Anda di halaman 1dari 16

Peran Perawat Lansia Komunitas

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang
sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari
dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang
diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21).

Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam praktik,
dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan diberi kewenangan oleh
pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung keperawatan secara professional sesuai
dengan kode etik professional.

Dalam Prakteknya Keperawatan Gerontik Meliputi Peran Dan Fungsinya Sebagai Berikut:

1. Sebagai Care Giver /Pemberi Asuhan Langsung


Memberikan asuhan keperawatan kepada lansia yang meliputi intervensi/tindakan
keperawatan, observasi, pendidikan kesehatan, dan menjalankan tindakan medis sesuai
dengan pendelegasian yang diberikan.

2. Sebagai Pendidik Klien Lansia


Sebagai pendidik, perawat membantu lansia meningkatkan kesehatannya malalui
pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medic yang
diterima sehingga klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang
diketahuinya. Sebagai pendidik, perawat juga dapat memberikan pendidikan kesehatan
kepada kelompok keluarga yang beresiko tinggi, kadar kesehatan, dan lain sebagainya.

3. Sebagai Motivator
Sebagai motivator,perawat memberikan motivasi kepada lansia.

4. Sebagai Advokasi
Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antar klien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan
membantu klien memahami semua informasi dan upeya kesehatan yang diberikan oleh tim
kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional. Peran advokasi sekaligus
mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap
pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien. Dalam
menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus dapat melindungi dan memfasilitasi
keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan.

5. Sebagai Konselor

Memberikan konseling/ bimbingan kepada lansia, keluarga dan masyarakat tentang


masalah kesehatan sesuai prioritas. Konseling diberikan kepada individu/keluarga dalam
mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan penglaman yang lalu, pemecahan
masalah difokuskan pada masalah keperawatan, mengubah perilaku hidup kea rah perilaku
hidup sehat.

Fungsi Perawat Gerontik

Menurut Eliopoulous tahun 2005 fungsi dari perawat gerontology adalah :

1. Membimbing orang pada segala usia untuk mencapai masa tua yang sehat.
2. Menghilangkan perasaan takut tua.
3. Menghormati hak orang dewasa lebih tua dan memastikan yang lain melakukan hal yang
sama.
4. Memantau dan mendorong kualitas pelayanan.
5. Memperhatikan serta mengurangi risiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan.
6. Mendidik dan mendorong pemberi pelayanan kesehatan.
7. Mendengarkan dan memberi dukungan.
8. Memberikan semangat, dukungan, dan harapan.
9. Menghasilkan, mendukung, menggunakan, dan berpartisipasi dalam penelitian.
10. Melakukan perawatan rehabilitatif.
11. Mengoordinasi dan mengatur perawatan.
12. Mengkaji, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi perawatan individu dan
perawatan secara menyeluruh.
13. Memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan.
14. Membangun masa depan perawat gerontik untuk menjadi ahli di bidangnya.
15. Saling memahami keunikan pada aspek fisik, emosi, sosial, dan spiritual.
16. Mengenal dan mendukung manajemen etika yang sesuai dengan tempat.
17. Memberikan dukungan dan kenyamanan dalam menghadapi proses kematian.
18. Mengajarkan untuk meningkatkan perawatan mandiri dan kebebasan yang optimal.

