Anda di halaman 1dari 40

GIGI IMPAKSI

MAKALAH
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah DSP 8
(Clinical Surgery of Hard and Soft Tissue)

Topik 5

disusun oleh:

Tutor 6
Kelompok 3

Sofyan Suri 160110130066

Lailatul Rahmi 160110130067

Putri Bella Kharisma 160110130071

Muthia Belladina Silmi 160110130074

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2016
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...............................................................Error! Bookmark not defined.

DAFTAR GAMBAR ................................................ iError! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR ..................................................Error! Bookmark not defined.v

BAB I ............................................................................................................................ 5

PENDAHULUAN ........................................................................................................ 5

BAB II .......................................................................................................................... 7

ISI ................................................................................................................................. 7

2.1 Definisi Gigi Impaksi ..............................................................................................7

2.2 Etiologi Gigi Impaksi ...............................................................................................8

2.2.1 Kausa Lokal…………………………………………………………………8

2.2.2 Kausa Sistemik………………………………………………………………9

3.1 Klasifikasi Gigi Impaksi .......................................................................................11

3.1.1. Klasifikasi Impaksi Molar Tiga Rahang Bawah…………………….......…11

3.1.2 Klasifikasi Impaksi Molar Tiga Rahang Atas…………………...………....20

3.1.3 Impaksi Gigi-Gigi Lainnya…………....………………………………...…28

2.4 Indikasi dan Kontraindikasi Odontektomi…………………………….................30

2.4.1 Indikasi Odontektomi…………………………...……………….................30

2.4.2 Kontraindikasi Odontektomi…………………………………….................31

i
2.5 Penatalaksanaan ……………………………………………………………........32

2.5.1 Desain Flap…………………………………………………………….......32

2.5.2 Pengambilan Tulang………………………………………………….........32

2.5.3 Pemotongan yang Terencana…………………………………………........34

BAB III ....................................................................................................................... 37

HASIL DISKUSI ....................................................................................................... 37

BAB IV ....................................................................................................................... 38

KESIMPULAN .......................................................................................................... 38

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 39

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Gambaran radiologi cleidocranial dysostosis....................................... 10

Gambar 2 Klasifikasi impaksi menurut Pell dan Gregory .................................... 12

Gambar 3 Klasifikasi impaksi berdasarkan letak gigi molar ketiga ..................... 13

Gambar 4 Prosedur odontektomi molar tiga RB posisivertikal ............................ 15

Gambar 5 Prosedur odontektomi molar tiga RB posisi horizontal ....................... 16

Gambar 6 Refleksi flap dan pemisahan akar......................................................... 18

Gambar 7 Ekstraksi gigi dengan dua tahap bersihkan dan jahit luka ................... 19

Gambar 8 Ekstraksi gigi dan luka yang sudah dijahit ........................................... 19

Gambar 9 Tahapan ekstraksi gigi molar tiga posisi distoangular ......................... 20

Gambar 10 Klasifikasi impaksi molar 3 maksila menurut Archer ........................ 21

Gambar 11 Klasifikasi impaksi molar 3 maksila menurut Archer bergantung

kedalaman impaksi dibandingkan dengan molar 2 ............................................... 22

Gambar 12 Insisi dan tipe flap untuk ekstraksi impaksi molar 3 .......................... 23

Gambar 13 Luksasi impaksi gigi dengan double- angle elevator ......................... 26

Gambar 14 Luksasi akhir pada gigi ...................................................................... 26

Gambar 15 Area pembedahan setelah penempatan jahitan................................... 27

Gambar 16 Impaksi Incisivus Sentral ................................................................... 28

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-

Nya lah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Makalah ini berisikan hal-hal

mengenai fraktur mandibula. Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk

memenuhi tugas mata kuliah DSP 8 di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam

pembuatan makalah ini, khususnya kepada dosen mata kuliah DSP 8. Semoga makalah ini

bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi kita semua.

Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu,

penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.

Jatinangor, Mei 2016

Penulis

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Impaksi merupakan gigi yang terpendam dalam tulang alveolar yang tidak

dapat erupsi. Gigi impaksi paling sering dan mudah didiagnosis ketika gigi

mengalami keterlambatan erupsi yang lama. Kasus impaksi pada umumnya terjadi

pada gigi molar ketiga rahang bawah, kaninus rahang atas, molar ketiga rahang atas,

premolar kedua rahang atas dan rahang bawah dan insisif sentral rahang atas.

Meskipun faktor herediter memegang peranan penting pada gigi impaksi, faktor

etiologi yang umum pada gigi impaksi adalah malposisi benih gigi, persistensi gigi

sulung, lesi patologis, dan pendeknya lengkung rahang.Menarik gigi impaksi atau

gigi yang belum erupsi ke dalam lengkung merupakan masalah yang khusus selama

perawatan. Masalah yang ditemukan pada kasus gigi impaksi terbagi dalam tiga

kategori , yaitu: Tindakan pembedahan / exponasi, Pemasangan attacment pada gigi

impaksi, Perawatan mekanik ortodonti untuk membawa gigi impaksi ke dalam

lengkung.

