Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Seseorang yang belum mengetahui secara jelas dan nyata sesuai
faktanya, hal itu merupakan suatu permasalahan dalam meyakini apa yang
sedang atau telah diperbuat. Seseorang akan sulit menentukan suatu
pedoman atau dalil yang menjadikan dasar hukum karena disebabkan oleh
keragu-raguan orang yang mengerjakan suatu hal yang mestinya
diperbolehkan atau tidak. Prasangka seseorang tidak akan berguna bila tidak
sesuai dengan faktanya, kecuali Alloh SWT yang Maha Mengetahui apa yang
manusia kerjakan. Manusia memerlukan suatu kaidah yang dapat
meyakinkan manusia itu sendiri dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Kaidah
tersebut bisa saja menjadi hukum baik yang sduah ada sebelumnya dan tetap
menjadi hukum hingga sampai sekarang contohnya melakukan kewajiban
shalat, zakat dan lain-lain. Adapun kaidah yang lain bila terdapat perbedaan
maka sesuatui yang telah pasti dan yakin maka keyakinan ini tidak akan
gugur kecuali dengan ada keyakinan yang lain yang menyerupai, adapun hal-
hal yang merupakan keragu-raguan tidak dapat menggugurkan keyakinan
tersebut.
Menetapkan hukum atas sesuatu hukum atas sesuatu berdasarkan
keadaan sebelumnya, sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahan
keadaan tersebut atau yang disebut istishab serta ijma atau kesepakatan
ulama akan sulit dilakukan dikarenakan ada keragu-raguan dan tidak disertai
bukti yang cukup. Keragu-raguan dan bukti yang cukup menjadikan persoalan
dalam kehidupan sehari-hari manusia, sehingga terjadi banyak ikhtilaf atau
perbedaan diantara para ulama untuk memutuskan hukum pada aktivitas
manusia dalam menjalankan kaidah hukum islam.
Pada dasarnya merdeka itu berlaku selama belum diketahui oleh orang
lain. Namun seseorang mengaku-ngaku merdeka/bukan hamba sahaya(pada
zamannya) tidak bisa dijadikan dasar hukum bila dia tidak memiliki bukti

1
2

bahwa dia adalah orang yang merdeka. Bukti hukum adalah alasan yang kuat
dalam menetapkan dasar hukum.

B. Rumusan Masalah
1. Mengapa tidak menolak yakin kecuali dengan keyakinan lagi?
2. Mengapa Barang siapa yang mengetahui tentang sesuatu maka
dialah bidangnya sehingga datang penjelasan yang menentangnya?
3. Mengapa tidak akan terhalang kebenaran oleh keragu-raguan?
4. Mengapa Asal manusia itu adalah merdeka (sifat, pendapat,
kebebasan) sehingga kapan mereka sudah tidak merdeka lagi?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui makna, dalil, pandangan dan representasi “tidak
menolak yakin kecuali dengan keyakinan lagi”.
2. Untuk mengatahui makna, dalil, pandangan dan representasi “Barang
siapa yang mengetahui tentang sesuatu maka dialah bidangnya
sehingga datang penjelasan yang menentangnya”.
3. Untuk mengatahui makna, dalil, pandangan dan representasi “tidak
akan terhalang kebenaran oleh keragu-raguan”.
4. Untuk mengatahui makna, dalil, pandangan dan representasi “asal
manusia itu adalah merdeka (sifat, pendapat, kebebasan) sehingga
kapan mereka sudah tidak merdeka lagi”.

D. Batasan Masalah
Kemudian, guna menghindari terjadinya perluasan dan pelebaran
masalah dalam pembahasan makalah ini, maka penulis menyusun
batasan-batasan masalah seputar macam-macam kaidah atau aturan
tentang yang dirumuskan dalam rumusan masalah.
3

BAB II
PEMBAHASAN
‫قواءد في العمل با ليقين وطرح الثك‬
)qawaid fi alimal bilyaqin watarh alshak(

A. KAIDAH AWAL (SATU)


‫ال ادفع اليقين إال بيقين‬
(Saya (Imam Syafi’i) tidak menolak yakin kecuali dengan yakin)

a) Pokok Masalah Utama

1. Makna kata Qaidah ini


Kata‫ادفع‬berasal dari fi’il mudori (kata kerja yang menunjukkan
pekerjaan yang sedang atau yang akan dilakukan) dari kata ‫دفع الشيء‬
‫( يدفعه دفعا إذا نحاه وأزاله بقوة‬ia menolak sesuatu yang ia tolak ketika ia
sedang tuju dan menghilangkannya dengan sepenuh tenaga) Dan
disebutkan bahwa arti kata tersebut secara bahasa adalah ‫دفع القول إذا رده‬
‫( بالحجة‬menolak perkataan/pendapat ketika ditolak dengan hujjah
(argumentasi).
Kata ‫ اليقين‬dalam bahasa Arab terdiri dari 3 huruf poko yaitu huruf ya,
qaf dan nun yang menunjukkan makna mengetahui dan hilangnya
suatu keraguan. Diambil dari sebuah kalimat yang berbunyi ‫يقن الشيء‬
‫ (ييقن يقنا إذا وضح وتحقق‬dia meyakini sesuatu yang ia yakini dengan
sepenuh hati ketika jelas dan nyata.
Namun makna ‫اليقين‬dalam etimologi sebagaimana pendapat Imam Al-
Jurjani adalah meyakini sesuatu bahwa yang diyakininya itu begitu
serta keyakinannya itu tidak mungkin tidak begitu kecuali begitu sesuai
dengan faktanya yang tidak mungkin hilang.
4

