Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

OD Ablasio Retina

Pembimbing :
Dr. Enni Cahyani, Sp.M, M.Kes

Disusun oleh:
Frischa Wibowo
NIM : 112015201

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA, RSM DR. YAP


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
4 APRIL 2016 – 7 MEI 2016
YOGYAKARTA

1
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS

Nama : Tn. TE
Umur : 32 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen
Alamat : Temanggung
Masuk RS : 26 April 2016

II. ANAMNESIS
Dilakukan Auto-anamnesis pada tanggal 26 April 2016, pada pukul 13.30

Keluhan Utama:
Mata kanan kabur mendadak sejak 2 bulan yang lalu.

Keluhan Tambahan:
Tidak ada.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Seorang laki-laki berusia 32 tahun datang dengan keluhan mata kanan kabur
secara tiba-tiba sejak 2 bulan yang lalu. Keluhan kabur dirasakan semakin memburuk,
pasien mengeluh pandangannya gelap dan seperti melihat serabut-serabut cahaya yang
mengganggu. Selain itu pasien mengatakan bahwa terkadang mata kanannya perih dan
cepat lelah. 3 bulan sebelumnya pasien mengeluh melihat percikan darah yang terjadi
secara tiba-tiba saat pasien sedang bekerja. Keluhan tidak disertai dengan mata merah,
mata tidak gatal dan tidak berair. Beberapa tahun yang lalu pasien memiliki riwayat
kecelakaan lalu lintas dan kepala pasien terbentur. Pasien sudah sempat berobat di
Rumah Sakit Dr. Sardjito dan diberikan obat tetes mata namun belum membaik.

Riwayat Penyakit Dahulu:


a. Umum
- Asma : Tidak ada
- Diabetes Mellitus : Tidak ada
- Hipertensi : Tidak ada
- Hepatitis : Tidak ada
- Alergi : Antalgin
- Maag : Ada

2
b. Mata
- Riwayat penggunaan kacamata (-)
- Riwayat operasi katarak (-)

Riwayat Penyakit Keluarga:


Umum :
- Asma : Tidak ada
- Diabetes Mellitus : Tidak ada
- Hipertensi : Ayah
- Hepatitis : Tidak ada
- Alergi : Tidak ada

Mata :
- Katarak : Tidak ada
- Glaukoma : Tidak ada

Status Gizi:
Berat badan : 59 kg
Tinggi badan : 164 cm

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital : Tekanan Darah : 130/80
Nadi : 72x/menit
Pernafasan : -
Suhu : -
Kepala : Normocephali, rambut hitam dengan distribusi merata
THT : Septum deviasi (-), MAE lapang, T1-T1 tidak hiperemis
Thoraks : Suara nafas vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-), BJ I-II murni
reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : Supel, datar, bising usus (+) normal
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)
KGB : Tidak teraba pembesaran KGB

B. STATUS OFTALMOLOGIS

KETERANGAN OKULO DEXTRA (OD) OKULO SINISTRA (OS)

1. VISUS

Tajam Penglihatan 1/300, pw baik, dengan ph 5/60, ph= 6/24


tidak membaik
Axis Visus Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Koreksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Addisi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Distansia Pupil Tidak dilakukan Tidak dilakukan

3
Kacamata Lama Tidak ada Tidak ada

2. KEDUDUKAN BOLA MATA

Eksoftalmos Tidak ada Tidak ada


Enoftalmos Tidak ada Tidak ada
Deviasi Tidak ada Tidak ada
Gerakan Bola Mata Baik ke semua arah Baik ke semua arah

3. SUPERSILIA

Warna Hitam Hitam


Simetris Simetris Simetris

4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR

Edema Tidak ada Tidak ada


Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Ektropion Tidak ada Tidak ada
Entropion Tidak ada Tidak ada
Blefarospasme Tidak ada Tidak ada
Trikiasis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Fissura palpebra Tidak ada Tidakada
Tes Anel Tidak dilakukan Tidak dilakukan

5. KONJUNGTIVA TARSALIS SUPERIOR DAN INFERIOR

Hiperemis Tidak ada Tidak ada


Folikel Tidak ada Tidak ada
Papil Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Hordeolum Tidak ada Tidak ada
Kalazion Tidak ada Tidak ada

6. KONJUNGTIVA BULBI

Sekret Tidak ada Tidak ada


Injeksi Konjungtiva Tidak ada Tidak ada
Injeksi Siliar Tidak ada Tidak ada
Pendarahan Tidak ada Tidak ada

4
subkonjungtiva
Pterigium Tidak ada Tidak ada
Pinguekula Tidak ada Tidak ada
Nevus Pigmentosus Tidak ada Tidak ada
Kista Dermoid Tidak ada Tidak ada

7. SKLERA

Warna Tidak hiperemis Tidak hiperemis


Ikterik Tidak ada Tidak ada
Nyeri Tekan Tidak ada Tidak ada

8. KORNEA

Kejernihan Jernih Jernih


Permukaan Licin Licin
Ukuran Normal Normal
Sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Infiltrat Tidak ada Tidak ada
Keratik Presipitat Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Ulkus Tidak ada Tidak ada
Perforasi Tidak ada Tidak ada
Arkus Senilis Tidak ada Tidak ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Tes Placido Tidak dilakukan Tidak dilakukan

