Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS NASKAH DRAMA “MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL” SEBAGAI SEBUAH KARYA SASTRA

ANALISIS NASKAH DRAMA “MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL” SEBAGAI SEBUAH KARYA SASTRA DISUSUN OLEH: Darliyah Lum

DISUSUN OLEH:

Darliyah Lum atun Nafisah Rachmawati Ayu K.

: 125110707111013 : 125110707111004 : 125110707111003

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS BRAWIJAYA OKTOBER 2014

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Karya sastra merupakan karya yang dipenuhi dengan simbolik atau tanda- tanda yang tidak mudah ditafsirkan dengan angan-angan, artinya sebaik atau sebagus apapun penafsiran seseorang tentang karya sastra tetap ada batasan dan ketentuan, misalnya drama. Drama merupakan bentuk dari karya sastra berupa gambaran seni yang datang dari nyanyi dan tarian ibadat Yunani kuno, yang di dalamnya dengan jelas terorganisasi dialog dramatis, sebuah konflik dan penyelesaian digambarkan di atas panggung. Sebuah karya sastra tidak lagi indah dan bebas untuk diimajinasikan, karena adanya batasan terorganisasi yang diselesaikan di atas panggung, sebaliknya drama menjadi seni yang dapat menghancurkan persepsi seseorang terhadap suatu karya sastra. Shklovsky (dalam Firdaus, 2007) menjelaskan “Seni berarti menghancurkan persepsi dari yang tadinya otomatis menjadi tidak otomatis, tujuan dari imaji bukanlah untuk menghadirkan makna dari objek yang dideskripsikan pada pemahaman kita, melainkan untuk membentuk suatu persepsi khusus dari objek tersebut”. Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa karya sastra yang dipertunjukkan akan membuat imajinasi seseorang terhambat, pembaca tidak dapat mengeksplorasi imajinasinya dengan bebas. Namun perkembangan karya sastra menjadi sebuah seni pertunjukkan menjadikan karya sastra tersebut tidak stagnan atau tidak cenderung pada teks tertulis. Keunggulan drama dibandingkan dengan karya sastra lainnya, seperti cerpen, novel, dan puisi terletak pada tujuannya, yaitu drama diciptakan untuk dipentaskan dan dinikmati bersama- sama. Pernyataan tersebut selaras dengan pendapat Dewojati (2010:15) bahwa drama sebagai sebuah karya sastra diciptakan untuk dipentaskan dan nikmati secara bersama-sama, serta menjadikan sebuah teks drama lebih hidup karena diperagakan di atas panggung. Oleh karena itu, penulis memilih judul “Analisis Naskah Drama ‘Matahari di Sebuah Jalan Kecil’ sebagai Sebuah Karya Sastra”.

1.2.Rumusan Masalah

  • 1.2.1. Bagaimana hakikat drama sebagai sebuah karya sastra?

  • 1.2.2. Bagaimana unsur intrinsik naskah drama “Matahari di Sebuah Jalan Kecil” karya Arifin Chairin Noer?

  • 1.2.3. Bagaimana unsur ekstrinsik naskah drama “Matahari di Sebuah Jalan Kecil” karya Arifin Chairin Noer?

1.3.Tujuan

  • 1.3.1 Untuk mengetahui hakikat drama sebagai sebuah karya sastra.

    • 1.3.1. Untuk mengetahui unsur intrinsik naskah drama “Matahari di Sebuah Jalan Kecil” karya Arifin Chairin Noer.

    • 1.3.2. Untuk mengetahui unsur ekstrinsik naskah drama “Matahari di Sebuah Jalan Kecil” karya Arifin Chairin Noer?

