Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Istilah kewarganegaraan memiliki arti keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau ikatan
antara negara dan warga negara. Kewarganegaraan diartikan segala jenis hubungan dengan
suatu negara yang mengakibatkan adanya kewajiban negara itu untuk melindungi orang yang
bersangkutan. Adapun menurut Undang-Undang Kewarganegaraan Republik Indonesia,

kewarganegaraan adalah segala ikhwal yang berhubungan dengan negara. Pendidikan


Kewarganegaraan juga bisa dirumuskan secara luas untuk mencakup proses penyiapan
generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara, dan
secara khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran dan belajar,
dalam proses penyiapan warga negara tersebut.

Profesi keperawatan sendiri lebih mengacu pada individu yang menekuni karir di bidang
tenaga kesehatan sebagai seorang perawat. Perawat menurut UU RI no. 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan
keperawatan berdasarkan ilmu yang dimiliki diperoleh melalui pendidikan keperawatan.
Menurut Virginia Henderson, profesi keperawatan (nursing) didefinisikan dari sisi fungsional,
bahwa tugas unik seorang perawat adalah membantu seseorang. Sakit atau sehat dengan aksi-
aksinya dalam memberikan sumbangan bagi kesehatan atau penyembuhan (atau kematian
yang damai) yang akan mereka kerjakan tanpa bantuan—seandainya dia memiliki kekuatan,
kehendak atau pengetahuan. Dan melakukan hal ini dengan suatu cara untuk membantunya
meraih kemandirian secepat mungkin.

1.2. Rumusan Masalah


 Apa itu Arti Budi Pekerti Dalam Keperawatan ?
 Apa saja Syarat Menjadi Perawat Yang Baik ?
 Bagaimana Pancasila Dalam Keperawatan ?
 Apa yang dimaksud dengan Pancasila Sebagai Norma Keperawatan ?

1|Page
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Arti Budi Pekerti dalam Keperawatan.


Yang dimaksudkan dengan budi pekerti itu umumnya kelakuan dan akhlak
seseorang yang diterapkan oleh tradisi, adat, dan kebiasaan. Budi pekerti dalam perawatan
khususnya berarti tata susila yang berhubungan dengan cita – cita adat dan kebiasaan yang
mempengaruhi seorang perawat dalam menunaikan pekerjaannya.
1) Manfaat Budi Pekerti Bagi Perawat
Dasar – dasar budi pekerti yang sehat sangat dibutuhkan untuk kepribadian yang baik.
Bagi anggota perawat, kepribadian yang baik adalah penting, karena perawat adalah
seorang yang memberikan pelayanan / perawatan baik terhadap orang sakit maupun
terhadap orang sehat. Perawatan bukan saja merupakan keahlian untuk sekedar mencari
nafkah, akan tetapi mengingat tujuannya juga merupakan pekerjaan yang suci.

2) Manfaat Budi Pekerti Yang Luhur Bagi Penderita


Seorang perawat yang mempunyai budi pekerti yang luhur dan menjalankan pekerjaannya
dengan baik, tak akan luput pengaruh baiknya pada penderita yang dirawatnya. Amal
jasmani dan rohani yang diberikan dengan penuh kerelaan oleh perawat kepada penderita,
merupakan faktor penting untuk kesembuhan penderita tersebut. Seringkali perawat
diajukan pertanyaan – pertanyaan yang bertalian dengan pengertian akhlak dan kerohanian
oleh penderita. Dalam hal ini, perawat bias menjadi penolong yang berguna untuk
memberi kekuatan jiwa terutama kepada mereka yang tidak mempunyai harapan sembuh.