9. BILIK MATA DEPAN

Kedalaman Dalam Dalam


Kejernihan Jernih Jernih
Hifema Tidak ada Tidak ada
Hipopion Tidak ada Tidak ada
Efek Tyndall Tidak ada Tidak ada

10. IRIS

Warna Hitam Hitam


Kripte Jelas Jelas
Sinekia Tidak ada Tidak ada
Koloboma Tidak ada Tidak ada

11. PUPIL

5
Letak Ditengah Ditengah
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran Normal Normal
Refleks Cahaya Positif Positif
Langsung
Refleks Cahaya Tak Positif Positif
Langsung

12. LENSA

Kejernihan Jernih Jernih


Letak Ditengah Di tengah
Shadow Test Negatif Negatif

13. BADAN KACA

Kejernihan Tidak dilakukan Tidak dilakukan

14. FUNDUS OKULI

Batas Sulit dinilai Tidak dilakukan

Warna Kemerahan Tidak dilakukan

Ekskavasio Sulit dinilai Tidak dilakukan

Rasio Arteri:Vena Sulit dinilai Tidak dilakukan

C/D Ratio Sulit dinilai Tidak dilakukan

Makula Lutea Sulit dinilai Tidak dilakukan

Retina Sulit dinilai Tidak dilakukan

Eksudat Sulit dinilai Tidak dilakukan

Perdarahan Sulit dinilai Tidak dilakukan

Sikatriks Sulit dinilai Tidak dilakukan

Ablasio Sulit dinilai Tidak dilakukan

15. PALPASI

Nyeri Tekan Tidak ada Tidak ada


Massa Tumor Tidak ada Tidak ada
Tensi Okuli 12 16
Tonometri Schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan

6
16. KAMPUS VISI

Tes Konfrontasi Menyempit Baik

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Ultrasonografi. Digunakan untuk menilai segmen belakang mata. USG juga
dapat dilakukan untuk mengetahui kejernihan badan kaca, dan posisi retina
serta bagian subretina.
2. Oftalmoskop indirek untuk menilai segmen belakang mata, dan untuk
mengetahui adanya robekan pada retina.

V. RESUME
Seorang laki-laki berusia 32 tahun datang dengan keluhan mata kabur sejak 2
bulan yang lalu. Keluhan kabur dirasakan secara tiba-tiba, pasien seperti melihat
serabut-serabut cahaya, dan pengelihatan terasa gelap. 3 bulan yang lalu pasien
mengatakan bahwa ia melihat percikan darah saat sedang bekerja. Beberapa tahun
yang lalu pasien memiliki riwayat kecelakaan lalulintas dan terkena benturan di
kepala nya. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg.
Pada pemeriksaan fisik mata kanan didapatkan visus 1/300, dan tidak maju saat di
pinhole, persepsi warna baik. Selain itu didapatkan hasil pemeriksaan lapang pandang
mata kanan yang menyempit.

VI. DIAGNOSIS KERJA


OD Ablasio Retina Rhegmatogen
OS Miopia

VII. DIAGNOSIS BANDING


1. Ablasio Retina Traksional
2. Ablasio Retina Eksudatif

VIII. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
Levofloxacin 4xOD
Xitrol® 4xOD
Sulfas atropin 2xOD

Tatalaksana Bedah:
Viterektomi dan scleral buckle (jika diperlukan)

IX. PROGNOSIS

7
KETERANGAN OKULO DEXTRA (OD) OKULO SINISTRA (OS)

Ad Vitam : dubia ad bonam dubia ad bonam


Ad Fungsionam : dubia ad malam dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad malam dubia ad bonam

8
Tinjauan Pustaka

Pendahuluan
Ablasio retina (retinal detachment) adalah pemisahan retina sensorik, yakni lapisan
fotoreseptor (sel kerucut dan batang) dan jaringan bagian dalam, epitel pigmen retina
dibawahnya. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan membran Bruch.
Antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan struktural dengan
koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang potensial untuk lepas secara
embriologis.
Biasanya ablasio retina terjadi pada usia 40-70 tahun. Prevalensi meningkat pada
beberapa keadaan seperti miopi tinggi, afakia/pseudofakia dan trauma. Traumatik ablasio
retina lebih sering terjadi pada orang muda, dan ablasio retina akibat miopia yang tinggi biasa
terjadi pada usia 25-45 tahun.
Pemisahan retina sensoris dari lapisan epitel retina disebabkan oleh tiga mekanisme dasar.
Tiga mekanisme dasar pemisahan retina sensoris dari lapisan epitel retina ialah :
1. Lubang atau robekan di lapisan saraf yang menyebabkan cairan vitreous masuk
dan memisahkan antara lapisan neuro retina dan lapisan epitel pigmen (Ablasio
retina regmatogenosa).
2. Traksi dari inflamasi dan membran fibrosa vaskular pada permukaan retina, yang
terikat pada vitreous (Ablasio retina traksional).
3. Pengeluaran eksudat kedalam ruang subretina. Eksudat ini berasal dari pembulu
darah retina, yang disebabkan oleh karena hipertensi, oklusi vena retina setralis,
vaskulitis, atau papiledema (Ablasio retina eksudatif).1

