Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


BBLASR ( BERAT BADAN BAYI LAHIR AMAT SANGAT RENDAH )

Oleh

Ni Luh Putu Ekawati

NIM: 18.901.2050

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI

2018
LAPORAN PENDAHULUAN

BBLASR ( BERAT BADAN BAYI LAHIR AMAT SANGAT RENDAH )

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. DEFINISI
a. Berat bayi lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu
lahir (Huda dan Hardhi, 2013).
b.Berat badan lahir amat sangat rendah (BBLASR) atau biasa disebut juga dengan berat
badan lahir ekstrim rendah (BBLER) adalah bayi baru lahir dengan berat badan dibawah
nornal (kurang dari 1000 gr).
c. Berat badan lahir amat sangat rendah (BBLASR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan
kurang dari 1000 gram (Proverawati,2010)
d. Kejadian BBLASR pada dasarnya berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi
pada masa kehamilan ibu dan hal ini berhubungan dengan banyak faktor dan lebih utama
pada masalah perekonomian keluarga sehingga pemenuhan kebutuhan konsumsi makanan
pun kurang.
e. Kesimpulannya BBLASR adalah bayi baru lahir dengan berat badan dibawah normal yaitu
kurang dari 1000 gram

2. EPIDEMIOLOGI
Setiap tahun diperkirakan terjadi 4,3 juta kasus kelahiran mati dan 3,3 juta kematian
neonatal pada kematian neonatal seluruh dunia. Meskipun AKB diseluruh dunia telah
mengalami penurunan namun kematian neonatal pada kematian bayi semakin meningkat.
(Prameswari, 2007). Secara global penyebab langsung kematian neonatal diperkirakan
karena kelahiran prematur (28%), infeksi berat (26%) dan asfiksia (23%) sedangkan
tetanus neonatus dengan proporsi kecil (7%). Menurut Azimul (2008) 50% kematian
perinatal secara langsung dan tidak langsung berkaitan dengan berat lahir rendah
3. KLASIFIKASI
Klasifikasi berdasarkan berat badan :

1) Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), berat lahir 1500 gram-2500 gram.
2) Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR), berat lahir kurang dari 1500 gram.
3) Bayi Berta Lahir Ekstrem Rendah (BBLER) berat lahir kurang dari 1000 gram.
Berdasarkan masa gestasinya
a. Prematuritas murni
Bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan
berat badan untuk usia kehamilan atau disebut neonatus kurang bulan sesuai masa
kehamilan (NKB-SMK).

b. Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa
gestasi itu.Berat bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine dan
merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK).
c. Bayi Premature Sesuai Masa Kehamilan (SMK)
Terdapat derajat prematuritas, menurut Usher digolongkan menjadi 3 kelompok:

1) Bayi sangat prematur(extremely premature): 24-30 minggu


2) Bayi prematur sedang (moderately prematur): 31-36 minggu
3) Bayi yang mempunyai sifat premature atau matur (Borderline prematur): 37-
38 minggu
4. ETIOLOGI
Menurut Proverawati (2010) Penyebab terbanyak penyebab terjadinya
BBLR adalah kelainan premature. Semakin muda usia kehamilan semakin besar
resiko jangka pendek dan jangka panjang dapat terjadi. Berikut adalah factor-
faktor yang berhubungan dengan bayi BBLR secara umum yaitu Faktor ibu
a. Penyakit
1) Mengalami komplikasi kehamilan, seperti anemia, perdarahan
antepartum, preekelamsi berat, eklamsia, infeksi kandung kemih.
2) Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual,
hipertensi, HIV/AIDS, TORCH, penyakit jantung.
3) Penyalahgunaan obat, merokok, konsumsi alkohol.
b. Ibu
1) Angka kejadian prematitas tertinggi adalah kehamilan pada usia < 20
tahun atau lebih dari 35 tahun.
2) Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1 tahun).
c. Faktor janin
Faktor janin meliputi : kelainan kromosom, infeksi janin kronik (inklusi
sitomegali, rubella bawaan), ketuban pecah dini, gawat janin, dan
kehamilan kembar .
d. Faktor plasenta
Faktor plasenta disebabkan oleh : hidramnion (keadaan di mana
banyaknya air ketuban melebihi 2000 cc), plasenta previa, solutio
plasenta, sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban
pecah dini.
e. Faktor lingkungan
Lingkungan yang berpengaruh antara lain : tempat tinggal di dataran
tinggi, terkena radiasi, serta terpapar zat beracun.
4. PATOFISIOLOGI
Secara umum bayi BBLASR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang
belum cukup bulan (premature) disamping itu juga disebabkan dismaturitas.
Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu),tapi berat badan
(BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilanya,yaitu tidak mencapai
2500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan
bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti
adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang
menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.
Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin
tidak mengalami hambatan,dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan
berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi
normal,tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra
hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih
sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan
kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi
BBLASR,vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi,terlebih lagi bila
ibu menderita anemia.
Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar HB berada di
bawah normal. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang
paling sering tyerjadi selama masa kehamilan. Ibu hamil umumnya
mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin
yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka
akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah
11 gr/dl selama trimester III. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan
gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel
otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam
kandungan,abortus,cacat bawaan,BBLR,anemia pada bayiyang dilahirkan,
hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal
secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat
dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi,
kemungkinan melahirkan bayi BBLASR dan premature juga lebih besar.
5. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Huda dan Hardhi, (2013), tanda dan gejala dari bayi berat badan lahir
amat sangat rendah adalah:
1) Sebelum Bayi Lahir
a) Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus
prematurus, dan lahir mati.
b) Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan.
c) Pergerakan janin pertama terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih
lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut
d) Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut
seharusnya. Sering dijumpai kehamilan dengan oligradramnion
gravidarum atau perdarahan anterpartum.
2) Setelah Bayi Lahir
a) Bayi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin
b) Bayi premature yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu
c) Bayi small for date sama dengan bayi retardasi pertumbuhan
intrauterine.
d) Bayi premature kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam
tubuhnya.

