Anda di halaman 1dari 3

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tulang ikan tuna sirip kuning

Tulang merupakan salah satu jenis limbah yang dihasilkan dari industri pengolahan
ikan. Tulang ikan merupakan bagian tubuh ikan yang memiliki kandungan kalsium
terbanyak dari bagian tubuh lainnya. Dilihat dari sudut pandang pangan dan gizi,
kandungan yang terdapat pada tulang ikan dapat bermanfaat bagi tubuh manusia karena
tulang ikan mengandung kalsium, fosfor, dan karbonat. Limbah tulang ikan sampai
sejauh ini belum banyak dimanfaatkan oleh manusia untuk kebutuhannya. Menurut
Basmal (2000) tulang ikan banyak mengandung trikalsium fosfat yang sangat baik untuk
tubuh manusia. Idealnya kalsium dibutuhkan 500 mg/hari untuk usia 1-9 tahun, 700
mg/hari untuk usia 10-15 tahun, 600 mg/hari untuk usia 16-19 tahun dan 500-800
mg/hari untuk orang dewasa (usia 20 sampai lebih dari 60 tahun) (Almatsier 2002).

Ikan tuna sirip kuning dengan nama latin Thunnus albacares merupakan ikan yang
memiliki nilai komersial yang penting sebagai komoditas ekspor utama bagi Indonesia.
Ikan tuna sirip kuning dapat hidup di perairan tropis dan subtropis (Wu et al., 2010;
Collette and Nauen, 1983). Ikan tuna sirip kuning dapat ditemukan di beberapa wilayah
di Indonesia seperti laut Barat Sumatera, Selatan Jawa, Selat Malaka, Timur Sumatera,
Utara Jawa, Bali-Nusa Tenggaara Timur, Kalimantan, Selatan Sulawesi, Utara Sulawesi,
dan Maluku-Papua.

Limbah tulang ikan tuna merupakan sumber bahan baku alami hidroksiapatit yang
memiliki potensi besar dalam kesehatan tulang dan gigi. Secara alami, tulang terdiri atas
bahan anorganik sebesar 70%, bahan organik sebesar 20%, dan air sebesar 10%. Bahan
organik sebagian besar terdiri atas kolagen tipe 1 dan bahan anorganik terdiri atas
hidroksiapatit berkarbonat (White dan Best 2007; Toppe et al. 2007). Bahan yang
terdapat pada tulang, sebagian besar dapat ditemukan pada tulang ikan sebagai hasil
limbah perikanan yang jumlahnya mencapai 15% dari berat keseluruhan tubuh ikan
(Toppe et al. 2007). Tulang ikan terdiri atas 60-70% mineral yang tersusun atas protein
kolagen sebanyak 30% dan sebagaian besar bioapatit, termasuk hidroksiapatit,
carbonated apatite atau dahlite (Szpak 2011). Sebagian besar komponen senyawa
anorganik penyusun tulang ikan adalah kalsium (Ca) (135-233 g/kg) dan fosfor (P)
(81- 113 g/kg) serta sebagian kecil tersusun atas Mg, Fe, Zn, dan Cu, dengan ratio
Ca/P mendekati 1,67 (Joschek et al. 2000).

