Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KEPALA JANIN

Di susun oleh
Kelompok 10 :
 FERDHI ISWANTO
 FISAHRIN M. IQBAL
 ELEN TRIANANDA M.R
 IRA ASTUTI
 NUR ILMI
 RAHMAT DUNGGIO

STIKES WIDYA NUSANTARA PALU


JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2015
Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas limpah
dan rahmat-Nya sehingga makalah kepala janin ini dapat terselesaikan. Makalah
kepala janin ini dibuat sebagai tugas mata kuliah anatomi fisiologi.
Makalah ini kami susun agar dapat memberikan manfaat untuk pembaca dalam
mempelajari Sistem Muskuloskeletal.
Oleh karena itu, kami sangat mengaharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca untuk perbaikan kedepannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.

Penyusun

Kelompok 10

ii
Daftar Isi

Judul i
Kata Pengantar ii
DAftar Isi iii

Bab 1 Pendahuluan
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 1

Bab 2 Pembahasan
A. Gambar Anatomi Kepala Janin 2
B. Bagian Tengkorak 2
C. Bagian Muka 3
D. Hubungan antara tulang tengkorak 3
E. Ukuran Tulang Kepala Bayi Aterm 4

Bab 3 Penutup
A. Kesimpulan 8
B. Saran 8

Daftar Pustaka

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kepala janin merupakan organ yang sangat sulit dikeluarkan dalam proses
persalinan. Ukuran kepala janin yang bermacam-macam perlu diketahui agar
pengukuran lingkar kepala dan kesesuaian dengan pintu panggul dapat
diperbandingkan, sehingga proses persalinan normal melewati jalan lahir dapat berjalan
dengan baik.

Secara umum bentuk kepala janin dan orang dewasa sama, yang
membedakan hanya pada ukuran, kekuatan struktur jaringan tulang, dan sutura.
Jaringan lunak kepala janin terdiri dari lima lapisan (S-C-A-L-P) yaitu : Skin (S :
Kulit),Connective tissue ,Aponeurosis Galea (A : fascia) lapisan ini merupakan lapisan
terkuat, berupa fascia yang melekat pada tiga otot yaitu ke anterior – m. frontalis, Ke
posterior – m. occipitalis, Ke lateral – m. temporoparietalis. Loose areolar tissue (L:
jaringan areolar longgar), lapisan ini mengandung vena emissary yang menghubungkan
SCALP, vena diploica, dan sinus vena intracranial (mis. Sinus sagitalis superior). Jika
terjadi infeksi pada lapisan ini, akan dengan mudah menyebar ke
intracranial. Dan Perikranium (P: periosteum), merupakan periosteum yang melapisi
tulang tengkorak, melekat erat terutama pada sutura karena melalui sutura ini
periosteum akan langsung berhubungan dengan endostium (yang melapisi permukaan
dalam tulang tengkorak).

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah anatomi kepala pada janin?

C. Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui anatomi kepala pada janin.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Gambar Anatomi Kepala Janin

Kepala janin terdiri dari bagian muka dan bagian tengkorak.

B. Bagian tengkorak (Neuro Cranium)


Tengkorak merupakan bagian terpenting dalam persalinan, yang terdiri dari:

a) Tulang dahi (os. Frontale) 2 buah

b) Tulang ubun-ubun (os. Parietale) 2 buah

c) Tulang pelipis (os. Temporal) 2 buah

d) Tulang belakang kepala (os. Occipital)

2
C. Bagian muka (Splachno Cranium)

Susunan tulang muka dan dasar kepala sangat rapat sehingga tidak dapat
melakukan atau terjadi moulage. Kedudukan tulang muka ditentukan dengan meraba
hidung, dagu, mulut, dan rongga mata

a) Tulang hidung (os. Nassal)

b) Tulang pipi (os. Zigomatikum)

c) Tulang rahang atas (os. Maxillare)

d) Tulang rahang bawah (os. Mandibulare)

D. Hubungan antara tulang tengkorak

Hubungan tulang tengkorak janin belum rapat sehingga kemungkinan mendekat


saat persalinan tanpa membahayakan jaringan otak, disebut moulage. Celah-celah
diantara tulang tengkorak yang ditutup dengan jaringan ikat disebut sutura.

a) Sutura sagitalis (selah panah) antara tulang parietal.

b) Sutura koronaria (sela mahkota) antara tulang frontalis dan tulangparietalis.

c) Sutura lamboidea antara tulang occipitalis dan tulang parietalis.

d) Sutura frontalis : antara ke-2 frontalis.

