakang Alva. Merekam pria
itu bernyanyi dari belakang. Shera ingin rekaman itu
menangkap sosok Alva dari belakang agar Keisha bisa
melihat apa yang Alva lihat sekarang.
Video ini akan jadi sangat romantis.

”I cant laugh, and I can’t sing


I’m inding it hard to anything...”

Tiba-tiba langit bercahaya, lampion-lampion kertas


bermunculan dari perahu dan beterbangan memenuhi
langit seperti kunang-kunang raksasa.
Dada Alva terasa sesak. Mendadak matanya panas,
bulu kuduknya meremang karena kagum. Dia sampai
terbatuk supaya suaranya nggak bergetar saat bernyanyi.
Dia yakin, Keisha pasti akan menangis terharu kalau
menyaksikan semua ini.
Alva nggak menyangka Shera akan memikirkan se-
detail ini. Dia memperhatikan saat Alva bercerita tentang
Keisha yang tergila-gila dengan ilm animasi Disney
Tangled. Bahwa Keisha begitu jatuh cinta dengan adegan

13

pustaka-indo.blogspot.com
lampion-lampion yang diterbangkan ke langit memenuhi
angkasa setiap peringatan ulang tahun sang putri yang
menghilang.
”Bagus banget ya?” Tiba-tiba Shera sudah kembali du-
duk di samping Alva. Senyumnya mengembang, menatap
takjub lampu-lampu di kapal dan lampion-lampion yang
melayang di udara. ”Aku juga selalu suka ilm-ilm Prin-
cess Disney. Kalau melihat ke situ aja....” Shera menunjuk
ke arah lautan dan langit yang berpendar indah. ”Rasanya
seperti ada di dunia Disney. Stres jadi hilang sejenak.”
Shera terkekeh garing.
Alva terdiam.
”Tahu nggak...,” lanjut Shera, masih menatap ke depan.
”Aku sering berkhayal kalau aku jadi salah satu princess
di ilm Disney. Nyanyi-nyanyi, nggak usah mikirin kerja-
an, dan yang pasti nggak pusing mikirin kapan kawin
karena ada pangeran keren yang mau berkorban melaku-
kan apa pun demi aku. Dansa romantis, menari-nari di
padang rumput, boncengan naik kuda putih... terus live
happily ever after.” Shera terkekeh lagi dengan khayalan-
nya.
Tiba-tiba Shera berbalik dan menepuk pundak Alva
spontan. ”Eh, kamu tuh kayak pangeran di cerita Disney
yang bikin kejutan romantis buat sang putri. Yah... biar-
pun aku sih yang ngerjain, tapi kan idenya dari ka—”
Kalimat Shera menggantung di udara. Tersadar bahwa
sejak tadi Alva menatap ke arahnya dengan ekspresi tak
terbaca.

14

pustaka-indo.blogspot.com
Alva terenyak, membayangkan betapa indah dunia di
dalam kepala Shera sampai dia bisa menciptakan momen
seindah ini. Dia mewujudkan sesuatu hanya dengan
mendengar cerita singkat dari orang lain. Betapa Shera
mengerjakan semua ini dengan sepenuh hati.
Alva menelan ludah saat menatap manik mata Shera.
Dia baru menyadari betapa bening mata perempuan itu
yang berbinar tulus. Binar mata yang sama seperti yang
Alva lihat setiap kali mereka mengobrol canggung di
kampus dulu. Binar mata yang membuat Alva nggak per-
caya diri dan takut untuk menyatakan cinta. Binar mata
yang membuat Alva merasa kalau cewek seperti Shera
lebih cocok sama cowok supel dan populer seperti Ray-
men, bukan cowok pencinta alam yang kurang gaul se-
perti dia.
Binar mata itu yang membuat Alva kehilangan kendali
dan tahu-tahu saja bibirnya mencium bibir Shera. Seolah
benaknya terhipnotis, tanpa sadar Alva merubuhkan ben-
teng pertahanannya sendiri. Membebaskan dirinya yang
selama ini sengaja dia kurung rapat-rapat agar tidak ber-
buat macam-macam dengan Shera. Binar mata perempuan
itu terlalu menghipnotis. Bibir itu terlalu mengundang.
Hati Alva menghianati akal sehatnya sendiri.
Shera tak berdaya. Mata Alva yang menatap lembut
langsung ke matanya begitu memikat. Dulu... hanya mem-
bayangkan dipeluk Alva saja jantung Shera serasa mau
meledak. Dan sekarang, bukan hanya tangan kokoh Alva
yang memeluk pinggang Shera, tapi bibir hangat pria itu...

15

pustaka-indo.blogspot.com
mencium lembut bibir Shera. Rasanya ada yang salah dari
semua ini. Tapi nggak secuil pun bagian diri Shera
bereaksi untuk menolak.
Ciuman Alva lembut. Tubuh Shera seperti melayang,
mungkin karena kupu-kupu di perutnya sekarang be-
terbangan ke segala arah.
Shera suka wangi parfum Alva yang samar-samar ter-
cium saat mereka begitu dekat. Shera suka cara Alva men-
cium bibirnya. Nggak memaksa, nggak mengintimidasi.
Ciuman Alva membuat Shera nyaman, tenang, dan...
seolah dia jatuh cinta jutaan kali lipat daripada sebelumnya.
Membuat Shera ingin Alva menciumnya terus.
Ciuman Alva seperti ciuman yang sudah bertahun-
tahun Shera tunggu. Mimpi yang jadi kenyataan. Belum
pernah Shera merasa jantungnya berdegup sedahsyat
ini.
Shera merasakan pelukan Alva di pinggangnya semakin
erat. Tanpa sadar tangannya mulai melingkari bahu Alva
dan mengusap pelan tengkuk pria itu. Shera ingin memi-
liki Alva. Dunianya sore ini seakan dicuri begitu saja oleh
laki-laki itu.
Biarpun Alva sudah jadi calon suami orang—
Shera tersentak.
Calon suami orang.…
Calon-Suami-Orang.
Kata-kata itu berkecamuk di benak Shera. Kesadarannya
yang tadi sempat hilang seperti memanggil-manggilnya
kembali ke dunia nyata. Dia ditampar oleh kenyataan.

1

pustaka-indo.blogspot.com
”Al—!” Seperti terkena sengatan listrik, Shera menarik
diri dan mendorong tubuh Alva menjauh. Susah payah
Shera terpaksa membuang semua perasaan memabukkan
tadi. Terpaksa menelan lagi dengan pahit setiap detik
debaran yang dia rasakan tadi. Seharusnya nggak kayak
gini! Shera mengusap bibirnya kasar bermaksud memarahi
diri sendiri.
Ini salah!!!
Shera mematung menatap pria itu. Alva juga mematung
menatap Shera. Bibirnya terbuka tapi nggak ada suara
yang keluar.
Lampion-lampion makin tinggi beterbangan ke langit.
Lampu-lampu masih menyala di perahu yang mengapung
tenang. Sungguh bertolak belakang dengan gejolak hati
Shera dan Alva.
Mereka berdua sudah mengacaukan semuanya.
Seharusnya ini kejutan romantis. Bukan untuk mereka
berdua, melainkan untuk dinikmati masing-masing. Mere-
ka seharusnya nggak—
Kotor! Shera betul-betul merasa kotor. Bisa-bisanya dia
hilang kendali dan melakukan hal menjijikkan seperti
tadi. Berciuman dengan calon suami orang?! Tugasnya
adalah menciptakan bulan madu romantis untuk Alva
dan Keisha, bukannya jadi pengganggu hubungan mere-
ka!
Ini gila! Dia sudah melakukan tindakan yang paling
dia benci! Ini kesalahan fatal sebagai seorang profesional
dan seorang perempuan!

1

pustaka-indo.blogspot.com
”Tega banget kamu, Al...” Shera melangkah mundur.
Menjauh dari Alva, jarak mereka terlalu dekat, Shera
harus menjauh—lebih jauh lagi.
”Sher! Tunggu, Sher...” Dengan ekspresi yang tak kalah
shock, Alva meraih tangan Shera. Berusaha menarik
perempuan itu kembali.
Dia harus meluruskan situasi ini.
Wajah Shera basah oleh air mata. Dia cuma bisa mena-
tap Alva dengan ngeri dan nggak percaya. Shera mengge-
leng pelan. Berusaha melepaskan genggaman tangan Alva.
”Lepasin tangan aku, Al! Lepasin!”
”Sher, please. Jangan kayak gini. Kita bicara dulu.” Alva
berusaha menatap mata Shera, menolak melepaskan
genggaman tangannya. Dia nggak bisa melepaskan Shera
tanpa menjelaskan apa-apa. Dia nggak bisa membiarkan
Shera menganggap dirinya pria tukang selingkuh.
”Tega kamu, Al! Tega kamu bikin aku jadi perempuan
pengganggu hubungan orang!” jerit Shera sebelum dia
mendorong tubuh Alva kuat-kuat lalu berlari menjauh,
mengabaikan pemandangan lampion-lampion berpencar
karena tertiup angin.
”SHER! Tunggu, Sher!”
Shera berbalik sekilas menatap Alva tajam. ”Kalau
kamu berani kejar aku, aku nggak akan mau kenal kamu
lagi!” ancam Shera sebelum kembali berlari pergi.

1

pustaka-indo.blogspot.com
”Check out, Mbak?”
Resepsionis itu mengangguk. ”Iya, Pak. Bu Shera tadi
datang buru-buru, mengambil barang di kamar, dan
langsung check out.”
Alva mengacak-acak rambutnya sendiri. Kesal karena
semua jadi kacau. Seharusnya dia bisa menahan diri.
Sekarang jadi ada dua hal yang harus dia selesaikan. Bulan
madu untuk Keisha dan membereskan semua kesalahpa-
haman ini dengan Shera.
”Argh!!!” Alva meninju udara kosong dengan penuh
emosi.
Alva melihat sekeliling.
Shera pasti belum jauh. Dan dia benar. Dari kaca pintu
samping hotel Alva melihat Shera berdiri gelisah menung-
gu taksi. Secepat kilat Alva berlari menghampiri sebelum
perempuan itu pergi.
”Sher! Tunggu!” Alva meraih pegangan koper Shera
supaya perempuan itu tidak lagi kabur. Sekilas Alva meli-
hat koper Shera tidak tertutup sempurna, ujung sweter
telihat menyembul dari bagian yang terbuka. Pasti dia
membereskan barang-barangnya asal-asalan.
Mata Shera terbelalak gusar melihat Alva berdiri
menahan kopernya. ”Kamu belum tuli, kan? Tadi kamu
dengar aku ngomong apa. Jangan kejar aku, atau aku
nggak mau kenal kamu lagi.”
”Aku nggak peduli,” jawab Alva lantang.
Dahi Shera mengernyit kaget. Ekspresinya semakin
gusar. ”Kamu nggak peduli?”

19

pustaka-indo.blogspot.com
”Iya, aku nggak peduli kamu nggak mau kenal aku lagi,
asal aku nggak kamu cap buruk seumur hidupmu.”
Shera tersentak.
”Kita bicara di kamarku,” pinta Alva sambil menatap
Shera lurus-lurus.
”Di kamar kamu? Maksud kamu apa? Ngapain kita
harus ke kamar kamu, Al?! Kamu anggap aku ini apa sih?
Cukup, Al. Aku mau pulang.” Jantung Shera berpacu
kencang.
Kurang ajar sekali Alva. Setelah kejadian tadi berani-
beraninya dia mengajak Shera ke kamarnya!
”Kamu ngomong apa sih? Aku ngajak kamu ngobrol
di kamarku supaya kita nggak ribut-ribut di tempat
umum, Sher.”
Shera menatap Alva tegang.
”Kamu boleh teriak minta tolong kalau aku nanti
macam-macam sama kamu. Panggil sekuriti. Tapi aku
mohon, kasih aku kesempatan bicara sama kamu.”
Entah apa yang terkandung dalam tatapan mata Alva
sampai akhirnya Shera mengangguk setuju dan mengikuti
langkah pria itu yang menyeret koper Shera menuju
kamarnya.
*

Aroma kamar Alva seperti wangi Alva yang Shera hirup


waktu mereka berciuman di pantai tadi. Pasti karena Alva
berkali-kali menyemprotkan parfumnya di dalam kamar
ini.

10

pustaka-indo.blogspot.com
Darah Shera berdesir. Teringat ciuman hangat mereka
tadi.
”Kamu mau minum?” Suara Alva membuyarkan la-
munan Shera.
Releks dia mengerjapkan mata lalu menggeleng cepat.
”Makasih. Langsung aja. Kamu mau ngomong apa,
Al?”
Dengan canggung Alva yang berdiri di hadapan Shera,
maju selangkah lebih dekat. Alva mencoba menatap
langsung mata Shera sambil menarik napas dalam-dalam
sebelum bicara. ”Aku minta maaf, Sher.”
Shera menahan napas. Membalas tatapan Alva.
Minta maaf. Apa artinya Alva menyesal mencium
Shera? Apa mencium Shera adalah kesalahan untuk Alva?
Tanpa sadar Shera merasa tertohok kalau Alva meng-
anggap ciuman tadi sebuah kesalahan. Ciuman kosong
tanpa perasaan. Itu artinya Shera nggak ada artinya,
kan?
Mata Alva masih menatap Shera lurus-lurus. Entah
karena terlalu dekat dengan Shera atau mungkin karena
mata Shera yang bening, irama napas Alva tiba-tiba saja
berubah lebih cepat. ”Shera, aku—”
Entah energi apa yang sejak tadi melingkupi mereka.
Atau mungkin Cupid si peri cinta sedang usil menembak-
nembakkan panahnya sembarangan. Tanpa bisa dihenti-
kan, tiba-tiba saja bibir Alva mencium bibir Shera lagi.
Penuh perasaan, lebih kuat daripada sebelumnya.
Shera merasa cowok itu sudah gila. Kesurupan. Atau

11

pustaka-indo.blogspot.com
entah apa. Setelah meminta maaf, lalu ini yang Alva
lakukan? Menciumnya lagi?!
Seharusnya Shera menampar atau menendang Alva
karena berani melakukan ini. Tapi boro-boro menampar,
Shera bahkan nggak bisa menahan diri untuk nggak
membalas ciuman Alva. Dia kembali terhanyut. Terlena
dalam ciuman Alva.
Bibir Alva terasa hangat. Bulu kuduk Shera meremang
ketika Alva membelai pipinya lembut. Jantungnya seoleh
berhenti saat tangan Alva menekan punggungnya, mena-
rik tubuh Shera hingga mereka melekat tak berjarak.
Shera nyaris bisa mendengar detak jantung Alva.
”Sher...,” gumam Alva lembut di antara ciumannya.
Jemarinya meremas rambut Shera pelan.
Sekujur tubuh Shera seolah lemas kehilangan energi.
Tatapan dan ciuman pria itu seperti menyedot energinya.
Dia bahkan releks mundur saat Alva mendorongnya
pelan ke arah tempat tidur.
Apa yang bakal terjadi, terjadilah...
Kalau mereka bisa menyimpan rahasia, nggak mungkin
ada yang tahu. Yulia nggak akan tahu, Keisha nggak akan
tahu....
Keisha....
Calon istri Alva.
”Al!” Shera buru-buru mencoba melepaskan diri dari
pelukan Alva.
”Sher....” Setengah sadar dengan napas terengah Alva
menatap Shera bingung.

12

pustaka-indo.blogspot.com
”Stop, Al! Stop!” Dengan keras Shera mendorong
tubuh Alva. Matanya terbelalak marah bercampur panik
menatap Alva. ”Kamu—! Dari awal memang ini kan niat
kamu ngajak aku ke kamarmu?! Kamu brengsek!”
”Sher, tapi....” Alva mendadak linglung. Bukankah
Shera merespons dia tadi? Bukankah Shera juga nggak
menolak Alva?
”Aku pulang, Al!”
”Tunggu! Aku sama sekali nggak berniat jahat sama
kamu. Semua itu....” Alva mengejar Shera dan berusaha
mengadang langkahnya di depan pintu.
Mata Shera menyipit marah. Kecewa, ”Kamu nggak
mau ada keributan, kan? Sekarang minggir, Al. Atau aku
akan ikuti saran kamu untuk manggil sekuriti,” ancam
Shera tajam.
”Aku bilang minggir!” bentak Shera keras sampai Alva
benar-benar menyingkir.
Tanpa menoleh ke belakang lagi Shera berlari menyeret
kopernya. Ini sudah keterlaluan. Air matanya meleleh
tak terbendung.

Yulia mencopot irisan timun dari matanya karena suara


bel yang bertubi-tubi. Sambil menahan supaya dahinya
nggak berkerut marah dan membuat maskernya retak,
Yulia berjalan tergesa-gesa ke pintu.
Bel rumahnya seperti korslet, atau memang ada manu-

13

pustaka-indo.blogspot.com
sia barbar dari zaman purba yang kebetulan lewat lalu
tergoda untuk mencoba memencet-mencet bel.
”SHERA?!”
Prakkk! Masker Yulia retak tanpa ampun. ”Kenapa
lo?”

14

pustaka-indo.blogspot.com
Apa yang Sudah Dimulai
Sebaiknya Dituntaskan

S hera menggosok bibirnya kuat-kuat dengan air sho­er


di kamar mandi Yulia yang mengucur deras ke wajahnya.
Air matanya sudah nggak jelas bercampur dengan air
mandi dan ingusnya sendiri. Mungkin terdengar lebay.
Tapi satu hal yang paling ingin Shera lakukan begitu
sampai ke tempat Yulia adalah mencuci muka sebersih
mungkin. Shera begitu marah, begitu malu, karena ber-
ciuman dengan Alva. Sampai-sampai dia merasa harus
menggosok bibirnya sekuat mungkin sampai bersih.
Berharap siapa tahu bisa sedikit menghapus rasa bersalah-
nya.
Dari luar Yulia menggedor pintu kamar mandi dengan
cemas. ”Sheeer, lo kenapa sih? Lama banget di kamar

15

pustaka-indo.blogspot.com
mandi. Lo nggak kenapa-napa? Ayo, Sher, keluar dulu
dong. Cerita dulu deh sama gue.”
Shera terus menggosok bibir. Air matanya belum bisa
berhenti. Sepanjang penerbangan menuju Jakarta, dia
sudah setengah mati menahan air mata. Menahan jijik
pada diri sendiri.
TOK TOK TOK! Yulia menggedor pintu lebih
kencang. ”Sheraaa... please dong keluar dulu. Gue khawatir
nih. Keluar dulu keeek... lo udah bikin masker gue retak,
masa masih mau bikin gue khawatir?”
Shera berhenti menggosok bibir, lalu mematikan air
sho­er. Memang sebaiknya dia keluar dulu, dan curhat
habis-habisan pada Yulia. Dia butuh bercerita. Dia harus
membagi beban mengerikan ini.
”Sher?” Yulia menatap Shera cemas begitu pintu di-
buka dan Shera berdiri di ambang pintu kamar mandi
dengan wajah sembap mengerikan sambil tertunduk.
Sedetik... dua detik.. sepuluh detik... Shera cuma diam
mematung menatap Yulia.
”Sher? Jangan diem dong. Ngomong, Sher, ada apa?
Lo kenapa pulang tiba-tiba? Lo nangis? Ada apa sih?”
Shera perlahan mendongak menatap Yulia dengan
sendu. ”Yul....” suara Shera bergetar lemah.
”Iya, Sher?”
Nggak satu kata pun lagi sanggup Shera katakan seka-
rang. Sambil menangis kencang, Shera nyaris melompat
memeluk Yulia. Menangis sesenggukan di bahu saha-
batnya. Dia perlu menangis habis-habisan sebelum mulai

1

pustaka-indo.blogspot.com
dia menceritakan apa yang terjadi di Bali. Cerita yang
pasti akan membuat Yulia shock dan ingin berteriak:
”GUE BILANG JUGA APA!”

”Lo juga sih, Al! Gue nggak nyangka lo bisa juga nyosor
cewek. Bener kan, dari awal gue udah feeling bakalan
kayak gini kejadiannya. Kusut.”
Alva cuma menghela napas. Sudah tiga hari Shera
menolak menemuinya. Padahal dia perlu menemui Shera
untuk meluruskan semuanya. Tapi, sampai detik ini
usahanya belum berhasil.
Alva juga sebetulnya bingung apa yang harus dia
luruskan.
Jujur saja, Alva sama sekali nggak menyesal mencium
Shera. Baginya, mencium Shera bukanlah kesalahan,
karena itu yang ingin dia lakukan sejak sekitar tujuh ta-
hun lalu. Nggak ada yang perlu dia luruskan soal ciuman
itu. Semua muncul dari hatinya. Perasaan yang sempat
tertimbun muncul bagai harta karun yang terangkat ke
permukaan. Kalau ada yang harus Alva luruskan adalah
kesalahan bahwa hal itu terjadi saat ini, ketika seharusnya
dia fokus pada Keisha. Ketika dia jelas-jelas meminta
Shera menjadi orang yang menangani perjalanan bulan
madunya. Dan, ketika mereka sudah mempunyai kehi-
dupan masing-masing.
Alva bisa mengerti kemarahan Shera. Siapa pun pasti

1

pustaka-indo.blogspot.com
akan mengira dia memanfaatkan kesempatan dalam
kesempitan. Wajar Shera marah karena momen romantis
yang dia ciptakan seakan-akan jadi tempat Alva mencuri-
curi kesempatan. Shera perempuan baik-baik. Tentu dia
menganggap Alva kurang ajar.
”Dia jadi nggak mau pulang ke apartemennya. Gue
repot nih mendadak jadi ibu kos. Mana jadi mello­ banget.
Sensitif, sering nangis, sering bengong. Ribet tahu nggak!
Lo sih!” Tapi Yulia mendadak nggak tega melanjutkan
omelannya karena melihat tampang memelas Alva. Laki-
laki itu tampak sama frustrasinya dengan Shera.
Alva menatap Yulia pasrah. Tiap hari dia datang, yang
dia dapat cuma omelan Yulia, tapi sama sekali belum bisa
bertemu Shera.
Alva nggak peduli harus berkali-kali kena omel Yulia,
asalkan dia bisa ketemu Shera. ”Dia belum mau ketemu
gue,Yul?”
Yulia mendengus pelan. ”Menurut lo?” Yulia meng-
garuk-garuk kepala karena jadi pusing sendiri. ”Gue
pusing sama kalian. Kenapa nggak dari dulu aja pas kuliah
kalian pacaran? Dia suka sama lo, dan ternyata lo juga
suka sama dia sekarang. Dulu kenapa lo nggak naksir dia
sih? Pening kepala gue sekarang. Si Shera juga sih, udah
gue wanti-wanti supaya jaga profesionalitas. Ini gara-gara
dia nganggep enteng omongan gue. Sekarang jadi begini,
kan? Amburadul!”
Alva terbelalak kaget. ”Waktu kuliah Shera suka sama
gue?”

1

pustaka-indo.blogspot.com
Gantian mata Yulia yang melebar. ”Jangan bilang lo
nggak tahu?”
Alva terdiam. Merasa nggak perlu menjawab pertanyaan
Yulia. Toh mereka juga nggak bisa kembali ke zaman
kuliah. Tapi Alva tetap nggak bisa menutupi rasa senang-
nya mendengar omongan Yulia barusan. Ternyata cin-
tanya nggak bertepuk sebelah tangan, cuma nyalinya aja
yang melempem waktu itu.
Mata Yulia menyipit menyelidiki Alva. ”Jangan-jangan
waktu kuliah lo juga suka sama dia ya?” Nada suara Yulia
yang rendah bernuansa interogasi.
Alva membalas tatapan Yulia. ”Iya. Tapi gue nggak
berani.”
Yulia semakin heboh menggaruk-garuk. Dalam hati
Yulia memekik: Jadi ini dua-duanya cinta nggak kesampaian?!
Pantesan meledak! ”Sekarang kusut nih kalau sampe calon
bini lo tahu. Bisa-bisa ada acara labrak-labrakan. Bakalan
drama nih.”
”Nggak. Gue jamin nggak bakal ada kejadian begitu.
Keisha nggak mungkin ngelakuin itu,” potong Alva
cepat.
Yulia mendelik. ”Yakin banget lo!”
Alva terenyak sekilas. ”Iya, gue yakin. Gue tahu banget
Keisha.”
”Al, Shera tuh kecewa banget karena dia anti sama
cewek-cewek pengganggu hubungan orang. Dia paling
nggak mau jadi perempuan kayak gitu. Pertunangan dia
hancur gara-gara calon tunangannya kepincut cewek peng-

19

pustaka-indo.blogspot.com
ganggu. Dan setelah lo sama dia—” Yulia bikin gerakan
seolah-olah tangan kiri dan tangan kanannya berciuman.
”—dia merasa dirinya nggak ada bedanya sama cewek
pengganggu itu. Mana ada perempuan baik-baik yang
nyosor calon laki orang?” tukas Yulia sinis.
Alva menahan napas.
”Dan semua gara-gara lo nggak bisa menahan diri.
Shera udah gue bawelin terus supaya jangan sampe
kelepasan. Eh, malah lo yang kelepasan,” sambung Yulia
esktracepat sebelum sempat Alva buka mulut.
”Maain gue, Yul. Gue nggak bisa nahan diri. Makanya
gue juga harus minta maaf sama dia. Gue juga nggak
nyangka, ternyata perasaan gue buat Shera selama ini
nggak pernah hilang.”
Yulia kesal setengah mati pada Alva karena pria ini
jelas nggak setia. Masa lagi merencanakan bulan madu,
malah nyosor cewek lain? Biarpun ini juga salah Shera.
Yulia nggak bisa memungkiri tatapan Alva waktu
bilang pengin minta maaf itu tulus.
Kalau masalah ini nggak beres, Shera bakalan makin
ngaco. Ogah kerja, ogah pulang juga ke apartemen sendiri.
”Gini deh, Al. Gue tahu lo sama Shera harus beresin
masalah ini. Nanti gue coba lagi ngomong sama dia, tapi
lo sabar dulu. Ngomongnya harus pelan-pelan. Nanti
pasti gue kabarin lo.”
Alva menghela napas lega. ”Makasih, Yul...”
Yulia mengangguk. ”Ya udah, lo balik dulu deh seka-
rang.”

10

pustaka-indo.blogspot.com
Seperti nggak rela pergi, Alva malah diam mematung.
”Al? Lo balik dulu sana!”
”Ah... iya... oke. Gue permisi.” Dalam hati Alva sebe-
tulnya menolak pergi begitu saja. Pengin rasanya dia
menerobos masuk sebelum Yulia menutup pintu.

”Heh, calon manusia gua! Bangun, bangun!” Yulia meng-


gebuk-gebuk Shera yang meringkuk di balik selimutnya
dengan bantal menutupi kepala.
Mata Shera sembap. Sejak pulang dari, entah sudah
berapa kali Shera menangis sesenggukan setiap kali mem-
bahas masalah Alva. Dia merasa dirinya begitu bodoh
telah menerima job dari Alva, apalagi dia tergoda untuk
bermain-main dengan debaran jantungnya, dan super-
ekstra-duper idiot karena sempat membalas ciuman ro-
mantis Alva waktu itu. Sekarang dia benar-benar jadi
perempuan perusak hubungan orang.
”Alva udah pergi?”
Yulia melompat ke kasur. ”Sudah, Nyah. Sesuai
instruksi Nyonyah, dia saya suruh pergi.”
Brettt! Dengan sekali sentak, Yulia menarik selimut
dari tangan Shera waktu sahabatnya itu siap meringkuk
lagi. ”Lo itu sedih apa demam sih? Kok bawaannya me-
ringkuk terus di balik selimut. Di rumah orang lagi!”
”Gitu banget sih, Yul. Emang lo nggak ikhlas ya nam-
pung gue di sini?”