Tugas-Tugas Perawat Dalam Setiap Teori Penuaan


1. Tugas Perawat dalam Teori Biologi
Perawatan yang memperhatikan kesehatan objektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang
dialami klien lansia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat
kesehatan yang masih bisa dicapai dikembangkan, penyakit yang dapat dicegah atau
ditekan progresifitasnya.
Perawatan fisik secara umum bagi klien lansia dapat dibagi atas 2 bagian yakni :
a. Klien lansia yang masih aktif, dimana keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa
bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannnya sehari-hari masih mampu
melakukan sendiri.
b. Klien lansia yang pasif atau tidak dapat bangun, dimana keadaan fisiknya mengalami
kelumpuhan atau sakit.
Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien lansia ini terutama hal-hal yang
berhubungan dengan kebersihan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya.
Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya
penyakit/peradangan mengingat sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang
mendapat perhatian.
Disamping itu kemunduran kondisi fisik akibat proses penuaan dapat mempengaruhi
ketahanan tubuh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar.
Untuk klien lansia yang aktif dapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut
dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan kuku dan rambut, kebersihan tempat
tidur serta posisinya, hal makan, cara memakan obat, dan cara pindah dari tempat
tidur ke kursi atau sebaliknya.
Komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah memperhatikan dan
membantu para klien lansia untuk bernafas dengan lancar, makan (termasuk memilih
dan menentukan makanan), minum melakukan eliminasi, tidur, menjaga sikap tutbuh
waktu berjalan, duduk, merubah posisitiduran, beristrahat, kebersihan tubuh,
memakai dan menukar pakaian, mempertahankan suhu badan, melindungi kulit dari
kecelakaan.
2. Tugas Perawat Dalam Teori Sosial
Perawat sebaiknya memfasilitasi sosialisasi antar lansia dengan mengadakan diskusi dan
tukar pikiran serta bercerita sebagai salah satu upaya pendekatan sosial. Memberi
kesempatan untuk berkumpul bersama berarti menciptakan sosialisasi antar manusia,
yang menjadi pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah mahluk
sosial yang membutuhkan orang lain. Hubungan yang tercipta adalah hubungan sosial
antara werda dengan werda maupun werda dengan perawat sendiri.
Perawat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para werda untuk
mengadakan komunikasi, melakukan rekreasi seperti jalan pagi, menonton film atau
hiburan-hiburan lain karena mereka perlu diransang untuk mengetahui dunia luar. Dapat
disadari bahwa pendekatan komunikasi dalam perawatan tidak kalah pentingnya dengan
upaya pengobatan medis dalam proses penyembuhan atau ketenangan para klien lansia.
Menurut Drs H. Mannan dalam bukunya Komunikasi dalam Perawatan mengatakan :
tidak sedikit klien tidak bisa tidur karena stres. Stres memikirkan penyakitnya, biaya
hidup, keluarga yang dirumah, sehingga menimbulkan kekecewaan, rasa ketakutan atau
kekhawatiran, rasa kecemasan dan sebagainya. Untuk menghilangkan rasa jemu dan
menimbulkan perhatian terhadap sekelilingnya perlu diberikan kesempatan kepada
mereka untuk antara lain ikut menikmati keadaan diluar, agar mereka merasa masih ada
hubungan dengan dunia luar.
Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara mereka (terutama bagi yang
tinggal di panti werda ), hal ini dapat diatasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu
mengadakan kontak sesama mereka, makan dan duduk nbersama, menanamkan rasa
kesatuan dan persatuan, senasib dan sepenanggungan, mengenai hak dan kewajiban
bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama
mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan
klien lansia di panti werda.
3. Tugas Perawat dalam Teori Psikologi
Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien
lansia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu
yang asing sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab.
Perawat hendaknya memiki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan
waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar mereka merasa
puas.
Pada dasarnya klien lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungannya
termasuk perawat yang memberikan perawatan. Untuk itu perawat harus menciptakan
suasana yang aman, tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas
kemampuan dan hobby yang dimilikinya.
Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lansia dalam
memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan, sebagai
akibat dari ketidakmampuan fisik dan kelainan yang dideritanya, hal ini perlu dilakukan
karena : perubahan psikologi terjadi bersama dengan makin lanjutnya usia. Perubahan-
perubahan ini meliputi gejala-gejala seperti menurunnya dayaingat untuk peristiwa yang
baru terjadi, berkurangnya kegairahan atau keinginan, peningkatan kewaspadaan,
perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran di waktu siang dan
pergeseran libido.
Perawat harus sabar mendengarkan cerita-cerita yang membosankan, jangan
mentertawakan atau memarahi bila klien lansia lupa atau bila melakukan kesalahan.
Harus diingat, kemunduran ingatan akan mewarnai tingkah laku mereka dan kemunduran
ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu.
Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan,
perawatbisa melakukannya secara perlahan-lahan dan bertahap, perawat harus dapat
mendukung mental mereka ke arah pemuasan pribadi sehingga pengalaman yang
dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa lansia ini mereka
tetap merasa puas dan bahagia.