Disamping itu terdapat pertemuan antara sutura-sutura yang membentuk ubun-


ubun (fontanella).

1) Ubun-ubun besar (fontanella mayor)

- Bentuk segi empat laying merupakan pertemuan antara sutura sagitalis,


dan sutura koronaria, dan sutura frontalis.

- Sudut lancipnya terletak di sutura sagitalis.

- Sebagai petunjuk letak puncak kepala.

3
2) Ubun-ubun kecil (fontanella minor)

- Dibentuk oleh sutura sagitalis dan sutura lamboidea.

- Sebagai petunjuk letak belakang kepala.

“Sutura dan ubun-ubun tertutup pada bayi sekitar 1,5 sampai 2 tahun.”

E. Ukuran Tulang Kepala Bayi Aterm

a. Diameter suboksipito-bregmatika
- Antara foramen magnum ke ubun-ubun basar.
- Jaraknya 9,5 cm
- Akan melalui jalan lahir pada letak belakang kepala, dengan
lingkaran sirkumferensia suboksipito-bregmatikadengan ukuran 32 cm.
b. Diameter suboksipito-frontalis
- Antara foramen magnum ke pangkal hidung
- Jaraknya 11 cm
- Ukuran yang melalui jalan lahir sirkumferensia suboksipito-
frontalis dengan kedudukan fleksi sedang, belakang kepala.
c. Diameter fronto-oksipitalis
- Antara titik pangkal hidung ke jarak terjauh pada belakang kepala
- Jaraknya 12 cm
- Lingkaran fronto-oksipitalis dengan sirkumferensia 34 cm melalui jalan
lahir pada letak puncak kepala.
d. Diameter mento-oksipitalis
- Antara dagu ke titik terjauh belakang kepala.
- Jaraknya 13,5 cm
- Dengan sirkumferensia 35 cm melalui jalan lahir pada letak dahi.
4
e. Diameter submento-bregmatika
- Antara os hyoid ke ubun-ubun besar.
- Jaraknya 9 cm.
- Dengan sirkumferensia 32 cm melalui jalan lahir pada letak muka.

f. Ukuran Melintang

1. Diameter biparietalis, antara kedua parietalis dengan ukuran 9,5 cm.

2. Diameter bitemporalis, antara kedua tulang temporalis dengan ukuran


8,5 cm.

Dengan demikian kepala bayi dalam proses persalinan dapat menyesuaikan

diri pada jalan lahir yang berbentuk corong melengkung ke depan yang disebut putaran

paksi dalam. Sampai beberapa bulan setelah dilahirkan, tulang-tulang kepala bayi

belum menyambung satu sama lain. Namun letaknya telah tersusun berdampingan

secara rapi. Keadaan ini memungkinkan jaringan otak berkembang menjadi lebih besar,

karena terdapat ruang yang bisa mengikuti besarnya otak.Kepala bayi dibentuk oleh

beberapa lempeng tulang, yaitu 1 buah tulang di bagian belakang (tulang oksipital), 2

buah tulang di kanan dan kiri (tulang parietal), dan 2 buah tulang di depan tulang

frontal). Di antara tulang-tulang yang belum bersambung itu terdapat celah yang disebut

sutura. Sutura-sutura ini ada yang membujur dan ada pula yang melintang.

Titik silang celah-celah itulah yang membentuk ubun-ubun depan (besar) dan ubun-

ubun belakang (kecil). Ubun-ubun dan sutura-sutura ini normalnya menutup

5
antara usia 6-20 bulan. Jika ternyata di bawah usia 6 bulan sutura tulang tengkoraknya

sudah menutup, bisa dikatakan menutup terlalu cepat. Jika masing-masing tulang

sudah bersambungan satu sama lain, biasanya ubunubun juga ikut menutup. Istilah

medis untuk penutupan sutura ini, craniosynostosis, berasal dari kata cranio yang

berarti tulang tengkorak, syn yang berarti bergabung, dan ostosis yang artinya tulang.