Epidemiologi
Diperkirakan prevalensi ablasio retina adalah 1 kasus dalam 10.000 populasi. Prevalensi
meningkat pada beberapa keadaan seperti miopia tinggi, afakia/pseudoafakia dan trauma.
Pada mata normal, ablasio retina terjadi pada kira-kira 5 per 100.000 orang per tahun di
Amerika Serikat. Insidens ablasio retina idiopatik berdasarkan adjustifikasi umur
diperkirakan 12,5 kasus per 100.000 per tahun atau 28.000 kasus per tahun. Ablasio retina
terjadi kira-kira 5-16 per 1000 kasus diikuti oleh penyebab operasi katarak, dan ini terdiri dari
sekitar 30 - 40 % dari semua ablasio retina yang dilaporkan.1-3

Anatomi dan Fisiologi Bola Mata dan Retina


Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian
depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan

9
2 kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh tiga jaringan yaitu sklera, jaringan
uvea, dan lapisan ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai
susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membrane neurosensoris yang akan
merubah sinar menjadi ransangan pada saraf optic dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga
yang potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang
disebut ablasi retina.4

Gambar 1. Anatomi bola mata1

Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang
menerima rangsang cahaya. Retina merupakan selembar tipis jaringan saraf yang
semitransparan, dan multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding
bola mata. Retina membentang ke depan hampir sama jauhnya dengan korpus siliaris, dan
akhirnya di tepi ora serrata. Pada orang dewasa, ora serrata berada sekitar 6,5 mm di belakang
garis Schwalbe pada sistem temporal dan 5,7 mm di belakang garis ini pada sisi nasal.
Permukaan luar retina sensorik bertumpuk dengan membrana Bruch, koroid, dan sklera.
Retina menpunyai tebal 0,1 mm pada ora serrata dan 0,23 mm pada kutub posterior.
Ditengah-tengah retina posterior terdapat makula. Di tengah makula terdapat fovea yang
secara klinis merupakan cekungan yang memberikan pantulan khusus bila dilihat dengan

10
oftalmoskop. Retina berbatas dengan koroid dengan sel epitel pigmen retina dan terdiri atas
lapisan:1,4

1. Lapisan epitel pigmen


2. Lapisan fotoreseptor merupakan lesi terluar retina terdiri atas sel batang yang
mempunyai bentuk ramping, dan sel kerucut.
3. Membran limitan eksterna yang merupakan membrane ilusi.
4. Lapisan nucleus luar, merupakan susunan lapis nucleus sel kerucut dan batang.
5. Lapisan pleksiform luar merupakan lapis aselular dan merupakan tempat sinapsis sel
fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.
6. Lapis nucleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal dan sel Muller.
7. Lapisan pleksiform dalam, merupakan lapis aselular merupakan tempat sinaps sel
bipolar, sel amakrin dengan sel ganglion.
8. Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua,
9. Lapis serabut saraf, merupakan lapis akson sel ganglion menuju kearah saraf optik.
10. Membran limitan interna, merupakan membrane hialin antara retina dan badan kecil.

Retina mendapatkan suplai darah dari dua sumber yaitu koriokapiler yang
berada tepat di luar membrana Bruch, yang mensuplai sepertiga luar retina, termasuk
lapisan pleksiformis luar dan lapisan inti luar, fotoreseptor, dan lapisan epitel pigmen
retina, serta cabang-cabang dari arteri retina sentralis yang mensuplai dua per tiga
sebelah dalam.1,4

11
Gambar 2. Lapisan pada retina1

Mata berfungsi sebagai suatu alat optis, sebagai suatu reseptor kompleks, dan sebagai
suatu transduser yang efektif. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor mampu
mengubah rangsangan cahaya menjadi suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh lapisan serat
saraf retina melalui saraf optikus dan akhirnya ke korteks penglihatan ossipital. Makula
bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan yang terbaik dan untuk penglihatan warna,
dan sebagian besar selnya adalah sel kerucut. Di fovea sentralis, terdapat hubungan hampir
1:1 antara fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya, dan serat saraf yang keluar, dan hal ini
menjamin penglihatan yang paling tajam. Di retina perifer, banyak fotoreseptor dihubungkan
ke sel ganglion yang sama, dan diperlukan sistem pemancar yang lebih kompleks. Akibat dari
susunan seperti itu adalah bahwa makula terutama digunakan untuk penglihatan sentral dan
warna (penglihatan fototopik) sedangkan bagian retina lainnya, yang sebagian besar terdiri
dari fotoreseptor batang, digunakan terutama untuk penglihatan perifer dan malam
(skotopik).1,4

Definisi
12
Ablasi retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang retina dengan
dari sel epitel retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan membran
Brunch. Sesungguhnya antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan
structural dengan koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang potensial
untuk lepas secara embriologis.
Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang koroid atau sel pigmen epitel akan
mengakibatkan gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila berlangsung
lama akan mengakibatkan gangguan fungsi yang menetap. Ada tiga klasifikasi ablasio retina
yaitu ablasi retina regmatogenosa, ablasi retina eksudatif, ablasi retina traksi (tarikan).4