11

pustaka-indo.blogspot.com
Ternyata betul, kalau lagi patah hati ce­ek suka jadi
supersensitif. Apalagi kalau kasusnya sudah dicium tapi nggak
bisa jadian kayak begini, rutuk Yulia dalam hati.
Yulia geleng-geleng. ”Bukan gitu, Sher. Tapi ini udah
tiga hari. Lo juga nggak ngantor. Lo jadi nggak punya
kehidupan. Sampe kapan lo mau kayak orang nggak
punya tujuan hidup begini?”
”Gue kan udah bilang ke orang kantor kalau gue sakit,”
potong Shera.
”Pura-pura sakit,” ralat Yulia. ”Si Alva udah berapa
juta kali neleponin lo dan bolak-balik ke sini. Gue rasa,
bagaimanapun lo harus ketemu dia, Sher. Masalah ini
harus kalian beresin. Kabur itu cuma menunda masalah,
dan sama sekali nggak menyelesaikan masalah.”
Shera menegakkan duduknya. ”Ini lagi gue beresin!
Satu-satunya cara ya dengan nggak ketemu dia. Biar dia
balik ke calon istrinya. Anggep aja nggak pernah ada
kejadian apa-apa.”
Alis Yulia bertaut sampai dahinya berkerut-kerut. ”Ya
itu namanya kabur! Cuma pengecut yang kabur dan
nggak berani menyelesaikan masalah. Emang kalian ber-
dua udah pikun, bisa ngelupain kejadian kayak gitu? Lo
itu dicium hhhooot... bukannya digigit nyamuk.”
Shera merengut diam.
”Udahlah, Sher, ngaku aja. Lo sampe ngebales cium-
annya karena lo juga ngarep, kan? Pasti selama tiga hari
terakhir ini lo ngebayangin terus rasa ciumannya si Al-
va—”

12

pustaka-indo.blogspot.com
BUKKK!!!
”Yulia! Nggak sopan deh!” Dengan muka merah padam
Shera menggebuk Yulia pakai guling.
Yulia nyengir. ”Ngambeeek... malu sendiriii, kan? Lo
harus fair dong, Sher. Ini bukan salah Alva sendiri. Tapi
salah lo jugaaa, Nenek! Kalau lo beneran nggak mau,
sebelum bibirnya nyampe, lo tabok duluan. Lha ini?
Dibales. Pake mau diajak ke kamar lagi.”
Shera siap melempar guling yang dia pakai menggebuk
Yulia tadi. ”Dia bilang dia jamin nggak bakal ngapa-
ngapain gue karena cuma mau ngejelasin. Malah dia
bilang gue boleh panggil sekuriti kalau gue butuh
pertolongan. Lo nyimak nggak sih cerita gue?!”
Yulia mencibir dengan tampang menyebalkan. ”Butuh
pertolongan sekuriti? Pertolongan dari apa? Ciuman yang
membara? Prettt!”
”Yulia!” Shera memekik kesal. Siap menggebuk Yulia
lagi.
”Eeeh, tunggu dulu… gue punya berita besar buat lo
yang pasti lo suka. Si Alva itu ternyata juga suka sama
lo waktu kuliah. Jadiii... kalian berdua itu suka sama
suka.”
APA?!
Shera seperti tersengat listrik ribuan watt.
”AAHHH! Auk ah, Yul! Gue binguuung!” Jerit Shera
semakin mumet.
Nggak perlu Yulia jelasin juga dia tahu kok dirinya
punya andil dalam skandal ”ciuman tepi pantai yang

13

pustaka-indo.blogspot.com
dihiasi lampion” dan ”ciuman hot di kamar hotel yang
hampir kejadian” itu. Gampang banget Yulia ngomong
supaya mereka ketemu dan meluruskan masalah. Shera
harus bersikap bagaimana kalau berhadapan dengan Alva?
”Si Alva itu juga kayaknya bukan tipe yang bakal
menyerah begitu aja.”
”Maksud lo?” Shera menyipit penuh tanda tanya. Sejak
kapan Yulia jadi ahli menganalisis sifat orang?
Yulia mengedikkan bahu. ”Kayaknya dia bakalan terus
nyariin lo sampe lo mau ketemu dia. Apalagi kasusnya
cinta terpendam kayak gitu. Makanya, menurut gue,
mendingan buruan lo tuntasin supaya kalian bisa move
on.”
”Nggak tahu, nggak tahu, nggak tahuuu....”
”Menurut gue...,” lanjut Yulia, nggak peduli kepala
Shera makin nyut-nyutan. ”Terima kenyataan aja bahwa
kalian berdua udah memulai sesuatu. Pilihannya cuma
dua: terusin atau tuntasin.”
Perasaan Shera betul-betul kompleks. Sumpah mati dia
girang mengetahui Alva juga memendam cinta sejak
kuliah bahkan sampai sekarang. Tapi dia pusing setengah
gila karena pria itu calon suami orang. Mereka nggak
mungkin melanjutkan semua ini!
Pikiran lain melintas di kepala Shera. Terus sekarang
gimana urusan kontrak Alva dan Honeymoon Express?
Apakah akan dibatalkan? Itu artinya Shera harus mengem-
balikan sisa uang Alva. Itu artinya ada pelanggaran kon-
trak dari pihak Shera. Bagaimana kalau Alva nggak te-

14

pustaka-indo.blogspot.com
rima? Bagaimana kalau dia mengumbar kegagalan Honey-
moon Express menyelesaikan kontrak? Terus... terus—
”AAA!” Shera menutup kuping sambil menggeleng-
geleng.
”Kalau kelamaan stres kayak gini, bisa-bisa lo jadi gila.
Kalau lo gila, gue nggak mau nampung lho. Bakal
langsung gue kirim ke RSJ!”
”Tauk ah! Gue mo pulang aja ke apartemen gue! Makin
pusing gue diceramahin sama lo! Gue mo mikir dulu!”
Yulia cuma mengangkat bahu.
Sekarang memang lebih tenang kalau Shera merenung
di apartemennya sendiri. Di atas kasurnya. Di balik seli-
mutnya.
Dia harus berpikir jernih, sendirian. Tanpa intervensi
orang lain, apalagi opini reseknya Yulia. Cuma bikin
tambah mumet!
Pulang. Shera harus pulang!
”Sher…”
Kaki Shera langsung membeku begitu membuka pintu
depan rumah Yulia.
Nggak mungkin.
Kata Yulia, dia sudah pergi, tapi kenapa dia masih ada
di sini?
”Alva—?”

15

pustaka-indo.blogspot.com
Keisha....

B elum sempat Shera berbalik masuk dan menutup


pintu, tangannya keburu ditangkap Alva. ”Sher, tunggu!”
Alva melonggarkan pegangannya tapi tidak melepaskan
Shera.
”Aku mau masuk, Al,” kata Shera, berusaha menjaga
dirinya tetap tenang.
”Kita harus bicara.” Suara Alva terdengar nggak sete-
nang biasanya. Suaranya juga terdengar lelah dan agak
parau.
”Nggak ada yang perlu dibicarain,” tukas Shera ta-
jam.
Mata Alva menyipit. Jelas-jelas Shera bohong. Kejadian
di Bali itu bukan seperti menepuk nyamuk di pipi Shera.

1

pustaka-indo.blogspot.com
Mereka berciuman! Alva mencium Shera, dan Shera mem-
balas ciumannya. Jelas ada yang harus dibahas.
”Kurang jelas kalimatnya? Nggak-ada-yang-perlu-
dibahas,” ulang Shera sengit karena Alva masih meme-
gang pergelangan tangannya sambil menatap Shera lurus-
lurus.
Bukannya Alva nggak mendengar penolakan Shera,
tapi setelah tiga hari berjuang untuk bisa bertemu Shera,
mana mungkin dia melepas Shera yang sudah di depannya
begitu saja?! Bisa-bisa Shera makin sulit ditemui. Alva
nggak mau mengambil risiko itu.
”Kita harus bicara.” Alva cuma bisa mengulang kalimat
yang sama.
Emosi Shera terlalu berlipat-lipat. Ibarat balon gas yang
terlalu banyak diisi, sudah saatnya meledak.
Setelah tiga hari kebingungan, panik, merasa bersalah,
dan nggak berani menghadapi Alva, sepertinya yang
paling tepat saat ini adalah... marah.
”Bicara? Jadi lo mau bicara? Ngomongin apa lagi sih,
Al?! Masih ada yang kurang jelas?! Apa yang terjadi di
Bali itu nggak bener! Lo bikin gue jadi cewek nggak be-
ner—cewek pengganggu hubungan orang! Dan lo... gue
benci cowok kayak lo! Udah punya calon istri, dan seben-
tar lagi menikah, masih sempet-sempetnya lo curi-curi
kesempatan di tengah merencanakan bulan madu lo sen-
diri! Bulan madu yang gue arrange! Yang gue siapin buat
lo dan calon istri lo dengan sepenuh hati. Lo bukan cuma
mengkhianati dia, tapi juga gue, tau? Gue nggak nyangka

1

pustaka-indo.blogspot.com
sikap kalem lo itu cuma topeng. Lo cuma cowok nyebelin
yang nggak setia!” Dengan berapi-api dan berderai air
mata Shera mengamuk habis-habisan.
Kenapa sih Alva harus menciumnya? Kenapa Alva
bikin semua jadi kacau? Kenapa Alva menjebol pertahanan
Shera dengan begitu gampang? Shera sudah cukup senang
menikmati sensasi deg-degan menjadi organizer bulan
madu Alva sambil harap-harap cemas apakah nantinya
Alva akan menikahi Keisha atau nggak. Tapi Shera sama
sekali nggak mau jadi orang ketiga! Mendingan dia jadi
jomblo daripada jadi orang ketiga.
Sebut Shera egois! Dia tahu persis kesalahan terbesarnya
adalah saat dia membalas ciuman Alva. Tapi itu semua
nggak akan pernah terjadi kalau Alva nggak memulai!
Buat Shera, mewujudkan bulan madu yang indah dan
romantis di Honeymoon Express seperti membagi mimpi-
nya ke setiap orang yang menjadi kliennya. Dan kalau
suatu saat menjalani bulan madu, Shera mau jadi pemeran
utama, pengantin wanita protagonis! Bukannya jadi tokoh
antagonis pengganggu yang dicium calon mempelai pria
di acara bulan madu pasangan lain!
Alva sudah merusak mimpi Shera. Semua keindahan
yang Shera ciptakan sedemikian rupa di Bali, seharusnya
dinikmati Keisha. Shera seharusnya menerima jabat erat
Keisha dengan senyum lebar saat mengucapkan terima
kasih. Bukannya—
”Ikut aku!” Tiba-tiba Alva kembali mempererat geng-
gamannya di pergelangan tangan Shera

1

pustaka-indo.blogspot.com
Shera tersentak. ”Ke mana?!”
”Ikut aku! Kalau kamu nggak mau dengar penjelasanku,
kamu harus ketemu Keisha! Kamu mau semuanya jelas,
kan?”
*

Nggak ada tatapan cemburu. Nggak ada jerit histeris apa-


lagi tamparan waktu Alva memperkenalkan Shera pada
Keisha dan menceritakan apa yang terjadi di Bali. Alva
bercerita blakblakan bahwa dia mencium Shera dan se-
karang Shera marah besar.
Dan Shera semakin marah setelah bertemu Keisha.
Oh, tolong dicatat, ternyata Keisha nggak di Jakarta,
tapi di Bandung!
Gila! Alva tadi main seret begitu aja dan membawa
Shera ke Bandung tanpa persiapan apa-apa. Dan yang ada
di depan mereka saat ini, bisa dibilang bukan benar-benar
Keisha.
”Kamu bener-bener jahat, Al! Kamu itu cowok paling
jahat yang pernah aku kenal! Tega banget kamu sama...
dia!” Shera menatap Keisha. Lebih tepatnya makam
Keisha, dengan nisan tertanggal sekitar satu setengah
bulan yang lalu.
Apalagi yang lebih kejam daripada pria yang meng-
khianati calon istrinya yang baru meninggal sebulan yang
lalu dengan dalih menyiapkan bulan madu paling indah.
Lalu, semua rencana bulan madu itu buat siapa kalau
Keisha sudah meninggal?

19

pustaka-indo.blogspot.com
Kepala Shera berdenyut pusing. Semua yang dia kerja-
kan akhir-akhir ini sebetulnya buat apa?
Kemarahan Shera berlipat ganda saat tersadar kemung-
kinan dia hanya dijadikan pelarian Alva! Atau, yang lebih
jahat lagi. Jangan-jangan ini semua cuma modus!
Shera menelan ludah getir. Tiba-tiba aja dia teringat
peringatan Yulia soal ini. Soal jangan coba-coba main
perasaan.
Memang Alva yang mencium Shera lebih dulu. Tapi
Alva jelas bukan tipe playboy maniak yang main sosor aja.
Alva pasti berani melakukan itu karena Shera terlihat
memberi kesempatan. Apalagi pria itu sekarang pasti
sangat butuh pelarian.
”Sher...” Alva mengulurkan tangan, ingin menyentuh
tangan Shera.
”Jangan! Kamu... bener-bener jahat...” ucap Shera lam-
bat-lambat sambil menatap Alva dengan tajam. ”Aku
permisi. Nanti akan aku suruh stafku urus tentang pemu-
tusan kontrak kerja sama dengan Honeymoon Express.
Jangan khawatir, aku yang akan bayar dendanya.”
”Shera, tunggu!”
Shera berbalik menatap Alva. ”Jangan berani-berani
kejar aku!”
*

TIIIINN!!! Sopir taksi yang akan mengantar Shera ke


stasiun membunyikan klakson panjang bersamaan dengan
bunyi rem yang berdecit karena diinjak tiba-tiba.

190

pustaka-indo.blogspot.com
Alva sudah gila! Memangnya dia mau mati? Ngapain
dia melompat tiba-tiba ke tengah jalan dan mengadang
taksi yang sedang berjalan?
”Sher, kita perlu bicara.” Masih berada di moncong
taksi, kali ini Alva berdiri tegak dengan sebelah tangan
memegang kap mesin taksi yang Shera tumpangi. Seolah-
olah memberi tanda bahwa dia nggak akan menyingkir.
”Gimana nih, Neng?” Pak sopir melirik Shera lewat
spion dengan kebingungan. ”Itu pacar ya, Neng?”
Dasar sopir taksi kepo. ”Bukan. Pak, jalan aja nggak
bisa?”
”Aduh, Neng, risiko ah. Kalau ketabrak kumaha?”
Sementara di depan sana tatapan Alva seperti menem-
bus kaca depan, tepat ke bola mata Shera. Lalu pria itu
mengulang kalimat ”Kita perlu bicara” tanpa suara.
Beberapa detik kemudian, Alva sudah berada di sam-
ping jendela Shera. Mengetuk-ngetuk kaca, meminta
Shera membuka jendela. ”Sher, tolong dong, buka dulu.
Kita betul-betul harus bicara. Banyak yang harus aku
jelasin.”
Shera balas menatap Alva lurus-lurus dari balik jendela.
Menimbang antara memerintahkan sopir taksi untuk
maju atau membukakan jendela dan memberi kesempatan
Alva bicara.
”Sher, aku ajak kamu ke sini untuk menjelaskan kesa-
lahpahaman ini, kan? Gimana bisa selesai kalau kamu
nggak biarin aku ngomong.” Suara Alva sayup-sayup.
Alva memang benar, Shera butuh penjelasan. Biarpun

191

pustaka-indo.blogspot.com
kenyataan tentang Keisha sebetulnya sudah bikin kadar
shock Shera di ujung batas. Dia nggak bisa membayangkan
penjelasan apa lagi yang bisa Alva kasih sekarang.
Setelah menarik dan membuang napas dua kali, Shera
membuka jendela. Perempuan itu nggak mengatakan apa-
apa. Cuma menatap Alva dengan tatapan kosong.
Tiga detik Alva terdiam.
”Mau ngomong apa?” tanya Shera akhirnya, sudah
nggak sabar. ”Buat aku, rasanya nggak ada lagi yang perlu
diomongin. Dan jangan salahin aku kalau apa pun yang
kamu omongin nggak akan mengubah keadaan.”
Kalimat tajam Shera bukan cuma membuat Alva meng-
hela napas, sekaligus membuat sopir taksi jadi salah ting-
kah—merasa akan terjebak pertengkaran domestik.
Alva berdeham pelan, lalu bicara dengan nada yang
nggak setenang biasanya. ”Sher, aku minta maaf soal
ciuman itu. Tapi aku minta maaf bukan karena aku me-
nyesal mencium kamu. Aku minta maaf karena mencium
kamu tiba-tiba di saat yang... mungkin nggak tepat. Aku
harus jujur, aku sama sekali nggak menyesal mencium
kamu.”
Seperti tersengat listrik Shera memekik tertahan. Dia
melongo. Sudah mencium orang sembarangan, tapi pria
ini nggak menyesal? Yah, oke, Shera memang sempat
membalas ciuman Alva. Tapi kan seharusnya nggak
begini kejadiannya.
Alva mengangkat telunjuk meminta Shera mendengar-
kan penjelasannya lagi. ”Ciuman itu bukan karena aku

192

pustaka-indo.blogspot.com
mencuri-curi kesempatan.... Ciuman itu karena perasa-
anku buat kamu, Sher. Sejak dulu, sejak masih di kampus,
bahkan mungkin sebelum Raymen naksir kamu. Dan
kemarin... aku gagal membendungnya.”
Kepala Shera makin berdenyut hebat. ”Terus, bagaima-
na dengan Keisha? Calon istri kamu itu baru meninggal
sebulan yang lalu, masa kamu udah nyosor perempuan
lain? Kamu serius sayang sama dia nggak sih? Dan satu
lagi ya, Al, aku nggak mau jadi pelarian kamu.”
”Aku memang nggak akan menikah sama Keisha.”
”Maksud kamu apa sih? Bukannya kamu berkali-kali
bilang, semua rencana honeymoon itu kamu siapkan demi
Keisha—demi bulan madu yang sempurna sama Keisha?
Tapi, ternyata Keisha juga sudah... nggak ada. Jangan-
jangan ini akal-akalan kamu doang ya, Al? Supaya aku
mau deket-deket sama kamu, simpati sama kamu, di saat
kamu butuh pelampiasan? Gitu? Seharusnya kan kamu
masih berduka! Dia baru sebulan lebih pergi, tapi kamu
malah—”
Alva menepuk punggung tangan Shera yang meng-
genggam tepian jendela mobil, meminta Shera untuk te-
nang. ”Boleh aku jelasin semuanya dulu?”
Alva mau ngomong apa pun, situasinya sudah telanjur
rumit dan ajaib.
”Keisha koma sekitar enam bulan, Sher. Dan dua bulan
sebelum dia koma, kami sudah memutuskan pertunangan
kami. Aku kenal Keisha mungkin sekitar dua setengah
tahun lalu, waktu mamaku dirawat di sana sebelum

193

pustaka-indo.blogspot.com
akhirnya meninggal karena sakitnya. Aku ketemu Keisha
nyaris setiap kali aku nungguin Mama di rumah sakit.
Karena dia juga pasien rumah sakit itu sejak umurnya
lima belas tahun. Kadang dalam setahun hidupnya lebih
banyak tinggal di rumah sakit daripada di rumah.”
Shera tertegun.
”Sejak kecil ada masalah dengan paru-paru Keisha.
Semakin lama semakin parah dan setahun lalu dia sudah
jadi penghuni tetap rumah sakit. Paru-parunya nggak bisa
lagi menoleransi udara yang berpolusi. Enam bulan yang
lalu, dia koma. Dia masih bernapas... tapi sebetulnya
Keisha... sudah nggak ada. Semua cuma karena alat-alat
itu. Yang menempel di badannya. Dokter sudah angkat
tangan.” Alva terdiam sejenak.
”Dua bulan sebelum koma, dia yang meminta kami
membatalkan pertunangan karena merasa hubungan kami
nggak punya masa depan. Waktu itu aku masih bertahan.
Tapi setelah tiga bulan Keisha koma, keluarga besar ikut
memutuskan bahwa aku harus melepas Keisha sebagai
calon istri dan melanjutkan hidupku.”
Shera menahan napas. Mata Alva yang menerawang,
suaranya yang dalam dan tenang, serta senyum samar
saat dia membicarakan Keisha tadi, jelas tanda bahwa
Keisha istimewa untuk Alva. ”Kamu beneran, sayang
sama dia?”
”Keisha itu gadis baik, sabar, tabah, dan pengertian.
Sangat mudah untuk sayang sama dia.”
”Kalau kamu sesayang itu sama dia, kenapa kamu bisa

194

pustaka-indo.blogspot.com
begitu aja mencium perempuan lain dalam waktu sebulan?
Itu karena kamu anggap aku pelarian, kan?”
”Bukan, Sher, bukan begitu. Aku kan sudah jelasin
semuanya tadi. Perasaanku buat Keisha dan buat kamu
itu dua hal berbeda. Nggak ada hubunganya—”
”Nggak ada hubungannya gimana?!” Shera menyela,
mendadak panik.
Sosok Alva di benaknya mendadak tercoreng. ”Apa
yang aku lihat udah cukup ya, Al. Sekali lagi aku tegasin,
aku bukan tempat pelampiasan. Aku rasa udah cukup aku
kasih kamu waktu buat jelasin. Dan aku semakin nggak
respect sama kamu!”
Alva mencoba menggenggam tangan Shera lagi, tapi
Shera langsung menepisnya dengan cepat. ”Sher, penjelas-
anku belum selesai. Kalau cuma segini yang kamu dengar,
kesalahpahaman ini nggak bakal selesai. Semua tuduhan
kamu itu nggak benar.”
Shera sama sekali nggak bisa berpikir jernih. Dia panik
karena merasa dibohongi. Dia sadar dia sudah main api
dan sekarang terbakar. Dia memang masih mencintai
Alva. Dan sekarang dia kecewa.
Jadi pelampiasan betul-betul menyakitkan.
”Aku nggak mau dengar apa-apa lagi, Al. Mendingan
kamu minggir atau aku nggak peduli kaki kamu digilas
ban taksi!”
Melihat ekspresi aneh Shera, entah kenapa Alva yakin
Shera nggak main-main. Alva memutuskan mundur. Dan
taksi itu melesat membawa Shera pergi.

195

pustaka-indo.blogspot.com
Alva mengepalkan tangan. Sudah telanjur. Dia sudah
telanjur mencium bibir Shera. Telanjur mengungkapkan
perasaannya. Dulu Alva gagal memberanikan diri untuk
mendapatkan Shera dan terpaksa menelan bulat-bulat
perasaannya. Kalau kali ini mereka tetap nggak bisa sama-
sama, Alva nggak mau Shera memandangnya sebagai pria
jahat dan nggak setia. Shera harus percaya bahwa perja-
lanan bulan madu yang selama ini dia rancang dengan
menggunakan jasa Honeymoon Express itu bukan sekadar
akal-akalan Alva. Itu semua memang untuk Keisha.

19

pustaka-indo.blogspot.com
Mungkin Bisa Dibilang
Patah Hati...

S ebetulnya kalau bisa, hari ini Shera pengin memilih


untuk nggak masuk kerja. Setelah semalam menangis
diam-diam sambil tidur rasanya seluruh bagian wajahnya
membengkak dua kali dari ukuran normal ketika bangun
pagi tadi.
Ternyata dia sesedih itu gara-gara Alva.
”Fer, kemarin saya minta kamu telepon Pak Alva untuk
membatalkan kerja sama. Udah kamu kerjakan?” tanya
Shera begitu sampai ke meja Ferdi.
Stafnya itu bukannya langsung menjawab, malah ter-
pana menatap Shera.

19

pustaka-indo.blogspot.com
”Saya sakit mata.” Shera menunjuk kacamata hitamnya
karena yakin itu penyebab Ferdi bengong. ”Sudah telepon
Pak Alva?” Shera mengulang pertanyaanya.
Ferdi gelagapan. ”E-eh, sudah, Bu. T-tapi—”
”Ke ruangan saya deh,” potong Shera. Entah kenapa
dia nggak mau membahas masalah Alva ini di depan pe-
gawai lain.
Ferdi mengangguk dan mengikuti langkah Shera ke
ruangannya.
Shera duduk di kursinya tanpa melepas kacamata.
”Tutup pintunya, Fer.”
Ferdi mengangguk lalu menutup pintu sebelum berjalan
ke arah Shera dan duduk di hadapan bosnya yang sering
panikan itu. ”Tapi apa tadi, Fer?”
”Itu Bu, tadi kan saya sudah hubungi Pak Alva, menje-
laskan soal... hmm... mengakhiri kerja sama. Tapi Bu,
Pak Alva menolak.”
Duduk Shera langsung tegak. ”Maksudnya menolak?
Saya kan udah bilang supaya kamu kasih tahu Pak Alva,
kita siap kalau memang harus kena penalti.”
”Tapi, Pak Alva pengin meneruskan kerja samanya,
Bu. Pak Alva mau meneruskan sampai paketnya selesai.
Begitu katanya, Bu.”
”Kamu sudah bilang itu keputusan saya untuk meng-
akhiri kerja sama?”
Kepala Ferdi mengangguk pelan. ”Sudah, Bu, tapi Pak
Alva bilang nanti dia mau ngomong langsung sama
Ibu.”

19

pustaka-indo.blogspot.com
Mata Shera membesar. ”Kamu udah bilang saya nggak
mau ketemu?”
Kali ini alis Ferdi berkerut kebingungan. ”Mm... me-
mangnya Ibu nyuruh saya ngomong gitu?”
Duh, sial, siaaal! rutuk Shera dalam hati. Tingkah panik
Shera pasti sekarang sukses bikin Ferdi curiga kalau
alasan pemutusan kerja sama ini bukan alasan profesional.
”E-eh, ya, maksudnya kan kamu bisa bilang saya nggak
mau ketemu.” Shera gelagapan.
Alis Ferdi masih berkerut bingung. Di kepalanya ter-
lintas bayangan bosnya yang selalu ngomel-ngomel kalau
stafnya berani-berani mengambil keputusan sendiri tanpa
diskusi di saat ada masalah. Itu sebabnya Ferdi nggak
mungkin sok tahu bilang Shera nggak mau ketemu klien
kalau bukan atas perintah langsung. Lagian, nggak mau
bertemu rasanya sangat nggak profesional. Biasanya. sepe-
lik apa pun masalahnya, bosnya itu selalu siap mengha-
dapi langsung. Ferdi malah sering salut pada Shera karena
kalau lagi panik atau kepepet, bosnya itu malah semakin
kreatif. ”Ibu, ada masalah sama Pak Alva ya?” tanya Ferdi
takut-takut. ”Maksud saya bukan masalah... mm, peker-
jaan?”
Melihat mata Shera yang melebar Ferdi merasa perta-
nyaannya terlalu lancang.
”Maaf, Bu...” tambah Ferdi, buru-buru. ”Tapi kalau Ibu
butuh bantuan saya untuk bicara lagi sama Pak Alva,
saya—”
”Ya sudah, kamu keluar aja deh, Fer, lanjutin kerja.
Nanti aja diomongin lagi.”

199

pustaka-indo.blogspot.com
”Baik, Bu. Permisi.”
”Eh, Ferdi...” panggil Shera sebelum Ferdi menyentuh
gagang pintu.
”Ya, Bu?”
”Pak Alva bilang sama kamu kapan dia mau ngomong
langsung?”
Ferdi menggeleng. ”Nggak, Bu. Apa Ibu mau saya
ta—”
”Nggak, nggak usah. Ya sudah.”
Ferdi mengangguk pelan lalu keluar ruangan. Bosnya
aneh banget hari ini.
”Duuhhh...” Shera menepuk-nepuk dahinya frustrasi.
Gimana nih kalau tiba-tiba Alva nongol dan minta
ketemu? Sumpah, Shera sama sekali nggak siap bertatap
muka dengan Alva.
”Aaahhh!!!” Shera mengacak-ngacak rambutnya sen-
diri.
Menyebalkan! Apa nggak bisa dia punya kisah cinta
yang manis dan lancar-lancar aja?
Kayaknya hari ini otaknya nggak mungkin bisa diajak
kerja. Dia harus menenangkan diri. Minum smoothies,
makan cake, atau apa pun lah! Asal jangan mikir.
Shera melirik jam tangannya. Ngopi di hotelnya Yulia
sepertinya ide yang bagus.