2. Makna Secara Garis Besar Pada Qaidah Ini


Maksud dari qaidah ini adalah bahwa sesuatu yang diyakini ada
ketetapannya tidak akan muncul kecuali dengan adanya dalil yang
pasti. Dan tidak dapat dijadikan hukum dengan tidak adanya dalil
tersebut dikarenakan ragu begitu pula perkara yang diyakini tidak ada
ketetapannya tidak dapat dihukumi ada ketetapannya hanya dengan
suatu keraguan. Karena ragu lebih lemah daripada yakin maka tidak
dapat dibantah ada dan tidaknya1.

b) Pokok Bahasan Kedua : Dalil Dalil Qaidah Ini:


1. Dari Al- Qur’an surah Yunus ayat 36 : “Dan kebanyakan mereka
tidak mengikuti kecuali hanya persangkaan saja. Sesungguhnya
persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai
kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”Dari ayat tersebut Allah SWt memberithukan kepada kita
bahwa sangkaan tidak seperti yakin, tidak ada kedudukannya dan
tidak cukup sangkaan itu dalam sesuatu yang membutuhkan suatu
keyakinan.

2. Dari Hadis Nabi Muhammda SAW.


Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid RA. Bahwasannya ia pernah
mengadu kepada Rasulullah SAW tentang laki-laki yang mengira ia
menemukan sesuatu dalam shalatnya. Maka Rasulullah SAW
berkata, tidak perlu shalat sunnah atau menyudahi shalatnya
sampai ia benar-benar yakin mendengar suara atau merasakan
bau. Imam Syafii berpendapat bahwa hadis ini menjelaskan yakin
dalam masalah wudhu dan ragu pada batalnya wudhu lalu
Rasulullah SAW memerintahkan sahabatnya untuk tetap yakin
pada wudhunya dan tidak menyudahi atau membatalkan shalat

Abdul Wahab bin Ahmad Kholil, “Qawaid wa Adh-Dhawabit Al-Fiqhiyyah”, Darut


1

Attadmiriysh, Riyadh, 2008 m.hal 74


5

yang disebabkan karena ragu sampai ia berkayakinan batal


wudhunya dengan mendengar suaranya sendiri atau merasakan
bau (kentut).
Imam Nawawi Rahimahullah berpendapat bahwa hadis ini
merupakan pokok dari pokok-pokok ajaran islam dan kaidah yang
agung dari kaidah-kaidah ilmu fiqh yaitu segala sesuatu yang
menghukumi ketetapannya atas pokok-pokok masalah qaidah
sampai berkeyakinan adanya sesuatu yang bertentangan dengan
kaidah tersebut.2

3. Segolongan ulama muhaqqin menuqil ijma ulama untuk


mengamalkan kaidah ini walaupun berbeda pendapat dalam furu’
yang termasuk dibawahnya (maksudnya ‫اليقين ال يزال بالشك‬: keyakinan
tidak akan hilang dengan keraguan). Imam Syihabuddin Al-Qarafi
berpendapat pada saat ia menyampaikan kaidah yang sangat
terkenal (‫ )اليقين ال يزال بالشك‬qaidah ini merupakan yang diijma’kan
yaitu segala sesuatu yang diragukan akan menjadi seperti tidak
ada yang pastinya harus tidak ada. Bahkan imam Al-Hafidz Al-‘alai
berpendapat bahwa ijma itu batal atau gugur pada seseorang yang
ragu terhadap istrinya, apakah ia telah menikahnya atau tidak?
yang mana ia belum menidurinya, karena menistishhabkan
(menjadikan hukum yang sudah ada sebelumnya tetap menjadi
hukum hingga sekarang seperti kewajiban shalat, zakat dan lain-
lain) pada hukum haramnya untuk memastikan menikahi istrinya
itu. Bahwa orang yang ragu terhadap istrinya apakah ia telah
dithalaq atau belum? Dan dia pernah menidurinya sampai
memastikan thalaq karena menistishhabkan pada pernikahan
sebelumnya.

2
Abdul Wahab bin Ahmad kholil, 77-79
6

c) Pokok Bahasan Ketiga : Pandangan Pendapat Ulama Madzhab


Tentang Qaidah Ini.3
Kaidah ini telah diterangkan oleh Imam Syafi’i pada saat Imam Syafi’i
menyampiakan bantahan terhadap penjelasan masalah waris. Beliau
berpendapat, jika seseorang memiliki istri dan anak, ternyata istrinya
tersebut memiliki saudara laki-laki lalu mereka berdua (si laki-laki yang
beristridan saudara istrinya) saling melaporkan pada hakim maka
mereka membenarkan kematian anak dan istrinya dan mengakuinya.
Lalu saudara istrinya berkata : anak nya telah meninggal setelah itu
istrisi laki-laki itu pun meninggal, maka dari itu warisan dan harta
peninggalan istrinya itu untukku. Maka suaminya menjawab tetapi
istriku yang meninggal lebih dulu lalu aku menjaga anak dan warisan
istri bersamaku kemudian anakku meninggal, maka engkau tidak
berhak mendapatkan warisan anakku dan tidak ada bukti diantara
keduanya. Maka perkataan saudara laki-laki tersebut harus disertai
sumpahnya. Karena ia sekarang adalah yang masih hidupsedangkan
saudara perempuannya telah wafat maka ia otomatis menjadi ahli
waris. Begitu juga dengan orang yang terhalang dengan bukti, aku
(imam Syafi’i) tidak menolak keyakinan kecuali dengan keyakinan yang
serupa. Andaikan anak istrinya meninggalkan harta lalu saudara laki-
lakinya itu berkata aku akan mengambil bagian harta warisan saudara
perempuannya dari tangan anak saudara perempuannya. Maka
saudara laki-laki tersebut dalam kondisi demikian adalah penggugat
yang mengarah pada keinginanya mengambil sesuatu yang terkadang
mungkin ia tidak akan mendapatkannya. Sebagai mana Imam Syafi’i
berpendapat : sebagaimana aku menolak bahwa ia (saudara laki-laki
tersebut) ahli waris sebab ia meyakini prasangka anak laki-laki itu yang
mengahalanginya. Maka karena itu kenapa ia (suami) mewariskan
warisan kepada anaknya.? karena ayah yakin dan hal tersebut adalah

