Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rah
mat dan karuniaNya lah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta
salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad Saw.
Dengan terselesaikannya makalah ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga
Allah SWT membalas amal baiknya. Amin.
Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita
semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita khususnya bagi penulis. Memang makal
ah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca d
emi perbaikan menuju arah yang lebih baik.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................


DAFTAR ISI...................................................................................................

BAB I Pendahuluan ......................................................................................


1.1 Latar Belakang ...............................................................................
1.2 Rumus masalah................................................................................
1.3 Tujuan .............................................................................................

BAB II LANDASAN TEORITIS..................................................................


2.1 Pengertian.......................................................................................
2.2 Klasifikasi .....................................................................................
2.3 Etiologi ..........................................................................................
2.4 Tanda dan gejala ............................................................................
2.5 Pemeriksaan .................................................................................
2.6 Komplikasi ....................................................................................
2.7 Penatalaksanaan ............................................................................

BAB III TINJAUAN KASUS .......................................................................


 Tinjauan kasus
BAB IV PENUTUP ........................................................................................
3.1 Kesimpulan......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota
masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan
hidup. Pada tahun 1980 penduduk lanjut usia baru berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 persen
dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat
menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Jumlah ini meningkat di seluruh Indonesia menjadi
15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 persen dari seluruh penduduk. Dan diperkirakan pada
tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa
penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. Angka harapan hidup
penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada tahun 1968 adalah 45,7 tahun,
pada tahun 1980 : 55.30 tahun, pada tahun 1985 : 58,19 tahun, pada tahun 1990 : 61,12 tahun,
dan tahun 1995 : 60,05 tahun serta tahun 2000 : 64.05 tahun (BPS.2000)
Dengan makin meningkatnya harapan hidup penduduk Indonesia, maka dapat
diperkirakan bahwa insidensi penyakit degeneratif akan meningkat pula. Salah satu penyakit
degeneratif yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi adalah hipertensi.
Hipertensi pada usia lanjut menjadi lebih penting lagi mengingat bahwa patogenesis,
perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya tidak seluruhnya sama dengan hipertensi pada
usia dewasa muda. Pada umumnya tekanan darah akan bertambah tinggi dengan
bertambahnya usia pasien, dimana tekanan darah diastolik akan sedikit menurun sedangkan
tekanan sistolik akan terus meningkat.
Penyakit degeneratif dan penyakit tidak menular mengalami peningkatan resiko
penyebab kematian, dimana pada tahun 1990, kematian penyakit tidak menular 48 % dari
seluruh kematian di dunia, sedangkan kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah,
gagal ginjal dan stroke sebanyak 43% dari seluruh kamatian di dunia dan meningkat pada
tahun 2000 kematian akibat penyakit tidak menular yaitu 64 % dari seluruh kematian dimana
60% disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke dan gagal ginjal. Pada
tahun 2020, diperkirakan kematian akibat penyakit tidak menular sebesar 73% dari seluruh
kematian di dunia dan sebanyak 66% diakibatkan penyakit jantung dan pembuluh darah,
gagal ginjal dan stroke, dimana faktor resiko utama penyakit tersebut adalah hipertensi.
(Zamhir, 2006).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian dan kesakitan
yang tinggi. Darah tinggi sering diberi gelar The Silent Killer karena hipertensi merupakan
pembunuh tersembunyi karena disamping karena prevalensinya yang tinggi dan cenderung
meningkat di masa yang akan datang, juga karena tingkat keganasannya yang tinggi berupa
kecacatan permanen dan kematian mendadak. Sehingga kehadiran hipertensi pada kelompok
dewasa muda akan sangat membebani perekonomian keluarga, karena biaya pengobatan yang
mahal dan membutuhkan waktu yang panjang, bahkan seumur hidup. (Bahrianwar, 2009)
Di Indonesia dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995, prevalensi