Ferdi meringis menyambut Shera begitu membuka pin-


tu ruangannya. Dari posisi sebelah tangannya yang

200

pustaka-indo.blogspot.com
mengambang, Shera menerka Ferdi berniat mengetuk
pintu tapi Shera keburu membuka pintu. ”Eh, Fer, kalau
ada apa-kamu handle dulu ya. Saya mau keluar seben-
tar....”
”Eh… tapi, Bu... ada tamu buat Ibu....”
”Duh, kamu dulu deh ya yang tanganin, Fer. Tamu
dari mana sih?”
Ferdi meringis lagi.
”Hai, Sher, aku yang mau ketemu kamu.”
Sekujur tubuh Shera mendadak beku. Alva tiba-tiba
sudah berdiri di belakang Ferdi. Posisi ruang tunggu tamu
dan pintu ruangan Shera cuma dibatasi pot-pot tanaman
hias yang lumayan besar. Cukup mudah buat Alva duduk
di sana tanpa terlihat, dan tiba-tiba muncul tanpa mem-
beri waktu Shera untuk menghindar.
Saat itu juga di dalam kepala Shera langsung membuat
catatan untuk memindahkan pot-pot penghalang. Dia
harus bisa mengintip langsung ke ruang tunggu tamu dari
dalam ruangan untuk mendeteksi kehadiran tamu-tamu
tak diinginkan.
Alva tersenyum sewajar mungkin sambil menatap
Shera. ”Bisa kan, Sher? Mau ngobrolin soal kelanjutan
kerja sama kita.”
Lalu semua mata di ruang kantor Honeymoon Express
yang minimalis dan nggak terlalu besar itu menatap ke
arah Shera dengan penasaran. Ada yang yang pura-pura
berdiri sambil menelepon, ada yang berlagak sibuk baca
brosur, ada yang terlalu lama berdiri di depan mesin foto-

201

pustaka-indo.blogspot.com
kopi, tapi yang pasti mata dan telinga mereka semua siap
menguping.
Shera menebak mulut ember Ferdi pasti berkoar tadi
pagi.
Permintaan Shera untuk membatalkan kerja sama
dengan klien memang sangat di luar kebiasaan itu. Selama
ini, serumit apa pun permintaan klien, asalkan masih
sesuai dengan kapasitas Honeymoon Express, Shera akan
berusaha mengerjakan sebaik mungkin. Kalau Shera meno-
lak bertemu, kemungkinan besar Alva akan memaksa.
Tetapi, Shera nggak mau memuaskan staf-stafnya yang
tampak haus gosip itu.
”Aku ada perlu ke luar kantor. Bisa ikut?”
Nggak perlu ditanya dua kali, Alva mengangguk.

202

pustaka-indo.blogspot.com
Kejujuran itu Manis,
Tapi Pahit


A ku nggak bisa lama-lama ngobrol sama kamu di sini.
Masih ada keperluan lain,” kata Shera berbohong begitu
mereka duduk berhadapan di sofa empuk coffee shop hotel
tempat Yulia bekerja. Mereka sampai di sini naik kenda-
raan masing-masing. Shera menolak waktu diajak berang-
kat naik mobil Alva. No ­ay!

SHERA: Yul, gue d coffee shop. Ada Alva. Gue ngo-


mong sm dia dulu. Lo turun 15 menit lagi ya.

Shera menekan tombol Send.


Lima belas menit cukuplah untuk ngobrol singkat sama
Alva. Sekarang Shera benar-benar hanya mau fokus

203

pustaka-indo.blogspot.com
membicarakan soal pemutusan kerja sama. Soal yang
lain-lain, Shera nggak mau bahas. Kalau memang percuma
menugaskan Ferdi kemarin, hari ini akan Shera hadapi
sendiri sampai urusan soal proyek bulan madu Alva beres.
Shera nggak mau lagi mengerjakan bulan madu bohong-
bohongan ini. Itu sama saja dengan penghinaan kesakralan
bulan madu—dan pada profesi Shera. Dan yang paling
menyedihkan, pelakunya adalah pria yang Shera ka-
gumi.
”Kamu buru-buru ya? Kalau memang hari ini waktunya
sempit aku nggak masalah kok kita jadwalin ulang. Besok
atau—”
”Nggak. Nggak besok-besok. Hari ini aja. Pokoknya
aku ada urusan. Besok-besok juga pasti ada urusan. Lagi-
an, rasanya apa yang disampaikan Ferdi udah cukup jelas,
kan? Sekarang kita tuntasin aja. Aku akan kembaliin sisa
uang kamu yang belum terpakai plus denda karena aku
terhitung lalai. Kalau kamu keberatan sama nominalnya,
kamu bisa—”
”Jalan kaki sambil gandengan di Tembok Cina.”
”Hah?” Kenapa tiba-tiba Alva ngomongin Tembok
Cina? Aneh.
Ekspresi Alva nggak berubah, padahal dahi Shera sudah
berkerut-kerut. ”Tembok Cina apaan? Aku nggak lagi
mood bercanda ya, Al. Ini serius. Jadi aku lanjutin. Misal-
nya kamu ada ketidakpuasan silakan kamu bikin—”
”Pesta kembang api kayak tahun baru di Ancol.”
Shera menegakkan duduknya. Kali ini mulutnya terka-

204

pustaka-indo.blogspot.com
tup rapat. Dia nggak yakin apa maksud celetukan-cele-
tukan Alva barusan.
Tapi... sepertinya dia tahu.
Mata Alva lurus menatap Shera, lalu bicara lagi, kali
ini dengan tenang. ”Aku masih ingat waktu mergokin
kamu lagi bro­sing lihat-lihat foto Tembok Cina di base
camp klub budaya. Kamu bilang, gara-gara habis nonton
ilm Mandarin yang ada adegan romantis di sana, kamu
jadi pengin gandengan sama pacarmu di Tembok Cina.
Kayak di ilm itu. Hasil bro­sing itu kamu tempel di
album kliping Honeymoon kamu. Buku itu masih
ada?”
Astaga, Alva masih ingat. Jangankan album itu, bahkan
sketsa kapal kertas yang Alva buat masih menempel
manis di halaman Venice.
Bibir Shera bergerak-gerak gusar. Nggak tahu harus be-
reaksi apa. Hampir semua teman-teman SMA dan kuliah
Shera memang tahu dia terobsesi pada hal-hal romantis,
terutama bulan madu. Tapi nggak banyak yang tahu Shera
sampai punya buku kliping dan berkhayal punya biro
perjalanan khusus bulan madu. Alva salah satu yang tahu,
tapi Shera nggak pernah menyangka dia akan ingat.
”Soal pesta kembang api, kamu juga pasti ingat, kan?
Itu gara-gara kamu kebanyakan nonton Meteor Garden.
Kamu bilang, kalau di opening serial Meteor Garden itu,
tokohnya duduk di bukit lalu ada hujan meteor. Kamu
bilang kamu akan mewujudkannya dengan versi kamu.
Duduk di atas bukit, berdua sama orang yang disayang

205

pustaka-indo.blogspot.com
lalu bikin pesta kembang api pribadi yang meriah kayak
tahun baru di Ancol—karena bakal lama kalau nungguin
hujan meteor sungguhan, dan belum tentu ada.”
Shera makin gelagapan. Dia shock.
Kok bisa sih Alva ingat semua itu? Seingat Shera se-
mua itu cuma obrolan santai sekilas dan Alva lebih ba-
nyak diam sambil tersenyum maklum setiap kali Shera
mengoceh.
Shera tercekat. Dia tiba-tiba tersadar dirinya bahkan
masih mengingat motif dan warna tiga kemeja kotak-
kotak favorit Alva dulu. Dia ingat, Alva nggak suka
seledri, tapi cowok itu nggak pernah protes kalau tukang
bakso di kantin kelupaan memasukkan seledri.
Beda dengan Shera yang nggak suka bawang goreng.
Kalau si tukang bakso lupa pesanannya, Shera bakal bela-
belain nyamperin tukang bakso lalu protes.
”Eh, Mang Tarman sama Teh Etty, penjual soto depan
kampus itu jadi kamu berangkatin bulan madu? Waktu
itu kamu bilang, kalau suatu hari punya biro perjalanan
bulan madu, kamu bakal kasih bulan madu gratis buat
mereka, karena menurut kamu mereka pasangan paling
romantis seantero kampus. ”
Mata Shera nyaris melompat ke luar.
Alva juga ingat itu?! Shera bahkan lupa dia pernah
ngomong begitu.
Dada Shera berdesir pelan. Hangat. Rasanya mendadak
ada perasaan senang yang menggelitik. Ternyata dulu
Alva memperhatikannya sedetail itu.

20

pustaka-indo.blogspot.com
Astaga, apa-apaan sih! Kenapa Shera jadi terbawa sua-
sana lagi?
”Stop, Al! Kenapa jadi ngomongin aku sih? Tolong
fokus. Aku mau menyelesaikan soal kontrak kerja sama
kita, bukan ngobrol ngalor-ngidul. Aku cuma punya
waktu lima belas menit. Dihitung dari kita sampai di sini
tadi.” Shera makin panik.
”Sher, apa nggak bisa kita lurusin masalah aku sama
kamu dulu baru ngomongin kerjaan?”
Emosi Shera berantakan.
”Oke, urusan kita. Terus apa hubungan urusan kita
sama tembok Cina, pesta kembang api pribadi, dan bulan
madu gratis buat Mang Tarman dan Teh Etty?” Suara
Shera mulai bergetar.
”Supaya kamu nggak menuduh aku jadiin kamu
pelarian, Sher. Kamu bukan pelarian. Perasaanku ke kamu
sudah ada sejak dulu, sejak kita kuliah. Aku selalu menik-
mati setiap mendapat kesempatan bisa sama-sama kamu
di kegiatan kampus, biarpun aku cuma bisa jadi pengecut
yang diam-diam mengagumi kamu. Biarpun aku cuma
bisa menikmati mata kamu yang ceria setiap kamu asyik
cerita. Aku mengagumi semua tentang kamu. Makanya
aku nggak pernah lupa detail sekecil apa pun. Sama
seperti perasaanku yang ternyata nggak pernah hilang.”
Ini semakin nggak bisa dikendalikan. Kalau dibiarkan,
bisa-bisa Shera nggak kuat lagi membendung perasaan.
Kejujuran Alva begitu manis. Ternyata Alva memendam
perasaan yang sama besar. Tapi kejujuran ini juga pahit.

20

pustaka-indo.blogspot.com
Seharusnya nggak seperti ini. Nggak boleh! Alva seha-
rusnya nggak berbohong soal Keisha. Sekali lagi Shera
harus mengakui omongan Yulia benar.
Shera nggak boleh terjerumus lebih jauh.
Eldi. Shera nggak boleh melupakan Eldi. Dia kan
sedang dekat dengan Eldi. Memang sih mereka belum
resmi pacaran, tapi kan mereka sudah ada pendekatan
pasti ke arah sana. Bertahap.
”Sher, apa kamu nggak mau kasih kesempatan buat
kita? Tujuh tahun kita simpan. Mungkin aja sekarang
waktunya untuk kita? Aku sudah lebih dewasa. Nggak
sepengecut dulu. Sekarang aku berani ngomong sama
kamu.”
Shera menatap Alva tajam. Dia bilang apa tadi?
Kepala Shera berdengung. ”Udah gila kamu, Al. Emang-
nya kamu pikir semudah itu meyakinkan aku? Kamu
tetap aja jahat, Al. Jahat sama almarhumah Keisha. Dan
kalau kamu ngotot aku bukan pelarian, berarti kamu itu
pria yang nggak setia! Baru ditinggal, sudah nyatain cinta
sama perempuan lain. Aku kan juga lagi dekat sama Eldi.
Paling nggak Eldi masih hidup!”
”Kamu kan nggak jadian sama Eldi. Dan satu lagi,
kamu bukan sekadar perempuan lain. Kamu perempuan
yang selalu ada di hatiku.”
Alasan, alasan, alasan... pasti Alva sudah menyiapkan
berbagai macam alasan sebagai pembenaran. Dasar egois!
Memangnya dia pikir dengan mengumbar semua alasan
itu lalu kekecewaan Shera hilang begitu aja?

20

pustaka-indo.blogspot.com
Shera bangkit dari sofa sampai dengkulnya menghajar
ujung meja dan menumpahkan iced lemon tea-nya yang
masih penuh. ”Cukup, Al! Aku males denger alasan-
alasan lagi. Obrolan kita selesai hari ini. Titik! Begitu
juga hubungan kita yang lain-lain! Permisi!”
”Sher!” Sebelum Alva sempat menangkap pergelangan
tangan Shera, tangannya keburu ditepis kasar oleh She-
ra.
Lalu Shera berjalan cepat dengan terpincang-pincang
karena lututnya nyut-nyutan setelah menghantam meja,
tapi Shera nggak peduli. Dia harus cepat-cepat keluar dari
situ.
”Eh, Shera? Nggak jadi nongkrong di coffee shop?” Yulia
yang baru keluar dari lift terkaget-kaget karena nyaris
ditubruk Shera. ”Mau ke mana sih, Sher? Ya ampun, lo
nangis? Kenapa?” Yulia cuma bisa menjerit-jerit heboh
karena Shera sama sekali nggak berhenti. Yulia baru saja
berniat mencopot sepatu karena kakinya yang baru
sembuh dari retak belum bisa diajak lari pakai sepatu.
Tiba-tiba Alva yang tergopoh-gopoh muncul di situ
dan hampir menyundul Yulia. ”E-eh, Alva!”
”Yul... lihat Shera nggak? Shera lewat sini?”
Yulia mengernyit. ”Iya, barusan. Gue panggil-panggil
tapi dicuekin. Dia malah lari ke luar. Emang ke—”
”Thanks!” Tanpa membiarkan Yulia menyelesaikan
kalimatnya Alva melesat meninggalkannya.
”Pada kenapa sih?!” gerutu Yulia, bingung. Dia batal
mencopot sepatunya.

209

pustaka-indo.blogspot.com
Dengan napas terengah-engah Alva sampai ke luar
pintu lobi. Tapi terlambat. Mobil Shera sudah berdecit
pergi meninggalkan pelataran parkir.

”Jadi kamu memutuskan untuk membatalkan kerja sama


Honeymonn Express sama teman kamu itu, Sher?”
Shera menusuk potongan wafle dengan tenaga eksta.
Mengangguk atas pertanyaan Eldi. ”Ya iyalah, El, gue
ngerasa dibohongin banget. Pantesan dia nggak pernah
jawab kalau gue tanya soal kapan pernikahannya.” Selu-
ruh otot di wajah Shera menegang kesal.
Seharusnya Shera bertemu Eldi sambil makan malam,
tapi setelah kehebohan dengan Alva di coffee shop, emosi
Shera langsung meledak-ledak, butuh pelampiasan.
Saat ini dia belum pengin curhat ke Yulia karena biasa-
nya dia bakal nangis-nangis ala curhat sesama sahabat
cewek. Shera lebih pengin ngomel tanpa perlu bercerita
detail. Cuma perlu meredakan emosi.
”Betul-betul cuma karena alasan itu, Sher?” Mata Eldi
yang lincah dan selalu berkilat penuh ambisi, mencari-cari
mata Shera.
Shera menelan ludah. Terdiam sepersekian detik. ”I-iya
lah, El, cuma karena itu. Mmm... emangnya kenapa? Itu
kan sama aja penghinaan terhadap profesiku. Merendahkan
bidang yang aku cintai, merendahkan karyaku untuk ran-
cangan bulan madu sempurna yang dia minta. Bayangin,

210

pustaka-indo.blogspot.com
El, itu kan berarti semua yang aku lakuin jadi sia-sia.
Bikin bulan madu untuk orang yang nggak akan berbulan
madu. Tega banget dia! Aku udah mati-matian ngerjain-
nya. Aku tanganin semuanya sendiri. Itu semua karena
aku kagum banget sama tujuan dia melakukan perjalanan
survei—yang ternyata bohongan dan nggak jelas buat
apa!” Dengan lancar Shera berhasil menyortir cerita-
nya.
Bagian ciuman dan pernyataan cinta Alva dilarang ke-
ras sampai bocor ke telinga Eldi. Bisa berantakan progres
PDKT mereka tiga bulan ini. Eldi pasti langsung ilfeel
atau langsung kabur meninggalkan Shera.
Lesung pipi Eldi terlihat jelas waktu pria itu tersenyum
lebar. Telapak tangannya yang ramping menepuk-nepuk
punggung tangan Shera. ”Iya, ngerti kok, Sher. Sampai
berapi-api begitu. Aku paham perasaan kamu. Kalau jadi
kamu, reaksiku mungkin akan sama. Apalagi, buat kamu,
setiap proyek bulan madu yang kamu kerjakan semua
spesial, ya kan?”
Hati Shera sedikit tenang. Napasnya pelan-pelan mulai
normal.
Senyuman Eldi memang maut. Manis dan mengundang
untuk dicium—itu istilah Shera untuk senyum Eldi yang
selalu bikin Yulia meringis malas.
”Thanks ya, El, kamu mau dengerin aku. Lumayan,
agak plong sekarang. Makasih juga sudah ngertiin dan
nggak nge-judge aku karena keputusanku memutus kerja
sama sepihak.”

211

pustaka-indo.blogspot.com
Eldi tertawa halus. Terdengar ringan dan merdu di
telinga. Eldi ini memang termasuk golongan ”magnet
para cewek”. Bukan dalam arti dia terlalu ganteng bagai
cowok-cowok Korea yang bolak-balik operasi plastik.
Wajah Eldi manis, dan itu didukung sifatnya yang easy
going dan selalu bisa bikin orang cepat akrab dan nyaman
di dekatnya. Pembawaannya mendukung banget untuk
bikin dia sukses jadi marketing. Ibaratnya, Eldi dagang
apa pun pasti laku. Semua pasti mau beli kalau Eldi yang
menawarkan.
”Ngapain aku nge-judge kamu, Sher. Masing-masing
orang kan punya prinsip dan passion masing-masing.
Nggak ada yang salah kok. Yah selama kamu juga nggak
masalah untuk ngembaliin sisa deposit dia atau dendanya.
Tadi kamu bilang dia masih pengin nerusin, kan?”
”Nggak masalah. Daripada aku harus nerusin proyek
yang makan hati dan melanggar prinsipku.”
Eldi mengangguk-angguk dengan maklum. ”Yang
penting kamu tenang, nyaman, ikutin aja kata hati kamu,
Sher,” katanya, ditutup senyum mautnya lagi.
Shera balas tersenyum. Keputusannya menemui Eldi
memang tepat. Setelah dipikir-pikir kayaknya Shera me-
milih untuk menumpahkan kekesalannya pada Eldi ka-
rena dia butuh semacam penyemangat. Sekaligus meng-
ingatkan diri sendiri bahwa dia punya kehidupan pribadi
yang menyenangkan.
Seharusnya masalah antara dia dan Alva nggak perlu
berlarut-larut, kan? Cukup menggetok diri sendiri supaya
sadar bahwa ini gara-gara kebodohannya sendiri.

212

pustaka-indo.blogspot.com
Shera cuma perlu mengembalikan semuanya ke jalur
yang benar. Berpikir jernih. Ya kan? Semudah itu, kan?
”Jadi... sekarang kita masih mau bahas materi meeting
nggak nih? Kalau perasaan kamu masih nggak enak, dan
belum bisa mikirin kerjaan, meeting-nya kita reschedule aja
dulu aja, Sher. Hari ini kita lanjutin makan cake aja gi-
mana, atau mau nambah wafle? Yang penting kamu rileks
dulu deh.”
”Nggak usah, El. Kita lanjut meeting aja. Aku masih
bisa fokus kok. Ngomelnya kan tadi udah. Makasih ya,
El.”
Sisa meeting mereka berjalan lancar. Shera mendengarkan
Eldi dengan serius, seserius dia diam-diam mengamati
wajah manis Eldi yang penuh semangat menjelaskan pa-
ket kerja sama baru yang mungkin mereka jalankan. Ten-
tunya diiringi pertanyaan yang hilir-mudik di kepala
Shera.
Kenapa Eldi belum juga nembak dia? Sepertinya mere-
ka sudah cukup dekat untuk meresmikan proses PDKT
ini jadi sepasang kekasih.

213

pustaka-indo.blogspot.com
Jadi ternyata Eldi itu...

S hera memijat-mijat kening mendengar laporan stafnya


di meeting hari ini. Rasanya kok dua bulan belakangan ini
jadi banyak masalah ya? Setelah sebelumnya tiga klien
yang nilai nominal deal-nya lumayan besar batal memakai
jasa Honeymoon Express, sekarang kejadian lagi.
Tiga klien yang Shera sebut tadi tidak termasuk Alva.
Karena kasus Alva beda.
Risma, staf marketing yang menangani klien itu, barusan
melaporkan soal keputusan calon klien mereka dan ter-
diam cemas.
”Kok bisa sih mereka batal pakai jasa kita, Ris?”
Risma menggeleng. ”Nggak tahu juga, Bu. Mereka bi-
lang batal begitu aja. Saya juga nggak bisa apa-apa karena
mereka belum menandatangani apa pun.”

214

pustaka-indo.blogspot.com
Shera menggeleng-geleng. ”Bukan itu masalahnya,
Risma—dan yang lain juga tolong diperhatikan. Yang jadi
pikiran saya, kok bisa tiga klien batal memakai jasa kita
dalam dua bulan terakhir. Apa masalahnya? Apa ada yang
salah dengan service kita?” Shera kembali menatap
Risma.
”Mudah-mudahan sih nggak ada yang salah dengan
service kita, Bu. Kita nggak pernah dapat komplain soal
service kok, Bu. Tapi—”
”Tapi apa?” kejar Shera, mendengar kata tapi yang
menggantung di ujung kalimat Risma.
Risma tampak ragu-ragu. ”Tapi kalau saya nggak salah
tangkap, mereka secara nggak langsung bilang dapat harga
yang lebih bagus.”
”Lebih murah? Jauh?”
Risma kelihatan semakin ragu, tapi semua mata di ruang
meeting mereka yang minimalis itu menatap ke arahnya.
Penasaran. ”Ya... saya juga kurang tahu, Bu. Itu hanya
sekilas dan nggak sengaja. Tapi itu yang saya tangkap.
Tapi kalau mereka sampai batal pakai jasa kita lalu pindah
ke yang itu ya... kemungkinan jauh ya, Bu.”
”Kamu sudah kasih penawaran yang bagus, Ris?”
Risma mengangguk. ”Sudah, Bu. Begitu mereka
kelihatan mulai ragu, saya sudah kasih budget terendah
kita untuk paket yang mereka mau tanpa mengubah apa
pun.”
Biarpun rasanya nggak terima, Shera harus menelan
ludah pahit. Selama ini dia merasa penawaran di Honey-

215

pustaka-indo.blogspot.com
moon Express sudah sangat masuk akal dan leksibel.
Honeymoon Express memang bisnis yang Shera jalankan
dengan serius, tapi Shera juga nggak melupakan kecinta-
anya terhadap bulan madu dan hal-hal romantis. Makanya
Shera nggak mengambil keuntungan yang terlalu
berlebihan. Dia pengin kliennya menikmati bulan madu
dengan harga terbaik. Hati happy, dompet juga happy.
Oke, Shera nggak bisa bilang dia memiliki penawaran
yang paling murah juga. Setiap ide punya harga. Di situ
masalahnya. Tiga klien yang batal ini sudah sampai pada
tahap konsultasi dan brainstorming soal konsep dan paket
yang akan diambil. Shera sudah sempat menyebutkan
ide-idenya dan menyarankan banyak hal. Bahkan konsep
yang Shera ajukan sudah jadi secara utuh.
Shera tercenung. Apa memang harga Honeyoon Ex-
press mulai kurang bersaing? Tapi masa sih sampai klien
membatalkan setelah proses akhir dan tinggal jalan aja?
Kehilangan tiga klien memang nggak membuat Honey-
moon Express jadi mendadak bangkrut atau merugi. Tapi,
ini kan harus dievaluasi. Bagaimana kalau kejadian lagi?
Bagaimana kalau semakin banyak klien yang kabur?
Urat-urat di kepala Shera berdenyut. Jemarinya kem-
bali menekan-nekan dahi karena mendadak migrain.
Shera menatap seisi ruangan dengan serius. ”Masalah ini
harus kita tanggapi secara khusus. Kita evaluasi, dan telu-
suri kemungkinan-kemungkinan penyebabnya. Kita
nggak mau kan Honeymoon Express lama-lama kehi-
langan semua klien? Kita belum sampai puncak. Jangan

21

pustaka-indo.blogspot.com
sampai terjun bebas.” Shera mengedarkan pandangan
menatap tim-nya satu per satu.
Setelah beres meeting, Shera menelan obat sakit kepala
dan tidur di ruangannya. Sepertinya dia harus mengatur
janji lagi dengan Eldi. Alasan apa kek, yang penting bisa
ngobrol.

Alva melirik arloji. Ada apa ya Eldi tiba-tiba SMS minta


ketemu? Apa masalah Shera?
Alva mengetuk-ngetukkan jari gelisah. Espresso-nya
tinggal setengah. Sebetulnya mereka janjian di coffee shop
ini lima menit lagi, tapi berhubung Alva ada pertemuan
dengan klien di luar kantor dan selesai lebih cepat, dia
tiba di sana lebih awal. Saat jam makan siang begini se-
pertinya hampir mustahil ada mal yang kosong, bahkan
coffee shop pun penuh. Untung Alva masih dapat tem-
pat.
”Sudah lama, bro?”
Satu tepukan di punggung Alva membuat acara meng-
amati orang hilir-mudik terhenti.
Eldi menyalami Alva dan langsung duduk di hadap-
annya. ”Apa kabar nih?”
Alva menegakkan duduknya yang tadi mulai melorot.
”Baik, gue baik. Lo sendiri apa kabar?”
Eldi merapikan rambutnya sambil tersenyum lebar,
menunjukkan lesung pipi dan giginya yang juga rapi. Dia

21

pustaka-indo.blogspot.com
memang good looking dan percaya diri. Pantas saja Shera
kepincut dan bersabar biarpun belum diberi kepastian soal
status hubungan mereka. ”Gue juga baik. Dancing ­ith
the rhythm of life lah. Menggali berlian lebih dalam.” Lalu
dia tertawa santai. Sepertinya termasuk tipe tawa pemikat
wanita.
”Sudah pesan minum?” tanya Alva basa-basi. Dia baru
bertemu Eldi dua kali, itu pun sekilas. Bisa dibilang mere-
ka memang nggak akrab, tapi sepertinya itu bukan ma-
salah buat Eldi. Dia sama sekali nggak terlihat cang-
gung.
”Sudah. Tadi pas masuk gue mampir ke kasir. Langsung
pesan.”
”Sip.” Cuma itu yang bisa keluar dari mulut Alva.
Sejak dulu dia memang bukan tipe orang yang gampang
akrab dengan orang baru. Bukan karena sombong, lebih
karena dia canggung dan sering kurang percaya diri. Salah
satu penyesalannya jelas waktu dia mendengar Shera
mengaku bahwa dulu dia juga menyukai Alva. Kalau saja
waktu itu Alva nggak terlalu pengecut, mungkin Shera
nggak akan pacaran sama Raymen.
Eldi menggulung lengan kemejanya. Menatap Alva
dengan percaya diri. ”Denger-denger Shera batalin kerja
sama kalian ya?”
Alva nyaris terbatuk mendengar pertanyaan Eldi yang
tanpa basa-basi.
Tapi Eldi tertawa santai. ”Ya ampun, bro, sampe kaget
banget gitu. Santai aja, Shera yang cerita ke gue. Gue

21

pustaka-indo.blogspot.com
nggak bakal kasih tahu Shera kok kalau gue kasih tahu
lo soal dia cerita ke gue. Asal lo juga jangan cerita kalau
kita ketemuan. Rahasia antarcowok aja.”
Mendadak Alva speechless. Shera cerita apa aja? Soal
mereka berciuman? Alva menyatakan cinta? Tapi kenapa
Eldi tampak santai-santai saja? Apa jangan-jangan seben-
tar lagi pria ini bakal membogem mentah Alva di depan
gerombolan ABG berisik yang baru masuk dan seluruh
pengunjung coffee shop?! ”Shera?”
”Iya... Shera bilang lo bohong sama dia dan dia kecewa
banget. Apa bener calon istri lo sudah meninggal?”
Alva menahan semua yang nyaris keluar dari mulutnya
lalu mengangguk.
Eldi balas mengangguk-angguk. ”Wah, speechless gue,
bro. Tapi intinya dia kecewa karena ngerasa selama ini
yang dia kerjain buat lo itu bener-bener maksimal dan
akan jadi bulan madu sungguhan yang bakal lo jalanin
sama istri lo. Lo tahu sendiri kan, buat Shera apa yang
dia kerjakan di Honeymoon Express itu bukan sekadar
bisnis. Ini obsesi dia—karya seni. Makanya dia kecewa
berat karena merasa lo bohongin. Memang sih alasan dia
membatalkan kerja sama itu nggak profesional, tapi ya
itu lah Shera.”
Alis Alva mengeryit. ”Itu yang Shera ceritain ke
elo?”
Eldi mengangguk sambil melonggarkan dasinya. ”Iya.
Emangnya kenapa? Ada hal lain juga yang bikin dia
marah?”