Selain itu ada gambaran klinis BBLASR secara umum adalah :


1. Berat kurang dari 1000 gram.
2. Panjang kurang dari 45 cm.
3. Lingkar dada kurang dari 30 cm.
4. Lingkar kepala kurang dari 33 cm.
5. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.
6. Kepala lebih besar.
7. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang.
8. Otot hipotonik lemah.
9. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea.
10. Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus.
11. Kepala tidak mampu tegak.
12. Pernapasan 40 – 50 kali / menit.
13. Nadi 100 – 140 kali / menit.

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/ PENUNJANG


Pemeriksaan Penunjang
Menurut Pantiawati (2010) Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara
lain
1) Pemeriksaan skor ballard merupakan penilaian yang menggambarkan reflek
dan maturitas fisik untuk menilai reflek pada bayi tersebut untuk mengetahui
apakah bayi itu prematuritas atau maturitas
2) Darah rutin, glokosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar
elektrolit dan analisa gas darah.
3) Foto dada ataupun babygram merupakan foto rontgen untuK melihat bayi
lahir tersebut diperlukan pada bayi lahir dengan umur kehamilan kurang
bulan dimulai pada umur 8 jam atau dapat / diperkirakan akan terjadi
sindrom gawat nafas.
4) Test Kocok (shake Test) Sebaiknya dilakukan pada bayi yang berusia < 1jam
dengan mengambil cairan amnion yang tertelan dilambung dan bayi belum
diberikan makanan. Cairan amnion 0,5 cc ditambah garam faal 0,5 cc,
kemudian ditambah 1 cc alcohol 95 % dicampur dalam tabung kemudian
kocok 15 detik, kemudian diamkan selama 15 menit dengan tabung tetap
berdiri ,
a) (+) , bila terdapat gelembung-gelembung yang membentuk cincin
artinya surfaktan terdapat dalam paru dalam jumlah yang cukup.
b) (-) , bila tidak ada gelembung atau gelembung sebanyak ½ permukaan
artinya paru – paru belum matang / tidak ada surfaktan.
c) ragu , bila terdapat gelembung tapi tidak ada cincin jika hasilnya ragu
maka tes harus diulang.
Pemeriksaan diagnostik
a. Radiologi
1) foto thoraks / baby gram pada bayi baru lahir dengan usia
kehamilan kurang bulan. Dapat dimulai pada umur 8 jam.
Gambaran foto toraks pad bayi dengan penyakit membran hyaline
karena kekurangan surfaktan berupa terdapatnya
retikulogranularpada parenkin dan grukogram udara. Pada kondisi
berat hanya tampak gambaran white long (mansjoer,dkk,2000)
2) USG kepala terutama pada bayi dengan usia kehamilan 35 minggu
dimulai pada umur 2 hari untuk mengetahui adanya hidrosefalus
atau perdarahan intra cranial dengan menyisualisasi ventrikel dan
struktur otak garis tengah dengan fontanel anterior yang
terbuka.(merensten,2002)
3) Laboratorium
1. Darah rutin
a. Hematokrit ( HCT)
o bayi usia 1 hari 48 – 69 %
o bayi usia 2 hari 48 – 75%
o bayi usia 3 hari 44 – 72 %
b. Hemoglobin (Hb) untuk bayi usia 1-3 hari 14,5 – 22,5
g/dl
c. Jumlah Leukosit
o bayi baru lahir 9,0 - 30,0 x 103 sel/mm3(NL)
o bayi usia 1 hari / 24 jam 9,4 - 43,0x 103 sel/mm3(NL)
o bayi usia 1 bulan 9,0 - 19,5 x103 sel/mm3 (NL)
d. Bilirubin
o kadar setelah 1 bulan sebagai berikut :
o terkonjungsi 0 - 0,3 mg/dl (0,5 Nmol/L)
o tak terkonjungsi 0,1 - 0,7 mg/dl (2-12 Nmol/L)
e. Glukosa ( 8 - 12 jam post natal ) disebut hipoglikemia
bila kosentrasi glukosa plasma < 50 ml/dl

