Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rah
mat dan karuniaNya lah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita
semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita khususnya bagi penulis. Memang makal
ah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca d
emi perbaikan menuju arah yang lebih baik.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................


DAFTAR ISI...................................................................................................

BAB I Pendahuluan ......................................................................................


A. Latar Belakang .......................................................................
B. Tujuan .....................................................................................
C. Ruang lingkup ........................................................................

BAB II LANDASAN TEORITIS..................................................................

A. Pengertian Osteoatritis.....................................................................

B. Etiologi Osteoatritis.........................................................................

C. Manifestasi Klinis Osteoartritis.......................................................

D. Faktor Resiko Osteoartritis.............................................................

E. Pencegahan Osteoartritis.................................................................

F. Pemeriksaan Penunjang Osteoartritis..............................................

G. Penatalaksanaan Osteoartritis.........................................................

H. Terapi Osteoartritis.........................................................................

I. Penatalaksanaan...............................................................................

BAB III TINJAUAN KASUS

 Tinjauan kasus
BAB IV PENUTUP ........................................................................................
A. Kesimpulan ............................................................................
B. Saran ......................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin
meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut
pada semua organ dan jaringan tubuh.

Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan
jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan
reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut
yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah osteoartritis. Kejadian
penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia.

Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat


menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi
otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan baik.
Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita reumatik. Bagaimana
timbulnya kejadian reumatik ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat
dimengerti. Tak kenal maka tak sayang, mungkin istilah ini tepat untuk
menggambarkan ketakutan seseorang saat divonis oleh dokter menderita rematik.
Rematik bukanlah akhir dari segalanya, oleh karena itu kenalilah sejak dini tanda-
tandanya. Setiap jenis remaik memiliki gejala yang berbeda-beda. Jika dua orang
mengeluh nyeri pada lutut belum tentu keduanya menderita jenis yang sama.

Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia
lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada
usia diatas 60 tahun.

Secara klinis osteoartritis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi


dan hambatangerak pada sendi-sendi tangan dan sendi besar. Seringkali berhubungan
dengan trauma maupun mikrotrauma yang berulang-ulang, obesitas, stress oleh beban
tubuh dan penyakit-penyakit sendi lainnya.
1.2 Tujuan

Tujuan Umum :

Agar mahasiswa dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan yang tepat bagi lansia
dengan penyakit osteoatritis.

Tujuan Khusus :

Kami sebagai perawat memahami pengkajian asuhan keperawatan, perencanaan


tindakan, diagnosa keperawatan, evaluasi tindakan, dan mendokumentasikan tindakan
pada kasus lansia dengan penyakit osteoatritis.

1.3 Ruang Lingkup

A. Pengertian Osteoatritis

B. Etiologi Osteoatritis

C. Manifestasi Klinis Osteoartritis

D. Faktor Resiko Osteoartritis

E. Pencegahan Osteoartritis

F. Pemeriksaan Penunjang Osteoartritis

G. Penatalaksanaan Osteoartritis

H. Terapi Osteoartritis

I. Penatalaksanaan
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Osteoartritis
Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut.
Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60
tahun. Penyakit ini merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang
lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri,
deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi – sendi tangan dan sendi
besar yang menanggung beban.
Penyakit Sendi Degeneratif ( osteoartritis) adalah penyakit kerusakan tulang rawan
sendi yang berkembang lambat dan penyebabnya belum diketahui (Kalim, IPD,1997).Atau
gangguan pada sendi yang bergerak ( Price & Wilson,1995). Osteoarthritis yang juga
dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau osteoarthritis (sekalipun terdapat
inflamasi) merupakan kelainan sendi yang paling sering ditemukan dan kerapkali
menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas).