https://www.scribd.com/doc/81026204/Peran-Perawat-Lansia-Komunitas
Lingkup, peran dan tanggungjawab keperawatan gerontik
Lingkup askep gerontik meliputi:
1. Pencegahan terhadap ketidakmampuan akibat proses penuaan
2. Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan
3. Pemulihan ditujukan untuk upaya mengatasi kebutuhan akibat proses penuaan
Apa yang merupakan tanggung-jawab etis khusus perawat yang merawat perempuan
lansia? Beberapa pendapat menyatakan bahwa masyarakat dan anggotanya membawa
tanggung-jawab khusus untuk menanggapi kebutuhan populasi yang rentan. Menurut salah
satu pendapat suatu kewajiban untuk melindungi seseorang di bawah ancaman bahaya
diterapkan tidak hanya untuk kesejahteraan material yang berbahaya, tetapi terhadap
perasaan, citra diri, atau kehormatan diri terutama yang rentan terhadap cedera.
Berkembangnya argumentasi ini pada pelayanan kesehatan, bisa menjadikan anggapan bahwa
perawat dan para tenaga kesehatan lainnya mempunyai kewajiban lebih kuat terhadap pasien
lansia. Mengingat semua pasien rentan karena penyakit mereka, pasien lansia berada pada
risiko ganda. Mereka mudah terkena serangan tidak hanya berdasarkan keadaan sakit, tetapi
juga karena menjadi lebih tua di dalam suatu masyarakat yang mengevaluasikan dan
mendiskriminasikan lansia. Perempuan lansia bahkan lebih peka karena stereotip negatif
penuaan, mungkin lebih kasar berlaku untuk mereka dan memungkin lebih berbahaya ketika
diterapkan. Keadaan pasien seperti itu didasarkan kepada diskriminasi jenis kelamin dalam
masyarakat yang lebih besar dan dalam lingkungan pelayanan kesehatan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, beberapa pakar menghimbau perawat gerontik dan
tenaga kesehatan lain yang memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien lansia
mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
o Menentang mitos dan pandangan streotip dihubungkan dengan penuaan.
o Membedakan suatu ciri proses penuaan yang sehat dari penyakit.
o Memeriksa faktor psikologis sosial dan biologis yang mempengaruhi penuaan yang sehat.
o Mengembangkan strategi untuk melindungi, meningkatkan, dan memelihara kesehatan wanita
lanjut usia.
o Memurnikan suatu konsep kesehatan fungsional dengan mengetahui pribadi, juga sumber
daya lingkungan dan menekankan potensi pertumbuhan penuaan wanita pada semua tingkat
kesehatan.
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap
seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial,
baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang
diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu (Kozier Barbara, 1995).
Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam
praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan diberi
kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung keperawatan secara
professional sesuai dengan kode etik professional. Dimana setiap peran yang dinyatakan
sebagai ciri terpisah demi untuk kejelasan
Dalam prakteknya keperawatan gerontik meliputi peran dan fungsinya sebagai berikut:
1. Sebagai Care Giver/ pemberi asuhan langsung
Sebagai pelaku/pemberi asuhan keperawatan, perawat dapat memberikan pelayanan
keperawatan secara langsung dan tidak langsung kepada klien, menggunakan pendekatan
proses keperawatan yang meliputi : melakukan pengkajian dalam upaya mengumpulkan data
dan informasi yang benar, menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan hasil analisis data,
