Anda di halaman 1dari 39

Komponen Model

Pembelajaran
OLEH: ELI ROHAETI
Model Pembelajaran
Istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang
digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan.
Pada pembelajaran istilah model diartikan sebagai kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu.
Model berfungsi sebagai pedoman dalam merencanankan dan
melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Model dapat diartikan sebagai suatu pola yang digunakan dalam
menyusun kurikulum, merancang dan menyampaikan materi,
mengorganisasikan, dan memilih media dan metode dalam suatu
kondisi pembelajaran.
Model menggambarkan tingkat terluas dari praktek pembelajaran
dan berisikan orientasi filosofi pembelajaran, yang digunakan untuk
menyeleksi dan menyusun strategi pengajaran, metode,
keterampilan, dan aktivitas pebelajar untuk memberikan tekanan
pada salah satu bagian pembelajaran (topik konten).
Komponen Model Pembelajaran
1. Sintaks
2. Prinsip Reaksi
3. Sistem Sosial
4. Sistem Pendukung
Sebagai contoh dapat kita bandingkan sintaks 2 (dua) model yang berbeda sebagai berikut:

Model Fase I Fase II Fase III


A Penyajian konsep Penyajian data Menghubungka
n data dengan
konsep-konsep
B Penyajian data Mengadakan Identifikasi
kategorisasi konsep
Sintaks
langkah-langkah, fase-fase, atau urutan kegiatan
pembelajaran.
Jadi sintaks itu adalah deskripsi model dalam action.
Setiap model mempunyai sintaks atau struktur model
yang berbeda-beda.
Principle of Reaction
yaitu reaksi guru atas aktivitas-aktivitas siswa.
Dalam contoh model B mungkin selama fase II (dua) guru
memberi contoh cara menyusun konsep, dan siswa
membandingkan konsep-konsep mereka. Tetapi dalam beberapa
model mungkin guru terlibat langsung bersama siswa
menyeleksi konsep-konsep itu serta membantu mereka dalam
kegiatan-kegiatannya.
Jadi prinsip reaksi itu akan membantu memilih reaksi-reaksi apa
yang efektif dilakukan siswa.
Sistem sosial ini mencakup 3 pengertian utama yaitu:

deskripsi macam-macam peranan guru dan siswa


deskripsi hubungan hirarkis/ otoritas guru dan siswa,
deskripsi macam-macam kaidah untuk mendorong siswa.
Sistem sosial sebagai unsur model agaknya kurang
berstruktur dibandingkan dengan unsur sintaks.
Sistem Pendukung
Sistem pendukung ini sesungguhnya merupakan kondisi yang dibutuhkan oleh
suatu model.
Jadi, bukanlah model itu sendiri.
Sistem pendukungnya bertolak dari pertanyaan-pertanyaan dukungan apa yang
dibutuhkan oleh suatu model agar tercipta lingkungan khusus.
Dalam hubungan ini, sistem pendukung itu berupa kemampuan/keterampilan
dan fasilitas-fasilitas teknis.
Sistem pendukung diturunkan dari dua sumber yaitu kekhususan-kekhususan
peranan guru dan tuntutan siswa.
Model pembelajaran
merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan penyelenggaraan proses
belajar mengajar dari awal sampai akhir.
Dalam model pembelajaran sudah mencerminkan penerapan suatu pendekatan,
metode, teknik atau taktik pembelajaran sekaligus.
model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
tertentu.
Model berfungsi sebagai pedoman bagi guru dalam merencanakan dan
melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Dengan demikian, satu model pembelajaran dapat menggunakan beberapa metode,
teknik dan taktik pembelajaran sekaligus.
Pendekatan pembelajaran
Pendekatan pembelajaran merupakan istilah yang melingkupi seluruh proses
pembelajaran.
Pendekatan dan strategi pembelajaran mempunyai makna yang sama untuk
menjelaskan bagaimana proses seorang guru mengajar dan peserta didik belajar
dalam mencapai tujuan.
Penggunaan kedua istilah ini sering dipertukarkan.
Burden (1998) menyatakan bahwa strategi pembelajaran adalah
sebuah metode untuk menyampaikan pelajaran yang dapat
membantu peserta didik mencapai tujuan belajar.
Secara umum, pendekatan atau strategi pembelajaran dibedakan
menjadi dua yaitu pendekatan/strategi yang berpusat pada peserta
didik dan pendekatan yang berpusat pada guru.
Di sisi lain, strategi pembelajaran juga dapat diklasifikasikan menjadi
strategi pembelajaran klasikal, kelompok dan individu.
Metode pembelajaran
sebuah cara yang digunakan guru untuk melaksanakan rencana
yaitu mencapai tujuan pembelajaran yang sudah disusun
dalam bentuk kegiatan nyata atau praktis.
Jika strategi pembelajaran masih bersifat konseptual maka
metode pembelajaran sudah bersifat praktis untuk diterapkan.
Cakupan metode pembelajaran lebih kecil daripada strategi
atau model pembelajaran.
Teknik Pembelajaran
suatu cara spesifik yang dilakukan seseorang dalam menerapkan suatu
metode pembelajaran.
Satu metode pembelajaran dapat menggunakan beberapa teknik
pembelajaran.
Satu teknik pembelajaran bersifat spesifik sehingga tidak cocok untuk
diterapkan pada semua situasi pembelajaran.
Sebagai contoh, metode bertanya dapat menggunakan teknik focusing
questions, promting questions dan probing question
Taktik pembelajaran
gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik
pembelajaran tertentu yang bersifat individual.
Taktik pembelajaran lebih mengarah pada usaha-usaha yang dilakukan
guru agar proses pembelajaran berlangsung menarik dan hasil belajar
dapat tercapai.
Taktik pembelajaran yang digunakan guru berbeda-beda tergantung
pada kemampuan masing-masing.
Taktik Pembelajaran
Sebagai contoh, ada guru yang suka
menggunakan humor untuk menarik perhatian
siswa, ada pula yang suka memberi hadiah pada
peserta didik yang berhasil menjawab
pertanyaan, dan cara yang menarik untuk
mengajar lainnya.
Ciri-ciri Model Pembelajaran
1. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.
Sebagai contoh, model penelitian kelompok disusun oleh Herbert Thelen
dan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih
partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
2. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu, misalnya model
berpikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berpikir
induktif.
3. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar
di kelas, misalnya model Synectic dirancang untuk memperbaiki
kreativitas.
4. Memiliki bagian-bagian :
(1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax); (2) adanya
prinsip-prinsip reaksi; (3) sistem sosial; dan (4) sistem pendukung.
Keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru
akan melaksanakan suatu model pembelajaran.
5. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran.
Dampak tersebut meliputi: (1) dampak pembelajaran, yaitu hasil
belajar yang dapat diukur; (2) dampak pengiring, yaitu hasil belajar
jangka panjang.
Fungsi Model Pembelajaran
Model Pembelajaran memiliki fungsi sebagai
pedoman bagi pengajar dalam melaksanakan
pembelajaran.
Hal ini menunjukkan bahwa setiap model yang akan
digunakan dalam pembelajaran menentukan
perangkat yang dipakai dalam pembelajaran
tersebut.
Alasan Pemilihan Model Pembelajaran
Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model
pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan, kompetensi
yang ingin dicapai/dikembangkan, karakteristik peserta didik,
karakteristik kurikulum.
Pemilihan Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model
pembelajaran yang luas dan menyeluruh.
Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-
kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang
telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan
model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-
macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis.
METODE PEMBELAJARAN

Menurut Hamzah B.Uno “Tidak ada suatu model pembelajaran yang dapat memberiakan
resep paling ampuh untuk mengembangkan suatu program pembelajaran”. (.Hamzah B.
Uno. 2009: 9). Oleh karena itu menentukan model pembelajaran harus disesuaikan dengan
kemampuan guru mengelola kelas dan kesesuaian materi yang disampaikan. Jadi apabila
antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah
terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan
model pembelajaran.

Oleh karena itu, menurut Joyce dan Weil dalam I Wayan Santyasa (2007: 7) model
pembelajaran harus memenuhi unsur-unsur sbb:
1. syntax yaitu langkah langkah operasional pembelajaran.
2. social system suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran.
3. principles of reaction mengambarkan seharusnya bagaimana guru
memandang memperlakukan dan merespon siswa.
4. support system segala sarana bahan alat atau lingkungan belajar yang
mendukung pembelajaran.
5. instructional hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang
disasar (instructional effects) dan hasil belajar yang diluar yang disasar
(narturant effects).