219

pustaka-indo.blogspot.com
Alva releks menggeleng. ”Nggak, nggak, nggak ada.
Mm… begini, sori, tapi… sebetulnya lo ngajak gue ketemu
ada apa ya, El? Jadi agak bingung nih gue, kok malah
ngomongin soal gue dan Honeymoon Express.”
”Ya karena itu ada hubungannya,” jawab Eldi santai.
Rasanya Alva semakin bingung. ”Maksudnya gimana
ya?”
Eldi menepukkan tangannya satu kali. ”Gini, bro, gue
denger dari Shera kalau lo sebetulnya masih pengin
nerusin paket bulan madunya, kan?”
Dengan wajah masih bingung Alva mengangguk. ”Iya,
tapi—”
”Nah!” Eldi menepuk tangannya lagi sambil memotong
omongan Alva. ”Gue ada penawaran bagus buat lo nih.
Gimana kalau lo kasih proyek sisanya itu ke gue? Soal
konsepnya pasti lo sudah pernah ngobrol sama Shera,
kan? Lo kasih tahu aja ke gue, nanti gue kerjain.”
Kali ini Alva betul-betul melongo. ”A-apa? Gimana,
gimana?”
”Aduuhh, lo kok jadi kayak orang bingung gitu sih?
Gini, bro, Shera kan nggak mau ngerjain proyek lo lagi,
nah, biar gue yang kerjain. Masih ada sisa paket yang
belum dijalanin, kan? Shera kan bakal kembaliin tuh sisa
deposit lo. Lo kasih deh proyeknya ke gue, harga gue jauh
di bawah Shera. Lo dapet berapa dari Shera, dijamin gue
di bawahnya. Soalnya kan untuk perjalanan dia juga kerja
sama sama kantor gue. Nah, gue kasih lo harga yang di
bawah basic. Soalnya, gue juga nggak ambil dari kantor.

220

pustaka-indo.blogspot.com
Gue kan punya channel langsung ke orang dalam pener-
bangan dan hotel. Jadi bakal jauhhh di bawah, asli! Gue
juga maen di belakang kantor gue.”
Karena kaget, perlu beberapa saat buat Alva mencerna
apa yang sedang terjadi sekarang. ”Tunggu, tunggu. Shera
emang berencana mau mutusin kerja sama, tapi kan be-
lum. Pembicaraan kami belum inal. Jadi posisi gue masih
sebagai klien Shera. Kalau dia tahu kan nggak enak dong?
Apalagi kalian berdua kan... dekat.”
Eldi mengacak rambutnya pelan sambil menggeleng,
seolah-olah menertawakan ucapan Alva. ”Yaaah, bro,
emang sih gue sama Shera deket, tapi kan—” Lalu ponsel
Eldi berbunyi. ”Sebentar.” Eldi mengangkat sebelah
tangannya, meminta Alva menunggu.
Alva hanya mengangkat bahu.
”Halo, baby? Iya, aku udah di sini. Jadi dong.... Kamu
ot­, kan? Oke… see you, baby.”
Tak ada hal lain yang bisa Alva lakukan selain bengong
setelah menyaksikan percakapan tadi. Yang menelepon
tadi jelas perempuan, kecuali kalau Eldi ini gay. Dan yang
menelepon tadi Alva yakin bukan Shera. Sepertinya
hubungan Eldi dan Shera belum sampai tahap baby-baby-
an begitu.
”Sori, tadi cewek gue. Mau nyusul ke sini.”
Dan Alva nggak sempat menelan lagi pertanyaannya
yang sudah di ujung lidah. ”Cewek lo? Gue kira lo sama
Shera—”
Eldi terkekeh santai. ”Ada apa-apa?” sambungnya tetap
santai.

221

pustaka-indo.blogspot.com
Alva hanya mengangkat alis, mengiyakan.
”Jangan salah paham, bro. Gue sama dia emang deket.
Tapi gue sudah punya cewek. Lo harus lihat cewek gue,
nggak mungkin gue lepasin dia. Kalau sama Shera, gue
ya memang deket, dan makin deket setelah tiga bulan
terakhir makin banyak proyek yang dia kasih ke kantor
gue lewat gue. Nggak ada ruginya deket sama dia. Gue
jadi dapet promosi, bonus kenceng. Orangnya juga asyik
diajak jalan, tapi gue nggak ada niat ngajak dia jadian.
Bussiness is bussiness, bro. Shera itu termasuk klien gede.
Bolehlah gue jadi temen curhat sama temen ngopi-ngopi
dan jalan, selama proyek jalan terus.” Kalimat Eldi ter-
dengar enteng ditutup tawa tanpa dosa. ”Lo sebagai cowok
pasti ngerti lah.”
Jakun Alva begerak naik-turun karena mendadak teng-
gorokannya kering dan susah menelan ludah. Terngiang
di benak Alva binar mata Shera waktu pertama kali
mengenalkan Eldi pada Alva. Senyum semringah Shera
waktu bilang bahwa dia dan Eldi dalam proses PDKT.
Walau sekilas, Shera memang sering mengungkapkan
kekagumannya soal Eldi. Yang paling melekat di hati
Alva, waktu terakhir di coffee shop hotel itu, Shera menye-
butkan nama Eldi sebagai salah satu alasan Alva nggak
bisa seenaknya menyatakan cinta pada Shera.
Rahang Alva mengeras dan tiba-tiba aja tangannya su-
dah mengepal.
”Kok malah bengong, bro? Gimana soal pakai jasa gue?
Lo nggak usah khawatir masalah kualitas kerjaan gue.

222

pustaka-indo.blogspot.com
Off the record nih ya, sudah tiga kliennya Honeymoon
Express pindah ke gue dalam kira-kira dua bulan ini.
Semuanya puas. Apalagi harganya oke banget. Dan ide-
ide Shera yang dia kasih buat klien itu bisa gue wujudkan
dengan sempurna.” Tanpa sadar bahwa Alva sedang shock,
Eldi terus bicara. Dia yakin Alva dan Shera hanya teman
lama yang sempat ada hubungan profesional. Dia sama
sekali nggak memikirkan kemungkinan bahwa hubungan
Alva dan Shera nggak sedangkal yang dia kira. Seolah-
olah dia yakin Alva pasti kesal pada Shera dan meng-
anggap Shera tidak profesional. Eldi benar-benar nggak
tahu apa-apa soal dia dan Shera.
”Oh, jadi tiga klien Honeymoon Express pindah ke
lo?”
Dengan bangga Eldi mengangguk. ”Yup. Gue sama
Shera kan belakangan ini sering ngobrol dan sharing, ter-
masuk soal kerjaan dan proyek-proyek. Nah, kalau ada
klien yang gue pikir potensial, ya gue coba tawarin di
belakang. Ternyata mereka mau dan malah puas.”
Alva berdehem pelan. ”Memangnya paket apa aja yang
lo kerjain buat tiga klien itu, El?”
”Yang pertama ngambil paket Hongkong. Namanya
Robi sama Marsha, kalau nggak salah. Puas banget tuh
mereka, apalagi gue kasih mereka tiket Disneyland
setengah harga. Padahal itu jatah gratis gue. Gue masih
untung, hahaha. Terus yang kedua, standar lah, Singapura
dan Malaysia. Mereka juga gue kasih bonus jatah gratis
tiket Universal Studio dan Singapore Flyer dengan

223

pustaka-indo.blogspot.com
setengah harga. Yang ketiga baru mau jalan nih proyek-
nya. Mereka baru batalin ke Honeymoon Express kema-
rin, dan ntar malem mau ketemu gue buat ikatan kerja
sama, sekalian ngomongin lebih lanjut paket yang ix.”
Nggak bisa dipercaya. Pria bernama Eldi ini jelas cuma
memanfaatkan Shera. Dia sama sekali nggak tertarik pada
Shera kecuali karena perempuan itu pemilik Honeymoon
Express dengan banyak proyek dan klien yang bisa dire-
but.
Bayangan wajah Shera yang cemas dan kecewa waktu
mendapat laporan dari stafnya soal pembatalan kerja sama
klien Honeymoon Express waktu itu melintas di kepala
Alva.
Alva menatap Eldi penasaran. ”Ya wajar sih kalau
mereka tergiur. Sudah harga murah, lo kasih bonus segala.
Emangnya lo nggak takut ini bocor ke Shera? Lo bisa
bermasalah kan sama dia. Gue cuma penasaran aja sih.
Penawaran lo emang menarik. Bisa dibilang, kalian saing-
an.”
”Nggak bocor kok. Klien-klien yang pindah ke gue tahu
”etika’-nya kok. Apalagi untuk harga murah dengan paket
yang sama. Hari gini sih pasti orang-orang akan mencari
harga yang bersaing, bro.” Eldi membuat tanda kutip
dengan jarinya waktu mengucapkan etika. ”Lo pikir-pikir
dulu aja, bro, sambil nunggu Shera beresin sisa deposit lo.
Soalnya dia sudah bulet banget mau putusin kerja sama
kalian.”
Alva terdiam sejenak. Setelah menimbang-nimbang,

224

pustaka-indo.blogspot.com
sepertinya dia tahu apa yang paling tepat untuk meng-
hadapi situasi ini. Alva menatap Eldi serius. ”Lo kapan
ketemu Shera lagi?”
”Hm... tadi siang dia SMS gue, ngajak ketemu besok
sore jam empatan di sini. Kenapa, bro? Lo mau ikutan?”
”Oh, bukan. Kalau lo ketemu dia, tolong tanyain kapan
dia balikin deposit gue? Dia nggak mau ngangkat telepon
dari gue atau bales SMS gue. Kalau lo tanyain dan gue
tahu kepastiannya, habis itu kan gue bisa nerusin proyek
ini sama lo.”
Eldi bertepuk tangan senang. Dua kali. ”Ah gitu aja sih
gampang, bro! Besok gue tanya, habis itu gue kabarin lo.”
Eldi menjabat tangan Alva erat.
Alva membalas lebih erat.

225

pustaka-indo.blogspot.com
Hurt. But it’s the truth.


B aju lo terlalu kencan, rambut lo terlalu kondangan,
make up lo terlalu pemotretan. Lo jadi kayak orang yang
mau pemotretan terus ke kondangan sekalian kencan,”
komentar Yulia setelah mengamati penampilan Shera
hari ini.
”Nggak ada kalimat yang lebih ribet buat ngomentarin
gue, Yul? Lo cuma mau bilang gue menor, kan? Menor
dari mananya sih? Emangnya baju gue terlalu kencan
kayak gimana? Rambut gue tata begini emangnya cuma
boleh pas kondangan doang? Terus gue harus ganti baju,
nata ulang rambut sama hapus make up?”
Dengan sukses Yulia menekan tombol panik Shera.
Membuat Shera betul-betul takut salah kostum untuk
ketemu Eldi sore ini.

22

pustaka-indo.blogspot.com
Shera akui dia memang pengin tampil oke di depan
Eldi. Hari ini dia sengaja mengajak Yulia ke salon untuk
menemani dia blo­ dry dan menata rambut. ”Apa gue beli
baju baru dulu? Ngambil ke apartemen sih nggak bakalan
sempet.”
Yulia meringis. ”Ya nggak gitu juga sih, Sher. Sini gue
kalemin dikit make up lo yang terlalu menggebu-gebu itu.
Eh, Mbak, ­ave rambutnya bisa dikurangin dikit biar
nggak berombak liar begini?” Yulia menarik kursi duduk
di hadapan Shera sambil memanggil pegawai salon yang
tadi menata rambut Shera.
”Beneran gue nggak usah ganti baju?” Shera bertanya
lagi. Mulai kepikiran mini dress lace rose gold-nya agak
berlebihan.
Yulia memencet pipi Shera. ”Nggak, baweeel. Asal
make up lo minimalis dan rambut lo nggak ngamuk ke
segala arah begini, you look ine. Lagian, lo sama Eldi ada
acara apaan sih? Candle light dinner? Tumben pakai mini
dress. Lo pakai celana dalam, kan?”
”Sinting!” Shera melotot kesal karena candaan Yulia
yang ngaco. Dengan bibir masih monyong karena dipen-
cet Yulia yang sedang menghapus lipstiknya, Shera meng-
geleng. ”Nggak sih. Cuma janjian makan malam biasa
aja. Ngomongin paket rute baru.”
”Buset! Gue kira ada acara apa gitu. Sampe dandan be-
gini. Terus, si Alva apa kabar? Udah beres?” dengan usil,
Yulia bertanya.
Dasar perusak mood! ”Jangan sebut-sebut Alva dulu

22

pustaka-indo.blogspot.com
deh, Yul! Kepala gue pusing urusan kerjaan, dan gue mau
ketemu Eldi. Pas banget si Alva nggak ngontak-ngontak
gue. Jadi biarin aja dulu sampe otak gue bisa mikir jer-
nih.”
Yulia memoles lipstik peach ke bibir Shera. ”Oke deh,
Madam. Soriii....”
Shera menghela napas. Hari ini dia harus bisa menik-
mati waktunya bersama Eldi. Seperti yang biasa dia
lakukan sebelum Alva kembali ke kehidupannya.

Eldi memang selalu kelihatan keren. Lengan kemeja


digulung dan dasi agak longgar, dia kelihatan modis tanpa
perlu banyak usaha. Wangi parfumnya malah makin seksi
karena sudah seharian menempel di bajunya.
Eldi memang bukan o­ner tour travel rekanan Shera
itu, dia hanya salah satu staf marketing senior. Tapi meli-
hat ambisinya, Shera yakin dia pasti bakal mati-matian
untuk mencapai puncak. Bukankah itu salah satu kuali-
ikasi yang perempuan mau dari seorang pria—ambisi?
Segelas green tea latte milik Shera dan segelas espresso
milik Eldi diantar oleh ­aitress ke meja mereka.
”Eh, Sher, aku sudah punya list harga pesawat murah
untuk enam bulan ke depan. Nanti aku e-mail ke kamu.
Lumayan kan buat kamu jual di a la carte kayak biasa.
Untuk yang nggak ambil full package.” Eldi menyeruput
espresso-nya.

22

pustaka-indo.blogspot.com
”Oh, thanks, El.” Shera releks memuntir ujung ram-
butnya, nggak bisa menyembunyikan kekecewaannya
karena Eldi langsung membicarakan pekerjaan dan sama
sekali nggak menyinggung penampilan Shera.
Mungkin dandanannya jadi terlihat biasa saja karena
sudah direvisi Yulia, tapi masa sih? Hari ini kan baju
yang Shera pakai bukan ala ketemu sahabat, tapi lebih
manis dari itu. Seingat Shera, Eldi belum pernah melihat
Shera pakai dress semanis ini. Biasanya Shera akan mene-
mui Eldi dengan pakaian modis yang wajar.
Shera nggak pernah mau terlihat too much di depan co-
wok itu.
”So, paket baru apa lagi nih yang kamu punya untuk
masuk ke kantorku, Sher? Keren nih, Honeymoon Ex-
press melebarkan sayap terus.” Eldi tersenyum lebar me-
lengkapi pujiannya untuk Shera.
”Sama kayak lo, El. Gimana, lo udah tanya Shera kapan
dia bakal balikin duit gue supaya gue bisa kasih proyeknya
ke lo?”
Bagai adegan ilm horor yang setannya tiba-tiba mun-
cul, Eldi tercekat menatap Alva sudah berdiri di belakang
Shera. Dan bagai adegan drama pertengkaran rumah tang-
ga dalam sinetron prime time, Shera terbelalak kaget
melihat siapa yang berdiri di belakangnya.
Shera langsung berdiri. Memutar badan menghadap
Alva. ”Alva?! Kamu ngapain sih?! Maksud omongan ka-
mu apa?!”
Eldi ikut berdiri. Badannya kaku, matanya tajam dan

229

pustaka-indo.blogspot.com
panik menatap Alva. ”Maksud lo apa ya, Al? Gue lagi
meeting nih sama Shera. Lo kalau ada perlu sama gue,
habis ini aja.”
Rahang Alva mengeras. Dia nyaris menendang kursi
karena emosinya mulai meluap. Untung dia berhasil
menahan gerakan kakinya sendiri sebelum kursi kosong
di dekat Shera mental. Memang dasar laki-laki licik!
”Masih bersandiwara lo, El?”
”Ada apa sih, Al? Kamu ngomongin apa?” Shera me-
natap Alva gusar, minta penjelasan.
”Kamu tanya tuh sama dia! Denger ya, Sher, sebaiknya
kamu nggak usah berhubungan sama dia lagi. Pertemanan,
bisnis, putusin aja semua. Dia cuma manfaatin kamu.
Tatapan Alva seolah menghunjam Eldi. Urat-urat berton-
jolan di punggung telapak tangannya yang mengepal.
Shera terperangah sampai rahangnya seakan nyaris
jatuh ke lantai. ”A-apa?”
”Jaga mulut lo ya, Al! Lo jangan bikin ribut di sini!”
”Jaga mulut? Lo yang harusnya jaga mulut dari awal
dan nggak ngomong sembarangan. Elo itu sebenernya—”
”DIEM LO!!!”
Tiba-tiba kepalan tangan Eldi mendarat ke pelipis Alva
dengan sangat keras, sampai-sampai Alva terhuyung ke
belakang.
Shera memekik histeris melihat darah segar mengalir
dari luka di pelipis Alva. ”Stop! Eldi, Alva! Apa-apaan
sih?!” Dengan panik Shera mendorong Eldi mundur agar
menjauh dari Alva.

230

pustaka-indo.blogspot.com
Semua mata pengunjung coffee shop mulai tertuju pada
mereka, belum ada yang berani melerai.
Alva nggak peduli darah yang menetes sampai ke pipi
dan mendarat di kerah bahunya.
Dengan pelan Alva berdiri dengan mata menyala ma-
rah. ”Brengsek!” Bagai banteng mengamuk, Alva menye-
ruduk perut Eldi.
”Ah!” Shera yang berdiri di dekat Eldi releks melompat
mundur.
Saking kencangnya, Eldi nggak bisa menahan serangan
dan ambruk dengan Alva berada di atasnya. Alva mengun-
ci posisinya tetap di bawah. Eldi berusaha mengguncang-
kan bahu untuk menyingkirkan Alva, tapi percuma.
Tinju balasan Alva melayang ke wajah Eldi. Nggak
sampai membuat luka dan berdarah, tapi cukup kuat mem-
buat pipi dan sudut bibir Eldi membiru. Alva menekan
tangannya di leher Eldi sampai cowok metroseksual itu
nggak bisa bergerak. ”Eh, denger ya, Eldi! Apa yang lo
bilang sama gue kemarin itu bikin gue marah. Lo pikir
gue mau nerima tawaran orang picik kayak lo?!”
Sambil berdiri mematung, Shera menatap dengan tu-
buh gemetar. Lututnya lemas. Berbanding terbalik dengan
emosinya yang melonjak ke ubun-ubun. ”Ini ada apa sih?
Alva! Eldi! Ada apa? Udah dong berantemnya, please!
Bikin malu, tauk!” Shera menjerit-jerit panik.
Shera maju mendekati punggung Alva yang sedang
menduduki Eldi. Dengan tangan masih gemetar dan
lemas Shera meraih bahu cowok itu, berusaha menariknya

231

pustaka-indo.blogspot.com
berdiri dan melepaskan Eldi. ”Al, udah dong!” Shera me-
narik-narik bahu Alva, tapi cowok itu masih bergeming.
Napas Alva terengah-engah marah.
Alva sama sekali nggak menoleh. Dan sesaat kemudian
dia berbicara dengan suara rendah dan gemetar. ”Sher...
mendingan kamu mundur. Aku nggak mau sampe pukul-
anku buat bajingan ini, malah kena kamu.”
”Tapi—”
”Mundur, Sher. Nanti aku jelasin.”
Shera nggak tahu lagi harus berbuat apa. Entah bagai-
mana, dia tahu sengotot apa pun dia melerai, nggak akan
berhasil membuat Alva melepaskan Eldi sebelum urusan
mereka beres.
Shera akhirnya mundur dengan wajah bingung.
Tangan Alva terangkat ke atas. Siap-siap melayangkan
pukulan selanjutnya. ”Lain kali hati-hati kalau memper-
lakukan orang!”
”Ada apa ini? Berhenti!” Dua sekuriti mal berbadan
sebesar beruang kutub datang dan langsung bertindak.
Satu orang memegang Alva dan berusaha menjauhkannya
dari Eldi.
Alva meronta-ronta sambil berteriak marah. ”Eh, Pak,
lepasin saya! Dia penipu, harus dihajar! Eldi, lo bilang
sama Shera kalau lo sudah punya cewek dan modus lo
ngedeketin dia cuma karena proyek-proyek Honeymoon
Express! Bilang sama dia kalau lo cuma pecundang tukang
tipu yang memanfaatkan dia!” Sambil mengamuk, Alva
menantang Eldi.

232

pustaka-indo.blogspot.com
Eldi bangkit duduk sambil memegang pipinya kesa-
kitan. Salah satu satpam menariknya berdiri.
Shera menatap Eldi. Meminta penjelasan. ”El?”
Alva kembali teriak. ”Kamu tahu kenapa tiga klien
kamu kabur? Tanya dia, Sher! Dia yang nusuk kamu dari
belakang! Dia yang merebut klien kamu dengan kasih
harga murah! Dia juga nawarin aku untuk pakai jasa dia.
Dia pikir aku ini tolol kali! Dia bahkan mencurangi
kantornya sendiri!”
Wajah Shera memanas. Kembali menatap Eldi. ”El...?”
tanya Shera lagi, dengan suara bergetar. Dalam hatinya
masih ada secil harapan supaya Eldi menyangkal semua-
nya, tapi sebagian besar hatinya yakin Alva nggak mung-
kin bohong soal ini.
Eldi cuma diam. Tapi dia memang nggak perlu menga-
takan apa-apa. Karena dengan hanya mendengar perkataan
Alva dan melihat kilatan marah di mata pria itu, Shera
tahu Alva nggak berbohong.
Shera mematung melihat Alva dan Eldi digiring ke
ruangan sekuriti mal karena keributan tadi. Benak Shera
seakan membeku. Keadaan semakin kacau saja. Seha-
rusnya, Eldi yang jadi penghibur hati Shera karena keka-
cauannya dengan Alva, tapi sekarang apa? Eldi tiba-tiba
jadi penjahat.
*

Di ruangan sekuriti, Alva dan Eldi duduk agak berjauh-


an.

233

pustaka-indo.blogspot.com
Shera masuk. Wajah Eldi ada memar biru besar akibat
pukulan Alva. Matanya menatap Shera. Sepertinya dia
sudah sempat berpikir kejadian ini hampir pasti membuat
dia kehilangan banyak pemasukan. ”Sher, tadi itu cuma
salah paham. Bukan begitu sebenarnya. Dia cuma ambil
kesimpulan sembarangan. Aku—”
Shera berjalan dengan ekpresi dingin, melewati Eldi
tanpa melirik sedikit pun. ”Ayo,” Shera mengulurkan
tangannya pada Alva.
Alva mendongak. Kerah bajunya berlepotan darah. ”Ke
mana?”
”Luka kamu kayaknya perlu dijahit.”

Setelah mendapat dua jahitan kecil, pelipis Alva ditempeli


plester khusus. ”Jangan kena air dulu ya. Tiga hari lagi
kembali dan ganti perban. Sekalian cek jahitan.” Dokter
UGD yang menjahit luka Alva mewanti-wanti.
Alva mengangguk.
Shera muncul dengan membawa belanjaan dari mini-
market. ”Nih.”
”Apa ini?”
”Kaus oblong. Memangnya kamu mau keluyuran pakai
baju banyak darah gitu? Cuma ada ini. Mudah-mudahan
cukup.”
Alva menerima kantong plastik yang Shera sodorkan,
lalu mengeluarkan kaus oblong abu-abu. Dengan cuek

234

pustaka-indo.blogspot.com
Alva membuka kancing kemeja dan menggantinya
dengan pemberian Shera.
Shera terkesiap. Melihat Alva sekilas bertelanjang dada,
dia baru tahu ternyata Alva nggak sekurus yang terlihat
dari luar. Badannya cukup berisi dengan otot seperlu-
nya.
Shera releks terbatuk kecil karena mendadak grogi.
Matanya seperti ngotot menatap terus-terusan ke dada
dan perut rata Alva.
”Kamu sakit, Sher? Kedinginan kali.”
Shera tersenyum garing. ”Nggak, nggak. Cuma batuk
karena tenggorokan kering.” Dan pikiran nakal yang aneh-
aneh, sambung Shera dalam hati. ”Al, kita makan dulu
ya? Di kafetaria Rumah Sakit aja. Aku mau ngomong.”
Alva mengangguk. ”Oke.”

Kafetaria Rumah Sakit ini cukup keren dan sangat mo-


dern. Mungkin karena Rumah Sakit itu salah satu milik
swasta yang mewah. Harga sesuai dengan fasilitas.
Shera memilih tempat duduk persis di samping jendela
kafetaria yang seluruhnya kaca. Mereka sekarang seperti
duduk di taman saking beningnya kaca jendela itu.
Shera mengetuk-ngetuk mug berisi hot chocolate dengan
gelisah. ”Al...”
”Hm?” Alva meletakkan mug-nya lalu menatap
Shera.

235

pustaka-indo.blogspot.com
Shera menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan
perlahan. ”Makasih ya. Kalau bukan karena kamu, aku
nggak akan sadar bahwa Eldi itu—” Shera menggantung
kalimatnya. Rasanya dia nggak menemukan julukan yang
pas untuk Eldi.
Alva terdiam beberapa saat. ”Aku sengaja tanya dia
kapan kalian ketemu, supaya aku bisa konfrontasi dia di
depan kamu langsung. Maaf ya, aku jadi bikin kamu
malu.”
”Beneran, Al. Terima kasih. Berkat kamu, aku jadi tahu
siapa Eldi sebenarnya. Yah... biarpun aku kecewa...,”
suara Shera tercekat.
Shera berusaha mengatur napas dengan maksud mena-
han tangis, tapi percuma. Sia-sia. Akhirnya Shera me-
nangis. Sambil tertunduk bahunya berguncang
Ternyata rasanya menyakitkan mengetahui bahwa
Eldi, orang yang Shera anggap bisa diandalkan, ternyata
pria kurang ajar yang hanya memanfaatkannya. Shera
marah dan malu. Dia ternyata cuma ge-er. Dan yang
pertama tahu kedok Eldi dan membela Shera ternyata
Alva—orang yang dia anggap jahat karena sudah membo-
honginya. Padahal kebohongan itu bahkan mungkin
nggak ada hubungannya dengan Shera.
Satu fakta lagi terlintas di benak Shera. Shera marah
pada Alva karena egonya tersentil merasa Alva nggak
menganggapnya ”sedekat” itu sampai cowok itu merasa
nggak perlu menceritakan semuanya pada Shera.
Bahu Shera semakin berguncang. Kenapa hidupnya jadi

23

pustaka-indo.blogspot.com
berantakan begini sih?! Belum selesai satu masalah,
datang masalah lain yang sangat menyakitkan!
”Hei....” Tiba-tiba Alva sudah duduk di sebelahnya.
Sebelah tangannya merangkul hangat bahu Shera dan
sebelah lagi menyodorkan tisu. ”Ikut aku yuk?”
”Ke mana?” Shera mendongak. Menghapus air matanya
dengan tisu pemberian Alva. Aneh, dia bahkan nggak
marah merasakan tangan Alva di bahunya.
”Sudah, ikut aja.” Alva membimbing Shera berdiri lalu
mengajak Shera pergi dari situ dengan tetap merangkul
bahunya.