Sebelum dilakukan pembedahan untuk mengexpose gigi impaksi, sangat

penting untuk mengetahui posisi gigi tersebut secara tepat. Radiografi panoramik

biasanya dilakukan untuk mengetahui letak gigi impaksi. Radiografi oklusal dan

periapikal terbukti lebih membantu dalam menentukan posisi gigi impaksi dengan

tepat, yang mungkin posisi gigi impaksi dapat overlap terhadap akar gigi yang

sudah erupsi. Gigi yang erupsi sebaiknya melalui attached gingiva, bukan melalui

5
mukosa alveolar, hal ini menjadi pertimbangan saat menentukan rencana flap untuk

exponasi gigi yang impaksi.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Gigi Impaksi

Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah kegagalan gigi untuk erupsi secara

sempurna pada posisinya akibat terhalang oleh gigi pada anteriornya maupun

jaringan lunak atau padat di sekitarnya.Umumnya gigi yang sering mengalami

impaksi adalah gigi posterior dan jarang pada gigi anterior. Namun gigi anterior

yang mengalami impaksi terkadang masih dapat ditemui.

Pada gigi posterior yang sering mengalami impaksi adalah gigi molar 3

mandibula dan maksila diikuti premolar mandibula dan maksila. Sedangkan gigi

anterior yang dapat ditemui mengalami impaksi adalah gigi kaninus dan incisivus

maksila dan mandibula diikuti incisivus maksila dan mandibula.

Untuk mengetahui ada atau tidaknya kemungkinan suatu gigi mengalami

impaksi atau tidak sangatlah penting mengetahui masa erupsi masing-masing gigi

pada setiap lengkung rahang. Berikut ini masa erupsi gigi geligi pada masing-

masing rahang.

7
Gigi 1 2 3 4 5 6 7 8

RA 7-8 8-9 11-12 10-11 10-12 6-7 12-13 17-21

RB 6-7 7-8 9-10 10-12 11-12 6-7 11-13 17-21

Table 1 Urutan erupsi gigi permanen

2.2 Etiologi Gigi Impaksi

Penjelasan paling logis terjadinya gigi impaksi adalah karena telah terjadi

tahapan “evolutionary reduction” atau evolusi reduksi ukuran maksila atau

mandibula manusia. Akibatnya maksila atau mandibula terlalu kecil untuk bisa

menampung molar ketiga maksila atau mandibula. Berdasarkan teori ini, tercatat

bahwa tidak ada bawaan congenital dari molar ketiga maksila atau mandibula,

ataupun adanya molar tiga yang tidak sempurna pada tempatnya.

Gigi impaksi dapat disebabkan oleh banyak faktor,menurut Berger penyebab

gigi terpendam antara lain :

2.2.1 Kausa Lokal

Faktor lokal yang dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksi adalah :

1. Abnormalnya posisi gigi

2. Tekanan dari gigi tetangga pada gigi tersebut

3. Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut

4. Kekurangan tempat untuk gigi tersebut bererupsi

8
5. Gigi desidui persistensi(tidak mau tanggal)

6. Pencabutan prematur pada gigi

7. Inflamasi kronis penyebab penebalan mukosa disekitar gigi

8. Penyakit yang menimbulkan nekrosis tulang karena inflamasi atau

abses

9. Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem pada

anak-anak

2.2.2 Kausa Sistemik

Impaksi dapat ditemukan walau tidak terdapat kausa lokal.Pada kasus ini,

menurut Berger :

1. Kasus prenatal: hereditas/keturunan dan miscegenasi (perkawinan antara

suku/bangsa).

2. Kasus postnatal : Semua kondisi yang dapat mengganggu perkembangan

anak, seperti :

1) Rickets

2) Anemia

3) Syphilis Congenital

4) Tuberculosis

5) Disfungsi Endokrin

6) Malnutrisi

9
3. Kelainan Pertumbuhan

1) Cleidocranial dysostosis

Kondisi kongenital langka yang di dalamnya ada cacat osifikasi tulang

tengkorak, semua atau sebagian klavikula, tertunda pelepasa dari gigi

primer, unerupted gigi permanen dan gigi cadangan rudimenter

Gambar 1 Gambaran radiologis cleidocranial dysostosis (banyak gigi yang impaksi)

2) Oxycephaly

Biasa disebut "menara kepala/steeple head", dimana bagian atas

kepala meruncing

3) Progeria

Menggambarkan prematur usia tua (premature old age). Ini adalah bentuk

kekanak-kanakan, ditandai dengan perawakan Smail, tidak adanya rambut

wajah dan public hair, kulit keriput, rambut beruban, dan sikap wajah

penampilan dan sikap usia tua.

10
4) Achondroplasia

Penyakit hereditas, gangguan bawaan dari tulang rangka yang

menghasilkan bentuk dwarfism. Dalam kondisi ini, tulang rawan gagal

untuk berkembang dengan baik.