BAB II PEMBAHASAN

  • 2.1. Hakikat Drama sebagai Sebuah Karya Sastra

Jabrohim (2001:167) mengatakan bahwa karya sastra adalah hasil pikiran pengarang yang menceritakan segala permasalahan itu karena pengarang berada dalam ruang dan waktu. Sesuai dengan pendapat Horace (dalam Darma 2004: 9-10) menganggap karya seni yang baik termasuk sastra selalu memenuhi dua butir kriteria, yaitu dulce et utile, artinya sastra harus bagus, menarik, memberi kenikmatan. Di samping itu sastra harus memberi manfaat atau kegunaan, yaitu kekayaan batin, wawasan kehidupan, dan moral. Drama adalah salah satu bentuk karya sastra yang menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan konflik melalui dialog. Menurut Damono dan Hasanudin (dalam Dewojati, 2010:1) drama memiliki karakteristik yang khusus, yaitu satu sisi berdimensi sastra dan sisi lain sebagai seni pertunjukan. Kedua sisi tersebut, memiliki kebermanfaatan bagi pembaca dan penonton. Drama dikatakan bermanfaat bagi pembaca jika pembaca melihat teks drama dan bermanfaat bagi penonton jika penonton tersebut menyaksikan sebuah pertunjukan drama. Kajian tentang drama pada saat sekarang dapat dikatakan sulit ditemukan karena pembaca teks drama hanya menikmati cerita di dalamnya tanpa ada sikap kritis, bahkan penonton drama pun terkesan acuh akan pertunjukkan yang dilihatnya karena ketidakpahaman penonton terhadap teks drama sebelum dipentaskan. Drama memiliki tiga unsur yang terkandung di dalamnya, yaitu teks drama, unsur pementasan, dan unsur penonton.

2.2.

Unsur Intrinsik Naskah Drama

Unsur-unsur intrinsik drama adalah sebagai berikut (Rohmadi, 2008:147). 2.2.1 Plot Dalam sebuah karya sastra (fiksi) berbagai peristiwa disajikan dalam urutan tertentu (Sudjiman, 1992:19). Peristiwa yang diurutkan dalam menbangun cerita itu disebut dengan alur (plot). Plot merupakan unsur fiksi yang paling penting karena kejelasan plot merupakan kejelasan tentang keterkaitan antara peristiwa yang dikisahkan secara linier dan kronologis akan mempermudah pemahaman kita terhadap cerita yang ditampilkan. Untuk memperoleh keutuhan sebuah plot cerita, Aristoteles (dalam Nurgiyantoro, 2010:142) mengemukakan bahwa sebuah plot haruslah terdiri dari tahap awal, tahap tengah, dan tahap akhir. Plot meliputi hal- hal berikut ini:

2.2.1.1 Tahap Awal

Tahap awal merupakan tahap perkenalan pada sebuah cerita. Perkenalan dari segi setting, waktu, perkenalan tokoh-tokoh, dan lain- lain (Nurgiyantoro, 2010:142). Di sebuah jalan kecil terdapat sebuah pabrik es yang sudah sangat tua. Di depan bangunan pabrik es itu ada seorang wanita tua yang berjualan makanan berupa pecel. Pelanggannya kebanyakan dari pekerja pabrik juga. Saat itu yang berada di halaman pabrik tersebut ada Si Tua,

Si Peci, Si Kurus, Si Kacamata, dan Si Pendek. Mereka sedang makan sekaligus mengeluh tentang harga makanan dan kebutuhan pokok yang terus beranjak naik sedangkan gaji mereka tak kunjung naik. Dibuktikan dengan adanya kutipan naskah sebagai berikut.

Tetapi sebuah pabrik es yang tidak kecil berdiri di pinggirnya dan pabrik itu memiliki gedung yang sangat tua. Di depan gedung itulah para pekerja pabrik mengerumuni Simbok yang berjualan pecel di halaman”.

2.2.1.2 Tahap Tengah

Tahap tengah merupakan tahap yang menampilkan pertentangan atau konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap sebelumnya, menjadi semakin meningkat, dan semakin menegangkan (Nurgiyantoro,

2010:145).

Konflik pertama yang muncul dalam naskah drama tersebut. Datanglah seorang pemuda yang ikut makan. Jam istirahat bagi para

pekerja sudah habis jadi mereka memutuskan untuk kembali ke dalam pabrik, sedangkan yang tersisa disitu tinggal seorang pemuda. Setelah selesai makan dan hendak membayar ternyata dompet pemuda itu ketinggalan dan ia meminta ijin kepada simbok untuk mengambil dompetnya dirumah. Akan tetapi, simbok tidak percaya kepada pemuda itu dan terus memaksa pemuda tersebut untuk membayar makanannya. Dibuktikan dengan adanya kutipan dialog sebagai berikut.

