Anda di halaman 1dari 4

Badan Yudikatif dan judicial riview

Satu ciri yang terdapat di kebayakan negara, baik yang memakai system Common Law maupun Sistem
Civil Law ialah hak yang menguji (toetsingsrecht), yaitu hak menguji peraturan-peraturan hokum yang
lebih rendah dari undang-undang sesuai atau tidak dengan undang-undang yang bersangkutan.

Di beberapa negara Seperti Amerika serikat, india, dan jerman barat ,Mahkamah Agung/MA juga
mempunyai wewenang menguji apakah suatu undang-undang sesuai dengan undang-undang dasar atau
tidak dan untuk menolak melaksankan UU serta peraturan lainya yang di anggap bertentangan dengan
UUD ini dinamakan Judical Review.

Di Amerika keputusan MA yang di anggap telah sangat memengaruhi keadan politik adalah “Keputusan
mengenai Public School Desegregation Act(Brown v Board of Education 1954) bahwa Pemisahan antara
golongan kulit putih dan golongan kulit Afrika-Amerika/African-American(sugestiion) yang merupakan
diskriminasi dan tidak di benarkan. UU ini di anggap sebagai tonggak sejarah dalam perjuangan orang
Amerika-Afrka dalam mendapatkan hak sipil.

Di india pada tahun 1969 bahawa keputusan MA telah menyatakan UU yang di praksai oleh pemerintah
india Gandi untuk menasionalisasikan beberapa bank swasta, sebagai uncontitusional

Kebebasan Badan Yudikatif

Dalam doktrin Trias Politika, baik yang diartikan sebagai pemisahan kekuasaan maupun sebagai
pembagian kekuasaan, khusus untuk cabang kekuasaan yudikatif, prinsip yang tetap dipegang ialah
bahwa dalam tiap Negara hukum, badan yudikatif haruslah bebas dari campuran tangan badan
eksekutif. Badan yudikatif yang bebas adalah syarat mutlak dalam suatu masyarakat yang bebas di
bawah Rule of Law. Kebebasan tersebut meliputi kebebasan dari campur tangan badan eksekutif,
legislative ataupun masyarakat umum di dalam menjalankan tugas yudikatifnya.
Cara yang dinilai efektif dalam menjamin pelaksanaan asas kebebasan badan yudikatif adalah pemilihan
pejabat kehakiman dilakukan tidak berdasarkan pemilihan seperti halnya pada jabatan legislative dan
eksekutif dengan harapan agar kekuasaan yudikatif tidak dipengaruhi oleh politik suatu massa, misalnya
presiden di Indonesia dan di Amerika Serikat ) Hakim biasanya di angkat oleh badan eksekutif yang
dalam hal Amerika Serikat di dasarkan atas persetujuan senat atau dalam hal Indonesia atas
rekomendasi badan legislative. Ini di maksud agar kekuasan yudikatif tidak di pengaruhi oleh fluktasi
politik suatu masa, sehingga dengan demikian di harapkan tugas yudikatifnya bisa di laksankan dengan
baik.

Kekuasaan Badan Yudikatif di Indonesia

Dalam system hokum yang berlaku di Indonesia, khususnya system hokum perdata, hingga kini masih
terdapat dualism, yaitu:

A.Sistem hokum adat,suatu tata hokum yang bercorak asli Indonesia dan umumnya tidak tertulis

B. Sistem hokum eropa barat (Belanda) yang bercorak kode-kode prancis zaman napoleon yang
diperngaruhi oleh hokum Romawi.
Asas kebebasan yudkatif adalah independent judiciary) juga di kenal di Indonesia. Hal itu dalam
penjelasan (pasal 24 dan 25) UUD 1945 mengenai kekuasaan kehakiman yang mengangatakan
Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan
pemerintah. Berhubung dengan itu maka harus diadakan jaminan dalam undang undang tentang
kedudukan para hakim. Akan tetapi dalam konteks pelaksanaan nya di masa demokrasi terpimpin terjadi
beberapa penyelewengan diantaranya

. Penetapan UU no. 19 tahun 1964 tentang ketentuan pokok kekuasaan kehakiman yang menyatakan :”
Demi kepentingan revolusi, kehormatan bangsa dan Negara atau kepentingan masyarakat yang
mendesak, Presiden dapat turut campur dalam soal pengadilan.”
2. Pemberian status Menteri pada Ketua Mahkamah Agung. Dengan demikian terjadi peralihan fungsi
struktur dari badan yudikatif menjadi badan eksekutif, tetapi kemudian pada masa orde baru mulai di
koreksi dan diadakan perubahan.
Akibatnya timbul beberapa aksi atas penyelewengan tersebut diantaranya Kesatuan Aksi Sarjana
Indonesia ( KASI ) yang mendesak pemerintah untuk mengakui adanya hak menguji pada Mahkamah
Agung.
Oleh karena itu MPR yang merupakan lembaga tertinggi di Negara melalui sidang ke 4 nya
mengeluarkan TAP MPRS no. XIX tahun 1966, tentang peninjauan kembali produk produk legislative di
luar produk MPRS yang tidak sesuai dengan UUD 45.