Metode pembelajaran adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan
dengan siswa pada saat berlangsung pembelajaran (Sudjana, 2005:76). Metode
pembelajaran akuntansi adalah cara atau pendekatan yang dipergunakan dalam menyajikan
atau menyampaikan materi pelajaran akuntansi. menempati peranan yang tak kalah penting
dalam proses belajar mengajar. Dalam pemilihan metode apa yang tepat, guru harus melihat
situasi dan kondisi siswa serta materi yang diajarkan.
Dalam kegiatan belajar mengajar daya serap peserta didik tidaklah sama. Dalam menghadapi
perbedaan tersebut, strategi pengajaran yang tepat sangat dibutuhkan. Strategi belajar
mengajar adalah pola umum perbuatan guru dan siswa dalam kegiatan mewujudkan kegiatan
belajar mengajar (Hasibuan, 2004:3). Metode pembelajaran merupakan salah satu strategi
pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru untuk menghadapi masalah tersebut sehingga
pencapaian tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik. Dengan pemanfaatan metode
yang efektif dan efisien, guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah strategi
pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Faktor-faktor yang mempengaruhi metode pembelajaran


Sebagai suatu cara,metode tidaklah berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
Guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling serasi untuk situasi dan kondisi yang
khusus dihadapinya, jika memahami sifat-sifat masing-masing metode tersebut. Menurut
Winarno Surakhmad dalam Djamarah (2002:89) pemilihan dan penentuan metode
dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut:
a. Anak didik
Anak didik adalah manusia berpotensi yang menghajatkan pendidikan. Di sekolah, gurulah
yang berkewajiban mendidiknya. Perbedaan individual anak didik pada aspek biologis,
intelektual, dan psikologis mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pembelajaran
mana yang sebaiknya guru ambil untuk menciptakan lingkungan belajar yang kreatif demi
tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
b. Tujuan
Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar-mengajar. Tujuan dalam
pendidikan dan pengajaran ada berbagai jenis, ada tujuan instruksional, tujuan kurikuler,
tujuan institusional dan tujuan pendidikan nasional. Metode yang dipilih guru harus sejalan
dengan taraf kemampuan anak didik dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
c. Situasi
METODE PEMBELAJARAN

Situasi kegiatan belajar mengajar yang guru ciptakan tidak selamanya sama dari hari ke
hari.Guru harus memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi yang diciptakan
itu.
d. Fasilitas
Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode
pembelajaran. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di
sekolah.Misalnya ketiadaan laboratorium untuk praktek IPA kurang mendukung penggunaan
metode eksperimen.
e. Guru
Setiap guru mempunyai kepribadian yang berbeda. Latar pendidikan guru diakui
mempengaruhi kompetensi. Kurangnya penguasaan terhadap berbagai jenis metode menjadi
kendala dalam memilih dan menentukan metode.

Syarat-syarat metode pembelajaran


Menurut Ahmadi dalam (Asih, 2007:20) syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam
penggunaan metode mengajar adalah:
 Metode mengajar harus dapat mermbangkitkan motif, minat atau gairah belajar siswa
 Metode mengajar harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa.
 Metode mengajar harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk
mewujudkan hasil karya.
 Metode mengajar harus dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut,
melakukan eksplorasi dan inovasi (pembaharuan).
 Metode mengajar harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara
memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.
 Metode mengajar harus dapat meniadakan penyajian yang bersifat verbalitas dan
menggantinya dengan pengalaman atau situasi yng nyata dn bertujuan.
 Metode mengajar harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan
sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik dalam
kehidupan sehari-hari.

Macam-macam metode pembelajaran


Proses belajar-mengajar yang baik, hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode
pembelajaran secara bergantian atau saling bahu membahu satu sama lain. Masing-masing
metode ada kelemahan dan kelebihannya. Tugas guru ialah memilih berbagai metode yang
tepat untuk menciptakan proses belajar-mengajar. Menurut Djamarah (2002:93-110) macam-
macam metode pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Metode proyek
Metode proyek adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak pada suatu masalah,
kemudian dibahas dari berbagai segi pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna.
Penggunaan metode ini bertitik tolak dari anggapan bahwa pemecahan masalah perlu
melibatkan bukan hanya satu mata pelajaran, melainkan hendaknya melibatkan berbagai
mata pelajaran yang ada kaitannya dengan pemecahan masalah tersebut.
b. Metode eksperimen
Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa
melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang
dipelajari. Siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran atau mencoba
mencari suatu hukum atau dalil dan menarik kesimpulan atau proses yang dialaminya itu.
c. Metode tugas atau resitasi
Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan pelajaran dimana guru
memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Metode ini diberikan
karena materi pelajaran banyak sementara waktu sedikit. Agar materei pelajaran selesai
sesuai dengan waktu yang ditentukan, maka metode inilah yang biasanya digunakan oleh
guru. Tugas ini biasanya bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan,dan di
tempat lainnya. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar, baik individu
METODE PEMBELAJARAN

maupun kelompok, tugas yang diberikan sangat banyak macamnya tergantung dari tujuan
yang hendak dicapai.
d. Metode diskusi
Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa-siswa dihadapkan pada
suatu masalah yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan secara bersama.
Teknik diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru
di sekolah. Dalam diskusi terjadi interaks, tukar menukar pengalaman, informasi,
memecahkan masalah dan siswa menjadi aktif.
e. Metode sosiodrama
Metode sosiodrama dan role playing dapat dikatakan sama dalam pemakaiannya sering
disilihgantikan. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasi tingkah laku dalam
hubungannya dengan masalah sosial.
f. Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau
mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang
dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan dengan lisan. Dengan metode demonstrasi,
proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan berkesan secara mendalam sehingga
membentuk pengertian dengan baik dan sempurna.
g. Metode problem solving
Metode problem solving bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan
suatu metode berfikir sebab dalam metode problem solving dapat menggunakan metode-
metode lainnya yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
h. Metode karya wisata
Karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri yang berbeda dalam
arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar. Teknik
karya wisata adalah teknik mengajar yang dilaksanakan dengan mengajar siswa kesuatu
tempat atau objek tertentu diluar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu.
i. Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus
dijawab, terutama dari guru kepada siswa,tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.
Metode tanya jawab memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat dua
arah sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa.
j. Metode latihan
Metode latihan maerupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan
kebiasaan-kebiasaan tertentu. Metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu
ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
k. Metode ceramah
Metode ceramah adalah metode tradisional, karena sejak dulu dipergunakan sebagai alat
komunikasi lisan antara guru dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Dalam metode
ceramah dibutuhkan keaktifan guru dalam kegiatan pengajaran. Metode ini banyak
digunakan pada pengajar yang kekurangan fasilitas.

Setiap metode pembelajaran mempunyai keunggulan dan kelemahannya sendiri-sendiri.


Penggunaan metode yang variatif dan sesuai dengan materi serta tujuan pembelajaran dapat
membuat siswa senang dan termotivasi untuk belajar. Metode tersebut harus dapat
meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru.
MODEL PENEMUAN TERBIMBING

Pembelajaran penemuan terbimbing pada dasarnya berusaha untuk memadukan metode teknik
pengajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) dengan teknik pengajaran yang
berpusat pada siswa (student centered). Penemuan terbimbing membantu siswa belajar untuk
mempelajari dan mendapatkan pengetahuan dan membangun konsep yang secara unik mereka
miliki karena mereka menemukan sendiri. Penemuan terbimbing adalah bagaimana siswa
mampu menyusun kembali data, agar mereka mampu berkembang melampaui fakta sebelumnya
dan menyusun konsep baru. Penemuan terbimbing melibatkan siswa menemukan pengertian-
pengertian mereka sendiri, dalam hal pengorganisasian (Carin, 1993).
Selanjutnya, untuk mencapai tujuan di atas Carin (1993a) menyarankan hal-hal sebagai berikut:
a. Memberikan bantuan agar siswa dapat memahami tujuan kegiatan yang dilakukan.
b. Memeriksa bahwa semua siswa memahami tujuan kegiatan prosedur yang harus
dilakukan.
c. Sebelum kegiatan dilakukan menjelaskan pada siswa tentang cara bekerja yang aman.
d. Mengamati setiap siswa selama mereka melakukan kegiatan.
e. Memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mengembalikan alat dan bahan yang
digunakan.
f. Melakukan diskusi tentang kesimpulan untuk setiap jenis kegiatan.