1. Ablasi retina regmatogenosa


Pada ablasi retina regmatogenosa dimana ablasi terjadi akibat adanya
robekan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen
epitel dengan retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid
vitreous) yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga
subretina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen
koroid.
Ablasi ini terjadi pada mata yang mempunyai faktor predisposisi untuk
terjadi ablasi retina. Trauma hanya merupakan faktor pencetus untuk
terjadinya ablasi retina pada mata yang berpotensi. Mata yang berpotensi
untuk terjadinya ablasi retina adalah mata dengan miopia tinggi, pasca
retinitis, dan retina yang memperlihatkan degenerasi di bagian perifer, 50%
ablasi yang timbul pada afakia terjadi pada tahun pertama.
Antara gejala yang timbul adalah terdapatnya gangguan penglihatan
yang kadang-kadang terlihat sebagai tabir yang menutup. Terdapatnya riwayat
adanya pijaran api (fotopsia) pada lapangan penglihatan. Ablasi retina yang
berlokalisasi di daerah superotemporal sangat berbahaya karenan dapat
mengangkat makula. Penglihatan akan turun secara akut pada ablasi retina bila
dilepasnya retina mengenai makula lutea.
Pada pemeriksaan fundoskopi akan terlihat retina yang terangkat
berwarna pucat dengan pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya robekan
retina berwarna merah. Bila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas
(ablasi) bergoyang. Kadang-kadang terdapat pigmen di dalam badan kaca.
Pada pupil terlihat adaya defek aferen pupil akibat penglihatan menurun.

13
Tekanan bola mata rendah dan dapat meninggi bila terjadi neovaskular
glaucoma pada ablasi retina adalah pembedahan. Sebelum pembedahan,
pasien dirawat dengan mata ditutup. Pembedahan dilakukan secepat mungkin
dan sebaiknya antara 1-2 hari.
Pengobatan ditujukan untuk melekatkan kembali bagian retina yang
lepas dengan diatermi dan laser. Diatermi ini dapat berupa Diatermi
permukaan (surface diathermy) atau diatermi setengah tebal sklera (partial
penetrating diatermy) sesudah reseksi sklera. Hal ini dapat dilakukan dengan
atau tanpa mengeluarkan cairan subretina. Pengeluaran dilakukan di luar
daerah reseksi dan terutama di daerah di mana ablasi paling tinggi. Implan
diletakkan di dalam kantong sklera yang sudah direseksi yang akan
mendekatkan sklera dengan retina dan mengakibatkan pengikatan yang
terlokalisir. Sabuk (band) yang melingkar pada bola mata merupakan tindakan
yang mulai popular karena memperbaiki prognosis dan mobilisasi yang cepat.
Komplikasi dari operasi dapat terjadi miosis, edema kornea, pendarahan
orbital, penetrasi ocular dan injeksi intra-arteri.4

2. Ablasi retina eksudatif


Ablasi retina eksudatif adalah ablasi retina yang terjadi akibat
tertimbunnya eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan
cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina
dan koroid (ekstra vasasi). Hal ini disebabkan penyakit koroid. Kelainan ini
dapat terjadi pada skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, radang uvea, idiopati,
toksemia gravidarum. Cairan di bawah retina tidak dipengaruhi oleh posisi
kepala. Permukaan retina yang terangkat terlihat cincin. Penglihatan dapat
berkurang dari ringan sampai berat. Ablasi ini dapat hilang atau menetap
bertahun-tahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang.4

3. Ablasi retina traksi (tarikan)


Pada ablasi ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan
parut pada badan kaca yang akan mengakibatkan ablasi retina dan penglihatan
turun tanpa rasa sakit. Pada badan kaca, terdapat jaringan fibrosis yang dapat
disebabkan diabetes mellitus proliferatif, trauma akibat bedah atau infeksi.
Pengobatan ablasi akibat tarikan di dalam kaca dilakukan dengan melepaskan

14
tarikan jaringan parut atau fibrosis di dalam badan kaca dengan tindakan yang
disebut sebagai vitrektomi.4

Etiologi dan Faktor Resiko


Etiologi yang terkait dengan ablasio retina adalah miopia , katarak removal, dan
trauma. Sekitar 40 - 50 % dari semua pasien dengan ablasio retina memiliki miopia. Ablasio
retina yang berhubungan dengan miopia cenderung terjadi pada pasien berusia 25 - 45 tahun,
sementara non-miopia cenderung terjadi pada orang tua. Pasien dengan miopia tinggi ( > 6
D ), lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan, memiliki resiko seumur hidup 5
% dari ablasio retina. Ablasio retina terjadi kira-kira 5-16 per 1000 kasus diikuti oleh
penyebab operasi katarak, dan ini terdiri dari sekitar 30 - 40 % dari semua ablasio retina yang
dilaporkan. Faktor-faktor resiko yang terkait dengan ablasio retina dalam katarak removal
yang tidak disengajakan (accidental) adalah posterior kapsul pecah pada saat operasi, usia
muda, panjang aksial meningkat, ruang bilik mata depan yang dalam, dan jenis kelamin laki-
laki. Kira-kira 10 - 20% dari ablasio retina dikaitkan dengan trauma mata langsung.3
Ablasio retina yang diakibatkan oleh trauma lebih sering terjadi pada orang yang lebih
muda. Meskipun tidak ada penelitian telah memperkirakan kejadian ablasio retina dalam
olahraga, olahraga tertentu (misalnya, tinju dan bungee jumping ) berhubungan dengan
peningkatan risiko terjadinya ablasio retina. Ada juga beberapa laporan bahwa Laser
capsulotomy dikaitkan dengan peningkatan resiko ablasio retina. Di Amerika Serikat,
kelainan struktural, operasi sebelumnya, trauma dan uveitis adalah faktor resiko utama untuk
ablasio retina. Miopia yang tinggi, trauma, kelainan struktural dan operasi sebelumnya adalah
faktor resiko utama di Asia.3

Patogenesis
Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan rongga
vesikel optik embriogenik. Kedua jaringan ini melekat longgar, pada mata yang matur dapat
berpisah :1,5
1. Jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang mengalami likuifikasi
dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio progresif
(ablasio regmatogenosa).