2. Analisa gas darah


a. Tekanan potensial CO2 (PCO2) bayi baru lahir 27-
40mmHg
b. Tekanan potensial O2 (PO2)
o lahir 8-24mmHg
o 5-8 menit 33-75 mmHg
o 30 menit 31-85 mmHg
o 71 jam 55-80 mmHg
o 1 hari 54-95 mmHg
o kemudian (menurun sesuai usia) 83-108 mmHg
c. saturasi oksigen
o bayi baru lahir 85 - 90 %
o kemudian 95 - 99 %
o PH bayi premature (48 jam) 7,35 – 7,50
3. Elektrolit Darah
a) Natrium
Serum atau Plasma
o bayi baru lahir 136 – 146 mEa/L
o bayi 139 – 146 mEa/L
o Urin 24 jam 40 – 220 mEa/L
b) Kalium
o Serum bayi baru lahir 3,0 – 6,0 mEa/L
o Plasma (heparin) 3,4- 4,5 mEa/L
o Urin 24 jam 2,5 – 125 mEa/L
c) Klorida
Serum/Plasma
o Tali pusat 96 – 104 mEa/L
o Bayi baru lahir 97- 110 mEa/L

7. KOMPLIKASI
a. Sindroma distress respiratorik idiopatik
Terjadi pada 10 % bayi kurang bulan. Nampak konsolidasi paru
progresif akibat kurangnya surfaktan yang menurunkan tegangan
permukaan di alveoli dan mencegah kolaps. Pada waktu atau segera
setelah lahir bayi akan mengalami :
1) Rintihan waktu inspirasi
2) Napas cuping hidung.
3) Kecepatan respirasi lebih dari 70/menit.
4) Tarikan waktu inspirasi pada sternum (tulang dada).
5) Nampak gambaran sinar-X dada yang khas bronkogrm udara dan
pemeriksaan gas darah menunjukkan :
6) Kadar oksigen arteri menurun
7) Konsentrasi CO2 meningkat
8) Asidosis metabolic
Pengobatan dengan oksigen yang dilembabkan, antibiotika,
bikarbonas intravena dan makanan intravena. Mungkin
diperlukan tekanan jalan positif berkelanjutan menggunakan pipa
endotrakea. Akhirnya dibutuhkan pernapasan buatan bila timbul
gagal napas dengan pernapasan tekanan positif berkelanjutan.
b. Takipnea selintas pada bayi baru lahir
Paru sebagian bayi kurang bulan dan bahkan bayi cukup
bulan tetap edematosus untuk beberapa jam setelah lahir dan
menyebabkan takipnea. Keadaan ini tidak berbahaya, biasanya tidak
menyebabkan tanda- tanda distress respirasi lain dan membaik
kembali 12-24 jam setelah lahir. Perdarahan intraventrikular terjadi
pada bayi kurang bulan yang biasanya lahir normal. Perdarahan
intraventrikular dihubungkan dengan sindroma distress respiratori
idiopatik dan nampaknya berhubungan dengan hipoksia pada
sindroma distress respirasi idiopatik. Bayi lemas dan mengalami
serangan apnea.
c. Fibroplasias Retrorental
Oksigen konsentrasi tinggi pada daerah arteri berakibat
pertumbuhan jaringan serat atau fibrosa dibelakang lensa dan
pelepasan retina yang menyebabkan kebutaan. Hal ini dapat
dihindari dengan menggunakan konsentrasi oksigen di bawah 40%
(kecuali bayi yang membutuhkan lebih dari 40 %).sebagian besar
incubator mempunyai control untuk mencegah konsentrasi oksigen
naik melebihi 40% tetapi lebih baik menggunakan pemantau
oksigen perkutan yang saat ini mudah didapat untuk memantau