hipertensi di Indonesia adalah 8.3% (pengkuran standart WHO yaitu pada batas tekanan
darah normal 160/90 mmHg). Pada tahun 2000 prevalensi penderita hipertensi di indonesia
mencapai 21% (pengukuran standart Depkes yaitu pada batas tekanan darah normal 139 / 89
mmHg). Selanjutnya akan diestimasi akan meningkat menjadi 37 % pada tahun 2015 dan
menjadi 42 % pada tahun 2025. (Zamhir, 2006).
Penyebab hipertensi tidak diketahui pada sekitar 95 % kasus. Bentuk hipertensi
idiopatik disebut hipertensi primer atau esensial. Patogenesis pasti tampaknya sangat
kompleks dengan interaksi dari berbagai variabel, mungkin pula ada predisposisi genetik.
Mekanisme lain yang dikemukakan mencakup perubahan – perubahan berikut: (1). Eksresi
natrium dan air oleh ginjal, (2). Kepekaan baroreseptor, (3). Respon vesikuler, dan (4).
Sekresi renin. Sedangkan 5% penyakit hipertensi terjadi sekunder akibat proses penyakit lain
seperti penyakit parenkhim ginjal atau aldosterronisme primer (Prince, 2005).
Beberapa organisasi dunia dan regional telah memproduksi, bahkan memperbaharui
pedoman penanggulangan hipertensi. Dari berbagai strategi dapat disimpulkan bahwa
penanggulangan hipertensi melibatkan banyak disiplin ilmu. Kunci pencegahan atau
penanggulangan perorangan adalah gaya hidup sehat. Masyarakat juga perlu tahu risiko
hipertensi agar dapat saling mendukung untuk mencegah atau menanggulangi agar tidak
menyebabkan peningkatan yang signifikan sampai mencegah terjadinya komplikasi.
(Bahrianwar,2009).
Di Indonesia, Pemerintah bersama Departemen Kesehatan RI memberi apresiasi dan
perhatian serius dalam pengendalian penyakit Hipertensi. Sejak tahun 2006 Departemen
Kesehatan RI melalui Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular yang bertugas untuk
melaksanakan pengendalian penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk hipertensi dan
penyakit degenaritaif linnya, serta gangguan akibat kecelakaan dan cedera. (Depkes, 2007).
Untuk mengendalikan hipertensi di Indonesia telah dilakukan beberapa langkah, yaitu
mendistribusikan buku pedoman, Juklak dan Juknis pengendalian hipertensi; melaksanakan
advokasi dan sosialisasi; melaksanakan intensifikasi, akselerasi, dan inovasi program sesuai
dengan kemajuan teknologi dan kondisi daerah setempat (local area specific);
mengembangkan (investasi) sumber daya manusia dalam pengendalian hipertensi;
memperkuat jaringan kerja pengendalian hipertensi, antara lain dengan dibentuknya
Kelompok Kerja Pengendalian Hipertensi; memperkuat logistik dan distribusi untuk deteksi
dini faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk hipertensi; meningkatkan
surveilans epidemiologi dan sistem informasi pengendalian hipertensi; melaksanakan
monitoring dan evaluasi; dan mengembangkan sistem pembiayaan pengendalian hipertensi.
(Depkes, 2007).
Pada usia lanjut aspek diagnosis selain kearah hipertensi dan komplikasi, pengenalan
berbagai penyakit yang juga diderita oleh orang tersebut perlu mendapatkan perhatian oleh
karena berhubungan erat dengan penatalaksanaan secara keseluruhan. Dahulu hipertensi pada
lanjut usia dianggap tidak selalu perlu diobati, bahkan dianggap berbahaya untuk diturunkan.
Memang teori ini didukung oleh observasi yang menunjukkan turunnya tekanan darah sering
kali diikuti pada jangka pendeknya oleh perburukan serangan iskemik yang transient (TIA).
Tetapi akhir-akhir ini dari penyelidikan epidemiologi maupun trial klinik obat-obat
antihipertensi pada lanjut usia menunjukan bahwa hipertensi pada lansia merupakan risiko
yang paling penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler, strok dan penyakit ginjal.
Banyak data akhir-akhir ini menunjukan bahwa pengobatan hipertensi pada lanjut usia dapat
mengurangi mortalitas dan morbiditas.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu hipertensi pada lansia?
1.2.2 Apa saja klasifikasi hipertensi pada lansia?
1.2.3 Bagaimana etiologi hipertensi pada lansia?
1.2.4 Bagaimana Tanda dan Gejala hipertensi pada lansia?
1.2.5 Apa saja pemeriksaan penunjang hipertensi pada lansia?
1.2.6 Apa saja komplikasi hipertensi pada lansia?
1.2.7 Bagaimana penatalaksanaan hipertensi pada lansia?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Agar pembaca dapat memahami lebih jauh tentang penyakit hipertensi pada lansia
BAB II
PEMBAHASA

2.1 Pengertian Hipertensi Pada Lansia


Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan sistolik yang intermiten
atau menetap.
Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan
tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001).Menurut WHO ( 1978 ), tekanan darah sama
dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.
Pada Populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan
tekanan diastolik 90 mmHg (Brunner & Suddarth, 1996)

2.2. Klasifikasi Hipertensi Pada Lansia


2.2.1. Berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi menjadi :
1. Hipertensi primer atau esensial
Penyebab pasti masih belum diketahui. Jenis ini adalah yang terbanyak, yaitu sekitar 90-95%
dari seluruh pasien hipertensi. Riwayat keluarga,obesitas,diit tinggi natrium,lemak jenuh dan
penuaan adalah faktor pendukung. Walaupun faktor genetik sepertinya sangat berhubungan
dengan hipertensi primer, tapi mekanisme pastinya masih belum diketahui.