15
Gambar 3. Ablasi Retina Regmatogenosa dengan horshoe tear
2. Terjadi akibat akumulasi cairan subretinal dengan tanpa adanya robekan retina
ataupun traksi pada retina. Pada penyakit vaskular, radang, atau neoplasma
retina, epitel pigmen, dan koroid, maka dapat terjadi kebocoran pembuluh
darah sehingga berkumpul di bawah retina. Walaupun jarang terjadi, bila
cairan berakumulasi dalam ruangan subretina akibat proses eksudasi, yang
dapat terjadi selama toksemia pada kehamilan (ablasio retina eksudatif)

Gambar 4. Ilustrasi Ablasi Retina Eksudatif


3. Terjadi pembentukan yang dapat berisi fibroblas, sel glia, atau sel epitel
pigmen retina. Awalnya terjadi penarikan retina sensorik menjauhi lapisan
epitel di sepanjang daerah vaskular yang kemudian dapat menyebar ke bagian
retina midperifer dan makula. Pada ablasio tipe ini permukaan retina akan
lebih konkaf dan sifatnya lebih terlokalisasi tidak mencapai ke ora serata. Jika
retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada permukaan retina,

16
misalnya seperti pada retinopati proliferatif pada diabetes mellitus dan
pendarahan vitreus (ablasio retina traksional).

Gejala Klinis
Pertimbangkan pasien yang khas mengalami ablasio retina, seperti pasien dengan
miopia tinggi dengan usia berkisar 50 tahun, baik laki-laki ataupun perempuan, yang tiba-tiba
mengalami gejala “flashes dan floaters”, yang biasanya terjadi secara spontan atau sesaat
setelah menggerakkan kepala. Lakukan penggalian secara lebih detail terhadap gejala yang
dialami. 6
1. Flashes (photopsia)
Ketika ditanya, pasien biasanya menjawab gejala ini bisa terjadi sepanjang
waktu, tetapi paling jelas saat suasana gelap. Gejala ini cenderung terjadi
terutama sebelum tidur malam. Kilatan cahaya (flashes) biasanya terlihat pada
lapangan pandang perifer. Gejala ini harus dibedakan dengan yang biasanya
muncul pada migrain, yang biasanya muncul sebelum nyeri kepala. Kilatan
cahaya pada migrain biasanya berupa garis zig-zag, pada tengah lapangan
pandang dan menghilang dalam waktu 10 menit. Pada pasien usia lanjut
dengan defek pada sirkulasi vertebrobasilar dapat mendeskripsikan tipe lain
fotopsia, yakni kilatan cahaya cenderung muncul hanya saat leher digerakkan
setelah membungkuk.
2. Floaters
Titik hitam yang melayang di depan lapangan pandang adalah gejala yang
sering terjadi, tetapi gejala ini bisa menjadi kurang jelas pada pasien gangguan
cemas. Tetapi jika titik hitamnya bertambah besar dan muncul tiba-tiba, maka
ini menjadi tanda signifikan suatu keadaan patologis. Untuk beberapa alasan,
pasien sering menggambarkan gejala ini seperti berudu atau bahkan sarang
laba-laba. Ini mungkin karena adanya kombinasi gejala ini dan kilatan cahaya.
Kilatan cahaya dan floaters muncul karena vitreus telah menarik retina,
menghasilkan sensasi kilatan cahaya, dan sering ketika robekan terjadi akan
terjadi perdarahan ringan ke dalam vitreus yang menyebabkan munculnya
bayangan bintik hitam. Ketika kedua gejala ini muncul, maka mata harus
diperiksa secara detail dan lengkap hingga ditemukan dimana lokasi robekan
retina. Terkadang, robekan kecil dapat menyebabkan perdarahan vitreus yang
luas yang menyebabkan kebutaan mendadak.
3. Shadows