tekanan oksigen arteri bayi.
d. Serangan Apnea
Serangan apnea disebabkan ketidak mampuan fungsional pusat
pernapasan atau ada hubunganya dengan hipoglikemi atau
perdarahan intracranial. Irama pernapasan bayi tak teratur dan
diselingi periode apnea. Dengan mengunakan pemantau apnea dan
memberikan oksigen pada bayi dengan pemompaan segera bila
timbul apnea sebagian besar bayi akan dapat bertahan dari serangan
apnea, meskipun apnea ini mungkin berlanjut selama beberapa hari
atau mingu. Perangsang pernapasan seperti aminofilin mungkin
bermanfaat.
e. Enterokolitis Nekrotik
Keadaan ini timbul terutama pada bayi kurang bulan dengan
riwayat asfiksia. Dapat juga terjadi setelah transfuse tukar.
Gejalanya : kembung, muntah, keluar darah dari rectum dan berak
cair, syok usus dan usus mungkin mengalami perforasi. Pengobatan
diberikan pengobatan gentamisin intravena, kanamisin oral.
Hentikan minuman oral dan berikan pemberian makanan intravena.
Mungkin diperlukan pembedahan.
8. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan BBLASR menurut Proverawati, (2010):
a. Penanganan bayi
Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi. Maka semakin
besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan
sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam
incubator
b. Pelestarian suhu tubuh.
Untuk mencegah hipotermi diperlukan lingkungan yang cukup
hangat dan istirahat konsumsi O2 yang cukup. Bila dirawat dalam
incubator maka suhunya untuk bayi dengan BB 2 kg adalah 35C dan
untuk bayi dengan BB 2-2,5 kg adalah 34c. bila tidak ada incubator
hanya dipakai popok untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan
umum, warna kulit,pernafasan, kejang dan sebagainyasehingga penyakit
dapat dikenali sedini mungkin.
c. Inkubator
Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui jendela atau lengan
baju. Sebelum memasukan bayi kedalam incubator. Incubator terlebih
dahulu dihangatkan sampai sekitar 29,4 C untuk bayi dengan BB 1,7 kg
dan 32,20 C untuk bayi yang lebih kecil.
d. Pemberian oksigen
Konsentrasi O2 diberikan sekitar 30-35% dengan menggunakan
head box.
e. Pencegahan infeksi
Prosedur pencegahan infeksi adalah sebagai berikut :
1) Mencuci tangan samoai kesiku dengan sabun dan air mengalir selama
2 menit.
2) Mencuci tangan dengan zat antiseptic sebelum dan sesudah
memegang bayi.
f. Pemberian makanan.
Pemberian makanan sedini mungkin sangat dianjurkan untuk
membantu terjadinya hipoglikemi dan hiperbilirubin. ASI merupakan
pilihan utama, dianjurkan untuk minum pertama sebanyak 1 mllarutan
glucose 5% yang steril untuk bayi dengan berat badan kurang dari 1000
gram.
B. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN BBLASR