5) Cleft Palate

6) Kelainan bentuk yang terdapat bawaan celah di garis tengah

2.3 Klasifikasi Gigi Impaksi

2.3.1 Impaksi Molar 3 Rahang Bawah

Klasifikasi dilakukan bertujuan untuk membantu operator dalam

memastikan dan membuat rencana kerja serta memperkirakan kesulitan-

kesulitan yang mungkin ditemuinya pada saat melalukan pencabutan gigi

tersebut.

Klasifikasi menurut Pell dan Gregory yang meliputi sebagian

klasifikasi dari George B. Winter:

1. Hubungan Gigi Dengan Tepi Ramus Antara Mandibula Dan Tepi

Distal Molar Kedua:

1) Kelas I: Ada cukup ruangan antara ramus dan batas distal molar

kedua untuk lebar mesiodistal molar tiga

2) Kelas II: Ruangan antara distal molar kedua dan ramus lebih

kecil daripada lebar mesiodistal molar ketiga

3) Kelas III: Sebagian besar atau seluruh molar ketiga terletak di

dalam ramus

11
Gambar 2 Klasifikasi impaksi menurut Pell dan Gregory

2. Berdasarkan Letak Molar Ketiga Di Dalam Rahang

1) Posisi A: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada setinggi

garis oklusal.

2) Posisi B: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada di bawah

garis oklusal tapi masih lebih tinggi daripada garis servikal

molar kedua.

12
3) Posisi C: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada dibawah

garis servikal molar kedua.

Gambar 3 Klasifikasi impaksi berdasarkan letak gigi molar ketiga

3. Gigi Impaksi Digolongkan Berdasarkan Posisi Gigi Molar Ketiga

Terhadap Gigi Molar Kedua (George Winter)

1) Vertikal

2) Horizontal

3) Inverted(terbalik/kaudal)

4) Mesioangular

5) Distoangular

6) Buccoangular

7) Linguoangular

13
4. Berdasarkan keadaan erupsi:

1) Erupsi penuh

2) Erupsi sebagian

3) Tidak erupsi sama sekali

4) Dibawah mukosa

5) Embedded (tertanam) dalam tulang

5. Berdasarkan jumlah/keadaan akar:

1) Gigi yang berakar satu

2) Gigi yang berakar dua

3) Gigi yang akarnya bersatu

4) Apakah keadaannya menguntungkan atau tidak

1. Prosedur Odontektomi untuk Gigi Rahang Bawah

1) Molar Tiga Posisi Vertikal

Setelah melakukan insisi triangular menggunakan scalpel no.15, flap

mukoperiosteal direfleksikan dari aspek distal molar dua hingga batas anterior

ramus. Tulang yang menutupi gigi dibuka menggunakan bor bundar hingga

seluruh mahkota terlihat. Setelah itu tempatkan elevator lurus di aspek mesial

dan gigi dielevasi dengan gerakan rotasi kearah distal.

Setelah ekstraksi selesai, bersihkan fragmen tulang yang mungkin

terdapat pada soket juga haluskan tulang yang tajam. Kemudian area tersebut

14
15

dibersihkan dengan larutan saline lalu dijahit. Pasien diberi instruksi pasca

bedah, dan jahitan dibuka 8 hari setelahnya.

Gambar 4 Prosedur odontektomi molar tiga RB posisivertikal

2) Molar Tiga Posisi Horizontal

Ekstraksi posisi horizontal tekniknya lebih sulit dan harus ditangani

dengan hati-hati. Setelah melakukan insisi horizontal, tulang yang menutupi gigi

dibuka menggunakan bor bundar hingga semua mahkota terlihat, dan area

tersebut diirigasi menggunakan larutan saline. Buat groove secara vertikal pada

cervical line untuk memisahkan mahkota dengan akar, menggunakan bor


16

fissure. Groove yang dibuat tidak boleh dalam karena beresiko mengenai

N.alveolaris inferior. Gunakan elevator lurus untuk memisahkan mahkota dari

akar dengan gerakan rotasi. Mahkota diangkat menggunakan elevator yang sama

dengan gerakan rotasi keatas, setelah itu akar dapat diangka tmenggunakan

elevator lurus atau bersudut, dimana ujung bilahnya ditempatkan pada aspek

bukal akar. Setelah tulang dihaluskan, area diirigasi menggunakan larutan saline

lalu dijahit.

Gambar 5 Prosedur odontektomi molar tiga RB posisi horizontal


17

3) Molar Tiga Posisi Mesioangular

Setelah membuat insisi horizontal, refleksikan flap mukoperiosteal.

Refleksi dimulai di papilla interdental bagian mesial molar satu, terus ke

posterior, sepanjang lebar insisi danbatas anterior ramus. Tulang yang menutupi

gigi dibuka menggunakan bor bundar hingga mahkota terlihat. Setelah itu

gunakan bor fissure untuk mengangkat tulang di bagian bukal, terutama di

bagian distal gigi, menggunakan teknik guttering.