2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder akibat penyakit ginjal atau penyebab yang terindentifikasi lainya.
Hipertensi yang penyebabnya diketahui seperti hipertensi renovaskuler, feokromositoma,
sindrom cushing, aldosteronisme primer, dan obat-obatan, yaitu sekitar 2-10% dari seluruh
pasien hipertensi.
2.3. Etiologi Hipertensi Pada Lansia
Dengan perubahan fisiologis normal penuaan, faktor resiko hipertensi lain meliputi
diabetes ras riwayat keluarga jenis kelamin faktor gaya hidup seperti obesitas asupan garam
yang tinggi alkohol yang berlebihan.
Faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat atau tidak dapat dikontrol,
antara lain:
a. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol:
Faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti riwayat keluarga (genetik kromosomal), umur
(pria : > 55 tahun; wanita : > 65 tahun), jenis kelamin pria atau wanita pasca menopause.
a. Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita.Namun wanita terlindung dari
penyakit kardiovaskuler sebelum menopause. Wanita yang belum mengalami menopause
dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadarHigh Density
Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam
mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai
penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause wanita
mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh
darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah
kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada
wanita umur 45-55 tahun.
Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita hipertensi berjenis
kelamin wanita sekitar 56,5%.Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia
dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60%
penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah
menopause.
b. Umur
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang yang lebih tua
cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia lebih muda.
Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan pada usia
tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-
benar tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus , hipertensi banyak terjadi pada usia lanjut.
hipertensi sering terjadi pada usia pria : > 55 tahun; wanita : > 65 tahun. Hal ini disebabkan
terjadinya perubahan hormon sesudah menopause. Hanns Peter (2009) mengemukakan
bahwa kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari keausan
arteriosklerosis dari arteri-arteri utama, terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya
kelenturan. Dengan mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta
itu kehilangan daya penyesuaian diri.

c. Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akanmenyebabkan keluarga itu mempunyai
risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar sodium
intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua
dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada
orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita
hipertensi.

b. Faktor resiko yang dapat dikontrol:


1. Obesitas
Pada usia + 50 tahun dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi penurunan kebutuhan
energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat badan meningkat. Obesitas dapat
memperburuk kondisi lansia. Kelompok lansia dapat memicu timbulnya berbagai penyakit
seperti artritis, jantung dan pembuluh darah, hipertensi. Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi
langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk
menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang
berat badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat
badan lebih.

2. Kurang Olahraga.
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular, karena olahraga
isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah
(untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus
melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu Kurangnya aktivitas
fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk.
Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot
jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering
jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri.

3. Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan
peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang
mengalami ateriosklerosis.

4. Mengkonsumsi garam berlebih


Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO) merekomendasikan pola
konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang
direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram
garam) perhari. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam
cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar,
sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler
tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya
hipertensi.

5. Minum alkohol
Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan organ-organ lain,
termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan termasuk salah satu faktor
resiko hipertensi.

6. Minum kopi
Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi mengandung 75 – 200 mg
kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah 5 -10
mmHg.
7. Stress
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan
saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Stress yang
berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum
terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan
dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami
kelompok masyarakat yang tinggal di kota. Menurut Anggraini (2009) mengatakan stres akan
meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan
menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan pekerjaan,
kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.
2.4 Tanda Dan Gejala Hipertensi Pada Lansia
Seperti penyakit degeneratif pada lanjut usia lainnya, hipertensi sering tidak
memberikan gejala apapun atau gejala yang timbul tersamar (insidious) atau tersembunyi
(occult). Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita
hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah,
Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun

2.5 Pemeriksaan Penunjang Hipertensi Pada Lansia


a. Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat
mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.
b. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal
c. Glukosa
Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh
peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi).
d. Kalium serum
Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek
samping terapi diuretik.
e. Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi.
f. Kolesterol dan trigliserid serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak
ateromatosa ( efek kardiovaskuler )
g. Pemeriksaan tiroid.
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi.
h. Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ).
i. Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes.
j. Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.
k. Steroid urin
Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
l. IVP
Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal, batu ginjal /
ureter.
m. Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung.
n. CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati.
o. EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi, peninggian
gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
2.6 Komplikasi Hipertensi Pada Lansia
Pasien dengan hipertensi dapat meninggal dengan cepat; penyebab tersering kematian
adalah penyakit jantung, sedangkan stroke dan gagal ginjal sering ditemukan, dan sebagian
kecil pada pasien dengan retinopati.
a. Komplikasi pada Sistem Kardiovaskuler
Kompensasi akibat penambahan kerja jantung dengan peningkatan tekanan sistemik adalah
hipertrofi ventrikel kiri, yang ditandai dengan penebalan dinding ventrikel. Hal ini
menyebabkan fungsi ventrikel memburuk, kapasitasnya membesar dan timbul gejala-gejala
dan tanda-tanda gagal jantung. Angina pektoris dapat timbul sebagai akibat dari kombinasi
penyakit arteri koronaria dan peningkatan kebutuhan oksigen miokard karena penambahan
massanya. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan pembesaran jantung dengan denyut ventrikel
kiri yang menonjol. Suara penutupan aorta menonjol dan mungkin ditemukan murmur dari
regurgitasi aorta. Bunyi jantung presistolik (atrial, keempat) sering terdengar pada penyakit
jantung hipertensif, dan bunyi jantung protodiastolik (ventrikuler, ketiga) atau irama gallop
mungkin saja ditemukan. Pada elektrokardiogram, ditemukan tanda-tanda hipertrofi ventrikel
kiri. Bila penyakit berlanjut, dapat terjadi iskemi dan infark. Sebagian besar kematian dengan
hipertensi disebabkan oleh infark miokard atau gagal jantung kongestif. Data-data terbaru
menduga bahwa kerusakan miokardial mungkin lebih diperantarai oleh aldosteron pada
asupan garam yang normal atau tinggi dibandingkan hanya oleh peningkatan tekanan darah
atau kadar angiotensin II.

b. Efek Neurologik
Efek neurologik pada hipertensi lanjut dibagi dalam perubahan pada retina dan sistem
saraf pusat. Karena retina adalah satu-satunya jaringan dengan arteri dan arteriol yang dapat
langsung diperiksa, maka dengan pemeriksaan optalmoskopik berulang memungkinkan
pengamatan terhadap proses dampak hipertensi pada pembuluh darah retina.
Efek pada sistem saraf pusat juga sering terjadi pada pasien hipertensi. Sakit kepala di
daerah oksipital, paling sering terjadi pada pagi hari, yang merupakan salah satu dari gejala-
gejala awal hipertensi. Dapat juga ditemukan ’keleyengan’, kepala terasa ringan, vertigo,
tinitus dan penglihatan menurun atau sinkope, tapi manifestasi yang lebih serius adalah oklusi
vaskuler, perdarahan atau ensefalopati. Patogenesa dari kedua hal pertama sedikit berbeda.
Infark serebri terjadi secara sekunder akibat peningkatan aterosklerosis pada pasien
hipertensi, dimana perdarahan serebri adalah akibat dari peningkatan tekanan darah dan
perkembangan mikroaneurisma vaskuler serebri (aneurisma Charcot-Bouchard). Hanya umur
dan tekanan arterial diketahui berpengaruh terhadap perkembangan mikroaneurisma.
Ensefalopati hipertensi terdiri dari gejala-gejala : hipertensi berat, gangguan kesadaran,
peningkatan tekanan intrakranial, retinopati dengan papiledem dan kejang. Patogenesisnya
tidak jelas tapi kemungkinan tidak berkaitan dengan spasme arterioler atau udem serebri.
Tanda-tanda fokal neurologik jarang ditemukan dan jikalau ada, lebih dipikirkan suatu infark
/ perdarahan serebri atau transient ischemic attack.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi memberikan kelainan pada retina berupa retinopati
hipertensi, dengan arteri yang besarnya tidak beraturan, eksudat pada retina, edema retina dan
perdarahan retina. Kelainan pembuluh darah dapat berupa penyempitan umum atau setempat,
percabangan pembuluh darah yang tajam, fenomena crossing atau sklerosis pembuluh darah.

c. Efek pada Ginjal


Lesi aterosklerosis pada arteriol aferen dan eferen serta kapiler glomerulus adalah lesi
vaskuler renal yang paling umum pada hipertensi dan berakibat pada penurunan tingkat
filtrasi glomerulus dan disfungsi tubuler. Proteinuria dan hematuria mikroskopik terjadi
karena lesi pada glomerulus dan ± 10 % kematian disebabkan oleh hipertensi akibat gagal
ginjal. Kehilangan darah pada hipertensi terjadi tidak hanya dari lesi pada ginjal; epitaksis,
hemoptisis dan metroragi juga sering terjadi pada pasien-pasien ini.