Setelah naik lift sampai lantai paling atas, di sinilah me-


reka. Di helipad rumah sakit.
Shera baru tahu rumah sakit ini punya helipad tempat
helikopter untuk pasien gawat darurat atau orang kaya
yang ogah naik ambulans.
Shera menatap Alva ragu. ”Emangnya kita boleh ya
naik ke sini?”
Tangan Alva menahan pintu lift yang hampir tertutup,
mempersilakan Shera keluar lebih dulu. ”Dulu Keisha
pernah dirujuk ke sini karena harus menjalankan suatu
metode pengobatan. Aku sama dia pernah naik ke sini.
Selama kita nggak telentang di tengah-tengah helipad,
kayaknya nggak masalah.”
Shera menahan napas. Canggung dan bingung harus

23

pustaka-indo.blogspot.com
bereaksi apa mendengar Alva menyebut nama Keisha.
Rasanya masih ada yang mengganjal. Alva terlihat tulus
dan betul-betul menyayangi Keisha. Apa iya dia setega
itu melupakan Keisha begitu aja?
”Ini, pegang sebentar.” Alva menyodorkan dua gelas
kertas berisi teh hangat yang mereka beli di kafetaria.
Alva mengangkat kursi panjang kayu dari ruangan kecil
yang sepertinya adalah pos sekuriti. Di dekat pos itu ada
ruangan lain, semacam ruang perawat untuk menunggu.
Kursi itu Alva letakkan di depan tembok pembatas heli-
pad. Beberapa saat kemudian mereka sudah duduk berse-
belahan dengan pemandangan lepas Jakarta saat senja.
”Wah, lampu-lampu Jakarta mulai menyala....” Shera
menatap kagum pemandangan di bawahnya. Lampu-
lampu kendaraan bekerlap-kerlip mirip kunang-kunang.
Sementara lampu jalanan mulai menyala dan membentuk
garis cahaya yang indah.
Alva tersenyum menatap ke arah yang sama. ”Bagus
ya? Dari sini, kita nggak tau, mungkin saja orang-orang
di bawah sana, yang di dalam mobil, lagi marah-marah
karena macet. Terkadang sesuatu jangan dilihat terlalu
dekat supaya tetap kelihatan bagus.”
Shera tertawa kecil. ”Kayak Eldi maksudnya?” Shera
menyeruput tehnya lalu membuang napas berat, sekaligus
membuang bebannya.
Angin menyapu pelan, membuat poni Shera melayang
ringan. Kejadian hari ini seperti mengubah masa de-
pannya. Bayangkan kalau Eldi nggak pernah menawarkan

23

pustaka-indo.blogspot.com
jasanya pada Alva, lalu bayangkan kalau Alva nggak pe-
duli dan memutuskan untuk nggak memberi tahu Shera?
Sampai kapan Shera bakal terus dibodohi Eldi? Bayangkan
sakitnya kalau perasaan Shera sudah telanjur dalam untuk
Eldi.
Shera melirik Alva. Mungkin Alva adalah cara Tuhan
membocorkan kebusukan Eldi. ”Kamu boleh jelasin,
Al...,” ujar Shera pelan tapi mantap.
Alva membatalkan niatnya menyeruput teh, lalu me-
natap Shera nggak ngerti.
”Soal Keisha. Kamu udah melakukan sesuatu yang
besar buatku hari ini. Aku rasa impas kalau aku kasih
kamu kesempatan menjelaskan soal Keisha sekarang.
Kamu bilang, penjelasan itu akan bikin aku ngerti apa
yang kamu lakukan. Iya kan?”
Alva mengangguk. ”Aku harap begitu, Sher.” Pria itu
menatap Shera. ”Kamu bukan pelarian, Shera. Sekali lagi
aku bilang, aku mencium kamu karena perasaanku untuk
kamu.”
Shera terdiam seketika. Entah sejak kapan jantungnya
mulai berdegup sekencang ini waktu bertatapan dengan
Alva. Embusan napas pria itu rasanya hampir bisa terasa
di ujung hidung Shera karena jarak mereka yang cukup
dekat dan Alva terus menatap Shera selama bercerita.
”Seperti aku bilang sebelumnya, aku dan Keisha sudah
berpisah dan memutus pertunangan kami beberapa bulan
sebelum Keisha jatuh koma. Itu bukan keinginanku, Sher.
Keisha yang memaksa.”

239

pustaka-indo.blogspot.com
”Kenapa? Kamu bikin dia marah?”
Alva tertawa pelan. ”Keadaan yang bikin dia marah.
Dia tahu penyakitnya sudah gawat, Sher. Dia tahu, kalau-
pun dia tetap hidup, itu nggak akan lama dan dia nggak
bisa berbuat apa-apa. Dia bergantung dengan semua alat
yang menempel di tubuhnya. Intinya dia marah sama
semua yang ada di sekitarnya. Marah karena dia sakit,
marah karena dia nggak bisa lagi berbicara, bersalaman,
atau memelukku tanpa masker. Penyakit itu nggak cuma
menggerogoti badannya, tapi juga jiwanya.” Alva berhenti
sejenak.
Shera diam menunggu kalimat Alva selanjutnya.
”Keisha itu gadis kuat dan sabar. Sampai sebelum dia
koma, dia seperti orang lain. Dia bisa begitu marah
melihat aku atau teman-temannya. Dia mengusir aku dan
baru berhenti mengamuk setelah aku setuju memutus
pertunangan kami. Dia ngotot, katanya dia bisa melihat
tatapan iba di mataku.”
Shera masih diam. Dia tahu Alva belum selesai bica-
ra.
”Aku sayang sama dia, Sher. Tapi bukan lagi sebagai
kekasih. Aku sayang sama dia sebagai sahabat, sebagai
adik. Aku kagum sama perjuangannya karena aku me-
nyaksikan langsung. Aku juga harus realistis, hubungan
kami memang nggak mungkin diteruskan. Perhatianku
cuma membuat dia marah dan akhirnya kesehatannya
turun drastis.” Sekilas Alva tersenyum miris, ”Yah, mung-
kin memang tugasku menemani dia hanya bisa sampai

240

pustaka-indo.blogspot.com
sebatas itu, atau malah sebaliknya, tugas dia untuk meng-
hiasi hidupku cuma sesingkat itu. Perasaanku buat dia,
dan buat... kamu itu beda.”
”Terus, buat apa kamu bikin perjalan bulan madu itu?
Bahkan kamu berbohong dengan menyebut itu sebagai
perjalanan survei.”
Alva tersenyum hangat. ”Aku tahu kamu mengerjakan
semua itu dengan maksimal. Makanya hasilnya bagus
banget, dan aku yakin itu sesuai dengan keinginan Kei-
sha—kalau dia masih ada.”
Shera mengernyit nggak paham.
”Dua hari setelah dia meninggal, aku melayat dan me-
nemukan sesuatu di kamarnya. Impian terakhirnya yang
belum tercapai, dan itu melibatkan aku.”
”Maksud kamu?”
Alva menghela napas. Sedih dan berat. ”Besok aku
tunjukkan semua ke kamu. Supaya kamu betul-betul
ngerti, apa yang membuat aku melakukan semua itu.”
Ternyata benar kata Yulia, seharusnya dia memberi
kesempatan Alva untuk bicara. Dia nggak marah lagi sa-
ma Alva. Sekarang Shera merasa simpati dan penasaran,
dengan sedikit debaran di dada. Mungkin karena kagum
mendengar cerita Alva tadi. ”Nggak nyangka kamu jadi
animator,” celetuk Shera iseng.
Mata Alva membulat. Senang Shera membahas topik
lain dan itu menyangkut dirinya. Alva mengedipkan sebe-
lah mata sambil tersenyum hangat. ”Nggak nyangka ka-
mu jadi honeymoon organizer.”

241

pustaka-indo.blogspot.com
Shera tertawa pelan. ”Itu kan memang cita-citaku. Kon-
sisten dari awal. Kamu? Kamu memang hobi gambar,
gambaran kamu keren, tapi kan yang kamu peduliin dan
omongin cuma hutan, gunung, laut, beruang kutub, lum-
ba-lumba, paus. Giliran ngomongin orang, malah ngeba-
has orang utan.” Shera menatap Alva serius lalu meringis
usil. ”Aku pikir kamu bakalan jadi pelatih lumba-lumba.
Atau pawang gajah Lampung.”
Alva tertawa pelan. Shera juga ikut tertawa. Tiba-tiba
mereka berdua tertawa terbahak-bahak karena alasan yang
kurang jelas. Mungkin membayangkan Alva memberi
hormat pada penonton pertunjukan lumba-lumba dengan
baju ketat. Atau... tertawa lepas karena itu yang mereka
perlukan sebelum menutup hari ini.

242

pustaka-indo.blogspot.com
Album Keisha

”Bulan Madu Kita Begini Aja.” Tulisan tangan Keisha


dan selembar foto polaroid dengan pose asal-asalan Keisha
dan Alva ditempel di bawahnya. Judul itu seperti
pengantar sekaligus penjelasan tentang apa yang akan ada
di halaman-halaman selanjutnya.
Setelah di halaman depan album itu Shera melihat
Amerika, Eropa, Mesir, India dan tempat-tempat indah
lainnya di seluruh dunia melalui foto, gambar, dan ber-
bagai ornamen yang Keisha tempelkan di sana, bagian
Bulan Madu Kita Begini Aja terasa begitu sederhana tapi
penuh perasaan.
Hari ini Shera menepati janjinya bertemu Alva. Mereka
memutuskan untuk bertemu di sebuah restoran seafood di

243

pustaka-indo.blogspot.com
kawasan Ancol. Angin laut meniup rambut Shera karena
mereka duduk di kursi di dek outdoor yang menjorok ke
laut. Tak lupa album Keisha dibawa bersama mereka.
Shera seperti melihat album kliping Honeymoon
Dream-nya saat melihat album Keisha itu. Album ini
seperti diary. Bedanya, album Honeymoon Dream Shera
berisi tempat-tempat romantis di seluruh dunia yang akan
dia datangi, entah itu untuk menjalankan bisnis Honey-
moon Express atau perjalanan bulan madunya sendiri.
Album Keisha, terbagi menjadi dua bagian. Halaman
depan sampai tengah adalah kliping indah tentang tem-
pat-tempat yang tak mungkin Keisha datangi karena ke-
sehatannya. Keisha memberi judul, ”Tak Mungkin Biar-
pun Aku Ingin”.
Tapi lalu ada bagian ini: ”Bulan Madu Kita begini Aja”.
Isinya adalah tempat-tempat yang sama persis seperti
yang ada dalam daftar yang Alva berikan sewaktu me-
minta Honeymoon Express untuk menangani bulan ma-
dunya.
Halaman-halaman ini berbeda. Semuanya berisi foto-
foto Alva saat mengunjungi tempat-tempat itu. Semua
dihias dengan ornamen-ornamen lucu, tulisan-tulisan
menyenangkan, menggambarkan betapa bersemangatnya
Keisha mengerjakan semua ini.
Shera terpaku.
”Waktu dia sakit, aku masih sering traveling. Setiap
aku bepergian di dalam negeri dia minta aku foto, cetak,
dan kasih ke dia. Aku pernah tanya buat apa, dia bilang
rahasia. Ternyata untuk ini.”

244

pustaka-indo.blogspot.com
Shera membuka halaman terakhir. Dia tercekat.

Bulan maduku bersama kamu, walau mungkin nggak


sempat terwujud,
paling nggak, aku pernah memimpikannya....

”Hari itu, saat aku menemukan ini, aku berjanji akan


mewujudkannya untuk Keisha. Sebagai permintaan maaf-
ku karena setelah dia sebulan koma, aku begitu sibuk dan
jarang membesuk dia. Semakin lama aku semakin sibuk
dan semakin jarang menengok kondisinya. Aku membiar-
kan dia berjuang sendiri.” Alva terdiam sesaat. ”Ini peng-
hormatan terakhirku buat dia. Kamu lihat tanggal-tanggal
di kertas-kertas itu? Dia membuat bagian itu bahkan se-
telah dia nggak stabil dan mengusirku pergi. Diam-diam
dia masih memimpikan semua ini. Tapi aku malah nggak
sadar diriku menjauh karena berpikir dia memang benci
sama aku.”
Alva termenung beberapa saat, lalu bicara lagi. ”Maaf,
aku bohong soal keadaan Keisha. Aku... aku cuma bingung
gimana menjelaskan semuanya ke kamu. Aku takut kamu
menganggap apa yang aku lakukan ini aneh dan mengada-
ada. Aku juga nggak mau kamu mengerjakan semua itu
karena kamu kasihan. Aku mau kamu mengerjakannya
untuk Keisha yang masih ”hidup”. Penuh kegembiraan.
Bukan karena simpati apalagi kasihan.”
”Itu bukan hal yang mengada-ada, Al,” gumam Shera
dengan suara bergetar.

245

pustaka-indo.blogspot.com
Alva merogoh saku dan mengeluarkan gelang hitam
emas milik Keisha. ”Ini gelang kesayangan Keisha.
Gelang ini mewakili dia. Setelah foto-foto perjalanan ini
sudah jadi, bakal aku susun dan tempel di halaman album
Keisha. Kamu tahu kenapa gelang ini warnanya hitam
dan emas?”
Shera menggeleng.
Alva menggenggam gelang itu. ”Hitam artinya gelap,
emas artinya cahaya. Keisha percaya, di tengah kegelapan
apa pun, cahaya bisa menyusup, seperti benang emas di
gelang ini.”
Shera menutup album Keisha dengan hati-hati lalu
mengusap matanya yang agak basah. ”Kalau dari awal
kamu jujur, aku tetap bakalan mau bantu kamu. Aku
justru akan kagum sama apa yang kamu lakukan.”
Ada kelegaan di mata Alva. ”Jadi kamu tetap mau
menyelesaikan trip ini, kan? Aku cuma pengin mewakili
dia. Mewakili kami berdua. Aku anggap ini permintaan
terakhirnya.” Alva terdiam sejenak lalu menatap Shera
serius. ”Setelah kami bertunangan, dia memang sempat
bilang, kalau kami menikah, aku harus ajak dia bulan
madu ke tempat yang dia pilih. Waktu itu aku mengiyakan
dan janji sama dia. Dulu aku pikir dia cuma bercanda.
Dan setelah aku lihat album ini.... Yah, intinya, setelah
melakukan ini, aku bisa melanjutkan hidup dengan tenang
karena sudah mewujudkan permintaan terakhirnya.”
Shera terenyak. Niat Alva melakukan semua ini bikin
Shera terharu dan kagum.

24

pustaka-indo.blogspot.com
”Al, kita hampir mengacaukan bulan madu impian
Keisha. Gue... juga sempat terbawa suasana dan nggak
profesional. Gue... mau merampungkan proyek bulan
madu untuk Keisha ini, tapi dengan satu syarat, Al.”
”Syarat apa?”
Shera menatap Alva serius. ”Aku mau, setelah menye-
lesaikan perjalanan ini... kita bisa bersikap profesional.
Aku mau kita menyelesaikan perjalanan ini betul-betul
untuk Keisha, seperti tujuan kamu sejak awal. Aku nggak
mau lagi ada insiden apa pun karena kita... kelepasan dan
nggak, mm... profesional.” Pipi Shera mendadak panas
teringat ciuman dan pernyataan cinta Alva. Dia harus
tegas.
Mata Alva menatap Shera gusar. ”Tapi kamu nggak
mengacaukan apa-apa. Hubungan kita nggak akan me-
nyakiti siapa-siapa.”
”Al, please, kamu mau nerusin ini dengan jasa Honey-
monn Express, kan? Itu syarat dariku. Aku... aku mau
tujuan utama perjalanan ini murni untuk Keisha. Ini juga
bentuk tanggung jawabku secara profesional, sekalian
membantumu sebagai teman. Dan aku rasa, sekarang
bener-bener bukan waktu yang tepat untuk ngomongin
apa pun soal hubungan kita. Apalagi... aku dan Eldi baru
aja....” Shera menarik napas panjang. Bagaimana mungkin
Shera bisa meyakinkan diri sendiri bahwa dia bukan
pelarian kalau penjelasan Alva justru menyatakan sebalik-
nya.
Alva menatapnya dengan sungguh-sungguh, nggak

24

pustaka-indo.blogspot.com
mau Shera berbohong saat menjawab pertanyaannya.
”Terlepas dari masalah Eldi, apa kamu... nggak punya
perasaan lagi buat aku? Sedikit pun?”
Shera berusaha memberanikan diri membalas tatapan
Alva.”Aku minta kamu mengerti, Al. Bagaimanapun aku
nggak bisa pura-pura baik-baik aja setelah perbuatan Eldi.
Dan saat ini, aku yang nggak mau terbawa situasi dan...
mencari pelarian. Aku nggak mau ada kerumitan lagi.”
Shera benar-benar masih sedih dan kecewa dengan per-
lakuan Eldi. ”Perjalanan ini... mungkin juga jadi hiburan
buat aku.”
”Oke. Deal. Aku setuju.” Tiba-tiba Alva menjabat ta-
ngan Shera dengan senyum lebar. Alva yakin pada perasa-
annya untuk Shera, tapi sepertinya banyak hal keliru dan
tidak pada tempatnya yang terjadi sepanjang pertemuan
mereka kembali.
Shera sudah tahu semuanya dan mau melakukan satu
perjalanan lagi untuk Keisha. Itu sudah cukup bikin Alva
lega. Seenggaknya perempuan itu berhenti memusuhi
Alva. Itu lebih dari cukup. Apa pun yang terjadi nanti,
yang penting dijalanin dulu aja. ”Jadi, perjalanan ini
untuk mewujudkan mimpi Keisha dan... menghibur
kamu. Deal.”
Shera tersenyum tipis. Seandainya saat ini Shera nggak
sedang dekat dengan Eldi dan Alva nggak baru aja batal
menikah dan kehilangan Keisha, Shera yakin dia pasti
akan langsung menjawab iya saat Alva menyatakan cin-
ta.

24

pustaka-indo.blogspot.com
*

”Duh, sori banget deh, El, kami sudah dapet rekanan baru.
Nggak, nggak perlu pengajuan baru. Oke deh, gue rasa
itu aja ya. Bye, El.” Yulia menekan tombol End dengan
hidung mengembang puas. ”Mampus tuh si Eldi!” Yulia
meletakkan HP-nya di meja kerja Shera.
Yulia baru saja pulang dinas luar kota selama dua hari.
Begitu pesawatnya mendarat, tujuan pertamanya adalah
kantor Shera. Setelah kemarin menerima pesan Shera
yang berisi berita insiden Alva dan Eldi, hari ini Yulia
minta cerita lengkap.
”Nggak usah gitu juga, Yul.” Shera meringis nggak
enak.
Setelah mendengar cerita lengkapnya, emosi Yulia
langsung meledak-ledak. Tadinya ada dua proyek luma-
yan besar yang dipimpin Yulia yang akan memakai jasa
kantor Eldi—tentunya Eldi dianggap sukses oleh kantor-
nya sendiri karena berhasil menangkap proyek itu, tapi
hari ini Yulia mendepaknya tanpa ampun.
Shera sebetulnya senang. Tapi dia jadi merasa bersalah
karena melibatkan kerjaan Yulia.
Mata Yulia menyipit. ”Nggak usah gitu juga gimana
maksud lo, Sher? Itu cowok brengsek. Penipu! Udah ba-
gus nggak gue samperin dan gue tabok pakai sandal jepit
yang udah gue oles kotoran ayam!” maki Yulia emosi.
Shera terkekeh.”Itu sih nggak sakit, cuma bau.”
Yulia ikut cekikikan. ”Sama perih dikit.” Yulia lalu

249

pustaka-indo.blogspot.com
mencondongkan badan ke depan. ”Lo bener udah nggak
apa-apa, Sher?”
Shera menekan-nekan dahinya. ”Bohong juga sih kalau
gue bilang gue nggak apa-apa, Yul. Gue nggak nyangka
Eldi kayak gitu, padahal gue kagum sama dia. Apalagi
gue pikir tinggal selangkah lagi dia bakal nembak gue.
Sakit hati banget gue, Yul, tapi lebih baik begini. Jadi,
nggak terlalu berlarut-larut.”
Yulia tersenyum tipis lalu memeluk Shera sekilas. ”Lo
akan baik-baik aja.”
”Aaahhh!” Tiba-tiba Shera menepuk-nepuk dahi
berulang kali. ”Masalah percintaan gue kacau banget ya,
Yul? Sementara gue punya biro perjalanan yang meng-
akomodir orang untuk mengungkapkan cinta, gue malah
belum pernah ngerasain apa itu cinta yang sejati. Gue
PDKT sama orang yang salah. Ditembak sama orang
yang seharusnya nembak gue tujuh tahun yang lalu.
Belum lagi gue pernah pacaran sama laki-laki yang lebih
lebay daripada banci perempatan.”
”Ha?” Yulia menganga nggak paham.
”Gimana kalau… gue yang begitu menyukai hal-hal
romantis, mengagumi indahnya bulan madu, memiliki
Honeymoon Express yang bisa mewujudkan segala im-
pian romantis gue, ternyata... malah nggak akan pernah
memiliki kisah percintaan yang indah? Gimana kalau
emang kehidupan cinta gue terkutuk?! Gimana kalau
ternyata gue cuma jadi pencipta perjalanan romantis tapi
nggak akan pernah mengalaminya? Seperti bridesmaid
yang akan selamanya jadi bridesmaid.”

250

pustaka-indo.blogspot.com
”Woi... tenang, jangan mulai panik.” Yulia menepuk-
nepuk tangan Shera. ”Saran gue ya, Sher, lo butuh
liburan. Jalan-jalan gih. Refreshing.”
Shera mengatur napasnya. ”Lusa gue mau ke Singapura
sama Alva.”
”APA?! Ke Singapura sama Alva?! Kok nggak bilang
dari tadi?!”
Shera menelungkupkan wajah di meja. Ternyata masih
banyak yang harus dia ceritakan, padahal tenaganya te-
rasa minim.

251

pustaka-indo.blogspot.com
Hold My Hand and
Keep the Distance...


Are you here for your honeymoon?” Pertanyaan sopan
­aitress yang menuangkan air dingin ke gelas Alva dan
Shera memecah keheningan.
Alva baru mau membuka mulut untuk menjawab.
”Yes,” tiba-tiba Shera menjawab lebih cepat. Jawaban
yang membuat Alva tercengang karena tadinya Alva mau
menjawab no. ”His honeymoon, not mine. We are not a
couple.” Kalimat selanjutnya bikin Alva makin tercengang,
sekaligus membuat wajah semringah ­aitress yang mela-
yani mereka makan malam romantis di Singapore Flyer
itu berubah drastis menjadi aneh.
Pasti di dalam pikirannya, ­aitress itu sibuk mencerna
apa maksud jawaban Shera barusan. Lagi bulan madu tapi

252

pustaka-indo.blogspot.com
romantic dinner sama perempuan lain yang bukan istri-
nya.
”Pusing, pusing deh tuh dia....” bisik Shera sambil ce-
kikikan.
”Hmppfftt!” Alva hampir menyemburkan air putih
yang dia minum karena terlalu kaget. ”Jail banget sih
kamu.”
”Lagian kepo.” Shera minum dengan tenang.
Shera yakin ­aitress itu pasti nggak tahan pengin acara
dinner ini segera selesai supaya dia bisa bergosip sama
teman-temannya.
Shera dan Alva berangkat dari Jakarta naik pesawat
sore dan mendarat di Changi menjelang senja. Mereka
langsung menuju hotel untuk check in dan menjalankan
jadwal pertama di negara ini. Romantic dinner di tabung
Singapore Flyer—makan malam di langit Singapura.
Dua piring hidangan dengan tampilan yang sangat
sophisticated dihidangkan untuk Shera dan Alva. Lampu-
lampu kota di bawah sana mulai gemerlap, membuat
Shera terkesima. Indah banget.
Alva merogoh saku, mengeluarkan gelang anyaman
hitam emas milik Keisha lalu meletakkannya di atas ser-
bet di samping piring.
Seperti sebelum-sebelumnya, Alva mengambil foto
gelang keberuntungan Keisha bersama dengan makanan
yang tersaji. ”Yuk, makan.”
Dalam hati Shera mempertimbangkan sesuatu. Pulang
dari sini sepertinya Shera harus memberi Ferdi liburan.

253

pustaka-indo.blogspot.com
Dalam dua hari Ferdi berhasil menyiapkan semua yang
mereka butuhkan di sini karena Shera betul-betul lagi
kehilangan fokus.
Shera menyerahkan semua daftar yang harus Ferdi
kerjakan, dan hasilnya sempurna. Mulai dari mobil yang
mengantar-jemput mereka, sampai pemain gitar dan pe-
nyanyi yang mengiringi dinner sekarang.
Tiba-tiba Alva berdiri menghampiri si pemain gitar,
lalu meminjam gitarnya. Pria itu berdiri di samping She-
ra, tersenyum sambil menyetem senar.
Shera balas tersenyum. Pasti Can’t Smile Without You,
lagu kesukaan Keisha, tebak Shera dalam hati.
Eh, tapi kok—? Alis Shera mengernyit. Petikan gitar
Alva bukan melodi lagu itu...

Stars shining bright above you,


night breezes seems to ­hisper I love you...
Birds singing in the sycamore tree, dream a little dream
of me...

Shera menutup mulut dengan telapak tangan. Ini lagu


Shera.
Kenapa Alva menyanyikan lagu ini, bukan lagu Keisha?
Jantung Shera berdegup kencang. Dadanya menghangat,
seperti ada desir bahagia yang aneh, membuat bibirnya
spontan tersenyum.

Say nighty night and kiss me,


just hold me tight and tell me you miss me,

254

pustaka-indo.blogspot.com
When I’m alone as blue as can be,
dream a little dream of me...

Shera ingat mereka sudah sepakat perjalanan ini adalah


perjalanan untuk Keisha. Tapi… ah, Alva kan cuma
menyanyikan sebuah lagu. Dia cuma menyanyikan lagu
yang Shera suka. Nggak apa-apa, kan?

Stars fading , but I linger on dear,


Still craving your kiss,
I’m longing to linger till da­n dear, just saying this...

Sweet dreams till sunbeams ind you,


S­eet dreams that leave all ­orries behind you,
But in your dreams, ­hatever they be,
dream a little dream of me....

Tanpa sadar mata Shera sudah berkaca-kaca.


Suara Alva belum berubah. Masih sama seperti waktu
Shera pertama kali mendengarnya bernyanyi. Suaranya
lumayan merdu untuk bernyanyi-nyanyi di depan api
unggun, bukan tipe suara yang bisa menjadi juara kontes
menyanyi atau jadi artis rekaman semacam Afgan. Tapi,
suaranya yang biasa-biasa aja itu terdengar tulus, menyen-
tuh hati. Membuat Shera menatapnya haru.
Alva mengembalikan gitar itu lalu berjalan kembali
mendekati Shera yang masih speechless.
”Shall ­e?” katanya dengan gaya khas pangeran meng-
ajak sang putri berdansa.

255

pustaka-indo.blogspot.com
Saat menerima uluran tangan Alva, Shera baru sepenuh-
nya sadar pria itu tampak keren dan cocok dengan kemeja,
dasi, dan jaket denim cokelat muda. Wangi parfumnya
lembut dan tercium samar saat posisi mereka sudah ber-
hadapan dekat.

Stars shining bright above you,


night breezes seems to ­hisper I love you...
Birds singing in the sycamore tree,
dream a little dream of me....

Setelah intro petikan gitar, lagu itu mengalun lagi.