merencanakan intervensi keperawatan sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul dan
membuat langkah/cara pemecahan masalah, melaksanakan tindakan keperawatan sesuai
dengan rencana yang ada dan melakukan evaluasi berdasarkan respon klien terhadap tindakan
keperawatan yang telah dilakukan.
Sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat membantu klien mendapatkan kembali
kesehatannya melalui proses penyembuhan. Proses penyembuhan lebih dari sekedar sembuh
dari penyakit tertentu, sekalipun pemberi ketrampilan tindakan yang meningkatkan kesehatan
fisik merupakan hal yang penting bagi pemberi asuhan. Perawat memfokuskan asuhan pada
kebutuhan klien secara holistik, meliputi gaya mengembalikan kesehatan emosi, spiritual dan
sosial. Pemberi asuhan memberikan bantuan bagi klien dan keluarga dalam menetapkan
tujuan dan mencapai tujuan tersebut dengan menggunakan energi dan waktu yang minimal.
2. Sebagai Pendidik klien lansia
Sebagai pendidik klien, perawat membantu klien meningkatkan kesehatannya melalui
pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medik yang diterima
sehingga klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang diketahuinya.
Sebagai pendidik, perawat juga dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada klien
lansia yang beresiko tinggi, kader kesehatan, dan lain sebagainya.
Perawat menjalankan peran sebagai pendidik ketika klien, keluarga atau kelompok
masyarakat dianggap memerlukan pengajaran. Hubungan pengajar - orang yang belajar
adalah tingkatan lebih lanjut dari hubungan pertolongan perawatan. Di dalam hubungan
saling ketergantungan ini akan terbangun suatu kepercayaan. Perawat membangun rasa
percaya tersebut dengan berbagi pandangan objektif klien.
Peran ini, dapat dalam bentuk penyuluhan kesehatan, maupun bentuk desiminasi ilmu
kepada klien
3. Sebagai komunikasi ( comunicator )
Setiap perawat yang berkeinginan menjadi perawat yang memberikan perawatan secara
efektif, hal pertama yang harus dipelajari adalah cara berkomunikasi. Komunikasi yang baik
menjadikan perawat mengetahui tentang klien mereka yang akhirnya mampu mendiagnosa
dan menemukan hal - hal yang mereka butuhkan selama proses perawatan.
4. Sebagai pemberi bimbingan/konseling klien (Counselor)
Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap
keadaan sehat-sakitnya. Adanya pola interaksi ini merupakan dasar dalam merencanakan
metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya. Memberikan konseling/bimbingan
kepada klien, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan sesuai prioritas. Konseling
diberikan kepada individu/keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan
pengalaman yang lalu, pemecahan masalah difokuskan pada masalah keperawatan,
mengubah perilaku hidup kearah perilaku hidup sehat.
5. Sebagai koordinator agar dapat memanfaatkan sumber-sumber potensi klien
(Coordinator)
Perawat memanfaatkan semua sumber-sumber dan potensi yang ada, baik materi
maupun kemampuan klien secara terkoordinasi sehingga tidak ada intervensi yang
terlewatkan maupun tumpang tindih.
Dalam menjalankan peran sebagai koordinator, perawat dapat melakukan hal-hal
sebagai berikut :
a. Mengkoordinasi seluruh pelayanan keperawatan.
b. Mengatur tenaga keperawatan yang akan bertugas.
c. Mengembangkan sistem pelayanan keperawatan.
d. Memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan pelayanan keperawatan pada
sarana kesehatan
6. Rehabilitator
Rehabilitasi merupakan proses dimana individu kembali ke tingkat fungsi maksimal