Kekuasaan badan Yudikatif di Indonesia setelah reformasi

kekuasaan kehakiman di Indonesia banyak mengalami perubahan sejak masa reformasi. Amandemen
Undang-Undang Dasar disahkan pada tanggal 10 November 2001, mengenai bab kekuasaan kehakiman
bab IX membuat beberapa perubahan (Pasal 24 A,B,C) kekuasaan kehakiman terdiri atas mahkamah
Agung dan mahkamah konstitusi. Mahkamah agung bertugas untuk menguji peraturan perundangan di
bawah undang-undang terhadap undang-undang. Tugas mahkamah konstitusi mempunyai kewenangan
meguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945

MAHKAMAH KONSTITUSI

Mahkamah Konstitusi berwenang untuk :


1. Mengadili pada tingkat pertama yang keputusannya bersifat final :
- Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945
- Memutuskan sengketa kewenengan lembaga Negara
- Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum

Memberikan keputusan pemakzulan(impeachment) presiden dan/ wakil presiden atas permintaan DPR
karena melakukan pelanggaran berupa penghiatan terhadap korupsi, penyuapan, tindak pidana,atau
perbuatan tercela
orang ditetapkan oleh presiden, yang diajukan masing- masing 3 orang oleh Mahkamah Agung, Dewan
Perwakilan Rakyat, dan Presiden, ketua dan Wakil Mahkamah Agung dipilih oleh hakim konstitusi. Hakim
tidak boleh merangkap jabatan.
MAHKAMAH AGUNG

Kewenangannya adalah menyelenggarakan kekuasaan peradilan yang berada di lingkungan militer,


agama, umum, dan tata usaha Negara. Mahkamah Agung menguji peraturan perundang undangan di
bawah undang undang terhadap undang undang sesuai pasal 24 A.
Calon hakim agung diajukan oleh Komisi Yudisial kepada DPR , kemudian di tetapkan sebagai hakim
agung oleh Presiden

KOMISI YUDISIAL

Suatu lembaga baru yang bebas dan mandiri, yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung
dan berwenang dalam rangka menegakkan kehormatan dan perilaku hakim. Anggota KY diberhentikan
dan dan diangkat oleh presiden sesuai persetujuan DPR ( pasal 24 B ). Setelah masa reformasi perubhan
yang terjadi pada kekuasaan kehakiman setelah dilakukan amademen konstitusi juga telah menyebakan
perubhan yang cukup mendasar.Sesuai amandemen UUD 45, maka terjadi perubahan kekuasaan
kehakiman yang menyebabkan timbul beberapa permasalahan diantaranya :

1. Tidak adanya kejelasan status terhadap pengadilan yang sudah ada terlebih dahulu seperti pengadilan
niaga, pengadilan Ad Hoc HAM, pengadilan pajak, pengadilan syari’ah NAD, dan pengadilan adat
otonomi Papua.

2. Belum adanya tempat pengadilan Khusus untuk masalah tertentu seperti korupsi, pertanahan, dan
perburuhan.

Karena badan hukum yang sudah ada belum mampu untuk menegakkan supremasi hukum dan
modernisasi hukum maka di bentuklah beberapa lembaga lembaga baru seperti Komisi nasional hak
asasi manusia (Komnas HAM) yang awal pembentukannya berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres)
No.50 Tahun 1993.

Lembaga-Lembaga baru tersebut antara lain:


1. KOMISI HUKUM NASIONAL ( KHN )
keputusan presiden nomor 15 tahun 2000 tanggal 18 Februari 2000. Pembentukan komisi ini adalah untuk
mewujudkan system nasional demi menegakkan supermasi hukum dan hak asasi manusia berdasarkan keadilan dan
kebenaran dengan melibatkan unsure masyarakat.

2. KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK)


Merupakan respon pemerintah terhadap rasa pesimistis masyarakat terhadap kinerja dan reputasi kejaksaan
maupun kepolisian. UU no. 30 tahun 2002 tentang pemberatasan tindak pidana Korupsi. Pembentukan KPK respons
pemerintah terhadap rasa pesimitis masyarat terhadap kinerja dan reputasi kejaksaan maupun kepolisian dalam hal
korupsi.

3. KOMINSI NASIONAL ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN


Sebagai mekanisme nasional untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan. Didirikan pada 15 oktober 1998
berdasarkan KEPRES no. 181 tahun 1998.Lahirnya komnas perempuan merupakan jawaban pemerintah terhadap
rakyat sipil, khususnya kaum perempuan,sebagai wujud tanggung jawab negara dalam menanggapi dan menangani
persoalan kekerasaan terhadap perempuan.
4. KOMISI OMBUDSMAN ( KON )
Berperan sebagai pemantau pelayanan umum yang di jalankan oleh instansi instansi pemerintah agar berjalan baik
KON sendiri terbentuk pada tanggal 20 Maret 2000 berdasarakan keputusan Presiden No 44 tahun 2000. Tujuan
KON tersendiri bertujuan membantu dan menciptakan atau mengembangkan kondisi yang kondusif dalam
melaksanakan pemberantasan korupsi,kolusi,dan Nepotisme (KKN), dan lainnya meningkatan perlindungan hak-hak
masyarakat agar memperoleh pelayanan umum, keadilan,dan kesejahteraan secara lebih baik.

Ksimpulan

Badan Yudikatif
Badan Yudikatif biasanya identik dengan kehakiman dimana badan ini bertugas sebagai mengadili dan
memutuskan pelanggaran undang-undang. Diberbagai negara badan yudikatif memiliki berbagai persamaan. Di
Indonesia badan Yudikatif terdiri atas Mahkamah Konstitusi (MK), Mahkamah Agung (Ma), serta Komisi
Yudisial (KY). MK adalah lembaga yudikatif tertinggi atas lembaga-lembaga yang lain setara dengan MA jika
MA bisa digugat namun keputusan MK tidak dapat diajukan banding dan sifatnya sudah final. Sedangkan, KY
pada dasarnya sebagai pengatur dari hakim-hakim konstitusi karena KY umumnya bersifat mengatur kode etik
para hakim-hakim agung agar dapat menjalankan tugas kehakiman secara baik.(h.350-h.361)