Anda di halaman 1dari 31

Portofolio Kegawatdaruratan Medis

PREEKLAMSIA BERAT DENGAN IMPENDING EKLAMSIA

Oleh :

dr. Mulia Dewanti

Konsulen :

dr. Ade Aulia, Sp.OG

Pendamping :

dr. Yenny Dwi Kalisna

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA

RSUD MUARA LABUH

SOLOH SELATAN
HALAMAN PENGESAHAN

Nama : dr. Mulia Dewanti


Topik : Kasus kegawatdaruratan media
Dengan judul : Preeklamsia Berat dengan Impending Eklamsia
Konsulen : dr. Ade Aulia, Sp.OG
Pendamping : dr. Yenny Dwi Kalisna

Muara Labuh, Agustus 2018

Pendamping Dokter Internship

dr. Yenny Dwi Kalisna dr. Mulia Dewanti


NIP. 19810903201012023

Konsulen

dr. Ade Aulia, Sp.OG


BERITA ACARA PERSENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini, Agustus 2018 telah dipersentasikan portofolio oleh :


Nama : dr. Mulia Dewanti
Dengan judul : Preeklamsia Berat dengan Impending Eklamsia
Konsulen : dr. Ade Aulia, Sp.OG
Pendamping : dr. Yenny Dwi Kalisna
Wahana Internship : RSUD Muara Labuh
No Nama Peserta Tanda Tangan
1 1.
2 2.
3 3.
4 4.
5 5.
6 6.
7 7.
8 8.
9 9.
10 10.
11 11.
12 12.
13 13.
14 14.

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.

Pendamping

dr. Yenny Dwi Kalisna


NIP. 19810903201012023
Borang Portofolio Kasus Kegawatdaruratan
Topik : Preeklamsia berat dengan impending eklamsi
Tanggal : 12 Juli 2018 Presentan : dr Mulia Dewanti
Tanggal Presentasi : Pendamping : dr Suciati Lestari

Objekttif Presentasi :
 Keilmuan  Keterampilan  Penyelenggara  Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa
 Neonatus  Bayi  Anak  Remaja √ Dewasa  Lansia
 Deskripsi : wanita 32 tahun dengan PEB + Impending eklamsi
 Tujuan : Tatalaksana PEB
Bahan Bahasan  Tinjauan Pustaka  Riset  Kasus  Audit
Cara membahas  Diskusi  Presentasi dan diskusi  Email  Pos
Data Pasien Nama : Ny. F Umur : 32 tahun No. Reg :
Alamat : Sawah Kareh Agama : islam 095816
Kebangsaan : Indonesia
RSUD Muaro Labuah
Data utama untuk bahan diskusi
1. Diagnosa /Gambaran klinis : Seorang wanita 32 tahun datang ke IGD RSUD Muaro
Labuh dengan keluhan nyeri kepala sejak 2 hari yang lalu.
Riwayat Pengobatan : Pasien tidak mengetahui nama obatnya
Riwayat Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti pasien
DAFTAR PUSTAKA
1. American College of Obstetricians and Gynecologists. Hypertension in
Pregnancy.Washington DC. 2013
2. Prawirohardjo.S. Ilmu Kebidanan. Ed III, cet II, Jakarta, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. 1992
3. Baker PN., Kingdom J., “Preecclampsia” Current Perpectives on Management.
The Parthenon Publishing Group, New York, USA, 2004 page 133-143.
4. Brown MA. Diagnosis and Classification of Preeklamsi and Other Hypertensive
Disoders of Pregnancy in Belfort MA, Thornton S, Saade GR. “Hypertension in
Pregnancy” Marcel Dekker, Inc. New York, 2003, page 1-14.
5. Diagnosis and Management of Preeclampsia and Eclampsia; ACOG Practise
Bulletin, number 33, January 2002.
Hasil pembelajaran
1. Melakukan Anamnesis Preeklamsia Berat
2. Melakukan Diagnosis Preeklamsia Berat
3. Melakukan Tatalaksana Preeklamsia Berat
BAB I
ILUSTRASI KASUS

1.1.Anamnesis
Keluhan Utama : Nyeri kepala sejak 2 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD rumah Sakit Muaro Labuh rujukan dari
Puskesmas Pakan Rabaa dengan diagnosa G5P4A0H4 gravida aterm + PEB.
TD di puskesmas 210 / 110 mmHg, DJJ : 130 x/menit, HIS 2 – 3 kali per 10
menit.
Pasien mengeluh sakit kepala sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit.
Mual (+), muntah (+) 2 kali isi makanan, jumlahnya ±30 cc, nyeri ulu hati (+),
pandangan kabur (-), pandangan ganda (-), sejak 1 minggu seelum masuk
rumah sakit pasien juga mengeluh kaki bengkak, sesak nafas (-).
Pasien juga mengeluh nyeri pinggang menjalar ke ari – ari sejak 2 hari
yang lalu. Keluar lendir darah dari kemaluan (+) sejak 6 jam yang lalu. keluar
air – air merembes (-). Pasien mengaku masih merasakan gerakan janin, ketika
dilakukan anamnesis pasien mengaku janinnya terasa bergerak.