Jika akarnya satu, bagian mesial gigi diangkat terlebih dahulu, setelah itu

sisanya diluksasi. Jika akarnya dua, akar dipisah dan masing-masing akar

diangkat sesuai dengan arah kurvaturnya. Buat groove vertikal yang dalam pada

mahkota gigi menggunakan bor fissure, sepanjang tulang intra radikular.

Letakkan elevator pada groove yang sudahdibuat, lalu rotasikan untuk

memisahkan akar. Pemisahan akar ini bertujuan untuk meminimalisir trauma

dan mempercepat prosedur bedah.


18

Gambar 6 Refleksi flap dan pemisahan akar

Gigi diangkat dalam dua tahap. Pertama, akar distal diangkat bersama

dengan mahkotanya, setelah itu tempatkan bilah elevator pada bagian mesial

gigi, akarnya diangkat dengan pergerakan rotasi ke distal.


19

Gambar 7 Ekstraksi gigi dengan dua tahap bersihkan dan jahit luka

Gambar 8 Ekstraksi gigi dan luka yang sudah dijahit

4) Molar Tiga Posisi Distoangular

Teknik pembuatan flap dan pengangkatan gigi posisi distoangular mirip

dengan posisi mesioangular. Perbedaannya adalah bagian distal gigi dipotong

menggunakan bor fissure lalu diangkat, sementara bagian gigi lainnya diluksasi
20

setelah menempatkan elevator di bagian mesial gigi. Soket lalu dibersihkan dan

luka dijahit.

Gambar 9 Tahapan ekstraksi gigi molar tiga posisi distoangular

2.3.2 Impaksi Gigi Molar Tiga Rahang Atas

Ekstraksi dari gigi molar tiga atas yang impaksi sulit karena kurangnya

visualisasi pada area tersebut dan terbatasnya akses. Faktor lain seperti terbatasnya

pembukaan mulut, dekatnya letak gigi impaksi terhadap sinus maksilaris dan

sebagainya, dapat membuat prosedur lebih sulit.

Akar dari gigi molar ketiga atas bervariasi dalam bentuknya tetapi biasanya

kecil dan halus dan mudah fraktur. Akarnya, dan terkadang keseluruhan giginya

berada dekat dengan sinus maksila. Molar ketiga rahang atas jarang menyebabkan

masalah selama masih terbenam dan terdapat argumen yang menyatakan untuk
21

membiarkan gigi tersebut yang tidak memiliki symptom untuk erupsi. Gigi molar

ketiga rahang atas yang erupsi tetapi tidak berfungsi dapat diekstraksi pada saat yang

sama dengan molar ketiga rahang atas.

1. Klasifikasi dari impaksi gigi molar ketiga rahang atas yaitu :

1) Impaksi dari gigi molar ketiga atas (Archer, 1975) dapat diklasifikasikan

menjadi mesioangular, distoangular, vertical horizontal, bucoangular,

linguoangular, atau inverted.

Gambar 10 Klasifikasi impaksi molar 3 maksila menurut Archer

2) Impaksi molar tiga atas dapat juga diklasifikasikan menurut kedalaman

impaksi yang dibandingkan dengan molar kedua (Archer, 1975) :

(1) Kelas A : Permukaan oklusal dari gigi impaksi berada pada level

yang sama dengan permukaan oklusal pada molar kedua

(2) Kelas B : Permukaan oklusal dari gigi impaksi berada pada tengah-

tengah dari mahkota gigi molar kedua

(3) Kelas C : Permukaan oklusal dari mahkota gigi impaksi berada di

bawah garis servikal gigi yang disebelahnya bahkan lebih dalam


22

Gambar 11 Klasifikasi impaksi molar 3 maksila menurut Archer bergantung kedalaman impaksi
dibandingkan dengan molar 2

Gigi impaksi dari kelas ketiga merupakan suatu kasus yang sangat sulit, karena

ekstraksi melibatkan sejumlah besar tulang, akses yang terbatas, dan resiko

perpindahan tempat dari gigi impaksi ke dalam sinus maksilaris.

2. Indikasi Ekstraksi Molar 3 Rahang atas

Ekstraksi diindikasikan bila gigi yang erupsi menimbulkan trauma pada pipi atau

operkulum yang berada di atas gigi molar ketiga atas. Gigi molar ketiga yang tidak

erupsi terkadang asymptomatic dan tidak perlu dilakukan ekstraksi, kecuali terdapat

lesi patologi yang berhubungan.

3. Perawatan

Tahap-tahap ekstraksi gigi molar ketiga atas :

1) Sedasi

Persyaratan pertama untuk keberhasilan pembedahan gigi impaksi adalah

pasien yang relaks dan anastesi lokal yang efektif atau pasien yang teranastesi

dengan selamat. Seringkali anastesi umum merupakan pilihan yang cocok


23

untuk pembedahan impaksi. Anastesi yang dipakai yaitu pleksus anastesi dan

sub mukus infiltrasi anastesi.