“Semua tertawa. Lonceng bekerja berdentang. Mereka masing-masing

menghitung dan menyerahkan uang pada Simbok kemudian pergi bekerja, lewat jalan samping. Yang terakhir adalah si

pendek .....Pemuda

menghabiskan makannya dengan lahap sekali,

setelah membuang cekodongnya ia minta air yang biasa disediakan oleh penjual pecel itu. Ia berdiri, merogoh saku celana. Ia cemas, saku baju

dirogohnya. Ia makin cemas, Simbok memperhatikan dengan biasa”.

Suasana semakin tegang ketika datang satu persatu pekerja yang ikut terlibat maupun melihat kejadian tersebut, mereka membela simbok dan terus memojokkan pemuda itu dikarenakan alasan pemuda tersebut tidak masuk akal. Mereka terus berdebat dan akhirnya mereka menyuruh pemuda tersebut untuk meninggalkan bajunya sebagai jaminan. Dapat dibuktikan dengan adanya kutipan naskah sebagai berikut.

“Dari pintu munculah si kacamata, si tua, si peci dan lain-lain, kecuali si pendek….

SI KACAMATA: Ada apa?

SI PECI: Makan tidak bayar. SI TUA: Siapa, pemuda ini? SI PECI: Ya, pemuda ini? SI KACAMATA: Segagah ini? SI PECI: Kalau tidak gagah barangkali tidak berani ia menipu (pada pemuda) Hei, pemuda. Kau punya uang tidak?

2.2.1.3 Tahap Akhir

Tahap akhir merupakan tahapan penyelesaian dari klimaks atau puncak permasalahan sebuah cerita. Menurut Aristoteles (dalam Nurgiyantoro, 2010:146) penyelesaian cerita dibedakan ke dalam dua macam kemungkinan: kebahagiaan (happy end) dan kesedihan (sad end). Tahap akhir menjadi penyelesaian dari konflik cerita yang berujung bahagia atau menyedihkan. Tergantung pengarang yang menentukan akhir dari cerita yang ditulisnya. Kemudian setelah semuanya pergi dan kembali bekerja, si pemuda tersebut menceritakan yang sebenarnya kepada simbok bahwa dia tidak bermaksud untuk berbohong. Dia datang ke kota ini dengan tujuan mencari pekerjaan akan tetapi malang nasibnya dia tak juga kunjung mendapat pekerjaan dan sudah tiga hari ini dia tidak makan. Simbok pun tersentuh hatinya mendengar cerita pemuda tersebut dan akhirnya mengembalikan baju pemuda itu kembali. Dan membiarkan pemuda tersebut pergi. Akan tetapi, selang beberapa lama baru diketahui jika sebenarnya pemuda tersebut telah sering menipu dimana-mana. Adapun dibuktikan dengan adanya kutipan sebagai berikut.

Beres sudah, orang-orang sudah mulai bekerja. Di halaman ada simbok dan si pemuda. Gemuruh mesin kembali nyata. Lewat seorang perempuan menjajakan jenang gendul sangat nyaring suaranya. PEMUDA: Mbok, mula-mula maksud saya tidak akan menipu. Sesudah dua hari ini saya hanya minum air mentah saja. Tidak makan apa-apa. SIMBOK: (diam) PEMUDA: Seminggu yang lalu saya masih di Klaten, bekerja di sebuah bengkel. Ya aku tidak cukup dapat makan. Sebab itulah aku mencari pekerjaan di sini. SIMBOK: (diam)

2.2.2

Penokohan Dalam pembicaraan sebuah fiksi ada istilah tokoh, penokohan atau perwatakan. Kehadiran tokoh dalam cerita fiksi merupakan unsur yang sangat penting bahkan menentukan. Hal ini karena tidak mungkin ada cerita tanpa kehadiran tokoh yang diceritakan dan tanpa adanya gerak tokoh yang akhirnya menbentuk alur cerita. Penokohan atau perwatakan, yaitu orang yang berperan dalam drama. Perwatakan penokohan dapat dibedakan menjadi berikut ini (Rohmadi, 2008:147).

  • a. Protagonis, yaitu tokoh yang mendukung cerita. Tokoh dalam naskah tersebut yang menjadi tokoh pendukung dalam cerita drama tersebut merupakan tokoh yang berperan sebagai SIMBOK.