Riwayat Penyakit Dahulu :


- Penyakit hipertensi (-)
- DM (-)
- asma (-)
- Jantung (-).

Riwayat Penyakit Keluarga :


Hipertensi (-), DM (-), asma (-), jantung (-)

Riwayat Haid :
- Menarche usia : 14 tahun
- HPHT : 15 – 10 – 2017
- taksiran persalinan : 22 – 7 – 2018
Riwayat Perkawinan :
- Riwayat Hamil Muda : Mual (+), muntah (+), tidak mengganggu
aktifitas.
- Riwayat Hamil Tua : Mual (-), muntah (-), perdarahan (-),
hipertensi (+).
- ANC : Ke bidan tiap bulan
- Riwayat G / P / A / H :5/4/0/4
- Riwayat Kontrasepsi : KB suntik 3 bulan
- Riwayat Operasi Sebelumnya : (-)

1.2.PEMERIKSAAN FISIK
1.2.1. Keadaan Umum
 Kesadaran : Compos Mentis
 Kesan Sakit : Tampak Sakit Sedang
 Kesan Gizi : Gizi cukup

1.2.2. Tanda Vital


 Tekanan Darah : 210 / 120 mmHg
 Nadi : 84 kali/ menit
 Respirasi : 24 kali/ menit, pernapasan reguler
 Suhu : 36,6 °C (afebris)
 Skala nyeri :4
 Berat Badan : 64 kg
Tinggi Badan : 158 cm
BMI : 64 kg/ 1,582 m2= 28,44kg/m2
Status Gizi : NormoWeight
1.2.3. Status Generalis
Kepala :
 Mata : Edema palpebra (-/-), conjungtiva anemis (-/-),
sklera ikterik (-/-), pupil bulat, isokor,  ± 3 mm/± 3 mm, refleks
cahaya (+)/(+)
 THT : dalam batas normal
 Mulut : Bibir sianosis (-), mukosa kering (-), lidah
hiperemis (-), T1-T1, faring hiperemis (-).
 Leher : JVP 5-2 cm H2O, pembesaran KGB (-),
pembesaran tiroid (-)

Dada :
Jantung:
 Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
 Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V
 Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
 Auskultasi : BJ I dan BJ II regular, gallop (-), murmur (-)
Paru:
 Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris kanan dan kiri
 Palpasi : Massa (-), Nyeri tekan (-), krepitasi (-), fremitus
taktil sama kanan dan kiri
 Perkusi : Vocal fremitus sama kiri dan kanan, Sonor +/+
 Auskultasi : Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Perut : Status Obstetri


Genitalia : Status Ostetri
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)/(-), sianosis (-)/(-)
1.2.4. Status Obstetri
Muka : Edema palpebra (+/+), konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-).
Mamae : Hiperpigmentasi areola dan papilla (+/+).
Abdomen
Inspeksi : Perut tampak membuncit.
Palpasi : Nyeri tekan (-), Leopold:
I : TFU 33 cm, teraba massa bulat dan kenyal.
II : Puka
III : Teraba massa bulat, keras.
IV : Bagian terbawah janin belum masuk PAP.
DJJ : 135 x / menit
HIS : 2 – 3 kali dalam sepuluh menit, lama his 40 detik
Perkusi : Timpani.
Auskultasi : BU (+) normal.
Genitalia : Tidak dilakukan pemeriksaan

1.3. Pemeriksaan Penunjang:


Hasil Pemeriksaan Penunjang Laboratorium tanggal 12 Juli 2018
a. Darah
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
Hemoglobin 10,2 g/dL 11,5-16,5
Hematokrit 30 % 37 – 43
Leukosit 9.400 /mm3 5.000- 10.000
Trombosit 240.000 /mm3 150.000 – 400.000
Eritrosit 3,6 /mm3 4,0 – 4,5
Gula Darah Sewaktu 82 mg/dl < 140
Waktu Perdarahan 2,5 Menit 2,0 – 6,0
Waktu Pembekuan 3 Menit 1,0 – 6,00
HbsAg Non
Reaktif

b. Urine
Hasil Satuan Nilai Rujukan
Warna Kuning
Kekeruhan Jernih
BJ 1.010 1.003 – 1.030
pH 6,2 4,5 – 8,0
Leukosit 1–5 /LPB ≤5
Eritrosit 0–1 /LPB ≤1
Silinder - /LPK Negatif
Kristal - /LPK Negatif
Epitel 3–5 /LPK Positif
Protein +1 Negatif
Glukosa - Negatif
Bilirubin - Negatif
Urobilinogen - Negatif
Benda Keton + Negatif

