Anda di halaman 1dari 12

KASUS

Sebuah Puskesmas di Kecamatan X yang terdapat di ibu Kota Kabupaten Barumekar berubah
status menjadi rumah sakit tipe C . Pemerintah menetapkan :
Visi:
“Rumah Sakit X menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat dengan pelayanan paripurna
pada tahun 2025”
Misi Rumah Sakit:
Memperbaiki dan meningkatkan status kesehatan masyarakat Kabupaten Barumekar

5 fungsi manajemen untuk ruangan ICU

Perencanaan:
”Perencanaan adalah memutuskan apa yang harus dikerjakan; siapa yang mengerjakan; serta
bagaimana, kapan dan dimana dikerjakan.” Perencanaan merupakan proses yang proaktif dan
berkesinambungan dimana ada pilihan dari beberapa alternatif pilihan yang dikemukan. Fungsi
ini mengarahkan kepada setyiap orang yang bekerja pada suatu organisasi dalam mencapai
tujuan organisasi. Siklus proses yang berjalan memungkinkan untuk terjadinya kesatuan tujuan,
penggunaan energi (sumber daya manusia dan sumber-sumber keuangan) yang
berkesinambungan, serta merupakan kesempatan untuk meminimalkan ketidakpastian dan
ancaman.

Visi : “Rumah Sakit X menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat dengan pelayanan
paripurna pada tahun 2025”
Misi :
1. Memperbaiki dan meningkatkan status kesehatan masyarakat Kabupaten Barumekar
2. Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal
3. Mewujudkan kepercayaan dan kepuasan klien
4. Mewujudkan proses pelayanan yang mengutamakn keselamatan pasien
Filosofi : Professional dalam pelayanan kesehatan
Tujuan :
Tujuan jangka panjang:
Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal secara holistik dan berbasis evidence based
practice.
Tujuan jangka pendek:
1. Mengoptimalkan proses penyembuhan klien dengan memberikan asuhan
keperawatan yang holistik di ruang ICU
2. Mencegah terjadinya infeksi nosokomial di ruang bedah
3. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang berbasis evidence based practice.
Kebijakan:
1. Kepala ruangan melibatkan stafnya dalam penyelesaian masalah dan pengambilan
keputusan.
2. Kepala ruangan selalu mengevaluasi kinerja stafnya setiap satu bulan sekali.
3. Mengoptimalkan sistem pendokumentasian keperawatan.
4. Memiliki standar operasional prosedur.

Prosedur
Pasien yang keluar dari ruang UGD akan diantar ke ruang rawat. Di ruang rawat, bagian
administrasi akan menerima informasi penerimaan pasien baru tersebut dengan rincian:
a. informasi kelas yang akan dipilih
b. informasi pola tarif
c. informasi persyaratan
d. tanda tangan perjanjian
e. pengecekan kembali status klien dan memasukkan ke buku register baru.

Analisa SWOT
Strength :
1. Rumah sakit dan ruang rawat telah memiliki visi & misi yang jelas
2. Rumah sakit dan ruang rawat telah memiliki SOP yang jelas
Weakness :
1. Kurangnya sarana dan prasarana yang memadai
2. Kurangnya tenaga keperawatan
3. Beban kerja perawat cukup berat dan melelahkan karena tidak sesuai dengan proporsi
Opportunity :
1. Rumah sakit menjalin link atau hubungan kerjasama dengan organisasi PPNI
2. Satu orang perawat pendidikan D3 keperawatan sedang melanjutkan pendidikan S1
Keperawatan dan masih tetap bekerja
Threat :
Rumah sakit kurang mensosialisasikan SOP keperawatan dengan baik.

Pengorganisasian:
Pengorganisasianadalahfungsiketigadalammanajemen.”Sebuah organisasi terbentuk jika
sejumlah besar pekerja terlalu besar untuk satu orang supervisor.” Pengorganisasian sangat
penting karena lebih banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan secara bersama-sama
dibandingkan dengan hasil ketekunan kerja satu orang. Struktur organisasi merujuk pada cara
bagaimana organisasi terbentuk, garis komunikasi didalamnya, kekuasaan, dan pengambilan
keputusan (Fayol dalam Marquis dan Houston (2000)).
Dalam sebuah organisasi terdapat dua bentuk struktur organisasi yaitu formal dan informal.
Organisasi formal pada umumnya direncanakan dengan cermat dan dikukuhkan dengan dasar
hukum serta dipublikasikan, sedangkan struktur organisasi informal tidak terencana dan hanya
berlaku dalam organisasi bersangkutan. Struktur formal mencakup pembentukan departeme n
dan divisi kerja, memiliki kerangka kerja yang menjelaskan otoritas manajerial, tanggung jawab
dan tanggung gugat.
1. Prinsip-Prinsip Pengorganisasian
Tujuan organisasi dapat dicapai dengan perencanaan yang baik, teliti dan berpandangan jauh
ke depan.
a. Prinsip Rantai Komando
Prinsip rantai komando berasumsi bahwa untuk memuaskan anggota, efektif secara
ekonomis, dan berhasil dalam mencapai tujuan, organisasi dirancang dalam bentuk alur
hierarkis dari atas ke bawah (top down) Prinsip ini mendukung struktur mekanik dimana
otoritas senttralistik dan otoritas sejajar dengan tanggung jawab.
b. Prinsip Kesatuan Komando
Prinsip ini bersasumsi bahwa setiap pekerja memiliki satu orang supervisor , satu
pemimpin dan satu rencana untuk sekelompok kegiatan serta memiliki tujuan yang sama.
c. Prinsip Rentang Kendali
Asumsi dari prinsip ini adalah bahwa satu orang supervisor membawahi
sekelompok pekerja dengan fungsi, jumlah dan geografi yang ditetapkan.
d. Prinsip Spesialisasi
Menurut Prinsip spesialisasi bahwa setiap orang harus dapat menampilkan satu
fungsi kepemimpinan tunggal, sehingga memungkinkan adanya satu divisi kerja dengan
perbedaan tugas diantara orang yang bekerja didalamnya.
Prinsip-prinsip ini dalam manajemen keperawatan tidak dilakukan secara mandiri, tetapi dapat
digunakan sebagai suatu kombinasi agar tercipta situasi kerja yang dinamis dan merangsang
motivasi kerja perawat.
”Pada ICU kami menggunakan prinsip rentang kendali.
Kepala Ruangan

Ketua Tim Ketua Tim

Perawat Perawat Perawat Perawat


Pelaksanan Pelaksanan Pelaksanan Pelaksanan

Pasien Pasien
Pengelolaan Staff:
Pengelolaan staf atau staffing adalah fase ketiga dalam proses manajemen. Dalam fase ini
pemimpin/manajer merekrut, menyeleksi, mengorientasikan, dan mempromosikan
pengembangan pribadi untuk mencapai tujuan organisasi
Langkah-langkah yang dilalui dalam tanggung jawab pengelolaan staf adalah,
1. Menetapkan jumlah dan jenis tenaga yang diperlukan untuk mencapai falsafah, mencapai
tanggung jawab finansial, dan menjalankan manajemen pasien yang dipillih.
2. Merekrut, mewawancara, menyeleksi dan menempatkan pegawai berdasarkan standar
penampilan dari uraian tugas yang tersedia
3. Menggunakan sumber-sumber organisasi yang tersedia untuk melakukan induksi dan
orientasi
4. Memastikan bahwa setiap pegawai disosialisasikan secara adekuat terhadap nilai-nilai
organisasi dan norma-norma unit pelayanan.
5. Mengembangkan pendidikan staf yang akan membantu pegawai dalam mencapai tujuan
organisasi.
6. Menggunakan penjadualan yang kreatif dan fleksibel sesuai dengan kebutuhan pelayanan
pasien untuk meningkatkan produktifitas dan retensi.

Rekrutment
Rekruitmen adalah proses aktif mencari atau membuka lamaran pekerjaan untuk posisi
yang ada. Adakalanya organisasi pelayanan kesehatan mendapatkan suplay dari intitusi
pendidikan tertentu, namun demikian rekruitmen adalah proses yang terus berjalan.
Proses rekruitmen dapat dilakukan dengan pengumuman di media massa, atau institusi khusus
penyedia tenaga keperawatan, dari mulut ke mulut atau dengan rekomendasi. Hal ini tergantung
dari besarnya kebutuhan tenaga dan kemampuan anggaran organisasi.

Interview/wawancara
dapat didefinisikan sebagai interaksi verbal antara individu untuk tujuan tertentu.

Seleksi
Proses pemilihan dari beberapa pelamar untuk posisi atau pekerjaan yang tersedia.
Proses seleksi dimulai dengan verifikasi kualifikasi pelamar, pemeriksaan riwayat pekerjaan,
mencocokkan kualifikasi pelamar dengan harapan organisasi, testing, pemeriksaan fisik, evaluasi
dan seleksi final.

Penempatan
Seorang leader yang baik akan menempatkan pegawai baru pada posisi dimana pegawai
tersebut memiliki kesempatan untuk sukses. Unit keperawatan mengembangkan sub budaya
organisasi dalam bentuk nilai-nilai, norma dan metode untuk menlaksanakan pekerjaannya.

Indoktrinasi
Indoktrinasi adalah bimbingan dan pengenalan yang terencana untuk pegawai terhadap
organisasi dan lingkungan kerja. Proses indoktrinasi ini bertujuan (1) Menetapkan perilaku
yang diharapkan oleh organisasi dari pegawai (2) memberikan informasi penting dan pendidikan
untuk mencapai sukses dalam posisinya (3) memasukkan perasaan dimiliki dan diterima. Proses
indoktrinasi yang baik akan meningkatkan produktifitas, menurunkan pelanggaran terhadap
peraturan, dan memberikan kepuasan kepada pegawai.

Prinsip perhitungan rumus Gillies:


Dalam memberikan pelayanan keperawatan ada tiga jenis bentuk pelayanan, yaitu:
a. Perawatan langsung, adalah perawatan yang diberikan oleh perawat yang ada hubungan
secara khusus dengan kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual. Berdasarkan tingkat
ketergantungan pasien padfa perawat maka dapat diklasifikasikan dalam empat
kelompok, yaitu: self care, partial care, total care dan intensive care. Menurut Minetti
Huchinson (1994) kebutuhan keperawatan langsung setiap pasien adalah empat jam
perhari sedangkan untuk:
 self care dibutuhkan ½ x 4 jam : 2 jam
 partial care dibutuhkan ¾ x 4 jam : 3 jam
 Total care dibutuhkan 1- 1½ x 4 jam : 4-6 jam
 Intensive care dibutuhkan 2 x 4 jam : 8 jam
b. Perawatan tak langsung, meliputi kegiatan-kegiatan membuat rencana perawatan,
memasang/ menyiapkan alat, ,konsultasi dengan anggota tim, menulis dan membaca
catatan kesehatan, melaporkan kondisi pasien. Dari hasil penelitian RS Graha Detroit
(Gillies, 1989, h 245) = 38 menit/ klien/ hari, sedangkan menurut Wolfe & Young
(Gillies, 1989, h. 245) = 60 menit/ klien/ hari dan penelitian di Rumah Sakit John
Hpokins dibutuhkan 60 menit/ pasien (Gillies, 1994)
c. Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien meliputi: aktifitas, pengobatan serta
tindak lanjut pengobatan. Menurut Mayer dalam Gillies (1994), waktu yang dibutuhkan
untuk pendidikan kesehatan ialah 15 menit/ klien/ hari.
 Rata-rata klien per hari adalah jumlah klien yang dirawat di suatau unit
berdsasarkan rata-ratanya atau menurut “ Bed Occupancy Rate” (BOR) dengan
rumus: Jumlah hari perawatan rumah sakit dalam waktu tertentu x 100%
Jumlah tempat tertentu x 365 Jumlah hari pertahun, yaitu 365 hari
 Hari libur masing-masing perawat pertahun, yaitu 128 hari, hari minggu= 52 hari
dan hari sabtu = 52 hari. Untuk hari sabtu tergantung kebijakan RS setempat,
kalau ini merupakan hari libur maka harus diperhitungkan, begitu juga sebaliknya,
hari libur nasional = 12 hari dan cuti tahunan = 12 hari.
 Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (kalau hari kerja efektif
5 hari maka 40/5 = 8 jam, kalu hari kerja efektif 6 hari per minggu maka 40/6 jam
= 6,6 jam perhari)
 Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan di satu unit harus ditambah 20%
(untuk antisiapasi kekurangan/ cadangan)
 Ruang ICU yang berkapasitas tempat tidur 4 tempat tidur, didapatkan jumlah rata-
rata klien yang dirawat (BOR) 3 orang perhari. Kriteria klien yang dirawat
tersebut adalah 3 orang diberikan perawatan total. Hari kerja efektif adalah 6 hari
perminggu. Berdasarkan situasi tersebut maka dapat dihitung jumlah kebutuhan
tenaga perawat di ruang tersebut adalah sbb:
Menetukan terlebih dahulu jam keperawatan yang dibutuhkan klien perhari, yaitu:
o keperawatan langsung
o keperawatan total 3 orang klien : 3 x 6 jam = 18 jam
o keperawatan tidak langsung 3 orang klien : 3 x 1 jam = 3 jam
total jam keperawatan secara keseluruhan 21 jam
o Menetukan jumlah jam keperawatan per klien per hari = 21 jam / 3 klien =
7 jam
o Menentukan jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan per shift, yaitu
dengan ketentuan menurut Warstler ( dalam Swansburg, 1990, h. 71).
o Jumlah perawat yang dibutuhkan adalah: Jumlah shift dalam seminggu: 8
x 7 = 56 shift
o Bila jumlah perawat sama setiap hari dengan 6 hari kerja/ minggu dan 7
jam/ hari maka jumlah perawaty yang dibuthkan = 56 : 6 = 9,3 atau 9
orang.

Penggarahan
Pengarahan adalah menyederhanakan penugasan, pesanan dan instruksi yang
memungkinkan pegawai memahami apa yang diharapkan darinya, dan pedoman serta
pandangan pegawai sehingga ia dapat berperan secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan
organisasi (Douglas dalam Swansburg, 1999). Terry dan Rue (1992), menyatakan bahwa
pengarahan adalah mengintegrasikan usaha-usaha anggota suatu kelompok sedemikian rupa,
sehingga dengan selesainya tugas-tugas yang diserahkan kepada mereka, maka tujuan kelompok
akan tercapai.
Ada tiga elemen penting dalam pengarahan yang harus dikuasai oleh manajer
keperawatan yaitu, motivasi, kepemimpinan dan komunikasi. Seorang manajer perlu
mempelajari perilaku manusia karena perawat yang bekerja adalah manusia seutuhnya yang juga
harus dikelola secara utuh.
Marquis dan Houston (2000) mendefinisikan motivasi sebagai, “Perilaku yang
ditunjukkan oleh individu untuk memuaskan kebutuhannya”. Manusia secara konstan memiliki
kebutuhan dan keinginan, individu selalu dimotivasi untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginannya itu dengan berbagai cara. Karena setiap orang itu berbeda (unik), maka mereka
memiliki motivasi yang berbeda.
Mentoring berbeda dengan peran contoh dalam banyak hal. Pada peran contoh, perilaku
manajer diobservasi oleh bawahan yang berupaya untuk meniru perilaku tersebut. Mentoring,
memerlukan partisipasi aktif yang lebih banyak dari sekedar seorang manajer. Mentor biasanya
orang yang lebih tua, lebih bijak, dan manajer yang berpengalaman, pencari bakat pemimpin
yang potensial dibawah pengawasannya, membimbing dan menyiapkan para manajer di masa
yang akan datang. Mentor menyiapkan manajer untuk terlibat dalam komite, memperkenalkan
dengan tokoh-tokoh kunci, atau menjelaskan struktur politik dalam organisasi.
Motivasi diri bagi seorang manajer merupakan hal yang sangat kritis dalam memotivasi
staf yang berada dalam unit yang menjadi tanggung jawabnya. Penelitian menemukan bahwa
kepuasan kerja dan retensi staf (bertahan di tempat tersebut) dipengaruhi secara positif oleh
tingkat motivasi manajer perawat. Pandangan positif, antusiasme, produktivitas, dan pencapaian
akan dipertaruhkan.
Pendelegasian merupakan elemen uitama dalam pengarahan. Pendelegasian merupakan
kompetensi dari manajemen yang efektif, dimana manajer keperawatan dapat melakukan
tugasnya melalui kerja bawahan. Perawat manajer harus mampu menerima fungsi pendelegasian
dari beberapa tugas, wewenang dan tanggung jawab yang diembannya sebagai satu solusi untuk
mengatasi kelebihan beban kerja yang menimbulkan stres, marah dan agresi
Komunikasi memegang peran yang penting dalam manajemen dan dipergunakan dalam kelima
fungsi manajemen. Swansburg (1990) dalam Marquis dan Houston (2000) menyebutkan bahwa
seorang manajer menghabiskan lebih dari 80% waktunya untuk berkomunikasi. Enam belas
persen digunakan untuk membaca, 9% menulis, 30% berbicara, dan 45% mendengar. Kunci
sukses seorang manajer juga terletak pada keahliannya dalam berkomunikasi.

Pengendalian /pengontrolan.
Kita telah mempelajari empat fungsi manajemen mulai dari perencanaan hingga
pengarahan. Pada saat ini kita mempelajari pengendalian atau pengontrolan. Pengendalian adalah
suatu upaya pemeriksaan apakah segala sesuatunya terjadi sesuai dengan rencana yang telah
disepakati, instruksi yang dikeluarkan, serta prinsip-prinsip yang ditentukan. Yang bertujuan
untuk menunjukkan kekurangan dan kesalahan agar dapat diperbaiki dan tidak lagi
terjadi(Fayol,2000).
Marquis dan Houston (2000) mengidentifikasi tiga upaya yang dilakukan dalam
pengendalian, yaitu: perbaikan mutu, penampilan kinerja, dan merancang lingkungan kerja yang
tumbuh-produktif melalui disiplin. Ketiga upaya ini merupakan cara objektif yang dapat kita
gunakan dalam menjalankan peran kita sebagai seorang manajer.
Pelayanan keperawatan merupakan bagian dari pelayanan kesehatan di rumah sakit
sehingga mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit dipengaruhi oleh mutu pelayanan
keperawatan. Pelayanan keperawatan dikatakan bermutu apabila pelayanan keperawatan
diberikan sesuuai standar yang ditetapkan. Program peningkatan mutu pelayanan di instalasi
rawat intensif mencakup angka kelengkapan rekam medik, pola pengobatan, morbiditas dan
moralitas, lama rawat, keselamatan pasien (patiens afety), keterlibatan keperawatan diri,
kepuasan pasien, kecemasan, kenyamanan dan pengetahuan. Guna memonitor penyelenggaraan
pelayanan perawatan dan memastikan terjaminnya mutu pelayanan kesehatan, maka dilakukan
rangkaian pertemuan/rapat dengan seluruh staf pegawai terkait.
Pengendalian juga dapat dilakukan dengan penggunaan kotak saran, buku pesan dan
kesan.
 Ruang ICU
o Sasaran
Seluruh perawat yang ad di ruang ICU

o Jadwal Pelaksanaan
- Rapat harian
- Rapat bulanan
- Rapat tahunan

Pertemuan/rapat Ruang ICU terdiri dari :


 Rapat harian
Rapat Rutin diselenggarakan pada :
Waktu : Setiap hari
Jam : 08.00 – selesai
Tempat : Ruang perawat
Peserta : seluruh perawat ruang ICU
Materi : Evaluasi kinerja, mutu,masalah dan pemecahannya, evaluasi dan
rekomendasi
 Rapat Bulanan
Rapat Rutin diselenggarakan pada:
Waktu : setiap hari jumat di minggu terakhir (akhir bulan)
Jam : 08.00 – selesai
Tempat : Ruang perawat
Peserta : seluruh perawat ruang ICU
Materi :
 membahas peraturan dan hukuman bagi yang melanggar, untuk
meningkatkan potensi kerja yang disiplin.
 membahas apakah potensi kerja yang sudah di laksanakan dalam 1 bulan
sudah berjalan sesuai

 Rapat Tahunan
Rapat Rutin diselenggarakan pada:
Waktu : setiap hari jumat di minggu terakhir pada bulan desember (akhir
Tahun)
Jam : 08.00 – selesai
Tempat : Ruang perawat
Peserta : seluruh perawat ruang ICU
Materi : membahas apakah potensi kerja yang sudah di laksanakan dalam
1 tahun sudah berjalan sesuai dengan standar operasinoal yang di
tetapkan.
5 FUNGSI MANAJEMEN DI RUANGAN ICU

Di Buat Oleh:

VIDIA AMANDA INDAH SARI


HENDRI PRATAMA

PRODI S-1 KEPERAWATAN SEMESTER VI


TAHUN AJARAN 2017/2018
SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN
MUHAMADIYAH PONTIANAK