B. Etiologi Osteoartritis

Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor
resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah :
1. Umur.
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah yang
terkuat. Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya
umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40
tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun.
2. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering terkena
osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun
frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun
frekuensi oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan
adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.
3. Genetik
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal, pada ibu dari
seorang wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali
lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, dan anak-anaknya perempuan
cenderung mempunyai tiga kali lebih sering dari pada ibu dananak perempuan dari
wanita tanpa osteoarthritis.
4. Suku.
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat perbedaan
diantara masing-masing suku bangsa, misalnya osteoartritis paha lebih jarang diantara
orang-orang kulit hitam dan usia dari pada kaukasia. Osteoartritis lebih sering dijumpai
pada orang – orang Amerika asli dari pada orang kulit putih.
Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada
frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan.
5. Kegemukan
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk
timbulnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak
hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tapi juga
dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula).

C. Manifestasi Klinis Osteoartritis


Gejala utama dari osteoartritis adalah adanya nyeri pada sendi yang terkena, etrutama
waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan. Mula-mula terasa kaku,
kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dengan istirahat. Terdapat hambatan pada
pergerakan sendi, kaku pagi, krepitasi, pembesaran sendi dn perubahan gaya jalan. Lebih
lanjut lagi terdapat pembesaran sendi dan krepitasi.
Tanda-tanda peradangan pada sendi tidak emnonjol dan timbul belakangan, mungkin
dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat
yang merata dan warna kemerahan, antara lain;

1. Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan
sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang-kadang
menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan yang lain.
2. Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan
bertambahnya rasa nyeri.
3. Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah immobilisasi, seperti duduk dari
kursi, atau setelah bangun dari tidur.
4. Krepitasi
Rasa gemeretak (kadqang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.
5. Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (lutut atau tangan yang paling
sering) secara perlahan-lahan membesar.
6. Perubahan gaya berjalan
Hampir semua pasien osteoartritis pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul
berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi yang lain
merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien yang umumnya tua (lansia).
D. Faktor Resiko Osteoartritis
1. Umur : proses penuaan
2. Sex, menopause (>50 tahun)
3. Genetic
4. Obesitas dan penyakit metabolic
5. Cedera sendi, pekerjaan dan olah raga
6. Kelainan pertumbuhan
E. Pencegahan Osteoartritis

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar kita terhindar dari osteoarthritis :
1. Menghindari olahraga yang bisa meyebabkan sendi terluka
2. Mengontrol berat badan agar berat yang ditopang oleh sendi menjadi ringan
3. Minum obat untuk mencegah osteoarthritis
F. Pemeriksaan Penunjang Osteoartritis
Pada pemeriksaan laboratorium darah tepi, imunologi dan cairan sendi umumnya tidak ada
kelainan, kecuali osteoarthritis yang disertai paeradangan.pada pemerikasaan radiology
didapatkan penyempitan rongga sendi disertai sclerosis tepi persendian. Mungkin terjadi
deformitas, osteoarthritis atau pembentukan kista juksta artikular. Kadang-kadang tampak
gambaran taji(spur formation), liping pada tepi-tepi tulang, dan adanya tulang-tulang yang
lepas.
G. Penatalaksanaan Osteoartritis
1. Medikamentosa
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat simtomatik. Obat
antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya sebagai analgesik dan mengurangi
peradangan, tidak mampu menghentikan proses patologis
a. Istirahatkan sendi yang sakit, dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang
sakit.
b. Mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri
c. Lingkungan yang aman untuk melindungi dari cedera
d. Dukungan psikososial
e. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program latihan yang tepat
f. Diet untuk emnurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya keluhan
2. DIET RENDAH PURIN:
Tujuan pemberian diet ini adalah untuk mengurangi pembentukan asam urat dan
menurunkan berat badan, bila terlalu gemuk dan mempertahankannya dalam batas
normal.
Bahan makanan yang boleh dan yang tidak boleh diberikan pada penderita osteoartritis:

Golongan bahan Makanan yang boleh Makanan yang tidak boleh


makanan diberikan diberikan

Karbohidrat Semua –

Protein hewani Daging atau ayam, ikan Sardin, kerang, jantung,


tongkol, bandeng 50 hati, usus, limpa, paru-paru,
Protein nabati gr/hari, telur, susu, keju otak, ekstrak daging/ kaldu,
bebek, angsa, burung.
Lemak Kacang-kacangan kering 25
gr atau tahu, tempe, oncom –
Sayuran
Minyak dalam jumlah –
Buah-buahan terbatas.
Asparagus, kacang polong,
Minuman Semua sayuran sekehendak kacang buncis, kembang
kecuali: asparagus, kacang kol, bayam, jamur
Bumbu, dll
polong, kacang buncis, maksimum 50 gr sehari
kembang kol, bayam, jamur
maksimum 50 gr sehari –
Semua macam buah Alkohol

Teh, kopi, minuman yang Ragi

mengandung soda

Semua macam bumbu

H. Terapi Osteoartritis
1. Terapi Farmakologi
Semua obat memiliki efek samping yang berbeda, oleh karena itu, penting bagi pasien
untuk membicarakan dengan dokter untuk mengetahui obat mana yang paling cocok
untuk di konsumsi. Berikut adalah beberapa obat pengontrol rasa sakit untuk penderita
osteoarthritis :
a. Acetaminophen
Merupakan obat pertama yang di rekomendasikan oleh dokter karena relatif aman
dan efektif untuk mengurangi rasa sakit.
b. NSAIDs (nonsteroidal anti inflammatory drugs)
Dapat mengatasi rasa sakit dan peradangan pada sendi. Mempunyai efek samping,
yaitu menyebabkan sakit perut dan gangguan fungsi ginjal.\
c. Topical pain
Dalam bentuk cream atau spray yang bisa digunakan langsung pada kulit yang
terasa sakit.
d. Tramadol (Ultram)
Tidak mempuyai efek samping seperti yang ada pada acetaminophen dan NSAIDs.
e. Milk narcotic painkillers
Mengandung analgesic seperti codein atau hydrocodone yang efektif mengurangi
rasa sakit pada penderita osteoarthritis.
f. Corticosteroids
Efektif mengurangi rasa sakit.
g. Hyaluronic acid
Merupakan glycosaminoglycan yang tersusun olehdisaccharides of
glucuronic aciddan N-acetygluosamine.Disebut juga
viscosupplementation. Digunakan dalam perawatan pasien osteoarthritis. Dari hasil
penelitian yangdilakukan, 80% pengobatan dengan menggunakan hyaluronic acid
mempunyai efek yang lebih kecil dibandingkan pengobatan dengan menggunakan
placebo. Makin besar molekul hyaluronic acid yang diberikan, makin besar efek
positif yang di rasakan karena hyaluronic acid efektif mengurangi rasa sakit.
h. Glucosamine dan chondroitin sulfate
Mengurangi pengobatan untuk pasien osteoarthritis pada lutut.
2. Terapi Non Farmakologi

Ada beberapa cara dalam penanganan osteoarthritis non farmakologi, diantaranya :


a. Olahraga
Olahraga dapat mengurangi rasa sakit dan dapat membantu mengontrol berat
badan. Olahraga untuk osteoarthritis misalnya berenang dan jogging.
b. Menjaga sendi
Menggunakan sendi dengan hati-hati dapat menghindari kelebihan stres pada sendi.
c. Panas/dingin
Panas didapat, misalnya dengan mandi air panas. Panas dapat mengurangi rasa sakit
pada sendi dan melancarkan peredaran darah. Dingin dapat mngurangi
pembengkakan pada sendi dan mengurangi rasa sakit. Dapat didapat dengan
mengompres daerah yang sakit dengan air dingin.
d. Viscosupplementation
merupakan perawatan dari Canada untuk orang yang terkena osteoarthritis pada
lutut, berbentuk gel.
e. Pembedahan
Apabila sendi sudah benar-benar rusak dan rasa sakit sudah terlalu kuat,
akan dilakukan pembedahan. Dengan pembedahan, dapat memperbaiki bagian
dari tulang.
f. Akupuntur
Dapat mengurangi rasa sakit dan merangsang fungsi sendi.
g. Pijat
Pemijatan sebaiknya dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya.
h. Vitamin D,C, E, dan beta karotin
untuk mengurangi laju perkembangan osteoarthritis.
i. Teh hijau
Memiliki zat anti peradangan.
I. Penatalaksanaan