1.4. Diagnosis
G5P4A0H4 gravida 39 – 40 minggu + PEB dengan Impending eklamsia

1.5. Tatalaksana
- IVFD RL + MgSo4 40 % 1 flakon (10 gr) tetes cepat sampai 250 cc
kemudian maintenence 28 tetes per menit
- Inj. Cefriaxon 2 x 1 gr
- Nifedipin tablet 3 x 10 mg
- Metyldopa tablet 3 x 750 mg
1.6. Follow up
Tanggal Follow up
Jumat, 13 S : Nyeri kepala (+) berkurang
Juli 2018 HPHT = 15-10-2017 , TP = 28-7-2018
Pukul 09.00 Infus terpasang RL + MgSo4 40%

O:
KU : sedang
TD : 150/90 mmHg, Nadi : 96 x/i, Suhu : 37ºC, RR : 24 x/i
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Leopold:
I : TFU 33 cm, teraba massa bulat dan kenyal.
II : Puka
III : Teraba massa bulat, keras.
IV : Bagian terbawah janin belum masuk PAP.
DJJ : 137 x / menit
HIS : 2 – 3 kali dalam sepuluh menit, lama his 40 detik
Perkusi : Timpani.
Auskultasi : BU (+) normal.
VT tidak dilakukan.

A:
G5P4A0H4 gravida 39 – 40 minggu + PEB dengan Impending
eklamsia
P:
Cek lab : Protein urine (+) 1
IVFD RL drip MgSo4 40%
Inj. Cefriaxon 2 x 1 gr
Nifedipin tablet 3 x 10 mg
Metyldopa tablet 3 x 750 mg
Jumat, 13 S : Nyeri kepala (-), mules (+)
Juli 2018 HPHT = 15-10-2017 , TP = 28-7-2018
Pukul 21.00 Infus terpasang RL + MgSo4 40%

O:
KU : sedang
TD : 130/90 mmHg, Nadi : 88 x/i, Suhu : 36.7ºC, RR : 24 x/i
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Leopold:
I : TFU 32 cm, teraba massa bulat dan kenyal.
II : Puka
III : Teraba massa bulat, keras.
IV : Bagian terbawah janin sudah masuk PAP.
DJJ : 137 x / menit
HIS : 2 – 3 kali dalam sepuluh menit, lama his 40 detik
Perkusi : Timpani.
Auskultasi : BU (+) normal.
VT : Pembukaan 3 – 4 cm
Ketuban utuh
Portio lunak

A:
G5P4A0H4 gravida 39 – 40 minggu kala 1 Fase Laten + PEB
dengan Impending eklamsia
P:
IVFD RL drip MgSo4 40%
Inj. Cefriaxon 2 x 1 gr
Nifedipin tablet 3 x 10 mg
Metyldopa tablet 3 x 750 mg
Sabtu, 14 S : -
Juli 2018 Jam 00.50 wib pasien melahirkan bayi spontan dengan jenis
Pukul 10.00 kelamin bayi laki – laki, berat badan lahir 3300 gr, panjang
badan 49 cm, afgar score 7/8, anus (+). Pada pasien ketika
melahirkan dilakukan episiotomi atas indikasi anak besar. Kala
III dan IV tidak ada masalah.
Infus terpasang RL + MgSo4 40%

O:
KU : sedang
TD : 120/80 mmHg, Nadi : 88 x/i, Suhu : 36.7ºC, RR : 24 x/i
Palpasi : Nyeri tekan (-), TFU : 3 jari dibawah pusar,
kontraksi uterus baik.
A:
P5A0H5 post partum hari 1
P:
IVFD RL 8 jam / kolf
Inj. Cefriaxon 2 x 1 gr
Nifedipin tablet 3 x 10 mg
Metyldopa tablet 3 x 750 mg
Lanturol 1 x 1
Sabtu, 15 S : -
Juli 2018 Infus terpasang RL
Pukul 10.00 O:
KU : sedang
TD : 120/70 mmHg, Nadi : 84 x/i, Suhu : 36.7ºC, RR : 20 x/i
Palpasi : Nyeri tekan (-), TFU : 3 jari dibawah pusar,
kontraksi uterus baik.
A:
P5A0H5 post partum hari 2
P:
IVFD RL 8 jam / kolf
Inj. Cefriaxon 2 x 1 gr
Nifedipin tablet 3 x 10 mg
Metyldopa tablet 3 x 750 mg
Lanturol 1 x 1
Sabtu, 16 S : -
Juli 2018 Infus terpasang RL
Pukul 10.00 O:
KU : sedang
TD : 120/80 mmHg, Nadi : 88 x/i, Suhu : 36.7ºC, RR : 24 x/i
Palpasi : Nyeri tekan (-), TFU : 3 jari dibawah pusar,
kontraksi uterus baik.
A:
P5A0H5 post partum hari 3
P:
Cefixime 2 x 200 mg
Nifedipin tablet 3 x 10 mg
Lanturol 1 x 1
Asam mefenamat 3 x 1
Cormega 1 x 1
Pasien diperbolehkan pulang
Kontrol ke poli obgyn
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi dalam Kehamilan


2.1.1 Definisi
Hipertensi dalam pada kehamilan adalah hipertensi yang terjadi saat
kehamilan berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan atau lebih
setelah 20 minggu usia kehamilan pada wanita yang sebelumnya normotensif,
tekanan darah mencapai nilai 140/90 mmHg, atau kenaikan tekanan sistolik 30
mmHg dan tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai normal (Junaidi, 2010).