Sintaks Pembelajaran Terbimbing yang dikembangkan:


Tahap-Tahap Kegiatan Guru
Menjelaskan Menyampaikan tujuan pembelajaran
Tujuan/mempersiapkan Memotivasi siswa dengan mendorong siswa terlibat dalam
siswa kegiatan
Orientasi siswa pada Memberikan masalah sederhana yang berkenaan dengan materi
masalah pembelajaran
Membing siswa dalam merumusknan hipotesis sesuai dengan
Merumuskan hipotesis masalah yang ada
Melakukan kegiatan Membimbing siswa melakukan kegiatan penemuan dengan
penemuan mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi yang diperlukan
Mempresentasikan hasil Membimbing siswa dalam menyajikan hasil kegiatan,
kegiatan penemuan merumuskan kesimpulan/menemukan konsep
Mengevaluasi kegiatan
penemuan Mengevaluasi langkah-langkah kegitan yang telah dilakukan

Sintak penemuan terbimbing menurut Arends (dalam Haryono, 2001: 25), dapat ditabelkan
sebagai berikut:
Tabel Sintaks Penemuan Terbimbing Model Arends
No Fase-fase Kegiatan Guru
1 Menyampaikan tujuan, Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta guru
mengelompokkan dan menjelaskan menjelaskan aturan dalam metode
prosedur discovery pembelajaran dengan penemuan terbimbing
2 Guru menyampaikan suatu Guru mejelaskan masalah secara sederhana
masalah
3 Siswa memperoleh data Guru mengulangi pertanyaan pada siswa tentang
eksperimen masalah dengan mengarahkan siswa untuk
mendapat informsi yang membantu proses inquiry
dan penemuan
4 Siswa membuat hipotesis dan Guru membantu siswa dlam membuat prediksi dan
penjelasan mempersiapkan penjelasan masalah
5 Analisis proses peneman Guru membimbing siswa berfikir tentang proses
intelektual dn proses penemuan dan
menghubungkan dengan pelajaran lain.

Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa guru dalam metode pembelajaran penemuan terbimbing
adalah sebagai pembimbing siswa dalam nenemukan konsep.
MODEL BERBASIS MASALAH

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah berkaitan dengan pengunaan intelegensi dari
dalam diri individu yang berada dalam sebuah kelompok orang, atau lingkungan untuk memecahkan
masalah yang bermakna, relevan, dan kontekstual. Boud dan Feletti dalam Rusman (2011:
230) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah inovasi yang paling signifikan
dalam pendidikan. Dimana kurikulum Pembelajaran Berbasis Masalah sangat membantu untuk
meningkatkan perkembangan ketrampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka,
reflektif, kritis, dan belajar aktif.
Masalah, pedagogi, dan Pembelajaran Berbasis Masalah
Kekuatan masalah
Masalah dapat mendorong keseriusan, inquiry, dan berpikir dengan cara yang bermakna dan
sanggat kuat (powerful). Pendidikan memerlukan perespektif baru dalam menemukan
berbagai permasalahan dan cara memandang suatu masalah.
Berbagai trobosan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil dari adanya ketertarikan
terhadap masalah. Pada umumnya pendidikan dimulai dari ketertarikan masalah, dilanjutkan
dengan menentukan masalah, dan penggunaan berbagai dimensi berpikir.
Masalah dan pedagogi
Menurut Shulman dalam Rusman (2013: 231) Pendidikan merupakan proses membantu orang
mengembangkan kapasitas untuk belajar bagaimana menghubungkan kesulitan mereka dengan
teka-teki yang berguna untuk membentuk masalah.
Dari segi paedagogis, pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada teori belajar
konstruktvisme dengan ciri:
 Pemahaman diperoleh dari interaksi dengan scenario permasalahan dan linkungan belajar.
 Pergulatan dengan masalah dan proses inquiry masalah menciptakan disonansi kognitif yang
menstimulasi belajar.
 Pengetahuan terjadi melalui proses kolaborasi negosiasi social dan evaluasi terhadapa
keberadaan sebuah sudut pandang.

PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


Berikut ini kami menyajikan beberapa pendapat tentang Model Pembelajan Berbasis
Masalah: Model pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu
pembelajaran yang di awali dengan menghadapkan siswa pada suatu masalah. (Roh,2003:1; James
Rhem,1998:1 dalam http://jurnal.upi.edu 2011).
Menurut Richrad I Arends dalam jurnal (http://risqi.blog.com), Pembelajaran Berbasis
Masalah merupakan metode pembelajaran aktif yang digunakan untuk masalah terstruktur yang
merupakan tanggapan dari hasil pembelajaran. Pada model pengajaran ini, digunakan untuk
menyelesaikan masalah mempunyai struktur yang kompleks yang tidak cukup bila dikerjakan
dengan algoritma yang sederhana. Pada Pembelajaran Berbasis Masalah ini, siswa diberi
kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya sendiri. Pembelajaran Berbasis Masalah
dirancang terutama untuk membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir, ketrampilan
menyelesaikan masalah, dan ketrampilan intelektualnya, mempelajari peran-peran orang dewasa
dengan mengalaminya melalui berbagai situasi riil atau situasi yang disimulasikan dan menjadi
pelajar mandiri dan otonom
Sedangkan Menurut Arends (http://jurnal.upi.edu, 2011) pembelajaran berbasis masalah
(PBM) merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang
autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan
keterampilan berpikir, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri.
Arens dalam (http://sharingkuliahku.wordpress.com) menyatakan bahwa model
pembelajaran berdasarkan masalah adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran
siswa pada masalah autentik, sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri,
menumbuhkembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inquiri, memandirikan siswa, dan
meningkatkan kepercayaan diri sendiri. Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata
sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir
kritis dan menyelesaikan masalah, serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting.
Pendekatan pembelajaran ini mengutamakan proses belajar dimana tugas guru harus memfokuskan
diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berdasarkan
MODEL BERBASIS MASALAH

masalah penggunaannya di dalam tingkat berpikir lebih tinggi, dalam situasi berorientasi pada
masalah, termasuk bagaimana belajar.

KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


Menurut Slavin (http://jurnal.upi.edu, 2011) karakteristik lain dari PBM meliputi pengajuan
pertanyaan terhadap masalah, fokus pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan authentik, kerja
sama, dan menghasilkan produk atau karya yang harus dipamerkan. Pembelajaran berbasis
masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan
konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang
baru dan kompleksitas yang ada. Tan dalam Rusman (2011: 232).
Karakterisktik pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:
a. Pembelajaran menjadi strating point dalam belajar
b. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak
terstruktur.
c. Permasalahan memebutuhkan persepektif ganda (multiple perspective),
d. Permasalahan, menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang
kemudian membutuhakn identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar,
e. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama,
f. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, pengunaannya, dan evaluasi sumber
informasi merupakan proses yang esensial dalam Pembelajaran Berbasis Masalah.
g. Belajar adalah kolaborasi, komunikasi dan kooperatif.
h. Pengembangan ketrampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan
penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan
i. Keterbukaan proses dalam Pembelajaran Berbasis Masalah meliputi sintesis dan integrasi dari
sebuah proses belajar, dan
j. Pembelajran Berbasis Masalah meliputi evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses
belajar.
Pembelajaran Berbasis Masalah tergantung dari tujuan yang ingindicapai apakah berkaitan
dengan: 1) penguasaan isi pengetahuan yang bersifat multidiscipline, 2) penguasaan ketrampilan proses
dan disiplin heuristic, 3) belajar ketrampilan pemecahan masalah, 4) belajar ketrampilan kolaboratif, 5)
belajar ketrampilan kehidupan yang lebih luas.