17
Saat robekan retina terjadi, pasien seharusnya segera mencari pengobatan
medis dan pengobatan efektif. Namun beberapa pasien tidak segera mencari
pengobatan medis atau bahkan malah mengabaikan gejala yang dialami.
Memang dalam beberapa saat gejala akan berkurang, tetapi dalam kurun
waktu beberapa hari hingga tahunan akan muncul bayangan hitam pada
lapangan pandang perifer. Jika retina yang terlepas berada pada bagian atas,
maka bayangan akan terlihat pada lapangan pandang bagian bawah dan dapat
membaik secara spontan dengan tirah baring, terutama setelah tirah baring
pagi hari. Kehilangan penglihatan sentral atau pandangan kabur dapat muncul
jika fovea ikut terlibat. terlibat.6
Saat anamnesis, penting juga untuk menanyakan riwayat trauma, apakah terjadi
bebrapa bulan sebelum gejala muncul atau bertepatan dengan timbulnya gejala. Perhatikan
juga riwayat operasi, termasuk ekstraksi katarak, pengangkatan benda asing intraokuler atau
prosedur lain yang melibatkan retina. Tanyakan juga mengenai kondisi pasien sebelumnya,
seperti pernah atau tidak menderita uveitis, perdarahan vitreus, ambliopia, glaukoma, dan
retinopati diabetik. Riwayat penyakit mata dalam keluarga juga penting untuk diketahui. 7
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Pemeriksaan menyeluruh diindikasikan pada kedua mata. Pemeriksaan pada mata yang
tidak bergejala dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab dari ablasio retina pada mata
yang lainnya.
a. Lakukan pemeriksaan segmen luar untuk menilai tanda-tanda trauma
b. Periksa pupil dan tentukan ada atau tidaknya defek pupil aferen
c. Periksa ketajaman penglihatan
d. Periksa konfrontasi lapangan pandang
e. Periksa metamorfopsia dengan tes Amsler grid
f. Pemeriksaan slit lamp untuk melihat ada atau tidaknya pigmen pada vitreus
(Shafer’s sign)
g. Periksa tekanan bola mata
h. Lakukan pemeriksaan fundus dengan oftalmoskopi (pupil harus dalam keadaan
dilatasi)

Pada oftalmoskopi, retina yang terlepas akan terlihat putih dan edema dan
kehilangan sifat transparansinya. Pada ablasio regmatogen, robekan retina berwarna merah
terang dapat terlihat. Biasanya muncul pada setengah bagian atas retina pada regio degenerasi
ekuator. Pada ablasio tipe traksi, ablasio bullosa akan terlihat bersamaan dengan untaian
retina berwarna abu-abu. Pada tipe eksudatif akan terlihat adanya deposit lemak massif dan
biasanya disertai dengan perdarahan intraretina.

18
Pada pemeriksaan Ultrasound mata, jika retina tidak dapat tervisualisasi karena
katarak atau perdarahan, maka ultrasound A dan B-scan dapat membantu mendiagnosis
ablasio retina dan membedakannya dengan ablasio vitreus posterior. USG dapat membantu
membedakan regmatogen dari non regmatogen. Pemeriksaan ini sensitif dan spesifik untuk
ablasio retina tetapi tidak dapat membantu untuk menentukan lokasi robekan retina yang
tersembunyi.8
Tatalaksana
Tujuan utama bedah ablasi adalah untuk menemukan dan memeperbaiki semua
robekan retina, digunakan krioterapi atau laser untuk menimbulkan adhesi antara epitel
pigmen dan retina sensorik sehingga mencegah influks cairan lebih lanjut kedalam ruang
subretina, mengalirkan cairan subretina ke dalam ke luar, dan meredakan traksi vitreoretina.1,9
Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah pembedahan. Prinsip bedah pada ablasio
retina yaitu :9
1. Menemukan semua bagian yang terlepas
2. Membuat iritasi korioretinal pada sepanjang masing-masing daerah retina yang
terlepas.
3. Menguhubungkan koroid dan retina dalam waktu yang cukup untuk
menghasilkan adhesi dinding korioretinal yang permanen pada daerah subretinal.
Pada pembedahan ablasio retina dapat dilakukan dengan cara :
1. Scleral buckling
Metode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina rematogenosa terutama
tanpa disertai komplikasi lainnya. Prosedur meliputi lokalisasi posisi robekan retina,
menangani robekan dengan cryoprobe, dan selanjutnya dengan scleral buckle (sabuk).
Sabuk ini biasanya terbuat dari spons silikon atau silikon padat. Ukuran dan bentuk
sabuk yang digunakan tergantung posisi lokasi dan jumlah robekan retina. Pertama –
tama dilakukan cryoprobe atau laser untuk memperkuat perlengketan antara retina sekitar
dan epitel pigmen retina. Sabuk dijahit mengelilingi sklera sehingga terjadi tekanan pada
robekan retina sehingga terjadi penutupan pada robekan tersebut. Penutupan retina ini
akan menyebabkan cairan subretinal menghilang secara spontan dalam waktu 1-2 hari. 1,9

19
Gambar 5. Spons silikon dijahit pada bola mata untuk menekan sklera di atas robekan retina setelah
drainase cairan sub retina dan dilakukan crioterapi

Gambar 6. Penekanan yang didapatkan dari spons silikon, retina sekarang melekat kembali dan
traksi pada robekan retina oleh vitreus dihilangkan

2. Retinopeksi pneumatik
Retinopeksi pneumatik merupakan metode yang juga sering digunakan pada
ablasio retina regmatogenosa terutama jika terdapat robekan tunggal pada bagian superior
retina. Teknik pelaksanaan prosedur ini adalah dengan menyuntikkan gelembung gas ke
dalam rongga vitreus. Gelembung gas ini akan menutupi robekan retina dan mencegah
pasase cairan lebih lanjut melalui robekan. Jika robekan dapat ditutupi oleh gelembung
gas, cairan subretinal biasanya akan hilang dalam 1-2 hari. Robekan retina dapat juga
dilekatkan dengan kriopeksi atau laser sebelum gelembung disuntikkan. Pasien harus
mempertahankan posisi kepala tertentu selama beberapa hari untuk meyakinkan
gelembung terus menutupi robekan retina.9