2.1.2 Klasifikasi
1. Hipertensi Gestasional
Didapatkan tekanan darah ≥ 140/90 mmHg untuk pertama kalinya pada
kehamilan, tidak disertai dengan proteinuria dan tekanan darah kembali normal
<12 minggu pasca persalinan. 1
2. Preeklamsi
Peningkatan tekanan darah yang terjadi setelah kehamilan 20 minggu.
Tekanan darah ≥ 140/ 90 mmHg setelah umur kehamilan 20 minggu, disertei
dengan proteinuria ≥ 300 mg/24 jam atau dipstick ≥ 1+ 1
3. Eklamsi
Kejang-kejang pada preeklamsi disertai koma
4. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsi
Timbulnya proteinuria ≥ 300 mg/ 24 jam pada wanita hamil yang sudah
mengalami hipertensi sebelumnya. Proteinuria hanya timbul setelah kehamilan 20
minggu. 1
5. Hipertensi kronik
Ditemukannya tekanan darah ≥ 140/ 90 mmHg, sebelum kehamilan 20
minggu dan tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan. 1
2.2 Preeklamsia
2.2.1. Definisi
Preeklamsia adalah suatu sindrom terjadinya hipertensi pada usia
kehamilan lebih atau sama 20 minggu yang kadang disertai dengan timbulnya
proteinuria. Preeklamsia bisa berhubungan dengan tanda dan gejala lain seperti
gangguan penglihatan, nyeri kepala, nyeri ulu hati, dan edema.1
Kriteria diagnostik hipertensi adalah tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg
dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg setelah usia kemailan 20 minggu pada
wanita yang sebelumnya tekanan darahnya normal. 1
Hipertensi tidak berarti pasien mengalami preeklamsia, ada kriteria lain
yang wajib terpenuhi. Pada banyak kasus, terjadinya proteinuria. Tetapi ada
kriteria lain seperti trombositopenia, gangguan fungsi hepar, gangguan fungsi
renal, edema paru, atau gangguan penglihatan. Proteinuria didefisikan terjadinya
peningkatan protein dalam urin ≥ 300 mg pada urin yang dikumpulkan selama 24
jam atau dengan uji dipdtik +1. 1

2.2.2. Faktor Resiko Preeklamsia 1,2


1. Risiko yang berhubungan dengan partner laki
a. Primigravida
b. Primipaternity
c. Umur yang ekstrim : terlalu muda atau terlalu tua untuk kehamilan
d. Partner laki yang pernah menikahi wanita yang kemudian hamil dan
mengalami preeklamsi.
e. Pemaparan terbatas terhadap sperma.
f. Inseminasi donor dan donor oocyte
2. Risiko yang berhubungan dengan riwayat penyakit terdahulu dan riwayat
penyakit keluarga
a. Riwayat pernah preeklamsi
b. Hipertensi kronik
c. Penyakit ginjal
d. Obesitas
e. Diabetes gestational, diabetes mellitus tipe 1
f. Antiphospholipid antibodies dan hiperhomocysteinemia
g. Risiko yang berhubungan dengan kehamilan
h. Mola hidatidosa
i. Kehamilan ganda
j. Infeksi saluran kencing pada kehamilan
k. Hydrops fetalis

2.2.3. Perubahan dan adaptasi ibu hamil pada preeklamsia 1,2


No Perubahan Normal Preeklamsi Keterangan
(Dibanding tidak (Dibanding
hamil) hamil normal)
1 Cardiac output Meningkat Meningkat Pada hamil normal,
ketika resistensi perifer
belum meningkat

2 Volume darah Hipervolemia Hipovolemia Hipovolemia pada


preeklamsi akibat
vasokonstriksi
menyeluruh dan
peningkatan
permeabilitas vaskuler.