3
Abdul Wahab bin Ahmad kholil, 79-81
7

dugaan. Sedangkan ayah wajib disumpah dan saudara laki-laki


tersebut wajib atas buktinya.
Maka qaidah ‫ال ادفع اليقين إال بيقين‬berarti memberikan pengertian bahwa
sesuatu yang telah pasti dengan yakin maka keyakinan ini tidak akan
gugur/hilang kecuali dengan ada sesuatu keyakinan lain yang
menyerupai, adapun hal-hal lainnya yang merupakan keraguan maka
tidak dapat menggurkan keyakinan tersebut.
Iman Syafi’I memperbanyak argument makna kaidah ini pada
beberapa tema yang berbeda dari kitab Al-Um antara lain hujjah beliau
adalah jika seseorang ragu apakah ia telah merasakan keluarnya mani
atau tidak maka ia tidak wajib melakukan mandi junub sehingga ia
harus meyakini betul keluarnya air mani (dari kemaluannya)
sedangkan untuk tetap menjaga kehati-hatian adalah ia tetap
melakukan mandi junub. Imam Suyuthi mengemukakan pendapat
pada qaidah dengan lafadz kaidahnya ia berkata (barang berkeyakinan
mengerjakan sesuatu dan dia ragu dalam sedikit atau banyaknya
maka ia menanggung yang sedikit karena ia yakin. Kecuali ada
jaminan/perlindungan asal muasalnya maka jaminan tersebut tidak
dapat membebaskannyakecuali dengan yakin. Imam suyuti
berpendapat bahwa pengecualian ini berlaku pada kaidah ketiga yang
disebutkan Imam Syafi’I yaitu sesuatu yang telah tetap dengan
keyakinan tidak dapat menghilangkan hukum kecuali dengan yakin.
Dan mayoritas ulama madzhab tidak membutuhkan kaidah ini . mereka
cukup menolak masalah-masalah kaidah yang besar seperti : ‫اليقين ال‬
‫( يزال بالشك‬keyakinan tidak akan hilang dengan ragu) sebagaimana yang
dilakukan oleh Imam Izuddin Bin Abdul As-salam, Imam Al-Hafidz Al-
Ala’i, Al-Alamah Imam Ibnu Subki dan lain- lain.Bentuk penolakan
masalah kaidah ini sebagai berikut :
‫ اليقين ال يزال بالشك‬bahwa pada redaksi kaidah ini menunjukkan sesuatu
yang telah ditetapkan oleh keyakinan harus ada istishhabnya dan
keraguan yang datang tidak dapat menghilangkan sesuatu tersebut.
8

d) Pokok Bahasan Keempat : Representasi Pada Kaidah Ini


Imam Syafi’i telah menyebutkan banyak cabang pada kaidah ini antara
lain :

1. Jika seseorang melihat air lebih dari 5 qurbah atau 2 qullah lalu ia
meyakini bahwa rusa kencing pada air tersebut dan ia menemukan
perubahan rasa atau warnanya atau baunya saja maka air itu najis.
Namun jika ia menduga bahwa perubahan air tersebut bukan dari
kencing maka ia berkeyakinan dengan najis yang bercampur dengan
air tersebut. Dan ia menemukan perubahan yang tetap pada air
tersebut sedangkan perubahan air disebabkan oleh kencing dan lain-
laninya tentu berbeda.

2. Jika seseorang menemukan air yang mengenai pakaiannya dan ia


tidak ia apakah air tersebut disebabkan oleh mimpi jima dan lain-lan
maka yang paling afdhal adalah segera mandi junub dan mengulangi
shalat. Maka ia mengulangi shalat sesuai dengan apa yang dilihat
apakah dia mimpi jima. Atau ia tidak melihat apapun dalam mimpinya
yang menyerupai ketika ia mimpi jima. Imam Syafi’I berpendapat
bahwa bagiku tidak dapat menjelaskan kewajiban mandi junub
padanya.

3. Imam Syafi’i berkata kadang-kadang sesorang menjadi gila kecuali ia


mengeluarkan air maninya. Jika ini seperti demikian maka orang gila
itu harus mandi junub karena mengeluarkan air mani. Dan jika ragu
Aku lebih menyukainya mandi junub sebagai bentuk kehati-hatian dan
aku mewajibkan hal tersebut pada sampai ia meyakini keluar air mani.