setelah sakit, kecelakaan, atau kejadian yang menimbulkan ketidakberdayaan lainnya.
Seringkali klien mengalami gangguan fisik dan emosi yang mengubah kehidupan mereka dan
perawat membantu klien beradaptasi semaksimal mungkin dengan keadaan tersebut. Rentang
aktivitas rehabilitatif dan restoratif mulai dari mengajar klien berjalan dengan menggunakan
kruk sampai membantu klien mengatasi perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan
penyakit kronis.
7. Pembuat keputusan klinik ( Collabolator )
Untuk memberikan perawatan yang efektif, perawat menggunakan keahliannya berpikir
secara kritis melalui proses keperawatan. Perawat membuat keputusan ini sendiri atau
berkolaborasi dengan klien dan keluarga. Dalam setiap situasi seperti ini, perawat bekerja
sama dan berkonsultasi dengan pemberi perawatan kesehatan profesional lainnya ( Keeling
dan Ramos, 1995 )
8. Sebagai Caring
Tanggung-jawab etis seorang perawat secara umum telah diuraikan dalam kaitannya
dengan caring dan perlindungan. Reverby melacak sejarah keperawatan Amerika pada awal
abad ke-19. Selama waktu tersebut, hampir tiap-tiap perempuan menghabiskan sebagian dari
hidupnya untuk memperhatikan macam-macam penyakit dan kelemahan teman-teman dan
sanak keluarga. Pada saat keperawatan dikenal sebagai suatu pekerjaan professional dan
tempat dalam merawat dipindahkan dari rumah sakit, tugas merawat ditafsirkan berarti
ketaatan terhadap perintah dokter. Menurut Reverby, caring keperawatan baru-baru ini telah
mengalami suatu perubahan bentuk. Berbeda dari sebelumnya, sekarang akan ditemui
perawat menuntut hak untuk menentukan bagaimana tugas merawat didapatkan. Sekarang
perawat menginginkan suatu model caring yang menyertakan hak-hak terhadap otonomi
dengan nilai-nilai ideal tradisional mengenai hubungan dan azas mengutamakan orang lain.
Pakar teori ilmu perawatan modern yang melanjutkan untuk mengidentifikasi caring
sebagai hal yang utama untuk merawat juga menekankan bahwa teori ilmu keperawatan itu
harus dibangun dari praktek keperawatan dibandingkan dengan gambaran ideal dalam
keperawatan. Benner dan Wrubel sebagai contoh, mengembangkan penafsiran teori caring
keperawatan dari pengamatan empiris dalam praktik keperawatan. Mereka mendefenisikan
caring sebagai suatu perhatian kepada orang lain, peristiwa, pekerjaan, dan hal-hal lain. Oleh
karena itu, dapat dipahami bahwa caring memungkinkan untuk keperawatan karena
memadukan pemikiran, perasaaan, dan tindakan serta memberikan arah dan motivasi untuk
perawat.
Swanson juga mengemukan suatu model induktif caring. Menurut model ini, caring
memberikan bantuan dengan suatu cara yang memelihara martabat manusia,
mempertahankan kemanusiaan, dan menghindari penurunan status moral seseorang. Caring,
menurut Swanson, melibatkan lima komponen:
Mengetahui atau berusaha keras untuk memahami suatu peristiwa sebagai sesuatu yang
yang mempunyai arti dalam hidup orang lain.
Mendukung atau menunjukan keberadaan secara emosional kepada yang lain.
Mengurus atau melakukan sehingga orang lain akan melakukan untuk dirinya jika itu
mungkin.
Memungkinkan atau memudahkan orang lain melalui pergantian hidup dan peristiwa yang
lazim.
Mempertahankan kepercayaan yang mengisyaratkan kepercayaan dalam kapasitas lain
untuk melalui suatu pergantian atau peristiwa untuk menghadapi masa depan yang terpenuhi.
Walupun sebagai keperawatan sering dihubungkan dengan fungsi pelayanan, baik
dokter maupun perawat peduli tentang dan untuk pasien dan caring adalah pusat tujuan