CIRI- CIRI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


Ciri-ciri utama Problem-Based Learning adalah sebagai berikut.
1. Strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam
pembelajaran ini tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat kemudian
menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis masalah siswa aktif
berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkannya.
2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran berbasis
masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa
masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir
dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini
dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui
tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan
pada data dan fakta yang jelas.
Ciri-ciri khusus Problem-Based Learning adalah sebagai berikut.
1. Pengajuan Masalah atau Pertanyaan
Pengaturan pembelajaran masalah berkisar pada masalah atau pertanyaan yang penting bagi
siswa maupun masyarakat. Pertanyaan dan masalah yang diajukan itu haruslah memenuhi kriteria
sebagai berikut:
a. Autentik. Yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata dari pada berakar
pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu.
b. Jelas. Yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru
bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.
c. Mudah dipahami. Yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Selain itu,
masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
MODEL BERBASIS MASALAH

d. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan
hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang
akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia. Selain itu, masalah
yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
e. Bermanfaat. Yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik bagi siswa
sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat
adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah
siswa serta membangkitkan motivasi belajar siswa.
2. Keterkaitan dengan Berbagai Masalah Disiplin Ilmu
Masalah yang diajukan dalam pembelajaran berbasis masalah hendaknya mengaitkan atau
melibatkan berbagai disiplin ilmu.
3. Penyelidikan yang Autentik
Penyelidikan yang diperlukan dalam pembelajaran berbasis masalah bersifat autentik. Selain itu
penyelidikan diperlukan untuk mencari penyelesaian masalah yang bersifat nyata. Siswa
menganalisis dan merumuskan masalah, mengembangkan dan meramalkan hipotesis,
mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, menarik kesimpulan dan
menggambarkan hasil akhir.
4. Menghasilkan dan Memamerkan Hasil/Karya
Pada pembelajaran berbasis masalah, siswa bertugas menyusun hasil penelitiannya dalam
bentuk karya dan memamerkan hasil karyanya. Artinya hasil penyelesaian masalah siswa
ditampilkan atau dibuatkan laporannya.
5. Kolaborasi
Pada pembelajaran masalah, tugas-tugas belajar berupa masalah harus diselesaikan bersama-
sama antar siswa dengan siswa, baik dalam kelompok kecil maupun besar, dan bersama-sama
antar siswa dengan guru.

TUJUAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penggunaan Problem-Based Learning adalah
1. Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah.
2. Belajar peranan orang dewasa yang autentik.
3. Menjadikan siswa berusaha berpikir kritis dan mampu mengembangkan kemampuan analisisnya
serta menjadi pembelajar yang mandiri.
4. Memberikan dorongan kepada peserta didik untuk tidak hanya sekedar berpikir sesuai yang bersifat
konkret tetapi lebih dari itu berpikir terhadap ide-ide yang abstrak dan kompleks.

UNSUR-UNSUR PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


Problem-Based Learning mempunyai beberapa unsur-unsur yang mendasar pada pendidikan, yaitu:
1. Integrated Learning, pembelajaran mengintegrasikan seluruh bidang pelajaran. Pembelajaran
bersifat menyeluruh melibatkan aspek-aspek perkembangan anak. Anak membangun pemikiran
melalui pengalaman langsung.
2. Contextual Learning, yaitu anak belajar sesuatu yang nyata, terjadi, dan dialami dalam
kehidupannya. Anak merasakan langsung manfaat belajar untuk kehidupannya.
3. Constructivist Learning, yaitu anak membangun pemikirannya melalui pengalaman langsung (hand
on experience).
4. Active Learning, yaitu anak sebagai subyek belajar yang aktif menentukan, melakukan dan
mengevaluasi.
5. Learning Interesting, yaitu bahwa pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan bagi anak karena
anak terlibat langsung dalam menentukan masalah.

TEORI BELAJAR YANG MENDUKUNG PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


Teori belajar yang melandasi pendekatan pembelajaran berbasis masalah Selain teori belajar
konstruktivisme, ada beberapa teori belajar lainnya yang melandasi pendekatan PBM, yaitu
1. Teori Belajar Bermakna Dari David Ausubel
Ausubel (Rusman,2010) membedakan antara belajar bermakna ( meaningfull learning) dengan
belajar menghafal ( rote learning ). Belajar bermakna merupakan proses belajar diman ainformasi
baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang belajar.
Belajar menghafal diperlukan bila seseorang memperoleh informasi baru dalam pengetahuan yang
MODEL BERBASIS MASALAH

sama sekali tidak berhubungan dengan yang telah diketahuinya. Kaitannya dengan PBM dalam hal
mengaitkan informasi baru dengan stuktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.
2. Teori Belajar Vigostsky
Perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan
menentang serta ketika berusaha untuk memecahkan masalah yang berikan. Dalam upaya
menempatkan pemahaman, individu berusaha mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan
awal yang telah dimilikinya kemuadian membangun pengetahuan baru. Rusman ( 2006:244)
vigostsky meyakini bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacuh terbentuknya ide baru dan
memperkaya perkembangan intelektual siswa. Kaitannya dengan PBM dalm hal mengaitkan
informasi baru dengan stuktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa melalui kegiatan belajar dalam
interaksi sosial dengan teman lain.
3. Teori belajar jerome S. Brunner
Metode penemuan merupakan metode dimana siswa menemukan kembali, bukan menemukan
yang sama sekali yang benar-benar baru. Belajar penemuan sesuai dengan pencarian
pengetahuan secara aktif oleh manusia dengan sendirinya memberikan hasil yang lebih kuat,
berusaha sendiri memberikan hasil yang lebih baik, berusaha sendiri mencari pemecahan masalah
serta disukung oleh pengetahuan yang menyertainya, serta menghasilkan pengetahuan yang
benar-benar bermakna

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


1. Keunggulan Problem-Based Learning
Sebagai suatu strategi pembelajaran, strategi Problem-Based Learning memiliki beberapa
keunggulan, di antaranya:
a. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk
menentukan pengetahuan baru bagi siswa.
c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentrasfer pengetahuan mereka
untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya
dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
f. Melalui pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
g. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan
mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
h. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan
pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
i. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah harus
dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru
membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia
atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa, pada tahapan ini adalah siswa
dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada.

2. Kelemahan Problem-Based Learning


Di samping memiliki keunggulan, strategi pembelajaran berbasis masalah juga memiliki beberapa
kelemahan diantaranya:
a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang
dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk
persiapan.
c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang
dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

PERAN GURU DALAM PROBLEM-BASED LEARNING


Guru harus menggunakan proses yang pembelajaran yang akan mengerakkan siswa menuju
kemandirian, kehidupan yag lebih luas, dan belajar sepanjang hayat. Lingkungan belajar yang
MODEL BERBASIS MASALAH

dibangun guru harus mendorong cara berpikir reflektif, evaluasi kritis, dan cara pikir yang berdayaguna.
Peran guru dalam PBM berbeda dengan peran guru di dalam kelas. Guru dalam PBM terus berpikir
tentang beberapa hal yaitu:
a. Bagaimana dapat merancang dan menggunakan permasalahan yang ada di dunia nyata, sehingga
siswa dapat menguasai hasil belajar?
b. Bagaimana bisa menjadi pelatih siswa dalam proses pemecahan masalah, pengarahan diri, dan
belajar dengan teman sebaya?
c. Dan bagaiaman siswa memandang diri mereka sendiri sebagai pemecahan masalah yang aktif?

Guru dalam Pembelajaran Berbasis Masalah juga memusatkan perhatiannya pada: 1) menfasilitasi
proses PBM, mengubah cara berfikir, mengembangkan ketrampilan inquiry, menggunakan
pembelajaran kooperatif; 2) melatih siswa tentang strategi pemecahan masalah; pemberian alas an
yang mendalam, metakognisi, berpikir kritis, dan berpikir secara system; dan 3) menjadi perantara
proses penguasaan informasi; meneliti lingkungan informasi, mengakses sumbe informasi yang
beragam, dan mengadakan koneksi.
1. Menyiapkan Perangkat Berpikir Siswa
Beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk menyiapkan siswa dalam PBM adalah: 1) membantu
siswa mengubah cara berpikir; 2) menjelaskan apakah PBM itu? Pola apa yang dialami oleh siswa?;
3) memberi siswa ikhtisar siklus PBM, struktur, dan batasan waktu; 4) mengomunikasikan tujuan,
hasil dan harapan; 5) menyiapkan siswa untuk pembaruan dan kesulitan yang akan menghadang;
dan 6) membantu siswa merasa memiliki masalah.
2. Menekankan Belajar Kooperatif
PBM menyediakan cara untuk inqury yang bersifat kolaborasi dan belajar Bray,dkk dalam Rusman
(2011;235) mengambarkan inquiry kolaboratif sebagai proses di mana orang melakukan refleksi dan
kegiatan secara berulang-ulang, mereka bekerja dalam tim untuk menjawab pertanyaan penting. Dari
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pada Pembelajaran Berbasis Masalah lebih menekankan
pembelajaran inquiry kolaboratif yang di kerjakan dengan tim secara berkelompok.
3. Memfasilitasi Pembelajaran Kelompok Kecil dalam Pembelajaran Berbasis Masalah
Belajar dalam kelompok kecil lebih mudah dilakukan apabila anggota berkisar antara 1 sampai 10
siswa atau bahkan lebih sedikit dengan satu orang guru. Guru dapat menggunakan berbagai teknik
belajar kooperatif untuk mengabungkan kelompok-kelompok tersebut dalam langkah-langkah yang
beragam dalam siklus PBM untuk menyatukan ide, berbagai hasil belajar, dan penyajian ide.
4. Melaksanakan Pembelajaran Berbasis Masalah
Guru mengatur lingkungan belajar untuk mendorong penyatuan dan pelibatan siswa dalam masalah.
Guru juga memaikan peran aktif dalam memfasilitasi inquiry kolaboratif dan proses belajar siswa.