4. Jika seorang imam shalat jumat merasa ragu begitu juga dengan
makmumnya apakah sudah masuk waktu ashar atau tidak? Maka
9

shalatnya imam dan makmum mencukupi (kesahan shalat jumat)


karena mereka yakin masuk pada waktu shalat jumat. Sebab
meragukan dalam waktu shalat jumat tidak dapat memenuhi kesahan
shalat jumatmereka seperti orangyang yakin dengan wudhu tetapi ragu
dalam batalnya wudhu.
10

B. Kaidah yang kedua

َ ِ‫علَ ْي ِه َحت َّ َى تَقُو ُم بَيِنَةٌ ب‬


‫خَلفِ ِه‬ َ ‫ش ْي ٍء فَ ُه َو‬ َ ‫َم ْن ع ُِر‬
َ ِ‫ف ب‬
Barang siapa yang mengetahui tentang sesuatu maka dialah bidangnya
sehingga datang penjelasan yang menentangnya/bantahannya

a) Pokok Bahasan Pertama, Makna Kaidah

1. Makna Kata Kaidah


ْ menurut etimologi (bahasa) memiliki makna mengungkap
ُ‫البَيِّنَة‬

sesuatu dan menjelaskannya sedangkan menurut terminologi


(istilah) dikhususkan untuk sebuah kesaksian, para Ulama
menamai dengan kata tersebut karena kata tersebut menjelaskan
sebuah kebenaran yang tersembunyi. Maksud dalam kaidah ini
adalah petunjuk yang jelas baik secara syara’, akal, panca indera,
makna inilah yang mencangkup makna fiqh yang terdahulu dan
fiqh sesudahnya yang terkenal dan lebih dulu dalam firman Al-
Qur’an. Allah berfirman dalam surat surat hud : 17 “Apakah
(orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada
mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur’an) dari Tuhannya”, Surah
Al-Anfal:42 “yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan
dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu
hidupnya dengan keterangan yang nyata pula”., surah Ar-Rum: 9
“dan telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa
bukti-bukti yang nyata”.

2. Makna Secara Garis Besar Kaidah Ini :


Makna kaidah ini adalah siapapun yang ada pada suatu kondisi di
masa lalu, lalu ia menyatakan berlangsungnya kondisi tersebut
selama ia belum mendapatkan dalil yang jelas pada
ikhtilafnya/perbedaan. Imam Syafi’I bependapat, jika dua saudara
kandung hadir yang satu muslim dan yang satunya lagi nasrani
lalu mereka membenarkan bahwa ayahnya telah wafat dan
11

meninggalkan rumah sebagai warisan dan si muslim itu berkata


ayahnya mati dalam keadaan muslim lalu saudaranya yang
nasrani berkata ayahnya wafat dalam keadaan nasrani maka
keduanya harus ditanya, jika mereka berdua membenarkan
bahwa ayahnya meninggal sebagai seorang nasrani kemudian si
muslim berkata ayahnya masuk islam setelah menjadi nasrani,
maka dalam perkara ini disebutkan sebuah pendapat hartanya
untuk si nasrani karena seseorang itu pada dasarnya sesuai
dengan dulunya ia berada hingga ada bukti bahwa ayahnya itu
berpindah agama dari agama sebelumnya.

b) Pokok Bahasan Kedua : Dalil-Dalil Kaidah Ini


Kaidah ini berdalil dengan dalil kaidah sebelumnya yaitu ( َ‫َال أَ ْدفَع ْال َي ِّقيْن‬
‫ ِّإ اال ِّب ْال َي ِّقي ِّْن‬: Aku (Imam Syafi’i) menolak suatu keyakinan kecuali dengan
keyakinan) karena keduanya cocok serta saling memberikan
penjelasan hukum dengan mengistishhabkan suatu hukum yang telah
ada/tetap di masa lalu baik yang masih ada atau yang sudah tiada
selama belum ditemukan dalil yakin yang menunjukkan suatu
perselisihan pendapatnya.
Bahwa sesuatu yang nyata ada atau tidak adanya yang berada
dalam suatu kondisi yang mengharuskan adanya dugaan
ketetapannya. Sedang duagaan merupakan hujjah yang mengikuti
syara’. Tentunya kita menyebutnya harus ada dugaan ketetapannya
pada 4 hal :
i. Bahwa ijma/kesepakatan ulama batal/gugur pada kasus seseorang
jika ia ragu adanya thaharah/bersuci pada permulaannya. Dia tidak
boleh shalat . jika ia ragu dalam ketetapan tharah ia boleh shalat
walaupun pada dasarnya tidak dalam setiap pernyataan
keberlangsungannya tentu wajib adanya baik boleh shalat dalam
bentuk pertama atau tidak boleh shalat dalam bentuk kedua. Dan itu
dinamakan perselisihan ijma’(khilaful ijma’).
12

ii. Para cendikiawan dan para tokoh adat pada saat mereka menyatakan
adanya sesuatu atau tidaknya memiliki hukum-hukum khusus. Maka
mereka memperkenankan putusan hakim dan hukuknya pada masa
depan ada tidaknya hal tersebut. Walaupun pada dasarnya ketetapan
sesuatu sudah ada ketika hal tersebut diperkenankan mereka.
iii. Dugaan suatu ketetapan lebih didominasi dari dugaan perubahan
(Dzhanut Taghayyur) hal tersebut dikarenakan yang tetap tidak
berhenti pada kebanyakan ada masa depandan membandingan hal
tersebut adalah yang masih tetap baginya, baik masih ada ataupun
sudah tiada. Adapun perubahan itu adalah yang menghentikan 3 hal
antara lain; adanya masa depan, pergantian yang ada menjadi tidak
ada atau sebaliknya, membandingkan ada tidaknya itu pada waktu
tersebut. Jelas sesuatu yang menghentikan pada dua hal yang tidak
ada perubahan yang lebih umum dari hukum yang menghentikan
kedua perkara tersebut karena aib dan perkara yang ketiga selainya
kedua perkara tersebut.
iv. Jika suatu harta berada pada harta yang tersisa dengan sendirinya
seperti berlian, maka jika didominasi oleh dugaan selama memilikinya
karena harta tersebut lebih sering dari yang lainnya maka itu lebih
baik. Kerena keberadaan harta tersebut tidak berpengaruh. Adapun
perubahan harta membutuhkan pengaruh. Dan tidak diragukan bahwa
yang tidak membutuhkan pengaruh lebih unggul/kuat dalam
keberadaannya dari pada yang membutuhkannya.