2.7 Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia


Lebih dari 10 tahun yang lalu masih terjadi perdebatan tentang perlu tidaknya
pengobatan hipertensi pada usia lanjut. Golongan yang kontra menyatakan bahwa penurunan
tekanan darah pada hipertensi lansia justru akan menyebabkan kemungkinan terjadinya
trombosis koroner, hipotensi postural dan penurunan kualitas hidup. Dengan penelitian-
penelitian yang diadakan dalam 10 tahun terakhir ini jelas dibuktikan bahwa menurunkan
tekanan darah pada hipertensi lansia jelas akan menurunkan komplikasi akibat hipertensi
secara bermakna.
Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah mengurangi morbiditas dan mortalitas yang
berkaitan dengan sistem kardiovaskuler dan ginjal. Karena kebanyakan penderita hipertensi,
khususnya yang berusia > 50 tahun akan mencapai target tekanan diastol saat target tekanan
sistol sudah dicapai, sehingga fokus utamanya adalah mencapai target tekanan sistol.
Penurunan tekanan sistol dan diastol < 140 / 90 mmHg berhubungan dengan penurunan
terjadinya komplikasi stroke, dan pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus, target
tekanan darah ialah < 130 / 80 mmHg.
Penalaksanaan hipertensi dilandasi oleh beberapa prinsip, yaitu :
1. Pengobatan hipertensi sekunder lebih mendahulukan pengobatan kausal.
2. Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan harapan
memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komplikasi.
3. Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat antihipertensi.
4. Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang, bahkan mungkin seumur hidup.
5. Pengobatan dengan menggunakan standart triple therapy (stt) menjadi dasar pengobatan
hipertensi.
BAB III
PENGKAJIAN KASUS

1. 1. Identitas Klien

1. Nama : Ibu S
2. Umur : 67 tahun
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Suku : Jawa
5. Agama : Islam
6. Pendidikan : SMA
7. Status Perkawinan : Belum menikah
8. Tanggal Pengkajian : 9 Juni 2007
9. Alamat : Jakarta

2. Status Kesehatan Saat ini Ibu S mengeluh pusing sejak pagi. Sakit kepalanya berdenyut-
denyut. Pusing semakin dirasakan jika Ibu S berjalan dan berkurang jika istirahat. Kadang
Ibu S merasakan ada yang kaku di lehernya. Ibu S mengatakan kurang paham mengenai
penyakit hipertensi 3. Riwayat Kesehatan Dahulu Ibu S mengatakan beberapa tahun yang
lalu pernah mengalami sakit jantung dan berobat ke rumah sakit. 4. Riwayat Kesehatan
Keluarga Ibu S mengatakan di keluarganya tidak ada yang menderita penyakit gula. Ibu S
mengatakan ayahnya menderita penyakit tekanan darah tinggi. 5. Pemeriksaan Tanda-
tanda Vital

1. Tekanan darah : 160/110 mmHg


2. Nadi : 84 kali/menit
3. Suhu : 36.6 oC
4. Respirasi : 20 kali/menit
5. Berat badan : 40 kg

6. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum


Keadaan Ibu S tampak sedikit lemah. Ketika berjalan tampak memegangi penghuni panti
lainnya agar tidak jatuh. b. Kepala, wajah, mata, leher

 Kepala tampak bulat, tidak ada lesi dan benjolan, rambut tampak beruban
 Sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, pupil isokor
 Tidak teraba ada pembesaran kelenjar getah bening
 Hidung tampak simetris, tidak tampak ada cairan berlebih

c. Sistem pernapasan
Bentuk thorax normal, tidak tampak ada retraksi intercostal, vocal premitus merata di semua
lapang paru, perkusi terdengar sonor, auskultasi terdengar vesikular d. Sistem kardiovaskuler
Auskultasi tidak terdengar murmur e. Sistem urinaria Ibu S BAK 2-3 kali sehari, tidak sakit
saat BAK dan lancar. f. Sistem muskulosceletal
Kedua kaki Ibu S tampak sejajar dan sama besar dan panjang. Tidak tampak adanya kifosis
dan scoliosis. Kemampuan mengubah posisi baik, kekuatan otot tangan pada saat meremas
agak lemah. g. Sistem syaraf pusat

 Nervus I (Olfactorius) : Ibu S dapat membedakan bau dari minyak kayu putih dan
minyak wangi/parfum.
 Nervus II (Opticus) : Ibu S sudah tidak dapat melihat jauh tulisan, orang dan benda-
benda yang kecil, tapi Ibu S tidak menggunakan bantuan kacamata.