3 Resistensi perifer Menurun Meningkat Tidak terjadi disproporsi


antara volume darah dan
volume intravaskular
4 Aliran darah ke :
a. utero plasenta Meningkat Menurun Peningkatan berat badan
b. ginjal Meningkat Menurun > 0,57 kg/ minggu harus
c. otak Meningkat Sama waspada kemungkinan
d. hepar Meningkat Sama preeklamsi

5 Berat badan Meningkat Meningkat -


60% hamil
dengan hipertensi
80% hamil
dengan hipertensi
dan proteinuria

6 Edema 40% ada edema Sama Edema tidak dipakai lagi


sebagai kriteria
preeklamsi kecuali
anasarka

7 Sel darah Meningkat Deformabilitas Akibat : hipovolemia,


meningkat ekstravasasi albumin.
CVP dan PCWP
meningkat

8 Hemokonsentrasi Hemodilusi Hemokonsentrasi Pada preeklamsi akibat :


9 Viskositas darah Menurun tinggi hipovolemia dan
10 Hematokrit Menurun Meningkat peningkatan resistensi
perifer

11 Elektrolit Menurun Meningkat Kecuali pada preeklamsi


diberi diuretikum dosis
tinggi, restriksi garam
dan infuse oxytocine

12 Keseimbangan - Sama Pada preeklamsi dengan


asam basa hipoksi dapat terjadi
gangguan keseimbangan
asam basa

13 Natrium dan kalium Disesuaikan dengan - Pada kejang eklamsi


peningkatan cairan kadar bikarbonat
tubuh menurun karena asidosis
laktat, dan hilangnya
karbo
Akibat hipovelimia dan
14 Protein serum dan Menurun peningkatan
plasma permeabilitas vaskuler
ndioksida
15 Lipid plasma Hiperlipidemia Sama

16 Asam urat dan Menurun Bertambah


kreatinin menurunnya

17 Koagulasi dan Meningkat


fibrinolisis Trombositopenia
Peningkatan FDP
Penurunan anti
trombin III

2.2.4. Perubahan dan adaptasi ibu hamil pada preeklamsia 1,2


1. Hipertensi gestasional
Pada waktu pertama kali diagnosis :
a. Pemeriksaan perkiraan pertumbuhan janin dan volume air ketubannya. Bila
hasil normal, dilakukan pemeriksaan ulang, bila terjadi perubahan pada ibu.
b. Nonstress Test (NST) harus dilakukan pada waktu diagnosis awal. Bila NST
non reaktif dan tekanan darah tidak meningkat, maka NST ulang hanya
dilakukan bila ada perubahan pada ibu.

2. Hipertensi ringan
a. Pemeriksaan perkiraan pertumbuhan janin dan volume air ketubannya. Bila
hasil normal, pengulangan pemeriksaan dilakukan tiap 3 minggu
b. NST harus dilakukan pada waktu diagnosis. Bila NST non reaktif dan tekanan
darah meningkat, ulangi NST tiap minggu.
NST segera diulangi bila terjadi perubahan memburuk pada ibu.
c. Bila dengan USG didapatkan perkiraan berat janin < 10th percentile dari umur
kehamilan atau didapatkan oligohidramion : AFI ≤ 5, pemeriksaan dilakukan
sekurang2nya 2 minggu sekali.

3. Preeklamsi berat
Pemeriksaan NST dilakukan tiap hari
2.2.5. Pencegahan preeklamsia 1,2
Yang dimaksud pencegahan ialah upaya untuk mencegah terjadinya
preeklamsi pada wanita hamil yang mempunyai risiko terjadinya preeklamsi.
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
a. Non medikal
1. Restriksi garam : tidak terbukti dapat mencegah terjadinya preeklamsi.
2. Suplementasi diet yang mengandung :
a. Minyak ikan yang kaya dengan asam lemak tidak jenuh, misalnya omega-
3 PŲFA
Antioksidan : vitamin C, vitamin E, ßeta-carotene, CoQ10, N-
Acetylcysteine, asam lipoik.
b. Elemen logam berat : zinc, magnesium, calcium.
3. Tirah baring tidak terbukti :
a. Mencegah terjadinya preeklamsi
b. Mencegah persalinan preterm
Di Indonesia tirah baring masih diperlukan pada mereka yang mempunyai
risiko tinggi terjadinya preeklamsi.

b. Medikal
1. Diuretik : tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsi bahkan memperberat
hipovolemia
2. Anti hipertensi tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsi
3. Kalsium : 1500 – 2000 mg/ hari, dapat dipakai sebagai suplemen pada risiko
tinggi terjadinya preeklamsi, meskipun belum terbukti bermanfaat untuk
mencegah preeklamsi.
4. Zinc : 200 mg/hari
5. Magnesium : 365 mg/hari
6. Obat anti thrombotik :
- Aspirin dosis rendah : rata2 dibawah 100 mg/hari, tidak terbukti
mencegah preeklamsi.
- Dipyridamole
7. Obat2 : vitamin C, vitamin E, ßeta-carotene, CoQ10, N- Acetylcysteine, Asam
lipoik.