2) Pembukaan flap

Tipe flap yang dipakai adalah triangular dan horizontal.

(1) Triangular flap

Insisi dilakukan untuk membuat flap pada tuberositas maksilaris dan

memanjang sepanjang aspek distal dari molar kedua, berlanjut secara

oblique ke atas dan ke anterior (Insisi vertikal) menuju lipatan vestibular.

Pada kasus tertentu, ketika impaksi dalam dan pembedahan yang adekuat

diperlukan atau ketika gigi impaksi ditutupi oleh akar dari molar kedua,

maka insisi vertikal dapat dibuat pada aspek distal dari molar pertama.

Gambar 12 Insisi dan tipe flap untuk ekstraksi impaksi molar 3


24

(2) Horizontal flap

Insisi dibuatdimulai pada tuberositas maksilaris dan memanjang

sepanjang aspek distal dari molar kedua, berlanjut pada bukal sepanjang

garis servikal pada sedikitnya 2 gigi, dan berakhir pada aspek mesial dari

molar pertama.

3) Pengambilan tulang

Setelah refleksi dari flap, bagian dari mahkota dapat terlihat atau terdapat

tulang yang menutupinya. Karena tulang ini tipis dan spongy, tulangnya dapat

dihilangkan dari permukaan bukal dengan instrumen tajam seperti

menggunakan bor atau chisel yang tajam dengan tekanan yang lembut untuk

mencegah terdorongnya gigi ke sinus maksilaris secara tidak sengaja. Jika

tulang bukal tebal, maka pengambilan tulang dapat dilakukan dengan bur

bedah.

4) Ekstraksi dari molar tiga yang impaksi

Ketika aspek oklusal, bukal dan distal dari mahkota telah terekspos, elevator

dapat digunakan pada permukaan bukal dari gigi ini untuk membawanya ke

bawah. Di dalam melakukan ekstraksi molar ketiga rahang atas, dokter gigi harus

berada pada posisi di depan dan di kanan dari pasien. Molar ketiga atas

merupakan gigi molar yang terkecil dan bervariasi dalam ukuran, jumlah akar,

dan morfologi akarnya.


25

Molar ketiga rahang atas biasanya memiliki tiga hingga delapan akar.

Umumnya, terdapat tiga akar seperti molar rahang atas lainnya, tetapi lebih kecil

dan konvergen. Biasanya akarnya bersatu dengan bentuk yang konikal, dan

melengkung ke distal. Bila molar ketiga atas telah erupsi secara lengkap dan

akarnya bersatu, ekstraksinya biasanya tidak sulit dan dapat diekstraksi hanya

dengan tekanan bukal.

Resiko dari fraktur pada prosesus alveolar palatal dapat dihindari dengan

cara ini. Jika gaya diaplikasikan ke palatal, maka akan menyebabkan fraktur

pada prosesus alveolar palatal karena tulang palatal lebih tipis dan lebih rendah

dari tulang bukal. Ketika gigi memiliki 3 atau lebih akar, ekstraksi dapat

dilakukan dengan mengaplikasikan tekanan bukal dan palatal secara lembut.

Gigi molar tiga impaksi maksila jarang dikeluarkan dengan pemotongan.

Jika pemotongan M3 maksila atas yang impaksi diperlukan, biasanya mahkota

dipotong agar akar dapat digerakkan ke bukal-oklusal.

Pergerakan ekstraksi akhir harus selalu ke bukal. Anatomi akar dari molar ketiga

menyebabkan ekstraksi dapat dilakukan dengan mudah menggunakan straight

elevator. Elevator diposisikan antara molar kedua dan ketiga dan gigi diluksasi

sesuai dengan arah akarnya.

Karena ekstraksi gigi dengan dibuat segmen tidak diindikasikan, tempat

yang cukup harus dibuat disekitar akar agar dapat dilakukan luksasi dari gigi.

Menggunakan elevator straight atau double pada aspek mesial pada gigi, gigi

diluksasi secara hati-hati ke posterior, ke luar dan ke bawah.


26

Pada waktu mengeluarkan gigi, harus hati-hati jangan sampai gigi terlepas

dan masuk kekerongkongan karena dapat mengganggu/menyumbat seluruh

pernafasan. Dengan anastesi umum, lebih mudah karena kerongkongan sudah

ditutup dengan kasa.

Gambar 13 Luksasi impaksi gigi dengan double- angle elevator

Gambar 14 Luksasi akhir pada gigi


27

Gambar 15 Area pembedahan setelah penempatan jahitan

5) Komplikasi

Perdarahan yang berlebihan dapat terjadi, baik dari insisi sulkus bukal

ataupun akibat sobeknya jaringan palatal ketika gigi dielevasi. Tekanan dan

jahitan harus memadai.