Dream A Little Dream. Hanya saja kali ini mengalun
merdu dari suara sang penyanyi yang berbalut gaun me-
rah. Suasana jadi semakin syahdu dan romantis.
Shera bisa merasakan genggaman tangan Alva ber-
tambah erat. Wajah mereka begitu dekat. Shera dan Alva
terus bertatapan. Suasana yang seperti ini pernah mem-
buat mereka kelepasan.
Shera menggeleng pelan, membuang jauh-jauh penga-
ruh aura sekitar mereka yang menjadi terlalu romantis.
Mereka sudah sepakat, ingat, perjalanan ini untuk Kei-
sha.
Seperti tersadar apa yang Shera pikirkan, Alva meng-
usap pelan rambutnya. Tampaknya dia juga berusaha
membuang jauh-jauh apa pun yang terlintas dalam be-
naknya.
Shera menatap Alva dengan tenang. ”Memangnya ka-

25

pustaka-indo.blogspot.com
mu bisa dansa?” bisik Shera sambil menahan senyum
geli. Masalahnya, setelah berpegangan dan berdiri berha-
dapan, mereka cuma berdiri diam, nggak ada yang mulai
bergerak.
”Kamu cantik banget pakai gaun ini. Jadi kelihatan
agak kalem.”
Shera mendelik karena Alva malah usil meledek.
”Resek!”
Shera memang sengaja memakai gaun pink pucat
berbahan sifon ringan dengan sedikit payet di pundak.
Dia ingin terlihat cantik tapi nggak berlebihan. ”Jawab
dulu. Emangnya kamu bisa dansa? Sok-sokan ngajak
dansa, terus diem begini.”
Alva meringis. ”Nggak bisa. Tadi itu gerakan ngajak
dansanya juga nyontek di ilm kok.”
Mata Shera membulat. ”Wah, parah kamu. Nyonteknya
semua dong, masa sampe adegan ngajak doang? Terus ini
kita ngapain?”
”Mm... berdiri aja... menikmati lagu.”
Ya ampun! Shera menepak pundak Alva. ”Kamu ter-
nyata ngaco. Ayo, Al, keluarkan pengalaman kamu ber-
dansa sama binatang. Tarian lumba-lumba, joget beruang,
atau apa kek. Ada kan?” Shera cekikikan.
”Ngeledeknya bener-bener sadis. Tapi…. Oke!” Tiba-
tiba Alva bergerak ke kanan dan ke kiri dengan asal. Gaya
anak SD menyanyikan lagu Pelangi sambil terus meng-
genggam tangan Shera.
”E-eh... ngapain sih?”

25

pustaka-indo.blogspot.com
Alva tersenyum lebar. ”Tarian lumba-lumba...” katanya
dengan gaya asal.
Setelah itu, mereka berdua asyik berdansa dengan asal
sambil tertawa-tawa geli. Semua kecanggungan seperti
menguap, yang ada cuma kebahagiaan.
Shera menikmati malam ini. Mereka ternyata bisa ber-
senang-senang dan tertawa setelah apa yang terjadi.
”Sher, kita sudah sampai puncak!” Alva mengandeng
Shera menghadap ke luar jendela.
Seluruh lanskap Singapura terlihat dari tempat mereka
berdiri sekarang. Gedung-gedungnya yang mewah berki-
lauan, lampu-lampu mobil yang bergerak lambat. Dan,
entah kenapa, Shera mendadak merasa waktu juga ber-
jalan pelan.
Alva meraih tangan Shera. ”Kamu mewakili Keisha
ya?”
”Hah? Maksudnya, Al?”
Alva memakaikan gelang Keisha ke pergelangan tangan
Shera lalu mengambil kameranya. ”Kamu sudah mewu-
judkan ini buat Keisha. Aku rasa Keisha pasti senang bisa
foto bareng kamu di sini.”
Shera menyentuh lembut gelang anyaman di perge-
langan tangannya. Walau gelap tapi tetap semangat, She-
ra terenyuh teringat penjelasan Alva tentang arti warna
hitam dan emas di gelang itu.
Senyum Shera merekah. Dengan bebas, Shera meren-
tangkan tangan, membuat gelang Keisha terlihat jelas di
jepretan kamera, mewakili Keisha yang pasti akan se-
bahagia Shera sekarang jika berada di sini.

25

pustaka-indo.blogspot.com
Ada rasa lega di dada Shera. Dia bahagia bisa jadi
bagian dari misi ini. Mungkin ini hal paling romantis
yang pernah dia saksikan langsung sampai saat ini. Dia
percaya Tuhan memang adil. Setelah segala kesusahannya
dulu, Keisha mendapatkan cinta sebesar ini. Sedangkan
Shera, sehat walaiat, usaha berjalan lancar, tapi kehidupan
percintaannya belum pernah berjalan mulus.
Mungkin suatu saat, dan dia masih harus menunggu.
Hatinya masih sakit karena Eldi, tapi ternyata hari per-
tama perjalanan ini bisa membuat dia merasa lebih
baik.

259

pustaka-indo.blogspot.com
Katakan Hari Ini,
Putuskan Hari Ini...


K AMPREEET!!!” Beberapa orang Indonesia yang ada
di situ sepertinya langsung kepo pengin menatap langsung
tampang perempuan yang naik roller coaster dan teriak
kampret sekencang itu.
Shera menggenggam erat pengaman yang menjepit
badannya supaya nggak terbang dan mendarat di suatu
tempat yang belum tercatat di peta, atau malah nyangsang
di pohon terdekat.
Bodoh! Betul-betul bodoh! Mau-maunya dia diajak
Alva duduk di rangkaian roller coaster di Universal Studio
Singapore ini. Padahal, meski sudah berkali-kali ke sini,
Shera selalu men-skip wahana yang satu ini. Jantungnya
berdegup cepat, panik dan ketakutan.

20

pustaka-indo.blogspot.com
Bagaimana kalau selesai ini dia muntah? Ya ampun,
malu banget! Harga diri! Biasanya Shera bisa ngeles tiap
kali ada yang merayunya untuk mencoba rangkaian rel
roller coaster merah-biru dengan rel yang saling melilit
ini. Tapi kali ini.... ”KAMPRET! KAMPRET! KAM-
PREEET!!!” jerit Shera lagi waktu mereka berputar ter-
balik dan kaki Shera serasa melayang di udara. Yang lebih
menyebalkan, biarpun nggak terbahak-bahak, jelas dari
ekspresi Alva yang tersenyum ajaib menyaksikan kela-
kuan Shera. Cowok ini pasti kebanyakan lompat dari
gunung, makanya nggak takut sama ketinggian dan ke-
cepatan.
Hari kedua di Singapura sampai saat ini berjalan lancar.
Semalam, sepulang dinner, Shera mengusulkan mereka
untuk langsung pulang ke hotel dan masuk ke kamar
masing-masing, lalu istirahat mengisi tenaga untuk hari
ini. Sebenarnya selain itu, Shera merasa keputusan itu
paling baik. Sebisa mungkin dia harus mencegah terjadi-
nya sesuatu yang nggak diinginkan di antara mereka.
Menutup peluang terjadinya masalah untuk datang.
Hari ini, sesuai jadwal yang mereka buat, tujuan mere-
ka memang hanya ke Universal Studio, seperti yang
Keisha tulis bukunya.
Nggak ada hal istimewa yang disiapkan untuk kunjung-
an ke sini. Konsepnya betul-betul hanya main sampai
puas. Intinya, rangkaian acara selama di Singapura yang
disiapkan khusus hanya romantic dinner di Singapore Flyer
semalam.

21

pustaka-indo.blogspot.com
Keisha bukannya belum pernah ke Singapura, sering
malah. Hanya saja, rute Keisha biasanya cuma airport,
hotel, dan rumah sakit. Nggak pernah yang lain. Waktu
theme park franchise kelas dunia ini dibuka, Keisha cuma
bisa melihat dan mendengar kehebohannya lewat iklan,
berita, atau cerita orang. Itu alasan tempat ini masuk da-
lam daftar, dan wahana ini, menurut Alva, berada dalam
daftar teratas Keisha.
Tapi sekarang Shera curiga itu bohong. Sepertinya itu
cuma alasan Alva untuk mengerjai Shera.
Alva tertawa kalem. ”Teriakan kamu kencang juga
ya?”
Shera melayangkan tas selempangnya dan menggebuk
punggung Alva. ”Ketawa aja terus! Puas kamu? Gara-gara
tampang memelas kamu, aku jadi teperdaya mau dikerjain.
Kamu bohong kan soal Keisha pengin banget naik roller
coaster laknat tadi? Kalau lihat muka kamu ketawa se-
karang, aku yakin kamu bohong. Ayo ngaku!”
Alva masih tertawa geli. ”Ehem....” Alva berdehem su-
paya tawanya mereda. ”Rasa penasaran Keisha besar. Kalau
dia bisa ke sini, aku yakin dia pasti naik roller coaster tadi.
Cuma ya nggak bakal teriak-teriak ”kampret” kayak kamu
tadi.” Lalu Alva terkekeh lagi, gagal menahan geli.
”Nyebelin banget!”
Alva berhasil melompat menghindari gebukan tas
selempang Shera untuk kedua kalinya. Tiba-tiba Alva
sudah berdiri di belakang punggung Shera. Kedua tangan
pria itu memegang pundak Shera sambil memijatnya

22

pustaka-indo.blogspot.com
pelan. ”Sabar, sabar, jangan ngamuk-ngamuk. Nanti da-
rah tinggi. Coba deh rasain sekarang, kamu lega nggak?
Yang kamu teriakin kampret tadi bukan sembarang kam-
pret, kan?” tanya Alva dengan suaranya yang tetap kalem
dan tenang.
Langkah Shera terhenti. Shera lalu berbalik menghadap
Alva. Matanya nggak berkedip. ”Bukan kampret biasa.
Kolor ijo.” Shera mengayunkan tas selempangnya tepat
ke perut Alva, lalu melenggang pergi.
”Eh, Shera!”
Diam-diam Shera tersenyum waktu meninggalkan
Alva yang mengejarnya.
Tapi Alva benar, setelah berteriak-teriak dengan kata
yang sangat nggak elit tadi, dada Shera agak plong.
Hati Shera terasa lebih enteng saat mereka keluar dari
theme park. Waktu Alva memakaikan gelang Keisha ke
tangan Shera lagi, Shera juga nggak keberatan. Shera ma-
lah memberikan pose gembira yang maksimal dengan
melompat sambil mengangkat tangan waktu difoto ber-
sama gelang itu di depan logo theme park yang berbentuk
bola dunia.

”Lho, kita ngapain di sini? Ferdi kok nggak bilang kita


akan mampir ke sini juga?” Shera menatap Alva bingung
saat mereka berdiri di pintu masuk S.E.A. Aquarium.
Alva menyerahkan tiket pada petugas lalu tersenyum

23

pustaka-indo.blogspot.com
pada Shera. ”Memang nggak. Tiket ini aku yang beli.
Kita ke sini untuk kamu.”
”Untuk aku? Ngapain? Udah jam berapa nih, Al? Kita
kan mau balik ke Jakarta nanti sore. Nanti telat ke air-
port.”
Alva malah menarik tangan Shera. ”Ya ampun, Sher,
di sini mana ada yang jauh, mana ada macet. Tenang aja,
masih sempat kok. Inget kan, kita ke sini untuk Keisha
dan untuk menghibur kamu. Ayo!” Alva melangkah
maju, menarik Shera masuk.
S.E.A. Aquarium mungkin bisa dibilang versi raksasa-
nya Seaworld Indonesia di Ancol. Bedanya di sini semua
serba lebih bagus.
Sekarang mereka berdiri di depan jendela kaca raksasa
yang dihuni berbagai macam ikan dengan berbagai ukur-
an.
Shera melirik Alva. ”Kok kepikiran ngajak aku ke sini
sih? Biasanya menghibur cewek selagi ada di negara ini
ya dengan shopping. Kok aku malah diajak lihat ikan?”
Shera menggodanya dengan cuek.
Alva menoleh. ”Pertama, shopping itu standar. Aku
pikir mungkin kalau ke sini, kamu akan lebih terhibur.
Kata orang, akuarium bisa meredakan stress. Bikin hati
tenang. Siapa tahu efeknya bisa begitu juga buat kamu,
atau—” Alva menahan senyumnya, ”—mungkin dengan
melihat hiu-hiu itu kamu bisa melepaskan kemarahan
dengan membayangkan Eldi masuk ke akuarium, lalu
ditelan hiu.”

24

pustaka-indo.blogspot.com
Shera tertawa pelan. ”Bisa juga... tapi sebenarnya dari-
pada melihat dia mati dimakan hiu, aku lebih suka meli-
hat dia tersiksa. Misalnya, dia dicemplungin ke situ, lalu
hiu-hiu itu dilatih cuma untuk ngejar-ngejar dia sampai
dia kencing di celana, terus dia ditangkap petugas karena
mencemari air akuarium dengan ompolnya.”
Ekspresi Alva melongo kocak.
”Kamu pelatih hiunya,” lanjut Shera sambil cekikkan.
”Sebagai pencinta alam, lingkungan hidup, dan seisinya,
pasti kamu bisa ngomong bahasa hiu.”
Alva garuk-garuk kepala. ”Jangankan bahasa hiu. Ikan-
ikan teri di akuarium ini juga bisa aku latih untuk nge-
royok Eldi.”
Shera tertawa. ”Mana ada ikan teri! Kamu pikir ini
pasar?”
Karena mereka ke sini bukan saat ­eekend atau musim
liburan, tempat ini nggak terlalu ramai. Cuma Alva dan
Shera yang berdiri di depan jendela bulat berisi ubur-ubur.
Akuarium khusus ubur-ubur itu sengaja dibuat agar ubur-
ubur terlihat glo­ in the dark. Sekitarnya dibuat gelap, lalu
dengan teknik pencahayaan, ubur-ubur di dalamnya
tampak menyala persis lampion.
”Ubur-ubur juga, Al...,” kata Shera sambil mengetuk
kaca akuarium dengan telunjuknya.
Alva mengernyit. ”Ubur-ubur juga apa?”
”Ubur-uburnya juga tolong dilatih. Mereka potensial
untuk jadi pasukan penyerang Eldi. Suruh mereka setrumi
Eldi, tapi jangan sampai mati, sampai bengkak-bengkak
aja.”

25

pustaka-indo.blogspot.com
Mata Alva membulat. ”Ya ampun, Sher! Masih bahas
itu? Kamu tuh ya....” Seperti releks, lengan Alva meraih
dan merangkul bahu Shera. Memiting perempuan itu
pelan, dengan gestur bercanda. Alva nggak bisa mengon-
trol tangannya karena terlalu gemas.
Shera merasa sekujur tubuhnya merileks. Begitu tangan
Alva merangkulnya, Shera malah tertawa, bukannya
mengelak. Toh cuma bercanda. Shera juga sering bercanda
dengan teman-temannya, nggak masalah.
Lengan Alva masih merangkul bahu Shera. Dengan
gerakan cepat Alva menoleh menatap Shera. Tapi, Alva
sama sekali nggak siap karena ternyata Shera sedang me-
natap dia dengan sisa-sisa tawanya. Tatapan mata mereka
langsung bertemu. Jarak itu terlalu dekat. Rangkulan itu
membuat mereka bisa merasakan hangat tubuh masing-
masing.
Sekeliling mereka mendadak hening. Tawa Shera ikut
menghilang. Musik ceria yang tadi terdengar mendadak
senyap. Alva cuma bisa mendengar suara degup jan-
tungnya sendiri, begitu pula Shera.
Alva mendekatkan wajahnya. Lebih dekat daripada
sebelumnya. Tubuhnya seolah siap untuk apa pun reaksi
Shera. Ditampar, ditendang, atau didorong sampai jatuh
terjengkang, dia siap. Dia merasa harus mencobanya se-
kali lagi. Perasaan ini nggak bisa diabaikan. Terlalu kuat
dan menuntut.
Shera tahu apa yang akan terjadi. Tapi badannya seperti
mendapat perintah untuk diam. Tangannya lemas, kaki-

2

pustaka-indo.blogspot.com
nya seperti terpaku ke lantai. Irama jantungnya seperti
tabuhan drum yang semakin nggak beraturan. Dia cuma
bisa merasakan Alva. Wangi parfumnya yang lembut,
napasnya yang hangat dan semakin dekat, tangannya
yang semakin erat merangkul. Shera cuma sanggup me-
mejamkan mata, lalu... ciuman lembut itu lagi.
Bibir Alva menyentuh bibirnya lembut bersamaan
dengan wangi parfum dan napasnya yang semakin kuat.
Nggak ada respons kaget dan marah seperti waktu di Bali.
Ciuman yang pertama terasa ragu. Ada sedetik jeda se-
perti menunggu reaksi Shera. Lalu ciuman itu berubah
menjadi ciuman yang penuh perasaan dan membuat Shera
terhanyut. Dia pun membalas ciuman Alva dengan ke-
sadaran penuh.
Shera melingkarkan tangannya di leher Alva. Pasrah
ketika Alva melingkarkan tangan di pinggangnya, lalu
menariknya sampai tubuh mereka begitu rapat. Perasaan
itu terlalu kuat untuk terus-menerus dikurung. Akal sehat
Shera kalah, dan memutuskan untuk menikmatinya sa-
ja.
Telapak tangan Alva memegang bahu Shera. Ciuman
menghipnotis itu sudah berhenti. Tapi, Alva masih me-
nempelkan dahinya ke atas kepala Shera. ”Maaf, Sher....”
Shera menahan napas. ”Untuk apa?”
”Maaf untuk—” Alva terenyak. Dia menegakkan ke-
pala, menatap Shera dengan canggung. ”M-maksudnya,
kamu nggak marah?”
Shera balas menatap Alva. ”Marah sama siapa? Marah

2

pustaka-indo.blogspot.com
sama kamu? Aku udah nggak bisa marah sama kamu dan
menyalahkan kamu seperti waktu di Bali. Yang tadi itu,
aku sadar sepenuhya.”
Binar mata Alva berubah. Dari takut, lalu bingung, lalu
bahagia. Alva meraih jemari Shera. Entah keberanian dari
mana, entah apa yang merasukinya. Mungkin perasaan
yang terpendam terlalu lama, mungkin itu kebahagiaan
yang terlalu meluap-luap. Alva menggenggam jemari
Shera erat. ”Shera ­ill you... marry me?” Dengan terbata-
bata setelah mengumpulkan segala keberanian dan mem-
buang semua kecanggungannya.
Waktu mendadak berhenti. Shera mengerjap kaget.
Ubur-ubur di dalam akuarium di belakang Alva yang tadi
berenang ke sana kemari seolah menatap ke arah mereka.
Biarpun Shera nggak yakin ubur-ubur punya mata atau
nggak
”Al...?” Cuma itu yang bisa keluar dari mulut Shera
untuk memastikan.
”Sher, menikahlah sama aku. Aku dapat panggilan
kerja, Sher. Aku dapat panggilan untuk jadi animator di
rumah produksi besar di Tokyo dan akan berangkat ke
sana bulan depan. Tadi malam aku baru terima e-mailnya.
Mereka akan kontrak aku satu tahun sebagai awalnya.
Setelah itu, kalau mereka puas dengan kerjaanku, aku
akan menetap di sana. Kita menikah, lalu kamu ikut ke
sana sama aku. Kita atur waktu untuk ke rumah kamu,
lalu kita—”
”Stop, stop, Al.... Tunggu dulu....” Shera mengangkat
tangan panik. ”Menikah...?”

2

pustaka-indo.blogspot.com
Alva mengangguk yakin. ”Iya, Sher. Menikah. Aku
cinta kamu, masih sama seperti aku jatuh cinta sama ka-
mu enam tahun lalu. Kamu... juga sama, kan? Kita sudah
terpisah begitu lama, dan ternyata perasaan itu masih ada.
Aku... nggak mau kehilangan kamu lagi, Sher.”
Letupan kebahagiaan dan sensasi deg-degan saat dicium
Alva tadi tiba-tiba berubah arah. Shera bingung. Meni-
kah?!
Memang, dulu mereka saling suka, dan ternyata pera-
saan mereka masih sekuat itu sekarang. Tapi, menikah?
Mana bisa mereka begitu saja memutuskan menikah.
Mereka baru ketemu lagi sebulan lebih. Dan sebagian
besar pertemuan mereka selama itu berkaitan dengan
Honeymoon Express.
Oke, mereka berciuman dua kali. Tapi apa itu cukup
untuk memutuskan untuk menikah?
Dulu hubungan Shera dan Darren berjalan dua tahun,
lalu apa? Darren pergi begitu saja, membuat Shera dan
keluarganya malu. Saat itu saja Shera sudah begitu yakin
dan percaya pada Darren, tapi pria itu bisa mengkhianati-
nya—apalagi ini, pria yang datang dari masa lalu, dan
baru dekat dalam hitungan bulan. Apa bisa Shera percaya
begitu saja?
Shera semakin panik. Berbagai pikiran berkecamuk di
benaknya. Bagaimana kalau Shera setuju menikah dengan
Alva, tapi ternyata kehidupan pernikahan mereka tidak
bahagia? Bagaimana kalau ternyata setelah menikah, ba-
nyak hal tentang pribadi Alva yang nggak bisa Shera
terima?

29

pustaka-indo.blogspot.com
Shera memang menyayangi Alva, tapi kenyataannya,
dia belum terlalu mengenal Alva. Apa jadinya kalau
setelah mereka menikah ternyata ini semua cuma letupan
perasaan sesaat, dan bukan cinta? Apakah mereka akan
saling meninggalkan?
Lalu, apa yang akan terjadi dengan Honeymoon Ex-
press kalau Shera ikut ke Jepang bersama Alva?
Kepala Shera mulai terasa pusing karena paniknya
merajarela. Tapi, memikirkan harus long distance relation-
ship aja Shera sudah nggak suka.
Lalu satu fakta lagi melintas di kepala Shera. Apa iya
Shera mencium Alva tadi karena tulus? Atau itu cuma
karena egonya yang merasa terhina oleh Eldi? Dulu Shera
begitu marah menuduh Alva menjadikan dia pelampiasan,
bagaimana kalau sekarang, tanpa sadar, dia yang mela-
kukan itu pada Alva?
Nggak perlu waktu lama untuk Alva menyadari ada
yang nggak beres. Alva langsung gugup. ”Sher, kamu
nggak apa-apa?”
Shera tercekat. ”Aku... nggak bisa. Maaf.”
Seperti ada karung sebesar kuda nil dijatuhkan tepat di
atas kepala Alva, tiba-tiba kepalanya terasa berat. Semua
euforia, semangat, dan optimisme yang menggebu-gebu
tadi seperti menguap. Padahal Alva tadi begitu yakin saat
gagasan itu muncul di kepalanya dengan spontan. Alva
yakin chemistry mereka nyata. ”Kenapa Sher?”
Lalu masih di depan para ubur-ubur yang menyala di
dalam akuarium, Shera mengatakan semuanya yang ber-

20

pustaka-indo.blogspot.com
keliaran di benaknya tadi. Alva mendengarkan dengan
tertegun. Dia terlihat tenang seperti biasa, tapi sorot mata-
nya sama sekali nggak bisa menyembunyikan kekecewa-
annya.
”Kita nggak bisa begitu saja menikah, Al. Kita bahkan
nggak pernah pacaran. Aku nggak menyangkal aku masih
suka sama kamu seperti dulu. Tapi kamu sadar nggak sih,
kita ini sebetulnya nggak terlalu saling kenal? Dulu kita
memang saling suka, tapi aku dan kamu juga nggak
sedekat itu, kan? Kita cuma sesekali ngobrol, ketemu di
kegiatan klub dan diam-diam saling mengagumi.”
Napas Alva terdengar berat. Alva meraih jemari Shera.
Dia nggak mau melepaskan Shera begitu saja. ”Jadi kamu
mau kita lebih saling kenal? Kita jadian aja sekarang. Jadi
pacarku. Nanti setelah masa kontrak tahap awal selesai,
aku akan kembali dan melamar kamu.”
Shera menepuk telapak tangan Alva yang menggenggam
sebelah tangannya dengan lembut. ”Kamu nggak dengerin
aku ya, Al? Aku… aku nggak yakin bisa LDR. Coba kamu
bayangkan, Al, kita baru ketemu dan harus berpisah lagi.
Aku nggak yakin aku bisa sepenuhnya percaya sama
kamu.”
Alva menggenggam tangan Shera lebih erat. ”Kalau
gitu, menikah sama aku, Sher. Aku janji akan memba-
hagiakan kamu. Aku cinta sama kamu.”
”Berapa ukuran sepatuku, Al?”
Alva terenyak. ”Apa?”
”Kamu tahu restoran favoritku?” Shera menatap Alva

21

pustaka-indo.blogspot.com
lurus-lurus. ”Kamu tahu siapa Evan? Kamu tahu kakekku
meninggal tiga bulan yang lalu?” Shera mengembuskan
napas sangat pelan melihat Alva terdiam. ”Itu, Al…
sedangkal itu kamu tahu tentang aku, dan pasti sedangkal
itu juga yang aku tahu tentang kamu. Aku bahkan belum
pernah ke rumahmu.”
Alva melepaskan genggamannya di jemari Shera.
Ucapan Shera benar. Yang mereka tahu cuma kenangan
enam tahun lalu dan begitu sedikit tentang masa seka-
rang.
Ego Alva nggak bisa menerima penolakan Shera karena
dia yakin ini memang cinta. Di sisi lain, Alva mengerti
sepenuhnya maksud Shera.
Sekian detik Alva terdiam. Kembali mencerna semua
yang Shera katakan, lalu ia pun paham. ”Jadi menurut
kamu, kita harus gimana? Apa kamu benar-benar nggak
mau ngasih kesempatan untuk kita?”
”Aku mau tapi....” Alva menahan napas. Menunggu
kalimat selanjutnya dari mulut Shera. ”Tapi aku juga mau
memastikan perasaan kita ini memang nyata. Aku mau
mengulang pertemuan kita ini dari awal.”
”Maksudnya gimana, Sher?”
Shera membulatkan tekadnya. Dia perlu bukti bahwa
perasaan mereka bukan hanya karena situasi. Shera perlu
meyakinkan diri sendiri. ”Aku mau setelah ini kita ber-
pisah dan jalan sendiri-sendiri.”
Alva semakin nggak paham. Katanya Shera mau mem-
beri kesempatan untuk mereka, tapi kenapa malah mau
berpisah?