2.2.6. Pengelolaan Preeklamsi 1,2,3,4,5


1. PREEKLAMSI RINGAN 1,2,3,4,5
a. Definisi klinik
b. Kriteria diagnostic
1. Tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau diatolik ≥ 90 mmHg.
2. Tekanan darah : ≥ 30 mmHg dan kenaikan tekanan diastolic ≥ 15 mmHg,
tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostik preeklamsi, tetapi perlu
observasi yang cermat
3. Proteinuria : ≥ 300 mg/ 24 jam jumlah urine atau dipstick : ≥ 1+
4. Edema : lokal pada tungkai tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostik
kecuali edema anasarka.

c. Pengelolaan
Pengelolaan preeklamsi ringan dapat secara :
1. Rawat jalan ( ambulatoir )
- Tidak mutlak harus tirah baring, dianjurkan ambulasi sesuai
keinginannya. Di Indonesia tirah baring masih diperlukan.
- Diet reguler : tidak perlu diet khusus
- Vitamin prenatal
- Tidak perlu restriksi konsumsi garam
- Tidak pelu pemberian diuretic, antihipertensi dan sedativum.
- Kunjungan ke rumah sakit tiap minggu
2. Rawat inap ( hospitalisasi )
a. Indikasi preeklamsi ringan dirawat inap (hospitalisasi)
- Hipertensi yang menetap selama > 2 minggu
- Proteinuria menetap selama > 2 minggu
- Hasil test laboratorium yang abnormal
- Adanya gejala atau tanda 1 (satu) atau lebih preeklamsi berat
b. Pemeriksaan dan monitoring pada ibu
- Pengukuran tekanan darah setiap 4 jam kecuali ibu tidur
- Pengamatan yang cermat adanya edema pada muka dan abdomen
- Penimbangan berat badan pada waktu ibu masuk rumah sakit dan
penimbangan dilakukan setiap hari
- Pengamatan dengan cermat gejala preeklamsi dengan impending
eklamsi:
o Nyeri kepala frontal atau oksipital
o Gangguan visus
o Nyeri kuadran kanan atas perut
o Nyeri epigastrium
c. Pemeriksaan laboratorium
- Proteinuria pada dipstick pada waktu masuk dan sekurang2nya
diikuti 2 hari setelahnya.
- Hematokrit dan trombosit : 2 x seminggu
- Test fungsi hepar: 2 x seminggu
- Test fungsi ginjal dengan pengukuran kreatinin serum, asam urat,
dan BUN
- Pengukuran produksi urine setiap 3 jam (tidak perlu dengan
kateter tetap)
d. Pemeriksaan kesejahteraan janin
- Pengamatan gerakan janin setiap hari
- NST 2 x seminggu
- Profil biofisik janin, bila NST non reaktif
- Evaluasi pertumbuhan janin dengan USG, setiap 3-4 minggu
- Ultrasound Doppler arteri umbilikalis, arteri uterina

d. Terapi medikamentosa
1. Pada dasarnya sama dengan terapi ambulatoar
2. Bila terdapat perbaikan gejala dan tanda2 preeklamsi dan umur kehamilan
≥ 37 minggu, ibu masih perlu diobservasi selama 2-3 hari kemudian boleh
dipulangkan.
e. Pengelolaan obstetrik
Pengelolaan obstetrik tergantung usia kehamilan
1. Bila penderita tidak inpartu :
a. Umur kehamilan < 37 minggu
Bila tanda dan gejala tidak memburuk, kehamilan dapat dipertahankan
sampai aterm.
b. Umur kehamilan ≥ 37 minggu
- Kehamilan dipertahankan sampai timbul onset partus
- Bila serviks matang pada tanggal taksiran persalinan dapat
dipertimbangkan untuk dilakukan induksi persalinan
2. Bila penderita sudah inpartu :
Perjalanan persalinan dapat diikuti dengan Grafik Friedman atau
Partograf WHO.
3. Konsultasi
Selama dirawat di Rumah Sakit lakukan konsultasi kepada :
a. Bagian penyakit mata
b. Bagian penyakit jantung, dan
c. Bagian lain atas indikasi

2. PREEKLAMSI BERAT 1,2,3,4,5


a. Definisi klinik
Preeklamsi berat ialah preeklamsi dengan salah satu atau lebih gejala dan
tanda dibawah ini :
1. Tekanan darah : pasien dalam keadaan istirahat tekanan sistolik ≥ 160
mmHg dan atau tekanan diastolik ≥ 110 mmHg
2. Proteinuria : ≥ 5 gr/ jumlah urin selama 24 jam. Atau dipstick : 4 +
3. Oliguria : produksi urin < 400-500 cc/ 24 jam
4. Kenaikan kreatinin serum
5. Edema paru dan sianosis
6. Nyeri epigastrium dan nyeri kuadran atas kanan abdomen : disebabkan
teregangnya kapsula Glisoni. Nyeri dapat sebagai gejala awal ruptur
hepar.
7. Gangguan otak dan visus : perubahan kesadaran, nyeri kepala, skotomata,
dan pandangan kabur.
8. Gangguan fungsi hepar : peningkatan alanin atau aspartat amino
transferase
9. Hemolisis mikroangiopatik
10. Trombositopenia : < 100.000 cell/ mm3
11. Sindroma HELLP

b. Pembagian preeklamsi berat


Preeklamsi berat dapat dibagi dalam beberapa kategori :
1. Preeklamsi berat tanpa impending eklamsi
2. Preeklamsi berat dengan impending eklamsi, dengan gejala2 impending :
- nyeri kepala
- mata kabur
- mual dan muntah
- nyeri epigastrium
- nyeri kuadran kanan atas abdomen