c) Pokok Bahasan Ketiga : Representasi Kaidah Ini


Kaidah ini telah dinash oleh Imam Syafi’i ketika menjelaskan
hubungan warisan harta orang yang murtad dan wasiatnya dimana
Imam Syafi’i berpendapat jika ahli waris orang yang murtad itu
termasuk orang muslim berkata ayahnya telah masuk islam sebelum
wafat, maka mereka harus memiliki bukti, jika mereka membawa
buktinya maka serahkan seluruh harta ayahnya pada ahli warisnya
13

namun jika mereka tidak dapat menunjukkan buktinya maka ayahnya


murtad hingga dapat diketahui taubatnya. Dan jika bukti tersebut
didapat dari orang yang menjadi ahli warisnya maka ditolak bukti
tersebut.
Begitu juga jika orang murtad mewasiatkan sebuah wasiat lalu ia
berkata bilamana aku mati, maka berikan untuk si fulan dan si fulan
sekian-sekian lau wafatlah si murtad itu. Maka orang yang menerima
wasiat bersaksi kepada kedua orang tersebut kalau si murtad telah
kembali masuk islam maka kedua orang itu yangan menerima
kesasian si penerima wasiat, karena keduanya bisa menangguhkan
bleh berwasiat untuk diri mereka yang mana telah batal disebabkan
murtadnya si murtad. Namun jika si murtad bertaubat lalu wafat, lalu
dikatakan : si murtad telah murtad kemuadian wafat dalam keadaan
murtad, dalam keadaan sedang betaubat hingga ada bukti bahwa dia
murtad setelah bertaubat. Karena orang yang dikenali dengan
sesuatu maka itulah yang melekat padanya hingga ada bukti
bantahannya .
َ ‫ش ْيءٍ فَ ُه َو‬
Lafadz (‫علَ ْي ِه‬ َ ‫ َم ْن ع ُِر‬: Orang yang dikenali dengan sesuatu
َ ِ‫ف ب‬
maka itulah yang melekat padanya) yakni hokum itu bergantung pada
tetapnya suatu perkara yang sudah tetap selama belum diperoleh
petunjuk yang jelas atas bantahannya, Imam Syafi’I berkata dengan
makna kaidah ini dalam masalah lain, seperti : jika ada seorang
muslim yang memiliki amat/budak perempuan lalu budaknya berkata
dulu saya seorang budak lalu aku dimerdekakan sebelum suamiku
seorang muslim itu wafat atau dia berkata dulu saya adalah wanita
kafir dzimmi lalu aku masuk islam sebelum dia wafat atau misalkan
dia (budak perempuan) memiliki bukti bahwa dia adalah seorang
budak atau wanita kafir dzimmi ia mengakui kehamba sahayaannya
dan keislamannya sebelum suaminya wafat kemudian ahli warisnya
mengingkari pengakuannya tersebut, dan mereka berkata : kehamba
sahayaan dan kesilamannya itu setelah suaminya wafat. Maka
14

ucapan yang dapat dipegang adalah perkataan ahli waris, sedangkan


si budak perempuan tersebut harus memiliki bukti jiak ia mengenal
bahwa bukti tersebut merupakan keluarganya hingga ada bukti lain
atas bantahannya.
Kaidah ini bermakna kaidah terkenal yang disebutkan oleh para ulama
ْ َ ‫األ‬: asal usul hukum adalah
qawaid fiqh yaitu, ( َ‫صل بَقَاء َما َكانَ َعلَى َما َكان‬
tetapnya suatu perkara yang ada pada sesuatu yang sudah ada) dan
kaidah ini merupakan hukum yang telah diakui oleh ahli usul fiqh yang
dikenal dengan istilah istishhabul hal (mengistishhabkan keadaan).
Imam Ibnu Subki berpendapat keyakinan itu tidak dapat
menghilangkan keraguan begitu juga nampak bahwa keyakinan tidak
akan bersama dengan keraguan, tetapi maksud dari kaidah ini adalah
mengistishhabkan asal usul hukum yang diyakini tidak dapat
menghilangkan keraguan yang baru.
Istishhab secara etimologi adalah mencari kawan sedangkan
menurut terminologi sebagaimana yang telah didefinisikan oleh Imam
Asnawi adalah suatu ungkapan hukum tetapnya perkara di masa
kedua berdasarkan ada ketetapannya di masa pertama.
Menurut Imam Khawarizmi istishhab adalah akhir topik fatwa, maka
bahwasannya seorang mufti ketika ditanya tentang peristiwa yang
diminta kejelasan hukumnya dalam Al-Qur’an, hadis, ijma’ kemudian
qiyas lalu ia tidak menemukannya maka ia harus mengambil
hukumnya melalui istishahabul hal baik dari segi nafi (penafian), dan
itsbatnya (penetapannya). Maka jika ia ragu dalam tidak ada
hukumnya maka dasar hukumnya adalah ada, dan jika ragu dalam
keberadaan hukumnya maka dasar hukumnya adalah tidak ada.
Jadi kesimpulannya adalah istishhab merupakan ungkapan hukum
tentang berpegang pada dalil aqli atau dalil syar’i dan bukan kembali
menuju ketidaktahuan terhadap dalil tapi kembali kepada dalil dengan
disertai penafian/penolakan pengubah hukum atau dugaan menafikan
15