1. Obat obatan
Sampai sekarang belum ada obat yang spesifik yang khas untuk osteoartritis, oleh
karena patogenesisnya yang belum jelas, obat yang diberikan bertujuan untuk
mengurangi rasa sakit, meningkatkan mobilitas dan mengurangi ketidak mampuan.
Obat-obat anti inflamasinon steroid bekerja sebagai analgetik dan sekaligus mengurangi
sinovitis, meskipun tak dapat memperbaiki atau menghentikan proses patologis
osteoartritis.
2. Perlindungan sendi
Osteoartritis mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme tubuh yang kurang baik.
Perlu dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit. Pemakaian tongkat,
alat-alat listrik yang dapat memperingan kerja sendi juga perlu diperhatikan. Beban
pada lutut berlebihan karena kakai yang tertekuk (pronatio).
3. Diet
Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang gemuk harus menjadi
program utama pengobatan osteoartritis. Penurunan berat badan seringkali dapat
mengurangi timbulnya keluhan dan peradangan.
4. Dukungan psikososial
Dukungan psikososial diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya yang
menahun dan ketidakmampuannya yang ditimbulkannya. Disatu pihak pasien ingin
menyembunyikan ketidakmampuannya, dipihak lain dia ingin orang lain turut
memikirkan penyakitnya. Pasien osteoartritis sering kali keberatan untuk memakai alat-
alat pembantu karena faktor-faktor psikologis.
5. Persoalan Seksual
Gangguan seksual dapat dijumpai pada pasien osteoartritis terutama pada tulang
belakang, paha dan lutut. Sering kali diskusi karena ini harus dimulai dari dokter karena
biasanya pasien enggan mengutarakannya.
6. Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi
pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat. Pemakaian panas yang
sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi
yang masih aktif sebaiknya diberi dingin dan obat-obat gosok jangan dipakai sebelum
pamanasan. Berbagai sumber panas dapat dipakai seperti Hidrokolator, bantalan
elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi paraffin dan mandi dari pancuran panas.
7. Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot yang
biasanya atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometric lebih baik dari pada
isotonic karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan sendi dan tulang yang
timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena berkurangnya beban ke sendi oleh
karena kontraksi otot. Oleh karena otot-otot periartikular ©2004 Digitized by USU
digital library 6 memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari
beban, maka penguatan otot-otot tersebut adalah penting.
8. Operasi
Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan sendi yang
nyata dengan nyari yang menetap dan kelemahan fungsi. Tindakan yang dilakukan
adalah osteotomy untuk mengoreksi ketidaklurusan atau ketidaksesuaian, debridement
sendi untuk menghilangkan fragmen tulang rawan sendi, pebersihan osteofit.
BAB III

PENKAJIAN KASUS

A. Data biografi

Nama : Sri Rejeki


Tempat &tanggal lahir : Solo, 2 November, 63 Tahun
Pendidikan terakhir : S1 Ekonomi
Agama : Islam
Status : Kawin
TB/BB : 165 / 65 kg
Penmpilan : rapi, bersih, berjalan masih normal
Ciri-ciri tubuh : gemuk, tinggi, kulit putih, rambut beruban.
Alamat : Panti Sosial Usia Lanjut Aisyiyah SKA
Orang yang dekat dihubungi : Sri Wuryani
Hubungan dengan usila : anak no 3
Alamat :
Tanggal masuk panti : 15 Mei 2005
B. Riwayat keluarga

