Anda di halaman 1dari 5

Berikut Blok Diagram dari sebuah Pemancar AM komersial (broadcast) klasik :

Keterangan :
1. Osilator
Berfungsi membangkitkan getaran frekuensi tinggi sesuai dengan frekuensi resonansi
lingkar tala dari generator tala yang biasanya digunakan resonator paralel berupa LC
jajar pada pemancar AM klasik. Beberapa pemancar radio AM menggunakan resonator
kristal sebagai generator frekuensi untuk kestabilan frekuensi yang lebih tinggi. Pada
pemancar AM modern penerapan osilator terkendali PLL lebih banyak diterapkan. Pada
pemancar AM komersial (broadcast) osilator bekerja pada frekuensi mulai 535 s/d 1605
kHz atau sebesar 1070 kHz dengan lebar spektrum maksimum 10 kHz setiap kanal
nya. Dengan demikian ada 107 pemancar AM yang dapat ditampung pada pita
frekuensi selebar 1070 kHz tersebut.
2. Buffer (Penyangga)
Keluaran dari osilator masih merupakan sinyal lemah dengan impedansi keluaran yang
tinggi sehingga kurang sesuai untuk menggerakkan rangkaian penguat berikutnya.
Tahap penyangga akan sangat berperan dalam hal ini karena pada intinya adalah
sebuah rangkaian penguat arus bagi osilator. Sebuah penyangga atau bufferidentik
dengan sebuah rangkaian dengan impedansi masukan tinggi dan impedansi keluaran
yang rendah sehingga dapat meniadakan efek pembebanan rangkaian.
3. Driver (Kemudi)
Pada blok diagram pemancar am, tahap ini berfungsi mengatur penguatan daya
(tegangan dan arus) sinyal AM sebelum menuju penguat akhir. Pada bagian ini sering
digunakan penguat kelas A untuk menjamin linieritas sinyal keluaran. Pada
penerapannya sering digunakan beberapa tingkatan driver untuk menghasilkan daya
sinyal yang cukup untuk menggerakkan penguat akhir. Hal tersebut dilakukan
mengingat efisiensi penguat kelas A yang rendah (hanya sekitar 30%). Pada tahap
driver, penggunaan tapis-lolos-bawah sangat dianjurkan untuk menekan frekuensi
harmonisa.
4. Penguat Akhir (Final Amplifier)
Penguat akhir merupakan unit rangkaian penguat daya RF efisiensi tinggi, untuk itu
hampir selalu digunakan penguat daya RF tertala kelas C karena menawarkan efisiensi
daya hingga “100%”. Bagian akhir dari tahap ini selalu dipasang filter untuk menekan
frekuensi harmonisa dan sekaligus mengembalikan bentuk sinyal keluaran ke bentuk
semula (sinus).
5. Audio Input
Merupakan sinyal pesan atau sinyal informasi yang akan ditumpangkan pada sinyal
pembawa. Sinyal ini berupa sinyal suara audio baik dari mikropon maupun dari pemutar
musik.
6. System Audio
Bagian ini bertugas memproses sinyal audio input sebelum masuk ke tahap modulator.
Tahap ini terdiri dari penguat depan (pre-amplifier) sampai dengan penguat akhir
audio (audio power amplifier). Pada tahap awal biasanya dilengkapi dengan filter sinyal
audio yang membatasi lebar bidang audio maksimal pada 5 kHz frekuensi lancung. Hal
tersebut berkaitan dengan ketentuan lebar bidang maksimum spektrum pemancar AM
yang tidak boleh melebihi 10 kHz. Inilah yang menjadi satu alasan mengapa kualitas
audio yang dihasilkan oleh penerima radio AM kurang kuat pada frekuensi tinggi audio
nya (treble).
7. Modulator
Pada pemancar AM komersial (broadcast), pemodulasian sinyal pembawa dilakukan
oleh modulator pada tahap penguat akhir pemancar. Modulator bekerja dengan sebuah
transformator modulasi menggerakkan kolektor penguat akhir sehingga menghasilkan
ayunan amplitudo pada sinyal RF. Hasil dari pemodulasian AM adalah berupa sinyal RF
dengan komposisi tiga buah frekuensi yaitu; frekuensi pembawa atau fc (frequency
carrier) dan dua buah frekuensi sisi (side band) berupa frekuensi jumlah (fc+fi) dan
frekuensi selisih (fc-fi), dimana fi adalah frequency information.
8. Antenna
Merupakan bagian terakhir pada blok diagram pemancar am. Berfungsi mengubah
getaran listrik frekuensi tinggi menjadi gelombang elektromagnetik dan
meradiasikannya ke ruang bebas. Pada pemancar AM komersial (broadcast), biasa
digunakan jenis antena vertikal 1/4 panjang gelombang dengan langsung
menggunakan bumi sebagai pentanahan.
Blok Diagram Radio Penerima AM

Blok Diagram Radio AM Penerima. Dalam penerimaan radio secara umum, dikenal ada dua sistem
penerimaan yaitu sistem FM (Frequency Modulation) dan sistem AM (Amplitudo Modulation). Pada
sistem AM, meskipun secara kualitas audio jauh dibandingkan dengan FM, namun sampai saat ini
masih tetap digunakan karena beberapa pertimbangan, khususnya masalah propagasi gelombang AM
dibanding FM.

Propagasi frekuensi gelombang radio siaran AM yang unik membuat sistem radio AM masih tetap eksis
sampai saat ini. Salah satu kelebihan siaran gelombang AM adalah pada propagasi frekuensi yang
digunakan yang memungkinkan jangkauan siaran sangat jauh akibat pantulan
lapisan ionosferpada atmosfer. Gelombang datang dari ruang bebas ditangkap oleh antena yang
selanjutnya diproses pada penerima radio AM untuk mengembalikan pesan asli yang awalnya
memodulasi sinyal pembawa. Berikut ini blok diagram radio AM secara lazimnya :

1. Antena.

Bertugas menerima pancaran radiasi gelombang elektromagnetik radio ruang bebas yang berasal dari
pemancar radio. Pada antena selanjutnya energi RF diubah menjadi sinyal listrik dan disalurkan
menuju penerima melalui kabel transmisi.

2. Penguat Tala RF.

Sinyal listrik frekuensi tinggi yang dihasilkan oleh antena masih sangat kecil dalam taraf mikrovolt,
sehingga harus diperkuat terlebih dahulu agar mencapai level hingga dapat diperkuat oleh tahap
selanjutnya yaitu pencampur. Selain itu sinyal dari antena masih mengandung berbagai macam
frekuensi dengan spektrum luas sehingga untuk mengoptimalkan penangkapan dan pemilihan
frekuensi gelombang yang akan diteruskan ke tahap penguat RF digunakan sebuah sistem penguat
tala RF.

3. Pencampur (Mixer).
Tahap Pencampur berfungsi untuk menghasilkan frekuensi antara atau selisih antara frekuensi dari
pemancar/pembawa dengan frekuensi osilator lokal. Pencampur akan selalu mengubah setiap
frekuensi gelombang dari pemancar (yang di tala) menjadi frekuensi selisih IF (Intermediate
Frequency) fIF yang nilainya tetap. Cara tersebut akan meningkatkan selektivitas penerima radio dan
merupakan ciri khas dari sistem radio superheterodyne. Besar nilai fIF pada radio AM komersial
adalah 455 kHz mengikuti persamaan :

fIF = fOL – fC

dimana :

o fIF = frekuensi antara (Intermediate Frequency)


o fOL = frekuensi osilator lokal
o fC = frekuensi gelombang pembawa dari pemancar radio

4. Osilator Lokal.

Osilator lokal berfungsi untuk mengkonversi frekuensi gelombang pembawa menjadi frekuensi antara
IF setelah melalui tahap pencampuran pada Mixer. Variabel Kapasitor untuk osilator lokal berupa dua
celah – satu poros dengan penguat tala RF sehingga selisih frekuensi penalaan dengan osilator lokal
selalu tetap sebesar frekuensi IF. Pada kebanyakan penerima radio komersial, frekuensi osilator lokal
selalu lebih tinggi sebesar frekuensi IF dibanding frekuensi pembawa seperti persamaan di atas.

5. Penguat IF I dan Penguat IF II.

Bagian ini menguatkan sinyal selisih fIF dari tahap pencampur. Menggunakan sistem penguat tertala IF
pada frekuensi 455 kHz sekaligus mampu meredam frekuensi bayangan yang masih lolos dari tahap
pencampur. Lebar bidang dari penguat IF AM berkisar 9 kHz untuk menjamin selektivitas penerimaan.
Pada beberapa sistem radio penerima AM, ada yang dilengkapi dengan filter keramik pada tahap awal
atau akhir penguat IF selain pemakaian transformator tala IF.

7. Detektor.

Berbeda dengan radio penerima FM, pada AM digunakan detektor selubung gelombang (Envelope
Detector) dengan rangkaian lebih sederhana dibanding detektor FM. Biasa digunakan deoda
germanium untuk menjamin linearitas dan sensitifitas keluaran karena germanium memiliki tegangan
bias 0,3 V, lebih kecil bila dibandingkan dengan bahan silikon yang berkisar 0,7 V.

8. AGC (Automatic Gain Control).

Sebuah kendali penguatan otomatis dipasang dengan cara mencuplik sebagian sinyal audio keluaran
dari detektor. Sinyal ini selanjutnya mengendalikan bias pada penguat IF secara terbalik, dengan
demikian diharapkan dapat diperoleh penguatan yang benar-benar terkendali saat sinyal yang
ditangkap antena mengalami perubahan level amplitudo yang ekstrim khususnya pada saat puncak
sinyal modulasi.

9. Penguat Audio.

Penguat audio menguatkan sinyal audio level rendah dari detektor. Lebar bidang dari penguat audio
tidak se ideal pada sistem radio FM karena terbatasnya spektrum sinyal informasi audio yang dapat
direproduksi pada sistem radio AM. Blok diagram radio AM. Hal tersebut juga akibat bandwidth yang
sangat terbatas pada penguat IF yang menyebabkan komponen frekuensi tinggi pada sinyal informasi
audio mengalami peredaman dalam reproduksinya. Dengan demikian jangan berharap kualitas hi-
fi dari reproduksi sinyal pesan pada sistem penerima radio AM.
10. Pengeras Suara.

Merupakan tahap akhir dari sistem blok diagram radio penerima AM. Pengeras suara mengubah sinyal
listrik audio menjadi getaran mekanik suara yang menggetarkan media udara hingga sampai pada
taraf dapat didengar oleh telinga manusia. Prinsipnya adalah sinyal listrik audio menggerakkan
kumparan yang berada pada daerah medan magnet melalui GGL yang timbul saat arus listrik
melaluinya. Diafragma yang melekat pada kumparan pada akhirnya bergetar mengikuti getaran
kumparan.