  • b. Antagonis, yaitu tokoh yang menentang cerita. Pemuda. Seseorang yang menjadi seseorang yang berbohong dalam sebuah masalah ketika dia makan tidak bayar dengan alasan uangnya tertinggal dirumahnya. Dibuktikan dengan adanya kutipan dialog sebagai berikut.

Sikurus ”bohong. Kau tadi sudah bohong sebab itupun kau pasti pembohong.” Dan “sejak sekarang saya akan memanggilmu pembohong”.

Penjaga malam ”Bajigur! Bajigur! Kurang ajar dia. Tapi dia tak jadi menipu di sini bukan? Kemana ia? Jangkrik anak itu! Belut! Simbok “Ada apa? Ada apa? Penjaga malam “Pasti dia. Kemarin malam dia juga menipu di sebuah warung di pasar Kauman”. Simbok “Haa….? (menelan ludah) Ya, Allah”.

c. Tritagonis, yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis maupun antagonis. Tokoh tritagonis dalam naskah drama tersebut sebagai penengah dari titik konflik yang membantu persoalan antara tokoh protagonis dan antagonis. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam kutipan sebagai berikut.

1.

SI PECI: Ia menolak melepaskan bajunya.

  • 2. SI SOPIR: Itu tidak adil, ia bisa menolak untuk telanjang badan tapi ia makan tanpa bayar seenaknya. Itu tidak adil. (pada pemuda) He, anak muda. Kau pemuda Indonesia, bukan? Tidak, jangan mengangguk! Kalau kau meng-iya-kan pertanyaan saya kau sama dengan mengatakan bahwa pemuda Indonesia itu dibolehkan makan di warung tanpa bayar. Tidak, tanah ini akan menangis mendengar cerita itu. Dengarkan! Dulu waktu sehabis perang saya juga pernah menjadi pencopet, tanpa perduli lagi. Tapi malang rupanya tangan ini terlampau kasar sehingga tangan ini lebih suka diborgol, dalam penjara. Nah, di tempat yang sepi itu aku mengakui bahwa aku telah menyakiti orang, menyakiti hati dari tanah yang kita cintai ini dan pasti Tuhan akan menutup pintuNya bagi orang semacam aku. Sebab itulah setelah aku keluar dari rumah yang baik dan mulia itu, kemudian aku menjadi lebih maklum bahwa kita tak boleh berbuat jahat. Tidak, jangan. Tapi dengarlah lagi! Kau tahu, kalau kau berjalan ke arah barat dari arah sini kau akan sampai pada sebuah perempatan, di mana berdiri beberapa batang pohon beringin. Kau tentu sudah tahu di belakang pohon beringin itu berderet asrama. Dan kau tahu asrama apa itu? (lama) Asrama Polisi! Nah, kau suk kuantarkan ke asrama itu?

2.2.3

Sopir tersebut datang sebagai penengah dari pertikaian konflik. Si sopir mampu meredamkan amarah para pegawai pabrik untuk membantu SIMBOK (tokoh protagonis) sebagai orang yang kena tipu dan membantu PEMUDA (tokoh antagonis) dari penghakiman orang-orang tersebut. Dialog Dialog, yaitu percakapan dalam drama. Dalam drama, dialog harus

memenuhi dua tuntutan berikut ini.

  • a. Dialog harus menunjang gerak dan laku tokohnya Gerakan dalam sebuah naskah drama biasanya dituangkan dalam bentuk tanda kurung. Tanda tersebut merupakan bentuk gerakan yang harus dilakukan ketika sebuah naskah dipentaskan. Dengan adanya dialog akan lebih memperjelas maksud dan tujuan antar tokoh. SI TUA : (menerima pecel) Sedikit sekali.

SIMBOK

: (tak menghiraukan dan terus melayani

yang lain)

SI PECI

: Ya, sedikit sekali (menyuapi mulutnya)

SI TUA SI KACAMATA

: Tempe lima rupiah sekarang. : Beras mahal (membuang cekodongnya)

kemarin istriku mengeluh.