Dalam Pembelajaran Berbasis Masalah guru mempunyai peranan tertentu sebagaimana telah diuraikan
di atas, berikut ini kami menyajikan 3 fase Pembelajaran Berbasis Masalah menurut Tsuruda
(http://pasca.undiksha.ac.id)
Fase sebelum pembelajaran.
 memastikan bahwa siswa-siswa memahami masalah yang diberikan
 menjelaskan hal-hal yang diharapkan dari siswa
 menyiapkan mental para siswa untuk menyelesaikan masalah dan pengetahuan yang telah siswa
miliki yang akan berguna untuk membantu dalam memecahkan
Fase selama pembelajaran.
 memberikan siswa kesempatan untuk bekerja tanpa petunjuk dari guru atau hindari memberikan
bantuan di awal kerja siswa
 menggunakan waktu untuk mendeteksi perbedaan –perbedaan siswa berfikir, ide-ide yg digunakan
dlm memecahkan masalah
Fase sesudah pembelajaran.
 siswa-siswa akan bekerja sebagai komunitas belajar, berdiskusi, menguji dan menghadapi berbagai
macam penyelesaian yang diperoleh siswa
 menggunakan kesempatan ini untuk mengetahui cara siswa berfikir dan cara mereka mendekati
permasalahan
 membuat ringkasan ide-ide pokok dan mengidentifikasi masalah-masalah untuk kegiatan
selanjutnya.
MODEL BERBASIS MASALAH

KRITERIA PEMILIHAN BAHAN PELAJARAN UNTUK PROBLEM-BASED LEARNING


Kriteria pemilihan bahan pelajaran untuk Problem-Based Learning adalah sebagai berikut:
a. Bahan pelajaran mengandung isu-isu konflik (conflict issue) bersumber dari berita, rekaman, dan
video.
b. Bahan yang dipilih bersifat familiar dengan siswa.
c. Bahan yang dipilih yang berhubungan dengan orang banyak (universal).
d. Bahan yang dipilih yang mendukung tujuan atau kompetensi yang dimiliki oleh siswa sesuai dengan
kurikulum yang berlaku.
e. Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.

TAHAPAN PEMECAHAN MASALAH DALAM PROBLEM-BASED LEARNING


Tahapan pemecahan masalah sangat bergantung pada kompleksitas masalahnya. Untuk masalah yang
kompleks karena cakupan dan dimensinya sangat luas, maka langkah-langkah pemecahan masalah
dengan pendekatan akademik dapat dilakukan. Permasalahan yang sederhana dengan cakupan dan
dimensi yang rela sempit dan praktis dapat dipecahkan dengan tahapan-tahapan yang sederhana dan
praktis pula. Kedua jenis tahapan tersebut adalah sebagai berikut ini.
1) Tahapan pemecahan masalah secara akademik
Secara akademik tahapan pemecahan masalah yang kompleks adalah sebagai berikut:
a. Kesadaran akan adanya masalah
b. Merumuskan masalah
c. Membuat jawaban sementara atas masalah atau hipotesis
d. Mengumpulkan data atau fakta-fakta
e. Menganalisis data atau fakta-fakta sebagai pengujian hipotesa
f. Membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengujian hipotesa \
g. Membuat alternatif pemecahan masalah
h. Menetapkan pilihan diantara alternatif pemecahan masalah
i. Menyusun rencana upaya pemecahan masalah
j. Melaksanakan upaya pemecahan masalah
k. Mengevaluasi hasil pemecahan masalah
2) Tahapan pemecahan masalah secara praktis
Tahapan pemecahan masalah yang lebih praktis adalah sebagai berikut:
a. Kesadaran akan adanya masalah
b. Merumuskan masalah
c. Mencari alternatif pemecahan masalah
d. Menetapkan pilihan diantara alternatif pemecahan masalah
e. Melaksanakan pemecahan masalah
f. Evaluasi hasil pemecahan masalah

Mencermati tahapan-tahapan pemecahan masalah baik yang bersifat akademik maupun yang bersifat
lebih praktis, ada dua langkah atau tahapan yang ada dikedua pendekatan tersebut yaitu, perumusan
masalah dan pemilihan alternatif pemecahan masalah. Ada dua hal yang perlu yang dikemukakan
terkait dengan keterkaitan antara rumusan masalah dan penetapan pilihan pemecahan masalah
pendekatan pengambilan Keputusan sebagaimana diuraikan berikut ini.
1) Keterkaitan rumusan masalah dan pemecahan masalah
Ada empat kemungkinan hubungan antara rumusan masalah dan keputusan atau solusinya yakni:
 Kemungkinan 1: rumusan masalah benar dan pemecahan yang benar.
 Kemungkinan 2: rumusan masalah benar tetapi pemecahannya salah.
 Kemungkinan 3: rumusan masalah salah tetapi pemecahannya benar.
 Kemungkinan 4: rumusan masalah salah dan pemecahannya salah.
Mencermati keempat kemungkinan hubungan antara rumusan masalah berikut solusinya, maka
dapat dipahami mengapa perumusan masalah sangat penting dalam proses pembuatan keputusan
dalam proses pemecahan atau solusi pemecahan dan sebuah masalah.
MODEL BERBASIS MASALAH

2) Jenis-jenis pendekatan pengambilan keputusan


Pendekatan yang digunakan dalam pengambilan Keputusan akan mempengaruhi langkah-langkah
dan informasi yang diperlukan. Ada empat kemungkinan pendekatan yang digunakan dalam
pengambilan keputusan (Diajeng, 2002 halaman: 81-83), yaitu:
 Keputusan yang didasarkan pada intuisi.
 Keputusan yang didasarkan pada pengalaman.
 Keputusan yang didasarkan pada kekuasaan.
 Keputusan yang didasarkan pada fakta.
Dari keempat pendekatan tersebut, hanya keputusan yang berdasarkan fakta yang merupakan
keputusan bersifat akademik karena menggunakan fakta sehingga obyektif dan dapat
dipertanggungjawabkan alasannya secara obyektif. Ketiga pendekatan lainnya lebih bersifat
subyektif sekalipun dalam prosesnya dimungkinkan menggunakan fakta tadi dalam skala yang
terbatas sekali.

SINTAKS PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

Fase Aktivitas Guru Aktivitas Siswa


Fase 1
Orientasi siswa Guru mrnyampaikan tujuan belajar, Siswa mendengarkan tujuan belajar
terhadap menjelaskan logistik yang diperlukan, dan yang disampaikan oleh guru dan
masalah autentik memotivasi menggunakan mempersiapkan logistik yang
kemampuannya memecahkan maslah. diperlukan.

Fase 2
Mengorganisasi Guru membantu siswa mendefinisikan Siswa mendefinisikan dan
siswa dalam dan mengorganisasikan tugas belajar mengorganisasikan tugas belajar
belajar yang diangkat. yang di angkat.
Fase 3
Membantu siswa Guru mendorong siswa untuk Siswa mengumpulkan informasi yang
secara individual mengumpulkan informasi yang sesuai, sesuai, melaksanakan eksperimen,
atau kelompok melaksanakan eksperimen, untuk dan berusaha menemukan jawaban
dalam memperoleh jawaban yang sesuai atas atas masalah yang di angkat.
melaksanakan masalah.
penelitian
Fase 4
Mengembangkan Guru membantu siswa dalam Siswa merencanakan dan
dan menyajikan merencanakan dan menyiapkan karya menyiapkan karya,video, dan
hasil karya seperti laporan, video, model-model dan menyampaikannya pada teman lain.
membantunya untuk menyampaikan
kepada teman lain.