22

pustaka-indo.blogspot.com
”Aku mau kita putus kontak sepenuhnya. Menghilang
dari kehidupan masing-masing.”
”Tunggu, maksudmu apa, Sher?”
Shera menyentuh tangan Alva pelan. Biasanya Alva
selalu tenang. Selalu bisa menjaga perasaanya stabil dan
nggak panik. Tapi kali ini beda. Belum mendengar sampai
habis omongan Shera, perasaannya sudah lebih dulu
kalut.
”Al, aku mau kita putus kontak dan menghilang dari
kehidupan masing-masing. Kamu nggak usah tahu apa-
apa soal aku dan aku juga nggak usah tahu apa-apa soal
kamu. Satu tahun, Al. Sama seperti lama kontrak kerja
kamu di Jepang. Itu batas kita untuk bisa saling me-
ngontak lagi.”
”Aku... beneran belum ngerti, Sher.”
Shera menggenggam tangan Alva. Alva harus tahu
bahwa dia melakukan ini demi mereka berdua. Supaya
sama sekali nggak ada keraguan. ”Kalau dalam waktu satu
tahun, kita sama sekali nggak pernah kebetulan bertemu,
temui aku di gerbang depan kampus kita. Tanggal dan
jam yang sama seperti hari ini, satu tahun lagi. Kalau saat
itu perasaan kita masih sama, dan kita sama-sama belum
punya pasangan, aku mau jadi pacar kamu, Al. Tapi ingat
ya, kita sama sekali nggak boleh saling mencari selama
setahun.”
”Satu tahun? Satu tahun itu lama, Sher—”
”Al...,” potong Shera, ”seandainya sebelum setahun kita
bertemu tanpa direncanakan, dan ternyata perasaan kita

23

pustaka-indo.blogspot.com
masih sama, dan belum punya pasangan, aku... aku mau
jadi istri kamu.”
Suara Alva seakan mendadak hilang. Alva sama sekali
nggak menyangka Shera bakal mengajaknya melakukan
perjanjian gila seperti itu.
”Kenapa diam, Al? Kamu nggak yakin kita bisa mela-
kukan itu? Kamu jadi nggak yakin sama perasaanmu?”
”Bukan begitu, Sher.”
”Kalau gitu...,” Shera mempererat genggamannya,
”kamu setuju, kan? Kamu bilang kamu mau kasih kesem-
patan untuk kita. Aku juga mau, tapi sebelum itu, aku
harus yakin. Dan dengan cara ini, aku mau meyakinkan
diriku sendiri dan pengin membuktikan bahwa kamu juga
yakin.” Shera menahan napas. ”Tapi kalau kamu nggak
setuju aku—”
”Aku setuju, Sher.” Shera terpaku menatap Alva. ”Aku
setuju,” ulangnya. ”Lalu... apa selanjutnya?”
”Handphone kamu...,” Shera mengulurkan tangan me-
minta ponsel Alva.
Dengan wajah bingung Alva menyerahkan gadget-nya.
”Semua kontakku juga semua komunikasi kita udah aku
hapus. Aku juga bakal melakukan hal yang sama di gadget-
ku, termasuk kontaknya Yulia dan semua yang berhu-
bungan dengan kantorku. Kita mungkin ingat alamat e-
mail masing-masing, tapi aku nggak akan pernah mengi-
rimi kamu e-mail atau membalas e-mail dari kamu.”
Alva sangat terkejut Shera bakal sampai sejauh itu.
Tapi sepertinya Alva bisa mengatur pertemuan nggak

24

pustaka-indo.blogspot.com
sengaja tanpa perlu punya nomor kontak Shera. Dia
masih punya tiga minggu lebih. Shera bilang, kalau mere-
ka ketemu nggak sengaja sebelum setahun, Shera langsung
mau menjadi istrinya, kan?
”Al, kamu berangkat bulan depan, kan?”
Alva mengangguk. Lalu kalimat Shera selanjutnya me-
matahkan semua rencana yang terlintas di kepala Alva.
”Kita mulai putus kontak dari sekarang ya, Al. Tapi
setahun itu terhitung setelah kamu berangkat. Misalnya
sebelum kamu berangkat, kita nggak sengaja ketemu, itu...
nggak terhitung.”
Alva nggak bisa menyembunyikan kekecewaanya.
Shera sangat serius dengan rencananya dan sudah mem-
perhitungkan segalanya. Dan... dengan saksi beberapa
ekor ubur-ubur yang menyala, Alva dan Shera sepakat
hari ini adalah pertemuan dan komunikasi terakhir me-
reka mungkin sampai setahun ke depan.
Shera mendekat ragu, lalu memeluk Alva—sangat
erat.

25

pustaka-indo.blogspot.com
Seperti Hari-hari yang Lalu,
Tanpa Kamu.


Lo berdua sudah gila ya gue rasa. Yang lebih gila lagi
elo. Bisa-bisanya ya kepikiran ide ajaib kayak gitu sih,
Sher? Nggak paham gue!” Yulia ngomel sambil mondar-
mandir di ruang TV apartemen Shera.
Shera dari tadi cuma duduk di sofa sambil mengamati
Yulia yang berjalan bolak-balik bagai setrikaan.
”Kalau gue sih ya Sher, ngerti lo nggak bisa nerima
lamaran kawin. Nggak mau LDR juga paham. Yang gue
nggak paham ngapain pakai putus kontak segala sih? Ka-
lau gue sih ya sudah jalanin aja. Nggak jadian dulu nggak
masalah. Pedekate LDR kan bisa.”
”Ya itu kan elo....” Shera mendekap bantalnya. Berkali-
kali dia menjelaskan pada Yulia tapi tetap aja sahabatnya

2

pustaka-indo.blogspot.com
itu menganggap pikiran Shera rumit dan berhasil bikin
Alva nurut mengikuti kerumitannya. Yulia sampai ge-
leng-geleng dengan ekspresi aneh begitu perempuan itu
tahu Shera dan Alva pulang dari Singapura sendiri-sen-
diri. Alva tetap melanjutkan sesuai jadwal, sedangkan
Shera membeli tiket pesawat paling pagi untuk keesokan
harinya.
Tahu nggak yang bikin Yulia semakin uring-uringan?
Karena begitu mendarat di Jakarta, Shera nggak langsung
mengabari Yulia. Yang Shera lakukan adalah langsung
pulang ke apartemen, mengurung diri seharian, dan baru
mengabari Yulia hari ini. ”Elo kan belum pernah LDR,
padahal coba aja dulu.”
”Duuuhh... elo ah. Gue melakukan semua ini kan ada
alasan sendiri. Justru karena gue ngerasa perasaan gue
sama dia itu besar banget makanya gue pengen ngetes
perasaan gue ke dia dan perasaan dia ke gue.”
Yulia duduk di sofa di hadapan Shera. ”Kalau lo beli
motor di tes. Kalau beli kompor di tes. Ini perasaan sudah
jelas masih di tes. Gue tetep nggak nyambung sama
pikiran lo Sher. Lo berdua sudah jelas-jelas saling suka,
ciuman hot sampe dua kali, dan lo itu maniak hal-hal
romantis kan?—Lo bilang Alva itu cowok romantis yang
tipe lo banget, natural. Terus lo dilamar dengan romantis
juga, eh lo tolak.—Tahu nggak kesimpulan gue? Lo egois.
Atau bego. Atau udah egois, bego pula.”
Kata-kata Yulia bikin Shera releks meletakkan kembali
sesendok es krim yang nyaris masuk ke mulutnya kembali
ke cup-nya. ”Kok gue jadi egois?”

2

pustaka-indo.blogspot.com
”Lo itu lagi menciptakan drama romantis kisah cinta
yang sempurna versi elo.”
Analisis macam apa itu? ”Ngarang lo, Yul. Nggak ada
hubungannya deh sama kisah cinta romantis yang sem-
purna. Gue nggak mau mutusin sembarangan apalagi
untuk milih pasangan hidup. Gue mau menikah dengan
orang yang tepat yang bener-bener cinta sama gue. Yang
beneran cinta sejati gue. Makanya gue harus memasti-
kan.”
”Itu kalimat lo aja udah menjelaskan dengan nyata lo
egois. Aslinya lo cemburu sama Keisha kan?”
Dan pertanyaan—lebih tepatnya tuduhan Yulia—baru-
san bikin Shera ternganga. ”Ih? Semakin ngarang be-
bas.”
”Bukan ngarang, ini fakta yang lo tutup-tutupi. Dan
sebagai sahabat lo yang tahu lo sampe ke jumlah kolor
bolong yang masih lo simpen, lo nggak bisa bohong sama
gue.”
”Fakta yang ditutup-tutupi apa? Ditutup-tutupi dari
siapa coba?”
Yulia menaikkan sebelah alis. ”Dari diri lo sendiri lah.
Alias, denial.” Yulia mengucapkan kata denial dengan
dramatis. Tone suara dibuat rendah dan mata yang me-
nyipit serius.
Dahi Shera berkerut nggak ngerti.
”Lo bilang lo kagum sama apa yang Alva lakukan untuk
Keisha. Awalnya iya emang kagum. Tapi begitu lo tahu
perasaan lo buat dia serius dan dia bales perasaan lo, lo

2

pustaka-indo.blogspot.com
jadi cemburu sama Keisha biarpun dia sudah nggak ada.
Karena dia sudah nggak ada pun Alva masih mau mela-
kukan sesuatu yang segitunya buat dia. Ya kan?”
Shera menggigit-gigit bibirnya. ”Hmm... nggak gitu
juga ah....”
Yulia berdiri dari tempat duduknya lalu tiba-tiba pin-
dah duduk di samping Shera. ”Lo masih aja deh, ngeles.
Ini gue lho, Sher. Lo ngeles pakai jurus paling canggih
ala kungfu shaolin juga percuma.”
Shera mendengus. ”Ya elo menganalisis gue dengan
sok tahu gitu. Yang ngalamin gue apa elo? Kan gue sudah
bilang gue cuma nggak mau perasaan gue sama dia itu
ternyata cuma luapan perasaan sesaat karena terbawa si-
tuasi. Emang nggak boleh? Gue ketemu dia karena Keisha.
Terus gue juga lagi deket sama Eldi. Gue mau memastikan
kalau gue bukan pelarian dari Keisha, dan dia bukan pela-
rian gue dari Eldi. Terus misalnya gue sama dia terlanjur
kawin ternyata pernikahan gue sama dia ancur gimana?
Atau gue sok-sok LDR tahu-tahu dia selingkuh? Atau gue
selingkuh?” Shera merepet emosional. Mendadak dia kok
panik karena merasa dipojokkan ya?
”Nah.”
”Nah apa?” Shera nggak suka dengar nada ”nah”-nya
Yulia tadi. Cuma ”nah” doang tapi terasa sangat mengha-
kimi.
”Nah itu lo merepet panik begitu, nyadar nggak lo se-
dang mengakui gue benar? Pasti nggak nyadar. Ini nggak
ada hubungannya sama Eldi. Kejadian Eldi malah bikin
lo makin kagum sama Alva.”

29

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya itu sih emang iya. Kalau nggak karena Alva gue
nggak tahu gimana aslinya si Eldi....”
”Sst, ntar dulu. Denger dulu.” Yulia mengangkat telun-
juknya menyuruh Shera diam dan menyimak dia sampai
selesai. ”Setelah lo semakin kagum sama dia daaan...
ternyata perasaan lo juga semakin nyata, lo jadi cemburu
melihat apa yang dia lakukan buat Keisha. Dan elo...
pengin tahu apa dia juga bisa melakukan sesuatu sebesar
itu untuk elo. Secara halus sebenernya lo nantang dia buat
buktiin dia setia kan? Mempertahankan perasaan tetap
sama biarpun kalian putus kontak. Lo pengin kagum sama
dia bukan karena dia melakukan sesuatu yang romantis
buat orang lain, lo pengin kagum karena dia melakukan
sesuatu yang sama romantisnya buat elo. Lo berharap
besar sama dia kan, Sher?”
Shera diam. Diam yang membuat Yulia merasa di-
bukakan pintu semakin lebar untuk membeberkan anali-
sisnya.
”Lo yakin lo pasti bertahan karena emang lo cinta ba-
nget sama dia. Tapi yang pengin lo lihat dia juga bertahan
sebagai bukti dia juga cinta banget sama lo. Gue sudah
tahu jalan pikiran lo wahai sahabat gue yang gila kero-
mantisan. Lo sama sekali nggak takut dia adalah pelam-
piasan lo dari Eldi. Ini murni karena lo ketakutan sama
bayang-bayang Keisha. Setelah semua yang dia jelaskan
dan semua kejadian yang lo berdua alami, lo itu masih
ketakutan jadi pelampiasan.”
Isi kepala Shera serasa diaduk-aduk. Seperti ada yang

20

pustaka-indo.blogspot.com
memutar gambar-gambar lash back hari-hari bersama
Alva di kepalanya. Rasa deg-degannya, rasa kagumnya,
dan... betapa Shera selalu merasa betapa beruntungnya
Keisha. Selalu, Shera selalu merasa Keisha beruntung.
Lalu Shera teringat ciuman pertama mereka di Bali.
Ciuman yang membuat Shera begitu marah. Shera marah
bukan karena ciuman itu. Dia menikmati setiap detik
ciuman Alva yang membuat darahnya berdesir dan selu-
ruh mukanya mendadak serasa direbus. Tapi marah ka-
rena dia merasa Alva membuat dia seperti cewek peng-
ganggu hubungan orang yang bisa dicium sembarangan
sementara cinta Alva sebetulnya untuk Keisha. Lalu, saat
dia melihat makam Keisha, entah kenapa dia kecewa.
Kecewa yang aneh karena sebenarnya urusan pribadi
Alva bukan urusan dia. Tapi saat itu dia betul-betul kece-
wa dibohongi Alva. Dan setelahnya Shera malah merasa
begitu iri pada Keisha yang dicintai bahkan sampai saat
dia sudah tidak ada di dunia ini. Iri.
Shera tercekat, tersadar oleh kata iri yang terlintas di
pikirannya barusan. Jarinya releks memuntir ujung ban-
tal yang dia pangku. ”Kalau pun iya, kenapa? Emang ada
orang yang mau jadi pelampiasan?” desis Shera dengan
suara ragu. ”Wajar kan kalau gue butuh pembuktian?”
Detik itu juga cuping hidung Yulia mengembang kom-
pak berbarengan dengan matanya yang membulat puas.
Ekspresi kemenangan karena tebakannya benar. ”Yaaah...
nggak pa-pa juga siiih. Wajar-wajar aja kalau lo perlu
pembuktian biar yakin....”

21

pustaka-indo.blogspot.com
”Nah, bener kan?” sambar Shera semangat.
”Iya, tapi nggak sampe ekstrim kayak gitu juga kali.
Ya kalau ketemu lagi. Kalau nggak? Ya kalau pas ketemu
masih pada jomblo? Kalau nggak?”
”SSSTTT! Berisik ah. Gue mo mandi!” Obrolan ini
harus segera di-cut sebelum menyebabkan perdebatan
panjang yang berpotensi bikin Shera kena serangan gi-
la.
Shera melengos pergi ke kamar mandi. Kepalanya
serasa membesar beberapa senti saking penuhnya dengan
berbagai macam pikiran. Omongan Yulia tadi betul-betul
mengena. Tapi Shera nggak boleh mundur. Dia yakin ini
semua bakal terasa sepadan pada saat nanti dia dan Alva
bertemu lagi. Kalau semua berjalan lancar, saat itu pasti
Shera sudah benar-benar yakin untuk serius sama Alva.
Tapi... kalau semuanya nggak berjalan sesuai rencana
seperti kata Yulia....
Shera memutar keran shower. Air langsung mengguyur
kepala Shera. Dia nggak mau mikirin itu sekarang!

Siapa sangka sebulan aja sudah terasa sangat berat. Shera


harus setengah mati menahan diri nggak mengontak Alva
sebelum dia berangkat ke Tokyo. Kalau Alva berangkat
sesuai jadwal yang sempat dia tulis di notes kecil yang dia
titipkan pada resepsionis hotel di Singapura waktu itu,
berarti Alva akan terbang ke Tokyo hari ini. Dan artinya
hari ini hitungan satu tahun dimulai.

22

pustaka-indo.blogspot.com
Shera mengetuk-ngetukkan bolpoin ke ujung meja.
Semakin dekat hari keberangkatan Alva, Shera takut
rencana ini bukannya membuktikan cinta Alva, malah
membuat dia kehilangan pria itu.
Bagaimana kalau saat mereka bertemu, Alva membawa
pacar, tunangan, atau bahkan istrinya?
Tapi Shera harus melakukan ini.
Shera percaya kalau memang Alva mencintainya, dia
pasti akan menepati janjinya. Beribu-ribu kali Yulia
bilang Shera sinting. Tapi ini hidup Shera, bukan orang
lain.
”Hai, Neeek....” Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka
dan wajah semringah Evan terpampang.
Ya ampun, kok Shera bisa lupa? Bulan ini Evan kembali
ke Indonesia setelah dua bulan dia berkelana menyaksikan
pagelaran fashion designer sekaligus berlibur di Italia.
”Ya ampun, Evaaan!!! Gue lupa lo pulang bulan ini!
Gimana, udah jago cas-cis-cus bahasa Itali? Oleh-oleh
buat gue mana?”
Dengan gaya gemulainya, Evan menyambar lengan
Shera yang sedang berdiri dengan tangan terentang, siap
memeluk sahabatnya itu. ”Cus, bawa tas lo... yang ini,
kan?” Evan menyambar tas Shera dari atas meja. ”Ayo!”
Lho? ”E-eh, Van. Mau ke mana? Tas gue mau dibawa
ke mana?”
”Ikut aja deh, baweeel! Ntar juga tahu.” Evan menarik
Shera menuju mobilnya.
Sepanjang jalan, setiap ditanya jawaban Evan cuma
”Ssstt!” Dengan terpaksa Shera mencari tahu sambil ber-

23

pustaka-indo.blogspot.com
sabar menunggu tanda-tanda yang menunjukkan mau ke
mana mereka sebenarnya.
”Heh? Ngapain ke sini?” Shera mengernyit begitu
mereka memasuki gerbang tol bandara.
”Jemput seseorang!”
”Siapa? Temen lo? Ngapain ngajak-ngajak gue? Lo yang
nggak-nggak aja, gue lagi kerja malah lo ajak cabut buat
nemenin jemput temen lo!” Shera merepet sambil berlari-
lari kecil karena tangannya ditarik Evan yang juga sedang
berlari-lari dari parkiran ke pintu terminal 2. ”Pacar baru
yang lo temuin di Italia?” tanya Shera lagi karena Evan
nggak menjawab.
Sesampainya di terminal 2, Evan berhenti. ”Telepon
dia, bilang lo di sini,” perintahnya pada Shera.
”Hah? Telepon siapa?” Shera melongo. Tapi beberapa
detik kemudian dia menyadari sesuatu dan matanya
langsung membulat. ”Jangan bilang—Yulia ngomong apa
sama lo?!”
Evan menepak jidatnya. ”Duh! Masih pakai diskusi
lagi. Pokoknya semuanya! Dan gue nggak bisa membiar-
kan sahabat gue yang drama ini menyia-nyiakan sesuatu
yang seindah itu dengan bertindak bodoh! Buruan telepon
si Alva sebelum dia cabut ke Jepang, lo bilang deh kalau
perjanjian ajaib buatan lo itu batal! Nggak ada itu yang
namanya putus kontak! Cus lo ending-in your kelakuan
yang aneh itu. ”
Shera bengong. Antara kaget dengan perintah Evan
dan bahasa Evan yang setelah pulang dari Italia malah
semakin nggak jelas.

24

pustaka-indo.blogspot.com
Evan melambai-lambaikan tangan di depan mata Shera.
”Heeelaawww? Kenapa malah pose bengong ya? Buruan
telepon! Gue baru sampe Jakarta tadi subuh dan gue bela-
belain bangun lagi pagi-pagi demi ke kantor lo dan nyeret
lo ke sini! Look at my mata panda karena kurang tidur!
Demi lo nih gue keluar dengan mata panda. No time for
bengong! Telepon dia!”
Shera terdiam bimbang. Tunggu, tunggu, kalau dia
bertemu Alva di sini, mungkin Shera bisa memperhitung-
kan itu sebagai pertemuan nggak sengaja sebelum setahun.
Kalau mereka bertemu hari ini, itu kan karena andil Evan
dan bukan rencana mereka. Jadi bisa dong, Shera anggap
sebagai pertemuan nggak disengaja yang memenuhi ”sya-
rat”—seandainya saja begitu.
”Nggak bisa, Van...”
Mata Evan membesar sekitar empat juta kali lipat.
”Nggak bisa gimana? Nggak bawa HP?”
”Bukan. Gue udah nggak punya kontak dia. Lagian,
Van, kita terlambat. Dia udah berangkat. Penerbangan
subuh tadi. Mungkin pas lo mendarat, dia pergi.”
Bahu Evan seperti melorot. Kecewa. ”Oh my God, lo
bener-bener konyol. Stupidity yang fatality! Udah deh, lo
kontak dia lewat apa kek, Facebook atau e-mail, bisa kan?
Kasih tahu deh perjanjian aneh itu batal!”
Shera menggeleng. ”Makasih, Van, lo perhatian banget
sampe bawa gue ke sini, tapi gue mau terusin perjanjian
ini. Gue bener-bener berharap he’s the one. Dan ini cara
gue untuk ngebuktiin itu. Gue juga makin yakin, dengan

25

pustaka-indo.blogspot.com
kami gagal ketemu hari ini, itu artinya rencana ini me-
mang harus dilanjutkan.” Shera memaksakan senyum.
Shera berbalik berjalan meninggalkan Evan. Baru
selangkah, Shera berbalik lagi menghadap Evan dengan
tatapan penuh ancaman. ”Gue ingetin ya, lo sama Yulia
jangan bikin rencana aneh-aneh buat gue. Pokoknya ini
keputusan gue. Titik! Kalau lo berdua usil... nih!” Shera
membuat gerakan gorok leher sambil cemberut. Saat
berjalan memunggungi Evan, Shera mengusap setetes air
mata yang tiba-tiba meluncur ke pipinya.

2

pustaka-indo.blogspot.com
Menunggu itu Rasanya...

S hera mengetuk-ngetukkan ujung jari ke ujung meja


coffee shop tempat dia, Evan, dan Yulia duduk sekarang.
Tadinya mereka janjan makan siang lalu kembali ke kan-
tor masing-masing. Tapi tiba-tiba Ferdi menelepon, bi-
lang ada yang penting. Jadi Shera suruh Ferdi yang me-
nyusul ke mal dan menemui Shera di coffee shop ini.
”Jadi gimana, Bu? Mereka minta saya segera hubungi
mereka.”
Shera menghela napas. Kepalanya terasa penuh.
Kok bisa begini ya? Dulu tiga klien Honeymoon Ex-
press kabur karena ulah Eldi yang menikung dari bela-
kang. Shera bisa maklum karena kesalahan bukan berada
di pihak Honeymoon Express, tapi yang ini—Ferdi me-

2

pustaka-indo.blogspot.com
laporkan ada dua klien bermasalah. Yang satu baru sam-
pai ke tujuan tapi langsung komplain karena menurut
mereka yang mereka dapat di lapangan nggak sesuai de-
ngan konsep yang mereka minta. Yang satu lagi nggak
puas dengan detail konsep yang Shera buat karena di-
anggap terlalu standar. Mereka meminta uang mukanya
dikembalikan.
”Mereka bilang detailnya, apa yang bener-bener salah
sampai mau cancel?”
Ferdi tampak ragu. Dia berdeham pelan sebelum men-
jelaskan. ”Mm... yang satu, kayaknya Ibu salah baca
detailnya, Bu. Setelah saya cek datanya, memang tertulis
mereka lebih suka tempat modern di tengah keramaian
yang dekat ke mana-mana dan nggak suka tempat ter-
pencil yang bernuansa tradisional. Tapi, yang mereka
dapat justru kebalikannya. Saya sudah berusaha menje-
laskan, tapi... suaminya keburu kesal karena perjalanan
lumayan jauh.”
Ternyata sefatal itu. Itu betul-betul teledor.
Shera terdiam. Yulia dan Evan di samping Shera cuma
bisa diam dengan canggung.
Ferdi cemas melihat wajah gusar Shera. Tapi hal seperti
ini memang harus dilaporkan langsung pada bosnya.
”Maaf ya, Bu, saya nggak mengecek ulang data dan book-
ing-nya. Karena biasanya kalau Ibu yang pegang nggak
pernah ada masalah.”
Shera seperti tertohok. Ferdi benar. Selama ini dia nggak
pernah mengalami masalah berarti saat mengatur perja-

2

pustaka-indo.blogspot.com
lanan bulan madu. Bahkan biasanya dia yang selalu turun
tangan untuk membereskan kekacauan stafnya. Shera
nggak pernah mau mengacaukan sebuah bulan madu.
Bahkan di saat patah hati dan sedih ditinggal Darren be-
gitu aja, dia tetap bisa profesional. Hatinya memang han-
cur, tapi sepertinya nggak sebegitu hancurnya sampai bisa
merusak konsentrasi.
Shera nggak ngerti. Kenapa kali ini?
”Bu?” panggil Ferdi, ragu-ragu, melihat kegusarsan
Shera. ”Bu, sekali lagi saya minta maaf karena saya
nggak—”
”Bukan salah kamu, Fer,” potong Shera cepat. ”Ini
bukan salah kamu,” ulang Shera menegaskan. ”Ini salah
saya. Saya yang kurang teliti. Kamu urus saja refund-nya
kalau memang mereka nggak mau pakai jasa kita untuk
membereskan kekacauan ini. Bagaimanapun kesalahan
ini dari pihak kita. Dan yang satu lagi... saya akan coba
kontak mereka langsung. Siapa tahu masih bisa minta
kesempatan untuk merevisi.”
”I-iya Bu. Yang kedua itu, mereka nggak mau yang
standar.”
Standar. Shera nggak pernah menawarkan perjalanan
standar saat klien memercayai dia untuk menyusun
konsep dan paket utuh. Shera selalu bisa mengolah data
dari klien dan menjadikan bulan madu mereka indah.
Ada apa dengan Shera sih?! Biasanya, apa pun yang
terjadi dalam kehidupan pribadinya, nggak akan sampai
memengaruhi Honeymoon Express. Honeymoon Express
adalah sumber kebahagiaan Shera yang utama.

29

pustaka-indo.blogspot.com
”Masih denial juga? Masih ngeles-ngeles bajaj? Nggak
mau ngaku aja, menyerah, dan mengibarkan bendera
putih?” komentar Evan begitu Ferdi pamit.
Yulia mendelik protes. Kalau ada Evan, dia selalu kalah
sadis. Moncong Evan kalau bersuara memang bisa begitu
sadis dan tak berperasaan.
”Jangan nyambung-nyambungin masalah deh lo, tem-
bem!” desis Shera sambil menoel jambul baru di rambut
Evan. Entah apa yang ada di pikirannya sampai menye-
matkan jambul John Travolta dari era ilm Grease di ke-
palanya.
Evan langsung panik mengecek jambul. ”Heh, ucapan
lo barusan itu penistaan atas jambul gue.”
Shera dan Yulia cekikikan. ”Lo resek sih!” sembur
Shera.
”Resek apaan? Gue bener, kan? Gue cuma memaparkan
fakta yang sesuai dengan data-data akurat,” katanya,
lebay. ”Lo nggak fokus kerja, kenapa? Karena nggak
konsentrasi, lo mikirin Alva. Udahlah, Shera, mendingan
lo cari dia. Lo itu beneran berantakan tiga bulan terakhir
ini. Baru tiga bulan lho!”
”Evan bener, Sher. Lo maksain diri. Gue setuju sama
dia. Mendingan lo cari Alva.”
Duuuh! Dua sahabatnya ini malah bikin dia makin
pusing. Kepalanya sudah pusing karena kerjaan, masih
ditambah vonis sakit cinta akut. ”Kalian berdua tuh ya,
kenapa sih? Bukannya hibur gue karena baru dapet ma-
salah sama klien, malah komentar yang aneh-aneh.”

290

pustaka-indo.blogspot.com
”Siapa yang komentar aneh-aneh, Neeek? Jelas-jelas lo
begini gara-gara nggak fokus. Dan keenggak-fokusan lo
ini dimulai sejak perjanjian konyol lo itu. Kesimpulannya?
Nenek-nenek pingsan juga pasti tahu kesimpulannya!”
Setelah ngomong panjang dengan satu tarikan napas,
Evan ngos-ngosan dan buru-buru menyeruput minum-
an.
”Iya, betul!” Yulia dengan kilat mengiyakan.
Shera melirik. ”Oh, lo nenek-nenek pingsan?”
”Sialan!” Yulia mendengus keki.
Shera menatap Yulia dan Evan bergantian. ”Denger ya
kalian, duo rempong se-dunia, yang namanya kerjaan
pasti sesekali pernah teledor. Jangan disambung-sam-
bungin deh. Lagian, kalian belum lupa, kan? Gue sama
dia udah putus kontak—saling menghapus kontak dalam
bentuk apa pun.”
Yulia berpindah dari tempat duduknya di samping Evan
ke sebelah Shera. ”Kayak orang susah aja sih lo, Sher?
Kalau cuma mau nyusul ke Tokyo kan gampang. Lo kan
ada jatah tiket promo. Hotel juga gampang. Susul aja. Lo
kan tahu nama kantor tempat dia kerja. Ya kan?”
Memang susah membuat orang lain paham sepenuhnya
pada perasaan kita biarpun itu sahabat sendiri. Shera me-
mandang Yulia dan Evan putus asa. ”Kalian bisa ngomong
gitu. Karena kalian bukan gue. Yang ngerasain ini kan
gue. Yang ngejalanin juga gue.”
Yulia menghela napas. ”Ya tapi kan, Sher—”
”Yul, please…. Gue pengin meyakinkan perasaan dia ke

291

pustaka-indo.blogspot.com
gue, jadi kalau ada proses cari-carian, atau susul-susulan
sebelum waktunya, seharusnya dia yang nyari gue. Bukan
gue yang nyari dia. Yang butuh diyakinkan kan gue, bu-
kan dia. Kalau gue susul dia dan kami ketemu, terus apa?
Gue jadi nggak bisa membuktikan apa-apa, kan? Karena
itu berarti bukan kebetulan, dan belum satu tahun.”
Evan menggeser duduknya lebih dekat ke Shera. ”Tapi
Sher—”
”Ssst! Udah deh, kalian. Gue tahu kok kalian khawatir
sama gue. Tapi gue nggak mau mundur. Dan gue janji,
nggak bakal ada lagi kekacauan gara-gara gue nggak fokus.
Oke? Cheers!” Shera mengangkat gelas green tea-nya.
Dia sudah berhasil melewati tiga bulan. Sembilan bulan
lagi seharusnya bukan masalah. Dia hanya harus lebih
menstabilkan diri supaya nggak terjadi kekacauan lagi.