pengubah hukum pada saat mengerahkan kemampuan dalam


meneliti dan mencari dalil.
Istishhab terbagi ke dalam beberapa bentuk antara lain :
i. Istishhabu ‘adamil asli yaitu sesuatu yang diketuhui oleh akan
keberadaanya tidak ada terhadap sesuatu yang asalnya tidak ada
seperti menafikan wajib shalat enam waktu dan wajib puasa syawal.
Maka akal akan menunjukkan gugurnya kewajiban tersebut bukan
untuk menjelaskan hukum syara’ akan tetapi karena tidak ada yang
menetapkan kewajibannya maka hukumnya tetap menafikan asal
mulanya. Dan inilah hujjah/alasan menurut jumhur ulama, sebagian
ulama yang mengkuinya ijma’.
ii. Istishhabud dalil ma’a ihtilil ma’aridh : baik berupa takhsish
(mengkhususkan) jika ada dalil dzahir atau baik berupa naskh, jika
dalilnya nash. Hal tersebut sebagaimana yang telah diperintahkan
ijma’ untuk dilakukan.
iii. Istishhab ma dalla al aqla ‘ala tsubutihi wa dawamihi
9mengistishhabkan sesuatu sesaui yang ditunjukkan oleh akal
terhadap ketetapan/keberadaan dan keberlangsungannya. Seperti
seorang raja ketika memberlakukan suatu perkerjaan yang
dikehendaki oleh raja dan melalaikan perlindungan ketika
memberlakukan kerugian atau memonopoli.
iv. Istishhabul hukmi al-aqli (mengistishhabkan hukum dengan akal)
menurut mu’tazilah. Bahwa menurut mereka bahwa akan yang
memutuskan dalam segian hal untuk menolak dalil sam’i (dalil yang
didengar saja)hal ini tidak ada bantahan dari alus sunnah wal jamaah
dalam larangan untuk tidak boleh mengamalkannya. Karena akal tidak
memiliki hukum dalam masalah syara’.
v. Istishbul hukmi ats-tsabiti bil ijma’ (mengistishhabkan hukum yang
telah ditetapkan oleh ijma pada dalam kedudukan masalah khilafiah,
bahwa hukum menyesuaikan pada hukum lain dalam suatu situasi,
kemudian sifat yang diijma’kan berubah maka berbedalah yang
16

apapun dijma’kan. Contohnya : seorang yang bertayammum pada


saat melihat air pada pertengahan shalatnya maka shalatnya tidak
batal, krena sebelum tiu ijma’ telah batal/gugur atas sahnya shalat.
Datangnya air seperti datangnya hembusan angin, terbitnya fajar dan
semua makhluk. Maka kami (ulama madzhab Syafi’i
mengistishhabkan sahnya shalat untuk menunjukkan dalil atas
melihatnya air yang dapat membatalkan shalat (bagi orang yang
tayammum).

d) Pokok Bahasan Keempat :


Kaidah ini banyak diterapkan antara lain sebagai berikut :
1. Jika segerombolan orang sedang dalam perjalan atau menetap
(tidak bepergian) lalu mereka mengenal seseorang yang bukan
beragama islam lalu orang itu masuk islam dan shalat kemudian
mereka shalat di belakangnya di masjid atau di ruangan terbuka
maka tidak sah shalat mereka bersama orang tersebut kecuali
mereka menanyakannya terlebih dulu, maka orang itu berkata,
saya sudah masuk islam sebelum shalat atau ada orang yang
memberitahu mereka bahwa dia seorang muslim sebelum
melaksanakan shalat. Jika ada orang yang memberitahu mereka
bahwa orang itu telah masuk islam sebelum shalat maka shalat
mereka sah.
2. Jika ada seseorang memiliki budak yang hilang entah kemana dan
ia tidak tahu apakah budaknya hidup atau mati pada waktu zakat
fitrah. . Maka wajib baginya menunaikan zakat fitrah untuk
budaknya. Imam Syafi’i berpendapat orang itu tidak boleh berhenti
untuk mengeluarkan zakat budaknya yang hilang walaupun ia
terputus kabar tentang budaknya sampai ia tahu kematiannya
sebelum hilal bulan syawal. Jika ia melaksanakannya lalu dia telah
diketahui budaknya telah wafat sebelum syawal maka ia tidak perlu
17

menunaikan zakat untuk budaknya. Namun jika ia yakin maka ia


harus segera menunaikan zakat untuk budaknya.
3. Jika seseorang ditawan, hialng atau menghilang maka istrinya tidak
dalam iddah dan tidak boleh dibagikan hartanya kecuali setelah
yakin kematiannya. Imam Syafi’I berpendapat, jika seorang muslim
ditawan di medan perang, istrinya tidak boleh dinikahi kecuali
setelah yakin akan kematianya suaminya baik diketahui tempatnya
atau tidak diketahui. Begitu juga tidak boleh dibagikan hartanya.
18

D.Kaidah Keempat
‫إن أصل الناس الحرية حتى يعلم أنهم غير أحرار‬
Sesungguhnya pada dasarnya manusia adalah merdeka sehingga ia
diketahui bahwa mereka tidak merdeka (hamba sahaya)

a) Pokok Bahasan Keempat


Kaidah ini memberikan arti bahwa sifat asli manusia adalah merdeka.
Adapun hamba sahaya itu baru ada. Maka seseorang tidak dapat
nyatakan sebagai salah satu hamba sahaya kecuali ada bukti. Dari
segi ketetapan bukti atau pengakuan.