Hidroksiapatit merupakan komponen utama penyusun tulang dan gigi (Kehoe


2008). Tulang ikan tuna merupakan sumber alami hidroksiapatit yang murah dan
memiliki potensi yang besar di masa depan (Ozawa dan Suzuki 2002), dengan
kandungan mineral mencapai 84,22% (Trilaksani et al. 2006). Hidroksiapatit yang
diperoleh dari tulang ikan tuna dapat diubah menjadi ukuran kurang dari 1 mikro
disebut nanohidroksiapatit. Suatu partikel dalam ukuran nano memiliki beberapa
kelebihan seperti kemampuan menyerap yang baik, pengurangan dosis, dan
meningkatkan stabilitas (Gulsun et al, 2009).
Pola konsumsi masyarakat yang berubah seperti peningkatan konsumsi coklat,
permen, dan biskuit menyebabkan tingginya potensi kerusakan gigi seperti karies
gigi yang terjadi karena demineralisasi lapisan gigi oleh asam. Asam hasil konsumsi
bahan makanan manis dapat melarutkan struktur gigi sehingga terjadi karies gigi
(Arnadottir et al, 2003). Penyebab utama kerusakan enamel gigi adalah larutnya
hidroksiapatit (Hap) pada pH yang rendah. (West et al, 1998). Tulang dan gigi tidak
dapat memperbaiki diri apabila rusak misalnya karena karies, demineralisasi, abrasi,
atau patah (Roveri et al, 2008). Oleh karena itu, untuk mengembalikan struktur gigi
yang rusak dibutuhkan pemberian bahan restorasi dengan bahan sintetis yang dapat
diperroleh dari pemanfaatan hidrokxiapatit yang terdapat dalam tulang ikan tuna
sirip kuning.

2.2 Bahan tumpat permanen

Kesehatan gigi dan mulut merupakan investasi kesehatan seumur hidup selain
kesehatan tubuh secara umum. Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang
paling sering dijumpai pada masyarakat kebanyakan baik dewasa maupun anak-anak
(Wala HC, Wicaksono DA, Tambunan E, 2014).

Perawatan karies gigi ialah dengan membuang jaringan karies dan melakukan
penumpatan dengan bahan restorasi gigi yang berfungsi untuk memperbaiki struktur gigi
(Hakim R, Lampus B, Wowor VNS, 2013). Penumpatan yaitu suatu tindakan perawatan
dengan meletakkan bahan tumpatan pada karies gigi yang sudah dibersihkan. Perawatan
karies gigi tergantung pada seberapa besar tingkat kerusakan gigi.

Beberapa bahan tumpat yang biasa digunakan untuk memperbaiki dan merestorasi
gigi antara lain amalgam, resin komposit, dan Glass Ionomer Cement (GIC) (Marhaban
AIA, Mariati NW, Mitjelungan C, 2013). Selain untuk memperbaiki dan merestorasi
gigi, bahan tumpat yang digunakan juga memperngaruhi nilai estetik gigi yang
mengalami kerusakan. Bahan tumpat dapat digunakan untuk gigi yang mengalami
kerusakan seperti karies, trauma, dan aus terkait penggunaan gigi untuk mengunyah.
Penggunaan amalgam, resin komposit, dan Glass Ionomer Cement (GIC) berbeda-beda
tergantung pada jenis kerusakan gigi dan keluhan dari pasien.

Amalgam merupakan bahan tumpat gigi yang tidak sewarna dengan gigi sehingga
bahan ini biasa digunakan untuk gigi posterior (Kidd, E.A.M., Smith, B.G.N, 2000).
Penggunaan bahan tumpat jenis amalgam masih banyak digunakan untuk menambal gigi
posterior karena sifatnya yang awet, mudah digunakan, tidak mudah pecah, dan relatif
murah (Yauri Lucia, 2013).