Fase 5
Analisis dan Guru membantu siswa melakukan refleksi Siswa melakukan refleksi kegiatan
evaluasi proses kegiatan penyelidikannya dan proses penyelidikannya dan proses yang
pemecahan yang telah dilakukan dilakukan.
masalah.

EVALUASI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


Seperti yang telah disebutkan bahwa model Problem-Based Learning tidak dirancang untuk
membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Dalam Problem-Based
Learning, perhatian pembelajaran tidak hanya pada perolehan pengetahuan deklaratif, tetapi juga
perolehan pengetahuan prosedural. Oleh karena itu, penilaian tidak cukup hanya dengan tes. Penilaian
MODEL BERBASIS MASALAH

dan evaluasi yang sesuai dengan model Problem-Based Learning adalah menilai pekerjaan yang
dihasilkan oleh siswa sebagai hasil penyelidikan mereka.
Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan siswa tersebut, penilaian itu antara lain
asesmen kenerja, asesmen autentik dan portofolio. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat
bagaimana siswa merencanakan pemecahan masalah melihat bagaimana siswa menunjukkan
pengetahuan dan keterampilan. Karena kebanyakkan problema dalam kehidupan nyata bersifat dinamis
sesuai perkembangan zaman dan konteks lingkungannya, maka perlu dikembangkan model
pembelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif mengembangkan kemampuannya untuk belajar
(Learning how to learn). Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan siswa akan mudah
beradaptasi.

PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


a. Aspek Penilaian
Penilaian dalam Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based Learning (PBL)
dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap
(attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan
pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS),
kuis, PR, dokumen, dan laporan.
Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik
software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian
terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam
diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian
untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.
b. Teknik Penilaian
Penilaian Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based Learning (PBL)
dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan
kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan
belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran.
Penilaian dalam Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based Learning (PBL)
dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment.
 Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usaha-usahanya
dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar
itu sendiri dalam belajar.
 Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap
upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman
dalam kelompoknya.
Penilaian yang relevan dalam Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based
Learning (PBL) antara lain berikut ini.
1. Penilaian kinerja peserta didik. Pada penilaian kinerja ini, peserta didik diminta untuk unjuk kerja
atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu, seperti menulis
karangan, melakukan suatu eksperimen, menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah,
memainkan suatu lagu, atau melukis suatu gambar.
2. Penilaian portofolio peserta didik. Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang
didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta
didik dalam suatu periode tertentu. Informasi perkembangan peserta didik dapat berupa hasil
karya terbaik peserta didik selama proses belajar, pekerjaan hasil tes, piagam penghargaan,
atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran. Dari
informasi perkembangan itu peserta didik dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai
dan peserta didik terus berusaha memperbaiki diri. Penilain dengan portofolio dapat dipakai
untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Penilaian kolaboratif dalam PBL
dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment. Self assessment
adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil
pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu sendiri dalam
belajar. Peer assessment adalah penilian dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan
penilaian upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman
dalam kelompoknya.
MODEL BERBASIS MASALAH

3. Penilaian Potensi Belajar. Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik
yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-
temannya yang lebih maju. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan
peserta didik untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya.
4. Penilaian Usaha Kelompok. Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran
kooperatif dapat dilakukan pada PBL. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi
merugikan yang sering terjadi, misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya.
Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah
menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan
mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama.
5. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik tersebut, penilaian ini
antara lain: 1).assesment kerja, 2). assesment autentik dan 3). portofolio. Penilaian proses
bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana peserta didik merencanakan pemecahan masalah,
melihat bagaimana peserta didik menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya.
6. Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan
dalam situasi yang sebenarnya. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis
sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya, maka di samping
pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan
kurikulum yang memungkinkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka
berpikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning
how to learn). Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan
mudah beradaptasi. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai
dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan peserta didik untuk menyelidiki
lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna.
c. Tahap Penilaian
Tahap penilaian pada Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based
Learning (PBL) terdiri atas tiga hal :
 Bagaimana peserta didik dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses
 Bagaimana mereka menerapkan tahapan PBM untuk bekerja melalui masalah
 Bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan akan masalah
atau sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian
atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam, misalnya secara lisan atau
verbal, laporan tertulis, atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya.
Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan
cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain).
MODEL PENCAPAIAN KONSEP
Pembelajaran model pencapaian konsep adalah suatu strategi mengajar bersifat induktif didefinisikan
untuk membantu siswa dari semua usia dalam memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep yang
dipelajari dari melatih menguji hipotesis. Model tersebut pertama kali diciptakan oleh Joyce dan Weil
(dalam Gunter, Este, dan Schwab, 1990: 1972) yang berpijak pada karya Bruner, Goodnow, dan Austin.
Model pencapaian konsep menurut pendapat para ahli:
 Bruner, Goodnow, dan Austin (dalam Suherman 1992 ; 35) menyatakan :
“Model pencapaian konsep sengaja dirancang untuk membantu para siswa mempelajari konsep-
konsep yang dapat dipakai untuk mengorganisasikan informasi, sehingga dapat memberi
kemudahan bagi siswa untuk mempelajari konsep itu dengan cara yang lebih efektif”.
 Kauchak dan Eggen (1996 ; 104) menyatakan:
“Model pencapaian konsep adalah suatu strategi pembelajaran induktif yang didesain untuk
membantu siswa pada semua usia dalam mempelajari konsep dan melatih pengujian hipotesis”.
 Suherman dan Saripuddin (1992 ; 35) menyatakan:
“Salah satu keunggulan model pencapaian konsep adalah meningkatkan kemampuan untuk belajar
dengan cara lebih mudah dan lebih efektif”

Pembelajaran model pencapaian konsep terdiri dari empat langkah antara lain :
 Penyajian contoh
 Analisis hipotesis
 Fase penutup
 Aplikasi atau penerapan

Model pencapaian konsep merupakan salah satu model pembelajaran kelompok pengolahan informasi.
Model pencapaian konsep adalah model pembelajaran yang dirancang untuk menata atau menyusun
data sehingga konsep-konsep penting dapat dipelajari secara tepat dan efisien. Model pencapaian
konsep bermanfaat untuk memberikan pengalaman metode sains kepada para siswa dan secara khusus
menguji hipotesis. Model ini memiliki pandangan bahwa para siswa tidak hanya dituntut mampu
membentuk konsep melalui proses pengklasifikasian data akan tetapi mereka juga harus dapat
membentuk susunan suatu konsep dengan kemampuannya sendiri.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pencapaian Konsep:


Kelebihannya:
 Salah satu keunggulan dari model pencapaian konsep ini ialah meningkatkan kemampuan untuk
belajar dengan cara yang lebih mudah dan efektif dimasa depan.
 Lebih mengaktifkan keterlibatan mental, sehingga konsep yang diperoleh siswa lebih lama dapat
diingat dan akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Kekurangannya:
 Dibutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama untuk pembuatan dan pengembangan perangkat
pembelajaran.
 Bila jumlah siswa dalam satu kelas sangat besar, maka pengajar akan kesulitan dalam membimbing
siswa yang membutuhkan bimbingan.
***

Pengertian Model Pembelajaran Pencapaian Konsep


Model pembelajaran pencapaian konsep dikembangkan oleh Bruner (Joyce, 2010:32). Bruner,
Goodnow, dan Austin (1967) dalam Joyce (2010:125) menyatakan bahwa pencapaian konsep
merupakan proses menvariasi dan mendaftar sifat-sifat yang dapat digunakan untuk membedakan
contoh-contoh yang tepat dengan contoh yang tidak tepat dari berbagai kategori.
Model pembelajaran pencapaian konsep ini relatif berkaitan erat dengan model pembelajaran
induktif. Baik model pembelajaran pencapaian konsep dan model pembelajaran induktif, keduanya
didesain untuk menganalisis konsep, mengembangkan konsep, pengajaran konsep dan untuk menolong
siswa menjadi lebih efektif dalam mempelajari konsep-konsep. Model pembelajaran pencapaian konsep
merupakan metode yang efisien untuk mempresentasikan informasi yang telah terorganisir dari suatu
topik yang luas menjadi topik yang lebih mudah dipahami untuk setiap stadium perkembangan konsep.
Model pembelajaran pencapaian konsep ini dapat memberikan suatu cara menyampaikan konsep dan
mengklarifikasi konsep-konsep serta melatih siswa menjadi lebih efektif pada pengembangan konsep.
Joyce (2010:128) menyatakan bahwa pengajaran konsep menyediakan kemungkinan–
kemungkinan untuk menganalisis proses-proses berpikir siswa dan membantu mereka mengembangkan
MODEL PENCAPAIAN KONSEP
strategi-strategi yang lebih efektif. Dari pernyataan Joyce tersebut menunjukkan bahwa model
pembelajaran pencapaian konsep menekankan pada proses mengembangkan keterampilan berpikir
siswa.
Lebih jauh Joyce (2010:128) mengungkapkan dalam pencapaian konsep dikenal istilah seperti
contoh (exemplar) dan sifat (attribute) dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Contoh-contoh
Contoh-contoh merupakan bagian kecil dari koleksi data atau perangkat data.
2. Sifat-sifat
Sifat-sifat merupakan fitur-fitur atau karakteristik yang melekat pada contoh – contoh.