b) Pokok bahasan kedua : Dalil-dalil kaidah ini :


Diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib RA bahwasannya beliau pernah
memutuskan dalam masalah anak pungut (laqith) bahwasanya dia
(anak pungut) adalah merdeka dan beliau membaca ayat Al-Qur’an
surat yusuf : 3
“Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu
beberapa dirham saja dan mereka merasa tidak tertarik padanya”.
Bentuk dilalah dari atsar ini jelas saat Ali RA memutuskan perkara
dalam masalah anak pungut, dia (hamba sahaya) tidak diketahui asal
usulnya dan nasabnya karena itu dia berstatus merdeka. Begitu juga
setiap orang yang tidak diketahui asal usulnya maka dia termasuk
orang yang merdeka. Dalam suatu bab (dalam kitab Hilyatul Aulia)
diriwayatkan dari Al-Hasan (seorang Tabi’in) pernah ditanya mengenai
anak pungut, apakah boleh dijual? Lalu beliau menjawab Alloh tidak
menginginkan hal tersebut, tidak pernahkah kamu membaca surah
yusuf!
anak pungut ketika tidak diketahui identitasnya maka statusnya
merdeka. Imam Syafi’I berkata bahwa anak pungut itu merdeka karena
19

pada dasarnya manusia adalah merdeka sampai diketahui bahwa


mereka tidak merdeka. Imam Syafi’I berpendapat dalam pembahasan
lainnya dalam kitab Al-Um : Anak pungut itu merdeka tidak ada orang
yang harus dipatuhi olehnya. Bahwa kaum muslimin berhak
memberikannya waris sebab mereka berhak memberikan semua
hartanya yang tidak ada pemiliknya.

c) Pokok Bahasan Ketiga : Pandangan Ulama Madzhab tentang


qaidah ini.
Sebenarnya saya (penulis) tidak suka kaidah ini yang mana saya tidak
menemukan dalam kitab-kitab kaidah fiqh madzhab, kecuali argumen
yang telah berlaku pada pandangan-pandangan para Ahli fiqh lain,
antara lain :

1. Abu Ishaq As-Syirazi : ( Jika seseorang menemukan anak pungut


yang tidak diketahui identiasnya maka dia dinyatakan merdeka
karena pada dasarnya manusia adalah merdeka, jika mengenakan
pakaian, perhiasan, atau di bawahnya ada ranjang, atau
memegang uang atau tali kekang kuda atau dia berada di sebuah
rumah yang tidak ada siapapun kecuali dia, maka semua itu adalah
miliknya, karena ia merdeka. Maka segala sesuatu yang ada
ditangannya adalah miliknya seperti anak baligh). Jika ada
seseorang yang mengaku kehamba sahayaannya anak pungut
jangan diterima pengakuannya tersebut kecuali ada bukti.

2. Imam Nawawi : (anak pungut terkadang ia memiliki harta yang


dengan hartanya tersebut ia berhak mendapatkannya atau didapat
dari orang lain. Maka yang pertama hal tersebut bagi mereka
seperti waqaf dan seperti wasiat, kedua seperti wasiat dan hibbah
dan waqaf untuknya. Seorang hakim akan mengabulkan dari
segala sesuatu yang diperlukan untuk diterima baik harta yang
20

berhak ia dapatkan dan sesuatu yang ia dapat atas pemberian dan


kemampuannya. Maka kepemilikan dan kemampuan milik anak itu
seperti anak baligh. Pada dasarnya merdeka itu berlaku selama
belum diketahui oleh orang lain, hal tersebut dapat dicontohkan
seperti pakaian yang dikenakan atau tempat ditidur yang
digunakan. Dalam pembahasan lain Imam Nawawi pernah berkata :
barangsiapa yang mengaku hamba sahayanya seorang anak maka
jangan percaya anak tersebut merdeka, dengarkan pengakuannya
karena mungkin saja ia merdeka, jika tidak ada apapun yang
dimilikinya jangan terima ucapannya kecuali dengan bukti. Karena
dzahirnya merdeka jangan kau abaikan kecuali dengan hujjah.

3. Imam Mahalli berpendapat dalam Syarah kitab Alminhaj ( jika anak


pungut mengaku kehamba sahayaannya maka ia merdeka, karena
umumnya manusia itu merdeka kecuali ditemukan salah satu bukti
kehamba sahayaanya maka bukti itu dapat ditindaklanjuti).

4. Imam Zakaria Al-Anshari berpendapat bahwa anak pungut itu


merdeka walaupun orang yang menemukannya atau orang lain
mengaku kehamba sahayaannya. Karena pada umumnya manusia
itu merdeka, kecuali ditemukan bukti kehamba sahayaannya.