 Nervus III, IV, V (Oculomotoris, Trochlearis, Abdusen)


 Nervus V (Trigeminus) : Sensasi sensorik kulit wajah klien baik, dapat merasakan
goresan kapas pada pipi kanan.
 Nervus VII (Facialis) : Ibu S dapat, menggerakan alis dan mengerutkan dahi
 Nervus VIII (Vestibulococlear) : Fungsi keseimbangan baik
 Nervus IX, X (Glasopharingeus, Vagus) : Reflek menelan baik
 Nervus XI (Accesorius) : Ibu S dapat menggerakkan kedua bahunya dan
menggerakkan kepalanya
 Nervus XII : Ibu S dapat berbicara dengan jelas dan lidah berfungsi baik

h. Sistem endokrin Ibu S mengatakan tidak mempunyai penyakit gula dan gondok. i. Sistem
reproduksi Ibu S mengatakan belum menikah j. Sistem integument Kulit tampak keriput,
warna kulit sawo matang, tidak tampak ada lesi, elastisitas kulit berkuang. 7. Pengkajian
Psikososial & Spiritual a. Psikososial Ibu S mengatakan dapat bersosialisasi dengan
penghuni panti lainnya, karena dengan bersosialisasi dapat membina hubungan yang baik
dengan orang lain. Status emosi Ibu S stabil dan kooperatif saat diajak bicara. b. Spiritual Ibu
S mengatakan selalu menjalankan ibadah sholat lima waktu. Ibu S memasrahkan semuanya
pada Allah SWT. 8. Pengkajian Fungsional Klien a. Katz index
No. Kegiatan Mandiri Bantuan Bantuan
Sebagian Penuh
1. Mandi a
2. Berpakaian a
3. Ke Kamar Kecil a
4. Berpindah Tempat a
5. BAK/BAB a
6. Makan/Minum a
Ibu S dapat beraktivitas secara mandiri tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif
dari orang lain. b. Barthel index
No. Kegiatan Dengan Mandiri
Bantuan
1. Makan/Minum 0 10
2. Berpindah dari kursi roda ke tempat
0 15
tidur/sebaliknya
3. Kebersihan diri (cuci muka, gosok gigi,
0 5
menyisir rambut)
4 Keluara masuk kamar mandi (menyeka
0 10
tubuh, menyiram, mencuci baju)
5. Mandi 0 15
6. Jalan-jalan di permukaan datar 0 5
7. Naik turun tangga 0 10
8. Memakai baju 0 10
9. Kontrol BAK 0 10
10. Kontrol BAB 0 10
Jumlah 0 100
Keterangan: Jumlah skor 100 = mandiri Jumlah skor 50-95 = ketergantungan sebagian
Jumlah skor kurang dari 45 = ketergantungan total 9. Pengkajian Status Mental Short
Portable Mental Status Questioner (SPSMQ)
Benar Salah No. Pertanyaan
a 1. Tanggal berapa hari ini?
a 2. Hari apa sekarang?
a 3. Apa nama tempat ini?
a 4. Dimana alamat anda?
a 5. Berapa umur anda?
a 6. Kapan anda lahir?
a 7. Siapa presiden Indonesia sekarang?
a 8. Siapa presiden Indonesia sebelumnya?
a 9. Siapa nama ibu anda?
a 10. Kurangi 3 dari 20 & tetap pengurangan 3 dari setiap
angka baru, semua secara berurutan
10 Jumlah
Total Skor: Hasil:

1. Salah 0-3 : fungsi intelektual utuh


2. Salah 4-5 : kerusakan intelektual ringan
3. Salah 6-8 : kerusakan intelektual sedang
4. Salah 9-10 : kerusakan intelektual berat