Fraktur dari tuberositas biasanya terjadi jika gigi yang erupsi seluruhnya

dielevasi ke belakang. Jika fragmentnya kecil dan akar gigi bersatu dengan

tulang, gigi harus diekstraksi dengan fragment tulang dan mukosanya dijahit.

Harus dilakukan pengecekan komunikasi oroantral setelah ekstraksi, khususnya

bila akar dekat dengan antrum maksila.

Molar ketiga atas dapat dipindahkan ke arah belakang dari infratemporal

fossa lateral ke lempeng pterygoid, atau ke antrum maksila. Antibiotik sebaiknya

diberikan untuk mengurangi resiko dari infeksi yang mungkin dapat menyebar

melalui fascial planes.


28

2.3.3 Impaksi Gigi-gigi Lainnya

1. Impaksi Gigi Kaninus (C) Maksila

Menurut archer :

1) Kelas I : gigi pada palatum berada pada posisi horizontal, vertical atau

semivertical

2) Kelas II : gigi pada permukaan bukal dengan posisi horizontal,vertical

atau semivertical

3) Kelas III : Gigi dengan posisi melintang, korona di palatinal, akarnya

melalui atau berada diantara akar-akar gigi tetangga dan apeks beada

di sebelah labial atau bukal dirahang atas

4) Kelas IV : Gigi berada vertikal di prosesus alveolar diantara gigi

insisif dan premolar

5) Kelas V : Impaksi kaninus berada pada edentulous maksila

2. Impaksi Gigi Kaninus (C) Mandibula

1) Level A :Mahkota gigi kaninus terpendam berada di servikal line gigi

sebelahnya

2) Level B :Mahkota gigi kaninus terpendam berada di antara garis

servikal dan apikal akar gigi disebelahnya

3) Level C : Mahkota gigi kaninus terpendam berada dibawah apikal akar

gigi sebelahnya
29

3. Impaksi Gigi Premolar

Impaksi premolar sering terjadi karena pencabutan prematur dari gigi molar

desidui. Dibanding gigi premolar satu, lebih sering terjadi pada gigi premolar dua oleh

karena premolar dua lebih lama erupsinya. Impaksi pada premolar mandibula lebih

sering mengarah ke lingual daripada ke bukal, sedangkan pada maksila lebih sering ke

palatinal daripada ke bukal.

Letaknya lebih sering vertikal, daya erupsinya lebih besar. Jika korona belom

nampak di rongga mulut, dan gigi terletak di arkus dentalis, maka pengambilan gigi

diambil dari bukal.

4. Impaksi Gigi Incisivus

Gigi insisivus yang memiliki impaksi lebih tinggi adalah insisivus sentral rahang atas.

Etiologi impaksi gigi caninus adalah :

1) Obstruksi yan menyebabkan terjadinya impaksi

(1) Gigi supernumerary

(2) Odontoma

(3) Posisi ektopik pada benih gigi

2) Gigi impaksi yang disebabkan oleh trauma

(1) Terhambatnya perbaikan jaringan lunak yang semestinya

(2) Dilaserasi

(3) Perkembangan gigi yang tertahan

(4) Intrusi traumatic akut (luksasi intrusi)


30

Gambar 16 Impaksi Incisivus Sentral

2.4 Indikasi dan Kontra Indikasi Odontektomi

2.4.1 Indikasi Odontektomi

1. Akar yang hypercementosis

2. Akar gigi molar maksila atau mandibula yang sangat berbeda

3. “ locked roots” ; molar atas atau bawah yang akar nya mundur dari gingiva

ke titik tengah apeks, di mana ujung akarnya hampir atau saling

menyentuh, sehingga tulang tampak "terkunci" oleh akar

4. Gigi dengan apeks yang berada pada sudut kanan dari sumbu panjang gigi

5. Gigi yang mengalami post crowns

6. Gigi dengan kerusakan luas, terutama kerusakan dalam rongga gingival

7. Gigi dengan pengisian saluran akar

8. Maksila atau mandibula dengan multinodular exostosis atau cortical plate

bukal/labial yang tebal dan padat

9. Jika dasar antral paling rendah menukik antara akar bukal dan lingual dari molar-

molar maksila
31

10. Jika tuberositas alveolar maksila bolong, karena kavitas antral meluas sampai

area ini

11. Mandibula tipis yang diberi gaya berlebihan untuk menggerakkan gigi. Gaya

yang berlebihan ini mungkin mengakibatkan fraktur mandibula

12. Malposed teeth, impactions, unerupted teeth and supernumerary teeth

13. Bila ada tekanan forseps pada gigi mandibula, dalam upaya untuk

menghilangkannya, hasil dislokasi dari kondilus mandibula dari fosa

glenoid meskipun upaya manual untuk mempertahankan kondilus tetap di

fossa

14. Ankylosed roots (jarang terjadi dan hanya ditemukan pada orang lanjut

usia)

15. Jika gaya yang biasa diberikan tidak menghasilkan luksasi apapun

2.4.2 Kontra Indikasi Odontektomi

1. Pasien dengan usia sangat ekstrem, terlalu muda atau lansia

2. Compromised medical status

3. Kerusakan luas dan berdekatan dengan struktur lain

4. Pasien tidak ingin giginya dicabut

5. Apabila tulang yang menutupi gigi impaksi sangat temineralisasi dan padat

6. Apabila kemampuan pasien untuk menghadapi pembedahan teganggu oleh

kondisi fisik dan psikis tertentu.


