Anda di halaman 1dari 4

3.

Tahap Operasional

3.1 Kegiatan Tahap Operasional

a. Clearing dan Striping Tanah Penutup


Proses pengupasan dan penambangan yang tidak memerlukan peledakan
untuk melubangi melainkan langsung dengan teknik pengerukan. Berdasarkan
perbedaan topografi maka pengupasan yang dipakai yaitu teknik pengupasan
dengan excavator hidrolik, yaitu pengangkutan dengan dump truck. Lapisan
overburden dan mineral langsung dikeruk menggunakan excavator untuk
selanjutnya di angkut. Teknik pengupasan yang dipakai adalah teknik pengupasan
vertikal dengan urutan proses pengupasan adalah dari bawah ke atas. Pada proses
pengupasan tersebut diperlukan :

1. Tinggi stage : 6-10 meter


2. Lebar minimum : 30 meter-35 meter
3. Lebarkanal pembuka : 10 meter-15 meter

b. Penambangan dan Pembangunan jalan Angkut


Dalam kegiatan yang akan dilakukan per-block pengambilan pasir dan
batu alam sampai ke dalam 6-10 dan dilaksanakan selama 1,5 tahun pada setip
blok. Selama proses penambangan berada di Desa Cangkringan Kecamatan
Pakem akan terjadi lubang yaitu perubahan topografi lokal dan bersifat sementara.
Penambangan bisa dilakukan dari bawah atau dari atas, tergantung dari kondisi
front yang ditambang. Penggalian/pemuatan menggunakan alat gali-muat
excavator (back hoe) dan alat angkut dump truck. Pengangkutan berawal dari
front tambang dan langsung ditumpahkan ke stockpile. Jalan utama tambang
(main haulage) yang menghubungkan jalan tambang dengan stockpile mempunyai
jarak yang bervariasi tergantung pada lokasi yang ditambang. Kemiringan jalan
disesuaikan dengan kemampuan dump truck, yaitu maksimum 8 %. Pada
perencanaan penambangan pasir pasir dan batu ini direncanakan lebar 15 meter
dengan sudut elevasi jalan 1,5% dan pada sisi jalan dibuat parit. Rencana
pembuatan jalan angkut di areal pertambangan dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Rencana pembuatan jalan angkut di areal pertambangan

Alat yang diperlukan untuk di front tambang adalah alat gali–muat, yaitu :
excavator PC 200 dengan kapasitas bucket 0.8 m3 dengan kemampuan alat per
jam sebesar 60 ton, sedangkan alat angkut pasir dan batu dari front tambang
menggunakan dump truck 10 roda dengan daya angkut sebesar 20 ton dengan
kapasitas per jam sebesar 40 ton dan untuk perawatan jalan menggunakan motor
grader.

c. Reklamasi lahan
Setiap selesainya penambangan pada tiap blok, langsung dilakukan
reklamasi dengan cara revegetasi dengan terlebih dahulu mengembalikan topsoil
(tanah pucuk) yang telah dikupas sebelumnya. Tanah ini kemudian ditebarkan
kembali ke area bekas tambang yang siap untuk direhabilitasi kembali. Tanaman
yang digunakan menggunakan tanaman setempat yang memiliki sifat tanaman
cepat tumbuh (fast growing) yang berfungsi produktif.
d. Pengangkutan dan Pemuatan Hasil Tambang
Alat bucket yang digunakan untuk kegiatan ini adalah kombinasi alat muat
Wheel Loader WA 180 kapasitas 2,50 m3 dan alat angkut dump truck dengan daya
angkut 10 ton. Hasil tambang ini kemudian diangkut ke lokasi stockpile dan
selanjutnya akan dibawa ke para konsumen yaitu tersebar di Provinsi DIY dan
Provinsi Jawa Tengah sebagian wilayah.

d. Operasional Sarana Penunjang


Sarana penunjang yang penting dioperasikan di lokasi penambangan pada
saat kegiatan operasi adalah bengkel, laboratorim, workshop, dan genset. Dalam
operasional ini akan dibutuhkan bahan-bahan penunjang yang mendukung
operasional berupa oli, pelumas, dan bahan lain yang dibutuhkan.

3.2 Dampak Tahap Operasional


a. Komponen Fisik Kimia
1. Perubahan Bentang Lahan
Merupakan dampak primer yang disebabkan oleh kegiatan
penambangan terutama akibat kegiatan pembukaan lahan untuk badan
jalan angkut material, pembersihan dan pengupasan tanah penutup
pada tahap kegiatan penambangan. Perubahan bentang lahan ini akan
berdampak terhadap perubahan jenis dan fungsi ekosistem (komponen
biologi), dan peningkatan erosi. Kegiatan yang menimbulkan dampak
ini adalah adanya pembukanaan jalan angkut material, pembersihan,
dan pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup sebagai proses
penambangan pasir dan batu serta reklamasi lahan.
2. Penurunan kualitas udara dan peningkatan kebisingan
Kegiatan pembersihan dan pengupasan tanah pucuk dan tanah
penutup, penambangan pasir dan batu, reklamasi, serta pengangkutan
dan pemuatan hasil tambang yang menyebabkan perubahan dan
penurunan kualitas udara, yaitu dengan meningkatnya konsentrasi gas
ambien, debu, maupun peningkatan kebisingan.
b. Komponen Biologi
1. Tergangunya biota darat
Adanya kegiatan pembersihan dan pengupasan tanah pucuk dan tanah
penutup, penambangan Golongan Galian C (pasir dan batu),
reklamasi, dan pemuatan hasil tambang ke kapal berdampak pada
penurunan populasi satwa liar dan dilindungi maupun vegetasi darat.
2. Tergangunya produktivitas lahan pertanian dan perkebunan
Terjadinya penurunan produktivitas lahan pertanian dan perkebunan
warga yang berada di sekitar daerah penambangan karena adanya
kegiatan pembersihan dan pengupasan tanah pucuk dan tanah
penutup, penambangan Golongan Galian C (pasir dan batu), dan
reklamasi lahan yang menyebabkan menurunnya kualitas dan
kuantitas air tanah yang berpengaruh terhadap pertanian dan
perkebunan masyarakat.
c. Komponen sosial ekonomi budaya dan kesmas
1. Kesempatan kerja dan peluang berusaha
Kegiatan penambangan akan ini berdampak positif dengan terbukanya
kesempatan kerja dan peluang berusaha bagi masyarakat. Dampak ini
merupakan dampak primer yang terjadi dalam tempo yang cukup
lama.
2. Kesehatan masyarakat
Terjadinya penurunan kesehatan masyarakat karena adanya penurunan
kualitas lingkungan akibat kegiatan konstruksi dan operasional
penambangan yang terjadi.