C. Riwayat Pekerjaan :
Pekerjaan saat ini : - ( dipanti sosial usia lanjut aisyiyah )
Alamat pekerjan : JL. Pajajaran Utara III No. 07
Jarak dari rumah :-
Alat transportasi : jalan kaki
Pekerjaan sebelumnya : Sekretaris
Berapa jarak dari rumah :
Sumber –sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan : cukup untuk kebutuhan sehari-hari
D. Riwayat Lingkungan Hidup
Tipe tempat tinggal : permanen
Jumlah kamar : 6Jumlah Tongkat
Kondisi tempat tinggal : pencahayaan cukup terang, ventilasi baik tidak lembab,
bersih tidak pengap
Jumlah orang yang tinggal dirumah : 3 orang, 2 wanita dan seeorang lelaki
Derajat privasi : baik
Tetangga terdekat : sarana penghuni panti di aisyiyah sendiri dan wisma
lainnya
Alamat / telpon :-
E. Riwayat rekreasi
Hobby/minat : mendengarkan musik
Keanggotaan organisasi :-
Mengikuti senam yang diadakan di panti aisyiyah setiap Rabu dan Jumat.
Membuat kerajinan kemoceng dan keset.
Membantu menunggu warung kios milik panti aisyiyah
F. Sistem pendukung
Di panti dibantu oleh 6 orang perawat yang melayani kesehatan seluruh penghuni panti yang
berjumlah 32 orang.
Bila ada yang perlu dirujuk panti sudah menjalin kerja sama dengan RSUD PKU Muhammadiyah
Surakarta
Dipanti klien akrab dengan mbah Sri Wuryani.
G. Diskripsi Kekhususan
Klien secara rutin ikut kegiatan sholat berjamaah di Musholla panti aisyiyah
H. Status Kesehatan
Pernah tinggal di PKU Muhammadiyah Surakarta
Klien tidak mempunyai penyakit yang serius, tapi memang pernah diopname di Rumah sakit.
ALASAN DATANG KE PANTI LANJUT USIA
Klien pernah menikah tetapi tidak mempunyai seorang anak. Klien dengan terpaksa meninggalkan
rumah dan meminta berpisah dengan suaminya karena ada problema yang menurutnya tidak bisa
diselesaikan lagi. Klien diiming-imingi saudara yang dipercayanya akan diberikan sebuah pekerjaan
tapi akhirnya dimasukkan di Panti Usia Lanjut Aisyiyah Surakarta.
KELUHAN UTAMA :
Klien mengatakan nyeri pada bagian lutut dan alat gerak, Klien mengatakan sulit merawat diri karna
penurunan daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, Klien sering mengeluh kakinya tidak bisa
digerakkan saat nyeri itu kambuh.
Penatalaksanaan masalah kesehatan :
Selama ini klien cukup periksa ke perawat panti yang selalu menangani masalah kesehatan orang-
orang panti. Klien tidak pernah sakit yang serius . Dan pemahaman klien mengenai penyakit yang
dideritanya adalah penyakit orang yang sudah tua.
I. Pola persepsi pemeliharaan kesehatan
Selama ini klien tidak pernah melakukan hal-hal yang merugikan kesehatan seperti merokok atau
minum-minuman keras.
Alergi : Klien alergi dingin dan alergi dengan ikan laut.
Penyakit yang diderita : klien tidak mempunyai penyakit keturunan seperti Hipertensi, DM dll
J. Pola aktifitas Hidup sehari hari
Kemampuan Perawatan Diri Independen Bantuan Alat Bantuan Bantun orang Dependent
orang lain lain &
peralatan
1. makan /minum V
2. mandi V
3. Berpakaian V
4. Ke WC V
5. Transfering/pindah V
6. Ambulasi V