32

2.5 Penatalaksanaan

2.5.1 Desain Flap

Ada pendapat bahwa persyaratan kedua setelah sedasi untuk pembedahan

impaksi adalah flap yang didesain dengan baik dan ukurannya cukup. Flap mandibula

yang paling sering digunakan adalah envelope tanpa insisi tambahan, direfleksikan

dari leher M1 dan M2 tetapi dengan perluasan distal kearah lateral atau bukal kedalam

region M3 (trigonum retromolare).

Aspek lingual mandibula dihindari untuk mencegah cedera pada n.lingualis.

flap serupa digunakan pada lengkung rahang atas, tetapi diletakkan diatas tuberositas

sedangkan perluasan distalnya tetap ke lateral atau bukal. Jalan masuk menuju M3

impaksi yang dalam (level C) pada kedua lengkung rahang sering diperoleh dengan

insisi serong tambahan ke anterior.

2.5.2 Pengambilan Tulang

Pengambilan tulang mandibula terutama dilakukan dengan bur dan dibantu

dengan irigasi larutan saline. Tekik yang biasa dilakukan adalah membuat parit

sepanjang bukal dan distal mahkota dengan maksud melindungi crista oblique externa

namun tetap bisa mendapatkan jalan masuk yang cukup kepermukaan akar yang akan

dipotong.

Pada rahang atas pengambilan tulang lebih sering dilakukan dengan elevator

lurus yang digunakan sebagai pencungkil tulang atau dengan osteotom dan tekanan

tangan. Kadang-kadang tulang seperti kulit telur menutupi mahkota. Tulang ini mudah
33

dikupas dengan menggunakan elevator periosteal #9 atau elevator lurus yang kecil,

untuk menyingkap folikel dibawahnya.

Untuk melihat anatomi mahkota dan menentukan sumbu panjang gigi impaksi,

folikel dihilangkan sebagian dengan menggunakan elevator periosteal atau elevator

lurus dan hemostat kecil. Sekali jalan masuk ke M3 impaski cukup untuk memasukkan

elevator Miller atau Pott pada servik, pengungkitan ke distal-bukal bisa dilakukan.

2.5.3 Pemotongan yang Terencana

Gigi bawah yang impaksi biasanya dipotong-potong, sedangkan gigi atas yang

impaksi jarang dikeluarkan dengan pemotongan. Jika pemotongan gigi atas

diperlukan, biasanya mahkota dipotong agar akar dapat digerakkan ke bukal-oklusal.

Kepadatan dan sifat tulang mandibula menjadikan pemotongan terencana pada

kebanyakan gigi impaksi menjadi sangat penting apabila ingin diperoleh arah

pengeluaran yang tidak terhalang. Tindakan ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk

menghindari fraktur dinding alveolar lingual atau tertembusnya bagian tersebut

dengan bur karena ada kemungkinan terjadi cedera n.lingualis.

Dasar pemikiran dari pemotongan adalah menciptakan ruang yang bisa

digunakan untuk mengungkit atau mengeluarkan segmen mahkota atau sisa akar.

Berbagai cara pemotongan berdasarkan arah impaksi :

1) Impaksi Mesioangular
34

Untuk pemotongan bagian distal mahkota atau separuh bagian distal gigi

bawah yang impaksi mesioangular, sesudah pembuatan parit disekitar gigi, bur fisur

diletakkan pada garis servikal dan dengan gerakan seperti menggergaji atau menyikat,

gigi dipotong ke aksial dari 2/3 atau ¾ menembus dari lingual ke bukal. Elevator lurus

yang kecil digunakan untuk menyelesaikan pemisahan bagian-bagian gigi,

mematahkan bagian distal mahkota atau memecah gigi menjadi dua daerah bifurkasi.

Sesudah mahkota bagian distal dikeluarkan, sisa gigi impaksi didorong kearah

celah yang terbentuk sebelumnya dengan menggunakan elevator Crane Pick #41 yang

diinsersikan pada bagian mesio-bukal atau pada tempat yang sama dengan pengeluaran

bagian distal. Gaya ini melepaskan gigi dari linggir distal gigi sebelahnya.

2) Impaksi Distoangular

Pemotongan standar untuk impaksi distoangular adalah mengambil sebanyak

mungkin bagian akar atau mahkota gigi sebelah distal. Pada teknik ini yang sangat

penting adalah mempertahankan bagian mesial mahkota atau akar, karena bagian

tersebut menjadi pegangan untu pergeseran ke distal dari sisa potongan gigi. Jika

segmen ini hilang, pengambilan hanya bisa dilakukan dengan membuat jalan masuk

bukal yang besar dengan eksisi tulang tambahan.