pelayanan kesehatan yang etis. Selain itu, karena keterampilan untuk perawat secara medis
dan secara teknis lompleks. Praktek keperawatan telah meningkat dari keperawatan domestik
yang lebih sederhana di dalam rumah menjadi pembedahan dan anastesi didalam unit
perawatan intensif (UFI) yang modern. Akhirnya, caring dan tidak hanya meliputi membantu
orang lain, tapi juga menahan diri dari mengunakan berbagai bentuk terapi dan pengobatan.
9. Sebagai Advokasi
Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan
klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan
dengan pendekatan tradisional maupun profesional. Peran advokasi sekaligus mengharuskan
perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan
terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien. Dalam menjalankan peran sebagai
advokat (pembela klien) perawat harus dapat melindungi dan memfasilitasi keluarga dan
masyarakat dalam pelayanan keperawatan.
Bertentangan dengan beberapa ahli yang memandang caring sebagai pusat
keperawatan. Anas membantah bahwa suatu kiasan baru mengenai keprawatan sebagai
advokasi harus menggantikan model tradisional sedangkan model keperawatan menekankan
tanggapan untuk memberikan respon terhadap rasa sakit dan penderitaan, advokasi,
menekankan rasa hormat pada pasien dan mempertahankan hak hukum pasien. Pada model
ini, perawat secara ideal memiliki pengetahuan tentang hak-hak pasien dan bersiap untuk
meredam perselisihan dengan maksud untuk perlindungan dan melindungi pasien terhadap
penyalahgunaan hak-hak. Secara khusus, hak-hak yang harus dilindungi oleh perawat
meliputi hal-hal yang dilindungi oleh perawat meliputi hal-hal yang termaksud
dalam American hospital Ascociation Bill of Right yang dinyatakan pada tahun 1973 .
Hak – hak pasien :
1. Pasien mempunyai hak untuk mendapat perhatian dan pelayanan yang terhormat.
2. Pasien mempunyai hak untuk memperoleh informasi yang lengkap yang berdasarkan hasil
diagnosis, pengobatan dan prognosis dari dokternya sehingga pasien paham.
3. Pasien mempunyai hak untuk menerima informasi yang diperlukan dari dokternya untuk
persetujuan tindakan sebelum memulai segala prosedur dan pengobatan.
4. Pasien mempunyai hak untuk menolak perawatan yang diberikan secara hukum dan untuk
diberitahukan konsekuensi medis dari tindakan tersebut.
5. Pasien mempunyai hak untuk setiap pertimbangan privasinya mengenai program
perawatan medik sendiri.
6. Pasien mempunyai hak untuk mengharapkan bahwa semua percakapan dan catatan yang
menyangkut perawatan dirinya harus di jaga kerahasiannya.
7. Pasien mempunyai hak untuk mengharapkan bahwa pihak rumah sakit di dalam
kapasitasnya mampu memberikan tanggapan yang beralasan terhadap permintaan pasien
untuk jasa pelayan yang diperlukan.
8. Pasien mempunyai hak untuk memperoleh informasi seperti hubungn rumah sakit
terhadap pelayanan kesehatan lain dan instusi pendidikan sepanjang perawatan nya
diperhatikan.
9. Pasien mempunyai hak untuk di berikan pertimbangan jika rumah sakit mengusulkan untuk
mengikut sertakan dalam percobaan manusia yang mempengaruhi perawatan atau
pengbatan.
10. Pasien mempunyai hak untuk mengharapkan perawatan yang berkesinambungan.
11. Pasien mempunyai hak untuk memeriksa dan menerima suatu penjelasan secara terperinci
mengnai jumlah tagihan rekening yang harus di bayar.
12. Pasien mempunyai hak untuk mengatahui peraturan rumah sakit yang berlaku berkaitan
dengan kedudukannya sebagai seorang pasien.

http://dianhusadadewianggraini.blogspot.co.id/p/blog-page_2924.html
B. Penggunaan obat pada lansia

1. Masalah pada pemberian obat pada pasien usia lanjut

 Item yang sebenarnya tidak diperlukan ( diperkirakan 25 % )


 Petunjuk yang tidak memuaskan
 Frekuensi, interval dosis yg tdk sesuai
 Duplikasi terapi
 Interaksi obat

PERUBAHAN PADA USIA LANJUT

1. PERUBAHAN SOSIOLOGI
2. PERUBAHAN FISIOLOGI
3. PERUBAHAN FARMAKOKINETIK
4. PERUBAHAN FARMAKODINAMIK

PERUBAHAN FISIOLOGI

 Reduksi sekresi asam lambung


 Penurunan motilitas saluran cerna
 Reduksi luas permukaan total absorpsi
 Reduksi aliran darah jaringan
 Reduksi ukuran hati
 Reduksi aliran darah hati
 Reduksi filtrasi glomerulus
 Reduksi filtrasi tubuler ginjal

a. PERUBAHAN FARMAKOKINETIK

 Absorpsi : Penundaan pengosongan lambung, Reduksi sekresi asam lambung, Reduksi aliran
darah jaringan. Contoh absorpsi berkurang : digoksin, tiamin, kalsium, besi.
 Distribusi : a.) Komposisi tubuh : Total air dlm tubuh dan masa tubuh tanpa lemak (lean
body mass), shg volume distribusi obat yang larut dlm air . Contoh digoksin dan
simetidin. Total lemak dlm tubuh, shg distribusi obat yang larut dalam lemak Contoh :
benzodiazepin seperti diazepam. b.) Ikatan plasma – protein : Jumlah albumin plasma
menurun . Obat yang bersifat asam yang biasanya berikatan dengan protein, menjadi dalam
keadaan bebas shg kadarnya meningkat. Contoh simetidin, furosemid, warfarin. c.) Aliran
darah organ : Perubahan aliran darah akan perfusi pada anggota gerak, hati, mesenterium,otot
jantung dan otak. Perfusi sampai 45 % dibanding usia 25 tahun. Pengaruh tidak siginifikan
pada distribusi obat , walau ada penurunan kecept distribusi ke jaringan .
 Eliminasi : a.) Metabolisme hati dan ekskresi ginjal. Efek dosis tunggal akan
diperpanjang. Metabolisme hati. Penurunan first metabolism, akan meningkatkan
bioavailabilitas obat, contoh propranolol, labetolol, nifedipin, nitrat dan verapamil. Reduksi
masa hati sebesar 35 % dimulai usia 30 s/d 90 tahun shg kapasitas metabolisme intrinsik hati
menurun dan bioavailabilitas meningkat, toksisitas meningkat. b.) Eliminasi hati : Penurunan
alirah darah hati, bioavailabilitas meningkat. Contoh nifedipin, shg efek hipotensi meningkat
secara bermakna dan harus diwaspadai. c.) Perubahan enzimatik : kecepatan metabolisme
sitokrom P 450 dapat menurun s/d 40 % jika dibanding pasien dewasa muda. Waspada pada
obat dengan indeks terapi sempit karena bermakna secara klinis. d.) Eliminasi ginjal
Penurunan aliran darah ginjal, ukuran organ , filtrasi glomerulus dan fungsi
tubuler. Perubahan terjadi dengan tingkat yang berbeda untuk setiap individu. Kecepatan
filtrasi glomerulus menurun 1 % / tahun setelah usia 40 tahun. Menyebabkan peningkatan
kadar obat dalam jaringan sampai 50 %

b. PERUBAHAN FARMAKODINAMIK

1. EFEK SAMPING OBAT : Pasien lansia berisiko tinggi terhadap toksisitas obat tertentu
seperti benzodiazepin kerja panjang,OAINS, warfarin, heparin, aminoglikosida, isoniazid,
tiazid dosis tinggi, antineoplastik dan antiaritmia. Contoh eso pada lansia : Postural hipotensi
karena diuretik dan Prostatisme karena antikolinergik
2. FAKTOR RISIKO ESO PADA LANSIA : Polifarmasi : Interaksi obat – obat : Penggunaan
bersamaan obat dengan efek samping mirip akan memperparah eso yang terjadi Interaksi
obat dengan penyakit :

 Interaksi obat dengan penyakit.


 Pemberian OAINS, aminoglikosid, radiokontras pada pasien lansia dengan gagal ginjal
kronik dapat terjadi gagal ginjal akut.
 Pemberian kortikosteroid pada pasien lansia dengan osteopenia dapat terjadi fraktur.
 Pemberian OAINS pada pasien lansia dengan hipertensi dapat terjadi peningkatan tekanan
darah.

c. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN UNTUK MENCAPAI KEBERHASILAN


FARMAKOTERAPI LANSIA

1. Dosis, keamanan dan manfaat dari obat.

 Dosis umumnya diturunkan hingga 1/5, ttp berbeda untuk setiap individu.
 Obat dengan indeks terapi sempit dimulai dengan 1/3 atau ½ dosis lazim.
 Untuk obat yang eliminasi nya dipengaruhi (menurun), berikan 50 % dari dosis awal yg
dianjurkan.

2. Jumlah obat yang diberikan

 Semakin banyak jumlah obat polifarmasi dgn segala risiko

3. Kepatuhan pasien

 Hanya 60 % yang patuh sedangkan 40 % pasien lansia meminum obat kurang dari yang
diberikan dokter.
Pemberian obat pada lansia
Pemberian obat pada lansia juga membutuhkan pertimbangan khusus.Disamping
perubahan fisiologi penuaan, faktor tingkah laku dan ekonomi juga mempengaruhi
penggunaan obat pada lansia.danterjadi penurunan fungsi-fungsi organ, sehingga pemberian
obat harus dilakukan hati-hati.
Individu berusia lebih dari 65 tahun merupakan pengguna obatterbanyak (Ebersole,
Hess, (1994) dalam Perry & potter (2005)). Perawat yang memberikan obat kepada lansia
harus mencermati lima pola pengguna obat klien lansia sebagaimanadiidentifikasi
(Ebersole& Hess (1994)dalamperry& potter (2005)).
a. Polifarmasiartinyaklienmenggunakan banyak obat, yang diprogramkan atau tidak, sebagai
upaya mengatasi beberapa gangguan secara bersamaan. Apabila ini terjadi, ada resiko
interaksi obat dengan obat yang lain dan makanan. Klien juga memiliki resiko lebih besar
untuk mengalami reaksi yang merugikan terhadap pengobatan.
b. Meresepkan obat sendiri (self-prescribing of medication). Berbagai gejala dapat dialami oleh
klien lansia, misalnya nyeri, konstipasi, insomnia, dan ketidakmampuan mencerna. Semua
gejala ini ditemukan pada penggunaan obat yang dijual bebas. Lansia sering kali berupaya
mencari pereda gangguan yang mereka alami dengan menggunakan preparat yang dijual
bebas, obat-obatan rakyat dan jamu-jamuan.
c. Obat yang dijual bebas. Obat yang dijual bebas digunakan oleh 75% lansia meredakan gejala.
Banyak preparat yang dijual bebas mengandung bahan-bahan yang jika tidak digunakan
dengan tepat, dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan, efek yang
merugikanataudikontraindikasikanuntukkondisiklien.
d. Penggunaan obat yang salah (misuse). Bentuk-bentuk penggunaan obat yang salah oleh lansia
antara lain : penggunaan berlebihan (overuse), penggunaan yang kurang (underuse),
penggunaan yang tidakteratur(errastic use)danpenggunaan yang dikontraindikasikan.
e. Ketidakpatuhan (noncompliance). Ketidakpatuhan didefinisikan sebagai penggunaan obat
yang salah secara sengaja. Dari semua populasi lansia 75% diantaranya tidak mematuhi
program pengobatan secara sengaja dengan mengubah dosis obat karena obat dirasa tidak
efektif atau efek samping obat membuat lansia tidak nyaman.
Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi pola penggunaan obat
pada klien lansia. Waktu pemberian obat memberi perawat kesempatan untuk memberi
penyuluhan atau menguatkan pengajaran obat sebelumnya.
REFERENSI :
Enykus, (2003), keterampilan dasar dan prosedur perawatan dasar, ed 1. Semarang, Kilat
press.

Pery, Anne Griffin, Potter, patricia A.,(1999). Fundamental Keperawatan Konsep proses dan
praktek.EGC: Jakarta

Pery, Anne Griffin, Potter, patricia A., Yasmin, Asih (editor). (1999). Buku Saku Ketrampilan
Dan Prosedur Dasar. EGC: jakarta

Taylor, C., Lilis, C., and LeMone, P., ( 1998 ). Fundamental of Nursing : the art and science
of nursing care ‘Lippincott.