c. Pemeriksaan laboratorium
d. Dasar pengelolaan preeklamsi berat
Pada kehamilan dengan penyulit apapun pada ibunya, dilakukan pengelolaan
dasar sebagai berikut :
1. Pertama adalah rencana terapi pada penyulitnya : yaitu terapi
medikamentosa dengan pemberian obat-obatan untuk penyulitnya
2. Kedua baru menentukan rencana sikap terhadap kehamilannya yang
tergantung pada umur kehamilan.
Sikap terhadap kehamilannya dibagi 2, yaitu :
- Ekspektatif ; konservatif : bila umur kehamilan < 37 minggu,
artinya : kehamilan dipertahankan selama mungkin sambil
memberikan terapi medikamentosa
- Aktif, agresif ; bila umur kehamilan ≥ 37 minggu, artinya kehamilan
dikahiri setelah mendapat terapi medikamentosa untuk stabilisasi ibu.
e. Pemberian terapi medikamentosa
1. Segera masuk rumah sakit
2. Tirah baring miring ke kiri secara intermiten
3. Infus Ringer Laktat atau Ringer Dekstrose 5%
4. Pemberian anti kejang MgSO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang.
5. Pemberian MgSO4 dibagi :
- Loading dose (initial dose) : dosis awal
- Maintenance dose : dosis lanjutan

Sumber Regimen Loading Dose Maintenence dose Dihentikam


Prichard, Intermitent
1955 1957 intramuscular
injection

Preeklamsi 10 g IM 5g 50% tiap 4-6 jam 24 jam pasca


Bergantian salah satu persalinan
bokong
5g 50% tiap 4-6 jam

Bergantian salah satu


bokong
Eklamsi 1. 4g 20% IV; (10 g MgSO4 IM
1g/menit dalam
2. 10g 50% IM: 2-3 jam dicapai kadar
Kuadran atas sisi plasma
luar kedua bokong 3, 5-6 mEq/l
-5g IM bokong
kanan
-5g IM bokong kiri
3. Ditambah 1.0
mllidocaine
4. Jika konvulsi tetap
terjadi
Setelah 15 menit,
beri : 2g 20% IV :
1 g/menit
Obese : 4g iv
Pakailah jarum 3-
inci, 20 gauge
Zuspan, Continous
1966 Intravenous
Injection

Preeklamsi Tidak ada 1 g/jam IV

berat
Eklamsi 4-6 g IV / 5-10 1 g/jam IV
minute
Magpie Sama dengan 1. 4g 50% dilarutkan 1g/jam/IV dalam 24
Trial Pritchard dalam normal jam
Colaborati regimen Saline IV / 10-15 atau
ve menit 5g IM/4 jam dalam
Group, 2. 10 g 50% IM: 24 jam
2002 -5g IM bokong
kanan
-5g IM bokong kiri

Syarat pemberian MgSO4. 7H2O


1. Refleks patella normal
2. Respirasi > 16 menit
3. Produksi urine dalam 4 jam sebelumnya > 100 cc ; 0,5 cc/kg BB/jam
4. Siapkan ampul Kalsium Glukonat 10% dalam 10 cc

Antidotum
Bila timbul gejala dan tanda intoksikasi MgSO4. 7H2O , maka
diberikan injeksi Kalsium Glukonat 10% dalam 10 cc dalam 3 menit

Refrakter terhadap MgSO4. 7H2O, dapat diberikan salah satu


regimen dibawah ini :
1. 100 mg IV sodium thiopental
2. 10 mg IV diazepam
3. 250 mg IV sodium amobarbital
4. phenytoin : a. dosis awal 1000 mg IV 16,7 mg/menit/1 jam kemudian
500 g oral setelah 10 jam dosis awal dalam 14 jam

6. Pemberian terapi medikamentosa


Diberikan : bila tensi ≥ 180/110 atau MAP ≥ 126
Jenis obat : Nifedipine : 10-20 mg oral, diulangi setelah 30 menit,
maksimum 120 mg dalam 24 jam.
1. Nifedipine tidak dibenarkan diberikan dibawah mukosa lidah (sub
lingual) karena absorbsi yang terbaik adalah melalui saluran
pencernaan makanan.
a. Tekanan darah diturunkan secara bertahap :
Penurunan awal 25% dari tekanan sistolik
b. Tekanan darah diturunkan mencapai :
< 160/105
MAP < 125
2. Nicardipine-HCl : 10 mg dalam 100 atau 250 cc NaCl/RL
diberikan secara IV selama 5 menit, bila gagal dalam 1 jam dapat
diulang dengan dosis 12,5 mg selama 5 menit. Bila masih gagal
dalam 1 jam, bisa diulangi sekali lagi dengan dosis 15 mg selama 5
menit