Indeks Katz : Skor A yaitu kemandirian dalam hal makan, mandi, berpindah, berpakaian, kemakar
kecil
Nutrisi : - klien secara bergantian mengambil makanan untuk anggota/penghuni panti Asyiyah,
makan khusus untuk Ibu Sri Rejeki 3x porsi sedang kadang tidak habis
Eliminasi : BAB = 2 hari sekali
BAK = Tidak ada normal
Aktifitas : - klien dapat melakukan aktifitas sendiri tanpa bantuan, secara postur klien berjalan
dengan normal.
- Klien sering berkumpul bersama dengan penghuni panti lain sambil melihat TV
Istirahat & tidur :
Terkadang sulit tidur menurut pemahamannya factor usia, tidur mulai jam 23.00 – 03.00
Sexual : selama di panti klien tidak pernha berhubungan dengan pria, karena menganggap sudah tua,
aplagi sudah tidak menstruasi lagi.
Psikologis :
a) Persepsi klien : klien merasakan linu dan kurang nafsu makan merupakan penyakitnya orang
yang sudah tua
b) Konsep diri : Klien sangat percaya diri bila berkumpul dengan teman sebaya terbukti pada sat
acara rekreasi di ruang pertemuan klien menyanyi lebih dulu.
c) Emosi : klien termasuk orang yang periang pernah menunjukkan emosi yang terkadang
berlebihan /pernah marah-marah
d) Adaptasi : klien dipanti sudah 8 tahun yang lalu, dan sangat akrab dengan penghuni panti baik
satu wisma maupun penghuni antar wisma.
e) Mekanisme pertahanan diri : bila ada masalah klien selalu mengutarakan masalahnya kepada
saudara yang juga disini, selain itu klien selalu berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa .
K. Tinjauan Sistem
Keadaan umum : baik, postur tubuh normal
Tingkat kesadaran : kompos mentis
GCS : membuka mata = 4, verbal = 5, psikomotor = 6
Tanda vital : nadi = 88 X/menit RR = 22 X/mnt, tensi = 110/70 mmHg
1) Sistem kardiovaskuler : perkusi jantung terdengar pekak, irama jantung terdengar regular
2) Sistem pernafasan : frekuensi 22 x/mnt , suara nafas vesukuler di area paru, bronchovesikuler di
percabangan bronchus dan tidak ada suara tambahan seperti wezing, ronchi dll.
3) Sistem integumen : kulit keriput , warna putih tidak ditemukan kelainan.
4) Sistem muskuloskeletal : klien dapat beraktifitas sendiri, cuman kadang nyeri di lutut dan alat
gerak.
5) Sistem endokrin : klien tidak menderita sakit DM
6) Sistem gastrointestinal : klien mengalami penurunan nafsu makan, peristaltik 15 X/mnt, BAB
2hari sekali.
7) Sistem persyarapan : klien tidak mengalami gangguan persyarapan
8) Sistem pengecapan : klien masih merasakan rasa manis, pahit, asin, asam.
9) Sistem penciuman : klien masih bisa membedakan bau kopi
L. Status kognitif/Afektif sosial.
4) APGAR keluarga : 0 fungsi sosial keluarga baik
M Data penunjang
- Lab : - Radiologi : -
EKG : - USG : -
CT_scan : -
ANALISA DATA
DATA MASALAH ETIOLOGI
SUBYEKTIF : Nyeri Proses Penyakit
Klien mengatakan :
1. kadang nyeri pada lutut dan alat gerak.
2. Mengeluh kaki tidak bisa digerakkan
saat nyeri kambuh.

OBYEKTIF :
TD : 110/70 mmHg
RR : 28x/menit
S : 36,2° C
N : 84x/menit Kurangnya pengetahuan Keterbatasan
Klien tampak memegangi kakinya. Kognitif

SUBYEKTIF :
Klien mengatakan tidak mengerti tentang
penyakit rematik, makanan pantangan dan
cara pengobatan untuk rematik.
OBYEKTIF:
Klien tampak bertanya tentang rematik,
makanan pantangan dan cara pengobatan
rematik

DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS MASALAH


1. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit
2. Kurang pengetahuan tentang rematik berhubungan dengan keterbatasan kognitif
PROSES KEPERAWATAN
NO Dx. Kep KH + Tujuan Intervensi Rasional TTD
1 Nyeri b/d Setelah dilakukan 1.Ajarkan Klien 1) Mencegah
Proses Penyakit tindakan asuhan untuk sering terjadinya kelelahan
keperawatan selama mengubah posisi umum,mengurangi
1x24 jam. tidur. gerakan atau rasa
KH : 1. Klien sakit pada alat gerak.
mengatakan rasa
nyeri pada lutut dan
alat gerak berkurang. 2.Berikan masase 2) Meningkatkan
2. Klien mengatakan lembut relaksasi atau
nyeri tidak bisa mengurangi tegangan
digerakkan saat nyeri otot.
kambuh.
TD : 130/80 mmHg
S : 36,5 °C
RR : 28x/menit
N : 84x/menit
Klien tampak tenang
dan nyaman, tidak
menahan sakit dan
tidak memegangi
kakinya.

2 Kurang Setelah dilakukan 1. Kaji tingkatan 1. Menambah


pengetahuan inervensi diharapkan pengetahuan klien . pengetahuan klien
tentang rematik : tentang penyakit yang
b/d keterbatasan dideritanya.
kognitif 1. Klien mengatakan
paham mengenai 2. Berikan
penyakitnya. pendidikan 2. Mengetahui sejauh
kesehatan tentang mana klien
cara mencegah dan memahami tentang
mengatasi rematik penyakit yang
dideritanya.

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI.


DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI
1 a. Mengajarkan klien untuk
a. Klien hanya tahu posisi tidur yang
mengubah posisi tidur. seenaknya.
b. Mengajarkan b.
penggunaan Klien tahu bagaimanacara mngendalikan

tehnik manajemen nyeri. nyeri yang di deritanya.


c. Klien mengatakan akan mencoba
c. Memberikan posisi yang
memberikan bantalan pada kakinya.
nyaman sendi yang nyeri diistirahatkan
dan diberi bantalan

DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI


2 1. Mengkaji tingkatan pengetahuan klien . 1. Klien sudah tau tentang
penyakitnya.

2. Klien sudah paham tentang


2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang pendidikan tentang cara mencegah
cara mencegah dan mengatasi rematik dan mengatasi rematik

PERKEMBANGAN KEPERAWATAN
No Hari/tgl Diagnosa Perkembangan keperawatan Ket
Kepw
1 Selasa, 1 S : klien mengatakan nyeri pada kaki sudah berkurang
01 O: klien dapat mengendalikan rasa nyeri pada kakinya
Oktober dengan menggunakan bantal.
2013 A: masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi

2 Selasa, 2
01
Oktober
2013 S : Klien mengatakan tau tentang penyakitnya
O: Klien mengatakan lancer berjalan
A : Masalah terasa sebagian
P : lanjutkan intervensi
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia
lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia
diatas 60 tahun.Penyakit ini merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang
berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan
nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi – sendi tangan dan
sendi besar yang menanggung beban. Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih
belum terungkap, namun beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara
lain adalah : umur, jenis kelamin, genetik, suku, kegemukan. Tanda dan gejala
Osteoatritis yaitunyeri sendi, hambatan gerakan sendi, kaku pagi, krepitasi, pembesaran
sendi (deformitas), perubahan gaya berjalan

B. Saran
a. Diharapkan pembaca makalah ini dapat memahami tentang asuhan
keperawatan Osteoatritis pada lansia

b. Diharapkan penulis dan calon perawat lainnya dapat memberikan penyuluhan atau
pemahaman mengenai penyakit Osteoatritis pada lansia

DAFTAR PUSTAKA

Doenges E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

Kalim, Handono. 1996. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Mansjoer, Arif, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. jakarta : Media Aesculapius FKUI.

Prince, Sylvia Anderson. 2000. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit., Ed. 4,

Jakarta : EGC.

R. Boedhi Darmojo & Martono Hadi (1999). Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut, Jakarta :