2.2. Syarat Menjadi Perawat yang Baik

Pekerjaan seorang perawat adalah pekerjaan manusiawi untuk menolong sesama


manusia agar mendapatkan kesehatan yang tinggi dan untuk mengadakan lingkungan yang
sehat bagi penderita maupun orang sehat. Perawatan adalah pekerjaan yang berguna dan
penting, serta dapat memberi kepuasan batin bagi orang-orang yang memasukinya. Perawat
perlu mengatasi keperluan-keperluan dalam merawat penderita secara langsung/tidak
langsung. Misalnya mengenai sikapnya, karena menghadapi penderita dari bermacam-macam
tingkatan, umur, dan lain-lain. Maka perlu diperhatikan untuk menyesuaikan diri dengan
keadaan jasmani maupun rohani penderita, sehingga bila penderita itu memerlukan

2|Page
pertolongan dapat diberikan secara cepat. Perawat harus dapat memberi bimbingan hidup
sehat kepada penderita.

Dari uraian-uraian diatas, Dapat ditarik kesimpulan secara lebih spesifik. Syarat-syarat untuk
menjadi perwat yang baik adalah :
 Berminat terhadap perawatan, sehingga perawat dapat memberikan kepuasan perawatan
pada penderita.
 Mempunyai rasa kasih sayang.
 Mempunyai rasa sosial dan tabiat ramah.
 Mempunyai kemampuan untuk menjaga nama baik perawat dan instansi/unit kerjanya.
 Berpikiran dan berkelakuan baik serta berbadan sehat agar supaya sanggup menjalankan
pekerjaannya.

Peran Perawat di Bidang Politik Kontroversi Strategi Pendidikan Keperawatan di Era


Globalisasi Institusi pendidikan keperawatan sangat bertanggung jawab dan berperan penting
dalam rangka melahirkan generasi perawat yang berkualitas dan berdedikasi. Sejalan dengan
berkembangnya institusi pendidikan keperawatan di Indonesia semakin bertambah
jumlahnya. Motivasi dari pendirian institusi pendidikan keperawatan pun sangat bervariasi
dari alasan "Bisnis" sampai dengan "Sosial". Dan yang kemudian menjadi pertanyaan dan
keganjilan adalah banyaknya pemilik dan pengelola institusi pendidikan keperawatan ini
yang sama sekali tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang keperawatan baik secara
disiplin ilmu atau profesi. Ini menjadi penyebab rendahnya mutu lulusan dari pendidikan
keperawatan yang ada di Indonesia dan tidak siap untuk bersaing.

Keperawatan berdasarkan pada isu di masyarakat.Ada 4 model praktik keperawatan


profesional yang diharapkan ada yaitu : model praktik di Rumah Sakit, rumah, berkelompok,
dan individual. Akan tetapi pelaksanaan PERMENKES tersebut masih perlu mendapatkan
persiapan yang optimal oleh profesi keperawatan.Etika Politik dalam Merawat Pasien Etika
adalah mengenai pengawasan bagi orang lain serta kepedulian terhadap perasaan."Merawat
seseorang berarti bertindak untuk kebaikan mereka, membantu mengembalikan otonomi
mereka, membantu mereka untuk mencapai potensi penuh mereka, mencapai tujuan hidup
mereka dan pemenuha kebutuhan".Dalam pengalaman menderita mungkin tidak hanya
membuat kita lebih simpati, tapi mungkin juga membantu kita untuk lebih empati terhadap
pasien kita. Simpati adalah perasaan yang timbul secara spontan yang kita miliki atau tidak
dimiliki. Empati adalah kemampuan untuk meletakkan diri kita dalam sesuatu orang lain,

3|Page
dalam suatu seni yang dapat dipelajari, latihan imajinasi yang dapat dilatih. Perasaan ini dapat
menjadi motivator yang kuat, yang juga dapat diperoleh dalam melakukan tanggung jawab
profesional kita. Dari suatu pandangan yang lazim, perawat juga merupakan pegawai yang
melakukan pekerjaan tertentu seefisien dan seefektif mungkin.