Penggunaan model pembelajaran pencapaian konsep diawali dengan pemberian contoh-contoh


aplikasi konsep yang akan diajarkan, kemudian dengan mengamati contoh-contoh dan menurunkan
definisi dari konsep-konsep tersebut. Hal yang paling utama yang harus diperhatikan oleh seorang guru
dalam penggunaan model pembelajaran ini adalah pemilihan contoh yang tepat untuk konsep yang
diajarkan, yaitu contoh tentang hal-hal yang akrab dengan siswa. Pada prinsipnya, model pembelajaran
pencapaian konsep adalah suatu strategi mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep
kepada siswa, dimana guru mengawali pengajaran dengan cara menyajikan data atau contoh, kemudian
guru meminta kepada siswa untuk mengamati dan menguji data atau contoh tersebut. Model
pembelajaran pencapaian konsep ini dapat membantu siswa pada semua tingkatan usia dalam
memahami tentang konsep dan latihan pengujian hipotesis.

Ada dua hal penting dalam pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran pencapaian
konsep yaitu;
1. Menentukan Tingkat Pencapaian Konsep
Tingkat pencapaian konsep (concept attainment) yang diharapkan dari siswa sangat tergantung
pada kompleksitas dari konsep, dan tingkat perkembangan kognitif siswa. Ada siswa yang belajar
konsep pada tingkat konkret rendah atau tingkat identitas, ada pula siswa yang mampu mencapai
konsep pada tingkat klasifikatori atau tingkat formal.
2. Analisis Konsep
Analisis konsep merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk membantu guru dalam
merencanakan urutan-urutan pengajaran pencapaian konsep. Untuk melakukan analisis konsep
guru hendaknya memperhatikan beberapa hal antara lain:
(1) nama konsep,
(2) attribute-attribute kriteria dan attribute-attribute variabel dari konsep,
(3) definisi konsep,
(4) contoh-contoh dan noncontoh dari konsep, dan
(5) hubungan konsep dengan konsep-konsep lain.

Sintaks dari Model Pembelajaran Pencapaian Konsep


Model pembelajaran pencapaian konsep dilakukan melalui fase-fase yang dikemas dalam bentuk
sintaks. Adapun sintaksnya dibagi ke dalam tiga fase, yakni:
Fase I. Presentasi data dan identifikasi data.
Pada fase I, guru mempresentasikan data kepada siswa. Setiap unit data contoh dan non-contoh
setiap konsep dipisahkan. Unit-unit dipresentasikan dengan cara berpasangan. Data dapat berupa
peristiwa, masyarakat, objek, cerita, gambar atau unit lain yang dapat dibedakan. Siswa dapat bertanya
untuk membandingkan dan menjastifikasi atribut tentang perbedaan contoh-contoh. Joyce, dkk (2010:
136) menyatakan bahwa pembelajar (siswa) diberitahu bahwa seluruh contoh positif memiliki satu
gagasan umum, tugas mereka adalah mengembangkan suatu hipotesis tentang sifat dari konsep
tersebut.
Pada bagian akhir fase ini siswa dapat ditanya tentang hipotesis yang disusunnya dan
menyatakan aturan yang telah dibuatnya atau mendefinisikan konsepnya menurut attribute yang
bersesuaian dari contoh-contoh yang diberikan. Hipotesis ini tidak perlu dikonfirmasikan hingga fase
berikutnya.
Fase II. Menguji pencapaian dari suatu konsep.
Pada fase II, siswa menguji penemuan konsep mereka, pertama-tama dengan cara
mengidentifikasi secara tepat contoh-contoh tambahan yang belum diberi nama dan kemudian
membangkitkan contoh-contohnya sendiri (Joyce, dkk, 2010:136). Menguji penemuan konsep dapat
dilakukan juga melalui sebuah eksperimen yang akan menunjukkan secara langsung prilaku dari contoh-
MODEL PENCAPAIAN KONSEP
contoh yang diuji, sehingga siswa dapat langsung merumuskan kebenaran hipotesis yang
telah dirumuskannya diawal.
Selanjutnya guru (dan siswa) dapat membenarkan atau tidak membenarkan hipotesis mereka,
merevisi pilihan konsep atau sifat-sifat yang mereka tentukan sebagaimana mestinya. Hal ini dapat
dilakukan dengan membandingkan konsep yang diperoleh dari perumusan hipotesis dan pengujiannya
melalui eksperimen dengan konsep yang dikembangkan ilmuan. Atau dengan kata lain, dilakukan
perbandingan antara ide yang dimunculkan siswa dengan ide ilmuan.
Fase III. Analisis Strategi – Strategi Berpikir.
Pada fase III, siswa menganalisis strategi-strategi dengan segala hal yang mereka gunakan
untuk mencapai konsep (Joyce, dkk, 2010:137). Setelah membandingkan idenya dengan ide ilmuan,
siswa telah mendapatkan gambaran apakah strategi berpikir yang digunakannya untuk merumuskan
hipotesis dan pengujian akan membawa pemikirannya menuju konsep yang benar. Secara bertahap
siswa dapat membandingkan keefektifan dari berbagai strategi yang telah digunakannya. Kemudian
siswa dapat mengkonstruksikan konsep yang baru didapatnya kedalam pengetahuannya.

Tabel.13.1 Struktur pengajaran model pencapaian konsep


( adaptasi dari Joyce, 2009:136)
Fase Tingkah Laku Guru dan Siswa
Fase I Guru menyajikan contoh – contoh yang telah dilabeli
Penyajian Data dan Identifikasi Konsep Siswa membandingkan sifat – sifat / ciri – ciri dalam
contoh – contoh positif dan contoh – contoh negatif
Siswa menjelaskan sebuah defenisi menurut sifat – sifat /
ciri – ciri yang paling esensial
Fase II Siswa mengidentifikasi contoh – contoh tambahan yang
Pengujian Pencapaian Konsep tidak dilabeli dengan tanda ya dan tidak
Guru menguji hipotesis, menamai konsep, dan
menyatakan kembali defenisi – defenisi menurut sifat –
sifat / ciri – ciri yang paling esensial
Siswa membuat contoh – contoh
Fase III Siswa mendeskripsikan pemikiran – pemikiran
Analisis Strategi – Strategi Berpikir Siswa mendiskusikan peran sifat – sifat dan hipotesis –
hipotesis
Siswa mendiskusikan jenis dan ragam hipotesis
MODEL PEMBELAJARAN INTEGRATIF

Model Pembelajaran Integratif | Model Integratif adalah suatu model pembelajaran yang bersifat induktif
secara konseptual berdasar pada aliran konstruktivis dalam hal belajar. Menurut pandangan
konstruktivisme belajar merupakan proses aktif dari si subjek belajar untuk merekonstruksikan makna
dengan cara mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan
pengertian yang sudah dimiliki, pengertiannya menjadi berkembang (Sardiman, 2003 : 32). Prinsip dalam
belajar menurut pandangan konstrutivisme ada lima, yaitu :
1. Belajar berarti mencari bermakna,
2. Konstruksi makna adalah proses yang terus menerus,
3. Belajar merupakan pengembangan pemikiran yang membuat pengertian yang baru,
4. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subjek belajar dengan dunia fisik dan lingkungan,
5. Hasil belajar dengan apa yang telah diketahui subjek belajar, dan motivasi yang mempengaruhi
interaksi dengan bahasa yang sedang
Pembelajaran model integratif terkait erat dengan model induktif dalam hal struktur dan pelaksanaan.
Perbedaan mendasar antara kedua model tersebut terkait dengan topik yang diajarkan untuk masing-
masing model. Untuk model induktif didesain untuk mengajarkan topik-topik tertentu dalam bentuk konsep,
generalisasi, prinsip, dan aturan-aturan akademik, sedangkan model integratif didesain untuk
mengajarkan kombinasi topik-topik itu yang berbentuk isi yang luas, mengorganisasi anatomi
pengetahuan (Usman, 2006:1).