Secara kasat mata, akibat proses penutupan tulang tengkorak yang kelewat dini

bisa dilihat melalui bentuk kepala yang tak normal.Ketidaknormalan ini terjadi karena

pertumbuhan kepala cenderung mengarah ke tulang yang suturanya menutup

belakangan. Ketidaknormalan bentuk itu tentu saja tampak berbeda-beda, tergantung

sutura mana yang menutup lebih dulu. Sebagai contoh, kalau sutura

bagian depan sudah menutup lebih dulu, pertumbuhan kepala akan lebih mengarah ke

belakang, dan akibatnya kepala jadi panjul.

Sutura atau ubun-ubun yang sudah menutup bisa mulai diketahui dari

pemeriksaan yang dilakukan saat bayi baru lahir. Dokter yang menolong persalinan

biasanya dengan mudah bisa melihat kelainan itu. Ia akan curiga bila kepala bayi

tampak lebih kecil dibandingkan badan. Yang normal, kepala bayi justru terlihat lebih

besar daripada bagian tubuh lainnya karena keliling lingkar luar kepalanya sama

dengan keliling dadanya.

Tujuan mengukur lingkar kepala bayi pada saat ia lahir ialah untuk mengetahui

adanya kecenderungan ubun-ubun menutup terlalu cepat. Pengukuran ini tentusaja

tidak hanya sekali, tapi terus dilakukan setiap bulan bersamaan dengan pemantauan

pertumbuhan dan perkembangan anak.

6
Untuk mengetahui apakah ukuran lingkar kepala bayi normal atau tidak, nakes

berpatokan pada grafik lingkar kepala berdasarkan umur yang disebut grafik Nellhaus.

Dengan grafik ini, adanya kelainan pada ukuran lingkar kepala dan proses

pertumbuhannya bisa terdeteksi, baik jik akepala terlalu besar (misalnya karena

hidrosefalus) atau terlalu kecil, misalnya karena craniosynostosis. Selain itu,

pemeriksaan bisa dilakukan dengan meraba ubun-ubun besar bayi, apakah ukurannya

normal atau tidak. Diameter ubun-ubun besar yang normal berkisar antara 0,63,6 cm

dan bila diraba akan terasa berdenyut karena memang ada pembuluh darah di

bawahnya. Pemeriksaan ubun-ubun dan lingkar kepala ini sebenarnya tidak sulit namun

untuk perabaan terhadap sutura kepala bayi yang biasanya agak lebih sulit.

Bagaimanapun, celah antar tulang ini memang tak sebesar ubun-ubun. Jika dari

pemeriksaan ukuran dan perabaan kepala dicurigai ubun-ubun menutup terlalu cepat,

nakes akan memeriksanya lebih jauh dengan CT Scan. Alat ini bisa memberi gambaran

yang lebih jelas.

7
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kepala janin terdiri dari bagian tengkorak (Neuro Cranium) dan bagian
muka (Splachno Cranium). Hubungan antara tulang tengkorak disebut sutura, terdiri
dari Sutura sagitalis, Sutura koronaria, Sutura lamboidea dan Sutura frontalis.

Disamping itu terdapat pertemuan antara sutura-sutura yang membentuk ubun-


ubun (fontanella).

B. Saran
Mengetahui anatomi kepala janin dan ukuran kepala akan memberikan
landasan bagi tenaga bidan dalam menentukan jenis persalinan, ketika kepala janin
lebih besar dari pintu panggul maka sebaiknya persalinan normal dipertimbangkan.

8
DAFTAR PUSTAKA

http://hardinburuhi88.blogspot.co.id/2014/07/makalah-
anatomi-kepala-janin.html
http://midwifel.blogspot.co.id/2011/11/anatomi-kepala-
bayi.html
http://missyoanpurple.blogspot.co.id/2012/09/anatomi-
kepala-janin.html
9

Anda mungkin juga menyukai