3) Impaksi Horizontal

Rencana pemotongan untuk impaksi horizontal tergantung pada pengambilan

awal mahkota dan diikuti pergeseranakar baiksatu persatu atau langsung seluruhnya

ke arah ruang yang terbentuk dari pengambilan mahkota.


35

Biasanya mahkota lebih baik diambil dengan dua tahap. Pemotongan pertama

adalah melintang pada garis servikal, sedangkan tahap kedua ( aksial atau longitudinal)

adalah sejajar sumbu panjang gigi. Belahan mahkota lingual dipatahkan dan diungkit

kearah lingual dengan menggunakan elevator, sedangkan sisa mahkota yang tertinggal

digeser kearah ruangyang ada dan dikeluarkan. Akar superior terdedah dan dibuat titik

kaian pada permukaa superior. Elevator diinsersikan dan kemudian ditarik ke anterior

(mesial). Hal ini cenderung menggeser akar kea rah anterior kea rah ruang yang

sebelumnya ditempati oleh mahkota. Apabila akar tidak bisa bergerak sebagai satu

unit, maka akar superior dipisahkan dari yang inferior, dan kemudian akan dikeluarkan

satu per satu.

4) Impaksi Melintang

Pemotongan pada gigi impaksi melintang mengikuti cara yang mirip dengan

yang dilakukan pada impaksi horizontal. Sekali lagi kuncinya adalah mahkota

dikeluarkan dahulu. Pada keadaan ini, mahkota dipisahkan, kemudian dipatahkan

dengan elevator dan diungkit ke lingual seluruhnya. Titik kaitan dibuat pada akar

superior dan tekanan kearah lingual diaplikasikan untuk mengeser akar kedalam ruang

yang tadinya ditempati mahkota.

5) Impaksi Vertical

Pencabutan gigi impaksi vertical , khususnya apabila terletak di tempat yang

sangat dalam, biasanya diperlancar dengan pengeluaranmahkota dahulu. Ini

dikerjakan dengan membuka garis servikal dan dengan menggunakan bur untuk

memoton melalui duapertiga atau tigaperempat mahkota ke bukal/lingual, diikuti


36

dengan mematahkan mahkota menggunakan elevator. Titik kaitan dibuat disebelah

bukal akar, kemudian dikeluarkan ke arah superior dengan menggunakan elevator

Crane Pick #41. Jika sulit digeser, akan dipisahkan pada bifurkasinya dan dicabut satu

per satu.
37

BAB III

HASIL DISKUSI

1. Indikasi teknik intoto dan inseparasi adalah tergantung pada bagaimana kondisi

klinis dari gigi, jika pertimbangannya adalah untuk tidak mengurangi tulang

terlalu banyak maka digunakan teknik inseparasi.

2. Jika seseorang mengalami impaksi tetapi tidak mengalami rasa sakit maka

untuk penatalaksanaannya harus dipertimbangkan terlebih dahulu apakah

impaksi tersebut sesuai indikasi dan kontraindikasi atau tidak.

3. Penatalaaksanaan utuk gigi impaksi yang inverted sama saja dengan gigi

impaksi lainnya. Semakin dalam gigi yang impaksi maka semakin sulit utuk

dicabut tetapi teknik yang digunakan pada dasarnya sama dengan gigi impaksi

lainnya.
38

BAB IV

KESIMPULAN

Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah gigi yang erupsi normalnya terhalang

atau terhambat, biasanya oleh gigi di dekatnya atau jaringan patologis sehingga gigi

tersebut tidak keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal di dalam deretan

susunan gigi geligi lain yang sudah erupsi.

Etiologi dari gigi impaksi, selain faktor lokal. Faktor yang terjadi saat prenatal,

postnatal dan pertumbuhan juga berpengaruh terhadap adanya gigi impaksi.

Impaksi seringkali terjadi pada daerah posterior yaitu pada gigi molar tige

rahang atas dan rahang bawah. Selain pada molar tiga, gigi impaksi juga dapat terjadi

pada gigi kaninus, premolar dan gigi incisivus. Masing-masing mempunyai klasifikasi

tertentu.

Perawatan gigi impaksi atau penatalaksanaan gigi impaksi dilakukan dengn

odontektomi jika sesuai dengan indikasi. Odontektomi adalah pengambilan gigi

dengan prosedur bedah dengan pengangkatan mukoperiosteal flap dan membuang

tulang yang ada diatas gigi dengan chisel, bur atau rongeurs.
39

DAFTAR PUSTAKA

Pedersen W.G.,1996.Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC

Peterson L.J.,2003.Contemporary Oral Maxillofacial Surgery.4th Ed.St.Louis: Mosby

Peterson. 2004. Principle of Oral and Maxillofacial Surgery. London : BC Decker Inc.

Riawan, Lucky. 2007. Materi Kuliah Bedah Dento Alveolar. Universitas Padjadjaran

Bandung