Resin komposit sering digunakan sebagai bahan tumpatan di kedokteran gigi. Resin
komposit merupakan jenis bahan tumpat gigi yang terbentuk akibat adanya kombinasi
antara dua atau lebih bahan yang memiliki sifat berbeda sehingga dihasilkan bahan
tumpat yang lebih baik. Bahan tumpat jenis ini memiliki sifat adhesif sehingga dapat
dengan baik berikatan dengan jaringan keras seperti gigi. Ikatan ini terjadi melalui dua
system bonding (ikatan) yaitu ikatan email dan ikatan dentin (Marhaban AIA, Mariati
NW, Mitjelungan C, 2013). Penyusun utama resin komposit adalah matriks resin
(material organik) dan bahan pengisi filler (material anorganik). Bagian matriks yang
menyusun bahan resin komposit terdiri dari bahan organik yang sekaligus merupakan
bahan dasar resin komposit (Power JM, Sakaguchi RL, 2009). Coupling agent
merupakan penyusun resin komposit yang berfungsi untuk memberikan ikatan antara
partikel bahan pengisi anorganik dengan matriks resin (material organik). Suatu bahan
resin komposit memiliki opasitas yaitu warna dan translusensi yang dapat menyesuaikan
dengan warna email dan dentin serta memiliki pigmen warna yang menyerupai warna
gigi asli sehingga bahan ini memiliki nilai estetik untuk digunakan sebagai bahan
tumpatan gigi baik anterior maupun posterior (Anusavice, Kenneth JP, 2003). Selain itu,
resin komposit memiliki kemampuan mengiritasi pulpa yang cukup rendah, dan tahan
terhadap terbentuknya celah mikro yang berada diantara bahan tumpat dengan struktur
gigi (Irawan B, 2004). Penggunaan resin komposit meimiliki beberapa kelebihan dan
kekurangan (CA Sacramento, 2005). Kelebihan penggunaan bahan resinomposit adalah
bahannya tidak mengandung merkuri sehingga tidak berbahaya, dapat digunakan pada
gigi anterior dan posterior, mwmiliki warna yang serupa dengan gigi asli, memiliki sifat
fisik dan mekanik yang cukup baik, dan preparasi dengan bahan resin komposit dapat
dilakukan dalam 1 kali kunjungan (Strassler HE, 2009). Adapun kekurangan penggunaan
resin komposit adalah bila digunakan dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami
perubahan warna dan biaya yang dikeluarkan relatif mahal (Satish C, Chandra S, Girish
C, 2007).
Glass Ionomer Cement (GIC) merupakan kombinasi antara keunggulan sifat
translusen dan pelepasan ion fluor dari semen silikat serta biokompatibilitas dan sifat
adhesif dari semen polikarboksilat. Nama bahan tumpatan ini diperoleh dari kombinasi
antara bubuk kaca dan ionomer yang mengandung asam karboksilat (Chirstensen JG,
2003). Bahan tumpat jenis GIC terdiri dari bubuk dan cairan. Kaca calcium
fluoroaluminosilicate adalah bubuk pada GIC, terdiri dari Silica (SiO2), Alumina
(Al2O3), Aluminium Fluoride (AlF3), Calcium Fluoride (CaF2), Natrium Fluoride
(NaF), dan Aluminium Fosfat (AlPO4) yang larut dalam cairan asam. Untuk
mendapatkansifat radiopak maka dibutuhkan penambahan lanthanum, stronsium, barium,
dan oksida seng. Cairan pada GIC berasal dari asam poliakrilat dengan konsentrasi 40-
50% (Fitriyana DC, Pangemanan DHC, Juliatri, 2014). Bahan GIC bersifat adhesif dan
memiliki kemampuan melepaskan ion fluor (Mount GJ, Hume WR, 2005). Bahan
restorasi yang memiliki kemampuan melepaskan ion fluor dapat mengurangi terjadinya
demineralisasi gigi di sekitar restorasi. Berdasarkan penggunaannya, GIC terdiri dari
beberapa tipe yaitu tipe I untuk bahan perekat, tipe II untuk bahan restorasi, dan tipe III
untuk basis atau pelapis. GIC tipe II memiliki rasio bubuk lebih tinggi terhadap cairan,
hal ini yang mengakibatkan GIC tipe II lebih keras dan kuat dibandingkan dengan GIC
tipe I. Bahan restorasi jenis GIC lebih efektif dibandingkan dengan bahan restorasi resin
komposit (Dionysopoulos D, Thessaloniki, Greece, 2014). Hal ini disebabkan karena
bahan restorasi jenis ini dapat melepaskan ion fluor yang mampu mengurangi
demineralisasi email dengan mengubah hidroksiapatit pada email menjadi fluoroapatit
yang lebih tahan terhadap asam (Indahyani DE, Sulistyani, Raharjo R, 2004).