Menurut saya (penulis) ungkapan Imam Syafi’I pada kaidah ini lebih
indah dan komprehensif.

d) Pokok Bahasan Ke Empat : Representasi kaidah ini :


Dalam beberapa hal, sebagian contoh-contoh mengikuti kaidah
yang disebutkan Imam Syafi’I dalam kitab Al-Um dan Mukhtashar
Al-Muzni antara lain :
21

1. Imam Syafi’I berpendapat : Jika dua orang muslim (yang satu


hamba sahaya dan satu orang merdeka), kafir dzimmi yang
merdeka dan seorang hamba sahaya terlahir ditemukan sebagai
anak pungut maka tidak ada bedanya di antara salah satu
mereka, sebagaimana tidak ada bedanya antara mereka dalam
segala sesuatu yang mereka akui dari apapun yang mereka
miliki. Maka akan nampak orang yang mengaku-ngaku. Maka
jika mereka mendapatkan apa yang mereka miliki oleh salah
satu dari mereka maka ia adalah anaknya yang tidak dapat
disangkal lagi, tidak berhak bagi bayi yang ia nafikan dengan
suatu kondisi dan jika orang yang mengaku-ngaku tersebut
mendapapatkan harta melalui dua atau lebih dari mereka
(muslim budak/hamba sahaya, muslim yang merdeka, kafir
dzimmi, anak pungut yang berstatus hamba sahaya) atau tidak
ada yang mengaku-ngaku atau ada yang mengaku-ngaku tapi
tidak dikenal maka tidak ada satupun anak pun dari mereka
sampai balig dan bernasab kepada siapapun dari mereka yang
mau. Maka jika ia melakukan hal tersebut terputuslah
pengakuan dari yang lainnya. Tidak ada pengakuan seseorang
yang bernasab untuk disangkal sedangkan ia merdeka dalam
setiap hal hingga diketahui bahwa mereka tidak merdeka.

2. Imam Syafi’I pernah berpendapat, jika seseorang bergantung


pada orang lain kemudian ia mengatakan kepada orang lain itu :
kamu itu budakku! Dan orang yang dituduh berkata : akan tetapi
saya ini orang yang merdeka. lalu perkataan itu adalah
perkataan orang yang dituduh, maka asal mula manusia itu
merdeka sampai muncul bukti atau pengakuan kehamba
sahayaannya. Orang yang mengaku-ngaku tersebut perlu
dimintakan bukti, itupun jika ia membawa bukti bahwa ia dalah
budak/hamba sahaya. namun jika dia mengakui bahwa ia
22

adalah budak miliknya maka ia adalah budak miliknya. Dan jika


ia bersumpah bahwa dia adalah budaknya maka ia adalah
budak miliknya begitu pula amat/hamba sahaya perempuan
sama halnya dengan hamba sahaya laki-laki.

3. Imam Syafi’I berkata sesuatu yang didapat dari anak zina baik
yang disembunyikan dalam peperangan islam atau sesuatu
tersebut dekat dari peperangan islam, maka hal tersebut
dinamakan luqathah atau harta temuan. luqathah tersebut bisa
berupa hewan yang hilang maka jika luqathah tersebut
ditemukan pada hewan tunggangan, tempat tidur, atau pakaian
didapati harta maka harta tersebut milik anak zina itu. Jika orang
yang memungut luqathah tersebut termasuk orang tidak dapat
dipercaya maka harus diambil oleh hakim dari orang tersebut
dan jika orang memungut luqhathah tersebut orang yang
terpercaya maka ia harus bersaksi terhadap apa yang ia
temukan pada harta milik anak zina tersebut dan menyuruhnya
untuk meninfaqkan harta tersebut untuk anak zina dengan cara
yang baik.

4. Imam Syafi’I berpendapat bahwa jika anak pungut dibunuh


maka seorang imam dapat memberikan qishah atau diyat. Jika
anak tersebut itu hanya terluka maka si pelaku harus dipenjara
sampai keluar sebuah putusan lalu anak pungut itu memilih mau
qishah atau diyat, jika anak itu dung dan miskin aku (Imam
Syafi’i) suka kepada Imam yang memberikan diyat dan
menginfaqkan untuknya. Hal tersebut terkandung dalam makna
merdeka hinggai ia balig dan mengakuinya. Jika ia
pengakuannya mengarah pada kehamba sahayaannya dan aku
(imam syafi’i) mengembalikan apapun yang sudah diputuskan
23

oleh anak pungut itu dan akan kujadikan kejahatannya tersebut


berada dilehernya (pelaku) (qishash). Jika ada orang yang
menfitnahnya maka aku tidak akan memberikannya had sampai
aku menanyainya, jika ia berkata aku orang merdeka amaka
aka kuberi had kepada orang yang memfitnahnya dan jika dia
memfitnah merdeka maka dia (anak zina) akan diberi had.

5. Dari apa yang telah diqiyaskan pada cabang-cabang


permasalahan kaidah ini lebih dominan menjlaskan huku-hukum
yang tidak diketahui seperti gila yang tidak diketahui keadaanya,
orang yang memiliki kelainan terkena gangguan fisik atau
meninggal dan tidak jelas kematian dan lain-lain.
24

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah penulis sajikan dalam bab
pembahasan di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai
berikut :
1.Keraguan tidak bisa menjadi suatu dasar hukum karena tidak
memiliki bukti yang cukup
2.Para ulama tidak dapat membuat dasar hukum ijma dan istishab
bila tidak memiliki bukti yang cukup.
3.Seseorang tidak terhalang oleh suatu keraguan bila memiliki bukti
yang cukup.
4.Seorang hamba sahaya tidak bisa dkatakan seorang yang
merdeka bila tidak memiliki bukti yang cukup.
25

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Wahab bin Ahmad Kholil, “Qawaid wa Adh-Dhawabit Al-Fiqhiyyah”,
Darut Attadmiriysh, Riyadh, 2008 m.hal 74
Abdul Wahab bin Ahmad kholil, 77-79
Qawaid wa dhawabit fiqhiyyah fiikitaabil umm Imam Syafi’i
Fii kitaabil umm Imam Syafi’i