Anda di halaman 1dari 11

2.

1 Perawatan Segera Setelah Terjadi Perforasi

Perawatan yang ideal apabila terjadi perforasi sinus maksilaris atau oro-

antral fistula adalah perbaikan secara bedah, sehingga primary closure dapat

dikombinasikan dengan pemberian antibiotik profilaksis apabila terjadi infeksi

sinus. Kemungkinan keberhasilan untuk prosedur bedah ini bergantung dari

kemampuan dan pengalaman operator serta fasilitas yang ada. Hal ini juga

bergantung pada defleksi akar atau gigi pada sinus maksilaris yang dapat

memperumit kasus. Akar yang terletak di tempat yang tidak seharusnya (pada sinus

maksilaris) harus segera dirawat atau diambil oleh operator. Apabila operator

menunda perawatan, fragmen gigi dapat berpindah ke daerah yang lebih sulit

diakses.

Gambar Akar yang Tertinggal dalam Sinus Maksilaris

Setelah Dilakukan Ekstraksi

Ketika hal ini terjadi sewaktu kondisi pasien di bawah ideal, seperti saat

dilakukannya operasi dan pasien diberikan general anestesi, masalah yang

ditimbulkan oleh gigi atau akar yang masuk ke dalam anthrum adalah kecil.
Pengeluaran akar atau gigi dapat dilakukan lewat defek bahkan jika prosedur

korektif mengharuskan perbesaran pada bagian orifice untuk memfasilitasi akses.

Apabila hal ini terjadi saat praktek umum, di mana pasien diberikan anestesi

lokal, kemampuan operator dan fasilitas asepsis mungkin tidak mencukupi untuk

mengatasi eksplorasi yang baik pada antrum untuk mengambil akar atau gigi.

Pasien juga mungkin tidak bersedia untuk menjalani prosedur ini di dental chair

tanpa anestesi umum. Akan tetapi, akar atau gigi mungkin berada pada batas yang

dekat dengan jalan masuk dan umumnya dapat diambil dengan tindakan sederhana

seperti menginsersikan suction atau alat penghisap ke orifice untuk mengambil gigi

atau akar. Apabila hal ini tidak langsung berhasil, operator dapat menutup daerah

perforasi secara hati-hati dengan mendekatkan tepi gusi bagian bukal dan palatal.

Akan tetapi, cara ini terkadang tidak dapat dilakukan kecuali tulang alveolar

direduksi atau incisi dibuat pada jaringan pendukung. Segera mungkin setelah

terjadi perforasi sinus, hal ini harus dilaporkan kepada pasien dan pasien diharapkan

untuk berhati-hati dan waspada. Operator harus mengambil kembali akar yang

hilang dan umumnya hal ini akan mengacu pada rujukan pasien ke spesialis bedah

mulut.

Langkah kedaruratan lainnya yang direkomendasikan untuk pengambilan

akar adalah seperti secara perlahan injeksikan cairan saline yang steril ke dalam

sinus dengan harapan akar tersebut akan terbawa keluar. Cara yang lain adalah

dengan membalut antrum dengan kain kasa, dengan harapan akar akan tertarik ke

arah kasa. Cara ini nampaknya tidak akan berhasil. Akan tetapi, fragmen mungkin

secara tidak sengaja akan pindah ke daerah yang lebih menguntungkan.


Apabila oro-antral fistula tidak diperumit oleh defleksi dari gigi atau akar di

dalam sinus maksilaris, masalah perforasi ini umumnya sederhana dan dapat segera

dilakukan closure surgical atau bedah penutupan dengan menggunakan buccal flap.

Sebelum dilakukan insisi, sinus harus terlebih dahulu diirigasi untuk mengeluarkan

fragmen dari tulang alveolar.

Pada seluruh kasus dimana dilakukannya perawatan atau penutupan segera

setelah perforasi terjadi, ada tindakan pendukung yang harus dilakukan seperti

pemberian antibiotik yang dikombinaksikan dengan decongestant lokal, dan

analgesik.

Pemberian antibiotik ditujukan agar pasien tidak mengalami infeksi

sekunder pada tempat luka dan untuk mengontrol kondisi inflamasi yang masih ada

pada antrum. Penisilin merupakan obat pilihan. Hal ini disebabkan oleh organisme

yang umunya bertanggung jawab atas terjadinya infeksi pada antrum adalah bakteri

yang berasal dari kavitas oral. Dan bakteri dari kavitas oral umumnya sensitif

terhadap penisilin.