Tujuan Model Pembelajaran Integratif


Untuk mencapai iklim yang mendukung pembelajaran integratif perlu diperhatikan:
1. Tersedianya informasi yang dapat dianalisis oleh siswa,
2. Siswa harus memainkankan peran aktif dalam proses mengkonstruksi pemahaman mereka
sendiri,
3. Siswa harus diberi keleluasaan untuk melatih berpikir tingkat tinggi dan berpikir kritis. Seperti
menemukan pola, menjelaskan kesamaan dan perbedaan, membuat hipotesis, mengeneralisasi,
dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti atau fakta.
Model integratif membutuhkan lingkungan kelas sedemikian sehingga siswa merasa bebas untuk
mengambil resiko dan menawarkan kesimpulan, membuat dugaan, mengajukan fakta-fakta tanpa merasa
takut dari kecaman atau rasa malu. Model integratif didesain untuk mencapai dua sasaran belajar yang
saling terkait, yaitu:
 Membantu siswa menyusun pemahamannya
Melalui pembelajaran integratif siswa dibimbing agar dapat membentuk atau menyusun anatomi
pengetahuan baru.
 Melatih siswa berpikir kritis
Melalui pembelajaran integratif siswa dilatih berpikir kritis dengan mengkonstruksikan makna
dengan cara mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya
dengan pengertian yang sudah dimilikinya.
Dalam menerapkan model integratif guru harus trampil di dalam mengajukan pertanyaan-
pertanyaan siswa. Proses perencanaan model integratif serupa dengan perencanaan model
induktif ataupun model pencapaian konsep antara lain yaitu menetapkan topik, menetapkan
sasaran belajar, dan mempersiapkan sajian materi pelajaran.

Fase-fase Pembelajaran Model Integratif


Model integratif dilaksanakan dalam empat fase yang terkait erat, yaitu:
 Fase 1: Menggambarkan, membandingkan dan menyelidiki pola
Ciri-ciri fase 1 yaitu siswa mengawali analisis mereka tentang informasi yang ada dalam matriks. Cara
mengawali fase 1 bergantung pada pilihan dan keputusan guru masing-masing dengan memperhatikan
tingkat perkembangan siswa.
 Fase 2: Menjelaskan kesamaan(keserupaan) dan perbedaan
Fase ini ditandai dengan menggiring siswa masuk kedalam proses berpikir tingkat tinggi dan berpikir kritis.
Pada fase 2 ini guru dituntut mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pada fase1 di atas siswa hanya
diminta membuat observasi atau menetapkan kesamaan atau perbedaan, sementara pada fase 2 ini siswa
diminta untuk menjelaskan perbedaan, mengapa kesamaan atau perbedaan itu ada.
 Fase 3: Menghasilkan hipotesis dari keadaan yang berbeda
Fase 3 menandai satu langkah tambahan dalam mengembangkan kemampuan siswa untuk mengolah
informasi.
MODEL PEMBELAJARAN INTEGRATIF

 Fase 4: Generalisasi untuk membentuk relasi yang luas


Pada fase ini pelajaran diringkas dan ditutup ketika siswa mendapat satu atau lebih generalisasi yang
berfungsi untuk meringkas isi pelajaran. Pada saat siswa membuat ringkasan, guru menulis pernyataan-
pernyataan ringkasan itu di papan tulis. Hal ini memudahkan untuk mengecek mengenai ketepatan
ringkasan itu dan meminta siswa menambahkannya jika perlu.
Pada pembelajaran integratif di atas urutan fase-fasenya tidak bersipat hierarki dalam arti urutan tersebut
tidak kaku. Seorang guru mungkin bergerak langsung dari membandingkan pada fase 1 kepembuatan
hipotesis pada fase 3 (Usman, 2006: 9). Keempat fase ini, lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel Sintak Model Pembelajaran Integratif


No. Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Fase
1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Memperhatikan penjelasan guru

2 Mengorganisasi siswa dalam kelompok


Mencatat nama-nama kelompok dan
belajar dan membagikan LKS
membentuk kelompok kecil

3 a. Meminta siswa mengobservasi dan


menganalisis informasi pada chart a. Menganalisis informasi pada chart
informasi informasi
b. Meminta siswa mencari persamaan dan b. Mencari persamaan dan perbedaan Fase 1
perbedaan pada kubus dan balok pada kubus dan balok

4 Mengajukan pertanyaan untuk mengetahui


tingkat pemikiran siswa dalam menganalisis Menjawab pertanyaan
Fase 2

5 Membimbing siswa dan menganalisis


hipotesis Menyusun hipotesis Fase 3

6 Membimbing siswa mencari generalisasi


untuk meringkas isi pelajaran Mencari generalisasi Fase 4

7 Memberi tes individu Mengerjakan tes individu


8 Memberikan penghargaan kepada kelompok
Menerima penghargaan berdasarkan hasil
yang dapat bekerja dengan baik
kerja kelompok

( Usman, 2006: 10)

Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Integratif


Tiga langkah penerapan model pembelajaran integratif, yakni :
Pertama: Mengidentifikasi topik
Topik yang paling efektif yang diajarkan dalam awal pembelajaran integratif adalah topik yang
mengorganisasi (menyusun struktur pengetahuan yaitu topik yang mengkombinasikan fakta-fakta,
konsep, generalisasi dan relasi satu sama lain).
Kedua: Menetapkan tujuan
Penetapan tujuan meliputi :
 Tujuan isi materi pelajaran berfokus pada hasil belajar (out come)
 Tujuan pembentuk siswa berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi dengan berfokus pada proses
menemukan pola, menjelaskan kesamaan dan perbedaan, menggeneralisasi dan mendapatkan
kesimpulan sesuai dengan fakta dengan bukti.
Ketiga: Mempersiapkan bahan dan membuat akurasi data
Agar data akurat maka guru harus membuat matriks data berkenaan dengan topik yang akan diajarkan.
MODEL PEMBELAJARAN INTEGRATIF

Teori-teori Yang Mendukung Model Pembelajaran Integratif


Teori-teori yang berkaitan dengan pembelajaran integratif:
 Teori Belajar Bruner
Bruner (Slameto, 2003:11) berpendapat alangkah baiknya bila sekolah menyediakan kesempatan bagi
siswa untuk maju dengan cepat sesuai dengan kemampuan siswa dalam mata pelajaran tertentu. Untuk
meningkatkan proses belajar perlu lingkungan yang dinamakan “discovery learning environment”, yaitu
lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi dan penemuan-penemuan baru. Pada
pembelajaran integratif saat siswa menganalisis informasi, siswa akan memperoleh penemuan-penemuan
baru yaitu ciri-ciri kubus dan balok.
 Teori Belajar Gagne
R.Gagne (Slameto, 2003:13) mendefinisikan belajar sebagai “proses untuk memperoleh informasi dan
pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku”. Pembelajaran integratif menerapkan teori
belajar Gagne yaitu siswa yang meneruskan sosialisasi tanpa pertentangan untuk membantu memenuhi
kebutuhan konsiderasi siswa serta menggunakan simbol-simbol yang menyatakan keadaan sekelilingnya
seperti gambar, huruf, angka, diagram dan sebagainya.
 Teori Belajar Bermakna
Teori ini berlaku pada siswa yang sudah dapat membaca dengan baik dan telah memiliki konsep dasar
pada pelajaran tertentu. Menurut Ausabel (Slameto, 2003:24) “belajar bermakna merupakan proses
menguasai informasi baru dengan jalan menghubungkan dengan apa yang diketahuinya”.
Pada pembelajaran integratif guru perlu mengembangkan pengetahuan prasyarat siswa guna membentuk
pemahaman awal siswa pada konsep kubus dan balok. Pemahaman awal tersebut kemudian
diintegrasikan ke dalam struktur kognetif yang telah ada, Teori disusun kembali dan diubah untuk
menghasilkan pengetahuan baru.
 Teori belajar Vygotsky
Vygotsky (Ibrahim, 2000:18) percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada individu berhadapan
dengan pengalaman baru dan menantang. Dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah
yang dimunculkan oleh pengalaman ini.
Pada pembelajaran integratif siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil sehingga dapat memberikan
peluang bagi mereka untuk berintegrasi dengan teman lain dalam menganalisa informasi.