  • b. Dialog dalam pentas harus lebih tajam daripada dialog sehari-hari. PENJAGA MALAM: Bajigur! Bajigur! Kurang ajar dia. Tapi dia tak jadi menipu di sini bukan? Kemana ia? Jangkrik anak itu! Belut! SIMBOK: Ada apa? Ada apa? PENJAGA MALAM: Pasti dia. Kemarin malam dia juga menipu di sebuah warung di pasar Kauman. SIMBOK: Haa….? (menelan ludah) Ya, Allah.

  • 2.2.4 Latar (setting)

Kehadiran latar dalam sebuah cerita fiksi sangat penting. Karya fiksi sebagai sebuah dunia dalam kemungkinan adalah dunia yang dilengkapi dengan tokoh penghuni dan segala permasalahannya. Kehadiran tokoh ini mutlak memerlukan tempat dan waktu. Latar atau setting adalah sesuatu yang menggambarkan situasi atau keadaan dalam penceriteraan. Menurut Sudjiman (1992: 46). mengatakan bahawa latar adalah segala keterangan, petunjut, pengacuan yang berkaiatan dengan waktu, ruang dan suasana. Sedangkan menurut Sumardjo (1997: 76) mendefinisikan latar bukan bukan hanya menunjuk tempat, atau waktu tertentu, tetapi juga hal-hal yang hakiki dari suatu wilayah, sampai pada pemikiran rakyatnya, kegiatannya dan lain sebagianya. Setting/landasan/tempat kejadian cerita biasanya disebut juga latar cerita. Setting biasanya mencakup hal-hal berikut. a) Setting tempat berhubungan dengan tempat peristiwa tersebut terjadi. Tempat dalam naskah terjadi hanya berlangsung di tempat tunggal. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kutipan naskah berkiut.

sebuah pabrik es yang tidak kecil berdiri di pinggirnya dan pabrik itu memiliki gedung yang sangat tua. Di depan gedung itulah para pekerja pabrik mengerumuni SIMBOK yang berjualan pecel di halaman.

Berdasarkan kutipan tersebut menunjukkan bahwa adanya sebuah pabrik es yang di depan gedung itu terdapat sebuah halaman yang digunakan sebagai tempat untuk SIMBOK untuk berjualan pecel.

  • b) Setting waktu berarti apakah lakon terjadi di waktu siang, sore, atau malam hari. Setting waktu dalam cerita naskah tersebut terjadi dalam waktu satu kurun waktu saja.

Sebentar lagi berkas-berkas di langit akan buyar dan matahari akan memulai memancarkan sinarnya yang putih, terang dan panas.

Dalam kutipan tersebut, adanya petunjuk sinar yang terang dan panas menggambarkan terjadinya peristiwa pada siang hari. c) Menurut Nurgiyantoro (2010:233) setting sosial berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial sangat erat kaitanya dengan kehidupan sosial masyarakat. Kemudian itu, latar sosial juga meliputi tata cara kehidupan masyarakat mencakup barbagai masalah ialah berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta status tokoh yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2010:233-234).

Semua tertawa. Lonceng bekerja berdentang. Mereka masing- masing menghitung dan menyerahkan uang pada SIMBOK kemudian pergi bekerja, lewat jalan samping. Yang terakhir adalah si pendek.

Lokasi peristiwa yang dirujuk oleh pengarang merupakan tempat peristiwa yang terjadi tempat makan pecel berada di halaman pabrik. Oleh karena itu, para tokoh yang digambarkan lebih dominan para

pekerja pabrik. Secara tidak langsung pengarang mengambil latar sosial status tokoh sebagai pekerja pabrik.

2.2.5

Tema Secara etimologis kata tema berasal dari istilah meaning, yang berhubungan arti, yaitu sesuatu yang lugas, khusus, dan objektif. Menurut Sudjiman (1992:52) memberikan pengertian bahwa tema merupakan gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra. Tema atau nada dasar cerita merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema dalam sebuah drama dikembangkan melalui alur dramatik dalam tokoh-tokoh protagonis dan antagonis dengan perwatakan yang memungkinkan konflik dan diformulasi dalam bentuk dialog. Dialog tersebut mengejawatkan tema dari lakon/naskah (Sastromiharjo, 2007:14).

Landasan cerita (ide struktural dalam cerita). Tema juga disebut sebagai gagasan ide atau pokok pikiran dalam suatu cerita, tema dalam sebuah cerita dapat menyampaikan amanat (pesan moral kepada pembaca). Dalam penyampaian tema pengarang tidak langsung menyebutkannya tetapi menjadi tugas pembaca untuk smencari suatu tema dalam sebuah cerita.