Gambar 7. Setelah pengangkatan gel vitreus pada drainase cairan sub retina, gas fluorokarbon inert
disuntikan ke dalam rongga vitreus

3. Vitrektomi
Merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat diabetes, dan juga
pada ablasio regmatogenosa yang disertai traksi vitreus atau perdarahan vitreus. Cara

20
pelaksanaannya yaitu dengan membuat insisi kecil pada dinding bola mata kemudian
memasukkan instruyen ingá cavum vitreous melalui pars plana. Setelah itu dilakukan
vitrektomi dengan vitreus cutre untuk menghilangkan berkas badan kaca (viteuos stands),
membran, dan perleketan – perleketan. Teknik dan instruyen yang digunakan tergantung tipe
dan penyebab ablasio. Lebih dari 90% lepasnya retina dapat direkatkan kembali dengan
teknik-teknik bedah mata modern, meskipun kadang- kadang diperlukan lebih dari satu kali
operasi.9
Prognosis
Prognosis dari penyakit ini berdasarkan pada keadaan makula sebelum dan sesudah
operasi serta ketajaman visualnya. Jika, keadaannya sudah melibatkan makula maka akan
sulit menghasilkan hasil operasi yang baik, tetapi dari data yang ada sekitar 87 % dari operasi
yang melibatkan makula dapat mengembalikan fungsi visual sekitar 20/50 lebih kasus
dimana makula yang terlibat hanya sepertiga atau setengah dari makula tersebut.
Pasien dengan ablasio retina yang melibatkan makula dan perlangsungannya kurang
dari 1 minggu, memiliki kemungkinan sembuh post operasi sekitar 75 % sedangkan yang
perlangsungannya 1-8 minggu memiliki kemungkinan 50 %.
Dalam 10-15 % kasus yang dilakukan pembedahan dengan ablasio retina yang
melibatkan makula, kemampuan visualnya tidak akan kembali sampai level sebelumnya
dilakukannya operasi. Hal ini disebabkan adanya beberpa faktor seperti irreguler astigmat
akibat pergeseran pada saat operasi, katarak progresif, dan edema makula. Komplikasi dari
pembedahan misalnya adanya perdarahan dapat menyebabkan kemampuan visual lebih
menurun.9

Komplikasi
Jika pengobatan tertunda, perlepasan retina secara parsial dapat berlanjut sampai
seluruh retina terlepas. Ketika hal ini terjadi, penglihatan normal tidak dapat dipulihkan, dan
penurunan ketajaman visual atau kebutaan dapat terjadi pada mata yang terkena. Komplikasi
lain dapat mencakup perdarahan ke dalam mata (perdarahan vitreous), glaukoma (sudut
tertutup), peradangan, infeksi, dan jaringan parut akibat operasi. Kehilangan persepsi cahaya
juga dapat terjadi.
Jika retina tidak berhasil dilekatkan kembali dan pembedahan mengalami komplikasi,
maka dapat timbul perubahan fibrotik pada vitreous (vitreoretinopati proliferatif, PVR). PVR
dapat menyebabkan traksi pada retina dan ablasio retina lebih lanjut. 4,10

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan, Daniel G. Asbury, Taylor. Oftalmologi umum (General ophthalmology)


edisi 17. EGC: Jakarta; 2013. p. 12-199.

2. Chang Huan J. In : Retinal Detachment. The Journal Of The American Medical


Association. 2012.
3. Kwon O. W., Roh M. I., Song J. H. Retinal Detachment and Proliferative
Victreoretinopathy. In. Retinal Pharmacotheraphy. Britain : Saunders-Elsevier. 2010.
Page 148-51.
4. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi keempat. 2013. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
5. James B.,dkk. Ablasi retina. In: Oftalmologi. 9th ed. Erlangga: Ciracas Jakarta; 2006:
117-121.
6. Galloway NR, Amoaku WMK, Galloway PH, et al. In : Common Eye Disease And
Their Management. 3rd ed. London : Springer-Verlag. 2006. Page 103-10.
7. Pandya HK. In : Retinal Detachment. 2013. (Cited on 2013). Available from URL
http://emedicine.medscape.com/article/798501-overview
8. Chern KC. In : Emergency Opthalmology A Rapid Treatment Guide. New York :
McGraw-Hill. 2007.
22
9. American Academy Ophtalmology. Retina and Vitreous: Section 12 2007-2008.
Singapore: LEO; 2008. p. 9-299.
10. Lang, GK. Ophtalmology, A Pocket Textbook Atlas. 2nd Edition. 2006. Thieme.
Germany. p. 305-344.