Lokal decongestan merupakan vasokonstriktor berupa obat tetes untuk

hidung dalam bentuk semprotan dan inhalasi untuk mendorong terjadinya drainase

pus dan sekresi. Decongestan yang ideal umumnya tidak akan mengganggu kerja

dari cilliary, tetapi akan menyebabkan penyempitan pada membran mukosa

antronasal dan aerasi pada sinus. Lokal decongestan yang dapat digunakan adalah

Ephedrine Nasal Drops B.P.C yang dapat diberikan lewat nasal tiap tiga jam atau

satu sendok teh Menthol and Benzoin Inhalation B.P.C yang dilarutkan ke dalam
segelas air panas (tidak mendidih) dan dihirup dalam waktu 10 menit dua kali

sehari.

Aspirin dapat diberikan untuk mengkontrol rasa sakit pada pasien. Selain

aspirin, analgesik yang dapat diberikan ke pasien adalah Phenacetin dan Codeine

yang dapat diminum 1-2 tablet untuk empat kali sehari.

2.1.1 Perforasi yang Kecil

Perawatan untuk perforasi yang kecil yaitu dengan mengisi soket

menggunakan yodoform tampon, pengisian ini diusahakan tidak sampai

puncaknya, kurang lebih dua pertiga dari margin gingiva. Penutupan diharapkan

pada gumpalan darah, sebagaimana pada penyembuhan luka pencabutan gigi.

Tampon diganti setiap hari dan perawatan dapat berlangsung hingga 3-4 hari.

Selain itu diberikan pula antibiotika per oral untuk mencegah infeksi. Tampon

pada soket difiksasi dengan melakukan ikatan berbentuk angka 8 mengelilingi

servik gigi tetangganya (hal ini dilakukan apabila gigi sebelah mesial dan distal

masih ada). (Soeparwadi, 1981)

2.1.2 Perforasi yang Agak Besar

Pada perforasi yang agak besar, dilakukan penutupan dengan bedah insisi

pada bagian bukal dan palatinal atau hanya pada bagian palatinal dari soket.

Dibuat insisi yang berjalan sejajar dengan lengkung alveolar dan tegak lurus

sumbu panjang gigi. Letak Insisi sekitar 1 cm dari margin gingival dan panjangnya

sedikit melebihi lebar mesio-distal soket. Kemudian prosesus alveolaris

dihaluskan serta mukoperioteum diantara tepi soket dan garis insisi dilepaskan
dari tulang lalu diangkat dan ditarik kearah soket. Di atas luka diberi tampon dan

instruksikan pada pasien untuk menggigit tampon tersebut. (Kruger, 1969; Killey

&Key, 1975)

2.1.3 Perforasi Setelah Pencabutan Gigi

Penggunaan lempeng tantalum berbentuk U untuk menutup perforasi sinus

maksilaris yang terjadi setelah pencabutan gigi (Budge : Archer, 1975). Segera

setelah gigi dicabut, mukoperioteum pada bagian bukal dan palatinal dilepaskan

dari tulang dengan jarak yang cukup untuk memasukkan lempeng tantalum.

Lempeng tantalum ini diletakkan di atas soket dan mukoperiosteum bukal dan

palatinal dijahit pada posisi normal. Jahitan dari mukoperiosteum tidak menutupi

seluruh lempeng tantalum. Lempeng ini diambil setelah 14-30 hari, yakni setelah

terbentuk jaringan granulasi di dalam soket. Pengambilan lempeng tantalum ini

dilakukan dengan cara, lempeng tersebut dipotong dalam arah mesio-distal

menjadi dua bagian. (Budge : Archer, 1975)

Selanjutnya kepada pasien diinstruksikan agar jangan berkumur-kumur

terlaiu keras, apabila bersin hati-hati dan hendaknya mulut dibuka saat bersin,

serta jangan meniup ataupun menghisap terlalu kuat dan hal yang sama juga

berlaku bagi para perokok (Killey & Key, 1975; Soeparwadi, 1981).

2.2 Perawatan Terhadap Perforasi yang Sudah Lama Terjadi

Perawatan pada fase ini dilakukan saat pasien datang lama setelah

terjadinya perforasi dan sudah terjadi fistula oro-antral atau jika sudah terjadi
infeksi, dimana infeksinya harus ditanggulangi terlebih dahulu sebelum

dilakukan penutupan perforasi.

2.2.1 Metode Bukal Flap Menurut Berger

Metode ini memberikan hasil berupa bentuk flap yang baik dan

cukup untuk menutupi perforasi, serta jika sesuai dengan bagian palatal

yang telah disiapkan, akan menghasilkan kontak yang baik antara kedua

jaringan tersebut. Keunggulan utama metode ini adalaah penyembuhan

yang cepat dan tidak disertai dengan daerah yang terbuka dari mukosa.

Namun kelemahannya adalah metode ini tidak selalu dapat digunakan,

misalnya pada mukosa yang terdapat muara duktus Stensen, serta pada

daerah dimana jaringan bukalnya tidak cukup, akan menghambat proses

penyembuhan. Prinsip dari metode ini adalah menyiapkan basis dan flap

yang cukup, lalu pastikan bahwa sinus bebas dari infeksi (Gans, 1972).