1. PENGKAJIAN
a. Biodata klien : nama,tempat lahir, jenis kelamin.
b. Orang tua : nama ayah/ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan,
pendidikan dan alamat.
c. Riwayat kesehatan :
1) Riwayat antenatal :
a) Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, HT,gizi
buruk,merokok, ketergantungan obat-obatan, DM, penyakit
kardiovaskuler dan paru.
b) Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran
multiple, kelainan congenital.
c) Riwayat komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang
sangat erat dengat permasalahan pada bayi baru lahir.
d) Kala I : perdarahan antepartumbaik solusio plasenta maupun
plasenta previa.
e) Kala II :persalinan dengan tindakan pembedahan, karena
pemakaian obat penenang (narkose) yang dapat menekan system
pusat pernafasan.
2) Riwayat post natal :
a) Apgar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua
(0-3), asfiksia berat (4-6), asfiksia sedang (7-10) asfiksia ringan.
b) Berat badan lahir : preterm atau BBLR < 2500 gram, untuk aterm
2500 gram, LK kurang atau lebih dari normal (34-36)
c) Pola nutrisi yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLR gangguan
absorbsigastrointestinal, muntah, aspirasi,
kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan cairan
parenteral atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk
mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk
mengoreksi dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi
disamping untuk pemberian obat intravena.
d) Pola eliminasi yang perlu dikaji pada neonates adalah BAB :
frekuensi,jumlah,konsisten. BAK : frekuensi dan jumlah.
e) Latar belakang sosial budaya kebudayaan yang berpengaruh
terhadap BBLR kebiasaan ibu merokok, obat-obatan jenis
psikotropika, kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman
beralkohol, dan kebiasaan ibu melakukan diet ketat atau
pantangan makanan tertentu.
f) Hubungan psikologis. sebaiknya segera setelah bayi baru alhir
dilakukan rawat gabung dengan ibu jika kondisi bayi
memungkinkan.
g) Keadaan umum : pada neonates dengan BBLR keadaannya
lemah dan hanya merintih.kesadaran neonates dapat dilihat dari
responnya terhadap rangsangan. Adanya BB yang stabil,
panjang badan sesuai dengan usianya tidak ada pembesaran
lingkar kepala dapat menunjukan kondisi neonatos yang baik.
h) Tanda-tanda vital : neonates post asfiksia berat kondisi akan baik
apabila penanganan asfiksia benar, tepat dan cepat. Suhu normal
pada tubuh bayi n (36 C-37,5C), nadi normal antara (120-140
x/m), untuk respirasi normal pada bayi (40-60 x/m), sering pada
bayi post asfiksia berat respirasi sering tidak teratur.
i) Kulit : warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstremitas
berwarna biru, pada bayi preterm terdapat lanugo dan verniks.
j) Kepala : kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau
cephal haematom, ubun-ubun besar cekung atau cembung
kemungkinan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
k) Mata : warna conjungtiva anemis atau tidak anemis, tidak ada
bleeding conjungtiva, warna sklera tidak kuning, pupil
menunjukan refleksi terhadap cahaya.
l) Hidung : terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat
penumpukan lender.
m) Mulut : bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau
tidak.
n) Telinga : perhatiakan kebersihannya dan adanya kelainan.
o) Leher : perhatikan keberhasilannya karena leher neonates
pendek.
p) Thorak : bentuk simetris,terdapat tarikan intercostals,perhatikan
suara wheezing dan ronchi,frekwensi bunyi jantung lebih dari
100x/m.
q) Abdomen : bentuk silindris,hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah
ascus costae pada garis papilla mamae, lien tidak teraba, perut
buncit berarti adanya asites atau tumor, perut cekung adanya
hernia diafragma,bising usus timbul 1-2 jam setelah masa
kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI tract belum
sempurna.
r) Umbilicus : tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan atau tidak
adanya tanda-tanda infeksi pada tali pusat.
s) Genetalia : pada neonates aterm testis harus turun, lihat adakah
kelainan letak muara uretra pada neonates laki-laki, neonates
perempuan lihat labia mayir dan labia minor, adanya sekresi
mucus keputihan, kadang perdarahan.
t) Anus : perhatikan adanya darah dalam tinja,frekwensi buang air
besar serta warna dari feces.
u) Ekstremitas : warna biru,gerakan lemah, akral dingin, perhatikan
adanya patah tulang atau adanya kelumpuhan syraf atau keadaan
jari-jari tangan serta jumlahnya.
v) Reflex : pada neonates preterm post asfiksia berat rflek moro dan
sucking lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan
mengenai keadaan susunan syaraf pusat atau adanya patah
tulang.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan imaturitas pusat
pernapasan, keterbatasan perkembangan otot penurunan otot atau
kelemahan, dan ketidakseimbangan metabolik
2. Ketidakefektifan Thermoregulasi berhubungan dengan kontrol suhu
yang imatur dan penurunan lemak tubuh subkutan
3. ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidak mampuan mencerna nutrisi karena imaturitas.
4. Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan prematuritas
5. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan imunologis yang tidak
efektif
6. Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan
kelembaban kulit.
D. IMPLEMENTASI

Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi

E. EVALUASI
1. Ketidakefektifan pola nafas dapat teratasi
2. Ketidakefektifan Thermoregulasi dapat teratasi
3. ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi.
4. Ketidakefektifan pemberian ASI dapat teratasi
5. risiko infeksi dapat teratasi
6. Resiko kerusakan integritas kulit dapat teratasi
DAFTAR PUSTAKA

A.H Markum. (2002). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI


Betz, L C dan Sowden, L A. 2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta : EGC.
Gaffar, Jumadi. L.O. 1999. Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC.
Garna, Heri.dkk. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak
Edisi Ke dua.Bandung : FKU Padjadjaran.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
Nurarif, Amin Huda dan Hardi Kusuma.2015.Aplikasi NANDA NIC NOC,
Yogyakarta :Mediaction Publishing
Proverawati, 2010. Berat Badan Lahir Rendah. Yogyakarta : Muha Medika
Supartini, Yupi, S.Kep, MSc. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak.: