Anda di halaman 1dari 21

1.

Budaya yang bertentangan dengan kesehatan yang ada di TTS antara lain:
A. Melahirkan di Rumah Bulat dan di panggang dengah bara api di bawahnya(sampai
40hari setelah melahirkan).
B. Tubuh ibu yang melahirkan dikompres menggunakan air panas ± 100 Cc .
C. Tidak boleh makan ikan,cumi(daging),goreng-gorengan,
s a y u r s a n t a n d a n l a i n - lain,baik saat hamil maupun setelah melahirkan
D. Tidak memberikan ASI Pertama pada bayi namun dibuang.
Faktor-faktor yang tergolong mendasar (basic factors) pada budaya -budaya
tersebut y a i t u r e n d a h n y a p e n d i d i k a n . p e n g e t a h u a n , s i k a p i b u y a n g
berkaitan dengan kesehatan kehamilan dan persalinan khususn ya
t e n t a n g k e l o m p o k r e s i k o t i n g g i b a h k a n k e m a t i a n maternitas (ibu hamil,ibu
melahirkan,dan ibu nifas)

kompleks.Kedua jenis makanan ini bahkan harus dikonsumsi sebelum


seorang perempuan hamil atau saat yang bersangkutan merencanakan hamil.Asam folatdan
vitamin B kompleks diperlukan saat pembentukan sel -sel saraf terutama pada
masa awal kehamilan.Peningkatan konsumsi kedua zat ini terbukti
dapatmeningkatkan pertumbuhan bayi secara signifikan.Zat lain dari makanan yang
dibutuhkan perempuan hamil adalah protein.Sebagai zat pembangun,protein terutama
dibutuhkan saat pembentukansel tubuh dan sel darah.Jenis makanan yang banyak
mengandung protein adalahd a g i n g , t e l u r d a n k a c a n g - k a c a n g a n . S e l a i n
m e n g a n d u n g p r o t e i n , d a g i n g menga ndung z at besi yan g berguna
u n t u k p e m b e n t u k k a n s e l d a n m e n c e g a h terjadinya anemia baik bagi sang ibu
maupun bayinya.Perempuan yang sedang mengandung juga harus
mengkonsunsik a r b o h i d r a t y a n g c u k u p . K a r b o h i d r a t m e r u p a k a n b a h a n
bakar pembentukanenergi untuk aktifitas sehari -hari.Saat
hamil,peningkatan berat badan dan p e r u b a h a n h o r m o n a l
m e n y e b a b k a n m e n y e b a b k a n s e o r a n g p e r e m p u a n membutuhkan
energi ekstra.Meskipun demikian,perempuan hamil juga h arustetap menjaga
keseimbangan energi dengan cara rutin melakukan olahraga yangkhusus diperuntukkan bagi
perempuan hamil.Di samping protein adn karbohidrat,perempuan yang sedang hamil
jugah a r u s s e n a n t i a s a m e n g k o n s u m s i m a k a n a n y a n g m e n g a n d u n g
vitamin danmin eral.seperti yang kita ketahui bersama,kalsium
merupakan bahan yangs a n g a t p e n t i n g u n t u k p e m b e n t u k k a n
t u l a n g , j u g a u n t u k f u n g s i s e l - s e l saraf.Vitamin A,C,B12,D dan
lain-lain diperlukan untuk menjaga kesehatankulit dan tulang serta menjaga
fungsi sel-sel saraf.Vitamin-vitamin ini denganmudah kita temukan pada sayur-
sayuran dan buah-buahan.2.2.5.
Tidak memberikan ASI Pertama pada bayi.
Kolostrum adalah ASI berwarna kekuningan yang dihasilkan tiga hari pertama
setelah melahirkan,sebaliknya diberikan sedini mungki n setelah bayilahir.7

Karena warnanya yang kekuningan membuat masyarakat TTS terutamakaum ibu


menyimpulkan bahwa ASI pertama/kolostrum tersebut merupakan ASI yang kotor
atau mengandung banyak kuman,sehinnga ASI tersebut dibuangdan tidak diberikan
kepada bayi yang baru lahir.Padahal manfaat kolostrum sangat besar antara lain:

Kolostrum berkhasiat khusus untuk bayi dan komposisinya mirip dengan nutrisi yangditerima
bayi selama di dalam rahim.

Kolostrum bermanfaat untuk mengenyangkan bayi pada hari-hari pertama hidupnya

Sepertiimunisasi, kolostrum memberi antibodi kepada bayi (perlindungan
terhadap penyakit yang sudah pernah dialami sang ibu sebelumnya).

Kolostrum juga mengandung sedikit efek pencahar
u n t u k m e n y i a p k a n d a n membersihkan sistem pencernaan bayi darimekonium.

Kolostrum juga mengurangi konsentrasibilirubin(yang menyebabkan bayi
kuning)sehingga bayi lebih terhindar dari jaundice.

Kolostrum juga membantu pembentukan bakteri yang bagus untuk pencernaanKolostrum
adalah konsentrasi tinggi karbohidrat, protein, dan zat kebal tubuh. Zatkebal yang ada
antara lain adalah:IgAdan sel darah putih. Kolostrum amat rendah
lemak,k a r e n a b a y i b a r u l a h i r m e m a n g t i d a k m u d a h m e n c e r n a l e m a k . 1
s e n d o k t e h k o l o s t r u m memiliki nilai gizi sesuai dengan kurang lebih 30 ccsusu
formula. Usus bayi dapat menyerap1 sendok teh kolostrum tanpa ada yang terbuang,
sedangkan untuk 30 cc susu formula yang d i i s a p n y a , h a n y a s a t u s e n d o k t e h
sajalah yang dapat diserap ususn ya
.
P a d a h a r i p e r t a m a mungkin hanya diperoleh 30 cc. Namun, dalam setiap
tetesnya terdapat berjuta-juta satuanzat antibodi. SIgA adalah antibodi yang hanya
terdapat dalam ASI. Kandungan SIgA dalamkolostrum pada hari pertama adalah 800 gr/100
cc. Selanjutnya mulai berkurang menjadi 600g r / 1 0 0 c c p a d a h a r i k e d u a , 4 0 0
g r / 1 0 0 c c p a d a h a r i k e t i g a , d a n 2 0 0 g r / 1 0 0 c c p a d a h a r i keempat.Maka
dari itu, kolostrum memiliki fungsi yang sangat vital dalam 10 hari
pertamakehidupan bayi! Meskipun nantiny a anda tidak dapat menyusui bayi
dalam jangka waktu yang lama, sebisa mungkin kolostrum ini harus diberikan kepada bayi
terlebih dahulu

Madura salah satu etnis di Indonesia yang cukup banyak dibicarakan. Sebagai salah satu etnis
di Indonesia, Madura dikenal sebagai masyarakat yang patriarkal, dimana perempuan tidak
memiliki posisi yang signifikan, hal ini dapat dilihat dengan lemahnya posisi tawar
perempuan Madura terhadap laki-laki. Lemahnya posisi tawar perempuan rupanya membawa
konsekuensi yang jauh lebih besar, yaitu perempuan tidak memiliki akses terhadap kesehatan,
bahkan ketika mereka sedang hamil. Tentu saja tidak adanya akses terhadap kesehatan
membawa implikasi yang lebih besar, yaitu bahaya yang dapat menimpa ibu hamil, mulai
dari kekurangan asupan gizi, bahaya sewaktu hamil, ketika melahirkan bahkan pasca
melahirkan. Tentu saja ketiadaan akses terhadap kesehatan dapat menyebabkan kematian,
bukan hanya terhadap ibu namun juga anak yang akan dilahirkannya. Persoalannya menjadi
lebih pelik ketika memperhatikan kurangnya sarana kesehatan yang disediakan oleh
pemerintah dan swasta, bagaimana sarana yang disediakan tidak mampu mengurangi angka
kematian bayi secara signifikan dan membantu meningkatkan kualitas kesehatan pada ibu
hamil, dimana kedua hal ini sangat dipengaruhi oleh kultur masyarakat Madura yang
menjadikan laki-laki memiliki kekuasaan atas perempuan, baik atas tubuhnya maupun atas
kesehatannya.

Masalah Budaya Madura dengan Kesehatan


Berbicara mengenai masyarakat madura, fenomena yang saat ini berkembang adalah
masyarakat madura sebagai masyarakat marginal, terbelakang dalam hampir berbagai aspek
kehidupan. Masyarakat madura diidentikkan dengan orang yang kurang berpendidikan kasar,
keras, kurang tahu tata pergaulan sosial, bahkan disebut tukang carok yang selalu
menyebarkan kekerasan. Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, unik dan
identitas budayanya itu dianggap jati diri setiap individual etnik madura dalam berperilaku
dan bermasyarakat. Madura dikenal sebagai masyarakat patriarkal, dimana perempuan tidak
memiliki posisi yang signifikan, hal ini dapat dilihat dengan lemahnya posisi tawar
perempuan Madura terhadap laki-laki. Lemahnya posisi tawar perempuan rupanya membawa
konsekuensi yang jauh lebih besar, yaitu perempuan tidak memiliki akses besar terhadap
pendidikan kesehatan maupun pelayanan kesehatan,bahkan ketika ibu sedang hamil. Tentu
saja tidak adanya akses terhadap kesehatan membawa dampak yang lebih besar, yaitu bahaya
yang dapat menimpa ibu hamil, mulai dari kekurangan asupan gizi, bahaya pada waktu hamil,
ketika melahirkan maupun pasca melahirkan. Disebabkan masyarakat tidak mau
meninggalkan kebudayaan ataupun kebiasaan yang jelas secara medis, itu hal yang kurang
baik bagi kesehatan bayi maupun ibu hamil itu sendiri. Walaupun di zaman yang berkembang
ini, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang namun penanganan ibu saat
melahirkan masih banyak masyarakat menggunakan dukun bayi di daerah-daerah pedesaan
atau daerah terpencil. Tentu saja ketiadaan akses pelayanan kesehatan dapat menyebabkan
angka kematian cukup tinggi, tetapi bukan hanya kepada ibu terhadap anak yang akan
dilahirkan pun dapat berdampak negatif. Persoalannya menjadi pelik ketika memperhatikan
kurangnya sarana kesehatan yang disediakan oleh pemerintah dan swasta. Oleh karena itu,
minimnya tenaga kesehatan membuat jasa dukun bayi semakin dibutuhkan.

Adanya pengaruh budaya (mitos) seputar kehamilan yang cukup kuat mengakibatkan
sebagian besar masyarakat lebih mempercayai budaya tersebut daripada anjuran tenaga
kesehatan (dokter dan bidan). Mereka tetap melakukan pemeriksaan kehamilan ke
dukun karena menganggap bahwa dukun lebih mengerti posisi bayi dalam kandungan
dan dapat melakukan pemijatan perut yang mempermudah saat persalinan. Ketika
periksa kehamilan ke pelayanan kesehatan, mereka hanya ingin diperiksa dan
memastikan bahwa kondisinya sehat dan diberi obat. Oleh karena itu, ketika akan
bersalin sebagian masyarakat lebih memilih bersalin ke dukun daripada bidan, karena
bersalin ke bidan dianggap persalinan yang susah/sulit yang dalam bahasa Madura
“Malarat” sehingga akan menjadi aib cenderung malu (dilihat dan dibicarakan banyak
orang) bagi ibu hamil dan keluarga ibu. Selain karena latar belakang budaya, hasil
penelitian tersebut juga menyatakan beberapa alasan lain yang menyebabkan ibu hamil
tidak melakukan persalinan pada bidan, yaitu karena biaya persalinan bidan mahal,
keluarga yang ikut campur dalam memberi keputusan, takut operasi dan berobat ke
puskesmas, serta rendahnya pengetahuan kesehatan ibu hamil.

Tradisi Cara Penanganan Ibu Bersalin Melalui Dukun

Masyarakat Madura pada umumnya masih percaya pada mitos, yang berkaitan dengan
ibu hamil dan perawatan pada masa kehamilan.Bagi masyarakat Madura mitos sudah
diyakini kebenarannya karena beberapa bukti yang terjadi. Masyarakat akan melakukan
apa saja dengan harapan keselamatan pada ibu dan bayinya. Kadang kala kepercayaan
tersebut bertentangan dengan nilai-nilai kesehatan medis modern, sehingga mengakibatkan
permasalahan kesehatan pada ibu hamil pada masa kehamilan. Agar kegiatan penyuluhan
dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga penyuluhan tersebut menjadi salah satu
solusi yang tepat guna maka harus mengakomodasi kearifan lokal, salah satunya yaitu
dengan mengetahui perspektif budaya masyarakat tentang perawatan kehamilan pada ibu
hamil.

Ketika Masyarakat Sumenep ditanyakan informasi mengenai perawatan kehamilan baik


melalui konseling ataupun penyuluhan akan sulit diterima secara terbuka dan sulit
dipahami. Pada umumnya mereka masih terbelenggu dengan tradisi dan menurut
terhadap nasehat orang tua atau perintah sesepuh. Pekerjaan mayoritas Sumenep yaitu
tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah tangga, sebagai petani dan masyarakat yang
berjualan atau berwiraswasta. Pekerjaan sebagai petani merupakan pekerjaan yang
menguras energi dan waktu sehingga mereka harus lebih pandai mengatur waktu,kapan
harus merawat kehamilan dan bekerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiknya. Mereka
menganggap, hanya bekerja sebagai petani yang dapat mereka kerjakan, karena itu
merupakan sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Oleh
karena itu, perlu kesadaran dari ibu hamil untuk terus menjaga kehamilannya agar tetap
sehat dan senantiasa tidak memaksakan diri bekerja ketika kondisi tubuh sedang lemah /
tidak sehat. Dikhawatirkan akan terjadi gangguan terhadap kehamilannya seperti sering
capek, anemia, dehidrasi, perdarahan dan keguguran.

Selama masa kehamilan, pola tempat tinggal responden mayoritas tergolong keluarga
luas dengan alasan ikut suami, kasihan terhadap orang tua dan dikarenakan suaminya
merantau untuk bekerja. Diharapkan dengan pola tempat tinggal tersebut, mereka
mendapat ketenangan, diingatkan dan mendapat pertolongan dengan cepat dan segera
apabila ada permasalahan dengan kehamilannya. Pengaruh budaya atau adat istiadat yang
terdapat di lingkungan responden cukup kuat seperti adanya mitos seputar kehamilan dan
persalinan. Ini dikarenakan pendidikan yang rendah dan budaya generasi sebelumnya
serta kepatuhan terhadap anjuran orang tua.

Mitos atau pantangan yang harus dilakukan oleh ibu hamil yaitu pantangan terhadap
makanan yang berasal dari sumber hewani (telur dan ikan laut) dan nabati (nanas, terong).
Misalnya, nanas tidak boleh dimakan khawatir menimbulkan rasa panas dan tidak boleh
makan makanan pedas karena khawatir bayinya sakit mata. Beberapa masyarakat sumenep
mempercayai adanya mitos atau pantangan tersebut karena khawatir akan mengalami
keguguran dan biasanya anjuran orang tua sering terkabul. Adanya mitos di daerah saya
seputar kehamilan dan persalinan,didukung bahwa walaupun kuat dalam beragama dan
tekun beribadah, masyarakat masih melakukan pantangan-pantangan makanan tertentu
berkenaan dengan kehamilan. Makanan yang dipantang yaitu sumber hewani dan nabati.
Selain itu, ibu hamil juga melakukan pantangan yang lain seperti duduk di tengah
pintu dan duduk di lantai tanpa alas/ tikar/ bangku kecil serta mereka masih percaya
pada adanya gangguan jin yang dapat mengancam keselamatan bayi dalam kandungan atau
bayi yang baru saja dilahirkan. Adanya pengaruh budaya (mitos) seputar kehamilan yang
cukup kuat mengakibatkan sebagian besar masyarakat disekitar saya khususnya di Sumenep
lebih mempercayai budaya tersebut daripada anjuran tenaga kesehatan (dokter dan bidan).
Mereka tetap melakukan pemeriksaan kehamilan ke dukun karena menganggap bahwa
dukun lebih mengerti posisi bayi dalam kandungan dan dapat melakukan pemijatan perut
yang mempermudah saat persalinan. Ketika periksa kehamilan ke pelayanan kesehatan,
mereka hanya ingin diperiksa dan memastikan bahwa kondisinya sehat dan diberi obat.

Tindakan Ibu Hamil Untuk Melakukan Perawatan Kehamilan


Dalam mempersepsikan tindakan apa yang akan diambil atau memutuskan sesuatu hal yang
terkait pemeriksaan kehamilan, biasanya masyarakat di sekitar Sumenep menyatakan akan
berembuk atau berdiskusi dahulu dengan orang lain terutama pihak keluarga (suami, orang
tua, mertua, tante, saudara, tetangga) bahkan bersama kepala dusun. Mayoritas responden
telah melakukan pemeriksaan kehamilan rutin tiap bulan ke pelayanan kesehatan terutama
posyandu. Hal ini dikarenakan pada pelayanan kesehatan seperti posyandu responden
cenderung ingin mendapatkan PMT berupa 1 bungkus mie dan 2 butir telur dan pelayanan
antenatal gratis. Apabila suatu saat terjadi gangguan kesehatan pada kehamilannya maka
sebagian masyarakat di Sumenep akan langsung memeriksakan kehamilannya ke bidan
baik Polindes maupun Bidan Praktek Swasta yang ada di daerah Sumenep. Namun, ada juga
masyarakat yang menahan dulu rasa sakitnya, ketika sudah agak parah dan tidak kuat
lagi menahannya barulah akan dibawa ke bidan atau dokter. Selain ke Posyandu, sebagian
Masyarakat memeriksakan kehamilannya ke dukun dengan asumsi bahwa dukun
mengetahui letak posisi bayi dan dapat melakukan pemijatan untuk mempermudah saat
melahirkan. Jadi, kegiatan memeriksakan kehamilan sudah menjadi kegiatan rutin,
terutama di posyandu, akan tetapi belum dimengerti dengan baik tujuan dari perawatan
kehamilan dengan cara medis modern. Misalnya, anjuran untuk minum tablet Fe secara
teratur tiap hari tidak dilakukan oleh sebagian masyarakat Sumenep, pekerjaan yang
berat tetap dilakukan selama kondisi tubuhnya sehat seperti memikul dan menyiram air ke
sawah dan menganggap anemia sebagai hal yang biasa terjadi pada ibu hamil karena
mereka kurang mengerti bahaya dari anemia. Menurut Musbikin (2007), tujuan
pemeriksaan kehamilan yaitu :

1. Menjaga agar ibu sehat selama masa kehamilan,persalinan dan nifas serta
mengusahakan bayi

yang dilahirkan sehat.

1. Memantau kemungkinan adanya risiko-risiko kehamilan, dan merencanakan


penatalaksanaan
2. yang optimal terhadap kehamilan risiko tinggi.
3. Menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal Keterikatan mareka pada
adat kebiasaan atau mitos seputar kehamilan dan persalinan cukup besar sehingga mereka
lebih mempercayai perkataan dukun daripada petugas kesehatan.

Akibat dari kurang dipahaminya tujuan dari pemeriksaan kehamilan oleh responden
menyebabkan terbentuknya persepsi bahwa selama masa kehamilan, sebagian responden
akan memeriksaan kehamilan ke pelayanan kesehatan (terutama Posyandu) secara rutin
tiap kehamilan ke dukun, karena dukun lebih mengetahui letak atau posisi bayi dan
mendapat pijatan yang akan mempermudah bayi keluar ketika persalinan tiba. Adanya
pengaruh budaya (mitos) seputar kehamilan dan rendahnya pendidikan responden juga
menyebabkan persepsi tersebut terbentuk dengan kuat sehingga ketika bersalin, mereka
akan lebih memilih bersalin ke dukun meskipun rutin memeriksaan kehamilan ke
pelayanan kesehatan.

Pola Pewarisan Budaya Madura dalam Perawatan Kehamilan

Budaya Madura dalam perawatan kehamilan sudah sejak lama, dipercaya oleh
masyarakat pada saat itu, di daerah saya berkembang dari mulut ke mulut hingga akhirnya
budaya perawatan kehamilan dilakukan oleh ibu hamil di Kabupaten Sumenep di desa
Karangduak Perawatan kehamilan yang berasal dari budaya tersebut menunjukkan
adanya keterlibatan orang tua atau mertua dalam mengambil peran selama masa
kehamilan ibu hamil. Proses pewarisan budaya perawatan kehamilan berasal dari anjuran
orang tua atau mertua yang akhirnya lingkungan sosial (ibu-ibu yang pernah hamil) juga
ikut terpengaruh untuk saling berbagi pengalaman selama masa kehamilan dan saat
melakukan perawatan kehamilan. Selain dari anjuran keluarga, ibu hamil juga meniru
kebiasaan keluarganya dalam perawatan kehamilan sebelumnya, sehingga tidak sulit bagi
ibu hamil untuk mempraktekkan atau melakukan hal yang serupa. Budaya perawatan
kehamilan diturunkan secara terus-menerus ke anak cucunya sehingga budaya
perawatan kehamilan tersebut tetap terjag dan terus ada hingga kini walaupun ilmu
pengetahuan medis telah menyentuh ke dalam berbagai aspek kehidupannya.

Misalnya Budaya di Madura pada penanganan ibu melahirkan pengeluaran plasenta atau ari-
ari dan 2 jam pertama biasanya,jika plasenta sudah keluar atau dipotong, plasenta ditaburkan
garam,bawang merah,jahe,laos,bawang putih,merica,ketumbar, dan kembang 7 rupa.
Kemudian plasenta dibungkus dalam kain kafan dan dimasukkan kedalam kendi atau di
madura disebut “Ceteh” yang terbuat dari tanah liat. Adapun yang ditempatkan pada kulit
semangka, caranya isi dari buah semangka yang berwarna merah itu dikeluarkan,dan jika
sudah bersih tinggal kulit dari semangka itu tadi,maka masukkan ari-ari kedalam kulit
semangka. Selain semangka ari-ari bisa dimasukkan kedalam “Kondur” . Ari-ari yang
dimasukkan kedalam semangka atau “Kondur” dipercaya dapat oleh orang masyarakat
Sumenep untuk menjadikan plasenta atau ari-ari dingin.

Sebelum plasenta dimasukkan kedalam semangka, plasenta harus dicuci bersih terlebih
dahulu,baru dimasukkan kedalam kendi,semangka,ataupun “Kondur” kemudian dikubur.
Masyarakat disana biasanya juga memasangkan lampu pada ari- ari tersebut yang
dikubur,masyarakat disana percaya agar ari-ari pada malam hari terasa hangat.

Masyarakat di Kabupaten Sumenep kebanyakan mempercayai budaya nenek moyang,yaitu


pada saat ari-ari atau plasenta yang akan dikuburkan,orang yang akan menguburkan ari-ari
harus bersih,rapi,wangi. Sebab kepercayaan disana menyakini apabila orang yang
menguburkan ari- ari tidak rapi dan tidak bersih,maka akan mencerminkan sifat anak tersebut
kelak jika sudah dewasa. Misalnya ketika orang tersebut menguburkan ari-ari tidak bersih
dan rapi,maka sifat anak tersebut kelak pasti tidak menyukai kebersihan. Selain itu untuk
orang yang menguburkan ari-ari tersebut harus menggunakan tangan kanan, sebab apabila
menggunakan tangan kiri , Masyarakat disana meyakini si anak akan melakukan aktivitasnya
menggunakan tangan kiri. Ada juga yang harus dilakukan ibu yang sudah melahirkan agar
memakai gurita,tubuh dilumuri jamu atau kata orang madura “Parem” dan meminum jamu
bahkan tidak keluar rumah sampai 40 hari dari kelahiran si bayi.

Kebiasaan Masyarakat yang masih dipegang teguh oleh Masyarakat Sumenep

Sampai saat ini banyak budaya-budaya atau kebiasaan masyarakat di daerah Sumenep yang
masih dipegang teguh dan dilaksanakan. Hal ini memang baik dan positif selama kebiasaan
tersebut memberikan dampak yang baik pula bagi kehidupan masyarakat karena ada juga
beberapa kebiasaan masyarakat yang tidak dapat diterima secara ilmiah apalagi dalam
bidang kesehatan khususnya kesehatan anak dan ibu .Tidak sedikit kebiasaan yang dilakukan
oleh ibu yang sebenarnya kurang pas menurut keilmuan tapi sudah terlanjur dilakukan sejak
dahulu dan menganggap hal itu benar.Hal hal seperti ini biasanya terjadi di daerah yang
masih kolot dan unsure kebudayaanya masih kuat.
Kebiasaan seperti itulah yang seharusnya diluruskan dan dibenarkan ,agar kebiasaan yang
“salah kaprah” kata orang Madura tersebut tidak berkelanjutan.

Namun juga tidak semua kebiasaan atau budaya dari para pendahulu tersebut salah, ada pula
beberapa yang bermanfaat bagi kesehatan ibu maupun bayinya. Berikut sederet kebiasaan
yang terjadi di daerarah Sumenep :

1. Jenis kelamin bayi berdasarkan bentuk perut sang ibu,ini sangat lazim kita dengar.
Jika bayi dalam kandungan perempuan maka perut ibu cenderung membundar penuh.
Sementara itu, jika bayi yang dikandung laki-laki maka perut sang ibu membulat tetapi
terlihat meruncing. Banyak yang mendapati hal tersebut benar sehingga lambat laun banyak
yang mengira hal tersebut merupakan fakta medis. Namun sebenarnya bukan. Bentuk perut
ini dan jenis kelamin tidak memiliki korelasi yang jelas sebab rupa perut saat hamil
dipengaruhi oleh kekuatan otot perut ibu dan juga posisi bayi di dalam perut. Jika posisi bayi
melintang maka dipastikan perut si ibu akan melebar ke samping. Dan, jika volume ketuban
berlebih maka tentu perut ibu akan lebih besar bukan? Lebih lanjut, para peneliti juga
menemukan fakta bahwa jika wanita baru pertama kali mengandung, perutnya cenderung
bulat meruncing sebab otot di perutnya masih kuat menopang rahim. Dan pada kehamilan
berikutnya akan bertambah besar tetapi tidak lagi runcing karena otot perut tak lagi kuat
menopang rahim layaknya di kehamilan pertama.
2. Jangan mempersiapkan perlengkapan bayi sebelum kelahiran ! Tak jarang yang amat
sangat mempercayainyanya meski jika dinalar cukup menggelikan. Mungkin dahulu para
orang tua kita di masa lampau jera membeli perlengkapan bayi laki-laki dan yang lahir adalah
bayi perempuan. Betapa ruginya! Namun saat ini teknologi sudah demikian maju. Kita sudah
bisa memastikan kelamin sang bayi di usia kehamilan tertentu. Dan alangkah repotnya jika
semua perlengkapan dibeli setelah bayi lahir, bukan?
3. Ibu hamil dan suami tidak diperbolehkan membunuh binatang. Larangan ini harus
dilakukan jika tidak maka bayi yang ada di dalam rahim si ibu akan cacat. Membunuh
binatang memang perbuatan yang buruk, hamil atau tidak, tetap tak diperkenankan! Dan,
kalaupun Anda yang sedang hamil terpaksa membunuh kecoa, percayalah bahwa bayi dalam
perut Anda baik-baik saja!
4. Ibu hamil harus selalu membawa gunting atau pisau dan disimpan atau direkatkan di
pakaian.. Padahal, betapa berbahayanya membawa benda tajam saat beraktifitas. Jangan
cemaskan soal mahluk halus! Benda semacam gunting dan pisau bukan aksesoris dan sama
sekali bukan hal yang bisa melenyapkan makhluk astral.
5. Jangan memakai sendok besar saat makan, nanti mulut bayi dower! Jika dipikir-pikir
tak ada hubungannya sama sekali. Tapi di luar dari pada konteks kehamilan, memakai sendok
yang terlalu besar akan sangat merepotkan bukan?
6. Melihat seseorang berwajah buruk akan membuat wajah bayi Anda ikut buruk.
Melihat saja bukan hal yang salah kecuali jika Anda mencela! Namun bagaimanapun tak ada
hubungannya dengan wajah sang bayi. Hal tersebut genetis!
7. Tangan dan kaki bayi harus selalu ditutup dengan sarung tangan/kaki. Faktanya:
Boleh-boleh saja asal dipakaikan kala udara dingin atau untuk menghindari bayi terluka saat
ditinggal. Di luar itu, sebaiknya bayi tak usah dipakaikan sarung. “Pemakaian sarung justru
akan mengurangim perkembangan indera perasa bayi”.
8. Bayi dibedong agar kaki tidak bengkok. Padahal Bedong bisa membuat peredaran
darah bayi terganggu lantaran kerja jantung memompa darah menjadi sangat berat.
Akibatnya, bayi sering sakit di sekitar paru-paruatau jalan napas. Bedong juga bisa
menghambat perkembangan motorik sibayi, karena tangan dan kakinya tak mendapatkan
banyak kesempatan untuk bergerak. Sebaiknya bedong dilakukan hanya setelah bayi
dimandikan atau kala cuaca dingin, untuk menjaganya dari udara dingin. Dipakainya pun
longgar. Yang jelas, pemakaian bedong sama sekali tak ada kaitannya dengan pembentukan
kaki.
9. Bayi usia seminggu diberi makan pisang dicampur nasi agar tidak kelaparan.
Faktanya: Salah, pasalnya usus bayi di usia ini belum punya enzim yang mampu mencerna
karbohidrat dan serat-serat tumbuhan yang begitu tinggi. Akibatnya, bayi jadi sembelit,
karena makanan padat pertama adalah di usia 4 bulan, yakni bubur susu dan 6 bulan makanan
padat kedua, bubur tim.
10. “Kalau bayi yang sakit, ibunya aja yang minum obat. Khasiatnya sama, kok”. Konon
obat apa pun yang diminum ibu akan terbawa oleh ASI sehingga sama ampuhnya untuk
mengobati sakit si kecil. Jadi, kalau bayi demam cukup ibu saja yang minum obat penurun
panas. Ini jelas tidak benar karena konsentrasi obat sangat menentukan kesembuhan
seseorang. Konsentrasi obat pada ASI yang relatif sangat sedikit tentu akan membuat
penyakit bayi sulit disembuhkan. Karena itu, kalau anak sakit harus segera bawa ke dokter
anak.
11. Leher ibu hamil yang menghitam atau puting yang berwarna gelap menandakan
bayinya laki-laki. Padahal perubahan warna pada leher atau puting tidak ada hubungannya
dengan jenis kelamin bayi.Perubahan warna kulit pada ibu hamil diakibatkan peningkatan
progesteron dan melanost (hormon yang mengatur pigmentsi kulit). Karena itu puting susu
yang menghitam biasa terjadi pada kehamilan, baik pada ibu hamil yang mengandung bayi
laki-laki atau perempuan. Selain perubahan warna kulit dan puting susu, ibu hamil juga
memiliki guratan kehitaman di perut dan garis hitam dari pusar ke bagian pugbis. Namun
gejala ini akan menghilang setelah melahirkan.

12. Di dalam masyarakat sederhana kebiasaan hidup dan adat istiadat dibentuk untuk
mempertahankan hidup diri sendiri dan kelangsungan hidup suku mereka. Berbagai
kebiasaan dikaitkan dengan kehamilan, kelahiran, pemberian makanan bayi yang bertujuan
supaya reproduksi berhasil ibu dan bayi selamat.
13. Dari sudut pandang modern tidak semua kebiasaan itu baik. Ada beberapa yang
kenyataannya malah merugikan. Contoh pada kebiasaan menyusukan bayi yang lama pada
beberapa masyarakat merupakan contoh yang baik kebiasaan yang bertujuan melindungi
bayi. Tetapi bila air susu ibu sedikit atau pada ibu-ibu lanjut usia, tradisi budaya ini dapat
menimbulkan masalah tersendiri. Dia berusaha menyusukan bayinya dan gagal. Bila mereka
tidak mengetahui nutrisi mana yang dibutuhkan bayi (biasanya demikian) bayi dapat
mengalami malnutrisi dan mudah terserang infeksi.
14. Permasalahan yang sebenarnya cukup besar pengaruhnya yaitu pada kehamilan
tepatnya pada masalah gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan
pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka sehari-hari
tidak berkurang ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang
sebenarnya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negatif terhadap
kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup
tinggi terutama di daerah pedesaan. Dikatakan pula bahwa penyebab utama dari tingginya
angka anemia pada wanita hamil disebabkan karena kurangnya zat gizi yang dibutuhkan
untuk pembentukan darah.
15. Beberapa kepercayaan yang ada misalnya di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa
ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan
daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak.
16. Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9
bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah
dilahirkan.
17. Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan
kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin.
18. Contoh lain di daerah Subang, ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring
yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan
memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya
hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk
memakan buah-buahan seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga
masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan.
(Wibowo, 1993).
19. Di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak untuk
menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah. Data Survei Kesehatan Rumah
Tangga tahun 1992 rnenunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek-
praktek persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan si ibu.
20. Penelitian Iskandar dkk (1996) menunjukkan beberapa tindakan/praktek yang
membawa resiko infeksi seperti “ngolesi” (membasahi vagina dengan rninyak kelapa untuk
memperlancar persalinan), “kodok” (memasukkan tangan ke dalam vagina dan uterus untuk
rnengeluarkan placenta) atau “nyanda” (setelah persalinan, ibu duduk dengan posisi
bersandardan kaki diluruskan ke depan selama berjam-jam yang dapat menyebabkan
perdarahan dan pembengkakan).
21. Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan
karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah, mengerti dan dapat
membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan
bayi sampai 40 hari.
22. Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang
ada. Walaupun sudah banyak dukun beranak yang dilatih, namun praktek-praktek tradisional
tertentu rnasih dilakukan. lnteraksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan
penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup.
23. Secara medis penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan,
infeksi dan eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani
secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan. Namun,
kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga
karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga. Umumnya,
terutama di daerah pedesaan, keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih
harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua; atau keputusan berada di tangan suami yang
seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Kepanikan dan ketidaktahuan
akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya
dilakukan dengan cepat. Tidak jarang pula nasehat-nasehat yang diberikan oleh teman atau
tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil.
24. Keadaan ini seringkali pula diperberat oleh faktor geografis, dimana jarak rumah si
ibu dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak tersedianya transportasi, atau oleh
faktor kendala ekonomi dimana ada anggapan bahwa membawa si ibu ke rumah sakit akan
memakan biaya yang mahal. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan,
faktor geografis dan kendala ekonomi, keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga
oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang
terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan.
2. Ragam Budaya Indonesia
2.1. Budaya Jawa
2.1.1 Konsep Sehat-Sakit
Menurut orang Jawa, “sehat “ adalah keadaan yang seimbang dunia fisik dan batin. Bahkan,
semua itu berakar pada batin. Jika “batin karep ragu nututi”, artinya batin berkehendak, raga /
badan akan mengikuti. Sehat dalam konteks raga berarti “ waras“. Apabila seseorang tetap
mampu menjalankan peranan sosialnya sehari-hari, misalnya bekerja di ladang, sawah, selalu
gairah bekerja, gairah hidup, kondisi inilah yang dikatakan sehat. Dan ukuran sehat untuk
anak-anak adalah apabila kemauannya untuk makan tetap banyak dan selalu bergairah untuk
bermain.
Untuk menentukan sebab-sebab suatu penyakit ada dua konsep, yaitu konsep personalistik
dan konsep naluralistik. Dalam konsep personalistik, penyakit disebabkan oleh makhluk
supernatural (makhluk gaib, dewa), makhluk yang bukan manusia (hantu, roh leluhur, roh
jahat ) dan manusia (tukang sihir, tukang tenung). Penyakit ini disebut “ora lumrah“ atau “ora
sabaene“ (tidak wajar / tidak biasa). Penyembuhannya adalah berdasarkan pengetahuan
secara gaib atau supernatural, misalnya melakukan upacara dan sesaji. Dilihat dari segi
personalistik jenis penyakit ini terdiri dari kesiku, kebendhu, kewalat, kebulisan, keluban,
keguna-guna, atau digawe wong, kampiran bangsa lelembut dan lain sebagainya.
Penyembuhan dapat melalui seorang dukun atau “wong tuo“.
Pengertian dukun bagi masyarakat Jawa adalah yang pandai atau ahli dalam mengobati
penyakit melalui “Japa Mantera“, yakni doa yang diberikan oleh dukun kepada pasien. Ada
beberapa kategori dukun pada masyarakat Jawa yang mempunyai nama dan fungsi masing-
masing:
a. Dukun bayi: khusus menangani penyembuhan terhadap penyakit yang berhubungan
dengan kesehatan bayi , dan orang yang hendak melahirkan.
b. Dukun pijat / tulang (sangkal putung): Khusus menangani orang yang sakit terkilir, patah
tulang, jatuh atau salah urat.
c. Dukun klenik : khusus menangani orang yang terkena guna – guna atau “digawa uwong“.
d. Dukun mantra : khusus menangani orang yang terkena penyakit karena kemasukan roh
halus.
e. Dukun hewan : khusus mengobati hewan.
Sedangkan konsep naturalistik, penyebab penyakit bersifat natural dan mempengaruhi
kesehatan tubuh, misalnya karena cuaca, iklim, makanan racun, bisa, kuman atau kecelakaan.
Di samping itu ada unsur lain yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam tubuh,
misalnya dingin, panas, angin atau udara lembab. Oleh orang Jawa hal ini disebut dengan
penyakit “Lumrah“ atau biasa. Adapun penyembuhannya dengan model keseimbangan dan
keselarasan, artinya dikembalikan pada keadaan semula sehingga orang sehat kembali.
Misalnya orang sakit masuk angin, penyembuhannya dengan cara “kerokan“ agar angin
keluar kembali. Begitu pula penyakit badan dingin atau disebut “ndrodok” (menggigil,
kedinginan), penyembuhannya dengan minum jahe hangat atau melumuri tubuhnya dengan
air garam dan dihangatkan dekat api .

2.2 Jawa Tengah


2.2.1 Pantangan Ibu Hamil
Di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan
mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan pendarahan
yang banyak. Hal ini sebenarnya tidak perlu dilakukan karena berbahaya bagi kesehatan ibu
dan dapat mengakibatkan ibu kekurangan asupan gizi akan protein.

2.3. Jawa Barat


2.3.1 Konsep Sehat Sakit
Konsep sehat sakit tidak hanya mencakup aspek fisik saja, tetapi juga bersifat sosial budaya.
Istilah lokal yang biasa dipakai oleh masyarakat Jawa Barat (orang Sunda) adalah muriang
untuk demam, nyeri sirah untuk sakit kepala, gohgoy untuk batuk dan salesma untuk
pilek/flu. Penyebab sakit umumnya karena lingkungan, kecuali batuk juga karena kuman.
Pencegahan sakit umumnya dengan menghindari penyebabnya. Pengobatan sakit umumnya
menggunakan obat yang terdapat di warung obat yang ada di desa tersebut, sebagian kecil
menggunakan obat tradisional. Pengobatan sendiri sifatnya sementara, yaitu penanggulangan
pertama sebelum berobat ke puskesmas atau mantri.
Menurut orang Sunda, orang sehat adalah mereka yang makan terasa enak walaupun dengan
lauk seadanya, dapat tidur nyenyak dan tidak ada yang dikeluhkan, sedangkan sakit adalah
apabila badan terasa sakit, panas atau makan terasa pahit, kalau anak kecil sakit biasanya
rewel, sering menangis, dan serba salah / gelisah. Dalam bahasa Sunda orang sehat disebut
cageur, sedangkan orang sakit disebut gering.
Ada beberapa perbedaan antara sakit ringan dan sakit berat. Orang disebut sakit ringan
apabila masih dapat berjalan kaki, masih dapat bekerja, masih dapat makan-minum dan dapat
sembuh dengan minum obat atau obat tradisional yang dibeli di warung. Orang disebut sakit
berat, apabila badan terasa lemas, tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari, sulit tidur,
berat badan menurun, harus berobat ke dokter / puskesmas, apabila menjalani rawat inap
memerlukan biaya mahal.
Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat yang terdapat di warung. Obat yang ada di
desa tertentu, sebagian kecil menggunakan obat tradisional. Masyarakat melakukan
pengobatan sendiri dengan alasan sakit ringan, hemat biaya dan hemat waktu. Pengobatan
sendiri sifatnya sementara, yaitu penanggulangan pertama sebelum berobat ke puskesmas
atau Mantri. Tindakan pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan masih rendah karena
umumnya masyarakat membeli obat secara eceran sehingga tidak dapat membaca keterangan
yang tercantum pada setiap kemasan obat.
2.3.1 Ibu Hamil
Di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuku 8-9 bulan sengaja
harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan.
Pantangan lainnya:
a. Tidak boleh keluar rumah sembarangan, terutama sore hari
b. Hanya memakan sayuran (dianggap baik), sedangkan ikan, daging, dan buah-buahan
dianggap tidak baik untuk bayi
c. Tidak boleh melilitkan anduk/ kain di leher ibu hamil, agar bayi tidak terlilit tali pusat
d. Tidak boleh minum air terlalu banyak karena bila melahirkan nantinya akan terlalu banyak
air atau anak kembar
e. Pantang makan gula merah/ tebu serta nanas karena dapat membuat perut ibu hamil sakit
f. Dianjurkan minum air kelapa muda
g. Dianjurkan untuk minum minyak kelapa seiring dengan semakin besarnya usia kehamilan,
terutama usia 9 bulan
h. Dilarang menucapkan beberapa kata-kata pantangan

2.4 Subang
Di daerah Subang, ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena
khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain
ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini sangat
mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi.

2.5 Bogor, Indramayu, dan Sukabumi


Di Indramayu dikatakan penyakit adem meskipun gejalanya panas tinggi, supaya panasnya
turun. Penyakit tampek (campak) disebut juga sakit adem karena gejalanya badan panas.
Masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa sakit panas dan kejang-kejang disebabkan
oleh hantu. Di Sukabumi disebut hantu gegep, sedangkan di Sumatra Barat disebabkan hantu
jahat. Di Indramayu pengobatannya adalah dengan dengan pergi ke dukun atau memasukkan
bayi ke bawah tempat tidur yang ditutupi jaring.
Di Bogor masih ada yang percaya bahwa kepada bayi dan balita laki-laki tidak boleh
diberikan pisang ambon karena bisa menyebabkan alat kelamin/skrotumnya bengkak. Balita
perempuan tidak boleh makan pantat ayam karena nanti ketika mereka sudah menikah bisa
diduakan suami. Sementara di Indramayu, makanan gurih yang diberikan kepada bayi
dianggap membuat pertumbuhannya menjadi terhambat. Untuk balita perempuan, mereka
dilarang untuk makan nanas dan timun. Selain itu balita perempuan dan laki-laki juga tidak
boleh mengonsumsi ketan karena bisa menyebabkan anak menjadi cadel. Mereka
menganggap bahwa tekstur ketan yang lengket menyebabkan anak tidak bisa menyebutkan
aksara ‘r’ dengan benar.
Jenis makanan pantangan bagi wanita dan laki-laki dewasa lebih banyak karena alasan yang
menyangkut dengan organ reproduksi / hubungan seksual suami istri. Hal ini berlaku pada
sebagian besar penduduk di Bogor dan Indramayu. Makanan tersebut kebanyakan adalah
sayur dan buah yang banyak mengandung air, misalnya nanas, pepaya, semangka, timun, dan
labu siam. Jenis makanan tersebut dianggap bisa menyebabkan keputihan yang akhirnya
dapat mengganggu keharmonisan hubungan suami dan istri. Sementara untuk laki-laki
dewasa, baik di Bogor dan Indramayu memiliki suatu kepercayaan bahwa laki-laki dewasa
dilarang makan terung, karena membuat mereka lemas dan mudah lelah.

2.6. Budaya Sumatera


2.6.1 Pantangan Ibu Nifas
Di daerah Langkat, Sumatera Utara ada kebudayaan yang melarang ibu nifas untuk
melakukan mobilisasi selama satu minggu sejak persalinan. Ibu nifas harus bedrest total
selama seminggu karena dianggap masih lemah dan belum mampu beraktivitas sehungga
harus istirahat di tempat tidur. Mereka juga menganggap bahwa dengan ilmu pengetahuan
saat ini bahwa dengan beraktivitas maka proses penyembuhan setelah persalinan akan
terhambat. Hal ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan saat ini bahwa ibu nifas harus
melakukan mobilisasi dini agar cepat pulih kondisinya. Dengan mengetahui kebudayaan di
daerah tersebut, petugas kesehatan dapat masuk perlahan-lahan untuk memberi pengertian
yang benar kepada masyarakat.

2.7 Budaya Batak


2.7.1 Konsep Sehat-Sakit
Arti “sakit“ bagi orang Batak adalah keadaan dimana seseorang hanya berbaring, dan
penyembuhannya melalui cara-cara tradisional, atau ada juga yang membawa orang yang
sakit tersebut kepada dukun atau “orang pintar“. Dalam kehidupan sehari-hari orang Batak,
segala sesuatunya termasuk mengenai pengobatan jaman dahulu, untuk mengetahui
bagaimana cara mendekatkan diri pada sang pencipta agar manusia tetap sehat dan jauh dari
mara bahaya. Bagi orang Batak, di samping penyakit alamiah, ada juga beberapa tipe spesifik
penyakit supernatural, yaitu: jika mata seseorang bengkak, orang tersebut diyakini telah
melakukan perbuatan yang tidak baik (mis: mengintip). Cara mengatasinya agar matanya
tersebut sembuh adalah dengan mengoleskan air sirih.
Nama tidak cocok dengan dirinya (keberatan nama) sehingga membuat orang tersebut sakit.
Cara mengobatinya dengan mengganti nama tersebut dengan nama yang lain, yang lebih
cocok dan didoakan serta diadakan jamuan adat bersama keluarga. Ada juga orang Batak
sakit karena tarhirim misal: seorang bapak menjanjikan akan memberi mainan buat anaknya,
tetapi janji tersebut tidak ditepati. Karena janji tersebut tidak ditepati, si anak bisa menjadi
sakit. Jika ada orang Batak menderita penyakit kusta, maka orang tersebut dianggap telah
menerima kutukan dari para leluhur dan diasingkan dalam pergaulan masyarakat.
2.7.2 Pengobatan
Dalam budaya Batak dikenal adanya “kitab pengobatan” yang isinya diantaranya adalah,
Mulajadi Namolon Tuhan Yang Maha Esa bersabda: “Segala sesuatu yang tumbuh di atas
bumi dan di dalam air sudah ada gunanya masing-masing di dalam kehidupan sehari-hari,
sebab tidak semua manusia yang dapat menyatukan darahku dengan darahnya, maka gunakan
tumbuhan ini untuk kehidupanmu.”
Di dalam kehidupan Si Raja Batak dahulu ilmu pengobatan telah ada, mulai sejak dalam
kandungan sampai melahirkan.
1. Obat mulai dari kandungan sampai melahirkan. Perawatan dalam kandungan:
menggunakan salusu yaitu satu butir telur ayam kampung yang terlebih dahulu di doakan.
Perawatan setelah melahirkan: menggunakan kemiri, jeruk purut dan daun sirih. Perawatan
bayi: biasanya menggunakan kemiri, biji lada putih dan iris jorango. Perawatan dugu-dugu:
sebuah makanan ciri khas Batak saat melahirkan yang diresap dari bangun-bangun, daging
ayam, kemiri dan kelapa.
2. Dappol Siburuk (obat urut dan tulang). Asal mula manusia menurut orang Batak adalah
dari ayam dan burung. Obat dappol si buruk ini dulunya berasal dari burung siburuk yang
mana langsung dipraktikkan dengan penelitian alami dan hampir seluruh keturunan Siraja
Batak menggunakan obat ini dalam kehidupan sehari-hari.
3. Untuk mengobati sakit mata. Menurut orang Batak mata adalah satu panca indra sekaligus
penentu dalam kehidupan manusia, dan menurut legenda pada mata manusia berdiam Roh
Raja Simosimin. Berdasarkan pesan dari Si Raja Batak, untuk mengeluarkan penyakit dari
mata, masukkanlah biji sirintak ke dalam mata yang sakit. Setelah itu tutuplah mata dan
tunggulah beberapa saat, karena biji sirintak akan menarik seluruh penyakit yang ada di
dalam mata. Gunakan waktu 1x 19 hari, supaya mata tetap sehat. Sirintak adalah tumbuhan
Batak yang dalam bahasa Indonesia berarti mencabut (mengeluarkan), nama ramuannya
dengan sama tujuannnya.
4. Mengobati penyakit kulit yang sampai membusuk. Berdasarkan pesan Si Raja Batak untuk
mengobati orang yang berpenyakit kulit supaya menggunakan tawar mulajadi (sesuatu yang
berasal dari asap dapur). Rumpak 7 macam dan diseduh dengan air hangat. Disamping itu, Si
Raja Batak berpesan kepada keturunannya, supaya manusia dapat hidup sehat, maka
makanlah atau minumlah: apapaga, airman, anggir, adolora, alinggo, abajora, ambaluang,
assigning, dan arip-arip. Dalam budaya Batak juga dikenal dengan adanya karisma, wibawa
dan kesehatan menurut orang Batak dahulu, supaya manusia dapat sukses dalam segala hal
biasanya diwajibkan membuat sesajen berupa: ayam merah, ayam putih, ayam hitam, ketan
beras (nitak), jeruk purut, sirih beserta perlengkapannya. Beberapa contoh pengobatan
tradisional lainnya yang dilakukan oleh orang Batak adalah: jika ada orang Batak yang
menderita penyakit gondok, maka cara pengobatannya dengan menggunakan belau. Apabila
ada orang Batak yang menderita penyakit panas (demam) biasanya pengobatannya dengan
cara menyelimutinya dengan selimut / kain yang tebal.

2.8 Nusa Tenggara Barat


2.8.1 Konsep Sehat-Sakit
Di Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa anak sakit dilihat dari keadaan fisik tubuh dan
tingkah lakunya yaitu jika menunjukkan gejala misalnya panas, batuk pilek, mencret, muntah
-muntah, gatal, luka, gigi bengkak, badan kuning, kaki dan perut bengkak. Seorang pengobat
tradisional yang juga menerima pandangan kedokteran modern, mempunyai pengetahuan
yang menarik mengenai masalah sakit-sehat. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit
badaniah berarti ada tanda-tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan
lemah, tidak kuat bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya
tiduran atau istirahat saja. Pada penyakit batin tidak ada tanda -tanda di badannya,tetapi bisa
diketahui dengan menanyakan pada yang gaib. Pada orang yang sehat, gerakannya sorot mata
cerah, tidak mengeluh lesu, lemah, atau sakit- sakit badan.
Penyebabnya adalah salah makan, makan kacang terlalu banyak, makan makanan pedas,
makan udang, ikan, anak meningkat kepandaiannya, susu ibu basi, encer, dan lain-lain.
Penanggulangannya dengan obat tradisional misalkan dengan pucuk daun jambu dikunyah
ibunya lalu diberikan kepada anaknya (Bima) obat lainnya adalah Larutan Gula Garam
(LGG), Oralit, pil Ciba dan lain -lain. Larutan Gula Garam sudah dikenal hanya proporsi
campurannya tidak tepat.

2.9 Timur Tengah Selatan (TTS)


Masyarakat Timur Tengah Selatan (TTS) masih berkutat pada pemenuhan kebutuhan yang
sangat dasar, yaitu makan dan minum. Sebagian lagi sudah berpikir tentang bagaimana
melindungi tubuh dari panas dan hujan,serta memiliki rumah yang layak huni.Pendidikan
bukan menjadi prioritas utama bagi masyarakat terutama kaum perempuan.
2.9.1 Budaya melahirkan di Rumah Bulat
Dinding Rumah Bulat (umek bubu) melingkar dengan garis tengah antara tiga sampai lima
meter. Atapnya berbentuk seperti kepala jamur merang terbuat dari rumput alang-alang.
Ujung alang-alangnya hampir menyentuh permukaan tanah. Dindingnya terbuat dari
potongan-potongan kayu dan bambu. Pintunya setengah lonjong dengan ketinggian kurang
satu meter. Untuk masuk,orang dewasa harus membungkukkan badan terlebih dahulu.
Rumah bulat menjadi ciri khas adat dan budaya orang Timor yang masih dipertahankan
sampai saat ini, padahal sebetulnya ia juga sumber persoalan. Sulit menemukan rumah bulat
berjendela. Lubang angin pun tidak menjadi pertimbangan dalam membangun rumah bulat.
Udara dan sinar matahari hanya bisa menerobos dari lubang-lubang kecil pada dinding-
dinding bambu.
Kebiasaan masyarakat yang mengharuskan perempuan melahirkan di dalam rumah bulat
yang penuh debu dari tungku dan asap akan menyebabkan bayi dan ibunya mudah terkena
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas).
2.9.2 Setelah melahirkan dipanggang dengan bara api dibawahnya
Proses panggang di rumah bulat juga dipercaya masyarakat menjadi penangkal dari sakit
berat terlebih wanita sehabis melahirkan.Ada pula ketakutan dari para orang tua:jika proses
ini tak dilakukan ,kondisi badan anak akan lembek dan tak kuat, bahkan akan menimbulkan
kegilaan pada si ibu. Namun pada kenyataannya hal ini berakibat buruk. Bukan hanya
kemungkinan akan terbakarnya tubuh sang ibu maupun bayi, namun berpengaruh terhadap
kesembuhan luka-luka pada tubuh ibu setelah melahirkan.
2.9.3 Tubuh Ibu dikompres dengan air panas
Setelah seorang ibu melahirkan, ia kemudian dikompres menggunakan air mendidih atau air
panas. Dikompres pula dengan cara menekan-nekan perut dan bagian luka yang ada setelah
melahirkan. Seperti halnya dipanggang, hal ini bisa menimbulkan infeksi pada organ tubuh
yang luka, terlebih organ yang sangat sensitif (daerah kemaluan) sang ibu. Kesembuhan luka-
lukanya menjadi butuh waktu yang relatif lama. Ini merupakan salah satu kekerasan fisik
terhadap kaum ibu.
2.9.4 Tidak boleh makan daging, sayur santan, dan lain-lain
Rendahnya tingkat pendapatan ekonomi keluarga dan masih banyak lagi praktik lokal yang
sangat merugikan ibu,seperti pantang makanan tertentu (ikan, telur, cumi. ayam, udang,
kepiting, sayur-sayuran) yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk proses
pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan ibu maupun setelah menjadi bayi
dan untuk proses metabolisme ibu serta sebagai pengganti energi setelah melahirkan dan
laktasi kelak.
Saat hamil dan melahirkan seorang perempuan harus tetap memperhatikan makanan yang ia
konsumsi agar bayi yang dilahirkan dalam kondisi sehat dan terpenuhi segala macam nutrisi
untuk tumbuh kembang sang bayi. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah seorang
perempuan hamil harus memgkonsumsi makanan yang mengandung asam folat dan vitamin
B kompleks. Kedua jenis makanan ini bahkan harus dikonsumsi sebelum seorang perempuan
hamil atau saat yang bersangkutan merencanakan hamil. Asam folat dan vitamin B kompleks
diperlukan saat pembentukan sel-sel saraf terutama pada masa awal kehamilan. Peningkatan
konsumsi kedua zat ini terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan bayi secara signifikan.
Zat lain dari makanan yang dibutuhkan perempuan hamil adalah protein. Sebagai zat
pembangun, protein terutama dibutuhkan saat pembentukan sel tubuh dan sel darah. Jenis
makanan yang banyak mengandung protein adalah daging, telur dan kacang-kacangan. Selain
mengandung protein, daging mengandung zat besi yang berguna untuk pembentukkan sel dan
mencegah terjadinya anemia baik bagi sang ibu maupun bayinya.
Perempuan yang sedang mengandung juga harus mengkonsunsi karbohidrat yang cukup.
Karbohidrat merupakan bahan bakar pembentukan energi untuk aktifitas sehari-hari. Saat
hamil, peningkatan berat badan dan perubahan hormonal menyebabkan menyebabkan
seorang perempuan membutuhkan energi ekstra. Meskipun demikian, perempuan hamil juga
harus tetap menjaga keseimbangan energi dengan cara rutin melakukan olahraga yang khusus
diperuntukkan bagi perempuan hamil.
Di samping protein dan karbohidrat, perempuan yang sedang hamil juga harus senantiasa
mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin dan mineral. Seperti yang kita ketahui
bersama, kalsium merupakan bahan yang sangat penting untuk pembentukkan tulang, juga
untuk fungsi sel-sel saraf. Vitamin A, C, B12, D dan lain-lain diperlukan untuk menjaga
kesehatan kulit dan tulang serta menjaga fungsi sel-sel saraf. Vitamin-vitamin ini dengan
mudah kita temukan pada sayur-sayuran dan buah-buahan.
2.9.5 Tidak memberikan ASI Pertama pada bayi
Kolostrum adalah ASI berwarna kekuningan yang dihasilkan tiga hari pertama setelah
melahirkan, sebaliknya diberikan sedini mungkin setelah bayi lahir. Karena warnanya yang
kekuningan membuat masyarakat TTS terutama kaum ibu menyimpulkan bahwa ASI
pertama/kolostrum tersebut merupakan ASI yang kotor atau mengandung banyak kuman,
sehingga ASI tersebut dibuang dan tidak diberikan kepada bayi yang baru lahir. Padahal
manfaat kolostrum sangat besar antara lain:
• Kolostrum berkhasiat khusus untuk bayi dan komposisinya mirip dengan nutrisi yang
diterima bayi selama di dalam rahim.
• Kolostrum bermanfaat untuk mengenyangkan bayi pada hari-hari pertama hidupnya
• Seperti imunisasi, kolostrum memberi antibodi kepada bayi (perlindungan terhadap
penyakit yang sudah pernah dialami sang ibu sebelumnya).
• Kolostrum juga mengandung sedikit efek pencahar untuk menyiapkan dan membersihkan
sistem pencernaan bayi dari mekonium.
• Kolostrum juga mengurangi konsentrasi bilirubin (yang menyebabkan bayi kuning)
sehingga bayi lebih terhindar dari jaundis.
• Kolostrum juga membantu pembentukan bakteri yang bagus untuk pencernaan
Kolostrum adalah konsentrasi tinggi karbohidrat, protein, dan zat kebal tubuh. Zat kebal yang
ada antara lain adalah: IgA dan sel darah putih. Kolostrum amat rendah lemak, karena bayi
baru lahir memang tidak mudah mencerna lemak. Satu sendok teh kolostrum memiliki nilai
gizi sesuai dengan kurang lebih 30 cc susu formula. Usus bayi dapat menyerap 1 sendok teh
kolostrum tanpa ada yang terbuang, sedangkan untuk 30 cc susu formula yang diisapnya,
hanya satu sendok teh sajalah yang dapat diserap ususnya..Pada hari pertama mungkin hanya
diperoleh 30 cc. Namun, dalam setiap tetesnya terdapat berjuta-juta satuan zat antibodi. SIgA
adalah antibodi yang hanya terdapat dalam ASI. Kandungan SIgA dalam kolostrum pada hari
pertama adalah 800 gr/100 cc. Selanjutnya mulai berkurang menjadi 600 gr/100 cc pada hari
kedua, 400 gr/100 cc pada hari ketiga, dan 200 gr/100 cc pada hari keempat. Maka dari itu,
kolostrum memiliki fungsi yang sangat vital dalam 10 hari pertama kehidupan bayi.

2.10 Suku Bugis


2.10.1 Konsep Sehat-Sakit
Persepsi masyarakat Bugis tentang sakit tercermin dalam berbagai istilah yang digunakan
dalam pembicaraan sehari-hari, antara lain seperti malasa, madoko, maddokkong. Istilah
tersebut mengacu pada konsep sakit yang berarti kondisi atau keadaaan fisik maupun rohani
seseorang yang sedang mengalami ketidakseimbangan menurut pengetahuan budaya orang
Bugis terjadinya ketida seimbangan tersebut di sebabkan oleh dua faktor terutama yaitu
faktor intern disamping faktor extern. Faktor intern yang menyebabkan tumbuhnya
ketidakseimbangan dalam diri manusia ialah karena adanya kondisi organ-organ tubuh
manusia itu sendiri yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, di samping adanya pengaruh
faktor keturunan. Sebaliknya faktor ekstern terdiri atas beberapa unsur berupa wabah
penyakit, perubahan keadaan suhu udara, gangguan mahluk halus, keracunan, praktek magic,
kutukan dewata dan sebagai unsur lingkungan termasuk buatan manusia.
Sesuai dengan wujud dan faktor penyebabnya, maka masyarakat Bugis mengenal aneka
ragam jenis penyakit. Kendati pun demikian, setiap jenis penyakit dapat dimasukkan dalam
salah satu di antaranya dua kategori, yaitu penyakit dalam dan penyakit luar. Kedua jenis
penyakit tersebut biasa pula disebut lasa massobbu (penyakit tersembunyi) dan lasa talle
(penyakit nyata)
Selain dari istilah-istilah tersebut, anggota masyarakat di daerah penelitian mengenal pula
pengelompokan jenis penyakit menjadi dua kategori masing-masing: lasa ati (penyakit hati,
jiwa dan rohani) dan lasa tubuh (penyakit jasmani). Persepsi masyarakat tentang adanya
kategori lasa ati, di samping lasa watakkale itu bersumber dari pemahaman atau pengetahuan
mereka tentang diri makhluk manusia yang terdiri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani,
raga dan jiwa, lahiriah dan batiniah. Perpaduan antara dua unsur itulah yang menjelma
menjadi sosok tubuh manusia sebagai satu kesatuan organisme, bersama dengan sejenak
potensi yang di bawah sejak lahir ke dunia. Menurut budaya orang Bugis, maka tubuh
manusia yang berbentuk ragawi merupakan hasil perpaduan dari empat zat alami yaitu: tanah,
air, angin, api sedangkan aspek rohaniah dikenal sebagai sumange (sukma). Dalam hal ini
tubuh manusia dipandang tidak lebih hanya sebagai tempat berdiam bagi sukma, untuk suatu
jangka waktu tertentu. Manakala sukma tersebut berpisah dari raganya maka sosok tubuh
manusia itupun mengalami peristiwa yang disebut mati. Peristiwa kematian itu sendiri
menyebabkan segenap unsur tubuh manusia kembali ke asalnya yaitu ke alam fanah,
sedangkan sukma akan tetap hidup dan melanjutkan proses kehidupannya di alam gaib yang
bersifat abadi. Konsep pengetahuan budaya masyarakat Bugis tersebut terkandung dalam
suatu pelajaran yang membahas tentang dialog antara bayi yang berada dalam kandungan
ibunya dan tuhan sebagai maha pencipta.
Sebagian besar masyarakat Bugis sampai sekarang tetap mempunyai keyakinan bahwa
peristiwa yang pertalian dengan kelahiran makhluk manusia ke atas bumi bukanlah suatu
yang berlangsung secara kebetulan saja, melainkan adalah peristiwa sakral yang hanya
mungkin terjadi atas restu, kehendak dan kuasa ilahi, sang pencipta. Organ-organ tubuh
manusia sebagai mahluk induvidu terdiri atas pepaduan antara empat jenis zat alam yaitu
tanah, air, angin, api. Keempat zat alam tersebut kemudia menjelma kontruksi tubuh manusia
secara serasi, sehingga tercipta sosok tubuh dengan susunan organisme berupa perangkan
anggota bada tercipta dari api. Sebagaimana hanya alam raya, maka manusia pun merupakan
suatu kesatuan yang utuh dan bulat. Sebelum ilmu pengobatan modern dan ilmu kedokteran
ditemukan, nenek moyang kita (Bugis-Makassar) juga telah mengenalnya dengan cara-cara
pengobatan tradisional dalam bentuk ritual-ritual khusus dan memanfaatkan tanaman atau
tumbuhan yang ada di sekitarnya,orang yang melakukan ritual ini disebut Sanro.

2.11 Papua Nugini


Contoh lain dari Papua Nugini, ”pigbel” sejenis penyakit berat yang dapat menimbulkan
kematian disebabkan oleh kuman clodistrium perfringens type C. Penduduk papua Nugini
yang tinggal didaratan tinggi biasanya sedikit makan daging. Oleh sebab itu, cenderung untuk
menderita kekurangan enzim protetase dalam usus. Bila suatu perayaan tradisional diadakan,
mereka makan daging babi dalam jumlah banyak tapi tungku tempat masaknya tidak cukup
panas untuk memasak daging dengan baik sehingga kuman clostridia masih dapat
berkembang. Makanan pokok mereka adalah kentang, mengandung tripsin inhibitor, oleh
sebab itu racun dari kuman yang seharusnya terurai oleh tripsin, menjadi terlindung. Tripsin
inhibitor juga dihasilkan oleh cacing ascaris yang banyak terdapat pada penduduk tersebut.
Kuman dapat juga berkembang dalam daging yang kurang dicernakan, dan secara bebas
mengeluarkan racunnya.

Salah satu faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi kondisi kesehatan bayi adalah
makanan yang diberikan. Kualitas dan kuantitas makanan tergantung pengetahuan atau
kebiasaan. Masyarakat tradisional cenderung mengharapkan perkembangan anak sesuai
dengan kondisi alam / yang ada di alam. Sehingga banyak mencontoh apa yang ada di alam
misalnya memberikan pisang besar sebagai makanan supaya bayi/anak cepat besar. Karena
tidak didasari pemikiran ilmiah sehingga banyak bayi mendapat makanan tidak sesuai dengan
yang dibutuhkan yang akhirnya menyebabkan bayi/anak mengalami kekurangan gizi.
Kadang-kadang karena tuntutan keluarga, para ibu bekerja dan hal tersebut ditunjang oleh
pengetahuan yang rendah para Ibu-ibu tentang pentingnya ASI bagi Bayi mereka. Karena
bekerja menjadi tuntutan sehingga tidak mempunyai alternatif lain selain meninggalkan bayi-
bayi mereka (terutama pada neneknya, keluarg lain) dengan susu botol, sehingga konsumsi
ASI bagi Bayi menjadi berkurang atau bahkan tidak sama sekali. Karena bekerja atau
aktifitas, sejumlah ibu mungkin mengalami kurang gizi sehingga akan mempengaruhi
produksi ASI, sudah tentu asi tidak cukup untuk bayi-bayi mereka. Semakin meluasnya dan
berkembangnya formula-formula makanan bayi paten. Ibu lebih sering menjadi korban
pengiklanan yang gigih. Seperti “memberi susu botol adalah tindakan yang modern dan
maju” atau “susu formula dari segi gizi lebih unggul dari pada ASI”. Selain pemberian ASI
menjadi terganggu, juga tidak disadari, dengan susu formula bisa terjadi salah takar, air sudah
terkontaminasi. Yang menderita adalah Bayi.
Dalam setiap masyarakat ada aturan-aturan yang menentukan kuantitas, kualitas dan jenis-
jenis makanan yang seharusnya dan tidak seharusnya dikonsumsi oleh anggota-anggota suatu
rumah tangga, sesuai dengan kedudukan, usia, jenis kelamin dan situasi-situasi tertentu.
Misalnya, ibu yang sedang hamil tidak diperbolehkan atau dianjurkan untuk mengkonsumsi
makanan tertentu; ayah yang bekerja sebagai pencari nafkah berhak mendapat jumlah
makanan yang lebih banyak dan bagian yang lebih baik daripada anggota keluarga yang lain;
atau anak laki-laki diberi makan lebih dulu daripada anak perempuan. Walaupun pola makan
ini sudah menjadi tradisi ataupun kebiasaan,namun yang paling berperan mengatur menu
setiap hari dan mendistribusikan makanan kepada keluarga adalah ibu; dengan kata lain ibu
mempunyai peran sebagai gate- keeper dari keluarga.
Pada beberapa masyarakat tradisional di Indonesia kita bisa melihat konsepsi budaya yang
terwujud dalam perilaku berkaitan dengan pola pemberian makan pada bayi yang berbeda,
dengan konsepsi kesehatan modern. Sebagai contoh, pemberian ASI menurut konsep
kesehatan moderen ataupun medis dianjurkan selama 2 (dua) tahun dan pemberian makanan
tambahan berupa makanan padat sebaiknya dimulai sesudah bayi berumur 4 tahun. Namun,
pada suku Sasak di Lombok, ibu yang baru bersalin selain memberikan nasi pakpak (nasi
yang telah dikunyah oleh ibunya lebih dahulu) kepada bayinya agar bayinya tumbuh sehat
dan kuat. Mereka percaya bahwa apa yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik
untuk bayi. Sementara pada masyarakat Kerinci di Sumatera Barat, pada usia sebulan bayi
sudah diberi bubur tepung, bubur nasi nasi, pisang dan lain-lain. Ada pula kebiasaan memberi
roti, pisang, nasi yangsudah dilumatkan ataupun madu, teh manis kepada bayi baru lahir
sebelum ASI keluar. Demikian pula halnya dengan pembuangan colostrum (ASI yang
pertama kali keluar). Di beberapa masyarakat tradisional, colostrum ini dianggap sebagai
susu yang sudah rusak dan tak baik diberikan pada bayi karena warnanya yang kekuning-
kuningan. Selain itu, ada yang menganggap bahwa colostrum dapat menyebabkan diare,
muntah dan masuk angin pada bayi. Sementara, colostrum sangat berperan dalam menambah
daya kekebalan tubuh bayi.

Walaupun pada masyarakat tradisional pemberian ASI bukan merupakan permasalahan yang
besar
karena pada umumnya ibu memberikan bayinya ASI, namun yang menjadi permasalahan
adalah pola pemberian ASI yang tidak sesuai dengan konsep medis sehingga menimbulkan
dampak negatif pada kesehatan dan pertumbuhan bayi. Seperti frekwensi & cara pemberian
ASI. Pada masyarakat Mandar di Sulawesi Barat, payu dara wanita adalah aurat yang tidak
boleh dibuka disembarang tempat, hal ini akan mengurangi frekwensi pemberian ASI bila Ibu
berada di luar rumah atau di sarana transportasi (misalnya angkutan kota), maka bayi/anak
tidak akan mendapat ASI sampai tiba di tempat tujuan. Pada masyarakat pekerja (misalnya
berkebun) cenderung mendapatkan bayi/anaknya yang kelaparan setelah pulang dari bekerja,
mereka cenderung langsung memberikan ASInya tanpa menghiraukan kebersihan.
Disamping pola pemberian yang salah, kualitas ASI juga kurang. Hal ini
disebabkan banyaknya pantangan terhadap makanan yang dikonsumsi si ibu baik pada saat
hamil maupun sesudah melahirkan. Sebagai contoh, pada masyarakat Kerinci ibu yang
sedang menyusui pantang untuk mengkonsumsi bayam, ikan laut atau sayur nangka. Di
beberapa daerah ada yang memantangkan ibu yang menyusui untuk memakan telur. Adanya
pantangan makanan ini merupakan gejala yang hampir universal berkaitan dengan konsepsi
"panas-dingin" yang dapat mempengaruhi keseimbangan unsur-unsur dalam tubuh manusia -
tanah, udara, api dan air. Apabila unsur-unsur di dalam tubuh terlalu panas atau terlau dingin
maka akan menimbulkan penyakit. Untuk mengembalikan keseimbangan unsur-unsur
tersebut maka seseorang harus mengkonsumsi makanan atau menjalani pengobatan yang
bersifat lebih "dingin" atau sebaliknya. Pada, beberapa suku bangsa, ibu yang sedang
menyusui kondisi tubuhnya dipandang dalam keadaan "dingin" sehingga ia harus memakan
makanan yang "panas" dan menghindari makanan yang "dingin". Hal sebaliknya harus
dilakukan oleh ibu yang sedang hamil (Reddy, 1990).
Menurut Foster dan Anderson (1978: 37), masalah kesehatan selalu berkaitan dengan dua hal
yaitu
sistem teori penyakit dan sistem perawatan penyakit. Sistem teori penyakit lebih menekankan
pada penyebab sakit, teknik-teknik pengobatan penyakit. Sementara, sistem perawatan
penyakit merupakan suatu institusi sosial yang melibatkan interaksi beberapa orang, paling
tidak interaksi antar pasien dengan si penyembuh, apakah itu dokter atau dukun. Persepsi
terhadap penyebab penyakit akan menentukan cara pengobatannya.
Penyebab penyakit dapat dikategorikan ke dalam dua golongan yaitu personalistik dan
naturalistik. Penyakit-penyakit yang dianggap timbul karena adanya intervensi dari agen
tertentu seperti perbuatan orang, hantu, mahluk halus dan lain-lain termasuk dalam golongan
personalistik. Sementara yang termasuk dalam golongan naturalistik adalah penyakit-
penyakit yang disebabkan oleh kondisi alam seperti cuaca, makanan, debu dan lain-lain.
Dari sudut pandang sistem medis moderen adanya persepsi masyarakat yang berbeda
terhadap penyakit seringkali menimbulkan permasalahan. Sebagai contoh ada masyarakat
pada beberapa daerah beranggapan bahwa bayi yang mengalami kejang- kejang disebabkan
karena kemasukan roh halus, dan hanya dukun yang dapat menyembuhkannya. Padahal
kejang-kejang tadi mungkin disebabkan oleh demam yang tinggi, atau adanya radang otak
yang bila tidak disembuhkan dengan cara yang tepat dapat menimbulkan kematian.
Kepercayaan-kepercayaan lain terhadap demam dan diare pada bayi adalah karena bayi
tersebut bertambah kepandaiannya seperti sudah mau jalan. Ada pula yang menganggap
bahwa diare yang sering diderita oleh bayi dan anak-anak disebabkan karena pengaruh udara,
yang sering dikenal dengan istilah "masuk angin". Karena persepsi terhadap penyebab
penyakit berbeda-beda, maka pengobatannyapun berbeda-beda. Misalnya, di suatu daerah
dianggap bahwa diare ini disebabkan karena "masuk angin" yang dipersepsikan sebagai
"mendinginnya" badan anak maka perlu diobati dengan bawang merah karena dapat
memanaskan badan si anak.
Sesungguhnya pola pemberian makanan pada anak, etiologi penyakit dan tindakan kuratif
penyakit merupakan bagian dari sistem perawaatan kesehatan umum dalam masyarakat
(Klienman, 1980). Dikatakan bahwa dalam sistem perawatan kesehatan ini terdapat unsur-
unsur pengetahuan dari sistem medis tradisional dan moderen. Hal ini terlihat bila ada anak
yang menderita sakit, maka si ibu atau anggota keluarga lain akan melakukan pengobatan
sendiri (self treatment) terlebih dahulu, apakah itu dengan menggunakan obat tradisional
ataupun obat moderen. Tindakan pemberian obat ini merupakan tindakan pertama yang
paling sering dilakukan dalam upaya mengobati penykit dan merupakan satu tahap dari
perilaku mencari penyembuhan atau kesehatan yang dikenal sebagai "health seeking
behavior". Jika upaya ini tidak berhasil, barulah dicari upaya lain misalnya membawa ke
petugas kesehatan seperti dokter, mantri dan lain-lain.

C. Kesehatan Ibu.
Permasalahan utama yang saat ini masih dihadapi berkaitan dengan kesehatan ibu di
Indonesia adalah masih tingginya angka kematian ibu yang berhubungan dengan persalinan.
Menghadapi masalah ini maka pada bulan Mei 1988 dicanangkan program Safe Motherhood
yang mempunyai prioritas pada peningkatan pelayanan kesehatan wanita terutama pada masa
kehamilan, persalinan dan pasca persalinan.
Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk
mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu juga untuk
menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan kehamilan (ante
natal care) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Pacta
berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu yang menganggap
kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa tidak perlu
memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter.
Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan
menyebabkan
tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini
baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat
membawa akibat fatal yaitu kematian. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya
tingkat pendidikan dan kurangnya informasi tentang persalinan dan permasalahan yang
mungkin timbul. Pada penelitian yang dilakukan di RS Hasan Sadikin, Bandung, dari 132
ibu yang meninggal, 69 diantaranya tidak pernah memeriksakan kehamilannya atau baru
datang pertama kali pada kehamilan 7-9 bulan (Wibowo, 1993). Selain dari kurangnya
pengetahuan akan pentingnya perawatan kehamilan, permasalahan-permasalahan pada
kehamilan dan persalinan dipengaruhi juga oleh faktor nikah pada usia muda yang masih
banyak dijumpai di daerah pedesaan. Disamping itu, dengan masih adanya preferensi
terhadap jenis kelamin anak khususnya pada beberapa suku, yang menyebabkan istri
mengalami kehamilan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang relatif pendek,
menyebabkan ibu mempunyai resiko tinggi pada saat melahirkan.
Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah gizi. Hal
ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan pantangan- pantangan terhadap
beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka sehari-hari tidak berkurang ditambah lagi
dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang sebenamya sangat dibutuhkan
oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak
heran kalau anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama di daerah
pedesaan. Dari data SKRT 1986 terlihat bahwa prevalensi anemia pada wanita hamil di
Indonesia sebesar 73,7%, dan angka menurun dengan adanya program-program perbaikan
gizi menjadi 33% pada tahun 1995. Dikatakan pula bahwa penyebab utama dari tingginya
angka anemia pada wanita hamil disebabkan karena kurangnya zat gizi yang dibutuhkan
untuk pembentukan darah.
Di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan
mempersulit
persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak.
Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan
sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah
dilahirkan. Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan
kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin. Contoh lain di daerah Subang, ibu
hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan
besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat
badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan
dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang,
nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan
masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. (Wibowo, 1993).
Memasuki masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena
segala
kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Sejumlah
faktor memandirikan peranan dalam proses ini, mulai dari ada tidaknya faktor resiko
kesehatan ibu, pemilihan penolong persalinan, keterjangkauan dan ketersediaan pelayanan
kesehatan, kemampuan penolong persalinan sampai sikap keluarga dalam menghadapi
keadaan gawat.
Di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak untuk
menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah. Data Survei Kesehatan Rumah
Tangga tahun 1992 rnenunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek-
praktek persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan si ibu. Penelitian Iskandar dkk
(1996) menunjukkan beberapa tindakan/praktek yang membawa resiko infeksi seperti
"ngolesi" (membasahi vagina dengan minyak kelapa untuk memperlancar persalinan),
"kodok" (memasukkan tangan ke dalam vagina dan uterus untuk rnengeluarkan placenta)
atau "nyanda" (setelah persalinan, ibu duduk dengan posisi bersandardan kaki diluruskan ke
depan selama berjam-jam yang dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan).
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan karena
beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah, mengerti dan dapat membantu
dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai
40 hari. Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang
ada. Walaupun sudah banyak dukun beranak yang dilatih, namun praktek-praktek tradisional
tertentu rnasih dilakukan. lnteraksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan
penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup.
Secara medis, . penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan, infeksi
dan eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara
tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan. Namun,
kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga
karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga. Umumnya,
terutama di daerah pedesaan, keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih
harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua; atau keputusan berada di tangan suami yang
seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi.
Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat
tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Tidak jarang pula nasehat-nasehat yang
diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. Keadaan ini
seringkali pula diperberat oleh faktor geografis, dimana jarak rumah si ibu dengan tempat
pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak tersedianya transportasi, atau oleh faktor kendala
ekonomi dimana ada anggapan bahwa membawa si ibu ke rumah sakit akan memakan biaya
yang mahal. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan, faktor geografis
dan kendala ekonomi, keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu
keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan
takdir yang tak dapat dihindarkan.
Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada
masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses
pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk
memperbanyak produksi ASI; ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap
dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada praktek-praktek yang dilakukan
oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu. Misalnya
mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula ; memasukkan
ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan
darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan; atau memberi jamu tertentu untuk
memperkuat tubuh (Iskandar et al., 1996).