10. Pengkajian Aspek Kognitif Dari Fungsi Mental


No. Aspek Kognitif Nilai Mhs Nilai Klien Kriteria
1. Orientasi 5 5 Menyebutkan dengan benar
R Tahun R Musim R Tanggal
R Hari R Bulan
2. Orientasi 5 5 Menyebutkan dengan benar
R Negara Indonesia R Propinsi
Jabar R Kota Bogor R Panti
Sukma Raharja
3. Registrasi 5 5 Pemeriksa mengatakan nama 3
objek selama 1 detik kemudian
klien mengulang nama objek
tersebut R Objek meja R Objek
kursi R Objek lampu
4. Perhatian & 5 5 Minta klien untuk memulai dari
Kalkulasi angka 100 kemudian dikurangi 7
sampai 5 tahap R 100 R 93
R 86 R 79 R 72
5. Mengingat 5 5 Minta klien untuk menyebutkan
atau mengulang ketiga objek
pada no.2 R Objek kursi
R Objek gelas R Objek sendok
6. Bahasa 9 9 Tunjukkan pada klien suatu
benda (2 objek) tanyakan
namanya! R Objek R Objek
Minta klien untuk mengulang
kata berikut: R Tak ada jika
R Dan atau R Tetapi (bila benar
nilai 1) Minta klien untuk
mengikuti perintah berikut:
R Ambil kertas di tangan anda
R Lipat dua R Taruh di lantai
Perintahkan pada klien untuk hal
berikut (bila aktifitas sesuai
perintah nilai 1 R Tutup mata
anda Perintahkan pada klien
menilai satu kalimat dan
menyalin gambar: R Tulis satu
kalimat R Menyalin gambar
Total Nilai
Interpretasi hasil :

1. Nilai lebih dari 25 = aspek kognitif dan fungsi mental baik


2. Nilai 8-22 = kerusakan aspek fungsi mental ringan
3. Nilai kurang dari 17 = terdapat kerusakan aspek fungsi mental berat

B. ANALISA DATA
No. Data Senjang Kemungkinan Penyebab Masalah
1. DS: Arteri besar kehilangan Nyeri kepala
kelenturannya dan menjadi
 Ibu S mengatakan kaku ê Pembuluh darah tidak
sakit kepala dapat mengembang ê
 Sakit kepalanya Pembuluh darah menjadi
berdenyut-denyut sempit ê Peningkatan
 Kadang Ibu S tekanan darah ê Peningkatan
merasakan ada yang tekanan vaskular serebral ê
kaku di kuduknya. Nyeri kepala

DO:

 Ibu S tampak sering


memegangi
kepalanya
 TD :160/110
mmHg
 Nadi : 84 x/menit
 Suhu : 36.6 oC
 Respirasi : 20
x/menit

2. DS: Ibu S mengatakan Hipertensi ê Kurang terpapar Kurang


kurang tahu mengenai informasi tentang hipertensi pengetahuan tentang
penyakit hipertensi DO: ê Kurang pengetahuan hipertensi
tentang hipertensi
 Ibu S tampak sering
bertanya tentang
penyakit tekanan
darah tinggi

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral


2. Kurang pengetahuan tentang hipertensi berhubungan dengan kurang terpapar
informasi tentang hipertensi

D. RENCANA INTERVENSI KEPERAWATAN


N Rencana
o. Diagnosa Tujua Kriteria Hasil Intervensi
Tgl Rasional
D Keperawatan n
x
20 1. Nyeri kepala Tupan: Setelah dilakukan  Kompres  Menghilan
Me berhubungan Nyeri intervensi selama 3x hangat gkan nyeri
i dengan kepala kriteria hasil yang pada dahi
20 peningkatan hilang diharapkan:
07 tekanan vaskular Tupen :  Anjurkan
serebral DS: Penuru  Ibu S meminimal
nan melaporkan kan
 Ibu S tekana nyeri kepala aktivitas
mengatak n darah hilang yang dapat
an sakit  Tidak ada meningkat
kepala kaku kuduk kan sakit
 Sakit  TD <140/100 kepala:
kepalanya mmHg mengejan
berdenyut  Nadi 80 saat BAB,
-denyut x/menit batuk
 Kadang  Mempertahan panjang,
Ibu S akan tirah membungk
merasaka baring selama uk
n ada fase akut
yang kaku  Kolaborasi
di : rujuk
kuduknya pasien ke
. puskesmas
untuk
DO: pemberian
analgetik
atau
 TD :160/ penurun
110 tekanan
mmHg darah
 Nadi : 84  Meminimal
x/menit kan
stimulasi/
meningkat
kan
relaksasi
 Menurunka
n tekanan
vaskular
serebral
dan
memperla
mbat
respon
simpatis
efektif
dalam
menghilan
gkan sakit
kepala
 Aktivitas
yang
meningkat
kan
vasokontri
ksi
menyebabk
an sakit
kepala