PEMBAHASAN

Seorang laki-laki berusia 32 tahun datang dengan keluhan mata kanan kabur secara
tiba-tiba sejak 2 bulan yang lalu. Keluhan kabur dirasakan semakin memburuk, pasien
mengeluh pandangannya gelap dan seperti melihat serabut-serabut cahaya yang mengganggu.
Selain itu pasien mengatakan bahwa terkadang mata kanannya perih dan cepat lelah. 3 bulan
sebelumnya pasien mengeluh melihat percikan darah yang terjadi secara tiba-tiba saat pasien
sedang bekerja. Keluhan tidak disertai dengan mata merah, mata tidak gatal dan tidak berair.
Beberapa tahun yang lalu pasien memiliki riwayat kecelakaan lalu lintas dan kepala pasien
terbentur.
Ablasio retina merupakan kelainan retina dimana lapisan sel kerucut dan sel batang
terpisah dari lapisan sel epitel pigmen. Gejala yang ditimbulkan biasanya berupa fotopsia,
yaitu melihat adanya kilatan-kilatan cahaya beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum
ablasi, selain itu ada juga gejala floaters yang merupakan gambaran titik hitam yang
melayang di depan lapangan pandang. Dan gejala shadows dimana penderita seperti melihat
bayangan gelap atau hitam. Pada kasus ini, pasien mengeluhkan adanya keadaan fotopsia
dimana dirinya merasa seperti melihat serabut-serabut cahaya. Pasien juga mengeluhkan
pandangannya gelap, seperti pada gejala shadows.
Pada pemeriksaan fisik mata kanan pasien didapatkan visus 1/300, dan tidak maju
saat di pinhole, persepsi warna baik. Selain itu didapatkan hasil pemeriksaan lapang pandang
mata kanan yang menyempit. Pada pemeriksaan funduskopi pasien dengan ablasio retina
biasanya didapatkan gambaran retina yang terlepas dan akan terlihat putih, edema serta
kehilangan sifat transparansinya. Pada ablasio regmatogen, robekan retina berwarna merah

23
terang dapat terlihat. Biasanya muncul pada setengah bagian atas retina pada regio degenerasi
ekuator. Pada ablasio tipe traksi, ablasio bullosa akan terlihat bersamaan dengan untaian
retina berwarna abu-abu. Pada tipe eksudatif akan terlihat adanya deposit lemak massif dan
biasanya disertai dengan perdarahan intraretina.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien ini diduga menderita ablasio
retina rhegmatogen pada mata kanannya. Ablasio rhegmatogen adalah ablasi yang terjadi
akibat adanya robekan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen
epitel dengan retina. Pada kasus ini, pendarahan dapat terjadi karena adanya robekan
pembuluh darah retina, sesuai dengan riwayat pasien yang pernah mengalami trauma kepala
sebelumnya, serta gejala yang dikeluhkan pasien, yaitu saat pasien tiba-tiba seperti melihat
percikan darah. Pendarahan badan kaca akibat robekan pembuluh darah tersebut, dapat
menyebabkan terjadinya posterior vitreus detachment, sehingga terjadi proses traksi
vitreoretina yang menyebabkan ablasio retina.
Dengan demikian, diagnosis ablasio retina traksional dan ablasio retina eksudasi
dapat disingkirkan karena proses terjadinya berbeda dengan ablasio retina rhegmatogen
sesuai dengan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang didapatkan, walaupun gejala nya tak
jauh berbeda. Ablasio retina traksional adalah lepasnya jaringan retina yang terjadi akibat
tarikan jaringan parut pada badan kaca yang biasanya disebabkan oleh retinopati diabetik
proliferative (pada pasien tidak didapatkan riwayat diabetik), sedangkan ablasio retina
eksudatif adalah ablasi retina yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat di bawah retina dan
mengangkat retina, biasanya pada koroiditis.
Terapi yang di berikan baik pre maupun post operasi pada pasien adalah obat-obatan
seperti levofloksasin dan cendoxitrol, serta sulfas atropine tetes. Antibiotik dan kortikosteroid
diberikan untuk mencegah terjadi nya infeksi dan inflamasi terutama setelah operasi,
sedangkan sulfas atropine merupakan midriatikum yang bertujuan untuk merelaksasikan otot-
otot iris, sehingga dapat mengistirahatkan mata. Tindakan pembedahan bertujuan untuk
menemukan dan memeperbaiki semua robekan retina, digunakan krioterapi atau laser untuk
menimbulkan adhesi antara epitel pigmen dan retina sensorik sehingga mencegah influks
cairan lebih lanjut kedalam ruang subretina, mengalirkan cairan subretina ke dalam ke luar,
dan meredakan traksi vitreoretina.
Prognosis dari penyakit ini berdasarkan pada keadaan makula sebelum dan sesudah
operasi serta ketajaman visualnya. Jika, keadaannya sudah melibatkan makula maka akan
sulit menghasilkan hasil operasi yang baik. Komplikasi juga dapat terjadi jika pengobatan
tertunda, perlepasan retina secara parsial dapat berlanjut sampai seluruh retina terlepas.

24
Ketika hal ini terjadi, penglihatan normal tidak dapat dipulihkan, dan penurunan ketajaman
visual atau kebutaan terjadi pada mata yang terkena.
Saat sebelum operasi, pasien mengeluhkan bahwa pengelihatannya gelap dan kabur.
Setelah dioperasi, pasien mengatakan bahwa pengelihatannya sudah tidak gelap dan pasien
merasa keadaannya lebih baik dari sebelumnya, namun masih tetap kabur. Oleh karena itu,
prognosis pasien ini kurang baik, karena tindakan operasi yang dilakukan tidak dapat
mengembalikan pengelihatan pasien ke fungsi normal.

25