2.3. Strategi Pelayanan Keperawatan


Strategi Pelayanan Keperawatan dalam kaitan pancasila Selain memiliki kemampuan
intelektual, interpersonal, dan teknikal, perawatjuga harus mempunyai otonomi yang berarti
mandiri dan bersedia menanggung resiko,bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap
tindakan yang dilakukannya,termasuk dalam melakukan dan mengatur dirinya sendiri. Hal
tersebut telah membuatprofesi perawat di pandang rendah oleh profesi lain. Banyak hal yang
menyebabkan hal ini berlangsung berlarut-larut antara lain:
 Kurangnya kesadaran diri dan pengetahuan dari individu perawat itu sendiri
 Minimnya penghargaan financial dari pihak-pihak terkait terhadap perawat.
 Kurang optimalnya perannya organisasi profesi keperawatan.
 Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang perawat dan keperawatan yang lebih
disebabkan karena kurangnya informasi yang diterima oleh masyarakat berkaitan
tentang profesi perawat dan keperawatan terutama didaerah yang masih menganggap
bahwa perawat juga tidak berbeda dengan “dokter”.

Penataan Praktek Keperawatan dalam ketentuan UUD Peran profesional perawat


tidak akan bisa di capai, kalau model praktik keperawatan dipelayanan belum ditata secara
professional. Sejak diakuinya keperawatan sebagai profesi dan ditumbuhkannya Pendidikan
Tinggi Keperawatan (D3Keperawatan) dan berlakunya UU No.23 Tahun 1992, dan
PERMENKES No.1239/2000; proses registrasi dan legislasikeperawatan, sebagai bentuk
pengakuan adanya kewenangan dalam melaksanakan praktik keperawatan professional.

Konsep nilai-nilai dalam praktek keperawatan Dalam praktek keperawatan,


diperlukan nilai-nilai seperti berikut:

a. Yakin terhadap Tuhan Yang Maha Esa


b. Keterampilan/terampil
c. Edukatif (mempunyai sifat mendidik)
d. Respect/peduli terhadap pasien
e. Empati
f. Mampu berkolaborasi

4|Page
g. Disiplin dalam melakukan tugas
h. Mampu beradaptasi
i. Tidak membeda-bedakan ras, suku, dll
j. Ramah tamah
k. Memberi pelayanan yang bermutu
l. Menjaga kerahasiaan pasien
m. Bertanggung jawab
n. Bisa bekerja sama dengan tim medis lain.
o. Melaksanakan sesuatu sesuai tugasnya

5|Page
BAB III
PENUTUP

Hingga dewasa ini keperawatan di Indonesia sedang memasuki proses awal dari
proses profesional dan masih harus memperjuangkan langkah-langkah profesionalisasi yang
sesuai dengan keadaan lingkungan sosial di Indonesia. Untuk itu para perawat harus
memahami falsafah dan paradigma keperawatan yang memberi arah kepada perkembangan
keperawatan sebagai profesi.
Berbagai teori yang berkembang dalam bidang keperawatan bertolak dari berbagai
cara konseptualisasi dari keperawatan, akan memperkaya khasanah keilmuan dalam bidang
keperawatan, dan memacu upaya mencari kebenaran dalam empat komponen paradigma
keperawatan, yaitu manusia, sehat, lingkungan, dan keperawatan. Adalah tanggung jawab
para perawat selanjutnya untuk menggunakan dan menguji berbagai model yang telah
dikembangkan oleh ilmuwan keperawatan. Hal yang demikian ini akan memacu
perkembangan keperawatan selanjutnya, khususnya perkembangan pendidikan dan
pelayanan/asuhan keperawatan. Perawat bertanggung jawab sendiri untuk mengembangkan
keperawatan menuju ke arah yang benar, sesuai hakikat keperawatan. Perubahan-perubahan
yang diintroduksikan pada akhirnya harus tercerminkan dalam pemanfaatan pada upaya
meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sungguh suatu pekerjaan yang berat, namun
sangat mulia.

6|Page