Shera mengempaskan tasnya ke sofa. Hari ini melelahkan.


Dia masih terpukul karena komplain klien gara-gara
kesalahannya sendiri. Shera harus mengembalikan semua
sisa uang mereka. Tapi bukan itu yang membuat dia
gusar. Shera makin sedih karena Honeymoon Express
kehilangan kepercayaan klien. Yang lebih parah, semua
ini terjadi karena keteledoran Shera sendiri. Untungnya,
satu klien lagi mau memberi Shera kesempatan untuk
merevisi konsep. Shera betul-betul harus berkonsentrasi
untuk itu.

292

pustaka-indo.blogspot.com
Shera duduk di tepi ranjang lalu mengempaskan badan
ke belakang. Apa iya dia kacau gara-gara Alva? Akhir-
akhir ini mood-nya memang aneh.
Belakangan ini, perasaannya waktu mengerjakan pro-
yek klien, bukan lagi penuh semangat menggebu-gebu.
Dia nggak lagi membayangkan betapa puas dan baha-
gianya klien itu nanti. Belakangan ini rasanya lebih se-
perti melakukan... kewajiban.
Shera tercekat. Kenapa bisa gitu? Masa iya dia kehi-
langan passion-nya begitu aja? Sesuatu yang dia sukai
selama belasan tahun!
Dengan cepat Shera bangkit dari ranjang.
Nggak bisa kayak gini terus! Lama-lama Honeymoon
Express bisa berantakan gara-gara dia. Nggak boleh ada
klien yang mundur lagi. Shera harus jadi Shera yang dulu.
Yang semua idenya harus dibuat dengan penuh perasa-
an.
Shera membuka salah satu laci. Menarik album Honey-
moon Dreams-nya keluar.
Halaman demi halaman Shera buka. Dia nggak tahan
untuk nggak tersenyum geli di halaman-halaman pertama.
Dia masih berumur sekitar tiga belas tahun waktu mem-
buat halaman-halaman itu. Halaman pertama isinya be-
tul-betul menggambarkan tekad Shera terhadap mimpi-
nya. Guntingan gambar bola dunia yang di pinggir-
pinggirnya ditempeli ikon-ikon tempat-tempat indah di
dunia. Guntingan-guntingan gambar menara Eiffel, Pisa,
Taj Mahal, sampai Borobudur. Ditambah guntingan

293

pustaka-indo.blogspot.com
bentuk hati berwarna-warni di atas masing-masing gam-
bar. Lalu, di sudut bawah ada guntingan foto Shera ABG
sedang tersenyum lebar. Di sampingnya, ada guntingan
kertas berwarna hitam membentuk siluet seorang pria
dan satu lambang hati berwarna pink di atas kepala me-
reka berdua.
Shera masih ingat, pikirannya tentang hal-hal romantis
dan bulan madu berupa traveling keliling dunia bersama
cowok yang dia suka. Sesimpel itu. Dan, polos. Dia
bahkan belum mengerti kalau bercinta ada di dalam daftar
kegiatan bulan madu. Kegiatan ”dewasa” itu yang nggak
pernah dia bayangkan sebelumnya.
Shera senyam-senyum sendiri.
Jemarinya membuka halaman selanjutnya. Ada benda
yang jatuh. Benda yang bikin dada Shera berdegup kacau
lagi.
Gelang anyaman benang hitam dan emas.
Shera ingat terakhir kali dia dan Alva berpisah di S.
E.A. Aquarium, gelang itu masih melingkar di pergelangan
tangannya. Shera benar-benar lupa mengembalikannya.
Dia baru sadar gelang itu masih di tangannya keesokan
pagi sebelum berangkat ke airport. Shera sempat berpikir
menemui Alva untuk mengembalikan gelang itu sesam-
painya di Jakarta, tapi langsung mengurungkan niatnya.
Shera nggak mau mengambil risiko kalau mereka bertemu
lagi, perjanjian ini bisa goyah dan batal.
Shera memutuskan untuk menyimpannya. Menyelip-
kannya di dalam laci di halaman paling belakang album
Honeymoon Dreams-nya.

294

pustaka-indo.blogspot.com
Entah kenapa tiba-tiba saja Shera menangis. Menangis
sambil menggenggam gelang itu, lalu semuanya berkelebat
di kepalanya bagai ilm. Kebersamaan mereka di Bandung,
di Bali, dan terakhir di Singapura. Ciuman itu.…
Dada Shera seakan sesak. Dia benar-benar lupa dengan
Keisha. Semua yang ada di benaknya cuma Alva.
Di mana dia sekarang? Sedang apa? Apa dia teringat
pada Shera seperti Shera mengingat dia? Apa dia pernah
berpikir untuk mencari Shera lebih dulu dan melanggar
perjanjian karena nggak tahan jauh-jauh dari Shera? Atau
malah, sebaliknya?
Shera menangis. Isakannya semakin kuat. Bagaimana
kalau ternyata Alva justru melupakan Shera, dan sedang
bersantai menikmati hidup?
Tiba-tiba Shera patah hati. Pria yang bisa diandalkan
memang pria yang bisa memegang janjinya. Mungkin
saja Alva sedang memegang kuat-kuat komitmennya un-
tuk mengikuti perjanjian ini sesuai yang Shera minta.
Tapi gimana kalau nggak?
Tangis Shera semakin kencang.

Di rumahnya, Yulia mengernyit melihat e-mail yang


masuk tengah malam begini. Sekilas dia seperti mengenal
alamat e-mail itu.
Begitu dibuka, Yulia terkaget-kaget.

295

pustaka-indo.blogspot.com
From: Alvaromeo313@gmail.com
To: itsmeYulia@yahoo.com

Dear Yulia,
Hai, Yul, apa kabar? Ini gue, Alva. Sebetulnya e-mail lo
juga sudah dihapus Shera dari kontak gue. Termasuk e-mail
yang masuk dari lo waktu lo kirim e-mail materi workshop
ke gue dulu. Tapi Shera lupa hapus sent item. Makanya,
gue nemu alamat e-mail lo di sent item.
Gue nggak usah basa-basi ya, Yul. Gue yakin lo sudah
tahu semua yang terjadi antara gue dan Shera. Gue sudah
janji untuk komit dan ngikutin permintaan Shera karena
dia bilang dia perlu semua ini untuk meyakinkan diri.
Sebetulnya gue kecewa dia nolak lamaran gue, dan juga
ajakan gue untuk LDR. Tapi bagaimanapun, gue nggak
bisa memaksa perasaan orang.
Gue pengin banget e-mail dia. Tapi gue nggak mau
Shera nganggep gue cemen dan nggak bisa pegang
janji.
Tapi pada akhirnya gue nggak tahan juga kalau nggak
tahu kabar dia.
Gue kirim e-mail ke lo cuma pengin tahu… dia baik-baik
aja, kan?
Gue ngerti kalau lo nggak mau bales e-mail gue.
Trims, Yul.
-Alva-

29

pustaka-indo.blogspot.com
Yulia tercenung. Dia gemas, kenapa juga Alva nggak
nekat kirim e-mail ke Shera? Perempuan biasanya luluh
dengan pria yang nekat demi cinta. Tapi, Yulia juga salut
sih dengan sikap penuh komitmen Alva. Itu bukti bahwa
dia pria yang bisa pegang janji.
Tangan Yulia mengambang di atas keyboard. Ragu mau
membalas e-mail Alva atau nggak.

29

pustaka-indo.blogspot.com
Dream a Little
Dream of Me...

3 bulan kemudian....

J emari lincah penjahit kebaya pengantin menjelujur


brokat di area pinggang. ”Dietnya ketat banget ya, Mbak?
Padahal baru dua minggu lalu itting pas banget. Eh,
sekarang berkurang satu senti,” komentar si penjahit ke-
baya.
”Ya maklum lah.... Namanya juga mau jadi pengantin.
Pasti biar malam pertamanya nanti hot dan seksi ya, Cin?
Bodinya sudah ala-ala Miranda Kerr. Singset langsing ala
ala macan gimanaaa gitu.... Tadi pagi aja pas akad, si mas-
nya kayak udah nggak tahan banget tuh.” Sambil menata
sanggul, hair stylish bergaya nyentrik dan gemulai ikutan
komentar. Nggak lupa mengedip-ngedipkan mata penuh

29

pustaka-indo.blogspot.com
arti. ”Awas lho, Ciiin… kelewat seksi nanti masnya jadi
nggak ku-ku... alias kurang tahan lama. Kayak paket kilat
gitchuuu....” Lalu seisi ruangan khusus pengantin perem-
puan di ballroom hotel itu tertawa kompak.
Evan yang duduk di pojok ruangan ikut cekikikan.
Nggak nyangka, salah satu sahabatnya bakal menikah
secepat itu. Padahal tiga bulan yang lalu belum ada tanda
apa-apa.
”Yuliaaa... maaf, cintaku, gue telaaat....” Pintu ruangan
terbuka. Shera tergopoh-gopoh masuk dengan kantong
plastik minimarket 24 jam di tangannya. ”Nih, cokelat
pesenan lo. Demi menebus ketelatan, gue sampe rela
turun di minimarket dengan dandanan total begini.”
Shera menyodorkan plastiknya ke arah Yulia.
Yulia cemberut menyambar plastik yang disodorkan
Shera. ”Gila lo ya, berani-beraninya nyaris telat ke resepsi
kawinan gue! Nyebelin sih lo, habis akad pakai ke kantor
dulu! Untung lo masih sempet. Kalau nggak... nggak ter-
maafkan!”
”Iyaaa... iyaaa....” Shera tersenyum maklum.
Sahabatnya itu cantik banget hari ini. Balutan kebaya
pengantin bernuansa salem betul-betul bikin Yulia keli-
hatan anggun, elegan, dan tentu saja sangat bahagia.
Tiba-tiba mata Shera menghangat. Setelah akad nikah
tadi pagi, Yulia sudah sah jadi seorang istri. Nggak
nyangka, Yulia yang menikah duluan.
Tiga bulan lalu, tiba-tiba aja Dennis melamar Yulia.
Tanpa pikir panjang, Yulia menjawab iya. Lalu tiga bulan
kemudian, di sinilah mereka. Di hari pernikahan Yulia.

299

pustaka-indo.blogspot.com
”Eh, kenapa muka lo bengong tiba-tiba begitu?”
”Yuliaaa... Selamat ya!” Shera memeluk Yulia tiba-tiba.
Dia terlalu terharu dan ikut bahagia. ”Berkali-kali meluk
lo hari ini, gue tetep belum puas, Yul. Gue terlalu bahagia
buat lo.”
Yulia balas memeluk Shera. Tanpa harus mengatakan
apa pun, Yulia tahu Shera bahagia banget untuk dia.
Dalam hati Yulia berulang kali berdoa semoga Shera
mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti dia hari
ini.
”Eeh... kecurangan terselubung banget sih kalian peluk-
an berdua!” Evan melompat dari duduknya lalu ikut me-
meluk kedua sahabatnya.
”Oke, sekarang lo bisa lepasin gue, Sher, sebelum ada
ornamen sanggul gue yang nyangkut di rambut kalian
berdua. Kalau sanggul gue rusak dan gue harus duduk
diem sampe kepala pegel lagi, gue cekek lo berdua sampe
jadi kuntilanak!”

”Makan chocolate fondue yuk?” ajak Evan sambil meng-


gandeng tangan Shera yang lagi asyik berdiri di gubuk
siomay Bandung.
”Ah, makan mulu lo, Van! Itu perut nggak penuh-pe-
nuh? Kita baru juga beres makan siomay.”
Evan cengengesan. ”Eh, intisari kondangan itu, selain
merayakan pernikahan seseorang, ya makan-makan gra-

300

pustaka-indo.blogspot.com
tis. Lagian, kalau perut lo melenting dikit, nggak bakal
kelihatan. Semua orang udah terpesona sama gaun lo yang
bikin lo cuantik dahsyat bak dewi-dewi khayangan yang
iseng-iseng turun ke bumi ini.”
”Ih!” Shera mendelik.
Tapi Evan nggak salah. Shera memang nggak kalah
cantik dengan Yulia malam ini. Gaun brokat pink pucat
dengan punggung terbuka, rambut digelung bergaya messy,
Shera seperti siap melenggang di red carpet Piala Oscar
sambil melambai dadah-dadah mesra pada paparazi.
”Sudah ah, ayo!”
Niat Evan makan chocolate fondue ternyata nggak main-
main. Begitu sampai di konternya, Evan kalap mencomot
semua yang ada di situ. Stroberi, apel, marshmallo­, bis-
kuit... semuanya deh. Sementara di panggung kecil dekat
pelaminan, band sudah mulai memainkan lagu-lagu cinta
mengiringi resepsi.
Shera cuma sanggup makan dua stroberi dan sepotong
apel. Perutnya telanjur penuh sate, lasagna, mini piza,
dan siomay. Shera melempar pandangan ke seluruh ruang-
an resepsi. Nuansa romantisnya betul-betul terasa.
Shera tersenyum puas. Mudah-mudahan Yulia juga.
Shera memang bukan ­edding organizer. Tapi dia nggak
mungkin menolak permintaan sahabatnya untuk bikin
konsep dekorasi romantic ­edding khusus untuk Yulia.
”Buat nikahan si Yulia aja lo bisa mikirin dekor sero-
mantis ini ya, Nek? Gimana buat nikahan lo sendiri?”
celetuk Evan tiba-tiba. Sedetik kemudian mukanya lang-

301

pustaka-indo.blogspot.com
sung berubah panik, merasa salah ngomong. ”E-eh, so-
ri....”
”Santai aja kali.” Shera menepuk bahu Evan pelan. Toh
omongan Evan nggak salah. Kalau untuk pernikahannya
sendiri, Shera pasti akan membuat sesuatu yang ekstraisti-
mewa.
Shera terenyak. Kalau waktu itu dia menerima lamaran
Alva dan menikah sebelum Alva berangkat ke Tokyo,
mungkin pesta pernikahan mereka akan sederhana aja
karena waktunya mepet. Mungkin pernikahan mereka
akan menjadi resepsi kecil-kecilan yang romantis dan
syahdu dan dihadiri orang-orang dekat saja. Shera mung-
kin akan memilih menikah di pulau, seperti pasangan
artis yang sering dia lihat di TV.
Kalau mereka sudah menikah, mungkin mereka datang
ke pernikahan Yulia berdua. Terbang dari Tokyo khusus
untuk menghadiri acara Yulia. Dan mungkin juga, saat
ini perut Shera membuncit bukan karena kebanyakan
makan, tapi karena mengandung bayi mungil buah cinta-
nya dengan Alva.
Pipi Shera memerah, membayangkan hangatnya dipe-
luk Alva. Apa mereka kalau ketemu nanti juga akan ber-
pelukan, atau mereka bakal sama-sama canggung? Atau
jangan-jangan mereka malah langsung berciuman dengan
hot dan mesra. Shera sama sekali nggak keberatan dengan
pilihan terakhir.
”Wah... ternyata ada yang mau nyanyi nih, perwakilan
dari tamu-tamu di sini.” Suara vokalis band terdengar
riang.

302

pustaka-indo.blogspot.com
Shera menyikut Evan pelan. ”Ada yang nyanyi tuh!
Keduluan sama orang deh lo, Van. Sebagai penyanyi
karaoke sejati, lo kalah start. Lepas sudah aura bintang
lo.” Shera cekikikan.
Evan mendelik. ”Giling lo! Suara gue khusus buat yang
kupingnya pada tahan sama tingkat kemerduan ekstrem.”
”Buat lumba-lumba sama anjing pelacak...,” sambung
Shera sambil terus cekikikan. Tapi, tiba-tiba tubuhnya
membeku.

Stars shining bright above you.

Baru saja dia teringat Alva, lalu petikan gitar intro lagu
ini....
”Lagu kesukaan lo tuh!” Evan menoel pipi Shera. ”Bia-
sa aja, jangan sampe bengong gitu!”

Night breezes seems to ­hisper I love you.


Birds singing in the sycamore tree , dream a little dream
of me

Shera tercekat. Suara yang tenang dan datar minim


vibrasi itu....
”Kirain suaranya bakal kayak apa gitu. Nekat amat ya
nyanyi di panggung? Siapa sih, Sher? Eh, kenapa lo?”
Tanpa menjawab pertanyaan Evan, Shera meletakkan
piring kecil berisi potongan stroberi yang dia pegang. Sti-
letto-nya nggak menghalangi dia untuk berlari kecil

303

pustaka-indo.blogspot.com
sambil berusaha menerobos kerumunan tamu yang ber-
kumpul di seluruh area ballroom sambil makan dan ngo-
brol.

Say nighty night and kiss me,


just hold me tight and tell me you miss me,
When I’m alone as blue as can be
dream a little dream of me...

Semakin mendekati panggung, Shera semakin gemetar.


Kalau dia nggak berusaha mengatur irama napasnya
untuk tetap normal dan menjaga keseimbangan, mungkin
dia sudah terjungkal karena berlari-lari dengan stiletto
sepuluh senti. Dia bisa saja masuk UGD karena jatuh
lalu kejedot ujung meja.
Shera menatap kaku ke arah panggung. Dan di situlah
dia.
Alva.
Pria itu duduk di kursi kecil di atas panggung sambil
memetik gitar dan menyanyikan lagu kesukaan Shera
dengan setelan jas hitam serta kerah kemeja yang kancing
atasnya terbuka. Dream A Little Dream.
Shera mematung. Kenapa dia ada di sini? Kapan dia
datang? Kenapa dia menyanyikan lagu ini? Kenapa dia
nggak bilang dia mau ke sini?
Alva terus bernyanyi sambil menatap Shera. Gadis itu
berdiri di hadapannya sekarang dengan ekspresi tak ter-
baca. Dia kangen, ingin berhenti dan langsung meme-

304

pustaka-indo.blogspot.com
luknya. Cuma kekagetan yang terlihat di wajah Shera.
Alva bisa membayangkan dua kemungkinan reaksi perem-
puan itu. Dia bisa balas memeluk, atau malah menampar
Alva karena berbohong. Alva nggak bisa menebak, ma-
kanya dia terus bernyanyi.

Stars fading, but I linger on dear,


Still craving your kiss,
I’m longing to linger till da­n dear, just saying this....

Sweet dreams till sunbeams ind you,


S­eet dreams that leave all ­orries behind you,
But in your dreams, ­hatever they be,
dream a little dream of me....

Lalu setelah bait terakhir, Alva meletakkan gitarnya.


Matanya nggak lepas dari mata Shera. Pelan dan hati-
hati, Alva bangkit dari kursi kecil tempat dia duduk,
bergerak begitu pelan dan ragu. Alva takut Shera marah
dan berlari pergi. Tapi perempuan itu hanya diam me-
matung dengan ekspresi masih tak terbaca.
Yulia mengamati semuanya dari panggung. Waktu
serasa membeku. Yulia takut semuanya jadi kacau dan
malah terjadi keributan. Sedetik kemudian, Shera meno-
leh dan menatap Yulia dari tempatnya berdiri, meminta
penjelasan. Yulia melambai pada Shera sambil tersenyum
dengan sejuta arti. Cukup senyuman itu, Yulia yakin
Shera bisa menebak kalau Yulia yang mengundang Alva
tanpa bilang-bilang pada Shera.

305

pustaka-indo.blogspot.com
Yulia menghela napas. Semoga apa yang dia lakukan
nggak bikin hubungan mereka jadi kacau. Kadang-kadang,
jelas-jelas Tuhan sudah mempermudah segalanya, tapi
manusianya sendiri yang membuat semua jadi rumit.
Yang lebih ajaib, manusianya suka pusing sendiri atas
kerumitan yang dia ciptakan dengan sadar dan kelewat
kreatif, misalnya Shera.
Ketika malam itu e-mail dari Alva sampai pada Yulia,
pikiran itu terlintas begitu aja. Siapa tahu Tuhan mau
menuntaskan segala kerumitan antara Shera dan Alva
lewat dirinya. Itu alasan Yulia memutuskan untuk mem-
balas e-mail Alva, sekaligus mengirimkan undangan per-
nikahannya.
Alva nggak pernah membalas lagi. Sebetulnya Yulia
nggak begitu berharap Alva akan datang. Lagi pula, ter-
bang dari Tokyo kan lumayan jauh. Pekerjaan Alva juga
mungkin nggak bisa ditinggalkan, tapi ternyata Yulia
salah. Pria itu sekarang ada di sini, menyanyikan sebuah
lagu yang sepertinya membuat Shera berlari pontang-
panting, entah dari mana dia berdiri tadi.
”Kamu... jangan marah sama Yulia.” Alva maju selang-
kah.
Shera masih mematung. Dadanya terasa penuh sesak
dengan segala jenis perasaan yang campur aduk.
”Yulia... memang mengirim undangan untuk aku, tapi
itu karena dia membalas e-mailku, aku yang kirim e-mail
duluan, karena aku menanyakan kabarmu. Dan waktu
dia kirim undangan, aku sama sekali nggak konirmasi
untuk datang. Jadi... Yulia juga nggak tahu.”

30

pustaka-indo.blogspot.com
Suara itu. Suara yang sudah berbulan-bulan Shera
rindukan. Jadi... Alva berhasil mendapatkan alamat e-mail
Yulia dan menulis e-mail karena pengin tahu kabar
Shera? Jadi dia mencari tahu soal Shera? Apa karena dia
kangen?
Jantung Shera berdegup kencang. Debarannya masih
sama kuatnya seperti setiap kali dia bersama Alva. Nggak
ada yang berubah.
Shera tetap diam dengan ekspresi yang masih tak
terbaca. Alva mendadak ragu. Apa dia harus mundur?
Apa dia... lebih baik pergi dari sini karena gagal menepati
janji? Dia tahu dia sudah ingkar. Shera memang nggak
tahu mereka akan bertemu hari ini, tapi Alva tahu—dia
curang.
”Sher, apa pertemuan ini... bikin kamu marah? Tapi,
pertemuan ini kan kebetulan karena Yulia ngundang aku.
Sher, aku… minta maaf kalau kamu marah. Tapi aku
cuma mau—”
Air mata Shera menetes satu per satu. Mata Shera ter-
pejam, berusaha mendengarkan kata hatinya sendiri de-
ngan lebih jelas. Nggak ada yang berubah, semua masih sama.
Melihat Alva masih membuatnya deg-degan. Mendengar suara
Alva masih membuat darahnya berdesir. Dada bidang Alva,
masih membuatnya ingin melompat dan tenggelam dalam
pelukan pria itu. Bibir Alva... bibir yang pernah menciumnya
dengan hangat, lembut, dan mesra, masih membuatnya ingin
menciumnya lagi....
”Sher, kamu—”

30

pustaka-indo.blogspot.com
”Alva....” Shera melompat ke pelukan Alva dengan
masih berderai air mata. Nggak peduli berpasang-pasang
mata sekarang menatap ke arah mereka, Shera memeluk
pria itu erat-erat. Merasakan hangatnya pelukan Alva.
Mendengarkan debar jantungnya. Shera nggak peduli
pada semua mata yang menatap ke arah mereka sekarang,
dibumbui dengan bisik-bisik gosip. Nggak peduli make
up-nya bakal berantakan, berlepotan, dan membuat muka-
nya mirip setan atau mengotori jas dan kemeja Alva.
Alva melepas pelukannya sesaat, lalu menatap Shera
dengan lembut. Dia sangat merindukan Shera. Dia cuma
ingin mereka bersatu dan nggak berpisah dengan konyol
lagi. Tangannya meremas lembut bahu Shera. ”Jangan
nangis....” Dia menarik Shera kembali ke pelukannya.
Shera membenamkan wajahnya ke dada Alva, meng-
hirup aroma tubuh pria itu dalam-dalam. Sepuasnya, se-
perti membayar kerinduannya selama berbulan-bulan.
Alva membelai rambut Shera lembut, lalu memeluknya
lebih erat lagi. Berkali-kali dia menciumi ujung kepala
Shera dan merasakan rambut Shera yang wangi dan
lembut. Kangen yang berlebihan ternyata memabukkan.
Alva betul-betul merasa seperti orang mabuk yang nggak
peduli sekelilingnya.
”Semua orang... ngeliatin kita, Al,” bisik Shera semen-
tara kepalanya masih terbenam di pelukan Alva.
Alva malah mempererat pelukannya. ”Biar aja mereka
ngeliatin kita. Aku mau begini dulu.”
Shera nggak menjawab lagi. Apa yang mau dia bantah?

30

pustaka-indo.blogspot.com
Karena Shera sendiri juga mau begini dulu. Menikmati
pelukan ini. Dia tahu, setelah acara berpelukan dan penuh
air mata, banyak hal yang harus mereka bicarakan. Soal
perjanjian itu, soal apa yang akan terjadi pada mereka
setelah ini karena kontrak kerja Alva baru habis sekitar
empat bulan lagi dan ada kemungkinan akan diperpanjang.
Mereka harus memikirkan semua itu setelah sekarang
jelas terbukti mereka memang saling mencintai.
Tapi itu nanti.
Sekarang, detik ini, Shera cuma ingin puas-puas berpe-
lukan dengan Alva. Mengungkapkan kerinduan yang
sudah nggak bisa diwaliki kata-kata. Tuhan memang
punya cara yang nggak terduga untuk memberi kejutan.
Dan kali ini Shera bersyukur karena Tuhan menjadikan
Yulia malaikat yang dikirimkan khusus untuk memper-
temukan Shera dan Alva lagi.
Shera tersadar, janji adalah janji dan harus dia tepati.
Biarpun ingin lebih lama menikmati suasana ini, Shera
terpaksa melepaskan pelukan Alva. Dengan lembut dia
menggenggam jemari pria itu. Diiringi lagu Every Day I
Love You yang dinyanyikan band di atas panggung, Shera
menatap mata Alva yakin. Cuma dua kata yang ingin dia
ucapkan dengan senyum paling manis yang dia punya.
”I do.”

309

pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
So,
After all we’ve been through together
Now and forever, good and bad times
I love you, you love me, always...

Jangan salahkan cinta, karena dia jujur apa adanya.


Alhamdulillah, akhirnya buku ke-12.
Thanks to Allah SWT buat ide yang selalu mengalir.
Papah, Mamah, Yura, Kenzi, Aa, Iki, Diena, Musa, I have
the best family in the ­orld.
Thanks to my Mister Sunshine for al­ays being there for
me, I love you.
My best friends, my horses, thank you! No­ I can say, I
love my life
Dan buat kamu yang memegang buku ini, happy read-
ing!

IG: miaarsjad
FB page: Mia Arsjad
Feel free to contact me!

pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
Tiga
HONEYMOON
EXPRESS
Alva bukan sekadar teman lama. Dia laki-laki yang
selalu bikin jantung Shera berdebar nggak keruan
sewaktu di kampus.

Dan setelah sekian tahun, reaksi debar jantungnya masih


sama. Tapi lamunan Shera langsung buyar setelah Alva
bilang dia mau memakai jasa Honeymoon Express—biro
perjalanan bulan madu milik Shera—untuk merancang
bulan madunya dengan wanita lain! Rasanya seperti
patah hati dua kali dengan orang yang sama.

Tapi, yang namanya bisnis harus profesional. Shera setuju


menangani langsung proyek bulan madu Alva sambil
diam-diam menikmati setiap kali berada di dekat Alva.
Shera nggak menyangka, semuanya jadi berantakan
karena ternyata proyek bulan madu Alva bukan bulan
madu biasa.

Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I, Lantai 5
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta 10270
www.gpu.id
www.gramedia.com
pustaka-indo.blogspot.com