Dalam naskah drama berjudul “Matahari di Sebuah Jalan Kecil”

memiliki tema yang berlingkup pada kehidupan sosial masyarakat. Hal ini didasari dari dialog-dialog yang mencoba membahas tentang masalah-masalah atau realita yang ada di masyarakat, bangsa dan negara, seperti menjamurnya korupsi, masalah ekonomi, kesejahteraan hidup, dan ketimpangan sosial. Selain itu, ditampilkan mengenai seseorang yang pandai bersilat lidah sehingga ia dapat lari dari sebuah kesalahan. Realita-realita tersebut digambarkan secara utuh dan kompleks, sehingga membuat pembaca dapat menafsirkan sendiri kesatuan tema tersebut.

2.2.6

Amanat

Amanat atau pesan pengarang yang hendak disampaikan pengarang melalui dramanya harus dicari oleh pembaca atau penonton. Amanat adalah maksud yang terkandung dalam suatu drama. Menurut Sudjiman (1992:52) bahwa tema merupakan gagasan, ide atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra. Dari sebuah karya sastra adakalanya dapat diangkat suatu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang, itulah yang disebut amanat. Jika permasalahan yang diajukan juga diberi jalan keluarnya oleh pengarang, makan jalan keluarnya itulah yang disebut amanat. Amanat yang terdapat pada sebuah karya sastra, bisa secara implisit ataupun secara eksplisit. Implisit jika jalan keluar atau ajaran moral diisyaratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Eksplisit jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, dan nasehat (Sudjiman, 1992: 57). Amanat berkaitan dengan pesan yang hendak disampaikan oleh seorang penulis kepada pembaca untuk bisa memaknai dari keseluruhan isi naskah drama. Amanat berisi pesan moran dan nilai kehidupan yang dapat dijadikan renungan berpikir dan implementasi bertindan pembaca nantinya sesuai dengan kaidah atau norma yang berlaku. Amanat yang coba ditampilkan dalam naskah drama di atas, yaitu a) Bagi Pemerintah, kehidupan rakyat saat ini sudahlah sangat berat dan menderita hendaknya jangan ditambah susah lagi dengan naiknya harga kebutuhan pokok dalam masyarakat. Meski sekarang sangatlah berbeda dengan zaman Belanda dulu, tetapi beban hidup jauh lebih berat saat ini. Orang miskin tambah miskin (buruh dan kaum pinggiran) dan yang kaya tambah kaya (ketimpangan sosial). Dibuktikan dengan adanya kutipan sebagai berikut.

SI KACAMATA : Kemarin sore istriku berbelanja ke warung nyonya pungut. Pulang-pulang ia menghempaskan nafasnya yang kesal. Harga beras naik lagi, katanya. SI PECI : Apa yang tidak naik?

SI TUA : Semua naik. SI KURUS : Gaji kita tidak naik. SI TUA : Uang seperti tidak ada harganya sekarang. SI KURUS : Tidak seperti dulu…. Ah memang tak ada harganya.

b) Bagi semua kalangan, bahwasanya tindakan berbohong atau menipu orang lain sangatlah tidak baik. Sepandai-pandainya seorang penipu pasti suatu saat akan terjebak juga dalam aksinya tersebut. Selain itu, kita harus selektif dalam menilai seseorang, ucapan kata di bibir sekarang bukanlah menjadi jaminan utama seseorang tersebut baik, bisa saja orang tersebut adalah penjahat yang busuk yang nantinya akan melukai atau menjatuhkan diri kita sendiri.

Dengarkan! Dulu waktu sehabis perang saya juga pernah menjadi pencopet, tanpa perduli lagi. Tapi malang rupanya tangan ini terlampau kasar sehingga tangan ini lebih suka diborgol, dalam penjara. Nah, di tempat yang sepi itu aku mengakui bahwa aku telah menyakiti orang, menyakiti hati dari tanah yang kita cintai ini dan pasti Tuhan akan menutup pintuNya bagi orang semacam aku. Sebab itulah setelah aku keluar dari rumah yang baik dan mulia itu, kemudian aku menjadi lebih maklum bahwa kita tak boleh berbuat jahat.