7. Diuretikum
Diuretikum tidak dibenarkan diberikan secara rutin, karena :
a. Memperberat penurunan perfusi plasenta
b. Memperberat hipovolemia
c. Meningkatkan hemokonsentrasi
Diuretikum yang diberikan hanya atas indikasi :
a. Edema paru
b. Payah jantung kongestif
c. Edema anasarka
8. Diet
Diet diberikan secara seimbang, hindari protein dan kalori yang
berlebih

f. Sikap terhadap kehamilannya


1. Perawatan Konservatif ; ekspektatif
a. Tujuan :
- Mempertahankan kehamilan, sehingga mencapai umur
kehamilan yang memenuhi syarat janin dapat dilahirkan
- Meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir tanpa
mempengaruhi keselamatan ibu
b. Indikasi : Kehamilan 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda dan
gejala-gejala impending eklamsi.
c. Terapi Medikamentosa :
- Bila penderita sudah kembali menjadi preeklamsi ringan, maka
masih dirawat 2-3 hari lagi, baru diizinkan pulang.
- Pemberian MgSO4 sama seperti pemberian MgSO4 seperti
tersebut di atas nomor VI. 5.a Tabel 3, hanya tidak diberikan
loading dose intravena, tetapi cukup intramuskuler
- Pemberian glukokortikoid diberikan pada umur kehamilan 32-
34 minggu selama 48 jam.
d. Perawatan di Rumah Sakit
1) Pemeriksaan dan monitoring tiap hari terhadap gejala klinik
sebagai berikut :
a. Nyeri kepala
b. Penglihatan kabur
c. Nyeri perut kuadran kanan atas
d. Nyeri epigastrium
e. Kenaikan berat badan dengan cepat
2) Menimbang berat badan pada waktu masuk Rumah Sakit dan
diikuti tiap hari.
3) Mengukur proteinuria ketika masuk Rumah Sakit dan diulangi
tiap 2 hari.
4) Pengukuran tekanan darah sesuai standar yang telah ditentukan.
5) Pemeriksaan laboratorium sesuai ketentuan di atas nomor V. C
Tabel 2
6) Pemeriksaan USG sesuai standar di atas, khususnya pemeriksaan
a. Ukuran biometrik janin
b. Volume air ketuban
e. Penderita boleh dipulangkan :
Bila penderita telah bebas dari gejala-gejala preeklamsi berat, masih
tetap dirawat 3 hari lagi baru diizinkan pulang.
f. Cara persalinan :
1) Bila penderita tidak inpartu, kehamilan dipertahankan sampai
kehamilan aterm
2) Bila penderita inpartu, perjalanan persalinan diikuti seperti
lazimnya (misalnya dengan grafik Friedman)
3) Bila penderita inpartu, maka persalinan diutamakan pervaginam,
kecuali bila ada indikasi untuk seksio sesaria.

2. Perawatan aktif ; agresif


a. Tujuan : Terminasi kehamilan
b. Indikasi :
1. Indikasi Ibu :
a. Kegagalan terapi medikamentosa :
- Setelah 6 jam sejak dimulai pengobatan medikamentosa,
terjadi kenaikan darah yang persisten.
- Setelah 24 jam sejak dimulainya pengobatan
medikamentosa terjadi kenaikan darah tekanan darah
yang persisten.
b. Tanda dan gejala impending eklamsi
c. Gangguan fungsi hepar
d. Gangguan fungsi ginjal
e. Dicurigai terjadi solution placenta
f. Timbulnya onset partus, ketuban pecah dini, pendarahan.

2. Indikasi Janin :
a. Umur kehamilan ≥ 37 minggu
b. IUGR berat berdasarkan pemeriksaan USG
c. NST nonreaktiv dan profil biofisik abnormal
d. Timbulnya oligohidramnion

3. Indikasi Laboratorium :
Thrombositopenia progesif, yang menjurus ke sindroma
HELLP

c. Cara Persalinan :
Sedapat mungkin persalinan diarahkan pervaginam
1. Penderita belum inpartu
a. Dilakukan induksi persalinan bila skor Bishop ≥ 8
Bila perlu dilakukan pematngan serviks dengan misoprostol.
Induksi persalinan harus sudah mencapai kala II dalam
waktu 24 jam. Bila tidak, induksi persalinan dianggap gagal,
dan harus disusul dengan seksio sesarea
b. Indikasi seksio sesarea:
1. Tidak ada indikasi untuk persalinan pervaginam
2. Induksi persalinan gagal
3. Terjadi gawat janin
4. Bila umur kehamilan < 33 minggu
2. Bila penderita sudah inpartu
a. Perjalanan persalinan diikuti dengan grafik Friedman
b. Memperpendek kala II
c. Seksio sesarea dilakukan apabila terdapat kegawatan ibu
dan gawat janin
d. Primigravida direkomendasikan pembedahan cesar
e. Anestesia : regional anestesia, epidural anestesia. Tidak
diajurkan anesthesia umum .