Metode ini dilakukan dengan cara membuat flap pada mukosa

bukal hingga ke pipi. Mula-mula epitel di tepi sekitar soket dibuang, serta

ketebalan mukosa (margin gingiva) di bagian palatal dikurangi hingga

ada jarak kurang lebih 6 mm dari tepi soket. Kemudian buat insisi mulai

dari tepi bagian mesial dan distal soket ke arah mukobukal fold hingga

ke mukosa bukal. Flap bersama periosteum dilepaskan dari tulang dan

diangkat. Untuk lebih memudahkan dapat dibuat refraction suture pada

kedua tepi mesial dan distal tersebut, yang berguna untuk pegangan flap.

Selanjutnya permukaan dalam dari flap ini, yakni pada periosteum dibuat
insisi horizontal yang dimaksudkan agar flap dapat ditarik memanjang

tanpa disertai ketegangan sehingga cukup untuk menutupi soket.

Kemudian flap dikembalikan dan dijahit. Jahitan dibuka setelah lima hari

sampai seminggu.

Gambar Metode Bukal Flap (sumber: Materi Kuliah Bedah Dentoalveolar, Kasim &

Riawan)
2.2.2 Metode Palatal Flap Menurut Dunning

Metode ini dilakukan dengan dengan cara membuat insisi pada

palatal, dimana arteri palatine terbawa bersama flap sehingga dapat

memberikan vaskularisasi yang baik bagi flap tersebut.

Flap yang dibentuk menyerupai tangkai yang diputar ke arah soket.

Mula-mula insisi dilakukan pada bagian palatal dari soket, sejajar

lengkung rahang dan dengan panjang secukupnya sehingga sesuai untuk

menutupi soket. Sebelum itu sebagian kecil jaringan pada bagian

distopalatal dari soket dieksisi berbentuk V, untuk menyediakan tempat

bagi flap yang akan diputar, serta untuk mencegah terjadinya lipatan.

Kemudian dengan hati-hati flap diangkat bersama periosteumnya dan

diputar ke arah soket hingga menutupi perforasi tersebut, lalu dijahit.

Daerah tulang yang terbuka bekas pengambilan flap ditutup dengan

surgical cement atau pack.


Gambar Metode Palatal Flap (sumber: Materi Kuliah Bedah Dentoalveolar, Kasim &

Riawan)

2.2.3 Metode Proctor

Setelah soket gigi dikuret, suatu kartilago berbentuk kerucut yang

diawetkan dimasukkan ke dalam soket gigi. Ukuran kartilago tersebut

harus sesuai dengan luas soket, karena jika tidak sesuai akan terlepas

sebelum terjadi penyembuhan atau akan masuk ke dalam rongga sinus.

2.2.4 Metode Penutupan Perforasi yang Terjadi pada Palatum


Perforasi pada palatum dapat terjadi antara lain akibat trauma

instrumen, eksisi tumor, dan sebagainya, sehingga perlu dilakukan

penutupan, dalam kasus ini dilakukan dengan metode sliding flap.

Mula-mula buat outline flap tersebut pada palatum dan dalam hal ini

melibatkan arteri palatina anterior. Perlu dilakukan sliding flap yang

besar karena suatu insisi elips yang sederhana akan memberikan

tegangan jaringan yang berlebihan dan mengganggu vaskularisasi. Pada

celah perforasi tampak adanya penyatuan epitel rongga mulut dengan

epitel rongga hidung. Setelah dilakukan insisi berdasarkan outline, flap

diangkat dan sebagian kecil jaringan flap bagian median dibuang untuk

menyediakan tempat saat menggeser flap tersebut. Jaringan pada garis

median palatum dibuang secukupnya untuk menyediakan tempat bagi

flap serta untuk menghilangkan jaringan yang kekurangan aliran darah.

Epitel dan jaringan pada celah perforasi dieksisi. Celah jaringan pada flap

di atas perforasi dijahit. Kemudian flap digeser dan dijahit pada garis

median palatum. Selanjutnya jaringan tulang yang terbuka ditutup

dengan zinc oxide eugenol pack atau kassa steril, dan untuk menjamin

aposisi yang baik dari flap serta untuk mencegah hematoma submukus,

maka tempatkan plat gigi tiruan atau obturator.


DAFTAR PUSTAKA

Gans B.J. 1972. Atlas of Oral Surgery 1st Edition. St.Louis: Mosby.

Howard, S.S. 1974. The Interrelationship Between The Maxillary Sinus and

Endodontic. Jour. O.S.

Kasim, Alwin. & Riawan, Lucky. 2007. Materi Kuliah Bedah Dentoalveolar.

Bandung.

Killey, H.C. & Key.L.W. 1975. The Maxillary Sinus and It’s Dental Implications

1st Edition. John & Wright & Sons Ltd. Bristol.