  • 2.3 Unsur Ekstrinsik Naskah Drama

Unsur ekstrinsik dalam naskah drama pada dasarnya sama dengan naskah prosa, cerpen atau roman. Unsur ekstrinsik naskah drama sebagai berikut (Sutarni, 2008:183).

  • 2.3.1 Latar Belakang Pengarang

    • 3.3.1.1 Biografi

Berisi riwayat hidup pengarang secara keseluruhan terutama pada saat menulis naskah.

  • 3.3.1.2 Kondisi Psikologis

Pemahaman terhadap kondisi mood passion sebagai keadaan atau latar

belakang yang mengharuskan penulis menuliskan cerita.

3.3.1.3 Aliran Sastra Pemahaman terhadap gaya penyajian cerita secara umum yang biasa dipakai penulis dalam menyajikan cerita sebelumnya.

  • 2.3.2 Latar Belakang Masyarakat Latar belakang masyarakat merupakan pemahaman kita terhadap keadaan atau peristiwa yang terjadi secara umum di masyarakat. Pemahaman latar belakang masyarakat dapat berupa pengkajian terhadap ideology negara keadaan politik pemerintah, kondisi sosial masyarakat, penghidupan atau tingkat ekonomi masyarakat peradaban atau kebudayaan, sistem pertahanan wilayah dalam suatu negara. Pemahaman terhadap semua unsure tersebut dapat dilakukan melalui pemahaman terhadap sejarah atau perjalanan kehidupan bangsa.

  • 2.4 Simpulan

BAB III

PENUTUP

Naskah drama berjudul “Matahari di sebuah Jalan Kecil” karya

Arifin C. Noor setelah dikaji secara struktural memberikan sejumlah pembelajaran dan hasil analisis struktur naskah tersebut. Diantaranya dari segi : 1) tema, 2) latar, 3) penokohan, 4) plot dan 5) amanat. Tema dalam

naskah tersebut mengenai segelumit keadaan sosial yang ada dalam masyarakat yang di dalamnya tersaji berbagai nilai dan unsur kehidupan seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Latar yang ada pada naskah drama tersebut meliputi: 1) latar tempat yaitu Kendal, halaman depan pabrik es dan 2) latar waktu : Pagi menjelang siang hari. Penulis menggambarkan nama para tokoh dengan menggunakan simbol dan berikut nama para tokoh dalam naskah drama tersebut: si Tua, si Pendek, si Kurus, si Peci, si Kacamata, Simbok, Pemuda, Penjaga malam, Perempuan, dan si Sopir. Plot yang ada dalam naskah tersebut meliputi: 1) pemaparan, 2) Pertikaian Awal, dan 3) Klimaks. Penulis memposisikan dirinya sebagai orang ketiga dalam naskah tersebut. Amanat naskah: bahwasanya tindakan berbohong atau menipu orang lain sangatlah tidak baik. Sepandai-pandainya seorang penipu pasti suatu saat akan terjebak juga dalam aksinya tersebut.

  • 2.5 Saran

Dalam menyusun makalah ini, penulis tentu masih banyak kekurangan. Dan penulis berharap pembaca dapat mengambil sesuatu yang positif dan bermanfaat dari pembahasan naskah drama berjudul

“Matahari di Sebuah Jalanm Kecil” ini. Untuk itu dibutuhkan saran dan

kritik yang membangun dari para pembaca. Untuk kedepannya, diharapkan menganalisis naskah ini dengan gaya dan pendekatan yang lebih mendalam dan mutakhir lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Burhan, Nurgiantoro. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Dewojati, Cahyaningrum. 2010. Drama: Sejarah, Teori, dan Penerapannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Jabrohim. 2001. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rohmadi, Muhammad. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia: untuk SMA dan MA Kelas XII IPA/IPS. DEPDIKBUD.

Sastromiharjo,

Andoyo.

Yudhistira.

2007.

Bahasa dan Sastra Indonesia 2. Jakarta:

Sutarni, Sukardi. 2008. Bahasa Indonesia 3: SMA Kelas XII. Surabaya: Quadra. Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sumardjo,

Jakop

dan

Saini

K.M.

1997. Apresiasi

Kesusasteraan.

Jakarta:

Gramedia.