No Rencana
Diagnosa
Tgl . Tujuan Kriteria Intervensi Rasional
Keperawatan
Dx Hasil
20 2. Kurang Tupan : Setelah  Kaji tingkat  Menambah
Mei pengetahuan Pengetahu dilakukan pengetahuan pengetahuan
200 tentang an Ibu S intervensi klien pasien
7 hipertensi tentang selama 3x tentang
berhubungan hipertensi kriteria hasil  Berikan penyakit
dengan kurang adekuat yang pendidikan yang
terpapar Tupen : diharapkan: kesehatan dideritanya
informasi Pengetahu tentang cara
tentang an Ibu S  Ibu S mencegah dan  Mengetahui
hipertensiDS: I bertambah menga mengatasi sejauh mana
bu S takan hipertensi klien
mengatakan paham memahami
kurang tahu menge  Evaluasi tentang
mengenai nai tingkat penyakit
penyakit penya pengetahuan yang
hipertensi DO: kitnya klien dideritanya
 Memudahkan
 Ibu S dalam
tampak menentukan
sering intervensi
bertany selajutnya
a
tentang
penyaki
t
tekanan
darah
tinggi

E. IMPLEMENTASI & EVALUASI


Tanggal No. Implementasi Evaluasi
9 Juni 1.  Menganjurkan tirah S:
2007 baring selama fase akut
 Ibu S mengatakan sakit
 Mengompres hangat kepala
pada dahi  Sakit kepalanya berdenyut-
denyut
 Menganjurkan
meminimalkan aktivitas O:
yang dapat
meningkatkan sakit  TD :160/110 mmHg
kepala: mengejan saat  Nadi : 84 x/menit
BAB, batuk panjang,
membungkuk A: Masalah belum teratasi P:
Kolaborasi : rujuk pasien ke
puskesmas untuk pemberian
analgetik atau penurun tekanan
darah
9 Juni 2.  Mengkaji tingkat S: Ibu S mengatakan hipertensi
2007 pengetahuan klien adalah penyakit tekanan darah
lebih dari 140/90 mmHg O: Ibu S
 Memberikan tampak mengerti mengenai
pendidikan kesehatan masalah kesehatan hipertensi A:
tentang cara mencegah Masalah teratasi sebagian P:
dan mengatasi Ingatkan kembali klien mengenai
hipertensi cara mencegah dan mengatasi
hipertensi
 Mengevaluasi tingkat
pengetahuan klien
BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dengan meningkatnya populasi lanjut usia di Indonesia, kejadian hipertensi pada
populasi ini meningkat pula. Meningkatnya tekanan darah sudah terbukti meningkatkan
morbiditas dan mortalitas pada usia lanjut. Salah satu karakteristik hipertensi pada usia lanjut
adalah terdapatnya berbagai penyakit penyerta (komorbid) dan komplikasi organ target,
seperti kejadian penyakit kardiovaskuler, ginjal, gangguan pada sistem saraf pusat dan mata.
Dengan menurunkan tekanan darah sampai target 140/90 mmHg dapat menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas.
Selain diagnosis yang sangat teliti, tatalaksana hipertensi pada usia lanjut harus juga
memperhatikan kedua hal tersebut di atas. Penatalaksanaan hipertensi pada lansia tidak
berbeda dengan penatalaksanaan hipertensi pada umumnya, yaitu merubah pola hidup dan
pengobatan anti hipertensi. Dan saat ini berbagai pilihan obat-obat anti hipertensi telah
beredar di pasaran. Pemakaian berbagai obat tersebut bisa disesuaikan dengan penyakit
komorbid yang menyertai keadaan hipertensi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

1. Chobanian A . 2003. JNC VII Report 18th Annual Scientific Meeting and Exposotion of
American Society of Hypertension. New York, USA.
2. Martono, H. (2004). Penatalaksanaan Hipertensi pada Usia Lanjut, Buku Ajar Geriatri
(Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Edisi Ke-3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
3. Geratosima, Salma 2004. Buku Ajar GERIATRI (ilmu kesehatan usia lanjut) edisi 3.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
4. Ganiswarna S., et al. 1995. Farmakologi & Terapi Edisi 4. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
5. Stanley, Mickey. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta : EGC.
6. Stocklager, Jaime L. 2008. Asuhan Keperawatan Geriatric Edisi 2. Jakarta : EGC.
7. Kowalski, Robert E. 2010. Terapi Hipertensi. Bandung : Mizan Pustaka.
8. Nugroho, Wahjudi. 2000 . Keperawatan Gerontik . Jakarta : EGC.